Bab. PengantarPsikologiFaal

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab. PengantarPsikologiFaal"

Transkripsi

1 Bab PengantarPsikologiFaal A. Pengertian B. Pendekatan Biopsikologi C. Perilaku Biologis 1. Apakah Perilaku Disebabkan oleh Faktor Psikologis atau Faktor Fisiologis 2. Apakah Perilaku Merupakan Hasil Keturunan (Genetik/Nature) atau Hasil Belajar (Nurture) 3. Masalah-masalah yang Muncul dari Cara Berpikir Dikotomi D. Perkembangan Perilaku (lnteraksi antara Faktor Genetik dan Pengalaman) 1. Seleksi Perkembangbiakan Tikus "Pintar" dan Tikus "Bodoh" 2. Phenylketonuria: Penyimpangan Metabolisme Gen Tunggal Psikologi Faal sebagai cabang Psikologi mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam pengembangan teoritisnya maupun dalam penerapannya. Pada dekade terakhir, Psikologi Faal dikembangkan oleh dunia barat sebagai cabang ilmu yang disebut BIOPSIKOLOGI. Tujuan dari Psikologi Faal atau Biopsikologi adalah memahami perilaku berdasarkan aspek biologisnya. Dalam bab ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pengertian dan kegunaan Psikologi Faa!.

2 A. PENGERTIAN PSIKOLOGI FAAL, berasal dari Psikologi dan Ilmu Faal. PSIKOLOGI adalah Ilmu yang mempelajari perilaku manusia (Bigot, dkk, 1950),sedangkan ILMU FAAL adalah Ilmu yang mempelajari tentang fungsi dan kerja alat-alat dalam tubuh.]adi Psikologi Faal adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan fungsi dan kerja alat-alat dalam tuhuh. Dalam mempelajari perilaku manusia kita mengenal adanya 3 fungsi utama yang mempengaruhi perilaku individu, yaitufungsi kognisi (pikiran),jungsi afeksi (emosi), dan fungsi konasi (kemauanlkehendak). Dalam Psikologi Faal, titik berat perhatian kita adalah meninjau kondisi faali atau kondisi biologis yang mempengaruhi fungsi-fungsi perilaku tersebut. Sebelum kita dapat memahami fungsi dan kerja alat-alat tubuh yang mempengaruhi perilaku seseorang, lebih dahulu kita perlu mengenal anatomi alat-alat tubuh. ANATOMI adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari susunan atau struktur alat-alat tubuh. Oleh karena itu dalam Psikologi Faal, selain kita belajar fungsi dan kerja alat-alat tubuh yang mempengaruhi perilaku, kitajuga akan mengenal anatomi dari alat-alat tubuh. Jadi dalam Psikologi Faal akan dipelajari: 1. Alat-alat yang bekerja pada waktu fungsi kognitif, afektif, dan konasi berlangsung 2. Proses-proses yang berlangsung pada alat-alat tubuh tersebut Menurut fungsinya, alat-alat tubuh dibagi dalam empat kelompok, yaitu: 1. Alat-alat untuk Pertukaran Zat Alat-alat untuk Reproduksi Alat-alat untuk Gerak 4. Alat-alat untuk Koordinasi Meskipun dibagi atas kelompok-kelompok seperti tersebut diatas, namun fungsi dari kelompok-kelompok tersebut berkaitan dengan erat. Contoh konkritnyadapat kita simak dari uraian berikut ini; Organisme perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan atau bereaksi terhadapperubahan di dalamlingkunganuntuk mempertahankanhidup(antara laindigunakan alat-alat untuk reproduksi dan alat-alat gerak). Untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam mempertahankan hidup ia memerlukan alat-alat koordinasi, tanpa alat-alat koordinasi tidak dapat terjadi koordinasi antara alat-alat tubuh dan tidak dapat terjadi penyesuaian dengan lingkungan atau reaksi terhadapperubahan dalam lingkungan,sedangkanalat-alat koordinasi memerlukan alat-alat pertukaran zat agar dapat berfungsi. Yang termasuk dalam alat-alat koordinasi adalah: 1. Alat-alat Indera 2. Susunan Saraf Pusat 3. Susunan Saraf Perifer 4. Alat-alat Endokrin 2

3 Alat-alat tersebut bekerja pada saat dilakukan fungsi kognitif, afektif, maupun konasi. Oleh karena itu dalampsikologi Faal ini titik beratkita pada alat-alatkoordinasi, karena tanpa alat-alat koordinasi tidak dapat terjadikoordinasi antara,.lat-alattubuh dan tidak dapat terjadi penyesuaian dengan lingkungan atau reaksi terhadap perubahan dalam lingkungan. B. PENDEKATANBIOPSIKOLOGI BIOPSIKOLOGI adalah cabang dari Ilmu Saraf yang berkaitan dengan segi biologis dari perilaku. Beberapa ahli menyebutnya dengan "psikobiologi" atau "perilaku biologis" atau "BehavioralNeuroscience"karenamenitikberatkanpadapendekatanbiologidalammemahami psikologi. Jadi Psikologi Faal dalam perkembangan baru juga disebut dengan BIOPSIKOLOGI. SejakPsikologi lahir,pendekatan secarabiopsikologi secaraimplisit sudah diungkapkan, namun secara eksplisit baru muncul pada karya D.O Hebb (1949), "Organization of Behavior". Dalam karyanya tersebut, Hebb mengemukakanteori yang komprehensif tentang fenomena psikologi yang berkaitan dengan persepsi, emosi, pikiran dan memori yang mungkin dikontrol melalui aktivitas otak. Teori tersebut merupakan salah satu dasar yang penting dalam menguraikan dan mengkonkritkan pembahasan tentang perilaku manusia yang kompleks dan kasat mata. Meskipun BIOPSIKOLOGI tergolong ilmu yang masih muda, namun ia memiliki perkembangan yang cepat dan memiliki kaitan yang erat dengan disiplin ilmu yang lain, diantaranya: a. Biological Psychiatry, membahas tentangbiologi y:mgberkaitan dengan penyimpangan psikiatris dan perlakuan(treatment)terhadappenyimpangantersebut melalui manipulasi otak b. Developmental Neurobiology, membahastentangperubahan sistem saraf sejalan dengan kemasakan dan usia; neurobiology biasa juga disebut dengan neuroscience c. Neuroanatomy, mempelajari tentang struktur atau anatomi sistem saraf d. Neurochemistry, mempelajari proses-proses kimiawi yang muncul akibat aktivitas saraf, terutama proses yang mendasari transmisi sinyal melalui sel-sel saraf e. Neuroendocrinology, mempelajariinteraksiantara sistemsaraf dengankelenjar-kelenjar endokrin dan hormon-hormon yang diproduksinya f. Neuroethology, mempelajari kaitan antara sistem saraf dan perilaku yang muncul dalam lingkungan alami hewan dan dalam lingkungan laboratorium yang dikontrol ketat g. Neuropathology, mempelajari penyimpangan sistem saraf h. Neuropharmacology, mempelajari efek obat-obatan pada sistem saraf, terutama yang mempengaruhi transmisi sel saraf i. Neurophysiology, mempelajari respon sistem saraf, terutama yang terlibat dalam transmisi sinyal elektronik melalui sel-sel saraf dan antara sel-sel saraf 3

4 Biopsikologi sebagai cabang ilmu dari Psikologi dibagi dalam 5 bagian utama, yaitu: a. Physiological Psychology, fokusnya pada manipulasi sistem saraf melalui operasi, terapi elektrik, dan terapi kimiawi dalam kondisi eksperimen yang dikontrol dengan ketat. Jadi dalam eksperimennya biasa digunakan hewan sebagai subjek penelitian. b. Psychopharmacology, bergerak dalam bidang yang sarna seperti Physiological Psychology, namun fokusnya lebih kepada obat-obatan (zat kimia) yang mempengaruhi sistem saraf dan selanjutnya berpengaruh pada perilaku. Pengaruh zat kimia terhadap otak ini tidak semata-mata berkonotasi buruk (misalnya pengaruh zat depresif (melemahkan) terhadap aktivitas otak), tetapijuga berusaha menemukan zat-zat kimia yang berguna dalam penyembuhan kerusakan otak dan zat-zat yang dapat mengurangi kecanduan obat. c. Neuropsychology, mempelajari kemunduran perilaku akibat kerusakan otak. Pengembangan ilmu dalam neuropsychology umumnya tidak dapat dilakukan melalui eksperimen tetapi berdasarkan kasus yang ada atau melalui penelitian quasieksperimen terhadap pasien-pasien yang menderita kerusakan otak yang disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau operasi (karena kita tidak dapat merusak otak dengan segaja untuk melakukan penelitian). Disiplin ilmu ini memfokuskan pada bagian otak yang disebut dengan neokorteks, yaitu bagian luar dari cerebral hemispheres yang paling mudah rusak oleh operasi maupun kecelakaan. Neuropsychology paling banyak diterapkan dalam cabang-cabang ilmu biopsikologi karena alat-alat tes yang digunakan dalam asesmen neuropsikologi sangat membantu dalam menentukan diagnosa dan memberikan terapi yang tepat, selain bermanfaat pula untuk perawatan lanjut dan konseling bagi penderita kerusakan otak. Contohnya dapat kita lihat pada kasus di bawah ini: R, seorang laki-laki kidal berusia 21 tahun, pernah mengalami benturan kepala di dashboard mobil pada kecelakaan lalu lintas 2 tahun yang lalu. Setelah kecelakaan ia pingsan beberapa saat dan mengalami amnesia dalam jangka waktu yang sangat pendek. Selain itu tak tampak luka lain selain jahi an di pelipis. Sebelum kecelakaan itu terjadi, R adalah seorang mahasiswa fakultas hukum yang berprestasi (meskipun ia berasal dari jurusan IPA semasa SMA tetapi ia sangat tertarik pada bidang hukum). Tetapi satu tahun setelah kecelakaan ia mengalami beberapa masalah dalam belajar, ia selalu kesulitan dalam membuat paper dan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran-pelajaran yang memerlukan daya ingat, bahkan sering tidak lulus meskipun ia merasa sudah belajar jauh lebih keras daripada sebelwnnya. Dari neurolo g didapatkan hasil EEG dan CT-scan yang normal, artinya tidak dideteksi adanya abnormalitas dalam otak R. Akhirnya R melakukan serangkaian asesmen neuropsikologi yang menghasilkan beberapafakta yang menarik. Pertaina, R, adalah salah satu dari 1/3 populasi orang kidal yang pusat bahasanya terletak di bagian kanan hemisphere dan bukan di bagian kiri hemisphere seperti orang kidal pada umumnya. Fakta ini tidak hanya cocok untuk mengintepretasi kesulitan 4

5 belajar yang dialami R (karena hasil tes IQ-nya superior tetapi kemampuan ingatan verbal dan kemampuan membacanya sangat rendah), tetapijuga membuktikan bahwa R memerlukan penanganan medis (operasi otak) karena kemungkinan bagian kanan lobus temporalnya (temporal lobe) mengalami sedikit kerusakan saat terjadi kecelakaan sehingga menimbulkan masalah dalam kemampuan bahasanya. Kedua, berdasarkan hasi/ asesmen dan diagnosa secara nerupsikologis di atas, kita dapat memberikan saran bahwa sebaiknya R tidak terjun dalam lapangan pekerjaan atau studi yang banyak membutuhkan kemampuan bahasa dan ingatan. Akhirnya R memutuskan untuk menekuni bidang arsitektur. (Pinel, 1993). d. Psychophisiology, fokusnya mempelajari kaitan antara fisiologi dan perilaku dengan cara mencatat respon-respon fisiologis manusia yang disebabkan oleh reaksi-reaksi psikologisnya (seperti atensi, emosi, proses penerimaan informasi). Prosedur penelitiannya dilakukan secara non-invasive, yaitu pencatatan reaksi yang diambil dari permukaan tubuh (tidak mengoperasi bagian dalamnya). Umumnya yang digunakan untuk mengukur aktivitas otak adalah electroencephalogram (EEG) yang ditempelkan di kulit kepala. Selain aktivitas otak, reaksi fisiologis lain yang umumnya dicatat dalam psikofisiologi adalah ketegangan otot, gerakan mata, sistem saraf otonom (yang menimbulkan refleks, seperti detak jantung, tekanan darah, dilatasi pupil mata dan getaran elektrik di kulit). c Gambar 1.1. Penyusuranjejak pendulum secara visual dari C (subjek normal yang digunakan sebagai kelompok kontrol) dan 5 orang skizofren (S1, S2, S3, S4, S5) (Pinel, 1993) 5

6 Penelitianterakhirdalam bidangpsikofisiologiinijuga menarikuntuk disimak.contohnya hasil penelitian Iacono & Koening (1983) yang menunjukkan bahwa individu-individu yang mengalami skizofren serta keluarganya (Holzman, Solomon, Levin & Waternaux, 1984; dalam Pinel, 1993) mengalami kesulitan dalam mengikuti benda-benda yang bergerak, seperti pendulum. Lihat gambar 1.1. e. Comparative Psychology, bagiandaribiopsikologiyanglebihmenekankanpadaperilaku biologis daripada perilaku yang disebabkan oleh mekanisme sistem saraf. Comparative psychology mempelajariperbandinganperilaku spesiesyang berbeda-beda dan fokusnya pada genetik, evolusi, dan perilaku adaptasi dari berbagai spesies. Berbeda dengan ahliahli ethology yang melakukan penelitian quasi-eksperimen pada spesies di lingkungan asalnya, maka comparative psychology cenderung menciptakan lingkungan yang semi terkontrol dalam laboratorium untuk melihat reaksi perilaku spesies. c. PERILAKU BIOLOGIS Tendensi manusia adalah untuk berpikir secara dikotomi, baik-buruk, benar-salah, menariktidak menarik, dan sebagainya. Ini adalahdri berpikiryang sederhana. Demikianjugahalnya bilakita dihadapkan pada masalah perilaku,pertanyaan yang biasa muncul adalah (1) Apakah perilaku itu bersifat psikologis atau fisiologis? (2) Apakah perilaku itu hasil keturunan atau hasil belajar? 1. Apakah Perilaku Disebabkan oleh Faktor Psikologis atau Faktor Fisiologis? Pendapat ini muncul sejak zaman Renaissance dimana ilmu-ilmu yang ada berkembang berdasarkan pemikiran dan dogma-dogma yang belum dibuktikan lewat kenyataan. Menurut dogma-dogma yang berlaku saat itu, perilakumanusia semata-mata disebabkan oleh hukum alam (faktor fisiologis). Beberapa ahli ilmupengetahuan ingin membuktikanfenoma perilaku melalui kenyataan dan bukan melalui dogma dan pemikiran filsafati. Pada zaman renaissance tersebut sering terjadi. bentrokan pendapat antara ahli yang berpikiran modem dan berpikiran dogmatis. Sampai muncul Rene Descartes (dibaca: Day Cart) yang menjembatani kedua perbedaan tersebut dengan menyatakan bahwa dunia ini terdiri dari dua elemen utama, yaitu (I) Bendabenda Fisik, atau benda-benda yang perilakunya disesuaikan dengan hukum alam dan dapat dijadikan objek penelitian ilmiah, (2) Pikiran Manusia (iiwa atau spirit) yang tidak berkaitan dengan benda fisik tetapi mengkontrol perilaku manusia. Menurut Descartes, bagian tubuh manusia, termasuk didalamnya adalah otak, adalah bagian tubuh yang sifatnya sangat fisikooleh karena itu adalah perbedaan antara otak dan pikiran manusia. Otak bersifat sangat fisik, sedangkan pikiran manusia yang mengontrol perilaku bersifat psikologis. 2. Apakah Perilaku Merupakan Hasil Keturunan (Genetik/Nature) atau Hasil Belajar (Nurture)? Perdebatan mengenai perilaku itu hasil keturunan atau hasil belajar sudah banyak dikenal melalui konsep nature (alami/keturunan) vs. nurture (hasil pengaruh lingkungan/belajar). 6

7 Kebanyakan ahli dari Amerika, khususnya Amerika Utara adalah penganut behaviorism yang menyatakan bahwa perilaku adalah sepenuhnya hasil dari pengaruh lingkungan (misalnya melalui proses belajar). PenelitianJohn B. Watson (bapakbehaviorism)menunjukkanbahwabayi-bayiketurunan penipu, perampok, pembunuh, dan pelacur dapat tumbuh tanpa sarna sekali menunjukkan perilaku yang mirip dengan orangtuanya apabila diasuh dalam lingkungan yang sarna sekali berbeda dengan lingkungan orangtuanya. Sebaliknya, anak seorang pengusaha yang pintar dan sukses dapat menjadi sangat bodoh dan tumbuh menjadi perampok apabila dibesarkan dalam lingkungan yang buruk. Berlawanan dengan pendapat di atas, para ahli Eropa yang menganut paham ethology menyatakan bahwa perilaku didasarkan pada instinctive behavior, yaitu perilaku yang umumnya muncul pada spesiesyang sarnameskipuntidakadakesempatan untuk mempelajari perilaku itu terlebih dahulu. Contohnya perilaku menghisap pada bayi. Meskipun pada perkembangannya perilaku instinktif ini kurang banyak dianut orang, tetapi kondisi inilah yang menandai perkembangan awal psikologi. 3. Masalah-masalah yang Muneul dari Cara Berpikir Dikotomi a. Berpikir dikotomi mengenai perilaku yang disebabkan oleh faktor psikologis atau fisiologis Cara berpikirdikotomimengenaiperilakuyang semata-matadisebabkanoleh faktorpsikologis dapat menimbulkan masalah karena proses psikologis yang paling kompleks sekalipun (memori,emosi)dapat tidakberlangsungapabilaterjadikerusakanotak(fisiologis).sebaliknya, yang memiliki pendapat bahwa perilaku semata-mata disebabkan oleh faktor fisiologis juga dapat menjadi masalah, karena pada kenyataannya banyak perilaku-perilaku makhluk hidup (non manusia) yang bisa menyerupai manusia meskipun secara fisiologis berbeda dengan manusia. Kedua masalah yang timbul di atas (sebab psikologis dan sebab fisiologis) sebenarnya bermuara pada satu masalah utama yang menyebabkan perilaku, yaitu self-awareness (kesadaran diri). Contoh kesadaran diri yang berkaitan dengan perilaku tidak semata-mata disebabkan oleh aspek psikologis dapat dijelaskan melalui fenomena asomatognosia, yaitu kurangnya kesadaran terhadap bagian tubuhnya sendiri yang umumnyadialami oleh individu yang mengalami kerusakan pada bagian kanan lobus parietal-nya sehingga bagian tubuh sebelah kirinya tidak dirasakan. Contohnya kasus "orang yang terjatuh dari tempat tidur" (Sacks, 1985; Pinel 1993). Seorang pasien yang mengalami asomatognosia dirawat di sebuah rumah sakit. Sebagai pembuktiankesadaran diri terhadap kakinya, Sacks meletakkan sebuah potongan kaki orang lain yang menjadi korban kecelakaan disamping tempat tidur pasien tersebut ketika ia tertidur lelap. Saat terbangun, ia begitu kaget melihat sepotollg kaki yang mengerikan terletak ditempat tidurnya, ia lalu melemparkan kaki itu dan berteriak, "Dokter... kaki siapa 7

8 yang mengerikan itu?". Sacks menjawab, "Itu kakimu, apakah kamu tidak tahu bahwa itu kakimu sendiri". Pasien itu kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke tempat kaki yang tadi dibuangnya dan dipegangnya kaki itu, "Ah dokter cuma bercanda!", Sacks menjawab, "Lihat itu benar-benar kakimu, tetapi kalau kamu merasa itu bukan kakimu lalu dimana kakimu yang sebenarnya?", pasien terlihat agak bingung dan kemudian ia menjawab "saya tidak tahu... dimdna kaki saya dokter?, saya tidak menemukannya, kaki saya huang, kaki saya huang ". (Pinel, 1993) Dalam kasus tersebut secara fisik ia tetap dapat menggerakkan kedua kakinya, tetapi secara psikologis ia gagal mencapai kesadaran bahwa kakinya masih ada dan tetap dapat bergerak. Oleh karena itu terbukti bahwa perilaku tidak semata-mata disebabkan oleh faktor psikologis. Contoh konkrit dari fenomena perilaku tidak semata-mata disebabkan oleh faktor fisiologis dapat kita lihat dari penelitian Gallup (1983) terhadap beberapa ekor simpanse yang bereksplorasi didepan cermin. Saat mereka sudah terbiasa dengan cermin (simpanse sudah memiliki kesadaran diri bahwa simpanse yang tampak dalam cermin bukan simpanse lain, tetapi refleksi dirinya), maka Gallup mengecat kuping dan alis simpanse tersebut dengan cat warna merah. Saat simpanse melihat bayangannya di cermin maka ia mulai memegangmegang bagian merah dari mukanya, secara psikologis ia merasa bingung dan aneh akan perubahan dimukanya. Manusia pun akan berperilaku sama seperti simpanse itu apabila pada suatu pagi ia terbangun dan muncul bintik-bintik merah di mukanya karena proses psikologis yang terjadi sama dengan yang dialami oleh simpanse tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa perilaku tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor fisiologis tetapi faktor psikologispun berperan dalam menimbulkan perilaku. Jadi cara berpikir yang dikotomis mengenai penyebab perilaku sangatlah tidak menguntungkan. b. Berpikir dikotomi mengenai perilaku yang disebabkan olehfaktor nature atau nurture Pad a kenyataannya bukan hanya faktor nature dan nurture saja yang mempengaruhi perkembangan perilaku, perkembangan janin, nutrisi, stress, dan stimulasi sensoris juga memegang peranan penting dalam perkembangan perilaku. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa perkembangan perilaku bukan hanya dipengaruhi oleh faktor genetik tetapi juga oleh faktor lingkungan (termasuk didalamnya proses belajar dan pengalaman). Oleh karena itu pertanyaan yang muncul dalam cara berpikir dikotomi yang mempertanyakan apakah faktor genetik atau faktor belajar yang berperan, berubah menjadi "berapa besarperan faktor genetikdan berapa besarperan faktor lingkungan dalam perkembangan perilaku?". Tetapi pertanyaan seperti ini sebenarnya tidak akan pernah terjawab dan hanyasebuah pertanyaan konyol karena padakenyataannnyakapasitas perilaku, contohnya seperti inteligensi, tercipta melalui kombinasi faktor genetik dan pengalaman yang perannya sama besar. Analoginya dapat kita lihat pada contoh berikut ini: 8

9 Ada seorang mahasiswi yang menanyakan kebenaran hasil sebuah penelitian yang menyatakan bahwa 1/3 bagian inteligensi dipengaruhifaktor genetik dan 2/3 bagiannya dipengaruhi faktor pengalaman. Pada mahasiswi tersebut kemudian diberikan pertanyaan. Apabila kita mendengarkan sebuah musik yang sangat indah dan menyentuh hati kita, maka apa yang akan kita perbuat untuk mengetahui lebih lanjut tentang musik tersebut, manakah cara yang paling tepat, apakah kita akan menanyakan pemain musiknya ataukah kita akan bertanya pada alat musiknya? Mahasiswi tersebut tertawa dan menjawab bahwa hal tersebut tidak mungkin untuk dijawab karena musik yang kita dengar adalah hasil kombinasi antara keindahan bunyi yang dihasilkan oleh alat musik dan keahlian pemusik dalam memainkannya. Demikian pula halnya denganfaktor genetik danfaktor pengalaman yang mempengaruhi inteligensi.lnteligensi adalah hasil kombinasi antara 1. Evolusi mempengaruhi faktor genetik yang berpengaruh pada perilaku 2. Setiap gen individu mengembangkan sistem saraf yang memiliki karakteristik sendiri 3. Perkembangan sistem saraftiap individu tergantung pada interaksinya dengan lingkungan (contoh pengalaman) 4. Kapasitas dan tendensi perilaku individu tergantung pada polaaktivitas neural yangkhas, misalnyapikiran,perasaan, memori, dan sebagainya 5. Perilaku tiap individu muncul dari interaksi antara pola aktivitas neural dan persepsi individu terhadap situasi saat itu 6. Keberhasilan perilaku individu memungkinkan gen yang mengandung perilaku untuk diturunkan pada generasi selanjutnya. Gambar 1.2. Skema Cara Berpikir Biopsikologi dalam Memahami Perkembangan Perilaku (Pinel, 1993) 9

10 keduanya dan bertanya akan besarnya peran masing-masing bisa terjawab. (Pinel, 1993) bagian tidak akan pernah Oleh karena itu untuk memahami perkembangan perilaku, para ahli biopsikologi mengajukan sebuah pilihan cara berpikir yang berbeda dari cara berpikir dikotomi yang tidak menguntungkan dan cara berpikir yang mempertanyakan besar peran masing-masing faktor dalam perkembangan perilaku. Cara berpikir biopsikologi dalam memahami perkembangan perilaku dapat dilihat melaluibagan 1.2.di bawahiniyangsederhanadanlogis.keenamtahaptersebutmencerminkan satu premis, yaitu bahwa perilaku adalah hasil dari interaksi antara tiga faktor, yaitu (1) kapasitas genetik individu yang merupakah hasil dari evolusi, (2) pengalaman, (3) persepsi individu terhadap situasi yang dihadapinya. D. PERKEMBANGAN PERILAKU (INTERAKSI ANTARA FAKTOR GENETIK DAN PENGA LA MAN) Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh hasil penelitian yang intinya menunjukkan bahwa perkembangan perilaku adalah hasil interaksi antara faktor genetik dan pengalaman. 1. Seleksi Perkembangbiakan Tikus "Pintar" dan Tikus "Bodoh" Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa perilaku tidak semata-mata didominasi oleh faktorpengalaman.dalampenelitianinitryon(1934;pinel, 1993)berusahamembuktikan bahwa perilaku yang baik dapat dikembangkan melalu pcmilihan keturunan (faktor genetik). Dalam penelitian ini, tikus yang dikategorikan pintar adalah tikus yang sedikit sekali melakukan kesalahan ketika menyusuri lorong maze. Sedangkan tikus yang bodoh adalah tikus yang banyak melakukan kesalahan ketika menyusuri lorong maze. Ketika tikus-tikus tersebut telah mencapai kemasakan seksual, tikus jantan yang paling pintar dipasangkan dengan tikus betina yang paling pintar, demikian juga dengan yang bodoh. Dari keturunan pertama ini dipilih lagijantan yang paling pintar dengan betina yang paling pintar, demikian selanjutnya sampai 21 generasi. Pada generasi ke tujuh mulai tampak perbedaan yang jelas antara keturunan tikus yang pintar dan tikus yang bodoh. Tikus yang paling bodoh dari keturunan tikus pintar menunjukkan kesalahan yang lebih sedikit daripada tikus terpintar dari keturunan tikus bodoh. Untuk menghindari bias dari pola asuh, Tryon mengambil sampel beberapa anak tikus keturunan pintar untuk diasuh oleh tikus bodoh, dan beberapa anak tikus keturunan bodoh diasuh oleh tikus pintar (crossfostering atau asuh-silang). Tapi hasil menunjukkan bahwa anak tikus keturunan pintar yang diasuh oleh tikus bodoh tetap menunjukkan lebih sedikit kesalahan dibandingkan anak tikus keturunan bodoh, demikian juga sebaliknya, anak tikus keturunan bodoh yang diasuh tikus pintar tetap menunjukkan lebih banyak kesalahan dibandingkan anak tikus keturunan pintar. Walaupun hasil dari penelitian Tyron menunjukkan bukti yang nyata bahwa genetik mempengaruhi perkembangan perilaku, namun ada beberapa ahli yang meragukan hasil 10

11 tersebut karena definisi "pintar" dalam percobaan ini hanya dibatasi pada kemampuan menyusuri lorong maze, ada kemungkinan keberhasilan menyusuri maze bukan sematamata disebabkan oleh keturunan faktor inteligensi yang tinggi tetapi juga oleh ketajaman mata, atau lebih mudah lapar (sehingga lebih agresif dalam mendapatkan makanan di luar pintu maze). Untuk menunjukkan kelemahan hasil penelitian tersebut, Cooper dan Zubek (1958; Pinel, 1993) mengembangbiakkan tikus "pintar" dan "bodoh" seperti pada penelitian Tyron tetapi dengan menunjukkan pengaruh lingkungan dalam perkembangan inteligensi. Tikus yang pintar dan yang bodoh diasuh dalam satukandang yang sarnatetapi dengan kondisi yang berbeda. Kandang pertama hanya berupa kandang biasa, sedangkan kandang kedua berupa kandang yang telah dimodifikasi dengan lorong-lorong kecil, benda-benda yang memiliki daya tarik visual, dan benda-benda lain yang bertujuan untuk menstimulasi atau merangsang dayatariktikus. Setelah mencapai kedewasaan, tikus bodoh tidak menunjukkan kesalahan yang lebih besar daripada tikus pintar apabila ia diasuh dalam kandang yang dimodifikasi. Sebaliknya tikus pintar menunjukkan kesalahan yang hampir sarna dengan tikus bodoh apabila ia diasuh dalam kandang konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman dapat mengurangi efek negatif dari faktor genetik yang kurang baik. 2. Phenylketonuria: Penyimpangan Metabolisme Gen Tunggal Kita lebih mudah mengenali faktor genetik yang menyebabkan penyimpangan perilaku, daripada mengenali faktor genetik pada perkembangan perilaku yang normal. Hal tersebut terjadi karena dalam perilaku yang normal banyak sekali faktor genetik yang mempengaruhi, sedangkandalam perilakuyang tidaknormalhanyadibutuhkan satumacam genmenyimpang. Contoh yang mudah dilihat adalah penyimpangan neurologis yang disebut dengan phenylketonuria atau PKU. PKU ditemukan tahun 1934 oleh Asbjom FoIling, seorang dokter gigi Norwegia yang curiga pada bau yang ditimbulkan dari urine dua orang pasiennya yang mengalami keterbelakangan mental (Mental Retarded/MR). Ia menduga bahwa ada kaitan antara bau tersebut dengan penyimpangan pasiennya. Setelahdilakukananalisisterhadapurinemereka,tampakbahwaada perbedaankandungan zat-zat dalam urine mereka dibandingkan orang normal. Folling kemudian mengumpulkan lagi sejumlah sampel urine dari para penderita MR dan hasilnya menunjukkan kesamaan. Symptom dari MR ini adalah mudah muntah, kejang, hiperaktifitas dan hiperiritabilitas. Penyimpangan ini disebabkan oleh mutasi satu buah gen dalam tubuh manusia yang diturunkan dari kedua orangtuanya. Gen PKU bersifat resesif, sehingga penyimpangan MR baru akan muncul pada individu "homozygous" (mewarisi gen PKU dari ayah dan dari ibunya, sehingga sifat PKU yang resesif pada orangtuanya menjadi bersifat dominan pada anaknya). Homozigot PKU tidak dapat memproduksi enzim phenylalanine hydroxylase yang mengubah asam amino phenylalanine menjadi tyrosine. Akibatnya phenylalanine yang tidak dapat dicerna ini mengganggu perkembangan otak. 11

12 Beberapa rumah sakit modern sekarang ini memberlakukan diet pengurangan phenylalanine pada bayi dan ibu hamil yang urinenya menunjukkan kandungan asam phenyi pyruvic yang sangat tinggi. Cara pencegahan ini umumnya dapat menurunkan kerusakan otak yang disebabkan oleh PKU yang homozigot. Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan PKU adalah hasil dari interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan (diet pengurangan phenylalanine). Dalam kasus ini "waktu" untuk mengkombinasikan pengaruh faktor lingkungan terhadap faktor genetikjuga memegang peranan penting. Semakin dini interaksi itu dilakukan, maka serangan PKU terhadap otak semakin rendah. Tetapi apabila interaksi itu dilakukan saat otak telah berkembang dengan sempurna, maka perubahan yang terjadi hampir tidak tampak. TES KERJA OTAK (1) 1. Ahli Biopsikologi yang mempelajari kemunduran daya ingat dari pasien manusia yang mengalami kerusakan otak, menunjukkan ahli tersebut terjun ke dalam bidang biopsikologi yang disebut Bidang Biopsikologi yang mempelajari korelasi fisiologis dan proses psikologis dengan merekam/mencatat sinyal-sinyal fisiologis dari permukaan tubuh manusia disebut Penelitian biopsikologi dari umumnya melibatkan manipulasi langsung (operasi, stimulasi elektrik dan kimiawi) atau perekaman aktivitas 4. Bagian dari biopsikologi yang menitikberatkan pada penelitian-penelitian tentang efek obat-obatan terha dap perilaku disebut dengan adalah bagian dari biopsikologi yang mempelajari genetik, evolusi, dan perilaku penyesuaian (adaptive) dengan menggunakan metode perbandingan (comparative). 12

Matrissya Hermita PSIKOLOGI FAAL KULIAH I PENGANTAR

Matrissya Hermita PSIKOLOGI FAAL KULIAH I PENGANTAR Matrissya Hermita PSIKOLOGI FAAL KULIAH I PENGANTAR PENDAHULUAN PSIKOLOGI (Psychology) Ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia. FAAL /FISIOLOGI (Physiology) Ilmu pengetahuan yang mempelajari

Lebih terperinci

Pengantar Biopsikologi

Pengantar Biopsikologi Modul ke: Pengantar Biopsikologi Fakultas PSIKOLOGI Ellen Prima, S.Psi., M.A. Program Studi PSIKOLOGI http://www.mercubuana.ac.id Apa yang Anda Ketahui tentang BIOPSIKOLOGI? NEURON Sel - sel yang menerima

Lebih terperinci

Psikologi Faal. Minggu Pertama

Psikologi Faal. Minggu Pertama Psikologi Faal Minggu Pertama Garis Besar Perkuliahan Tujuan Topik Referensi Jadwal Kuliah Penilaian Kontrak Belajar Pertemuan I Materi Pengantar Psikologi Faal Landasan genetika dari perilaku Isu-isu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan otot-ototnya untuk bergerak. Perubahan pada perilaku motorik

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan otot-ototnya untuk bergerak. Perubahan pada perilaku motorik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan motorik merupakan proses belajar bagaimana tubuh menggunakan otot-ototnya untuk bergerak. Perubahan pada perilaku motorik dirasakan sepanjang daur kehidupan

Lebih terperinci

ETOLOGI STUDI OBJEKTIF MENGENAI PERILAKU OLEH: SUHARA JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FPMIPA UPI

ETOLOGI STUDI OBJEKTIF MENGENAI PERILAKU OLEH: SUHARA JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FPMIPA UPI ETOLOGI STUDI OBJEKTIF MENGENAI PERILAKU OLEH: SUHARA JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FPMIPA UPI Perilaku adalah tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya Seekor chameleon

Lebih terperinci

BAB II. Struktur dan Fungsi Syaraf

BAB II. Struktur dan Fungsi Syaraf BAB II Struktur dan Fungsi Syaraf A. SISTEM SARAF Unit terkecil dari system saraf adalah neuron. Neuron terdiri dari dendrit dan badan sel sebagai penerima pesan, dilanjutkan oleh bagian yang berbentuk

Lebih terperinci

Akar Biologi dalam Ilmu Psikologi. Dra. Rahayu Ginintasasi,M.Si

Akar Biologi dalam Ilmu Psikologi. Dra. Rahayu Ginintasasi,M.Si Akar Biologi dalam Ilmu Psikologi Dra. Rahayu Ginintasasi,M.Si Sistem Saraf Sistem Saraf Sistem saraf berfungsi untuk mengumpulkan dan memproses informasi, memberikan reaksi terhadap berbagai rangsangan,

Lebih terperinci

[Amazing] Inilah 50 Keunikan Tubuh Manusia yang Mengagumkan

[Amazing] Inilah 50 Keunikan Tubuh Manusia yang Mengagumkan 1 [Amazing] Inilah 50 Keunikan Tubuh Manusia yang Mengagumkan Tubuh manusia benar-benar mengagumkan. Jika kita berusaha untuk menjaga dan merawat tubuh kita dengan baik serta mempraktekan gaya hidup sehat,

Lebih terperinci

A. Bagian-Bagian Otak

A. Bagian-Bagian Otak A. Bagian-Bagian Otak 1. Cerebrum (Otak Besar) Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia akan mengalami perkembangan sepanjang hidupnya, mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, dewasa menengah,

Lebih terperinci

Peningkatan atau penurunan kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas

Peningkatan atau penurunan kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas Lobus Otak dan Fungsinya Lobus Frontal Lobus frontal adalah rumah bagi pemikiran kognitif kita, dan itu adalah proses yang menentukan dan membentuk kepribadian seorang individu. Pada manusia, lobus frontal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam

BAB I PENDAHULUAN. yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Rendahnya kemampuan anak disebabkan oleh kurangnya kegiatan yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan

Lebih terperinci

Pengenalan Konsep Kognitif 1

Pengenalan Konsep Kognitif 1 Pengenalan Konsep Kognitif 1 Kognisi merupakan aktivitas mental pengetahuan, yang melibatkan perolehan, penyimpanan, pencarian, dan penggunaan. Menurut Matlin, kognisi membicarakan tentang proses-proses

Lebih terperinci

Makalah Kajian Bab 6 Buku : Science for All American Human Organism (Organisme Manusia). Oleh : Widi Purwianingsih Sekolah Pascasarjana UPI

Makalah Kajian Bab 6 Buku : Science for All American Human Organism (Organisme Manusia). Oleh : Widi Purwianingsih Sekolah Pascasarjana UPI Makalah Kajian Bab 6 Buku : Science for All American Human Organism (Organisme Manusia). Oleh : Widi Purwianingsih Sekolah Pascasarjana UPI Pendahuluan Bab ini akan membahas tentang karakteristik-karakteristik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dipandang sebagai proses yang dinamis yang dipengaruhi oleh sifat bakat seseorang dan pengaruh lingkungan dalam menentukan tingkah laku apa yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI BAB II TINJAUAN TEORI A. Teori 1. Kecemasan Situasi yang mengancam atau yang dapat menimbulkan stres dapat menimbulkan kecemasan pada diri individu. Atkinson, dkk (1999, p.212) menjelaskan kecemasan merupakan

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Dewasa Akhir dalam Aspek Fisik dan Kognitif Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang berbeda-beda, diantaranya faktor genetik, biologis, psikis dan sosial. Pada setiap pertumbuhan dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Halusinasi adalah gangguan terganggunya persepsi sensori seseorang,dimana tidak terdapat stimulus. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Pasien merasa

Lebih terperinci

Mengatur Berat Badan. Mengatur Berat Badan

Mengatur Berat Badan. Mengatur Berat Badan Mengatur Berat Badan Pengaturan berat badan adalah suatu proses menghilangkan atau menghindari timbunan lemak di dalam tubuh. Hal ini tergantung pada hubungan antara jumlah makanan yang dikonsumsi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa yang sangat penting. Masa remaja adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa yang sangat penting. Masa remaja adalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa yang sangat penting. Masa remaja adalah proses panjang yang dialami seorang individu dalam kehidupannya. Proses peralihan dari masa

Lebih terperinci

PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi

PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Pendekatan Biologi-saraf Pendekatan Perilaku Pendekatan Kognitif Pendekatan Psikoanalitik Pendekatan Phenomenologi Sub disiplin Psikologi

Lebih terperinci

Rentang perhatian pada anak pra-sekolah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya

Rentang perhatian pada anak pra-sekolah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya TINGKATKAN KONSENTRASI BELAJAR ANAK Konsentrasi adalah bagaimana anak fokus dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu sehingga pekerjaan itu mampu dikerjakan dalam waktu tertentu. Kemampuan anak berkonsentrasi

Lebih terperinci

Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog. Fakultas Psikologi UMBY 2013

Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog. Fakultas Psikologi UMBY 2013 Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog Fakultas Psikologi UMBY 2013 Faktor Penghambat Lingkungan Lingkungan yang buruk dapat menghambat atau mengganggu tumbuh kembang anak. Biasanya lingkungan yang buruk

Lebih terperinci

KEBUTUHAN FISIOLOGIS KESELAMATAN DAN KEMANAN. FATWA IMELDA, S.Kep, Ns

KEBUTUHAN FISIOLOGIS KESELAMATAN DAN KEMANAN. FATWA IMELDA, S.Kep, Ns KEBUTUHAN FISIOLOGIS KESELAMATAN DAN KEMANAN FATWA IMELDA, S.Kep, Ns PENGERTIAN Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya / kecelakaan. ( Tarwoto dan Wartonah,

Lebih terperinci

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 GAMBARAN POLA ASUH

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 GAMBARAN POLA ASUH GAMBARAN POLA ASUH PENDERITA SKIZOFRENIA Disusun Oleh: Indriani Putri A F 100 040 233 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 GAMBARAN POLA ASUH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Lebih terperinci

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia? Skizofrenia Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Respon Penerimaan Anak 1. Pengertian Respon atau umpan balik adalah reaksi komunikan sebagai dampak atau pengaruh dari pesan yang disampaikan, baik secara langsung maupun tidak

Lebih terperinci

Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya

Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya Apakah diabetes tipe 1 itu? Pada orang dengan diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat membuat insulin. Hormon ini penting membantu sel-sel tubuh mengubah

Lebih terperinci

BAB 1 PENGANTAR PSIKOLOGI FAAL 1

BAB 1 PENGANTAR PSIKOLOGI FAAL 1 Dattar Isi BAB 1 PENGANTAR PSIKOLOGI FAAL 1 A. PENGERTIAN 2 B. PENDEKATAN BIOPSIKOLOGI 3 c. PERILAKU BIOLOGIS 6 D. PERKEMBANGAN PERILAKU (INTERAKSI ANTARA FAKTOR GENETIK DAN PENGALAMAN) 10 BAB 2 SISTEM

Lebih terperinci

Sistem Saraf pada Manusia

Sistem Saraf pada Manusia Sistem Saraf pada Manusia Apa yang dimaksud dengn sistem saraf? Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh

Lebih terperinci

Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog. Fakultas Psikologi UMBY 2015

Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog. Fakultas Psikologi UMBY 2015 Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog Fakultas Psikologi UMBY 2015 Faktor Penghambat Lingkungan Lingkungan yang buruk dapat menghambat atau mengganggu tumbuh kembang anak. Biasanya lingkungan yang buruk

Lebih terperinci

Materi Pokok Materi penjabaran Lingkup materi Fisiologi Tumbuhan. Struktur Bagian Tubuh Tanaman. Reproduksi Tumbuhan. Sistem Transportasi

Materi Pokok Materi penjabaran Lingkup materi Fisiologi Tumbuhan. Struktur Bagian Tubuh Tanaman. Reproduksi Tumbuhan. Sistem Transportasi Materi Pokok Materi penjabaran Lingkup materi Fisiologi Tumbuhan 1 ANATOMI, MORFOLOGI, DAN FISIOLOGI TUMBUHAN Struktur Bagian Tubuh Tanaman a. Mekanisme fotosintesis b. Mekanisme respirasi, fotorespirasi,

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Katolik

Pendidikan Agama Katolik Pendidikan Agama Katolik Modul ke: 06Fakultas Psikologi MENSYUKURI ANUGERAH KEHIDUPAN Program Studi Psikologi Drs. Sugeng Baskoro, M.M KILAS BERITA : Di sebuah rumah sakit di London utara, para ilmuwan

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang BAB II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Kedaruratan Psikiatri Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik

Lebih terperinci

Manusia makhluk sosial sehingga membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Kemampuan manusia berinteraksi menjadi tolak ukur keberhasilan penyesuaian

Manusia makhluk sosial sehingga membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Kemampuan manusia berinteraksi menjadi tolak ukur keberhasilan penyesuaian Manusia makhluk sosial sehingga membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Kemampuan manusia berinteraksi menjadi tolak ukur keberhasilan penyesuaian diri dalam lingkungannya. Penyesuaian diri sangat erat

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : BIOLOGI KODE MATAKULIAH / SKS = MKK

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : BIOLOGI KODE MATAKULIAH / SKS = MKK TIU : Agar mahasiswa mampu mengenal dan memahami dasar-dasar biologis makhluk hidup beserta sistem-sistem dasar hidupan dalam kaitannya dengan proses evolusi dan adaptasi untuk memahami kaitannya dengan

Lebih terperinci

THALASEMIA A. DEFINISI. NUCLEUS PRECISE NEWS LETTER # Oktober 2010

THALASEMIA A. DEFINISI. NUCLEUS PRECISE NEWS LETTER # Oktober 2010 THALASEMIA A. DEFINISI Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai macam penyakit yang dapat membahayakan. kesehatan manusia, salah satu diantanranya stroke.

BAB 1 PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai macam penyakit yang dapat membahayakan. kesehatan manusia, salah satu diantanranya stroke. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern menimbulkan berbagai macam penyakit yang dapat membahayakan kesehatan manusia, salah satu diantanranya stroke.

Lebih terperinci

Rita Eka Izzaty Staf Pengajar FIP-BK-UNY

Rita Eka Izzaty Staf Pengajar FIP-BK-UNY Rita Eka Izzaty Staf Pengajar FIP-BK-UNY 1. Definisi Permasalahan Perkembangan Perilaku Permasalahan perilaku anak adalah perilaku anak yang tidak adaptif, mengganggu, bersifat stabil yang menunjukkan

Lebih terperinci

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup 2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup 2.1 Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleksi alam, dan perkembangbiakan 1. Mengaitkan perilaku adaptasi hewan tertentu dilingkungannya

Lebih terperinci

CIRI & PENGGUNAAN TES. N o v i a S i n t a R, M. P s i.

CIRI & PENGGUNAAN TES. N o v i a S i n t a R, M. P s i. CIRI & PENGGUNAAN TES N o v i a S i n t a R, M. P s i. PENGGUNAAN TES Dari Bayi s/d Usia Lanjut Ketika bayi lahir akan segera dilakukan tes Apgar - asesmen : detak jantung, pernafasan, otot, refleks dan

Lebih terperinci

MENGENAL ANAK ASPERGER Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog*

MENGENAL ANAK ASPERGER Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog* MENGENAL ANAK ASPERGER Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog* Mengapa ada anak yang tampak menyendiri, ketika anak anak lain sebayanya sedang asyik bermain? Mengapa ada anak yang tampak sibuk berbicara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Fatia Indrianti,2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Fatia Indrianti,2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bioteknologi sebagai teknik manipulasi organisme atau komponen organisme untuk melakukan tugas-tugas praktis atau menghasilkan produk yang bermanfaat (Campbell

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu mengalami proses perkembangan semasa hidupnya, mulai

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu mengalami proses perkembangan semasa hidupnya, mulai 15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap individu mengalami proses perkembangan semasa hidupnya, mulai dari janin sampai dewasa. Proses perkembangan antara individu satu dengan yang lainya tidak sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sepenuhnya mampu mengatasi setiap masalah kesehatan, terlebih dengan. semakin beranekaragamnya penyakit dan faktor-faktor yang

BAB I PENDAHULUAN. sepenuhnya mampu mengatasi setiap masalah kesehatan, terlebih dengan. semakin beranekaragamnya penyakit dan faktor-faktor yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Patut diakui bahwa teknologi kedokteran yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu mengatasi setiap masalah kesehatan, terlebih dengan semakin beranekaragamnya penyakit

Lebih terperinci

Silabus Olimpiade BOF XI Soal SMP

Silabus Olimpiade BOF XI Soal SMP Silabus Olimpiade BOF XI Soal SMP No Materi pokok Lingkup materi 1 Makhluk Hidup a. Asal usul makhluk hidup b. Ciri-ciri makhluk hidup c. Perbedaan makhluk hidup dan benda mati d. Pengukuran Pada makhluk

Lebih terperinci

PRINSIP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

PRINSIP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PRINSIP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA BY: BASYARIAH LUBIS, AMKeb, sst, mkes Makhluk Yang Utuh atau paduan dari unsur biologis, psikologis, sosial & Spiritual. Makhluk Biologis : Sistem organ tubuh Lahir, tumbang,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Ragam fenomena pembunuhan yang terjadi disekitar membuat resah. Terlebih kasus-kasus yang melibatkan pembunuhan tanpa sebab atau dikarenakan kehilangan akal sehat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit kanker merupakan penyakit yang mematikan dan jumlah penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun 2012 yang dikeluarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berarti. Anak datang menawarkan hari-hari baru yang lebih indah, karena

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berarti. Anak datang menawarkan hari-hari baru yang lebih indah, karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah anugrah, kehadirannya mengubah hidup menjadi lebih berarti. Anak datang menawarkan hari-hari baru yang lebih indah, karena kehadirannya juga orang

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

A. Perspektif Keperawatan Anak

A. Perspektif Keperawatan Anak Bab I A. Perspektif Keperawatan Anak KONSEP DASAR KEPERAWATAN ANAK Kesehatan Selama Masa Kanak-kanak Kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang komplet dan bukan sematamata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Health Organization (WHO), ada sebanyak 234,2 juta

BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Health Organization (WHO), ada sebanyak 234,2 juta 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Operasi atau pembedahan merupakan tindakan pengobatan dengan cara membuka atau menampilkan bagian dalam tubuh yang akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jumlah penduduk lansia semakin meningkat dari tahun ke tahun diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penuaan 2.1.1 Definisi Proses Penuaan Penuaan adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan

Lebih terperinci

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIOLOGI BAB III KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM. Dra. Ely Rudyatmi, M.

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIOLOGI BAB III KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM. Dra. Ely Rudyatmi, M. SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIOLOGI BAB III KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Dra. Ely Rudyatmi, M.Si Dra. Endah Peniati, M.Si Dr. Ning Setiati,M.S KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar MOTIVASI DALAM BELAJAR Saifuddin Azwar Dalam dunia pendidikan, masalah motivasi selalu menjadi hal yang menarik perhatian. Hal ini dikarenakan motivasi dipandang sebagai salah satu faktor yang sangat dominan

Lebih terperinci

Mengapa disebut sebagai flu babi?

Mengapa disebut sebagai flu babi? Flu H1N1 Apa itu flu H1N1 (Flu babi)? Flu H1N1 (seringkali disebut dengan flu babi) merupakan virus influenza baru yang menyebabkan sakit pada manusia. Virus ini menyebar dari orang ke orang, diperkirakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduknya. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat perkembangan yang

BAB I PENDAHULUAN. penduduknya. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat perkembangan yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tolak ukur kemajuan bangsa adalah dilihat dari usia harapan hidup penduduknya. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat perkembangan yang cukup

Lebih terperinci

B A B 1 PENDAHULUAN. Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya

B A B 1 PENDAHULUAN. Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya B A B 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran, persepsi, dan tingkah laku dimana individu tidak mampu menyesuaikan diri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pencabutan gigi. Berdasarkan penelitian Nair MA, ditemukan prevalensi

BAB I PENDAHULUAN. pencabutan gigi. Berdasarkan penelitian Nair MA, ditemukan prevalensi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bedah mulut merupakan salah satu bidang dalam ilmu kedokteran gigi. Dalam bidang kedokteran gigi gejala kecemasan sering ditemukan pada pasien tindakan pencabutan gigi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Schizophrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat. normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan

BAB I PENDAHULUAN. Schizophrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat. normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Schizophrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MASA BAYI

PERKEMBANGAN MASA BAYI PERKEMBANGAN MASA BAYI Tahap Masa Bayi Neonatal (0 atau baru Lahir-2 minggu Bayi (2 minggu- 2 tahun) TUGAS PERKEMBANGAN MASA BAYI Belajar makan makanan padat Belajar berjalan Belajar bicara Belajar menguasai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam dunia industri ada beberapa faktor pokok yang dapat membantu suatu industri menajadi lebih baik dan lebih maju, faktor-faktor tersebut ialah modal, tanaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemerolehan proses belajar di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar adalah salah satu masalah yang terjadi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Payudara atau kelenjar mammae merupakan pelengkap alat reproduksi wanita dan

BAB I PENDAHULUAN. Payudara atau kelenjar mammae merupakan pelengkap alat reproduksi wanita dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Payudara atau kelenjar mammae merupakan pelengkap alat reproduksi wanita dan berfungsi memproduksi susu untuk nutrisi. Terletak diantara tulang iga kedua dan keenam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tangan atau alat terhadap jaringan tubuh yang lunak. Massage bertujuan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tangan atau alat terhadap jaringan tubuh yang lunak. Massage bertujuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Massage adalah suatu cara penyembuhan yang menggunakan gerakan tangan atau alat terhadap jaringan tubuh yang lunak. Massage bertujuan memperbaiki sirkulasi,

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAB II PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN Pertumbuhan Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu, peningkatan ukuran dan struktur. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI FAAL 2 * KODE MATAKULIAH / SKS = MKK / 2SKS

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI FAAL 2 * KODE MATAKULIAH / SKS = MKK / 2SKS TIU : Agar mahasiswa mampu menjelaskan struktur dan fungsi panca indera serta proses penginderaan, mampu menguraikan peran hormonhormon terhadap manusia, serta mampu menjelaskan masalah psikologis yang

Lebih terperinci

Hereditas dan Lingkungan

Hereditas dan Lingkungan Hereditas dan Lingkungan Oleh : Santi E. Purnamasari, M.SI. Fak Psikologi UMBY 2012 Heredity and The Environment Kromosom dan gen --- genotype & phenotype Genotype : sekumpulan gen khusus yang dimiliki

Lebih terperinci

Bab II. Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan. Cerita Juanita. Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan

Bab II. Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan. Cerita Juanita. Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan Bab II Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan Cerita Juanita Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan Untuk pekerja di bidang kesehatan 26 Beberapa masalah harus diatasi

Lebih terperinci

Otak melakukan Integrasi (penggabungan), rekognisi, reorganisasi & interpretasi informasi sensoris yg lebih kompleks Makna

Otak melakukan Integrasi (penggabungan), rekognisi, reorganisasi & interpretasi informasi sensoris yg lebih kompleks Makna SENSASI PERSEPSI Dita Rachmayani., S.Psi., M.A PROSES Sensasi Transduksi Persepsi Tanggapan Proses pendeteksian hadirnya stimuli Sederhana/perasaan/- kesan yg timbul sebagai akibat Perangsangan suatu reseptor

Lebih terperinci

ENERGI. Universitas Gadjah Mada

ENERGI. Universitas Gadjah Mada ENERGI Energi Bahan Pangan Energi adalah kapasitas untuk mengerjakan sesuatu untuk mengerjakan sesuatu kegiatan dan dalam hal ini energi mengalami transformasi menjadi jenis energi yang sesuai dengan jenis

Lebih terperinci

PEWARISAN SIFAT PADA MANUSIA. Tujuan Pembelajaran

PEWARISAN SIFAT PADA MANUSIA. Tujuan Pembelajaran Kurikulum 2006/2013 Kelas XII biologi PEWARISAN SIFAT PADA MANUSIA Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami tentang variasi sifat manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan persalinan dengan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang persalinan dengan sectio

Lebih terperinci

KISI-KISI PENULISAN SOAL USBN. MATERI Keanekaragaman tingkat gen, spesies, ekosistem. Ciri-ciri makhluk hidup dan perannya dalam kehidupan

KISI-KISI PENULISAN SOAL USBN. MATERI Keanekaragaman tingkat gen, spesies, ekosistem. Ciri-ciri makhluk hidup dan perannya dalam kehidupan KISI-KISI PENULISAN USBN Jenis Sekolah : SMA Mata Pelajaran : BIOLOGI Kurikulum : 2013 Alokasi Waktu : 120 menit Jumlah Soal : Pilihan Ganda : 35 Essay : 5 1 3.2 Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman

Lebih terperinci

FISIOLOGI HEWAN. Pendekatan : komparatif pada level organisme, sel, molekul

FISIOLOGI HEWAN. Pendekatan : komparatif pada level organisme, sel, molekul Deskripsi singkat M. K. Fisiologi Hewan : Fisiologi hewan mempelajari tentang apa yang dilakukan oleh organisme heterotrof dan bagaimana mereka melakukannya agar dapat lulus hidup dan dapat mengatasi beragam

Lebih terperinci

Treatment. Naskah. No. Audio Visual. NARATOR : Ibu / ibu ingin mempunyai anak?//

Treatment. Naskah. No. Audio Visual. NARATOR : Ibu / ibu ingin mempunyai anak?// Treatment 1. Pada awal animasi muncul judul dan bertemu karakter utama yaitu seorang ibu muda. 2. Narator menanyakan kesiapan sang ibu untuk siap hamil atau tidak dan menjelaskan hal-hal sebagai pertimbangan

Lebih terperinci

!. Jelaskan tentang teori seleksi alam yang dianut oleh charles darwin!

!. Jelaskan tentang teori seleksi alam yang dianut oleh charles darwin! !. Jelaskan tentang teori seleksi alam yang dianut oleh charles darwin! seleksi alam yang dimaksud dengan teori evolusi adalah teori bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya

Lebih terperinci

Naili Nur Meifanna. Kata kunci : motorik halus, ASI, susu formula. Kepustakaan : 30 ( )

Naili Nur Meifanna. Kata kunci : motorik halus, ASI, susu formula. Kepustakaan : 30 ( ) GAMBARAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA BAYI USIA 6-12 BULAN YANG DIBERIKAN ASI DAN YANG DIBERIKAN SUSU FORMULA DI KELURAHAN LEBAN KECAMATAN BOJA KABUPATEN KENDAL PROVINSI JAWA TENGAH Naili Nur Meifanna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu untuk menuju kedewasaan atau kematangan adalah masa remaja

BAB I PENDAHULUAN. individu untuk menuju kedewasaan atau kematangan adalah masa remaja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu periode perkembangan yang harus dilalui oleh seorang individu untuk menuju kedewasaan atau kematangan adalah masa remaja (Yusuf, 2006). Masa remaja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas masa depan anak dapat dilihat dari perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas masa depan anak dapat dilihat dari perkembangan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kualitas masa depan anak dapat dilihat dari perkembangan dan pertumbuhan anak yang optimal, sehingga sejak dini, deteksi, stimulasi dan intervensi berbagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. spermatozoa merupakan bagian dari sistem reproduksi yang penting bagi

I. PENDAHULUAN. spermatozoa merupakan bagian dari sistem reproduksi yang penting bagi 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Perumusan Masalah 1. Latar Belakang Bagi manusia dan makhluk hidup yang berkembang biak secara generatif, spermatozoa merupakan bagian dari sistem reproduksi yang

Lebih terperinci

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER Tujuan Terapi Ketergantungan Narkotika Abstinensia: Tujuan terapi ini tergolong sangat ideal. Sebagian besar pasien ketergantungan narkotika tidak mampu atau kurang termotivasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan anak merupakan sebuah proses yang indah di mata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan anak merupakan sebuah proses yang indah di mata BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan anak merupakan sebuah proses yang indah di mata orang tua. Karena anak merupakan buah cinta yang senantiasa ditunggu oleh pasangan yang telah menikah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. remaja yaitu, terkait dengan pemilihan jurusan kuliah di Perguruan Tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. remaja yaitu, terkait dengan pemilihan jurusan kuliah di Perguruan Tinggi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karir merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan dewasa, oleh karena itu perlu adanya persiapan saat seseorang berada pada usia remaja yaitu, terkait dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemberian Obat 1. Definisi Obat Obat yaitu zat kimia yang dapat mempengaruhi jaringan biologi pada organ tubuh manusia (Batubara, 2008). Definisi lain menjelaskan obat merupakan

Lebih terperinci

5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN

5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1. Kesimpulan Bab ini berusaha menjawab permasalahan penelitian yang telah disebutkan di bab pendahuluan yaitu melihat gambaran faktor-faktor yang mendukung pemulihan pada

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan BAB 2 LANDASAN TEORI Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan prestasi belajar. 2.1 Self-Efficacy 2.1.1 Definisi self-efficacy Bandura (1997) mendefinisikan self-efficacy

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua perasaan takut bermula dari masa kanak-kanak karena pada

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua perasaan takut bermula dari masa kanak-kanak karena pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Hampir semua perasaan takut bermula dari masa kanak-kanak karena pada masa ini anak belum memiliki kemampuan berpikir yang baik. Hal ini membuat mereka

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian pustaka 2.1.1 Kehamilan 2.1.1.1 Definisi Kehamilan adalah suatu keadaan mengandung embrio atau fetus di dalam tubuh, setelah bertemunya sel telur

Lebih terperinci

Pertemuan 2 KARAKTERISTIK INDIVIDU BERFIKIR KREATIF

Pertemuan 2 KARAKTERISTIK INDIVIDU BERFIKIR KREATIF Pertemuan 2 KARAKTERISTIK INDIVIDU BERFIKIR KREATIF Kerangka Kerja Berpikir Efektif : Tahapan dalam berfikir efektif terdiri dari : 1. Tahap Menganalisis. Menguraikan kedalam bagian-bagian; membagi suatu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Pola Asuh Orangtua a. Pengertian Dalam Kamus Bahasa Indonesia pola memiliki arti cara kerja, sistem dan model, dan asuh memiliki arti menjaga atau merawat dan

Lebih terperinci