KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS"

Transkripsi

1 PEMERINTAH KOTA PALANGKA RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS RANPERDA RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN September 2014

2 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan kemudahan dan Hidayah-Nya, hingga penyusunan dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dapat diselesaikan dengan baik. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (Tim KLHS) Kota Palangka Raya telah melakukan inisiasi bersama masyarakat dan forum multipihak untuk menyusun dokumen KLHS dalam upaya mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palangka Raya. Sebagai salah satu dokumen pengendalian kerusakan lingkungan hidup untuk pencapaian pembangunan berkelanjutan, dokumen KLHS ini diharapkan untuk mengintegrasikan kepentingan lingkungan pada tataran pengambilan kebijakan yang strategis, yakni pada tataran kebijakan, rencana, atau program di Kota Palangka Raya. Akhirnya semoga dokumen KLHS ini dapat bermanfaat dan berkontribusi positif sebagai alat kajian strategis untuk memperbaiki dan melengkapi rumusan Kebijakan, Rencana dan/atau Program (KRP) dalam RTRW Kota Palangka Raya. Palangka Raya, 29 September 2014 Tim KLHS Kota Palangka Raya

3 Daftar Isi KATA PENGANTAR Daftar isi Daftar Tabel Daftar Gambar 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Maksud dan Tujuan Obyek/sasaran KLHS Hasil yang Diharapkan METODOLOGI Ruang Lingkup Kajian Pendekatan Kajian Mekanisme dan Tahapan KLHS KARAKTERISTIK KOTA PALANGKA RAYA Biofisik Kondisi Geografi dan Administrasi Wilayah Hidrologi Tutupan Lahan dan Laju Deforestasi Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati Wilayah Potensi Rawan Bencana Sosial Budaya dan Ekonomi Kependudukan Mata Pencaharian Pendidikan Kesehatan Masyarakat Perekonomian Daerah Masyarakat Adat dan Isu yang Terkait Dengan Sosial Ekonomi dan Budaya Pemanfaatan Kawasan Hutan Pemanfaatan Hutan Kota Palangka Raya Penggunaan Lahan Kota Palangka Raya... 44

4 3.3.3 Taman Nasional Sebangau KEBIJAKAN DAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH Substansi Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palangka Raya Tujuan Penataan Ruang Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Rencana Struktur Ruang Rencana Pola Ruang Penetapan Kawasan Strategis Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Palangka Raya Arahan Pengendalian Ruang Wilayah Keterkaitan RTRW Kota Palangka Raya dan KRP Prioritas KRP yang menjadi kajian dalam studi KLHS RTRW Kota Palangka Raya PENGKAJIAN DAMPAK PENGARUH KRP RTRW Identifikasi Pemangku Kepentingan Identifikasi Isu-Isu Strategis Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Dampak/Pengaruh KRP Penataan Ruang Dampak KRP RTRW terhadap aspek Lingkungan Hidup Dampak KRP RTRW terhadap aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya Perumusan Alternatif dan/atau Mitigasi Penyempurnaan Ranperda RTRW Kota Palangka Raya Mitigasi KRP RTRW Kota Palangka Raya Aspek Lingkungan Hidup Mitigasi KRP RTRW Kota Palangka Raya Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya Rumusan Skenario Optimal aspek Lingkungan Hidup Rumusan Skenario Optimal aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya Rumusan alternatif dan/atau mitigasi aspek SPRE REKOMENDASI DAN TINDAK LANJUT Rencana Struktur ruang Rencana Pola Ruang Tindaklanjut/Pemantauan dan Evaluasi Daftar Pustaka Daftar Lampiran

5 Tabel 2.1 Daftar Tabel Empat Tahapan Penyelenggaraan KLHS RTRW yang lazim dilaksanakan di Indonesia Tabel 3.1 Ketinggian Kota Palangka Raya di atas permukaan air laut (dpl)... 9 Tabel 3.2 Klasifikasi iklim menurut Ferguson Tabel 3.3 Luasan fungsi kawasan hutan Kota Palangka Raya Tabel 3.4 Sebaran potensi air tanah Kota Palangka Raya Tabel 3.5 Data hujan dan klimatologi Kota Palangka Raya Tabel 3.6 Luasan tutupan/penggunaan lahan di Kota Palangka Raya tahun Tabel 3.7 Produksi perikanan perairan umum menurut Jenis perairan (ton basah) Tabel 3.8 Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk/km2 tahun Tabel 3.9 Jumlah sekolah, ruang kelas, murid dan guru menurut jenis sekolah Tabel 3.10 Jenis penyakit yang ditemukan di Kota Palangka Raya Tahun Tabel 3.11 Perkembangan produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Palangka Raya Tahun menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan 2000 (Jutaan Rupiah) Tabel 3.12 Struktur perekonomian Kota Palangka Raya menurut lapangan usaha tahun Tabel 3.13 Alokasi anggaran APBD untuk hutan dan lahan Tabel 3.14 Luas Kawasan Htan dengan Penggunaan Lain di Kota Palangka Raya Tabel 3.15 Luas tanah menurut penggunaannya tahun (ha) di Palangka Raya Tabel 4.1 Tabel 4.2 Substansi, Muatan dan Orientasi Tujuan Penataan Ruang Kota Palangka Raya Keterkaitan substansi muatan kebijakan dan strategi terhadap tujuan penataan ruang Kota Palangka Raya Tabel 4.3 Prakiraan luas kawasan lindung Kota Palangka Raya tahun Tabel 4.4 Prakiraan luas kawasan budidaya Kota Palangka Raya tahun Tabel 4.5 Kawasan Strategis Nasional di Kota Palangka Raya Tabel 4.6 Kawasan Strategis Provinsi di Kota Palangka Raya Tabel 4.7 Kawasan Strategis Kota di Kota Palangka Raya... 61

6 Tabel 4.8 Tabel 5.1 Muatan KRP Ranperda RTRW Kota Palangka Raya dan kemungkinan dampaknya terhadap pelepasan emisi, daya dukung, dan kesesuaian lahan (land suitability) Identifikasi pemangku kepentingan, kontribusi, dan peran yang dilakukan Tabel 5.2 Identifikasi isu-isu strategis Kota Palangka Raya Tabel 5.3 Jumlah dan prosentasi sampah yang tertangani di Kota Palangka Raya Tabel 5.4 Tipe dan Luas Perubahan Lahan di Kota Palangka Raya (tahun ) Tabel 5.5 Tabel 5.6 Kandungan (stok) karbon (ton C/ha) pada berbagai tipe lahan berdasarkan hasil riset Perhitungan emisi akibat perubahan tutupan lahan di Kota Palangka Raya (tahun ) Tabel 5.7 Rencana pola ruang RTRW Kota Palangka Raya (tahun ) skenario BAU Tabel 5.8 Resume perubahan tutupan lahan Kota Palangka Raya sampai tahun 2033 dan emisi karbonnya (skenario BAU) Tabel 5.9 Usulan rencana pola ruang RTRW Kota Palangka Raya (tahun ) Skenario Optimal Tabel 5.10 Resume perubahan tutupan lahan Kota Palangka Raya sampai tahun 2033 dan emisi karbonnya (skenario Optimal) Tabel 5.11 Perbandingan emisi karbon rencana pola ruang RTRW Kota Palangka Raya tahun

7 Daftar Gambar Gambar 3.1 Peta wilayah administrasi Kota Palangka Raya... 8 Gambar 3.2 Peta fungsi kawasan hutan di Kota Palangka Raya Gambar 3.3 Grafik pembagian kawasan hutan di Kota Palangka Raya Gambar 3.4 Peta tutupan/penggunaan lahan tahun Gambar 3.5 Kerusakan kawasan hutan Gambar 3.6 Contoh tutupan lahan pada tanah terdegradasi akibat pembukaan lahan rawa gambut Gambar 3.7 Tren Anggaran APBD untuk Hutan dan Lahan Gambar 3.8 Peta kawasan budidaya Kota Palangka Raya Gambar 4.1 Peta rencana struktur ruang Kota Palangka Raya Gambar 4.2 Peta Rencana Pola Ruang Kota Palangka Raya Gambar 4.3 Peta Kawasan Strategis Kota Palangka Raya Gambar 5.1 Penataan ruang berdasarkan konektivitas hidrologi Gambar 5.2 Peta Konflik Pemanfaatan Ruang di Kota Palangka Raya Gambar 5.3 Ilustrasi terjadinya konflik pemanfaatan lahan di Kota Palangka Raya Gambar 5.4 Hasil hutan non-kayu dan pemandu wisata alam sebagai alternatif pendapatan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung [Foto Penyadapan getah Pantung di TN Sebangau dan Pemandu Wisata Alam di sekitar Hutan Pendidikan UM Palangka Raya] Gambar 5.5 Peta Sebaran Nilai Konservasi Tinggi di Kota Palangka Raya Gambar 5.6 Peta Rencana Perubahan Tutupan Lahan Kota Palangka Raya Gambar 5.7 Peta Degradasi Lahan Gambut Kota Palangka Raya tahun Gambar 5.8 Usulan Peta Rencana Perubahan Tutupan Lahan Kota Palangka Raya Tahun (Skenario Optimal)

8 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) atau Strategic Environmental Assessment (SEA) adalah instrumen pendukung perencanaan pembangunan berkelanjutan melalui upaya internalisasi kepentingan lingkungan hidup (LH) dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan pembangunan tersebut. Upaya pengarusutamaan kepentingan LH dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ini penting karena pelaksanaan pembangunan selama ini selain telah meningkatkan keuntungan ekonomi, juga mengakibatkan kemerosotan kualitas LH dan persoalan-persoalan sosial. Degradasi kualitas LH dan persoalan sosial terkait erat dengan persoalan perumusan kebijakan, rencana dan/atau program pembangunan yang tidak ramah lingkungan dan/atau tidak kompatibel dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Dengan kata lain, sumber masalah degradasi kualitas LH dan persoalan sosial berawal dari proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, upaya penanggulangan degradasi kualitas LH dan persoalan sosial harus dimulai dari proses pengambilan keputusan pembangunan pula. Sebagai suatu instrumen pengelolaan LH, implementasi KLHS adalah pada proses pengambilan keputusan perencanaan pembangunan (decision-making cycle process). Studi KLHS merupakan rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan suatu wilayah. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS untuk memastikan bahwa pertimbangan LH dan prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS dalam penyusunan atau evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya, Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengah (RPJP/M), dan kebijakan, rencana, dan/atau program (KRP) lain yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup. Untuk Kota Palangka Raya, mempertimbangkan bahwa RTRW dalam status Ranperda, maka pelaksanaan KLHS dalam hal ini adalah terhadap dokumen Ranperda RTRW Kota Palangka Raya (pendekatan KLHS ex-post). Penyelenggaraan KLHS ini ditujukan untuk mengintegrasikan usulan 1

9 perubahan atau penyesuaian pemanfaatan ruang terhadap rencana tata ruang yang telah ada. Dengan demikian, fungsi RTRW Kota Palangka Raya sebagai pedoman/arahan perencanaan dan pembangunan daerah dapat berfungsi secara optimal. Melalui substansi RTRW, Kota Palangka Raya diharapkan mampu mencapai sasaran: a) Tersusunnya penyempurnaan rumusan pemantapan fungsi Kota Palangka Raya. b) Tersusunnya penyempurnaan kebijakan dan strategi pengembangan Kota Palangka Raya. c) Tersusunnya penyempurnaan arahan rencana struktur ruang Kota Palangka Raya. d) Tersusunnya penyempurnaan arahan pola ruang. e) Tersusunnya penyempurnaan arahan rencana kawasan strategis. f) Tersusunnya penyempurnaan arahan implementasi pemanfaatan ruang wilayah Kota Palangka Raya, prioritas tahapan pembangunan (indikasi program). g) Tersusunnya penyempurnaan rencana pengendalian pemanfaatan ruang (peraturan zonasi, ketentuan perijinan, insentif dan disinsentif dan arahan sanksi). h) Tersusunnya penyempurnaan arahan pelibatan masyarakat dalam penataan ruang. (Sumber: Lokakarya 5 KLHS Palangka Raya, 2013). Implementasi KLHS terhadap RTRW Kota Palangka Raya, diharapkan pula dapat mencapai dua manfaat utama, yaitu: a) Mengatasi kelemahan dan keterbatasan perencanaan dan kajiankajian lingkungan hidup yang sudah ada. b) Mempromosikan prinsip prinsip pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan/rendah emisi. Kedua upaya yang mengarah pada terwujudnya pembangunan berkelanjutan tersebut di atas, KLHS sebagai alat kajian yang tatarannya pada tingkat strategik, sangat diperlukan dalam penyusunan RTRW Kota Palangka Raya. Dengan demikian, diharapkan diperoleh suatu jaminan yang lebih mantap bahwa Dokumen KLHS ini akan berkontribusi positif terhadap RTRW Kota Palangka Raya. 2

10 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud Dokumen KLHS ini disusun selain memenuhi amanat Undang- Undang No. 32/2099 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, adalah juga untuk mengintegrasikan isu-isu strategis dalam KLHS untuk memperbaiki dan melengkapi rumusan Kebijakan, Rencana dan/atau Program (KRP) dalam RTRW Kota Palangka Raya. Tujuan penyelenggaraan KLHS Ranperda RTRWK adalah untuk: 1) Memastikan bahwa prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sudah digunakan sebagai dasar dalam penyusunan dan penetapan Ranperda RTRWK. 2) Mengkaji potensi pengaruh KRP yang tertuang di dalam Ranperda RTRW terhadap lingkungan hidup, sosial-ekonomi-budaya, dan strategi pembangunan rendah emisi (SPRE) di Kota Palangka Raya. 3) Merumuskan pilihan alternatif KRP dan/atau mitigasi/adaptasi terkait dengan dampak/implikasi KRP yang menjadi kajian. 4) Memastikan partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan yang lain dalam hal pengambilan keputusan kebijakan tata ruang. 1.3 Obyek/sasaran KLHS Obyek/sasaran KLHS adalah KRP yang tertuang dalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya tahun Hasil yang Diharapkan 1. Hasil yang diharapkan adalah tersusunnya Dokumen KLHS Kota Palangka Raya yang memuat penilaian (assessment) dampak KRP terhadap isu-isu strategis yang ditinjau dari perspektif lingkungan hidup, ekonomi, sosial budaya dan strategi pembangunan rendah emisi (SPRE). 2. Terintegrasinya hasil KLHS ke dalam Dokumen Ranperda RTRW Kota Palangka Raya tahun termasuk naskah akademiknya. 3

11 2 METODOLOGI 2.1 Ruang Lingkup Kajian Perencanaan pembangunan yang selama ini dilakukan di Kota Palangka Raya belum memperkirakan besarnya dampak dan arah mitigasi serta belum memberikan gambaran kuantitatif sejauh mana aspek lingkungan akan dipengaruhi oleh rencana yang telah ditetapkan dan bagaimana menanggulangi dampak yang akan terjadi. Untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam Dokumen RTRW Kota Palangka Raya, maka studi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada proses perencanaan pembangunan di daerah menjadi penting untuk terwujudnya pembangunan berkelanjutan. KLHS adalah suatu proses sistematis dalam evaluasi dampak lingkungan hidup yang diperkirakan akan terjadi akibat pelaksanaan KRP yang dilakukan pada tahap awal dari suatu proses pengambilan keputusan kegiatan pembangunan selain pertimbanganpertimbangan ekonomi dan sosial. Dengan kata lain, KLHS adalah proses pengintegrasian konsep keberlanjutan dalam pengambilan keputusan yang bersifat strategis. Dokumen KLHS adalah suatu pendekatan partisipatif dalam pengarusutamaan isu-isu lingkungan dan sosial untuk mempengaruhi rencana pembangunan, pengambilan keputusan (pembangunan) dan proses implementasi (pembangunan) pada tingkat strategis (Asdak, 2012). Dengan berlakunya Undang-Undang No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH, implementasi KLHS menjadi suatu kuajiban yang bermanfaat bukan saja bagi Pemerintah Kota Palangka Raya, namun juga bermanfaat bagi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya karena tujuan dilaksanakannya KLHS adalah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Disebutkan dalam Pasal 16 UU No. 32 tersebut di atas bahwa kuajiban pelaksanaan KLHS salah satunya adalah dalam penyusunan dan evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Implementasi KLHS terhadap RTRW Kota Palangka Raya ini memiliki kelebihan dibandingkan studi KLHS terhadap RTRW di tempat lain karena substansi atau muatan kajian ditekankan pada perspektif Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE). Perspektif SPRE dalam studi KLHS ini menjadi penting karena Kota Palangka Raya, dan kabupaten lain di Kalimantan Tengah berperan penting dalam upaya mengurangi emisi karbon, utamanya yang berasal dari persoalan-persoalan deforestasi, alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan aktivitas pembangunan lain yang bersifat meningkatkan emisi karbon. 2.2 Pendekatan Kajian Secara konseptual, pendekatan yang digunakan dalam implementasi KLHS terhadap rencana penyusunan RTRW kota Palangka Raya adalah penyusunan KLHS berdasarkan pendekatan kombinasi antara proses pengambilan keputusan (decision centerd approach) dan pengkajian dampak LH dan sosial akibat im`plementasi KRP (RTRW) (impact-based SEA approach). Dengan kata lain, studi KLHS dilakukan dengan 4

12 beradaptasi terhadap proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Hal ini untuk menjamin agar proses pelaksanaan KLHS dapat beradaptasi sesuai dengan persyaratanpersyaratan proses pengambilan keputusan strategis dalam perencanaan penataan ruang (RTRW). Implementasi KLHS ditinjau dari perspektif metodologi dan prosedur pelaksanaannya dapat ditempuh melalui pendekatan dari atas ke bawah (top down approach) dan dari bawah ke atas (bottom up approach). Pendekatan yang digunakan untuk penyusunan dokumen KLHS di Kota Palangka Raya adalah sistem pendekatan menyatu (integrated approach) dimana KLHS menjadi bagian dari proses perencanaan dan evaluasi KRP penataan ruang. Pendekatan ini secara metodologi memanfaatkan kriteria dan indikator pembangunan berkelanjutan sebagai ukuran kepentingan lingkungan hidup atau kaidah-kaidah keberlanjutan yang harus dipertimbangkan dalam perumusan KRP. Selain pendekatan tersebut di atas, mempertimbangkan bahwa implementasi KLHS RTRW Kota Palangka Raya dilakukan terhadap Ranperda RTRW Kota Palangka Raya (KRP RTRW telah dirumuskan sebelumnya), maka studi KLHS ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan ex-post (evaluasi KRP RTRW). Hasil kajian KRP selanjutnya akan menjadi dokumen KLHS karena substansi pertimbangan-pertimbangan lingkungan hidup dan/atau substansi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan telah terintegrasi ke dalam KRP (RTRW) yang menjadi kajian. Namun demikian, dalam pendekatan ini disertakan pula catatan-catatan hasil implementasi KLHS dalam perumusan dan/atau evaluasi KRP yang menjadi kajian. Catatan-catatan tersebut selain dimanfaatkan untuk menunjukkan alasan pemilihan KRP, juga untuk mengawal KRP hasil pilihan/revisi. 2.3 Mekanisme dan Tahapan KLHS Tahapan penyusunan dokumen KLHS untuk Ranperda RTRW Kota Palangka Raya meliputi langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi dan mengumpulkan data mengenai isu-isu, dan permasalahan pembangunan yang bersifat strategis dan merumuskan strategi pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Kota Palangka Raya. 2. Mengidentifikasi KRP Ranperda RTRW Kota Palangka Raya yang akan dikaji dalam perspektif SPRE. 3. Memetakan para pemangku kepentingan yang berpengaruh dan mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap KRP yang akan dirumuskan. 4. Menentukan kriteria dan indikator berdasarkan KRP RTRW Kota Palangka Raya serta isu-isu pembangunan berkelanjutan yang menjadi prioritas. 5. Menyusunan baseline data dan informasi yang akan menjadi acuan atau tolok ukur (benchmark) untuk analisis KLHS. 5

13 6. Mengidentifikasi hal-hal terkait metode untuk pengkajian pengaruh KRP terhadap kondisi lingkungan, sosial budaya dan ekonomi serta SPRE di Kota Palangka Raya berdasarkan data dasar. 7. Melakukan analisis KLHS untuk RTRW Kota Palangka Raya secara spasial maupun non-spasial. 8. Penyusunan peta-peta tematik dan cross tabulasi untuk kebutuhan analisis KLHS. 9. Merumuskan implikasi rencana dan/atau program yang tertuang dalam RTRW Kota Palangka Raya terhadap isu-isu strategis terkait bentang alam, kondisi sosial budaya, pembangunan rendah emisi sesuai hasil kajian KLHS. 10. Merumuskan mitigasi dan skenario alternatif terhadap KRP RTRW Kota Palangka Raya sebagai masukan bagi penyempurnaan RTRW Kota Palangka Raya yang telah dirumuskan sebelumnya. 11. Menyusun draft laporan KLHS untuk kemudian diintegrasikan ke dalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya termasuk naskah akademik RTRW. 12. Melakukan konsultasi publik hasil integrasi KLHS ke dalam Ranperda RTRW oleh Kelompok Kerja KLHS Kota Palangka Raya. Secara sekuensial, tahapan pelaksanaan KLHS terhadap RTRW dengan perspektif SPRE adalah seperti tersebut dalam Tabel 2.1. Tabel tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan KLHS diakhiri dengan rekomendasi dan endorsement hasil KLHS. Rekomendasi hasil KLHS merupakan alternatif penyempurnaan KRP. Alternatif perbaikan muatan KRP tersebut diperoleh dengan melakukan kajian implikasi/dampak KRP terhadap isu-isu LH dan sosial dalam pembangunan berkelanjutan di suatu wilayah, dan disepakati bahwa KRP yang dikaji potensial memberikan dampak negatif pada pembangunan berkelanjutan. Beberapa alternatif dan/atau mitigasi/adaptasi untuk menyempurnakan dan/atau merevisi KRP (pada pendekatan/prosedur KLHS expost) dilakukan melalui cara sebagai berikut: a. Memberikan arahan atau rambu-rambu mitigasi terkait dengan KRP yang diprakirakan akan menimbulkan dampak lingkungan hidup atau bertentangan dengan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. b. Menyesuaikan ukuran, skala dan lokasi usulan KRP. Misalnya, untuk lokasi, mengusulkan lokasi baru yang dianggap lebih aman, atau mengusulkan pengurangan luas rencana alokasi ruang untuk pembangunan seperti yang diusulkan dalam KRP yang sedang menjadi kajian. c. Menunda, memperbaiki urutan atau waktu, atau mengubah prioritas pelaksanaan KRP. Misalnya, dalam hal jangka waktu dan tahapan pembangunan: mengusulkan perubahan jangka waktu pembangunan, baik awal kegiatan pembangunan, urutan, maupun kemungkinan penundaan suatu rencana/program pembangunan. 6

14 d. Mengganti kebijakan, rencana, dan/atau program apabila KRP tersebut tidak dapat disetujui karena lebih banyak kerugiannya dibandingkan manfaatnya. Rambu-rambu tersebut di atas dapat dituliskan dalam penjelasan peraturan daerah misalnya, fungsinya adalah untuk memastikan bahwa dampak negatif akibat implementasi KRP dapat ditanggulangi/dicegah. Argumentasi perlunya revisi, ramburambu, dan/atau penggantian KRP tersebut harus dijelaskan secara tertulis, dan menjadi bagian dari dokumen/laporan KLHS. Tabel 2.1 Empat Tahapan Penyelenggaraan KLHS RTRW yang lazim dilaksanakan di Indonesia. Tahap Proses Tujuan 1 Pengkajian pengaruh RTRW a Perancangan proses penyelenggaraan KLHS b Identifikasi dan pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya Merancang agar melalui KLHS prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi dasar dan terintegrasi dalam RTRW. Memahami konteks KLHS dalam penyusunan RTRW dan peluang integrasinya Masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dapat menyampaikan masukan tentang isu strategis LH, sehingga akuntabilitas RTRW dapat dipertanggungjawabkan c Identifikasi isu-isu strategis LH Menetapkan isu LH yang bersifat strategis yang perlu menjadi dasar dan dipertimbangkan dalam penyusunan RTRW d Identifikasi muatan RTRW yang relevan e Pengkajian pengaruh KRP terhadap kondisi lingkungan hidup di wilayah perencanaan 2 Perumusan alternatif penyempurnaan RTRW 3 Rekomendasi perbaikan RTRW dan pengintegrasian hasil KLHS 4 Dokumentasi KLHS dan Akses Publik Menetapkan muatan RTRW yang relevan dengan isu strategis LH yang ditetapkan Memprakirakan dampak dan risiko lingkungan hidup oleh rancangan RTRW Merumuskan alternatif penyempurnaan RTRW dan mitigasinya Merumuskan perbaikan rancangan RTRW sesuai dengan alternatif terpilih dan mencatat mitigasi yang diperlukan Mendokumentasikan proses-proses KLHS yang terbuka aksesnya untuk publik, agar masyarakat dan pemangku kepetingan lainnya dapat menilai dan menanggapinya Catatan: Mempertimbangkan pentingnya isu-isu strategis dalam studi KLHS, maka pelaksanaan KLHS diupayakan melibatkan para pemangku kepentingan yang relevan dan representatif, sehingga mampu merumuskan isu-isu strategis yang juga relevan. Pelaksanaan KLHS ini dilakukan dalam 8 kali pertemuan: satu kali kick-off meeting, empat kali FGD, dua kali konsultasi publik, dan satu kali proses integrasi hasil KLHS ke dalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya termasuk naskah akademiknya. 7

15 3 KARAKTERISTIK KOTA PALANGKA RAYA 3.1 Biofisik Kondisi Geografi dan Administrasi Wilayah Kota Palangka Raya secara resmi ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Juli 1957, dengan kondisi fisik kota yang belum ada, hanya berupa kampong, yaitu Kampung Pahandut, yang terletak di tepi Sungai Kahayan. Gambar 3.1 Peta wilayah administrasi Kota Palangka Raya 8

16 Secara geografis Kota Palangka Raya terletak pada Bujur Timur dan Lintang Selatan. Secara administrasi berbatasan dengan (Gambar 3.1): Sebelah Utara: Kabupaten Gunung Mas Sebelah Timur: Kabupaten Gunung Mas Sebelah Selatan: Kabupaten Pulang Pisau Sebelah Barat: Kabupaten Katingan Berdasarkan Peta lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73, 74 dan 75 Tanggal 27 Desember 2013 Tentang Batang Daerah Kota Palangka Raya dengan Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah, luas Wilayah Kota Palangka Raya adalah 2.828,55 km2. Secara administrasi Kota Palangka Raya dibagi menjadi 5 Kecamatan dan 30 Kelurahan, yaitu Kecamatan Pahandut dengan 6 Kelurahan, Kecamatan Sabangau dengan 6 kelurahan, Kecamatan Jekan Raya dengan 4 kelurahan, Kecamatan Bukit Batu dengan 7 kelurahan dan Kecamatan Rakumpit dengan 7 Kelurahan Topografi Keadaan topografis Kota Palangka Raya dapat dibedakan dalam 2 tipe, yaitu daerah dataran dan daerah berbukit. Daerah berbukit pada umumnya terdapat di bagian utara Wilayah Kota Palangka Raya dengan ketinggian mencapai > 75 m dari permukaan laut, dengan titik tertinggi terdapat di daerah Bukit Tangkiling, seperti termuat dalam Tabel 3.1. Tabel 3.1 Ketinggian Kota Palangka Raya di atas permukaan air laut (dpl) No Nama Kecamatan Kisaran Ketinggian 1 Sabangau meter 2 Pahandut meter 3 Jekan Raya meter 4 Bukit Batu meter 5 Rakumpit > 75 meter Sumber: Badan Pertanahan Nasional Kota Palangka Raya Tahun Data diolah (2014) Kemiringan Lereng Wilayah Kota Palangka Raya bentukan bentang alam atau morfologi yang memiliki kondisi datar hingga landai dan tidak dijumpai perbukitan tajam melainkan perbukitan halus (tanpa ada perbukitan curam) dengan tingkat kemiringan lahan di daerah berbukit kurang dari 40%. Sedangkan daerah dataran terdapat di bagian selatan wilayah Kota Palangka Raya yang terdiri dari dataran rendah dan rawa, dengan ketinggian kurang dari 40 m dari permukaan laut dengan kemiringan 0 8%. 9

17 Kawasan Hutan Klasifikasi hutan atas tipe-tipe dilakukan berdasarkan faktor iklim, edafis dan komposisi tegakannya. Klasifikasi iklim menurut F.H. Schmidt J.H.A. Ferguson didasarkan pada perbandingan rata-rata jumlah bulan kering dan basah yang dinyatakan dalam bentuk persen (%) disebut dengan nilai Q dengan klasifikasi tersebut pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Klasifikasi iklim menurut Ferguson Tipe Iklim Nilai Q (%) A B C D ,0 Untuk Kota Palangka Raya termasuk dalam tipe A, karena Palangka Raya mempunyai intensitas hujan sepanjang tahun (tepat di garis katulistiwa). Faktor iklim yang mempengaruhi formasi vegetasi antara lain temperatur, kelembaban, intensitas cahaya dan angin. Faktor edafis yang mempengaruhi formasi vegetasi antara lain sifat fisik, kimia dan kelembaban tanah. Tipe yang dalam pembentukan vegetasi dipengaruhi oleh iklim disebut formasi klimatis, sedangkan yang dipengaruhi oleh faktor edafis disebut formasi edafis. Formasi Klimatis meliputi hutan hujan tropis, hutan musim dan hutan gambut, sedangkan formasi edafis meliputi hutan rawa, hutan payau dan hutan pantai. Dilihat dari klasifikasi tersebut, Palangka Raya secara formasi klimatis didominasi oleh hutan rawa gambut 70%, hutan rawa di sepanjang daerah aliran sungai 10% dan hanya 20% yang berada di daerah Kecamatan Bukit Batu dan Rakumpit yang merupakan hutan peralihan dari gambut menuju tipe hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis merupakan hutan yang selalu basah dengan tipe iklim A dan B yang basah sepanjang tahun dengan komposisi tanah podsolik, latosol, alluvial dan regosol dengan drainase baik dan terletak jauh dari pantai. Jenis-jenis pohon yang mendominasi dari family Lauraceae seperti seperti Ulin, Araucariaceae seperti Agathis, Apocynaceae seperti Jelutung, Myrthaceae dan Myristicaceae. Hutan gambut merupakan hutan peralihan dari hutan hujan tropis menuju hutan rawa dengan tipe iklim A dan B yang bertanah organosol (gambut) dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Tegakan selalu hijau dan mempunyai multi stratifikasi tajuk. Jenis pendominasi hutan rawa gambut antara lain famili Thymeliaceae seperti ramin, Dipterocarpaceae seperti meranti, resak, bangkirai, kamper tengkawang, Ebenaceae seperti Malam-malam dan tutup kabala, Hypericaeae seperti geronggang, Anonaceae seperti jangkang, pisang-pisang, Myrthaceae dan sebagainya. Hutan rawa merupakan kawasan hutan yang selalu tergenang air tawar yang tidak dipengaruhi oleh iklim yang terletak di tanah alluvial, dimana di Palangka Raya, kawasan ini berada di sepanjang daerah aliran sungai. Vegetasi pendominasi kawasan 10

18 ini adalah anacardiaceae seperti rengas dan Lyrthraceae seperti bungur, terentang, jangkang, Sapotaceae seperti Palaquium, Dipterocarpaceae jenis Shorea ullginosa, manggis, jambu-jambuan, dan Calophyllum spp. (seperti bintangur dan kapur naga). Berdasarkan tipe habitatnya, Kota Palangka Raya didominasi oleh tipe habitat Volcanic Hills Dipterocarpaceae yang meliputi wilayah sekitar 875,000 ha; yang pada umumnya memiliki tutupan hutan lebih dari 70%. Tipe habitat lain dengan wilayah yang cukup luas adalah Hutan Volcanic Upper Dipterocarpaceae (20%, 245 ha); dan hutan Peat Hill Dipterocarpaceae (6,478 ha). Keempat tipe habitat lainnya memiliki wilayah seluas < 1,500ha. (dikutip dari materi pelatihan Land Conservation Plan (LCP) Kalimantan Tengah). Semuanya ini telah mengalami degradasi yang cukup serius, sehingga keberadaannya merupakan bagian yang tersisa dari ekosistem yang ada. Oleh karena itu, ketiga tipe ekosistem ini memerlukan upaya konservasi sepenuhnya (100%). Berdasarkan data peta kawasan hutan yang diperoleh dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangka Raya Tahun 2014, diketahui fungsi kawasan hutan untuk Kota Palangka Raya adalah seperti tergambarkan dalam Tabel 3.3 dan Gambar 3.2. Tabel 3.3 Luasan fungsi kawasan hutan Kota Palangka Raya No. KODE KETERANGAN LUAS / Ha 1 APL Areal Penggunaan Lain ,62 2 CA Cagar Alam Darat 726,20 3 HL Hutan Lindung ,34 4 HP Hutan Produksi ,06 5 HPK Hutan Produksi Konversi ,15 6 KSA/KPA Hutan Suaka Alam dan Margasatw 1.771,12 7 TN Taman Nasional Darat ,40 8 S (Tubuh Air) Lautan/Sungai (mempunyai lebar) 2.403,39 JUMLAH ,28 Sumber : - Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangka Raya Data diolah

19 Gambar 3.2 Peta fungsi kawasan hutan di Kota Palangka Raya Berdasarkan Tabel 3.3. diatas diketahui bahwa fungsi kawasan hutan yang paling besar luasannya untuk Kota Palangka Raya adalah kawasan hutan produksi yang dapat dikonversikan 32% dari luas kawasan kota. Kawasan tersebut meliputi kawasan perladangan dan budidaya tanaman pertanian. Hutan produksi tetap sebagian dikonversikan untuk areal pertambangan, kawasan budidaya masyarakat dan termasuk 12

20 didalamnya kawasan KHDTK hutan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (4.910 ha) dalam kisaran 26%. Kawasan Suaka Alam dan kawasan pelestarian alam dalam luasan 2% kawasan Gambar 3.3. Gambar 3.3 Grafik pembagian kawasan hutan di Kota Palangka Raya Kawasan hutan di kota Palangka Raya sesuai dengan keberadaan lahan gambut sebagai suatu tipe hutan mayoritas di kota Palangka Raya yang harus dilindungi, mengarahkan pola tata ruang yang berlandaskan kelestarian. Kedalaman gambut yang berada di kawasan budidaya semuanya merupakan gambut dangkal dengan kedalaman berkisar m untuk Kelurahan Bukit Tunggal, Petuk Ketimpun dan Sei Gohong dan untuk gambut sangat dangkal dengan kedalaman berkisar m di Kelurahan Panjehang, Petuk Bukit, Menteng, Panarung, Kalampangan, Bereng Bengkel, Kameloh Baru dan Danau Tundai yang merupakan kawasan budidaya masyarakat untuk kegiatan wanatani (agroforestry) maupun budidaya tanaman pertanian. Di Kelurahan Mungku Baru dan Tangkiling mempunyai tipe penutupan hutan peralihan dari hutan rawa gambut menuju hutan dataran rendah (low land forest) Hidrologi Air permukaan yang ada di wilayah Kota Palangka Raya sebagian besar merupakan air permukaan dari sungai. Sungai yang melintasi wilayah Kota Palangka Raya, yaitu Sungai Kahayan dengan panjang 526 km, Sungai Rungan (165 km) dan sungai Sabangau (180 km), serta sungai-sungai kecil yang masih dalam cakupan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan. Seluruh wilayah Kota Palangka Raya adalah wilayah yang posisinya berada pada DAS Kahayan. Hingga saat ini, pemanfaatan air baku bagi kepentingan kebutuhan air bersih/air minum seluruhnya di pasok dari air permukaan atau air sungai, terutama sungai Kahayan. Kualitas air sungai di wilayah Kota Palangka Raya temasuk kategori tercemar ringan dengan Nilai Polutan Indeks (PI) rata-rata 3,88. Data diolah dari 8 lokasi pengambilan sampel (Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Palangka Raya, 2013). Cakupan air tanah terdiri dari air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal adalah air tanah yang umumnya digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih berupa sumur timba atau sumur pompa, baik pompa tangan maupun pompa tenaga 13

21 listrik. Secara umum rata-rata kedalaman sumur yang tersebar di sebagian masyarakat Kota Palangka Raya, rata-rata minimal pada kedalaman sumur 2 m dan maksimum 5 meter sudah diperoleh air sumur pada masa musim penghujan. Dan pada masa musim kemarau rata pada kedalaman sumur minimal 5 m hingga maksimal 7 m dapat diperoleh air sumur, seperti yang terdapat pada Tabel 3.4. Tabel 3.4 Sebaran potensi air tanah Kota Palangka Raya No 1 2 Potensi Air Tanah Air Tanah Dangkal Air Tanah Menengah Datar Luas (Ha) (%) Kualitas Deskripsi ,45 72, ,55 27,66 Total Luas ,00 100,00 Memenuhi standar baku mutu Permenkes 492/2010, kecuali ph > 5 Tidak ada data Daerah dengan quater sistemnya masih dipengaruhi oleh keberadaan jalur sungai, baik sungai utama Ranungan/Kahayan, Sabangau dan sungai-sungai lainnya yang tersebar pada daerah sekitar Kahayan, baik sebagai anak-anak sungai maupun aluralur drainase alam lainnya yang pembuangannya langsung ke sungai besar yang terdekat. Daerah dengan aquater sistemnya sangat di pengaruhi oleh kondisi rawa gambut baik yang dangkal maupun yang sepanjang tahun tetap basah. Sumber: 1. Hidrogeologi lembar Palangka Raya Badan Geologi Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Status Lingkungan Hidup Daerah Data diolah, 2014 Secara geohidrologi, Kota Palangka Raya mempunyai cakupan air tanah yang terdiri dari air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal inilah yang umumnya digunakan oleh masyarakat Kota Palangka Raya selain air perpipaan dari PDAM sebagai sumber air bersih berupa sumur pompa. Secara umum rata-rata kedalaman sumur air tanah dangkal ini 5-7 m pada musim penghujan dan 7-12 m pada musim kemarau. Air tanah yang ada di kawasan rawa gambut, umumnya memiliki tingkat keasaman yang tinggi (PH<5) dengan warna kecoklatan sampai hitam. Selain potensi air tanah dan sungai, Kota Palangka Raya memiliki potensi air dalam bentuk danau. Di Kota Palangka Raya terdapat kurang lebih 104 buah danau, dengan total luasan 636,10 ha. Danau-danau ini tersebar di berbagai wilayah Kota Palangka Raya. Pada Kecamatan Bukit Batu terdapat 45 buah danau (281,5 ha), Kecamatan Rakumpit 42 buah danau (167,6 ha), Kecamatan Sabangau 10 buah danau (63 ha), Kecamatan Pahandut terdapat 4 buah danau (90 ha), Kecamatan Jekan Raya 3 buah danau (35 ha) (Sumber data Bappeda Kota Palangka Raya tahun 2014). Masing-masing danau memiliki keunikan dan karakteristik lingkungan biotanya sendiri, namun secara umum danau-danau yang ada merupakan rawa gambut bekas sungai mati (Oxbow), yang mana secara hidrologi sumber airnya berasal dari limpasan sungai utama seperti Sungai Kahayan, Rungan dan Sabangau. 14

22 Aliran air permukaan yang mengalir di wilayah Kota Palangka Raya adalah Sungai Kahayan, Sungai Rungan dan Sungai Sebangau. Secara umum, pada aliran sungai tersebut memperlihatkan pola aliran meranting dengan stadium aliran dewasa hingga tua, yang ditandai oleh pola meander (sungai berkelok-kelok) yang sangat kuat hingga membentuk danau-danau kecil sebagai akibat meander terpotong. Daya dukung air merupakan parameter yang sangat kuat penting dalam perencanaan Tata Ruang Wilayah. Kota Palangka Raya merupakan dataran plat dengan ketinggian 0-75 m DPL termasuk zona iklim tropis dengan data klimatologi Kota Palangka Raya tersebut dalam Tabel 3.5. Tabel 3.5 Data hujan dan klimatologi Kota Palangka Raya Bulan Hari Hujan Curah Hujan (mm) Kecepatan Angin (knot) Rata-rata Temperatur ( C) Rata-rata Kelembaban (%) Januari ,6 9,3 26,8 85,4 Februari ,9 9,5 26,8 87,6 Maret ,5 12,9 27,1 85,4 April ,1 7,4 27,7 84,8 Mei ,3 7,9 27,7 83,6 Juni ,8 7,5 27,4 83,0 Juli ,3 9,7 26,5 85,7 Agustus 11 75,0 8,5 27,1 81,7 September 8 72,3 8,9 27,7 79,8 Oktober ,7 8,2 28,1 81,1 November ,5 7,7 27,7 85,0 Desember ,5 9,3 27,3 86,1 Rata rata 17,83 263,54 8,9 27,325 84,1 Sumber: Kota Palangka Raya dalam Angka (2012) Tutupan Lahan dan Laju Deforestasi Pembangunan mempunyai efek positif dan negatif pada pembukaan lahan hutan. Efek positif dimana aksesibilitas untuk mencapai kawasan hutan menjadi mudah sehingga pemantauan kawasan hutan akan lebih mudah. Kemudahan ini menimbulkan dampak negatif dimana hutan terancam rusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Isu pemindahan ibukota pemerintahan negara yang akan dipindahkan ke Palangka Raya mempengaruhi kerusakan kawasan hutan yang ada Tutupan Lahan Deskripsi tutupan lahan di kota Palangka Raya, terdiri atas tutupan hutan alam tropis, hutan gambut dan beberapa kawasan merupakan kawasan terdegradasi seperti tampak pada Tabel 3.6 dan Gambar 3.4. Kawasan yang telah terbuka dan mulai terdegradasi 15

23 ditumbuhi oleh vegetasi yang bersifat pioneer. Penutupan lahan pada lahan yang cenderung terdegradasi mempunyai kecenderungan mengikuti pengaruhi daerah aliran sungai. Zona-zona tersebut berurutan terletak mulai tepian aliran sungai. Zona penutupan lahan yang terjadi adalah sebagai berikut zona rumput kumpai, zona rumput minyak, zona rumput purun dan zona kelakai (hasil penelitian tim PT HAL tahun 2012). Pohon pioneer yang mampu tumbuh di atas tutupan tersebut antara lain terdiri atas tegakan tumih (Combretocarpus rotundatus) secara homogen. Tumih merupakan salah satu jenis pohon pioneer yang mampu tumbuh di lahan gambut yang sudah terbuka secara merata tumbuh di daerah sekitar Tangkiling dan jenis Galam (Melaleuca leucadendron) secara merata tumbuh di lahan gambut secara alami di sekitar kecamatan Kereng Bangkirai. Sedangkan di kawasan agak kering pada wilayah yang merata di Palangka Raya pohon-pohon pioneer yang secara alami tumbuh antara lain geronggang (Cratoxylum arborescens) dan pada lahan yang lebih tinggi dan berjenis tanah Latosol ditumbuhi pohon pioneer jenis Mahang (Macaranga spp.). Pola penutupan lahan Kota Palangka Raya selama tahun terjadi penurunan tingkat penutupan. Tipe penutupan lahan di Kota Palangka Raya berdasarkan peta tutupan lahan selama sepuluh tahun terakhir yang diterbitkan oleh Kementerian Kehutanan tentang degradasi lahan gambut tahun , diketahui bahwa wilayah Kota Palangka Raya merupakan kawasan dengan komposisi sebagian besar hutan gambut sekitar 85% dengan ketebalan gambut bervariasi dari gambut dalam dan sedang (kedalaman m dan m) yang terdapat di Taman Nasional Sebangau. Berdasarkan peta tutupan lahan selama 10 tahun terakhir yang diterbitkan oleh Kementerian Kehutanan, bahwa di Kota Palangka raya terjadi degradasi lahan akibat kerusakan tersebut sekitar 10% kawasan seperti yang ditunjukkan peta berwarna kuning yang terjadi secara sporadis dan sebagian besar terletak di sepanjang daerah aliran sungai. Posisi areal yang terdegradasi tersebut terpusat di Kelurahan Bukit Sua, Petuk Berunai, Gaung Baru, Panjehang Banturung, Habaring Hurung, Tumbang Tahai, Marang, Tumbang Rungan, Pahandut Seberang, Kereng Bangkirai dan Sabaru. Pada beberapa daerah terjadi suksesi yang akan memperbaiki penutupan lahan yang berpusat di Kelurahan Mungku Baru, Petuk Bukit dan sebagian kecil di Gaung Baru. Pada wilayah Kota Palangka Raya sebagian besar mempunyai tingkat penutupan lahan yang masih konstan yang harus selalu dijaga dan dilindungi agar tetap lestari. Pembangunan dan isu pemindahan ibukota pemerintahan Negara Indonesia yang menimbulkan banyaknya spekulasi harga tanah yang mengakibatkan nilai tanah semakin tinggi, yang kemudian menyebabkan terjadinya pembukaan lahan secara besar-besaran, dan menimbulkan sengketa-sengketa lahan lainnya. 16

24 Gambar 3.4 Peta tutupan/penggunaan lahan tahun 2012 Tabel 3.6 Luasan tutupan/penggunaan lahan di Kota Palangka Raya tahun 2012 No. KODE TUTUPAN LAHAN KETERANGAN LUAS (ha) Hutan Lahan Kering Sekunder 4.031, Hutan Rawa Primer 3.584,79 17

25 No. KODE TUTUPAN LAHAN KETERANGAN LUAS (ha) Semak/Belukar , Perkebunan 1.139, Permukiman , Tanah Terbuka 9.464, Tubuh Air 2.403, Hutan Rawa Sekunder , Semak/Belukar Rawa , Pertanian Lahan Kering 3.178, Pertanian Lahan Kering Bercampur dengan Semak 287, Sawah 497, Pertambangan 1.101, Rawa ,80 JUMLAH , Laju Deforestasi Diprakirakan bahwa da am kurun waktu 11 tahun terakhir laju deforestasi di Kota Palangka Raya cukup signifikan. Selama tahun 2000 sampai 2011, telah terjadi perubahan tutupan lahan di Kota Palangka Raya sebesar ha. Degradasi gambut menjadi penyumbang terbesar deforestasi yang terjadi di Palangka Raya, yaitu sebesar ha atau sebesar 90,9% dari total luas perubahan yang ada. Indikasi tingginya angka laju deforestasi kemungkinan terkait dengan kebijakan pemerintah di kelurahan Mungku Baru, yang menetapkannya sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian non ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar, dan kegiatan pertambangan dan Sub pusat pelayanan Petuk Bukit ditetapkan di Kawasan Kelurahan Pager yang berfungsi sebagai kawasan pertanian (eco farming), perikanan air tawar dan kehutanan (social forestry) serta preservasi lingkungan dan adaptive planning (Pasal 11 ayat (3) huruf d). Kebijakan ini apabila tidak dilakukan dengan hati-hati dapat mempengaruhi tingkat kerusakan hutan yang ada. Kerusakan kawasan hutan diprakirakan akan meningkat oleh hal-hal sebagai berikut: 1. Kawasan yang diisukan sebagai Kawasan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang hingga sekarang penetapan kawasannya belum jelas, namun eksploitasi sudah berlangsung secara besar-besaran di kawasan hutan. 2. Perluasan areal budidaya masyarakat sebagai kawasan budidaya pertanian masih dilakukan dengan sisten ekstensifikasi dan belum dilakukan pola non 18

26 ekstensifikasi. Kegiatan ini terjadi secara sporadic di berbagai tempat (perladangan berpindah di beberapa kelurahan). 3. Penebangan pohon untuk kayu bakar dan bahan bangunan (kelurahan Mungku Baru sebagai pemasok kayu untuk bangunan di kota Palangka Raya dan sekitarnya seperti kayu reng dengan diameter 5-10 cm, sehingga sangat mempengaruhi deforestasi. 4. Perumahan masyarakat yang memanfaaatkan kayu hutan dan pengadaan fasilitas umum seperti jalan di desa dan pembukaan akses jalan yang cenderung akan merusak kawasan hutan. 5. Penetapan kawasan untuk perikanan air tawar bias dipandang sebagai kegiatan yang terlambat, karena di sepanjang aliran dungai di kelurahan Mungku Baru 90% sudah tercemar dan rusak akibat kegiatan pertambangan. Kerusakan kawasan hutan terjadi akibat adanya kebijakan dan/atau rencana alih fungsi lahan dan eksploitasi lahan. Gambar 3.5 menunjukkan kerusakan hutan yang disebabkan oleh aktivitas manusia dalam merambah hutan yang terjadi di kelurahan Mungku Baru kecamatan Rakumpit sebagai dampak pertambangan emas illegal (a), eksploitasi hutan (b), perladangan berpindah (c) maupun pengembangan fasilitas umum dan pemukiman di sekitar kawasan hutan (d). a b c d Gambar 3.5 Kerusakan kawasan hutan Mengacu pada kondisi penutupan lahan pada Gambar 3.5, secara spesifik dapat digambarkan pola penutupan lahan terdegradasi terdiri atas 4 tipe penutupan lahan seperti tampak pada Gambar 3.6, yaitu: kumpai (a), purun (b), rumput minyak (c), dan kelakai (d) (Hasil penelitian tim PT HAL tahun 2012). a b c d Gambar 3.6 Contoh tutupan lahan pada tanah terdegradasi akibat pembukaan lahan rawa gambut 19

27 Hutan Tanaman Industri Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk Kota Palangka Raya dilaporkan tidak ada perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan khususnya HTI, termasuk juga HPH. Pada daerah perbatasan terdapat HTI, yaitu PT. Tai Yong dengan perijinan operasional melalui Kabupaten Gunung Mas, meskipun kawasannya tumpang tindih dengan Kota Palangka Raya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan interpretasi terhadap Surat Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 130/26/Adpum, tanggal 10 Januari 2011, perihal Penegasan Batas Daerah. Perusahaan besar di bidang kehutanan di Kota Palangka Raya hanya berupa perusahaan pengolah getah karet dan perusahaan pribadi pengolah getah pantung serta kerajinan tangan dari getah nyatoh yang diusahakan secara konvensional Hasil Hutan Non-Kayu Termasuk Perikanan Hasil hutan non kayu adalah materi biologi selain kayu yang merupakan hasil hutan ikutan yang melalui proses ekosistem alam, baik untuk keperluan komersial maupun untuk keperluan sehari-hari atau untuk keperluan sosial, agama dan budaya yang diperoleh dari suatu kawasan hutan. Produktivitas hasil hutan non kayu yang ada di kota Palangka Raya belum dilaporkan secara rutin setiap tahunnya meskipun produksinya diatas ambang rata-rata dan memberi pendapatan yang significant untuk masyarakat. Hasil hutan ini dipanen dari hutan secara sporadis oleh masyarakat pada musim-musim tertentu dan dilakukan masih dengan cara sederhana. Hasil hutan non kayu yang banyak terdapat di hutan dan kawasan hutan sekitar Palangka Raya dapat dipisahkan sesuai dengan peruntukannya, yaitu: A. Tumbuhan 1. Sumber bahan makanan seperti sayur-mayur (kelakai, umbut rotan), bijibijian (seperti jambu mete, kenari, pampaning), umbi-umbian (seperti ubi kayu, uwi, ketela), sagu, aren (kolang-kaling, gula merah), bambu/rebung, jamur (untuk dimakan) dan sebagainya. 2. Sumber bahan baku obat modern dan tradisional seperti jamur Ganoderma, pasak bumi, akar kuning, akar gantung, tumbuhan sarang semut dan sebagainya. Najamuddin, Suatma, dan Savitri (2001) yang menginventarisir tumbuhan berkhasiat obat di Palangkaraya menemukan 60 jenis tumbuhan. Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat dari suku Dayak (Ngaju dan Ma ayan) dan suku Banjar. Kebanyakan dari jenis-jenis tumbuhan tersebut dari sekitar pemukiman, bahkan sebagian besar tanaman budidaya. Jenis-jenis penyakit yang diobati juga pada penyakit-penyakit ringan seperti sakit perut, penyakit kulit, sariawan, luka ringan dan lain-lain. Hal ini karena tempat penelitian pada masyarakat perkotaan. 3. Sumber bahan bangunan, perabot dan kerajinan tangan seperti rotan dan bambu. 20

28 B. Hewan 4. Rempah-rempah (wijen, daun salam, serai, kemiri, bunga lawang, kayu manis, cengkeh, bumbu dapur, jahe-jahean) 5. Bahan keperluan hidup lainnya (tidak dikonsumsi) seperti: a. Gemor yang diambil kulit kayunya untuk membuat obat mengusir nyamuk bakar b. Galam untuk diambil minyak atsirinya yang menyerupai pohon kayu putih hanya berbeda speciesnya. Di Kalimantan jenis yang ada bukan yang mempunyai kandungan minyak yang tinggi sehingga tidak dimanfaatkan, hanya kayunya yang digunakan untuk kayu bangunan. c. Getah jelutung untuk membuat bahan kosmetik, permen karet, dan sebagainya. d. Getah Nyatoh untuk kerajinan tangan. e. Damar pohon pilau (Agathis borneensis) untuk membuat kaca mobil. f. Minyak tengkawang untuk kosmetik, dan sumber minyak nabati bernilai jual tinggi. g. Damar beberapa jenis Dipterocarpaceae untuk bahan penambal kapal. h. Karet (Hevea braziliensis) yang merupakan tanaman perkebunan komersial. i. Bahan pewarna alami j. Bahan pestisida alami k. Rumbia, aren sebagai penghasil ijuk, lidi untuk sapi 6. Untuk tanaman hias seperti anggrek, kantong semar, maupun tumbuhan perdu lainnya. 7. Penyangga kawasan/perlindungan ekosistem 1. Lebah madu sebagai penghasil madu 2. Ikan dan udang sumber protein unggulan dari kawasan hutan terutama hutan gambut mempunyai nilai ekonomi tinggi dan menjamin taraf hidup masyarakat sekitar hutan meskipun bersifat musiman dengan hasil seperti laporan dari Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Kota Palangka Raya tentang data inventarisasi pengolahan hasil perikanan kota Palangka Raya. Keberadaan hutan dan kelestarian hutan mempengaruhi perekonomian masyarakat dalam hal pemungutan hasil hutan non kayu khususnya hasil tangkapan ikan masyarakat yang sangat membantu peningkatan ekonomi warga masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai di kawasan kawasan hutan. Kerusakan hutan juga berdampak pada rusaknya ekosistem sungai sehingga akan mengurangi hasil tangkapan ikan. Penangkapan ikan yang dianjurkan adalah penangkapan yang ramah lingkungan bukan dengan menggunakan racun, bom air ataupun sengatan listrik. Gambaran produksi perikanan di Kota Palangka Raya dapat dilihat pada Tabel

29 Tabel 3.7 Produksi perikanan perairan umum menurut Jenis perairan (ton basah) No. Tahun Sungai Danau Rawa Budidaya Jumlah ,84 796,94 346, , , ,28 830,83 398, , , ,10 571,30 300, , ,02 Sumber : Kota Palangka Raya dalam Angka Tahun Hewan buruan seperti rusa, kijang, babi, kancil 4. Burung, untuk dimakan/ konsumsi, maupun untuk dipelihara karena keindahan suara dan bulunya. Semua hasil hutan non kayu ini biasanya diusahakan masyarakat sebagai mata pencaharian pokok untuk penduduk sekitar kawasan hutan. Jika luasan hutan rusak ataupun berkurang otomatis akan mengurangi besarnya mata pencaharian masyarakat. Sehingga agar masyarakat dapat mencukupi kebutuhan hidupnya hendaknya kawasan hutan dan luasannya dijaga dan dilestarikan sebagai sumber mata pencahariannya. Hutan mempunyai banyak manfaat yang secara tidak langsung kawasan hutan itu sendiri memberi manfaat sebagai kawasan wisata, perdagangan karbon, perlindungan dan konservasi. Hutan ada untuk bermanfaat bagi masyarakat namun harus tetap lestari. Eksploitasi sumber daya hutan dilakukan secara bijaksana dan tetap memperhatikan kebutuhan hidup bagi generasi berikutnya Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting. Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar. Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non-kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman. 22

30 Hutan di sekitar Kota Palangka Raya sekitar 90% merupakan tipe hutan rawa gambut dan hanya sebagian kecil saja di sekitar daerah di Kecamatan Rakumpit yang bertipe hutan peralihan hutan rawa gambut menuju hutan kering. Kawasan hutan yang ada di sekitar Palangka Raya sebagian besar telah rusak dikarenakan perambahan hutan untuk keperluan lain (konversi) seperti pemukiman masyarakat, jalan raya, pertanian semusim, perkebunan maupun pertambangan. Kawasan hutan yang masih utuh hanya terdapat di beberapa titik saja dan berada di kawasan Taman Nasional Sebangau. Keanekaragaman hayati yang ada di Palangka Raya sudah mulai menurun sejalan dengan rusaknya hutan oleh masyarakat maupun pihak tertentu yang menguasai lahan. Jika hutan hujan mengalami kerusakan oleh alam atau manusia (perladangan atau penebangan) maka suksesi sekunder yang terjadi biasanya dimulai dengan vegetasi rumput atau semak. Selanjutnya Soerianegara dan Indrawan (1998) menyatakan kalau keadaan tanahnya tidak banyak menderita kerusakan oleh erosi, maka setelah tahun akan terjadi hutan sekunder muda, dan sesudah 50 tahun terjadi hutan sekunder tua yang secara berangsur-angsur akan mencapai klimaks. Komunitas hutan adalah suatu sistem yang hidup dan tumbuh, suatu komunitas yang dinamis. Komunitas hutan terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuh-tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan dan penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh dan stabilisasi. Proses ini disebut suksesi atau sere (Soerianegara dan Indrawan, 1998). Ewusie (1980), menyatakan bahwa ada tiga faktor yang memegang peranan penting dalam terbentuknya suatu komunitas, yaitu: 1. Tersedia kesempatan berkoloni atau bahan-bahan serbuan (invading material) misalnya benih, buah dan spora-spora. Hal ini merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan suatu komunitas tumbuhan pada setiap waktu tertentu. Jadi tergantung bahan yang terbawa ke lokasi tersebut. 2. Seleksi pada bahan-bahan yang tersedia secara alam di lingkungan tersebut. Setelah beberapa benih berkoloni dan semai telah mulai hidup pada habitat tersebut, hanya beberapa saja yang dapat toleran terhadap lingkungan dan dapat tumbuh dengan baik. Lingkungan dapat tidak baik untuk perkecambahan beberapa benih dan juga dapat menekan semai-semai tertentu sampai tidak dapat tumbuh. Tingkat ini adalah tingkat yang kritis, karena secara umum selang toleransi semai lebih sempit daripada tumbuhan yang sudah dewasa. tentunya perbedaan lingkungan menghasilkan perbedaan pada tingkat seleksi. Sebagai kasus yang ekstrim misalnya pada permukaan batuan telanjang atau bukit pasir, di sini hanya beberapa jenis saja yang dapat tumbuh. 3. Modifikasi lingkungan oleh tumbuhan. Dari saat yang akan berkoloni pertama tiba pada habitat telanjang tersebut dan mulai tumbuh, komunitas tumbuhan mulai memodifikasi lingkungan. Pengaruhnya dapat dilihat pada tahap akhir dari perkembangan. Prinsip dasar dalam proses suksesi adalah adanya serangkaian perubahan komunitas tumbuhan (jenis dan strukturnya) bersamaan dengan habitat tempat tumbuhnya 23

31 (Manan, 1979). Sedangkan Emlen (1973), menyatakan bahwa suksesi merupakan suatu proses dimana suatu komunitas tumbuhan mencapai suatu keseimbangan dengan melalui tingkat vegetasi dimana masing-masing tingkat diduduki oleh jenis dominan yang berbeda. Proses suksesi berlangsung pada beberapa kawasan hutan yang dikonversikan/alih fungsikan mengalami beberapa perubahan-perubahan, yaitu: 1. Adanya perkembangan dari sifat-sifat tanah, seperti meningkatnya kedalaman tanah, meningkatnya kandungan bahan organik dan meningkatnya perbedaan lapisan horizon tanah. 2. Terjadinya peningkatan dalam tinggi, kerimbunan dan perbedaan strata dari tumbuh-tumbuhan. 3. Dengan meningkatnya sifat-sifat tanah dan struktur komunitas, maka produktivitas dan pembentukan bahan organik meningkat. 4. Keanekaragaman jenis meningkat dari komunitas yang sederhana pada awal tingkat suksesi ke komunitas yang kaya pada akhir suksesi. 5. Populasi meningkat, pergantian suatu populasi oleh populasi lainnya meningkat sampai tingkat yang stabil juga jenis yang berumur pendek digantikan oleh jenis yang berumur panjang. 6. Kestabilan relatif dari komunitas meningkat pada awal komunitas tidak stabil dimana populasi secara cepat digantikan oleh populasi lain. Sedangkan pada komunitas akhir biasanya stabil dan dikuasai oleh tumbuh-tumbuhan yang berumur panjang serta komposisi dari komunitas tidak banyak berubah. Keanekaragaman jenis akan meningkat dari komunitas yang sederhana pada awal suksesi ke komunitas yang kaya pada akhir suksesi (Whittaker, 1970). Keanekaragaman jenis cenderung lebih tinggi di dalam komunitas yang lebih tua dan rendah dalam komunitas yang baru terbentuk, kemantapan habitat merupakan faktor utama yang mengatur keragaman jenis. Pada komunitas yang lebih stabil, keanekaragaman jenis lebih besar dari komunitas yang sederhana dan cendrung untuk memuncak pada tingkat permulaan dan pertengahan dari proses suksesi dan akan menurun lagi pada tingkat klimaks (Ewel, 1980; Ricklefs, 1973). Fox (1976) menyebutkan kendala suksesi sekunder alami di hutan hujan tropika basah adalah menyangkut faktor biologis, lingkungan dan atau manusia. Faktor biologis terutama ditentukan oleh struktur populasi dari tegakannya, yaitu komposisi jenis, distribusi spasial dan jumlah pohon induk. Pada kasus sebaran jenis Dipetrocarpaceae yang umumnya mengelompok dan sifat yang cendrung mengarah ke ecotypic diversification, maka komposisi Dipterocarpaceae yang terbentuk kemudian akan tidak banyak berbeda dari keadaan sebelumnya. Ternyata disamping periode pembungaan/pembuahan yang tidak sama antar jenis, persentase kematian akibat inter/intra specific competition adalah juga tidak sama. Oleh karena itu, dengan adanya penebangan pohon, jelas bahwa hanya jenis-jenis yang suka cahaya yang akan survive (Fox, 1976). 24

32 Pembukaan tajuk yang tidak terlalu berat, akan diikuti oleh pembelukaran bersamasama tumbuhnya jenis pioner yang mengakbatkan adanya perubahan-perubahan keadaan lingkungan (Marsono dan Sastrosumarto, 1980; Kellman, 1970). Keadaan lingkungan yang berubah segera setelah penebangan yaitu, kelembaban, angin, intensitas cahaya adalah akibat buffer effect dari belukar tersebut. Akibatnya adalah pada saat buffer effect ini mencapai pertumbuhan maksimum, semai kayu berharga mencapai kondisi optimum. Sehubungan dengan ini Marsono (1980) telah mencoba menghubungkan pola pertumbuhan semai jenis Dipterocarpaceae dengan perubahan faktor lingkungan sesudah penebangan. Hasilnya menunjukkan pola pertumbuhan faktor-faktor lingkungan yang kompleks. Namun ternyata hanya intensitas cahaya, suhu udara dan kelembaban sajalah yang menentukan. Sedangkan faktor-faktor yang lain seperti Nitrogen, Phosfor tersedia, Potasium, ph dan bahan-bahan organik tanah kurang menentukan, walaupun menunjukkan kecenderungan/tren yang sama. Keanekaragaman hayati di Palangka Raya sangat tinggi dan beragam terutama pada hutan rawa gambut, 95% kawasan palangka Raya didominasi oleh hutan rawa gambut hanya 5% saja yang merupakan hutan dataran tinggi yang bearada di sekitar Desa Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunung Mas yang berupa hutan ulin (hutan Adat). Perhatian terhadap keanekaragaman hayati menjadi isu pokok dalam setiap KRP yang dibuat dalam KLHS Kota Palangka Raya. Hutan rawa gambut memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi baik flora maupun faunanya. Rusaknya kawasan hutan berdampak pada rusak dan punahnya jenis-jenis flora dan fauna tertentu. Kepunahan jenis flora atau fauna tertentu dipengaruhi secara tidak langsung oleh kerusakan ekosistem. Kerusakan-kerusakan ekosistem hutan disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pertambangan, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, pembangunan infrastruktur jalan, pusat kegiatan masyarakat dan pembangunan perumahan rakyat. Kerusakan hutan sangat dipengaruhi oleh kegiatan yang tidak ramah lingkungan. Potensi hutan terutama rawa gambut benar-benar rusak terutama di wilayah yang dianggap dan ditunjuk sebagai WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat). Hutan banyak dibuka oleh masyarakat mengatasnamakan WPR merambah kawasan hutan dan merusak ekosistem hutan. Perlu diketahui bahwa potensi hutan rawa gambut antara lain keragaman tumbuhan obat tradisional, anggrek-anggrek langka, hewan-hewan langka seperti burung Haruwei, burung tingang (enggang), berbagai macam jenis ikan sungai dan sebagainya. Rusaknya ekosistem hutan gambut menyebabkan keringnya lantai hutan yang berpengaruh pada kondisi perakaran dimana perakaran pohon pada vegetasi hutan rawa gambut merupakan tempat ikan-ikan endemik bertelur dan berkembang biak. Rusaknya daerah aliran sungai yang disebabkan oleh illegal fishing dan illegal minning menyebabkan punahnya jenis-jenis ikan tertentu. Kepunahannya disebabkan oleh penangkapan ikan yang melebihi batas dan dampak penambangan yang menyebabkan 25

33 polusi air sungai oleh zat-zat kimia yang digunakan dalam ekstraksi tambang (merkuri). Erosi air akibat pertambangan di aliran sungai membuat rusak ekosistem sungai terutama sungai di sekitar kawasan hutan yang sebagian besar merupakan kawasan gambut. Usaha pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seperti hutan kota, taman kota pada tiga lokasi yang berbeda, yaitu: di lokasi belakang Kantor Walikota Palangka Raya, di Desa Panjehang, Kecamatan Rakumpit dan kawasan pengembangan kantor kota di lingkar dalam dan hutan pendidikan merupakan cara yang bijaksana untuk mempertahankan keanekaragaman hayati yang ada di Palangka Raya. Rencana kegiatan realisasi Ruang Terbuka Hijau di Palangka Raya sangat membantu melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati, terutama untuk daerah dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) seperti yang terdapat di Desa Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit yang merupakan hutan adat dan hutan pendidikan. Rencana percepatan pembangunan hutan kota juga menjadi isu penting untuk mendorong realisasi tindakan pembangunan hutan kota. Hutan kota secara legalitasnya sudah ditunjuk dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Palangka Raya tahun 2010 pada 3 lokasi yang berbeda. SK ini akan diperkuat dengan pengusulan ke Kementerian Kehutanan. Selain itu akan dibuat kesepatan bersama multipihak untuk bersama-sama membangun hutan kota yang lebih produktif dan lestari khusus untuk lokasi di belakang kantor Walikota Palangka Raya. Pembangunan hutan kota menjadi tugas bersama para pemangku kepentingan yang ada di Kota Palangka Raya sebagai tempat perlindungan terhadap plasma nutfah, tata air dan tanah, budaya lokal dan memberi keuntungan ekologis dan ekonomis bagi masyarakat. Hutan kota yang terdapat di Palangka Raya khususnya di belakang Kantor Walikota merupakan tempat strategis dengan aksesibilitas yang tinggi dan dapat dijadikan miniatur hutan rawa yang bisa dijadikan pusat studi dan wisata sehingga dapat memberikan tambahan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Wilayah Potensi Rawan Bencana Seperti wilayah lain di Kalimantan, Kota Palangka Raya juga memiliki potensi cukup besar atau rawan terhadap terjadinya bencana alam sebagai berikut: 1. Kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau; 2. Banjir pada musim hujan; 3. Angin Puting berliung; 4. Kebakaran Pemukiman; 5. Konflik sosial; 6. Wabah penyakit; dan 7. Kekeringan. 26

34 Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran terjadi akibat adanya komponen api atau segitiga api berupa cuaca panas, oksigen dan bahan bakar. Kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kota Palangka Raya pada dasarnya sama dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah kabupaten yang lainnya di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah khususnya dengan kabupaten-kabupaten tetangga yang jenis tanah dan kondisi alamnya hampir sama. Namun, khusus Kota Palangka Raya sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, penanganan kebakaran diupayakan secara intensif mulai kegiatan pencegahan maupun kegiatan penanggulangannya. Kebakaran hutan dan lahan dari tahun ke tahun dan selalu terjadi seiring dimulainya musim kering/musim kemarau baik dalam skala kecil maupun skala luas tergantung kondisi dari bahan bakarnya yang ditentukan oleh intensitas musim kemarau yang terjadi. Sumber-sumber penyebab terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan yang ada di wilayah Kota Palangka Raya tidak terlepas dari adanya aktivitas manusia, dilakukan sejak menjelang/awal sampai berakhirnya musim kemarau, dan merupakan pemacu utama terjadinya kebakaran, antara lain berupa kegiatan-kegiatan yang bertujuannya baik namun tidak bertanggung jawab dalam kelestarian lingkungan, yaitu untuk: 1. Pembersihan lahan di wilayah yang terbuka dan telah memiliki akses seperti kirikanan jalan, dan atau kiri-kanan kanal/drainase; 2. Penyiapan lahan untuk kegiatan pertanian, perkebunan persawahan olahan masyarakat; 3. Pembukaan lahan yang dilakukan oleh perusahaan swasta; dan 4. Pembakaran sampah/serasah di lingkungan pekarangan; 5. Kegiatan berburu, memancing, camping, dan lainnya yang sengaja/tidak sengaja telah meninggalkan bara/api yang masih hidup, serta perbuatan iseng lain seperti membuang puntung-rokok sembarangan yang pada saatnya akan menjadi penyebab terjadinya kebakaran. Secara umum daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, yaitu: 1. Lahan-lahan tidur di kiri-kanan jalan: Jalan Tjilik Riwut baik arah Palangka Raya ke Katingan maupun arah ke Pulang Pisau. Jalan Mahir Mahar, Jalan Rukarno Hata, Jalan Adonis Samad, Jalan Arah Tumbang Telaken, Jalan RTA Milono, Jalan G. Obos, Jalan Yos Sudarso, Jln Tingang, dan jalan-jalan cabang dan jalan produksi pertanian. 2. Lahan-lahan tidur di kiri-kanan Kanal-kanal/drainase yang telah dan baru dibuka; 3. Pekarangan masyarakat di daerah pinggiran kota; 4. Di lokasi hutan bukaan baru oleh kelompok masyarakat dan/atau perorangan. 27

35 Dampak Negatif Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran hutan dan lahan sebaiknya segera ditangani sedini mungkin sampai benarbenar yakin api/bara telah mati/padam, karena dapat menjalar ke lahan yang lebih luas dan apinya semakin besar yang pada saatnya lebih sulit dikendalikan/dipadamkan apalagi jika terjadinya kebakaran pada lahan gambut yang kawasannya belum ada akses untuk menjangkaunya, akibatnya akan memakan waktu lama, tenaga, dana yang besar dan bahkan mungkin tidak akan dapat dipadamkan. Jika kebakaran berlangsung lama pada lahan yang luas maka akan menimbulkan dampak negatif yang sangat signifikan baik terhadap aspek sosial, aspek ekonomi, aspek ekologi, dan hubungan /kepercayaan dunia internasional. 1. Dampak Sosial Dampak negatif terhadap sosial berupa: a. Menurunnya derajat kesehatan akibat: - Cuaca semakin panas berasal dari api dan matahari akan mengurangi cairan dalam tubuh dan dapat mnyebabkan dehidrasi; - Asap mengadung C02 bersifat racun mengakibatkan gangguan sistem pernapasan dan berpengaruh terhadp penglihatan/jarak pandang; dan - Timbulnya kelelahan akibat timbulnya rasa haus/kurang cairan dan kerja yang lama. b. Proses belajar dan mengajar terganggu akibat cuaca panas dan asap sehingga adanya penjadwalan/pengurangan jumlah jam belajar dan bahkan sampai libur sekolah beberapa hari; c. Rusak dan hilangnya cagar dan situs-situs budaya yang merupakan pusaka yang tidak ternilai harganya bagi masyarakat lokal setempat. 2. Dampak Ekonomi Dampak negatif pada perekonomian akan berpengaruh terhadap: a. Kelancaran roda perekonomian karena terganggunya berbagai jalur transportasi sebagai pilar utama ekonomi seperti transportasi darat, air dan udara; b. Dapat berpengaruh terhadap berkurangnya pasokan listrik dan bahan bakar minyak, dan lainnya; c. Hilangnya/berkurangnya aset-aset penting yang berharga baik milik negara maupun masyarakat; d. Hilangnya/berkurangnya sumber matapencaharian bagi masyarakat lokasl setempat; dan e. Dapat berdampak pada turunnya nilai jual beberapa komoditas kehutanan, perkebunan, pertanian, besarnya alokasi biaya pemadaman kebakaan, dan berbagai produk industri tertentu. 3. Dampak Ekologi 28

36 Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap ekologi akan berpengaruh terhadap: a. Meningkatkan polusi udara; b. Rusak dan hilangnya habitat satwa; c. Berkurang dan punahnya plasma nutfah dan keanekaragaman hayati; dan d. Menimbulkan bencana kekeringan, dan meningkatkan emisi Gas Rumah Kaca. 4. Dampak Lainnya Dampak lain kebakaran hutan dan lahan yang tidak kalah penting dari aspek non teknis, antara lain berupa asap yang terbawa oleh angin hingga melintasi batasbatas negara, menyebabkan terjadinya: a. Klaim/protes dari negara tetangga yang ikut menderita atas keberadaan asap yang berasal dari wilayah Republik Indonesia; b. Menurunnya posisi tawar di hadapan negara lain, karena tidak fokus dan gagal dalam penanganan asap akibat kebakaran hutan dan lahan, sehingga hilangnya simpati dunita internasional Permasalahan dalam Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan Permasalahan yang klasik yang masih dijumpai dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, meliputi: 1. Lokasi yang terbakar merupakan lahan gambut yang sulit dipadamkan; 2. Beberapa areal yang terbakar belum ada akses sehingga sulit dan lambat dijangkau; 3. Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap akibat kebakaran hutan dan lahan; 4. Belum optimalnya upaya pemerintah dalam sosialisasi meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya dampak timbul akibat kebakaran hutan dan lahan; 5. Belum ada instansi/lembaga khusus yang menangani kebakaran hutan dan lahan; 6. Kurangnya koordinasi yang sinergis saat terjadi kebakaran hutan dan lahan; 7. Terbatasnya sarana-prasarana, sumber daya manusia, dana yang mendukung kegiatan terkait dengan pemadaman kebakaran hutan dan lahan; 8. Sumber air yang dapat dipergunakan untuk pemadaman sangat terbatas dan jauh dari letak titik-titik api; 9. Masih lemah dan birokrasinya peraturan dalam penegakan hukum secara cepat, sederhana dan murah bagi pelaku pembakar hutan dan lahan Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Kebijakan Pemerintah dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan akhir-akhir ini semakin penting karena merupakan urusan wajib dan menjadi tanggungjawab kepala daerah setempat dengan upaya pemadaman secara terpadu dan 29

37 sedini mungkin terhadap titik-titik api, bekerjasama dengan para-pihak terkait termasuk menggerakan sumber daya yang ada di masyarakat, dengan strategi dan pola penanganannya sebagai berikut: 1. Strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan a. Membentuk posko kebakaran hutan dan lahan; b. Menyiapkan potensi sumber daya yang ada untuk kelancaran dan keberhasilan pencegahan dan penendalian kebakaran hutan; c. Melaksanakan pemadaman secara simultan dan terintegrasi; d. Memanfaatkan teknologi tepat guna untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan; e. Merencanakan pencegahan terjadinya kebakaran yang akan datang. 2. Pola penanganan kebakaran hutan dan lahan, yaitu: a. Kegiatan pencegahan, meliputi: - Penyusunan kebijakan yang memadai. - Melaksanakan sosialisasi yang cukup. - Penyiapan peta rawan kebakaran. - Menyelenggarakan pelatihan teknis. - Penyuluhan kepada masyarkat di dalam dan sekitar hutan dan lahan. b. Kesiapsiagaan yang meliputi: - Penyusunan rencana konsolidasi. - Pemantauan cuaca dan kelembaban. - Pemantauan titik-titik panas. - Pemanfatauan titik api di lapangan. - Pemantauan kualitas udara/ispu. - Pemantauan jarak pandang. c. Penanggulangan kebakaran sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) dan kemampuan yang maksimal. d. Penegakan hukum secara adil, tegas dan bermartabat untuk membuat efek jera kepada para pelaku pembakar hutan dan lahan. 3.2 Sosial Budaya dan Ekonomi Kependudukan Jumlah penduduk Palangka Raya pada tahun 2012 adalah orang yang terdiri dari 51,14% laki-laki dan 48,86% perempuan. Data demografi yang berupa jumlah penduduk dan sebarannya berperan penting untuk meninjau rencana sebaran pembangunan dikaitkan dengan konsentrasi penduduk tertinggi. Dengan membandingkan antara luas wilayah dengan jumlah penduduk, kepadatan penduduk di Kota Palangka Raya adalah sebesar 86 jiwa/km2. Berdasarkan data pada tahun

38 (Tabel 3.8) terlihat bahwa kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Pahandut (117,25 jiwa/km2), sedangkan Kecamatan Rakumpit memiliki tingkat kepadatan penduduk yang rendah (2,87 jiwa/km2). Penduduk Palangka Raya didominasi oleh kelompok usia produktif 15 tahun ke atas, yakni sebesar 69,78%. Sebagian besar penduduk (30,17%) berumur 15 tahun ke atas bekerja di sektor perdagangan. Sektor listrik, gas dan air merupakan sektor dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terendah, yakni sebesar 0,64%. Jumlah pencari kerja di tahun 2012 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2011, dengan tingkat pendidikan pencari kerja terbanyak adalah lulusan universitas/sarjana. Berdasarkan data ketenagakerjaan yang diperoleh, terlihat bahwa lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan besaran pencari kerja yang terdaftar di Dinas Ketenagakerjaan Kota Palangka Raya. Tabel 3.8 Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk/km2 tahun 2012 Kecamatan/Kelurahan (010) PAHANDUT (001) Pahandut (002) Panarung (003) Langkai (004) Tumbang Rungan (005) Tanjung Pinang (006) Pahandut Seberang (011) SABANGAU (001) Kereng Bangkirai (002) Sabaru (003) Kalampangan (004) Kameloh Baru (005) Bereng Bengkel (006) Danau Tundai (012) JEKAN RAYA (001) Menteng (002) Palangka (003) Bukit Tunggal (004) Petuk Katimpun (020) BUKIT BATU (001) Marang (002) Tumbang Tahai (003) Banturung (004) Tangkiling (005) Sei Gohong (006) Kanarakan (007) Habaring Hurung (021) RAKUMPIT (001) Petuk Bukit (002) Pager (003) Panjehang Luas Daerah (Km²) 117,25 9,50 23,50 10,00 23,00 44,00 7,25 583,50 270,50 152,25 46,25 53,50 18,50 42,50 352,62 31,00 24,75 237,12 59,75 572,00 124,00 48,00 72,00 62,00 89,00 105,50 71, ,14 283,67 193,35 39,43 Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk /km² 685, ,26 900, ,70 28,17 60,50 553,24 25,51 23,75 19,26 79,35 11,36 55,46 5,25 337, , ,16 148,38 37,26 21,32 6,77 45,85 51,51 46,85 15,40 3,56 11,10 2,87 3,03 1,67 6,09 31

39 Kecamatan/Kelurahan (004) Gaung Baru (005) Petuk Berunai (006) Mungku Baru (007) Bukit Sua Luas Daerah (Km²) 59,08 147,10 187,25 143,26 Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk /km² 3,64 4,30 3,05 1, Mata Pencaharian Sebagian besar penduduk Kota Palangka Raya menjadikan sektor sektor pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) sebagai mata pencaharian utama mereka. Mereka biasanya bekerja sebagai pedagang, nelayan dan petani. Sebagian penduduk lainnya bekerja di sektor perdagangan, industri, dan jasa. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah pegawai negeri sipil di kota ini pun cukup tinggi Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Gambaran umum keadaan pendidikan di Kota Palangka Raya, antara lain, tercermin dari jumlah prasarana pendidikan (sekolah), murid dan guru tersebut dalam Tabel 3.9. Tahun 2012 jumlah sekolah menurut strata, yaitu pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi menunjukkan peningkatan. Sedangkan rasio murid terhadap guru belum ideal dimana rata-rata seorang guru menangani lebih dari 10 orang murid untuk tingkat pendidikan dasar sedangkan untuk tingkat pendidikan lanjutan menengah serta atas rata-rata seorang guru menangani 9 orang murid. Tabel 3.9 Jumlah sekolah, ruang kelas, murid dan guru menurut jenis sekolah Jenis Sekolah Sekolah Kelas Guru Murid TK/Kindergarten SD/Elementary School SLB/Private School SMP/Junior School SMA/Senior School SMK/Vocational Senior High School High High Sumber Kota Palangka Raya dalam angka tahun Pada tahun 2012, Angka Partisipasi Murni (APM) di Palangka Raya adalah sebesar 82,49%. APM tertinggi didapati pada jenjang pendidikan SD/sederajat (99,64%), disusul oleh jenjang SMP/sederajat (81,99%) dan jenjang SMA/sederajat (65,83%). Dari data tersebut terlihat bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah angka partisipasi siswa. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin tinggi pula angka putus sekolahnya. 32

40 3.2.4 Kesehatan Masyarakat Pembangunan kesehatan harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata mata ditentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta kontribusi positif pelbagai sektor lainnya. Semua kebijakan pembangunan yang sedang diselenggarakan hendaknya memiliki wawasan kesehatan terpadu, sehingga program pembangunan harus memberikan kontribusi yang positif terhadap pembentukan lingkungan sehat dan perilaku yang sehat juga. Pola penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan yang berobat di Puskesmas Kota Palangka Raya masih di dominasi penyakit menular seperti gangguan pada saluran pernapasan dan gangguan pencernaan. Namun penyakit tidak menular juga telah mulai menunjukan peningkatan seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Masih tingginya penderita penyakit menular dan mulai meningkatnya beberapa penyakit tidak menular merupakan beban ganda masalah kesehatan. Penyakit tidak menular yang masuk dalam daptar 10 besar penyakit terbanyak di puskesmas yaitu sistem otot dan jaringan ikat seperti radang sendi dan rematik sebesar 8,5% pada urutan ketiga (juga meningkat dalam persentase, dimana tahun 2011 sebesar 7%) dan hipertensi 7,3% pada urutan kelima. Tabel 3.10 mendeskripsikan kondisi penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya. Tabel 3.10 Jenis penyakit yang ditemukan di Kota Palangka Raya Tahun 2012 No Jenis penyakit Jumlah penderita Persentasi terhadap total penderita 1 Infeksi saluran nafas akut ,17% 2 Influensa karena virus ,1% 3 Gatritis dan duodenitis ,91% 4 Faringitis akut ,72% 5 Gangguan gigi dan jaringan ,57% 6 Hipertensi primer ,25% 7 Diare dan gastroenteritis ,99% 8 Penyakit pulpa dan periapikal ,00% 9 Gangguan lain kulit ,16% 10 Konjuctivitis ,59% 11 Diabetes mellitus ,56% 12 Asma ,77% 13 Tuberculosis paru klinis ,2 % TOTAL % Keterangan: jumlah total penderita termasuk penyakit lain Sumber: Dinas kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2012 Berdasarkan tabel di atas, ISPA akut adalah penyakit yang paling banyak diderita warga Palangka Raya, yakni sebanyak 41,17%. Data di atas juga memperlihatkan banyaknya penderita asma dan TBC paru klinis, yaitu masing-masing sebesar orang dan orang. Berbagai penelitian (WHO, UNEP, 2011) menyatakan bahwa terdapat kaitan yang erat antara ISPA akut dengan asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan. 33

41 Hal ini terjadi juga di Riau, Jambi, Malaysia dan tempat lain yang sering mengalami kebarakan hutan. Tingginya kasus asma juga dapat disebabkan oleh asap dari kebakaran hutan yang mengandung partikel-partikel di udara yang membahayakan kesehatan manusia. Asap dari kebakaran hutan terdiri dari campuran gas dan partikel halus. Partikel halus ini bisa menyerang mata dan system pernafasan dan berakibat pada kesehatan seperti mata sakit, hidung berair, dan penyakit bronchitis. Partikel halus ini juga bisa menyebabkan penyakit hati dan paru-paru kronis and kerap berhubungan dengan kematian bagi orang yang sudah menderita penyakit ini (Naeher, 2005). Tingginya keterkaitan jenis penyakit yang disebabkan oleh kebakaran hutan perlu diperhatikan secara serius, terutama dalam hal pencegahan dan pemberlakukan kehati-hatian dini Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil Pelayanan kesehatan baik perkotaan maupun daerah terpencil, atau sarana pelayanan kesehatan telah dapat di akses dengan mudah oleh masyarakat. Puskesmas diperkotaan rata-rata berada ditengah pemukiman warga masyarakat sehingga memudahkan masyarakat untuk mengakses fasilitas tersebut. Sementara di daerah terpencil pelayanan kesehatan mengalami tantangan yang berbeda dikarenakan keadaan geografis yang memiliki aksesibilitas berbeda dengan perkotaan. Hal ini disiasati dengan bentuk pelayanan kesehatan berupa puskesmas keliling air, sweeping dan sistem jemput bola kerumah penduduk yang memerlukan pelayanan. Berdasarkan SK Walikota Nomor 256 tahun 2012, Kota Palangka Raya mempunyai 5 daerah terpencil, dan 8 daerah sangat terpencil. Kriteria ini menggunakan pertimbangan jarak dan waktu tempuh ke Kota Palangka Raya, jenis transportasi umum, sarana komunikasi, dan lain-lain. Untuk memacu peningkatan pelayanan dasar dan penempatan tenaga medis yang rata-rata kurang berminat bertugas di daerah terpencil, pemerintah daerah memberikan penghargaan antara lain insentif untuk tenaga kesehatan, percepatan kenaikan pangkat, dan percepatan pemberian kesempatan tugas belajar Pelayanan Bagi Masyarakat Miskin Berdasarkan SK Walikota Palangka Raya Nomor 40 Tahun 2008, jumlah masyarakat miskin di Kota Palangka Raya tahun 2008 mencapai jiwa atau 26% dari jumlah penduduk di Kota Palangka Raya. Namun yang mempunyai Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sebanyak jiwa (96,3%). Pelayanan kesehatan pada masyarakat miskin tahun 2012 diberikan sesuai petunjuk teknis dari Departemen Kesehatan RI dengan memberikan Pelayanan Kesehatan dari Puskesmas dan Rumah Sakit serta PT ASKES sebagai badan penyelenggara. Tahun 2012 jumlah masyarakat miskin yang mendapat pelayanan rawat jalan sebanyak jiwa (40,9%) dan dirujuk sebanyak jiwa (2,0%). Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2011 yang tercatat sebanyak jiwa (27,9%) dan mendapat pelayanan lanjutan (rujukan) rawat jalan sebanyak 870 jiwa (1,5%). Masyarakat miskin 34

42 yang menjalani rawat inap di puskesmas perawatan tahun 2012 sebanyak 29 jiwa (0,05%). Jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2011 sebanyak 32 jiwa (0,05%) Perekonomian Daerah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Struktur Ekonomi Kota Palangka Raya dapat dikatakan pusat aktivitas pemerintahan yang umumnya diikuti dengan pusat aktivitas perekonomian. Sebagai pusat Kota Pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya selayaknya menjadi magnet penarik bagi kota-kota di sekitarnya. Perkembangan PRDB di Kota Palangka Raya dari tahun 2010 hingga 2012 mengalami peningkatan seperti yang ditampilkan pada Tabel Tabel 3.11 Perkembangan produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Palangka Raya Tahun menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan 2000 (Jutaan Rupiah) No Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan , , ,15 2 Pertambangandan penggalian , , ,56 3 Industri Pengolahaan , , ,77 4 Listrik, Gas dan Air Bersih , , ,90 5 Bangunan , , ,68 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran , , ,64 7 Pengangkutan dan Komunikasi , , ,31 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan , , ,22 9 Jasa-jasa , , ,28 Produk Domestik Regional Bruto , , ,50 Sumber : Kota Palangka Raya dalam angka, 2012 Tabel 3.12 Struktur perekonomian Kota Palangka Raya menurut lapangan usaha tahun NO Lapangan Usaha 2010(%) 2011(%) 2012(%) 1 Pertanian Peternakan Kehutanan dan perikanan 4,93 6,37 9,05 2 Pertambangan dan penggalian 9,03 5,71 6,96 3 Industri Pengolahaan 6, ,10 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 10,28 12,83 15,32 5 Bangunan ,46 15,85 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 13, ,57 7 Pengangkutan dan Komunikasi 9,33 10,09 11,71 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 52,27 26,24 19,40 35

43 9 Jasa-jasa 21,47 17,29 13,92 Produk Domestik Regional Bruto Sumber: Kota Palangka Raya Dalam Angka,2012 Sektor dan atau lapangan usaha yang dominan, serta memiliki presentase tertinggi pada Tabel 3.12 tersebut di atas, adalah sektor keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, perdagangan, hotel, serta restoran merupakan cerminan bahwa memang Kota Palangka Raya adalah sebuah kawasan Kota. Sektor yang memiliki presentase terbesar juga menunjukkan struktur ekonomi sekunder dalam periode tahun tersebut tetap mendominasi sektor kegiatan lainnya, yakni sektor primer yang tertumpu kepada lapangan usaha di sektor kegiatan pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan bisa dianggap setabil pada presentase 9,05%, bahkan naik hingga 2,68%. Kenaikan di sektor primer lainnya pada struktur ekonomi yang ada, adalah suatu yang lumrah, mengingat struktur ekonomi pada kegiatan primer ini sangat terkait dengan keadaan kahar karena iklim, suhu, dan cuaca yang terjadi di wilayah Kota Palangka Raya Alokasi Anggaran APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Alokasi Anggaran APBD sangatlah penting untuk memastikan apakah KLHS ini akan diimplementasikan dan diarusutamakan dalam sistim penganggaran daerah. Gambar 3.7 dan Tabel 3.13 memberikan kita beberapa pemahaman ini terutama dengan mencermati alokasi APBD pada sektor-sektor yang erat kaitannya dengan implementasi KLHS. Gambar 3.7 Tren Anggaran APBD untuk Hutan dan Lahan

44 Tabel 3.13 Alokasi anggaran APBD untuk hutan dan lahan No Sumber Anggaran Alokasi Anggaran Badan Lingkungan Hidup 2,124,540,000 1,446,218,000 1,891,653,050 2 Lembaga Pengelola Sampah (Dinas Pasar dan Kebersihan) 3 Lembaga Pengelola Ruang Terbuka Hijau (Dishutbun) 3,668,346,750 5,062,272,850 5,712,808,870 1,633,899,000 1,935,472,500 6,096,707,682 4 Lembaga Pengelola RTH (Dinas tata kota,bangunan dan Pertamanan) 464,430, ,521,160 1,430,365,000 Sumber: Badan Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya Tahun Masyarakat Adat dan Isu yang Terkait Dengan Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Dayak merupakan masyarakat adat yang menyebar di seluruh wilayah Kalimantan. Bahasa Dayak yang bisa dijadikan dasar untuk suku yang terdapat di Palangka Raya antara lain bahasa Ngaju, Ot Danum, Bakumpai, Manyan. Beberapa versi dari sejarah masyarakat adat ini menetap di Kota Palangka Raya. Mulai dari masyarakat Ot Danum yang datang dari hulu. Etnis lainnya adalah Banjar, Melayu, Jawa, Sunda, Madura, Batak dan berbagai etnis Indonesia lainnya. Kelembagaan masyarakat adat di Kota Palangka Raya khususnya dan Provinsi Kalimantan Tengah secara umum, diatur dengan Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur. Perda Nomor 16 tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat pada dasarnya adalah peraturan daerah yang mengatur struktur kelembagaan adat Dayak dari tingkat Kalimantan (Majelis Adat Dayak nasional), tingkat provinsi (Dewan Adat Dayak Provinsi) dan tingkat kabupaten (Dewan Adat Dayak Kabupaten). Untuk tingkat kecamatan diatur oleh Dewan Adat Dayak Kecamatan dan Lembaga Kedamangan yang di pimpin oleh Damang Kepala Adat yang juga bertindak sebagai Ketua Kerapatan Mantir/Perdamaian Adat tingkat kecamatan. Sedangkan untuk tingkat desa/kelurahan terdapat Dewan Adat Kelurahan/Desa dan Kerapatan Mantir/Perdamaian Adat Desa/Kelurahan. Wilayah kedamangan mencakup paling sedikit lima desa/kelurahan dalam satu kecamatan atau beberapa kecamatan. Kota Palangka Raya juga menerapkan struktur ini, sampai sejauh mana efektifnya, masih perlu diketahui. Kedamangan merupakan Lembaga Adat Dayak yang memiliki wilayah adat, kesatuan masyarakat adat dan hukum adat dalam wilayah Provinsi Kalimantan Tengah yang terdiri dari himpunan beberapa desa/kelurahan/kecamatan/kabupaten/kota dalam operasionalnya mengupayakan sumber anggaran sendiri atau sumber anggaran lain yang sah serta bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi/Kabupaten/Kota. Sampai sejauh mana pemda kota dan kabupaten mendukung hal ini, dan bagaimana mekanisme untuk memastikan bahwa anggaran ini dialokasikan, masih perlu dicermati. 37

45 Upaya kebijakan ini mempunyai tujuan yang mulia untuk menyikapi lemahnya posisi masyarakat adat ketika berhadapan dengan pihak luar dan juga bisa membantu pemerintah dalam pembangunan serta juga melestarikan budaya dan terutama untuk menyelesaikan persoalan masyarakat adat. Konteks ini penting dalam proses KLHS karena sengketa lahan merupakan isu strategis untuk pembangunan keberlanjutan. Hal penting lainnya berkaitan dengan KLHS, adalah persoalan tanah dan sumber daya alam. Struktur adat bisa membuat SKTA/Surat Keterangan Tanah Adat dan atau hak hak adat atas tanah, menyikapi banyaknya persoalan tanah adat yang tidak bisa diakui karena tidak adanya bukti tertulis, dimana penjabaran hak-hak ini diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 13 tahun 2009 tentang Tanah Adat dan Hak Hak Adat atas Tanah. Dalam Pergub ini ditegaskan bahwa SKTA merupakan landasan untuk sertifikat tanah di BPN. Kekayaan budaya Kota Palangka Raya dapat pula teridentifikasi dari situs budaya, seperti berikut: Sandung Ngabe Sukah terletak di Kecamatan Pahandut berupa sebuah makam pendiri Kota Palangka Raya dengan makamnya yang berbentuk rumah kecil (sandung). Sandung merupakan sebuah bangunan kecil persegi panjang beratap, bertiang terbuat dari kayu ulin/ beton, tempat menyimpan tulang belulang orang yang telah meninggal (setelah ditiwahkan). Rumah Betang (rumah panjang, rumah besar) merupakan rumah adat Dayak. Rumah ini berukuran besar yang mampu menampung puluhan orang atau keluarga yang mempunyai ikatan keluarga. Rumah betang sudah jarang ditemui, namun di Kota Palangka Raya terdapat satu rumah betang yang sengaja dibangun sebagai percontohan di Jalan DI Panjaitan Kota Palangka Raya. Falsafah hidup rumah betang masih berkembang dalam kehidupan masyarakat Dayak antara lain kekeluargaan, kegotong-royongan, persatuan dan kesatuan merupakan sikap dan prilaku kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak yang tercermin dalam falsafah hidup rumah betang. Museum Balanga terletak di Jalan Tjilik Riwut km 2,5 dengan menempati areal seluas sekitar 5 ha. Museum ini berkiprah sebagai lembaga pelestarian, pendokumentasian, serta penyajian berbagai koleksi peninggalan budaya suku Dayak dan segala yang berkaitan dengan sejarah kehidupan suku dayak, seperti ethnografika, barang-barang warisan leluhur dayak yang banyak memiliki kekuatan magis. Di museum ini tersimpan juga berbagai alat tradisional yang biasa dipakai oleh suku Dayak pada jaman dahulu seperti Mihing (sebuah alat penangkap ikan tradisional), Baju Sakarut atau Baju Karungkong Sulau, atau juga Baju Basurat yang biasa dipakai pada upacara ritual, senjata senjata suku Dayak seperti Mandau, Sumpit, Duhung, dan sebagainya. 38

46 Batu Banama terletak sekitar 35 km dari pusat Kota Palangka Raya, terletak di Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu. Pada areal wisata ini terdapat situs Kaharingan, Pura Agung Sali Paseban/Satya Dharma. Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling berjarak sekitar ± 34 km dari pusat Kota Palangka Raya, terletak di Kelurahan Banturung Kecamatan Bukit Batu. Luas keseluruhan kawasan wisata ini adalah ha dengan rincian Cagar Alam seluas ha dan Taman Wisata Alam seluas 533 ha. Kawasan Hutan Ulin ini berada di Kecamatan Rakumpit. Walaupun belum secara resmi ditetapkan sebagai salah satu daerah kawasan wisata, namun kawasan ini sangat potensial untuk dijadikan sebagai salah satu daerah kawasan wisata di Kota Palangka Raya. Selain menawarkan pemandangan alam yang menarik, di kawasan ini tumbuh pohon kayu ulin yang sudah sangat sulit untuk dapat kita temukan di wilayah Kota Palangka Raya Isu dan Tantangan Keberadaan Masyarakat Adat Beberapa tantangan terkait dengan keberadaan masyarakat adat yang selama ini menjadi perhatian adalah: Sosialisasi peraturan belum merata. Sosialisasi peraturan ini (Pergub No. 13/2009) berjalan baik di tingkat LSM pemerhati lingkungan. Tetapi di tingkat masyarakat, masih banyak yang belum mengetahui mengenai aturan ini. Masalah internal dalam masyarakat adat. Beberapa masalah tersebut misalnya anggapan bahwa orang Dayak yang sudah beragama Islam menganggap bahwa mereka bukanlah orang Dayak lagi; serta didapati mantir dan damang yang membuka akses bagi pengusaha untuk menjual tanah di beberapa tempat. Masyarakat adat vs perusahaan besar. Tidak mudah dihadapi jika masyarakat adat, sebagaimana tempat lainnya di Indonesia, berhadapan dengan perusahaan besar, bagaimana menjaga obyektivitas struktur adat, bagaimana masyarakat memperoleh ganti rugi yang menguntungkan dan juga bagaimana mempertahankan agar wilayah untuk hidup masyarakat dihargai oleh berbagai kepentingan. Ancaman punahnya situs bersejarah. Kualitas situs bersejarah dan budaya terancam punah, kelestarian situ-situs ini perlu diperhatikan, karena dikhawatirkan hilangnya citra arsitektur lokal dengan adanya perkembangan bahan atap berpola genteng yang merupakan citra arsitektur jawa. Situs-situs budaya juga merupakan nilai sejarah. Beberapa bukit di Kecamatan Tangkiling merupakan legenda dari masyarakat Dayak di Kota Palangka Raya. Adanya penambangan pasir menyebabkan sebagian bukitbukit ini berubah bentuk. 39

47 Konflik lahan. Konflik lahan yang sering terjadi biasanya disebabkan oleh banyaknya lahan masyarakat masuk dalam kawasan hutan, pengambilalihan lahan secara illegal, dan perambahan kawasan hutan kota untuk perumahan. Hal ini juga diperburuk dengan adanya wacana Ibukota RI akan dipindahkan ke Palangka Raya, yang menimbulkan banyaknya spekulasi harga tanah yang mengakibatkan nilai tanah semakin tinggi dan sengketa lahan. Dari sisi pengusaha, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan investasi di sektor perkebunan di Kota Palangka Raya, terbentur pada aspek Tata Ruang, karena lokasi yang dimintakan izinnya masuk dalam kriteria kawasan hutan yang memerlukan proses alih fungsi. Ketidakpastian tentang status hukum pemanfaatan tanah di Kota Palangka Raya ini misalnya, banyak bangunan pemerintah di Kota Palangka Raya yang masuk dalam kawasan hutan dan sampai saat ini persoalan status lahan tersebut belum selesai. Di tahun 2011, berdasarkan data tim konsolidasi penyelesaian konflik tanah/lahan di Kota Palangkaraya terdata sebanyak 63 kasus yang ditangani, 13 selesai dan 50 masih dalam proses. Tidak disebutkan, berapa kasus yang berkaitan dengan masyarakat adat. Di Mapolres Plangkaraya pada tahun yang sama ada sekitar 200 kasus sengketa lahan (Tribun news, 2011). Tumpang tindih perizinan. Dalam kenyataan di lapangan, ada banyak dijumpai sebidang tanah mempunyai banyak perizinan, ada kawasan hutan yang sudah jadi pemukiman dan kantor pemerintah. Kebakaran hutan dan lahan. Kota Palangka Raya sudah beberapa kali mengalami kebakaran hutan dan lahan, sehingga mengakibatkan gangguan pernapasan bagi masyarakat, dimana dampaknya paling terasa bagi anakanak kecil dan ibu-ibu yang mengandung. Asap tebal mengakibatkan gangguan juga terhadap perekonomian daerah, segannya masyarakat untuk keluar rumah untuk melakukan transaksi ekonomi. Meningkatnya orang yang sakit, berarti membutuhkan biaya pengobatan. Konflik adat. Walaupun Kota Palangka Raya adalah status kota, tetapi di dalamnya masih banyak masyarakat adat yang tinggal. Ketidaktahuan akan batas adat suku dan keluarga, karena sudah tidak adanya tokoh tokoh adat yang tua merupakan salah satu persoalan dalam isu-isu sosial dan budaya di Palangka Raya. Penebangan Liar (Illegal logging). Kegiatan penebangan liar menyebabkan berkurangnya luasan hutan di Kota Palangka Raya. Jumlah luasan hutan yang berkurang akibat deforestasi akan dianalisis dalam KLHS. Penebangan liar juga berakibat pada langkanya beberapa jenis tumbuhan seperti kayu ulin (Eusideroxilon zwageri) kayu ini merupakan kayu yang paling sering digunakan oleh masyarakat di Kalimantan sebagai bahan bangunan, karena tahan akan kekeringan maupun basah. Beberapa jenis 40

48 kayu kelompok meranti juga mulai sulit dijumpai seperti kayu tekam atau bengkirai (Shorea laevifolia). 3.3 Pemanfaatan Kawasan Hutan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah hingga kini belum terbit, sehingga mengharuskan arahan fungsi kawasan tetap mengacu kepada Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan berdasarkan peruntukkan atau fungsi kawasan menurut SK Menteri Kehutanan No. 529 Tahun Sebagian wilayah Kota Palangka Raya termasuk ke dalam bekas proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar untuk usaha pertanian tanaman pangan yang dicanangkan pada tahun 1995 melalui Keppres Nomor 82 Tahun Berdasarkan evaluasi selama dua tahun sejak ditetapkannya Keppres tersebut, pengembangan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah tidak berjalan seperti yang diharapkan, sehingga Keppres Nomor 82 Tahun 1995 mengalami beberapa perubahan/penyempurnaan, dan pada tahun 1999 keluar Keppres Nomor 80 tentang Pedoman Umum Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah. Berdasarkan Inpres Nomor 2 Tahun 2007 tersebut, ± ,05 ha wilayah daratan Kota Palangka Raya termasuk dalam kawasan bekas PLG yang memiliki arahan fungsi kawasan tersendiri yang diatur melalui Inpres tersebut. Areal PLG di Kota Palangka Raya meliputi 2 kecamatan, yaitu di kecamatan Pahandut seluas ± 2.335,15 ha dan di Kecamatan Sabangau seluas ± ,90 ha. Dengan adanya Inpres tersebut, maka arahan fungsi kawasan di areal bekas PLG mengacu kepada peraturan tersebut, sedangkan wilayah di luar areal bekas PLG arahan fungsi kawasan tetap mengacu kepada Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Kalimantan Tengah sepanjang belum diterbitkannya Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah yang terbaru. Berdasarkan pemaduserasian fungsi kawasan, wilayah Kota Palangka Raya dengan luas ± ,86 ha terbagi ke dalam 3 kelompok kawasan, yaitu: Kawasan Non PLG seluas ± ,75 ha Kawasan PLG seluas ± ,05 ha Kawasan Perairan seluas ± 2.520,06 ha Untuk kawasan non PLG berdasarkan TGHK Provinsi Kalimantan Tengah, luas wilayah didominasi oleh Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan Lindung (KL non KHL), yaitu seluas ± ,51 ha yang terdiri dari: Hutan Produksi (HP) seluas ± ,18 ha Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas ± ,32 ha Di Kota Palangka Raya tidak terdapat Kawasan Budidaya Pertanian (KBP) yang merupakan salah satu fungsi kawasan dalam TGHK. Untuk kawasan Hutan Lindung 41

49 (KHL) terdapat ± ,06 ha Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata (HAS-W) dalam bentuk Kawasan Konservasi Taman Nasional Sabangau. Kawasan PLG berdasarkan Inpres Nomor 2 Tahun 2007 dibagi ke dalam fungsi pokok kawasan, yaitu Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Di Kota Palangka Raya, kawasan PLG terdapat di 2 kecamatan, yaitu di Kecamatan Pahandut seluas ± 2.335,15 ha dan di Kecamatan Sabangau seluas ± ,90 ha. Untuk Kawasan Lindung areal PLG di Kota Palangka Raya luasnya ± 9.078,79 ha yang terdiri atas: - Konservasi Hidrologi (KH) seluas ± 4.692,01 ha - Konservasi Gambut Tebal (KGT) seluas ± 2.605,60 ha - Konservasi Flora danfauna (KFF) seluas ± 1.781,17 ha Sedangkan untuk Kawasan Budidaya seluas ± 8.679,27 ha terdiri atas kawasan budidaya sebagai berikut: - Tanaman Tahunan/Holtikultur Buah-buahan (TT/HB) ± 7.645,93 ha - Padi Sawah/Palawija/Holikultur Sayuran (PS/P/HS) ± 1.033,33 ha Fungsi kawasan di Kota Palangka Raya yang meliputi kawasan non-plg dan Kawasan PLG yang disesuaikan dengan peta TGHK Provinsi Kalimantan Tengah berdasrkan Inpres Nomor 2 Tahun Pemanfaatan Hutan Kota Palangka Raya Untuk menghasilkan nilai tambah secara ekonomis bagi pembangunan daerah dan kepentingan masyarakat dalam rangka otonomi daerah, luas total kawasan hutan yang memungkinkan untuk diusahakan dan dimanfaatkan di Palangka Raya seluruhnya seluas ha (2.848,07 km2), yang terdiri dari Kawasan Lindung (untuk pemanfaatan/penggunaan kawasan hutan) seluas ha dan Kawasan Budidaya (untuk pemanfaatan hasil hutan) seluas ha seperti tersebut pada Gambar 3.8 dengan rincian seperti pada Tabel Tabel 3.14 Luas Kawasan Htan dengan Penggunaan Lain di Kota Palangka Raya No. Fungsi Hutan Luas (ha) Ket A Kawasan Lindung 1. Daerah Sempadan Sungai (DS) Konservasi Gambut Tebal (KGT) - 3. Konservasi Hidrologi (KH) Perlindungan dan Pelestarian Hutan (PPH) - 5. Taman Wisata (TW) Suaka Alam B Jumlah A Kawasan Budidaya 1. Hutan Produksi (HP) 2. Hutan Penelitian&Pendidikan (HPP) 3. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 4. Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) 5. Kawasan Pemukiman dan Penggunaan Lain (KPPL) 6. Transmigrasi (T1)

50 7. Hutan Produksi dapat Dikonversi (HPK) Jumlah B Total (A+B) Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangka Raya Tahun 2013 Gambar 3.8 Peta kawasan budidaya Kota Palangka Raya Strategi pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengembangkan kawasan di luar kawasan lindung yang mempunyai fungsi utama budidaya baik berupa permukiman maupun kegiatan usaha, seperti kawasan perkotaan, perdesaan, perkebunan, hutan produksi, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah dan mewujudkan keseimbangan pertumbuhan antar wilayah dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan dalam memanfaatkan potensi sumberdaya alam secara optimal. Strategi pengembangan kawasan budidaya di Wilayah Kota Palangka Raya pada dasarnya ditujukan pada upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan sesuai dengan daya dukung lingkungan, dengan sasaran adalah: 43

51 - Untuk memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya secara optimal dan mendukung pembangunan berkelanjutan. - Memberikan arahan ruang bagi investor di bidang agroindustry. - Memberikan arahan untuk menentukan prioritas pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya yang berbeda. - Memberikan arahan bagi perubahan jenis pemanfaatan lahan dari satu jenis budidaya ke jenis budidaya yang lain. - Pengembangan kegiatan usaha dan pemanfaatan ruang secara optimal pada masing-masing kawasan budidaya. - Pengembangan prasarana penunjang setiap kawasan budidaya, baik untuk produksi maupun permukiman. - Pengendalian perkembangan pemanfaatan kawasan budidaya yang mengarah terganggunya fungsi kawasan lindung. - Penanganan konflik kepentingan dan/atau tum,pang tinggi dalam pemanfaatan kawasan budidaya Penggunaan Lahan Kota Palangka Raya Dalam hal penggunaan lahan, berdasarkan Peta Penggunaan Lahan (Land Use) di Kota Palangka Raya terdapat ± 17 bentuk penggunaan lahan. Penggunaan lahan di Kota Palangka Raya didominasi oleh Hutan Lahan Rawa Sekunder yang meliputi ± 47,53% luas wilayah Kota Palangka Raya dan Belukar Rawa yang meliputi ± 30,19% luas wilayah Kota Palangka Raya. Sedangkan penggunaan lahan untuk pemukiman hanya ± 3,97% dari luas wilayah Kota Palangka Raya (Tabel 3.15). Penggunaan lahan berkaitan erat dengan penutupan lahan. Data penggunaan lahan yang juga diasumsikan sebagai liputan lahan diturunkan penjabarannya hingga didapatkan klasifikasi tutupan lahan oleh vegetasi permanen. Secara rinci data penggunaan lahan di Kota Palangka Raya dapat dilihat dalam Tabel 3.7. dan Gambar 3.4. Tabel 3.15 Luas tanah menurut penggunaannya tahun (ha) di Palangka Raya Tahun Perkampungan Kebun Campuran Tegalan Sumber Data : BPS Kota Palangka Raya Dalam Angka, Taman Nasional Sebangau Semak Belukar Perkebunan Karet , , , , ,00 Lainnya , , , , ,00 Kawasan Sebangau ditetapkan sebagai Taman Nasional melalui SK Menteri Kehutanan No. 423/Menhut/II/2004 pada tanggal 19 Oktober 2004 dengan luas ha. Kawasan ini terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan, dan berada pada 44

52 wilayah administrasi Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah. Hutan rawa gambut tropika Sebangau merupakan salah satu hutan rawa gambut yang tersisa di Provinsi Kalimantan Tengah. Saat ini, Kawasan Sebangau merupakan kawasan yang menjadi tumpuan masyarakat karena dapat memberikan nilai ekonomi dan ekologi yang sangat penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kawasan ini juga mendukung pembangunan wilayah di Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya. Ekosistem gambut Sebangau merupakan salah satu ekosistem yang kondisinya relatif masih baik dibandingkan dengan daerah di sekitarnya dan merupakan kawasan yang memainkan peranan yang sangat penting bagi gudang penyimpanan karbon dan pengatur tata air di Kabupaten Katingan, Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya. Oleh karena itu, kestabilan ekosistem ini merupakan salah satu faktor penentu kualitas hidup manusia, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun global. Ditinjau dari penutupan lahan Provinsi Kalimantan Tengah, terlihat bahwa Kawasan Ekosistem Gambut Sebangau adalah salah satu kawasan yang sangat penting keberadaannya bagi perlindungan dan pelestarian satwa liar. Hal ini disebabkan karena habitat satwa liar di sekitar kawasan Sebangau telah berubah fungsi menjadi areal penggunaan lain, terutama di areal ekosistem gambut satu juta hektar yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Namun demikian, kondisi ekosistem gambut kawasan Sebangau bukanlah tempat yang sangat ideal bagi kehidupan satwa liar. Kawasan ini merupakan ekosistem hutan sekunder eks hak pengusahaan hutan (HPH) dan hak pengusahaan hutan tanaman industri (HPHTI). Di dalam kawasan ini banyak dijumpai kanal-kanal buatan yang sangat berpotensi memutus pergerakan satwa liar, areal bekas kebakaran, dan areal terbuka akibat illegal logging. Ekosistem Hutan Rawa Gambut Taman Nasional Sebangau menurut Pusat Penelitian Biologi LIPI (2006) mengandung keanekaragaman jenis flora yang unik/khas seperti ramin (Gonystylus bancanus), jelutung (Dyera costulata), belangeran (Shorea belangeran), bintangur (Calophyllum sclerophyllum), meranti (Shorea spp.), nyatoh (Palaquium spp.), keruing (Dipterocarpus spp), agathis (Aghatis spp), dan menjalin (Xanthophyllum spp.). Umumnya jenis-jenis tumbuhan tersebut menempati tipe ekosistem hutan primer dan sekunder. Menurut Pusat Penelitian Biologi LIPI (2006), komunitas hutan primer adalah hutan primer bekas tebangan, sehingga hutannya telah mengalami kerusakan, namun sebagian besar hutannya masih relatif baik, dimana tegakan-tegakan jenis tumbuhan primernya masih terlihat rapat. Jenis-jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di tipe ini adalah Dryobalanops lanceolata, Shorea balangeran, Shorea bracteolate, Gonystylus bancanus, Dipterocarpus sp., Dacridium sp., dan Dyera polyphylla. 45

53 Komunitas hutan primer umumnya tersusun dari tiga lapisan utama, yaitu lapisan atas, tengah dan bawah. Lapisan teratas (kanopi utama) didominasi oleh Combrecartus rotundatus. Lapisan tengah disusun oleh Campnosperma coriaceum, Dactylocladus stenostachys, Palaquium ridleyi, Xylopia fusca, Tristaniopsis whiteana, Syzygium spp., Tetractomia tetranda dan Shorea bracteolata. Sedangkan lapisan ketiga merupakan jenis tumbuhan semai dari anakan pohon penyusun lapisan pertama dan kedua. Pada lapisan ketiga juga dijumpai jenis-jenis tumbuhan perdu (Lxora havilandii, Antidesma coriaceum, Diospyros sp., dan Wikstroemia androsaemifolia), jenis tumbuhan herba (Pandanus sp., Hanguana malayana, Taenitis blechnoides, dan Euthemis sp.), dan tumbuhan pemanjat (Willughbeia sp., Alyxia reinwarddtiana, Cissus sp., Ampelocissus thyrsiflora, Nephentes spp., Gnetum latifolium, dan Fibraurea chloroleuca). Komunitas hutan sekunder merupakan komunitas yang telah terdegradasi dengan kuat akibat aktivitas manusia. Di dalam komunitas ini menurut Pusat Penelitian Biologi LIPI (2006) dijumpai tumbuhan pionir, yaitu Macaranga caladifolia. Jenis-jenis tumbuhan lainnya adalah Cratoxylum glaucum, Lithocarpus bennettii, Ilex cymosa, Glochidion philippicum, Ploarium alternifolium, Ficus spp., Adenanthera sp., dan Tristaniopsis whiteana, serta beberapa jenis tumbuhan hutan primer yang cepat tumbuh dan dapat bertahan hidup setelah ditebang atau mengeluarkan trubusan, seperti Combretocarpus rotundatus, Tristaniopsis whiteana, Campnosperma coriaceum, Syzygium spp., dan Baccaurea bracteata. Kemudian jenis-jenis tumbuhan perdu yang juga ditemukan di dalam komunitas ini adalah Tarenna fragras, Timonius flavescens, Rhotmania grandis, Antidesma coriaceum, A. phanerophlebium, Ardisia sp, dan Ilex cymosa dan jenis tumbuhan herba adalah Fimbristylis spp., Scleria purpurescens, Isachne sp., dan Cyperus spp. Lebih lanjut jenis tumbuhan perambat/liana yang dijumpai di dalam komunitas ini adalah Fissistigma kingiana, Uncaria acida, Lecananthus erubescens, Coptosapelta sp., Dalbergia sp., dan Flagellaria indica. Didasarkan jenis tumbuhan terlihat dengan jelas bahwa jenis-jenis tumbuhan di kedua komunitas tersebut relatif sangat jauh berbeda. Perbedaan ini diduga karena tingkat kekerasan perubahan penutupan lahan, baik disebabkan penebangan tidak resmi dan atau kebakaran hutan. Namun demikian, faktor kedalaman gambut juga dapat menjadi faktor perbedaan jenis tumbuhan, dimana komunitas hutan primer umumnya menempati gambut dalam sedangkan hutan sekunder lebih banyak dijumpai di daerah gambut dangkal. Tingginya aktivitas manusia juga menjadi faktor penyebab tidak meratanya distribusi komunitas hutan tersebut di dalam kawasan Taman Nasional Sebangau (TNS). Berdasarkan hasil penelitian Page et al. (1999), diketahui bahwa Kawasan TNS memiliki tujuh tipe hutan, yaitu: 1) hutan riparian, 2) transisi riparian rawa campuran, 3) rawa campuran, 4) transisi rawa campuran hutan pole rendah, 5) hutan pole rendah, 6) hutan interior tinggi, dan 7) hutan dengan kanopi sangat rendah. Hutan Riparian adalah tipe hutan yang terletak di antara hutan rawa air tawar dengan hutan rawa gambut. Lokasinya terletak dekat dengan sungai (+ sampai satu km dari 46

54 tepi sungai) dan daerah ini selalu tergenang air pada saat musim hujan. Umumnya kedalaman gambut di daerah ini sangat tipis (+ sampai kedalaman 1,5 m). Jenis-jenis tumbuhan utama di tipe hutan ini adalah Shorea balangeran, dimana jenis ini adalah satu-satu jenis yang dapat mencapai ketinggian 35 m. Lapisan tajuk lainnya umumnya hanya dapat mencapai ketinggian m dengan jenis-jenis tumbuhan pada lapisan ini adalah Calophyllum spp., Campnosperma coriaceum dan Combretocarpus rotundus. Kemudian Thorachostachyum bancanum adalah jenis tumbuhan yang umumnya dapat dijumpai pada lapisan bawah. Hutan Transisi (Hutan Riparian Hutan Rawa Campuran). Tipe hutan ini pada umumnya adalah tipe yang memiliki lebar areal yang sangat sempit (+ 1 1,5 km dari tepi sungai) dengan kedalaman gambut umumnya sampai 2 m. Daerah tipe hutan ini merupakan daerah perbatasan naiknya air sungai dan sangat dipengaruhi oleh air yang keluar dari daerah tangkapan air di sebelah dalam. Jenis tumbuhan yang umumnya mendominasi tipe ini adalah Shorea balangeran. Hutan Rawa Campuran. Tipe hutan ini umumnya dapat dijumpai mulai dari batas tepi kubah gambut sampai 4 km ke dalam dengan luasannya menurut WWF (2003) adalah ha. Kedalaman gambut umumnya berkisar antara 2 6 m. Umumnya tegakan di dalam tipe hutan ini tinggi-tinggi dan berstrata, dimana lapisan tajuk tertinggi dapat mencapai 35 m, lapisan tengahnya berkisar antara m dan lapisan paling bawah yang umumnya lebih terbuka ditumbuhi oleh tumbuhan dengan tinggi berkisar antara 7 12 m. Tipe hutan ini dicirikan juga dengan banyaknya tumbuhan yang memiliki akar stilt atau buttres; pneumatophores seringkali juga ditemukan. Jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di tipe hutan campuran ini adalah Aglaia rubuginosa, Calophyllum hosei, C. lowii, C. sclerophyllum, Combretocarpus rotundatus, Cratoxylum glaucum, Dactylocladus stenostachys, Dipterocarpus coriaceus, Dyera costulata, Ganua mottleyana, Gonystylus bancanus, Mezzetia leptopoda, Neoscortechinia kingii, Palaquium coclearifolium, P. Leiocarpum, Shorea balangeran, S. teysmanniana dan Xylopiafusca. Hutan Transisi (Hutan Rawa Campuran Hutan Pole Rendah). Tipe hutan ini umumnya dijumpai di daerah yang berjarak antara 4 6 km dari tepi sungai dengan kondisi degradasinya yang berjalan lambat mulai dari hutan rawa campuran sampai ke hutan pole rendah. Kompisisi lapisan tajuk atas dan tengah umumnya relatif sama dengan hutan rawa campuran, walaupun kerapatan Calophyllum spp., Combretocarpus rotundatus dan Palaquium cochlearifolium lebih besar dibandingkan dengan hutan rawa campuran. Lapisan tajuk atas dapat mencapai tinggi m. Sangat sedikit tumbuhan yang memiliki akar stilt atau butressing; pneumatophores sangat melimpah di lantai hutan. Formasi pandan (Pandanus dan Freycinetia spp.) seringkali merupakan formasi yang luas dan berkesinambungan menutupi permukaan tanah. Hutan Pole Rendah. Tipe hutan ini umumnya dijumpai di daerah yang letaknya antara 6 11 km dari tepi sungai dengan kedalaman gambut berkisar antara 7 10 m. Tinggi muka air tanah (ground water level) pada umumnya secara permanen tinggi dan lantai hutan sangat tidak menentu. Pohon-pohon tumbuh dalam sebuah pulau seperti 47

55 hummocks yang dipisahkan oleh dalamnya air yang umumnya akan hilang pada saat musim kemarau. Pneumatophores melimpah dan sangat rapat di atas lantai gambut. Dalam tipe ini hanya dijumpai dua lapisan tajuk dengan ketinggian mencapai 20 m sedangkan lapisan bawahnya mencapai m dengan kondisi relatif lebih rapat. Jenis-jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di tipe hutan ini adalah Combretocarpus rotundus, Calophyllum fragrans, C. hosei, dan sedikit dijumpai Campnosperma coriaceum, serta Dactylocladus stenostachys. Formasi pandan sangat rapat dan Nephentes spp., pun jumlahnya sangat melimpah. Hutan Tegakan Tinggi (Tall Interior Forest). Tipe hutan ini umumnya terletak di sisi miring kubah gambut, dari 12 km (dimana terdapat perubahan tipe hutan yang tegas terhadap hutan pole rendah) sampai lebih dari 24,5 km. Luas tipe hutan ini menurut WWF (2003) adalah ha dengan kedalaman gambut dapat mencapai lebih dari 12 m. Tinggi permukaan air selalu di bawah permukaan gambut sepanjang tahun. Lapisan tajuk tertinggi dapat mencapai 45 m dan lapisan bawahnya dapat dibedakan antara lapisan tengah dengan ketinggian antara m dan lebih bawah 8 15 m. Jenis-jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di dalam komunitas ini adalah Agathis damara, Calophyllum hosei, C. Lowii, Cratoxylum glaucum, Dactylocladus stenostachys, Dipterocarpus coriaceus, Dyera costulata, Eugenia havelandii, Gonystylus bancanus, Gymnostoma sumatrana, Koompassia malaccensis, Mezzetia leptopoda, Palaquium coclearifolium, P. leiocarpum, Shorea teysmanniana, S. platycarpa, Tristania grandifolia, Vatica mangachopai, Xanthophyllum spp., dan Xylopia spp. Hutan Kanopi Sangat Rendah. Hutan tipe ini relatif terbuka dan terletak di titik tertinggi di antara dua sistem sungai. Sedikit tumbuhan yang dapat melebihi ketinggian 1,5 m dan jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di daerah ini adalah Calophyllum spp., Combretocarpus rotundatus, Cratoxylum spp., Dactylocladus stenostachys, Litsea spp., Ploiarium alternatifolium dan Tristania spp. Pneumatophores yang sangat melimpah. Sampai saat ini inventarisasi dan sensus satwa liar untuk mengetahui potensi dan distribusi populasi satwa liar di dalam kawasan relatif sangat kecil. Kegiatan penelitian yang banyak dilakukan pada umumnya hanyalah penelitian tentang orang utan (Pongo pygmaeus) yang merupakan satwa langka isu dunia yang harus dilestarikan. Stasiun riset CIMTROP yang berada di dalam kawasan sampai saat ini juga banyak memfokuskan pada penelitian orang utan ini. Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena keseimbangan ekosistem hutan gambut tidak hanya tergantung pada satwa ini saja tetapi juga sangat tergantung pada keseimbangan populasi satwa liar penyusun ekosistem gambut. Diduga kawasan ini mengandung beranekaragam satwa liar yang kondisinya mungkin telah di bawah batas ambang kelayakannya dan bahkan ada kemungkinan mendekati kepunahan. Kawasan hutan gambut di antara Sungai Sebangau dan Katingan merupakan habitat berbagai jenis satwa liar dengan nilai ekonomi tinggi, jarang dan dilindungi. Orang utan, kera ekor pendek, gibon, adalah jenis-jenis satwa dominan dan seringkali ditemukan. 48

56 Beruang madu, dan rusa adalah jenis dominan dibandingkan lainnya. Diantara jenisjenis burung, satu jenis telah diklasifikasikan sebagai jenis hampir punah, tetapi masih dapat dijumpai di dalam kawasan, yaitu baliang. Jenis satwa yang sering dikonsumsi oleh masyarakat lokal adalah bangamat (kalong). Jenis reptil yang juga dapat ditemukan di dalam lokasi adalah panganen (ular phyton), hanjaliwan (ular tadung), muhe (ular kobra), biawak, dan kura-kura. Beberapa jenis ikan yang dapat dijumpai juga di dalam kawasan antara lain adalah gabus (Channa striata), lele (Clarias sp.), bapuyu (Anabas testudineus), kakapar (Belontia hesselti), sambaling (Betta sp.). Ikan-ikan tersebut berperanan penting dalam keseimbangan ekosistem dan juga sebagai sumber protein penting bagi masyarakat sekitar. Di Sungai Sebangau dan Katingan, beberapa jenis ikan seperti (Helostoma temminckii), lele (Clarias sp.), bapuyu (Anabas testudineus), karandang (Channa pleuropthalmus), tapah (Wallago leeri), gabus (Channa striata) seringkali dijumpai dalam jumlah besar dan kemudian digantikan oleh spesies lainnya. 49

57 4 KEBIJAKAN DAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH Kebijakan penataan ruang yang tertuang dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota memuat tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah kota (penataan kota); rencana struktur ruang wilayah kota; rencana pola ruang wilayah kota; penetapan kawasan strategis kota; arahan pemanfaatan ruang wilayah kota; dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota. Dalam konteks Kajian Lingkungan Hidup Strategis dengan (KLHS) objek kajian adalah dokumen RTRW, maka kebijakan ruang tersebut di atas dipandang sebagai satu kesatuan Kebijakan, Rencana dan Program (KRP) secara operasional dan rinci berupa dokumen dan disahkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) yang mempunyai kekuatan hukum. 4.1 Substansi Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palangka Raya Substansi Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) RTRW Kota Palangka Raya dapat dilihat dari tujuan penataan ruangnya serta kebijakan dan strategi penataan ruang yang tertuang dalam Ranperda Tujuan Penataan Ruang A. Tujuan Penataan Ruang Tujuan Penataan Ruang Kota Palangka Raya adalah mewujudkan Kota Palangka Raya menjadi kota pusat pendidikan dan penelitian, pemeliharaan kelestarian alam, pusat jasa dan wisata budaya dengan falsafah budaya Betang. Dari tujuan penataan ruang Kota Palangka Raya diketahui setidaknya ada 5 kata kunci atau yang akan menjadi konsentrasi atau fokus pembangunan secara keruangan di Kota Palangka Raya dalam rentang waktu 20 tahun ke depan ( ), yaitu: Pusat pendidikan dan penelitian Pemeliharaan kelestarian alam Pusat jasa Pusat kepariwisataan berbasis konservasi, kehutanan, kebudayaan, dan ekonomi kreative Falsafah Budaya Betang Adapun muatan dan substansi dari fokus tujuan penataan ruang tersebut berlandaskan pada aspek budaya masyarakat di Kota Palangka Raya, yaitu falsafah budaya Betang. B. Kesimpulan Kajian Tujuan Penataan Ruang: Dalam konteks KLHS, maka beberapa tujuan dari tujuan penataan ruang Kota Palangka Raya, telah berorientasi pada prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan yang terkait pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan hidup secara lebih rinci seperti pada Tabel

58 Tabel 4.1 Substansi, Muatan dan Orientasi Tujuan Penataan Ruang Kota Palangka Raya Tujuan Penataan Ruang Kota Palangka Raya 1) Pusat pendidikan dan penelitian 2) Pemeliharaan kelestarian alam Substansi dan Muatan Pengembangan sektor pendidikan bagi pemenuhan pelayanan pendidikan tingkat regional dan nasional Pengembangan penelitian difokuskan pada lahan bergambut dan hutan tropis Memperhatikan aspek-aspek lingkungan hidup dalam setiap kebijakan pembangunan untuk mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan 3) Pusat jasa Pengembangan sektor ekonomi dengan kegiatan pada sektor tersier yang menjadi sektor kegiatan yang menjadi ciri kegiatan kota 4) Pusat wisata budaya kelestarian aspek budaya menjadi aspek unggulan dalam peningkatan sektor ekonomi 5) Budaya betang Falsafah yang menjadi nilai-nilai dasar pembangunan di Kota Palangka Raya Sumber: Hasil Indetifikasi dan Analisis (2013) Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Orientasi Aspek keruangan dan aspek sosial Aspek keruangan, aspek sosial dan aspek lingkungan hidup Aspek lingkungan hidup Aspek ekonomi dan keruangan Aspek sosial, ekonomi dan budaya Aspek budaya Untuk mencapai tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan, maka diperlukan kebijakan dan strategi penataan ruang yang akan dituangkan kedalam pengembangan struktur ruang dan pola ruang wilayah. Terdapat 3 kebijakan penataan ruang dalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya yang kemudian dirincikan secara spesifik ke dalam bentuk strategi-strategi dari setiap kebijakan tersebut. Berdasarkan pada strategi rencana penataan ruang Kota Palangka Raya, strategistrategi yang tercantum dalam dokumen RTRW telah mempertimbangkan aspek lingkungan hidup dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Kesimpulan Kajian Substansi dan Muatan Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pada KLHS, maka penataan ruang yang tercakup dalam Tujuan, Kebijakan dan Strategi menjadi rujukan utama pada penerapannya dalam Arahan Struktur Ruang dan Arahan Pola Ruang Kabupaten. Apabila dilihat dari proporsi orientasi dominasi aspek lingkungan hidup, maka dapat dikatakan bahwa kebijakan penataan ruang Kota Palangka Raya cukup konsisten antara Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruangnya. Lebih rinci hubungan antara Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang serta orientasinya dapat dilihat pada Tabel

59 Tabel 4.2 Keterkaitan substansi muatan kebijakan dan strategi terhadap tujuan penataan ruang Kota Palangka Raya Fokus Tujuan Penataan Ruang Kebijakan Penataan Ruang Strategi Penataan Ruang Pusat jasa Perwujudan pusat pusat kegiatan yang memperkuat kegiatan perdagangan dan jasa utama dengan skala pelayanan lokal dan regional dengan prinsip berkelanjutan Menetapkan satu pusat kota yang membawahi 5 sub-pusat kota dan beberapa pusat lingkungan Meningkatkan kapasitas dan intensitas pelayanan Pusat Kota, Sub-Pusat Kota dan Pusat Lingkungan untuk mewadahi aktivitas perdagangan, jasa, pendidikan, dan pariwisata berskala kota, regional dan nasional Mempertahankan keterkaitan antara Kota Palangka Raya dengan kabupaten sekitarnya, antar Pusat Kota dengan Sub-Pusat Kota, antar Sub-Pusat Kota, dan antar Sub-Pusat Kota dengan Pusat Lingkungan Mendorong penataan dan pengembangan kawasan pusat-pusat kegiatan utama Kota Palangka Raya, seperti perkantoran, perdagangan, Industri kreatif, ekonomi, dan pariwisata yang berfungsi dalam skala pelayanan lokal, regional, dan nasional Meningkatkan kapasitas dan intensitas pelayanan pusat kota dan sub-pusat kota untuk mewadahi aktivitas perdagangan, jasa, dan industri berskala nasional, dan regional Pusat jasa Pemeliharaan kelestarian alam Pusat jasa Peningkatan aksesibilitas perkotaan Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sarana dan prasarana perkotaan yang dapat mendorong perkembangan kegiatan dan perbaikan lingkungan secara komprehensif Mengembangkan sistem jaringan prasarana dan sarana kota yang meliputi prasarana utama dan prasarana lainnya Memperbaharui pola sirkulasi dan peningkatan pelayanan transportasi Mengarahkan peningkatan fungsi dan keterkaitan antar pusat kegiatan secara optimal Meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan jalan yang mendorong efektifitas interaksi antar bagian wilayah kota dan memudahkan pergerakan dan distribusi orang dan barang Menyempurnakan dan meningkatkan tingkat pelayanan sarana dan prasarana transportasi yang mendukung tumbuh dan berkembangnya pusat pusat pelayanan kegiatan sehingga dapat mengurangi beban pergerakan di masing masing pusat kegiatan Pengalokasian dan perencanaan sarana dan prasarana kebutuhan didasarkan pada analisa dan proyeksi penduduk secara akurat agar memenuhi kebutuhan standar pelayananan minimal Melakukan inovasi dengan pendekatan intensifikasi pembangunan agar dominasi peruntukkan lahan untuk kegiatan budidaya dapat dibatasi sedemikian rupa dengan mempertahankan alokasi volume bagi ruang terbuka hijau 52

60 Fokus Tujuan Penataan Ruang Kebijakan Penataan Ruang Strategi Penataan Ruang Melaksanakan integrasi kebijakan arahan pemanfaatan lahan ke dalam sistem perizinan yang modern sehingga dapat meminimalisasi peluang terbitnya perizinan yang tidak sesuai arahan Pemeliharaan kelestarian alam Pemeliharaan kelestarian alam Pemeliharaan kelestarian alam Pemeliharaan kelestarian alam Pemeliharaan kelestarian alam Pusat jasa Pelestarian dan revitalisasi kawasan sempadan sungai secara proporsional terhadap perkembangan kondisi dengan konsep berkelanjutan Peningkatan pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung Peningkatan dan penyediaan ruang terbuka hijau yang proporsional di wilayah kota Pengaturan pengembangan kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung Pengembangan ruang kota yang kompak dan efisien melaksanakan peninjauan kembali atas perizinan kegiatan kegiatan budidaya dengan prioritas pada lokasi lokasi yang berada dalam daerah aliran sungai (DAS) yang telah dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan Mencegah kegiatan budidaya di sempadan mata air yang dapat menggangggu kualitas air, kondisi fisik dan kuantitas debit air Mengelola kawasan lindung secara terpadu Melakukan konservasi tanah dan air pada kawasan lindung Mempertahankan dan merevitalisasi kawasan kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidrologis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air dan kesuburan tanah serta melindungi kawasan dari bahaya erosi Menyediakan RTH publik dan RTH privat seluas 30% dari luas Kota Mempertahankan fungsi dan menata ruang terbuka hijau yang ada Mengembalikan ruang terbuka hijau yang telah beralih fungsi; Meningkatkan ketersediaan ruang terbuka hijau di kawasan pusat kota Mengembangkan inovasi dalam penyediaan ruang terbuka hijau Mengembangkan kemitraan atau kerjasama dengan swasta dalam penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau Mengarahkan kawasan terbangun kepadatan sedang hingga tinggi Mengoptimalkan pengembangan kawasan pusat kota Mengembangkan kawasan perdagangan dan jasa, perkantoran, industri yang ramah lingkungan Mengembangkan kawasan budidaya terbangun secara vertikal di kawasan pusat kota Mengembangkan ruang-ruang kawasan yang kompak dan efisien dengan sistem insentif 53

61 Fokus Tujuan Penataan Ruang Kebijakan Penataan Ruang Strategi Penataan Ruang dan disinsentif Mengembangkan sarana dan prasarana perumahan, yaitu utilitas air bersih, limbah, sampah, jalan, drainase, listrik dan telepon dengan ruang terbuka hijau berwawasan lingkungan serta terintegrasi dengan sistem transportasi Pusat wisata budaya Falsafah budaya betang Pusat pendidikan dan penelitian Keterpaduan Pengembangan pariwisata terpadu berbasis potensi wisata budaya dengan falsafah betang Pengembangan kota pusat pendidikan dan penelitian Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara Mengembangkan sarana prasarana dan kegiatan jasa penunjang pariwisata Melestarikan nilai-nilai tradisi atau kearifan budaya masyarakat lokal beserta lingkungannya sebagai daya tarik wisata budaya Meningkatkan peran serta masyarakat dan pelaku usaha pariwisata dengan pembinaan, penyuluhan, pelatihan dan promosi bagi pengembangan pariwisata Mempromosikan sekolah menengah dan perguruan tinggi baik di dalam dan di luar Kalimantan Tengah Mengendalikan dan mengintensifkan pertumbuhan kawasan pendidikan di Kelurahan Langkai Mengembangkan sekolah berstandar nasional di Kelurahan Kereng Bangkirai Pengembangan pusat penelitian di Universitas Palangka Raya di Kelurahan Menteng Pengembangan sistem informasi dan telematika sebagai wujud pengembangan penelitian dan pendidikan Penyediaan bangunan untuk memamerkan hasil penelitian dan seni dan sebagai pusat informasi pendidikan, penelitian pariwisata di Kota Palangka Raya Mendukung penetapan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan Mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; Mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya yang tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan negara sebagai zona penyangga Turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan dan keamanan 54

62 4.2 Rencana Struktur Ruang Struktur ruang adalah susunan sistem pusat kota dan sistem jaringan infrastruktur yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat kota yang secara berjenjang memiliki hubungan fungsional. Dalam Ranperda RTRW, rencana struktur ruang wilayah, meliputi: a. pusat-pusat kegiatan; b. sistem jaringan prasarana utama; c. sistem jaringan prasarana lainnya Rencana struktur ruang wilayah Kota Palangka Raya diarahkan untuk menghasilkan tujuan sebagai berikut: 1. Keseimbangan, dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan di wilayah Kota Palangka Raya secara optimal dengan mewujudkan intensitas penggunaan lahan yang sesuai dengan kondisi lingkungan, terutama fisik wilayah; 2. Kelestarian, dimaksudkan untuk menciptakan wilayah Kota Palangka Raya agar mampu berkembang secara optimal dengan mewujudkan kegiatan di setiap lingkungan sesuai dengan fungsinya, sehingga tidak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun non fisik; 3. Daya guna dan hasil guna, dimaksudkan untuk menciptakan sistem pelayanan yang optimal dengan mewujudkan adanya jenjang fungsi pelayanan pada wilayah sesuai dengan skala pelayanan. Kesimpulan Kajian Rencana Struktur Ruang Pembentukan sub-sub pusat pelayanan kegiatan bertujuan untuk pembagian fungsi wilayah agar tidak semua kegiatan terpusat ke pusat kota karena dapat menimbulkan permasalahan di pusat kota (masalah lingkungan, transportasi, sosial). Tujuan lainnya adalah peningkatan aksesibilitas dari pusat kota ke sub-sub pelayanan kota ataupun ke kota-kota sekitar Kota Palangka Raya dengan tujuan memperlancar aksesibilitas antar wilayah (baik di dalam wilayah Kota Palangka Raya ataupun dengan wilayah di luar kota). Hal ini mempunyai konsekuensi terhadap pemanfaatan lahan yang sebagian besar merupakan wilayah terbangun. Pemanfaatan lahan tersebut umumnya dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana untuk menampung kegiatan yang akan dikembangkan pada sub-sub pusat pelayanan. Selain itu juga untuk pembukaan akses jalan, pelebaran jalan hingga pembangunan infrastruktur pendukung lainnya. Kegiatan tersebut diprakirakan menimbulkan dampak pada keseimbangan ekosistem, dan dengan demikian, terhadap jasa lingkungan. Secara rinci Peta Rencana Struktur Ruang dapat dilihat pada Gambar

63 Gambar 4.1 Peta rencana struktur ruang Kota Palangka Raya 56

64 4.3 Rencana Pola Ruang Rencana pola ruang wilayah kota merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kota yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Berdasarkan pada Ranperda RTRW Kota Palangka Raya, total luas wilayah Kota Palangka Raya adalah Ha dengan proporsi pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung sebesar ,05 Ha (50,55%) dan pemanfaatan ruang untuk kawasan budidaya sebesar ,95 Ha (49,45%) dari luas wilayah Kota Palangka Raya. Secara jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.3. Tabel 4.3 Prakiraan luas kawasan lindung Kota Palangka Raya tahun 2013 No Peruntukkan Lahan Luas (Ha) 1 2 Kawasan yang memberikan perlindungan wilayah di bawahnya Kawasan gambut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi kawasan hutan rawa gambut di : Kelurahan Kereng Bangkirai; Kelurahan Kalampangan; Kelurahan Bereng Bengkel; Kelurahan Sebaru; Kelurahan Danau Tundai; Kelurahan Kameloh Baru; Kelurahan Tanjung Pinang; Kelurahan Petuk Katimpun; Kelurahan Marang; Kelurahan Tumbang Tahai; Kelurahan Habaring Hurung; Kelurahan Tangkiling; Kelurahan Sei Gohong; Kelurahan Kanarakan; Kelurahan Petuk Bukit; Kelurahan Pager; Kelurahan Gaung Baru; Kelurahan Panjehang; dan Kelurahan Petuk Barunai Kawasan resapan air adalah daerah utara kota, yaitu Kecamatan Rakumpit Ruang terbuka hijau Kota I. Ruang terbuka hijau privat 636,70 a. Taman dan Alokasi RTH di kawasan perumahan perkotaan 424,93 b. Taman dan Alokasi RTH di rencana kawasan perkantoran pemerintah 153,40 c. Taman dan Alokasi RTH di kawasan pergudangan 10,00 d. Taman dan Alokasi RTH direncana kawasan perdagangan dan jasa 23,99 e. Taman dan Alokasi RTH di kawasan pertahanan dan keamanan 24,38 II. Ruang terbuka hijau kota publik 2.280,35 a. Sempadan danau 770,67 b. Taman lingkungan 1,95 c. Taman kelurahan dan kecamatan 0,75 d. Taman kota 9,59 e. Hutan kota 869,28 f. Jalur hijau jalan 65,09 g. Simpang jalan 4,00 h. Jalur pejalan kaki 65,09 i. Sempadan Sungai 360,754 j. Jalan inspeksi daerah aliran sungai (DAS) k. Lapangan Golf 84,60 l. Lapangan olahraga 22,20 m. Tempat Pemakaman Umum (TPU) 26, , ,05 57

65 n. Kebun raya/ hutan penelitian 3 Suaka alam di Bukit Tangkiling 2.601,00 4 Cagar budaya dan ilmu pengetahuan hutan Sebangau 352,00 Jumlah ,05 Sumber : RANPERDA RTRW Kota Palangka Raya ( ) Berdasarkan pada Ranperda RTRW Kota Palangka Raya, untuk kawasan budidaya tidak secara jelas menunjukan besaran alokasi peruntukan ruangnya. Pada Ranperda tersebut hanya menyatakan fungsi pemanfaatan ruang untuk alokasi kegiatan suatu perkotaan, yaitu perumahan, perdagangan dan jasa, perkantoran, industri, pariwisata, bandara serta peruntukan lainnya. Total luas kawasan budidaya diperoleh dari pengurangan luas Kota Palangka Raya dikurangi dengan luas kawasan lindungnya. Merujuk pada dokumen teknis, yaitu Laporan Akhir RTRW Kota Palangka Raya dapat diketahui alokasi luas untuk pemanfaatan ruang kawasan budidaya adalah seluas ha, namun besaran luasan ini tidak akan sama bila mempergunakan luasan yang berdasarkan pada Ranperda RTRW Kota Palangka Raya. Pada Tabel 4.4, dapat dilihat luasan kawasan budidaya di Kota Palangka Raya berdasarkan pada laporan akhir RTRW Kota Palangka Raya. Tabel 4.4 Prakiraan luas kawasan budidaya Kota Palangka Raya tahun 2033 No Peruntukkan Lahan Luas (Ha) 1 Perumahan: ,00 a. Perumahan Kepadatan Tinggi b. Perumahan Kepadatan Sedang c. Perumahan Kepadatan Rendah Perdagangan dan Jasa 489,00 3 Perkantoran 527,00 4 Industri 2.738,00 5 Pariwisata ,00 6 Bandara 217,00 7 Peruntukan lainnya: ,00 a. Fasilitas Pelayanan Umum 694 b. Peruntukan Kegiatan Informal 509 c. Peruntukan Militer 230 d. Peruntukan Pertanian e. Peruntukan Pertambangan Sumber : Laporan Akhir RTRW Kota Palangka Raya ( ) Jumlah ,00 Dengan demikian, perlu kiranya disinkronkan dahulu mengenai luasan alokasi ruang untuk kawasan budidaya baik dari dokumen pendukung atau dokumen Ranperda-nya sehingga dapat mengasilkan suatu dokumen rencana yang bermanfaat bagi Kota Palangka Raya ke depannya. 58

66 Kesimpulan Kajian Rencana Pola Ruang Berdasarkan pada proporsi pemanfaatan ruang untuk fungsi kawasan lindung dan budidaya di Kota Palangka Raya, Ranperda RTRW Kota Palangka Raya telah menetapkan luasan untuk kawasan lindung adalah seluas ,05 ha (50,5%) dari total luas Kota Palangka Raya seluas Ha (Pasal 2 ayat 2, Ranperda RTRW Kota Palangka Raya ). Sedangkan untuk kawasan budidaya hanya menyatakan alokasi peruntukkannya saja. Artinya, bahwa untuk alokasi pemanfaatan ruang budidaya masih leluasa untuk menentukan besaran luasan berdasarkan jenis peruntukkan pemanfaatan ruang yang akan dialokasikan pemanfaatannya sesuai dengan peruntukkan yang telah ditentukan dalam Raperda RTRW tersebut. Sebagai contoh, luasan untuk rencana kawasan industri bisa lebih besar daripada untuk rencana kawasan perdagangan, atau luasan kawasan perkantoran bisa lebih besar dari peruntukkan perdagangan, atau bahkan sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini bisa saja nanti akan ada konflik pemanfaatan ruang, baik itu antar peruntukkan dalam kawasan budidaya ataupun adanya peruntukan kawasan budidaya dengan kawasan lindung. Kondisi ini dapat tercermin dari beberapa KRP yang telah diidentifikasikan yang akan dijelaskan pada bagian lain dari laporan ini mengenai KRP-KRP tersebut. Secara jelasnya mengenai gambaran pola ruang Kota Palangka Raya dapat dilihat pada Gambar Penetapan Kawasan Strategis Pengertian kawasan strategis adalah kawasan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap tata ruang di wilayah sekitarnya, kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya, dan/atau peningkatan kesejahteraan masyarakat (Penjelasan Pasal 5 UUPR). Kawasan strategis kota merupakan bagian wilayah kota yang penataan ruangnya diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota di bidang ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan. Di dalam RTRW Kota Palangka Raya terdapat 3 Kawasan Strategis pada Skala Nasional, yaitu Kawasan Strategis Nasional (KSN), pada skala provinsi, yaitu Kawasan Strategis Provinsi (KSP), dan pada skala kota, yaitu Kawasan Strategis Kota (KSK). Kesimpulan Kajian Kawasan Strategis Secara jelas mengenai masing-masing kawasan strategis dan orientasi pengembangan kawasan strategis dapat dilihat pada Tabel 4.5, Tabel 4.6 dan Tabel

67 Gambar 4.2 Peta Rencana Pola Ruang Kota Palangka Raya 60

68 Tabel 4.5 Kawasan Strategis Nasional di Kota Palangka Raya Kawasan Strategis Nasional Kota Palangka Raya sebagai bagian dari Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) DAS Kahayan, Kapuas, Barito Sumber: Ranperda RTRW Kota Palangka Raya ( ) Orientasi Kawasan strategis Aspek ekonomi Kaitan dengan tujuan RTRW Pusat jasa Tabel 4.6 Kawasan Strategis Provinsi di Kota Palangka Raya Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis kepentingan Fungsi Sosial Budaya terdiri atas: a. Kawasan Strategis sekitar kawasan Pahewan Tabalien. b. Kawasan Strategis Sekitar Kawasan Adat Masyarakat terutama bagi umat Hindu Kaharingan Orientasi Kawasan strategis Aspek sosial dan budaya Kawasan strategis kepentingan Fungsi Aspek lingkungan hidup dan Daya Dukung Lingkungan Hidup terdiri atas: a. Kawasan Strategis DAS Kahayan. b. Kawasan Strategis Perlindungan Keanekaragaman Hayati yang terdiri dari: 1. Cagar Alam Bukit Tangkiling; 2. Taman Nasional Sebangau; dan 3. Taman Hutan Rakyat Arboretum Nyaru Menteng. Sumber: Ranperda RTRW Kota Palangka Raya ( ) Kaitan dengan tujuan RTRW Pusat wisata budaya Pemeliharaan kelestarian alam Tabel 4.7 Kawasan Strategis Kota di Kota Palangka Raya Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis kepentingan pertumbuhan ekonomi: (1) Pengembangan kawasan pariwisata meliputi: a. Kawasan Wisata Bukit Tangkiling di Kecamatan Bukit Batu; dan b. Kawasan wisata Nyaru Menteng di Kelurahan Tumbang Tahai. (2) Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa meliputi pusat perdagangan yang terletak di: a. Kelurahan Langkai; b. Kelurahan Menteng; dan c. Kelurahan Palangka. (3) Pengembangan kawasan industri meliputi: a. Kelurahan Sabaru; Orientasi Kawasan strategis Aspek ekonomi Kaitan dengan tujuan RTRW Pusat wisata budaya Pusat jasa 61

69 Kawasan Strategis Provinsi b. Kelurahan Kelampangan; c. Kelurahan Bereng Bengkel; dan d. Kelurahan Kereng Bangkirai (4) Pengembangan kawasan jasa pemerintahan meliputi: a. Kelurahan Bukit Tunggal; b. Kelurahan Menteng; dan c. Kelurahan Palangka. Kawasan strategis kepentingan sosial budaya meliputi: a. Pengembangan kawasan pendidikan dan penelitian di sebagian Kelurahan Pahandut, Kelurahan Tumbang Rungan dan Kelurahan Petuk Katimpun; b. Pengembangan kawasan tugu monumen sejarah kota Palangka Raya di kelurahan Pahandut; c. Pengembangan dan penataan kembali kota lama Kelurahan Pahandut; dan d. Pengembangan hutan wisata dan Bandar Budaya Dayak di Kelurahan Marang. Kawasan strategis kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi: a. Perlindungan kawasan konservasi di sepanjang Sungai Rungan, Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau; b. Perlindungan ruang terbuka hijau kota di setiap pusat kawasan; c. Perlindungan kawasan lindung di Kelurahan Kameloh Baru dan Kelurahan Danau Tundai; dan d. Perlindungan kawasan hutan kota di Kawasan Kelurahan Tumbang Rungan, Kelurahan Bukit Tunggal, Kelurahan Menteng. Orientasi Kawasan strategis Aspek sosial dan budaya Aspek lingkungan hidup Kaitan dengan tujuan RTRW Pusat pendidikan dan penelitian Pusat wisata budaya Pemeliharaan kelestarian alam Berdasarkan pada tabel-tabel di atas dapat diketahui bahwa hanya ada 2 kawasan strategis yang berorientasi pada pelestarian lingkungan hidup, yaitu pada: 1. Penetapan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Kawasan Strategis DAS Kahayan. Dan Kawasan Strategis Perlindungan Keanekaragaman Hayati yang terdiri atas: Cagar Alam Bukit Tangkiling; Taman Nasional Sebangau; dan Taman Hutan Rakyat Arboretum Nyaru Menteng yang merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup 2. Penetapan Kawasan Strategis Kota (KSK) Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi: 62

70 Perlindungan kawasan konservasi di sepanjang Sungai Rungan, Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau; Perlindungan ruang terbuka hijau kota di setiap pusat kawasan; Perlindungan kawasan lindung di Kelurahan Kameloh Baru dan Kelurahan Danau Tundai; dan Perlindungan kawasan hutan kota di Kawasan Kelurahan Tumbang Rungan, Kelurahan Bukit Tunggal, Kelurahan Menteng. Penetapan kawasan strategis lainnya cenderung berorientasi pada aspek ekonomi dan sosial budaya dan ini dipastikan akan berimplikasi pada peningkatan intensitas pembangunan pada kawasan tersebut karena diprioritas (strategis), maka pengaruh yang dihasilkan dari prioritas pembangunan ini secara tidak langsung akan berdampak pada lingkungan dalam konteks pemanfaatan lahan ke depan. Berdasarkan pada peta kawasan strategis dapat dilihat bahwa pengembangan kawasan strategis yang berorientasi pada aspek pertumbuhan ekonomi berada di wilayah pusat kota, yaitu di Kecamatan Pahandut. Sebagai pusat kegiatan ekonomi, maka wilayah ini akan menjadi magnet daya tarik dari wilayah sekitarnya. Artinya, kawasan pusat kota ini akan menjadi magnet untuk dapat menampung aktivitas bagi penduduk Kota Palangka Raya ataupun wilayah sekitarnya sehingga berbagai permasalahan perkotaan dapat timbul, antara lain, kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan kawasan kumuh yang akan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Secara jelasnya mengenai kawasan-kawasan strategis yang ada di Kota Palangka Raya dapat dilihat pada Gambar

71 Gambar 4.3 Peta Kawasan Strategis Kota Palangka Raya 64

72 4.2 Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Palangka Raya Arahan pemanfaatan ruang wilayah kota merupakan upaya perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama penataan/pengembangan kota dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun perencanaan 20 (dua puluh) tahun. Arahan pemanfaatan ruang Kota Palangka Raya, sekurang-kurangnya memiliki muatan sebagai berikut: a. Perwujudan rencana struktur wilayah kota: 1) perwujudan pusat pelayanan kegiatan kota; dan 2) perwujudan sistem jaringan prasarana kota, yang mencakup pula sistem prasarana nasional dan wilayah/regional di wilayah kota: perwujudan sistem jaringan transportasi di wilayah kota, yang meliputi sistem prasarana transportasi darat, udara, dan air; perwujudan sistem jaringan sumber daya air; perwujudan sistem jaringan energi dan kelistrikan; perwujudan sistem jaringan telekomunikasi; perwujudan sistem persampahan, sanitasi dan drainase; dan perwujudan sistem jaringan lainnya. b. Perwujudan rencana pola ruang wilayah kota: 1) perwujudan kawasan lindung; dan 2) perwujudan kawasan budidaya. c. Perwujudan kawasan-kawasan strategis kota. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Palangka Raya diarahkan untuk mewujudkan tujuan rencana penataan ruang Kota Palangka Raya menjadi kota pusat pendidikan dan penelitian, pemeliharaan kelestarian alam, pusat jasa dan wisata budaya dengan filosofi Budaya Betang. Untuk mewujudkan tujuan di atas, maka pemanfaatan ruang perlu didukung dengan program-program utama yang disusun untuk mewujudkan struktur dan pola ruang serta kawasan strategis yang direncanakan sampai akhir tahun perencanaan. Secara eksplisit pada dokumen RTRW Kota Palangka Raya arahan pemanfaatan ruang disebutkan program-program yang disusun memiliki jangka waktu pelaksanaan selama 20 tahun, pentahapan kegiatan tersebut dituangkan dalam kegiatan pembangunan 5 (lima) tahun. Program yang akan diwujudkan dalam Program jangka menengah lima tahunan ini lebih terfokus kepada program pembentukan wujud ruang di Pengembangan Kecamatan Pahandut sebagai pusat Kota Palangka Raya, maka program yang ditetapkan juga diharapkan akan memiliki dampak kepada pengembangan dan percepatan pertumbuhan kawasan-kawasan disekitarnya, terutama pada penyiapan 65

73 sarana serta prasarana yang dibutuhkan dalam mendukung percepatan pertumbuhan kawasan-kawasan tersebut. Kesimpulan Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Perwujudan rencana tata ruang dilakukan melalui penjabaran terhadap program dan kegiatan. Program yang merupakan instrument kebijakan berisi satu atau lebih kegiatan akan dilaksanakan oleh suatu organisasi atau Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai upaya untuk mengimplementasikan strategi dan kebijakan serta dalam rangka mencapai tujuan dalam penataan ruang di Kota Palangka Raya. Dalam operasionalisasi program yang dituangkan dalam Indikasi Program (merupakan arahan program beserta pentahapannya yang diperlukan dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rencana dan struktur pemanfaatan ruang) cenderung mengarah pada pertumbuhan ekonomi (economic growth). Oleh karenanya, perlu adanya arahan bagi program-program pembangunan jangka menegah yang telah disusun oleh masing-masing instansi (dinas-dinas terkait) untuk melaksanakannya dengan menjamin prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dapat tercapai sesuai tujuan kebijakan perencanaan tata ruang Kota Palangka Raya. 4.3 Arahan Pengendalian Ruang Wilayah Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota adalah ketentuan yang diperuntukkan sebagai alat penertiban penataan ruang, meliputi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan pemberian insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi dalam rangka perwujudan RTRW kota. Fungsi dari ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang adalah: 1. Sebagai alat pengendali perkembangan wilayah kota. 2. Menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. 3. Menjamin agar pembangunan baru tidak menganggu pemanfaatan ruang yang telah sesuai dengan rencana tata ruang. 4. Meminimalkan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. 5. Mencegah dampak pembangunan yang merugikan. 6. Melindungi kepentingan umum. Dalam RTRW Kota Palangka Raya secara normatif muatan pengendalian ruang pada dasarnya sudah dimasukan secara lengkap dan terakomodir dalam Ranperda RTRW sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam penyusunan RTRW. Kesimpulan Kajian Arahan Pengendalian Ruang Kota Pengendalian penataan ruang di Kota Palangka Raya perlu diperhatikan terutama dalam program-program pembangunan pada struktur dan pola ruang yang bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini terkait dengan adanya pengembangan kegiatan- 66

74 kegiatan yang bersifat fisik terhadap pengembangan wilayah kota yang berdampak pada alih fungsi lahan dan pembukaan kawasan-kawasan baru. Oleh karena itu, dalam rangka menwujudkan penataan ruang Kota Palangka Raya yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, mekanisme pengendalian pemanfatan ruang ini sudah cukup lengkap berisikan indikasi arahan peraturan zonasi, perizinan, insentif dan disinsentif serta sanksi. 4.4 Keterkaitan RTRW Kota Palangka Raya dan KRP Prioritas Sebagai suatu wilayah kota, Kota Palangka Raya dalam penataan ruangnya ditinjau dari struktur ruangnya akan menitik beratkan pada pengembangan pusat-pusat pelayanan dan jaringan prasarananya sebagai pendukung terhadap pengembangan pusat-pusat pelayanan tersebut. Berdasarkan hasil tinjauan terhadap substansi materi struktur ruang dan workshop yang dilakukan dalam menelaah terhadap kebijakan, rencana dan program (KRP) struktur ruang, maka diperoleh beberapa KRP prioritas yang diprakirakan berpengaruh terhadap perkembangan Kota Palangka Raya dilihat implikasinya terhadap kondisi lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan di Kota Palangka Raya. Adapun KRP prioritas struktur ruang RTRW Kota Palangka Raya terdiri dari pengembangan sistem pusat pelayanan dan pengembangan sistem jaringan transportasi, yang secara terinci adalah sebagai berikut: 1. Sub-pusat pelayanan kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Sub pusat pelayanan Mungku Baru ditetapkan di Kawasan Kelurahan Mungku Baru yang berfungsi sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian non ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar, dan kegiatan pertambangan (pasal 11 ayat (3) huruf d). 2. Sub-pusat pelayanan kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Sub pusat pelayanan Kelampangan ditetapkan di Kawasan Kelurahan Kelampangan yang berfungsi sebagai kawasan penyangga yang dibatasi oleh sungai Sebangau dan areal Hutan Pendidikan dan Penelitian (HPP pada kawasan Taman Nasional Sabangau) ang berfungsi sebagai kawasan permukiman berwawasan lingkungan dan baru bagi pengembangan kawasan terbangun ke arah selatan hingga ke kawasan pelabuhan sungai Sabangau sebagai revitalisasi pelabuhan rakyat bagi dukungan pengembangan wisata alam HPP dan dukungan terselenggaranya rencana pengembangan industri serta permukiman kota (pasal 11 ayat (3) huruf b). 3. Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: a. Pengembangan jaringan jalan arteri primer, meliputi: b. Tangkiling Batas Kota Palangka Raya; c. Jalan Cilik Riwut (Palangka Raya); 67

75 d. Ruas Jalan RTA Milono; e. Ruas Jalan Ir. Soekarno (Km. 40 P.Raya-Lap. Terbang/Jl. Adonis Samad); dan f. Satuan Pemukiman Kereng Bangkirai Bereng Bengkel (Pasal 15 ayat (2) huruf a) Ditinjau dari rencana pola ruangnya, Kota Palangka Raya memiliki pengembangan kegiatan-kegiatan untuk mewadahi kegiatan masyarakat kota yang bersifat tersier (jasa, perdagangan), berbeda dengan sifat aktivitas pada wilayah kabupaten yang basis kegiatannya pada sektor primer (pertanian, kehutanan, pertambangan). Sebagai suatu kota, tentunya Kota Palangka Raya memiliki ciri kegiatan perkotaan dimana akan ditandainya daerah yang meliputi area terbangun (built area). Hal ini akan memacu terjadinya alih fungsi lahan dari kehutanan atau perkebunan menjadi area terbangun untuk menampung kegiatan perkotaan. Salah satu tujuan rencana penataan ruang Kota Palangka Raya adalah pemeliharaan kelestarian alam, maka sudah seharusnya bahwa ekspansi pengembangan kegiatan kota tidak dilakukan semena-mena sehingga mengganggu keseimbangan alam (lingkungan). Kebijakan, rencana dan program RTRW Kota Palangka Raya untuk pola ruang yang terkait dengan pemeliharaan kelestarian alam ini tentunya akan mempengaruhi terhadap pengembangan Kota Palangka Raya di masa datang. Penekanan pada kegiatan KLHS ini adalah bagaimana lahan kota Palangka Raya tidak seluruhnya dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan, tetapi juga adanya alokasi ruang untuk pemanfaatan yang menunjang kelestarian alam tersebut, sehingga dapat meminimalkan adanya konflik pemanfaatan ruang antara pembangunan kawasan terbangun atau dipertahankan untuk kawasan lindung atau pelestarian alam. Berdasarkan pada kajian dan hasil workshop yang dilakukan dalam penyusunan kegiatan KLHS ditetapkan KRP RTRW Kota Palangka Raya untuk pola ruangnya adalah sebagai berikut: 1. Penetapan Kawasan Hutan Lindung seluas ,34 ha. (SK Menhut No 529 Tahun 2012) (indikasi program, B. Perwujudan pola ruang, 1. Perwujudan kawasan lindung, 1.1 pemantapan kawasan hutan lindung. A. penetapan hutan lindung) 2. Rencana Hutan Kota direncanakan seluas 869,28 ha (Pasal 35 Ayat 3 huruf e). 4.5 KRP yang menjadi kajian dalam studi KLHS RTRW Kota Palangka Raya Hasil identifikasi kebijakan, rencana dan/atau program (KRP) RTRW Kota Palangka Raya yang menjadi kajian Pokja KLHS Kota Palangka Raya adalah seperti tersebut dalam Tabel 4.8. Tabel tersebut menunjukkan dua belas KRP yang teridentifikasi oleh Pokja KLHS pada pelaksanaan lokalatih (workshop) KLHS RTRW Kota Palangka Raya. Dari keseluruhan KRP yang telah teridentifikasi, hanya lima KRP tersebut di bawah ini 68

76 yang dikaji secara mendalam. Pemilihan KRP didasarkan pada pertimbangan perwakilan substansi pola ruang dan struktur ruang. Selain itu, pertimbangan pemilihan KRP RTRW didasarkan pada sejauhmana KRP memberikan implikasi terhadap strategi pembangunan rendah emisi (SPRE), daya dukung lingkungan hidup, keutuhan ekosistem, dan kesesuaian lahan (land suitability). Pengkajian lebih lanjut implikasi KRP RTRW tersebut di bawah ini terhadap aspek-aspek lingkungan hidup dan sosial ditunjukkan pada Bab V. KRP RTRW Kota Palangka Raya yang menjadi fokus kajian adalah: 1. Sub pusat pelayanan kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Sub pusat pelayanan Mungku Baru ditetapkan di Kawasan Kelurahan Mungku Baru yang berfungsi sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian non ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar, dan kegiatan pertambangan dan Sub pusat pelayanan Petuk Bukit ditetapkan di Kawasan Kelurahan Pager yang berfungsi sebagai kawasan pertanian (eco farming), perikanan air tawar dan kehutanan (social forestry) serta preservasi lingkungan dan adaptive planning (Pasal 11 ayat (3) huruf d). 2. Sub pusat pelayanan kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Sub pusat pelayanan Kelampangan ditetapkan di Kawasan Kelurahan Kelampangan yang berfungsi sebagai kawasan penyangga yang dibatasi oleh sungai Sebangau dan areal Hutan Pendidikan dan penelitian (HPP pada kawasan Taman Nasional Sabangau) yang berfungsi sebagai kawasan permukiman berwawasan lingkungan dan baru bagi pengembangan kawasan terbangun ke arah selatan hingga ke kawasan pelabuhan sungai Sabangau sebagai revitalisasi pelabuhan rakyat bagi dukungan pengembangan wisata alam HPP dan dukungan terselenggaranya rencana pengembangan industri serta permukiman kota (pasal 11 ayat (3) huruf b); 3. Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: Pengembangan jaringan jalan arteri primer, meliputi: Tangkiling Batas Kota Palangkaraya, Jalan Cilik Riwut (Palangkaraya), Ruas Jalan RTA Milono, Ruas Jalan Ir. Soekarno (Km. 40 P.Raya-Lap. Terbang/Jl. Adonis Samad), dan Sp. Kereng Bangkirai Bereng Bengkel (Pasal 15 ayat (2) huruf a); 4. Penetapan Kawasan Hutan Lindung seluas di wilayah kota hektar (indikasi program, B. Perwujudan pola ruang, 1. Perwujudan kawasan lindung, 1.1 pemantapan kawasan hutan lindung. A. penetapan hutan lindung; 5. Rencana Hutan Kota direncanakan seluas 869,28 Ha (pasal 35 ayat 3 huruf e). 69

77 Tabel 4.8 Muatan KRP Ranperda RTRW Kota Palangka Raya dan kemungkinan dampaknya terhadap pelepasan emisi, daya dukung, dan kesesuaian lahan (land suitability) No KRP Pelepasan Emisi Daya dukung lahan Kesesuaian Lahan 1 Pusat pelayanan sebagaimana dimaksud pada pasal 11 ayat (1) huruf a adalah PPK Pahandut berada di Kelurahan Pahandut Kecamatan Pahandut yang berfungsi sebagai pusat perdagangan regional, pendidikan, jasa dan industri kecil, serta kawasan pusat administrasi pemerintahan propinsi Penetapan kawasan pusat kota untuk multifungsi menyebabkan adanya perubahan fungsi lahan secara luas, sehingga mengakibatkan berkurangnya lahan-lahan terbuka yang semula hutan ataupun gambut menjadi lahan terbangun Berbagai kegiatan di kawasan pusat kota ini akan membuat turunnya daya dukung lahan pertanian seperti halnya berkurangnya air tanah, rusaknya ekosistem Berkurangnya lahan terbuka/bervegetasi dan bertambahnya lahan terbangun sehingga dapat mengurangi kesesuaian lahan Sub pusat pelayanan Bukit Tunggal ditetapkan di Kawasan Kelurahan Bukit Tunggal yang berfungsi sebagai pengembangan kawasan kotabaru,atau kawasan permukiman baru pendukung perluasan kota lama pasal 11 ayat 3 a 2 Sub pusat pelayanan Mungku Baru ditetapkan di Kawasan Kelurahan Mungku Baru yang berfungsi sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian non ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar, dan kegiatan pertambangan dan Sub pusat pelayanan Petuk Bukit ditetapkan di Kawasan Kelurahan Pager yang berfungsi sebagai kawasan pertanian (eco farming), perikanan air tawar dan kehutanan (social forestry) serta preservasi lingkungan dan adaptive planning pasal 11 ayat 3d 3 Sistem sub pusat pelayanan Kota di Petuk Bukti berfungsi sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian (eco farming), perikanan air tawar, dan kehutanan (social forestry) serta Kegiatan pertambangan akan mengurangi luasan lahan terbuka baik hutan, gambut sehingga memperbesar pelepasan emisi, melalui aktivitas pembukaan lahan (open mining) Kemungkinan terjadi tumpangtindih pemanfaatan lahan, apabila tidak direncanakan dengan baik, sehingga mengurangi daya dukung lahan Kegiatan pertambangan akan mengakibatkan pencemaran pada tanah dan air 70

78 No KRP Pelepasan Emisi Daya dukung lahan Kesesuaian Lahan preservasi lingkungan dan adaptive planning 4 Sub pusat pelayanan Kelampangan ditetapkan di Kawasan Kelurahan Kelampangan yang berfungsi sebagai kawasan penyangga yang dibatasi oleh sungai Sebangau dan areal Hutan Pendidikan dan penelitian (HPP pada kawasan Taman Nasional Sabangau) yang berfungsi sebagai kawasan permukiman berwawasan lingkungan dan baru bagi pengembangan kawasan terbangun ke arah selatan hingga ke kawasan pelabuhan sungai Sabangau sebagai revitalisasi pelabuhan rakyat bagi dukungan pengembangan wisata alam HPP dan dukungan terselenggaranya rencana pengembangan industri serta permukiman kota pasal 11 ayat 3b 5 Pengembangan sistem jaringan transportasi darat Rencana pembangunan jalan nasional 6 Pengembangan sistem jaringan transportasi darat Rencana pembangunan jalan arteri primer. Batas wilayah Kota Palangka Raya-Km 45-Tangkiling-Lingkar Luar- Kelampangan Batas kota ke arah jalur jalan ke Kabupaten Pulang Pisau (77,44 km). 7 Pengembangan sistem jaringan sumberdaya air konservasi kawasan resapan air penetapan kawasan konservasi dan sempadan Penetapan kawasan sebagai kawasan penyangga dan pengembangan kawasan terbangun menyebabkan adanya perubahan fungsi lahan secara luas, sehingga mengakibatkan berkurangnya lahan-lahan terbuka yang semula hutan ataupun gambut menjadi lahan terbangun. Dengan demikian, meningkatkan emisi karbon Pelepasan kawasan hutan dengan dibangunnya jalan (jalan lingkar luar) mengakibatkan adanya pelepasan emisi Apabila manajemen dan moda transportasi tidak direncanakan dengan baik dapat meningkatkan emisi karbon Pengembangan kawasan terbangun ini akan menurunkan daya dukung lahan, utamanya berkurangnya air tanah, rusaknya ekosistem Adanya pembangunan jalan (jalan lingkar luar) mengakibatkan mengganggu ekosistem hutan Keberadaan jalan bersifat memudahkan akses terhadap sumberdaya alam, utamanya hutan, sehingga dapat mengurangi daya dukung lahan apabila terjadi eksploitasi lahan Berkurangnya lahan terbuka/bervegetasi dan bertambahnya lahan terbangun sehingga bersifat mengurangi tingkat kesesuaian lahan Perlu diwaspadai dengan adanya pembangunan jalan sering diikuti dengan alih fungsi lahan di tepi jalan menjadi lahan terbangun Kemungkinan mempercepat laju ketidaksesuaian lahan akibat gangguan ekosistem alam melalui peningkatan alih fungsi lahan

79 No KRP Pelepasan Emisi Daya dukung lahan Kesesuaian Lahan sungai 8 Sub pusat pelayanan Tangkiling ditetapkan di Kawasan Kelurahan Tangkiling yang berfungsi sebagai kawasan budidaya perikanan keramba di tepian Sungai Kahayan; Pengembangan sistem persampahan pembangunan TPA skala Kota 10 Penetapan kawasan hutan lindung seluas di wilayah kota ha Terlaksananya penetapan kawasan hutan lindung yang diikuti dengan peningkatan luas tutupan lahan, utamanya tegakan hutan, dan berkurangnya luas dan intensitas kebakaran hutan akan menurunkan jumlah emisi karbon ke atmosfer - - Kemungkinan pencemaran sumberdaya air dan tanah dari kegiatan penimbunan sampah Meningkatkan daya dukung sumberdaya air dan meningkatkan perlindungan terhadap wilayah di bawah lokasi penetapan kawasan hutan lindung. Meningkatkan sebaran dan keanekaragaman hayati Mempertimbangkan Kota Palangka Raya sebagian besar wilayahnya adalah kawasan hutan rawa-gambut, maka penetapan kawasan hutan lindung meningkatkan nilai kesesuaian lahan 11 Kawasan rawan bencana Rencana hutan kota (Kecamatan Pahandut dan Jekan Raya, semuanya direncanakan seluas ha) Terjadi peningkatan luas tutupan lahan, utamanya tegakan hutan atau tutupan lahan yang memiliki fungsi sebagai hutan, maka diprakirakan akan menurunkan laju pelepasan emisi karbon Meningkatkan daya dukung kota, utamanya dalam hal mengurangi konsentrasi karbon di atmosfer, meningkatkan estetika dan iklim mikro, serta meningkatkan keanekaragaman hayati Meningkatkan kesesuaian lahan, utamanya pada lokasi yang secara alamiah berfungsi sebagai penampungan air (rawa gambut) Catatan: dari ke 12 KRP tersebut dalam Ranperda RTRW tidak seluruhnya dikaji, melainkan yang diprakirakan memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan hidup dan sosial (hasil diskusi kelompok). 72

80 5 PENGKAJIAN DAMPAK PENGARUH KRP RTRW 5.1 Identifikasi Pemangku Kepentingan Dalam pelaksanaan KLHS, pelibatan pemangku kepentingan menjadi salah satu kaidah yang ditetapkan pada pasal 18, UU No. 32 tahun 2009 dan pasal 4 dan 5 Permendagri No 67 tahun 2012 yang merupakan sandaran hukum bagi pelaksanaan dan tata cara penyelenggaraan KLHS di Indonesia. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai yang ditetapkan pada pelaksanaan KLHS di tataran internasional (OECD, 2006; UNEP, 2004). Kedua laporan badan internasional tersebut menetapkan bahwa pelibatan pemangku kepentingan adalah hal yang kritikal dalam pelaksanaan KLHS, mengingat KLHS adalah proses pembuatan keputusan yang hasil ketetapannya akan memiliki implikasi pada kepentingan mereka. Pelaksanaan KLHS pada dokumen RTRW Kota Palangkaraya, telah memenuhi kaidah-kaidah proses partisipatif dengan melibatkan pemangku kepentingan yang dilakukan melalui serangkaian kegiatan diskusi terfokus yang dirancang dalam 8 kali pertemuan. Pada bulan April 2014, telah dilakukan focused group discussion (FGD) melibatkan pemangku kepentingan dari unsur akademisi, unsur pemerintahan, unsur lembaga swadaya masyarakat, unsur masyarakat adat, dan wartawan dalam pelaksanaan KLHS. Pelibatan pemangku kepentingan dalam proses pelaksanaan KLHS ini selain telah mengkuti kaidah yang ditetapkan dalam kedua perundangan seperti disebutkan di awal bagian ini, juga telah sesuai dengan arahan pelaksanaan KLHS di level global yang memiliki tujuan (UNEP, 2004): a. Memberikan wadah bagi publik untuk mengekspresikan pandangannya terkait kepentingan dari institusi yang diwakilinya; b. Memperoleh pandangan dari masyarakat local dan tradisional sebelum melakukan proses pembuatan keputusan; c. Memberikan wadah diskusi bagi pertimbangan-pertimbangan sensitif terkait kajian alternatif, mitigasi dan trade-offs yang perlu dibincangkan antar pemangku kepentingan; d. Mendorong terjadinya implikasi positif yang optimal bagi para pemangku kepentingan; e. Mengurangi terjadinya konflik saat pelaksanaan dokumen kebijakan yang dikaji; f. Menciptakan rasa kebersamaan dalam melaksanakan hasil kesepakatan;

81 g. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas proses pembuatan keputusan; h. Meningkatkan kepercayaan publik pada proses pelaksanaan KLHS. Para pemangku kepentingan mengikuti proses pelaksanaan KLHS RTRWK Palangka Raya sejak kegiatan pertama dilakukan dalam suatu mekanisme serial FGD. Peran pemangku kepentingan dalam proses pelaksanaan KLHS ini bersifat terus menerus (iterative), sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran ide dan pendapat yang memperkaya hasil kesepakatan. Kesepakatan hasil diskusi multi-pihak sangat penting dalam suatu proses KLHS karena hasilnya dapat menjadi komitmen bersama untuk dilaksanakan. Pada FGD kedua, 3 Juni 2013, para pemangku kepentingan yang hadir dalam kegiatan diskusi terfokus pelaksanaan KLHS RTRWK Palangka Raya bahkan melakukan konfirmasi pentingnya pembagian peran pemangku kepentingan, yang menghasilkan informasi siapa yang mempengaruhi perumusan kebijakan, rencana, atau program (KRP), dalam hal ini muatan Ranperda RTRW, dan siapa saja yang akan dipengaruhi apabila RTRWK dilaksanakan. Hasil FGD kedua menghasilkan kesepakatan tentang pemangku kepentingan seperti tersebut dalam Tabel 5.1. Tabel 5.1 Pemangku kepentingan Walikota/ Kepala Daerah Anggota legislatif Kepala SKPD Eksekutif/ pemda Pemerintah pusat/kementerian LSM Identifikasi pemangku kepentingan, kontribusi, dan peran yang dilakukan Kontribusi Kebijakan/usulan pembangunan, legalisasi peraturan, perijinan Pengesahan perda RTRW, persetujuan anggaran pembangunan Rencana/program RPJM dalam RTRW Usulan perda RTRW termasuk pendanaannya Penyediaan dana, fasilitasi teknis, perijinan Terbangunnya opini publik tentang pembangunan berkelanjutan Naskah akademik, analisis dan penyediaan data Peran yang dilakukan Memberi arahan pembangunan; Memastikan pembangunan berjalan efektif Melakukan sosialisasi dan political approach Memberikan penjelasan/sosialisasi kepada tokoh masyarakat adat dan pemangku kepentingan lain Melobi legislatif; Memberikan argumentasi terhadap substansi RTRW Memastikan bahwa kepentingan pemerintah pusat dapat dicapai Membangun opini publik Akademisi Memberikan klarifikasi akademis atas isu-isu strategis Wartawan Akses informasi Memberikan akses informasi kepada publik Industri/ Pengusaha/ Investor Investasi ekonomi; Peningkatan ekonomi daerah Mematuhi peraturan-perundangan termasuk dalam penyediaan tenaga kerja dan perlindungan terhadap LH 74

82 Masyarakat pada umumnya Tokoh masyarakat/ adat Mencegah perambahan dan kebakaran hutan dan gangguan terhadap ekosistem pada umumnya Memastikan bahwa kepentingan adat/lokal terjaga Terlibat dalam proses pembuatan kebijakan; identifikasi potensi konflik-melakukan pencegahan dulu baru pelaksanaan kebijakan Memberikan arahan tentang hal-hal yang dianggap penting oleh komunitas adat Pemangku kepentingan yang telah teridentifikasi dalam tabel di atas mewakili lebih dari 80% kelompok pemangku kepentingan, meskipun peserta yang mewakili kelompok kepentingan tersebut keterlibatannya dalam FGD tidak selalu konsisten karena kesibukan/tugas sebagian peserta. Namun demikian, keterlibatan unsur swasta tergolong minimal, meskipun sebagian besar isuisu yang relevan dengan sektor swasta telah didiskusikan. Pada beberapa pertemuan, telah dihadirkan wartawan untuk meliput dan mewartakan dalam media cetak lokal. Demikian pula, anggota legislatif dari DPRD Kota Palangka Raya telah dapat dihadirkan sebagai peninjau proses studi KLHS. Proses pelaksanaan KLHS dilakukan secara iteratif melalui mekanisme diskusi kelompok yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, yang dilanjutkan dengan melakukan kesepakatan melalui proses presentasi, tanya-jawab dan diskusi. Proses pelaksanaan studi KLHS secara partisipatif ini telah berhasil mengidentifikasi isu-isu strategis yang relevan dengan kota Palangka Raya. Kegiatan identifikasi pemangku kepentingan ini dilakukan pada workshop ketiga tanggal 19 Juni 2013 di Kota Palangka Raya dengan hasil tersebut pada Sub-Bab Identifikasi Isu-Isu Strategis Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Identifikasi isu-isu strategis KLHS lazimnya dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu proses pelingkupan yang akan menghasilkan daftar panjang isu-isu strategis dan proses pelingkupan selanjutnya yang akan menghasilkan daftar pendek isu-isu strategis yang kemudian akan menjadi fokus kajian. Proses KLHS dalam pelingkupan adalah proses yang memerlukan pemahaman mendalam terkait implikasi KRP yang tercantum dalam dokumen RTRWK Palangka Raya. Setelah para pemangku kepentingan, yang menjadi peserta kegiatan pelaksanaan KLHS RTRWK Palangkaraya diminta untuk mendalami struktur isi dalam dokumen RTRW, mereka diharapkan dapat mengidentifikasi isu-isu strategis terkait KRP prioritas, terutama terkait komponen pembangunan berkelanjutan bagi kota Palangka Raya yang berorientasi rendah emisi. Orientasi rendah emisi ini bersama isu-isu strategis pembangunan perkotaan (urban issues) digunakan sebagai dasar 75

83 pertimbangan dalam mengidentifikasi isu-isu strategis KLHS. Khusus untuk pertimbangan pembangunan rendah emisi karbon, kota Palangka Raya memiliki arti strategis karena punya potensi resapan karbon yang cukup tinggi melalui keberadaan hutan rawa dan gambut. Selain orientasi rendah emisi karbon tersebut di atas, dalam menentukan isuisu strategis, juga memanfaatkan kriteria strategis yang menjadi substansi UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu: a. Menyangkut hajat hidup orang banyak; b. Dampak/implikasi bersifat lintas sektor dan lintas wilayah; c. Berdampak negatif jangka panjang jika tidak diselesaikan; d. Potensi mengganggu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan/atau mengancam investasi besar; e. Potensi dampak kumulatif dan efek berganda. Setelah menetapkan kriteria untuk mengidentifikasi isu strategis bagi kota Palangka Raya, maka mekanisme penentuan isu-isu strategis adalah melalui mekanisme kesepakatan oleh peserta diskusi kelompok yang difasilitasi oleh fasilitator KLHS. Hasil dari mekanisme diskusi kelompok penetapan isu-isu strategis adalah seperti tersebut dalam Tabel 5.2. Tabel 5.2 Orientasi isu-isu Strategi pembangunan rendah emisi (SPRE) Sosial, ekonomi dan budaya Identifikasi isu-isu strategis Kota Palangka Raya Isu-isu yang diidentifikasi a. Kebakaran hutan, lahan dan gambut b. Alih fungsi lahan (kebun kelapa sawit, pertambangan, lainnya) c. Illegal logging d. Pertambangan (illegal mining) e. Pembangunan lahan permukiman, perdagangan f. Pelebaran jalan, pembangunan jalur kereta api g. Pengembangan perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan h. Pembukaan kanal-kanal di daerah rawa i. Persampahan, utamanya pembakaran sampah rumah tangga, pengelolaan sampah di TPA (open dumping) j. Transportasi (kendaraan bermotor) dan industri a. Infrastruktur jalan (meningkatkan akses, tapi juga gangguan terhadap SDA) b. Tumpang tindih perizinan c. Orientasi PAD (ekonomi jangka pendek) d. Pencagaran budaya/adat (Dayak) e. Hutan rakyat/adat f. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan g. Kemiskinan h. Pemilikan lahan dan produktivitas pertanian 76

84 Lingkungan hidup termasuk aspek ekosistem i. Konflik sosial (pemanfaatan lahan, batas, akses SDA) j. Kesehatan a. Alih fungsi lahan b. Drainase dan akses air bersih c. Pencemaran air dan udara d. Kebakaran hutan e. Erosi dan sedimentasi f. Pemukiman g. Kerusakan lingkungan, utamanya sumberdaya hutan h. Perburuan flora fauna i. Pertambangan j. Kebakaran hutan dan lahan k. Banjir l. Pembukaan kanal-kanal di hutan rawa dan gambut Diskusi kelompok yang menghasilkan daftar panjang isu-isu strategis tersebut pada Tabel 5.2, kemudian dilanjutkan dengan diskusi pendalaman dengan memanfaatkan kriteria strategis yang telah disampaikan sebelumnya dan memanfaatkan data/informasi yang relevan sebagai pendukung. Hasil diskusi adalah daftar pendek 6 isu-isu strategis lingkungan hidup dalam pembangunan berkelanjutan sebagai berikut: 1. Alih fungsi lahan dan konflik lahan (utamanya pada kawasan hutan gambut) 2. Emisi karbon dari areal gambut dan kebakaran hutan dan lahan 3. Persampahan 4. Pencemaran air dan udara 5. Keanekaragaman hayati 6. Sumber air baku, terkait dengan daya dukung air Berdasarkan isu-isu strategis tersebut, maka pengkajian (assessment) dampak KRP prioritas terhadap isu-isu strategis serta skenario emisi dapat dilakukan dengan menggunakan data spasial sebagai pendukung. Data spasial tersebut ditampilkan dalam bentuk peta-peta yang diupayakan mewakili 6 isu- isu strategis di Kota Palangka Raya. Dengan dibuatnya peta-peta tematik berdasarkan isu-isu strategis tersebut, menunjukkan bahwa analisis yang digunakan dalam KLHS Kota Palangka Raya adalah gabungan analisis nonspasial dan spasial. Gabungan analisis non-spasial dan spasial ini akan menjadi dasar bagi perumusan alternatif dan mitigasi terhadap KRP RTRW Palangka Raya. Alternatif dan mitigasi tersebut diwujudkan dalam pilihan perencanaan struktur dan pola ruang skenario business as usual (BAU) versus skenario optimal (sebagai alternatif skenario BAU). Skenario alternatif inilah 77

85 hasil KLHS yang mencerminkan penataan ruang Kota Palangka Raya berkelanjutan ke depan. 5.3 Dampak/Pengaruh KRP Penataan Ruang Pengkajian dampak/implikasi KRP (substansi Ranperda RTRW Kota Palangka Raya) terhadap isu-isu strategis lingkungan hidup, sosial-budaya, dan SPRE dalam pembangunan berkelanjutan ditunjukkan dalam uraian sebagai berikut. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kesesuaian lahan, ekosistem, dan strategi pembangunan rendah emisi karbon (SPRE) telah ditentukan secara partisipatif 5 KRP prioritas yang merupakan muatan Ranperda RTRW Kota Palangka Raya seperti tersebut dalam Tabel 4.8. Dampak/implikasi KRP prioritas terhadap 6 isu strategis tersebut pada Sub- Bab 5.2., kemudian dielaborasi dalam Sub-Bab 5.3.1, Sub-Bab 5.3.2, dan Sub- Bab Dampak KRP RTRW terhadap aspek Lingkungan Hidup Dari hasil workshop 2 dan 3 telah teridentifikasi beberapa KRP Ranperda RTRW Kota Palangka Raya yang diprakirakan akan menimbulkan dampak/implikasi negatif terhadap kondisi lingkungan hidup dan ekosistem di wilayah kota Palangka Raya. KRP 1: Sub pusat pelayanan kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Sub pusat pelayanan Mungku Baru ditetapkan di Kawasan Kelurahan Mungku Baru yang berfungsi sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian non ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar, dan kegiatan pertambangan dan Sub pusat pelayanan Petuk Bukit ditetapkan di Kawasan Kelurahan Pager yang berfungsi sebagai kawasan pertanian (eco farming), perikanan air tawar dan kehutanan (social forestry) serta preservasi lingkungan dan adaptive planning (Pasal 11 ayat (3) huruf d). KRP tersebut di atas fokus pada isu-isu pelayanan kota, pertanian dalam arti luas, dan pertambangan. Pemanfaatan lahan untuk pertanian, walaupun bukan pertanian ekstensif, pemilihan lokasi dan pemakaian teknologi dalam intensifikasi pertanian akan memberi pengaruh yang cukup besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Beberapa dampak yang diprakirakan akan terjadi apabila KRP tersebut dilaksanakan adalah sebagai berikut. Akan terjadi konsekuensi terhadap lingkungan hidup, misalnya erosi dan sedimentasi akibat pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan. Khusus untuk pertambangan selain cenderung terjadi perluasan areal penambangan, kerusakan lingkungan tidak mudah dihindari, khususnya pada penambangan terbuka. Pengalaman lain di banyak tempat 78

86 bahwa aktivitas penambangan umumnya akan meningkatkan erosi dan sedimentasi pada sungai atau tubuh air lainnya di sekitar areal penambangan, dan dengan demikian, mengganggu persediaan air bagi banyak sektor kehidupan. Selain itu, penambangan seringkali menimbulkan konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar areal penambangan. Mempertimbangkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Palangka Raya terdiri atas lahan gambut, maka alokasi ruang untuk pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan harus dilakukan secara hati-hati karena aktivitas pembukaan lahan gambut akan meningkatkan emisi karbon dan pada saat bersamaan, mengurangi fungsi areal gambut sebagai tempat penampungan air hujan (water retention). Apabila hal ini terjadi, maka bencana banjir yang mengakibatkan kerugian ekonomi besar tidak dapat dihindari. Pembukaan lahan gambut, terutama pada gambut dengan kedalaman > 3 m di lokasi kubah gambut, akan mengganggu konektivitas hidrologi (hydrological connectivity) sistem hidrologi lahan gambut sehingga regim hidrologi air tanah gambut terganggu. Gangguan regim hidrologi air tanah gambut ini dapat menyebabkan penurunan tinggi muka air tanah di wilayah sekitarnya sehingga mengganggu pasokan air untuk pertanian dan domestik di daerah tersebut. Gangguan regim hidrologi air tanah seperti ini terjadi di daerah rawa-gambut kabupaten Asmat, Papua seperti dilaporkan Jos Houterman (2012) pada Gambar 5.1. Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa dengan memahami karakteristik hidrologi lahan rawa dan gambut, maka dapat ditentukan alokasi ruang/lahan untuk konservasi, budidaya, dan pengelolaan adaptif terhadap karakteristik hidrologi lokal. Model penataan ruang berbasis karakteristik hidrologi ini dapat menjadi jalan keluar bagi tata ruang lahan basah (wet lands). Dengan menerapkan model pengelolaan lahan adaptif ini, kemungkinan terjadinya pengeringan lahan gambut dapat dicegah karena konektivitas hidrologi telah menjadi dasar bagi pengelolaan adaptif tersebut. Selain gangguan terhadap sistem hidrologi, alih fungsi lahan gambut menjadi bentuk peruntukan lain (permukiman, pertanian, dan pertambangan), apabila tidak dilakukan secara hati-hati, maka gangguan terhadap lingkungan hidup dalam bentuk kebakaran hutan pada musim kemarau juga akan mengakibatkan kerugian ekonomi. Apalagi di beberapa lokasi, tanah di bawah hutan gambut, terdapat deposit batubara, sehingga kebakaran yang terjadi tidak mudah dipadamkan. Hilangnya ekosistem gambut diperparah dengan meningkatnya frekuensi kebakaran hutan dan lahan juga diprakirakan akan menurunkan keanekaragaman hayati. Apabila kehilangan keanekargaman hayati ini menyangkut jenis flora/fauna yang termasuk endemik dan/atau 79

87 memiliki nilai konservasi tinggi, maka kerugian ekonomi dan ekologi di Kota Palangka Raya menjadi sangat besar. Pengembangan pertanian non-ekstensif seringkali menggunakan zat kimia dalam bentuk pupuk, pestisida dan zat pengatur pertumbuhan lainnya, seringkali mencemari air baku yang biasa digunakan oleh masyarakat, dan bahkan dapat mengganggu budidaya perikanan lokal. Tantangan pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian adalah karena lahan gambut umumnya bersifat basa, maka untuk meningkatkan hasil pertanian, diperlukan pupuk kimia. Pupuk kimia inilah yang seringkali menyebabkan terjadinya pencemaran perairan yang mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat dan gangguan sumberdaya perikanan. Gambar 5.1 Penataan ruang berdasarkan konektivitas hidrologi air tanah lahan gambut (Houterman, 2014) Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa potensi pengembangan perkebunan dapat menyebabkan peningkatan emisi karbon dan kebakaran hutan di 5 titik kebakaran dengan luasan ,8 ha yang terjadi sampai pada tahun 2013 (data dari BLH Kota Palangka Raya). Selain itu, di Kelurahan Mungku Baru terdapat dua lapisan batubara dengan ketebalan bervariasi dari 0,5-1,5 m. Cadangan hipotetik batu pasir kuarsa sebesar ton dan cadangan hipotetik kaolin ton ( journalis. blogspot. com/2013/01). Keberadaan bahan tambang ini berpotensi menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dari kondisi eksisting berupa pertanian dan hutan menjadi areal pertambangan. Selain itu, kemungkinan potensi konflik terkait dengan tumpang-tindih lahan, tumpang-tindih 80

88 perijinan lahan, berkurangnya lahan pertanian, dan berkurangnya hutan masyarakat adat cukup besar apabila bahan tambang tersebut dieksploitasi. Isu persampahan di Kota Palangka Raya dapat diukur kinerjanya dari jumlah sampah yang tertangani terhadap keseluruhan volume sampah yang dihasilkan. Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari keseluruhan volume sampah yang dihasilkan di Kota Palangka Raya, hanya 58% sampah yang tertangani. Rencana pengembangan kota sebagai kawasan pertanian non-ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar dan kegiatan pertambangan cenderung akan meningkatkan kontribusi timbulan sampah di masa yang akan datang, terutama sampah organik dan non-organik. Keadaan ini seharusnya menjadi catatan dalam pengembangan permukiman ke depan, masalah persampahan perlu memperoleh perhatian. Tabel 5.3 Jumlah dan prosentasi sampah yang tertangani di Kota Palangka Raya Kecamatan KecamatanPahandut KecamatanJekan Raya KecamatanSebangau JumlahSampah yang ditangani (ton) Jumlah Volume Produksi Sampah (ton) Sampah yang tertangani (%) (2) (3) (4) (5=3/4) ,5 Kecamatan Bukit Batu KecamatanRakumpit Total Keanekaragaman hayati di Palangka Raya sangat tinggi terutama pada hutan rawa gambut, 95% kawasan Palangka Raya didominasi oleh hutan rawa gambut. Sisanya, 5% merupakan hutan dataran tinggi yang berada di sekitar kelurahan Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunung Mas yang berupa hutan ulin (hutan Adat) (Lokakarya LCP 2013). Dengan beragamnya flora dan fauna di Kecamatan Rakumpit, pengaruh dari kegiatan KRP pertanian non-ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar dapat mengakibatkan populasi flora dan fauna berkurang atau hilang (migrasi burung Enggang, orang utan, dan hilangnya vetegasi yang bermanfaat untuk obat-obatan tradisional). KRP 2: Sub pusat pelayanan Kelampangan ditetapkan di Kawasan Kelurahan Kelampangan yang berfungsi sebagai kawasan penyangga yang dibatasi oleh sungai Sebangau dan areal Hutan Pendidikan dan penelitian (HPP pada 81

89 kawasan Taman Nasional Sabangau) yang berfungsi sebagai kawasan permukiman berwawasan lingkungan dan baru bagi pengembangan kawasan terbangun ke arah selatan hingga ke kawasan pelabuhan sungai Sabangau sebagai revitalisasi pelabuhan rakyat bagi dukungan pengembangan wisata alam HPP dan dukungan terselenggaranya rencana pengembangan industri serta permukiman kota (Pasal 11 ayat (3) huruf b). Substansi struktur ruang KRP Ranperda RTRW Kota Palangka Raya tersebut di atas setelah dilakukan analisis dampak KRP terhadap isu-isu strategis, menghasilkan beberapa prakiraan konsekuensi/dampak terhadap lingkungan hidup sebagai berikut. Berdasarkan peta eksisting, kawasan Kereng Bangkirai ini merupakan kawasan perlindungan setempat atau kawasan yang memberikan perlindungan daerah di bawahnya, sehingga rencana pembangunan tersebut dalam KRP 2 diprakirakan akan menimbulkan dampak signifikan terhadap daerah tersebut. Selain itu, di wilayah ini merupakan habitat hutan rawa, sehingga untuk pembangunan pemukiman akan memerlukan biaya lebih besar dibandingkan di lokasi lain yang bertanah mineral. Pengambilan material untuk penimbunan juga akan memberikan dampak tersendiri pada daerah pengambilan material bangunan. Musnahnya hutan rawa sekunder yang ada di sekitar kawasan penyangga karena alih fungsinya menjadi kawasan pemukiman, pertambangan dan budidaya pertanian menyebabkan perubahan terhadap siklus hidup fauna yang ada, misalnya ikan rawa tidak dapat bertelur pada perakaran tanaman hutan. Kawasan penyangga yang ditetapkan pada KRP (Pasal 11 ayat (3) huruf b) ini adalah kawasan yang berfungsi untuk mendukung/menyangga berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Sebangau sehingga dimungkinkan akan menimbulkan alih fungsi dan konflik lahan. Selain itu saat ini telah terjadi penambangan pasir secara besar-besaran. Berdasarkan kondisi tersebut, ancaman terhadap perubahan alih fungsi lahan di Taman Nasional Sebangau sangat besar seperti untuk kawasan pemukiman, pertambangan dan budidaya pertanian. Selain itu, penurunan debit air sungai akibat pengaruh kanalisasi eks PLG mempengaruhi kualitas dan kuantitas air baku sebagai sumber air bagi masyarakat. Dampak perubahan tutupan lahan tersebut akan menimbulkan peningkatan emisi karbon, sebagai contoh perubahan tutupan lahan dari Hutan Rawa Sekunder menjadi Perumahan akan berpotensi melepaskan karbon sebesar 81,64 ton C/ha. Selain itu dampak dari KRP ini adalah kebakaran lahan 82

90 mengingat kebiasaan masyarakat dan pengusaha perkebunan membersihkan lahan dengan cara membakar lahan. Isu pencemaran air mungkin belum sebesar kota besar lain mengingat jumlah penduduk di Kota Palangka Raya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan ibu kota provinsi lain di Indonesia. Namun demikian, ke depan, rencana pembangunan permukiman dan kawasan industri di kelurahan Bereng Bengkel diprakirakan akan meningkatkan pencemaran sungai apabila upaya pengendalian pencemaran tidak disiapkan. Hal ini akan diperberat dengan kemungkinan pencemaran yang bersumber dari budidaya pertanian yang menggunakan bahan kimia secara berlebihan. Alternatif KRP Sistem Sub-Pusat Pelayanan Kota di Kereng Bangkirai berfungsi sebagai kawasan penyangga serta pengembangan kawasan terbangun sebagai pusat wisata alam minat khusus (ekowisata). KRP 3: Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: Pengembangan jaringan jalan arteri primer, meliputi: Tangkiling Batas Kota Palangkaraya; Jalan Cilik Riwut (Palangkaraya); Ruas Jalan RTA Milono; Ruas Jalan Ir. Soekarno (Km. 40 P.Raya-Lap. Terbang/Jl. Adonis Samad); dan Sp. Kereng Bangkirai Bereng Bengkel (Pasal 15 ayat (2) huruf a). Substansi struktur ruang tersebut dalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya ini diprakirakan akan menimbulkan persoalan-persoalan seperti tersebut di bawah ini. Pembukaan lahan hutan untuk sistem jaringan transportasi darat diprakirakan akan mengancam keberadaan flora dan fauna yang saat ini jumlahnya terbatas. Beberapa jenis satwa memerlukan luasan tertentu untuk habitat tinggalnya, misalnya 1 ekor orangutan jantan perlu luasan habitat sekitar 2 km 2. Demikian pula halnya dengan habitat flora khas Kalteng yang keberadaannya sudah langka. Rencana pengembangan jalan tersebut di atas, apabila tidak diantisipasi dampaknya, dapat menurunkan reputasi Kota Palangka Raya sebagai habitat flora dan fauna khas Kalimantan. Adanya akses jalan juga membuka peluang terbukanya daerah yang dapat diakses untuk perburuan, terutama hewan-hewan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi seperti trenggiling. Pengalaman di banyak tempat, terutama di kota-kota pulau Jawa, pembangunan jalan darat yang tidak disertai drainase yang memadai akan meningkatkan terjadinya banjir. Selain itu, kurang memadainya saluran drainase juga telah mengakibatkan terjadinya erosi pada musim hujan, sehingga ancaman terhadap sedimentasi sungai dan tubuh air lainnya 83

91 meningkat. Meningkatnya sedimentasi pada sungai dan pencemaran sungai oleh aktivitas industri dan pertenian yang tidak ramah lingkungan akan mengganggu akses/ketersediaan air sungai bagi masyarakat karena mereka sangat tergantung pada air sungai karena tingginya keasaman air rawa/gambut. Pengembangan sistem jaringan jalan juga akan meningkatkan emisi karbon, karena saat ini tutupan lahan pada rencana pengembangan jalan tersebut adalah berada di kawasan hutan. Berdasarkan hasil perhitungan emisi karbon yang lepas dari konversi hutan rawa sekunder menjadi badan jalan adalah sebesar ton karbon/ha (Rohmiyanto, 2010). KRP 4: Penetapan Kawasan Hutan Lindung seluas di wilayah kota hektar (indikasi program, B. Perwujudan pola ruang, 1. Perwujudan kawasan lindung, 1.1 pemantapan kawasan hutan lindung. A. penetapan hutan lindung). Substansi pola ruang tersebut dalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya berdasarkan kajian diprakirakan akan memberikan beberapa konsekuensi terhadap lingkungan hidup sebagai berikut. Penetapan kawasan hutan lindung seluas ha ini dapat menjadi habitat potensial bagi flora dan fauna Kalimantan dan akan dapat menambah populasi flora dan fauna khas Kalimantan yang memiliki nilai konservasi tinggi yang saat ini sedang mengalami penurunan jumlah dan keanekaragamannya. Artinya, rencana penetapan kawasan hutan lindung tersebut akan memberikan manfaat untuk aspek keanekaragaman hayati. Selain itu, dengan adanya penetapan kawasan hutan lindung ini akan dapat mengurangi dan menurunkan erosi dan sedimentasi, bahkan sebaliknya akan menjadi wilayah yang memiliki potensi tinggi sebagai resapan air. Mempertimbangkan bahwa air sungai masih menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Kota Palangka Raya, maka rencana pembangunan yang bersifat menjaga kualitas dan kuantitas sumberdaya air harus dapat dipastikan keberhasilan pelaksanaannya. Kawasan hutan yang paling besar luasnya untuk Kota Palangka Raya adalah kawasan hutan produksi yang dapat dikonversikan, yaitu 31,82% dari luas kawasan kota. Hutan produksi tetap sebagian dikonversikan untuk areal pertambangan, kawasan budidaya masyarakat dan termasuk di dalamnya kawasan KHDTK hutan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (5000Ha) atau sekitar 26,16%. Kawasan Suaka Alam dan kawasan pelestarian alam seluas 23,16%. Areal penggunaan lain, antara lain, untuk perumahan rakyat, perkantoran, sarana transportasi seluas 14,47% luas kawasan. Hutan lindung di Kota Palangka Raya meliputi Taman Nasional 84

92 Sebangau dengan luas hanya 3,54% luas kawasan kota. Oleh karena itu, penetapan kawasan hutan lindung seluas ha akan sangat bermanfaat bagi Kota Palangka Raya sehingga perlu dipastikan bahwa sebagian besar dari alokasi kawasan hutan lindung tersebut memiliki tutupan hutan yang memadai. Usaha pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk hutan kota atau taman kota pada tiga lokasi yang berbeda, yaitu: di lokasi belakang Kantor Walikota Palangka Raya, di Desa Panjehang, Kecamatan Rakumpit dan kawasan pengembangan kantor kota di lingkar dalam dan hutan pendidikan merupakan cara yang bijaksana untuk mempertahankan keanekaragaman hayati yang ada di Palangka Raya. Rencana kegiatan realisasi RTH di Palangka Raya sangat membantu melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati, terutama untuk daerah dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) seperti yang terdapat di Desa Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit yang merupakan hutan adat dan hutan pendidikan. Rencana percepatan pembangunan hutan kota juga menjadi isu penting untuk mendorong realisasi tindakan pembangunan hutan kota. Hutan kota secara legalitasnya sudah ditunjuk dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Palangka Raya tahun 2010 pada 3 lokasi yang berbeda. SK ini akan diperkuat dengan pengusulan ke Kementerian Kehutanan. Selain itu akan dibuat kesepatan bersama multipihak untuk bersama-sama membangun hutan kota yang lebih produktif dan lestari khusus untuk lokasi di belakang kantor Walikota Palangka Raya. Usaha pembuatan RTH seperti hutan kota, taman kota pada tiga lokasi yang berbeda, yaitu: di lokasi belakang Kantor Walikota Palangka Raya, di Desa Panjehang, Kecamatan Rakumpit dan kawasan pengembangan kantor kota di lingkar dalam dan hutan pendidikan merupakan cara yang bijaksana untuk mempertahankan keanekaragaman hayati yang ada di Palangka Raya. Rencana kegiatan realisasi Ruang Terbuka Hijau di Palangka Raya sangat membantu melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati, terutama untuk daerah dengan NKT seperti yang terdapat di Desa Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit yang merupakan hutan adat dan hutan pendidikan. Pembuatan hutan atau taman kota ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan warga kota karena mampu memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, meresapkan air, mengurangi pencemaran udara, pelestarian plasma nutfah, penahan dan penyaring partikel padat udara, peredam kebisingan, penyerap karbon mono/dioksida, menciptakan 85

93 keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, dan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Meskipun hasil kajian tersebut di atas lebih menunjukkan bahwa usulan KRP akan memberikan konsekuensi positif terhadap lingkungan hidup (termasuk keberadaan dan kualitas ekosistem), namun demikian, perlu pula mempertimbangkan kemungkinan dampak negatif dalam bentuk konflik yang terjadi akibat tumpang-tindih rencana kawasan lindung dengan lahan yang dimanfaatkan masyarakat lokal/adat. KRP 5: Rencana Hutan Kota direncanakan seluas 869,28 Ha (Pasal 35 ayat 3 huruf e). Seperti halnya KRP No. 4, substansi pola ruang tersebut dalam Pasal 35, Ayat 3 huruf e tersebut lebih bersifat memberikan perlindungan terhadap lingkungan hidup di Kota Palangka Raya meskipun skala luas antara kawasan hutan lindung dan hutan kota berbeda. Pembuatan hutan kota lebih ditekankan kepada fungsinya, yaitu, antara lain, sebagai penyerap karbondioksida dan memberikan kesejukan lingkungan, penyerap zat-zat pencemar udara, peredam kebisingan, pelestarian plasma nutfah, mendukung keanekaragaman flora, fauna dan keseimbangan ekosistem, dan meningkatkan keindahan kota. Selain hal-hal tersebut, keberadaan hutan kota mampu menghilangkan stress dan sebagai tempat terjadinya interaksi sosial antar sesama warga kota. Artinya, hutan kota, selain memiliki fungsi LH, juga fungsi sosial yang penting. Untuk memperoleh manfaat maksimal, perlu dipercepat restorasi untuk kawasan ini mengingat lahan yang dialokasikan untuk hutan kota ini merupakan lahan yang tidak produktif dan kritis. Untuk itu, beberapa jenis vegetasi pemula perlu diprioritaskan, yaitu tanaman yang memiliki pertumbuhan cepat, jenis yang unik dan khas secara lokal. Untuk memberikan gambaran tentang manfaat keberadaan hutan kota dapat mengacu pada Box 5.1. Box 5.1. Berbagai manfaat tentang keberadaan hutan kota Menurut Puryono dan Hastuti (1998) hutan kota memiliki manfaat yang sangat besar terhadap peningkatan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat kota adalah: 1. Manfaat estetika, hutan kota yang ditumbuhi oleh berbagai tanaman memberikan nilai estetika karena hijaunya hutan tersebut dengan aneka bentuk daun, cabang, ranting dan tajuk serta bunga yang terpadu menjadi suatu pemandangan yang menyejukkan. 2. Manfaat ekologis, yaitu tercapainya keserasian lingkungan antara tanaman, satwa maupun manusia dan sebagai habitat satwa, seperti burung-burung serta perlindungan plasma nutfah. 86

94 3. Manfaat klimatologis, yaitu terciptanya iklim mikro, seperti kelembaban udara, suhu udara, dan curah hujan sehingga dapat menambah kesejukan dan kenyamanan serta tercapainya iklim yang stabil dan sehat. 4. Manfaat hidrologis, hutan kota dengan perakaran tanaman dan serasah mampu menyerap kelebihan air pada musim hujan sehingga dapat mencegah terjadinya banjir dan menjaga kestabilan air tanah, khususnya pada musim kemarau. Hujan yang mengandung H 2SO 4 atau HNO 3 apabila jatuh di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti H 2SO 4 akan bereaksi dengan Ca yang terdapat pada daun membentuk garam CaSO 4 yang bersifat netral. Dengan demikian air hujan yang mengandung ph asam melalui proses intersepsi oleh permukaan daun akan dapat menaikkan ph, sehingga air hujan yang jatuh menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan. 5. Manfaat protektif, pepohonan di hutan kota berfungsi sebagai pelindung dari pancaran sinar matahari dan penahan angin. Serta pohon dapat meredam kebisingan dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan paling efektif untuk meredam suara ialah tumbuhan dengan tajuk lebat dan rindang, strata yang cukup rapat dan tinggi. Kota yang terletak di tepi pantai, seperti kota Jakarta pada beberapa tahun terakhir terancam oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kawasan yang mempunyai masalah intrusi air laut harus dengan teliti diperhatikan. Dikarenakan penanaman tanaman yang kurang tahan terhadap kandungan garam yang tinggi akan mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, bahkan mungkin akan mengalami kematian. Dan juga penanaman dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi tinggi terhadap air tanah dapat mengakibatkan konsentrasi garam air tanah akan meningkat. Sehingga upaya untuk mengatasi intrusi air laut melalui hutan kota dengan tanaman yang daya evapotranspirasinya rendah untuk meningkatkan kandungan air tanah. 6. Manfaat higienis, udara perkotaan semakin tercemar oleh berbagai polutan yang berdampak terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan mahluk hidup, khususnya manusia. Dengan adanya hutan kota, berbagai polutan dan partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Berbagai polutan dan partikel tersebut sebagian akan terserap masuk ke dalam stomata dan sebagian lagi akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang permukaannya kasar. Dan juga dapat terjerap pada kulit pohon, cabang dan ranting. Manfaat dari adanya hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat. Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mengeluarkan bau yang tidak sedap. Hutan kota dapat bermanfaat untuk mengurangi bau karena dapat menyerap bau secara langsung, penahan angin yang bergerak dari sumber bau, dan pelindung tanah dari hasil dekomposisi sampah serta penyerap zat berbahaya yang mungkin terkandung dalam sampah seperti logam berat, pestisida serta bahan beracun dan berbahaya lainnya. 7. Manfaat edukatif, hutan kota dapat bermanfaat sebagai laboratorium alam karena dapat mengenal berbagai jenis pepohonan dan satwa khususnya burung-burung yang sering dijumpai di kawasan tersebut Dampak KRP RTRW terhadap aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya KRP 1: Sub pusat pelayanan kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Sub pusat pelayanan Mungku Baru ditetapkan di Kawasan Kelurahan Mungku Baru yang berfungsi sebagai kawasan dengan kegiatan pertanian non ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar, dan kegiatan 87

95 pertambangan dan Sub pusat pelayanan Petuk Bukit ditetapkan di Kawasan Kelurahan Pager yang berfungsi sebagai kawasan pertanian (eco farming), perikanan air tawar dan kehutanan (social forestry) serta preservasi lingkungan dan adaptive planning (Pasal 11 ayat (3) huruf d). Ada beberapa butir penting dari KRP yang akan memberikan dampak negatif penting pada aspek sosial budaya dan ekonomi. Perlu digarisbawahi bahwa masyarakat lokal dan masyarakat adat khususnya melihat hubungan mereka dengan alam, baik hutan maupun alam pada umumnya, bukan hanya sekedar komoditas ekonomi belaka, tetapi juga mempunyai hubungan spiritual, nilainilai budaya yang mempengaruhi cara pandang dan sisten nilai masyarakat. Oleh karena itu, KRP pembangunan apapun perlu memperhatikan hal ini. Kota Palangka Raya, seperti kebanyakan kota lainnya di Indonesia, kebanyakan telah/sedang mengalami melunturnya nilai budaya. Berangkat dari asumsi ini, RTRW yang disusun perlu sensitif dengan nilai-nilai budaya, agar tidak memarjinalkan adat dan kelompok miskin, tetapi sebaliknya memberikan kepastian tentang upaya meningkatkan kesejahteraan mereka. Rencana kawasan budidaya di Mungku baru, utamanya perkebunan dan pertambangan berpotensi menimbulkan dampak negatif penting karena berpengaruh negatif terhadap situs budaya, isu-isu kemiskinan dan konflik lahan. Situs Budaya di kecamatan Tangkiling misalnya, merupakan salah satu situs budaya penting. Dari 9 bukit tinggal 5 bukit yang tersisa karena pertambangan pasir, sedangkan bukit-bukit ini adalah situs budaya yang sudah dikenal luas oleh masyarakat lokal/adat. Situs budaya Sandung Bawi Kuwu di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit Kota Palangka Raya, saat ini sedang dalam proses penerbitan status cagar budaya oleh Direktorat Jenderal Seni dan Kepurbakalaan. Situs Sandung Bawi Kuwu ini legendanya berada di tiga kawasan yaitu, Hutan Ulin, Sungai Rakumpit, dan Sandung Bawi Kuwu sendiri. Apabila daerah Mungku Baru diprioritaskan untuk kegiatan pertanian non-ekstensif, perkebunan, perikanan air tawar dan kegiatan pertambangan, maka daerah Hutan Ulin dan Sungai Rakumpit akan mengalami ancaman terbesar, terutama dari kegiatan pertambangan dan perkebunan. Dalam pembahasan KRP Pasal 11 ayat (3) huruf (d) ini, kegiatan pertambangan dan perkebunan dikategorikan sebagai kegiatan yang dapat memberikan dampak penting terhadap tingkat kemiskinan khususnya untuk masyarakat lokal. Ketika kegiatan pertambangan dilakukan di suatu kawasan tertentu, maka kebanyakan kegiatan tersebut menggunakan tenaga kerja dari luar daerah. Sehingga pendapatan penduduk lokal tidak sebanding dengan 88

96 tenaga kerja dari luar yang menyebabkan timbulnya kesenjangan dan konflik sosial. Ketika banyak Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang berinvestasi tanpa melibatkan masyarakat lokal atau setempat (kegiatan plasma), maka masyarakat akan menjual lahan yang dimilikinya dengan mudah tanpa memikirkan keberlanjutan sumber pendapatannya dari penjualan lahan tersebut. Akhirnya, walaupun di daerah tersebut kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan, namun masyarakat sekitar tetap miskin. Menurut data Walhi 2013 bahwa adanya Perusahaan Besar Swasta (PBS) di wilayah Kalimantan Tengah khususnya di Kota Waringin Timur terbukti bukan meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup masyarakat, namun masyarakat sekitar hanya bertindak sebagai penonton di rumah sendiri. Keberadaaan Perusahaan Swasta Besar tidak menjamin peningkatan kehidupan warga sekitar. Menurut pemangku kepentingan dalam lokakarya KLHS (2013), kegiatan pertanian (eco farming), perikanan air tawar, dan kehutanan (social forestry) telah menimbulkan konflik pemanfaatan lahan. Oleh karena itu, KRP ini perlu memperhitungkan bagaimana mengurangi dampak konflik lahan agar kondisi sosial tidak menjadi lebih buruk dan lahan yang menjadi matapencaharian masyarakat tidak dialihkan. Potensi konflik lahan akan menjadi lebih tinggi dengan padatnya penduduk dan para makelar tanah yang mencari kesempatan. Berbagai kegiatan peningkatan ekonomi ini perlu dipastikan agar memberikan manfaat kepada masyarakat lokal dengan adil. Gambar 5.2 menunjukkan kemungkinan potensi konflik sosial terkait dengan konflik pemanfaatan lahan. Pada gambar ditunjukkan fenomena tumpangtindih pemanfaatan lahan, misalnya antara kegiatan pertambangan, perkebunan, dan kegiatan pembangunan lainnya dengan permukiman. Wilayah dengan tanda garis terputus merupakan wilayah tumpang-tindih antara kawasan pemukiman dengan kawasan pertambangan, kawasan hutan produksi, antara lain, di Kelurahan Bukit Sua, Petuk Bukit, Mungku Baru dan Kelurahan Gaung Baru. Peruntukan pertambangan juga tumpang tindih dengan hutan produksi d ibeberapa lokasi. Kawasan pemukiman juga tampak tumpang tindih dengan Hutan Produksi Konversi seperti di Kelurahan Tumbang tabai dan Kelurahan Marang. Konsesi perkebunan sawit juga berada pada Kelurahan Bukit Tunggal. 89

97 Gambar 5.2 Peta Konflik Pemanfaatan Ruang di Kota Palangka Raya KRP 2: Sub pusat pelayanan Kelampangan ditetapkan di Kawasan Kelurahan Kelampangan yang berfungsi sebagai kawasan penyangga yang dibatasi oleh sungai Sebangau dan areal Hutan Pendidikan dan penelitian (HPP pada kawasan Taman Nasional Sabangau) yang berfungsi sebagai kawasan permukiman berwawasan lingkungan dan baru bagi pengembangan kawasan terbangun ke arah selatan hingga ke kawasan pelabuhan sungai Sabangau sebagai revitalisasi pelabuhan rakyat bagi dukungan pengembangan wisata alam HPP dan dukungan terselenggaranya rencana pengembangan industri serta permukiman kota. (Pasal 11 ayat (3) huruf (b). Dari perspektif sosial, KRP ini mempunyai pengertian yang agak membingungkan. Di satu sisi sebagai kawasan penyangga, tetapi juga merupakan kawasan industri dan pemukiman, serta wisata alam. KRP ini bisa menyebabkan konflik lahan terutama karena sebagian masyarakat Kota Palangka Raya hidup sebagai petani, sehingga pembangunan yang membutuhkan tanah akan berpotensi pada kemungkinan konflik lahan. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah persoalan permukiman di kota Palangka Raya. Kota ini mempunyai angka kemiskinan yang cukup tinggi, 90

98 sehingga pemukiman sederhana dibutuhkan. Belajar dari konflik sosial di Kalimantan Barat dan Sampit, pemerintah perlu hati-hati dan peka ketika membuat wisata alam, industri dan pemukiman kota, jangan sampai menggusur lahan pertanian dan lahan pemukiman. Kesenjangan sosial perlu diwaspadai agar tidak terjadi dalam prnataan ruang Kota Palangka Raya. KRP 3: Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: Pengembangan jaringan jalan arteri primer, meliputi: Tangkiling Batas Kota Palangkaraya; Jalan Cilik Riwut (Palangkaraya); Ruas Jalan RTA Milono; Ruas Jalan Ir. Soekarno (Km. 40 P.Raya-Lap. Terbang/Jl. Adonis Samad); dan Sp. Kereng Bangkirai Bereng Bengkel. (Pasal 15 ayat (2) huruf a). KRP ini perlu mengidentifikasi dimana keberadaan situs budaya dan kepemilikan hak adat pada sepanjang jalan yang akan dibangun. Hal ini menjadi penting karena berpotensi melewati tempat-tempat yang secara budaya penting dan juga klaim masyarakat adat. Di satu sisi dengan adanya jalan, akan meningkatkan PAD dengan berbagai retribusi dari kendaraan bermotor, tetapi di lain sisi, pembukaan jalan memberikan peluang kepada makelar tanah untuk membeli tanah dengan harga murah dan menjual dengan harga tinggi. Masyarakat bisa kehilangan lahan pertanian dan juga tanah mereka. Budaya orang luar akan cepat mempengaruhi terutama anak muda akan budaya minuman keras, narkoba termasuk prostitusi. Potensi konflik juga kemungkinan terjadi antara pemerintah dan pemilik tanah. Peningkatan jalan berpotensi terjadi sengketa lahan antara pemerintah dengan warga sekitar khususnya di daerah pengembangan jalan di Jl. G. Obos, Jl. Mahir Mahar, Jl. Yos Sudarso, dan Jl. Bukit Keminting. Rencana pengembangan jaringan jalan arteri primer sepanjang 77,4 km ini akan berdampak terhadap berubahnya fungsi lahan karena akan memperngaruhi sebaran penduduk dan aktifitas ekonomi di sepanjang pengembangan jaringan jalan tersebut. KRP 4: Penetapan Kawasan Hutan Lindung seluas di wilayah kota hektar (indikasi program, B. Perwujudan pola ruang, 1. Perwujudan kawasan lindung, 1.1 pemantapan kawasan hutan lindung. A. penetapan hutan lindung). KRP 5: Rencana Hutan Kota direncanakan seluas 869,28 Ha (Pasal 35 ayat 3 huruf e). Mempertimbangkan bahwa substansi KRP 4 dan KRP 5 kurang-lebih serupa, maka analisis kedua KRP ini dijadikan satu. Ada kaitan antara kawasan hutan lindung seluas ha dan KRP 5 tentang hutan kota dengan luasan 869,28 91

99 ha. Luas areal yang akan ditetapkan ini cukup besar, apalagi untuk suatu kota seperti Palangka Raya. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya konflik lahan karena sudah adanya spekulan tanah pada hutan kota ini. Bisa juga berdampak pada kemiskinan karena hilangnya tempat tinggal dan kompensasi yang biasanya rendah berikut hilangnya lahan pencaharian. Sulit memastikan adanya PAD dari KRP ini, tetapi bisa mengurangi pengeluaran pemda karena tersimpannya air bersih dan mengurangi bencana kebakaran hutan dan lahan. KRP penetapan kawasan hutan lindung dan hutan kota bisa memberikan peluang terhadap status kawasan hutan adat, dimana detailnya bisa didiskusikan dengan masyarakat lokal/adat. Persoalan lainnya adalah bagaimana menerapkan asas keadilan yang ditekankan pada studi KLHS, karena banyak peruntukan kawasan untuk pengusaha, bukan masyarakat. Seringkali masyarakat lokal dan masyarakat adat tidak memperoleh manfaat yang layak, dan terjadi dampak lingkungan. Pengembangan wilayah kota Palangka Raya di kawasan lindung yang telah ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan No.529 Tahun 2012 telah menyebabkan konflik lahan yang berkaitan dengan pertambangan liar dan perkebunan yang dilakukan masyarakat (Gambar 5.3). Gambar 5.3 Ilustrasi terjadinya konflik pemanfaatan lahan di Kota Palangka Raya Konflik terkait dengan pemanfaatan lahan untuk hutan ini telah berlangsung selama ini (Data dari BPN dan Pemerintah Kota Palangka Raya). Pembukaan dan pengembangan wilayah kota memerlukan lahan sehingga terjadi pengalihfungsian lahan untuk dijadikan wilayah perkotaan (mengacu pada SK Menteri Kehutanan No.529 Tahun 2012). Pembangunan hutan kota mengakibatkan alih fungsi lahan baik oleh masyarakat maupun kebijakan 92

100 publik pada kawasan tersebut. Berikut ini adalah beberapa kasus konflik terkait dengan pemanfaatan lahan untuk hutan kota: a. Hutan kota yang berlokasi di jalan Tjilik Riwut km 5.5 belakang kantor Walikota Palangka Raya ternyata terjadi alih fungsi lahan dari kawasan hutan kota menjadi pemukiman warga. b. Hutan Kota di kawasan lingkar dalam Kota Palangka Raya terdapat konflik kepemilikan antara pemerintah dengan masyarakat. c. Hutan kota di kecamatan Rakumpit yang belum terkelola dengan baik sehingga belum memunculkan konflik lahan. Kerusakan hutan kota juga disebabkan oleh perambahan kawasan hutan untuk perumahan warga khususnya akan mengancam kelestarian hutan kota meskipun hutan kota tersebut memang merupakan kawasan yang sudah rusak ekosistemnya (bekas HPH) yang terlantar. Lahan hutan kota yang hanya ditumbuhi purun (rumput) ditambah dengan didirikannya bangunan perumahan warga akan menjadi kawasan yang sangat rusak. Meskipun rencana pembangunan seringkali diwarnai dengan berbagai konflik, diusulkannya KRP tentang penetapan kawasan hutan lindung dan hutan kota di Kota Palangka Raya diprakirakan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupannya pada sumberdaya hutan. Gambar 5.4 menunjukkan hasil hutan bukan kayu dan keindahan alam/obyek wisata yang tercipta dari usulan KRP tentang hutan lindung dan hutan kota. Kedua kesempatan kerja tersebut ditambah dengan upaya penciptaan lapangan kerja lain diharapkan mampu mengurangi beban ketenagakerjaan di Kota Palangka Raya yang saat ini, seperti di kota-kota lain, masih tinggi angka penganggurannya. Maknanya, apabila kedua KRP penetapan kawasan hutan lindung dan perluasan hutan kota tersebut dapat direalisasikan, maka bersamanya juga dapat tercipta peluang mata pencahariaan yang tidak bersifat merusak alam/hutan. Selain keuntungan ekonomi dan perlindungan alam tersebut di atas, dengan perlindungan kawasan hutan lindung, akan mempengaruhi populasi ikan di perairan sekitar kawasan hutan. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan makan maupun untuk diperjual belikan yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Apabila hal ini dapat dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan kawasan hutan lindung dan hutan kota mampu untuk memberdayakan masyarakat agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola alam sekitar hutan lindung, dan 93

101 harapannya mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan lindung secara berkelanjutan. Gambar 5.4 Hasil hutan non-kayu dan pemandu wisata alam sebagai alternatif pendapatan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung [Foto Penyadapan getah Pantung di TN Sebangau dan Pemandu Wisata Alam di sekitar Hutan Pendidikan UM Palangka Raya] 5.4 Perumusan Alternatif dan/atau Mitigasi Penyempurnaan Ranperda RTRW Kota Palangka Raya Berdasarkan pengkajian prakiraan implikasi/dampak KRP prioritas terhadap isu-isu strategis yang dilaksanakan pada Sub-Bab 5.3, langkah selanjutnya adalah melakukan perumusan alternatif, mitigasi dan/atau adaptasi terhadap KRP yang menjadi kajian atau upaya mengendalikan dampak negatif akibat pelaksanaan KRP tersebut. Perumusan alternatif penyempurnaan tata ruang wilayah didasarkan pada kajian dari tiga perspektif, yaitu lingkungan hidup, sosial-ekonomi-budaya, dan strategi pembangunan rendah emisi (SPRE). Hasil yang diperoleh adalah dua skenario alternatif penyempurnaan pola dan struktur ruang, skenario berdasarkan substansi Ranperda RTRW yang menjadi kajian (skenario business as usual, BAU) dan skenario optimal yang menekankan pentingnya mempertimbangkan tiga perspektif secara selaras, yaitu lingkungan hidup, sosial-budaya-ekonomi, dan SPRE. Hasil studi KLHS, dalam hal ini, merekomendasikan skenario optimal. Berikut adalah elaborasi rumusan alternatif dan/atau mitigasi untuk pola dan struktur ruang wilayah Kota Palangka Raya Mitigasi KRP RTRW Kota Palangka Raya Aspek Lingkungan Hidup Mitigasi KRP 1 Melakukan pemetaan wilayah yang lebih akurat dengan mengikutsertakan masyarakat dalam perencanaan alih fungsi lahan. 94

102 Penataan wilayah untuk perkebunan yang sesuai dengan kriteria kesesuaian lahan Inovasi dalam pengelolaan sampah, misalnya menginisiasi bank sampah dan implementasi konsep 3 R (reduced, recycle, reuse) Perlindungan terhadap keanekaragman hayati baik secara konservasi dan rehabilitasi Pengendalian terhadap pemakaian pestisida, pupuk kimia, pengelolaan limbah cair (industri perkebunan) serta pegawasan terhadap penggunaan & peredaran Hg (air raksa) Penegakan hukum dan pengawasan yang lebih ketat terhadap pertambangan dan pembalakan hutan secara liar serta memaksa perusahaan pertambangan legal melakukan reboisasi dan reklamasi Alokasi daerah pertambangan di Mungku Baru yang berada di wilayah hulu agar lebih ketat persyaratan perlindungan lingkungannya, misalnya memanfaatkan teknologi bersih, untuk mencegah terjadinya sedimentasi dan pencemaran air di daerah hilir Mitigasi KRP2 Mengkaji ulang KRP yang sesuai dengan kondisi yang ada di wilayah tersebut. Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya kebakaran lahan. Pengawasan kawasan secara intensif terutama pada saat musim kemarau. Mencegah terjadinya kebakaran lahan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat (sistem peringatan dini kebakaran lahan/hutan) Mendorong terbentuknya kelompok-kelompok masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah mandiri. Membuat tanggul-tanggul untuk menjaga terjadi erosi dan sendimentasi sungai Menjaga kualitas dan kuantitas sumber air baku antara lain melalui Program Peningkatan Kualitas Air Bersih untuk mendorong terwujudnya salah satu tujuan dalam MDGs sektor penyediaan air bersih. Perlu ditinjau kembali peruntukkan kawasan pada KRP ini mengingat peta tutupan lahan (land cover) eksisting yang menunjukkan bahwa kawasan ini didominasi oleh hutan rawa sekunder dan hutan rawa, sehingga akan lebih sesuai pembangunan yang dilakukan di kawasn ini. 95

103 Mitigasi KRP 3 Perencanaan pengembangan dan pembuatan Sistem Jaringan Transportasi Darat yang matang agar tidak mengganggu jumlah dan kualitas keanekaragaman hayati, utamanya flora dan fauna khas Kalimantan. Mempertahankan wilayah kawasan hutan konservasi, hutan lindung atau hutan kota. Wilayah hutan dipertahankan, termasuk wilayah riparian sehingga erosi dan sedimentasi dapat diminimalisir. Perencanaan pembangunan pusat kota meminimaliasir bukaan terhadap lahan hutan sehingga tidak mengganggu kondisi air baku masyarakat. Memberikan perlindungan terhadap air baku dengan pengelolaan limbah industri dan limbah masyarakat yang tepat. Mitigasi KRP 4 dan 5 Memastikan bahwa penetapan kawasan lindung tersebut di atas dapat direalisasikan. Memastikan bahwa penetapan kawasan lindung tidak menimbulkan konflik, utamanya dengan masyarakat lokal/adat. Oleh karenanya, perlu informasi akurat bahwa penyusunan batas wilayah antara hutan negara dan tanah masyarakat lokal/adat seakurat mungkin Mitigasi KRP RTRW Kota Palangka Raya Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya Berikut ini adalah uraian mitigasi dampak sosial untuk masing-masing KRP Kota Palangka Raya, khususnya dampak terkait dengan gangguan terhadap situs budaya, konflik lahan termasuk konflik dengan masyarakat adat, dan isu kemiskinan. Rumusan mitigasi dampak sosial ini ditentukan berdasarkan hasil diskusi yang melibatkan para pemangku kepentingan di Kota Palangka Raya selama lokakarya KLHS. Mitigasi KRP 1 Dampak terhadap situs budaya termasuk signifikan, dengan hilang atau tergusurnya situs budaya di daerah Mungku Baru dan daerah penting bagi adat termasuk hutan keramat untuk perkebunan dan tambang. Oleh karena itu, mitigasinya adalah mengidentifikasi dan memetakan lokasi situs budaya bersama masyarakat adat, sehingga memudahkan pemantauannya. Konflik lahan terkait dengan tumpang tindih pemilikan dan pemanfaatan lahan, terutama di Mungku Baru, sehingga mitigasi yang disarankan adalah: perlu adanya satu dasar peta yang dipakai untuk berbagai peruntukan lahan. 96

104 Kemudian, perlu dilakukan proses kesepakatan batas, hak dan akses serta SOP yang disepakati dan dipantau dan dievaluasi bersama. Selain itu, diperlukan konsep ruang untuk mata pencaharian dan penghidupan masyarakat yang dituangkan dalam rencana tata ruang wilayah Kota Palangka Raya. Dari sisi peta kemiskinan, daerah Mungku Baru termasuk dalam kategori menengah (TNP2K, 2012), sehingga agar dampak kemiskinan tidak menjadi lebih parah maka upaya mitigasi yang bisa dilakukan antara lain memastikan siapa kelompok miskin, dan bagaimana kelompok miskin bisa mendapat akses informasi, bisa berpartisipasi, dan mendapatkan manfaat dari KRP Mungku baru ini yang berkaitan dengan pertanian, perikanan air tawar dan pertambangan. Perlu juga dipastikan agar kelompok miskin ini mendapat berbagai program penanggulangan kemiskinan nasional seperti: Program Keluarga Harapan, Bea Siswa Miskin, Jamkesmas dan Jamkesda yang sekarang menjadi BPJS dll. Dan yang terpenting, lahan mata pencaharian mereka tidak tergusur, karena walaupun ada ganti rugi tetapi tidak akan tergantikan karena nilai keberlanjutan yang tinggi. Mitigasi KRP 2 KRP ini berpotensi mengancam kelestarian situs budaya, karena luasannya hingga ke kawasan Pelabuhan Sungai Kereng Bangkirai berkaitan dengan lahan cukup luas (kaitan dengan pengembangan industri, wisata alam dan pemukiman). Sehingga mitigasi yang bisa diusahakan adalah melakukan diskusi dengan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang memliki kawasan tersebut, mengidentifikasi dimana situs budaya. Jika ada, perlu dipastikan dimana lokasinya dan akses serta keberadaannya dipastikan terjaga. Konflik lahan kemungkinan besar terjadi karena daerah perkotaan, sehingga untuk mitigasi konflik perlu adanya proses identifikasi lahan, kesepakatan akan hak, batas, akses, sehingga untuk mencegah konflik perlu dilakukan pemantauan dan kesepakatan dalam hal mekanisme pengaduan apabila terjadi persoalan/konflik. Dampak negatifnya dapat menimbulkan konflik sosial karena hasil retribusi tidak memberikan manfaat kepada masyarakat dan hanya dinikmati pendatang misalnya. Sehingga mitigasi yang diusulkan adalah adanya transparansi akan hasil retribusi dan hasil retribusi ini bisa diberikan kepada kepentingan masyarakat. Dampak terhadap kemiskinan tinggi jika terjadi penggusuran lahan ataupun pemukiman masyarakat karena adanya pelabuhan dan wisata dan 97

105 pemukiman untuk masyarakat kota, sehingga mitigasinya adalah adanya diskusi dengan masyarakat sekitar termasuk masyarakat adat agar tidak memiskinkan masyarakat lokal. Mitigasi yang lain, misalnya menjadikan pemukiman bagi masyarakat sekitar, memastikan kesempatan kerja buat masyarakat lokal yang ada bahkan pelatihan-pelatihan meningkatkan ketrampilan untuk bisa mendapatkan hasil ekonomi bisa menjadi opsi dari KRP ini. Mitigasi KRP 3 Ancaman terhadap situs budaya dan tempat adat bisa terjadi, mungkin tidak secara langsung melalui kawasan situs budaya, tetapi bisa mempermudah akses yang berpengaruh terhadap kelestarian situs budaya dan tempat keramat. Mitigasi yang dapat dilakukan: dinas terkait perlu membuat identifikasi dimana tempat-tempat adat ini dengan melakukan diskusi bersama tokoh adat dan membuat kesepakatan serta mekanisme jika ada tempat budaya yang dilalui jalan ataupun memastikan agar akses jalan tidak merusak kelestarian situs budaya dan tempat adat. Dampak negatif terhadap meningkatnya kemiskinan dengan terbukanya akses jalan adalah ketika tanah dibeli oleh para spekulan tanah dari luar, maka masyarakat tidak mempunyai tanah. Mitigasi: studi dampak sosial diperlukan untuk melihat dampak negatif yang mungkin terjadi, misalnya meningkatnya risiko kecelakaan, dan satwa lair yang berkeliaran di pemukiman karena terputus habitatnya. Dampak terhadap konflik lahan akan sangat tinggi terkait dengan sengketa lahan antara pemerintah dengan warga sekitar, khususnya di daerah pengembangan jalan di Jl. G. Obos, Jl. Mahir Mahar, Jl. Yos Sudarso, Jl. Bukit Keminting Demikian juga sengketa wilayah adat dan ganti ruginya. Mitigasi: mengidentifikasi kepemilikan lahan sepanjang jalan dan menyepakati proses dan menisme transformasi konflik. Pemda perlu turun ke lapangan untuk mencegah para spekulan tanah membeli tanah. Mitigasi KRP 4 dan KRP 5 Ancaman terhadap situs budaya dan konflik lahan cukup tinggi karena wilayah cukup luas ( ha), dan merupakan wilayah perkotaan. Sehingga mitigasi yang dapat dilakukan adalah mendiskusikan dengan masyarakat untuk identifikasi dimana lokasi situs budaya. Mitigasi untuk konflik sosial adalah memastikan bahwa kawasan lindung bukan di kawasan pemukiman dan jika tumpang-tindih dengan tanah adat terjadi, maka diperlukan kesepakatan atau konsep hutan lindung dipakai hutan lindung berbasis masyarakat. 98

106 Sedangkan untuk isu kemiskinan, KRP ini dapat menyebabkan kemiskinan untuk jangka pendek karena mengambil lahan pencaharian masyarakat. Mitigasi yang perlu dilakukan adalah memastikan adanya konsep hutan lindung yang berbasis masyarakat, dimana masyarakat bisa melakukan peningkatan penghasilan dengan menanam tanaman musiman dan menjaga kelestarian fungsi lindung. Contoh kasus di Bukit Rigis, Lampung Barat dimana masyarakat menanam di hutan lindung dan memberikan PAD yang besar untuk kabupaten, tetapi fungsi lindung tetap terjaga dapat digunakan sebagai rujukan. Implementasi KRP yang menjadi kajian dapat menimbulkan banyak klaim pemilikan atas tanah termasuk ancaman terhadap situs budaya. Oleh karena itu, mitigasi yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa akses situs budaya dihormati, ada diskusi dengan masyarakat sekitar terkait dengan kepemilikan lahan dan masyarakat adat serta menyepakati mengenai bagaimana cara mencegah dan menangani konflik Rumusan Skenario Optimal aspek Lingkungan Hidup Skenario BAU Penataan ruang yang dilakukan di Kota Palangka Raya secara menyeluruh tanpa menerapkan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Argumentasi yang digunakan untuk menunjukkan bahwa perencanaan tata ruang sebagaimana tercantum dalam Ranperda RTRW adalah masuk kategori business as usual (BAU) adalah kesimpula tersebut pada Bab IV. Selain itu, secara lebih praktis, perencanaan tata ruang masuk dalam kategori BAU, dari perspektif lingkungan hidup (dalam konteks Kota Palangka Raya) apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: Pembangunan tidak dilakukan dengan menerapkan peraturan yang berhubungan dengan konservasi misalnya perlindungan terhadap flora dan fauna; Perlindungan pembangunan sempadan sungai; Pembangunan tanpa memperhatikan peraturan tentang ketebalan gambut; Pembangunan tanpa melihat adanya kawasan yang bernilai konservasi tinggi (NKT); dan Pembangunan tanpa memperhatikan peraturan yang berkenaan dengan penetapan kawasan dan hutan lindung. Pada skenario ini laju deforestasi dan degradasi yang selama ini terjadi akan terus berlanjut bahkan semakin meningkat sejalan dengan upaya-upaya untuk 99

107 percepatan pembangunan di berbagai sector dan infrastruktur pendukungnya, dengan demikian, laju deforestasi akan terus meningkat. Keanekaragaman hayati dan habitatnya tidak terlalu menjadi perhatian, yang diutamakan adalah pembangunan untuk kebutuhan hidup manusia. Skenario pembangunan seperti ini akan dapat mengakibatkan terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, meningkatnya emisi karbon, penurunan fungsi ekosistem, kerusakan tata guna air, peningkatan pencemaran, penurunan kualitas hidup, banyak daerah akan menjadi wilayah rawan bencana ekologi. Pada skenario ini pembangunan untuk kawasan industri dilakukan di antaranya di daerah tutupan lahan belukar, belukar rawa, rawa dan pemukiman dengan luas total 2.745,01 ha. Pembangunan di bidang pariwisata dilakukan di daerah tutupan lahan belukar rawa, tanah terbuka dan hutan rawa sekunder dengan luas total ,72 ha., kawasan untuk perumahan kepadatan rendah seluas ,81 ha, dan kawasan peruntukkan lainnya seluas ,39 ha. Hal-hal yang diuraikan secara singkat tersebut di atas yang menggambarkan bahwa penataan ruang dirumuskan dengan tidak/kurang mempertimbangkan kepentingan lingkungan hidup dapat dilihat pada peta pola ruang Kota Palangka Raya menurut Ranperda RTRW yang menjadi kajian. Skenario Optimal Penataan ruang yang mengetengahkan azas konservasi sumber daya alam. Pada skenario ini menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang menempatkan aspek pelestarian alam sebagai aspek yang sangat perlu untuk diperhatikan, sehingga penataan ruang tersebut dilakukan dengan berlandaskan pada aturan perundangan yang berbasiskan pelestarian alam, dan menerapkan prinsip Better Management Practises. Pada prakteknya, penataan ruang yang berbasis pelestarian alam menghindari atau mengurangi konversi terhadap kawasan konservasi dan ekosistem yang esensial dan banyak menampung keanekaragaman hayati di dalamnya. Selain itu, juga akan berupaya melindungi daerah resapan air dan kawasan sumber air lainnya. Pengembangan kawasan budidaya, misalnya perkebunan, diupayakan untuk memanfaatkan lahan kritis dan lahan yang tidak produktif. Selain itu, juga berupaya melakukan intensifikasi dan teknologi yang terintegrasi. Dengan demikian, dampak yang merugikan lingkungan hidup, misalnya penurunan fungsi ekosistem dan tata guna air, dapat dihindari. Dengan menggunakan prinsip-prinsip penataan ruang yang lebih pro-lh, keanekaragaman hayati dan ekosistemnya tetap terjaga keutuhannya, erosi 100

108 dan sedimentasi serta pencemaran lingkungan hidup dapat dikendalikan. Dengan terjaganya lingkungan hidup, maka emisi karbon menjadi minimal dan tidak melampaui batas yang diperbolehkan. Pada skenario ini juga diintensifkan pemanfaatan sumber energi yang terbarukan. Pembangunan yang memperhatikan dan mengutamakan peraturan yang berkenaan dengan perlindungan pengawetan alam selalu berupaya memperhatikan penetapan sempadan sungai, sempadan pantai, menetapkan dan menjaga kawasan lindung yang memiliki gambut dengan ketebalan lebih dari 3 m, menggunakan peraturan sebagai dasar dalam menetapkan dan menentukan kawasan hutan lindung, dan menggunakan peraturan yang berhubungan dengan kawasan yang bernilai konservasi tinggi. Prinsip-prinsip yang mencerminkan Skenario Optimal tersebut dapat memberikan beberapa alternatif perubahan luasan peruntukkan (tata ruang), di antaranya luasan kawasan industri diusulkan berkurang 1.283,38 ha sehingga menjadi 1.461,63 ha kawasan pariwisata berkurang ,09 ha menjadi 1.499,63 kawasan perumahan dengan kepadatan rendah berkurang 9.534,71 ha menjadi ,11 ha dan kawasan peruntukkan lainnya berkurang 4.380,53 ha menjadi ,86 ha. Jumlah total perubahan luasan ini adalah sebesar ,45 ha, luasan ini akan dialokasikan menjadi kawasan perlindungan setempat. Jumlah ini terjadi karena peraturan yang berkenaan dengan kawasan sempadan sungai (PP. No. 38/2011) dan ketebalan gambut (Keppres No. 32 tahun 1990) benar-benar diterapkan, selain itu pembangunan yang dilakukan pada skenario ini tidak mengganggu kawasan konservasi yang telah ditetapkan berdasarkan SK Kepmenhut No. 529/2012. Berdasarkan hasil perhitungan dan menggunakan kriteria Nilai Konservasi Tinggi (NKT), dapat diketahui luasan wilayah di Palangka Raya yang termasuk ke dalam daerah dengan NKT 1, 2, 3, dan 4. Di Kota Palangka Raya yang mempunyai NKT 1, seluas ,29 ha, artinya dalam luasan ini terdapat jenis-jenis yang dilindungi terutama jenis fauna seperti orangutan atau merupakan daerah IBA (Important Birds Area), yaitu wilayah yang penting bagi jenis burung. Wilayah yang memiliki nilai NKT 2 seluas ,58 ha, artinya daerah ini memiliki tipe habitat yang penting dan sebagai zona pennyangga bagi jenis satwa. Wilayah dengan NKT 3 seluas ,36 ha, memiliki ekosistem yamg unik yang tidak ditemukan di tempat lain seperti daerah mangrove, hutan rawa, daerah riparian/sempadan. Terakhir adalah wilayah dengan NKT 4 seluas ,30 ha, daerah ini memberi jasa ekosistem baik terhadap manusia maupun terhadap keanekaragaman hayati lainnya (Gambar 5.5). 101

109 Gambar 5.5 Peta Sebaran Nilai Konservasi Tinggi di Kota Palangka Raya Rumusan Skenario Optimal aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya Skenario BAU Berdasarkan hasil diskusi kelompok yang berkembang selama pelaksanaan KLHS, mengemuka pandangan bahwa kebanyakan proses dan substansi perencanaan tata ruang yang selama ini di lakukan tidak/belum cukup mempertimbangkan hala-hal sebagai berikut ini sehingga dapat dikatakan mewakili perencanaan tata ruang dengan skenario BAU. Tidak ada ruang untuk masyarakat, ruang lebih banyak diberikan kepada pengusaha dan penguasa/pemerintah. Tataruang wilayah tidak seringkali tidak dilakukan konsultasi publik. Bila dilakukan, pelaksanaannya bersifat formalitas dan pemangku kepentingan yang diprakirakan terkena dampak tidak dilibatkan dalam proses penyusunan. Tidak cukup pertimbangan terhadap isu-isu adat terutama kaitan dengan situs budaya, kemiskinan, dan konflik pemanfaatan lahan. 102

110 Pembangunan tataruang tidak/kurang mensejahterakan masyarakat, seringkali bersifat merugikan. Dalam tataruang, sebagian besar pembangunan hutan tidak dilihat dengan fungsi sosial-religi, lingkungan, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat, tetapi lebih menekankan fungsi ekonomi jangka pendek dan menguntungkan kelompok kepentingan. Tidak/kurang cukup proses diskusi yang melibatkan publik terutama masyarakat terkena dampak dalam situasi yang setara. Skenario Optimal Pada dasarnya, perencanaan tata ruang yang dari proses dan substansi diharapkan lebih baik adalah proses dan substansi perencanaan tata ruang yang sesuai dengan dua kriteria, yaitu kriteria proses dan kriteria substansi tata ruang. Untuk selanjutnya, perencanaan tata ruang yang sejalan dengan kedua kriteria tersebut di bawah ini merupakan perencanaan tata ruang dengan skenario optimal Kriteria Proses Rencana tata ruang dikonsultasikan paling tidak di kecamatan terkena dampak paling tinggi dan ada diskusi di tingkat kelurahan yang akan terkena dampak dengan mengundang masyarakat, laki-perempuan, masyarakat miskin dan juga masyarakat difabel. Masukan dari lapangan didiskusikan dengan pemda sebagai bahan perbaikan, untuk kemudian dibentuk tim untuk persiapan dan pengaduan dengan melibatkan LSM dan anggota masyarakat. Pemda membentuk meknisme komunikasi dan mekanisme pengaduan yang mudah diakses oleh masyarakat. Ada Perda dan SOP perlindungan terhadap hutan adat dan hutan yang dibutuhkan masyarakat. Rencana mitigasi dan adaptasi dianggarkan dalam APBD juga kebijakan hukum dan prosedur yang mendukung kelestarian lingkungan yang berwawasan sosial dan ekonomi. Ada inventarisasi tanah masyarakat dan tanah adat mulai dari tingkat paling bawah dengan melibatkan tokoh adat. Kriteria Substansi Menambahkan KRP untuk hutan rakyat, hutan adat dan hutan desa juga hutan restorasi yang bisa diproduksi secara lestari (tidak hanya untuk pengusaha), dan mendampingi masyarakat untuk kegiatan ekonomi. 103

111 Sebagian besar KRP yang berdampak terhadap hilangnya hutan gambut dikurangi agar masyarakat tidak terganggu kesehatannya karena kebakaran hutan gambut, banjir dan bencana lainnya. Dibuatnya SOP agar KRP dipastikan menurunkan kemiskinan, tidak merugikan masyarakat adat, dan menjaga situs budaya. SOP ini perlu dijalankan, pelaksanaannya dimonitor bersama masyarakat. Peningkatan PAD juga yang dapat dirasakan masyarakat, misalnya melalui program ekowisata yang memiliki jaringan ke luar negeri. Wisata alam di banyak tempat mendatangkan PAD bagi Pemda dan mensejahterakan masyarakat lokal. Daerah dengan Nilai Konservasi Tinggi bisa menjadikan tambahan untuk situs budaya dan juga keperluan sosial lainnya, misalnya pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan pengelolaan berwawasan berkelanjutan lainnya. Untuk menuju skenario optimal, maka tataruang perlu mengakomodasikan hutan adat, hutan desa, dan juga situs budaya. Setiap KRP perlu dipastikan untuk tidak menggusur pemukiman, lahan mata pencaharian dan lahan penting budaya dan lahan adat. Pengusaha perlu dilihat rekam jejaknya dan dipilih pengusaha yang mempunyai kepedulian sosial. Aspek penting lainnya, konflik akibat tumpang-tindih pemanfaatan lahan perlu dibuatkan SOPnya agar penanganan konflik dapat dilakukan dengan memadai. Perlindungan terhadap daerah dengan Nilai Konservasi Tinggi akan berdampak positif buat masyarakat asalkan pengelolaannya berbasis masyarakat dan memegang prinsip keberlanjutan ekosistem Rumusan alternatif dan/atau mitigasi aspek SPRE Kriteria dan Perspektif Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE) A.1. Perubahan Tutupan Lahan di Kota Palangka Raya Tahun Perubahan tutupan lahan di Kota Palangka Raya telah mengalami peningkatan, seiring dengan perkembangan pembangunan di Kota Palangka Raya. Berdasarkan hasil analisis interpretasi perubahan tutupan lahan antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2011 terlihat bahwa tutupan lahan di Kota Palangka Raya telah berkurang sebesar ha. Tipe perubahan lahan di Kota Palangka Raya tersebut di dominasi oleh perubahan lahan hutan gambut (tidak terganggu) menjadi degradasi gambut, yaitu sebesar ha, atau sebesar 90,9% dari total luas perubahan yang ada. Selanjutnya perubahan Hutan Rawa Sekunder (HRS) juga cukup besar perubahan yang terjadi antara tahun 2000 sampai tahun 2011 tersebut, yaitu hutan rawa sekunder menjadi semak belukar sebesar ,62 ha atau sebesar 5,58% dari total perubahan 104

112 lahan yang ada. Selanjutnya perubahan lahan yang cukup besar juga terjadi dari perubahan Hutan Rawa Sekunder menjadi Hutan Lahan Kering, sebesar ha (Tabel 5.4). Perubahan tutupan lahan yang paling kecil pada rentang tahun tersebut ( ) adalah perubahan dari tubuh air menjadi semak belukar, yaitu hanya sebesar 384 ha atau atau sebesar 0,1% dari total luas perubahan lahan di Kota Palangka Raya. Secara keseluruhan, perubahan tipe dan luas perubahan lahan di Kota Palangka Raya antara tahun 2000 sampai 2011, sebagaimana terlihat dalam Tabel 5.4. Perubahan tutupan lahan yang terjadi dari tahun 2000 sampai 2011 tersebut merupakan sumber emisi karbon terbesar dari Kota Palangka Raya. Sebagaimana diketahui bahwa sumber emisi terbesar Indonesia juga berasal dari sektor kehutanan, khususnya akibat perubahan tutupan lahan/penggunaan lahan. Oleh karena itu, Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE) di Kota Palangka Raya akan difokuskan pada pengendaliaan perubahan tutupan lahan, khususnya pada lahan berhutan dan lahan gambut. Tabel 5.4 Tipe dan Luas Perubahan Lahan di Kota Palangka Raya (tahun ) No. Kondisi Awal Kondisi Perubahan Luas (Ha) 1. Hutan Lahan Kering Lahan Terbuka 38,88 2. Hutan Rawa Sekunder Hutan Lahan Kering 4.185,99 3. Hutan Rawa Sekunder Lahan Terbuka 580,04 4. Hutan Rawa Sekunder Semak Belukar ,62 5. Hutan Rawa Sekunder Tubuh Air 1.806,4 6. Semak Belukar Hutan Rawa Sekunder 1.596,49 7. Semak Belukar Lahan Terbuka 770,58 8. Tubuh Air Semak Belukar Hutan Gambut Degradasi Gambut Total Perubahan Lahan di Palangka Raya Sumber: Hasil Analisis Tim GIS Kota Palangka Raya (2013) Berdasarkan data dan tipe perubahan lahan yang terjadi di Kota Palangka Raya, dapat diperkirakan bahwa sumber emis karbon yang paling besar terjadi pada kejadian degradasi lahan gambut. Degradasi lahan Gambut berpotensi melepaskan emisi karbon sebesar 400 ton C/ha dari kondisi awalnya. Selanjutnya perubahan Hutan Lahan Kering menjadi Lahan Terbuka di Kota Palangka Raya juga berpotensi besar melepaskan karbon sebesar

113 ton C/ha (selisih faktor emisi Hutan Lahan Kering sebesar 230,1 ton C/ha dan Lahan Terbuka 24,08 ton C/ha). Selengkapnya kandungan (stok) karbon pada tipe lahan yang terjadi di Kota Palangka Raya dapat mengunakan faktor emisi dari hasil riset dan informasi lainnya, sebagaimana yang tercantum dalam tabel berikut (Tabel 5.5). Tabel 5.5 Kandungan (stok) karbon (ton C/ha) pada berbagai tipe lahan berdasarkan hasil riset Tipe Penggunaan Terendah (ton Tertinggi (ton Sumber Lahan C/ha) C/ha) Hutan Lahan Kering Primer 195,4 NFI (National Forest Inventory) Hutan Lahan Kering 138,0 178,44 (Rochmayanto, 2013) Sekunder Hutan Bakau Primer 170 NFI (National Forest Inventory) Hutan Bakau Sekunder 100 NFI (National Forest Inventory) Hutan Rawa Primer 196 NFI (National Forest Inventory) Hutan Rawa Sekunder 81,65 126,01 (Rochmayanto, 2013) Hutan Tanaman 100 NFI (National Forest Inventory) Lahan Terbuka 0 5 (Rochmayanto, 2013) Tubuh Air 0 Hutan Gambut 1 m Kompas, 20/09/13 Sawah 5 28,7 Dharmawan, dkk (2012) Semak-semak 24,08 Dharmawan, dkk (2012) Belukar 15 Wasrin, 2000 Belukar Rawa 15 Hutan Lindung 211,86 Tim Balitbang Kehutanan (2010) Hutan Sekunder 7,5 55,3 Tim Balitbang Bekas Kebakaran Kehutanan (2010) Perkebunan 63 Pertanian lahan 8 kering Pertanian lahan 10 kering campur Kebun Kelapa Sawit 40 ICRAF (2013) Permukiman 1 Rumput 4,5 Transmigrasi 10 Kebun Coklat 8,4 Mg C/ha Gravenhos et al Sumber: Diolah dari berbagai sumber A.2. Pendekatan perhitungan Serapan/Simpanan Karbon di Kota Palangka Raya 106

114 Pendekatan perhitungan emisi dan serapan/simpanan karbon dilakukan dengan pendekatan perbedaan stok (stock difference approach) (IPCC, 2006), yaitu menggunakan Rumus 1: di mana: C = perubahan simpanan karbon (ton C) Ct1 = simpanan karbon pada waktu t1 Ct2 = simpanan karbon pada waktu t2 Perhitungan estimasi pengurangan emisi, peningkatan serapan dan simpanan karbon hutan pada masing-masing kegiatan dihitung sebagaimana persamaan 2: di mana: E = Emisi (ton C), yaitu lepasnya/terserapnya gas rumah kaca ke/dari atmosfer pada suatu area dalam jangka waktu tertentu akibat dari pelaksanaan suatu kegiatan DA = Data kegiatan (ha), yaitu informasi terhadap pelaksanaan suatu kegiatan yang melepaskan atau menyerap gas rumah kaca yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia. FE = Faktor emisi, yaitu besaran yang menunjukan jumlah emisi gas rumah kaca yang akan dilepaskan dari suatu kegiatan tertentu. Faktor emisi penelitian ini menggunakan tier 2, yaitu faktor emisi spesifik lokasi hasil penelitian di tingkat tapak (lihat Tabel 5.5). A.3. Perhitungan Pelepasan/Pengurangan Emisi Perubahan Tutupan Lahan Tahun Menggunakan persamaan 2 di atas, maka didapatkan perhitungan emisi total dari perubahan lahan tahun 2000 sampai tahun 2011 yang terjadi di Kota Palangka Raya, sebagaimana terlihat dalam Tabel 5.6. (1) (2) Tabel 5.6 Perhitungan emisi akibat perubahan tutupan lahan di Kota Palangka Raya (tahun ) No. Kondisi Awal Kondisi Perubahan Luasan (Ha) Total Emisi 1. Hutan Lahan Kering Lahan Terbuka ,06 2. Hutan Rawa Sekunder Hutan Lahan Kering ,28 107

115 3. Hutan Rawa Sekunder Lahan Terbuka ,28 4. Hutan Rawa Sekunder Semak Belukar ,68 5. Hutan Rawa Sekunder Tubuh Air ,44 6. Semak Belukar Hutan Rawa Sekunder ,75 7. Semak Belukar Lahan Terbuka ,19 8. Tubuh Air Semak Belukar ,12 9. Hutan Gambut Degradasi Gambut ,00 Total Emisi Akibat Perubahan Lahan di Palangka Raya ,80 Berdasarkan Tabel 5.6 di atas, terlihat total emisi karbon yang dilepaskan akibat perubahan tutupan lahan seluas ha yang terjadi tahun 2000 sampai tahun 2011 di Kota Palangka Raya adalah sebesar ,80 ton C. Degradasi Gambut berkontribusi paling besar yaitu sebesar ton C atau sebesar 98,79% dari total emisi karbon yang terjadi pada masa tersebut. Sedangkan perubahan tutupan lahan yang lain sangat kecil sebagai contoh Hutan Rawa Sekunder menjadi Semak Belukar berkontribusi sebesar 1,19% atau sebesar ton C. Sementara itu beberapa perubahan tutupan lahan yang terjadi di Kota Palangka Raya berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon, yaitu terjadi penyimpanan karbon (carbon stock) dari beberapa perubahan lahan. Perubahan lahan tersebut yaitu seperti perubahan Hutan Rawa Sekunder menjadi Hutan Lahan Kering dan perubahan Semak Belukar menjadi Hutan Rawa Sekunder, serta perubahan Tubuh Air menjadi Semak Belukar. Total serapan karbon atau penyimpanan karbon dari ketiga perubahan lahan tersebut adalah sebesar ,15 ton C. B.1. Perubahan Tutupan Lahan di Kota Palangka Raya Tahun (Skenario BAU) Selanjutnya, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palangka Raya tahun , di tetapkan rencana pembagian pola ruang seperti terlihat pada Gambar 5.6 di bawah ini (Skenario Business as Usual/BAU). 108

116 Gambar 5.6 Peta Rencana Perubahan Tutupan Lahan Kota Palangka Raya Tahun (Skenario BAU) 109

117 TU TU PAN LA H A N 2009 Perubahan pola ruang RTRW Kota Palangka Raya tahun tersebut dapat di detailkan berdasarkan tipe perubahan lahan nya sebagaimana terlihat dalam Tabel 5.7. Tabel 5.7 Rencana pola ruang RTRW Kota Palangka Raya (tahun ) skenario BAU RENCANA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN BANDARA KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN SUAKA ALAM KAWASAN INDUSTRI KAWASAN PARIWISATA KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA RENCANA POLA RUANG RTRW KOTA PALANGKARAYA (HA) KAWASAN KAWASAN KAWASAN KAWASAN PERUMAHAN PERUMAHAN PERUMAHAN PERLINDUNGAN KEPADATAN KEPADATAN KEPADATAN SETEMPAT RENDAH SEDANG TINGGI KAWASAN PERKANTORAN KAWASAN PERUNTUKAN LAINNYA KAWASAN RTH / HUTAN KOTA KAWASAN YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN BAWAHANNYA Badan Air , , Belukar , , , , Belukar Rawa 2, , , , , , , , , Hutan Lahan Kering Sekunder Hutan Rawa Primer 3, , Hutan Rawa Sekunder 11, , , , , , Perkebunan , , Permukiman , , , Pertambangan Pertanian Lahan Kering , , Pertanian Lahan Kering Campur Rawa , , , , , Sawah Tanah Terbuka , , , , Total Luasan , , , , , , , , , , Berdasarkan Tabel 5.7 tersebut di atas, terlihat bahwa rencana pola ruang dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palangka Raya, akan mengalami perubahan tutupan lahan menjadi: - Kawasan Bandara - Kawasan Cagar Budaya dan Suaka Alam - Kawasan Industri - Kawasan Pariwisata - Kawasan Perdagangan dan Jasa - Kawasan Perkantoran - Kawasan Perlindungan Setempat - Kawasan Perumahan Kepadatan Rendah - Kawasan Perumahan Kepadatan Sedang - Kawasan Perumahan Kepadatan Tinggi - Kawasan Peruntukan Lainnya - Kawasan RTH/Hutan Kota - Kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya Terlihat juga bahwa Hutan Rawa Sekunder akan mengalami perubahan tutupan lahan yang paling besar menjadi dari total perubahan lahan yaitu sebesar ,72 Ha atau lebih dari 50% dari total perubahan tutupan lahan yang akan terjadi sampai tahun 2033 mendatang. Secara detail porsi No Data Grand Total 110

118 terbesar perubahan Hutan Rawa Sekunder tersebut akan menjadi Kawasan yang Memberikan Perlindungan Bawahannya, yaitu sebesar 75% dari perubahan Hutan Rawa Sekunder. Detail perubahan-perubahan tutupan lahan lainnya dapat dilihat pada Tabel 5.7 di atas. B.2. Perhitungan Pelepasan/Pengurangan Emisi Perubahan Tutupan Lahan Tahun (Skenario BAU) Menggunakan persamaan (1) dan (2) di atas, dihitung besaran emisi karbon sebagai implikasi dari perubahan pola ruang yang ada dalam RTRW Kota Palangka Raya tahun Besaran emisi karbon yang dihasilkan dari perubahan tutupan lahan di Kota Palangka Raya, di resumekan pada Tabel 5.8 di bawah ini. Tabel 5.8 Resume perubahan tutupan lahan Kota Palangka Raya sampai tahun 2033 dan emisi karbonnya (skenario BAU). No. Kondisi Awal Kondisi Perubahan Luasan (Ha) Total Emisi (ton C) 1. Badan Air - Kawasan Bandara 2. Belukar - Kawasan Cagar Budaya , ,41 dan Suaka Alam 3. Belukar Rawa , ,89 - Kawasan Industri 4. Hutan Lahan Kering - Kawasan Pariwisata ,94 Sekunder - Kawasan Perdagangan 5. Hutan Rawa Primer dan Jasa 3.666, , Hutan Rawa Sekunder Perkebunan Permukiman Pertambangan - Kawasan Perkantoran - Kawasan Perlindungan Setempat - Kawasan Perumahan Kepadatan Rendah - Kawasan Perumahan Kepadatan Sedang , , ,11 898, , , , , , , Pertanian Lahan Kering - Kawasan Perumahan Kepadatan Tinggi 2.498, , Pertanian Lahan 287, ,00 Kering Campur - Kawasan Peruntukan Lainnya 12. Rawa , ,53 - Kawasan RTH/Hutan 13. Sawah Kota 497, , Tanah Terbuka - Kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya 8.655, ,20 Total Luas Perubahan Lahan dan Emisi Karbon Kota Palangka Raya tahun 2033 skenario BAU , ,22 111

119 Secara keseluruhan perubahan luas lahan yang akan terjadi sebagai implementasi RTRW di tahun 2033 (skenario BAU) adalah sebesar ,17 ha di Kota Palangka Raya. Luas lahan yang berubah dengan skenario BAU tersebut akan menghasilkan penyerapan karbon total sebesar ,22 ton karbon. Terlihat bahwa kebijakan RTRW yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya lebih banyak mengambil kebijakan perubahan tipe lahan menjadi yang lebih tinggi penyerapan karbonnya, lihat detail perubahan tipe lahan dan emisi karbonnya yang akan terjadi pada Tabel 5.7 dan Tabel 5.8 Sebagai contoh rencana perubahan Hutan Rawa Sekunder menjadi Kawasan yang Menjadi Perlindungan Bawahannya seluas ,71 ha, akan menghasilkan potensi penyerapan karbon pada tahun 2033 sebesar ,98 ton karbon atau 210% dari total penyerapan yang terjadi di tahun Sementara itu potensi pelepasan karbon akan terjadi pada perubahan Hutan Rawa Sekunder menjadi Kawasan Peruntukan Lainnya, seluas ha dan akan menghasilkan ton karbon. B.3. Analisis KRP yang Mendukung SPRE Kota Palangkaraya Skenario BAU Berikut ini akan dilakukan analisis terhadap Kebijakan Rencana Program (KRP) pilihan Kota Palangka Raya yang mendukung Strategi Pembangunan Rendah Emisi di Kota Palangkaraya dengan skenario BAU. Sekurangnya ada 2 KRP yang mendukung implementasi Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE) di Kota Palangka Raya, yaitu: 1. Penetapan kawasan hutan lindung di wilayah Kota Palangka Raya seluas ha. Penetapan kawasan hutan lindung tersebut dapat ditetapkan di wilayah Kawasan Cagar Budaya dan Suaka Alam, yang berasal dari kondisi awal Badan Air, Perkebunan, Pertambangan, dan Pertanian Lahan Kering. Lihat Tabel 4 rincian perubahan lahan yang berpotensi dijadikan kawasan hutan lindung. 2. Rencana hutan kota (Kecamatan Pahandut dan Jekan Raya, semuanya direncanakan seluas ha. KRP Rencana Hutan Kota akan meningkatkan penyerapan karbon dan KRP tersebut dapat diimplementasikan dalam RTRW Kota Palangka Raya di Kecamatan Pahandut dan Jekan Raya dari kondisi awal Badan Air (seluas 15,18 ha), Belukar Rawa (seluas 1.415,04 ha) dan Rawa (seluas 384,62 ha) menjadi Hutan Kota. 112

120 C.1. Perubahan Tutupan Lahan Kota Palangka Raya Tahun Skenario Optimal Dalam rangka mewujudkan Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE), di Kota Palangka Raya dikembangkan skenario optimal sebagai perbaikan dari skenari BAU (business as usual scenario) dengan cara mengembangan strategi perubahan tutupan lahan yang mendukung Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE). DIharapkan skenario optimal tersebut akan dapat meningkatkan penyerapan emisi karbon dibandingkan dari skenario BAU. Adapun kriteria dalam upaya mendukung Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE) tersebut adalah sebagai berikut: 1. Fokus terhadap perubahan lahan yang mempunyai emisi tertinggi/tinggi. 2. Tingkatkan luas perubahan lahan yang menyerap karbon tinggi. 3. Perlu kehati-hatian dalam pengelolaan gambut 4. Tingkatkan luasan areal Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM (Hutan Desa/HD, Hutan Kemasyarakatan/HKm, Hutan Tanaman Rakyat/HTR) dengan petani/masyarakat yang dapat menghasilkan buah dan getah. Berdasarkan kriteria mewujudkan SPRE tersebut (skenario optimal), maka diusulkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palangka Raya perubahan pola ruang tahun dalam upaya meningkatkan penyeparan emisi karbon (peningkatan stok karbon) dengan cara meningkatkan tutupan lahan yang akan terjadi 20 tahun dengan mempertimbangkan 3 (tiga) hal berikut: 1. Wilayah gambut dengan kedalaman di atas 3 m. 2. Kawasan konservasi, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 529 tahun Sempadan sungai, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor. 38 tahun Sebagai contoh pertimbangan yang dilakukan dalam menyusun skenario optimal dengan menggunakan kawasan gambut di atas 3 m, sebagaimana terlihat dalam Gambar 5.7 di bawah ini, yaitu berupa peta degradasi lahan gambut Kota Palangka Raya tahun

121 . Gambar 5.7 Peta Degradasi Lahan Gambut Kota Palangka Raya tahun Pada Gambar 5.7 di atas, terlihat total luas lahan gambut di Kota Palangka Raya semua perbedaan kedalaman adalah sebesar ,9 ha. Gambar pada peta yang berwarna merah dan jingga merupakan peta luas lahan gambut untuk kedalaman 4-12 m. Berdasarkan pertimbangan kawasan gambut di atas kedalaman 3 m dan pertimbangan kawasan konservasi serta sempadan sungai, maka didapatlah Usulan Rencana Pola Ruang Kota Palangka Raya 114

122 tahun untuk skenario optimal sebagaimana terlihat dalam Gambar 5.8 Gambar 5.8 Usulan Peta Rencana Perubahan Tutupan Lahan Kota Palangka Raya Tahun (Skenario Optimal) 115

123 T U T U P A N L A H A N Usulan alternatif perubahan pola ruang RTRW Kota Palangka Raya tahun dengan skenario optimal tersebut dapat di detailkan berdasarkan tipe perubahan lahannya sebagaimana terlihat dalam Tabel 5.9 di bawah ini. Tabel 5.9 Usulan rencana pola ruang RTRW Kota Palangka Raya (tahun ) Skenario Optimal Rencana Perubahan Tutupan Lahan KAWASAN BANDARA KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN SUAKA ALAM KAWASAN INDUSTRI KAWASAN PARIWISATA KAWASAN PERDAGANG AN DAN JASA KAWASAN PERKANTORAN USULAN RENCANA POLA RUANG SKENARIO IDEAL (Ha) KAWASAN KAWASAN KAWASAN PERUMAHAN PERUMAHAN PERLINDUNGAN KEPADATAN KEPADATAN SETEMPAT RENDAH SEDANG KAWASAN PERUMAHAN KEPADATAN TINGGI KAWASAN KAWASAN RTH PERUNTUKAN / HUTAN KOTA LAINNYA KAWASAN YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN BAWAHANNYA USULAN KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT Badan Air , , Belukar , , , , , Belukar Rawa , , , , , , , , Hutan Lahan Kering Sekunder Hutan Rawa Primer 3, , Hutan Rawa Sekunder , , , , , , Perkebunan , Permukiman , , , Pertambangan Pertanian Lahan Kering , , Pertanian Lahan Kering Campur Rawa , , , , , Sawah Tanah Terbuka , , , , (blank) Grand Total , , , , , , , , , , , Grand Total Berdasarkan Tabel 5.9 terlihat beberapa perubahan luasan tutupan lahan akan berkurang jumlahnya, khususnya yang berada pada wilayah gambut, kawasan konservasi dan sempadan sungai. Sebagai contoh, belukar rawa yang pada skenario BAU sebelumnya akan beralih menjadi kawasan industri seluas 2.142,04 ha, maka pada skenario optimal, luas lahan kawasan industri nya hanya menjadi 964,4 ha atau hanya 45% dari luasan rencana semula (skenario BAU). Selanjutnya dalam skenario optimal ini diusulkan sisa perubahan lahan yang dikurangi dari skenario BAU tersebut menjadi Kawasan Perlindungan Setempat. Total luas Kawasan Perlindungan Setempat yang diusulkan adalah seluas ,45 ha. C.2. Perhitungan Pelepasan/Pengurangan Emisi Perubahan Tutupan Lahan Tahun (Skenario Optimal) Besaran emisi karbon sebagai implikasi dari perubahan pola ruang yang ada dalam RTRW Kota Palangka Raya tahun 2033 pada skenario optimal menggunakan persamaan (1) dan (2) di atas di resumekan pada Tabel 5.10 di bawah ini. 116

124 Tabel 5.10 Resume perubahan tutupan lahan Kota Palangka Raya sampai tahun 2033 dan emisi karbonnya (skenario Optimal) No. Kondisi Awal Kondisi Perubahan Usulan Kawasan Perlindungan Setempat (Ha) Total Emisi (ton C) 1. Badan Air - Kawasan Bandara 2. Belukar - Kawasan Cagar 1.242, ,16 Budaya dan Suaka 3. Belukar Rawa Alam 7.377, ,70 4. Hutan Lahan Kering Sekunder - Kawasan Industri - Kawasan Pariwisata 13, ,74 5. Hutan Rawa - Kawasan ,00 Primer Perdagangan dan Jasa 6. Hutan Rawa Sekunder - Kawasan Perkantoran 7. Perkebunan - Kawasan 165, ,05 Perlindungan 8. Permukiman Setempat 704, ,59 9. Pertambangan - Kawasan Perumahan 43, ,33 Kepadatan Rendah 10. Pertanian Lahan 746, ,35 Kering - Kawasan Perumahan Kepadatan Sedang 11. Pertanian Lahan 16,36 511,00 Kering Campur - Kawasan Perumahan Kepadatan Tinggi Rawa Sawah Tanah Terbuka - Kawasan Peruntukan Lainnya - Kawasan RTH/Hutan Kota 583,60 108,30 863, , , ,15 - Kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya Total Luas Perubahan Lahan dan Emisi Karbon Kota Palangka Raya tahun 2033 (skenario optimal) 74, , , , , ,44 Dengan penerapan skenario optimal pada RTRW Kota Palangka Raya di tahun 2033, maka akan terjadi peningkatan penyerapan karbon total yang lebih besar, yaitu sebesar ,44 ton karbon atau penyerapan lebih besar 179% dibandingkan skenario BAU. Terlihat bahwa usulan kebijakan RTRW dengan skenario optimal tersebut akan berdampak pada penyimpanan karbon (carbon stock) yang lebih tinggi pada kawasan lahan di Kota Palangka Raya. Secara detail lebih lanjut dapat dilihat perubahan tipe lahan yang akan 117

125 terjadi serta total emisi dengan skenario optimal pada Tabel 5.11 dan Tabel C.3. Analisis KRP yang Mendukung SPRE Kota Palangkaraya Skenario Optimal Selanjutnya analisis terhadap Kebijakan Rencana Program (KRP pilihan) Kota Palangka Raya yang mendukung Strategi Pembangunan Rendah Emisi di Kota Palangkaraya dengan Skenario Optimal. Adapun 2 KRP yang mendukung implementasi Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE) di Kota Palangka Raya, yaitu: 1. Penetapan kawasan hutan lindung di wilayah Kota Palangka Raya seluas ha, maka untuk selanjutnya diperlukan upaya mempertahankan KRP tersebut dengan mensosialisasikan pada masyarakat khususnya disekitar kawasan hutan lindung tersebut dan penegakan hukum yang lebih jelas. Pengawasan di kawasan tersebut perlu dilakukan agar tidak terjadi perambahan kawasan dan pembakaran. Selanjutnya pemeliharaan kawasan hutan dapat dilakukan secara berkala dengan menanam kembali area yang sudah terdegradasi. 2. Rencana hutan kota (Kecamatan Pahandut dan Jekan Raya, semuanya direncanakan seluas 869,28 ha. KRP Rencana hutan kota patut di dukung dengan sekurang-kurangnya melalui kegiatan sosialisasi bahwa lahan tersebut akan dijadikan Hutan Kota dan dengan pendekatan persuasif (mediasi) dengan masyarakat setempat. KRP Rencana Hutan Kota tersebut harus dipertahankan. D. Perbandingan Rencana Pola Ruang RTRW SPRE di Kota Palangkaraya Tahun Berikut ini dalam Tabel 5.11 disampaikan perbedaan besaran emisi karbon untuk Rencana Pola Ruang RTRW Kota Palangka Raya tahun baik untuk skenario BAU dan skenario optimal., berdasarkan persuasif (mediasi) dengan masyarakat setempat. KRP Rencana Hutan Kota tersebut harus dipertahankan. 118

126 Tabel 5.11 Perbandingan emisi karbon rencana pola ruang RTRW Kota Palangka Raya tahun No. Kondisi Awal Emisi Karbon Skenario BAU (ton C) Emisi Karbon Skenario Optimal (ton C) Perbedaan Emisi Karbon (ton C) 1. Badan Air , ,09-58,70 2. Belukar , , ,75 3. Belukar Rawa , , ,81 4. Hutan Lahan Kering Sekunder , , ,20 5. Hutan Rawa Primer , , Hutan Rawa Sekunder , , ,22 7. Perkebunan , , ,45 8. Permukiman , , ,59 9. Pertambangan , ,33 435, Pertanian Lahan Kering , , , Pertanian Lahan Kering Campur ,00 511, Rawa , , , Sawah , , , Tanah Terbuka , , , , , ,22 Berdasarkan Tabel 5.11 terlihat bahwa total peningkatan penyerapan karbon (carbon stock) pada skenario optimal pada tahun 2033 adalah sebesar ,22 ton C atau terjadi peningkatan penyerapan karbon (carbon stock) sebesar 179,38% dibandingkan skenario BAU. Hutan Rawa Sekunder memberikan kontribusi paling besar dalam meningkatkan penyerapan karbon (penyimpanan karbon/carbon stock) pada skenario optimal dibandingkan dengan skenario BAU. Hutan Rawa Sekunder berkontribusi sebesar 94,5% dari selisih total peningkatan penyimpanan karbon tersebut. Sementara itu peningkatan emisi karbon akan terjadi pada skenario optimal untuk perubahan Permukiman, Pertambangan, Pertanian Lahan Kering dan Tanah Terbuka. Sedangkan emisi karbon pada Hutan Rawa Primer adalah sama untuk kedua skenario (Skenario BAU dan Skenario Optimal). 119

127 6 REKOMENDASI DAN TINDAK LANJUT Rekomendasi spasial dan non-spasial berikut ini adalah hasil pengkajian dampak KRP prioritas yang menjadi substansi Ranperda RTRW terhadap isuisu strategis pembangunan berkelanjutan Kota Palangka Raya. Rekomendasi KLHS berupa arahan rencana pola dan struktur ruang dalam bentuk mitigasi dampak dari rencana struktur dan pola ruang. Alternatif perbaikan rencana struktur ruang tidak banyak dilakukan sebagai hasil kesepakatan bahwa rencana pembangunan sarana dan prasarana dibutuhkan untuk kemajuan pembangunan di Kota Palangka Raya. Alternatif perbaikan rencana pola ruang utamanya yang terkait dengan hasil pengkajian isu-isu SPRE. Dengan demikian, rekomendasi rencana struktur dan pola ruang secara umum berupa mitigasi untuk mengendalikan dampak negatifnya terhadap lingkungan (lingkungan hidup dan sosial budaya). Rekomendasi KLHS terhadap perbaikan rencana pola ruang ini menghasilkan pola ruang optimal, yang disusun berdasarkan pertimbangan aspek lingkungan hidup, sosial budaya, dan SPRE. Perbandingan rencana pola ruang menurut Ranperda RTRW Kota Palangka Raya dan rencana pola ruang optimal rekomendasi KLHS dapat dilihat pada Tabel 5.9 dan Gambar Rencana Struktur ruang a) Diupayakan agar peta struktur ruang juga menunjukkan keberadaan wilayah adat, komunitas masyarakat kurang mampu, dan situs budaya sehingga tidak bertabrakan dengan rencana pembangunan jalan, perkebunan, dan pertambangan skala besar. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang terkait dengan konflik lahan dapat diantisipasi lebih awal. b) Lokasi dan kedalaman lahan gambut, utamanya gambut dengan kedalaman > 3 m di lokasi kubah gambut, agar dipetakan dalam RTRW. Dengan demikian, rencana pembangunan (jalan, saluran irigasi, dst.) tidak mengganggu konektivitas hidrologi (hydrological connectivity) sistem hidrologi lahan gambut. Gangguan regim hidrologi air tanah gambut ini dapat menyebabkan penurunan tinggi muka air tanah di wilayah sekitarnya sehingga mengganggu pasokan air untuk pertanian dan domestik di daerah tersebut. 120

128 6.2 Rencana Pola Ruang a) Skenario Optimal memberikan beberapa alternatif perubahan luasan peruntukkan (tata ruang), di antaranya luasan kawasan industri diusulkan berkurang ha sehingga menjadi 1, ha kawasan pariwisata berkurang 11, ha menjadi 1.499,63 kawasan perumahan dengan kepadatan rendah berkurang 9.534,71 ha menjadi ,11 ha dan kawasan peruntukkan lainnya berkurang 4,380,53 ha menjadi ,86 ha. Perubahan peruntukkan ini dapat diihat pada peta usulan rencana pola ruang skenario ideal kota Palangka Raya (Gambar 5.5). Jumlah total perubahan luasan ini adalah sebesar ,45 ha, luasan ini akan dialokasikan menjadi kawasan perlindungan setempat. Jumlah ini terjadi karena peraturan yang berkenaan dengan kawasan sempadan sungai (PP. No. 38/2011) dan ketebalan gambut (Keppres No. 32 tahun 1990) benar-benar diterapkan. Selain itu, pembangunan yang dilakukan pada skenario ini tidak mengganggu kawasan konservasi yang telah ditetapkan berdasarkan SK Kepmenhut No. 529/2012 (Gambar 5.6). b) Dalam pola ruang, diusulkan menambahkan pengaturan tentang hutan desa, hutan adat, dan hutan rakyat agar asas keadilan dalam pemanfaatan lahan terpenuhi sehingga masyarakat mempunyai cadangan hutan untuk kebutuhan hidupnya. Selain hutan kemasyarakatan tersebut, diusulkan dalam pola ruang untuk mengalokasikan hutan restorasi sebagai upaya memperkaya keragaman hayati dan meningkatkan fungsi sosial hutan. c) Untuk mencegah terjadinya konflik sosial, batas wilayah permukiman masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar rencana perkebunan, pertambangan, dan kawasan hutan agar diperjelas dalam peta pola ruang RTRW. Demikian pula, wilayah adat dan lokasi cagar budaya agar diidentifikasi untuk kemudian dimasukkan ke dalam rencana pola ruang. 6.3 Tindaklanjut/Pemantauan dan Evaluasi a) Perlu dibentuk tim yang memantau pelaksanaan RTRW termasuk implikasi/dampak pelaksanaan RTRW Kota Palangka Raya. Tim pemantau ini dapat memanfaatkan keberadaan Pokja KLHS dengan menyertakan masyarakat, perguruan tinggi dan LSM. Tugas utama 121

129 Tim Pemantau adalah memastikan bahwa rencana mitigasi dan adaptasi diimplemantasikan. b) Sebagai tindaklanjut rekomendasi tersebut dalam rencana pola dan struktur ruang, agar dapat dikonsultasikan dengan masyarakat dalam menetapkan lokasi hutan kelurahan/desa dan hutan adat/keramat. c) Perlu dibuatkan mekanisme dan SOP pengaduan terhadap persoalanpersoalan implementasi RTRW Kota Palangka Raya. d) Pemantauan dan evaluasi implementasi RTRW agar dilakukan secara partisipatif (multi-pihak) dan transparan serta memanfaatkan media sosial untuk diseminasi hasil pemantauan dan evaluasi. 122

130 Daftar Pustaka Afiff, et all, Laporan Pemetaan Para Pihak Kota Palangka Raya. Kemitraan: Palangka Raya Asdak, C Kajian Lingkungan Hidup Strategis: Jalan menuju pembangunan berkelanjutan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Abaza, H., BIsset, R., & Sadler, B Environmental impact assessment and strategic environmental assessment: towards an integrated approach. Geneva: UNEP Division of Technology, Industry and Economics. (ISBN: ). Retrieved from: Ancrenaz, M., Lackman-Ancrenaz, I., and Elahan, H Seed spitting and seed swallowing by wild orangutans (Pongo pygmaeus morio) in Sabah, Malaysia. J Trop Biol Cons 2: Baker, T.R., Phillips, O.L., Malhi, Y., Almeida, S., Arroyo, L., Di Fiore, A., Bappeda Kota Palangkaraya, 2012.Data & Analisa, Laporan Akhir Rencana, Penyusunan Evaluasi RTRW Kota Palangka Raya. Bappeda Kota Palangkaraya, 2012, Laporan Akhir Rencana, Penyusunan Evaluasi RTRW Kota Palangka Raya (2012). Bappeda Kota Palangkaraya, PDRB Kota Palangkaraya, Pemda Departemen Kehutanan Republik Indonesia Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Jakarta : Dephut RI. BPS Kota Palangka Raya, Kota Palangkaraya dalam Angka 2012 BPS Palangka Raya, Kota Palangka Raya dalam Angka 2013 CIFOR, 2012.Unpacking tenure security: development of a conceptual framework and application to the case of oil palm expansion on customary land in Kapuas Hulu district, West Kalimantan, Indonesia. Working Paper 102. CIFOR, How-are-redd-proponents-addressing-tenure-problems-evidencefrom-brazil-cameroon-tanzania-indonesia-andvietnam. Dinas Tataruang Kota Palangka Raya, Draft Tataruang Kota Palangka Raya. Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya, Profil Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2012 Houterman, J Perencanaan berdasarkan aspek-aspek hidrologi di Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Bahan presentasi KLHS Asmat. Kerjasama USAID IFACS dan WWF-Indonesia Asmat. IUCN, 2014, Red List Data Book Keppres No. 32 tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Naeher, Luke P et all Real-time and time-integrated PM and CO from prescribed burns in chipped and non-chipped plots: firefighter and community exposure and health implications in Journal of Exposure Science and Environmental Epidemiology (2006), 1 11 OECD Applying strategic environmental assessment: good practice guidance for development co-operation. Paris: OECD Publishing. (ISBN ). Retrieved from: Puryono, S., dan R. B. Hastuti Menuju Kota Berwawasan Lingkungan. Majalah Kehutanan Indonesia. Edisi V. Dephut. Jakarta. PP. No. 38 tahun 2011 tentang Sungai SK Menteri Kehutanan No. 423/Menhut/II/2004 pada tanggal 19 Oktober Penetapan kawasan Taman Nasional Sebangau 123

131 SK Kepmenhut No. 529 tahun 2012 SUSENAS 2012, Hasil Survey Sosial Ekonomi Kota Palangka Raya. SUSENAS 2010, Hasil Survey Sosial Ekonomi Kota Palangka Raya. Tim KLHS Kota Palangka Raya, Peta Konflik Lahan Kota Palangka Raya. Thompson, I., Mackey, B., McNulty, S. and Mosseler, A Forest resilience, biodiversity, and climate change. A synthesis of the biodiversity/resilience/stability relationship in forest ecosystems. Secretariat of the Convention on Biological Diversity, Montreal. Technical Series no. 43 UNEP Environmental Impact Assessment Training Resource Manual. United Nation Environmental Program. New York, USA. WHO, UNEP 2011 Health Guidelines for Vegetation Fire Events in International Forest Fire News (IFFN) July Dec 2011 World Bank Sustaining Indonesia s forests: Strategy for the World Bank, Wright, I.J., Ackerly, D.D., Bongers, F., Harms, K.E., Ibarra-Manriquez, G. and Martinez- Ramos, M Relationships among key dimensions of plant trait variation in seven neotropical forests. Ann Bot 99: Wich SA, Meijaard E, Marshall AJ, Huson S, Ancrenaz M, Robert CL, van Schaik CP, Sugardjito J, Simorangkir T, Kathy TH, Doughty M, Supriatna J, Dennis R, Gumal M, Knott CD, Singleton I Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp) on Borneo and Sumatra: how many remain? Oryx, 43(3):

132 Daftar Lampiran 1. Lampiran 1. Keputusan Walikota Palangka Raya Nomor 158 Tahun 2013 Tentang Pembentukan Kelompok Kerja Pengendalian Lingkungan (POKJA PL) Dalam Penyusunan Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Pemerintah Kota Palangka Raya 2. Lampiran 2. Strategi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE) Kota Palangka Raya 3. Lampiran 3. Skenario Optimal Penataan Ruang Kota Palangka Raya 4. Lampiran 4. Peta Jalan Integrasi KLHS kedalam Ranperda RTRW Kota Palangka Raya 125

133 Lampiran 1. Keputusan Walikota Palangka Raya Nomor 158 Tahun 2013 Tentang Pembentukan Kelompok Kerja Pengendalian Lingkungan (POKJA PL) Dalam Penyusunan Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Pemerintah Kota Palangka Raya

134 lct, t'&tard Yrrr,iarrru, s.huffu TVALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSA}{ WALIKOTA PAIIINGKA RAYA NOMOR ts6 TATIUN 2013 TENTAT{G PEMBENTT]I(AN KELOMPOK KER.IA PENGENDALIAN LINGKUNGAN (POILTA-PL) IlAI"AM PEIWUSIINAI\I DOI(,MEN KA.IIAN LINGr{t NGAIY HIDIIP SIRATEGIS GA.HS) PEMERINTAE KOTA PAI,A}IGKA R+YA,, Menimbang : Mengingat : WALIKOTA PALANGI(A RAYA a bahwa lffi* melaksanakaa ern?ntt dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 32 Tahrm 2009 tatang Prlindrmgan dan Pmgelotaan l,iaglungan ffid,rp, mewqiibkao pemerintah ds rah rmtuk melaksanakan kajiau Uqghrngsn hidw strategis dalem pmyusruan atau evahrasi Rencana Pemhnguran Jargka Pqiang Dasah, Rencala Pembaagrcan Jangka Menengah Da rab, dan kebiialffirt rensatra dan/atau program yang b rpotmsi maimbrdkaa dampak dar/abu resiko; b. balmra grma melalsanakan ketentuan dirnal$uq maka dalam rangka efeldifitas peqfusuusn Keiian l,inskungao Hidrry Statsgis di Kota Palangka RayrA porlu me,mbeffirk.kelompok Kerja Pengendalian LiEghrngaa Strat gis (PokI*KLIIS) Itute Palangke Rryu; c, bahwa berdasarkan patimhqgen sebageimana rlirnakzud dalam huruf a dan b perlu ditetapkan derrgnn Ksprslsao WalikotaPalangkbRaya; 1. Undang-Undaog DasarNegnra Republik Indonesira Tahrm 1945; 2. Undang-Urdang Nomor 5 Tahm 1965 tentaog Pembentr*ao Kotapraja Pala$gka Raya (Lembaran Negara R.epublik Indonesia Tahuu 1965 Nomor 48, Tambahan Lemhran Nqara Rcpublik Indonesis Nomor 2753); 3. Uudang-LIndang Nomor 32 Tahm 2004 t ntang Pemedntahan Da rah (I-embran Negara Rcprrblik Indonesia Tahun 2A04 Nomor 125, Tambaban Le'mbaran Negra Rryubfik Idoncsia Nomor 4437), seuagaimans telah dirftah deagao Undaog-Undary Nomor 12 Tahrm 2008 tcataog Pcrr$ahas Kcdra dan Undang-Utdang Nomor 32 Tahun 2004 t ntalg Pemerintaha! Daffih Lembarao NegEra Republik Indonesia Tallm 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negnra Rcpublik Indonesia Nomor +844); a. undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 t otang Perinbegan Keuangan antara Pmerintah Pusat dan Pmerintah Da rah (I"eehran Nsgara Rspublik hdoawia Tahrm 2004 Nomor 126, Tambahan L mbaen Negara Repblik Iadonesira Nomor 4438);

135 5. Undang-Uadang Nomor 26 Tahn 2A07 teotang Penataan Ruang (L mbalan Negara Republik Indonesia Tahrm 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725): 6. Undaug-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Infornrasi R$Uk (Lembamn Negara Repubtik Indonesia Tahrm 2008 Nomor 61, Tambahau Lembaran Negara Rspublik Indouesia Nomor 4846) 7. Undang-Uudang Nomor 32 Tahrm 2009 tentang Perlindungan dan Pugelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negnra Republik Indonesia Tahun 2009 Nompr 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); :i 8. Usdang-Uodang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentut&an Peraturan (Lembaran Negara Republik Indouesia Tabu 2011 Nomor 82, Tambahau Irebaran Negara Republik Indonesia Nomor5231 ); 9. Peraturan Pe,merinrah Nomor 58 Tahrm 2005 tentang Peugelolaan Ikirangao Daerah (Lembaran Negara Rcpublik Indoaesia Tahm 2005 Nomor 140); 10. Perafiran Pe.uerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Staodar Pelayanan Ldnimal (LembaranNegara R publik Indon sia Tahlm 2@5 Nomor 150); 11. Pqafiran Pemerinfah Nomor 79 Tahuu 2005 tenrtsng Pedoman Pembinaan dan Pengnwasaa Pmyolenggaraan Pmerintahaa (L mbaran Negara R $$lik Indontris Tahrm 2@5 Nomor 165, Tambahsn Leinbran Negara Rspublik Indoamia Nomor 4585); 12. Pershrau Pe,merinfab Nomor 38 Tahr:o 2007 t qtang Pe,nbagian Urusau Pe,merintahan Axfinra Pemerintah, Pmerintahan Da rah Provinsi dan Pemsinbhan Daerah Kabupsfion/Kota (Lcmbamn Negnra Republik Indonssia Tahm 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaraa Negara Republik Indonesira Nomor 4737); 13. Peranrran Pemerintah Nomor 41 Tahun 20A7 trlrrtary Orgflnisasi Peraogkat Da rah(t^embararnegararepublik lodonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tanbahan Imbasan Negnra R publik Indonesia Nomor 4741); 14. Perafirran Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tatary Tabapa& Tata Cara Penyusunan, Peirgendaliao dsn Ermtuasi Pelaksaoaan Raog'Ia Pembangunan Daerah (LcmbaranNcgsraRs$$lik Indonesia Tahm 2008 Nomor 21, Tanhhan kmbarannegararspublik Indooesia Nomor 4817); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahu 2012 t etang {iin Linghmgan (t emlaran Negara Rapublik Indonesia Tahun 2012 Nouor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik lddodesia Nomor 5285); 16. Peraturan M oted Negma Lingkrngnn l{dup Nomor 20 Tahun 2008 teotaog Pefiqiuk Teknis Standar Pelayanan Mininal Bidang Linehlugan Hidr{p Dacrah Plovilsi dan Daffih Kabrryd m/kota; 17. Perafiuan Meateri Negara tinghlnban Hidup ]rtromor 27 Ta}l'm 2009 ttntaog Pedoruit Pelaksapaan Kqiiaa Liaghmgao Hidup Strategis; 18. Peranran lvlmted Delam Negeri Rspublft Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 t ntarg Pelalrsanaso Perafirran Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 teatang Tahapan, Tata Cara Penlrusunan, Pengendalian dao Evaluasi Pelslsanaan Reucana Pe,ubaryunan Da rah; 2

136 19. Pemfirraa Meoted Dalam Nege,ri R publik Indouesia Nomor 67 Tahrm 2012 t ffitr8 Pedoman Petalcsaoaan r.qiion l"inghrngan l{idup shategis Dalam Paryruuruan atag Bvalgari Rcncaua; 20. Perafiran Daerah Kota Pslangka Raya Nomor 08 Tahun 2008 teirtang urusan Pemerintahan yang ucujadi Kawmangao pemaiu&h Kod Palaugka Raya (Lembaran Da rah Kota Palaugka Raya Tahrm 200g Nomor 08, Tambahan L mbaran Daerah Kota Patangka Raya Nomor0l);,i1 21. Perafiuan Daorah Kota Pal+"gka Raya Nomor 11 Tahun 2008 tentang oqganisasi dar Taa Kerja lnspactorat, Bappeda dan Lembagn Tehi! Da rah Kota Palangka Raya (Lembaran Daerah Kota palaugka Raya Tahm 2008 Nomor 11, Tambahan kmbaran Da rah parangka Raya Nomor M); 22' Pqaturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 16 Tahuo ZALZ tr51ta11e Anggarao Pendapafan dsn Belaqia Da reh Tahun Anggaran 2or3 (Lembaran Da rah Kota Pala',gka Raya Tahrm 2012 Nomor 16); 23. Perahrrau Walikota Palangka Raya Nomor 59 Tabun 2012 teirtang Pajabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah rahun Anggamn 2013 (Imbaran Daerah Kota Palangla Raya Tahrm 2012 Nomor 59). MEMTfiISI(A}.I: Menetapkan : I(EPUTUS${ WALIKOTA PALA}IGKA RAYA TENTA}IG PEMBENTT,'KA}.I KELOMPOK KERIA PENGENDALIA}I KESATU KEDUA LINGKUNGAI.I (pokia-pl) DAI"AM PENyUSLTNAII KAJIAN LINGKTJNGA}iI HIDI.JP STRATEC}IS (KLIIS) PEMERINTA}I KOTA PAL{I{GKARAYA Membenfirk Kelompok Kerja Pogendalian Linekrm$r (pokja-pl) dalam Rangka Penyusrnan Kajias r ingtnmgnn llidrrp strat gis (I(LH$ pemerintah Kota Palangka Rryq dengm susrrur! kmnggotaan sebagaimma tsreantum dalam ldmpiran k prm$an ini, [e!9nq9k!oi" Penge'rdatian Linehn$n (pokra-pl) daram penyusuoan triry Linghrn$n lfidup Stmtogis (KIIIS) Pemerineh Kots patangla Raya 4imakzud dihum KESATU memiliki tugss : a saling berhrlcar infoxnlasi dan mmberikan nasukan terhadap proses pen)'u$mm Reocana Pemkngrmau Jangta Paqiaqg Da rah, Rencana Pembsnguran Jangka Masengah Daerah, aan rcuiiaraq rensane dan/atau Pro-graT laqg b rpot osi mearimbirlkan daepak dan/afau Hiko, dengan oclibgtloo pcmsrglor kceantingan; b. Meayunrn Iftrangka Aouan Kcja KLHS, sebagai pedouan kerja bagi PokJa-PL dal^-r! oqna petatsanaan KLIIS sejaktet'anr an*lisis g*huu*r, umr& kondisi da rah sanpi deogan p@yusuo rancringan arftir; - c. IvlelaksuakankogiatanPra peliagkryan; d. IttlolaksanakanPelinglupau; e. Meryusuu baselinc dala; f. Melakukan pengkaiiau keter*aitaq toeimmnga& dm ksadilan tshadep peogaruh indiknei prcgraru prioritas;

137 E. h" Melakukan perumusan alternatif peiryempurnaao kebiiakao, rencana, dan/ atauprogran; Menrmuskan rekomendasi KLHS. I(ETIGA, KEEMPAT KELIL{A KEENAM Selcretariat IGlompok Keqja Pengendalim Liqgkrngan (Po$a-PL) Penyrsunan K4iiu Linehrn$D Hi&rp Stategis (KLHS)"Kota Palalryka Ra1'a di Kantor Badas Linghmgan Hidrry Kota Palangla Ralu dengan alamat : Jbu Rajawali WI Nomor : 3 Telepon: Faksimil : Dalan pelaksanaan tugaq IGlompok Kerja Pengendalian Lingklogan Sokia- PL) dalan rangka Penyusunao IGjian t inghqngan tfidup Strategis (KIIIS) Kota Palangka Raya berkoordirasi daa/ata$ meminta banfiran para pihak terkait dan/atal tenaga ahli/pakar yang berkoupeten- ini dibebanke paaa ensgaran Peadapatan dan Belanja Daerah Pemedntah KotB Palaryka Raya melalui DPA-SKPD telois tedsit dan lain-tain sr:mber pendapdan yang sah dan tidak mengikaf Segala bi,af,a yang dmbul sebagsi akibat ditetapkannya Kepuhsan ini mulai berlalnr sejaktagggal ditetapkan Ditetrykm di Palangks Raya pada tapsgal r.s }v[8ret 2013.

138 T.AI\,IPIRAN KEPUTUS$.I WALIKOTA PAI"AI$GKA RAYA NOMOR tsg ral{(.in ZOU TENTA}iIG PEMBENTI,'I(A}I KELOMPOK KERIA PH{GEI{DALIAN LINGKUNGA},I (POKJA-PL) PENTI,ISITNAII KAJIAI.I LINGKUNGAIi HIDUP STRATEGTS (rghs PEMERTNTATT KOTA PAI.A}IC}KARAYA SUSUNA}I KEAI{GGOTAA}I KELOMPOK KERIA PENGENDALIAN LINGKI.JNGA}I SOKJA.PL) PENYTISUNAI{ KAJIAI.{ LINGKUNGA}.I HIDUP STRATEGIS (KLHS) PEMERINTAI{ KOTA PALAI{GI(A RAYA NO. Walikota Palangka Ralaa NAMA/JABATA}.I }OKOK JABATA}I POKTA.PL.KLTIS PmauggungJssxab ".u Sehetaris Da rah Kota Palaugka Ra1.a Asisten Perekonomian dao Pembagguua& Selrretariat Dacrah Kota Palmgka Ra1'a Kepala Badan linghugan Hidrp Kota Palaagka Raya Kepala Badan Perrencaoaan Pembangrman Daerah Koh, PalangkaRaya KepalaBidaug fisik dan frasarana Badan Perupuaan Pembaagunan Da rah Kota Palaogka Raya Ifuordinator Walil Koordinator Ketua \MakilKefira Seloetaris Kepala Bidang Pelrcegahan dan PengeDdalian Kemrsakan Lingkungan, Badan Linghlngan Itrdup KotaPalangka.Raya Dra HeraNugrabayqlvlsi : Yuseran S.Hut Dedi S.Tri Leksouo,ST RosyanaS.STP Kuacorc Adi,SE.MAP KemilauMutik Slt,ldH Mishm Yulianto,SJ[[M Yenitra,SH Yunitha Andrie, SJd,I\,Ild Hamrani Erly Christina,ST Sonata Firdarrs,S.T Neny Tresnita,S,T.Mf Yunaui IIanliD, SJIUI Wakil Selrctaris Anggota Anggota Anggob Anggota Anggota Anggota Anggota Aaggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

139 -)-., I 2 3.,., M.Alfstb,ST.M.T Anggota : JJ r Yustin$ Gunibardi,S-E Ade Ef&in ST Richanl Veryson S.E DamaiA.MIL,SH Basi,S.Sos Andrie tvtaourung; S.Si., lvt Darui, S.P Siti Fatiah Hernadi Prabowo, S, Si RimaFitriaol S.T Ahmad Riadi, S.Si MuhammadAz:barNur, ST Kumirrvmn S. Uema, ST DodyBastian, ST Juheri peursabaan Daerah Air lvfinrm Kota pnrnngk4 Raya YosefinAri Silviauiagsih, S.Hut MP Yopi Pamana Rcal Estale Ldoncsiia Cabang Ifuta palangka Raya Siti ldaemrrnah, S. ffrt Universitas Muhammadiyah Palangka Rsya Dedi Siswanto Yayasan Cal$awels Indoaesira Denny Kumiawan YayasanNyaruM oteng DimasNoviao YayasanB tang Boroeo Edy Subahani Pol*sr SHK (Kslompok Kerja Sistem m$an Keralry4d r'! Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggoa Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Republik Indonesia tanggal 11 Mei 1959, mengesahkan Undang-Undang

BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Republik Indonesia tanggal 11 Mei 1959, mengesahkan Undang-Undang 59 BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Gambaran Tentang Kota Palangka Raya Berdasarkan Undang-Undang Nomor Tahun 958 Parlemen Republik Indonesia tanggal Mei 959,

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian ini meliputi wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pembangunan dan lingkungan hidup adalah dua bidang yang saling berkaitan. Di satu sisi pembangunan dirasakan perlu untuk meningkatkan harkat hidup manusia. Tapi di

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 19 3.1 Luas dan Lokasi BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai luas wilayah seluas 2.335,33 km 2 (atau 233.533 ha). Terletak pada 2 o l'-2 o 28' Lintang Utara dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH

KEADAAN UMUM WILAYAH 40 IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1 Biofisik Kawasan 4.1.1 Letak dan Luas Kabupaten Murung Raya memiliki luas 23.700 Km 2, secara geografis terletak di koordinat 113 o 20 115 o 55 BT dan antara 0 o 53 48 0

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA Katalog BPS : 1101002.6271012 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2014 ISSN : 2089-1725 No. Publikasi : 62710.1415 Katalog BPS : 1101002.6271012 Ukuran Buku

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 27 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan PT. Ratah Timber merupakan salah satu perusahaan swasta nasional yang memperoleh kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan

Lebih terperinci

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009 Contributor : Doni Prihatna Tanggal : April 2012 Posting : Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009 Pada 19 Januari 2012 lalu, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2013

STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2013 Katalog BPS : 1101002.6271012 STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2013 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2013 STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2013

Lebih terperinci

Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi

Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi I. Keanekaragaman hayati UU No. 5, 1990 Pasal 21 PP No. 68, 1998 UU No. 41, 1999 Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pengawetan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya melalui Cagar Alam

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS UNTUK EKOSISTEM TERPADU RIMBA ASISTEN DEPUTI KAJIAN KEBIJAKAN WILAYAH DAN SEKTOR KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS UNTUK EKOSISTEM TERPADU RIMBA ASISTEN DEPUTI KAJIAN KEBIJAKAN WILAYAH DAN SEKTOR KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS UNTUK EKOSISTEM TERPADU RIMBA ASISTEN DEPUTI KAJIAN KEBIJAKAN WILAYAH DAN SEKTOR KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUKIT BATU 2013

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUKIT BATU 2013 Katalog BPS : 1101002.6271020 STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUKIT BATU 2013 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUKIT BATU 2013 STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUKIT BATU 2013

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air. dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply merupakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air. dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply merupakan 31 HASIL DAN PEMBAHASAN Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air Kondisi Saat ini Perhitungan neraca kebutuhan dan ketersediaan air di DAS Waeruhu dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply

Lebih terperinci

Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah

Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah Ringkasan Eksekutif Bismart Ferry Ibie Nina Yulianti Oktober 2016 Nyahu Rumbang Evaphilo Ibie RINGKASAN EKSEKUTIF Kalimantan Tengah berada di saat

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Pemanfaatan Hutan Areal konsesi hutan PT. Salaki Summa Sejahtera merupakan areal bekas tebangan dari PT. Tjirebon Agung yang berdasarkan SK IUPHHK Nomor

Lebih terperinci

2018, No Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

2018, No Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu No.89, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-LHK. Pelaksanaan KLHS. Pencabutan. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.69/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2017 TENTANG

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di berbagai kota di Indonesia, baik kota besar maupun kota kecil dan sekitarnya pembangunan fisik berlangsung dengan pesat. Hal ini di dorong oleh adanya pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan.... DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Gambar Daftar Grafik i ii vii viii Bab I Pendahuluan. 1.1. Dasar Hukum..... 1.2. Profil Wilayah Kabupaten Sijunjung... 1.2.1 Kondisi Fisik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) merupakan sistem yang kompleks dan terdiri dari komponen utama seperti vegetasi (hutan), tanah, air, manusia dan biota lainnya. Hutan sebagai

Lebih terperinci

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.797, 2015 KEMEN PU-PR. Rawa. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 150 TAHUN 2000 TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 150 TAHUN 2000 TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.legalitas.org PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 150 TAHUN 2000 TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tanah sebagai

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA PENGELOLAAN HUTAN PADA KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG (KPHL) DAN KESATUAN PENGELOLAAN

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.228, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Strategis. Penyelenggaraan. Tata Cara. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5941) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013 Geografi K e l a s XI PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Administrasi Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur

Lebih terperinci

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware

Lebih terperinci

Gambar 13. Citra ALOS AVNIR

Gambar 13. Citra ALOS AVNIR 32 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Citra ALOS AVNIR Citra yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra ALOS AVNIR tahun 2006 seperti yang tampak pada Gambar 13. Adapun kombinasi band yang digunakan

Lebih terperinci

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA PERENCANAAN WILAYAH 1 TPL 314-3 SKS DR. Ir. Ken Martina Kasikoen, MT. Kuliah 10 BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA Dalam KEPPRES NO. 57 TAHUN 1989 dan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang PEDOMAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006 KATA PENGANTAR Untuk mencapai pembangunan yang lebih terarah dan terpadu guna meningkatkan pembangunan melalui pemanfaatan sumberdaya secara maksimal, efektif dan efisien perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Hutan kemasyarakatan atau yang juga dikenal dengan community forestry

TINJAUAN PUSTAKA. Hutan kemasyarakatan atau yang juga dikenal dengan community forestry TINJAUAN PUSTAKA Pengertian hutan kemasyarakatan Hutan kemasyarakatan atau yang juga dikenal dengan community forestry memiliki beberapa pengertian, yaitu : 1. Hutan kemasyarakatan menurut keputusan menteri

Lebih terperinci

Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Geografis Wilayah Provinsi Jawa Barat Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak antara 5 54' - 7 45' LS dan 106 22' - 108 50 BT dengan areal seluas 37.034,95

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daerah Aliran Sungai dan Permasalahannya Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

Konservasi dan Rehabilitasi Lahan dan Hutan Gambut di Area PT Hutan Amanah Lestari Barito Selatan dan Barito Timur

Konservasi dan Rehabilitasi Lahan dan Hutan Gambut di Area PT Hutan Amanah Lestari Barito Selatan dan Barito Timur Konservasi dan Rehabilitasi Lahan dan Hutan Gambut di Area PT Hutan Amanah Lestari Barito Selatan dan Barito Timur Program Skala Kecil ICCTF Tahun 2016 Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Mitigasi Berbasis

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG TATA CARA INVENTARISASI DAN PENETAPAN FUNGSI EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH KOTA PALANGKARAYA

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH KOTA PALANGKARAYA Spectra Nomor 1 Volume VI Juli 008: 36-43 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH KOTA PALANGKARAYA Hirijanto Dosen Teknik Pengairan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI Kota Palangkaraya sebagai Ibukota

Lebih terperinci

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.180, 2013 SDA. Rawa. Pengelolaan. Pengawasan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5460) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB IV. 4.1 Letak PT. Luas areal. areal kerja PT. PT Suka Jaya. areal Ijin Usaha. Kabupaten

BAB IV. 4.1 Letak PT. Luas areal. areal kerja PT. PT Suka Jaya. areal Ijin Usaha. Kabupaten BAB IV KODISI UMUM LOKASI PEELITIA 4.1 Letak dan Luas Areal PT Suka Jaya Makmur merupakan salah satu anak perusahaan yang tergabungg dalam kelompok Alas Kusuma Group dengan ijin usaha berdasarkan Surat

Lebih terperinci

3.3 Luas dan Potensi Lahan Basah Non Rawa

3.3 Luas dan Potensi Lahan Basah Non Rawa 3.3 Luas dan Potensi Lahan Basah Non Rawa Lahan basah non rawa adalah suatu lahan yang kondisinya dipengaruhi oleh air namun tidak menggenang. Lahan basah biasanya terdapat di ujung suatu daerah ketinggian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR P.12/MENLHK-II/2015

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sebenarnya sudah tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Pemanfaatan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang sebenarnya sudah tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Pemanfaatan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya lahan merupakan tumpuan kehidupan manusia dalam pemenuhan kebutuhan pokok pangan dan kenyamanan lingkungan. Jumlah penduduk yang terus berkembang sementara

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 267, 2000 LINGKUNGAN HIDUP.TANAH.Pengendalian Biomasa. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia yakni 3,2 juta ha (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau besar mulai dari Sumatera,

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya alam merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Ketiadaan hak kepemilikan (property right) pada sumberdaya alam mendorong terjadinya

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb.

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb. KATA PENGANTAR Assalamu alaikum wr.wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku Penghitungan Deforestasi Indonesia Periode Tahun 2009-2011

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan lebih lanjut ketentuan Bab IV Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. 1. Letak Geografis Kota Depok Kota Depok secara geografis terletak diantara 106 0 43 00 BT - 106 0 55 30 BT dan 6 0 19 00-6 0 28 00. Kota Depok berbatasan langsung dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN FERRY INDARTO, ST DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR Malang, 24 Oktober 2017 DEFINISI KLHS : RANGKAIAN ANALISIS

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga Naskah Akademis untuk kegiatan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan dapat terselesaikan dengan baik

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara lain:

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara lain: BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program dan Kegiatan dalam dokumen Memorandum Program Sanitasi ini merupakan hasil konsolidasi dan integrasi dari berbagai dokumen perencanaan terkait pengembangan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI Administrasi Secara administrasi pemerintahan Kabupaten Sukabumi dibagi ke dalam 45 kecamatan, 345 desa dan tiga kelurahan. Ibukota Kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau ABSTRAK Sejalan dengan peningkatan kebutuhan penduduk, maka kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan perkebunan juga meningkat. Lahan yang dulunya

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas 49 307,19 km 2 memiliki potensi sumberdaya hayati laut yang tinggi. Luas laut 29 159,04 Km 2, sedangkan luas daratan meliputi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan gambut merupakan salah satu tipe ekosistem yang memiliki kemampuan menyimpan lebih dari 30 persen karbon terestrial, memainkan peran penting dalam siklus hidrologi serta

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.113, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAHAN. WILAYAH. NASIONAL. Pantai. Batas Sempadan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP LAMPIRAN II PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN PROVINSI

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 07/Permentan/OT.140/2/2012

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 07/Permentan/OT.140/2/2012 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 07/Permentan/OT.140/2/2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KRITERIA DAN PERSYARATAN KAWASAN, LAHAN, DAN LAHAN CADANGAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN PAHANDUT 2013

STATISTIK DAERAH KECAMATAN PAHANDUT 2013 Katalog BPS : 1101002.6271010 STATISTIK DAERAH KECAMATAN PAHANDUT 2013 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA STATISTIK DAERAH KECAMATAN PAHANDUT 2013 STATISTIK DAERAH KECAMATAN PAHANDUT 2013 ISSN :

Lebih terperinci

Pangkalanbalai, Oktober 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuasin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal

Pangkalanbalai, Oktober 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuasin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuasin Tahun 2012 2032merupakan suatu rencana yang disusun sebagai arahan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Banyuasin untuk periode jangka panjang 20

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada koordinat antara sekitar 0 42'30" - 1 28'0" LU dan 102 12'0" - 103 10'0" BT, dan terletak

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAN LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAN LOKASI PENELITIAN 35 IV. GAMBARAN UMUM DAN LOKASI PENELITIAN A. Kabupaten Lampung Barat Menurut Pemerintah Kabupaten Lampung Barat (2011) bahwa Kabupaten Lampung Barat dengan ibukota Liwa merupakan pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

KONDISI TUTUPAN HUTAN PADA KAWASAN HUTAN EKOREGION KALIMANTAN

KONDISI TUTUPAN HUTAN PADA KAWASAN HUTAN EKOREGION KALIMANTAN KONDISI TUTUPAN HUTAN PADA KAWASAN HUTAN EKOREGION KALIMANTAN oleh: Ruhyat Hardansyah (Kasubbid Hutan dan Hasil Hutan pada Bidang Inventarisasi DDDT SDA dan LH) Kawasan Hutan Hutan setidaknya memiliki

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE JAKARTA, MEI 2005 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 26 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 26 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 26 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 71 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan Bab 5 5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan 5.2.1 Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan Perhatian harus diberikan kepada kendala pengembangan,

Lebih terperinci

Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera

Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera 1 2 3 Pendahuluan (Sistem Perencanaan Tata Ruang - Kebijakan Nasional Penyelamatan Ekosistem Pulau Sumatera) Penyelamatan Ekosistem Sumatera dengan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.326, 2015 KEHUTANAN. Hutan. Kawasan. Tata Cara. Pencabutan (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5794). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

Kata kunci: Fungsi hutan, opini masyarakat, DAS Kelara

Kata kunci: Fungsi hutan, opini masyarakat, DAS Kelara Opini Masyarakat Terhadap Fungsi Hutan di Hulu DAS Kelara OPINI MASYARAKAT TERHADAP FUNGSI HUTAN DI HULU DAS KELARA Oleh: Balai Penelitian Kehutanan Makassar, Jl. Perintis Kemerdekaan Km.16 Makassar, 90243,

Lebih terperinci

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.26/Menhut-II/2005

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.26/Menhut-II/2005 MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.26/Menhut-II/2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 71

Lebih terperinci

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990) Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci