Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download ""

Transkripsi

1 TIPOLOGI DESA DI KABUPATEN MAMUJU TENGAH BERDASARKAN POTENSI SOSIAL EKONOMI Ra. Leisa Triana 1, Soman Wisnu Darma 2 ABSTRAKSI Kabupaten Mamuju Tengah merupakan daerah otonom baru berupaya untuk memacu kemajuan perekonomiannya, penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan, pemberdayaan, dan peningkatan sumber daya manusia serta pengelolaan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pada saat yang bersamaan, upaya pemenuhan pelayanan publik juga menjadi perhatian agar kepuasan masyarakat dapat terpenuhi. Oleh karena itu Kabupaten Mamuju Tengah perlu mengidentifikasi potensinya baik ekonomi maupun sosial termasuk sarana prasana yang ada di Kabupaten Mamuju Tengah. Upaya tersebut akan mempermudah dalam menyusun strategi pembangunan daerahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mewakili karakteristik sosial ekonomi wilayah perdesaan di Kabupaten Mamuju Tengah dan mengelompokkan wilayah perdesaaan tersebut berdasarkan kesamaan potensi dan karakteristik sosial ekonominya.. Data yang digunakan adalah data Podes Analisis deskriptif digunakan untuk melihat karakteristik wilayah pedesaan dan untuk mengidentifikasi faktor dan pengelompokan desa digunakan analisis faktor dan analisis cluster. Hasil penelitian ini didapatkan keragaman antar wilayah desa berdasarkan peubah potensi sumber daya dan sarana prasarana sosial ekonomi disebabkan 4 faktor yaitu faktor sumber daya manusia dan sarana ekonomi, faktor sarana kesehatan, faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan serta faktor sarana pemasaran. Berdasarkan kedekatan jarak dari ke-empat faktor tersebut terbentuk 4 cluster desa/kelurahan di Kabupaten Mamuju Tengah yaitu cluster pertama beranggotakan 29 desa, cluster kedua beranggotakan 9 desa, cluster ketiga beranggotakan 16 desa dan cluster keempat beranggotakan 1 desa. Berdasarkan persamaan ciri dari cluster yang terbentuk dikelompokkan dalam 3 wilayah pembangunan di Kabupaten Mamuju Tengah dimana wilayah pembangunan I merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi sumber daya manusia dan sarana ekonomi tinggi (desa yang termasuk dalam cluster 4), wilayah pembangunan II merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi pertanian tinggi dan sarana prasarana sosial ekonomi sedang (desa yang termasuk dalam cluster 2 dan 3), wilayah pembangunan III merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi sumber daya manusia dan pertanian rendah dan kurangnya sarana prasarana sosial ekonomi (desa yang termasuk dalam cluster 1) 1 Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Sulawesi Barat 2 Kepala Bidang Sosial BPS Provinsi Sulawesi Barat 1

2 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kabupaten Mamuju Tengah merupakan satu kabupaten diantara enam kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Barat. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Mamuju yang disahkan dalam Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2013 pada tanggal 11 Januari Kabupaten Mamuju Tengah terdiri atas 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan Tobadak, Kecamatan Pangale, Kecamatan Budong Budong, Kecamatan Topoyo, dan Kecamatan Karossa dan melingkupi 56 (lima puluh enam) desa/kelurahan. Kabupaten Mamuju Tengah memiliki luas wilayah keseluruhan ±3.014,37 km2 dengan jumlah penduduk ± jiwa pada tahun Dasar pembentukan Kabupaten Mamuju Tengah diantaranya adalah luasnya Kabupaten Mamuju yang membuat rentang kendali antar wilayah menjadi lebih panjang. Sebagai daerah otonom baru, Kabupaten Mamuju Tengah perlu melakukan berbagai upaya peningkatan kemampuan ekonomi, penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan, pemberdayaan, dan peningkatan sumber daya manusia, serta pengelolaan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Upaya pemenuhan pelayanan publik senantiasa ditingkatkan, agar mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Untuk itu Kabupaten Mamuju Tengah perlu mengidentifikasi potensi dan sarana prasana yang ada di Kabupaten Mamuju Tengah. Identifikasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi pembangunan daerahnya. Dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah atau menyusun perencanaan pembangunan, perlu diidentifikasi factor faktor penentu pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat mendorong kemampuan suatu daerah untuk tumbuh secara cepat. Namun dengan adanya perbedaan kandungan sumber daya alam dan perbedaan kondisi demografi dari masing-masing wilayah mengakibatkan terjadinya ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah sehingga kemampuan suatu daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendorong proses pembangunan juga menjadi berbeda. Sebagai identifikasi awal dapat dilihat dari kondisi demografi wilayah Kabupaten Mamuju Tengah yaitu sumber daya manusia. Persebaran penduduk di Kabupaten Mamuju Tengah tidak merata antar desa. Berdasarkan data Podes 2014, kepadatan penduduk antar desa berbeda cukup tinggi di kabupaten Mamuju tengah dimana kepadatan penduduk Desa Topoyo Kecamatan Topoyo mencapai 820,3 jiwa per kilometer persegi sementara kepadatan penduduk di Desa Salulekbo Kecamatan Topoyo hanya berkisar 7,4 jiwa per kilometer persegi. Selain kondisi demografi, kegiatan ekonomi terkonsentrasi di beberapa desa seperti di Desa Topoyo Kecamatan Topoyo, Desa Karossa Kecamatan Karossa dan Desa Salogatta Kecamatan Budong- Budong yang jumlah sarana ekonominya lebih dari 100 unit sementara di Desa Sartanamaju Kecamatan Pangale, Desa Salupangkang IV dan Desa Salulekbo Kecamatan Topoyo hanya berjumlah 1 unit saja. Sarana pendidikan terkonsentrasi di beberapa desa seperti di Desa Topoyo dan Desa Salulekbo 2

3 Kecamatan Topoyo, Desa Tasokko Kecamatan Karossa dan Desa Babana Kecamatan Budong-Budong yang jumlah sarana pendidikannya mencapai lebih dari 10 unit sementara di Desa UPT Lara III tidak memiliki sarana pendidikan sama sekali. Sarana kesehatan terbagi menjadi fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan. Untuk fasilitas kesehatan yang terdiri dari puskesmas, poskesdes dan posyandu paling banyak jumlahnya di Desa Babana Kecamatan Budong-Budong yaitu sebanyak 9 unit sementara di Desa Lembah Hada Kecamatan Budong-Budong hanya ada 1 unit saja. Untuk jumlah tenaga kesehatan yang tinggal di desa, ada sebanyak 43 orang tenaga kesehatan di Desa Babana Kecamatan Budong- Budong dan hanya 1 orang tenaga kesehatan yang tinggal di Desa UPT Lara III. Kondisi ini juga menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi antar wilayah. Upaya penanggulangan ketimpangan ekonomi antar wilayah membutuhkan perencanaan pembangunan wilayah yang komprehensif yang dituangkan dalam Rencana tata ruang wilayah. Namun hingga Juni 2015, Peraturan Daerah mengenai RTRW pembahasannya di DPRD (Radar Sulbar, 11 Juni 2015). Kabupaten Mamuju Tengah belum matang Pembangunan yang dilakukan saat ini lebih menonjolkan pertumbuhan ekonomi secara cepat, mengakibatkan pertumbuhan di kawasan perdesaan sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan kawasan perkotaan. Kawasan perdesaan masih saja menghadapi permasalahan klasik seperti masih terbatasnya sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur dan akses kepada sumber daya ekonomi dan sosial sehingga indentik dengan permasalahan kemiskinan dan terbatasnya kesempatan kerja. Oleh karena itu diperlukan identifikasi faktor-faktor yang mewakili karakteristik sosial ekonomi wilayah perdesaan di Kabupaten Mamuju Tengah dan pengelompokkan wilayah perdesaaan tersebut berdasarkan kesamaan potensi dan karakteristik sosial ekonominya. 2. Perumusan masalah Adanya perbedaan kondisi demografi dan sumber daya alam di wilayah Kabupaten Mamuju Tengah serta konsentrasi ekonomi menyebabkan terjadi ketimpangan ekonomi antar wilayah. Untuk menanggulangi ketimpangan ekonomi antar wilayah dibutuhkan perencanaan pembangunan wilayah yang komprehensif. Namun hingga Juni 2015, Peraturan Daerah mengenai RTRW Kabupaten Mamuju Tengah belum matang pembahasannya di DPRD (Radar Sulbar, 11 Juni 2015), sehingga diperlukan model pembangunan wilayah dalam upaya merumuskan pengelompokkan wilayah pembangunan dengan memperhatikan kondisi dan potensi wilayah bersangkutan yang memiliki karakteristik sosial ekonomi yang sama (homogenous region), sehingga diharapkan perumusan kebijakan akan lebih tepat dan sesuai dengan kondisi serta potensi wilayah. Sebagai langkah awal, identifikasi kebutuhan dan potensi dalam proses perencanaan pembangunan daerah perlu dilakukan, agar berbagai pendekatan model perencanaan pembangunan daerah dapat dilakukan untuk menentukan arah dan bentuk 3

4 kebijakan yang akan diambil. Berdasarkan permasalahan tersebut rumusan masalahnya adalah mengidentifikasi faktor faktor yang mewakili kesamaan karakteristik potensi wilayah dan kondisi sosial ekonomi serta mengelompokkan desa berdasarkan faktor tersebut. 3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan sebuah gambaran mengenai potensi pedesaan yang ada di Kabupaten Mamuju tengah dan menjadi input perencanaan pembangunan berdasarkan kesamaan potensi wilayahnya. TINJAUAN PUSTAKA 1. Tipologi Desa Kawasan Perdesaan menurut UU no 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Kawasan perdesaan dapat berkembang menjadi kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan mandiri. Kawasan perdesaan juga mempunyai tingkat kemampuan potensi dan perkembangan yang berbeda-beda, dimana pernah dikelompokkan kedalam tipologi desa swadaya, desa swakarya dan desa swasembada. Dalam Hernowo (2010), Mubiyarto (1994) membagi tipologi desa tertinggal di Provinsi Jawa Tengah ke dalam sembilan tipologi berdasarkan komoditas basis pertanian dan kegiatan mayoritas petani pada desa tersebut. Kesembilan karakteristik desa adalah desa persawahan, desa lahan kering, desa perkebunan, desa peternakan, desa nelayan, desa hutan, desa industri kecil, desa buruh industri, serta desa jasa dan perdagangan. Sedangkan Soedrajad (1997) membagi tipologi ke dalam 4 kategori, yaitu : a. Desa pantai adalah desa yang kegiatan utamanya alam penangkapan ikan. b. Desa persawahan adalah desa yang mayoritas penggunaan lahan untuk persawahan terutama tergantung pada produktivitas penanaman padi. c. Desa perkebunan adalah desa yang mayoritas penggunaan lahanya untuk perkebunan. d. Desa perladangan adalah desa yang kegiatan utamanya adalah perladangan (menanam tanaman pangan tadah hujan dan palawija). Sedangkan berdasarkan kriteria Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D), tipologi desa dibagi ke dalam enam tipologi berdasarkan kegiatan ekonominya, yaitu desa industri, desa pertanian tanaman pangan, desa perkebunan, desa perikanan, desa pariwisata atau jasa dan desa peternakan. 2. Pembangunan Perdesaan Menurut Todaro & Smith (2003), karakteristik pembangunan harus: (1) berorientasikan kepada kebutuhan (need oriented) manusia, baik material maupun non material, (2) bersifat endogen, artinya 4

5 muncul dari masyarakat itu sendiri, (3) self reliance yang berarti bahwa masyarakat mengandalkan kekuatan dan sumber daya mereka sendiri, (4) ecologically-sound artinya penggunaan sumber daya alam secara rasional dan bijak, (5) berdasarkan transformasi struktural dalam hubungan sosial, dalam kegiatan ekonomi dan distribusi spasial. Dalam Arsyad (2011) dijelaskan bahwa paradigma pembangunan perdesaan mengalami pergeseran yang semula menekankan pembangunan pertanian skala besar yang modern selain sektor industri manufaktur dan mengabaikan sektor subsisten dalam meningkatkan produktivitas (Lewis,1954), beralih pada penekanan pertanian subsisten di negara sedang berkembang dapat mendorong pembangunan yang didukung oleh sektor pertanian (Schultz, 1964). Namun pergeseran paradigma ini tidak mampu memecahkan masalah kemiskinan di perdesaan sehingga pada tahun 1980-an dan 1990-an terjadi pergeseran paradigma yang kedua dari pendekatan yang lebih menekankan pada hasil menjadi pendekatan yang menekankan pada proses. Hal ini menggambarkan pembangunan perdesaan sebagai proses keperansertaan yang memberdayakan masyarakat perdesaan untuk menentukan prioritas mereka sendiri untuk perubahan. Strategi pembangunan yang mengandalkan terutama sekali pada kebutuhan, seluruh potensi dan pelaku lokal dari suatu daerah tertentu (lokality). Pembangunan sosial yang komprehensif DIMENSI SOSIAL Sumber: Arsyad, dkk (2011:19) Gambar 1. Dimensi Pembangunan Pedesaan DIMENSI EKONOMI Kapasitas kan Kesempatan berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari proses pembangunan Pembangunan Perdesaan Kapasitas dan Kesempatan berpartisipasi dan mendapatkan manfaat proses pembangunan DIMENSI POLITIK Oleh karena itu pembangunan perdesaan secara mendasar mencakup tiga dimensi utama (Fernando, 2008), yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial dan dimensi politik. Dimensi ekonomi mencakup penyediaan baik kapasitas maupun peluang bagi masyarakat berpendapatan rendah di perdesaan untuk berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi, dimensi ekonomi juga mencakup kebijakan untuk mengurangi ketidakmerataan pendapatan baik intra maupun antar sektor. Dimensi sosial 5

6 mencakup pembangunan sosial masyarakat miskin dan berpendapatan rendah, menghilangkan ketidak merataan dalam beberapa indikator sosial dan penyediaan jaringan pengaman sosial. Dimensi politik mencakup perbaikan peluang masyarakat berpendapatan rendah untuk berpartisipasi secara efektif dan setara dalam proses politik pada tingkat desa. Di Indonesia perkembangan pembangunan perdesaan secara umum bisa dibagi kedalam tiga tahap (Dharmawan, 2006). Tahap 25 tahun pertama pasca kemerdekaan pembangunan perdesaan menekankan kepada pendekatan pemenuhan kebutuhan pokok (basic-needs approach). Pada kurun waktu tersebut, pembangunan pangan dan pertanian perdesaan telah mampu mengangkat harkat dan martabat penduduk desa meski juga memberikan dampak agak kurang baik pada tata-perilaku dan kehidupan perdesaan. Meski demikian, angka kemiskinan masih tetap tinggi, meski persentasenya terus menurun. Pada tahap 25 tahun kedua pembangunan ditekankan pada pembanguna manusia seutuhnya bersamasama dengan upaya pengembangan industrialisasi berbasiskan pertanian. Pada tahap ini perekonomian desa masuk kedalam jebakan system ekonomi kapitalis dunia. Terjadi perubahan struktural dan pergeseran norma-norma yang dianut oleh masyarakat perdesaan dengan sangat cepat dan radikal. Desa mengalami persoalan ketergantungan serta eksploitasi sumberdaya alam yang luar biasa. Akibatnya desa mengalami proses pemiskinan dan kerusakan sumberdaya alam lingkungan yang parah. Strategi pembangunan perdesaan sedikit berubah arah pada tahap ketiga, pembangunan perdesaan lebih menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan politik warganya. Pendekatan pembangunan perdesaan yang baru ini dicirikan oleh penghargaan eksistensi sumberdaya alam dan lingkungan yang sangat tinggi, kemandirian lokalitas, partisipasi, dan basis kekuatan lokal yang kokoh. 3. Potensi Wilayah Potensi wilayah adalah sumber daya yang dimiliki suatu wilayah baik yang telah dimobilisir maupun yang belum yang dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat suatu wilayah dan wilayah lainnya. Potensi wilayah merupakan modal dasar dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi (Adisasmita, 2008). Menurut Todaro (2000), ada tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi. Pertama, akumulasi modal yang meliputi semua bentuk dan jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik dan sumber daya manusia. Kedua, pertumbuhan penduduk yang beberapa tahun selanjutnya dengan sendirinya membawa pertumbuhan angkatan kerja dan ketiga adalah kemajuan teknologi. Sumber daya manusia, sumber daya alam, dan teknologi adalah tiga faktor pembangunan yang pokok. Sumber daya manusia adalah jumlah, komposisi, karakteristik dan persebaran penduduk. Kualitas sumber daya manusia sangat menentukan dalam mengelola sumber daya alam yang ada. Sumber daya alam adalah semua sumber daya yang disediakan oleh alam meliputi sumber daya yang dapat 6

7 diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Adanya ketidaksamaan sumber daya alam, kapital, keahlian, bakat atau potensi atau sarana dan prasarana antar daerah merupakan salah satu faktor terjadinya ketimpangan pembangunan. Untuk itu dalam merencanakan pembangunan wilayah harus memahami wilayah dan potensi wilayah yang ada agar pembangunan yang dilakukan dapat meningkatkan kemakmuran bagi masyarakat wilayah tersebut maupun sekitarnya. 4. Pengembangan Wilayah Konsep pengembangan wilayah di Indonesia merupakan penggabungan dari berbagai teori dan model yang selalu berkembang yang telah diujiterapkan. Selanjutnya dirumuskan kembali menjadi suatu pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pembangunan di Indonesia. Dalam Hariyanto (2007) dijelaskan beberapa landasan teori dalam konsep pengembangan wilayah antara lain pertama adalah Walter Isard sebagai seorang pelopor ilmu wilayah yang mengkaji terjadinya hubungan sebab dan akibat dari faktor-faktor utama pembentuk ruang wilayah, yakni faktor fisik, sosial ekonomi, dan budaya. Kedua adalah Hirschmann (era 1950 an) yang memunculkan teori polarization effect dan trickling down effect dengan argumentasi bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan (unbalanced development). Ketiga adalah Myrdal (era 1950 an) dengan teori yang menjelaskan hubungan antara wilayah maju dan wilayah belakangnya dengan menggunakan istilah backwash effect dan spreadwash effect. Keempat adalah Freadmann (era 1960 an) yang lebih menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan system pembangunan yang kemudian dikenal dengan teori pusat pertumbuhan. Kelima adalah Douglass (era 70 an) yang memperkenalkan lahirnya model keterkaitan desa-kota (rural-urban linkages) dalam pengembangan wilayah. Menurut Sugandhy (1984) kebijaksanaan pembangunan dengan pendekatan perwilayahan akan mempunyai beberapa amanat salah satu diantaranya adalah untuk mengetahui potensi dan faktor-faktor pembatas yang ada pada setiap wilayah. Pengembangan wilayah merupakan suatu cara pendekatan dalam meratakan segala aspek sosial ekonomi dalam kaitannya dengan perataan ruang wilayah sebagai wadah keterpaduan program-program pembangunan yang sangat diperlukan baik dalam skala makro maupun mikro. Menurut Sjafrizal (2008) penetapan wilayah pembangunan dapat dilakukan dengan memperhatikan 4 aspek utama yaitu : 1. kesamaan kondisi, permasalahan dan potensi umum wilayah, sosial dan geografi (homogenous region). Aspek ini sangat penting agar kebijakan dapat ditetapkan sesuai dengan kondisi dan potensi utama wilayah yang bersangkutan; 2. keterkaitan yang erat antara daerah-daerah yang tergabung dalam wilayah pembangunan yang bersangkutan (nodal region). Hal ini diketahui melalui data tentang kegiatan perdagangan antar daerah 7

8 dan mobilitas penduduk. Aspek ini sangat penting agar kebijakan yang ditetapkan dapat mendorong keterpaduan dan sinergi pembangunan antar daerah dalam wilayah yang bersangkutan; 3. kesamaan karakteristik geografis antar daerah-daerah yang tergabung dalam wilayah pembangunan tersebut (Functional Region). Aspek ini sangat penting agar kebijakan yang ditetapkan akan dapat didukung oleh kondisi geografis dan potensi sumber daya alam; 4. kesatuan wilayah administrasi pemerintahan yang tergabung dalam wilayah pembangunan yang bersangkutan (Planning Region). Aspek ini sangat penting agar kebijakan yang ditetapkan dapat terjamin pelaksanaannya karena sesuai dengan kewenangan yang dimiliki sehingga dapat dilakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan. 5. Kerangka Pikir Kabupaten Mamuju tengah merupakan kabupaten baru yang memiliki potensi dibidang pertanian dan perkebunan. Disamping itu juga terdapat jenis bahan tambang seperti tembaga, tanah liat dan pasir besi. Selain sumber daya alam juga adanya sarana dan prasarana fisik pendukung wilayah yang diharapkan dapat menarik investasi di kabupaten mamuju tengah. Gambar 2. Kerangka pikir penulisan Dengan menggunakan analisis multivariate yang terdiri dari analisis komponen utama (Principal Component Analysis = PCA) dan analisis kelompok (Cluster Analysis) yang bertujuan melihat keterkaitan antara tipologi desa dengan faktor-faktor penciri/karakteristik desa. Selanjutnya hasil analisis tipologi dituangkan dalam peta melalui deskripsi spasial menggunakan sistem informasi geografis (SIG).. Adanya studi mengenai identifikasi potensi dan arah pengembangan desa-desa di Kabupaten Mamuju tengah ini diharapkan dapat memberikan kerangka dasar penyusunan kebijakan pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan. Sumber Daya : SDA, SDM Potensi Kabupaten Mamuju Tengah Mengoptimalkan arah pengembangan Analisis Tipologi Wilayah : Analisis multivariate : PCA, Cluster Deskripsi Spasial : Arah pengembangan desa di Kab. Mamuju tengah Sarana prasarana Sosial Ekonomi 8

9 METODE PENELITIAN 1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil Pendataan Potensi Desa/Kelurahan 2014 di Kabupaten Mamuju Tengah. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Statistical Package for Sosial Science (SPSS) 17.0 for windows. 2. Metode Analisis Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini maka metode analisis yang digunakan adalah analisis komponen utama dan analisis cluster. Analisis secara deskriptif juga dilakukan untuk melihat keragaan potensi wilayah dan sarana prasarana sosial ekonomi yang ada di Kabupaten Mamuju Tengah Analisis Multivariat a. Analisis Komponen Utama (Principal Component Analisis/PCA) Analisis komponen utama merupakan salah satu teknik statistik untuk menyederhanakan deskripsi dari suatu set data (peubah) yang banyak dan saling berkorelasi menjadi set data yang ringkas dan tidak lagi berkorelasi. Analisis komponen utama berguna untuk meneliti keterkaitan peubah-peubah dalam satu set data. Analisis komponen utama pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan sejumlah kecil faktor (komponen utama) yang memiliki sifat berikut (Jhonson & Winchern, 1982) : 1. mampu menerangkan semaksimum mungkin keragaman data; 2. terdapat kebebasan antar faktor; 3. tiap faktor dapat diinterprestasikan sejelas-jelasnya. Model analisis faktor : Xp - μp = Ip1F1 + Ip2F2 + + IpmFm + εp.. (1) atau dalam notasi matriks : X - μ = L F + ε. (2) (p x 1) (p x m) (m x 1) (p x 1) dimana : X = vektor peubah asal; μ = vektor rata-rata peubah asal; L = matrik loading faktor; F = vektor faktor umum; ε = vektor faktor spesifik Model faktor dapat menjelaskan peubah-peubah Xi dipengaruhi secara linier oleh faktor-faktor umum dan faktor spesifik. Langkah-langkah dalam analisis faktor adalah sebagai berikut : 1. menghitung matrik korelasi ρ antara semua peubah yang digunakan dan ditaksir dengan matriks korelasi R; 9

10 2. melakukan uji KMO (Kaiser Meyer Olkin); dimana nilai KMO > 0,5 = data dinyatakan cukup layak untuk diuji lebih lanjut dengan analisis faktor (Joseph F. Hair. Jr.,et al, 1987); 3. menduga koefisien faktor umum (loading faktor) dengan menggunakan analisis komponen utama. Banyaknya komponen utama yang digunakan sebagai analisis dapat ditentukan dengan cara memilih akar ciri yang nilainya lebih besar dari satu atau dapat juga dengan memilih varian terbesar.(joseph F. Hair, Jr., et al, 1987). 4. Dilakukan rotasi faktor dengan menggunakan rotasi orthogonal yaitu rotasi varimax. Rotasi varimax merupakan rotasi yang membuat jumlah varian loading faktor dalam masing-masing faktor akan menjadi maksimum. b. Analisis Kelompok (Cluster Analysis) Analisis kelompok (Cluster Analysis) merupakan salah satu teknik statistik untuk mengelompokkan individu-individu atau objek yang mempunyai ciri yang sama ke dalam beberapa kelompok yang mempunyai sifat berbeda antar kelompok. Sebelum melakukan pengelompokkan terlebih dahulu harus ditentukan jarak kedekatan antar peubah dengan menggunakan jarak euclidian. Variabel-variabel yang digunakan dalam analisis kelompok sama dengan variabel-variabel yang digunakan dalam analisis komponen utama (Tabel 3). Analisis kelompok dilakukan setelah analisis komponen utama. Analisis ini menggunakan nilai skor (faktor scores) yang merupakan salah satu hasil dari analisis komponen utama. Metode pengelompokan yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode pengelompokan hierarki karena banyaknya kelompok yang dibentuk belum diketahui sebelumnya. Untuk meminimumkan rataan jarak semua pasangan dari dua kelompok yang digabungkan maka dipilih metode Ward (Ward linkage). Adapun hasil dari analisis kelompok ini adalah berupa grafik dendogram yang selanjutnya akan didapat kareakteristik tipologi masing-masing wilayah. c. Analisis Spasial/Sistem Informasi Geografis (SIG) Analisis spasial secara sederhana dapat diartikan sebagai analisis yang menggunakan referensi keruangan (geografi). Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu alat untuk pengambilan, penyimpanan, penganalisisan, dan penampilan data (Sulaeman, 2005). Setiap bagian dari analisis spasial dapat memberikan gambaran tentang suatu fenomena, memberikan informasi mengenai lokasi dan juga persebaran fenomena tersebut dalam suatu wilayah. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran spasial secara lebih jelas dalam bentuk peta tematik mengenai beberapa hasil analisis tipologi desa di Kabupaten Mamuju Tengah. 10

11 1. Karakteristik Desa 1.1. Letak Geografis dan Potensi Ekonomi PEMBAHASAN Kabupaten Mamuju Tengah merupakan wilayah administrasi baru hasil pemekaran dari Kabupaten Mamuju. Letak astronomis Kabupaten Mamuju Tengah berada diantara garis lintang 1 o LS 2 o LS dan garis bujur 119 o 7 35 BT 119 o BT dengan luas wilayah sebesar 3.014,37 Km 2. Secara geografis, wilayah tersebut berbatasan dengan Kabupaten Mamuju Utara di sebelah utara, selat Makassar si sebelah barat, Kabupaten Mamuju di sebelah selatan dan Provinsi Sulawesi Selatan di sebelah timur. Kabupaten Mamuju Tengah terdiri dari 5 kecamatan yang meliputi 56 desa yaitu Kecamatan Pangale, Kecamatan Budong-budong, Kecamatan Tobadak, Kecamatan Topoyo dan Kecamatan Karossa. Dari hasil Pendataan Podes 2014, penduduk Kabupaten Mamuju Tengah pada awal tahun 2014 berjumlah jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 2,85 persen. Persebaran penduduk ini cukup merata di seluruh kecamatan dengan kepadatan penduduknya mencapai 39 jiwa/km 2. Mayoritas penduduk di Kabupaten Mamuju Tengah sumber penghasilan utamanya berasal dari sektor pertanian dengan komoditi utamanya padi (10 desa), palawija (9 desa), kelapa sawit dan kakao (36 desa) serta budidaya perikanan (1 desa). Gambar 3. Jumlah Desa Berdasarkan Sumber Penghasilan Utama Sebagian besar Penduduk Menurut Sub Sektor budidaya perikanan Kelapa sawit dan kakao Padi Palawija Untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mamuju Tengah, selain dari hasil sektor pertanian, diperlukan industri yang mendukung pertanian dan industri yang mengolah hasil pertanian. Beberapa industri mikro dan kecil yang berkembang di wilayah Kabupaten Mamuju Tengah antara lain 244 unit industri makanan dan minuman (pengolahan hasil pertanian), 99 unit industri dari kayu dan 86 11

12 unit industri batu bata/gerabah. Pemerintah diharapkan dapat mendorong perkembangan industri pengolahan Kondisi Infrastruktur, komunikasi dan sarana perekonomian Ketersediaan dan kondisi jalan, angkutan dan sarana komunikasi turut berperan dalam usaha peningkatan kemajuan perekonomian di di Kabupaten Mamuju Tengah. Masih banyaknya jalan yang kurang memadai yang tentunya dapat menghambat sarana transportasi sampai ke desa yang berimbas pada petani dalam usaha memasarkan hasil panennya dan dapat memperlambat perkembangan ekonomi di desa. Demikian halnya dengan sarana komunikasi, kemudahan masyarakat mengakses informasi dan menggunakan fasilitas komunikasi dapat mendorong peningkatan perekonomian di desa. Berdasarkan jenis permukaan jalan terluas di desa hasil pendataan Podes 2014, mayoritas desa di Kabupaten Mamuju Tengah jenis permukaan terluasnya adalah jalan diperkeras (kerikil, batu), baru 11 desa yang permukaan jalan terluas di desanya adalah aspal, bahkan masih ada 3 desa yang permukaan jalan terluasnya adalah tanah. Adanya infrastruktur jalan memungkinkan kendaraan roda 4 melintasi desa tersebut. Dari 56 desa di kabupaten Mamuju Tengah belum semua desa dapat dilalui kendaraan roda 4 sepanjang tahun, baru 40 desa yang dapat dilalui kendaraan roda 4 sepanjang tahun, sementara jalan di 16 desa masih memiliki kendala pada keadaan tertentu. Tabel 1. Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Fasilitas Permukaan Jalan Terluas dan Penerangan di Jalan Utama Desa/Kelurahan Permukaan Jalan Terluas Sementara ketersediaan angkutan umum sudah ada di 36 desa, masih terdapat 20 desa yang belum tersedia angkutan umum. Untuk mempermudah petani dalam memasarkan hasil panennya maka diperlukan jalan yang cukup memadai untuk membawa hasil pertanian ke sentra pemasaran. Berdasarkan hasil Podes 2014, jenis permukaan jalan dari sentra produksi/lahan pertanian ke jalan utama desa yang ada di kabupaten Mamuju tengah terdiri dari jalan diperkeras sebanyak 33 desa dan jalan tanah sebanyak 23 desa. Penerangan di jalan utama desa/kelurahan : Ada Tidak ada Seluruh desa di Kabupaten Mamuju Tengah sudah menggunakan listrik, dimana sumber penerangan ini berasal dari PLN maunpun Non PLN. Tetapi masih ada keluarga yang belum menggunakan listrik yang tersebar di 50 desa. Dari 56 desa yang ada di Kabupaten Mamuju, sebanyak 12 desa yang memiliki penerangan jalan utama, sementara 44 desa tidak memiliki penerangan jalan utama Total Aspal Bukan Aspal Total Sumber : BPS, Podes

13 desa. Infrastruktur penerangan jalan desa sangat diperlukan untuk meminimalisir tingkat kriminalitas di desa. Ketersediaan sarana komunikasi di Kabupaten Mamuju Tengah masih sangat kurang. Hal ini diperkuat bahwa hanya Kecamatan Tobadak saja yang sarana komunikasinya cukup lengkap seperti warnet, kantor pos, dan jasa ekspedisi. Sementara itu Kecamatan Pangale dan Karossa belum tersedia sarana komunikasi sama sekali. Selain itu, salah satu sarana pendukung komunikasi adalah adanya sinyal telepon seluler. Sinyal telepon seluler yang kuat memudahkan komunikasi di masyarakat setempat dengan masyarakat diluar daerah. Sinyal telepon seluler yang kuat dapat ditemui pada 39 desa di Kabupaten Mamuju Tengah, sinyal telepon seluler lemah ditemui pada 16 desa bahkan ada 1 desa yang tidak didapati sinyal telepon seluler sama sekali. Informasi juga dapat diakses melalui media televisi. Berdasarkan data Podes 2014, seluruh desa di Kabupaten mamuju tengah dapat menangkap siaran TVRI dan Televisi swasta, namun hanya 4 desa saja di Kecamatan Topoyo yang bisa menangkap siaran TVRI daerah Ketersediaan Pelayanan Dasar Ketersediaan pelayanan dasar di masyarakat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia meliputi manusia yang sehat, cerdas dan berbudi luhur. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan sarana dan prasarana yang mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tabel 2. Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Fasilitas Keberadaan Fasilitas Pendidikan SMP Pendidikan Ada SD Tidak ada Total Ada Dalam bidang pendidikan, pemberantasan buta huruf menjadi fokus utama. Berdasarkan data Podes 2014, program pemberantasan buta huruf yang dilakukan adalah dengan mengadakan kegiatan keaksaraan fungsional dan baru berjalan di 24 Tidak ada Total desa yang tersebar di 5 Kecamatan. Sarana pendidikan meliputi jumlah sekolah negeri dan swasta untuk jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 122 sekolah yang tersebar di 54 desa dan ada 2 desa yang belum tersedia sarana pendidikan dasar SD/MI. Sarana pendidikan SMP/MTs sebanyak 48 sekolah yang tersebar di 32 desa. Sarana pendidikan SMA/MA sebanyak 20 sekolah dan SMK sebanyak 8 sekolah. Untuk jenjang pendidikan Perguruan Tinggi ada sebanyak 4 Akademi/PT swasta yang berada di Kecamatan Topoyo. 13

14 Untuk desa yang tidak tersedia sarana pendidikan maka jarak desa ke fasilitas pendidikan terdekat, secara rata-rata jarak desa ke SD/MI terdekat yaitu 1,8 km, rata-rata jarak desa ke SMP/Mts terdekat 4,8 km, kemudian rata-rata jarak desa ke SMA/MA dan SMK terdekat yaitu 9,3 km dan 16,7 km. Sementara rata-rata jarak ke Akademi/perguruan tinggi terdekat sekitar 32 km. Selain pendidikan dasar, untuk mengakomodir anak yang putus sekolah tersedia sarana pendidikan Paket A/B/C yang tersebar di 18 desa. Keberadaan lembaga pendidikan dan ketrampilan di Mamuju Tengah dirasakan masih sangat sedikit yaitu hanya 4 lembaga pendidikan dan ketrampilan yang terdiri dari 1 lembaga kursus Bahasa asing dan 3 lembaga kursus computer dan lokasinya hanya terpusat di 2 desa yang berada di kecamatan Kecamatan Pangale dan Kecamatan Topoyo. Dalam bidang kesehatan, jumlah desa di Kabupaten Mamuju Tengah yang tersedia sarana kesehatan puskesmas sebanyak 10 desa, sarana poskesdes sebanyak 48 desa dan sebanyak 55 desa tersedia sarana posyandu. Sementara fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, rumah sakit bersalin, Tabel 3. Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Sarana Kesehatan Ada Poskesdes Tidak Ada puskesmas pembantu dan polindes belum tersedia. Sebagai pertolongan pertama masyarakat dititikberatkan pada fasilitas puskesmas dan poskesdes. Namun masih ada 1 desa yang belum tersedia sarana poskesdes dan puskesmas yaitu desa Tabolang Kecamatan Topoyo. Jumlah Pos Pelayanan Terpadu (posyandu) di Kabupaten Mamuju Tengah sebanyak 125 posyandu yang tersebar di 55 desa, masih terdapat 1 desa di Kecamatan Budong-budong yang belum tersedia sarana posyandu yaitu desa Lembahada. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih lanjut masyarakat Kabupaten Mamuju Tengah harus menempuh jarak yang cukup jauh. Jarak yang jauh dan sulitnya mengakses sarana kesehatan secara fisik mengakibatkan biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan cukup tinggi. Hal ini merupakan kendala masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik di Mamuju Tengah. Fasilitas kesehatan terdekat dengan desa secara rata-rata adalah puskesmas dan tempat praktek dokter. Jarak rata-rata dari desa ke puskesmas sejauh 12,1 km dan ke tempat praktek dokter sejauh 13,5 km. Total Puskesmas Ada / pustu Tidak Ada Total Sumber : BPS, Podes

15 Selain sarana kesehatan, tenaga kesehatan yang ada di desa juga sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan terhadap masyarakat desa. Tenaga kesehatan terdiri dari dokter, bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Jumlah dokter yang tinggal di Kabupaten Mamuju tengah sebanyak 15 dokter yang tersebar di 11 desa. Sementara keberadaan bidan yang jumlahnya sebanyak 188 bidan hampir ada di seluruh desa kecuali desa Topoyo Kecamatan Topoyo. Berdasarkan hasil PODES 2014, selama setahun terakhir, terjadi wabah penyakit yang menyerang desa di Kecamatan Topoyo seperti wabah muntaber yang menyerang 1 desa, wabah demam berdarah yang menyerang 2 desa dan wabah malaria yang menyerang 1 desa. Selain itu wabah muntaber juga menyerang 1 desa di Kecamatan Pangale. Selain wabah penyakit, masih ada penderita gizi buruk yang berada di 10 desa di Kabupaten Mamuju tengah. Jumlah penderita gizi buruk sebanyak 21 orang yang tersebar di 10 desa dimana desa yang warganya mengalami gizi buruk terbanyak adalah Desa Tobadak Kecamatan Tobadak yaitu berjumlah 6 orang. 2. Tipologi Desa Menurut Analisis Multivariabel Analisis tipologi wilayah pada penelitian ini didasarkan pada karakteristik dan pengelompokan desa-desa dengan variabel sumber daya dan sarana sosial ekonomi yang dimiliki. Unit analisis yang digunakan adalah 56 desa yang ada di Kabupaten Mamuju Tengah. Variabel yang digunakan pada analisis PCA pada awalnya sebanyak 55 variabel. Jenis data pada variabel yang digunakan merupakan data interval dan rasio sehingga satuan tiap variabel berbeda. Oleh karena itu untuk memenuhi asumsi kenormalan data, sebelum dilakukan pengolahan terlebih dahulu dilakukan standarisasi data. Sebagai langkah awal dari analisis PCA maka variabel tersebut diseleksi berdasarkan kelengkapan dan kemampuan variabel dalam menjelaskan keragaman karakteristik wilayah sehingga didapatkan 16 variabel yang memenuhi analisis PCA. Proses analisis ini akan menghasilkan beberapa Faktor Utama penciri utama keragaan perkembangan wilayah. Ke-16 variabel tersebut adalah: 1. Kepadatan penduduk (banyaknya penduduk laki-laki dan perempuan yang tinggal di suatu wilayah dibagi dengan luas wilayah) 2. Luas lahan pertanian nonsawah (tegal/kebun, lading/huma, tambak, kolam/tebat/empang, perkebunan, peternakan, dll) 3. Jarak desa ke kantor kecamatan 4. Jumlah SD/MI (banyaknya SD/MI baik berstatus negeri dan swasta) 5. Jumlah SMP/MTs (banyaknya SMP/MTs baik berstatus negeri dan swasta) 6. Jumlah SMA/SMK (banyaknya SMP/SMK baik berstatus negeri dan swasta) 7. Jumlah dokter adalah banyaknya dokter praktek umum, spesialis dan gigi; 8. Jarak ke puskesmas terdekat 9. Jumlah puskesmas 10. Jumlah bidan adalah banyaknya bidan yang tinggal di desa 15

16 11. Jumlah koperasi yang masih aktif (banyaknya KUD, Koperasi simpan pinjam, koperasi industri kecil dan kerajinan rakyat dan koperasi lainnya yang masih beroperasi) 12. Jumlah industri mikro dan kecil (banyaknya perusahaan industri yang memiliki tenaga kerja kurang dari 20 orang) 13. Jarak ke pasar terdekat 14. Jumlah hotel/penginapan (banyaknya usaha yang menyediakan jasa akomodasi) 15. Jumlah bank (banyaknya kantor pelayanan nasabah bank umum pemerintah, bank umum swasta dan bank perkreditan rakyat) 16. Jumlah restoran dan kedai makanan/minuman (banyaknya usaha pangan siap saji) 2.1. Hasil Analisis Komponen Utama Langkah pertama dari analisis komponen utama adalah memilih peubah yang layak dimasukkan dalam analisis komponen utama dengan cara menghitung matrik korelasi ρ antara semua peubah yang digunakan dan ditaksir dengan matriks korelasi R, kemudian dilakukan pengujian terhadap matrik korelasi tersebut. Dari hasil pengujian didapatkan: a. Determinant of Correlation Matrix sebesar 1,40E-005. Nilai ini mendekati 0, menunjukkan ada keterkaitan antara peubah bebas. b. Nilai KMO (Kaiser Meyer Olkin Measure of Sampling) sebesar 0,764 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,5 yang berarti data dinyatakan cukup layak untuk diuji lebih lanjut dengan analisis komponen utama. c. Nilai Anti-Image Correlation yang menunjukkan korelasi parsial (korelasi antar dua peubah dengan menganggap tetap peubah yang lain) bernilai lebih dari 0,5 dan signifikan. Selanjutnya dilakukan ekstraksi komponen utama dengan metode PCA guna mendapatkan sejumlah faktor yang dapat menjelaskan keterkaitan antar peubah. Faktor yang terbentuk merupakan kombinasi linier dari peubah yang diteliti. Hasil ekstraksi tersebut didapatkan nilai comunallity dari semua peubah lebih dari 50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa semua peubah yang digunakan dapat menjelaskan faktor yang terbentuk. Berdasarkan nilai akar ciri (eigenvalue) yang mencerminkan peran tiap peubah terhadap total keragaman data yang bisa dijelaskan, didapatkan 4 faktor yang mempunyai nilai akar ciri lebih besar dari 1. Ke-empat faktor tersebut mampu menerangkan total keragaman data sebesar 70,96% dimana keragaman data bisa diterangkan oleh faktor 1 sebesar 36,48%, faktor 2 sebesar 15,79%, faktor 3 sebesar 11,55% dan faktor 4 sebesar 7,14%. Ke-enam faktor tersebut menghasilkan matrik loading faktor yang tidak berkorelasi satu sama lain dan nilainya merupakan koefisien korelasi antara peubah dengan faktorfaktor tersebut. Agar setiap faktor mudah diinterpretasikan maka dilakukan rotasi faktor dengan menggunakan metode rotasi orthogonal varimax. Rotasi varimax merupakan rotasi yang membuat jumlah 16

17 varian loading faktor dalam masing-masing faktor akan menjadi maksimum sehingga setiap peubah hanya masuk ke dalam satu faktor saja dimana nilai korelasinya terbesar. Adapun ke-empat faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. Faktor 1 berkorelasi positif dengan jumlah bank, jumlah hotel/penginapan, jumlah koperasi, kepadatan penduduk, jumlah restoran/kedai, jumlah indutri mikro, dan jumlah SMA/SMK. Faktor ini berkorelasi tinggi positif dengan peubah penduduk, fasilitas perekonomian, dan fasilitas pendidikan menengah maka faktor 1 dapat diidentifikasikan sebagai faktor potensi penduduk dan sarana ekonomi. 2. Faktor 2 berkorelasi positif dengan jumlah puskesmas, jumlah bidan, jumlah dokter dan berkorelasi negatif dengan jarak terdekat ke puskesmas. Faktor ini diidentifikasikan sebagai faktor sarana kesehatan. 3. Faktor 3 berkorelasi positif dengan luas lahan pertanian nonsawah, jumlah SD/MI, jumlah SMP/MTs dan jarak desa ke kantor kecamatan. Faktor ini diidentifikasikan sebagai faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan. 4. Faktor 4 berkorelasi negatif dengan jarak terdekat dengan pasar. Faktor ini diidentifikasikan sebagai faktor sarana pemasaran. Ke-empat faktor tersebut akan digunakan untuk mengelompokkan desa menurut tipologinya di Kabupaten Mamuju Tengah dengan terlebih dahulu dibuat nilai skor faktor untuk tiap desa Hasil Analisis Cluster Pengelompokan desa di Kabupaten Mamuju Tengah berdasarkan potensi wilayahnya dilakukan dengan metode hierarkhi dengan proses aglomerasi (pemusatan) menurut jarak Euclidian dengan menggunakan metode Ward s, dimana jarak antara dua cluster dalam metode ini berdasarkan total sum of square dua cluster pada masing-masing peubah. Hasil pengelompokkan digambarkan dengan dendogram. Dari dendogram tersebut didapatkan 4 cluster desa/kelurahan di Kabupaten Mamuju Tengah yaitu cluster pertama beranggotakan 29 desa, cluster kedua beranggotakan 9 desa, cluster ketiga beranggotakan 16 desa dan cluster keempat beranggotakan 1 desa. Dengan membandingkan rata-rata skor tiap faktor untuk tiap cluster dengan rata-rata skor faktor kabupaten Mamuju Tengah maka didapatkan ciri masing-masing kelompok desa dengan faktor utamanya yang mencirikan karakteristik kelompok desa tersebut. 17

18 Tengah Tabel 4. Hasil Analisis Cluster pada Desa/Kelurahan di kabupaten Mamuju Cluster I Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 No Nama Desa No Nama Desa No Nama Desa No Nama Desa 1 PANGALE 30 POLOPANGALE 39 K U O 46 TOPOYO 2 LEMO-LEMO 31 POLOCAMBA 40 LUMU 3 SARTANAMAJU 32 TINALI 41 SALUMANURUNG 4 KOMBILING 33 SALOGATTA 42 BARAKKANG 5 LAMBA-LAMBA 34 BABANA 43 K I R E 6 POLO LERENG 35 SALO ADAK 44 PONTANAKAYANG 7 LEMBAH HADA 36 SALUPANGKANG 45 BOJO 8 BAMBADARU 37 L A R A 46 PASAPPA 9 SEJATI 38 KAROSSA 47 SULOBAJA 10 PALONGAN 48 BATU PARIGI 11 MAHAHE 49 TOBADAK 12 PANGALLOANG 50 BUDONG-BUDONG 13 PARAILI 51 K A B U B U 14 SINABATTA 52 TUMBU 15 WAEPUTEH 53 SALULEKBO 16 TAPPILINA 54 KAMBUNONG 17 SALUPANGKANG IV 55 TASOKKO 18 BAMBAMANURUNG 19 TANGKOU 20 TABOLANG 21 SALUBIRU 22 SUKAMAJU 23 LEMBAH HOPO 24 UPT LARA III 25 KAYUCALLA 26 KADAILA 27 BENGGAULU 28 MORA IV 29 SANJANGO 18

19 fac-1 fac-2 fac-3 fac-4 Cluster 1 Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Gambar 4. Grafik Rata-rata Skor Faktor Cluster 1 bercirikan faktor sumber daya manusia dan sarana ekonomi, faktor sarana kesehatan, faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan serta faktor sarana pemasaran berada dibawah nilai ratarata faktor kabupaten. Hal ini menunjukan bahwa desa/kelurahan yang termasuk dalam kelompok ini dicirikan dengan sedikitnya potensi pertanian non sawah dan kurangnya sarana prasarana ekonomi, pendidikan maupun kesehatan. Cluster 2 bercirikan faktor sarana kesehatan serta faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan di atas rata-rata kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa desa yang termasuk dalam kelompok ini memiliki sarana kesehatan yang cukup banyak, sarana pendidikan dasar yang cukup merata dan lahan pertanian non sawah yang cukup luas. Namun faktor sumber daya manusia dan sarana ekonomi serta faktor sarana pemasaran berada dibawah rata-rata kabupaten. Ini menunjukkan sarana prasarana ekonomi masih kurang. Cluster 3 bercirikan faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan serta faktor sarana pemasaran di atas rata-rata kabupaten. Hal ini menunjukkan desa yang termasuk dalam kelompok ini memiliki potensi pertanian non sawah yang luas, sarana pendidikan yang cukup merata dan memiliki sarana pemasaran yang cukup merata dan mudah dijangkau. Namun faktor sumber daya manusia dan sarana ekonomi serta faktor sarana kesehatan berada dibawah rata-rata kabupaten. Ini menunjukkan sarana prasarana ekonomi masih kurang dan sarana kesehatan masih sangat kurang. Cluster 4 bercirikan faktor sumber daya manusia dan sarana ekonomi, faktor sarana kesehatan, serta faktor sarana pemasaran berada diatas nilai rata-rata faktor kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa desa ini memiliki sumber daya manusia dan sarana ekonomi yang cukup banyak dan memiliki sarana kesehatan cukup mudah dijangkau serta memiliki sarana pemasaran. Namun faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan berada dibawah rata-rata kabupaten. Bila dilihat dari peubahnya, luas lahan pertanian non sawah di desa sangat sedikit tetapi sarana pendidikan di desa ini cukup banyak. 19

20 Untuk melihat pola penyebaran desa berdasarkan cluster yang terbentuk diatas maka dibuatlah peta cluster. Desa yang termasuk ke dalam cluster 1 dengan ciri rendahnya potensi sumber daya dan kurangnya sarana prasarana terlihat berada pada wilayah perbatasan dengan kabupaten lain, bahkan ada desa yang berada persis di tengah kabupaten. Desa yang temasuk cluster 2 dengan ciri adanya sarana kesehatan dan pendidikan yang cukup memadai berada disekitar desa yang termasuk cluster 1, sementara desa yang termasuk cluster 3 dengan ciri luasnya potensi pertanian terlihat luasnya hampir separuh dari kabupaten Mamuju Tengah. Desa yang termasuk cluster 4 yang terdiri dari 1 desa berada di pusat kota dari Kabupaten Mamuju Tengah. Berdasarkan tipologi dari masing-masing cluster yang terbentuk, maka dapat dikelompokkan kembali ke dalam 3 wilayah pembangunan di Kabupaten Mamuju Tengah dimana wilayah pembangunan I merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi sumber daya manusia dan sarana ekonomi tinggi (desa yang termasuk dalam cluster 4), wilayah pembangunan II merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi pertanian tinggi dan sarana prasarana sosial ekonomi sedang (desa yang termasuk dalam cluster 2 dan 3), wilayah pembangunan III merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi sumber daya manusia dan pertanian rendah dan kurangnya sarana prasarana sosial ekonomi (desa yang termasuk dalam cluster 1) 20

21 KESIMPULAN 1. Berdasarkan peubah potensi sumber daya dan sarana prasarana sosial ekonomi telah terjadi keragaman antar wilayah desa yang disebabkan oleh 4 faktor yaitu faktor sumber daya manusia dan sarana ekonomi, faktor sarana kesehatan, faktor potensi pertanian dan sarana pendidikan serta faktor sarana pemasaran. 2. Berdasarkan kedekatan jarak dari ke-empat faktor tersebut terbentuk 4 cluster desa/kelurahan di Kabupaten Mamuju Tengah yaitu cluster pertama beranggotakan 29 desa, cluster kedua beranggotakan 9 desa, cluster ketiga beranggotakan 16 desa dan cluster keempat beranggotakan 1 desa. Desa yang termasuk ke dalam cluster 1 berada pada wilayah perbatasan dengan kabupaten lain, bahkan ada desa yang berada persis di tengah kabupaten. Desa yang temasuk cluster 2 berada disekitar desa yang termasuk cluster 1, sementara desa yang termasuk cluster 3 berada di wilayah tengah kabupaten dan luasnya hampir separuh dari kabupaten Mamuju Tengah. Desa yang termasuk cluster 4 yang terdiri dari 1 desa terletak di pusat kota dari Kabupaten Mamuju Tengah. Berdasarkan persamaan ciri dari cluster yang terbentuk dikelompokkan dalam 3 wilayah pembangunan di Kabupaten Mamuju Tengah dimana wilayah pembangunan I merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi sumber daya manusia dan sarana ekonomi tinggi (desa yang termasuk dalam cluster 4), wilayah pembangunan II merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi pertanian tinggi dan sarana prasarana sosial ekonomi sedang (desa yang termasuk dalam cluster 2 dan 3), wilayah pembangunan III merupakan kelompok wilayah dengan karakteristik potensi sumber daya manusia dan pertanian rendah dan kurangnya sarana prasarana sosial ekonomi (desa yang termasuk dalam cluster 1). SARAN 1. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah mamuju tengah dengan Topoyo sebagai pusat perekonomian maka perlu dibangun pusat pusat ekonomi baru untuk memudahkan pemasaran hasil produksi pertanian yang ada di wilayah mamuju tengah. 2. Untuk desa yang masuk cluster 1 dimana daya dukung wilayahnya sangat kurang baik dari segi potensi sumber daya alam maupun sarana prasarana sosial ekonomi, maka perlu intervensi pemerintah dalam membangun sarana prasarana sosial ekonomi seperti sekolah atau puskesmas yang keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat. Untuk potensi sumber daya alam perlu ditinjau apakah desa-desa tersebut yang tidak potensi di bidang pertanian dimungkinkan berpotensi pada bidang yang lain misalnya industri makanan atau jasa pariwisata. 3. Untuk desa yang masuk cluster 2 diharapkan pembangunan ditekankan pada pemasaran hasil produksi pertanian. 21

22 4. Untuk desa yang masuk cluster 3 diharapkan adanya peningkatan sarana kesehatan dan sarana perekonomian lainnya, terutama industri yang mengolah hasil pertanian. 5. Adanya keterbatasan penulisan dikarenakan adanya outlier sehingga tidak memenuhi asumsi kenormalan sehingga tidak bisa dilakukan pengujian lebih lanjut, sehingga dimungkinkan ada analisis lanjutan dengan mempertimbangkan mengeluarkan data outlier dalam penulisan. DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Rahardjo Pengembangan Wilayah: Konsep dan Teori. Graham Ilmu. Yogyakarta Anjasmara, Djamhur RTRW adalah Kepatutan Disegerakan. 20 Agustus Diunduh dari Arsyad, Lincolin, dkk Strategi Pembangunan Perdesaan Berbasis Lokal. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Brauksa, Ieva Use of Cluster Analysis in Exploring Economic Indicator Differences among Regions: The Case of Latvia. Journal of Economics, Business and Management, Vol. 1, No. 1, Februari Caroline, Priskha Sistem Informasi Geografis. Penentuan Prioritas Wilayah Industri di Kabupaten Kubu Raya. Program Studi Teknik Informatika : Universitas Tanjungpura. Gasperz, Vincentius Suatu Studi Pengelompokkan Provinsi di Indonesia Berdasarkan Beberapa Peubah Sosial Ekonomi. Bogor : Fakultas Pasca Sarjana IPB. Johnson, R.A. dan Wichern, D.W Applied Multivariate Statistical Analysis. New Jersey : Prentice Hall International Inc. Hariyanto, dan Tukidi Konsep Pengembangan Wilayah dan Penataan Ruang Indonesia di Era Otonomi Daerah. Jurnal Geografi, Volume 4 No. 1 Januari Hernowo, Basah Kajian pembangunan ekonomi desa untuk mengatasi kemiskinan. 13 November Diunduh dari Kedepankan Raperda RTRW. [Berita]. 20 Agustus Diunduh dari Rahmalia, Evi Analisis Tipologi Dan Pengembangan Desa-Desa Pesisir Kota Bandar Lampung. Tesis. Program Pascasarjana PS-SPL. Institut Pertanian Bogor. Republik Indonesia Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jakarta. Republik Indonesia Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Mamuju Tengahdi Provinsi Sulawesi Barat. Jakarta. Sjafrizal Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat. Prisma, No. 3, Tahun XXVI : 27-38, LP3ES, Jakarta Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Baduose Media, Padang Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Rajawali Pers, Jakarta. Sugandi, A Penataan Ruang Wilayah, Daerah dan Kota. Prisma 6 (13) : hal Sulaeman, Yiyi Mudah Belajar ArcView GIS 3.x Petunjuk praktis untuk pemula. Balai Penelitian Tanah Puslitbang Tanah dan Agroklimat Departemen Pertanian Bogor. Todaro, M.P Economic Development. Seventh Edition, New York University, Longman, London and New York. 22

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Babulu rata-rata 242,25 mm pada tahun 2010 Kecamatan Babulu memiliki luas 399,46 km 2. Secara geografis berbatasan

Lebih terperinci

Statistik Daerah Kecamatan Karossa 2015

Statistik Daerah Kecamatan Karossa 2015 s. bp uk ab. am uj m :// ht tp go.id Statistik Daerah Kecamatan Karossa 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAMUJU STATISTIK DAERAH KECAMATAN KAROSSA 2015 ISSN : - No. Publikasi : 7604.1402.053 Katalog

Lebih terperinci

Katalog BPS :

Katalog BPS : Katalog BPS : 1101002.6409010 Statistik Daerah Kecamatan Babulu 2015 Statistik Daerah Kecamatan Babulu No. Publikasi : 6409.550.1511 Katalog BPS : 1101002.6409010 Naskah : Seksi Statistik Neraca Wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Jangka Panjang tahun merupakan kelanjutan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Jangka Panjang tahun merupakan kelanjutan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan Jangka Panjang tahun 2005 2025 merupakan kelanjutan perencanaan dari tahap pembangunan sebelumnya untuk mempercepat capaian tujuan pembangunan sebagaimana

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian dan sektor basis baik tingkat Provinsi Sulawsi Selatan maupun Kabupaten Bulukumba. Kontribusi sektor

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Wilayah dan Pembangunan wilayah Budiharsono (2001) menyebutkan bahwa ruang atau kawasan sangat penting dalam pembangunan wilayah.

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT. STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi

Lebih terperinci

Transformasi Desa Indonesia

Transformasi Desa Indonesia Transformasi Desa Indonesia 2003-2025 Dr. Ivanovich Agusta [email protected] Relevansi Transformasi dari Pemerintah Sumber Penerimaan Total Penerimaan (Rp x 1.000) Persentase PAD 3.210.863 18,13 Bantuan

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOPOYO 2012

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOPOYO 2012 STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOPOYO 2012 ISSN : - No. Publikasi : 76045.1204.052 Katalog BPS : 1202001.7604.052 Jumlah Halaman : 16 Halaman Naskah : Koordinator Statistik Kecamatan Topoyo Gambar Kulit :

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan 39 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan sekunder. 1.1.Data primer pengumpulan data dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS Kecamatan Tomoni memiliki luas wilayah 230,09 km2 atau sekitar 3,31 persen dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan yang terletak di sebelah

Lebih terperinci

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROV. SULAWESI TENGAH 2016

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROV. SULAWESI TENGAH 2016 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROV. SULAWESI TENGAH 2016 PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DALAM MENGAKSELERASI PROGRAM PANGAN BERKELANJUTAN DAN PENINGKATAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penelitian Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang melibatkan pembentukan institusi baru, pembangunan industri alternatif, perbaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak terpisahkan serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan

BAB I PENDAHULUAN. tidak terpisahkan serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan desa merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, dengan demikian pembangunan desa mempunyai peranan yang penting dan bagian yang tidak terpisahkan

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.

Lebih terperinci

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Sepaku rata-rata 177,2 mm pada tahun 2010 Kecamatan Sepaku memiliki luas 438,50 km 2. Secara geografis berbatasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang dituju harus melibatkan dan pada

BAB I PENDAHULUAN. mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang dituju harus melibatkan dan pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pembangunan nasional yang dinilai berhasil pada hakikatnya adalah yang dilakukan oleh dan untuk seluruh rakyat. Dengan demikian, dalam upaya mencapai sasaran-sasaran

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan berupa

METODE PENELITIAN. Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan berupa III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Pendekatan Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan berupa meningkatnya persepsi masyarakat yang melihat adanya hubungan tidak searah antara keberhasilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan sumberdaya ekonomi melimpah. Kekayaan sumberdaya ekonomi ini telah dimanfaatkan

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. Analisis cluster merupakan analisis yang bertujuan untuk. mengelompokkan objek-objek pengamatan berdasarkan karakteristik yang

BAB III PEMBAHASAN. Analisis cluster merupakan analisis yang bertujuan untuk. mengelompokkan objek-objek pengamatan berdasarkan karakteristik yang BAB III PEMBAHASAN Analisis cluster merupakan analisis yang bertujuan untuk mengelompokkan objek-objek pengamatan berdasarkan karakteristik yang dimiliki. Asumsi-asumsi dalam analisis cluster yaitu sampel

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG 2015 No Publikasi : 2171.15.27 Katalog BPS : 1102001.2171.060 Ukuran Buku : 24,5 cm x 17,5 cm Jumlah Halaman : 14 hal. Naskah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KAROSSA 2012

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KAROSSA 2012 STATISTIK AERAH KECAMATAN KAROSSA 2012 ISSN : - No. Publikasi : 76045.1204.053 Katalog BPS : 1202001.7604.053 Jumlah Halaman : 14 Halaman Naskah : Koordinator Statistik Kecamatan Karossa Gambar Kulit :

Lebih terperinci

Bab I. Pendahuluan. memberikan bantuan permodalan dengan menyalurkan kredit pertanian. Studi ini

Bab I. Pendahuluan. memberikan bantuan permodalan dengan menyalurkan kredit pertanian. Studi ini Bab I Pendahuluan Di setiap negara manapun masalah ketahanan pangan merupakan suatu hal yang sangat penting. Begitu juga di Indonesia, terutama dengan hal yang menyangkut padi sebagai makanan pokok mayoritas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang khusus oleh pemerintah seperti halnya sektor industri dan jasa.

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang khusus oleh pemerintah seperti halnya sektor industri dan jasa. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di Indonesia sektor pertanian mempunyai peran yang sangat penting dalam pertumbuhan perekonomian. Banyaknya tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 24 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Wilayah dan Potensi Sumber daya Alam Desa Cikarawang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 2.27

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006 KATA PENGANTAR Untuk mencapai pembangunan yang lebih terarah dan terpadu guna meningkatkan pembangunan melalui pemanfaatan sumberdaya secara maksimal, efektif dan efisien perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota 66 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Bandarlampung 1. Letak Geografis Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah

Lebih terperinci

Statistik Daerah Kecamatan Sepaku 2015

Statistik Daerah Kecamatan Sepaku 2015 Statistik Daerah Kecamatan Sepaku 2015 Kata Pengantar Publikasi Statistik Daerah Kecamatan Sepaku 2015 diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Penajam Paser Utara berisi berbagai data dan informasi

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOBADAK 2012

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOBADAK 2012 STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOBADAK 2012 ISSN : - No. Publikasi : 76045.1204.054 Katalog BPS : 1202001.7604.054 Jumlah Halaman : 11 Halaman Naskah : Koordinator Statistik Kecamatan Tobadak Gambar Kulit

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO 2014 Statistik Daerah Kecamatan Air Manjunto 2014 Halaman i STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO 2014 Statistik Daerah Kecamatan Air Manjunto 2014 Halaman i

Lebih terperinci

VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN

VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN 8.1. Rekomendasi Kebijakan Umum Rekomendasi kebijakan dalam rangka memperkuat pembangunan perdesaan di Kabupaten Bogor adalah: 1. Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat, adalah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ii iii iv PENDAHULUAN Latar Belakang... 1 Perumusan Masalah... 4 Tujuan Penelitian... 9 Pengertian dan Ruang Lingkup Penelitian... 9 Manfaat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. memuat arah kebijakan pembangunan daerah (regional development policies)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. memuat arah kebijakan pembangunan daerah (regional development policies) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan pembangunan nasional merupakan gambaran umum yang memuat arah kebijakan pembangunan daerah (regional development policies) dalam rangka menyeimbangkan pembangunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Konsep Pembangunan Regional Pembangunan regional adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini berbatasan dengan Desa Bantarjati

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS DAN KONTRIBUSI TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BOYOLALI

PRODUKTIVITAS DAN KONTRIBUSI TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BOYOLALI PRODUKTIVITAS DAN KONTRIBUSI TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BOYOLALI Yetti Anita Sari Fakultas Geografi UGM; Yogyakarta E-mail: [email protected] ABSTRAK Sektor pertanian merupakan salah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Kalimantan Timur terletak pada 113 0 44-119 0 00 BT dan 4 0 24 LU-2 0 25 LS. Kalimantan Timur merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang 18.110 pulau. Sebaran sumberdaya manusia yang tidak merata

Lebih terperinci

VI. EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN ALOKASI PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP DEFORESTASI KAWASAN DAN DEGRADASI TNKS TAHUN

VI. EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN ALOKASI PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP DEFORESTASI KAWASAN DAN DEGRADASI TNKS TAHUN VI. EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN ALOKASI PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP DEFORESTASI KAWASAN DAN DEGRADASI TNKS TAHUN 1994-2003 6.1. Hasil Validasi Kebijakan Hasil evaluasi masing-masing indikator

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Otonomi daerah sudah dilaksanakan sejak tahun 2001. Keadaan ini telah memberi kesadaran baru bagi kalangan pemerintah maupun masyarakat, bahwa pelaksanaan otonomi tidak bisa

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH INDUSTRI DI KABUPATEN KUBU RAYA. Priskha Caroline

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH INDUSTRI DI KABUPATEN KUBU RAYA. Priskha Caroline SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH INDUSTRI DI KABUPATEN KUBU RAYA Priskha Caroline Program Studi Teknik Informatika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura [email protected]

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Penajam rata-rata 239,5 mm pada tahun 2010 Kecamatan Penajam memiliki luas Peta Kecamatan Penajam 1.207,37 km

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

PENERAPAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA DALAM PENENTUAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi Kasus : SMAN 1 MEDAN)

PENERAPAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA DALAM PENENTUAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi Kasus : SMAN 1 MEDAN) Saintia Matematika Vol. 1, No. 6 (2013), pp. 507 516. PENERAPAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA DALAM PENENTUAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi Kasus : SMAN 1 MEDAN) Juliarti Hardika,

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Wilayah Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Wilayah Joglosemar terdiri dari kota Kota Yogyakarta, Kota Surakarta dan Kota Semarang. Secara geografis ketiga

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pertambahan penduduk Indonesia setiap tahunnya berimplikasi pada semakin meningkatkan kebutuhan pangan sebagai kebutuhan pokok manusia. Ketiadaan pangan dapat disebabkan oleh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara ataupun daerah. Pertumbuhan

Lebih terperinci

Statistik Daerah Kecamatan Waru 2016 STATISTIK DAERAH KECAMATAN WARU No. Publikasi : 640950.1611 Katalog BPS : 1101002.6409020 Ukuran Buku : 17 cm x 24,5 cm Jumlah Halaman : viii + 12 halaman Naskah :

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 27 Secara rinci indikator-indikator penilaian pada penetapan sentra pengembangan komoditas unggulan dapat dijelaskan sebagai berikut: Lokasi/jarak ekonomi: Jarak yang dimaksud disini adalah jarak produksi

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi yang sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Di lihat dari sisi ekonomi, lahan merupakan input

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian. Metode Pengumpulan Data METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Juni hingga September 2011.

Lebih terperinci

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom baru yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang Provinsi Banten berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Kabupaten Kampar 4.1.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang Selatan, 100º 23' - 101º40' Bujur Timur.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM KABUPATEN BOGOR

BAB IV KONDISI UMUM KABUPATEN BOGOR BAB IV KONDISI UMUM KABUPATEN BOGOR 1.5 Kondisi Geografis dan Administratif Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah daratan (tidak memiliki wilayah laut) yang berbatasan langsung dengan

Lebih terperinci

Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016

Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016 Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi Jambi, 31 Mei 2016 SUMBER PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA 1. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jambi pada Februari 2015 sebesar 4,66

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 33 IV. METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Berdasarkan perumusan masalah, tujuan dan manfaat, penelitian ini dibangun atas dasar kerangka pemikiran bahwa kemiskinan merupakan masalah multidimensi

Lebih terperinci

ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL 1 Oleh: Almasdi Syahza 2 Email: [email protected] Website: http://almasdi.staff.unri.ac.id Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu mencerminkan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. yang diambil dari buku dan literatur serta hasil-hasil penelitian terdahulu.

METODE PENELITIAN. yang diambil dari buku dan literatur serta hasil-hasil penelitian terdahulu. 30 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian 1. Penelitian Kepustakaan Adalah penelitian dengan mengkupas data terbaik dalam penelitian ini yang diambil dari buku dan literatur serta hasil-hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Geografis Secara astronomis Kabupaten Bolaang Mongondow terletak antara Lintang Utara dan antara Bujur Timur. Berdasarkan posisi geografisnya,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (self balance), ketidakseimbangan regional (disequilibrium), ketergantungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (self balance), ketidakseimbangan regional (disequilibrium), ketergantungan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesenjangan Antar Daerah Menurul Cornelis Lay dalam Lia (1995), keterbelakangan dan kesenjangan daerah ini dapat dibagi atas empat pemikiran utama yaitu keseimbangan regional

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN PARMAKSIAN 2016 STATISTIK DAERAH KECAMATAN PARMAKSIAN 2016 ISBN : 978-602-6431-04-2 No. Publikasi : 12060.1532 Katalog BPS : 1101002.1206073 Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm Jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah

Lebih terperinci

BAB II ASPEK STRATEGIS

BAB II ASPEK STRATEGIS BAB II ASPEK STRATEGIS Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2013 II - 16 BAB II ASPEK STRATEGIS A. Sumber Daya Manusia 1. Kependudukan umlah Penduduk Kabupaten Luwu Utara pada

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA

PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA Strategi dan Program Prioritas Penguatan Ekonomi Masyarakat Kabupaten Mahulu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perubahan besar dalam struktur sosial, sikap-sikap mental yang sudah terbiasa

I. PENDAHULUAN. perubahan besar dalam struktur sosial, sikap-sikap mental yang sudah terbiasa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan proses multidimensional yang melibatkan perubahan besar dalam struktur sosial, sikap-sikap mental yang sudah terbiasa dan lembaga nasional

Lebih terperinci

Tipologi Wilayah Hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014 Provinsi Banten

Tipologi Wilayah Hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014 Provinsi Banten No. 13/02/36/Th.IX, 16 Februari 2015 Tipologi Wilayah Hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014 Provinsi Banten Pendataan Potensi Desa (Podes) dilaksanakan 3 kali dalam 10 tahun. Berdasarkan hasil Podes

Lebih terperinci

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA - 1 - SALINAN Ranc. 070116 0948 SALINAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOMMO 2012 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAMUJU

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOMMO 2012 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAMUJU STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOMMO 2012 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAMUJU 2012 STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOMMO 2012 ISSN : No. Publikasi : 76045.1204.033 Katalog BPS : 1202001.7604.033 Jumlah Halaman

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dengan melihat karakteristik Kabupaten Garut bagian selatan dapat dilihat bagaimana sifat ketertinggalan memang melekat pada wilayah ini. Wilayah Garut bagian selatan sesuai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal

I. PENDAHULUAN. Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting perananya dalam Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal tersebut bisa kita lihat

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

3. Pola hubungan spasial intra-interregional di Kapet Bima dapat diamati dari pergerakan arus barang dan penduduk antar wilayah, yakni dengan

3. Pola hubungan spasial intra-interregional di Kapet Bima dapat diamati dari pergerakan arus barang dan penduduk antar wilayah, yakni dengan VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan Dari hasil analisis dan pembahasan tentang studi pengembangan wilayah di Kapet Bima dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Kapet Bima memiliki beragam potensi

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang

IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang Hasil inventarisasi peraturan perundangan yang paling berkaitan dengan tata ruang ditemukan tiga undang-undang, lima peraturan pemerintah, dan empat keputusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Pembangunan Ekonomi Daerah Pembangunan ekonomi daerah merupakan fungsi dari potensi sumberdaya alam, tenaga kerja dan sumberdaya manusia, investasi modal, prasarana dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Program dan kegiatan pembangunan pada dasarnya disusun untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sebesarbesarnya yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

pelalawankab.bps.go.id

pelalawankab.bps.go.id ISBN : 979 484 615 5 No. Publikasi : 18 Katalog BPS : 1101002.1404020 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : 12 + iii Naskah : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Gambar Kulit : Seksi Integrasi

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jambi

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jambi BAB III ANALISIS ISU ISU STRATEGIS 3.1 Permasalahan Pembangunan 3.1.1 Permasalahan Kebutuhan Dasar Pemenuhan kebutuhan dasar khususnya pendidikan dan kesehatan masih diharapkan pada permasalahan. Adapun

Lebih terperinci