Identifikasi Biohidrogen Secara Fermentatif Dengan Kultur Campuran Menggunakan Glukosa Sebagai Substrat

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Identifikasi Biohidrogen Secara Fermentatif Dengan Kultur Campuran Menggunakan Glukosa Sebagai Substrat"

Transkripsi

1 Identifikasi Biohidrogen Secara Fermentatif Dengan Kultur Campuran Menggunakan Glukosa Sebagai Substrat Disusun Oleh : Rizkhi Agrinda Setya Pembimbing : Prof. Dr. Surya Rosa Putra, M.S Herdayanto Sulistyo Putro, M.Si

2 HIDROGEN BIOLOGI FISIKA KIMIA BIOHIDROGEN (Das dan Nejat, 2008) Lebih ramah lingkungan dan efisien karena menghasilkan uap air sbg emisi (Gupta, 2009). Memiliki kalor pembakaran 2,75 kali lebih besar dibanding dg bahan bakar hidrokarbon (Dong-Hon Kim et al., 2006) Produksi tanpa Cahaya BIOFOTOLISIS Cyanobacteria FERMENTASI GELAP Substrat Bervariasi FOTODEKOMPOSISI Purple Non-Sulfuric Bacteria HYBRID SYSTEM Microbial Fuel Cell Hemat Energi

3 FERMENTASI GELAP Genus Clostridium, Obligatif Anaerob - Adanya O 2 akan menghambat kinerja Enzim Hidrogenase (Madigan, 2006). Genus Enterobacter, Fakultatif Anaerob - Termasuk Bakteri Coliform, Kemungkinan Bersifat Enteropatogenik atau Toksigenik (Ferdiaz, 1993). Selain Strain Tunggal, Kultur Campuran dapat juga menghasilkanh 2 (Maintingueret al., 2008; Patel et al., 2010; Singh et al., 2010)

4 Apakah kultur campuran yang digunakan dapat menghasilkan biohidrogen secara fermentatif dengan menggunakan glukosa sebagai substrat Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kelemahan bakteri penghasil hidrogen seperti Clostridium dan Enterobacter dengan menggunakan kultur campuran dan mengetahui jumlah biohidrogen yang dihasilkan secara fermentatif dengan menggunakan substrat glukosa

5 Pembuatan Media Padat dan Cair Prosedur Kerja Regenerasi Kultur Campuran Pewarnaan Gram dan Uji Morfologi Penentuan Kurva Pertumbuhan Produksi Biohidrogen Secara Fermentatif dengan Kultur Campuran Analisis Gas Hasil Fermentasi Analisis Gula Pereduksi dan Jumlah Sel Alat Botol, Tabung Reaksi, Pipet ukur, Magnetic stirrer, Hotplate strirrer, microtube, Thermoshaker, Mikroskop, Sentrifuge Hermle, Vortex, Spektrofotometer, Neraca analitik, Autoclave, Hydrogen bag, Hydrogen sensor, Kromatografi Gas Bahan Nutrient Agar (Oxoid), Glukosa p.a (Merck), Ekstrak Ragi (Oxoid), FeSO 4 7H 2 O p.a (Merck), NaOH, Metilen Blue, Asam 3,5-Dinitrosalisilat (Sigma Aldrich), Na-K tartat (Merck), Na-Metabisulfit (Merck), Gas Nitrogen, Aquades Steril dan Alkohol Teknis 70%.

6 1 Pembuatan Media Padat dan Cair Nutrien Agar 2 g Aquades 100 ml Yeast Extract 0,5 % (w/v) Glukosa 2 % (w/v) Diautoclave pada 121 C selama15 menit Media padat steril dan diinkubasi 1 hari dg posisi miring Media Cair Steril didinginkan kemudian dicampur secara aseptis dlm Laminary Flow

7 2 Regenerasi Kultur Campuran Proses ini dilakukan dalam Laminary flow dengan teknik aseptik Diambil 1 ose dan di goreskan secara zigzag pada media padat steril Strain Kultur Campuran Diinkubasi dalam inkubator selama 24 jam Hasil regenerasi disimpan dalam lemari es

8 3 Pewarnaan Gram Sederhana dan Uji Morfologi Proses ini dilakukan dalam Laminary flow dengan teknik aseptik Dibilas dengan Aquades steril Diambil 1 ose dan digoreskan pada kaca preparat Kaca preparat Steril Digoyang hingga merata dan kering Ditetesi Metilen Blue pada goresan Difiksasi diatas api Dibilas sedikit dgn alkoholo 96%

9 4 Penentuan Kurva Pertumbuhan Proses ini dilakukan dalam Laminary flow dengan teknik aseptik 30 ml media cair atau (10% v/v) FeSO 4 7H 2 O 0,03 % (w/v) Diambil 1 ose dan diinokulasi ke dalam media Di shaker selama 14 jam dengan suhu 40 C kec. 125 rpm Hasil inkubasi diinokulasikan lagi Diukur absorbansinya padaλ = 600 nm Di shaker pada suhu 40 C kec. 125 rpm dan diambil sampel tiap jam Media 270 ml atau 90% (v/v) + FeSO 4 7H 2 O 0,03 % (w/v)

10 5 Produksi Biohidrogen secara Fermentasi menggunakan Kultur campuran Tahap pembuatan inokulum Proses ini dilakukan dalam Laminary flow dengan teknik aseptik Media Cair Steril 500 ml 5 ml FeSO 4 7H 2 O 0,03 % (w/v) dan magnetic stirrer steril Dialiri gas nitrogen selama 1 menit 45 ml Diinokulasi kedalam media 45 ml yang sblmnya dipreparasi seperti diatas Kemudian diinkubasi Diinkubasi dan di stirer selama 14 jam, suhu 40 C dg kec.125 rpm Diambil 1 ose dan diinokulasi ke dalam media

11 5 Produksi Biohidrogen secara Fermentasi menggunakan Kultur campuran Tahap fermentasi FeSO 4 7H 2 O 0,03 % (w/v) dan magnetic stirrer steril Dialiri gas nitrogen selama 1 menit media 450 ml 50 ml media inokulum Diambil sampel media tiap 6 jam Hasil dianalisis ph dimonitor dan diatur 6-5 dengan NaOH, Suhu 40 C, kec. 125 rpm Rangkaian Alat

12 Rangkaian Alat Fermentasi Sistem Batch dengan Pengadukan Termometer Selang Poliuretan Sumbat Karet Hydrogen Bag Indikator Gas berisi Aquades steril Hotplate stirrer Magnetic stirrer

13 6 Metode Analisis A. Analisis Gas Gas yang dihasilkan Volume Uji Kualitatif Uji Kuantitatif Hidrogen bag Botol berisi air vol. 1L dimodifikasi dengan infus 4 GC - TCD Gelas ukur Hydrogen sensor

14 6 Metode Analisis B. Analisis Jumlah sel Sampel Fermentasi - diambil sampel tiap 6 jam sebanyak 1,5 ml - dimasukkan dalam microtube - disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 8000 rpm - dipisahkan secara dekantasi dan dimasukkan kedalam tabung Biomassa Supernatan biomassa dalam microtube ditambahkan aquades steril hingga 1,5 ml disuspensikan dengan vortex dituang ke dalam tabung berisi 3 ml aquades steril disuspensikan dengan vortex diukur absorbansi dengan panjang gelombang 600 nm Hasil

15 6 Metode Analisis C. Analisis Gula Pereduksi Kurva Standar Glukosa Laruta Glukosa Stok 0,2 M -Diambil sebanyak 1; 2; 3; 4; dan 5 ml -Diencerkan dengan aquades sampai 10 ml Laruta Glukosa Konsentrasi 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; dan 1 M Hasil -Diambil masing-masing 0,2 ml dan ditambah 1,8 ml aquades -Ditambahkan 3 ml reagen DNS -Dipanaskan ke dalam air mendidih selama 10 menit -Didinginkan pada air dingin selama 10 menit -Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm -Dibuat kurva standar glukosa (C glukosa vs A)

16 6 Metode Analisis C. Analisis Gula Pereduksi Supernatan -Diambil masing-masing 0,2 ml dan ditambah 1,8 ml aquades -Ditambahkan 3 ml reagen DNS -Dipanaskan ke dalam air mendidih selama 10 menit -Didinginkan pada air dingin selama 10 menit -Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm Hasil

17 Gambar 1. Hasil Regenerasi Kultur Campuran pada Media Padat Menunjukkan Koloni kultur campuran berwarna putih, permukaan rata.

18 Gambar 2. Bentuk Morfologi Kultur Campuran Dari hasil Foto mikroskopik dengan perbesaran 1000x, menunjukkan bahwa bakteri tersebut berbentuk batang atau bacil dengan ukuran yang berbeda, panjang dan pendek. Hal ini menunjukkan bahwa terbukti kultur campuran.

19 Lab. Mikrobiologi ITS Lab. Mikrobiologi Unair Bacillus cereus : Gram Positif, Fakultatif Anaerob Actinobacillus sp. : Gram Negatif, Fakultatif Anaerob Bacillus subtilis: Gram Positif, Fakultatif Anaerob Pseudomonas fluorescence : Gram Negatif, Aerob Hasil tersebut sesuai dengan (Holt et al., 1994) Hasil tersebut belum dapat ditentukan kebenarannya, sehingga harus diteliti secara biomolekular dengan Metode 16S RNA Berdasarkan data tersebut, yang memungkinkan berpotensi penghasil hidrogen adalah golongan Bacillus sp. yaitu Bacillus cereus (Patel et al., 2010, Kotay dan Das, 206)

20 Densitas Optik (nm) Fase log Fase stasioner Fase kematian Waktu (jam) Gambar 4. Kurva Pertumbuhan selama Fermentasi Adanya pertumbuhan sel selama fermentasi menunjukkan substrat yang digunakan tidak dikonversikan menjadi H 2 secara maksimal

21 Metabolisme Pemecahan Glukosa Berdasarkan data identifikasi strain, Golongan Bacillus sp. Seperti Bacillus cereus, Bacillus subtilis dan Actinobacillus sp. melakukan pemecahan glukosa melalui jalur EMP (Embden- Mayerhoff). Sedangkan dan Pseudomonas fluorescence melakukan pemecahan glukosa melalui jalur ED (Entner- Doudoroff) (Kim dan Gad, 2008). Bakteri penghasil H 2 biasanya bersifat fakultatif anaerob, sehingga data identifikasi dari ITS yang digunakan dalam penelitian ini. Reaksi produksi H 2 : Piruvat + CoA + 2Fd(oks) Asetil-CoA + 2Fd(red) + CO 2 2H + + 2Fd(red) + enzim hidrogenase H 2 + Fd(oks) Produk akhir : C 6 H 12 O H 2 O 2 CH 3 COOH + 2 CO H 2 C 6 H 12 O 6 CH 3 CH 2 CH 2 COOH + 2 CO H 2

22 Produksi Gas Gambar 5. Kondisi media dan indikator saat terbentuknya gas Produksi gas dimulai pada jam ke- 13 dan optimum pada jam ke-20 dengan jumlah gelembung pada indikator mencapai 11x/menit ph akhir sebesar 4. Hal ini disebabkan terbentuknya asam-asam organik Volume gas yang dihasilkan sebanyak 970 ml Uji kualitatif dengan Hydrogen sensor terbukti bahwa terbentuk gas H 2

23 Hasil Analisis H 2 Gambar 6. Kromatogram hasil analisis H 2 Hidrogen muncul pada waktu retensi 1,08 menit dengan luas peak 2,22x10-4. Kadar H 2 yang dihasilkan yaitu sebesar 13,3 % sehingga H 2 kumulatif sebanyak 148,41 ml.

24 Kultur campuran yang digunakan dapat menghasilkan biohidrogen. Uji kuantitatif dengan GC-TCD, kadar H 2 yang dihasilkan yaitu sebesar 13,3 % sehingga H 2 kumulatif sebanyak 148,41 ml. Strain yang berpengaruh dalam produksi H 2 adalah Bacillus cereus.

25 TERIMA KASIH

Kembang gula Bagian 2: Lunak

Kembang gula Bagian 2: Lunak Standar Nasional Indonesia Kembang gula Bagian 2: Lunak ICS 67.180.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3 Komposisi...

Lebih terperinci

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM OLEH : KELOMPOK I Oleh : Kelompok 1 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MATARAN MATARAM 2012 2 3 KATA

Lebih terperinci

Berikut daftar alat-alat mikrobiologi yang perlu dikenal: Alat-alat elektrik. Mikroskop cahaya. Mikroskop stereo. Autoklaf elektrik.

Berikut daftar alat-alat mikrobiologi yang perlu dikenal: Alat-alat elektrik. Mikroskop cahaya. Mikroskop stereo. Autoklaf elektrik. Berikut daftar alat-alat mikrobiologi yang perlu dikenal: Alat-alat elektrik Mikroskop cahaya Mikroskop stereo Autoklaf elektrik Incubator Hot plate & stirrer Colony counter Biological Safety Cabinet (BSC)

Lebih terperinci

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1 TUJUAN 1. Mahasiswa mengenal alat-alat sederhana yang umum dipergunakan dalam laboratorium kimia. 2. Mahasiswa memahami kegunaan serta cara menggunakan secara benar alat-alat laboratorium kimia. Beberapa

Lebih terperinci

DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) SISTEM HETEROTROFIK

DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) SISTEM HETEROTROFIK DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) SISTEM HETEROTROFIK MUHIB RADHIYUFA PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS

Lebih terperinci

APPENDIX A LEMBAR PENGENDALIAN MUTU (CHECKSHEET) 1. Bahan Baku dan Bahan Pembantu: a. Udang Windu No : Tanggal : Penerima : Supplier :

APPENDIX A LEMBAR PENGENDALIAN MUTU (CHECKSHEET) 1. Bahan Baku dan Bahan Pembantu: a. Udang Windu No : Tanggal : Penerima : Supplier : PPENIX LEMR PENGENLIN MUTU (HEKSHEET) 1. ahan aku dan ahan Pembantu: a. Udang Windu Penerima : Supplier : a. Fisik Tubuh antar ruas kokoh Warna cemerlang sesuai warna asli au spesifik udang segar Tidak

Lebih terperinci

Analisis Jumlah Bakteri dan Keberadaan Escherichia coli pada Pengolahan Ikan Teri Nasi di PT. Kelola Mina Laut Unit Sumenep

Analisis Jumlah Bakteri dan Keberadaan Escherichia coli pada Pengolahan Ikan Teri Nasi di PT. Kelola Mina Laut Unit Sumenep Analisis Jumlah Bakteri dan Keberadaan Escherichia coli pada Pengolahan Ikan Teri Nasi di PT. Kelola Mina Laut Unit Sumenep Raden Faridz 1, Hafiluddin 2 dan Mega Anshari 3 1. Dosen Jurusan Teknologi Industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bakteri Kerusakan bahan pangan dapat disebabkan oleh faktor faktor sebagai berikut : pertumbuhan dan aktivitas mikroba terutama bakteri, kapang, khamir, aktivitas enzim enzim

Lebih terperinci

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1E03-04DBK

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1E03-04DBK MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL 04DBK SUMBER KONTAMINASI DAN TEKNIK SANITASI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH

Lebih terperinci

Analisis Ambang Batas Escherichia coli Sebagai Indikator Pencemaran Pada Daging Sapi di Rumah Pemotongan Hewan Kota Jambi

Analisis Ambang Batas Escherichia coli Sebagai Indikator Pencemaran Pada Daging Sapi di Rumah Pemotongan Hewan Kota Jambi Biospecies, Volume 5 No.1, Februari 2012, hlm 14-21 Analisis Ambang Batas Escherichia coli Sebagai Indikator Pencemaran Pada Daging Sapi di Rumah Pemotongan Hewan Kota Jambi (The Analiysis of Escherichia

Lebih terperinci

PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN

PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN TUGAS AKHIR disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Program Studi Teknik Kimia Oleh A. Amar Mualimin

Lebih terperinci

Topik B1 - Penilaian Sifat fisik, kimia, dan biologi tanah gambut

Topik B1 - Penilaian Sifat fisik, kimia, dan biologi tanah gambut Topik B1 - Penilaian Sifat fisik, kimia, dan biologi tanah gambut 1 Bahan presentasi ini mencakup: Penilaian sifat fisik, kimia, dan biologi tanah gambut Pengambilan contoh tanah gambut di lapang untuk

Lebih terperinci

PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA

PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA BAHAN AJAR SISWA PENGUJIAN BAHAN BAKAR NABATI (BBN) Disusun oleh: Niamul Huda, ST., M.Pd Linda Dwinanada, S.Pd., M.Si Didukungi oleh: TEACHING BIOMASS TECHNOLOGIES

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG CARA PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG CARA PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG CARA PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Tentang Air 2.1.1 Sifat kimia dan fisika air Nama Sistematis Nama Alternatif Rumus Molekul Massa Molar Densitas dan Fase Titik Lebur Titik Didih : air : aqua, dihidrogenmonoksida,

Lebih terperinci

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 Disusun oleh FERIA TIA AGUSTINA M0301024 SKRIPSI Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan

Lebih terperinci

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA KADAR NH KADAR 3 DAN NH CH 3 4 DAN SERTA CH 4 CO SERTA 2 DARI COPETERNAKAN 2 DARI PETERNAKAN BROILER PADA KONDISI BROILER LINGKUNGAN PADA KONDISI DAN LINGKUNGAN MANAJEMEN YANG PETERNAKAN BERBEDA YANG DI

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Bahan pakan sumber protein di Indonesia sangat banyak macamnya dan beragam kualitasnya. Untuk menyusun satu macam ransum biasanya digunakan beberapa macam bahan. Bila dilihat

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS KURSUS KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA

PETUNJUK TEKNIS KURSUS KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA PETUNJUK TEKNIS KURSUS KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA PENGANTAR Satu tujuan penting pembelajaran ilmu kimia bagi mahasiswa dari berbagai disipilin ilmu sains pada kursus keselamatan di laboratorium

Lebih terperinci

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL JUDUL PENELITIAN UJI LABORATORIUM SIFAT-SIFAT LIMBAH ORGANIK DAN MEKANISME REMEDIASI AIR ASAM TAMBANG OLEH DR. IR. RIWANDI, MS. IR. ALI MUNAWAR,

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

Uji Beda Kadar Alkohol Pada Tape Beras, Ketan Hitam Dan Singkong

Uji Beda Kadar Alkohol Pada Tape Beras, Ketan Hitam Dan Singkong Jurnal Teknika Vol 6 No 1, Tahun 014 531 Uji Beda Kadar Alkohol Pada Beras, Ketan Hitam Dan Singkong Cicik Herlina Yulianti 1 1) Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Alkohol banyak

Lebih terperinci

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA SUPLEMEN UNIT 1 KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA Mintohari Suryanti Wahono Widodo PENDAHULUAN Dalam modul Pembelajaran IPA Unit 1, Anda telah mempelajari hakikat IPA dan pembelajarannya. Hakikat IPA terdiri

Lebih terperinci

Komposisi Jenis, Kerapatan, Persen Penutupan dan Luas Penutupan Lamun di Perairan Pulau Panjang Tahun 1990 2010

Komposisi Jenis, Kerapatan, Persen Penutupan dan Luas Penutupan Lamun di Perairan Pulau Panjang Tahun 1990 2010 Komposisi Jenis, Kerapatan, Persen Penutupan dan Luas Penutupan Lamun di Perairan Pulau Panjang Tahun 1990 2010 MUHAMMAD ISMAIL SAKARUDDIN SKRIPSI DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN

Lebih terperinci

PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA

PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA Yessy Meisrilestari* ), Rahmat Khomaini, Hesti Wijayanti Progam Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1C03-04DBK

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1C03-04DBK MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL 04DBK KUALITAS AIR DAN KEGUNAANNYA DI BIDANG PERTANIAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Program Keahlian : TEKNIK ENERGI TERBARUKAN (1.18) Paket Keahlian : TEKNIK ENERGI BIOMASSA (062) Mata Pelajaran : BAHAN BAKAR NABATI BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Disusun:

Lebih terperinci

Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch

Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch Gede Suantika 1), Pingkan Adityawati 2), Dea Indriani Astuti 2), dan Yusup Sofyan 1) 1) Kelompok

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci