PENERAPAN STRATEGI BRAIN BASED LEARNING YANG DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENERAPAN STRATEGI BRAIN BASED LEARNING YANG DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI"

Transkripsi

1 PENERAPAN STRATEGI BRAIN BASED LEARNING YANG DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI Ulfa Luthfiana Al Azzy*, Eddy Budiono** Universitas Negeri Malang ABSTRACT : The purpose of this research is knowing some actions which is appropriate to Brain Based Learning strategies to activate the left and the right brain of students so that students can improve their higher-order thinking skills in learning mathematics VII class SMP Brawijaya Smart School Malang. The subjects of this research is students of class VII C SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang and the object of this study is the overall activities of teachers and students in teaching and learning mathematics through application of Brain Based Learning strategy. Data are collected using student and teacher activities observation sheets, and higher order thinking skills assessment observation sheet of students. This research use research Classroom Action Research (CAR). The results: teacher s actions such as explanations, instruction, questioning, giving instructional media, and giving rewards. Moreover, those actions can increase the students' higher order thinking skills. At the first observation there are only eight students who have the higher order thinking skills, it show that who have higher order thinking skills in the class is low category. Then students who have the higher order thinking skills are increase become eleven students in first cycle, and still have low category. And then sixteen students have higher order thinking skill in the second cycle, it means they get middle category. Kata kunci: Brain Based Learning, Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Confisius seorang filusuf dari China dalam Corpuz dan Salandanan (2003: 11) mengemukakan suatu prinsip yang menarik dalam dunia pendidikan, bahwasanya ada 3 slogan seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran yaitu, What I hear, I forget; What I see, I remember; dan What I do, I understand. Hal ini berarti ketika kita belajar dengan mempraktekkan do maka kita akan mengerti tentang apa yang kita pelajari, karena kita terlibat dalam berbagai proses berfikir. Sejalan dengan tujuan pembelajaran Matematika yaitu untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (BSNP, 2006), yang berarti menuntut siswa menggunakan keterampilan berpikirnya. Keterlibatan kita dalam berbagai proses berpikir berarti kita harus mengusai keterampilan berpikir dari tingkat rendah (Lower Odrder Thinking Skill - LOTS) sampai keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill - HOTS). LOTS adalah keterampilan berpikir yang hanya menuntut seseorang untuk mengingat, memahami dan mengaplikasikan sesuatu rumus atau hukum (A. Thomas & G. Thorne dalam gunawan, 2008). Sedangkan HOTS adalah keterampilan yang lebih dari sekedar mengingat, memahami dan mengaplikasikan (Rosnawati, 2005). *) Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Jurusan Matematika, Prodi Pendidikan Matematika **) Drs. Eddy Budiono, M.Pd. Dosen Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang 1

2 Berarti dalam menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi seseorang harus berpikir lebih dari sekedar mengingat, memahami dan mengaplikasikan rumus saja. Dalam suatu proses pembelajaran Matematika jika seorang anak menggunakan keterampilan berpikir tingkat tingginya maka pembelajaran tersebut akan menjadi pembelajaran yang bermakna. Karena anak tidak hanya harus mengingat dan menghafal rumus yang banyak ditemui pada pelajaran ini, tetapi anak juga harus mampu memecahkan suatu masalah dengan menggunakan rumusrumus tersebut. Secara langsung maupun tidak langsung anak akan lebih paham kegunaan dari rumus tersebut dalam kehidupan sehari-harinya, hal inilah yang membuat pelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan begitu anak juga tidak akan mudah lupa terhadap rumus dan konsep Matematika. Namun, banyak pembelajaran Matematika dikelas yang belum memanfaatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, hal ini mendorong peneliti untuk mengadakan observasi awal di kelas VII C SMP Brawijaya Smart School dengan memberikan soal yang menuntut siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tingginya. Dari hasil observasi didapat 8 siswa atau 22% dari 36 siswa yang mempunyai keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal ini diduga karena Guru jarang memberikan soal yang menuntut siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Untuk mengatasi hal itu peneliti menempuh cara memberikan soal yang menuntut siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun, Perlu dipahami bahwa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, guru perlu mamahami kerja alami otak siswa untuk menentukan metode belajar yang akan dipilih. Oleh karena itu peneliti menggunakan strategi Brain based learning. Brain based learning adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah untuk belajar (Kotchabakdi, 2005). Sedangkan pelaksanaanya sendiri menggunakan strategi Brain Based Learning dengan mengaktifkan kerja otak kanan dan otak kiri siswa. Selanjutnya Awolola (2011) mengungkapkan bahwa Brain Based Learning adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru sebagai fasilitator yang berperan mendukung kognitiv siswa. Hal ini berarti dalam Brain Based Learning ditekankan kepada student center. Terdapat 3 strategi utama yang dapat dikembangkan dalam penerapan strategi brain based learning, yaitu: menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yaitu suatu studi sistematis terhadap praktik pembelajaran di kelas yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas dengan melakukan tindakan yang berupa penerapan strategi Brain Based Learning. Menurut Arikunto (2006: 94), PTK dilakukan untuk meningkatkan efektivitas metode mengajar, pemberian tugas kepada siswa, dan penilaian siswa. 2

3 Keunggulan PTK adalah peneliti sebagai subjek yang melakukan tindakan, mengamati, sekaligus merefleksikan hasil pengalaman selama melakukan tindakan. Tentu lama kelamaan akan terjadi perubahan dalam diri menjadi suatu kebiasaan untuk mengevaluasi diri. Penelitian tindakan kelas ini merupakan upaya proaktif guru beserta komponen fasilitator pendidikan di kelas untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Kehadiran peneliti mutlak diperlukan. Kedudukan peneliti dalam penelitian ini bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analisator, penafsir data dan sebagai pelapor hasil penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang, yang beralamat di Jalan Cipayung 8 Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII C SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang dan objek penelitian ini adalah keseluruhan kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan penerapan strategi Brain Based Learning. Data yang dikumpulkan berupa: 1) lembar observasi pelaksanaan Brain Based Learning kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran, 2) lembar observasi keterampilan berpikir tingkat tinggi yang digunakan untuk mengetahui hasil keterampilan berpikir yang digunakan siswa, serta 3) foto dan video untuk merekam kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Sedangkan instrumen penelitian berupa lembar observasi, perangkat pembelajaran, penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan dokumentasi. Dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh 4 observer yang telah ditentukan tugasnya serta seorang juru kamera yang khusus mengambil video maupun foto kegiatan guru. Setelah data didapat dari lapangan, langkah selanjutnya adalah analisis data. Teknik analisis data yang digunakan adalah (1) kategori data, (2) validasi data, dan (3) Interpretasi data. Penelitian dilakukan dengan 2 siklus, setiap siklus terdapat 2 kali tatap muka. Setiap siklus terdapat 4 tahap penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Mc Taggart, yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi. Keberhasilan penelitian tindakan ini ditandai dengan adanya peningkatan keterampilan berpikir siswa kearah yang lebih baik. Target peneliti adalah 40% dari jumlah keseluruhan siswa mempunyai keterampilan berpikir tingkat tinggi. Jika dikategorikan maka peneliti menargetkan dari tingkat rendah ke tingkat sedang. Tabel Penentuan Kategori Keberhasilan Penelitian Banyak siswa Presentase (%) Kategori Tinggi Sedang Rendah Penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dilakukan dengan menggunakan pedoman atau rubrik yang telah disusun oleh peneliti. Kemudian rubrik ini akan digunakan oleh para observer untuk membantu peneliti dalam melakukan penilain keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. 3

4 Tabel Rubrik Penilaian Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Skor Kriteria Skala 1 : Menganalisa permasalahan (C4) 4 Analisa (memeriksa dan mengurai informasi, memilah sebab dan akibat, mengambil kesimpulan dan melakukan generalisasi serta menemukan alasan yang mendukungnya) yang dilakukan masuk akal dan mengarah ke jawaban yang tepat 3 Analisa (memeriksa dan mengurai informasi, memilah sebab dan akibat, mengambil kesimpulan dan melakukan generalisasi serta menemukan alasan yang mendukungnya) yang dilakukan masuk akal tetapi mengarah ke jawaban kurang tepat 2 Analisa (memeriksa dan mengurai informasi, memilah sebab dan akibat, mengambil kesimpulan dan melakukan generalisasi serta menemukan alasan yang mendukungnya)yang dilakukan tidak masuk akal 1 Tidak mampu melakukan analisa sama sekali Skala 2 : Mengevaluasi (C5) 4 Mampu mengkritisi, memutuskan, mengevaluasi, menilai, membuktikan, menyangkal, atau mendukung (suatu gagasan) dengan tepat 3 Kurang mampu mengkritisi, memutuskan, mengevaluasi, menilai, membuktikan, menyangkal, atau mendukung (suatu gagasan) dengan tepat 2 Tidak mampu, mengkritisi, memutuskan, mengevaluasi, menilai, membuktikan, menyangkal, atau mendukung (suatu gagasan) dengan tepat 1 Tidak mampu mengkritisi, memutuskan, mengevaluasi, menilai, membuktikan, menyangkal, atau mendukung (suatu gagasan) sama sekali Skala 3: Mencipta (C6) 4 Mampu menciptakan karya yang orisinil atau memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu yang utuh, koheren, dan baru 3 Mampu menciptakan karya yang kurang orisinil atau memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu yang utuh, koheren, dan baru 2 Mampu menciptakan karya tetapi tidak orisinil atau memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu yang utuh, koheren, dan baru 1 Tidak mampu menciptakan karya apapun HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil temuan penelitian keseluruhan yang diperoleh dari temuan siklus 1 dan siklus 2, peneliti akan menjabarkan tindakan-tindakan yang bagaimana sehingga siswa dapat mempunyai bahkan meningkatkan keterampilan tingkat tinginya. Untuk itu peneliti membagi tindakan-tindakan dalam 5 poin yang meliputi, menjelaskan, memberi instruksi, bertanya, memberi media pembelajaran dan memberi penghargaan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing poin. Tindakan pertama yaitu menjelaskan, menjelaskan adalah menerangkan; menguraikan secara terang (KBBI online, ). Beberapa tindakan menjelaskan dilakukan pada beberapa kegiatan pembelajaran. Diataranya adalah kegiatan (1) menyampaikan tujuan pembelajaran; (2) apersepsi; dan (3) menyampaikan materi inti. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut. Kegiatan pertama adalah penyampaian tujuan belajar. Dari hasil analisis pada bab 4 dapat diungkapkan bahwa penjelasan atau penyampaian tujuan pembelajaran yang disampaikan dengan bantuan slide power point lebih efektif 4

5 dari pada hanya melalui lisan. Hal ini disebabkan karena dengan slide power point yang posisinya ditempatkan di depan dengan sudut pandangnya dapat dijangkau oleh setiap siswa dan tidak terhalang oleh apapun serta warna yang cerah sebagai stimulus yang diterima oleh indera penglihatan selanjutnya diproses oleh otak kanan. Siswa juga diharuskan untuk mendengarkan penjelasan guru secara verbal, dimana stimulus verbal ini akan di proses di otak kiri. Penyeimbangan kerja otak kanan dan kiri ini membuat tujuan pembelajaran dapat ditangkap dengan baik oleh siswa. Kegiatan kedua adalah kegiatan apersepsi. Pada siklus 1 peneliti mengambil tindakan untuk menjelaskan dengan cara demonstrasi menggunakan alat demonstrasi berupa bintang berwarna yang terbuat dari kertas dan juga gelas bening. Sebenarnya alat demonstrasi ini cukup efektif untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang materi irisan dan gabungan himpunan, dikarenakan alat demonstrasi berupa bintang ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Hal ini memudahkan asimilasi kognitif siswa. Asimilasi termasuk dalam teori kognitif Piaget, yaitu proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada (Wikipedia, 2013). Namun alat demonstrasi yang ukurannya kecil menjadi penyebab siswa bagian belakang tidak dapat melihat dengan jelas demonstrasi yang dilakukan oleh guru, dalam hal ini peneliti. Oleh karena itu, pada siklus 2 peneliti mengubah strategi menjelaskan dengan bercerita menggunakan gambar karikatur yang disajikan pada slide power point. Penggunaan slide power point ini memang lebih efektif dan mudah. Sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya tentang kelebihan menggunakan slide power point yang dapat menyeimbangkan kerja otak kanan dan otak kiri, pada tahap apersepsi ini peneliti juga menyajikan gambar karikatur yang lucu serta pemberian nama karakter yang menggunakan nama siswa dalam kelas tersebut. Hal ini membuat siswa merasa senang dengan melihat gambar yang lucu. Siswa juga merasa dirinya terlibat dalam masalah yang diajukan oleh guru untuk memahamkan materi pembelajaran. Sehingga siswa lebih tertarik untuk melihat dan mendengarkan penjelasan guru. Dengan menggunakan slide, berarti kita telah menggunakan gambar, warna, dan emosi tertentu, hal ini otomatis mengaktifkan otak kanan anak (Lucy dan Rizky, 2012). Kegiatan yang ketiga adalah menjelaskan materi inti. Ketika seseorang memperoleh materi baru dalam pelajaran matematika, tentu ada beberapa istilah yang asing dan perlu untuk dihafal. Oleh karena itu guru perlu untuk menjelaskan dengan menekankan istilah penting. Penekanan istilah penting ini bertujuan untuk memperkuat daya ingat siswa. Mengingat dengan menggunakan otak kiri akan menyebabkan anak mudah lupa dan belajar menjadi tidak menyenangkan (Windura, 2008: 87). Oleh karena itu peneliti mengambil tindakan untuk menerapkan hukum asosiasi ingatan, yaitu suatu hukum atau cara untuk mengaitkan suatu informasi dengan informasi yang sudah ada di dalam otak siswa sebelumnya. Disini peneliti mengasosiasikan simbol irisan dengan huruf n serta 5

6 gabungan dengan huruf U. Tindakan peneliti untuk mengasosiasikan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada ini membuat siswa mudah dalam mengingat simbol operasi himpunan. Tindakan yang kedua adalah memberi instruksi. Instruksi yang diberikan oleh peneliti diterapkan dalam beberapa kegiatan. Adapun beberapa kegiatan yang akan dibahas diantaranya adalah (1) persiapan belajar dan (2) membentuk kelompok. Kegiatan pertama yaitu persiapan belajar. Persiapan belajar yang dilakukan pada penelitian ini lebih bersifat brain gym. Pada kegiatan persiapan pembelajaran, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu metode visualisasi, metode relaksasi, dan metode membangkitkan emosi (Windura, 2008). Namun, dalam penelitian ini peneliti mengambil tindakan untuk menerapkan metode visualisasi dan membangkitkan emosi. Metode visualisasi diterapkan peneliti pada siklus 1 pertemuan 1. Sedangkan metode membangkitkan emosi diterapkan pada siklus 1 pertemuan 2 dan siklus 2 pertemuan 1-2. Pengambilan tindakan peneliti untuk menggunakan metode membangkitkan emosi ini dikarenakan pada waktu peneliti menerapkan metode visualisasi pada siklus 1 pertemuan 1 menemui kendala, yaitu kurang terfokusnya siswa terhadap instruksi guru. Beberapa siswa tidak mau menutup mata seperti yang telah diinstruksikan guru. Instruksi menutup mata ini merupakan serangkaian instruksi metode visualisasi. Berikut antisipasi yang dilakukan ketika siswa kurang terfokus terhadap instruksi guru kepada siswanya untuk menutup mata, dicuplik dari video rekaman. Guru : (diam sejenak menghentikan instruksi) sudah-sudah... Tenang dulu ya anak-anak... (Salah satu siswa yang merasa konsentrasinya terganggu berteriak sambil memejamkan mata) Sunita : heh rek diam rek! Guru Siswa Guru : Sekarang yang belum tutup mata saya minta untuk menutup mata ya... : (sebagian siswa sudah bisa diam dan mau menutup matanya) : (melanjutkan instruksi) langkah berikutnya adalah ambil napas panjang lewat mulut dan hembuskan lewat mulut perlahan. Untuk mengatasi hal ini guru mengambil tindakan untuk mengubah metode persiapan belajar dari metode visualisasi ke metode membangkitkan emosi yang dilakukan dengan gerak tubuh atau menggambar. Kegiatan kedua pada tindakan memberi instruksi adalah membentuk kelompok. Pada siklus 1 peneliti menginstruksikan pembentukan kelompok dilakukan dengan sesuka hati oleh siswa, ternyata tindakan ini memberikan dampak positif maupun kurang positif. Dampak positifnya adalah siswa menjadi lebih nyaman dengan teman sekelompoknya karena merupakan pilihan mereka sendiri. Namun dampak yang kurang positifnya adalah terdapat satu kelompok 6

7 yang semua anggotanya tidak memilki keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penilaian observer pada siklus 1, yang memberikan total skor kurang dari 9 pada semua anggota kelompok 1. Sehingga kelompok tersebut menjadi pasif. Hal ini segera diatasi oleh peneliti dengan membentuk kelompok heterogen pada siklus 2. Namun dalam pelaksanaanya ada sedikit respon kontra dari siswa, namun hal ini segera ditindak lanjuti oleh peneliti dengan memberi pendekatan dan pengertian secara individual kepada siswa yang bermasalah dengan teman kelompok yang baru. Berikut percakapan guru untuk memberi pendekatan.... Siswa : bu, kelompok saya kok dipecah sih? Guru : gak apa-apa... kan ilmu itu harus dibagi-bagi... iya kan? Siswa : berarti saya pinter ya bu ya? Guru : (tersenyum sambil mengelus pundak siswa) iya Dengan adanya siswa yang mempunyai keterampilan berpikir tingkat tinggi pada setiap kelompok, membuat setiap kelompok menjadi lebih aktif dan semua siswa dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tingginya. Pada intinya pembentukan kelompok heterogen sangat diperlukan dalam pembelajaran kooperatif. Tindakan ketiga adalah bertanya. Dengan bertanya, guru dapat mengetahui ketrampilan berpikir yang digunakan siswa. Selain itu bertanya juga berfungsi untuk memberi bimbingan kepada siswa untuk menemukan solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Pertanyaan dari guru yang diungkapkan secara verbal berupa bahasa akan diproses di otak belahan/hemisfer kiri yang akan menghasilkan logika, setelah otak kiri mampu melogika pertanyaan guru, maka otak kanan akan bertugas membangun ide atau gagasan untuk menjawab pertanyaan guru. Tidak semua jenis pertanyaan dapat diproses di kedua hemisfer otak, hanya pertanyaan-pertanyaan yang menuntut anak membangun ide atau gagasan saja yang dapat diproses di kedua hemisfer otak. Contoh pertanyaan guru yang menuntut siswa membengun ide atau gagasannya yang dicuplik dari percakapan guru dan siswa yang direkam dengan video. Guru : berarti A A C sama dengan apa? Siswa : tidak ada Guru : lambangnya apa kalau gitu? Siswa : himpunan kosong (sambil menuliskan ) Guru : iya bagus, pinter... Lanjutkan untuk himpunan B dan C. Siswa : (mengerjakan dengan cepat) Guru : apa hasilnya? Siswa : himpunan kosong semua bu! Guru : iya... jadi apa kesimpulan kalian? Siswa : jadi yang dihasilkan adalah himpunan yang sama, himpunan kosong. 7

8 Tindakan yang keempat yaitu memberi media pembelajaran. Media pembelajaran menurut Rossi dan Breidle (dalam Wina Sanjaya, 2008: 163) adalah seluruh alat dan bahanyang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Dengan demikian LKS dalam penelitian ini termasuk ke dalam media pembelajaran. LKS pada penelitian ini disertai kertas kecil berwarna sebagai alat demonstrasi pelengkap LKS dan juga untuk membantu proses berikir siswa. Dengan menggunakan kertas berwarna maka akan mengaktifkan otak kanan siswa. Disamping itu siswa harus menganalisa, mengevaluasi maupun mencipta menurut permasalahan yang diajukan pada LKS. Dengan begitu pemberian media kertas kecil kepada siswa dapat memudahkan siswa dalam memahami materi, karena dengan menggunakan warna akan merangsang otak kanan dan kiri bekerja secara seimbang. Hanya saja pada siklus 1 siswa kurang dapat mendemonstrasikan secara mandiri karena keterbatasan waktu. Hal ini segera diatasi peneliti pada siklus kedua dengan mengubah cara demonstrasi secara lisan oleh siswa dengan menggambar. Kekurangan pada siklus 1 selanjutnya yang didapat dari pengamatan observer adalah pemberian LKS yang hanya 1 pada tiap kelompok. Hal ini membuat anggota kelompok lain hanya melihat saja. Namun pada siklus 2 sesuai dengan hasil refleksi, peneliti juga telah memberikan 1 LKS untuk setiap siswa. Dan hasilnya dengan diberikannya 1 LKS untuk setiap siswa membuat semua siswa termotivasi untuk dapat mengerjakan setiap permasalahan yang ada. Sehingga keterampilan berpikir tingkat tinggi pada kelas tersebut meningkat. Tindakan kelima yaitu memberi penghargaan atau pujian. Dampak dari pemberian pujian ini juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Dengan memberikan pujian, siswa merasa kerja kerasnya dihargai dan siswa akan berusaha serta terus mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sehingga keterampilan berpikir tingkat tingginya meningkat. Contoh bentuk pemberian pujian diantaranya, iya bagus, pinter... Lanjutkan untuk himpunan B dan C, bagus... iya kalian sudah betul, mengacungkan jempol tangan, dan lainlain. Dengan diberikannya pujian siswa menjadi bersemangat dan dapat mengerjakan dengan cepat permasalahan yang dihadapinya. Sehingga siswa dapat mengerjakan permasalahan menganalisa, mengevaluasi maupun mencipta. Selain pujian, penghargaan bisa juga diberikan dalam bentuk barang seperti yang telah dilakukan peneliti pada akhir siklus 2. Sekecil apapun penghargaan yang diberikan oleh guru menjadikan siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. Pemberian penghargaan juga bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat siswa yang sudah mulai lelah karena mengerjakan soal berpikir tingkat tinggi (Higher Level Questions), dimana soal yang mereka hadapi memang membutuhkan energi dan pikiran yang lebih dari biasanya. Selain itu dengan diberikannya penghargaan membuat siswa menjadi merasa lebih dihargai atas segala kerja keras yang telah mereka lakukan. Pada intinya dengan memberikan penghargaan kepada semua siswa membuat siswa merasa pekerjaan yang dilakukan tidak sia-sia dan memberikan dampak positif pada psikologi siswa. Dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan memberikan dampak peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Adapun peningkatannya adalah sebagi berikut. 8

9 Tabel Rekapitulasi Perbandingan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) Siswa Tahapan Banyak siswa yang mempunyai HOTS Persentase Banyak siswa yang mempunyai HOTS Kriteria Observasi 8 22% Rendah Siklus ke % Rendah Siklus ke % Sedang KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan tindakan-tindakan yang patut dipertimbangkan ketika menerapkan strategi Brain Based Learning dengan mengaktifkan otak kiri dan kanan sehingga siswa dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa pada pembelajaran Matematika kelas VII SMP Brawijaya Smart School Malang adalah sebagai berikut. a. Memberikan penjelasan dengan menggunakan media/ alat yang besar, dengan sudut pandang yang dapat dilihat oleh setiap siswa, menarik dan membuat siswa merasa terlibat dalam permasalahan yang diajukan guru. b. Memberikan instruksi yang membuat siswa dapat mengaktifkan otak kanannya dengan melakukan gerakan, menunjukkan kreativitas, menggambar, berimajinasi, dan lain-lain. Serta memberikan tindakan antisipasi jika siswa tidak melaksanakan instruksi yang diberikan guru. c. Memberikan pertanyaan yang menuntut siswa dapat mengkonstruksi pikirannya sehingga mereka dapat bekerja secara mandiri, dengan kata lain memberikan pertanyaan yang memunculkan ide/gagasan siswa. d. Memberikan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta dapat menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri siswa dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. e. Memberikan penghargaan berupa pujian maupun reward berupa benda konkrit kepada semua siswa. Hal ini akan membuat siswa merasa pekerjaan yang dilakukan tidak sia-sia dan memberikan dampak positif pada psikologi siswa. f. Dengan memberikan tindakan-tindakan seperti yang telah tersebut diatas memberikan dampak peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa kelasvii C SMP BSS Malang. Pada saat observasi awal hanya terdapat 8 siswa (22% - kategori rendah) yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal tersebut menunjukkan masih pada kategori rendah. Pada siklus 1 meningkat menjadi 11 siswa (30% - kategori rendah), dan pada siklus 2 meningkat lagi menjadi 16 siswa (44% - kategori sedang) yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi. Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini hanya berlaku sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu serta jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu masih diperlukan banyak perbaikan. Saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut. 9

10 1. Bagi peneliti, diharapkan terdapat kesempatan untuk melakukan penelitian pada lain waktu sehingga dapat memperbaiki kekurangankekurangan yang masih banyak dilakukan peneliti pada pelaksanaan penelitian ini. 2. Kepada pihak sekolah, diharapkan agar strategi Brain Based Learning ini dapat menjadi strategi pembelajaran alternatif yang digunakan di SMP Brawijaya Smart School dan dapat dilaksanakan secara bergantian dengan pendekatan atau model pembelajaran yang lain. Karena penerapan strategi Brain Based Learning ini dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. 3. Untuk dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa, hendaknya guru memberikan permasalahan tingkat tinggi pula pada materi pembelajaran yang lain. Setiap kali mengajar guru hendaknya mempertimbangkan stimulus otak kiri dan kanan untuk siswa secara seimbang. 4. Penelitian yang serupa hendaknya dilakukan pada pokok bahasan lain atau bahkan bidang studi lain yang mencakup aspek selain keterampilan berpikir tingkat tinggi. Karena penelitian dengan menggunakan strategi Brain Based Learning ini merupakan strategi pembelajaran yang fleksibel sehigga dapat diterapkan pada bidang yang lain. 10

11 DAFTAR RUJUKAN Arikunto, Suharsimi Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Awolola, Samuel Adejare Cypriot Journal of Educational Science: Effect if brain based learning strategy on student s achievement in senior secondary school mathematics in Oyo State, Nigeria. Pdf. (Online), (www.world-education-center.org/index.php/cjes). diakses 25 Oktober BSNP Pengembangan Penilaian. Jakarta: Depdiknas Corpuz, Brenda B. And Salandanan, Gloria G Prinsiples and Strategies of Taeching. Metro Manila: Lorimar Publishing Co., Inc. Ebta Setiawan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)-Kamus versi online/daring (dalam jaringan). (Online), (http://kbbi.web.id/), diakses 6 April 2013 Gunawan, Hendra Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam matematika SMP. Pdf. (Online), ( personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/files/2011/04/developing-higherorder-thinking-skills.pdf.), diakses 25 November Kotchabhakdi, Napich Brain Based Learning: From theories to Practice. (Online), (http://neuroscience.mahidol.ac.th/nbbc2009/nk_brainbasedlearni ng_jan2005a_english.pdf), diakses 26 Januari Lucy, Bunda dan Rizky, Ade Julius Dahsyatnya Brain Smart Teaching: Cara Super Jitu Optimalkan Kecerdasan Otak dan Prestasi Belajar Anak. Jakarta: Penebar Plus Rosnawati. (2005). Pembelajaran Matematika Yang Mengembangkan Berpikir Tingkat Tinggi. Makalah. Disampaikan dalam Seminar Nasional. Wikipedia.2012.Teori perkembangan kognitif. (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/teori_perkembangan_kognitif), diakses 7April 2013 Windura, Sutanto Brain Management Series For Learning Strategy Be An Absolute Genius!: panduan Praktis Learn How To Learn Sesuai Cara Kerja Alami Otak. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 11

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGELOLAAN USAHA JASA BOGA KELAS X JASA BOGA 2 SMK NEGERI 6 PALEMBANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI Arlita Agustina 1 Muakibatul Hasanah 2 Heri Suwignyo 2 Email: arlitaagustina@ymail.com

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN FARID AGUS SUSILO UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Jl. Ketintang Gedung D1, Surabaya 60231 Telp:+6231-8280009 pes 310 fax :+6231-8296427 Abstrak Sebagaimana

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT Welhelmus Denny SD Loce Kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat Abstrak:

Lebih terperinci

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN METODE PEMBELAJARAN Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi yang sudah direncanakan. Jenis metode pembelajaran : Ceramah : penyajian melalui penuturan secara lisan/penjelasan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana.

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS III SDK RANGGA KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Herman Yoseph Tagur SDK Rangga Lembor Manggarai

Lebih terperinci

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com Windarini, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Manipulatif, 1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD DAN MEDIA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B Pada Anak Kelompok B Anak Kelompok Aa MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B Dia Eka Cahyani Sri Setyowati PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA BAGAN GARIS WAKTU (TIME LINE CHART) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS V SD

PENGGUNAAN MEDIA BAGAN GARIS WAKTU (TIME LINE CHART) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS V SD PEGGUAA MEDIA BAGA GARIS WAKTU (TIME LIE CHART) UTUK MEIGKATKA HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARA IPS KELAS V SD Dini Yuli Mityasari PGSD, FIP, Universitas egeri Surabaya (diniyulimityasari@gmail.com)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Matematika

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Matematika UPAYA MENGATASI MISKONSEPSI SISWA MELALUI METODE PEMBELAJARAN DELIKAN (DENGAR, LIHAT, KERJAKAN) PADA SISWA KELAS VIII SEMESTER GENAP SMP MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 19 yang terdiri dari 8 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. SUBJEK PENELITIAN Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIIA MTs NU Tamrinut Thullab Undaan Lor Kudus tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis)

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) Fransiskus Gatot Iman Santoso Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 5 sebanyak 25 siswa, laki-laki sebnyak 13 anak dan perempuan sebanyak 12 anak. Jumlah

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES Indah Wahyu Ningrum 1), Suharno 2), Hasan Mahfud 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Slamet Riyadi No.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

ISSN 2252-9063. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI) Volume 2, Nomor 6, Agustus 2013

ISSN 2252-9063. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI) Volume 2, Nomor 6, Agustus 2013 Penerapan Model Pembelajaran PDEODE (Predict Discuss Explain Observe Discuss Explain) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknologi Informasi dan Komunika (Studi Kasus : Kelas VII D SMP Negeri 3 Singaraja

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 Metro. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Strategi Pemecahan Masalah bidang studi Matematika ini ditujukan untuk para pengajar bidang studi Matematika sebagai alternatif

Lebih terperinci

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO Retno Wandhira dan Madewi Mulyanratna Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya

Lebih terperinci

SKRIPSI PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE SISWA KELAS IV SD 1 RENDENG KUDUS TAHUN PELAJARAN 2013/2014.

SKRIPSI PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE SISWA KELAS IV SD 1 RENDENG KUDUS TAHUN PELAJARAN 2013/2014. SKRIPSI PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE SISWA KELAS IV SD 1 RENDENG KUDUS TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh DIAN ANDINI PUTRI NIM. 200933131 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar dipahami oleh Peserta didik, sebab materi tersebut merupakan materi yang sangat dasar yang

Lebih terperinci

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Fadjar Shadiq, M.App.Sc (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com) Peran guru matematika sangat penting. Guru matematika akan sangat

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 100 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 03 Singosari Malang Motivasi belajar merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses belajar mengajar. Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian

Lebih terperinci

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si ARTIKEL Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

5 25% BAB I PENDAHULUAN

5 25% BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekarang ini banyak orang menyebutkan abad melenium. Pada masa ini menuntut penguasaan teknologi adalah kebutuhan mutlak. Bahkan kita dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

ARTIKEL ILMIAH MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS V SD N 99/I BENTENG RENDAH

ARTIKEL ILMIAH MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS V SD N 99/I BENTENG RENDAH ARTIKEL ILMIAH MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS V SD N 99/I BENTENG RENDAH KABUPATEN BATANGHARI Oleh: ERNAWATI NIM : A1D109166

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE BENAR ATAU SALAH BESERTA ALASAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN KOLOID DI KELAS XI IPA SMA MUHAMMADIYAH 1 PEKANBARU Dewi Indriani, Miharty,

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN FISIK DAN PENGARUH TERHADAP DARATAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CTL PADA KELAS IV SD

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN FISIK DAN PENGARUH TERHADAP DARATAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CTL PADA KELAS IV SD MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN FISIK DAN PENGARUH TERHADAP DARATAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CTL PADA KELAS IV SD Oleh SRI RAHAYU NIM. 200933052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V/2 SD 2 WERGU KULON KUDUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V/2 SD 2 WERGU KULON KUDUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013 PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V/2 SD 2 WERGU KULON KUDUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh SRI HARTATIK 2009-33-171 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH

Lebih terperinci

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA OPERASI PERKALIAN DAN PEMBAGIAN MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD 3 NGEMBALREJO

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA OPERASI PERKALIAN DAN PEMBAGIAN MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD 3 NGEMBALREJO PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA OPERASI PERKALIAN DAN PEMBAGIAN MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD 3 NGEMBALREJO Oleh FATIMATUZ ZAHRO NIM. 200933169 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI KONSEP BILANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBERIAN TUGAS MELALUI MEDIA POHON BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK A DI TK AVICENNA SURABAYA Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta)

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta) UPAYA MENINGKATKAN MINAT DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN QUESTION STUDENT HAVE PADA POKOKK BAHASAN LINGKARAN (PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta)

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN Riyadi Wahyu S 1), Ngadino Y 2), Joko Daryanto 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jalan Slamet Riyadi

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT STUDI LANJUT KE SMK MELALUI LAYANAN INFORMASI KARIER BERBASIS WEB SISWA KELAS VIII H SMP 5 KUDUS

UPAYA MENINGKATKAN MINAT STUDI LANJUT KE SMK MELALUI LAYANAN INFORMASI KARIER BERBASIS WEB SISWA KELAS VIII H SMP 5 KUDUS UPAYA MENINGKATKAN MINAT STUDI LANJUT KE SMK MELALUI LAYANAN INFORMASI KARIER BERBASIS WEB SISWA KELAS VIII H SMP 5 KUDUS Oleh ROSHALIA JUNI ARTI NIM. 201031143 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

Selvia Rosalina Pembimbing: Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd

Selvia Rosalina Pembimbing: Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI KELAS VIII B DI SMP NEGERI 1 KEJAYAN KABUPATEN PASURUAN

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. MULAI. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN

PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. MULAI. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. ALUR PROSES /FLOWCHART PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN MULAI Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran Menetapkan rombongan belajar. Menetapkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Begitu pula bagi guru, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sepertinya sulit untuk dilepaskan dari permasalahan operasi hitungan, penjumlahan, pengurangan, dan sebagainya. Bagi siswa tertentu yang menganggapnya

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

BAB. III METODE PENELITIAN

BAB. III METODE PENELITIAN 18 BAB. III METODE PENELITIAN 3.1 Settingdan Karaktersistik Subjek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran PKn tentang Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hlm. 15. 1 Pantur Silaban, Kalkulus Lanjutan, (Jakarta: Erlangga, 1984), hlm. 1.

BAB I PENDAHULUAN. hlm. 15. 1 Pantur Silaban, Kalkulus Lanjutan, (Jakarta: Erlangga, 1984), hlm. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bilangan bulat merupakan salah satu pokok bahasan di dalam pelajaran Matematika jenjang SMP/M.Ts. kelas VII. Bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat positif, bilangan

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

Kata Kunci: instrumen penilaian, benar-salah, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dinamika rotasi, kesetimbangan tegar

Kata Kunci: instrumen penilaian, benar-salah, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dinamika rotasi, kesetimbangan tegar PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES BENAR-SALAH UNTUK MENILAI KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA PADA MATERI DINAMIKA ROTASI DAN KESETIMBANGAN BENDA TEGAR Aliyyatus Sa adah, Sugiyanto, S.Pd, M.Si, dan Drs.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR Evana Nurhayani PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya (evananurhayani@gmail.com) Masengut Sukidi PGSD

Lebih terperinci

Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas

Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas BAB III METODE PENELITIAN A. Rencana Kegiatan Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas menurut Dave Ebbut dikutip

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika PENINGKATAN PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN ATTENTION RELEVANCE CONFIDENCE SATISFACTION (ARCS) (PTK Pada Siswa Kelas VIIA SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Lebih terperinci

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd.

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. A. Pengantar Sebenarnya apa yang saya kemukakan pada bagian ini, mungkin tidak akan berarti apa-apa kepada

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN DAYA INGAT MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP SISWA KELAS VIII-A MTs NEGERI 2 KUDUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

UPAYA MENINGKATKAN DAYA INGAT MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP SISWA KELAS VIII-A MTs NEGERI 2 KUDUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013 UPAYA MENINGKATKAN DAYA INGAT MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP SISWA KELAS VIII-A MTs NEGERI 2 KUDUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh ISYEH NOOR HIDAYAH NIM 200931154 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DI SEKOLAH DASAR

PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DI SEKOLAH DASAR PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DI SEKOLAH DASAR Ari Krisnawati PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya (nonakrisnawati@yahoo.co.id) Supriyono PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya

Lebih terperinci

TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012

TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012 TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012 ARTIKEL SKRIPSI OLEH HIGUITA SANTOS NIM 208211416540 UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA Dr. Supriyadi, M.P Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya UNG Email: supriyadi_prima@ymail.com

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam metodologi penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri

Lebih terperinci

Sumber http://kasihsolusi.weebly.com/belajar.html

Sumber http://kasihsolusi.weebly.com/belajar.html Pengertian Belajar Kalau ditanyakan mengenai pengertian atau definisi belajar, maka jawaban yang kita dapatkan akan bermacam-macam. Hal yang demikian ini terutama berakar pada kenyataan bahwa apa yang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:

II. TINJAUAN PUSTAKA. dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai: II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bahan Ajar Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

PENINGKATAN MINAT BACA MELALUI STORYTELLING ANAK KELOMPOK B TK AL-MUTTAQIEN SURABAYA ARTIKEL SKRIPSI. Oleh : NOER HIDAYATI 081684331

PENINGKATAN MINAT BACA MELALUI STORYTELLING ANAK KELOMPOK B TK AL-MUTTAQIEN SURABAYA ARTIKEL SKRIPSI. Oleh : NOER HIDAYATI 081684331 PENINGKATAN MINAT BACA MELALUI STORYTELLING ANAK KELOMPOK B TK AL-MUTTAQIEN SURABAYA ARTIKEL SKRIPSI Oleh : NOER HIDAYATI 081684331 UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013. BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013. Adapun penelitian ini berlokasi di Sekolah Menengah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Proses pendidikan

Lebih terperinci

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar.

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. PERHATIKAN data berikut. 200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. Benar. Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar, tepatnya mereka yang belum lama dan berlum berpengalaman

Lebih terperinci

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya Dalam pembelajaran kontekstual, -yang cirinya adalah menekankan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah, siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kimia adalah salah satu mata pelajaran yang semakin penting seiring berkembangnya ilmu dan teknologi sekarang ini, namun faktanya di lapangan menunjukkan bahwa pelajaran

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar. Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan Dasar Mengajar

Kompetensi Dasar. Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan Dasar Mengajar Kompetensi Dasar Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran 2 Indikator Keberhasilan menjelaskan karakteristik 8 kemampuan dasar mengajar dengan lengkap melaksanakan praktek salah

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN TEKNIK MENULIS AKROSTIK PADA SISWA KELAS VA MI SEMPLAK PILAR, KABUPATEN BOGOR 1

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN TEKNIK MENULIS AKROSTIK PADA SISWA KELAS VA MI SEMPLAK PILAR, KABUPATEN BOGOR 1 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN TEKNIK MENULIS AKROSTIK PADA SISWA KELAS VA MI SEMPLAK PILAR, KABUPATEN BOGOR 1 Kartini 2 ABSTRAK Salah satu materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI Suhardi SD Negeri 007 Ranai Bunguran Timur Natuna Abstrak: Siswa kelas IV SDN 007 Ranai cenderungmengalami kesulitan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF PENGENALAN KONSEP BILANGAN MELALUI MEDIA POHON HITUNG ANAK KELOMPOK A TK WACHID HASYIM 2 SURABAYA ARTIKEL.

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF PENGENALAN KONSEP BILANGAN MELALUI MEDIA POHON HITUNG ANAK KELOMPOK A TK WACHID HASYIM 2 SURABAYA ARTIKEL. PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF PENGENALAN KONSEP BILANGAN MELALUI MEDIA POHON HITUNG ANAK KELOMPOK A TK WACHID HASYIM 2 SURABAYA ARTIKEL Oleh : N u r i y a h NIM. 081684333 Dr. Endang Pujdiastuti S., M.Pd

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION PADA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION PADA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION PADA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA (DEVELOPMENT DEVICES WITH APTITUDE TREATMENT INTERACTION IN EFFECTIVENESS

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Program Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

SKRIPSI. Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Program Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP TENTANG POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA DAN LEMBAR KERJA PADA SISWA KELAS IV SD WONOSARI 02 SEMARANG TAHUN AJARAN 2006/2007

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi OLEH : DEEPRAJ

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Teoretis 1. Kemampuan Pemecahan Masalah a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah Pemecahan masalah merupakan aktivitas yang sangat penting dalam pembelajaran matematika,

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454 Vol. 2, No. 3, pp. 19-23 September 2013

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454 Vol. 2, No. 3, pp. 19-23 September 2013 PENERAPAN PEMBELAJARAN DENGAN STRATEGI POGIL PADA MATERI POKOK KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SOOKO MOJOKERTO LEARNING IMPLEMENTATION

Lebih terperinci