ANALISIS ENERGI PROSES PIROLISIS LIMBAH KELAPA SAWIT RAJU

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS ENERGI PROSES PIROLISIS LIMBAH KELAPA SAWIT RAJU"

Transkripsi

1 ANALISIS ENERGI PROSES PIROLISIS LIMBAH KELAPA SAWIT RAJU SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

2

3 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Energi Proses Pirolisis Limbah Kelapa Sawit adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. 1 Bogor, Januari 2016 Raju NRP F * Pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerja sama dengan pihak luar IPB harus didasarkan pada perjanjian kerja sama yang terkait

4 RINGKASAN RAJU. Analisis Energi Proses Pirolisis Limbah Kelapa Sawit. Dibimbing oleh ARMANSYAH HALOMOAN TAMBUNAN dan RADITE PRAEKO AGUS SETIAWAN Cangkang dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan sumber bioenergi yang potensial karena mengandung lignoselulosa (selulosa, hemiselulosa dan lignin) sehingga dapat dikonversi menjadi cairan, arang atau gas mampu bakar melalui proses pirolisis. Pirolisis adalah penguraian kandungan kimia biomassa dengan pemanfaatan panas tanpa adanya campuran oksigen pada suhu sekitar 200 C C. Pirolisis lignoselulosa biomassa terdiri dari empat tahapan yaitu pelepasan uap air, dekomposisi hemiselulosa, dekomposisi selulosa dan dekomposisi lignin. Suhu pengoperasian pada proses pirolisis akan mempengaruhi komposisi cairan, arang dan gas serta karakteristik hasil pirolisis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklarifikasi karakteristik arang, cairan dan gas hasil pirolisis cangkang kelapa sawit dan TKKS serta faktor-faktor yang mempengaruhinya serta menganalisis keseimbangan energi proses pirolisis limbah kelapa sawit pada beberapa tingkat suhu pirolisis. Penelitian dilakukan dengan menggunakan reaktor pirolisis skala lab, yang didesain khusus agar suhunya dapat dikendalikan. Suhu pirolisis dikendalikan pada level 300 C, 400 C, 500 C dan 600 C, kemudian hasil pirolisis diukur dan dianalisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pirolisis cangkang menghasilkan fraksi massa arang, cairan dan gas dalam rentang %, % dan %. Sedangkan pirolisis TKKS menghasilkan fraksi massa arang, cairan dan gas dalam rentang %, % dan % secara berturut-turut. Peningkatan suhu menghasilkan peningkatan nilai kalor arang hasil pirolisis cangkang dan TKKS dengan rentang antara kj/g dan kj/g. Peningkatan suhu menurunkan nilai kalor cairan hasil pirolisis cangkang kelapa sawit namun meningkatkan nilai kalor cairan hasil pirolisis tandan kosong kelapa sawit dengan rentang kj/g dan kj/g. Sementara itu peningkatan suhu pirolisis cangkang menyebabkan peningkatan konsentrasi gas CO dengan rentang 2.86% % sementara konsentrasi gas CH 4 mengalami peningkatan sampai suhu 400 C lalu menurun kembali pada suhu yang lebih tinggi. Peningkatan suhu pirolisis TKKS meningkatkan konsentrasi gas CO dan CH 4 pada rentang 3,81% - 15,74% dan 0,29% - 0,76%. Rasio energi proses pirolisis, yang merupakan kombinasi antara energi yang terkandung dalam produk pirolisis dengan energi input, menurun seiring dengan peningkatan suhu karena penggunaan listrik yang semakin tinggi dengan rentang antara untuk pirolisis cangkang dan untuk tandan kosong kelapa sawit. Kata Kunci : pirolisis, limbah kelapa sawit, arang, bio-oil, gas mampu bakar

5 SUMMARY RAJU. Energy Analysis of Palm Oil Waste Pyrolysis Process. Supervised by ARMANSYAH HALOMOAN TAMBUNAN and RADITE PRAEKO AGUS SETIAWAN. Empty fruit bunch (EFB) and shell of oil palm are potential sources of bioenergy because they contain lignocellulose (cellulose, hemycellulose and lignin) which can be converted to bio-oil (liquid), char, or combustible gases by pyrolysis process. Pyrolysis is biomass chemical contain decomposition using heat without oxygen at 200 C 600 C level of temperature. Biomass lignocellulose pyrolysis has four stages which are water boiling, hemicellulose decomposition, cellulose decomposition and lignin decomposition. Operating temperature of the pyrolysis process will influence the composition of the liquid, char and gases, as well as its characteristics. The objective of this study is to clarify the characteristic of pyrolysis products and to analyze pyrolysis process energy balance of both empty fruit bunch and shell as affected by the pyrolysis temperature. The experiment was conducted by using a lab scale pyrolysis reactor, specially designed with controlable temperature. The temperature of the pyrolysis process was controlled at 300 C, 400 C, 500 C and 600 C level, and the product was measured and analysed. The result showed that pyrolysis of shell produced char, liquid and gases at the range of %, % and %, in mass fraction respectively. While pyrolysis of empty fruit bunch produced char, liquid and gases at the range of %, % and %, in mass fraction respectively. Increasing temperature resulted in increasing calorific value of the pyrolysis char from shell and empty fruit bunch in range of kj/g and kj/g, respectively. Increasing temperature resulted in decreasing calorific value of the pyrolysis oil from shell but the contrary from empty fruit bunch in range of kj/g and kj/g, respectively. However, temperature increasing on shell pyrolysis caused the increasing of CO concentration in range of 2.86% % while the CH 4 concentration increased below temperature of 400 C and decreased above the temperature. The increasing of EFB pyrolysis temperature increased CO and CH 4 concentration in the range of 3.81% % and 0.29% %, respectively. Energy ratio of the pyrolysis process, as calculated by combining the energy content of the product and the input energy, were decreasing with the increasing temperature which were caused by increasing electricity consumption in range of and , respectively. Keywords: pyrolysis, palm oil waste, char, bio-oil, combustible gas

6 Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

7 ANALISIS ENERGI PROSES PIROLISIS LIMBAH KELAPA SAWIT RAJU Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Teknik Mesin Pertanian dan Pangan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

8 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr Ir Rokhani Hasbullah, MSi

9 i1, iivl{,{, :snln-i1e8euul 9tgz rrunue t AZ tlr-\[n leeeuug csyq 'o1uum:nd sljv A ri r(l uueuu4 uup u?lu?ljed ursetr l {rqej rpnlg ure-t8ord un1e) qelo mqbtoryc *loee.rv_ Pnlo) ueunqurbj H rls s{rsrrrjv { rcjojd Eurqurqursd rsrruo) qelo rnfnpsrq I6OOZII9Id : I^IIN n[u1: eruun li,\{es edele; qugtult srsrlorrd sesord rereug sfiieuv : srsel Inpnf

10 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta ala atas segala karunia-nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2015 ini ialah Enenrgi Terbarukan, dengan judul Analisis Energi Proses Pirolisis Limbah Kelapa Sawit. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof Dr Ir Armansyah H Tambunan dan Bapak Dr Ir Radite P A Setiawan, MAgr selaku komisi pembimbing yang telah banyak membimbing dan memberi saran kepada penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini serta Dr Ir Rokhani Hasbullah, Msi sebagai penguji luar komisi pada ujian tesis. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Papaku Gondren Faisal dan Mamaku Fatimah serta adik-adikku Trisna Hadi dan Devi Ramadana atas doa, kasih sayang serta dukungan dan semangat yang diberikan selama ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Republik Indonesia yang sudah mendukung penelitian ini dalam program Penelitian Hibah Kompetensi tahun kedua sesuai kontrak nomor: 074/IT3.11/LT/2014 tanggal 2 juni Ucapan terima kasih juga disampaikan pada teman-teman Laboratorium Pindah Panas dan Massa: Irfan, Kak Inge, Sari, Bang Agus, Mas Tian, Haga, Sigit, Well, Ilham, Zakkir, Ramdhan, Holil, Fidel, Jhon, Pak Jhon, Pak Wahyudin, Pak Ali, Daniel, Bu Tatun, Dwi, Dian, Tiara, Mas Agus, Fadhil, Irwan, Husna, Pak Paulus, Pak Rusman, Pak Hendri, Kak Meika, Pak Bayu, Bang Kiman, Mas Angga. Teman-teman TMP 2012: Ali, Kindi, Tika, Dedek, Mas Joko, Dziyad, Haning, Pane, Choe, Endah, Rusnadi, Iqbal, teman-teman TMP 2011, 2013 dan Teman-teman keluarga kosan Al-Fath: Ikrom, Mas Sigit, Adi, Iskan, Kamil, Oshi, Bang Fajar, Lutfi, Dedi, Aryo, Gusti, Rivanu, Alwin, Fuad, Udin, Amir, Fajri, Eki, Iqbal, Bang Ary, Teki, Ridho, Danny, Septian, Julian, Adji, Rico. Ucapan terima kasih juga disampaikan pada Pak Ahmad Mulyatullah dan Bu Rusmiyati yang banyak membantu penulis dalam pengurusan administrasi perkuliahan dan penelitian. Akhir kata penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Terima Kasih. Bogor, Januari 2016 Raju

11 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN 1 PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 2 Tujuan Penelitian 2 Manfaat Penelitian 3 Ruang Lingkup Penelitian 3 2 TINJAUAN PUSTAKA 3 Karakteristik Tandan dan Cangkang Kelapa Sawit 3 Klasifikasi Bahan Bakar 4 Diagram Ternary 4 Rasio Atom 5 Rasio Komponen Lignoselulosa 6 Proses dan Prinsip Pirolisis 8 Produk Pirolisis 9 Padatan 9 Cairan 9 Gas 10 3 METODE 10 Bahan 11 Alat 12 Konsep Rancangan Peralatan Pengujian 12 Prosedur Penelitian 13 Pengukuran Parameter 16 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 16 Karakteristik Tandan dan Cangkang Kelapa Sawit 16 Pirolisis Cangkang dan Tandan Kelapa Sawit 18 Karakteristik Hasil Pirolisis Limbah Kelapa Sawit 20 Karakteristik Arang, Cairan dan Gas Hasil Pirolisis 21 Keseimbangan Energi Pirolisis Limbah Kelapa Sawit 23 5 SIMPULAN DAN SARAN 24 Simpulan 24 Saran 25 DAFTAR PUSTAKA 26 LAMPIRAN 28 vii vii vii

12 DAFTAR TABEL 1 Karakteristik tandan dan cangkang kelapa sawit 3 2 Nilai kalor beberapa bahan bakar 9 3 State of the art penelitian tentang pirolisis 10 4 Analisis ultimat dan proksimat cangkang kelapa sawit dan beberapa literatur pembanding 17 5 Analisis ultimat dan proksimat tandan kosong kelapa sawit dan beberapa literatur pembanding 17 6 Analisis linognoselulosa cangkang dan tandan kelapa sawit 18 7 Suhu akhir, persamaan regresi linear dan laju pemanasan pirolisis cangkang kelapa sawit 18 8 Suhu akhir, persamaan regresi linear dan laju pemanasan pirolisis tandan kosong kelapa sawit 19 9 Fraksi massa hasil pirolisis cangkang kelapa sawit Fraksi massa hasil pirolisis tandan kelapa sawit Karakteristik arang hasil pirolisis cangkang kelapa sawit Karakteristik arang hasil pirolisis tandan kelapa sawit Nilai kalor cairan hasil pirolisis cangkang kelapa sawit Nilai kalor cairan hasil pirolisis tandan kosong kelapa sawit Karakteristik gas hasil pirolisis cangkang kelapa sawit Karakteristik gas hasil pirolisis tandan kosong kelapa sawit Rasio energi produk pirolisis cangkang kelapa sawit terhadap biomassa dan energi proses Rasio energi produk pirolisis tandan kosong kelapa sawit terhadap biomassa dan energi proses 24 DAFTAR GAMBAR 1 Diagram ternary 4 2 Diagram van kravelen 5 3 Ilustrasi skematik selulosa 6 4 Ilustrasi skematik hemiselulosa 6 5 Struktur lignin pada biomassa 7 6 Grafik hubungan rasio selulosa-lignin dengan hemiselulosa-lignin 7 7 Proses pirolisis 8 8 Bagan alir penelitian 11 9 Konsep rancangan Alat pirolisis skala lab Skema pengukuran suhu pada reaktor 13 DAFTAR LAMPIRAN 1 Profil suhu pirolisis cangkang kelapa sawit pada suhu 300 C (a), 400 C (b), 500 C (c) dan 600 C (d) 29

13 2 Profil suhu pirolisis TKKS pada suhu 300 C (a), 400 C (b), 500 C (c) dan 600 C (d) 30 3 Spektra NMR cairan hasil pirolisis cangkang kelapa sawit pada suhu 300 C (a), 400 C (b), 500 C (c) dan 600 C (d) 31 4 Spektra NMR cairan hasil pirolisis TKKS pada suhu 300 C (a), 400 C (b), 500 C (c) dan 600 C (d) 33

14

15 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Keterbatasan bahan bakar fosil, pencemaran lingkungan dan isu pemanasan global telah menjadi topik yang menarik perhatian dunia internasional saat ini. Bahan bakar fosil diperkirakan akan habis pada tahun Biomassa menjadi sumber energi terbarukan untuk mensubstitusi bahan bakar fosil serta mengatasi kerusakan lingkungan. Limbah kelapa sawit merupakan biomassa yang melimpah di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik produksi kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2014 mencapai juta ton minyak sawit mentah (CPO) atau sekitar juta ton tandan buah segar. Pengolahan tandan buah segar menghasilkan limbah berupa cangkang sebanyak 6.7% dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebanyak 22.5%. Karakteristik spesifik dari biomassa mempengaruhi peranannya sebagai bahan bakar. Cangkang dan TKKS merupakan sumber bioenergi yang potensial karena mengandung lignoselulosa (lignin, hemiselulosa dan selulosa) yang dapat dikonversi menjadi cairan, arang atau gas mampu bakar dan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Konversi lignoselulosa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pembakaran langsung, gasifikasi, liquefaksi, torefaksi dan pirolisis. Pada penelitian ini proses konversi akan dilakukan secara pirolisis karena menghasilkan produk dalam bentuk arang, cairan dan gas yang memiliki fungsi tersendiri. Komposisi produk-produk tersebut dapat dikendalikan dengan menggunakan kendali proses. Pirolisis pada biomassa diharapkan dapat meningkatkan densitas energi yang terkandung pada hasilnya, agar menghasilkan kerja yang lebih baik dibandingkan dengan pembakaran langsung biomassa tersebut. Pirolisis adalah penguraian kandungan kimia biomassa dengan pemanfaatan panas tanpa adanya campuran oksigen pada suhu sekitar 200 C C (Silva et al.2012). Menurut Klass (1998) umumnya gas yang dihasilkan terdiridari H 2, CO 2, CO, CH 4, C 2 H 6, C 2 H 4, gas organik dan uap air. Proses pirolisis lignoselulosa biomassa terdiri dari empat tahapan yaitu pelepasan uap air, dekomposisi hemiselulosa, dekomposisi selulosa dan dekomposisi lignin. Dekomposisi hemiselulosa biasanya terjadi pada suhu 220 C C. Selulosa terdekomposisi pada suhu 315 C C dan lignin biasanya terdekomposisi pada suhu 150 C sampai suhu 900 C (Yang et al. 2006). Energi input, energi proses dan energi output menjadi hal yang penting dalam proses pirolisis. Perbandingan antara energi input dan energi proses dengan energi output disebut rasio energi. Semakin tinggi perbandingan antara energi output dengan gabungan energi input dan proses maka semakin baik pula proses prolisis yang berlangsung. Penelitian-penelitian mengenai pirolisis telah banyak dilakukan dari berbagai negara dengan tujuan mencari alternatif bahan baku yang berpotensi untuk dijadikan bahan bakar untuk menggantikan bahan bakar fosil. Beberapa bahan baku yang telah digunakan dalam penelitian adalah sekam padi, serbuk gergaji, oil palm stone, palm kernel cake, soft wood, pine wood, microalga, dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan Razuan et al. (2010) menunjukkan bahwa

16 2 proses pirolisis dengan suhu 500 C dan 700 C yang diaplikasikan pada oil palm stone dan palm kernel cake dengan menggunakan reaktor fixed-bed meningkatkan nilai kalor pada arang namun menurunkan nilai kalor pada oil seiring dengan peningkatan suhu pirolisis. Konsentrasi gas H 2 meningkat, CH 4 mengalami peningkatan sampai suhu 600 C setelah itu mengalami penurunan sedang gas CO dan CO 2 mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya suhu pirolisis. Penelitian dengan bahan sekam padi dilakukan oleh Park et al. (2014). Penelitian ini menghasilkan peningkatan hasil untuk gas dan cairan namun penurunan hasil dan nilai kalor pada arang yang dihasilkan. Konsentrasi CO dan CO 2 yang terbentuk mengalami penurunan sedangkan H 2 dan CH 4 mengalami peningkatan seiring meningkatnya suhu. Sukiran (2008) menggunakan reaktor fluidized-bed dengan bahan tandan kosong kelapa sawit menunjukkan bahwa peningkatan suhu pirolisis meningkatkan cairan dan gas hasil pirolisis namun menurunkan produksi arangnya. Peningkatan suhu pirolisis juga menyebabkan terjadinya penurunan nilai kalor pada arang. Jumlah gas CH 4 terlihat meningkat namun gas CO menurun seiring peningkatan suhu pirolisis. Asadullah (2013) menggunakan reaktor fluidized-bed melakukan pirolisis pada cangkang kelapa sawit dan menghasilkan fenomena yang sama pada hasil pirolisis seperti penelitian Sukiran (2008) yaitu peningkatan produksi cairan dan gas serta penurunan produksi arang seiring dengan peningkatan suhu pirolisis. Ginting (2014) menggunakan bahan tandan kosong kelapa sawit. Pirolisis dilakukan dengan suhu 200 C 450 C. Hasil yang diperoleh adalah nilai kalor syngas yang terbentuk berupa H 2, CO dan CH 4 meningkat dengan meningkatnya suhu pirolisis. Penelitian ini akan membuat alat pirolisis skala lab yang dapat diatur suhunya untuk melakukan proses pirolisis cangkang dan tandan kelapa sawit. Arang, cairan dan gas yang dihasilkan akan dianalisis karakteristiknya dan keseimbangan energi pada proses pirolisis. Perumusan Masalah Proses pirolisis membutuhkan asupan energi dalam bentuk panas untuk mengkonversi biomassa menjadi arang, cairan dan gas. Energi yang terkandung pada produk hasil pirolisis diharapkan lebih tinggi dibandingkan gabungan energi input dan proses pada proses pirolisis sehingga proses pirolisis limbah kelapa sawit akan menghasilkan keseimbangan energi yang positif. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mempelajari karakteristik arang, cairan dan gas hasil pirolisis cangkang kelapa sawit dan TKKS serta faktor-faktor yang mempengaruhinya pada beberapa tingkat suhu. 2. Menganalisis keseimbangan energi proses pirolisis limbah kelapa sawit pada beberapa tingkat suhu.

17 3 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi energi yang berasal dari proses pirolisis cangkang dan TKKS sebagai dasar dalam penggunaan limbah sawit sebagai bahan bakar alternatif. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian yang dilakukan meliputi pengeringan dan pengecilan ukuran tandan kosong kelapa sawit. Pengkarakterisasian kandungan yang terdapat dalam produk hasil pirolisis cangkang dan TKKS serta membandingkan energi pada tahap input, proses dan output pirolisis. 2 TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Tandan dan Cangkang Kelapa Sawit Karakteristik biomassa seperti kadar air, ukuran partikel, densitas, bahan yang terkandung (C, H, N, S, dan O), bahan mudah menguap dan kadar abu mempengaruhi kesesuaian biomassa sebagai bahan bakar (Omar 2011). Karakteristik ini disebut analisis ultimat dan proksimat. Tabel 2.1 menunjukkan analisa ultimat dan proksimat cangkang dan tandan kosong kelapa sawit dari beberapa penelitian. Tabel 2.1 Karakteristik tandan dan cangkang kelapa sawit Kandungan Tandan Kosong Kelapa Sawit Cangkang Kelapa Sawit Analisis Ultimat a b c d e f g h i C (%) H (%) N (%) S (%) O (%) Analisis Proksimat Kadar air (%) Volatile matter (%) Karbon tetap (%) Abu (%) Nilai Kalor (MJ/kg) a Ginting (2014); b Mohammed et al (2011); c Ma and Yousuf (2005); d Yang et al (2006); e Abdulah dan Gerhauser (2008); f Sukiran (2008); g Idris et al (2012); h Abnisa et al (2011); i Lee et al (2013).

18 4 Klasifikasi Bahan Bakar Menurut Basu (2010) klasifikasi bahan bakar sangat penting dalam menentukan karakteristiknya. Bahan bakar dapat dibagi dalam beberapa kelompok yang memiliki sifat yang sama tanpa mempertimbangkan jenis dan asalnya. Oleh karena itu, ketika biomassa dipertimbangkan untuk pirolisis atau konversi termokimia lainnya, klasifikasinya dapat ditelusuri, kemudian dari karakteristiknya tersebut kita dapat menilai potensi konversinya. Ada tiga metode dalam mengklasifikasi dan mengurutkan peringkat bahan bakar menggunakan kandungan kimianya yaitu rasio atom, rasio kandungan lignoselulosa dan diagram ternary. Seluruh hidrokarbon dapat diklasifikasi dan diurutkan peringkatnya berdasarkan pada rasio atomnya tapi klasifikasi kedua terbatas pada lignoselulosa biomassa. Diagram Ternary Diagram ternary tidak digunakan untuk mengklasifikasikan biomassa tapi dapat digunakan untuk merepresentasikan proses konversi biomassa. Sudut-sudut pada segitiga adalah representasi dari konsentrasi karbon murni, oksigen dan hidrogen 100%. Titik-titik dalam segitiga menunjukkan campuran ternary dari ketiga substansi ini. Sisi yang berseberangan dengan sudut menunjukkan tidak ada konsentrasi komponen tersebut. Sebagai contoh, sisi alas pada Gambar 2.1 menunjukkan konsentrasi hidrogen 0% dan merupakan pencampuran antara dua komponen saja yaitu C dan O. Gambar 2.1 Diagram ternary (Basu 2010) Biomassa lebih dekat dengan sudut hidrogen dan oksigen dibandingkan dengan batubara sehingga biomassa mengandung lebih banyak hidrogen dan oksigen dibandingkan batubara. Secara umum lignin mengandung oksigen lebih sedikit dan karbon lebih banyak dibandingkan selulosa atau hemiselulosa.

19 Proses konversi yang dapat digambarkan ternary diagram sebagai berikut. Pada proses karbonisasi atau pirolisis lambat, produk digerakkan ke arah karbon melalui pembentukan char padat. Pirolisis cepat menggerakkan produk menuju hidrogen menjauhi oksigen yang mengindikasikan produk mengandung lebih banyak cairan. Gasifikasi oksigen menggerakkan produk gas menuju sudut oksigen, dimana gasifikasi membuat proses menjauhi sudut karbon. Sedangkan pada proses hidrogenisasi dapat meningkatkan hidrogen sehingga menggerakkan produk ke arah hidrogen. Rasio Atom Klasifikasi berdasarkan rasio atom dapat membantu dalam memahami nilai kalor pada sebuah bahan bakar. Sebagai contoh nilai HHV (higher heating value) dari biomassa berkaitan erat dengan rasio O/C dimana nilainya akan menurun dari 38 menjadi 15 MJ/kg ketika rasio O?C meningkat dari 0,1 menjadi 0,7. Peningkatan rasio H/C akan menurunkan nilai kalor efektif suatu bahan bakar. Rasio atom berdasarkan pada kandungan hidrogen, oksigen dan karbon yang terdapat pada bahan bakar. Gambar 2.2 merupakan plot anatara rasio H/C dengan O/C pada bahan semua bahan bakar. Diagram ini dikenal sebaagai diagram van krevelen dan menunjukkan bahwa biomassa memiliki rasio H/C dan O/C yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil. Biomassa yang muda seperti daun memiliki nila kalor yang sangat rendah karena rasio H/C dan O/C yang tinggi. Rasio atom bahan bakar menurun sebanding dengan peningkatan usianya, dengan kata lain semakin tua bahan bakar maka energy yang dikandungnya semakin tinggi. Sebagai contoh pada antrasit yaitu bahan bakar fosil yang terbentuk setelah ribuan tahun memiliki nilai kalor yang sangat tinggi. Rasio H/C yang lebih rendah meningkatkan panas yang dihasilkan tapi meningkatkan juga intensitas emisi CO 2 dari pembakarannya. 5 Gambar 2.2 Diagram van kravelen (Basu 2010)

20 6 Rasio Komponen Lignoselulosa Secara umum biomassa mengandung tiga komponen yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa memiliki rumus (C 6 H 12 O 6 )n, dimana n adalah derajat polimerisasi. Rentang n pada selulosa mencapai ribuan hingga puluhan ribu. Selulosa terdegradasi pada rentang suhu 275 C C. Hasil degradasi selulosa berupa uap yang dapat terkondensasi. Pirolisis selulosa secara dominan menjadi monomer levoglucosan yang akan menguap dan menghasilkan gas dan oil. Gambar 2.3 Ilustrasi skematik selulosa (Basu 2010) Hemiselulosa memiliki rumus (C 5 H 8 O 4 )n, berbeda dengan selulosa rentang n pada hemiselulosa jauh lebih sedikit yaitu sekitar sehingga hemiselulosa lebih mudah hancur. Hemiselulosa terdegradasi pada rentang suhu 150 C 350 C. Hasil degradasi hemiselulosa berupa gas yang tidak dapat terkondensasi serta jumlah tar yang lebih sedikit dibandingkan pada selulosa. Gambar 2.4 Ilustrasi skematik hemiselulosa (Basu 2010) Lignin memiliki struktur tiga dimensi sehingga sulit untuk didekomposisi baik oleh kimia maupun mikroorganisme. Rentang suhu terdegradasinya lignin

21 adalah 250 C 500 C. Karena terdegradasi lebih lambat, lignin berkontribusi pada pembentukan char. 7 Gambar 2.5 Struktur lignin pada biomassa (Basu 2010) Biomassa dapat juga diklasifikasikan terhadap perbandingan jumlah selulosa, hemiselulosa dan lignin yang terkandung di dalamnya. Kita dapat memprediksi perilaku biomassa selama pirolisis dari pengetahuan tentang komponen-komponen ini. Gambar 2.6 memplot antara rasio hemiselulosa terhadap lignin dengan rasio selulosa terhadap lignin. Tanpa memperdulikan beberapa titik, proporsional tertentu dapat dideteksi antara keduanya. Untuk beberapa jenis biomassa, rasio selulosa lignin meningkat dari 0,5 menjadi 2,7 sementara rasio hemiselulosa meningkat dari 0,5 menjadi 2,0. Gambar 2.6 Grafik hubungan rasio selulosa-lignin dengan hemiselulosa-lignin (Basu 2010)

22 8 Proses dan Prinsip Pirolisis Pirolisis adalah dekomposisi termokimia dari biomassa menjadi produkproduk yang bermanfaat, baik dalam keadaan absen agen-agen pengoksidasi secara total maupun dengan pemberian yang terbatas. Selama pirolisis, molekul kompleks hidrokarbon yang besar terpecah menjadi molekul yang relatif lebih kecil dan lebih simpel dalam bentuk gas, cairan dan arang. Gambar 2.7 Proses pirolisis (Basu 2010) Pirolisis tidak sama dengan proses gasifikasi yang melibatkan reaksi kimia dengan sebuah agen eksternal. Pirolisis biomassa biasanya berlangsung pada rentang suhu yang rendah dari 300 C 650 C dibandingkan dengan 800 C 1000 C pada gasifikasi. Produk awal dari pirolisis terbuat dari gas-gas yang dapat dikondensasikan dan arang padat. Gas yang dapat terkondensasi selanjutnya berubah menjadi gas-gas yang tidak daapat terkondensasi (CO, CO 2, H 2, dan CH 4 ), cairan dan arang. Proses pirolisis dapat disajikan dengan persamaanpersamaan reaksi sebagai berikut (Yang et al 2006): Biomassa Gas (H 2 CO, CO 2, C m H n ) + H 2 O + tar + C (char) (1) Tar CH 4 + H2O + CmHn + H 2 (2) CH 4 + H 2 O CO + 3H 2 (3) C + H 2 O CO + H 2 (4) CO + H 2 O CO 2 + H 2 (5) C + CO 2 2CO (6) C + 2H 2 CH 4 (7) CH 4 + CO 2 2CO + 2H 2 (8) C m H n + 2nH 2 O nco 2 + [2n + (m/2)] H 2 (9) C m H n + nh 2 O nco + [n + (m/2)] H 2 (10) Berdasarkan laju pemanasannya pirolisis dapat diklasifikasikan dalam pirolisis lambat dan cepat. Dikatakan lambat apabila waktu yang dibutuhkan untuk memanaskan bahan bakar ke temperatur pirolisis lebih lama dibandingkan

23 waktu reaksi pirolisis dan sebaliknya. Pada pirolisis lambat, waktu uap tinggal pada zona pirolisis berkisar beberapa menit atau lebih lama. Proses ini digunakan secara utama untuk produksi arang dan terbagi menjadi dua tipe : karbonisasi dan konvensional. Sedangkan dalam pirolisis cepat, waktu tinggal uap pada zona pirolisis berlangsung dalam detik. Tipe pirolisis ini digunakan untuk produksi biooil dan gas, terbagi menjadi dua tipe : flash dan ultra-rapid (Basu 2010) (Yang et al 2006) (Misson et al 2009). 9 Produk Pirolisis Pirolisis memecah molekul-molekul kompleks yang besar menjadi beberapa molekul yang lebih kecil. Produk dari pemecahan molekul ini diklasifikasikan menjadi tiga tipe : a. Padatan (kebanyakan dalam bentuk arang atau karbon) b. Cairan (tar, hidrokarbon yang lebih berat, dan air) c. Gas (CO 2, H 2 O, CO, C 2 H 2, C 2 H 4, C 2 H 6, dan lain-lain) Jumlah dari produk-produk ini bergantung pada beberapa faktor termasuk laju pemanasan dan temperatur akhir yang dicapai oleh biomassa. Padatan Arang adalah hasil padatan dari pirolisis. Sebagian besar terdiri dari karbon ( ~85%), tapi dapat juga mengandung oksigen dan hidrogen. Tidak seperti bahan bakar fosil, biomassa mengandung sangat sedikit abu anorganik. Lower heating value (LHV) dari arang biomassa sekitar 32 MJ/kg, yang secara substansi lebih tinggi dibandingkan dengan biomassa awalnya atau produk cairannya (bio-oil). Cairan Hasil dalam bentuk cairan dikenal sebagai tar, bio-oil, atau biocrude adalah cairan seperti tar yang berwarna hitam dan mengandung lebih dari 20% air. Biomassa awal mengandung nilai LHV di rentang 19,5-21 MJ/kg, namun hasil cairan mengandung nilai LHV dalam rentang MJ/kg. Tabel 2.2 Nilai kalor beberapa bahan bakar (Basu 2010) Bahan Bakar Nilai kalor (MJ/kg) Petcoke 29.5 Batubara 22.7 Farmed trees 19.6 Bio-diesel 37.5 Gas Pirolisis LPG 46.6 Solar 42.8 Kerosin 43.0 Bensin 43.4

24 10 Gas Secara utama dekomposisi biomassa menghasilkan gas-gas yang dapat dikondensasi dan gas-gas yang tidak dapat dikondensasi ( gas utama). Uap yang terbentuk dari molekul-molekul yang lebih berat, terkondensasi pada pendinginan. Nilai LHV gas yang terbentuk dari pirolisis adalah 16 MJ/kg sampai 29 MJ/kg. Tabel 2.3 State of the art penelitian tentang pirolisis Peneliti Razuan et al. (2010) Asadullah et al. (2013) Ly et al. (2013) Huang et al. (2013) Park et al. (2014) Ginting (2014) Jenis biomassa Oil Palm Stone dan Palm Kernel Cake Cangkang sawit Palm fibre Sekam padi Sekam padi TKKS Tipe Reaktor dan suhu perlakuan - Fixed bed C dan 700 C - Fluidized bed Closed C C - Closed reactor C, 350 C dan 360 C - Microwave reactor W W - Reaktor skala lab C C - Reaktor skala lab C C Hasil - Nilai kalor arang meningkat seiring dengan peningkatan suhu. - Konsentrasi H 2 dan CH 4 meningkat seiring peningkatan suhu, namun menurunkan konsentrasi CO dan CO 2 Peningkatan produksi cairan dan gas serta penurunan produksi arang seiring dengan peningkatan suhu pirolisis Peningkatan produksi cairan dan gas serta penurunan produksi arang seiring dengan peningkatan suhu pirolisis - Produksi padatan menurun sedangkan cairan dan gas meningkat seiring peningkatan suhu - Nilai kalor padatan meningkat hingga level 300 W kemudian menurun - Konsentrasi CO, H 2, CO 2 dan CH 4 meningkat seiring peningkatan suhu - Nilai kalor arang menurun seiring peningkatan suhu. - Konsentrasi H 2 dan CH 4 meningkat seiring peningkatan suhu, namun menurunkan konsentrasi CO dan CO 2. Peningkatan suhu meningkatkan konsentrasi gas H 2 dan CH 4 namun menurunkan konsentrasi gas CO. 3 METODE Bagan alir pada penelitian ini ditunjukkan oleh Gambar 3.1. Penelitian dimulai dengan persiapan bahan berupa penjemuran dan pencacahan TKKS secara manual hingga berukuran ±3-4 cm. Kemudian dilakukan analisis ultimat, proksimat, lignoselulosa dan nilai kalor biomassa.

25 11 Mulai Persiapan bahan, penjemuran tandan kosong kelapa sawit serta pengecilan ukuran (3-4 cm) Analisis ultimat, proksimat, lignoselulosa dan nilai kalor biomassa Perlakuan: Suhu: 300 C, 400 C, 500 C, 600 C Bahan: Cangkang dan TKKS Setup alat pirolisis dan pemasangan alat gas analyzer Penelitian Pecatatan data profil suhu, massa cairan Penimbangan massa arang Pemisahan asap cair dan bio-oil Analisis energi Selesai Gambar 3.1 Bagan alir penelitian Alur penelitian dilanjutkan dengan setup alat penelitian dan pengujian. Pada saat pengujian, data berupa profil suhu dan massa cairan dicatat. Setelah pengujian selesai dilakukan penimbangna arang, kemudian dilakukan analisis karakteristik produk-produk hasil pirolisis, keseimbangan massa, H-NMR cairan serta nilai kalor arang dan gas yang dilanjutkan dengan analisis keseimbangan energi. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkang dan TKKS yang diperoleh dari pabrik kelapa sawit Kebun Cikasungka PTPN VIII, Cigudeg, Bogor. Sebelum diumpankan ke alat pirolisis, tandan dan cangkang kelapa sawit

26 12 terlebih dahulu dijemur pada sinar matahari untuk menurunkan kadar airnya dan diseragamkan ukurannya sekitar 3-4 cm dengan cara dicacah secara manual. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pirolisis skala lab yang dilengkapi dengan heater listrik dan panel listrik yang terdiri dari pengendali suhu digital, solid state relay, KWH-meter dan stabilizer. Alat pendukung dalam pengujian adalah termokopel, timbangan digital, kondensor dan alat gas analyzer. Konsep Rancangan Peralatan Pengujian Alat pirolisis skala lab terdiri dari tabung reaktor, heater dan pengendali suhu digital serta dilengkapi dengan termokopel dan stabilizer. Konsep dan gambar teknik rancangan alat ditunjukkan pada Gambar 3.2 dan 3.3. Reaktor berukuran Φ 10 cm x 40 cm dan dipasangi heater listrik jenis ceramic band 220V, 10A yang terlebih dahulu dihubungkan ke KWH-meter sebelum dihubungkan ke sumber listrik. Gambar 3.2 Konsep rancangan Termokopel tipe K dipasang pada reaktor di empat titik T1, T2, T3 dan T4 untuk mengukur suhu bahan dan dinding reaktor dengan skema seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.4. Titik T4 digunakan sebagai suhu kontrol dan dihubungkan dengan pengendali suhu digital Omron E5CZ. Zat yang menguap akan dialirkan menuju kondensor.

27 13 Keterangan : 1. Panel listrik yang terdiri dari termostat digital (Omron E5CZ), MCB dan solid state relay 2. Reaktor dilengkapi dengan heater 3. Kondensor 4. Timbangan digital dengan sensitivitas 0.01 g 5. Selang pengukuran gas yang dihubungkan dengan alat gas analyzer Merk Lancom 4 Gambar 3.3 Alat pirolisis skala lab Gambar 3.4 Skema pengukuran suhu pada reaktor Prosedur Penelitian Penelitian dimulai dengan persiapan bahan dan perancangan alat pirolisis. Pirolisis dilakukan dengan sistem batch. Bahan diumpankan ke dalam reaktor dan dipanaskan dengan heater pada suhu 300 C, 400 C, 500 C dan 600 C. Perbedaan perlakuan suhu pada pirolisis dilakukan untuk mengetahui perlakuan

28 14 yang lebih baik dalam menghasilkan produk pirolisis yang ingin diprioritaskan untuk dihasilkan. Heater dihubungkan dengan KWH-meter untuk diukur konsumsi listrik yang digunakan. Bahan yang digunakan pada tiap perlakuan adalah 1000 g cangkang sawit dan 300 g TKKS. Arus listrik heater dikendalikan dengan termostat digital. Pengukuran waktu dimulai ketika heater dinyalakan. Titik pengukuran suhu di dalam reaktor ditunjukkan oleh Gambar 3.4. Titik T1, T2, T3 dan T4 adalah titik-titik pengukuran suhu di dalam reaktor yang dicatat tiap menit selama proses pirolisis. Titik T1 berada tepat di tengah reaktor (pusat reaktor), titik T2 berada di tengah jari-jari reaktor (0.5R), titik T3 berada 1 cm dari dinding dalam reaktor dan T4 ditempelkan pada dinding dalam reaktor dan merupakan titik dimana suhu pirolisis dikontrol. Dari hasil pencatatan akan diperoleh laju pemanasan tiap titik. Laju pemanasan dan suhu perlakuan akan dikorelasikan dengan hasil pirolisis yang diperoleh. Zat-zat yang menguap dialirkan dari reaktor menuju kondensor dengan fluida berupa air 18 C. Gas yang terkondensasi dan menjadi cairan ditampung untuk ditimbang setelah proses pirolisis selesai. Gas yang tidak terkondensasi diteruskan menuju alat Gas Analyzer Lancom 4. Kandungan gas mampu bakar hasil pirolisis yang terbentuk berupa CO dan CH 4 serta gas tak mampu bakar seperti O 2, H 2 S, SO 2, NO 2, NO dan CO 2 diukur dan dicatat secara otomatis pada komputer kemudian dihitung dengan menggunakan rumus integrasi simpson dengan menerapkan prinsip luas kurva yang terbentuk oleh diagram persentase gas, dengan rumus seperti pada persamaan (11) { } (11) h = interval tiap data f 0 = data pertama f ganjil = data ganjil (f 1, f 3, f 5 dst) f genap = data genap (f 2, f 4, f 6 dst) f n = data terakhir Setelah diperoleh persentase gas, dihitung massa gas CO dan CH 4 kemudian dikalikan dengan nilai high heating value (HHV) masing-masing gas sehingga diperoleh nilai kalor gas. HHV CO adalah sebesar 10.1 kj/g sedangkan HHV CH 4 adalah sebesar 55.6 kj/g. Cairan yang terkondensasi dipisahkan antara antara asap cair dan bio-oil, ditimbang lalu bio-oil dianalisis dengan menggunakan alat H-NMR sehingga diketahui komponen-komponen yang terkandung di dalamnya. Pemisahan dilakukan karena asap cair merupakan komponen yang tidak mampu bakar. Setelah itu bio-oil yang telah dianalisis, dihitung nilai kalornya dengan menggunakan persamaan Dulong (Abnisa et al 2011): C H O ( ) = persentase C = persentase H = persentase O ( ) (12) Reaktor kemudian didiamkan sampai mencapai suhu lingkungan. Produk pirolisis berupa padatan dan cairan ditimbang sedangkan gas dihitung dengan prinsip kesetimbangan massa. Fraksi massa produk dihitung sesuai dengan

29 persamaan (13), (14) dan (15). Pada persamaan (15) asumsi yang digunakan adalah gas yang terkondensasi dan menempel pada dinding reaktor dan sepanjang pipa dianggap sebagai gas. massa akhir padatan % padatan x100% massa total bahan (13) massa cairan % cairan x100% massa total bahan (14) % gas 100%-(% padatan % cairan) (15) Analisis ultimat untuk mengetahui besarnya persentase karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen yang terkandung pada cangkang dan tandan kosong kelapa sawit dilakukan menggunakan alat GCMS Pirolisis Shimadzu tipe GCMS- QP2010. Analisis Proksimat untuk mengetahui kadar air, zat terbang (volatile metter), karbon tetap dan abu dilakukan dengan menggunakan termogravimetri analyzer. Analisis lignoselulosa tandan kosong kelapa sawit dilakukan untuk mengetahui persentase kandungan selulosa menggunakan metode Norman Jenkins, lignin dengan standar TAPPI, T 6 m 59 (ASTM), hemiseluloa menggunakan standar ASTM dan ASTM Analisis ultimat, proximat dan lignoselulosa dilakukan di Laboratorium Pengujian Hasil Hutan Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Bogor. Analisis nilai kalor arang dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor dengan menggunakan alat bomb calorimeter Parr Analisis H-NMR dilakukan untuk mengetahui komposisi yang terkandung pada cairan hasil pirolisis dengan menggunakan alat Spectrometer Delta-NMR. Analisis ini dilakukan di Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Serpong. Analisis keseimbangan energi dilakukaan untuk membandingkan energi yang terkandung di dalam bahan baku dengan produk. Analisis ini meliputi analisis nilai kalor bahan baku, produk dan energi yang diberikan selama proses pirolisis. Persamaan keseimbangan energi pada proses pirolisis adalah sebagai berikut : ( ) ( ) (16) ( ) ( ) (17) ( ) ( ) (18) *( ( ) ( )+ (19) (20) (21) Dimana : E b = energi biomassa (kj) Q = energi proses (kj) E a = energi arang (kj) E c = energi cairan (kj) E g = energi gas (kj) 15

30 16 Rasio energi dapat didefenisikan dalam persamaan berikut : (22) Dimana Σenergi in merupakan jumlah semua input energi ke sistem dan Σenergi out merupakan jumlah semua output energi dari sistem sebagai produk. Pengukuran Parameter Parameter-parameter yang akan diukur pada pengujian alat pirolisis adalah Profil suhu, massa bahan baku dan hasil pirolisis serta waktu proses pirolisis. Profil suhu di dalam reaktor pirolisis diukur dengan menggunakan termokopel tipe K (CA). Termokopel ditempatkan pada ruang reaktor kemudian suhu akan tertera pada display termometer. Massa bahan baku dan hasil pirolisis berupa arang dan cairan ditimbang dengan timbangan digital. Sementara gas-gas yang dihasilkan dihitung dengan analisis keseimbangan massa. Waktu proses pirolisis diukur dengan menggunakan stopwatch. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Tandan dan Cangkang Kelapa Sawit Perbandingan hasil analisis ultimat, proksimat dan nilai kalor cangkang dan tandan kosong kelapa sawit yang digunakan dalam penelitian ini dengan beberapa penelitian lainnya ditunjukkan oleh Tabel 4.1 dan 4.2. Rasio atom O/C dan H/C yang diperoleh dari analisis ultimat dapat digunakan untuk menunjukkan besarnya nilai kalor yang dapat dimanfaatkan dari bahan bakar tertentu. Semakin kecil nilai rasio O/C dan H/C maka nilai kalor yang terkandung di dalam suatu bahan bakar tertentu akan semakin besar, dan sebaliknya. Dari hasil terlihat bahwa nilai kalor cangkang dan tandan kosong kelapa sawit relatif lebih besar dibandingkan dengan literatur pembanding dikarenakan tingginya persentase atom C yang terkandung di dalamnya. Analisis proksimat digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan seberapa baik biomassa apabila dikonversi menjadi energi. Kandungan karbon tetap (fixed carbon) dan zat terbang (vollatile matter) adalah komponenkomponen yang dapat menunjukkan energi kimia yang tersimpan di dalam biomassa. Semakin tinggi rasio perbandingan antara zat terbang dan karbon tetap maka semakin besar energi kimia tersedia yang mampu dilepas biomassa. Sedangkan kadar air dan kadar abu merupakan dua parameter yang memiliki dampak buruk pada kualitas bahan bakar. Kadar air yang tinggi menurunkan nilai kalor bahan bakar sedangkan kadar abu yang tinggi dapat meningkatkan biaya operasional (Silva et al 2012).

31 17 Tabel 4.1 Analisis ultimat dan proksimat cangkang kelapa sawit dan beberapa literatur pembanding Analisa ultimat cangkang Penelitian a b c d kelapa sawit ini C (%) H (%) N (%) S (%) O (%) Analisa proksimat cangkang kelapa sawit Kadar air (%) Volatile matter (%) Karbon tetap (%) Abu (%) Nilai Kalor (MJ/kg) a Sukiran (2008), b Idris et al (2012), c Abnisa et al (2011), d Lee et al (2013). Tabel 4.2 Analisis ultimat dan proksimat tandan kosong kelapa sawit dan beberapa literatur pembanding Analisa ultimat tandan Penelitian e f g h kelapa sawit ini C (%) H (%) N (%) S (%) O (%) Analisa proksimat tandan kelapa sawit Kadar air (%) Volatile matter (%) Karbon tetap (%) Abu (%) Nilai Kalor (MJ/kg) e Mohammed et al (2011), f Ma and Yousuf (2005), g Yang et al (2006), h Abdulah dan Gerhauser (2008). Tabel 4.3 menunjukkan hasil analisis lignoselulosa pada cangkang dan tandan kelapa sawit. Hasil analisis menunjukkan bahwa cangkang dan tandan kelapa sawit memiliki kandungan lignoselulosa yang cenderung mirip dengan kandungan lignoselulosa pada beberapa penelitian lainnya. Kandungan lignin yang lebih tinggi pada cangkang mengindikasikan nilai kalor cangkang kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan nilai kalor tandan kelapa sawit.

32 18 Tabel 4.3 Analisis linognoselulosa cangkang dan tandan kelapa sawit dan beberapa literatur pembanding Komponen Sumber Data Cangkang Tandan a b c d Selulosa (%) Hemiselulosa (%) Lignin (%) a Mohammed et al (2011) (tandan), b Law et al (2007) (tandan), c Yang et al (2006) (tandan), d Ginting (2014) (tandan). Pirolisis Cangkang dan Tandan Kelapa Sawit Proses pirolisis telah dilakukan dan diharapkan berlangsung pada suhu 300 C, 400 C, 500 C dan 600 C dengan menggunakan bahan cangkang dan TKKS. Sumber panas yang digunakan dalam proses pirolisis berasal dari heater. Panas dari heater listrik mengalir secara konduksi dengan arah horizontal melalui dinding reaktor yang kemudian dialirkan ke biomassa berupa cangkang dan TKKS. Pirolisis pada cangkang kelapa sawit dengan suhu 300 C, 400 C, 500 C dan 600 C berlangsung selama 143 menit, 110 menit, 106 menit dan 127 menit. Pirolisis TKKS dengan suhu 300 C, 400 C, 500 C dan 600 C berlangsung selama 47 menit, 51 menit, 50 menit dan 114 menit. Tabel 4.4 Suhu akhir, persamaan regresi linear dan laju pemanasan pirolisis cangkang kelapa sawit Suhu pirolisis ( C) Titik pengukuran Suhu akhir ( C) Regresi linear Laju pemanasan ( C/menit) T1 325 y = 3.923x dy/dx = 3.92 T2 300 y = 1.410x dy/dx = 1.41 T3 308 y = 0.964x dy/dx = 0.96 T4 365 y = 40.43x dy/dx = T1 401 y = 9.988x dy/dx = 9.99 T2 391 y = 3.425x dy/dx = 3.43 T3 401 y = 1.937x dy/dx = 1.94 T4 456 y = 45.18x dy/dx = T1 484 y = 19.32x dy/dx = T2 472 y = 6.444x dy/dx = 6.44 T3 486 y = 2.898x dy/dx = 2.90 T4 556 y = 45.60x dy/dx = T1 572 y = 17.30x dy/dx = T2 555 y = 11.52x dy/dx = T3 570 y = 6.190x dy/dx = 6.19 T4 654 y = 44.60x dy/dx = Suhu akhir, persamaan regresi linear dan laju pemanasan pirolisis cangkang dan tandan kelapa sawit ditunjukkan oleh Tabel 4.4 dan 4.5 pada titik T1, T2 dan

33 T3. Dari Tabel 4.4 dan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa pirolisis yang terjadi pada cangkang kelapa sawit secara umum lebih lambat dibandingkan pirolisis TKKS. Hal ini dapat terlihat dari laju pemanasan yang kurang dari 10 C/menit, sementara pada pirolisis TKKS, laju pemanasan yang terjadi di atas 10 C/menit. Perbedaan laju pemanasan yang terjadi bergantung pada karakteristik bahan dan suhu yang diaplikasikan pada bahan. Laju pemanasan pada pirolisis dan suhu perlakuan dapat mempengaruhi hasil pirolisis. Laju pirolisis yang lebih cepat dan suhu perlakuan yang tinggi akan meningkatkan jumlah cairan dan gas pada hasil pirolisis, sementara laju pirolisis yang lebih lambat dan suhu perlakuan yang rendah akan meningkatkan jumlah arang. 19 Tabel 4.5 Suhu akhir, persamaan regresi linear dan laju pemanasan pirolisis tandan kosong kelapa sawit Suhu pirolisis ( C) Titik pengukuran Suhu akhir ( C) Regresi linear Laju pemanasan ( C/menit) T1 324 y = 9.004x dy/dx = 9.00 T2 307 y = 3.319x dy/dx = 3.32 T3 317 y = 1.790x dy/dx = 1.79 T4 359 y = 48.53x dy/dx = T1 394 y = 25.74x dy/dx = T2 383 y = 27.58x dy/dx = T3 396 y = 42.90x dy/dx = T4 460 y = 55.58x dy/dx = T1 486 y = 38.41x dy/dx = T2 474 y = 28.72x dy/dx = T3 488 y = 40.04x dy/dx = T4 562 y = 52.78x dy/dx = T1 595 y = 42.09x dy/dx = T2 577 y = 49.33x dy/dx = T3 589 y = 38.01x dy/dx = T4 645 y = 48.91x dy/dx = Terdapat dua fase dalam laju pemanasan yaitu fase pengeringan bahan dan laju pirolisis itu sendiri. Laju pemanasan pada Tabel 4 dan 5 adalah laju pemanasan pada fase pirolisis. Dikarenakan posisi T3 paling dekat dengan sumber panas maka selama fase pengeringan, bahan yang berada di titik T3 mengalami peningkatan suhu lebih tinggi yang berdampak pada penguapan vollatile matter lebih banyak dibandingkan bahan pada titik T1 dan T2 sehingga pada saat fase pirolisis, laju pemanasan titik T3 lebih rendah dibandingkan yang lain. Sementara pada pirolisis tandan kelapa sawit dengan suhu yang lebih tinggi, laju pemanasan cenderung lebih merata bahkan semakin rata pada suhu yang semakin tinggi. Hal ini dikarenakan karakteristik tandan yang lebih lunak ditandai dengan lebih rendahnya kadar lignin yang terkandung serta porositas yang lebih tinggi sehingga perambatan kalor dari heater semakin mudah.

34 20 Karakteristik Hasil Pirolisis Limbah Kelapa Sawit Fraksi massa dari proses pirolisis cangkang dan tandan kelapa sawit pada kondisi pemanasan yang berbeda ditunjukkan pada Tabel 4.6 dan Tabel 4.7. Fraksi massa padatan, cairan dan gas hasil pirolisis cangkang kelapa sawit secara berturut-turut adalah %, % dan %. Sedangkan fraksi massa padatan, cairan dan gas hasil pirolisis tandan kelapa sawit secara berturut-turut adalah %, dan %. Masingmasing fraksi massa padatan, cairan dan gas kemudian dibagi menjadi bagian yang memiliki nilai kalor dan yang tidak memiliki nilai kalor. Bagian yang memiliki nilai kalor adalah arang, bio-oil dan gas mampu bakar sedangkan bagian yang tidak memiliki nilai kalor adalah abu, asap cair dan gas tak mampu bakar. Penggunaan bahan baku yang berbeda serta jenis pirolisis dapat mempengaruhi persentase produksi arang, bio-oil dan gas mampu bakar pada proses pirolisis tersebut. Tabel 4.6 dan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa persentase produksi bio-oil pada pirolisis cangkang lebih banyak daripada persentase produksi bio-oil pada pirolisis tandan kosong kelapa sawit namun kebalikannya pada persentase produksi gas mampu bakar. Pada persentase produksi arang, pirolisis cangkang menghasilkan arang yang lebih sedikit dibandingkan pirolisis tandan kosong pada suhu 300 C dan 400 C sedangkan pada suhu 500 C dan 600 C terjadi sebaliknya. Laju pemanasan yang lebih lambat pada pirolisis cangkang kelapa sawit berdampak pada lebih tingginya persentase bio-oil yang diperoleh dari hasil pirolisis dibandingkan dengan pirolisis TKKS, sementara itu persentase gas TKKS lebih besar dibandingkan persentase gas yang diperoleh pada pirolisis cangkang kelapa sawit. Tabel 4.6 Fraksi massa hasil pirolisis cangkang kelapa sawit Suhu Pirolisis Arang (%) Abu (%) Bio-oil (%) Asap cair (%) Gas mampu bakar (%) Gas tak mampu bakar (%) Peningkatan suhu pirolisis menurunkan presentase produksi arang yang diakibatkan oleh devolatilisasi lanjutan dari volatile matter yang tersisa pada arang. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Sukiran et al. (2009) dan Abnisa et al. (2011). Sebaliknya, peningkatan suhu pirolisis meningkatkan produksi cairan dan gas karena adanya penambahan devolatilisasi zat terbang dari arang.