PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS)
|
|
|
- Fanny Lesmana
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS IV SD NEGERI JERUKSARI WONOSARI GUNUNGKIDUL SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh Ninu Widiani NIM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA APRIL 2016 i
2
3
4
5 MOTTO Semua guru dapat membawa semua anak ke ruang kelas, tapi tidak semua guru dapat membuat muridnya belajar. (Helen Keller) Nikmati dan syukuri setiap proses yang kamu jalani, karena proses tidak akan mengkhianati hasil. (Ninu Widiani) v
6 PERSEMBAHAN Karya tulis ini aku persembahkan untuk: 1. Allah SWT, semoga skripsi ini menjadi salah satu bagian dari wujud ibadahku kepadamu. 2. Bapak, Ibu, dan keluargaku tercinta. 3. Almamater UNY sebagai wujud dedikasiku. vi
7 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS IV SD NEGERI JERUKSARI WONOSARI GUNUNGKIDUL Oleh Ninu Widiani NIM ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Jeruksari yang berjumlah 14 siswa. Desain PTK yang digunakan terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan catatan harian. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi keaktifan siswa, lembar observasi kegiatan guru, dan catatan harian. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif untuk menganalisis data hasil observasi, catatan harian keaktifan siswa, dan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS oleh guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas IV SD Negeri Jeruksari. Persentase jumlah siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian pada pra tindakan 0%, siklus I/1 hanya 7,14%, siklus I/2 menjadi 28,57%. Hasil pengamatan keaktifan siklus I belum berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu >75% siswa memperoleh skor akhir >2,66 sehingga perlu dilanjutkan penelitian tindakan siklus II. Pada siklus II/1 64,29% siswa kemudian siklus II/2 menjadi 100%. Penelitian tindakan siklus II berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian sehingga tidak perlu dilaksanakan penelitian tindakan lanjutan. Kata kunci : model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS), keaktifan siswa, PKn vii
8 KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat, rahmat, dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi guna memenuhi tugas akhir. Adapun judul skripsi ini yaitu PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS IV SD NEGERI JERUKSARI WONOSARI GUNUNGKIDUL. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimaksih kepada: 1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan menuntut ilmu di UNY. 2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kemudahan izin dalam penyusunan skripsi ini. 3. Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kemudahan izin dalam penyusunan skripsi ini. 4. Ketua Jurusan PSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kemudahan izin dalam penyusunan skripsi ini. 5. Bapak Fathurrohman, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Kepala Sekolah Dasar Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul yang telah memberikan izin penelitian. 7. Guru-guru SD Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian. 8. Kedua orangtuaku, Bapak Irfan Asrono dan Ibu Titi Suharti yang selalu memberi motivasi, doa, dan dukungan secara moril maupun materiil. 9. Keluargaku yang selalu memberikan semangat dan doa. viii
9 10. Semua pihak yang telah mendukung dan membantu penulis dalam penyusunan skripsi. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan pelaku pendidikan atau guru sekolah dasar pada khususnya. Yogyakarta, 16 Maret 2016 Penulis ix
10 DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii HALAMAN SURAT PERNYATAAN... iii HALAMAN PENGESAHAN... iv MOTTO... v PERSEMBAHAN... vi ABSTRAK... vii KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... x DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah... 6 C. Pembatasan Masalah... 6 D. Perumusan Masalah... 6 E. Tujuan Penelitian... 7 F. Manfaat Penelitian... 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Pengertian Pembelajaran Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas IV.. 14 B. Keaktifan Siswa Pengertian Keaktifan Siswa Indikator Keaktifan Siswa x
11 3. Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Cara Meningkatkan Keaktifan Siswa C. Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Pengertian Model Pembelajaran Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Langkah-langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Langkah-langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) D. Keterkaitan antara Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) E. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar (SD) F. Penelitian yang Relevan G. Kerangka Berpikir H. Hipotesis Tindakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian B. Desain Penelitian C. Subjek dan Objek Penelitian D. Tempat dan Waktu Penelitian E. Teknik Pengumpulan Data F. Instrumen Penelitian G. Validasi Instrumen Penelitian H. Teknik Analisis Data I. Indikator Keberhasilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Diskripsi Lokasi Penelitian B. Hasil Penelitian xi
12 1. Deskripsi Pra Tindakan Pelaksanaan Pra Tindakan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas a. Siklus I ) Perencanaan Tindakan Siklus I ) Pelaksanaan Tindakan Siklus I a) Siklus I pertemuan b) Siklus I pertemuan ) Pengamatan Siklus I a) Pengamatan guru siklus I b) Pengamatan siswa siklus I ) Refleksi Siklus I b. Siklus II ) Perencanaan Tindakan Siklus II ) Pelaksanaan Tindakan Siklus II a) Siklus II pertemuan b) Siklus II pertemuan ) Pengamatan Siklus II a) Pengamatan guru siklus II b) Pengamatan siswa siklus II ) Refleksi Siklus II C. Pembahasan Hasil Penelitian BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii
13 DAFTAR TABEL Tabel 1. Tabel 2. Hal Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn Kelas IV Sekolah Dasar Semester Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn Kelas IV Sekolah Dasar Semester Tabel 3. Pedoman Kriteria Keaktifan Siswa Tabel 4. Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Pra Tindakan Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Pembelajaran PKn Siklus I Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan pada Siklus I Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan antara Pra Tindakan dan Siklus I Kendala pada Siklus I dan Rencana Perbaikan untuk Pembelajaran pada Pertemuan Berikutnya Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Pembelajaran PKn Siklus II Tabel 10. Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan Pada Siklus II Tabel 11. Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan dari Pra Tindakan sampai Siklus II xiii
14 DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Guru sedang Menjelaskan Materi kepada Siswa dengan Metode Ceramah dan Tanya Jawab Guru Menegaskan Masalah yang Disajikan dalam LKS ketika Siswa Duduk dalam Kelompok Diskusi dalam Kelompok 2 Berjalan Kurang Baik karena ada Siswa yang Kurang Aktif Guru Menjelaskan Petunjuk Kegiatan yang akan Dilakukan oleh Siswa dan Mempertegas Masalah yang Tersaji dalam LKS dengan Menuliskan di Papan Tulis Kegiatan Diskusi Penyelesaian Masalah dalam Kelompok 1 yang Berjalan Cukup Baik Gambar 7. Guru Kurang Aktif Membimbing Diskusi Siswa Gambar 8. Gambar 9. Siswa sedang Berdiskusi dengan Menggunakan Name Tag yang Ditempelkan pada Baju Siswa Diagram Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan antara Pra Tindakan dan Siklus I Gambar 10. Guru Menjelaskan Petunjuk Kegiatan yang akan Dilakukan oleh Siswa dan Mempertegas Masalah yang Tersaji dalam LKS Gambar 11. Diskusi dalam Kelompok 1 (kiri) dan 2 (kanan) Berjalan Baik dan Diskusi Telah Selesai Gambar 12. Diskusi dalam Kelompok 3 dan Berjalan Baik dan Diskusi Telah Selesai Gambar 13. Guru Menjelaskan Materi Mengenai KPU Gambar 14. Guru Menjelaskan Petunjuk Kegiatan yang akan Dilakukan oleh Siswa dan Mempertegas Masalah yang Tersaji dalam LKS dengan Menuliskan di Papan Tulis Gambar 15. Diskusi dalam Kelompok 1 Berjalan Baik dan Siswa Terlihat Antusias Mengerjakan LKS Gambar 16. Diskusi dalam Kelompok 2 Berjalan Baik dan Siswa Terlihat Antusias Mengerjakan LKS Gambar 17. Diskusi dalam Kelompok 3 Berjalan Baik dan Siswa Terlihat Antusias Mengerjakan LKS xiv
15 Gambar 18. Diagram Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan dari Pra Tindakan sampai Siklus II xv
16 DAFTAR LAMPIRAN Hal Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Lampiran 2. Lembar Observasi Keaktifan Siswa Lampiran 3. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Lampiran 4. Hasil Observasi Kegiatan Guru Lampiran 5. Catatan Harian Lampiran 6. Surat-surat Penelitian xvi
17 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Depdiknas, 2006: 3). Pelaksanaan prinsip penyelenggaraan pendidikan harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 (Depdiknas, 2006: 8) yaitu: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional di atas maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar yakni meletakkan dasar kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya. Aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sumber daya manusia 1
18 Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa. Peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dimulai sejak dari pendidikan dasar. Siswa-siswa sekolah dasar merupakan bibit yang kelak akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Hal tersebut akan tercapai apabila sejak pendidikan dasar siswa telah dituntun untuk berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan. Peran dari seorang guru pada hakikatnya adalah membantu siswa dalam mengembangkan diri siswa. Guru juga berperan membantu siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Hal ini tidak hanya masalah dalam belajar, namun masalah-masalah yang lain. Sekolah Dasar (SD) Negeri Jeruksari merupakan lembaga formal yang terletak di Jalan Taman Bhakti, Jeruk Kepek, Wonosari, Gunungkidul. SD Negeri Jeruksari memiliki visi dan misi yang harus diwujudkan. Awal berdiri sekolah tersebut merupakan sekolah Instruksi Presiden (Inpres) yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat di Wonosari sehingga jumlah siswa di sekolah tersebut sangat sedikit. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Negeri Jeruksari pada hari Kamis, 1 Oktober 2015, kurikulum yang diterapkan di SD Negeri Jeruksari menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pembelajaran pada seluruh kelas di SD Negeri Jeruksari, guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Guru menjelaskan 2
19 dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terkadang disisipi bahasa Jawa untuk membantu pemahaman siswa. Guru menjelaskan dengan menggunakan media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi untuk membantu pemahaman siswa di antaranya penggunaan media powerpoint, peta, dan globe pada pembelajaran di kelas V. Guru membentuk kelompok belajar yang di setiap kelompok terdiri dari siswa yang pandai, sedang, dan kurang pandai. Guru berusaha mengaktifkan siswa dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan mengenai materi. Guru menggunakan metode diskusi dalam kelompok di kelas II, jumlah siswa tiap kelompok hanya 2-3 siswa, karena siswa akan sulit terkondisi jika jumlah anggota kelompok terlalu banyak. Guru juga menggunakan media gambar-gambar berwarna dan lagu-lagu yang sesuai untuk anak usia sekolah dasar ketika pembelajaran. Tujuannya untuk menarik perhatian siswa dalam pembelajaran. Guru juga membawa bendabenda konkret seperti tumbuhan untuk menerangkan bagian-bagian tumbuhan di kelas II. Secara keseluruhan keaktifan siswa di kelas rendah sangat baik. Siswa aktif mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan dari guru. Rasa ingin tahu siswa cukup tinggi. Guru meminta siswa maju ke depan untuk mengerjakan soal, siswa berebut maju ke depan untuk mendapatkan nilai tambah dan ingin mendapatkan pujian dari guru. Guru kelas III memberi pertanyaan mengenai penjumlahan pada siswa dan siswa berebut ingin menjawab. Terkadang siswa ramai, namun ketika guru menegur, siswa kembali tenang dan mengikuti pembelajaran. 3
20 Guru kelas IV dan V juga menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi dalam kelompok. Peneliti melakukan pengamatan seluruh pembelajaran pada hari Kamis, 1 Oktober 2015 di kelas IV. Guru menjelaskan materi mengenai pemerintahan desa dan kota. Guru menjelaskan dengan menggunakan media peta Kabupaten Gunungkidul. Guru juga menggambar bagan struktur pemerintahan desa dan peta posisi provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di papan tulis untuk membantu pemahaman siswa. Guru mencoba mengaktifkan siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pembelajaran, namun keaktifan siswa pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) masih kurang. Peneliti mengamati siswa yang duduk di belakang, siswa mengobrol dengan teman sebangku. Beberapa siswa yang keluar masuk kelas dengan alasan membuang sampah ataupun ke kamar kecil. Siswa yang duduk di pojok belakang, sibuk bermain dengan mainan yang dibawa dan ada juga yang makan ketika guru sedang menjelaskan. Guru memberi pertanyaan mengenai materi yang dijelaskan, siswa tidak menjawab dan ketika diberi kesempatan untuk bertanya, siswa diam kemudian menunduk melihat ke arah buku meskipun sudah ditunjuk oleh guru. Hal tersebut menandakan rasa ingin tahu siswa masih rendah terhadap pembelajaran PKn. Siswa yang merespon pertanyaan guru cenderung siswa yang sama. Siswa juga merespon pertanyaan guru dengan bahasa Jawa yang kurang sopan. Beberapa siswa tidak mencatat apa yang dituliskan guru di papan tulis. Beberapa siswa berbuat usil dengan menyembunyikan alat tulis teman sehingga menimbulkan 4
21 keributan. Upaya guru dalam mengelola kelas kurang optimal, terbukti dari siswa sulit dikondisikan untuk memperhatikan penjelasan guru saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran tersebut perlu adanya suatu upaya untuk mengadakan perbaikan dan meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn. Proses pembelajaran merupakan suatu proses hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa ini merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan membawa suasana belajar yang menyenangkan dan dapat mengembangkan keaktifan siswa. Suasana belajar yang menyenangkan dapat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar yang baik. Pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dan menarik, guru akan mampu mendorong siswa terlibat secara aktif. Banyak model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatif model pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Model pembelajaran CPS merupakan model yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, membantu siswa dalam memahami pelajaran, serta diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang baik sebab dalam penerapannya siswa diberikan masalah untuk dipecahkan. Peneliti akan melakukan penelitian tindakan kelas berdasarkan ulasan latar belakang dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving 5
22 (CPS) untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PKn di Kelas IV SD Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut. 1. Keaktifan siswa kelas IV dalam pembelajaran PKn masih kurang. 2. Rasa ingin tahu siswa kelas IV terhadap pembelajaran PKn masih rendah. 3. Kesopanan dalam berbicara siswa kelas IV kepada guru masih kurang. 4. Upaya guru dalam mengelola kelas kurang optimal, terbukti dari siswa sulit dikondisikan untuk memperhatikan penjelasan guru saat proses pembelajaran berlangsung. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas tidak semua diteliti, maka dibatasi pada permasalahan keaktifan siswa kelas IV dalam pembelajaran PKn masih kurang. D. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul? 6
23 E. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul melalui model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). F. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, antara lain. 1. Secara Teoritis Penelitian ini memberi masukan sekaligus menambah pengetahuan serta wawasan mengenai upaya meningkatkan keaktifan dalam pembelajaran PKn melalui model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). 2. Secara Praktis a. Bagi Kepala Sekolah Penelitian ini memberi masukan dalam menentukan kebijakan dan dalam mendorong peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar. b. Bagi Guru Penelitian ini memberikan pengalaman menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) yang nantinya diharapkan dapat menginspirasi guru untuk selalu mengembangkan model pembelajaran lainnya. 7
24 c. Bagi Siswa Penelitian ini memotivasi siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar. 8
25 BAB II KAJIAN TEORI A. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 1. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses penyampaian informasi kepada siswa (W. Gulo, 2004: 4-5). Tujuan pembelajaran adalah memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Guru profesional tidak hanya berpikir tentang apa yang akan diajarkan dan bagaimana cara mengajarkan, tetapi guru juga memikirkan tentang siapa yang menerima pembelajaran, apa makna belajar bagi siswa, dan kemampuan apa yang ada pada diri siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Melalui proses pembelajaran berarti siswa mampu meningkatkan kemampuan untuk memproses, menemukan, dan menggunakan informasi bagi pengembangan dirinya dalam sebuah lingkungan. Wina Sanjaya (2012: 26) mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi yang ada dalam diri siswa maupun yang ada di luar diri siswa sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar. Potensi yang ada dalam diri siswa meliputi minat, bakat, dan kemampuan dasar termasuk gaya belajar. Potensi yang ada di luar diri siswa meliputi lingkungan, sarana, dan sumber belajar. Pembelajaran tidak hanya menitikberatkan 9
26 pada kegiatan guru atau siswa saja, akan tetapi guru dan siswa bersamasama berusaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kajian mengenai pembelajaran menurut Gagne (Wina Sanjaya, 2012: 27) mengajar atau teaching merupakan bagian dari dari pembelajaran, dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. Proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar. Hikmah pembelajaran sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman yang dikembangkan melalui saling berbagi, sehingga memberikan keuntungan bagi yang lain (Suyono dan Hariyanto, 2014: 15). Siswa dengan saling berbagi diharapkan mampu memperoleh hikmah pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar di dalam kelas dan dalam situasi pembelajaran lain di sekolah. Memperoleh hikmah pembelajaran diharapkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Berdasarkan beberapa pendapat dari beberapa ahli tentang pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan hubungan kerja sama antara guru dengan siswa untuk memperoleh suatu pengetahuan, sikap, dan keterampilan melalui proses pengajaran dan dapat mengaktifkan siswa, sehingga proses pengajaran dapat lebih bermakna dan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Tujuan yang 10
27 ingin dicapai telah tercantum dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru. Proses pembelajaran tersebut, guru akan merealisasikan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. 2. Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan sarana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur yang berakar pada budaya bangsa Indonesia dalam bentuk perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku yang dimaksud adalah perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan dapat dilaksanakan secara formal maupun informal. Pendidikan secara formal dapat dilaksanakan pada lembaga yang biasa disebut sekolah, sedangkan pendidikan secara informal dapat dilaksanakan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia cerdas, terampil, dan berkarakter seperti yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) Materi dalam mata pelajaran PKn membahas tentang konsep nilai Pancasila dan UUD 1945 beserta dinamika perwujudan dalam kehidupan masyarakat negara Indonesia, sehingga mata pelajaran PKn sangat penting untuk dipelajari 11
28 dan dipahami sejak dini, beranjak dari usia Sekolah Dasar (SD) agar terwujudnya nilai-nilai yang diajarkan dalam PKn. Nilai-nilai tersebut di antaranya pendidikan nilai demokrasi, pendidikan nilai moral, dan pendidikan nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjang kemajuan bangsa. Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan siswa pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosiokultural, bahasa, usia, dan suku bangsa dengan tujuan sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 yaitu untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter (Arnie Fajar, 2005: 141). Tujuan dicapai dengan merefleksikan diri dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD Mata pelajaran PKn membantu siswa mengembangkan pemahaman, baik materi maupun keterampilan intelektual, dan partisipatori dalam kegiatan sekolah. Selanjutnya, Zamroni (Azyumardi Azra, 2003: 7) mengemukakan bahwa PKn merupakan pendidikan demokrasi yang memiliki tujuan mempersiapkan warga masyarakat untuk berpikir kritis dan bertindak secara demokratis, melalui aktivitas menanamkan kesadaran pada generasi baru bahwa demokrasi dapat menjamin hak-hak warga masyarakat. Demokrasi adalah suatu proses dan bukan hasil meniru dari masyarakat lain. Nilai-nilai demokrasi perlu diterapkan dan diajarkan sejak dini agar nilai-nilai tersebut dapat tersampaikan dengan baik. 12
29 Membantu siswa menjadi warga negara yang demokratis melalui kegiatan seluruh program sekolah, kegiatan belajar mengajar dalam kelas yang dapat menumbuhkan perilaku yang lebih baik dalam masyarakat demokratis, dan pengalaman serta kepentingan masyarakat untuk hidup bernegara. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas, PKn adalah program pendidikan yang memuat bahasan tentang masalah kebangsaan, kewarganegaraan dalam hubungannya dengan negara, demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), dan masyarakat madani yang dalam implementasinya menerapkan prinsip-prinsip pendidikan demokratis dan humanis. 3. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara yang baik. Sedangkan, tujuan mata pelajaran PKn yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (Wuri Wuryandani dan Fathurrohman, 2012: 9) adalah untuk memberikan kompetensi-kompetensi kepada siswa sebagai berikut. a. Mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup maupun isu kewarganegaraan di negaranya. b. Mau berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan, secara aktif dan bertanggung jawab, sehingga bisa bertindak secara cerdas dalam semua kegiatan baik di masyarakat, bangsa, dan negara. c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri 13
30 berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia sehingga mampu hidup bersama dengan bangsa lain. d. Berinteraksi dengan bangsa lain secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik. Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk (a) membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab, (b) membentuk warga yang baik dan demokratis, (c) membentuk siswa untuk berpikir kritis, (d) mengembangkan kultur demokratis, dan (e) membentuk siswa menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab (Azyumardi Azra, 2003: 10). Tujuan di atas akan mudah tercapai jika pendidikan nilai moral dan norma tetap ditanamkan pada siswa sejak usia dini, karena jika siswa sudah memiliki nilai moral yang baik, maka tujuan untuk membentuk warga negara yang baik akan mudah diwujudkan. Berdasarkan ulasan mengenai tujuan pembelajaran PKn tersebut, maka peneliti menyimpulkan tujuan PKn adalah untuk menjadikan warga negara yang baik, yaitu warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya. 4. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas IV Pembelajaran merupakan proses interaksi dua arah antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Melalui proses pembelajaran, diharapkan siswa dapat mencapai kompetensi dasar secara tuntas. Banyak komponen pendidikan yang berpengaruh dalam 14
31 proses pencapaian kompetensi dasar siswa. Komponen-komponen tersebut antara lain siswa, guru, sumber belajar, lingkungan, sarana, dan prasarana yang mendukung. Pembelajaran di kelas hendaknya ditekankan pada pembelajaran siswa aktif, sehingga peran guru sebagai fasilitator. Menurut Mathews (Wuri Wuryandani dan Fathurrohman, 2012: 37-39), kelas yang dapat mengaktifkan siswanya memiliki syarat-syarat sebagai berikut. a. Guru dan siswa bertanggung jawab menciptakan iklim kelas yang baik. b. Guru menjadi model dan pendorong untuk siswa berpikir kritis. c. Menciptakan atmosfer kelas yang mendorong siswa melakukan penemuan dan memiliki wawasan pemikiran yang lebih terbuka. d. Siswa diberikan dorongan untuk berpikir secara benar yaitu tentang cara mereka berpikir, menemukan, dan komunikasi dalam pembelajaran. e. Penataan ruang kelas yang memudahkan siswa bekerjasama antara siswa yang satu dengan lainnya. Kompetensi Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memuat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan tujuan yang akan dicapai siswa melalui proses pembelajaran. Guru berperan membantu siswa untuk mencapai seluruh kompetensi yang sudah tercantum dalam kurikulum dengan melakukan pembelajaran secara sistematis. Berikut diuraikan tentang 15
32 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn kelas IV Sekolah Dasar yang termuat dalam Kompetensi Tingkat Satuan Pendidikan (Wuri Wuryandani dan Fathurrohman, 2012: 27-28). Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn Kelas IV Sekolah Dasar Semester 1 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 1. Memahami sistem 3.1 Mengenal lembaga-lembaga dalam pemerintahan desa susunan pemerintahan desa dan dan pemerintahan kecamatan pemerintahan kecamatan 3.2 Menggambarkan struktur organisasi desa 2. Memahami sistem pemerintahan kabupaten, kota, dan provinsi dan pemerintahan kecamatan 4.2 Mengenal lembaga-lembaga dalam susunan pemerintah kabupaten, kota, dan provinsi 4.3 Menggambarkan struktur organisasi kabupaten, kota, dan provinsi Tabel 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn Kelas IV Sekolah Dasar Semester 2 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 3. Mengenal sistem 3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam pemerintahan susunan pemerintahan tingkat pusat, tingkat pusat seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK dll 3.2 Menyebutkan organisasi pemerintahan tingkat pusat, seperti Presiden, Wakil 4. Menunjukkan sikap terhadap globalisasi di lingkungannya Presiden dan para Menteri 4.1 Memberikan contoh sederhana pengaruh globalisasi di lingkungannya 4.2 Mengidentifikasi jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan internasional 4.3 Menentukan sikap terhadap pengaruh globalisasi yang terjadi di lingkungannya Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn Kelas IV, secara keseluruhan dapat diterapkan model pembelajaran CPS, namun penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti tetap mengikuti pembelajaran di sekolah yang akan dituju. 16
33 B. Keaktifan Siswa 1. Pengertian Keaktifan Siswa Proses pembelajaran tidak akan lepas dari interaksi antara guru dan siswa. Aktivitas siswa menjadi sesuatu hal penunjang terjadinya interaksi tersebut. Sardiman A.M. (2007: ) mengemukakan bahwa aktivitas sangat diperlukan dalam proses belajar. Tanpa adanya aktivitas, belajar tidak mungkin berjalan dengan baik karena pada hakikatnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi tindakan (aktivitas). Aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Aktivitas fisik meliputi mendengar, menulis, membaca, dan lain-lain. Aktivitas mental meliputi memecahkan permasalahan, membandingkan konsep, menyimpulkan hasil pengamatan, dan lain-lain. Pada kegiatan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar akan membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat, sehingga dapat terhindar dari tindakan yang akan merugikan siswa. Prinsip-prinsip pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono (Waluyo Adi, 2000: 15), meliputi perhatian, motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan, penguatan, dan perbedaan individu. Pada penelitian ini, secara khusus akan mengkaji mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran. Keaktifan siswa sangat diperlukan ketika proses pembelajaran berlangsung, seperti yang dikemukakan oleh John Dewey (Waluyo Adi, 2000: 17) bahwa belajar berkaitan dengan sesuatu yang dikerjakan dan 17
34 misi aktif siswa. Teori Behavioristik menjelaskan bahwa dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang berupa respon. Menurut teori ini belajar adalah proses interaksi antara stimulus atau rangsangan yang berupa serangkaian kegiatan yang bertujuan agar mendapatkan respon dari kegiatan tersebut. Teori Kognitif menjelaskan bahwa belajar ditunjukkan dengan adanya jiwa yang aktif dan jiwa yang mengolah informasi yang diterima. Berdasarkan teori-teori belajar di atas, tanpa adanya keaktifan siswa maka kegiatan belajar tidak berkualitas. Siswa dituntut untuk mampu mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Penerapan prinsip keaktifan siswa oleh guru dalam kegiatan pembelajaran menurut Waluyo Adi (2000: 17-18), dapat dilihat dalam kegiatan sebagai berikut. a. Menggunakan metode dan media yang bermacam-macam dalam pembelajaran pada siswa secara individu maupun kelompok. b. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dalam kelompok dan bertanya jawab. c. Memberikan tugas pada siswa untuk mempelajari materi dan hal-hal yang belum dipahami. d. Memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan percobaan dan penyelesaian masalah secara berkelompok. Keaktifan sangat penting dalam proses pembelajaran karena dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang ada dalam diri siswa, 18
35 berpikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Keaktifan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keaktifan siswa dalam pembelajaran berupa aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar meliputi pengetahuan, pemahaman, aspek-aspek tingkah laku lainnya serta mengembangkan keterampilan yang bermakna. Keterampilan tersebut baik yang dapat diamati (konkret) seperti mendengar, menulis, membaca, menyanyi, menggambar, dan berlatih maupun yang sulit diamati (abstrak) seperti menggunakan pengetahuan dalam memecahkan permasalahan, membandingkan konsep, menyimpulkan hasil pengamatan, dan lain-lain. 2. Indikator Keaktifan Siswa Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keinginan untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan dalam pembelajaran apabila memiliki ciri-ciri seperti sering bertanya kepada guru atau siswa lain mengenai hal yang belum dipahami dalam pembelajaran, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dan mampu menjawab pertanyaan. Nana Sudjana (2009: 61) menyebutkan beberapa kegiatan yang mencerminkan keaktifan siswa. Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal sebagai berikut. a. Ikut serta dalam melaksanakan tugas belajar. b. Terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. c. Bertanya kepada guru atau siswa lain ketika tidak memahami 19
36 masalah yang dihadapi. d. Mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. e. Melakukan diskusi dalam kelompok sesuai dengan petunjuk guru. f. Melakukan penilaian terhadap kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperoleh. g. Melatih diri dalam memecahkan permasalahan yang sejenis. h. Menerapkan apa yang telah diperoleh untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Kemudian, Sriyono (1992: 75) menjelaskan bahwa keaktifan adalah pada waktu guru mengajar guru harus mengusahakan agar siswa dapat aktif secara jasmani dan rohani. Syaiful Sagala (2006: ) menambahkan teori mengenai keaktifan jasmani dan rohani sebagai berikut. a. Keaktifan indera yaitu pendengaran, penglihatan, peraba. Siswa dirangsang agar dapat menggunakan alat indera sebaik mungkin. b. Keaktifan akal yaitu akal siswa harus aktif atau diaktifkan untuk memecahkan masalah, berpendapat, dan mengambil keputusan. c. Keaktifan ingatan yaitu pada saat mengajar, siswa harus aktif menerima materi pembelajaran yang disampaikan guru dan menyimpan dalam otak, kemudian pada suatu saat siswa akan siap mengutarakan materi pembelajaran tersebut. d. Keaktifan emosi yaitu dalam siswa berusaha mencintai pelajaran. 20
37 Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keaktifan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keaktifan siswa dalam pembelajaran berupa aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar meliputi pengetahuan, pemahaman, aspek-aspek tingkah laku lainnya serta mengembangkan keterampilan yang bermakna. Keterampilan tersebut baik yang dapat diamati (konkret) seperti mendengar, menulis, membaca, menyanyi, menggambar, dan berlatih maupun yang sulit diamati (abstrak) seperti menggunakan pengetahuan dalam memecahkan permasalahan, membandingkan konsep, menyimpulkan hasil pengamatan, dan lain-lain. 3. Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sangat penting karena dalam PKn banyak materi-materi mengenai pemecahan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari seperti musyawarah, demokrasi, penerapan sikap kejujuran, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Siswa sebagai subjek didik yang merencanakan dan melaksanakan belajar. Bentuk-bentuk keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang akan digunakan sebagai indikator aspek pengamatan ketika menerapkan model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn antara lain. a. Terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah dengan mengemukakan pendapat dalam kelompok. 21
38 b. Menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi kelompok. c. Berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok. d. Mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi dari kelompok lain. 4. Cara Meningkatkan Keaktifan Siswa Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran menurut H.E. Mulyasa (2013: 188) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. Mengembangkan keberanian dan rasa percaya diri siswa serta mengurangi perasaan-perasaan yang kurang menyenangkan dalam pembelajaran. b. Memberi kesempatan pada siswa untuk berkomunikasi secara aktif dan terarah. c. Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan penilaian hasilnya. d. Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter. e. Melibatkan mereka secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dalam proses pembelajaran secara keseluruhan. Selain adanya aktivitas belajar yang melibatkan siswa, motivasi juga dapat mempengaruhi keaktifan siswa dalam belajar. Beberapa hal 22
39 yang dapat menimbulkan motivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran menurut Masnur Muslich (2011: 68) sebagai berikut. a. Siswa megetahui maksud dan tujuan pembelajaran Apabila siswa mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, siswa akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. b. Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung Keaktifan siswa akan timbul apabila terdapat fasilitas, sumber belajar yang menarik dan cukup untuk mendukung kegiatan belajar. Begitu juga dengan kondisi lingkungan yang kondusif akan membiat siswa bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. c. Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap siswa Guru harus membangun dan menjaga interaksi dengan siswa. Pemberian apresiasi terhadap pendapat atau gagasan dari masingmasing siswa juga penting untuk menghargai potensi masing-masing siswa dan menjaga siswa untuk selalu percaya diri. d. Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam pembelajaran Penerapan pemberian reward atau punishment dalam pembelajaran berlangsung secara konsisten dan adil. Hal ini akan berdampak negatif bagi siswa jika dalam penerapannya terjadi kesalahan. e. Adanya pemberian penguatan dalam pembelajaran Penguatan merupakan pemberian respon terhadap aktivitas belajar 23
40 siswa baik secara oral maupun perlakuan. Pemberian penguatan penting untuk menumbuhkan motivasi siswa sehingga siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. f. Jenis kegiatan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan menantang Pemilihan kegiatan yang bersifat menarik, menyenangkan, dan menantang dapat menjaga keaktifan peserta didk dalam proses pembelajaran. g. Penilaian hasil belajar dilakukan secara serius, objektif, teliti, dan terbuka Penilaian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan hasil penilaian harus diumumkan secara terbuka. Hasil penilaian sangat berpengaruh pada semangat siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di kelas dilakukan dengan memberikan sejumlah aktivitas yang dapat mengaktifkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan serta memunculkan hal-hal yang dapat menumbuhkan motivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Hal ini dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru ketika pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan membawa suasana belajar yang menyenangkan dan dapat mengembangkan keaktifan siswa. Suasana belajar yang menyenangkan dapat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan siswa dalam 24
41 mencapai prestasi belajar yang baik. Pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dan menarik, guru akan mampu mendorong siswa terlibat secara aktif. Banyak model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatif model pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Model pembelajaran CPS merupakan model yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, membantu siswa dalam memahami pelajaran, serta diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang baik sebab dalam penerapannya siswa diberikan masalah untuk dipecahkan. C. Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) 1. Pengertian Model Pembelajaran Model menurut Udin S. Winataputra (2001: 3) diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Model pembelajaran didefinisikan lebih lanjut oleh Udin S. Winataputra (2001: 3) yaitu: kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Pengertian di atas menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang tertata dan tersusun secara sistematis. Model pembelajaran 25
42 menurut Trianto (2010: 51) adalah suatu perencanaan yang dibuat dan digunakan untuk merencanakan kegiatan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran, tahapan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Seperti pendapat Joyce (Trianto, 2010: 51) bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran adalah sebuah rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi instruksional, dan memandu proses pengajaran di dalam kelas maupun tempat lain (Joyce dan Weill dalam Miftahul Huda, 2013: 73). Model pembelajaran dirancang dengan melibatkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran menekankan bagaimana membantu siswa belajar mengkonstruksi pengetahuannya. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode, atau prosedur. Model pembelajaran memiliki empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri tersebut seperti yang disebutkan oleh Kardi dan Nur (Trianto, 2010: 55) antara lain: (1) rasional, teoritis, logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya, (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. 26
43 Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perencana pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda-beda. 2. Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Pertengahan tahun 1950 di Buffalo, para pejabat pendidikan yang dikoordinasi oleh Osborn saling bertukar metode dan teknik untuk mengembangkan kreativitas yang bisa berguna bagi masyarakat (Parnes dalam Miftahul Huda, 2013: ). Diskusi tersebut menghasilkan model pembelajaran yang dikenal dengan Creative Problem Solving (CPS). CPS merupakan model untuk menyelesaikan masalah secara kreatif. Guru berperan mengarahkan siswa untuk memecahkan masalah secara kreatif. Guru menyediakan materi pembelajaran atau topik diskusi yang dapat merangsang siswa untuk berpikir kreatif dalam memecahkan masalah. Berpikir kreatif merupakan suatu kegiatan mental untuk mendapatkan dan menemukan suatu jawaban, gagasan, penyelesaian masalah, dan pernyataan serta memunculkan suatu ide baru. Melalui berpikir kreatif, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, namun siswa juga berusaha mencari dan memberikan informasi dalam proses pembelajaran. Siswa yang kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, 27
44 ingin mencoba-coba, berpetualang, memiliki banyak ide, mampu mengelaborasi beberapa pendapat, suka bermain, dan intuitif. Memecahkan masalah secara kreatif merupakan proses menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan kreatif yang menurut Guilford (Sujarwo, 2011: 172) tercermin dalam lima perilaku sebagai berikut. a. Fluency yaitu kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. b. Fleksibility yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang berbedabeda dalam mengatasi masalah. c. Originality yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang jarang atau langka dan berbeda dengan jawaban siswa lain pada umumnya. d. Elaboration yaitu siswa mampu menyatakan gagasan secara terperinci. Siswa yang kreatif tidak sekedar mengemukakan ide, tetapi juga mengembangkan gagasan yang dikemukakan. e. Sensitivity yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi. Model pembelajaran CPS menurut Pepkin (Masnur Muslich, 2011: 221) adalah suatu model pembelajaran yang memusatkan siswa pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan pada diri siswa. Penggunaan model CPS pada pembelajaran, siswa dihadapkan dengan suatu pertanyaan kemudian siswa memecahkan masalah dengan memilih dan mengembangkan 28
45 tanggapannya terhadap masalah tersebut. Tidak hanya dengan cara menghafal tanpa berpikir, tetapi menekankan pada keterampilan memecahkan masalah dan memperluas proses berpikir. Model pembelajaran CPS merupakan segala cara yang dikerahkan oleh siswa dalam berpikir kreatif dengan tujuan menyelesaikan suatu permasalahan secara kreatif (Sujarwo, 2011: 178). Solusi yang diberikan untuk memecahkan masalah adalah solusi kreatif. Solusi kreatif dalam pemecahan masalah dilakukan melalui sikap dan pola pikir kreatif, banyak alternatif pemecahan masalah, ide baru dalam pemecahan masalah, terbuka dalam perbaikan, menumbuhkan kepercayaan diri, keberanian menyampaikan pendapat, berpikir divergen, dan fleksibel dalam upaya pemecahan masalah. Model pembelajaran CPS didasari oleh ketekunan, masalah, dan tantangan yang dapat diimplementasikan dalam komponen pembelajaran. Gambaran singkat mengenai model pembelajaran CPS adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pembelajaran dan keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Materi pembelajaran tidak terbatas hanya pada buku teks, tetapi diambil dari sumber lingkungan seperti peristiwa kemasyarakatan atau peristiwa dalam lingkungan sekolah. Materi tersebut terkandung dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). 29
46 3. Langkah-langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Model pembelajaran CPS berusaha mengembangkan pemikiran divergen dengan mencari berbagai alternatif pemecahan masalah secara kreatif. Menurut Sujarwo (2011: ), ada lima langkah model pembelajaran CPS dengan melibatkan imajinasi dan pembenaran. Langkah-langkah tersebut antara lain 1) penemuan fakta dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan pokok atau sub pokok bahasan, 2) penemuan masalah berdasarkan fakta-fakta yang telah dihimpun kemudian ditentukan masalah untuk dipecahkan, 3) penemuan gagasan dengan menjaring sebanyak mungkin alternatif jawaban untuk memecahkan masalah, 4) penemuan jawaban diawali dengan penentuan tolak ukur atas kriteria pengujian jawaban sehingga ditemukan jawaban yang diharapkan, 5) penemuan penerimaan diawali dengan ditemukan kelebihan dan kekurangan gagasan kemudian menyimpulkan penyelesaian masalah yang dibahas. Langkah-langkah pembelajaran di atas menurut pendapat Sujarwo memiliki sedikit perbedaan dengan pendapat Pepkin. Adapun proses dari model pembelajaran CPS menurut Pepkin (Masnur Muslich, 2011: 224), terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut. a. Klarifikasi masalah Klarifikasi masalah merupakan kegiatan menjelaskan masalah yang diajukan kepada siswa, agar siswa dapat memahami tentang 30
47 penyelesaian masalah seperti yang diharapkan. b. Pengungkapan pendapat Pada tahap ini, siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai strategi penyelesaian masalah yang dihadapi. c. Evaluasi dan pemilihan Siswa dalam diskusi kelompok, mendiskusikan pendapat mengenai strategi penyelesaian masalah yang cocok untuk diterapkan. d. Implementasi Pada tahap ini, siswa menentukan strategi penyelesaian masalah yang diambil untuk menyelesaikan masalah kemudian siswa menerapkan strategi tersebut sehingga masalah yang dihadapi dapat terselesaikan. Berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran menurut Sujarwo dan Pepkin, apabila dibandingkan maka terdapat sedikit perbedaan. Perbedaan tersebut terdapat dalam langkah penemuan fakta dari pendapat Sujarwo yang tidak ada dalam pendapat Pepkin. Perbedaan selanjutnya yaitu langkah implementasi dalam pendapat Pepkin tidak terdapat dalam pendapat Sujarwo. Langkah-langkah model pembelajaran CPS menurut Sujarwo diawali dengan penemuan fakta dan langkahlangkah model pembelajaran CPS menurut Pepkin diawali dengan klarifikasi masalah. Proses CPS berdasarkan kriteria OFPISA menurut Osborn-Parnes (Miftahul Huda, 2013: ) sebagai berikut. 31
48 a. Objective Finding Siswa dibagi dalam kelompok. Siswa berdiskusi masalah yang diberikan guru dengan memberikan pendapat mengenai tujuan dan sasaran yang digunakan untuk kerja kreatif siswa. b. Fact Finding Siswa mengemukakan pendapat mengenai fakta-fakta yang berkaitan dengan sasaran tersebut. Guru mendaftar semua pendapat yang dihasilkan siswa. Guru memberi kesempatan siswa untuk mendiskusikan dari daftar fakta, fakta apa saja yang relevan dengan sasaran dan solusi dari permasalahan. c. Problem Finding Mendefinisikan kembali masalah agar siswa lebih mendalami masalah tersebut sehingga siswa mendapatkan solusi yang lebih jelas. d. Idea Finding Mendaftar gagasan siswa agar bisa memilih solusi yang tepat untuk memecahkan masalah. e. Solution Finding Gagasan yang dianggap tepat menyelesaikan masalah dievalusi secara bersama-sama dengan melakukan brainstorming nilai positif dan negatifnya dari solusi yang sudah dipilih tadi. Hasil evaluasi ini adalah penilaian akhir atas gagasan yang pantas menjadi solusi dari permasalahan. 32
49 f. Acceptance Finding Siswa sudah mampu menyelesaikan masalah-masalah secara kreatif. Gagasan-gagasan siswa diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan dalam berbagai situasi di kehidupan nyata. Berdasarkan penjelasan di atas, langkah-langkah model pembelajaran CPS menurut Sujarwo, Pepkin, dan Osborn-Parnes memiliki kesamaan. Pertama, langkah-langkah model pembelajaran CPS menurut pendapat Osborn-Parnes dan Pepkin sama-sama dilakukan dalam kelompok. Kedua, langkah fact finding dan acceptance finding menurut pendapat Osborn-Parnes sama dengan pendapat Sujarwo yaitu penemuan fakta dan penerimaan. Ketiga, langkah problem finding, idea finding, dan solution finding menurut pendapat Osborn-Parnes sama dengan pendapat Pepkin yaitu penemuan masalah, gagasan, dan solusi. 4. Langkah-langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran PKn sangat penting karena dalam PKn banyak materi-materi mengenai pemecahan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari seperti musyawarah, demokrasi, penerapan sikap kejujuran, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Langkah-langkah model pembelajaran CPS yang akan diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) untuk meningkatkan keaktifan siswa secara operasional sebagai berikut. a. Pembentukan kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat 33
50 kemampuan siswa yang heterogen terdiri dari siswa yang pandai, sedang, dan kurang pandai. b. Guru menjelaskan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan siswa. c. Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada siswa dengan memberikan pertanyaan, pernyataan problematis, dan tugas. d. Mencari informasi mengenai penyebab timbulnya masalah dengan cara siswa diberi kesempatan untuk berpendapat (brainstorming), baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan siswa, membaca referensi, maupun mencari data atau informasi dari lapangan kemudian siswa mencoba menyelesaikan masalah dengan diskusi dalam kelompok. e. Menjelaskan solusi kreatif hasil diskusi dalam kelompok (presentasi) kemudian dibahas dengan kelompok lain dan didampingi oleh guru. 5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Model pembelajaran CPS menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran untuk memecahkan masalah yang disajikan oleh guru. Model pembelajaran CPS banyak menumbuhkan aktivitas belajar, baik secara individual maupun secara berkelompok. Oleh sebab itu, sebelum model pembelajaran ini diterapkan guru harus mempersiapkan secara matang, baik persiapan masalah yang akan disajikan pada siswa, sumber belajar, waktu yang diperlukan, maupun pengelompokkan siswa. 34
51 Kelebihan pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran CPS menempatkan siswa aktif dalam pembelajaran karena guru lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar (Sujarwo, 2011: ). Siswa diberikan kesempatan untuk belajar mandiri dan mengeksplorasi kemampuannya dalam pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator, menyediakan sumber belajar, petunjuk belajar, langkah-langkah pembelajaran, dan media pembelajaran. Peran guru sebagai motivator, guru memotivasi siswa dengan memberi penguatan berupa umpan balik bagi siswa. Peran guru sebagai dinamisator, guru memberi rangsangan dalam mencari, mengumpulkan, dan menemukan informasi untuk pemecahan masalah. Siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memecahkan masalah yang sudah disajikan dalam pembelajaran. Kelebihan lain dari model pembelajaran CPS sebagaimana pendapat dari Nana Sudjana (2010: 93-94) sebagai berikut. a. Siswa memperoleh pengalaman praktis dengan melakukan suatu penemuan melalui proses mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. b. Kegiatan belajar lebih menarik sebab tidak terikat di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas sehingga tidak membosankan dan dapat meningkatkan keaktifan siswa. c. Bahan pengajaran lebih dihayati dan dipahami oleh siswa sebab teori disertai oleh praktek. 35
52 d. Siswa dapat belajar dari berbagai sumber, baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga memperoleh pengalaman yang lebih banyak. e. Interaksi antar siswa lebih banyak karena hampir setiap langkah pemecahan masalah dilakukan secara berkelompok. f. Melatih siswa untuk berpikir kritis dan bertindak kreatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. g. Melatih siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi secara logis dan sistematis. Nana Sudjana (2010: 94) juga menyebutkan beberapa kekurangan model pembelajaran CPS sebagai berikut. a. Menuntut sumber dan sarana belajar yang cukup, termasuk waktu yang lebih panjang dibandingkan model pembelajaran lain untuk kegiatan belajar siswa. b. Jika kegiatan belajar tidak terkontrol oleh guru, maka kegiatan belajar bisa membawa resiko yang merugikan siswa, misalnya kegiatan belajar tidak optimal karena sikap tak acuh siswa. c. Apabila masalah yang disajikan tidak berbobot, maka usaha siswa memecahkan masalah hanya bersifat asal-asalan sehingga cenderung menerima jawaban atau dugaan sementara. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran CPS menurut Nana Sudjana, hampir sama dengan pendapat Wina Sanjaya (2006: ). Wina Sanjaya menambahkan beberapa kelebihan model pembelajaran CPS antara lain (a) membantu siswa mentransfer pengetahuan untuk 36
53 memahami masalah dalam kehidupan nyata, (b) membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang dilakukan, serta (c) mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajar. D. Keterkaitan antara Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) merupakan salah satu model alternatif yang dapat digunakan sehingga keaktifan siswa dapat meningkat. Penerapan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn melibatkan siswa untuk dapat bersikap aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran CPS memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk berlatih dan belajar mandiri serta melibatkan partisipasi siswa secara optimal dalam proses pembelajaran. Peran guru lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar, baik secara individual maupun secara kelompok. Salah satu hal yang paling penting dalam model pembelajaran CPS yaitu lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya secara maksimal dalam belajar dan untuk memahami materi pembelajaran dengan pemecahan masalah. Model pembelajaran CPS merupakan segala cara yang dikerahkan oleh siswa dalam berpikir kreatif dengan tujuan menyelesaikan suatu 37
54 permasalahan secara kreatif (Sujarwo, 2011: 178). Berpikir kreatif merupakan suatu kegiatan mental untuk mendapatkan dan menemukan suatu jawaban, gagasan, penyelesaian masalah, dan pernyataan serta mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Melalui berpikir kreatif, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, namun siswa juga berusaha mencari dan memberikan informasi dalam proses pembelajaran. Siswa yang kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, berpetualang, memiliki banyak ide, mampu mengelaborasi beberapa pendapat, suka bermain, dan intuitif. Melibatkan siswa dalam proses pembelajaran PKn merupakan hal yang penting, karena PKn bertujuan untuk (a) membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab, (b) membentuk warga yang baik dan demokratis, (c) membentuk siswa untuk berpikir kritis, (d) mengembangkan kultur demokratis, dan (e) membentuk siswa menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab (Azyumardi Azra, 2003: 10). Berdasarkan penjelasan tersebut, keaktifan dalam pembelajaran merupakan aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam belajar meliputi pengetahuan, pemahaman, aspek-aspek tingkah laku lainnya serta mengembangkan keterampilan yang bermakna. Keterampilan tersebut baik yang bisa diamati (konkret) seperti mendengar, menulis, membaca, menyanyi, menggambar, dan berlatih maupun yang sulit diamati (abstrak) seperti menggunakan pengetahuan dalam memecahkan permasalahan, membandingkan konsep, menyimpulkan hasil pengamatan, dan lain-lain. Keaktifan siswa dalam penelitian ini ditandai dengan empat 38
55 indikator yaitu mengemukakan pendapat, menanggapi dan menghargai pendapat, berdiskusi, mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi dari kelompok lain. Indikator keaktifan tersebut dapat terlihat dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran CPS antara lain 1) terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah dengan mengemukakan pendapat dalam kelompok, 2) menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi kelompok, 3) berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok, dan 4) mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi dari kelompok lain. Berdasarkan penjelasan di atas, di sinilah peranan model pembelajaran CPS yaitu melibatkan siswa secara aktif dan berpikir kreatif dalam pembelajaran dengan menyelesaikan masalah. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran PKn sangat penting karena dalam PKn banyak materimateri mengenai pemecahan masalah yang terkait dengan kehidupan seharihari seperti musyawarah, demokrasi, penerapan sikap kejujuran, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Penerapan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran, namun siswa juga dapat menerapkan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam pembelajaran PKn pada kehidupan seharihari. Memecahkan masalah secara kreatif merupakan proses menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan kreatif yang menurut Guilford (Sujarwo, 2011: 172) tercermin dalam lima perilaku antara 39
56 lain 1) fluency yaitu kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, 2) fleksibility yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang berbeda-beda dalam mengatasi masalah, 3) originality yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang jarang atau langka dan berbeda dengan jawaban siswa lain pada umumnya, 4) elaboration yaitu siswa mampu menyatakan gagasan secara terperinci. Siswa yang kreatif tidak sekedar mengemukakan ide, tetapi juga mengembangkan gagasan yang dikemukakan, dan 5) sensitivity yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi. Siswa sebagai subjek didik yang merencanakan dan melaksanakan belajar. Proses pembelajaran kreatif, guru dapat mendorong keluarnya pendapat siswa dan kreativitas siswa sehingga siswa dapat mengemukakan alternatif pemecahan masalah yang beragam. Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut akan membuat siswa berantusias dan membuat pembelajaran PKn lebih bermakna sehingga pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. E. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar (SD) Siswa adalah salah satu komponen pendidikan yang menempati posisi sentral dalam proses pembelajaran. Siswa merupakan pokok persoalan dan sebagai tumpuan perhatian. Siswa merupakan pihak yang memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa merupakan komponen pendidikan yang diperhatikan pertama kali pada proses pembelajaran. Guru senantiasa merencanakan suatu proses pembelajaran dengan baik agar dapat 40
57 mewujudkan tujuan pendidikan. Guru merencanakan dan menyiapkan bahan yang diperlukan, media, model, metode, dan fasilitas yang mendukung pembelajaran. Oleh karena itu, siswa disebut sebagai subjek belajar. Menurut teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget (Slameto, 2003: 116), siswa sekolah dasar termasuk dalam tahap perkembangan Operasional Konkret (Concrete Operation) yang muncul antara rentang umur 7 tahun sampai 13 tahun. Siswa memiliki ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Tahap perkembangan Operasional Konkret, anak akan melewati tahap pertama internal action yaitu pemikiran anak sudah mulai stabil. Kedua, logical operational system yaitu melakukan pengamatan terhadap suatu hal akan diorganisasikan menjadi sistem pengerjaan yang logis. Ketiga, trial and error yaitu anak mulai dapat berpikir lebih dahulu sebelum bertindak. Keempat, conservational principles yaitu anak telah menguasai prinsip penyimpanan. Pada tahap perkembangan Operasional Konkret, anak masih terikat pada objek-objek konkret. Kemampuan siswa yang tampak pada tahap perkembangan operasional konkret adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan logika, meskipun masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkret. Pada usia sekolah dasar sekitar 7 sampai 13 tahun, siswa masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera (Piaget dalam Heruman, 2008: 1-2). Oleh karena itu dalam sebuah pembelajaran, siswa memerlukan alat bantu berupa media dan alat peraga yang dapat memperjelas 41
58 apa yang akan disampaikan oleh guru sehingga materi lebih cepat dipahami dan dimengerti siswa. Karakteristik siswa menurut Sardiman A.M. (2007: 120) adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya. Penentuan tujuan belajar harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai karakteristik siswa, antara lain. a. Kemampuan awal siswa, misalnya kemampuan intelektual, berpikir, aspek psikomotor, dan lain-lain. b. Latar belakang dan status sosial. c. Perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dan lain-lain. Pengetahuan mengenai karakteristik siswa, akan membantu guru merekonstruksi dan mengorganisasikan materi pelajaran sedemikian rupa, memilih, dan menentukan metode yang lebih tepat, sehingga akan terjadi proses interaksi dari masing-masing komponen pembelajaran secara optimal. Adapun karakteristik siswa yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran menurut Sardiman A.M. (2007: 121), antara lain. a. Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan b. Gaya belajar c. Usia kronologi d. Tingkat kematangan e. Spektrum dan ruang lingkup minat 42
59 f. Lingkungan sosial ekonomi g. Hambatan-hambatan lingkungan dan kebudayaan h. Inteligensia i. Keselarasan dan perilaku j. Prestasi belajar k. Motivasi dan lain-lain Berdasarkan kajian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa siswa merupakan subjek belajar. Siswa memiliki karakteristik atau pola aktivitas yang berbeda-beda antara siswa yang satu dengan lainnya. Hal tersebut menantang guru untuk menyediakan kondisi yang kondusif agar masingmasing siswa dapat belajar secara optimal sesuai dengan karakteristik masing-masing. F. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Pretty Yudharina (2015) yang berjudul Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Mejing 2 Melalui Model Pembelajaran Creative Problem Solving Tahun Ajaran 2014/2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa kelas V SD Negeri Mejing 2, Gamping. Peningkatan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika 43
60 ditunjukkan oleh hasil tes. Pada pratindakan terdapat 30% (9 siswa) dari jumlah 30 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil tes pada siklus 1 menunjukkan ada 63,33% (19 siswa) dari jumlah siswa mencapai KKM, sedangkan pada siklus 2 terdapat 76,67% (23 siswa) dari jumlah siswa yang mencapai KKM. Nilai rata-rata sebelum siklus sebesar 53,67, sedangkan pada siklus 1 nilai rata-rata tes sebesar 64,27, dan pada akhir siklus 2 sebesar 68, Penelitian yang dilakukan oleh Aris Pito (2013) yang berjudul Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pengendali Magnetik Siswa Kelas XI Program Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3 Yogyakarta Melalui Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkan model pembelajaran Creative Problem Solving, keaktifan dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa di setiap pertemuannya. Keaktifan siswa pada siklus I pertemuan pertama sebesar 56,77% kemudian meningkat menjadi 88,06% pada pertemuan ketiga siklus II. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dilihat dari nilai rata-rata pretest siklus I sebesar 57,42 dan posttest siklus II mencapai 84,39. Hasil belajar siswa tersebut sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal 70,00. 44
61 G. Kerangka Berpikir Pada hakikatnya, kegiatan pembelajaran merupakan hubungan timbal balik dua arah yang positif antara guru dan siswa. Pada kegiatan pembelajaran guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif agar siswa dapat menyerap pengalaman belajar dengan baik sehingga hasil belajar siswa pun baik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, salah satunya adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa mengikuti pembelajaran merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh oleh siswa. Keaktifan siswa kelas IV SD Negeri Jeruksari dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) masih kurang. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa alasan, salah satunya adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang menarik partisipasi siswa dalam pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan membawa suasana belajar yang menyenangkan dan dapat mengembangkan keaktifan siswa. Suasana belajar yang menyenangkan dapat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar yang baik. Pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dan menarik, guru akan mampu mendorong siswa terlibat secara aktif. Banyak model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatif model pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Model pembelajaran CPS merupakan model yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, membantu siswa dalam memahami 45
62 pelajaran, serta diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang baik sebab dalam penerapannya siswa diberikan masalah untuk dipecahkan. Kegiatan inti dari model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn adalah mengungkapkan dan memilih solusi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah yang disajikan oleh guru. Kegiatan menyelesaikan masalah tersebut, dilakukan secara berkelompok. Kegiatan berkelompok tersebut, siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat tentang penyebab timbulnya masalah dan solusi apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah. Guru membimbing jalannya diskusi. Siswa kemudian menerapkan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Guru membantu siswa untuk menganalisis hasil jawaban yang disajikan di depan kelas, jika jawaban yang diberikan siswa benar, guru cukup menegaskan jawaban tersebut. Apabila jawaban yang dihasilkan siswa masih kurang tepat, maka guru menunjuk siswa lain untuk memberikan jawaban yang benar. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat memperbaiki jawabannya dan selanjutnya siswa dapat menarik kesimpulan. Model pembelajaran CPS menuntut pemikiran kreatif siswa dalam pemecahan masalah dan keikutsertaan siswa secara aktif karena pemusatan pembelajaran lebih pada keterampilan pemecahan masalah yang terkait dengan materi pembelajaran. Penerapan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran, namun siswa juga dapat menerapkan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam pembelajaran PKn pada kehidupan 46
63 sehari-hari. Penerapan model pembelajaran CPS diharapkan mampu untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari. H. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kerangka berpikir, penelitian yang relevan, dan juga analisis beberapa teori, maka hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari Wonosari Gunungkidul. 47
64 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) berkolaborasi dengan guru sebagai pelaku. Penelitian tindakan kelas menurut Suharsimi Arikunto (2011: 4-5) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di sekolah tempat mengajar dengan maksud untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas, yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. Salah satu pola atau teknik pelaksanaan PTK adalah pola kolaboratif. Kolaboratif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dilakukan oleh guru kelas yang bersangkutan dan bekerja sama dengan peneliti yang bertujuan untuk mengatasi masalah pembelajaran di kelas yaitu keaktifan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Wina Sanjaya (2009: 59). Peneliti bertindak sebagai pengamat (observer) dan guru kelas IV sebagai pelaku tindakan. Hal ini dimaksudkan agar setiap tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran di kelas mendapat hasil yang objektif. B. Desain Penelitian Desain penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan kelas yang terdiri atas 4 tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi, sesuai dengan gambar berikut. 48
65 Refleksi Perencanaan SIKLUS I Pelaksanaan Refleksi Pengamatan Perencanaan SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan? Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas (Suharsimi Arikunto, 2011: 17) Adapun langkah-langkah penelitian tindakan kelas secara rinci dijabarkan setiap siklus sebagai berikut : 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Peneliti berdiskusi dengan guru kelas IV mengenai Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan materi yang akan diterapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). b. Peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai indikator yang telah dirumuskan serta skenario pembelajaran dengan model pembelajaran CPS. c. Menyiapkan dan membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran CPS. d. Menyiapkan dan membuat lembar observasi siswa dan guru pada pembelajaran PKn dengan menerapkan model pembelajaran CPS. e. Peneliti dan guru berlatih bersama (coaching) mengenai penerapan 49
66 model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn. Hal tersebut dilakukan karena peneliti dan guru belum pernah menerapkan model pembelajaran CPS pada pembelajaran. 2. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap pelaksanaan tindakan, guru menerapkan model pembelajaran CPS dalam proses pembelajaran PKn yang telah direncanakan. Pada pelaksanaan tindakan, guru kelas IV berperan melaksanakan proses pembelajaran PKn dengan menerapkan model pembelajaran CPS dan peneliti bersama teman sejawat bertindak sebagai observer menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta mendokumentasikan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. 3. Pengamatan Pada tahap pengamatan, hal-hal yang diamati dalam penelitian ini adalah keaktifan siswa dan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS oleh guru pada pembelajaran PKn. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Pengamatan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti sebagai observer utama dengan teman sejawat sebagai observer pendamping yang dilakukan pada waktu pelaksanaan tindakan dan keduanya berlangsung secara bersamaan. 4. Refleksi Pada tahap ini, peneliti bersama guru menganalisis tindakan yang sudah dilakukan, ketercapaian indikator yang telah ditetapkan, dan 50
67 mengevaluasi proses serta hasil dari tindakan. Refleksi penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pelaksanaan tindakan penelitian sudah mencapai indikator keberhasilan atau belum. Jika indikator keberhasilan belum tercapai, maka akan dilakukan siklus lanjutan. C. Subjek dan Obyek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Jeruksari Tahun Pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 14 siswa yang terdiri dari 10 siswa lakilaki dan 4 siswa perempuan. Objek penelitian adalah keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn melalui penerapan model pembelajaran CPS. D. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Jeruksari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada kelas IV semester II tahun ajaran 2015/2016. E. Teknik Pengumpulan Data Pada penelitian tindakan kelas ini, teknik yang digunakan sebagai berikut. 1. Pengamatan (Observasi) Pada penelitian ini, peneliti melaksanakan observasi partisipatif pasif (passive participant observation) dan terstruktur. Peneliti dapat mengamati bagaimana perilaku siswa dalam pembelajaran. Observasi jenis ini, peneliti datang ke sekolah untuk mengamati perilaku siswa 51
68 dalam pembelajaran tetapi peneliti tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Hal ini sesuai pendapat Sugiyono (2012: 312). Observasi yang dilakukan peneliti telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan, dan di mana tempat pengamatan. Observasi dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dibantu oleh teman sejawat untuk mengamati aktivitas siswa dan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn. Aspek aktivitas siswa yang diamati keaktifan mengikuti pembelajaran dengan indikator yang tercantum dalam lembar pengamatan. Sementara itu aspek aktivitas guru yang diamati meliputi keterampilan guru dalam menggunakan model pembelajaran CPS dan kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan tindakan. 2. Catatan Harian Catatan harian digunakan untuk merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran, suasana kelas dan pengelolaan kelas. Catatan harian digunakan untuk mengetahui segala aktivitas siswa dan guru selama melakukan tindakan, sehingga dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan tindakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wina Sanjaya (2009: 98). F. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut. 52
69 1. Lembar Observasi Observasi digunakan untuk memperoleh data dari situasi sosial yang dipilih oleh peneliti. Lembar observasi berisi aspek-aspek untuk mengetahui keaktifan siswa dan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS oleh guru pada pembelajaran PKn. Observasi ini dilakukan setiap kali pertemuan. Lembar observasi terlampir. 2. Catatan Harian Catatan harian disusun oleh peneliti berdasarkan hasil observasi di kelas selama pembelajaran berlangsung. Catatan harian dalam penelitian ini meliputi rangkaian proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan model pembelajaran CPS. Catatan harian digunakan untuk merekam aktivitas siswa, keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS oleh guru, suasana kelas, dan pengelolaan kelas. Lembar catatan harian terlampir. Catatan harian ditulis disela-sela observasi. Alat bantu yang digunakan untuk menunjang pengumpulan data catatan harian berupa kamera digital. G. Validasi Instrumen Penelitian Validasi instrumen penelitian ini, peneliti menggunakan expert judgement atau meminta pendapat dan masukan dari dosen ahli. Instrumen yang divalidasi adalah lembar observasi keaktifan siswa dan lembar observasi guru mengenai keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn yang divalidasi oleh dosen pembimbing skripsi. 53
70 H. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitiatif sesuai dengan data yang diperoleh yaitu data hasil observasi dan catatan harian mengenai keaktifan siswa dan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS oleh guru pada pembelajaran PKn. 1. Analisis Data Hasil Observasi Keaktifan Siswa Lembar observasi keaktifan siswa digunakan sebagai pedoman peneliti mengamati keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran CPS. Analisis data untuk lembar observasi keaktifan siswa dengan cara deskriptif kuantitatif yang artinya mendeskripsikan data berupa angka. Skor akhir menggunakan skala 1 sampai 4, sehingga perhitungan hasil observasi keaktifan masing- masing siswa menggunakan rumus sebagai berikut: Skor Akhir = x 4 (Abdul Majid, 2014: 178) Sesuai Permendikbud No. 81A Tahun 2013 (Kemendikbud, 2013: 49-50), pedoman kriteria untuk keaktifan siswa sebagai berikut. Tabel 3. Pedoman Kriteria Keaktifan Siswa Skor Kriteria 3,33 < skor < 4,00 Sangat Baik 2,33 < skor < 3,33 Baik 1,33 < skor < 2,33 Cukup Skor < 1,33 Kurang 54
71 2. Analisis Data Hasil Observasi Keterlaksanaan Penerapan Model Pembelajaran CPS oleh Guru pada Pembelajaran PKn Lembar observasi kegiatan pembelajaran guru berguna untuk mengamati dan mengecek keterlaksanaan RPP yang sudah disiapkan oleh peneliti. Pada penelitian ini dilakukan analisis data yang berupa kata-kata kemudian diolah menjadi kalimat yang bermakna. 3. Analisis Data Hasil Catatan Harian Analisis data untuk catatan harian menggunakan cara deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan data yang berupa kata atau kalimat yang tertulis atau lisan dari subjek yang diamati. Data yang diperoleh dari catatan harian berupa aktivitas siswa, keterlaksanaan penerapan model pembelajaran CPS oleh guru, suasana kelas, dan pengelolaan kelas. I. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini adalah keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn dikatakan berhasil jika sekurang-kurangnya 75% siswa memperoleh skor akhir >2.66 (Kemendikbud, 2013: 50). Skor akhir tersebut termasuk dalam kriteria baik. 55
72 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Diskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Jeruksari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan sekolah menghadap ke timur dan memiliki halaman yang cukup luas. Gedung yang dimiliki SD Negeri Jeruksari terdiri dari 6 ruang kelas, 1 ruang kantor guru, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), 1 ruang perpustakaan, 1 ruang gudang, 1 ruang dapur, 4 ruang kamar mandi, dan kantin sekolah. Jumlah siswa SD Negeri Jeruksari pada tahun ajaran 2015/2016 berjumlah 110 siswa, dengan perincian 56 siswa laki-laki dan 54 siswa perempuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 14 siswa terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. SD Negeri Jeruksari, didukung oleh 14 tenaga pengajar yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah, 6 guru kelas, 2 orang guru Pendidikan Agama Islam (PAI), 1 orang guru agama Khatolik, 1 orang guru agama Kristen, 1 orang guru Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), 1 orang guru Olahraga, dan ditambah 1 orang penjaga sekolah. Hampir semua tenaga pengajar yang ada adalah memiliki pengalaman yang cukup lama dalam mengajar. Visi dan misi Sekolah SD Negeri Jeruksari menjadi fokus orientasi terhadap seluruh sistem dan program pendidikan di SD Negeri Jeruksari adalah sebagai berikut. 56
73 1. Visi Menjadi sekolah yang berkualitas dalam bidang akademik, berbudi pekerti luhur, dan peduli terhadap lingkungan. 2. Misi a. Membekali ilmu pengetahuan melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. b. Membina dan menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan peduli terhadap lingkungan. c. Menciptakan suasana tempat belajar yang menyenangkan, tertib, aman, dan nyaman. d. Membangun citra sekolah sebagai mitra terpercaya di masyarakat. B. Hasil Penelitian Hasil penelitian yang diuraikan adalah data mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebelum menggunakan model pembelajaran CPS dan pelaksanaan tindakan pada tiaptiap siklus untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran CPS. 1. Deskripsi Pra Tindakan Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri Jeruksari. Peneliti meminta izin pada tanggal 2 Februari 2016 dengan menyampaikan surat izin penelitian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul kepada Kepala Sekolah dan guru yang bersangkutan untuk melakukan 57
74 penelitian di sekolah tersebut. Pembelajaran PKn dilaksanakan setiap hari Kamis pada jam pertama dan kedua, namun peneliti diberi kesempatan untuk melakukan penelitian sebanyak dua kali dalam seminggu yaitu pada hari Senin atau Selasa dan Kamis. Hal tersebut tentunya dengan izin Kepala Sekolah. Guru menghendaki penelitian dilakukan dua kali dalam seminggu dengan alasan bahwa penelitian dapat diselesaikan sebelum Ulangan Tengah Semester (UTS) Genap. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan observasi pra tindakan yaitu pada tanggal 4 Februari Observasi atau pengamatan yang dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa kelas IV dalam pembelajaran PKn sebelum menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). 2. Pelaksanaan Pra Tindakan Pra tindakan dilaksanakan sebelum pelaksanaan tindakan siklus I yaitu pada tanggal 4 Februari Peneliti melakukan observasi pembelajaran PKn di kelas IV. Peneliti mengamati aktivitas guru dan siswa. Guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dengan gaya yang menarik. Tidak ada kegiatan diskusi dalam kelompok yang dilakukan oleh siswa. Gambar 2. Guru sedang Menjelaskan Materi kepada Siswa dengan Metode Ceramah dan Tanya Jawab 58
75 Materi pembelajaran pada hari itu mengenai lembaga eksekutif. Guru mencoba mengaktifkan siswa dengan mengajukan pertanyaan, namun ketika siswa diberi kesempatan bertanya, tidak ada siswa yang bertanya. Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa masih ada beberapa siswa yang kurang aktif ketika pembelajaran dan cenderung diam tidak merespon aktivitas guru dengan baik. Hanya ada beberapa siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru. Siswa yang aktif tersebut cenderung siswa yang sama. Berikut data yang diperoleh pada saat peneliti melakukan observasi pra tindakan. Tabel 4. Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Pra Tindakan No. Nama Skor Jmlh Skor Kriteria *) **) Ket. Indika- Indika- Indika- Indika- Siswa Skor Akhir tor 1 tor 2 tor 3 tor 4 1. RA K BB 2. ICU K BB 3. YF K BB 4. ABB K BB 5. BR K BB 6. BSN K BB 7. IAR K BB 8. IDP K BB 9. RDS K BB 10. RWD K BB 11. RFP K BB 12. FCY K BB 13. YST K BB 14. FS K BB Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah *) Siswa dalam kriteria Kurang (K), Cukup (C), Baik (B), dan Sangat Baik (SB). **)Siswa dikatakan berhasil mencapai indikator keberhasilan jika mendapat skor akhir >2,66 dengan keterangan Berhasil(B) dan Belum Berhasil (BB). 59
76 Berdasarkan tabel di atas, pada indikator 1 sampai 4 seluruh siswa mendapatkan skor 1 karena siswa tidak mengemukakan pendapat, tidak menanggapi dan menghargai pendapat siswa lain, tidak melakukan diskusi, dan tidak melakukan presentasi. Guru tidak melakukan diskusi penyelesaian masalah yang sesuai dengan indikator dalam penelitian ini. Seluruh siswa memperoleh skor akhir dalam kriteria kurang aktif yaitu <1,33. Menurut indikator keberhasilan yang sudah ditentukan oleh peneliti, penelitian ini dikatakan berhasil jika sekurang-kurangnya 75% siswa memperoleh skor akhir >2.66. Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa guru harus mengemas suatu model pembelajaran yang tepat dan dapat membantu siswa dalam meningkatkan keaktifan siswa. Pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik dan nilai yang diperoleh pun akan baik pula. Berdasarkan data hasil observasi yang diperoleh, peneliti merencanakan sebuah penelitian tindakan kelas mengenai penerapan model pembelajaran CPS untuk meningkatkan keaktifan siswa. 3. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari dilakukan dalam dua siklus yaitu dua kali pertemuan pada siklus I dan dua kali pertemuan pada siklus II. Penelitian ini diadakan pada semester II tahun ajaran 2015/2016. Siklus I dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Februari Siklus II dilaksanakan pada tanggal 15 dan 18 Februari Berikut materi yang dilaksanakan pada siklus I dan siklus II. 60
77 a. Siklus I ini dilaksanakan dua kali pertemuan dimana pertemuan 1 membahas materi mengenai lembaga eksekutif. Pertemuan 2 membahas mengenai lembaga yudikatif dilanjutkan refleksi siklus I. b. Siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan dengan rincian pada pertemuan 1 membahas mengenai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pada pertemuan 2 membahas mengenai Komisi Pemilihan Umum (KPU) dilanjutkan refleksi siklus II. Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan kelas yang mencakup empat tahapan yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat tahapan tersebut dilaksanakan dalam setiap siklus. a. Siklus I 1) Perencanaan Tindakan Siklus I Siklus I dimulai dengan membuat desain pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk materi mengenai lembaga eksekutif dan yudikatif. a) Tahap perencanaan tindakan peneliti dan guru sebagai kolaborator menyiapkan materi yang akan disampaikan kepada siswa. b) Menyiapkan RPP dan Lembar Kerja Siswa (LKS). RPP dan LKS yang dibuat dengan materi lembaga eksekutif dan yudikatif. Guru meminta materi lembaga eksekutif diulangi kembali karena masih ada materi yang belum selesai dijelaskan. Kemudian pada 61
78 pertemuan 2 dilanjutkan dengan materi lembaga yudikatif. LKS disusun oleh peneliti dengan pertimbangan guru. c) Menyusun lembar observasi dan catatan harian. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran CPS yang dilakukan guru dan mengetahui keaktifan siswa selama pembelajaran berlangsung. Catatan harian digunakan untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran yang tidak terekam dalam lembar observasi. d) Peneliti dan guru berlatih bersama (coaching) mengenai penerapan model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar pelaksanaan tindakan berjalan sesuai dengan RPP yang sudah dibuat. 2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I a) Siklus I pertemuan 1 Pertemuan 1 pada siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 9 Februari 2016 dengan materi lembaga eksekutif. Pembelajaran dilaksanakan pada jam kedua dan ketiga dengan alokasi waktu 2x35 menit. Guru sebagai pengajar sedangkan peneliti sebagai observer kegiatan pembelajaran serta satu orang observer pendamping untuk membantu kegiatan observasi. (1) Kegiatan awal Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Selanjutnya, guru 62
79 baru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan absensi siswa. Pembelajaran dimulai pada jam kedua maka tidak ada berdoa. Berdoa dilakukan pada jam pertama ketika pembelajaran Agama. Hari itu ada 2 siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit yaitu RA dan ICU, jadi siswa yang hadir pada hari itu hanya 12 siswa. Guru melakukan apersepsi dengan menceritakan pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia beberapa waktu lalu. Guru memberikan pertanyaan, Siapa yang memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia pada pemilu beberapa waktu lalu? FS menjawab, Jokowi-JK pak. Guru merespon dengan membenarkan jawaban FS. Kemudian guru kembali bertanya, Siapa saja kandidat dalam pemilihan presiden dan wakil presiden kita kemarin? IDP dan BR menjawab, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa. Guru membenarkan jawaban siswa, kemudian guru berkata bahwa dalam pemilihan presiden kemarin dimenangkan oleh Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa harus legowo menerima kekalahan mereka. Guru menjelaskan bahwa dalam menjalankan pemerintahan Jokowo-JK, Prabowo juga mendukung pemerintahannya. Kemudian guru memberitahu siswa bahwa materi hari itu masih mengulang materi pertemuan sebelumnya yaitu mengenai lembaga eksekutif. 63
80 Masih ada beberapa materi yang perlu dijelaskan kembali karena materi mengenai pemerintahan pusat cukup banyak. (2) Kegiatan inti Siswa bertanya jawab dengan guru tentang lembaga eksekutif. Guru menuliskan di papan tulis mengenai materi lembaga eksekutif. Pembelajaran hari itu guru meneruskan penjelasan materi mengenai lembaga eksekutif karena pada pertemuan sebelumnya belum menyelesaikan pembahasan materi tersebut. Tindakan selanjutnya yang dilakukan guru adalah sebagai berikut. (a) Tahap pertama, guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang pandai. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, RFP, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, ABB, dan YST. Kelompok 3 terdiri dari BR, FS, YF, dan FCY. Siswa masih sulit dikondisikan untuk berkelompok dengan anggota kelompok yang telah ditentukan oleh guru. Beberapa siswa masih ada yang protes karena siswa cenderung masih membeda-bedakan teman dan lawan jenis. Beberapa siswa bahkan saling mengejek sehingga suasana kelas menjadi ramai. 64
81 Membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengkondisikan siswa. (b) Tahap kedua, guru menjelaskan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa yaitu menemukan masalah yang disajikan dalam LKS, mengidentifikasi penyebab dari masalah tersebut, kemudian menyelesaikan masalah secara kreatif dari hasil brainstorming berdasarkan pengalaman, pengetahuan siswa, maupun membaca referensi. (c) Tahap ketiga, guru membagikan LKS yang berisi situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa untuk membacakan masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. Guru meminta siswa lain mengulangi membaca. Guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah pemilihan ketua kelas yang menggambarkan pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Masalah yang disajikan guru mengenai terjadi kecurangan dalam pemilihan ketua kelas yaitu Widya menyogok teman-temannya dengan coklat agar dia terpilih menjadi ketua kelas. Setelah pemilihan ketua kelas dilaksanakan ternyata Widya tidak mendapatkan suara satupun dari teman-temannya. Widya protes dan 65
82 marah terhadap teman-temannya. Masalah yang disajikan guru tersebut siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Gambar 3. Guru Menegaskan Masalah yang Disajikan dalam LKS ketika Siswa Duduk dalam Kelompok (d) Tahap keempat, siswa melakukan diskusi untuk menemukan penyebab timbulnya masalah yang terjadi kemudian menyelesaikan masalah tersebut. Siswa masih kebingungan mengidentifikasi penyebab masalah yang disajikan dalam LKS. Sebagian besar kelompok menuliskan kembali masalah yang sudah tersaji dalam tabel penyebab dari masalah. Tabel yang disediakan dalam LKS seharusnya diisi penyebab dari masalah dan solusi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Namun, jika dilihat dari keaktifannya diskusi dalam kelompok 1 dan 3 berjalan cukup baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat, namun antar anggota kelompok kurang menghargai pendapat. Diskusi dalam 66
83 kelompok 2 berjalan kurang baik karena ada siswa yang hanya diam dan tidak memberikan pendapat ataupun menanggapi pendapat siswa lain. Guru kurang aktif membimbing diskusi siswa sehingga siswa yang kebingungan bertanya kepada peneliti. Gambar 4. Diskusi dalam Kelompok 2 Berjalan Kurang Baik karena Ada Siswa yang Kurang Aktif (e) Tahap kelima, siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh IDP dan RWD. IDP membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RWD membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi. Selanjutnya dari kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh BSN dan RDS. BSN membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta 67
84 kelompok lain menanggapi. IDP menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 2 kurang tepat. Guru menerima tanggapan IDP. Kelompok 2 juga menerima tanggapan dari IDP. Terakhir kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh BR dan FCY. BR membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian FCY membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi. Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Sebagian besar jawaban siswa yang kurang tepat. Siswa diminta mengidentifikasi penyebab dari masalah yang timbul pada LKS, namun siswa menuliskan kembali masalah-masalah yang sudah ada dalam LKS tersebut. Solusi yang diberikan oleh siswa beberapa sudah benar. (3) Kegiatan penutup Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai lembaga eksekutif. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Keaktifan bertanya siswa masih sangat kurang. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang 68
85 akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu tentang lembaga yudikatif. Mata pelajaran PKn berada pada jam kedua dan ketiga kemudian dilanjutkan dengan istirahat pertama. b) Siklus I pertemuan 2 Pertemuan 2 pada siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Februari 2016 dengan materi lembaga yudikatif. Pembelajaran dilaksanakan pada jam pertama dan kedua dengan alokasi waktu 2x35 menit. Guru sebagai pengajar sedangkan peneliti sebagai observer kegiatan pembelajaran serta satu orang observer pendamping untuk membantu kegiatan observasi peneliti. (1) Kegiatan awal Guru memulai pembelajaran dengan salam dan berdoa. Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Guru mempresensi kehadiran siswa. Hari itu semua siswa hadir sehingga jumlah siswa sebanyak 14 siswa. Guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan, Siapa yang suka menonton berita? Siswa menjawab, Saya suka pak. Kemudian guru memberikan pernyataan, Dengan menonton berita kita akan mengetahui informasi yang terjadi di sekitar lingkungan kita bahkan berita luar negeri. Dengan menonton berita kita 69
86 mendapatkan informasi mengenai pelanggaran-pelanggaran aturan yang terjadi di seluruh penjuru dunia, salah satunya adalah terorisme. Guru kemudian bertanya, Mengapa terorisme merupakan tindakan yang melanggar undangundang? IDP menjawab, karena dapat menjatuhkan korban jiwa dan merusak bangunan dengan bom. Guru membenarkan jawaban IDP, kemudian memberikan pernyataan bahwa tindakan yang melanggar undang-undang akan diadili oleh lembaga peradilan yang ada. Lembaga peradilan merupakan lembaga yang mengawasi pelaksanaan peraturan undang-undang. Lembaga tersebut disebut dengan lembaga yudikatif. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. (2) Kegiatan inti Guru meminta siswa membuka buku Lintas halaman 8 mengenai lembaga yudikatif. Guru meminta IDP membaca materi mengenai Mahkamah Agung dan siswa lain menyimak. Suasana kelas sangat tenang dan hening. Kelas sangat kondusif untuk pembelajaran. Siswa lain menyimak dengan tenang ketika IDP membaca. Guru meminta BSN melanjutkan membaca materi mengenai fungsi dan wewenang Mahkamah Agung dilanjutkan materi mengenai pengertian Mahkamah Konstitusi. Kemudian ICU diminta 70
87 melanjutkan membaca materi mengenai fungsi dan wewenang Mahkamah Konstitusi sampai Komisi Yudisial. Guru menjelaskan kembali materi yang sudah dibacakan oleh siswa. Siswa memperhatikan dengan baik, meskipun sesekali ada siswa yang mengobrol. Setelah diingatkan siswa kembali memperhatikan. Guru menjelaskan sambil menulis catatan di papan tulis. Kemudian guru bertanya jawab dengan siswa mengenai materi lembaga yudikatif. Tindakan selanjutnya yang dilakukan guru adalah sebagai berikut. (a) Tahap pertama, guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang pandai. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, RFP, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, FS, ABB, dan YST. Kelompok 3 terdiri dari BR, RA, ICU, YF, dan FCY. Siswa masih sulit dikondisikan untuk berkelompok dengan anggota kelompok yang telah ditentukan oleh guru. Beberapa siswa masih ada yang protes karena siswa cenderung masih membeda-bedakan teman dan lawan jenis. Beberapa siswa bahkan saling mengejek sehingga suasana kelas menjadi ramai. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengkondisikan siswa. 71
88 (b) Tahap kedua, guru menjelaskan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa yaitu menemukan masalah yang disajikan dalam LKS, mengidentifikasi penyebab dari masalah tersebut, kemudian menyelesaikan masalah secara kreatif dari hasil brainstorming berdasarkan pengalaman, pengetahuan siswa, maupun membaca referensi. (c) Tahap ketiga, guru membagikan LKS yang berisi situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa dari perwakilan kelompok membacakan masalah yang ada dalam LKS. Guru meminta salah satu siswa mengulangi kembali membaca. Guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah pelanggaran tata tertib sekolah oleh Andi karena sering datang terlambat dan tidak mengerjakan PR menggambarkan pelanggaran dalam pelaksanaan undang-undang di Indonesia. Masalah yang disajikan guru, siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Guru menjelaskan contoh mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi agar tidak terjadi kesalahpahaman oleh siswa seperti pada pertemuan 1. 72
89 Gambar 5. Guru Menjelaskan Petunjuk Kegiatan yang akan Dilakukan oleh Siswa dan Mempertegas Masalah yang Tersaji dalam LKS dengan Menuliskan di Papan Tulis (d) Tahap keempat, siswa melakukan diskusi untuk menemukan penyebab timbulnya masalah yang terjadi kemudian menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa siswa masih kebingungan mengidentifikasi penyebab masalah yang disajikan dalam LKS. Sebagian besar kelompok masih menuliskan kembali masalah yang sudah tersaji dalam tabel penyebab dari masalah. Tabel yang disediakan dalam LKS seharusnya diisi penyebab dari masalah dan solusi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Namun, jika dilihat dari keaktifannya diskusi dalam kelompok 1 dan 3 berjalan cukup baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat, namun antar anggota kelompok kurang menghargai pendapat. Diskusi dalam kelompok 2 berjalan kurang baik karena masih ada siswa yang hanya diam dan tidak memberikan pendapat ataupun menanggapi pendapat siswa lain. Guru 73
90 kurang aktif membimbing siswa sehingga siswa yang kebingungan bertanya kepada peneliti. Gambar 6. Kegiatan Diskusi Penyelesaian Masalah dalam Kelompok 1 yang Berjalan Cukup Baik Gambar 7. Guru Kurang Aktif Membimbing Diskusi Siswa (e) Tahap kelima, siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh BSN dan RDS. BSN membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. IDP dan BR menanggapi 74
91 bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 2 ada yang kurang tepat. Guru menerima tanggapan IDP dan BR. Kelompok 2 juga menerima tanggapan dari IDP dan BR. Selanjutnya dari kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh ICU dan RA. ICU membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RA membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi. Terakhir kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh RWD dan RFP. RWD membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RFP membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. BSN menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 3 ada yang kurang tepat. Guru menerima tanggapan BSN. Kelompok 3 juga menerima tanggapan dari BSN. Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Penyebab masalah dalam LKS tersebut adalah kurangnya disiplin dan sikap acuh tak acuh. Masih ada beberapa jawaban siswa yang kurang tepat. Guru meminta siswa mengidentifikasi penyebab dari masalah yang timbul pada LKS, namun masih ada kelompok yang menuliskan 75
92 kembali masalah-masalah yang sudah ada dalam LKS tersebut. Solusi yang diberikan oleh siswa beberapa sudah benar. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. (3) Kegiatan penutup Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai lembaga yudikatif. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Keaktifan bertanya siswa masih sangat kurang. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mata pelajaran PKn berada pada jam pertama dan kedua maka dilanjutkan dengan pembelajaran selanjutnya. 3) Pengamatan Siklus I a) Pengamatan guru siklus I Pertemuan 1, secara keseluruhan guru sudah melakukan pembelajaran dengan baik sesuai dengan RPP. Meskipun pada kegiatan perencanaan tindakan peneliti dan guru sudah berlatih bersama (coaching) mengenai penerapan model pembelajaran CPS, guru belum menguasai penuh pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CPS, karena model 76
93 pembelajaran ini belum pernah dipakai sebelumnya oleh guru. Guru kurang tegas terhadap siswa yang bergurau, mengobrol, dan mengganggu siswa yang lain saat proses pembelajaran berlangsung sehingga membuat kegaduhan di dalam kelas. Memasuki pembelajaran pertemuan 1 menggunakan tahapan model pembelajaran CPS, guru belum menjelaskan contoh mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi, sehingga siswa kurang paham kemudian siswa menuliskan kembali masalah yang sudah tersaji dan tidak menuliskan penyebab dari masalah tersebut. Tahap keempat, ketika siswa melakukan diskusi guru kurang memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan, sehingga siswa meminta bantuan peneliti untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Guru terlihat membaca buku di meja guru. Guru kurang aktif membimbing diskusi siswa dalam kelompok. Sesekali guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Pertemuan 2, secara keseluruhan guru sudah melakukan dengan baik sesuai dengan RPP. Memasuki pembelajaran menggunakan tahapan model pembelajaran CPS, guru sudah menjelaskan contoh mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi agar tidak terjadi kesalahpahaman oleh siswa seperti pada pertemuan 1, namun pada pelaksanaannya masih ada siswa yang kurang paham kemudian siswa menuliskan kembali masalah yang 77
94 sudah tersaji dan tidak menuliskan penyebab dari masalah tersebut. Tahap keempat, ketika siswa melakukan diskusi guru masih kurang memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan seperti yang terjadi pada pertemuan 1, sehingga siswa meminta bantuan peneliti untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Guru terlihat membaca buku di meja guru. Guru kurang aktif membimbing diskusi siswa dalam kelompok. Sesekali guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Pertemuan 1 dan 2, guru telah membimbing presentasi hasil diskusi siswa dengan baik. Guru mengkonfirmasi jawaban siswa dengan jawaban yang benar. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. b) Pengamatan siswa siklus I (1) Pengamatan siswa pertemuan 1 Untuk mempermudah mengamati siswa, peneliti membuat tanda pengenal dalam bentuk name tag disertai perekat untuk menempelkannya pada baju siswa. Hal ini dilakukan agar dapat memudahkan peneliti untuk mangamati keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, untuk 78
95 lebih mempermudah mengamati keaktifan siswa, peneliti yang bertindak sebagai observer mengajak satu orang observer pendamping. Peneliti mengamati siswa yang bernomor absen 1 sampai 7, observer lain bertugas mengamati siswa yang bernomor absen 8 sampai 14. Berikut foto siswa dengan menggunakan tanda pengenal. Gambar 8. Siswa sedang Berdiskusi dengan Menggunakan Name Tag yang Ditempelkan pada Baju Siswa Berdasarkan hasil pengamatan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn yang dilakukan dapat diketahui bahwa pembelajaran PKn pada pertemuan 1 belum berjalan maksimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan terhadap indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran CPS. Hasil pengamatan pada indikator 1 yang berbunyi terlibat dalam kegiatan penyelesaian masalah dengan mengemukakan pendapat dalam kelompok, menunjukkan 79
96 bahwa sebagian besar siswa dapat mengemukakan pendapat dengan benar namun dengan bantuan peneliti. Siswa meminta bantuan peneliti ketika mengalami kesulitan karena guru kurang aktif dalam membimbing diskusi siswa. Masih ada beberapa siswa yang belum mampu mengemukakan pendapat bahkan siswa tersebut cenderung diam dan hanya menyimak siswa lain yang berdiskusi. Ada juga siswa yang bergurau dengan siswa lain, sehingga mengganggu siswa yang sedang berdiskusi. Hasil pengamatan pada indikator 2 yang berbunyi menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi kelompok, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menanggapi pendapat siswa lain, namun kurang menghargai pendapat siswa lain dalam kegiatan diskusi kelompok. Siswa cenderung menganggap pendapat yang dikemukakan dirinya sendiri lebih benar dan kadang mengejek pendapat siswa sehingga menimbulkan keramaian. Hasil pengamatan pada indikator 3 yaitu berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok, menunjukkan bahwa siswa mampu berdiskusi membuat alternatif solusi dengan benar namun dibantu oleh peneliti. Siswa meminta bantuan dengan bertanya kepada peneliti karena guru kurang aktif dalam 80
97 membimbing diskusi siswa. Masih banyak siswa yang kebingungan dan sulit memberikan solusi untuk permasalahan. Siswa pada dasarnya sudah mengetahui apa saja solusi yang akan dituliskan namun siswa masih merasa kurang yakin atas pemikirannya sehingga siswa bertanya kepada peneliti. Hasil pengamatan pada indikator 4 yaitu mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi dari kelompok lain, menunjukkan bahwa siswa mampu mempresentasikan hasil diskusi dengan runtut dan jelas namun beberapa jawaban kurang tepat. Selain itu, siswa belum mampu menanggapi hasil presentasi dari kelompok lain. Masih terdapat beberapa siswa yang mengobrol dengan teman sekelompoknya ketika presentasi berlangsung. Meskipun jawaban dari kelompok lain ada yang kurang tepat, namun hanya ada satu siswa yang mampu menanggapi presentasi kelompok lain. Presentasi dari masing-masing kelompok dibacakan oleh perwakilan kelompok. (2) Pengamatan siswa pertemuan 2 Pertemuan 2 peneliti juga mengajak satu teman untuk menjadi observer yang bertugas mengamati sebagian siswa. Peneliti mengamati siswa yang bernomor absen 1 sampai 7, observer lain bertugas mengamati siswa yang bernomor 81
98 absen 8 sampai 14. Perhatian siswa pada pertemuan 2 ini terhadap penjelasan guru cukup baik terlihat siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru pada setiap penjelasan materi. Siswa terlihat bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Hal tersebut terlihat dari siswa aktif menjawab pertanyaan guru. Hasil pengamatan pada indikator 1 sebagian besar siswa dapat mengemukakan pendapat dengan benar namun siswa masih meminta bantuan kepada peneliti. Masih ada beberapa siswa yang belum bisa mengemukakan pendapat bahkan siswa tersebut cenderung diam dan hanya menyimak siswa lain yang berdiskusi. Hasil pengamatan pada indikator 2, siswa cenderung menganggap pendapat yang dikemukakan dirinya sendiri lebih benar dan kadang mengejek pendapat siswa lain jika dinggap kurang benar. Hal tersebut menimbulkan keramaian di dalam kelas. Hasil pengamatan pada indikator 3, siswa mampu berdiskusi membuat alternatif solusi dengan benar namun dibantu oleh peneliti. Masih banyak siswa yang kebingungan dan sulit memberikan solusi untuk permasalahan. Siswa pada dasarnya sudah mengetahui apa saja solusi yang akan dituliskan namun siswa masih merasa kurang yakin atas pemikirannya sehingga siswa bertanya kepada peneliti. Siswa meminta bantuan kepada 82
99 peneliti karena guru kurang aktif dalam membimbing diskusi siswa. Sebagian besar siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan diskusi menyelesaikan masalah yang disajikan oleh guru. Sebagian besar siswa sudah mulai paham dengan perintah guru mengenai mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan dalam LKS meskipun masih ada jawaban yang kurang tepat. Masih ada beberapa siswa yang membuat gaduh, misalnya bercanda dengan siswa lain ketika sedang diberikan penjelasan serta tidak serius dalam menjawab pertanyaan guru. Hasil pengamatan pada indikator 4 yaitu dalam presentasi hasil diskusi kelompok, hanya ada tiga siswa yang mampu menanggapi presentasi dari kelompok lain. Selain ketiga siswa tersebut, siswa lain masih terlihat pasif ketika presentasi hasil diskusi. Masih terdapat beberapa siswa yang mengobrol dengan teman sekelompoknya ketika presentasi berlangsung. Data hasil observasi keaktifan siswa pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 siklus I menunjukkan bahwa skor akhir keaktifan seluruh siswa meningkat. Akan tetapi, skor akhir seluruh siswa belum mencapai 2,66. Dari rata-rata siklus I, belum memenuhi indikator keberhasilan. Penelitian ini telah ditetapkan indikator keberhasilan yaitu 75% siswa memperoleh skor akhir >2.66. Skor akhir tersebut termasuk 83
100 dalam kriteria baik. Secara lebih rinci sebagian besar keaktifan siswa setiap indikatornya mengalami peningkatan dari pertemuan 1 dan pertemuan 2, hal ini terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5. Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Pembelajaran PKn Siklus I Skor Jumlah Skor Krite- Nama Indikator 1 tor 2 tor 3 tor 4 Indika- Indika- Indika- Ket. **) No. Skor Akhir ria *) Siswa P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 1. RA K C BB BB 2. ICU ,75 K B BB B 3. YF ,25 1,75 K C BB BB 4. ABB ,5 2,25 C C BB BB 5. BR ,25 3 C B BB B 6. BSN ,25 2,75 C B BB B 7. IAR ,5 1,5 C C BB BB 8. IDP ,75 3 B B B B 9. RDS ,25 C C BB BB 10. RWD ,25 2,25 C C BB BB 11. RFP ,75 1,75 C C BB BB 12. FCY ,5 2,5 B B BB BB 13. YST ,25 1,75 K C BB BB 14. FS C C BB BB Jumlah ,25 31,5 Rata-rata 2 2,5 1,5 2,29 1,71 2,29 1,43 1,79 6,64 9 1,66 2,25 Tertinggi ,75 3 Terendah ,5 *) Siswa dalam kriteria Kurang (K), Cukup (C), Baik (B), dan Sangat Baik (SB). **) Siswa dikatakan berhasil mencapai indikator keberhasilan jika mendapat skor akhir >2,66 dengan keterangan Berhasil (B) dan Belum Berhasil (BB). Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor akhir keaktifan siswa pada setiap pertemuannya. Pertemuan 1 terdapat 2 siswa yang tidak masuk sekolah sehingga mendapatkan skor 0 di setiap indikator keaktifan siswa. Pertemuan 1 terdapat 4 siswa 84
101 termasuk dalam kriteria kurang aktif, 8 siswa termasuk dalam kriteria cukup aktif, dan 2 siswa termasuk dalam kriteria keaktifan yang baik. Pertemuan 2 terdapat 9 siswa termasuk dalam kriteria cukup aktif dan 5 siswa termasuk dalam kriteria keaktifan yang baik. Apabila dilihat dari perolehan skor akhir keaktifan siswa, 2 siswa yang tidak masuk pada pertemuan 1 memiliki keaktifan yang cukup baik dan baik. Hal tersebut terbukti pada pertemuan 2, RA memperoleh skor akhir 2 dengan kriteria cukup baik dan ICU memperoleh skor akhir 2,75 dengan kriteria baik. Dilihat dari kemampuan siswa mencapai indikator keberhasilan, pada pertemuan 1 hanya ada 1 siswa yang memperoleh skor akhir >2,66 dan dinyatakan berhasil mencapai indikator keberhasilan, sedangkan siswa yang belum berhasil sebanyak 13 siswa. Jumlah siswa pada pertemuan 2 yang berhasil mencapai indikator keberhasilan meningkat menjadi 4 siswa dan siswa yang belum berhasil menurun menjadi 10 siswa. Berikut persentase siswa yang berhasil dan belum berhasil mencapai indikator keberhasilan pada siklus I. 85
102 Tabel 6. Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan pada Siklus I Frekuensi Persentase Keterangan P1 P2 P1 P2 Siswa yang berhasil mencapai 1 4 7,14% 28,57% indikator keberhasilan Siswa yang belum berhasil ,86% 71,43% mencapai indikator keberhasilan Berikut tabel perbandingan persentase siswa yang berhasil dan belum berhasil mencapai indikator keberhasilan antara pra tindakan dan siklus I. Tabel 7. Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan antara Pra Tindakan dan Siklus I Pra Tindakan Siklus I Keterangan Freku- Persetase Frekuensi Persentase ensi P1 P2 P1 P2 Siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan 0 0% 1 4 7,14% 28,57% Siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan % ,86% 71,43% Perbandingan persentase siswa yang berhasil dan belum berhasil mencapai indikator keberhasilan antara pra tindakan dan siklus I juga ditunjukkan dalam diagram di bawah ini. 86
103 P e r s e n t a s e Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan antara Pra Tindakan dan Siklus I 100% 100% 92,86% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 0% Pra Tindakan 7,14% Siklus I Pertemuan 1 28,57% 71,43% Siklus I Pertemuan 2 Berhasil Belum Berhasil Gambar 9. Diagram Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan antara Pra Tindakan dan Siklus I Diagram di atas menunjukkan persentase siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan mengalami peningkatan dan persentase siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan mengalami penurunan dari pra tindakan sampai siklus I. Persentase siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan pada pra tindakan 0% meningkat menjadi 7,14% pada siklus I pertemuan 1 kemudian meningkat lagi menjadi 28,57% pada pertemuan 2. Persentase siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan pada pra tindakan sebesar 100% menurun menjadi 92,86% pada siklus I pertemuan 1 kemudian menurun lagi menjadi 71,43% pada pertemuan 2. 87
104 4) Refleksi Siklus I Refleksi pada siklus I bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. Peneliti dan guru kelas IV, melakukan evaluasi terhadap beberapa tindakan yang telah diterapkan untuk diperbaiki pada tindakan yang berikutnya. Berdasarkan hasil pengamatan, hasil evaluasi, dan hasil diskusi dengan guru, ada beberapa hal yang dapat direfleksikan agar pelaksanaan proses pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran CPS di kelas IV SD Negeri Jeruksari dapat meningkatkan keaktifan siswa. Secara kualitas proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn kelas IV SD Negeri Jeruksari mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi atau keadaan pada saat pelaksanaan tindakan di setiap pertemuan siklus I yaitu keaktifan siswa dalam pembelajaran meningkat, terlihat pada setiap pertemuan, partisipasi, serta keantusiasan siswa meningkat cukup baik, didukung pula dengan adanya kesediaan siswa dalam melaksanakan tahapan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CPS, namun masih ada beberapa siswa yang kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Hal tersebut dapat dilihat ketika siswa diminta berpendapat, bertanya, maupun menanggapi pendapat atau pertanyaan dari siswa lain, beberapa siswa masih bergurau dengan 88
105 siswa lain, tanpa menghiraukan perkataan guru. Sebagaimana pendapat dari Nana Sudjana (2010: 94) mengenai kekurangan model pembelajaran CPS, salah satunya adalah jika kegiatan belajar tidak terkontrol oleh guru, maka kegiatan belajar bisa membawa resiko yang merugikan siswa, misalnya kegiatan belajar tidak optimal karena sikap tak acuh siswa. Hal tersebut terjadi pada siklus I, meskipun kualitas pembelajaran meningkat namun pembelajaran belum maksimal. Hasil penelitian tindakan siklus I menunjukkan bahwa pada pertemuan 1, hanya ada 1 (7,14%) siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian dan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 4 (28,57%) siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sujarwo (2011: ) pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran CPS menempatkan siswa aktif dalam pembelajaran karena guru lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar. Menurut indikator keberhasilan yang sudah ditentukan, penelitian ini dikatakan berhasil jika sekurang-kurangnya 75% siswa memperoleh skor akhir >2,66. Skor akhir tersebut termasuk dalam kriteria baik. Oleh karena itu, penelitian tindakan siklus I dinyatakan belum berhasil sehingga perlu dilanjutkan penelitian tindakan siklus II. Hal tersebut diakibatkan karena upaya guru dalam mengelola kelas kurang optimal sehingga masih ada siswa yang sulit untuk dikondisikan mengikuti 89
106 pembelajaran dengan baik dan guru belum menguasai penuh model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn. Berikut kendala-kendala selama siklus I disertai dengan rencana perbaikan untuk pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Tabel 8. Kendala pada Siklus I dan Rencana Perbaikan untuk Pembelajaran pada Pertemuan Berikutnya No. Kendala Penelitian Siklus I Rencana Perbaikan Pada Siklus II 1. Guru kurang tegas terhadap siswa yang bergurau, mengobrol, dan mengganggu siswa lain saat proses pembelajaran berlangsung sehingga membuat kegaduhan di dalam kelas. 2. Pada pembagian kelompok yang dilakukan secara acak sesuai dengan tingkat prestasi siswa, ada beberapa siswa yang protes dengan kelompok yang telah ditentukan. 3. Tahapan yang dilakukan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CPS, guru kurang maksimal dalam menjelaskan petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, sehingga beberapa siswa masih belum mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan oleh guru. 4. Selama pembelajaran menggunakan model pembelajaran CPS, guru kurang membimbing siswa dalam diskusi, guru terlihat pasif, dan hanya duduk di meja guru sambil membaca buku sehingga ketika siswa mengalami kesulitan mengerjakan LKS siswa meminta bantuan kepada peneliti. 5. Saat presentasi berlangsung, masih terdapat siswa yang mengobrol dengan teman sekelompoknya dan masih pasif untuk menanggapi presentasi dari kelompok lain. Guru memanggil dan menegur siswa yang bergurau, mengobrol, dan mengganggu siswa lain saat proses pembelajaran berlangsung agar siswa kembali fokus mengikuti pembelajaran dengan baik. Guru menasehati siswa agar mau berkelompok dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan dan tidak mengejek siswa yang berkelompok dengan lawan jenis. Guru menjelaskan dengan jelas dan rinci mengenai petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, sehingga seluruh siswa tidak mengalami kesalahpahaman dan mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan oleh guru. Guru harus lebih aktif membimbing siswa dalam diskusi dan membantu kesulitan siswa sehingga tidak ada lagi siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah dalam LKS. Guru harus menegur dan memberikan nasehat bagi kelompok yang tidak memperhatikan dan meminta siswa ikut menanggapi dalam kegiatan presentasi hasil diskusi. 90
107 b. Siklus II 1) Perencanaan Tindakan Siklus II Tindakan Siklus II diadakan berdasarkan hasil refleksi dari siklus I yang belum mencapai indikator keberhasilan penelitian. Siklus II juga dirancang sebuah desain pembelajaran menggunakan model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn. Perbedaan siklus I dan siklus II adalah dari pelaksanaan tahapan tindakan. Hal ini berdasarkan pertimbangan hasil refleksi pada siklus I. Perbaikan siklus I yang akan dilakukan pada siklus II yang pertama adalah guru memanggil dan menegur siswa yang bergurau, mengobrol, dan mengganggu siswa lain saat proses pembelajaran berlangsung agar siswa kembali fokus mengikuti pembelajaran dengan baik. Kedua, guru menasehati siswa agar mau berkelompok dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan dan tidak mengejek siswa yang berkelompok dengan lawan jenis. Ketiga, guru menjelaskan dengan jelas dan rinci mengenai petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, sehingga seluruh siswa tidak mengalami kesalahpahaman dan mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan oleh guru. Keempat, guru harus lebih aktif membimbing siswa dalam diskusi dan membantu kesulitan siswa sehingga tidak ada lagi siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah dalam LKS. Kelima, guru harus menegur dan memberikan nasehat 91
108 bagi kelompok yang tidak memperhatikan dan meminta siswa ikut menanggapi dalam kegiatan presentasi hasil diskusi. Perencanaan tindakan siklus II sama dengan perencanaan tindakan siklus I yaitu peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan lembar observasi untuk mengamati keaktifan siswa serta aktivitas guru selama proses pembelajaran. Siklus II dimulai dengan membuat RPP untuk materi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Siklus II direncanakan dua kali pertemuan. Perkiraan materi akan selesai dalam dua kali pertemuan, dengan rincian pada pertemuan 1 membahas mengenai BPK dan pada pertemuan 2 membahas mengenai KPU. Materi tersebut sesuai dengan permintaan guru. 2) Pelaksanaan Tindakan Siklus II a) Siklus II pertemuan 1 Siklus II Pertemuan 1 dilaksanakan pada hari Senin tanggal 15 Februari 2016 dengan materi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pembelajaran dilaksanakan pada jam keempat dan kelima setelah jam istirahat pertama dengan alokasi waktu 2x35 menit. Guru sebagai pengajar sedangkan peneliti sebagai observer kegiatan pembelajaran serta satu orang observer pendamping untuk membantu kegiatan observasi peneliti. 92
109 (1) Kegiatan awal Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Selanjutnya, guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, tanpa berdoa karena pembelajaran dimulai pada jam keempat. Berdoa dilakukan pada jam pertama. Hari itu ada 2 siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit yaitu BR dan RFP, jadi siswa yang hadir pada hari itu hanya 12 siswa. Kemudian, guru melakukan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan, Siapa yang pernah menjadi bendahara di kelas? Apa tugas bendahara? ICU menjawab, Saya pak, mengurusi uang kas. Guru membenarkan jawaban siswa, Betul sekali, bendahara mengurusi uang kas atau keuangan kelas. Seperti di kelas ini, di negara kita juga ada lembaga yang bertugas mengurusi keuangan negara. Namun, bagaimana kita tahu uang negara dikelola dengan baik atau tidak? Kita sebagai rakyat tidak bisa mengawasi secara langsung. Siapa yang mengawasi pengelolaan uang negara? IDP menjawab, BPK pak. Guru membenarkan jawaban siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu mengenai BPK. 93
110 (2) Kegiatan inti Guru meminta siswa membuka buku paket PKn halaman 33 dan buku Lintas halaman 10 mengenai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Guru meminta siswa membaca materi secara bergiliran dan siswa yang tidak membaca diminta menyimak. Suasana kelas sangat tenang dan hening. Kelas sangat kondusif untuk pembelajaran. Guru menjelaskan kembali materi yang sudah dibacakan oleh siswa. Siswa memperhatikan dengan baik, meskipun sesekali ada siswa yang mengobrol namun setelah diingatkan siswa kembali memperhatikan. Guru menjelaskan sambil menulis catatan di papan tulis dan melakukan tanya jawab mengenai materi. Tindakan selanjutnya yang dilakukan guru adalah sebagai berikut. (a) Tahap pertama, guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang pandai. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, YST, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, FS, dan ABB. Kelompok 3 terdiri dari RA, ICU, YF, dan FCY. Siswa mudah dikondisikan untuk berkelompok sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan oleh guru. 94
111 (b) Tahap kedua, guru menjelaskan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa yaitu menemukan masalah yang disajikan dalam LKS, mengidentifikasi penyebab dari masalah tersebut, kemudian menyelesaikan masalah secara kreatif dari hasil brainstorming berdasarkan pengalaman, pengetahuan siswa, maupun membaca referensi. (c) Tahap ketiga, guru membagikan LKS yang berisi mengenai situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa untuk membacakan masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. Guru meminta siswa lain mengulangi membaca. Guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah pengelolaan uang sekolah oleh Pak Johan selaku bendahara di SD Bina Bangsa. Penyalahgunaan uang sekolah oleh Pak Johan untuk keperluan pribadi. Pengelolaan keuangan sekolah, kepala sekolah bertindak sebagai lembaga yang mengawasi pengelolaan keuangan sekolah. Hal tersebut sama seperti pengawasan pengelolaan uang negara olek BPK. Siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. 95
112 Gambar 10. Guru Menjelaskan Petunjuk Kegiatan yang akan Dilakukan oleh Siswa dan Mempertegas Masalah yang Tersaji dalam LKS (d) Tahap keempat, siswa berdiskusi untuk menemukan penyebab timbulnya masalah yang terjadi kemudian menyelesaikan masalah tersebut. Siswa terlihat lebih aktif pada diskusi kali ini dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Siswa terlihat sangat antusias mengerjakan LKS. Siswa sudah paham mengenai mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan guru. Siswa sudah terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Siswa sudah mampu berpendapat dan menanggapi pendapat siswa lain dalam kelompok. Penyebab dan solusi dari masalah yang dituliskan siswa dalam LKS lebih variatif dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. 96
113 Gambar 11. Diskusi dalam Kelompok 1 (kiri) dan 2 (kanan) Berjalan Baik dan Diskusi Telah Selesai Gambar 12. Diskusi dalam Kelompok 3 Berjalan Baik dan Diskusi Telah Selesai (e) Tahap kelima, siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh FCY dan YF. FCY membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian YF membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. IDP, BSN, RWD, FS, dan IAR menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 3 masih kurang. Guru menerima tanggapan siswa. Kelompok 3 juga menerima tanggapan dari kelompok lain. Selanjutnya dari 97
114 kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh FS dan RDS. FS membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. RA, ICU, YF, FCY, dan YST menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 2 masih kurang. Guru menerima tanggapan siswa. Kelompok 2 juga menerima tanggapan dari kelompok lain. Terakhir kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh IAR dan YST. IAR membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian YST membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi karena jawaban dari kelompok 3 dianggap benar oleh siswa lain. Guru mengkonfirmasi kekurangan jawaban kelompok 3 dan 2 tadi ditambahkan dengan jawaban kelompok 1. Sebagian besar jawaban siswa sudah benar. Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Penyebab masalah dalam LKS tersebut adalah kurang rasa tanggung jawab dan kejujuran dari Pak Johan. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. 98
115 (3) Kegiatan penutup Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai BPK. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Siswa menyatakan bahwa sudah paham dengan materi hari itu. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu tentang KPU. Mata pelajaran PKn berada pada jam keempat dan kelima maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan pembelajaran selanjutnya. b) Siklus II pertemuan 2 Siklus II pertemuan 2 dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 18 Februari 2016 dengan materi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pembelajaran dilaksanakan pada jam pertama dan kedua dengan alokasi waktu 2x35 menit. Guru sebagai pengajar sedangkan peneliti sebagai observer kegiatan pembelajaran serta satu orang observer pendamping untuk membantu kegiatan observasi peneliti. (1) Kegiatan awal Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Selanjutnya, guru memulai pembelajaran dengan salam dan berdoa. Peraturan 99
116 terbaru di SD Jeruksari bahwa sebelum pembelajaran dimulai, siswa dan guru wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Kemudian guru mempresensi kehadiran siswa. Semua siswa hadir sehingga jumlah siswa sebanyak 14 siswa. Guru melakukan apersepsi mengaitkan materi dengan pemilihan kepala daerah di Gunungkidul beberapa waktu lalu. Guru bertanya, Belum lama ini di kabupaten Gunungkidul mengadakan pemilihan kepala daerah, disingkat apa? IDP menjawab, Pilkada pak. Guru membenarkan jawaban IDP lalu berkata, Lembaga yang mengurusi pilkada kemarin namanya apa? FS menjawab, KPU pak. Guru membenarkan jawaban FS kemudian menyampaikan bahwa hari itu akan mempelajari mengenai Komisi Pemilihan Umum (KPU). (2) Kegiatan inti Guru meminta siswa membuka lembar materi pembelajaran yang sudah diberikan oleh peneliti mengenai lembaga KPU. Guru meminta peneliti menyiapkan lembar materi mengenai lembaga KPU sebagai bahan belajar siswa karena di buku paket PKn dan buku Lintas siswa tidak ada penjelasan lengkap mengenai lembaga KPU. Guru meminta siswa secara bergiliran membacakan materi dan siswa lain yang tidak membaca diminta menyimak. Suasana kelas 100
117 sangat tenang dan hening. Kelas sangat kondusif untuk pembelajaran. Guru menjelaskan kembali materi yang sudah dibacakan oleh siswa. Siswa memperhatikan dengan baik. Guru menjelaskan sambil menulis catatan di papan tulis dan melakukan tanya jawab mengenai materi. Gambar 13. Guru Menjelaskan Materi Mengenai KPU Siswa dan guru telah melakukan tanya jawab, maka tindakan selanjutnya yang dilakukan guru dengan model pembelajaran CPS adalah sebagai berikut. (a) Tahap pertama, guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang pandai. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, RFP, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, FS, ABB, dan YST. Kelompok 3 terdiri dari BR, RA, ICU, YF, dan FCY. Siswa mudah dikondisikan untuk berkelompok sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan oleh guru. 101
118 (b) Tahap kedua, guru menjelaskan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa yaitu menemukan masalah yang disajikan dalam LKS, mengidentifikasi penyebab dari masalah tersebut, kemudian menyelesaikan masalah secara kreatif dari hasil brainstorming berdasarkan pengalaman, pengetahuan siswa, maupun membaca referensi. (c) Tahap ketiga, guru membagikan LKS yang berisi mengenai situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa untuk membacakan masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. Guru meminta siswa lain mengulangi membaca. Guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah tindakan suap yang dilakukan oleh Pak Muhiddin dalam pemilihan ketua RT menggambarkan pelanggaran dalam pelaksanaan pemilu di Indonesia. Pelaksanaan pemilihan ketua RT, Pak Somad bertindak sebagai orang yang dituakan di daerah tempat tinggal Pak Muhiddin sehingga memimpin jalannya pemilihan ketua RT. Hal tersebut sama seperti lembaga KPU di Indonesia yaitu melaksanakan pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Masalah yang disajikan guru 102
119 tersebut siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Gambar 14. Guru Menjelaskan Petunjuk Kegiatan yang akan Dilakukan oleh Siswa dan Mempertegas Masalah yang Tersaji dalam LKS dengan Menuliskan di Papan Tulis (d) Tahap keempat, siswa melakukan diskusi untuk menemukan penyebab timbulnya masalah yang terjadi kemudian menyelesaikan masalah tersebut. Siswa terlihat sangat aktif pada diskusi kali ini dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Siswa terlihat sangat antusias mengerjakan LKS. Siswa sudah paham mengenai mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan guru. Seluruh siswa sudah terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Diskusi dalam kelompok 1, 2, dan 3 berjalan sangat baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari kesesuaian pendapat tersebut dengan 103
120 masalah yang dalam LKS. Penyebab dan solusi dari masalah yang dituliskan siswa dalam LKS lebih variatif dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Gambar 15. Diskusi dalam Kelompok 1 Berjalan Baik dan Siswa Terlihat Antusias Mengerjakan LKS Gambar 16. Diskusi dalam Kelompok 2 Berjalan Baik dan Siswa Terlihat Antusias Mengerjakan LKS Gambar 17. Diskusi dalam Kelompok 3 Berjalan Baik dan Siswa Terlihat Antusias Mengerjakan LKS 104
121 (e) Tahap kelima, siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh RFP dan IAR. RFP membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian IAR membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. Kelompok 2 dan 3 menanggapi bahwa kelompok 2 dan 3 sependapat dengan jawaban dari kelompok 1 karena jawaban kelompok 1 benar. Selanjutnya dari kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh FS dan RDS. FS membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. Kelompok 1 dan 3 menanggapi bahwa kelompok 1 dan 3 sependapat dengan jawaban dari kelompok 2 karena jawaban kelompok 2 benar. Terakhir kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh YF dan ICU. YF membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian ICU membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. Kelompok 1 dan 2 menanggapi bahwa kelompok 1 dan 2 sependapat dengan jawaban dari kelompok 3 karena jawaban kelompok 3 benar. Guru mengkonfirmasi 105
122 jawaban setiap kelompok bahwa jawaban semua kelompok benar. Penyebab masalah dalam LKS tersebut adalah ketidakjujuran, sombong, dan tidak mau menerima kekalahan dengan lapang dada. Siswa sudah mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi kemudian siswa memberikan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. (3) Kegiatan penutup Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai KPU. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Siswa menyatakan bahwa sudah paham dengan materi hari itu. Mata pelajaran PKn berada pada jam pertama dan kedua maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan pembelajaran selanjutnya. 3) Pengamatan Siklus II a) Pengamatan guru siklus II Pertemuan 1 dan 2 pada siklus II, secara keseluruhan guru sudah melakukan pembelajaran dengan baik sesuai dengan RPP. Guru sudah menguasai penuh pembelajaran dengan menggunakan 106
123 model pembelajaran CPS. Guru memulai pembelajaran dengan salam dan berdoa kemudian dilanjutkan dengan apersepsi. Setelah menyampaikan apersepsi guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Guru bertindak tegas dengan menegur dan menasehati siswa yang bergurau, mengobrol, dan mengganggu siswa lain ketika pembelajaran berlangsung, sehingga siswa belajar dengan suasana yang tenang. Memasuki pembelajaran menggunakan model pembelajaran CPS, menjelaskan contoh mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi, sehingga siswa paham mengerjakan LKS. Tahap keempat, ketika proses diskusi siswa, guru membantu siswa yang mengalami kesulitan dengan memperjelas masalah yang dihadapi. Guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Guru aktif mendatangi satu per satu kelompok untuk melihat proses diskusi siswa dalam kelompok. Pertemuan 1 dan 2, guru telah membimbing presentasi hasil diskusi siswa dengan baik. Guru juga menegur siswa yang mengobrol dengan teman sekelompoknya sehingga siswa tersebut kembali memperhatikan presentasi dari kelompok lain. Guru mengkonfirmasi jawaban siswa dengan jawaban yang benar. Jawaban semua kelompok benar dan guru memberikan pujian atas keberhasilan siswa. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari. Siswa diberi kesempatan bertanya 107
124 mengenai materi yang belum dipahami, namun siswa menyatakan sudah paham mengenai materi pada hari itu. Pembelajaran selesai kemudian dilanjutkan pembelajaran selanjutnya. b) Pengamatan siswa siklus II (1) Pengamatan siswa pertemuan 1 Peneliti membuat tanda pengenal dalam bentuk name tag disertai perekat untuk menempelkannya pada baju siswa seperti pada pelaksanaan tindakan siklus I. Hal ini dilakukan agar dapat memudahkan peneliti untuk mangamati keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Untuk mempermudah mengamati keaktifan siswa, peneliti yang bertindak sebagai observer mengajak satu teman untuk menjadi observer pendamping. Peneliti mengamati siswa yang bernomor absen 1 sampai 7, observer lain bertugas mengamati siswa yang bernomor absen 8 sampai 14. Berdasarkan hasil pengamatan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn yang dilakukan dapat diketahui bahwa pembelajaran PKn pada pertemuan 1 berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan terhadap indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran CPS. Hasil pengamatan pada indikator 1 yang berbunyi terlibat dalam kegiatan penyelesaian masalah dengan 108
125 mengemukakan pendapat dalam kelompok, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat mengemukakan pendapat dengan benar namun sesekali dibantu oleh guru. Kegiatan ini, hanya beberapa siswa saja yang mengalami kesulitan mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan pada LKS karena sebelumnya guru sudah menjelaskan petunjuk kegiatan dengan memberikan contoh pengerjaannya. Masih ada beberapa siswa yang belum bisa mengemukakan pendapat, namun setelah dibantu oleh guru, siswa mulai paham mengenai masalah dalam LKS. Ada juga siswa yang bergurau dengan siswa lain, namun setelah ditegur oleh guru, siswa kembali berdiskusi dalam kelompok. Hasil pengamatan pada indikator 2 yang berbunyi menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi kelompok, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menanggapi dan menghargai pendapat siswa lain dalam kegiatan diskusi kelompok dengan benar dan kritis namun sesekali dibantu oleh guru. Siswa menanggapi pendapat siswa lain jika pendapat tersebut dianggap kurang tepat. Siswa juga cukup menghargai pendapat siswa lain dengan tidak mengejek pendapat siswa lain jika pendapat tersebut kurang tepat. 109
126 Hasil pengamatan pada indikator 3 yang berbunyi berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok, menunjukkan bahwa siswa mampu berdiskusi membuat alternatif solusi dengan benar dan kritis namun sesekali dibantu oleh guru. Siswa meminta bantuan kepada guru ketika mengalami kesulitan. Siswa sudah mengetahui apa saja solusi yang akan dituliskan namun beberapa siswa masih merasa kurang yakin atas pemikirannya sehingga siswa bertanya kepada guru. Hasil pengamatan pada indikator 4 yang berbunyi mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi dari kelompok lain, menunjukkan bahwa siswa mampu mempresentasikan hasil diskusi dengan runtut dan jelas namun ada jawaban yang kurang tepat. Selain itu, beberapa siswa sudah mampu menanggapi hasil presentasi dari kelompok lain. Presentasi dari masing-masing kelompok dibacakan oleh perwakilan kelompok. (2) Pengamatan siswa pertemuan 2 Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pada pertemuan 2 ini peneliti juga mengajak satu teman untuk menjadi observer yang bertugas mengamati sebagian siswa. Seperti biasa, peneliti mengamati siswa yang bernomor absen 110
127 1 sampai 7, observer lain bertugas mengamati siswa yang bernomor absen 8 sampai 14. Perhatian siswa terhadap penjelasan guru sudah baik, terlihat siswa bersemangat dalam mendengarkan petunjuk kegiatan dari guru mengenai cara mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan dan solusi kreatif yang harus dituliskan. Sebagian besar siswa terlibat secara aktif terlihat dari kegiatan yang dilakukan seperti mengemukakan pendapat dalam diskusi kelompok, menghargai pendapat siswa lain, berdiskusi membuat solusi kreatif untuk menyelesaikan masalah yang disajikan, dan mempresentasikan hasil diskusi kemudian menanggapi presentasi kelompok lain. Data hasil observasi keaktifan siswa pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 siklus II menunjukkan bahwa skor akhir keaktifan siswa meningkat. Berdasarkan rata-rata siklus II, sudah memenuhi indikator keberhasilan. Indikator keberhasilan pada penelitian ini yaitu 75% siswa memperoleh skor akhir >2.66. Skor akhir tersebut termasuk dalam kriteria baik. Secara lebih rinci sebagian besar keaktifan siswa setiap indikatornya mengalami peningkatan dari pertemuan 1 dan pertemuan 2, hal ini terlihat pada tabel di bawah ini. 111
128 Tabel 9. Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Pembelajaran PKn Siklus II Skor Jumlah Skor Kriteria Indika- Indika- Indika- Skor Akhir *) No. Nama Siswa Indikator 4 tor 1 tor 2 tor 3 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 1. RA ,75 3,5 B SB B B 2. ICU ,75 3,75 B SB B B 3. YF ,25 3,25 C B BB B 4. ABB ,5 3,25 B B BB B 5. BR ,75 K SB BB B 6. BSN ,75 3,75 B SB B B 7. IAR ,75 3,5 B SB B B 8. IDP ,25 3,75 B SB B B 9. RDS ,75 3,5 B SB B B 10. RWD ,25 3,75 B SB B B 11. RFP ,75 K SB BB B 12. FCY ,75 B SB B B 13. YST ,5 3,25 B B BB B 14. FS ,75 B SB B B Jumlah ,5 50,25 Rata-rata 2,29 3,57 2,43 3,36 2,29 3,43 2,57 4 9,57 14,36 2,39 3,59 Tertinggi ,25 3,75 Terendah ,25 *) Siswa dalam kriteria Kurang (K), Cukup (C), Baik (B), dan Sangat Baik (SB). **) Siswa dikatakan berhasil mencapai indikator keberhasilan jika mendapat skor akhir >2,66 dengan keterangan Berhasil (B) dan Belum Berhasil (BB). Ket. **) Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor akhir keaktifan siswa pada setiap pertemuannya. Pertemuan 1 terdapat 2 siswa yang tidak masuk sekolah sehingga mendapatkan skor 0 di setiap indikator lembar observasi keaktifan siswa. Pertemuan 1 terdapat 2 siswa termasuk dalam kriteria kurang aktif, 1 siswa termasuk dalam kriteria cukup aktif, dan 11 siswa termasuk dalam kriteria keaktifan yang baik. Pertemuan 2 terdapat 3 siswa termasuk dalam kriteria keaktifan yang baik 112
129 dan 11 siswa termasuk dalam kriteria keaktifan yang sangat baik. Apabila dilihat dari perolehan skor akhir keaktifan siswa, 2 siswa yang tidak masuk pada pertemuan 1 memiliki keaktifan yang sangat baik. Hal tersebut terbukti pada pertemuan 2, BR dan RFP memperoleh skor akhir 3,75 dengan kriteria sangat baik. Dilihat dari kemampuan siswa mencapai indikator keberhasilan, pada pertemuan 1 terdapat 9 siswa yang memperoleh skor >2,66 dan dinyatakan berhasil mencapai indikator keberhasilan, sedangkan siswa yang belum berhasil sebanyak 5 siswa. Pertemuan 2 seluruh (14) siswa berhasil mencapai indikator keberhasilan. Berikut persentase siswa yang berhasil dan belum berhasil mencapai indikator keberhasilan pada siklus II. Tabel 10. Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan pada Siklus II Keterangan Frekuensi Persentase P1 P2 P1 P2 Siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan ,29% 100% Siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan ,71% 0% Berikut tabel perbandingan persentase siswa yang berhasil dan belum berhasil mencapai indikator keberhasilan dari pra tindakan sampai siklus II. 113
130 Tabel 11. Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan dari Pra Tindakan sampai Siklus II Pra Tindakan Siklus I Siklus II Keterangan Freku- Persen-Frekuenstase Persentase Frekuensi Persentase ensi P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 Siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan 0 0% 1 4 7,14% 28,57% ,29% 100% Siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan % ,86% 71,43% ,71% 0% Perbandingan persentase siswa yang berhasil dan belum berhasil mencapai indikator keberhasilan dari pra tindakan sampai siklus II juga ditunjukkan dalam diagram di bawah ini. P e r s e n t a s e 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan dari Pra Tindakan sampai Siklus II 0% 100% Pra Tindakan 92,86% 7,14% Siklus I Pertemuan 1 71,43% 28,57% Siklus I Pertemuan 2 64,29% 35,71% Siklus II Pertemuan 1 100% 0% Siklus II Pertemuan 2 Berhasil Belum Berhasil Gambar 18. Diagram Perbandingan Persentase Siswa yang Berhasil dan Belum Berhasil Mencapai Indikator Keberhasilan dari Pra Tindakan sampai Siklus II 114
131 Diagram di atas menunjukkan persentase siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan mengalami peningkatan dan persentase siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan mengalami penurunan dari pra tindakan sampai siklus II. Persentase siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan pada pra tindakan sebesar 0% meningkat menjadi 7,14% pada siklus I pertemuan 1 kemudian meningkat lagi menjadi 28,57% pada siklus I pertemuan 2. Persentase siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan pada siklus II pertemuan 1 kembali meningkat menjasi 64,29% kemudian meningkat lagi menjadi 100% pada siklus II pertemuan 2. Persentase siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan pada pra tindakan sebesar 100% menurun menjadi 92,86% pada siklus I pertemuan 1 kemudian menurun lagi menjadi 71,43% pada siklus I pertemuan 2. Persentase siswa yang belum berhasil mencapai indikator keberhasilan pada siklus II pertemuan 1 kembali menurun menjasi 35,71% kemudian menurun lagi menjadi 0% pada siklus II pertemuan 2. 4) Refleksi Siklus II Secara umum dalam pelaksanaan siklus II tidak ditemukan kendala yang serius, karena pelaksanaan siklus II merupakan perbaikan dari siklus I. Perbaikan yang diterapkan pada siklus II 115
132 antara lain guru bersikap tegas dengan memberi teguran dan nasehat terhadap siswa yang bergurau, mengobrol, dan mengganggu siswa lain saat proses pembelajaran berlangsung. Guru menasehati siswa agar mau berkelompok dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan dan tidak mengejek siswa yang berkelompok dengan lawan jenis. Guru menjelaskan dengan jelas dan rinci mengenai petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, sehingga seluruh siswa mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan oleh guru. Guru lebih aktif membimbing siswa dalam diskusi dan membantu kesulitan siswa sehingga tidak ada lagi siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah. Guru menegur dan memberi nasehat bagi kelompok yang tidak memperhatikan dan ikut menanggapi dalam kegiatan presentasi hasil diskusi. Menurut indikator keberhasilan yang sudah ditentukan oleh peneliti, penelitian ini dikatakan berhasil jika sekurang-kurangnya >75% siswa memperoleh skor akhir >2,66. Skor akhir tersebut termasuk dalam kriteria baik. Hasil penelitian siklus II menunjukkan bahwa pada pertemuan 1 terdapat 9 (64,29%) siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian dan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 14 (100%) siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian. Peningkatan keaktifan siswa pada setiap siklusnya sesuai dengan pendapat dari Sujarwo (2011: ) yaitu pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran CPS 116
133 menempatkan siswa aktif dalam pembelajaran karena guru lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar. Siswa diberikan kesempatan untuk belajar mandiri dan mengeksplorasi kemampuannya dalam pembelajaran. Berpikir kreatif merupakan suatu kegiatan mental untuk mendapatkan dan menemukan suatu jawaban, gagasan, penyelesaian masalah, dan pernyataan serta mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Melalui berpikir kreatif, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, namun siswa juga berusaha mencari dan memberikan informasi dalam proses pembelajaran. Siswa yang kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, berpetualang, memiliki banyak ide, mampu mengelaborasi beberapa pendapat, suka bermain, dan intuitif. Memecahkan masalah secara kreatif merupakan proses menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan kreatif yang menurut Guilford (Sujarwo, 2011: 172) tercermin dalam lima perilaku antara lain 1) fluency yaitu kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, 2) fleksibility yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang berbeda-beda dalam mengatasi masalah, 3) originality yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang jarang atau langka dan berbeda dengan jawaban siswa lain pada umumnya, 4) elaboration yaitu siswa mampu menyatakan gagasan secara terperinci. Siswa yang kreatif tidak sekedar mengemukakan ide, 117
134 tetapi juga mengembangkan gagasan yang dikemukakan, dan 5) sensitivity yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi. Teori-teori di atas sudah diterapkan dalam penelitian tindakan siklus II dan terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa pada setiap pertemuannya. Oleh sebab itu, penelitian tindakan siklus II dinyatakan berhasil sehingga tidak perlu dilakukan penelitian tindakan lanjutan. C. Pembahasan Hasil Penelitian Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) secara keseluruhan terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa. Siswa merasa tertarik dan senang mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan menggunakan model pembelajaran CPS. Menggunakan model pembelajaran CPS siswa tidak merasa bosan selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena kegiatan pembelajaran terasa menyenangkan. Materi yang disampaikan melalui model pembelajaran CPS menjadi lebih mudah dipahami dan mudah diingat. Nilai tambah dari guru bagi siswa yang berpartisipasi semakin menambah keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab, dan mengemukakan pendapat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Waluyo Adi (2000: 17-18) mengenai penerapan prinsip keaktifan siswa oleh guru dalam kegiatan pembelajaran antara lain. a. Menggunakan metode dan media yang bermacam-macam dalam 118
135 pembelajaran pada siswa secara individu maupun kelompok. b. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dalam kelompok dan bertanya jawab. c. Memberikan tugas pada siswa untuk mempelajari materi dan hal-hal yang belum dipahami. d. Memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan percobaan dan penyelesaian masalah secara berkelompok. Guru dalam penelitian ini berusaha menerapkan prinsip keaktifan tersebut dengan menggunakan model pembelajaran CPS, sehingga terbukti jika keaktifan siswa mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan kondisi awal dan mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil pengamatan secara keseluruhan pada setiap siklus, terlihat jika selama penelitian berlangsung siswa di kelas IV SD Negeri Jeruksari dalam pembelajaran PKn semakin aktif untuk turut serta dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru yang dapat dilihat dari hasil diskusi. Selain itu melalui kegiatan diskusi siswa dilatih untuk terlibat dalam pemecahan masalah dan mencari informasi yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah. Kegiatan tanya jawab dan presentasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kepada guru atau siswa lain. Berdasarkan penjelasan di atas, di sinilah peranan model pembelajaran CPS yaitu melibatkan siswa secara aktif dan berpikir kreatif dalam pembelajaran dengan menyelesaikan masalah. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran PKn sangat penting karena dalam PKn banyak materi- 119
136 materi mengenai pemecahan masalah yang terkait dengan kehidupan seharihari seperti musyawarah, demokrasi, penerapan sikap kejujuran, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Memecahkan masalah secara kreatif merupakan proses menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan kreatif yang menurut Guilford (Sujarwo, 2011: 172) tercermin dalam lima perilaku antara lain 1) fluency yaitu kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, 2) fleksibility yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang berbeda-beda dalam mengatasi masalah, 3) originality yaitu siswa mampu memberikan jawaban yang jarang atau langka dan berbeda dengan jawaban siswa lain pada umumnya, 4) elaboration yaitu siswa mampu menyatakan gagasan secara terperinci. Siswa yang kreatif tidak sekedar mengemukakan ide, tetapi juga mengembangkan gagasan yang dikemukakan, dan 5) sensitivity yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi. Siswa sebagai subjek didik yang merencanakan dan melaksanakan belajar. Proses pembelajaran kreatif, guru dapat mendorong keluarnya pendapat siswa dan kreativitas siswa sehingga siswa dapat mengemukakan alternatif pemecahan masalah yang beragam. Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut akan membuat siswa berantusias dan membuat pembelajaran PKn lebih bermakna sehingga pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Hasil penelitian melalui pengamatan secara lebih rinci akan dijelaskan pada setiap pertemuan dalam setiap siklus. Siklus I siswa masih sulit dikondisikan untuk berkelompok dengan anggota kelompok yang telah 120
137 ditentukan oleh guru sesuai dengan tingkat prestasi, dimana dalam satu kelompok terdapat siswa yang pandai, sedang, dan kurang pandai. Beberapa siswa masih ada yang protes karena siswa cenderung masih membedabedakan teman dan lawan jenis. Beberapa siswa bahkan saling mengejek sehingga suasana kelas menjadi ramai. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengkondisikan siswa karena guru kurang tegas terhadap siswa yang membuat keributan. Guru kurang maksimal dalam menjelaskan petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa masih terlihat kebingungan maksud dari mengidentifikasi penyebab masalah yang disajikan guru. Siswa diminta untuk mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan guru, namun sebagian besar siswa masih terlihat kebingungan sehingga siswa menuliskan kembali masalah yang sebenarnya sudah tertulis dalam LKS. Selanjutnya, guru menyajikan masalah yang harus diselesaikan oleh siswa dengan membagikan LKS. Beberapa siswa diminta bergantian membacakan masalah yang tersaji dalam LKS kemudian guru mempertegas masalah yang tersaji dalam LKS tersebut. Berdasarkan kegiatan di atas, beberapa kegiatan tidak sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sujarwo (2011: ) mengenai model pembelajaran CPS menempatkan siswa aktif dalam pembelajaran karena guru lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar. Menurut teori tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk belajar mandiri dan mengeksplorasi kemampuannya dalam pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator, menyediakan sumber belajar, petunjuk belajar, langkah- 121
138 langkah pembelajaran, dan media pembelajaran. Peran guru sebagai motivator, guru memotivasi siswa dengan memberi penguatan berupa umpan balik bagi siswa. Peran guru sebagai dinamisator, guru memberi rangsangan dalam mencari, mengumpulkan, dan menemukan informasi untuk pemecahan masalah. Siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memecahkan masalah yang sudah disajikan dalam pembelajaran. Ketidaksesuaian yang pertama adalah guru kurang tegas terhadap siswa yang membuat keributan ketika pembagian kelompok, sehingga siswa cenderung membeda-bedakan teman dan bahkan mengejek siswa yang berkelompok dengan lawan jenis. Guru hendaknya memberi teguran dan nasehat kepada siswa agar mau berkelompok dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan dan tidak mengejek siswa yang berkelompok dengan lawan jenis. Peran guru sebagai motivator sangat dibutuhkan dalam kegiatan ini, selain memotivasi siswa dengan memberi penguatan dengan umpan balik, guru juga berperan sebagai motivator bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Ketidaksesuaian yang kedua adalah guru kurang maksimal dalam menjelaskan petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa masih terlihat kebingungan maksud dari mengidentifikasi penyebab masalah yang disajikan guru. Siswa diminta untuk mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan guru, namun sebagian besar siswa masih terlihat kebingungan sehingga siswa menuliskan kembali masalah yang sebenarnya sudah tertulis dalam LKS. Guru hendaknya menjelaskan secara jelas dan rinci 122
139 mengenai petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, sehingga siswa tidak kebingungan dan mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang tersaji dalam LKS. Tindakan guru hendaknya mencerminkan peran guru sebagai fasilitator yaitu menjelaskan petunjuk belajar untuk siswa agar tidak membuat siswa kebingungan dalam belajar. Kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran CPS pada siklus I selanjutnya adalah siswa berdiskusi mengidentifikasi penyebab dari masalah dalam LKS dengan melakukan tukar pendapat antar siswa dan kemudian menyelesaikan masalah dengan solusi kreatif dari masalah tersebut. Hanya ada beberapa siswa yang aktif berpendapat dan beberapa siswa lain cenderung diam dan hanya memperhatikan siswa yang sedang berpendapat tanpa merespon. Beberapa siswa menganggap pendapatnya paling benar dan tidak menghargai pendapat siswa lain sehingga terjadi saling ejek antar siswa yang menimbulkan kegaduhan. Siswa masih pasif menanggapi presentasi dari kelompok lain. Bahkan ada siswa yang mengobrol dengan teman sekelompoknya ketika presentasi kelompok lain berlangsung. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I, penggunaan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari dapat meningkatkan keaktifan siswa. Hal itu terbukti bahwa data hasil pengamatan keaktifan siswa pada pra tindakan sampai dengan siklus I sudah mengalami peningkatan. Seluruh siswa belum berhasil memperoleh skor akhir keaktifan siswa >2,66 pada pra tindakan sehingga belum berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian. Jumlah siswa yang berhasil 123
140 mencapai indikator keberhasilan penelitian pada siklus I pertemuan 1mengalami peningkatan namun hanya ada 1 (7,14%) siswa. Jumlah siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian pada siklus I pertemuan 2 kembali mengalami peningkatan menjadi 4 (28,57%) siswa. Meskipun penelitian tindakan siklus I ini meningkat, namun belum berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu >75% siswa memperoleh skor akhir >2,66 sehingga perlu dilanjutkan penelitian tindakan siklus II. Meskipun penelitian tindakan siklus I ini meningkat, namun belum berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nana Sudjana (2010: 94) mengenai kekurangan model pembelajaran CPS yang salah satunya adalah jika kegiatan belajar tidak terkontrol oleh guru, maka kegiatan belajar bisa membawa resiko yang dapat merugikan siswa, misalnya kegiatan belajar tidak optimal karena sikap acuh tak acuh siswa. Kegiatan pembelajaran pada siklus I yang menyebabkan belum berhasilnya mencapai indikator keberhasilan salah satunya diakibatkan oleh sikap acuh tak acuh siswa yang masih terlihat jelas. Siswa masih ada yang hanya diam tidak ikut berpendapat dalam kelompok ketika diskusi pemecahan masalah. Ada juga siswa yang tidak menghargai pendapat siswa lain dan menganggap pendapat dirinya paling benar sehingga menimbulkan kegaduhan. Siswa mengobrol bersama teman sekelompoknya ketika sedang melakukan presentasi. Hal tersebut mencerminkan sikap kurang menghargai antar siswa. Peran guru sangat diperlukan dalam hal ini yaitu guru sebagai motivator yang memotivasi siswa untuk tidak memaksakan 124
141 pendapat dan selalu menghargai pendapat siswa lain sehingga kegiatan diskusi dapat berjalan dengan baik. Pada siklus II, siswa mudah dikondisikan untuk berkelompok dengan anggota kelompok yang telah ditentukan oleh guru sesuai dengan tingkat prestasi. Kemudian guru menjelaskan dengan jelas dan rinci petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa sehingga tidak ada lagi siswa yang terlihat kebingungan maksud dari mengidentifikasi penyebab masalah yang disajikan guru. Guru menyajikan masalah yang harus diselesaikan oleh siswa dengan membagikan LKS. Beberapa siswa diminta bergantian membacakan masalah yang tersaji dalam LKS kemudian guru mempertegas masalah yang tersaji dalam LKS tersebut. Kegiatan di atas sesuai dengan proses CPS berdasarkan kriteria OFPISA menurut Osborn-Parnes (Miftahul Huda, 2013: ) yaitu objective finding maksudnya adalah siswa dibagi dalam kelompok dan disajikan masalah dari guru kemudian berpendapat mengenai tujuan dan sasaran yang digunakan untuk kerja kreatif siswa. Tahap pertama dalam model pembelajaran CPS diawali dengan pembentukan kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa dengan tingkat kemampuan siswa yang heterogen terdiri dari siswa yang pandai, sedang, dan kurang pandai. Kemudian guru menjelaskan prosedur pembelajaran yang berisi petunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa yaitu mengidentifikasi penyebab masalah yang disajikan guru kemudian siswa berdiskusi untuk membuat solusi kreatif menyelesaikan masalah tersebut. Kemudian, guru menyajikan masalah yang harus diselesaikan oleh siswa dengan membagikan LKS. 125
142 Siswa dapat mengemukakan pendapat dengan benar pada siklus II. Siswa sudah paham mengidentifikasi penyebab dari masalah yang disajikan pada LKS karena sebelumnya guru sudah menjelaskan petunjuk kegiatan dengan memberikan contoh pengerjaannya. Ada juga siswa yang bergurau dengan siswa lain, namun setelah ditegur oleh guru, siswa kembali berdiskusi dalam kelompok. Siswa dapat menanggapi dan menghargai pendapat siswa lain dalam kegiatan diskusi kelompok dengan benar dan kritis. Siswa menghargai pendapat siswa lain dengan tidak mengejek pendapat siswa lain jika pendapat tersebut kurang tepat. Siswa mampu berdiskusi membuat alternatif solusi dengan benar dan kritis. Siswa mampu mempresentasikan hasil diskusi dengan runtut dan jelas. Selain itu, siswa sudah mampu menanggapi hasil presentasi dari kelompok lain. Kegiatan yang dilakukan siswa tersebut menjadikan setiap siswa berpikir secara aktif dan kreatif serta terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah. Nana Sudjana (2009: 61) berpendapat bahwa keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal ikut serta dalam melaksanakan tugas belajar, terlibat dalam kegiatan penyelesaian masalah, bertanya kepada guru atau siswa lain apabila tidak memahami masalah yang dihadapinya, berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, melakukan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, melakukan penilaian terhadap kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperoleh, melatih diri dalam menyelesaikan masalah, dan menerapkan apa yang telah diperoleh untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. 126
143 Kegiatan-kegiatan yang ada di dalam model pembelajaran CPS tersebut dapat memunculkan keaktifan siswa karena secara ringkas langkah-langkah pada model pembelajaran CPS terdapat kegiatan yang melibatkan siswa berfikir kreatif untuk terlibat dalam kegiatan penyelesaian masalah dengan berpendapat, menghargai pendapat siswa lain, berdiskusi membuat alternatif solusi penyelesaian masalah, mempresentasikan hasil diskusi, dan menanggapi presentasi kelompok lain sehingga menumbuhkan interaksi antara siswa dengan siswa ataupun siswa dengan guru. Berdasarkan kegiatan yang dilakukan pada siklus II, penggunaan model pembelajaran CPS dalam pembelajaran PKn di kelas IV SD Negeri Jeruksari dapat meningkatkan keaktifan siswa. Hal itu terbukti bahwa data hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus II sudah mengalami peningkatan. Jumlah siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian pada siklus II pertemuan 1 sebanyak 9 (64,29%) siswa. Jumlah siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian pada siklus II pertemuan 2 kembali mengalami peningkatan menjadi 14 (100%) siswa. Hasil pengamatan keaktifan siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu >75% siswa memperoleh skor akhir >2,66 sehingga penelitian tindakan siklus II dinyatakan berhasil dan tidak perlu dilakukan penelitian tindakan lanjutan. Dari peningkatan keaktifan yang dipaparkan ini sejalan dengan pendapat dari Sujarwo (2011: ) yang menjelaskan bahwa model pembelajaran CPS menempatkan siswa aktif dalam pembelajaran karena guru lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar. 127
144 Siswa diberi kesempatan untuk belajar mandiri dan mengeksplorasi kemampuannya dalam pembelajaran. Pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa bertujuan menjadikan siswa lebih mudah memahami materi. Perbaikan yang dilakukan guru selama tindakan dapat terlihat dari meningkatnya keaktifan siswa pada setiap siklusnya. Peningkatan keaktifan siswa dikarenakan penerapan model pembelajaran CPS sangat tepat dan dapat membuat suasana pembelajaran semakin menyenangkan dan lebih memotivasi siswa dalam setiap langkah-langkah pembelajarannya serta membuat semangat belajar siswa semakin meningkat. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran CPS pada pembelajaran PKn memberikan kebebasan bagi siswa untuk berpikir sesuai dengan pikiran dan pengetahuan siswa, sehingga siswa merasa nyaman karena siswa tidak perlu menghafal tetapi siswa memahami dan mengingat apa yang siswa alami dalam kehidupan sehari-hari dan selama mengikuti pembelajaran. 128
145 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di kelas IV SD Negeri Jeruksari yaitu pertama siswa dikondisikan untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa, kemudian guru menjelaskan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa, lalu guru menyajikan situasi problematik yang terkemas dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada siswa, setelah itu siswa melakukan diskusi, dan terakhir siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok penyelesaian masalah serta menanggapi presentasi dari kelompok lain. 2. Penerapan model pembelajaran CPS dapat melibatkan siswa secara aktif dan berpikir kreatif dalam pembelajaran dengan menyelesaikan masalah. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran PKn sangat penting karena dalam PKn banyak materi-materi mengenai pemecahan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Memecahkan masalah secara kreatif merupakan proses menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan kreatif yang tercermin dalam lima perilaku antara lain fluency, fleksibility, originality, elaboration, dan sensitivity. 129
146 3. Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran CPS dapat membuat siswa terlibat secara aktif dalam belajar hal ini terbukti dari data hasil pengamatan keaktifan siswa pada pra tindakan sampai dengan siklus II. Seluruh siswa belum berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian. Jumlah siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian pada siklus I pertemuan 1 mengalami peningkatan namun hanya ada 1 (7,14%) siswa dan pada siklus I pertemuan 2 kembali mengalami peningkatan menjadi 4 (28,57%) siswa. Hasil pengamatan keaktifan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu >75% siswa memperoleh skor akhir >2,66 sehingga perlu dilanjutkan penelitian tindakan siklus II. Jumlah siswa yang berhasil mencapai indikator keberhasilan penelitian pada siklus II pertemuan 1 sebanyak 9 (64,29%) siswa dan pada siklus II pertemuan 2 kembali mengalami peningkatan menjadi 14 (100%) siswa. Hasil pengamatan keaktifan siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu >75% siswa memperoleh skor akhir >2,66 sehingga penelitian tindakan siklus II dinyatakan berhasil dan tidak perlu dilakukan penelitian tindakan lanjutan. B. Saran Berdasarkan pada kesimpulan di atas, dapat dikemukakan saran bagi guru adalah sebagai berikut. 1. Guru dapat melanjutkan penggunaan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dalam pembelajaran PKn pada tingkat Sekolah 130
147 Dasar (SD) untuk meningkatkan keaktifan siswa dengan materi yang berbeda dan sesuai dengan model pembelajaran tersebut. 2. Guru diharapkan selalu aktif, kreatif, dan inovatif untuk mengemas pembelajaran dengan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran PKn salah satunya dengan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas IV di SD Negeri Jeruksari. 131
148 DAFTAR PUSTAKA Abdul Majid. (2014). Penilaian Autentik Proses dan Hasil Belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Aris Pito. (2013). Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pengendali Magnetik Siswa Kelas XI Program Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3 Yogyakarta Melalui Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving. Skripsi tidak diterbitkan. UNY. Arnie Fajar. (2005). Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya. Azyumardi Azra. (2003). Pendidikan Kewargaan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah. Depdiknas. (2006). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Heruman. (2008). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya. H.E. Mulyasa. (2013). Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Kemendikbud. (2013). Permendikbud Nomor 81A tentang Implementasi Kurikulum. Diambil dari pada tanggal 18 Januari Masnur Muslich. (2011). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. Miftahul Huda. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nana Sudjana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.. (2010). Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Pretty Yudharina. (2015). Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Mejing 2 Melalui Model 132
149 Pembelajaran Creative Problem Solving Tahun Ajaran 2014/2015. Skripsi tidak diterbitkan. UNY. Sardiman A.M. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sriyono. (1992). Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. Suharsimi Arikunto. (2011). Penelitian Tindakan Yogyakarta: Aditya Media. Sujarwo. (2011). Model-Model Pembelajaran Suatu Strategi Mengajar. Yogyakarta: Venus Gold Press. Suyono dan Hariyanto. (2011). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Syaiful Sagala. (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara. Udin S. Winataputra. (2001). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: PAU- PPAI, Universitas Terbuka. Waluyo Adi. (2000). Buku Pegangan Kuliah Perencanaan Pembelajaran. Yogyakarta: UNY. Wina Sanjaya. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana.. (2012). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Wuri Wuryandani dan Fathurrohman. (2012). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Ombak. W. Gulo. (2004). Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Grasindo. 133
150 134
151 Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) SIKLUS I PERTEMUAN 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P ) Nama Sekolah : SD Negeri Jeruksari Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/Semester : IV / 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, Tanggal : Selasa, 9 Februari 2016 A. Standar Kompetensi 3. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat. B. Kompetensi Dasar 3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat, seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK, dan lain-lain. C. Indikator 3. Menjelaskan pengertian lembaga eksekutif. 4. Menjelaskan tugas dan fungsi lembaga eksekutif. D. Tujuan Pembelajaran 3. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menjelaskan pengertian lembaga eksekutif dengan benar. 4. Setelah mendengarkan penjelasan guru dan diskusi dalam kelompok, siswa dapat menjelaskan tugas dan fungsi lembaga eksekutif dengan benar. Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya, Rasa hormat dan perhatian, Tekun, Tanggung jawab, Berani, Peduli, Jujur, dan Kreatif E. Materi Ajar Lembaga eksekutif F. Model dan Metode Pembelajaran Model : Creative Problem Solving Metode : Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, dan Penugasan G. Langkah-langkah Kegiatan Kegiatan Pendahuluan Langkah-langkah 1. Guru memberi salam dan mengajak siswa berdoa. 2. Guru mempresensi kehadiran siswa. 3. Guru memberikan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait materi pertemuan sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi Alokasi Waktu 5 menit 135
152 Inti Penutup yang akan dipelajari. 4. Siswa mendengarkan penjelasan guru secara singkat mengenai lembaga eksekutif. 5. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai lembaga eksekutif. 6. Siswa dibagi dalam kelompok secara heterogen sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. 7. Siswa mendengarkan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa. 8. Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada siswa. 9. Siswa diminta berdiskusi untuk memecahkan masalah yang disajikan oleh guru dengan mencari informasi melalui buku maupun melalui pengalaman dan pengetahuan siswa. 10. Guru memantau kegiatan siswa dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berdiskusi. 11. Siswa menuliskan solusi dari pemecahan masalah dengan menuliskan pada lembar yang sudah disediakan guru. 12. Siswa bersama guru membahas hasil solusi kreatif dari setiap kelompok. 13. Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. 14. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari pada hari itu. 15. Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa. 16. Guru memberikan motivasi belajar kepada seluruh siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diberikan dan lebih giat belajar. 17. Menutup pembelajaran dengan doa dan salam. 50 menit 15 menit H. Sumber Belajar - Arsyad Umar, dkk Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga. - Buku Lintas Exclusive Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD/MI Kelas 4. I. Penilaian 1. Penilaian Proses Pada saat siswa belajar di kelas dan bekerja dalam kelompok tentang pembahasan pemecahan suatu masalah, maka pada saat itu dilakukan penilaian proses melalui observasi. Penilaian proses dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa ketika melakukan diskusi pemecahan 136
153 masalah dengan indikator keaktifan yang sudah ditetapkan (lembar observasi keaktifan siswa terlampir). 2. Penilaian Penugasan Kelompok (Lembar Kerja Siswa) Penugasan kelompok berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) mengenai diskusi pemecahan masalah yang disajikan oleh guru. Penilaian dari LKS, sebagai berikut. No. Kriteria Skor 1. Solusi dari penyebab yang dituliskan semua benar 4 2. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian besar benar 3 3. Solusi dari penyebab yang dituliskan beberapa benar 2 4. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian kecil benar 1 5. Tidak memberikan solusi 0 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen LKS dan Kunci Jawaban: Penyebab Timbulnya Masalah Masalah 1. Rendahnya nilai kejujuran dari Widya. 2. Rendahnya nilai sportifitas dari Widya Hari ini hari pertama Ulis dan Tina masuk sekolah setelah liburan panjang. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Widya. Tak seperti biasanya Widya mengajak mereka berangkat ke sekolah bersama menggunakan mobilnya. Widya memberikan coklat kepada Ulis dan Tina sambil meminta mereka untuk memberikan suaranya ketika pemilihan ketua kelas nanti. Setibanya di sekolah, Widya membagikan coklat kepada temanteman yang lain dan meminta mereka memilihnya dalam pemilihan ketua kelas. Bel masuk pun berbunyi. Bu Purwanti selaku wali kelas 4 memutuskan untuk segera diadakan acara pemilihan ketua kelas. Tiga calon segera diputuskan. Mereka adalah Joko, Andi, dan Widya. Ketiga calon itu terlebih dahulu diminta untuk berbicara di depan kelas. Joko kembali mencalonkan diri menjadi ketua kelas setelah selama 3 tahun berturut-turut menjadi ketua kelas. sehingga menyogok teman-temannya menggunakan coklat dalam pemilihan ketua kelas. 3. Tidak bisa menerima kekalahan dengan bijaksana. 4. Rasa egois yang tinggi dalam diri Widya. 137 Cara Menyelesaikan Masalah 1. Sebagai guru, menegur Widya dan menasehati bahwa perbuatan yang sudah dilakukannya tidak baik. Memperoleh kemenangan dengan jalan tidak jujur itu tidak baik. 2. Memberikan pengertian, menjadi seorang pemimpin itu tidak sekedar menjadi orang yang memerintah, namun harus bisa membimbing dan menjaga kerukunan dalam kelas dengan baik. 3. Menanamkan rasa tanggung jawab dan kejujuran yang tinggi di setiap perbuatan yang dilakukan karena
154 Satu persatu siswa memberikan suara mereka. Hasilnya Joko mengumpulkan suara terbanyak, disusul oleh Andi. Terakhir Widya yang tidak mendapat satu suara pun. Widya tidak terima dengan kekalahannya. Widya pun protes dan marah-marah kepada temannya. Pikirnya, temantemannya akan memberikan suara untuknya. Menurut kalian, bagaimana perbuatan Widya? Seandainya kalian menjadi Bu Purwanti, apa yang kalian lakukan? Diskusikan bersama teman kelompokmu. Tuliskan penyebab dari masalah di atas dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan di atas! sesuatu yang dimulai dari diri sendiri akan berakhir dengan baik. 4. Sebagai Guru memberikan sanksi terhadap perilaku yang tidak baik agar dapat meminimalisasi pelanggaran aturan maupun perbuatan yang tidak baik, misalnya dengan memberi tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah. Catatan : Masalah yang tersaji dalam LKS menggambarkan proses pemilihan presiden dan wakil presiden kemudian dilantik oleh MPR. 3. Penilaian Akhir (Soal Evaluasi) Penugasan individu berupa tes pilihan ganda dan isian singkat yang dilakukan di akhir pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa secara individu mengenai materi yang sudah dipelajari pada hari itu. Penilaian akhir dari soal evaluasi, sebagai berikut. Jumlah soal = 15, bobot nilai untuk setiap soal adalah 1 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen Soal Evaluasi: A. Pilihan Ganda 1. Yang dimaksud dengan lembaga eksekutif adalah... a. lembaga negara yang membuat undang-undang b. lembaga negara yang menjalankan undang-undang c. lembaga negara yang mengawasi pelaksanaan undang-undang d. lembaga negara yang mengawasi pengelolaan keuangan negara 2. Yang duduk dalam lembaga eksekutif adalah... a. MPR dan DPR b. MPR dan Presiden c. Presiden dan Wakil Presiden d. DPR dan DPD 3. Kepala pemerintahan negara Republik Indonesia adalah seorang... a. Presiden 138
155 b. Gubernur c. Bupati d. Walikota 4. Salah satu tugas presiden sebagai lembaga eksekutif adalah... a. menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undangundang b. menyusun dan menetapkan APBN c. melakukan pengawasan pelaksanaan UUD 1945 d. mengubah dan menetapkan undang-undang dasar 5. Presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh... a. MPR b. DPR c. Mahkamah Agung d. rakyat 6. Nama presiden RI kedua setelah IR.Soekarno adalah... a. B.J. Habibie b. Soeharto c. Abdurrahman Wahid d. Megawati Soekarnoputri 7. Presiden dan wakil presiden dilantik oleh... a. MPR b. DPR c. Mahkamah Konstitusi d. Mahkamah Agung 8. Presiden Indonesia yang pernah menjabat selama 6 periode dengan 6 wakil presiden adalah... a. Ir. Soekarno b. Abdurrahman Wahid c. Megawati Soekarnoputri d. Soeharto 9. Masa jabatan presiden adalah... a. 4 x 5 tahun b. 3 x 5 tahun c. 2 x 5 tahun d. 1 x 5 tahun 10. Para menteri diangkat dan diberhentikan oleh... a. MPR b. DPR c. Presiden d. DPD B. Isian 11. Presiden Republik Indonesia saat ini adalah Wakil presiden Republik Indonesia saat ini adalah Nama kabinet yang dipimpin oleh presiden kita saat ini adalah Untuk menjalankan pemerintahan presiden dibantu oleh wakil presiden dan
156
157 SIKLUS I PERTEMUAN 2 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P ) Nama Sekolah : SD Negeri Jeruksari Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/Semester : IV / 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, Tanggal : Kamis, 11 Februari 2016 A. Standar Kompetensi 3. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat. B. Kompetensi Dasar 3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat, seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK, dan lain-lain. C. Indikator 5. Menjelaskan pengertian lembaga yudikatif. 6. Menjelaskan tugas dan fungsi lembaga yudikatif. D. Tujuan Pembelajaran 5. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menjelaskan pengertian lembaga yudikatif dengan benar. 6. Setelah mendengarkan penjelasan guru dan diskusi dalam kelompok, siswa dapat menjelaskan tugas dan fungsi lembaga yudikatif dengan benar. Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya, Rasa hormat dan perhatian, Tekun, Tanggung jawab, Berani, Peduli, Jujur, dan Kreatif E. Materi Ajar Lembaga yudikatif F. Model dan Metode Pembelajaran Model : Creative Problem Solving Metode : Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, dan Penugasan G. Langkah-langkah Kegiatan Kegiatan Pendahuluan Langkah-langkah 1. Guru memberi salam dan mengajak siswa berdoa. 2. Guru mempresensi kehadiran siswa. 3. Guru memberikan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait materi pertemuan sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi Alokasi Waktu 5 menit 141
158 Inti Penutup yang akan dipelajari. 4. Siswa mendengarkan penjelasan guru secara singkat mengenai lembaga yudikatif. 5. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai lembaga yudikatif. 6. Siswa dibagi dalam kelompok secara heterogen sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. 7. Siswa mendengarkan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa. 8. Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada siswa. 9. Siswa diminta berdiskusi untuk memecahkan masalah yang disajikan oleh guru dengan mencari informasi melalui buku maupun melalui pengalaman dan pengetahuan siswa. 10. Guru memantau kegiatan siswa dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berdiskusi. 11. Siswa menuliskan solusi dari pemecahan masalah dengan menuliskan pada lembar yang sudah disediakan guru. 12. Siswa bersama guru membahas hasil solusi kreatif dari setiap kelompok. 13. Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. 14. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari pada hari itu. 15. Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa. 16. Guru memberikan motivasi belajar kepada seluruh siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diberikan dan lebih giat belajar. 17. Menutup pembelajaran dengan doa dan salam. 50 menit 15 menit H. Sumber Belajar - Arsyad Umar, dkk Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga. - Buku Lintas Exclusive Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD/MI Kelas 4. I. Penilaian 1. Penilaian Proses Pada saat siswa belajar di kelas dan bekerja dalam kelompok tentang pembahasan pemecahan suatu masalah, maka pada saat itu dilakukan penilaian proses melalui observasi. Penilaian proses dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa ketika melakukan diskusi pemecahan 142
159 masalah dengan indikator keaktifan yang sudah ditetapkan (lembar observasi keaktifan siswa terlampir). 2. Penilaian Penugasan Kelompok (Lembar Kerja Siswa) Penugasan kelompok berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) mengenai diskusi pemecahan masalah yang disajikan oleh guru. Penilaian dari LKS, sebagai berikut. No. Kriteria Skor 1. Solusi dari penyebab yang dituliskan semua benar 4 2. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian besar benar 3 3. Solusi dari penyebab yang dituliskan beberapa benar 2 4. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian kecil benar 1 5. Tidak memberikan solusi 0 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen LKS dan Kunci Jawaban: Masalah Penyebab Cara Menyelesaikan Timbulnya Masalah Masalah 1. Rendahnya nilai 1. Sebagai guru, menegur kedisiplinan dalam Andi dan menasehati diri Andi bahwa perbuatan yang 2. Sikap acuh terhadap sudah dilakukannya pelanggaran aturan yang dilakukan oleh Andi. 3. Motivasi belajar Andi rendah bahkan tidak ada. Andi adalah salah satu siswa SD Negeri Suka Maju. Saat ini Andi duduk di kelas 4. Di kelasnya Andi termasuk anak yang kurang pintar. Dia sering datang terlambat ke sekolah. Alasan ia datang terlambat karena ia menonton televisi sampai larut malam, sehingga ia bangun kesiangan. Andi juga sering tidak mengerjakan PR dengan alasan lupa. Guru sudah menegur Andi dengan memberi peringatan bahwa Andi tidak akan naik kelas jika tidak bisa merubah kebiasaan buruknya. Secara langsung Andi sudah melanggar peraturan di sekolah tersebut dengan selalu datang terlambat 143 tidak baik. Kebiasaan buruk yang dilakukan secara terus menerus akan merugikan diri sendiri. Dapat dilakukan bimbingan konseling. 2. Kerja sama yang baik antara pihak sekolah dengan orangtua Andi untuk mengubah perilaku buruknya, dengan mengontrol aktivitas Andi di rumah, membatasi menonton televisi sampai larut malam, dan memberlakukan jam belajar di rumah. 3. Menanamkan sikap kedisiplinan sejak dini oleh orangtua dengan memberikan pengertian
160 ke sekolah. Seandainya kalian menjadi Guru atau Kepala Sekolah di SD Suka Maju, apa yang kalian lakukan? Diskusikan bersama teman kelompokmu. Tuliskan penyebab dari masalah di atas dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan di atas! dan nasehat serta contoh dari orangtua itu sendiri. 4. Guru dan orangtua memotivasi Andi untuk rajin belajar demi masa depan yang baik. 5. Pemberikan sanksi sesuai dengan aturan sekolah yang berlaku untuk mendapatkan efek jera. Catatan : Masalah yang tersaji dalam LKS menggambarkan tugas lembaga yudikatif yaitu lembaga yang menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan keadilan. 3. Penilaian Akhir (Soal Evaluasi) Penugasan individu berupa tes pilihan ganda dan isian singkat yang dilakukan di akhir pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa secara individu mengenai materi yang sudah dipelajari pada hari itu. Penilaian akhir dari soal evaluasi, sebagai berikut. Jumlah soal = 15, bobot nilai untuk setiap soal adalah 1 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen Soal Evaluasi: A. Pilihan Ganda 1. Tugas dari lembaga yudikatif adalah... a. membuat undang-undang b. menjalankan undang-undang c. mengawasi pelaksanaan undang-undang d. mengawasi pengelolaan keuangan negara 2. Di bawah ini merupakan lembaga yudikatif di Indonesia, kecuali... a. Mahkamah Konstitusi b. Komisi Yudisial c. Mahkamah Militer d. Mahkamah Agung 3. Lembaga peradilan tertinggi di Indonesia adalah... a. Komisi Yudisial b. Mahkamah Agung c. Pengadilan Tinggi d. Mahkamah Konstitusi 4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilu merupakan tugas dari... a. Peradilan Negeri b. Mahkamah Agung c. Komisi Yudisial 144
161 d. Mahkamah Konstitusi 5. Mahkamah Konstitusi mempunyai... hakim konstitusi. a. satu b. tujuh c. sembilan d. delapan 6. Anggota Komisi Yudisial harus memiliki pengetahuan pengetahuan dan pengalaman di bidang... a. hukum b. pendidikan c. militer d. sosial 7. Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan... a. MPR b. MA c. DPD d. DPR 8. Lembaga yang melaksanakan kekuasaan kehakiman di negara kita adalah... a. Mahkamah Konstitusi b. Mahkamah Agung c. Mahkamah Yudisial d. Mahkamah Militer 9. Salah satu tugas Mahkamah Konstitusi adalah... a. melaksanakan keputusan pengadilan b. mendorong masyarakat menghormati undang-undang c. mendorong masyarakat melaksanakan undang-undang d. mengayomi masyarakat agar tidak melanggar hukum 10. Fungsi Mahkamah Agung adalah... a. menegakkan hukum dan keadilan melalui keputusan hukumnya b. menguji undang-undang terhadap UUD 1945 c. mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR d. memutuskan pembubaran partai politik B. Isian 11. Lembaga yudikatif di negara kita meliputi Anggota Mahkamah Konstitusi berjumlah... orang. 13. KY singkatan dari Anggota Mahkamah Konstitusi ditetapkan oleh Anggota Komisi Yudisial diangkat atas persetujuan... Kunci Jawaban Soal Evaluasi: 1. C 2. C 3. B 4. D 145
162
163 SIKLUS II PERTEMUAN 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P ) Nama Sekolah : SD Negeri Jeruksari Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/Semester : IV / 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, Tanggal : Senin, 15 Februari 2016 A. Standar Kompetensi 3. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat. B. Kompetensi Dasar 3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat, seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK, dan lain-lain. C. Indikator 7. Menjelaskan pengertian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 8. Menjelaskan tugas dan fungsi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). D. Tujuan 7. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menjelaskan pengertian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan benar. 8. Setelah mendengarkan penjelasan guru dan diskusi dalam kelompok, siswa dapat menjelaskan tugas dan fungsi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan benar. Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya, Rasa hormat dan perhatian, Tekun, Tanggung jawab, Berani, Peduli, Jujur, dan Kreatif E. Materi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) F. Model dan Metode Pembelajaran Model : Creative Problem Solving Metode : Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, dan Penugasan G. Langkah-langkah Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Langkah-langkah 1. Guru memberi salam dan mengajak siswa berdoa. 2. Guru mempresensi kehadiran siswa. 3. Guru memberikan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait materi pertemuan sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi Alokasi Waktu 5 menit 147
164 Inti Penutup yang akan dipelajari. 4. Siswa mendengarkan penjelasan guru secara singkat mengenai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 5. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 6. Siswa dibagi dalam kelompok secara heterogen sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. 7. Siswa mendengarkan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa. 8. Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada siswa. 9. Siswa diminta berdiskusi untuk memecahkan masalah yang disajikan oleh guru dengan mencari informasi melalui buku maupun melalui pengalaman dan pengetahuan siswa. 10. Guru memantau kegiatan siswa dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berdiskusi. 11. Siswa menuliskan solusi dari pemecahan masalah dengan menuliskan pada lembar yang sudah disediakan guru. 12. Siswa bersama guru membahas hasil solusi kreatif dari setiap kelompok. 13. Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. 14. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari pada hari itu. 15. Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa. 16. Guru memberikan motivasi belajar kepada seluruh siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diberikan dan lebih giat belajar. 17. Menutup pembelajaran dengan doa dan salam. 50 menit 15 menit H. Sumber Belajar - Arsyad Umar, dkk Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga. - Buku Lintas Exclusive Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD/MI Kelas 4. I. Penilaian 1. Penilaian Proses Pada saat siswa belajar di kelas dan bekerja dalam kelompok tentang pembahasan pemecahan suatu masalah, maka pada saat itu dilakukan penilaian proses melalui observasi. Penilaian proses dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa ketika melakukan diskusi pemecahan 148
165 masalah dengan indikator keaktifan yang sudah ditetapkan (lembar observasi keaktifan siswa terlampir). 2. Penilaian Penugasan Kelompok (Lembar Kerja Siswa) Penugasan kelompok berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) mengenai diskusi pemecahan masalah yang disajikan oleh guru. Penilaian dari LKS, sebagai berikut. No Kriteria Skor 1. Solusi dari penyebab yang dituliskan semua benar 4 2. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian besar benar 3 3. Solusi dari penyebab yang dituliskan beberapa benar 2 4. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian kecil benar 1 5. Tidak memberikan solusi 0 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen LKS dan Kunci Jawaban: Penyebab Timbulnya Cara Menyelesaikan Masalah Masalah Masalah Pak Johan adalah 1. Kurangnya 1. Kepala Sekolah bersama seorang bendahara pengawasan dari guru hendaknya rutin sekolah SD Bina Bangsa. melakukan pengecekan Sebagai bendahara sekolah, Pak Johan memegang semua uang sekolah. Pak Johan menggunakan uang sekolah untuk keperluan pribadi. Uang sekolah digunakan untuk membeli televisi baru. Dia juga membeli barang-barang lain dengan menggunakan uang sekolah. Menurut kalian, bagaimana perbuatan Pak Johan? Seandainya kalian menjadi Kepala Sekolah SD tersebut, apa yang kalian lakukan? Diskusikan bersama teman kelompokmu. Tuliskan penyebab dari masalah di atas dan bagaimana cara pihak lain seperti Kepala Sekolah. 2. Kurangnya rasa tanggung jawab dari Pak Johan, sehingga menyalahgunakan tanggung jawabnya. 3. Rendahnya nilai kejujuran dari Pak Johan. 4. Adanya kesempatan untuk menyalahgunakan tanggung jawab yang diberikan kepada Pak Johan. 149 (misalnya setiap sebulan sekali) terhadap uang keluar masuk dalam buku bendahara Pak Johan, sehingga akan lebih terkontrol dan mudah diketahui apabila ada dana yang disalahgunakan. 2. Menanamkan rasa tanggung jawab dan kejujuran yang tinggi di setiap perbuatan yang dilakukan karena sesuatu yang dimulai dari diri sendiri akan berakhir dengan baik. 3. Sebagai Kepala Sekolah memberikan sanksi tegas terhadap perilaku yang melanggar peraturan agar pelanggaran tidak terjadi lagi seperti pemberian denda.
166 menyelesaikan permasalahan di atas! Catatan : Masalah yang tersaji dalam LKS menggambarkan tugas Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yaitu memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. 4. Penilaian Akhir (Soal Evaluasi) Penugasan individu berupa tes pilihan ganda dan isian singkat yang dilakukan di akhir pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa secara individu mengenai materi yang sudah dipelajari pada hari itu. Penilaian akhir dari soal evaluasi, sebagai berikut. Jumlah soal = 10, bobot nilai untuk setiap soal adalah 1 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen Soal Evaluasi: A. Pilihan Ganda 1. Anggota BPK dipilih oleh... a. DPR b. Mahkamah Agung c. Presiden d. Dewan Perwakilan Daerah 2. Anggota BPK yang terpilih diresmikan oleh... a. Mahkamah Agung b. Presiden c. DPR d. Dewan Perwakilan Daerah 3. BPK adalah lembaga yang independen, maksudnya adalah... a. lembaga yang harus berlaku jujur b. lembaga yang terikat dengan lembaga lain c. lembaga yang tidak dipengaruhi oleh lembaga lain d. lembaga yang bekerja sama dengan lembaga lain 4. Hasil pemeriksaan keuangan negara yang telah dilakukan BPK diserahkan pada... a. MA, MK, KY b. MA, DPR, dan Presiden c. DPR, DPD, DPRD d. Presiden, DPR, MPR 5. Tugas dari BPK adalah... a. menetapkan peraturan pemerintah b. membentuk undang-undang c. mengawasi pelaksanaan undang-undang d. memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara B. Isian 6. Ketentuan hukum tentang BPK diatur dalam UUD 1945 pasal Lembaga BPK bersifat
167
168 SIKLUS II PERTEMUAN 2 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P ) Satuan Pendidikan : SD Negeri Jeruksari Mata pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas / Semester : IV/ 2 Alokasi waktu : 2 x 35 menit Hari, Tanggal : Kamis, 18 Februari 2016 A. Standar Kompetensi 3. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat. B. Kompetensi Dasar 3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat, seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK, dan lain-lain. C. Indikator 9. Menjelaskan pengertian Komisi Pemilihan Umum (KPU). 10. Menyebutkan sifat-sifat pemilu yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). 11. Menjelaskan tugas dan fungsi Komisi Pemilihan Umum (KPU). D. Tujuan 9. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menjelaskan pengertian Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan benar. 10. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menyebutkan sifatsifat pemilu yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan benar. 11. Setelah mendengarkan penjelasan guru dan diskusi dalam kelompok, siswa dapat menjelaskan tugas dan fungsi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan benar. Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya, Rasa hormat dan perhatian, Tekun, Tanggung jawab, Berani, Peduli, Jujur, dan Kreatif E. Materi Komisi Pemilihan Umum (KPU) F. Model dan Metode Pembelajaran Model : Creative Problem Solving Metode : Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, dan Penugasan 152
169 G. Langkah-langkah Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Inti Penutup Langkah-langkah 1. Guru memberi salam dan mengajak siswa berdoa. 2. Guru mempresensi kehadiran siswa. 3. Guru memberikan apersepsi dengan melakukan tanya jawab mengenai pemilihan ketua kelas. Ketua kelas dipilih oleh semua anggota kelas. Penyelenggaraan pemilihan ketua kelas biasanya dipimpin oleh seorang guru. Begitu juga dengan negara, negara membutuhkan pemimpin. Pemimpin negara dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum (pemilu). Pemilu diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). 4. Siswa mendengarkan penjelasan guru secara singkat mengenai Komisi Pemilihan Umum (KPU). 5. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai Komisi Pemilihan Umum (KPU). 6. Siswa dibagi dalam kelompok secara heterogen sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. 7. Siswa mendengarkan petunjuk kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa. 8. Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada siswa. 9. Siswa diminta berdiskusi untuk memecahkan masalah yang disajikan oleh guru dengan mencari informasi melalui buku maupun melalui pengalaman dan pengetahuan siswa. 10. Guru memantau kegiatan siswa dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berdiskusi. 11. Siswa menuliskan solusi dari pemecahan masalah dengan menuliskan pada lembar yang sudah disediakan guru. 12. Siswa bersama guru membahas hasil solusi kreatif dari setiap kelompok. 13. Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. 14. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari pada hari itu. 15. Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa. 16. Guru memberikan motivasi belajar kepada seluruh siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diberikan dan lebih giat belajar. 17. Menutup pembelajaran dengan doa dan salam. Alokasi Waktu 5 menit 50 menit 15 menit 153
170 H. Sumber Belajar - Arsyad Umar, dkk Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga. - Buku Lintas Exclusive Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD/MI Kelas 4. I. Penilaian 1. Penilaian Proses Pada saat siswa belajar di kelas dan bekerja dalam kelompok tentang pembahasan pemecahan suatu masalah, maka pada saat itu dilakukan penilaian proses melalui observasi. Penilaian proses dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa ketika melakukan diskusi pemecahan masalah dengan indikator keaktifan yang sudah ditetapkan (lembar observasi keaktifan siswa terlampir). 2. Penilaian Penugasan Kelompok (Lembar Kerja Siswa) Penugasan kelompok berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) mengenai diskusi pemecahan masalah yang disajikan oleh guru. Penilaian dari LKS, sebagai berikut. No Kriteria Skor 1. Solusi dari penyebab yang dituliskan semua benar 4 2. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian besar benar 3 3. Solusi dari penyebab yang dituliskan beberapa benar 2 4. Solusi dari penyebab yang dituliskan sebagian kecil benar 1 5. Tidak memberikan solusi 0 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen LKS dan Kunci Jawaban: Penyebab Masalah Timbulnya Masalah 1. Rendahnya nilai kejujuran dari Pak Muhiddin. 2. Rendahnya nilai sportifitas dari Pak Muhiddin sehingga Pak Muhiddin seorang yang kaya raya di Kampung Duku. Pak Muhiddin selalu pamer atas apa yang dimilikinya. Beliau selalu menyombongkan diri karena sudah menunaikan ibadah haji sebanyak 3 kali. Beliau orang yang dermawan, namun kedermawanan beliau selalu dipamerkan kepada orang lain. Suatu hari ada pemilihan ketua RT di daerah tempat tinggal Pak Muhiddin. Beliau mencalonkan diri karena beliau ingin dihormati menyogok warga menggunakan sembako gratis dalam pemilihan ketua RT. 3. Tidak bisa menerima kekalahan dengan lapaang dada. Cara Menyelesaikan Masalah 1. Sebagai Haji Somad, menegur Pak Muhiddin dan menasehati bahwa perbuatan yang sudah dilakukannya tidak baik. Memperoleh kemenangan dengan jalan tidak jujur itu tidak baik. 2. Menasehati Pak Muhiddin bahwa seorang muslim yang bertakwa akan 154
171 oleh orang di sekitarnya. Pak Muhiddin membagikan sembako gratis kepada warga di RT tersebut agar dia dipilih dalam pemilihan ketua RT. Pemilihan ketua RT dilakukan dengan pemungutan suara oleh warga di lingkungan RT tersebut. Tiga calon ketua RT diputuskan oleh Haji Somad selaku orang yang dituakan di RT tersebut sekaligus kakak dari Pak Muhiddin. Mereka adalah Pak Muhiddin, Pak Tono, dan Pak Mamat. Sebelum pemilihan ketua RT dimulai, ketiga calon itu terlebih dahulu diminta untuk berbicara di depan warga. Satu persatu warga memberikan suara mereka. Hasilnya Pak Mamat mengumpulkan suara terbanyak, disusul oleh Pak Tono. Terakhir Pak Muhiddin yang hanya mendapat 5 suara. Pak Muhiddin tidak terima dengan kekalahannya. Pak Muhiddin pun protes dan marah-marah kepada warga. Pikirnya, warga akan memberikan suara untuknya. Bukankah Pak Muhiddin sudah membagikan sembako gratis? Menurut kalian, bagaimana perbuatan Pak Muhiddin? Seandainya kalian menjadi Haji Somad, apa yang kalian lakukan? Diskusikan bersama teman kelompokmu. Tuliskan penyebab dari masalah di atas dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan di atas! 4. Rasa egois yang tinggi dalam diri Pak Muhiddin. 5. Sikap sombong dan pamer yang tinggi dalam diri Pak Muhiddin. 155 menjauhi perbuatan yang dibenci oleh Allah seperti sikap pamer, sombong, berbohong, dan egois. Sikap Pak Muhiddin selama ini sangat salah dan sangat dibenci oleh Allah. 3. Memberikan pengertian, menjadi seorang pemimpin itu tidak sekedar menjadi orang yang memerintah, namun harus bisa membimbing dan menjaga kerukunan antar warga dengan baik. 4. Menanamkan rasa tanggung jawab dan kejujuran yang tinggi di setiap perbuatan yang dilakukan karena sesuatu yang dimulai dari diri sendiri akan berakhir dengan baik. Catatan : Masalah yang tersaji dalam LKS menggambarkan tugas Komisi Pemilihan Umum yaitu menyelenggarakan pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
172 3. Penilaian Akhir (Soal Evaluasi) Penugasan individu berupa tes pilihan ganda dan isian singkat yang dilakukan di akhir pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa secara individu mengenai materi yang sudah dipelajari pada hari itu. Penilaian akhir dari soal evaluasi, sebagai berikut. Jumlah soal = 10, bobot nilai untuk setiap soal adalah 1 Nilai = x 100 Bentuk Instrumen Soal Evaluasi: A. Pilihan Ganda 1. Penyelenggaraan pemilu diselenggarakan oleh lembaga khusus, yaitu... a. MPR b. MK c. KPU d. BPK 2. Jumlah anggota KPU sebanyak-banyaknya... a. 12 orang b. 11 orang c. 10 orang d. 9 orang 3. Jumlah KPU provinsi sebanyak... a. 5 orang b. 6 orang c. 7 orang d. 8 orang 4. Di bawah ini merupakan sifat yang harus dimiliki oleh anggota KPU, kecuali... a. langsung b. jujur c. adil d. teliti 5. Di bawah ini merupakan tugas dan wewenang KPU, kecuali... a. merencanakan penyelenggaraan pemilu b. menetapkan peserta pemilu c. menetapkan hasil pemilu dan mengumumkan calon yang terpilih d. mengikuti kampanye peserta pemilu B. Isian 6. Lembaga yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri dalam menyelenggarakan pemilu adalah KPU menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilu kepada KPU menyelenggarakan pemilu yang bersifat Salah satu kewajiban KPU adalah Salah satu tugas KPU adalah
173
174 Lampiran 2. Lembar Observasi Keaktifan Siswa LEMBAR OBSERVASI KEAKTIFAN SISWA Siklus... Pertemuan... Nama Siswa : Nomor Urut : Kelas : Hari,Tanggal : Petunjuk : 1. Cermati indikator keaktifan siswa di bawah ini! 2. Berilah skor sesuai dengan ketentuan penskoran yang sudah tersedia. 3. Jumlahkan angka-angka tersebut ke bawah untuk mendapatkan jumlah skor. No. Indikator Ketentuan Penskoran Skor 1. Terlibat dalam kegiatan (4) Sangat Baik Mengemukakan pendapat dengan benar dan logis pemecahan masalah (3) Baik Mengemukakan pendapat dengan benar dan logis namun sesekali dibantu dengan mengemukakan oleh guru pendapat dalam (2) Cukup Mengemukakan pendapat dengan benar namun dibantu oleh guru kelompok (1) Kurang Tidak mengemukakan pendapat sama sekali 2. Menanggapi dan (4) Sangat Baik Menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi menghargai pendapat kelompok dengan benar dan kritis teman dalam kegiatan (3) Baik Menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi diskusi kelompok kelompok dengan benar dan kritis namun sesekali dibantu oleh guru (2) Cukup Menanggapi pendapat teman namun kurang menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi kelompok (1) Kurang Tidak menanggapi dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan diskusi kelompok 158
175 3. Berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok 4. Mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi dari kelompok lain (4) Sangat Baik Berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok dengan benar dan kritis (3) Baik Berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok dengan benar dan kritis namun sesekali dibantu oleh guru (2) Cukup Berdiskusi membuat alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam diskusi kelompok dengan benar namun dibantu oleh guru (1) Kurang Tidak melakukan diskusi (4) Sangat Baik Mampu mempresentasikan hasil diskusi dengan runtut, jelas, dan benar dan menanggapi presentasi dari kelompok lain (3) Baik Mempresentasikan hasil diskusi dengan runtut dan jelas namun ada jawaban yang kurang tepat serta menanggapi presentasi dari kelompok lain (2) Cukup Mempresentasikan dengan runtut dan jelas namun ada jawaban yang kurang tepat dan tidak menanggapi presentasi dari kelompok lain (1) Kurang Belum mampu mempresentasikan hasil diskusi dan tidak menanggapi presentasi dari kelompok lain Jumlah Skor Skor Akhir = x 4 159
176 Lampiran 3. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS 1. Siklus I Pertemuan 1 160
177 2. Siklus I Pertemuan 2 161
178 3. Siklus II Pertemuan 1 162
179 4. Siklus II Pertemuan 2 163
180 Lampiran 4. Hasil Observasi Kegiatan Guru 1. Pra Tindakan 164
181 2. Siklus I Pertemuan 1 165
182 3. Siklus I Pertemuan 2 166
183 4. Siklus II Pertemuan 1 167
184 5. Siklus II Pertemuan 2 168
185 Lampiran 5. Catatan Harian CATATAN HARIAN Siklus/Pertemuan : PRA TINDAKAN Hari/Tanggal : Kamis, 4 Februari 2016 Waktu : WIB (2 jam pelajaran) Materi : Lembaga Eksekutif Pembelajaran hari ini dimulai pada pukul WIB atau jam keempat setelah istirahat pertama. Hari itu ada 1 siswa yang tidak masuk kemudian beberapa hari sebelumnya ada 1 siswa yang pindah sekolah, jadi siswa yang hadir pada hari itu hanya 13 siswa. Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Karena pembelajaran dimulai setelah istirahat maka tidak ada berdoa. Berdoa dilakukan pada jam pertama. Kemudian, guru melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan mengenai mata pelajaran yang lalu yaitu mengenai lembaga legislatif. Guru bertanya kepada siswa, Apa yang dimaksud dengan lembaga legislatif? IDP menjawab, lembaga yang membuat peraturan undang-undang. Guru menanggapi jawaban IDP, Betul sekali. Guru kembali bertanya kepada siswa, Siapa saja yang duduk dalam lembaga legislatif di negara kita? FCY, IDP, dan ICU mengatakan, MPR, DPR, DPD. Guru menanggapi jawaban siswa, Iya benar sekali, lembaga legislatif di negara kita adalah MPR, DPR, dan DPD. Guru menjelaskan kembali secara singkat mengenai lembaga legislatif. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu yaitu mengenai tugas dan fungsi lembaga eksekutif. Guru berusaha membangkitkan keaktifan siswa dengan mengajukan pertanyaan, namun hanya beberapa siswa yang menjawab. Beberapa siswa yang lain, ada yang hanya diam dan ada yang mengobrol bersama teman. Guru bertanya, Siapakah lembaga eksekutif itu? ICU menjawab, lembaga yang menjalankan undang-undang. Guru menanggapi jawaban siswa sembari memberikan pertanyaan, Benar sekali, lalu siapa saja yang ada dalam lembaga eksekutif? IAR menjawab, Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri. Guru menuliskan catatan di papan tulis mengenai lembaga eksekutif, namun hanya beberapa siswa yang mencatat. FCY, FS, dan IDP terlihat mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Guru mencatat di papan tulis sembari menjelaskan. Kemudian guru bertanya, Siapakah menteri pendidikan kita saat ini? Tidak ada siswa yang menjawab. Ada siswa yang tidak memperhatikan dan sibuk mengobrol. Siswa tersebut adalah YST dan BR. Guru sudah mengingatkan namun hanya beberapa saat diam kemudian kembali mengobrol. 169
186 Guru menjelaskan mengenai luas wilayah Indonesia dan orang yang tinggal di dalamnya harus mematuhi peraturan Undang-Undang Dasar Guru mengamati BR dan YST yang sedang mengobrol, kemudian bertanya, Indonesia itu luas laut atau daratannya? BR tidak bisa menjawab. Kemudian guru menasehati untuk tidak mengobrol terus dan memperhatikan penjelasan guru. BR dan YST pun memperhatikan dan tidak lagi mengobrol. Guru kembali bertanya, Siapa yang bisa menyebutkan urutan presiden yang pernah menjabat di Indonesia? ICU, YST, IDP, FCY, RWD, FS, dan BSN menjawab secara berurutan, Soekarno, Soeharto, BJ.Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jokowi. Pembelajaran pada hari itu berlangsung dengan metode ceramah dan tanya jawab. Hari itu guru menjelaskan mengenai siapa saja yang duduk dalam lembaga eksekutif dan apa saja tugas dan fungsi dari lembaga eksekutif. Semakin lama kondisi kelas semakin kurang kondusif. Banyak siswa yang sudah tidak memperhatikan penjelasan guru. Guru sudah berusaha menarik perhatian siswa dengan menyisipi candaan dalam penjelasannya. Ketika guru menjelaskan mengenai pemilihan presiden, guru mengajukan pertanyaan, Siapa yang menangani pemilu? Tidak ada siswa yang mampu menjawab dengan benar. Siswa menjawab dengan asal jawab tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Hal tersebut terkesan menyepelekan guru yang sedang mengajar. Kemudian guru memberikan jawaban, Yang menangani pemilu adalah KPU. Lalu guru kembali bertanya, Apa kepanjangan dari KPU? Lagi-lagi siswa tidak ada yang bisa menjawab dengan benar. Selama pembelajaran berlangsung, guru tidak menggunakan media pembelajaran yang menarik perhatian siswa. Guru memanfaatkan papan tulis untuk memberikan catatan kepada siswa mengenai lembaga eksekutif. Guru bertanya, Siapa yang memilih presiden? IDP menjawab, rakyat pak. Guru menanggapi jawaban IDP, Betul sekali, lalu mengapa jabatan presiden banyak yang menginginkan? IDP kembali menjawab, Ingin menjadi orang nomor satu pak. Guru menanggapi, Pintar sekali, ada yang tau apa saja tugas presiden? BR menjawab dengan asal jawab, yang memicu keramaian kelas sehingga kelas menjadi gaduh. Kemudian guru menegur BR untuk menjawab pertanyaan dengan benar. Guru kembali menjelaskan tugas-tugas presiden secara singkat. Guru meminta salah satu siswa membacakan wewenang, kewajiban, dan hak presiden yang ada dalam buku Lintas. IDP mengacungkan jari dan bersedia untuk membaca, Wewenang, kewajiban, dan hak presiden antara lain a) memegang kekuasaan pemerintaan menurut UUD, b) memegang kekuasaan yang tertinggi atas angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara, c) mengajukan rancangan undang-undang (RUU) kepada DPR, d) menetapkan peraturan pemerintah, e) mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri, f) menyatakan perang, 170
187 membuat perdamaian, dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. Kemudian guru memberikan penjelasan singkat mengenai point-point yang dibacakan oleh IDP. Guru bercerita mengenai pertahanan negara oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara di daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain. Pertahanan negara di daerah perbatasan untuk mempertahankan luas wilayah negara agar tidak dicaplok oleh negara lain. Tugas presiden melakukan perjanjian mengenai batas wilayah Indonesia. Pertahanan negara di daerah laut lepas yang banyak sekali kasus pencurian hasil laut oleh negara lain dengan menggunakan bom dan pukat harimau yang dapat merugikan negara Indonesia. Siswa aktif menanggapi cerita guru, siswa terlihat tertarik dengan cerita dari guru. Hal tersebut dilakukan untuk memotivasi siswa mengenai tugas dan kewajiban sebagai Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Indonesia. Sembari bercerita guru melakukan tanya jawab dengan siswa. Guru bertanya, Siapa menteri kelautan dan perikanan negara Indonesia saat ini? FS menjawab, Susi Pudjiastuti. Guru menanggapi jawaban FS, Pintar sekali. Kemudian guru melanjutkan cerita mengenai budaya Indonesia yang diklaim oleh negara Malaysia. Guru memberi pesan untuk selalu melestarikan budaya Indonesia agar tidak diakui oleh negara lain. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang sudah dibahas, namun tidak ada siswa yang bertanya. Dalam kegiatan penutup guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca kembali materi yang sudah dipelajari, Anak-anak, besok kita masih belajar mengenai lembaga eksekutif. Kalian pelajari kembali di rumah. Setiap hari kalian harus membaca agar menjadi anak pintar dan mendapatkan nilai yang baik. Mata pelajaran PKn berada pada jam keempat dan kelima maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan mata pelajaran selanjutnya. 171
188 CATATAN HARIAN Siklus/Pertemuan : I/1 Hari/Tanggal : Selasa, 9 Februari 2016 Waktu : WIB (2 jam pelajaran) Materi : Lembaga Eksekutif Pembelajaran hari ini dimulai pada pukul WIB atau jam kedua setelah pembelajaran agama. Hari itu ada 2 siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit yaitu RA dan ICU, jadi siswa yang hadir pada hari itu hanya 12 siswa. Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Karena pembelajaran dimulai pada jam kedua maka tidak ada berdoa. Berdoa dilakukan pada jam pertama. Kemudian, guru melakukan apersepsi dengan menceritakan pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia beberapa waktu lalu. Guru memberikan pertanyaan, Siapa yang memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia pada pemilu beberapa waktu lalu? FS menjawab, Jokowi-JK pak. Guru merespon dengan membenarkan jawaban FS. Kemudian guru kembali bertanya, Siapa saja kandidat dalam pemilihan presiden dan wakil presiden kita kemarin? IDP dan BR menjawab, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa. Guru membenarkan jawaban siswa, kemudian guru berkata bahwa dalam pemilihan presiden kemarin dimenangkan oleh Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa harus legowo menerima kekalahan mereka. Guru juga menjelaskan bahwa dalam menjalankan pemerintahan Jokowo-JK, Prabowo juga mendukung pemerintahannya. Kemudian guru memberitahu siswa bahwa materi hari itu masih mengulang materi pertemuan sebelumnya yaitu mengenai lembaga eksekutif. Masih ada beberapa materi yang perlu dijelaskan kembali karena materi mengenai pemerintahan pusat sangat banyak. Pembelajaran hari itu guru menjelaskan kembali sedikit mengenai lembaga eksekutif, kemudian siswa diminta menyelesaikan permasalahan dalam LKS mengenai lembaga eksekutif. Setelah menjelaskan, guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang pandai. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, RFP, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, ABB, dan YST. Kelompok 3 terdiri dari BR, FS, YF, dan FCY. Selanjutnya guru membagikan LKS yang berisi mengenai situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa dari perwakilan kelompok membacakan masalah yang ada dalam LKS. BSN diminta membacakan masalah yang ada di LKS dan siswa lain menyimak. Kemudian guru minta salah satu siswa mengulangi kembali membaca masalah yang ada dalam LKS. IDP diminta membacakan kembali masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. 172
189 Selanjutnya guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah pemilihan ketua kelas yang menggambarkan pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Dalam pemilihan ketua kelas pun ada kampanye dengan menyuarakan visi dan misi jika terpilih menjadi ketua kelas. Hal tersebut sama seperti pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Dalam masalah yang disajikan siswa yang tidak mencalonkan diri berhak memilih sesuai dengan hati nurani. Begitu pula dengan pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Dalam masalah yang disajikan guru terjadi kecurangan dalam pemilihan ketua kelas yaitu Widya menyogok teman-temannya dengan coklat agar dia terpilih menjadi ketua kelas. Setelah pemilihan ketua kelas dilaksanakan ternyata Widya tidak mendapatkan suara satupun dari temantemannya. Widya protes dan marah terhadap teman-temannya. Masalah yang disajikan guru tersebut siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Diskusi dalam kelompok 1 berjalan cukup baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut sesuai dengan masalah yang dalam LKS. RWD sebagai notulen dalam diskusi kelompok 1 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Diskusi dalam kelompok 2 berjalan kurang baik karena ada siswa yang hanya diam dan tidak memberikan pendapat ataupun menanggapi pendapat teman. Yang terlihat aktif mengerjakan hanya BSN dan RDS. RDS sebagai notulen dalam diskusi kelompok 2 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Diskusi dalam kelompok 3 berjalan cukup baik seperti kelompok 1. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut sesuai dengan masalah yang disajikan dalam LKS. Namun dalam kelompok 3 ini antar anggota kurang menghargai jawaban anggota lain sehingga terjadi perdebatan di setiap pendapat yang dikemukakan. FCY sebagai notulen dalam diskusi kelompok 3 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Dalam proses diskusi siswa, guru kurang memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan, sehingga siswa meminta bantuan peneliti untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Sesekali guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Guru terlihat membaca buku di meja guru. Guru kurang aktif membimbing diskusi siswa dalam kelompok. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS. Siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh IDP dan RWD. IDP 173
190 membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RWD membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi. Selanjutnya dari kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh BSN dan RDS. BSN membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. IDP menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 2 kurang tepat. Guru menerima tanggapan IDP. Kelompok 2 juga menerima tanggapan dari IDP. Terakhir kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh BR dan FCY. BR membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian FCY membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi. Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Sebagian besar jawaban siswa yang kurang tepat. Dalam LKS guru meminta siswa mengidentifikasi penyebab dari masalah yang timbul, namun masih ada kelompok yang menuliskan kembali masalah-masalah yang sudah ada dalam LKS tersebut. Solusi yang diberikan oleh siswa beberapa sudah benar, namun masih ada juga yang kurang tepat. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai lembaga eksekutif. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Dalam kegiatan penutup, siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai lembaga eksekutif. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Keaktifan siswa untuk bertanya masih kurang. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu mengenai lembaga yudikatif. Mata pelajaran PKn berada pada jam kedua dan ketiga maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan istirahat pertama. 174
191 CATATAN HARIAN Siklus/Pertemuan : I/2 Hari/Tanggal : Kamis, 11 Februari 2016 Waktu : WIB (2 jam pelajaran) Materi : Lembaga Yudikatif Pembelajaran hari ini dimulai pada pukul WIB atau jam pertama. Guru memulai pembelajaran dengan salam dan berdoa. Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Guru mempresensi kehadiran siswa. Hari itu semua siswa hadir sehingga jumlah siswa sebanyak 14 siswa. Guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan, Siapa yang suka menonton berita? Siswa menjawab, Saya suka pak. Kemudian guru memberikan pernyataan, Dengan menonton berita kita akan mengetahui informasi yang terjadi di sekitar lingkungan kita bahkan berita luar negeri. Berita memberikan informasi mengenai pelanggaran-pelanggaran aturan yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Salah satunya adalah terorisme. Terorisme merupakan tindakan yang melanggar undang-undang karena dapat menjatuhkan korban jiwa. Tindakan yang melanggar undang-undang akan diadili oleh lembaga peradilan yang ada. Lembaga peradilan merupakan lembaga yang mengawasi pelaksanaan peraturan undang-undang. Lembaga tersebut disebut dengan lembaga yudikatif. Nah, hari ini kita akan belajar mengenai lembaga yudikatif. Guru meminta siswa membuka buku Lintas halaman 8 mengenai lembaga yudikatif. Guru meminta IDP membaca materi mengenai Mahkamah Agung dan siswa lain menyimak. Suasana kelas sangat tenang dan hening. Kelas sangat kondusif untuk pembelajaran. Siswa lain menyimak dengan tenang ketika IDP membaca. Guru meminta BSN melanjutkan membaca materi mengenai fungsi dan wewenang Mahkamah Agung dilanjutkan materi mengenai pengertian Mahkamah Konstitusi. Kemudian ICU diminta melanjutkan membaca materi mengenai fungsi dan wewenang Mahkamah Konstitusi sampai Komisi Yudisial. Guru menjelaskan kembali materi yang sudah dibacakan oleh siswa. Siswa memperhatikan dengan baik, meskipun sesekali ada siswa yang mengobrol. Setelah diingatkan siswa kembali memperhatikan. Guru menjelaskan sambil menulis catatan di papan tulis. Kemudian guru bertanya, Apa itu lembaga yudikatif? ICU menjawab, Lembaga yang mengawasi jalannya undang-undang. Guru membenarkan jawaban ICU. Kemudian guru kembali bertanya, Lembaga yudikatif terdiri dari lembaga apa saja? FS menjawab, MA, MK, dan KY. Guru membenarkan jawaban FS. Guru melanjutkan penjelasannya mengenai lembaga yang ada dalam lembaga yudikatif. Anggota lembaga yudikatif adalah orang-orang yang mengusai 175
192 bidang hukum. Guru menjelaskan tugas Mahkamah Agung yaitu mengurus masalah peradilan yang besar seperti korupsi uang negara. Pengadilan negeri di tingkat kabupaten atau kota madya. Pengadilan tinggi di bawahnya ada pengadilan negeri dan pengadilan agama. Guru juga menggambarkan tingkatan Mahkamah Agung sampai pengadilan dibawahnya yaitu Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, Pengadilan Negeri, dan Pengadilan Agama. Guru menjelaskan secara singkat proses pengadilan. Adanya pengajuan kasasi yaitu tidak terima dengan putusan peradilan dan minta keadilan atas putusan hakim. Keputusan Hakim Agung MA adalah keputusan final tidak bisa diganggu gugat. Namun terdakwa bisa mengajukan grasi atau mengajukan ketidakterimaan putusan peradilan MA kepada presiden. Guru menjelaskan siapa saja yang ada dalam persidangan yaitu jaksa, hakim, panitera, pengacara, terdakwa, dan korban. Guru melanjutkan penjelasan mengenai Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. Selanjutnya siswa diminta menyelesaikan permasalahan dalam LKS mengenai lembaga yudikatif. Guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, RFP, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, FS, ABB, dan YST. Kelompok 3 terdiri dari BR, RA, ICU, YF, dan FCY. Selanjutnya guru membagikan LKS yang berisi mengenai situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa dari perwakilan kelompok membacakan masalah yang ada dalam LKS. RA diminta membacakan masalah yang ada di LKS dan siswa lain menyimak. Kemudian guru minta salah satu siswa mengulangi kembali membaca masalah yang ada dalam LKS. ABB diminta membacakan kembali masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. Selanjutnya guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah pelanggaran tata tertib sekolah oleh Andi karena sering datang terlambat dan tidak mengerjakan PR menggambarkan pelanggaran dalam pelaksanaan undang-undang di Indonesia. Dalam pelaksanaan tata tertib sekolah, guru dan kepala sekolah bertindak sebagai lembaga yang mengawasi jalannya pelaksanaan tata tertib sekolah. Hal tersebut sama seperti pengawasan lembaga yudikatif terhadap pelaksanaan undang-undang di Indonesia. Masalah yang disajikan guru tersebut siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Guru menjelaskan contoh mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi agar tidak terjadi kesalahpahaman oleh siswa seperti pada pertemuan pertama. Diskusi dalam kelompok 1 berjalan cukup baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut 176
193 sesuai dengan masalah yang dalam LKS. RWD sebagai notulen dalam diskusi kelompok 1 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Diskusi dalam kelompok 2 berjalan kurang baik karena ada siswa yang hanya diam dan tidak memberikan pendapat ataupun menanggapi pendapat teman. Yang terlihat aktif mengerjakan hanya BSN, RDS, dan FS. RDS sebagai notulen dalam diskusi kelompok 2 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Diskusi dalam kelompok 3 berjalan cukup baik seperti kelompok 1. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut sesuai dengan masalah yang dalam LKS. Namun dalam kelompok 3 ini antar anggota kurang menghargai jawaban anggota lain sehingga terjadi perdebatan di setiap pendapat yang dikemukakan. FCY sebagai notulen dalam diskusi kelompok 3 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Dalam proses diskusi siswa, guru kurang memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan, sehingga siswa meminta bantuan peneliti untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Sesekali guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Guru terlihat membaca buku di meja guru. Guru kurang aktif membimbing diskusi siswa dalam kelompok. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS. Siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh BSN dan RDS. BSN membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. IDP dan BR menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 2 ada yang kurang tepat. Guru menerima tanggapan IDP dan BR. Kelompok 2 juga menerima tanggapan dari IDP dan BR. Selanjutnya dari kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh ICU dan RA. ICU membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RA membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. BSN menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 3 ada yang kurang tepat. Guru menerima tanggapan BSN. Kelompok 3 juga menerima tanggapan dari BSN. Terakhir kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh RWD dan RFP. RWD membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RFP membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi karena jawaban dari kelompok 1 dianggap benar oleh siswa lain. 177
194 Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Penyebab masalah dalam LKS tersebut adalah kurangnya disiplin dan sikap acuh tak acuh. Masih ada beberapa jawaban siswa yang kurang tepat. Dalam LKS guru meminta siswa mengidentifikasi penyebab dari masalah yang timbul, namun masih ada kelompok yang menuliskan kembali masalah-masalah yang sudah ada dalam LKS tersebut. Solusi yang diberikan oleh siswa beberapa sudah benar, namun masih ada juga yang kurang tepat. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. Dalam kegiatan penutup, siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai lembaga yudikatif. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Keaktifan bertanya siswa masih kurang. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mata pelajaran PKn berada pada jam pertama dan kedua maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan pembelajaran selanjutnya. 178
195 CATATAN HARIAN Siklus/Pertemuan : II/1 Hari/Tanggal : Senin, 15 Februari 2016 Waktu : WIB (2 jam pelajaran) Materi : Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Pembelajaran hari ini dimulai pada pukul WIB atau jam keempat setelah istirahat pertama. Hari itu ada 2 siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit yaitu BR dan RFP, jadi siswa yang hadir pada hari itu hanya 12 siswa. Guru terlebih dahulu mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Karena pembelajaran dimulai pada jam keempat maka tidak ada berdoa. Berdoa dilakukan pada jam pertama. Guru melakukan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan, Siapa yang pernah menjadi bendahara di kelas? Apa tugas bendahara? ICU menjawab, Saya pak, mengurusi uang kas. Guru membenarkan jawaban ICU, Betul sekali, bendahara mengurusi uang kas atau keuangan kelas. Seperti di kelas ini, di negara kita juga ada lembaga yang bertugas mengurusi keuangan negara. Namun, bagaimana kita tahu uang negara dikelola dengan baik atau tidak? Kita sebagai rakyat tidak bisa mengawasi secara langsung. Siapa yang mengawasi pengelolaan uang negara? IDP menjawab, BPK pak. Guru membenarkan jawaban IDP, Betul sekali, pemerintah membentuk Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hari ini kita akan belajar mengenai BPK. Guru meminta siswa membuka buku paket PKn halaman 33 dan buku Lintas halaman 10 mengenai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Guru meminta ICU membaca materi mengenai BPK dalam buku paket PKn dan siswa lain menyimak. Suasana kelas sangat tenang dan hening. Kelas sangat kondusif untuk pembelajaran. Siswa lain menyimak dengan tenang ketika ICU membaca. Guru meminta YST melanjutkan membaca. Kemudian IAR diminta melanjutkan membaca materi dalam buku Lintas dan dilanjutkan oleh RWD. Guru menjelaskan kembali materi yang sudah dibacakan oleh siswa. Siswa memperhatikan dengan baik, meskipun sesekali ada siswa yang mengobrol. Setelah diingatkan siswa kembali memperhatikan. Guru menjelaskan sambil menulis catatan di papan tulis. Kemudian guru bertanya, Dari mana asal uang negara itu? IAR menjawab, dari rakyat. Guru membenarkan jawaban IAR, namun jawaban IAR kurang lengkap. Kemudian guru kembali bertanya, Dengan cara apa uang rakyat itu diberikan pada negara? Belum ada siswa yang mampu menjawab. Guru menjelaskan bahwa uang negara diperoleh dari hasil biaya parkir di tempat umum, retribusi tempat wisata, pajak bumi dan bangunan, pajak penghasilan, penjualan sumber daya alam, dan lain-lain. Uang negara tersebut dapat digunakan untuk menggaji para pegawai negeri dan orang-orang yang ada 179
196 dalam pemerintahan. Kemudian guru bertanya, Apa itu APBN? ICU, IDP, dan FCY menjawab, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Guru membenarkan jawaban siswa. guru kembali bertanya, Anggaran itu apa saja? FS menjawab, anggaran rutin dan anggaran pembangunan. Guru membenarkan jawaban FS. Guru melanjutkan penjelasannya mengenai tugas BPK. FCY diminta membacakan tugas BPK dalam buku Lintas halaman 10. Guru menjelaskan tugas BPK mengawasi pengelolaan keuangan negara dan menyerahkan hasil pemeriksaan keuangan negara kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai dengan kewenangannya. Guru menjelaskan mengenai contoh penyelewengan dana. Dilanjutkan penjelasan mengenai keanggotaan BPK. Guru bertanya, Siapa saja anggota BPK? BSN dan IDP menjawab, ketua, wakil ketua, dan 7 anggota. Guru membenarkan jawaban BSN dan IDP. Guru menambahkan materi mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). BPK mengawasi pengelolaan uang negara sedangkan KPK menangani masalah korupsi uang negara. BPK dan KPK samasama lembaga independen yaitu lembaga yang tidak dipengaruhi oleh lembaga lain. Guru memberikan kesempatan bertanya pada siswa, namun tidak ada siswa yang bertanya. Selanjutnya siswa diminta menyelesaikan permasalahan dalam LKS mengenai BPK. Guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, YST, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, FS, dan ABB. Kelompok 3 terdiri dari RA, ICU, YF, dan FCY. Selanjutnya guru membagikan LKS yang berisi mengenai situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa dari perwakilan kelompok membacakan masalah yang ada dalam LKS. FS diminta membacakan masalah yang ada di LKS dan siswa lain menyimak. Kemudian guru minta dalah satu siswa mengulangi kembali membaca masalah yang ada dalam LKS. YST diminta membacakan kembali masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. Selanjutnya guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah pengelolaan uang sekolah oleh Pak Johan selaku bendahara di SD Bina Bangsa. Penyalahgunaan uang sekolah oleh Pak Johan untuk keperluan pribadi. Dalam pengelolaan keuangan sekolah, kepala sekolah bertindak sebagai lembaga yang mengawasi pengelolaan keuangan sekolah. Hal tersebut sama seperti pengawasan pengelolaan uang negara olek BPK. Masalah yang disajikan guru tersebut siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Diskusi dalam kelompok 1 berjalan dengan baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang 180
197 memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut sesuai dengan masalah yang dalam LKS. RWD sebagai notulen dalam diskusi kelompok 1 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Diskusi dalam kelompok 2 berjalan cukup baik dibanding dengan pertemuan sebelumnya. Terjadi diskusi dan tukar pendapat antar anggota kelompok. FS sebagai notulen dalam diskusi kelompok 2 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Diskusi dalam kelompok 3 berjalan cukup baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut sesuai dengan masalah yang dalam LKS. Namun dalam kelompok 3 ini antar anggota kurang menghargai jawaban anggota lain sehingga terjadi perdebatan di setiap pendapat yang dikemukakan. FCY sebagai notulen dalam diskusi kelompok 3 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati. Dalam proses diskusi siswa, guru cukup memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan, sehingga siswa tidak lagi meminta bantuan peneliti untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Guru terlihat mendatangi satu persatu kelompok untuk melihat proses pengerjaan LKS. Guru cukup aktif membimbing diskusi siswa dalam kelompok. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS. Siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh FCY dan YF. FCY membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian YF membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. IDP, BSN, RWD, FS, dan IAR menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 3 masih kurang. Guru menerima tanggapan siswa. Kelompok 3 juga menerima tanggapan dari kelompok lain. Selanjutnya kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh FS dan RDS. FS membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. RA, ICU, YF, FCY, dan YST menanggapi bahwa penyebab timbulnya masalah yang dikemukakan kelompok 2 masih kurang. Guru menerima tanggapan siswa. Kelompok 2 juga menerima tanggapan dari kelompok lain. Selanjutnya dari kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh IAR dan YST. IAR membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian YST membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi namun tidak ada siswa yang menanggapi karena jawaban dari kelompok 3 dianggap benar oleh siswa lain. Guru mengkonfirmasi kekurangan jawaban kelompok 3 dan 2 tadi ditambahkan dengan jawaban kelompok
198 Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Penyebab masalah dalam LKS tersebut adalah kurang rasa tanggung jawab dan kejujuran dari Pak Johan. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. Dalam kegiatan penutup, siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai BPK. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Siswa menyatakan bahwa sudah paham dengan penjelasan materi pada hari itu. Selanjutnya siswa diminta untuk mengumpulkan soal yang sudah dijawab untuk dikoreksi oleh guru. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu tentang Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mata pelajaran PKn berada pada jam keempat dan kelima maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan pembelajaran selanjutnya. 182
199 CATATAN HARIAN Siklus/Pertemuan : II/2 Hari/Tanggal : Kamis, 18 Februari 2016 Waktu : WIB (2 jam pelajaran) Materi : Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pembelajaran hari ini dimulai pada pukul WIB atau jam pertama. Guru memulai pembelajaran dengan salam dan berdoa. Peraturan terbaru di SD Jeruksari bahwa sebelum pembelajaran dimulai, siswa dan guru wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Guru, siswa, dan peneliti menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Kemudian guru mengkondisikan siswa supaya siap mengikuti proses pembelajaran PKn. Guru mempresensi kehadiran siswa. Hari itu semua siswa hadir sehingga jumlah siswa sebanyak 14 siswa. Guru melakukan apersepsi mengaitkan materi dengan pemilihan kepala daerah di Gunungkidul beberapa waktu lalu. Guru bertanya, Belum lama ini di kabupaten kita mengadakan pemilihan kepala daerah, disingkat apa? Siapa yang tahu? IDP menjawab, Pilkada pak. Guru membenarkan jawaban IDP lalu berkata, Lembaga yang mengurusi pilkada kemarin namanya apa? FS menjawab, KPU pak. Guru membenarkan jawaban FS kemudian menyampaikan bahwa hari itu akan mempelajari mengenai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Guru meminta siswa membuka lembar materi pembelajaran yang sudah diberikan oleh peneliti mengenai lembaga KPU. Guru meminta peneliti menyiapkan lembar materi mengenai lembaga KPU sebagai bahan belajar siswa karena di buku paket PKn dan buku Lintas siswa tidak ada penjelasan lengkap mengenai lembaga KPU. Guru meminta ABB membaca materi mengenai pengertian dan tugas beserta fungsi KPU kemudian siswa lain menyimak. Suasana kelas sangat tenang dan hening. Kelas sangat kondusif untuk pembelajaran. Siswa lain menyimak dengan tenang ketika ABB membaca. Guru meminta IDP melanjutkan membaca materi mengenai kewajiban KPU. Kemudian ICU diminta melanjutkan membaca materi pemilu yang dilaksanakan oleh KPU. Guru menjelaskan kembali materi yang sudah dibacakan oleh siswa. Siswa memperhatikan dengan baik, meskipun sesekali ada siswa yang mengobrol. Setelah diingatkan siswa kembali memperhatikan. Guru menjelaskan sambil menulis catatan di papan tulis. Kemudian guru bertanya, Apa yang dimaksud dengan pemilu? BSN menjawab, pemilihan umum. Guru membenarkan jawaban BSN. Kemudian guru kembali bertanya, Sifat pemilu yang diselenggarakan oleh KPU apa saja? BSN, ICU, FCY menjawab, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Guru membenarkan jawaban siswa. 183
200 Kemudian guru menjelaskan satu per satu sifat-sifat pemilu yang diselenggarakan oleh KPU. Guru menjelaskan bahwa sifat langsung yang dimaksud adalah rakyat memilih langsung pemimpin yang mereka inginkan sesuai hari nurani dengan mencoblos. Umum yaitu peserta pemilu adalah semua warga Indonesia yang sudah berumur 17 tahun dan sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Bebas yaitu peserta pemilu bebas memilih sesuai hati nurani tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Rahasia yaitu dalam pemilihan umum peserta pemilu melakukan pencoblosan di dalam bilik dan tidak ada seorang pun yang mengetahui ketika proses pencoblosan, jadi terjamin kerahasiaannya. Jujur yaitu peserta pemilu memilih sesuai dengan hati nuraninya tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan tanpa adanya proses suap menyuap. Adil yaitu suara terbanyak itulah yang menang, dihitung dengan sebenar-benarnya tanpa adanya manipulasi apapun, jadi yang menang dan kalah harus menerima dengan lapang dada. Guru bertanya, Pemilu di negara kita diadakan dalam berapa tahun sekali? BSN menjawab, 5 tahun sekali pak. Guru membenarkan jawaban BSN kemudian melanjutkan penjelasannya. Guru menjelaskan bahwa biaya pemilu itu dari APBN yang sudah dianggarkan untuk pelaksanaan pemilu di Indonesia. Pemilu yang diadakan untuk memilih ketua dan wakil ketua DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota Madya diadakan secara serempak bersamaan. Peserta pemilu diberi 4 lembar untuk memilih ketua dan wakil ketua DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota Madya. Kemudian ada pemilu untuk pemilihan presiden dan wakil presiden. Pemilu itu nasional yaitu seluruh warga negara yang berhak memilih wajib memilih. Dalam pemilu lembaga KPU yang mengurus. KPU tidak hanya mengurus pemilu, tetapi juga mengurus pelaksanaan Pilkada. Guru bertanya, Apa itu pilkada?. ICU, RA, dan YST menjawab, Pemilihan Kepala Daerah. Guru kembali menjelaskan mengenai pilkada Provinsi, Kabupaten, dan Kota Madya. Guru bertanya, Apa sebutan untuk kepala daerah Provinsi?. IDP menjawab, Gubernur. Guru kembali bertanya, Apa sebutan kepala daerah kabupaten dan kota madya?. FS menjawab, Kabupaten dipimpin bupati dan kota madya dipimpin walikota. Guru melanjutkan penjelasannya. Guru menjelaskan bahwa KPU terdiri atas KPU pusat, KPU provinsi, KPU kabupaten atau kota. Lembaga di bawah KPU yang mengurusi pilkada terdiri atas PPK untuk tingkat kecamatan, PPS untuk tingkat kelurahan atau desa, dan KPPS untuk tingkat RW atau padukuhan. Tempat Pemungutan Suara (TPS) yaitu tempat peserta melakukan pencoblosan. Pada pelaksanaan pemilu atau pilkada ada anggota KPPS, pengawas, dan petugas keamanan (linmas). Setelah guru selesai menjelaskan materi, siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Namun, siswa menjawab bahwa sudah jelas dengan penjelasan guru, sehingga tidak ada yang ditanyakan. 184
201 Selanjutnya siswa diminta menyelesaikan permasalahan dalam LKS. Guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok sesuai dengan tingkat prestasi siswa dimana dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang. Kelompok 1 terdiri dari IDP, RWD, RFP, dan IAR. Kelompok 2 terdiri dari BSN, RDS, FS, ABB, dan YST. Kelompok 3 terdiri dari BR, RA, ICU, YF, dan FCY. Selanjutnya guru membagikan LKS yang berisi mengenai situasi problematik atau masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Guru meminta salah satu siswa dari perwakilan kelompok membacakan masalah yang ada dalam LKS. BSN diminta membacakan masalah yang ada di LKS dan siswa lain menyimak. Kemudian guru minta salah satu siswa mengulangi kembali membaca masalah yang ada dalam LKS. RFP diminta membacakan kembali masalah yang ada dalam LKS dan siswa lain menyimak. Selanjutnya guru memperjelas masalah yang ada dalam LKS yaitu mengenai masalah tindakan suap yang dilakukan oleh Pak Muhiddin dalam pemilihan ketua RT menggambarkan pelanggaran dalam pelaksanaan pemilu di Indonesia. Dalam pelaksanaan pemilihan ketua RT, Pak Somad bertindak sebagai orang yang dituakan di daerah tempat tinggal Pak Muhiddin sehingga memimpin jalannya pemilihan ketua RT. Hal tersebut sama seperti lembaga KPU di Indonesia yaitu melaksanakan pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Masalah yang disajikan guru tersebut siswa harus mengidentifikasi penyebabnya dan memberikan solusi kreatif dari masalah tersebut. Diskusi dalam kelompok 1, 2, dan 3 berjalan cukup baik. Antar anggota kelompok terjadi tukar pendapat yang cukup menarik. Jika ada salah satu anggota yang memberikan pendapatnya, anggota lain mengomentari apakah pendapat tersebut sesuai dengan masalah yang dalam LKS. RWD sebagai notulen dalam diskusi kelompok 1 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati dalam kelompoknya. FS sebagai notulen dalam diskusi kelompok 2 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati dalam kelompoknya. FCY sebagai notulen dalam diskusi kelompok 3 menuliskan hasil diskusi dalam kelompok yang sudah disepakati dalam kelompoknya. Dalam proses diskusi siswa, guru membantu siswa yang mengalami kesulitan dengan memperjelas masalah yang dihadapi. Guru mengingatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok secara aktif dan tidak diam saja. Guru aktif mendatangi satu per satu kelompok untuk melihat proses diskusi siswa dalam kelompok. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS. Siswa dengan bimbingan guru mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dimulai dari kelompok 1, hasil diskusi dibacakan oleh RFP dan IAR. RFP membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian IAR membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. 185
202 Kelompok 2 dan 3 sependapat dengan jawaban dari kelompok 1 karena jawaban kelompok 1 benar. Selanjutnya dari kelompok 2, hasil diskusi dibacakan oleh FS dan RDS. FS membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian RDS membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. Kelompok 1 dan 3 sependapat dengan jawaban dari kelompok 2 karena jawaban kelompok 2 benar. Terakhir kelompok 3, hasil diskusi dibacakan oleh YF dan ICU. YF membacakan penyebab dari masalah dalam LKS. Kemudian ICU membacakan solusi dari masalah tersebut. Guru meminta kelompok lain menanggapi. Kelompok 1 dan 2 sependapat dengan jawaban dari kelompok 3 karena jawaban kelompok 3 benar. Guru mengkonfirmasi jawaban setiap kelompok dengan jawaban yang benar. Penyebab masalah dalam LKS tersebut adalah ketidakjujuran, sombong, dan tidak mau menerima kekalahan dengan lapang dada. Jawaban siswa tepat. Siswa sudah mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah yang terjadi kemudian siswa memberikan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang sudah dikerjakan untuk dinilai oleh guru. Dalam kegiatan penutup, dalam kegiatan penutup siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari hari itu yaitu mengenai KPU. Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami, namun tidak ada siswa yang bertanya. Siswa menyatakan bahwa sudah paham dengan materi hari itu. Mata pelajaran PKn berada pada jam pertama dan kedua maka tidak di akhiri dengan doa namun dilanjutkan dengan pembelajaran selanjutnya. 186
203 Lampiran 6. Surat-surat Penelitian Daftar Surat Izin dan Surat Keterangan Melakukan Penelitian No. Nama Surat Nomor Surat Dikeluarkan oleh Tanggal Surat 1. Permohanan Izin Penelitian 690/UN34.11/PL/2016 Dekan FIP UNY 28 Januari Surat Keterangan / Izin 070/REG/V/23/2/2016 Sekretaris Daerah Pemerintah Daerah 1 Februari 2016 Daerah Istimewa Yogyakarta 3. Surat Keterangan / Izin 091/KPTS/II/2016 Bupati Gunungkidul 2 Februari Surat Keterangan 201/SK/SDJ/II/2016 Kepala Sekolah SD Negeri Jeruksari 18 Februari
204
205
206
207
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn
1.062 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 11 Tahun ke-5 2016 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn IMPLEMENTATION CPS LEARNING
BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengembangkan semua aspek dan potensi peserta didik sebaikbaiknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air selalu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN. Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara juga. meningkatkan kualitas pendidikan.
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini bangsa Indonesia terus berusaha untuk meningkatkan masyarakatnya menjadi masyarakat yang berbudaya demokrasi, berkeadilan dan menghormati hak-hak
BAB I PENDAHULUAN. memiliki penetahuan dan keterampilan, serta manusia-manusia yang memiliki. latihan bagi peranannya di masa mendatang.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikian pada hakikatnya adalah usaha sadar yang dilakukuan oleh manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan kepribadiannya. Pendidikan ini memiliki peranan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu mandiri sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana digariskan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik. RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas).
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal pokok yang dapat menunjang kecerdasan serta keterampilan anak dalam mengembangkan kemampuannya. Pendidikan merupakan sarana yang paling tepat
BAB I PENDAHULUAN. lebih besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih dewasa, lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.
I. PENDAHULUAN. lain-lain. Perubahan itu merupakan kecakapan baru yang terjadi karena adanya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan,
BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai metode untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih baik. Purwanto (2009:10)
BAB I PENDAHULUAN. ketekunan dan keteladanan baik dari pendidik maupun peserta didik.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek utama dalam pembentukan moral suatu bangsa. Dalam pelaksanaannya, proses pendidikan membutuhkan kesiapan, kecakapan, ketelitian, keuletan,
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran berakar pada pihak pendidik. Anshari (1979:15) mengemukakan bahwa :
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan
BAB I PENDAHULUAN. pertama dan utama adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung meningkatnya sendi-sendi kehidupan dalam negara tersebut, salah satu faktor pertama dan
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan sumber daya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan sumber daya manusia. Melalui pendidikan seseorang akan dapat mengembangkan potensi dirinya yang diperlukan dalam
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada hakikatnya pendidikan adalah upaya sadar dari suatu masyarakat dan pemerintah suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan generasi penerus. Selaku
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran yang sangat penting berkaitan dengan pembentukan karakter siswa. Pada dasarnya karakter yang dibentuk
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara utuh. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan kehidupan dalam masyarakat bangsa dan Negara, karena dengan pendidikan dapat meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. karena belajar merupakan kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tanpa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap manusia yang telah dimulai sejak dari buaian hingga liang lahat. Oleh sebab itu, setiap manusia wajib untuk belajar baik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia, dan dalam kondisi apapun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan dihampir semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam pendidikan formal. Pendidikan merupakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar 1. Pengertian Belajar Perubahan seseorang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu merupakan hasil dari proses belajar. Belajar merupakan berbuat, memperoleh pengalaman tertentu
A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Berpikir merupakan kemampuan alamiah yang dimiliki manusia sebagai pemberian berharga dari Allah SWT. Dengan kemampuan inilah manusia memperoleh kedudukan mulia
BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan, pengendalian diri dan keterampilan untuk membuat dirinya berguna di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana secara etis, sistematis, intensional dan kreatif dimana peserta didik mengembangkan potensi diri, kecerdasan, pengendalian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penyatuan materi, media, guru, siswa, dan konteks belajar. Proses belajar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proses Belajar Proses belajar mengajar merupakan aktivitas antara guru dengan siswa di dalam kelas. Dalam proses itu terdapat proses pembelajaran yang berlangsung akibat penyatuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya, pendidikan bertujuan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia.
I. PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan suatu upaya penanaman nilai-nilai karakter
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter merupakan suatu upaya penanaman nilai-nilai karakter kepada generasi penerus bangsa yang berakar pada nilai karakter dari budaya bangsa dan
PENGGUNAAN PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER UNTUK MENUMBUHKAN PEMBELAJARAN PKN YANG JOYFULL LEARNING DI KELAS VII A SMP NEGERI 1 WONOAYU SIDOARJO
176 PENGGUNAAN PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER UNTUK MENUMBUHKAN PEMBELAJARAN PKN YANG JOYFULL LEARNING DI KELAS VII A SMP NEGERI 1 WONOAYU SIDOARJO Oleh : Sopiyah IKIP Widya Darma Surabaya Abstrak:
BAB I PENDAHULUAN. negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN Pembahasan dalam bab I ini akan mengkaji tentang latar belakang masalah, fokus masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan batasan istilah. Penjelasan dari keenam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional, pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 20 tahun negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam pendidikan dituntut berperan serta
BAB I PENDAHULUAN. masyarakatnya harus memiliki pendidikan yang baik. Sebagaimana tujuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangat penting dalam mewujudkan suatu negara yang maju, maka dari itu orang-orang yang ada di dalamnya baik pemerintah itu sendiri atau masyarakatnya
2015 PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENGANTAR AKUNTANSI DI SMK 45 LEMBANG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Merupakan proses perubahan tingkah laku, pengembangan potensi diri, dan menambah
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu-ilmu soasial terpadu yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu-ilmu soasial terpadu yang disederhanakan untuk pembelajaran di sekolah dalam rangka menanamkan nilainilai sosial
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya
BAB I PENDAHULUAN. mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional memiliki peranan yang sangat penting bagi warga negara. Pendidikan nasional bertujuan untk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan
SANTI BBERLIANA SIMATUPANG,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupannya setiap individu wajib menempuh pendidikan di lembaga formal maupun lembaga non formal. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. partisipasi dalam proses pembelajaran. Dengan berpartisipasi dalam proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberhasilan suatu proses pembelajaran tidak terlepas dari peran guru dalam mengelola proses pembelajaran di kelas. Namun secara khusus keberhasilan dalam belajar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sarana penting pengembangan ilmu dan pondasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana penting pengembangan ilmu dan pondasi pokok dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. Karena itu pengembangan untuk
BAB I PENDAHULUAN. commit to user
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Di Indonesia, semua orang tanpa terkecuali berhak untuk mendapatkan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. maka dari itu perlu dilakukan peningkatan mutu pendidikan. Negara Kesatuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakekatnya merupakan syarat mutlak bagi pengembangan sumber daya manusia dalam menuju masa depan yang lebih baik. Melalui pendidikan dapat dibentuk
BAB I PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menjelaskan bahwa pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan setiap individu. Hal ini dijelaskan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 1.1, tentang Sistem Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada saat ini pembelajaran di sekolah harus bervariasi agar bisa menarik perhatian siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dimana siswa dapat tertarik pada
BAB I PENDAHULUAN. Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) dikemukakan bahwa kurikulum untuk jenis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) dikemukakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum,
I. PENDAHULUAN. seharusnya dicapai melalui proses pendidikan dan latihan. mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan peserta didik guna
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang utama bagi setiap bangsa, bahkan dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kemajuan pendidikan serta
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, memberi Dana Bantuan Operasional
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Negara berkembang selalu berusaha untuk mengejar ketinggalannya, yaitu dengan giat melakukan pembangunan di segala bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Perubahan perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan,
PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE INKUIRI MATA PELAJARAN PKn KELAS IV SD NEGERI KOTA TEBING TINGGI
PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE INKUIRI MATA PELAJARAN PKn KELAS IV SD NEGERI 164519 KOTA TEBING TINGGI Syarigfah Guru SD Negeri 164519 Kota Tebing Tinggi Surel : [email protected]
I. PENDAHULUAN. berpengaruh dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga awal dari. terbentuknya karakter bangsa. Salah satu karakteristik bangsa yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur terpenting dan berpengaruh dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga awal dari terbentuknya karakter bangsa. Salah
I. PENDAHULUAN. menghadapi kehidupan nyata sehari-hari di lingkungan keluarga dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran berupa penguasaan pengetahuan dan keterampilan hidup yang dibutuhkan siswa dalam menghadapi kehidupan nyata sehari-hari
BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menghidupkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
BAB 1 PENDAHULUAN. untuk menjadikan manusia memiliki kualitas yang lebih baik.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang, untuk
I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan siswa guna mencapai tujuan pendidikan nasional
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat memperoleh ilmu pengetahuan serta keterampilan yang berguna untuk masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian penting bagi manusia. Pendidikan adalah sebagai upaya manusia meningkatkan kualitas hidup. Dengan pendidikan manusia dapat memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar (learning). Di antaranya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Dimyati dan Mudjiono (1996: 7) mengemukakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. seseorang. Ada beberapa teori belajar salah satunya adalah teori belajar
8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Aktivitas dan Hasil Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku seseorang. Ada beberapa teori belajar salah satunya adalah teori
BAB I PENDAHULUAN. akan berusaha untuk mengaktualisasi pengetahuannya tersebut di dalam. latihan, bagi pemerannya dimasa yang akan datang.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting. Melalui pendidikan, seseorang akan belajar untuk mengetahui, memahami dan akan berusaha
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang amat penting dalam suatu negara
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang amat penting dalam suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa karena pendidikan merupakan wahana untuk
I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu kebutuhan yang penting bagi setiap bangsa.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu kebutuhan yang penting bagi setiap bangsa. Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi
BAB I PENDAHULUAN. dan keterampilan. Menurut Suharjo (2006: 1), pendidikan memainkan peranan. emosi, pengetahuan dan pengalaman peserta didik.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sekolah dasar merupakan bagian dari pendidikan nasional yang mempunyai peranan sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memberikan
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kurikulum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan perubahan yang terjadi kian cepat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kurikulum pendidikan harus disusun dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
BAB I PENDAHULUAN. Melalui pendidikan, setiap siswa difasilitasi, dibimbing dan dibina untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana yang dapat mempersatukan bangsa. Melalui pendidikan, setiap siswa difasilitasi, dibimbing dan dibina untuk menjadi warga negara
om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
www.kangmartho.c om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. (PKn) Pengertian Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan
BAB I PENDAHULUAN. memiliki penetahuan dan keterampilan, serta manusia-manusia yang memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar yang dilakukuan oleh manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan kepribadiannya. Pendidikan ini memiliki peranan
I. PENDAHULUAN. kebutuhan yang paling mendasar. Dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan berperan penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi yang
I. PENDAHULUAN. sumber daya manusia yang berkualitas guna membangun bangsa yang maju. Kesuksesan di bidang pendidikan merupkan awal bangsa yang maju.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi saat ini pendidikan memiliki peranan penting, yakni bagaimana suatu bangsa dapat bersaing dikancah internasional hal ini berkaitan dengan sumber
BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Pasal 31 ayat 2 Undang-Undang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Negara, juga merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun
BAB I PENDAHULUAN. dirinya, dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya, dalam
BAB I PENDAHULUAN. bahwa pendidikan mempunyai tujuan untuk membentuk manusia yang maju.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan erat kaitannya dengan proses pembelajaran karena proses pembelajaran merupakan salah satu segi terpenting dalam bidang pendidikan. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu indikator utama pembangunan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu indikator utama pembangunan dan kualitas sumber daya manusia, sehingga kualitas sumber daya manusia sangat tergantung dari kualitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan sarana untuk membentuk peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas. Hal ini bertujuan untuk membentuk kepribadian
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah sarana yang dapat menumbuh-kembangkan potensipotensi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah sarana yang dapat menumbuh-kembangkan potensipotensi manusia untuk bermasyarakat dan menjadi manusia yang sempurna. Seperti yang diuraikan pada
BAB I PENDAHULUAN. bermacam-macam. Model yang diajarkan disini memakai model Inquiry Based
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan di jaman sekarang semakin berkembang karena dengan adanya perubahan kurikulum yang semakin pesat. Model pembelajaran yang dipakai pun bermacam-macam.
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan manusia dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan yang diharapkan karena itu pendidikan
BAB 1 PENDAHULUAN. bagi seluruh umat manusia. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan seperti. Tahun 2003, yang menjelaskan bahwa :
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses pendidikan adalah persemaian dari kehidupan moral suatu masyarakat serta revitalisasi moral masyarakat itu sendiri. Untuk itu, peranan pendidikan dianggap sangat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi drama, sosiokultural,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan diartikan sebagai usaha atau kegiatan untuk mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan diartikan sebagai usaha atau kegiatan untuk mengembangkan potensi dan ketrampilan. Di antaranya meliputi, pengajaran keahlian khusus, pengetahuan,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang. Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi untuk:
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi untuk: Mengembangkan kemampuan dan membentuk
BAB I PENDAHULUAN. kompetensi yang diharapkan. Karena hal itu merupakan cerminan dari kemampuan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa mencapai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi atau hubungan timbal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mental spiritual yang membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan di Indonesia dilakukan secara menyeluruh baik fisik maupun mental spiritual yang membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena
BAB I PENDAHULUAN. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
Kata kunci: model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), keaktifan, hasil belajar
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) PADA SISWA KELAS XI IPS 5 SMA NEGERI 7 MALANG Nenis Julichah 1, Marhadi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses pendidikan dapat berlangsung dalam dua tahapan, yakni proses
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pendidikan dapat berlangsung dalam dua tahapan, yakni proses jangka pendek dan jangka panjang. Pencapaian tujuan pendidikan nasional memerlukan pertahapan
BAB I PENDAHULUAN. teknologi komunikasi dewasa ini, menuntut individu untuk memiliki berbagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menghadapi tantangan masa depan dalam era globalisasi dan canggihnya teknologi komunikasi dewasa ini, menuntut individu untuk memiliki berbagai keterampilan
BAB I PENDAHULUAN. adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan karakter penting bagi bangsa Indonesia, karena untuk melahirkan generasi bangsa yang tangguh. Bung Karno menegaskan bahwa bangsa ini harus dibangun dengan
