BATANG TUBUH PENJELASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BATANG TUBUH PENJELASAN"

Transkripsi

1 PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.03/2016 TENTANG TATA CARA DALAM MENGGUNAKAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK BAGI LEMBAGA YANG DIAWASI OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang: a. bahwa Lembaga yang diawasi oleh OJK harus menyusun dan menyajikan informasi keuangan yang berkualitas; b. bahwa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik sebagai penunjang kegiatan sektor Jasa Keuangan yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan memiliki peran yang penting untuk membantu Lembaga yang diawasi oleh OJK dalam menyusun dan menyajikan informasi keuangan yang berkualitas; c. bahwa dalam menjalankan tugas pengawasan terhadap Lembaga yang diawasi oleh OJK, Otoritas Jasa Keuangan mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen, dan tindakan lain terhadap penunjang kegiatan sektor Jasa Keuangan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, maka dipandang perlu untuk mengatur tata cara dalam menggunakan jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik bagi Lembaga yang diawasi oleh OJK. Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790); 2. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4867); 1

2 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3068); 4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5253); 5. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 337, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5618). MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG TATA CARA DALAM MENGGUNAKAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK BAGI LEMBAGA YANG DIAWASI OLEH OJK BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. Akuntan Publik, yang selanjutnya disingkat AP, adalah seseorang yang telah memperoleh izin untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai Akuntan Publik kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. 2. Kantor Akuntan Publik, yang selanjutnya disingkat KAP, adalah badan usaha yang didirikan dan mendapatkan izin usaha untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai Akuntan Publik kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. 3. Kantor Akuntan Publik Asing, yang selanjutnya disingkat KAPA, adalah badan usaha yang didirikan berdasarkan hukum negara tempat KAPA berkedudukan dan melakukan kegiatan usaha sekurang-kurangnya pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. 4. Organisasi Audit Asing, yang selanjutnya disingkat OAA, adalah organisasi di luar negeri yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan di negara yang bersangkutan, yang anggotanya terdiri dari Pasal 1 2

3 badan usaha jasa profesi yang melakukan kegiatan usaha sekurang-kurangnya pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. 5. Asosiasi Profesi Akuntan Publik adalah organisasi profesi Akuntan Publik yang bersifat nasional. 6. Forum Akuntan Publik Otoritas Jasa Keuangan adalah forum dari Akuntan Publik yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan yang dibentuk oleh Asosiasi Profesi Akuntan Publik 7. Rekan adalah sekutu pada Kantor Akuntan Publik yang berbentuk usaha persekutuan. 8. Standar Profesional Akuntan Publik, yang selanjutnya disingkat SPAP, adalah acuan yang ditetapkan menjadi ukuran mutu yang wajib dipatuhi oleh Akuntan Publik dalam pemberian jasanya. 9. Jasa asurans adalah jasa Akuntan Publik yang bertujuan untuk memberikan keyakinan bagi pengguna atas hasil evaluasi atau pengukuran informasi keuangan dan nonkeuangan berdasarkan suatu kriteria sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai Akuntan Publik. Jasa asurans terdiri dari jasa audit atas informasi keuangan historis, jasa reviu atas informasi keuangan historis dan jasa asurans lainnya 10. Jasa non asurans adalah jasa Akuntan Publik lainnya yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, dan manajemen sesuai dengan peraturan perundang-undangan mengenai Akuntan Publik. Jasa non asurans antara lain adalah jasa audit kinerja, jasa internal audit, jasa perpajakan, jasa kompilasi laporan keuangan, jasa pembukuan, jasa prosedur yang disepakati atas informasi keuangan, dan jasa sistem teknologi informasi 11. Lembaga yang diawasi oleh OJK adalah lembaga yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dan melaksanakan kegiatan di sektor Perbankan, Pasar Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga yang diawasi oleh OJK Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang mengenai Otoritas Jasa Keuangan. Dalam ketentuan ini termasuk Pihak yang mengajukan Pernyataan Pendaftaran kepada OJK atau yang Pernyataan Pendaftarannya telah menjadi efektif. 12. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan 3

4 proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang mengenai Perbankan dan Undang-undang mengenai Perbankan Syariah. 13. Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang mengenai Pasar Modal. 14. Industri Keuangan Non Bank, yang selanjutnya disingkat IKNB adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan Lembaga yang diawasi oleh OJK lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-undang mengenai Otoritas Jasa Keuangan. 15. Periode Audit adalah periode yang mencakup periode laporan keuangan yang menjadi obyek perikatan audit, review, atau asurans lainnya. 16. Periode Penugasan Profesional adalah periode penugasan untuk melakukan pekerjaan asurans termasuk menyiapkan laporan kepada Otoritas Jasa Keuangan. Periode dimulai mana yang lebih dahulu antara sejak dimulainya pekerjaan lapangan atau penandatanganan penugasan dan berakhir pada mana yang lebih dahulu antara tanggal laporan Akuntan Publik atau pemberitahuan tertulis dari Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik kepada Otoritas Jasa Keuangan bahwa penugasan telah selesai. 17. Pendidikan Profesi Berkelanjutan, yang selanjutnya disingkat PPL, adalah suatu pendidikan dan/atau pelatihan profesi bagi AP yang bersifat berkelanjutan dan bertujuan untuk menjaga kompetensi. 18. Orang Dalam Kantor Akuntan Publik adalah: a. orang yang termasuk dalam penugasan audit, review, asurans lainnya, dan/atau non asurans yaitu: 1) rekan; 2) pimpinan; 3) karyawan profesional; dan/atau 4) penelaah, yang terlibat dalam penugasan. b. orang yang termasuk dalam rantai pelaksana/perintah yaitu pimpinan Kantor Akuntan Publik dan semua orang yang: 1) mengawasi atau mempunyai tanggung jawab manajemen secara langsung terhadap audit; 4

5 2) mengevaluasi kinerja atau merekomendasikan kompensasi bagi rekan dalam penugasan audit; atau 3) menyediakan pengendalian mutu atau pengawasan lain atas audit. c. setiap rekan lainnya, pimpinan, atau karyawan profesional lainnya dari Kantor Akuntan Publik dan afiliasi dari Kantor Akuntan Publik yang telah memberikan jasa-jasa audit, review, asurans lainnya, dan/atau non asurans kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 2 (1) Lembaga yang diawasi oleh OJK wajib menggunakan AP dan KAP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, sesuai dengan kompartemen dari masing-masing di Otoritas Jasa Keuangan. (2) Kewajiban penggunaan AP dan KAP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terkait dengan laporan yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan atau yang diumumkan kepada masyarakat. (3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diwajibkan untuk diaudit atau diperiksa oleh AP sesuai dengan peraturan perundangundangan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan atau berdasarkan rekomendasi OJK dalam rangka pengawasan Lembaga yang diawasi oleh OJK. (4) Laporan sebagaimana dimaksud ayat (2) merupakan laporan yang dihasilkan dari jasa asurans maupun non asurans yang diberikan AP dan KAP, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Akuntan Publik. Pasal 3 Lembaga yang diawasi oleh OJK wajib menggunakan AP dan KAP yang kompeten sesuai dengan kompleksitas usaha Lembaga yang diawasi oleh OJK. Pasal 2 Ayat (1) Kompartemen di OJK terdiri atas Perbankan, Pasar Modal dan IKNB. Sebagai contoh, PT ABC Tbk. adalah bank dan perusahaan publik, maka PT ABC Tbk. harus memilih AP dan KAP yang minimal terdaftar di kompartemen Perbankan dan Pasar Modal. Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Pasal 3 Kompetensi AP dan KAP dapat diukur antara lain dari ketersediaan SDM yang ahli di sektor keuangan, tingkatan teknologi yang digunakan, dan sebagainya. 5

6 Pasal 4 (1) Lembaga yang diawasi oleh OJK wajib membatasi penggunaan jasa audit atas informasi keuangan historis dari AP yang sama paling lama untuk periode audit tertentu secara berturut-turut. (2) Pembatasan penggunaan jasa audit atas informasi keuangan historis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi AP dan Orang Dalam KAP yang merupakan Pihak Terasosiasi. (3) Periode Audit tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah 5 (lima) tahun buku berturut-turut untuk AP. (4) Lembaga yang diawasi oleh OJK wajib membatasi penggunaan jasa audit atas informasi keuangan historis dari KAP atau KAPA/OAA yang bekerjasama dengan KAP di Indonesia yang sama paling lama untuk periode audit tertentu secara berturut-turut. (5) Periode Audit tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah 10 (sepuluh) tahun buku berturut-turut untuk KAP atau KAPA/OAA yang bekerjasama dengan KAP di Indonesia. Pasal 4 Ayat (1) Ayat (2) Yang dimaksud dengan Akuntan Publik yang merupakan Pihak Terasosiasi adalah Akuntan Publik yang tidak menandatangani laporan auditor independen namun terlibat langsung dalam pemberian jasa, misal: Akuntan Publik yang merupakan partner in charge dalam suatu perikatan audit. Yang dimaksud dengan Orang Dalam KAP yang merupakan Pihak Terasosiasi adalah Orang Dalam KAP dengan posisi satu level di bawah Akuntan Publik yang terlibat di dalam penugasan jasa audit atas informasi keuangan historis. Ayat (3) Sebagai contoh, Bank ABC menggunakan jasa audit atas informasi keuangan historis dari AP X mulai periode 31 Desember 2014, maka Bank ABC hanya dapat menggunakan jasa AP X berturutturut untuk tahun 2014, 2015, 2016, 2017, dan Ayat (4) Ayat (5) Untuk penggunaan KAP, sebagai contoh, Bank ABC menggunakan jasa audit atas informasi keuangan historis dari KAP XYZ mulai periode 31 Desember 2008, maka Bank ABC hanya dapat menggunakan jasa KAP XYZ berturut-turut untuk tahun 2008 sampai dengan Untuk penggunaan KAPA/OAA, sebagai contoh, KAPA/OAA QRS di tahun 2008 sampai dengan 2012 bekerjasama dengan KAP XYZ dan kemudian kerjasama dihentikan. Selanjutnya di tahun 2013, KAPA/OAA QRS bekerjasama dengan KAP KLM. Jika Bank ABC mulai menggunakan jasa audit atas informasi keuangan historis dari KAP yang berafiliasi dengan KAPA/OAA QRS mulai periode 31 Desember 2008, maka Bank ABC hanya dapat menggunakan jasa KAP yang berafiliasi dengan KAPA/OAA QRS berturutturut untuk tahun 2008 sampai dengan

7 (6) Lembaga yang diawasi oleh OJK hanya dapat menggunakan kembali jasa audit atas informasi keuangan historis AP dan KAP atau KAPA/OAA yang bekerjasama dengan KAP di Indonesia yang sama paling kurang 2 (dua) tahun buku berturut-turut setelah periode audit tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (5) terlampaui. (7) Dalam hal KAP yang digunakan oleh Lembaga yang diawasi oleh OJK melakukan perubahan komposisi AP sehingga jumlah AP sebesar 50% atau lebih berasal dari KAP yang sebelumnya secara berturut-turut telah memberikan jasa audit atas informasi keuangan historis kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK selama periode audit tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (5), maka Lembaga yang diawasi oleh OJK tersebut dianggap tidak menggunakan KAP baru dan tetap diberlakukan pembatasan periode audit sebagaimana dimaksud pada ayat (5). (8) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi laporan keuangan interim yang diaudit untuk kepentingan Penawaran Umum. Ayat (6) Ayat (7) Ayat (8) BAB II ADMINISTRASI Pasal 5 (1) AP dan KAP yang akan memberikan jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK wajib terdaftar di OJK dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Persyaratan AP, paling kurang: 1. Mempunyai izin Akuntan Publik dari Menteri Keuangan yang masih berlaku; 2. Memiliki integritas dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan/atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan serta tidak termasuk dalam daftar kredit/pembiayaan macet; 3. Memiliki akhlak dan moral yang baik; 4. Menaati Kode Etik Profesi dan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang ditetapkan oleh Asosiasi Profesi Akuntan Publik, sepanjang tidak diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; Ayat (1) Huruf a: Angka 1. Pasal 5 Angka 2. Yang dimaksud dengan kredit/pembiayaan macet adalah kredit/pembiayaan macet sebagaimana tercantum dalam database informasi perkreditan pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Dalam hal SLIK belum tersedia, maka database informasi perkreditan mengacu pada Sistem Informasi Debitur (SID) Angka 3. Angka 4. 7

8 5. Menerapkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan praktik akuntansi keuangan yang lazim berlaku di sektor jasa keuangan dalam pelaksanaan jasa audit atas informasi keuangan historis sepanjang tidak diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; 6. Dalam memberikan jasa, AP bersedia memperhatikan kesesuaian transaksi yang dilakukan Lembaga yang diawasi oleh OJK dengan peraturan perundangundangan yang berlaku; 7. Bersikap independen, obyektif, dan profesional dalam melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan; 8. Anggota Forum Akuntan Publik Otoritas Jasa Keuangan; 9. Tidak memiliki rangkap jabatan pada Lembaga yang diawasi oleh OJK; 10. Bersedia memberitahukan kepada Otoritas Jasa Keuangan atas adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Lembaga yang diawasi oleh OJK terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku di sektor jasa keuangan dan/atau di Otoritas Jasa Keuangan, serta kondisi atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Lembaga yang diawasi oleh OJK atau kepentingan para nasabah, paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak ditemukan; 11. Berkedudukan sebagai Rekan AP pada KAP persekutuan atau Pemimpin KAP perseorangan yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan; 12. Sanggup menjaga kerahasiaan data dan informasi yang diperoleh dalam pemberian jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK; 13. AP sanggup menjalani reviu yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan terhadap pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan dan pengendalian mutu atas kegiatan jasa yang diberikan AP kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK 14. Memiliki kompetensi dan pengetahuan di sektor jasa keuangan dan industri yang dilayani, yang dipenuhi melalui program sertifikasi yang diselenggarakan oleh Forum Akuntan Publik Otoritas Jasa Keuangan atau lembaga lain yang ditunjuk oleh OJK dengan sejumlah satuan kredit Angka 5. Angka 6. Angka 7. Angka 8. Angka 9. Angka 10. Angka 11. Angka 12. Angka 13. Angka 14. 8

9 pendidikan tertentu; 15. Wajib mengikuti Program Pendidikan Berkelanjutan (PPL) minimal sejumlah satuan kredit pendidikan tertentu setiap tahun per kompartemen yang diselenggarakan oleh Forum Akuntan Publik Otoritas Jasa Keuangan atau lembaga lain yang ditunjuk oleh OJK; 16. Khusus untuk AP yang akan memberikan jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK berbentuk bank yang didirikan dengan anggaran dasar syariah, ditambahkan persyaratan memiliki sertifikat akuntansi syariah yang diterbitkan oleh lembaga yang kredibel dan diakui oleh OJK. b. Persyaratan KAP, paling kurang: 1. Memiliki izin usaha dari Menteri Keuangan dan dipimpin oleh AP yang terdaftar di OJK; 2. Menerapkan paling kurang 2 (dua) jenjang pengendalian (supervisi) dalam melakukan pemeriksaan yaitu Rekan yang bertanggung jawab untuk menandatangani laporan dan pengawas menengah yang melakukan pengawasan terhadap staf pelaksana; 3. Memiliki dan menaati pedoman pengendalian mutu yang merupakan standar yang berlaku pada KAP yang bersangkutan, minimal sesuai dengan standar profesi yang ditetapkan oleh Asosiasi Profesi Akuntan Publik, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan yang antara lain memuat: a) pedoman penerimaan dan penolakan klien; b) kepastian mutu dan kebijakan etika; c) pedoman manajemen risiko; d) pengendalian mutu penugasan; e) pedoman independensi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik (KAP); f) prosedur audit dan non audit; dan g) penelaahan mutu. 4. Memiliki dan menerapkan sistem pengendalian mutu untuk memastikan KAP, AP atau karyawannya dapat menjaga sikap independen; 5. Sanggup menjaga kerahasiaan data dan informasi yang diperoleh dalam pemberian jasa kepada Lembaga yang Angka 15. Angka 16. Ayat (1) Huruf b: Angka 1. Angka 2. Angka 3. Angka 4. Angka 5. 9

10 diawasi oleh OJK; 6. Bersedia memberitahukan kepada Otoritas Jasa Keuangan atas adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Lembaga yang diawasi oleh OJK terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku di sektor jasa keuangan dan/atau di Otoritas Jasa Keuangan, serta kondisi atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Lembaga yang diawasi oleh OJK atau kepentingan para nasabah, paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak ditemukan; 7. Sanggup menjalani reviu yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan terhadap pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan dan pengendalian mutu atas kegiatan jasa yang diberikan KAP kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK; 8. Memiliki minimal 1 (satu) orang Rekan AP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan yaitu pimpinan rekan KAP 9. Dalam hal KAP hanya memiliki 1 (satu) orang Rekan AP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, wajib membuat surat perjanjian kerja sama dengan KAP lain tentang pengalihan tanggung jawab apabila AP yang bersangkutan berhalangan untuk melaksanakan tugasnya, dengan ketentuan bahwa KAP lain tersebut mempunyai Rekan AP yang terdaftar di OJK. (2) AP dapat memilih untuk memberikan jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK yang melakukan kegiatan di kompartemen: a. Perbankan; b. Pasar Modal; dan/atau c. IKNB Pasal 6 (1) AP dan KAP yang disetujui permohonan pendaftarannya di OJK akan diberikan Surat Tanda Terdaftar. (2) Daftar AP dan KAP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan dipublikasikan di Situs Web OJK. (3) Informasi yang dipublikasikan di Situs Web OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup AP dan KAP yang aktif maupun yang tidak aktif. Angka 6. Angka 7. Angka 8. Angka 9. Ayat (2) Pasal 6 Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) AP dan KAP tidak aktif antara lain: 1. AP dan KAP yang sedang menjalani penghentian pemberian jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK untuk sementara waktu; atau 10

11 Pasal 7 (1) AP dan KAP wajib menyampaikan informasi perubahan data untuk pengkinian Daftar AP dan KAP di OJK. (2) Informasi perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah tanggal efektif perubahan. (3) Pengkinian Daftar AP dan KAP di OJK dapat didasarkan pada informasi dari pihak lain yang menyatakan bahwa AP dan KAP antara lain dalam kondisi tidak mampu secara hukum. Pasal 8 (1) AP dapat mengajukan surat permohonan persetujuan kepada Otoritas Jasa Keuangan atas penghentian pemberian jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK untuk sementara waktu dengan jangka waktu paling kurang 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun. (2) Apabila masa berlaku izin AP dari Menteri Keuangan kurang dari 3 (tiga) tahun sejak tanggal pengajuan izin penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu, maka permohonan penghentian pemberian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama sampai dengan berakhirnya masa berlaku izin AP. (3) Surat permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilampiri dengan: a. surat rekomendasi dari KAP bagi AP yang menjadi Rekan pada KAP; b. alamat lengkap selama menjalani penghentian pemberian jasa AP untuk sementara waktu; 2. AP dan KAP yang oleh karena suatu sebab dikenakan sanksi oleh OJK maupun Otoritas lain/asosiasi yang berwenang, sehingga kehilangan hak untuk melakukan kegiatan pemberian jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK Pasal 7 Ayat (1) Ayat (2) Yang dimaksud dengan tanggal efektif perubahan yaitu tanggal surat pemberitahuan dari Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK). Ayat (3) Contoh pihak lain adalah Menteri Keuangan cq. P2PK dan Asosiasi Profesi Akuntan Publik Contoh AP dan KAP dalam kondisi tidak mampu secara hukum, antara lain: AP/KAP yang dikenakan sanksi pencabutan/pembekuan izin dari Kemenkeu, AP mengundurkan diri, AP meninggal dunia, KAP membubarkan diri, AP/KAP tersangkut permasalahan hukum. Pasal 8 Ayat (1) Sebagai contoh, masa berlaku izin AP dari Menteri Keuangan adalah sampai dengan tanggal 1 Maret 2020 dan tanggal pengajuan izin penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu adalah sejak tanggal 1 Januari 2016, maka masa penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu adalah paling lama sampai dengan 31 Desember Ayat (2) Sebagai contoh masa berlaku izin AP dari Menteri Keuangan adalah sampai dengan tanggal 1 Maret 2018 dan tanggal pengajuan izin penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu adalah sejak tanggal 1 Januari 2016, maka masa penghentian pemberian jasa adalah paling lama sampai dengan tanggal 1 Maret Ayat (3) 11

12 c. surat pernyataan bahwa AP tidak sedang terikat dengan tanggung jawab penugasan sebelumnya; d. jangka waktu yang dimohonkan untuk menjalani penghentian pemberian jasa AP untuk sementara waktu; e. alasan penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu; (4) Persetujuan permohonan penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan sebagaimana dimaksud ayat (3) diterima secara lengkap oleh Otoritas Jasa Keuangan. (5) Apabila kelengkapan persyaratan tidak dipenuhi, maka permohonan tidak dapat diproses dan pemohon dapat mengajukan kembali permohonan baru apabila kelengkapan persyaratan telah dipenuhi. (6) Setelah menjalani masa penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu, AP wajib mengajukan permohonan pengaktifan kembali yang disertai dengan bukti keikutsertaan PPL sebanyak satuan kredit pendidikan yang diwajibkan setiap tahunnya atau secara akumulasi yang diikuti paling lama 2 (dua) tahun sebelum pengaktifan kembali. (7) Apabila OJK tidak menerima permohonan AP untuk pengaktifan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (6) paling lama sampai dengan 6 (enam) bulan setelah berakhirnya masa penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu, maka secara otomatis AP dianggap mengundurkan diri sebagai AP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Ayat (4) Ayat (5) Ayat (6) Contoh AP yang terdaftar di OJK dan memberikan jasa kepada 3 (tiga) kompartemen, telah mendapatkan persetujuan penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu selama 3 (tiga) tahun yaitu sejak tanggal 1 Januari 2016 sampai dengan 31 Desember Pemenuhan PPL diatur sebanyak 5 (lima) SKP per kompartemen dalam satu tahun. Dalam rangka permohonan pengaktifan kembali, maka AP dapat memenuhi PPL dengan dua cara. Pertama yaitu secara per tahun, masingmasing sebanyak 5 (lima) SKP per kompartemen yang dilakukan pada tahun 2016, 2017 dan Kedua yaitu PPL secara akumulasi sebanyak 5 SKP per kompartemen selama 3 (tiga) tahun sehingga jumlah PPL yang harus dipenuhi sebanyak 15 (empat puluh lima) SKP per kompartemen. PPL tersebut dilakukan di antara tanggal 1 Januari 2017 sampai dengan 31 Desember Ayat (7) 12

13 Pasal 9 (1) AP dan/atau KAP dapat mengajukan permohonan persetujuan pengunduran diri dari Daftar AP dan KAP di Otoritas Jasa Keuangan. (2) Apabila permohonan disetujui, maka OJK akan membatalkan Surat Tanda Terdaftar dan mengeluarkan AP dan/atau KAP yang telah mengajukan permohonan pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dari Daftar AP dan KAP di Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 10 Pendaftaran dan pengkinian data dilakukan oleh KAP. BAB III TAMBAHAN CAKUPAN AUDIT LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN Pasal 11 (1) AP dan KAP yang memberikan jasa audit atas laporan keuangan tahunan kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK berbentuk Perbankan dan IKNB wajib menambahkan cakupan kegiatan audit dalam perjanjian kerja antara KAP dengan Lembaga yang diawasi oleh OJK yang diaudit. Cukup Jelas Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 (2) Tambahan cakupan kegiatan audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup pula kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB IV INDEPENDENSI AP DAN KAP TERHADAP LEMBAGA YANG DIAWASI OLEH OJK Pasal 12 AP, KAP, dan Orang Dalam KAP dalam memberikan jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK, wajib memenuhi kondisi independen selama periode audit dan periode penugasan profesional. Pasal 12 BAB V KOMUNIKASI AP DAN KAP DENGAN OTORITAS JASA KEUANGAN Pasal 13 (1) AP dan KAP yang memberikan jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK dapat melakukan komunikasi dengan OJK dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit. Pasal 13 (2) Khusus untuk AP dan KAP yang memberikan jasa kepada Perbankan, komunikasi dengan OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan. 13

14 (3) Dalam komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), OJK dapat menginformasikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian AP dan KAP dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit. (4) OJK dapat meminta informasi terkait Lembaga yang diawasi oleh OJK kepada AP dan KAP meskipun perjanjian kerja telah berakhir. BAB VI PENYAMPAIAN LAPORAN AP DAN KAP KEPADA OJK Pasal 14 (1) AP yang telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan wajib menyampaikan Laporan Pemenuhan Kewajiban PPL selama 1 (satu) tahun paling lambat pada akhir bulan Januari tahun berikutnya, disertai dengan bukti pendukung. Pasal 14 (2) KAP yang telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan wajib menyampaikan Laporan Berkala Kegiatan Pemberian Jasa KAP yang ditandatangani oleh Pimpinan KAP setiap tahun terhitung sejak 1 Januari sampai dengan 31 Desember atau sejak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan apabila terdaftar kurang dari satu tahun, paling lambat pada tanggal 15 April tahun berikutnya, disertai dengan bukti pendukung. (3) Kewajiban penyampaian Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk AP yang sedang menjalani penghentian sementara waktu pemberian jasa kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK. Pasal 15 (1) AP dan/atau KAP wajib melaporkan kepada OJK informasi mengenai Lembaga yang diawasi oleh OJK, antara lain terkait: a. pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di sektor jasa keuangan dan/atau di Otoritas Jasa Keuangan, b. kondisi atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Lembaga yang diawasi oleh OJK tersebut atau membahayakan kepentingan para nasabah. Cukup Jelas Pasal 15 (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak ditemukan, disertai dengan bukti pendukung. 14

15 (3) AP dan/atau KAP wajib melaporkan informasi lainnya yang terkait dengan Lembaga yang diawasi oleh OJK apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh OJK. (4) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib disampaikan kepada OJK sesuai waktu yang ditentukan oleh OJK. Pasal 16 Dalam hal batas akhir penyampaian Laporan AP dan/atau KAP kepada Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 jatuh pada hari Sabtu, hari Minggu, atau hari libur lainnya, maka laporan dimaksud dapat disampaikan pada hari kerja berikutnya. BAB VIII SANKSI Pasal 17 (1) Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan pidana di Sektor Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan berwenang mengenakan sanksi terhadap setiap pihak yang melanggar ketentuan peraturan ini termasuk pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut. (2) AP dan KAP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan dapat dikenakan sanksi administratif berupa: a. Peringatan atau teguran tertulis; b. Sanksi kewajiban membayar berupa denda; c. Pembekuan pendaftaran; dan/atau d. Pembatalan pendaftaran. (3) Lembaga yang diawasi oleh OJK dapat dikenakan sanksi berupa perintah untuk melaksanakan audit ulang. Pasal 18 Sanksi kewajiban membayar berupa denda dikenakan kepada AP dan/atau KAP, apabila: a. AP terlambat menyampaikan Laporan Pemenuhan Kewajiban PPL sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Ayat (1), dikenakan sanksi kewajiban membayar berupa denda sebesar Rp (seratus ribu) per hari keterlambatan dan paling banyak Rp (seratur juta); b. KAP terlambat menyampaikan Laporan Berkala Kegiatan Pemberian Jasa KAP sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Ayat (2) dikenakan sanksi kewajiban membayar berupa denda sebesar Rp (satu juta) per hari keterlambatan dan paling banyak Rp (lima ratus juta). Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 15

16 c. AP dan/atau KAP terlambat menyampaikan Laporan pelanggaran dan kondisi yang dapat membahayakan sebagaimana diatur dalam Pasal 15 Ayat (2), dikenakan sanksi kewajiban membayar berupa denda sebesar Rp (satu juta) per hari keterlambatan dan paling banyak Rp (lima ratus juta). Pasal 19 (1) Sanksi berupa Pembekuan Pendaftaran dikenakan kepada AP atau KAP, antara lain apabila: a. AP atau KAP tidak menyampaikan informasi perubahan data sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Ayat (2); b. AP yang tidak melakukan tambahan cakupan audit sebagaimana diatur dalam Pasal 11 Ayat (1); c. AP, KAP, dan Orang Dalam KAP tidak memenuhi kondisi independen selama periode audit dan periode penugasan profesional sebagaimana diatur dalam Pasal 12. d. AP atau KAP yang tidak melakukan komunikasi dengan OJK sebagaimana diatur dalam Pasal 13 Ayat (2). e. AP atau KAP yang tidak menyampaikan informasi yang diminta oleh OJK sebagaimana diatur dalam Pasal 15 Ayat (4). Cukup Jelas Pasal 19 (2) Jangka waktu Pembekuan Pendaftaran paling sedikit dikenakan selama 1 (satu) tahun. (3) AP yang terdaftar dalam KAP yang sedang dikenakan sanksi pembekuan pendaftaran oleh OJK, tidak dapat memberikan jasa kepada lembaga yang diawasi oleh OJK. Pasal 20 Sanksi berupa Pembatalan Pendaftaran dikenakan kepada AP, antara lain apabila: a. AP tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat (1) huruf a; b. AP yang tidak mengajukan pengaktifan kembali setelah 6 (enam) bulan berakhirnya batas waktu penghentian pemberian jasa sementara waktu sebagaimana diatur dalam Pasal 8 Ayat (7); c. AP dinilai OJK melakukan pelanggaran berat terhadap pengaturan dalam POJK ini maupun ketentuan perundang-undangan lainnya. Cukup Jelas Pasal 20 16

17 Pasal 21 Sanksi berupa Pembatalan Pendaftaran dikenakan kepada KAP, antara lain apabila: a. KAP tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat (1) huruf b; b. KAP berbentuk perseorangan yang AP-nya terkena sanksi pembatalan pendaftaran di Otoritas Jasa Keuangan; c. KAP berbentuk persekutuan yang minimal 2 (dua) AP-nya terkena sanksi pembatalan pendaftaran di Otoritas Jasa Keuangan; d. KAP dinilai Otoritas Jasa Keuangan melakukan pelanggaran berat terhadap pengaturan dalam POJK ini maupun ketentuan perundangundangan lainnya. Cukup Jelas Pasal 21 Pasal 22 Otoritas Jasa Keuangan memberikan informasi dan/atau rekomendasi kepada pihak yang berwenang atas pelanggaran yang dilakukan oleh AP dan/atau KAP terhadap ketentuan yang diatur dalam POJK ini maupun peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 22 Yang dimaksud dengan pihak yang berwenang antara lain adalah Asosiasi Profesi Akuntan Publik dan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK) Kementerian Keuangan. Pasal 23 Sanksi perintah untuk melaksanakan audit ulang dikenakan kepada Lembaga yang diawasi oleh OJK, antara lain apabila: a. Lembaga yang diawasi oleh OJK tidak menggunakan AP dan/atau KAP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1); b. Lembaga yang diawasi oleh OJK tidak menggunakan AP dan/atau KAP yang kompeten sesuai dengan kompleksitas usahanya sebagaimana diatur dalam Pasal 3; c. Laporan hasil audit secara material dinilai tidak lengkap, tidak akurat, dan/atau berpotensi menyesatkan publik; d. Lembaga yang diawasi oleh OJK menggunakan jasa audit laporan keuangan dari AP yang sama lebih dari 5 (lima) tahun buku berturut-turut sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3); e. Lembaga yang diawasi oleh OJK menggunakan jasa audit laporan keuangan dari KAP atau KAPA/OAA yang bekerjasama dengan KAP di Indonesia yang sama, lebih dari 10 (sepuluh) tahun buku berturut-turut sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (5); f. Lembaga yang diawasi oleh OJK menggunakan kembali AP/KAP/KAPA/OAA dalam kurun waktu kurang dari 2 (dua) tahun buku berturut-turut setelah masa pemanfaatan periode audit maksimal sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (6). Cukup Jelas Pasal 23 17

18 g. AP dan/atau KAP tersebut tidak independen, obyektif, dan/atau profesional, serta AP, KAP, dan/atau Orang Dalam KAP tidak memenuhi kondisi independen selama periode audit dan periode penugasan profesional sebagaimana diatur dalam Pasal 12; h. Lembaga yang diawasi oleh OJK menggunakan AP/KAP yang sedang dikenakan sanksi pembekuan pendaftaran oleh OJK atau pembekuan izin oleh Menteri Keuangan. BAB IX KETENTUAN TRANSISI Pasal 24 (1) AP dan KAP yang telah terdaftar di kompartemen Perbankan (dahulu Bank Indonesia) dan kompartemen Pasar Modal (dahulu Bapepam LK) sebelum berlakunya ketentuan ini, akan diakui sebagai AP dan KAP yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan dengan melakukan registrasi ulang di Otoritas Jasa Keuangan. (2) Jangka waktu registrasi ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah paling lambat 1 (satu) tahun setelah ketentuan ini berlaku. (3) AP dan/atau KAP yang tidak melakukan registrasi ulang sampai berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dianggap mengundurkan diri dari Daftar AP dan KAP di OJK. (4) Khusus untuk AP dan/atau KAP sebelum ketentuan ini berlaku telah terdaftar di kompartemen Perbankan (dahulu Bank Indonesia), maka registrasi ulang wajib melampirkan dokumen persyaratan. (5) Kewajiban AP untuk memiliki sertifikat akuntansi syariah dari lembaga yang kredibel dan diakui oleh OJK adalah paling lama 2 (dua) tahun sejak ketentuan ini diberlakukan. (6) Bagi Lembaga yang diawasi oleh OJK pada saat ketentuan ini berlaku telah menggunakan KAP/KAPA/OAA lebih dari 10 (sepuluh) tahun, dapat menggunakan KAP/KAPA/OAA dimaksud dalam rangka pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis untuk terakhir kalinya terhadap posisi laporan keuangan 31 Desember BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 Ketentuan lebih lanjut dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini diatur dengan Surat Edaran Otoritas Cukup Jelas Pasal 24 Pasal 25 18

19 Jasa Keuangan. Pasal 26 Dengan berlakunya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini, maka ketentuan yang saat ini berlaku di: a. Perbankan 1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank; 2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PBI/2005 tentang perubahan atas PBI Nomor 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank; 3. Pasal 16, 17, 18, 19, 26, dan 27 Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/3/PBI/2013 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat; b. Pasar Modal 1. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor KEP- 41/BL/2008 tentang Pendaftaran Akuntan Yang Melakukan Kegiatan Di Pasar Modal; 2. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor KEP- 86/BL/2011 tentang Independensi Akuntan Yang Memberikan Jasa Di Pasar Modal; 3. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor KEP- 395/BL/2008 tentang Laporan Berkala Kegiatan Akuntan; dan 4. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor KEP- 79/PM/1996 tentang Laporan Kepada Bapepam Oleh Akuntan; c. Industri Keuangan Non-Bank Pengaturan terkait Akuntan Publik yang diatur dalam POJK No. 38/POJK.05/2015 tentang Pendaftaran dan Pengawasan Konsultan Aktuaria, Akuntan Publik, dan Penilai yang Melakukan Kegiatan di Industri Keuangan Non- Bank; Pasal 26 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 27 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 27 Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 19

20 Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, MULIAMAN D. HADAD Diundangkan di Jakarta Pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, YASONNA H. LAOLY LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016 NOMOR TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20

2017, No Otoritas Jasa Keuangan mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen, dan tindakan lain

2017, No Otoritas Jasa Keuangan mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen, dan tindakan lain No.62, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Akuntan Publik. Jasa Keuangan. Penggunaan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6036) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 13 /POJK.03/2017 TENTANG PENGGUNAAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DALAM KEGIATAN JASA KEUANGAN

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 13 /POJK.03/2017 TENTANG PENGGUNAAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DALAM KEGIATAN JASA KEUANGAN - 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 13 /POJK.03/2017 TENTANG PENGGUNAAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DALAM KEGIATAN JASA KEUANGAN DENGAN

Lebih terperinci

-2- Untuk itu, dalam rangka menjaga kepercayaan publik terhadap kualitas informasi keuangan, Pihak yang Melaksanakan Kegiatan Jasa Keuangan harus menj

-2- Untuk itu, dalam rangka menjaga kepercayaan publik terhadap kualitas informasi keuangan, Pihak yang Melaksanakan Kegiatan Jasa Keuangan harus menj TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I KEUANGAN OJK. Akuntan Publik. Jasa Keuangan. Penggunaan. Pencabutan. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 62) PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan

2017, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan No.289, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Pasar Modal. Kegiatan. Penilai. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6157) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2017 TENTANG PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG KONSULTAN HUKUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG KONSULTAN HUKUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2016 TENTANG KONSULTAN HUKUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.05/2015 TENTANG PROFESI PENUNJANG INDUSTRI KEUANGAN NON-BANK

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.05/2015 TENTANG PROFESI PENUNJANG INDUSTRI KEUANGAN NON-BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.05/2015 TENTANG PROFESI PENUNJANG INDUSTRI KEUANGAN NON-BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS

Lebih terperinci

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 68 /POJK.04/2017 TENTANG PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 68 /POJK.04/2017 TENTANG PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL - 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 68 /POJK.04/2017 TENTANG PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 38 /POJK.05/2015 TENTANG PENDAFTARAN DAN PENGAWASAN KONSULTAN AKTUARIA, AKUNTAN PUBLIK, DAN PENILAI YANG MELAKUKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2015 TENTANG PRAKTIK AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2015 TENTANG PRAKTIK AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2015 TENTANG PRAKTIK AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 55 /POJK.04/2015 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN PELAKSANAAN KERJA KOMITE AUDIT

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 55 /POJK.04/2015 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN PELAKSANAAN KERJA KOMITE AUDIT - 1 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 55 /POJK.04/2015 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN PELAKSANAAN KERJA KOMITE AUDIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN TENTANG PRAKTIK AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN TENTANG PRAKTIK AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 20152014 TENTANG PRAKTIK AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG NOTARIS YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG NOTARIS YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2016 TENTANG NOTARIS YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 66 /POJK.04/2017 TENTANG KONSULTAN HUKUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 66 /POJK.04/2017 TENTANG KONSULTAN HUKUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL - 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 66 /POJK.04/2017 TENTANG KONSULTAN HUKUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Akuntan Publik adalah seseorang yang telah memperoleh izin untu

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Akuntan Publik adalah seseorang yang telah memperoleh izin untu LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.79, 2015 ADMINISTRASI. Akuntan Publik. Asosiasi. Profesi. Praktik. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5690) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TEN TANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TEN TANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TEN TANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.406, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Komite Audit. Pembentukan. Pedoman Pelaksanaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5824) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

2017, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Ke

2017, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Ke LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.93, 2017 KEUANGAN OJK. Informasi Keuangan. Sistem Layanan. Debitur. Pelaporan. Permintaan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI. BAB I KETENTUAN

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI. BAB I KETENTUAN No.293, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Pasar Modal. Manajer Investasi. Prinsip Syariah. Penerapan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5983) PERATURAN

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21 /POJK.04/2016 TENTANG PENDAFTARAN PENILAI PEMERINTAH UNTUK TUJUAN REVALUASI ASET BAGI BADAN USAHA MILIK

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /POJK.03/2017 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /POJK.03/2017 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /POJK.03/2017 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang :

Lebih terperinci

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Manajer Investasi adalah Pihak yang kegiatan usahan

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Manajer Investasi adalah Pihak yang kegiatan usahan No.360, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Manajer Investasi. Wakil. Perizinan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5634) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP- 372/BL/2012 TENTANG PENDAFTARAN PENILAI YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2018 TENTANG PERIZINAN WAKIL PENJAMIN EMISI EFEK DAN WAKIL PERANTARA PEDAGANG EFEK

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2018 TENTANG PERIZINAN WAKIL PENJAMIN EMISI EFEK DAN WAKIL PERANTARA PEDAGANG EFEK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2018 TENTANG PERIZINAN WAKIL PENJAMIN EMISI EFEK DAN WAKIL PERANTARA PEDAGANG EFEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 61 /POJK.04/2016 TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 61 /POJK.04/2016 TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 61 /POJK.04/2016 TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 25/POJK.04/2014 TENTANG PERIZINAN WAKIL MANAJER INVESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 25/POJK.04/2014 TENTANG PERIZINAN WAKIL MANAJER INVESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 25/POJK.04/2014 TENTANG PERIZINAN WAKIL MANAJER INVESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS

Lebih terperinci

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Penjamin Emisi Efek adalah Pihak yang membuat kontr

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Penjamin Emisi Efek adalah Pihak yang membuat kontr LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.362, 2014 KEUANGAN. OJK. Penjamin Emisi Efek. Perantara. Wakil. Perizinan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5636) PERATURAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 27/POJK.04/2014 Tentang Perizinan Wakil Penjamin Emisi Efek dan Wakil Perantara Pedagang Efek

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 27/POJK.04/2014 Tentang Perizinan Wakil Penjamin Emisi Efek dan Wakil Perantara Pedagang Efek OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 27/POJK.04/2014 Tentang Perizinan Wakil Penjamin Emisi Efek dan Wakil Perantara Pedagang Efek DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 55 /POJK.03/2016 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 55 /POJK.03/2016 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 55 /POJK.03/2016 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.403, 2015 KEUANGAN OJK. Pemeringkatan. Perjanjian. Pedoman. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5821) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN

Lebih terperinci

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 56 /POJK.04/2015 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN PENYUSUNAN PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 56 /POJK.04/2015 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN PENYUSUNAN PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL - 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 56 /POJK.04/2015 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN PENYUSUNAN PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

2017, No f. bahwa sehubungan dengan beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan jasa keuangan disektor perbankan dari Bank

2017, No f. bahwa sehubungan dengan beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan jasa keuangan disektor perbankan dari Bank No.152, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Bank. Kepatuhan. Pelaksanaan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6095) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat dan efisien,

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 54 /POJK.04/2016 TENTANG LAPORAN BERKALA KEGIATAN PENILAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 54 /POJK.04/2016 TENTANG LAPORAN BERKALA KEGIATAN PENILAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 54 /POJK.04/2016 TENTANG LAPORAN BERKALA KEGIATAN PENILAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH DI INDONESIA

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH DI INDONESIA No.7/ 57/DPbS Jakarta, 22 Desember 2005 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Hubungan Antara Bank yang Melaksanakan

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR... TAHUN 2013 TENTANG

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR... TAHUN 2013 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR... TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENAGIHAN SANKSI ADMINISTRATIF BERUPA DENDA DI SEKTOR JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21 /POJK.04/2016 TENTANG PENDAFTARAN PENILAI PEMERINTAH UNTUK TUJUAN REVALUASI ASET BAGI BADAN USAHA MILIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.276, 2016 KEUANGAN OJK. Penjaminan. Lembaga Kliring. Peraturan. Pembuatan. Tata Cara. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5972). PERATURAN

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENGGABUNGAN USAHA ATAU PELEBURAN USAHA PERUSAHAAN TERBUKA. BAB I KETENTUAN UMUM

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENGGABUNGAN USAHA ATAU PELEBURAN USAHA PERUSAHAAN TERBUKA. BAB I KETENTUAN UMUM LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.307, 2016 KEUANGAN OJK. PT. Peleburan. Penggabungan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5997). PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.407, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Audit Internal. Penyusunan Piagam. Pembentukan. Pedoman. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5825) PERATURAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 61 /POJK.04/2016 TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 61 /POJK.04/2016 TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 61 /POJK.04/2016 TENTANG PENERAPAN PRINSIP SYARIAH DI PASAR MODAL PADA MANAJER INVESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 52 /POJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN PERJANJIAN PEMERINGKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 52 /POJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN PERJANJIAN PEMERINGKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 52 /POJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN PERJANJIAN PEMERINGKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS

Lebih terperinci

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 67 /POJK.04/2017 TENTANG NOTARIS YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL

- 2 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 67 /POJK.04/2017 TENTANG NOTARIS YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL - 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 67 /POJK.04/2017 TENTANG NOTARIS YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 4/POJK.05/2013 TENTANG PENILAIAN KEMAMPUAN DAN KEPATUTAN BAGI PIHAK UTAMA PADA PERUSAHAAN PERASURANSIAN, DANA PENSIUN,

Lebih terperinci

2017, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG KRITERIA DAN PENERBITAN DAFTAR EFEK SYARIAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pa

2017, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG KRITERIA DAN PENERBITAN DAFTAR EFEK SYARIAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pa No.137, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Efek. Syariah. Kriteria. Penerbitan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6083) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN

Lebih terperinci

- 1 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 16 /POJK.04/2015 TENTANG AHLI SYARIAH PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

- 1 - SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 16 /POJK.04/2015 TENTANG AHLI SYARIAH PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA - 1 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 16 /POJK.04/2015 TENTANG AHLI SYARIAH PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS

Lebih terperinci

No. 3/32/DPNP Jakarta, 14 Desember Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 3/32/DPNP Jakarta, 14 Desember Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 3/32/DPNP Jakarta, 14 Desember 2001 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Hubungan Antara Bank, Akuntan Publik dan Bank Indonesia ------------------------------------------------------

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan No.124, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Kustodian. Bank Umum. Laporan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6071) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

2017, No sektor perbankan dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan diperlukan pengaturan kembali transparansi kondisi keuangan Bank Perkre

2017, No sektor perbankan dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan diperlukan pengaturan kembali transparansi kondisi keuangan Bank Perkre LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.154, 2017 KEUANGAN OJK. BPR. Kondisi Keuangan. Transparansi. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6097) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 46 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH BURSA EFEK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 46 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH BURSA EFEK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 46 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH BURSA EFEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

Rancangan Undang-undang tentang Akuntan Publik

Rancangan Undang-undang tentang Akuntan Publik Departemen Keuangan RI Rancangan Undang-undang tentang Akuntan Publik Panitia Antar Departemen Penyusunan Rancangan Undang-undang Akuntan Publik Gedung A Lantai 7 Jl. Dr. Wahidin No.1 Jakarta 10710 Telepon:

Lebih terperinci

2015, No.74 2 d. bahwa informasi yang diungkapkan kepada masyarakat perlu memperhatikan faktor keseragaman dan kompetisi antar Bank; e. bahwa berdasar

2015, No.74 2 d. bahwa informasi yang diungkapkan kepada masyarakat perlu memperhatikan faktor keseragaman dan kompetisi antar Bank; e. bahwa berdasar No.74, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Laporan Bank. Transparansi. Publikasi. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5687) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN

Lebih terperinci

- 3 - : Laporan Penunjukan Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik dalam rangka audit atas informasi keuangan historis tahunan pada...

- 3 - : Laporan Penunjukan Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik dalam rangka audit atas informasi keuangan historis tahunan pada... LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 36 /SEOJK.03/2017 TENTANG TATA CARA PENGGUNAAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DALAM KEGIATAN JASA KEUANGAN - 2 - DAFTAR ISI Formulir 1

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.401, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Reksa Dana. Wakil Agen Penjual. Perizinan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5819). PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

- 4 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

- 4 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 4 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 44 /POJK.03/2015 TENTANG SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA BAGI ANGGOTA DIREKSI DAN ANGGOTA DEWAN KOMISARIS BANK

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 47 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH LEMBAGA KLIRING DAN PENJAMINAN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 47 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH LEMBAGA KLIRING DAN PENJAMINAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 47 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH LEMBAGA KLIRING DAN PENJAMINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP- 86/BL/2011 TENTANG INDEPENDENSI

Lebih terperinci

2 menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang

2 menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang No.361, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Transaksi. Bursa. Penjamin. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5635) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/ TENTANG PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT UTANG DAN/ATAU SUKUK KEPADA PEMODAL PROFESIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG AKTUARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG AKTUARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG AKTUARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa aktuaris dibutuhkan dalam pengembangan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.272, 2015 KEUANGAN OJK. Bank Perkreditan Rakyat. Manajemen Risiko. Penerapan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5761). PERATURAN

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PENYELENGGARA DANA PERLINDUNGAN PEMODAL

KETENTUAN UMUM PENYELENGGARA DANA PERLINDUNGAN PEMODAL KETENTUAN UMUM PENYELENGGARA DANA PERLINDUNGAN PEMODAL OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 50 /POJK.04/2016 TENTANG PENYELENGGARA DANA PERLINDUNGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/9/PADG/2017 TENTANG LEMBAGA PENDUKUNG PASAR UANG YANG MELAKUKAN KEGIATAN TERKAIT SURAT BERHARGA KOMERSIAL DI PASAR UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA

Lebih terperinci

KERANGKA RPMK AKTUARIS. Perubahan Nama dan/atau Bentuk Badan Usaha Konsultan Aktuaria

KERANGKA RPMK AKTUARIS. Perubahan Nama dan/atau Bentuk Badan Usaha Konsultan Aktuaria KERANGKA RPMK AKTUARIS Kerangka RPMK Aktuaris BAB I Bagian Kesatu Bagian Kedua Bagian Ketiga BAB II BAB III Bagian Kesatu Bagian Kedua BAB IV Bagian Kesatu Bagian Kedua Bagian Ketiga Bagian Keempat Bagian

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 57 /POJK.04/2015 TENTANG LAPORAN PERUSAHAAN PEMERINGKAT EFEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 57 /POJK.04/2015 TENTANG LAPORAN PERUSAHAAN PEMERINGKAT EFEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 57 /POJK.04/2015 TENTANG LAPORAN PERUSAHAAN PEMERINGKAT EFEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 34 /PM/2003 TENTANG PENDAFTARAN AKUNTAN YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 34 /PM/2003 TENTANG PENDAFTARAN AKUNTAN YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 34 /PM/2003 TENTANG Peraturan Nomor VIII.A.1 PENDAFTARAN AKUNTAN YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 4/POJK.04/2014 TENTANG TATA CARA PENAGIHAN SANKSI ADMINISTRATIF BERUPA DENDA DI SEKTOR JASA KEUANGAN

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 4/POJK.04/2014 TENTANG TATA CARA PENAGIHAN SANKSI ADMINISTRATIF BERUPA DENDA DI SEKTOR JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 4/POJK.04/2014 TENTANG TATA CARA PENAGIHAN SANKSI ADMINISTRATIF BERUPA DENDA DI SEKTOR JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.21, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Bank. Pihak Lain. Pelaksanaan Pekerjaan. Prinsip. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5845) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.12, 2014 KEUANGAN. OJK. Sengketa. Penyelesaian. Alternatif. Lembaga. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5499) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2017

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2017 OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2017 TENTANG LAYANAN PENGADUAN KONSUMEN DI SEKTOR JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 33 /POJK.04/2014 TENTANG DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 33 /POJK.04/2014 TENTANG DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 33 /POJK.04/2014 TENTANG DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang No.349, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Tata Kelola. Terintegrasi. Konglomerasi. Penerapan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5627) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 48 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH LEMBAGA PENYIMPANAN DAN PENYELESAIAN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 48 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH LEMBAGA PENYIMPANAN DAN PENYELESAIAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 48 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN PERATURAN OLEH LEMBAGA PENYIMPANAN DAN PENYELESAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.24, 2016 KEUANGAN OJK. BPR. Badan Kredit Desa. Transformasi. Status. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5847) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan No.274, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Perusahaan Efek. Pegawai. Wakil. Pengawasan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5970). PERATURAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 26/POJK.04/2014 TENTANG. Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 26/POJK.04/2014 TENTANG. Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 26/POJK.04/2014 TENTANG Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

2017, No tentang Transaksi Efek yang Tidak Dilarang bagi Orang Dalam; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lemb

2017, No tentang Transaksi Efek yang Tidak Dilarang bagi Orang Dalam; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lemb No.299, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Transaksi Efek. Orang Dalam. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6167) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.163, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA OJK. Dana Pensiun. Pembubaran. Likuidasi. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5555) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR

Lebih terperinci

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR... /SEOJK.../2017

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR... /SEOJK.../2017 1 Yth. Direksi Pihak yang Melaksanakan Kegiatan Jasa Keuangan di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR... /SEOJK.../2017 TENTANG PENGGUNAAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DALAM

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 60 /POJK.04/2015 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PEMEGANG SAHAM TERTENTU

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 60 /POJK.04/2015 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PEMEGANG SAHAM TERTENTU - 1 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 60 /POJK.04/2015 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PEMEGANG SAHAM TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

2017, No Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Pengeluaran Saham dengan Nilai Nominal Berbeda; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 19

2017, No Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Pengeluaran Saham dengan Nilai Nominal Berbeda; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 19 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.131, 2017 KEUANGAN OJK. Saham. Nominal Berbeda. Pengeluaran. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6078) PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 4/POJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 4/POJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 4/POJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

TATA CARA PENDAFTARAN, PERUBAHAN DATA DAN INFORMASI

TATA CARA PENDAFTARAN, PERUBAHAN DATA DAN INFORMASI TATA CARA PENDAFTARAN, PERUBAHAN DATA DAN INFORMASI AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DALAM KOMPARTEMEN PERBANKAN OTORITAS JASA KEUANGAN DEPARTEMEN PERIZINAN DAN INFORMASI PERBANKAN Direktorat Informasi

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP- 41/BL/2008 TENTANG PENDAFTARAN AKUNTAN YANG MELAKUKAN KEGIATAN DI PASAR MODAL KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA

Lebih terperinci

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 36 /SEOJK.03/2017

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 36 /SEOJK.03/2017 Yth. Direksi Pihak yang Melaksanakan Kegiatan Jasa Keuangan di tempat. SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 36 /SEOJK.03/2017 TENTANG TATA CARA PENGGUNAAN JASA AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP- 310/BL/2008 TENTANG INDEPENDENSI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 35 /POJK.04/2014 TENTANG SEKRETARIS PERUSAHAAN EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 35 /POJK.04/2014 TENTANG SEKRETARIS PERUSAHAAN EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 35 /POJK.04/2014 TENTANG SEKRETARIS PERUSAHAAN EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

2016, No e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa K

2016, No e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa K LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.295, 2016 KEUANGAN OJK. Bank. Syariah. Konvensional. Kegiatan Usaha. Perubahan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5985)

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan No.133, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Reksa Dana. Perseroan. Pengelolaan. Pedoman. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6080) PERATURAN

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan

2017, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.48, 2017 KEUANGAN OJK. Saham. Kepemilikan. Laporan. Perubahan. Perusahaan Terbuka. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

2017, No Indonesia Nomor 3608); 2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 20

2017, No Indonesia Nomor 3608); 2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 20 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.36, 2017 KEUANGAN OJK. Investasi Kolektif. Multi Aset. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6024) PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK I. UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK Profesi Akuntan Publik merupakan suatu profesi yang jasa utamanya adalah jasa asurans dan hasil pekerjaannya

Lebih terperinci

2016, No (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 362, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 5636); MEMUTUSKA

2016, No (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 362, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 5636); MEMUTUSKA No.75, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Efek. Wakil Perantara. Perizinan. Segmentasi. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5875) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 51 /POJK.04/2016 TENTANG TATA CARA UNTUK MEMINTA PERUBAHAN DAN/ATAU TAMBAHAN INFORMASI ATAS PERNYATAAN PENDAFTARAN

Lebih terperinci

2017, No tentang Kegiatan Perusahaan Efek di Berbagai Lokasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Neg

2017, No tentang Kegiatan Perusahaan Efek di Berbagai Lokasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Lembaran Neg LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.294, 2017 KEUANGAN OJK. Perusahaan Efek. Berbagai Lokasi. Kegiatan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6162) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci