BAB IV ANALISA DATA. Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV ANALISA DATA. Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya"

Transkripsi

1 BAB IV ANALISA DATA Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya Genset di setiap area pada Project Ciputra World 1 Jakarta, maka dapat digunakan untuk menentukan parameter setting dan menganalisa kehandalan dari system Auto Back Synchrone yang digunakan di Ciputra World 1 Jakarta. Module Deepsea 8660 dan 8610 adalah media yang digunakan untuk mengatur system Auto Back Synchrone ini. Seluruh parameter setting yang sudah ditentukan melalui perhitungan perhitungan berdasarkan kapasitas daya dan segala sesuatu yang diinginkan dalam sistem ini akan dimasukkan ke dalam Deepsea 8660 dan Karena system Auto Back Synchrone ini adalah membuat dua buah sumber tenaga listrik yang berbeda ( PLN dan genset ) dapat bekerja secara paralel ( Synchrone ), maka dari itu kedua tipe Module Deepsea ini memiliki fungsi dan peran masing masing. Untuk Module Deepsea 8660 ( Auto Transfer Switch & Mains Control Module ) adalah pengatur system di bagian sumber tegangan listrik yang berasal dari PLN atau biasa dikenal dengan Mains Power ( Sumber tegangan Utama ). Deepsea 8660 ini akan memberikan kontrol terhadap 2 39

2 40 buah Automatic Circuit Breaker yang ada pada panel utama, satu buah circuit breaker terletak di incoming dari datangnya tegangan dari sumber tegangan PLN ( Mains Breaker ) dan satu buah lagi di incoming datangnya tegangan dari sumber tegangan Genset ( Bus Breaker ). Sedangkan untuk Module Deepsea 8610 ( Auto Start Load Share Module ) adalah pengatur serta memberikan proteksi untuk genset. Deepsea 8610 ini hanya mengontrol 1 buah circuit breaker saja, yaitu incoming dari genset. Jadi secara fungsi deepsea 8610 ini yang mengatur kapan genset harus menyala, kapan genset harus shutdown, memberikan proteksi terhadap genset dari gangguan dan mengatur sinkronisasi antar genset serta mengatur pembagian beban antar genset. Berikut ini adalah penempatan dari Module Deepsea 8660 dan 8610 pada sistem Auto Back Synchrone di Ciputra World 1 Jakarta: Deepsea 8660 Deepsea 8610 Gambar 4.1 Posisi Penempatan Module Deepsea 8660 dan 8610 pada area Office

3 41 Deepsea 8660 Deepsea 8610 Gambar 4.2 Posisi Penempatan Module Deepsea 8660 dan 8610 pada area Podium

4 42 Deepsea 8660 Deepsea 8610 Gambar 4.3 Posisi Penempatan Module Deepsea 8660 dan 8610 pada area Apartment, Hotel, dan Premium Residence

5 Perhitungan kapasitas konsumsi daya maksimum. Berdasarkan spesifikasi pada trafo dan teori distribusi tenaga listrik, menyarankan bahwa konsumsi daya maksimal tidak boleh melebihi dari kapasitas maksimal dari spesifikasi daya trafo, hal ini dapat menyebabkan efisiensi kerja dari trafo menurun dari waktu ke waktu. Maka dari itu, berdasarkan data kapasitas daya pada masing masing area di Ciputra World 1 Jakarta yang ditunjukkan pada tabel 3.1, dapat ditentukan daya konsumsi maksimal pada setiap area adalah sebesar 98% dari kapasitas daya total di setiap area. Pengaturan daya konsumsi maksimum ini selain digunakan untuk melindungi infrastruktur distribusi tenaga listrik, juga digunakan sebagai acuan untuk menentukan koordinasi parameter setting dari proteksi arus lebih pada jaringan distribusi tenaga listrik di setiap area agar konsumsi daya pada masing-masing area tidak melebihi dari jatah daya maksimum yang diberikan oleh PLN. Tabel di bawah ini menujukkan nilai daya konsumsi maksimum yaitu sebesar 98% dari kapasitas daya total di setiap area pada Ciputra World 1 Jakarta. Tabel 4.1 Tabel Daya Konsumsi Maksimum Area Substation Kapasitas Daya ( KVA ) Daya Konsumsi Maksimum ( KVA ) Tegangan ( Volt ) Office Office 3895 KVA 3817 KVA 20 KV Retail KVA 5934 KVA 20 KV Podium Retail KVA 6105 KVA 20 KV Retail KVA 6105 KVA 20 KV Apartment 2500 KVA 2450 KVA 20 KV Apartment Hotel 4000 KVA 3920 KVA 20 KV dan Hotel Premium Residence 3200 KVA 3136 KVA 20 KV

6 44 Tabel diatas digunakan sebagai acuan untuk menentukan beberapa parameter setting lain seperti setting daya aktif dan daya reaktif, setting proteksi arus overload dan overcurrent dan setting proteksi untuk arus balik dalam jaringan. Seluruh parameter setting ini dimasukkan ke dalam parameter setting yang ada di Deepsea Karena dalam sistem ini Deepsea 8660 berperan sebagai otak dari sistem Auto Back Syncrhone di Ciputra World 1 Jakarta ini. Maka dari itu berdasarkan hubungan segitiga daya yang ditunjukkan pada persamaan 2.7, sebagai contoh pada area Podium Retail 1 untuk mendapatkan nilai parameter setting daya aktif maksimum yang dimasukkan ke dalam parameter setting Deepsea 8660 pada Cubicle incoming PLN di Panel MVMSB Retail 1 adalah sebagai berikut : - Area Podium Retail 1 P = S x cos phi = 5934 x 0,95 = 5637,3 Kw 5638 Kw Perhitungan diatas merupakan perhitungan daya aktif ( P ) maksimum pada salah satu area yaitu area Podium Retail 1 yang ada di Ciputra World 1 Jakarta. Dengan menggunakan cara perhitungan yang sama, maka dapat ditentukan setting kapasitas daya aktif maksimum pada area lain di Ciputra World 1 Jakarta dengan hasil dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

7 45 Tabel 4.2 Tabel Parameter Setting Daya Aktif Maksimum ( KW ) Setelah mendapatkan hasil perhitungan untuk setting kapasitas daya aktif maksimum pada masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta, maka hasil perhitungan setting tersebut kita masukkan ke dalam parameter setting pada Module Deepsea Di bawah ini diambil contoh untuk setting kapasitas daya aktif maksimum pada Module Deepsea 8660 di area Podium Retail 1. Gambar 4.4 Setting kapasitas daya aktif maksimum area Podium Retail 1

8 46 Pada tahap selanjutnya adalah menentukan parameter setting untuk daya reaktif ( Q ) berdasarkan kapasitas daya maksimum di setiap area Ciputra World 1 Jakarta. Berdasarakan persamaan 2.7, sebagai contoh pada area Podium Retail 1 untuk mendapatkan nilai parameter setting daya reaktif maksimum yang dimasukkan ke dalam parameter setting Deepsea 8660 pada Cubicle incoming PLN di Panel MVMSB Retail 1 adalah sebagai berikut : Area Podium Retail 1 Q = S x sin phi = 5934 x 0,312 = 1851,408 Kvar 1851 Kvar Perhitungan diatas merupakan perhitungan daya reaktif ( Q ) maksimum pada salah satu area yaitu area Podium Retail 1 yang ada di Ciputra World 1 Jakarta. Dengan menggunakan cara perhitungan yang sama, maka dapat ditentukan setting kapasitas daya reaktif maksimum pada area lain di Ciputra World 1 Jakarta dengan hasil dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.3 Tabel Parameter Setting Daya Reaktif Maksimum ( KVar )

9 47 Setelah mendapatkan hasil perhitungan untuk setting kapasitas daya reaktif maksimum pada masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta, maka hasil perhitungan setting tersebut kita masukkan ke dalam parameter setting pada Module Deepsea Di bawah ini diambil contoh untuk setting kapasitas daya reaktif maksimum pada Module Deepsea 8660 di area Podium Retail 1. Gambar 4.5 Setting kapasitas daya reaktif maksimum area podium Retail 1 Agar sistem distribusi tenaga listrik dapat berjalan dengan aman, maka kita tidak boleh menggunakan daya konsumsi beban dengan nilai yang sama atau bahkan melebihi kapasitas daya total yang diberikan oleh PLN. Hal ini memungkinkan resiko terjadinya gangguan menjadi besar. Beberapa akibat apabila kita menggunakan daya listrik yang diberikan oleh PLN secara keseluruhan ( 100% ) adalah sebagai berikut :

10 48 a. Terjadi gangguan beban berlebih ( overload ) yang menyebabkan relay proteksi overload aktif dan akan memutus aliran tegangan listrik ( CB Open ) dan seluruh beban akan padam. b. Apabila relay proteksi pada panel utama tidak bekerja maksimal, maka ada kemungkinan ketika terjadi gangguan yang akan bekerja lebih dahulu adalah proteksi yang ada di Gardu Induk milik PLN. Apabila hal ini terjadi maka pengelola gedung akan dikenakan sanksi oleh PLN. c. Menurunnya usia pemakaian ( lifetime ) trafo distribusi pada jaringan distribusi tenaga listrik. Kareana pemakaian 100% pada sebuah trafo memang tidak diajurkan oleh produsen trafo manapun. 4.2 Perhitungan parameter Setting Proteksi untuk sistem Auto Backup Synchrone Mains Voltage Alarms Mains Voltage Alarms adalah parameter setting untuk proteksi terhadap nilai tegangan dari sumber tegangan utama ( PLN ). Karena salah satu syarat untuk dapat memparalelkan ( Synchrone ) 2 buah sumber tegangan yang berbeda ( PLN dan genset ) adalah nilai tegangan harus sama. Maka dari itu untuk menjag kestabilan nilai tegangan baik dari Genset maupun PLN, proteksi ini sangat dibutuhkan. Jadi apabila nilai tegangan dari salah satu sumber tegangan naik / turun melebihi dari batas yang sudah ditentukan dan sudah tidak memenuhi persyaratan Synchrone, maka dari itu Module Deepsea 8660 akan melakukan action berupa melepas ( Open ) CB sumber tegangan yang nilai tegangannya bermasalah. Berikut ini

11 49 adalah perhitungan untuk menentukan nilai parameter proteksi tegangan untuk sistem Auto Back Synchrone : a. Nominal Voltage ( Tegangan Nominal Jaringan ) Tegangan nominal jaringan yang digunakan dalam sistem ini adalah Medium Voltage 20 KV. Maka dari itu pada Module Deepsea 8660 nilai tegangan yang terbaca adalah setelah melalui proses penurunan nilai tegangan menggunakan Voltage Transformer dengan perbandingan kumparan primer dan sekunder nya adalah V / 100 V. Artinya adalah apabila tegangan input yang masuk ke kumparan primer Voltage Transformer sebesar Volt, maka tegangan output pada kumparan sekunder Voltage Transformer yang terbaca oleh Module Deepsea 8660 adalah sebesar 100 Volt. b. Under Voltage ( Batas minimum tegangan turun ) Nilai parameter setting untuk under voltage dalam sistem ini ditentukan pada angka 13% dari tegangan nominal. Maka dari itu dengan persamaan dibawah, maka nilai batas tegangan turun dalam sistem ini adalah sebagai berikut : Under Voltage = 100 Volt - ( 12 % x 100 Volt ) = 100 Volt 12 Volt = 88 Volt

12 50 Nilai diatas apabila kita konversi dengan perbandingan Voltage Transformer yaitu V / 100 V, maka akan mendapatkan hasil sebagai berikut : 100 / = 88 / Y Volt 100 x Y Volt = x 88 Y Volt = Volt Nilai Y Volt adalah definisi dari nilai tegangan sebenarnya dalam jaringan sistem ini. Apabila nilai tegangan PLN turun sampai menyentuh angka tersebut diatas, maka nilai tegangan tersebut sudah tidak layak untuk dilakukan proses Synchronizing dan juga berbahaya untuk operasional beban pada jaringan. c. Over Voltage ( Batas maksimal tegangan naik ) Nilai parameter setting untuk over voltage dalam sistem ini ditentukan pada angka 9% dari tegangan nominal. Maka dari itu dengan persamaan dibawah, maka nilai batas tegangan naik dalam sistem ini adalah sebagai berikut : Over Voltage = 100 Volt + ( 9 % x 100 Volt ) = 100 Volt + 9 Volt = 109 Volt

13 51 Nilai diatas apabila kita konversi dengan perbandingan Voltage Transformer yaitu V / 100 V, maka akan mendapatkan hasil sebagai berikut : 100 / = 109 / W Volt 100 x W Volt = x 109 W Volt = Volt Nilai W Volt adalah definisi dari nilai tegangan sebenarnya dalam jaringan sistem ini. Apabila nilai tegangan PLN naik sampai menyentuh angka tersebut diatas, maka nilai tegangan tersebut sudah tidak layak untuk dilakukan proses Synchronizing dan juga berbahaya untuk operasional beban pada jaringan. Setelah dilakukan perhitungan untuk menentukan nilai parameter setting Mains Voltage Alarms pada Module Deepsea 8660, maka berikut ini adalah gambar yang menunjukkan parameter setting tersebut di dalam Module Deepsea 8660.

14 52 Gambar 4.6 Parameter setting Mains Voltage Alarm pada Deepsea 8660 Proteksi terhadap nilai tegangan sangat dibutuhkan dalam sistem Auto Back Synchrone ini. Selain karena untuk memenuhi persyaratan proses synchronizing, tetapi juga digunakan sebagai pengaman beban agar beban tidak cepat rusak terutama beban-beban elektronik. Banyak sekali beban-beban elektronik yang sangat sensitif terhadap nilai tegangan yang tidak stabil. Dengan adanya proteksi Mains Voltage Alarms ini maka sistem jaringan distribusi dan sistem Auto Back synchrone dapat berjalan dengan baik.

15 Mains Frequency Alarms Mains Frequency Alarms adalah parameter setting untuk proteksi terhadap nilai frekwensi dari sumber tegangan utama ( PLN ). Karena salah satu syarat untuk dapat memparalelkan ( Synchrone ) 2 buah sumber tegangan yang berbeda ( PLN dan genset ) adalah nilai frekwensi harus sama. Maka dari itu proteksi untuk nilai frekwensi ini sangat dibutuhkan. Jadi apabila nilai frekwensi dari salah satu sumber tenaga listrik naik / turun melebihi dari batas yang sudah ditentukan dan sudah tidak memenuhi persyaratan Synchrone, maka dari itu Module Deepsea 8660 akan melakukan action berupa melepas ( Open ) CB sumber tegangan yang nilai tegangannya bermasalah. Untuk sumber tegangan yang dihasilkan oleh genset, nilai frekwensi ini berbanding lurus dengan besar kecilnya nilai putaran mesin ( Rpm mesin ) dari genset tersebut. Maka dalam sistem ini sangat membutuhkan genset dengan performa mesin yang baik agar nilai frekwensi tegangan yang dihasilkan dapat terjaga dengan baik. Berikut ini adalah perhitungan untuk menentukan nilai parameter proteksi nilai frekwensi untuk sistem Auto Back Synchrone :

16 54 a. Nilai Frekwensi dengan kecepatan putaran mesin Genset berbanding lurus berdasarkan persamaan 2.11 dan perhitungan di bawah ini : n = 120 x f / p = 120 x 50 / 4 = 1500 rpm Nilai nominal frekwensi tegangan dari PLN adalah 50 Hz. Maka dari itu, butuh kecepatan putaran mesin genset sebesar 1500 Rpm untuk menghasilkan nilai frekwensi 50 Hz pada keluaran tegangan generatornya. b. Under Frequency ( Batas bawah nilai frekwensi ) Nilai parameter setting untuk under frequency dalam sistem ini ditentukan pada angka 10% dari frekwensi nominal. Maka dari itu dengan persamaan dibawah ini, maka batas bawah nilai frekwensi dalam sistem ini adalah sebagai berikut : Under Frequency = 50 Hz - ( 10 % x 50 Hz) = 50 Hz 5 Hz = 45 Hz

17 55 c. Over Frequency ( Batas atas nilai frekwensi ) Nilai parameter setting untuk over frequency dalam sistem ini ditentukan pada angka 4% dari frekwensi nominal. Maka dari itu dengan persamaan dibawah ini, batas atas nilai frekwensi dalam sistem ini adalah sebagai berikut : Over Frequency = 50 Hz + ( 4 % x 50 Hz) = 50 Hz + 2 Hz = 52 Hz Setelah dilakukan perhitungan untuk menentukan nilai parameter setting Mains Frequency Alarms pada Module Deepsea 8660, maka berikut ini adalah gambar yang menunjukkan parameter setting tersebut di dalam Module Deepsea Gambar 4.7 Parameter setting Mains Frequency Alarm pada Deepsea 8660

18 Perhitungan parameter setting untuk proses Synchronizing PLN Genset pada System Auto Backup Synchrone Parameter Setting Bus Options Bus Options adalah salah satu fitur dalam Module Deepsea 8660 yang berguna untuk menentukan nilai nominal tegangan dan frekwensi dari Genset pada saat proses synchronizing antara PLN dan Genset. Karena nilai nominal tegangan dan frekwensi ini merupakan syarat agar proses synchronizing dapat berjalan dengan aman, maka setting tegangan dan frekwensi genset pada fitur Bus Options ini harus sama dengan setting nilai nominal tegangan dan frekwensi PLN pada fitur Mains Options. Gambar dibawah ini menunjukkan jenis-jenis parameter setting yang ada dalam fitur Bus Options pada Module Deepsea Gambar 4.8 Setting ratio Voltage Transformer pada Cubicle Incoming Genset

19 57 Gambar 4.9 Parameter setting Nominal Tegangan dan Frekwensi Genset Kemudian pada tahap berikutnya, untuk menentukan level operasional yang aman dari sistem Auto Back Synchrone ini kita harus menentukan beberapa parameter setting yang benar benar akan berperan penting dalam operasional sistem Auto Back Synchrone di Ciputra World ini. Parameter setting tersebut adalah sebagai berikut : a. Dead Bus Parameter setting Dead Bus adalah nilai tegangan maksimal yang terbaca di main busbar panel synchrone apabila tidak terdapat sumber tegangan yang masuk melewati CB Incoming dari panel tersebut. Jadi apabila Module Deepsea 8660 membaca tegangan di main busbar sesuai dengan parameter setting Dead Bus atau di bawah parameter setting Dead Bus, maka Module Deepsea 8660 akan menganggap main busbar tidak bertegangan dan layak untuk diisi tegangan dari salah satu sumber tegangan baik dari PLN maupun Genset. Nilai parameter setting Dead Bus dalam sistem ini

20 58 adalah 22 volt pada sisi sekunder dari Voltage Transformer, maka dari itu dengan acuan perbanding sisi primer dan sekunder dari Voltage Transformer, tegangan Dead bus yang terbaca di main busbar panel seharusnya adalah sebagai berikut : 100 / = 22 / DB Volt 100 x DB Volt = x 22 DB Volt = Volt Jadi, apabila di main busbar panel Medium Voltage masih ada tegangan sisa baik dari PLN maupun genset dengan nilai Volt, maka main busbar ini aman untuk diisi dengan tegangan dari salah satu sumber yang lain baik dari PLN maupun Genset. Tetapi apabila tegangan sisa melebihi setting daripada Dead Bus, maka main busbar tidak aman untuk diisi tegangan dari sumber tegangan lain. b. Check Sync Paramater check sync berarti selisih antar nilai nominal tegangan, frekwensi, dan sudut fasa antar sumber tegangan PLN dan Genset. Karena pada prinsipnya synchronizing itu adalah menggabungkan ( memparalelkan ) dua buah sumber tenaga listrik yang berbeda, maka dari itu pada fitur check sync inilah kita menentukan selisih tegangan, frekwensi, dan sudut fasa dari kedua sumber tegangan tersebut. Semakin kecil selisihnya semakin aman dua sumber tegangan untuk di synchrone.

21 59 c. Fail To Sync Alarm Parameter Fail to sync alarm adalah parameter proteksi untuk lama proses synchronizing dari awal menyamakan tegangan, frekwensi, sudut fasa, dll sampai kepada dua buah sumber tegangan bisa diparalelkan. Apabila proses ini terlalu lama dapat disimpulkan bahwa salah satu sumber tegangan baik dari PLN maupun genset tidak dalam kondisi yang normal. Maka dari itu proses synchronizing harus segera dihentikan agar tidak terjadi gangguan yang membahayakan sistem distribusi tenaga listrik tersebut. Dari penjelasan fitur-fitur yang pada Bus Options di atas, dibawah ini adalah gambar yang menunjukkan parameter setting pada Module Deepsea Gambar 4.10 Parameter setting Check Sync pada Module DSE 8660

22 Load Control Parameter setting Load Control ini berfungsi untuk mengatur kecepatan perpindahan beban dari sumber tegangan PLN ke Genset ataupun sebaliknya. Proses perpindahan beban ini terjadi saat sistem Auto Back Synchrone bekerja. Jadi, beban yang pada awalnya di back up oleh sumber tegangan dari PLN saat proses back synchrone sudah berhasil maka beban akan pelan pelan dipindahkan ke genset sesuai dengan nilai parameter setting pada Load Control ini. Hal ini juga berlaku untuk keadaan sebaliknya dimana saat beban di back up oleh Genset dan kemudian sumber tegangan PLN kembali normal maka beban akan pelan-pelan dipindahkan dari Genset ke PLN. Proses ini yang biasanya dikenal dengan proses Load Sharing yaitu pembagian beban antara 2 buah sumber tegangan yang berbeda pada saat proses synchrone terjadi. Dibawah ini ditunjukkan gambar parameter setting Load Control pada Module Deepsea Gambar 4.11 Parameter setting Load Control Yang dimaksud dengan setting Ramp Speed pada parameter Load Control ini adalah saat terjadi Load Sharing ( Perpindahan beban ) baik dari PLN ke Genset maupun sebaliknya, Module DSE

23 akan mengatur perpindahan beban tersebut dengan kecepatan 1% dari total beban per detik. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi over current saat beban dipindahkan dari salah satu sumber tegangan ke sumber tegangan yang lain. 4.4 Gangguan pada sistem Auto Backup Synchrone dan cara mengatasinya Berdasarkan tahap-tahap dan persyaratan proses synchrone yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Maka parameter setting diatas merupakan syarat mutlak untuk dipenuhi agar sistem Auto Back synchrone ini dapat berjalan dengan baik. Namun dalam proses aplikasi sistem ini di lapangan, terdapat beberapa permasalahan yang terjadi sehingga beberapa kali terjadi gangguan pada sistem tersebut. Berikut ini adalah pembahasan gangguan yang terjadi pada aplikasi sistem di lapangan dan solusi untuk mengatasi gangguan tersebut Gangguan Flicker ( Tegangan Kedip ) pada sumber tegangan PLN Salah satu permasalahan atau gangguan jaringan distribusi tenaga listrik di Indonesia yang sering terjadi adalah adanya tegangan kedip ( Flicker ) dan sumber tegangan utama PLN. Jadi pada prosesnya, sistem Auto Back Synchrone ini adalah memprioritaskan sumber tegangan dari PLN, apabila terdapat masalah pada sumber tegangan utama dari PLN misalkan PLN padam, Flicker, under / over voltage, dsb yang tidak memenuhi persyaratan yang sudah disetting

24 62 pada Module Deepsea Maka Module Deepsea 8660 akan membuka jalur utama ( CB Incoming ) dari tegangan PLN dan memanggil genset untuk segera menyala dan mengambil alih beban. Jadi Module Deepsea 8660 ini bekerja berdasarkan sensor tegangan PLN yang dibaca oleh Module. Apabila tegangan PLN kedip dalam waktu yang sangat singkat dan Module Deepsea 8660 kehilangan pembacaan nilai tegangan PLN pada sensor input tegangan, maka Module Deepsea 8660 akan memutus jalur utama ( CB Incoming ) tegangan PLN dan memanggil genset. Tetapi karena hilangnya tegangan PLN ini hanya sesaat dan dalam waktu yang sangat singkat, sebelum genset berhasil mengambil alih beban, sensor tegangan PLN pada Module Deepsea 8660 kembali merasakan tegangan PLN yang sudah normal kembali. Hal ini sering kali menyebabkan Module Deepsea 8660 menjadi alarm dan akhirnya sistem berhenti. Efek dari berhentinya sistem ini adalah tidak adanya sumber tegangan yang bisa mengambil alih beban baik dari PLN maupun dari Genset. Agar gangguan gagalnya sistem ini tidak kembali terjadi saat sumber tegangan utama dari PLN mengalami kedip, maka hal yang bisa dilakukan adalah menambah waktu delay pada saat sensor tegangan membaca tegangan hilang dari sumber tegangan PLN ( Mains Transient Delay ). Parameter setting Mains Transient Delay pada Module Deepsea 8660 berguna untuk memberikan waktu kepada sistem untuk membaca gangguan yang terjadi pada sumber tegangan utama dari PLN. Jadi apabila terjadi gangguan dari sisi sumber

25 63 tegangan utama PLN seperti tegangan kedip ini, maka Module Deepsea 8660 akan menahan sistem agar tidak bereaksi terhadap gangguan tersebut selama waktu mains transient delay ini berjalan. Apabila sampe waktu delay pada Mains transient delay ini habis tetapi gangguan tetap belum hilang, maka Module Deepsea 8660 akan memerintahkan sistem untuk membuka jalur utama tegangan PLN dan memanggil genset untuk mengambil alih beban. Parameter setting Mains Transient Delay ini pada sistem Auto Back Synchrone disetting pada nominal waktu 5 detik. Untuk gangguan tegangan kedip ini ( Flicker ), asumsinya adalah gangguan ini tidak akan terjadi melebihi dari waktu tersebut. Sehingga sistem tidak berhenti dan Module Deepsea 8660 tidak akan memunculkan alarm. Pada gambar di bawah ini menunjukkan parameter setting Mains Transient Delay yang ada pada Module Deepsea Gambar 4.12 Parameter setting Mains Transient Delay pada Module Deepsea 8660

26 64 Dari berbagai analisa dan perhitungan-perhitungan diatas, menunjukkan bahwa dalam sebuah jaringan distribusi tenaga listrik yang menggunakan metode synchrone dari beberapa jenis sumber tegangan yang berbeda maka untuk mendapatkan hasil yang baik, semua persyaratan terutama persyaratan untuk proses synchronizing dan proteksi jaringan harus dipenuhi dan dihitung berdasarkan kapasitas daya pada masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta. Karena pada prosesnya dari beberapa sequence sistem Auto Backup Synchrone yang digunakan di Ciputra World 1 Jakarta yang benar-benar butuh tingkat ketelitian yang tinggi adalah saat proses synchronizing antara tegangan PLN Genset dan saat proses load sharing ( pemindahan beban ) dari PLN ke Genset ataupun sebaliknya. Untuk parameter setting dari dua sequence diatas, perhitungan dasarnya berasal dari data kapasitas daya masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta. Selanjutnya untuk proteksi jaringan distribusi sistem Auto Backup Synchrone ini lebih diutamakan untuk proteksi terhadap tegangan dan frekwensi. Hal ini dikarenakan parameter tegangan dan frekwensi merupakan persyaratan proses synchrone yang paling utama agar sistem dapat berjalan dengan baik. Sistem jaringan distribusi tenaga listrik Auto Backup Synchrone ini memberikan kemudahan bagi para pengelola gedung dalam menjalankan operasional gedung dengan memberikan banyak pilihan yang bisa dilakukan ketika terjadi gangguan dari sumber tegangan listrik utama dari PLN.

27 36

TUGAS AKHIR ANALISA SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK AUTO BACKUP SYNCHRONE

TUGAS AKHIR ANALISA SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK AUTO BACKUP SYNCHRONE TUGAS AKHIR ANALISA SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK AUTO BACKUP SYNCHRONE ( S T U D Y K A S U S P R O J E C T C I P U T R A W O R L D 1 J A K A R T A ) Diajukan guna melengkapi sebagian syarat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB IV HASIL PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BAB IV HASIL PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 4.1 Hasil 4.1.1 Proses Perancangan Diagram Satu Garis Sistem Distribusi Tenaga Listrik Pada Hotel Bonero Living Quarter Jawa

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan tempat dimana. ke gardu induk yang lain dengan jarak yang jauh.

BAB II DASAR TEORI. a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan tempat dimana. ke gardu induk yang lain dengan jarak yang jauh. BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Jaringan Distribusi Pada dasarnya dalam sistem tenaga listrik, dikenal 3 (tiga) bagian utama seperti pada gambar 2.1 yaitu : a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR

BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR 38 BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR 3.1 Unit Station Transformator (UST) Sistem PLTU memerlukan sejumlah peralatan bantu seperti pompa, fan dan sebagainya untuk dapat membangkitkan tenaga

Lebih terperinci

BAB IV DESIGN SISTEM PROTEKSI MOTOR CONTROL CENTER (MCC) PADA WATER TREATMENT PLANT (WTP) Sistem Kelistrikan di PT. Krakatau Steel Cilegon

BAB IV DESIGN SISTEM PROTEKSI MOTOR CONTROL CENTER (MCC) PADA WATER TREATMENT PLANT (WTP) Sistem Kelistrikan di PT. Krakatau Steel Cilegon BAB IV DESIGN SISTEM PROTEKSI MOTOR CONTROL CENTER (MCC) PADA WATER TREATMENT PLANT (WTP) 3 4.1 Sistem Kelistrikan di PT. Krakatau Steel Cilegon Untuk menjalankan operasi produksi pada PT. Krakatau Steel

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DATA DAN ANALISA

BAB IV HASIL DATA DAN ANALISA BAB IV HASIL DATA DAN ANALISA 4.1 Pengujian Hal ini akan dilakukan mengacu pada prosedur yang tepat dan direkomendasikan berdasarkan service manual, panduan instalasi dan operasi dari modul deepsea dan

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM KERJA DAN CARA PENGOPRASIAN PANEL AUTOMATIC MAINS FAILURE

BAB IV SISTEM KERJA DAN CARA PENGOPRASIAN PANEL AUTOMATIC MAINS FAILURE BAB IV SISTEM KERJA DAN CARA PENGOPRASIAN PANEL AUTOMATIC MAINS FAILURE 4.1 Proses Sinkronisasi Genset Pada proses sinkronisasi manual, deteksi awal sinkronisasi dilakukan dengan mengmati dan mengatur

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PROTEKSI DAN SISTEM KONTROL PEMBANGKIT

BAB III SISTEM PROTEKSI DAN SISTEM KONTROL PEMBANGKIT BAB III SISTEM PROTEKSI DAN SISTEM KONTROL PEMBANGKIT 1.1 Sistem Proteksi Suatu sistem proteksi yang baik diperlukan pembangkit dalam menjalankan fungsinya sebagai penyedia listrik untuk dapat melindungi

Lebih terperinci

STUDI KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DAN PENGARUH KEDIP TEGANGAN AKIBAT PENAMBAHAN BEBAN PADA SISTEM KELISTRIKAN DI PT. ISM BOGASARI FLOUR MILLS SURABAYA

STUDI KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DAN PENGARUH KEDIP TEGANGAN AKIBAT PENAMBAHAN BEBAN PADA SISTEM KELISTRIKAN DI PT. ISM BOGASARI FLOUR MILLS SURABAYA Presentasi Sidang Tugas Akhir (Gasal 2013/2014) Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro ITS STUDI KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DAN PENGARUH KEDIP TEGANGAN AKIBAT PENAMBAHAN BEBAN PADA SISTEM KELISTRIKAN

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga

BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK 3.1. Umum Tenaga listrik merupakan suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia, terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga

Lebih terperinci

III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 3.1. Umum Berdasarkan standard operasi PT. PLN (Persero), setiap pelanggan energi listrik dengan daya kontrak di atas 197 kva dilayani melalui jaringan tegangan menengah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERANCANGAN INSTALASI DAN EFEK EKONOMIS YANG DIDAPAT

BAB IV ANALISA PERANCANGAN INSTALASI DAN EFEK EKONOMIS YANG DIDAPAT BAB IV ANALISA PERANCANGAN INSTALASI DAN EFEK EKONOMIS YANG DIDAPAT 4.1. Perancangan Instalasi dan Jenis Koneksi (IEEE std 18-1992 Standard of shunt power capacitors & IEEE 1036-1992 Guide for Application

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING

BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING 2.1 Jenis Gangguan Hubung Singkat Ada beberapa jenis gangguan hubung singkat dalam sistem tenaga listrik antara lain hubung singkat 3 phasa,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA GANGGUAN DAN IMPLEMENTASI RELAI OGS

BAB IV ANALISA GANGGUAN DAN IMPLEMENTASI RELAI OGS BAB IV ANALISA GANGGUAN DAN IMPLEMENTASI RELAI OGS 4.1 Gangguan Transmisi Suralaya Balaraja Pada Pembangkit PLTU Suralaya terhubung dengan sistem 500KV pernah mengalami gangguan CT (Current Transformer)

Lebih terperinci

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB 252 Oleh Vigor Zius Muarayadi (41413110039) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana Sistem proteksi jaringan tenaga

Lebih terperinci

BAB IV RELAY PROTEKSI GENERATOR BLOK 2 UNIT GT 2.1 PT. PEMBANGKITAN JAWA-BALI (PJB) MUARA KARANG

BAB IV RELAY PROTEKSI GENERATOR BLOK 2 UNIT GT 2.1 PT. PEMBANGKITAN JAWA-BALI (PJB) MUARA KARANG BAB IV RELAY PROTEKSI GENERATOR BLOK 2 UNIT GT 2.1 PT. PEMBANGKITAN JAWA-BALI (PJB) MUARA KARANG 4.1 Tinjauan Umum Pada dasarnya proteksi bertujuan untuk mengisolir gangguan yang terjadi sehingga tidak

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Wiring Diagram Direct On Line Starter (DOL)

Gambar 3.1 Wiring Diagram Direct On Line Starter (DOL) BAB III METODE STARTING MOTOR INDUKSI 3.1 Metode Starting Motor Induksi Pada motor induksi terdapat beberapa jenis metoda starting motor induksi diantaranya adalah Metode DOL (Direct Online starter), Start

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA. 4.1 ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) Vista, 7, dan 8. ETAP merupakan alat analisa yang komprehensif untuk

BAB IV ANALISA DATA. 4.1 ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) Vista, 7, dan 8. ETAP merupakan alat analisa yang komprehensif untuk BAB IV ANALISA DATA 4.1 ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) ETAP merupakan program analisa grafik transient kelistrikan yang dapat dijalankan dengan menggunakan program Microsoft Windows 2000,

Lebih terperinci

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2) Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2) Generator Sinkron Ahmad Qurthobi, MT. Teknik Fisika Telkom University Ahmad Qurthobi, MT. (Teknik Fisika Telkom University) Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2) 1 / 35 Outline 1

Lebih terperinci

BAB IV JATUH TEGANGAN PADA PANEL DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB IV JATUH TEGANGAN PADA PANEL DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BAB IV JATUH TEGANGAN PADA PANEL DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 4.1. Sistem Distribusi Listrik Dalam sistem distribusi listrik gedung Emporium Pluit Mall bersumber dari PT.PLN (Persero) distribusi DKI Jakarta

Lebih terperinci

STUDI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. BOC GASES GRESIK JAWA TIMUR

STUDI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. BOC GASES GRESIK JAWA TIMUR 1 STUDI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. BOC GASES GRESIK JAWA TIMUR Albertus Rangga P. 2206100149 Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya Abstrak - Suatu industri membutuhkan sistem kelistrikan

Lebih terperinci

Analisa Stabilitas Transien dan Koordinasi Proteksi pada PT. Linde Indonesia Gresik Akibat Penambahan Beban Kompresor 4 x 300 kw

Analisa Stabilitas Transien dan Koordinasi Proteksi pada PT. Linde Indonesia Gresik Akibat Penambahan Beban Kompresor 4 x 300 kw Analisa Stabilitas Transien dan Koordinasi Proteksi pada PT. Linde Indonesia Gresik Akibat Penambahan Beban Kompresor 4 x 300 kw Nama : Frandy Istiadi NRP : 2209 106 089 Pembimbing : 1. Dr. Ir. Margo Pujiantara,

Lebih terperinci

Keandalan dan kualitas listrik

Keandalan dan kualitas listrik Keandalan dan kualitas listrik Disadur dari tulisan: Hanif Guntoro dan Parlindungan Doloksaribu Pentingnya Keandalan dan Kualitas Listrik Pemadaman listrik yang terlalu sering dengan waktu padam yang lama

Lebih terperinci

BAB III PLTU BANTEN 3 LONTAR

BAB III PLTU BANTEN 3 LONTAR BAB III PLTU BANTEN 3 LONTAR UBOH Banten 3 Lontar merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang memiliki kapasitas daya mampu 315 MW sebanyak 3 unit jadi total daya mampu PLTU Lontar 945 MW. PLTU secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan

BAB I PENDAHULUAN. Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga Listrik disalurkan ke konsumen melalui Sistem Tenaga Listrik. Sistem Tenaga Listrik terdiri dari beberapa subsistem, yaitu Pembangkitan, Transmisi, dan Distribusi.

Lebih terperinci

Panduan Praktikum Sistem Tenaga Listrik TE UMY

Panduan Praktikum Sistem Tenaga Listrik TE UMY 42 UNIT 4 PERBAIKAN UNJUK KERJA SALURAN DENGAN SISTEM INTERKONEKSI A. TUJUAN PRAKTIKUM a. Mengetahui fungsi switch pada jaringan interkoneksi b. Mengetahui setting generator dan interkoneksinya dengan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Penyaluran Tenaga Listrik Ke Konsumen Didalam dunia kelistrikan sering timbul persoalan teknis, dimana tenaga listrik dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu, sedangkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. melakukan kerja atau usaha. Daya memiliki satuan Watt, yang merupakan

BAB II LANDASAN TEORI. melakukan kerja atau usaha. Daya memiliki satuan Watt, yang merupakan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Daya Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan kerja atau

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI DAN PENGUMPULAN DATA

BAB III METODOLOGI DAN PENGUMPULAN DATA BAB III METODOLOGI DAN PENGUMPULAN DATA 3.1 Bendungan Gambar 3.1 Ilustrasi PLTMH cinta mekar (sumber,ibeka, 2007) PLTMH Cinta Mekar memanfaatkan aliran air irigasi dari sungai Ciasem yang berhulu di Gunung

Lebih terperinci

BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA. daya aktif (watt) dan daya nyata (VA) yang digunakan dalam sirkuit AC atau beda

BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA. daya aktif (watt) dan daya nyata (VA) yang digunakan dalam sirkuit AC atau beda 25 BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA 3.1 Pengertian Faktor Daya Listrik Faktor daya (Cos φ) dapat didefinisikan sebagai rasio perbandingan antara daya aktif (watt) dan daya

Lebih terperinci

Rifgy Said Bamatraf Dosen Pembimbing Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT Dr. Dedet Chandra Riawan, ST., M.Eng.

Rifgy Said Bamatraf Dosen Pembimbing Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT Dr. Dedet Chandra Riawan, ST., M.Eng. Rifgy Said Bamatraf 2207100182 Dosen Pembimbing Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT Dr. Dedet Chandra Riawan, ST., M.Eng. Latar Belakang Masalah Batasan Masalah Sistem Kelistrikan PLTU dan PLTG Unit Pembangkit

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PERENCANAAN SISTEM INSTALASI LISTRIK

BAB IV ANALISA DAN PERENCANAAN SISTEM INSTALASI LISTRIK 57 BAB IV ANALISA DAN PERENCANAAN SISTEM INSTALASI LISTRIK 4.1. Sistem Instalasi Listrik Sistem instalasi listrik di gedung perkantoran Talavera Suite menggunakan sistem radial. Sumber utama untuk suplai

Lebih terperinci

BAB III SISTEM KELISTRIKAN DAN PROTEKSI

BAB III SISTEM KELISTRIKAN DAN PROTEKSI BAB III SISTEM KELISTRIKAN DAN PROTEKSI 3.1 Generator dan Transformator Unit Generator Suatu alat listrik yang merubah energi gerak berupa putaran dari turbin yang dipasang seporos dengan generator, kemudian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Jaringan Distribusi Sistem Tenaga listrik di Indonesia tersebar dibeberapa tempat, maka dalam penyaluran tenaga listrik dari tempat yang dibangkitkan sampai ke tempat

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Studi Kasus Gambar 4.1 Ilustrasi studi kasus Pada tahun 2014 telah terjadi gangguan di sisi pelanggan gardu JTU5 yang menyebabkan proteksi feeder Arsitek GI Maximangando

Lebih terperinci

Koordinasi Proteksi Tegangan Kedip dan Arus Lebih pada Sistem Kelistrikan Industri Nabati

Koordinasi Proteksi Tegangan Kedip dan Arus Lebih pada Sistem Kelistrikan Industri Nabati JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271 B-130 Koordinasi Proteksi Kedip dan Arus Lebih pada Sistem Kelistrikan Industri Nabati Nanda Dicky Wijayanto, Adi Soeprijanto, Ontoseno Penangsang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Blok Diagram dan Alur Rangkaian Blok diagram dan alur rangkaian ini digunakan untuk membantu menerangkan proses penyuplaian tegangan maupun arus dari sumber input PLN

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)

BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR) 27 BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR) 4.1 Umum Sistem proteksi merupakan salah satu komponen penting dalam system tenaga listrik secara keseluruhan yang tujuannya untuk menjaga

Lebih terperinci

ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH

ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH I K.Windu Iswara 1, G. Dyana Arjana 2, W. Arta Wijaya 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar

Lebih terperinci

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK Gardu Induk merupakan suatu instalasi listrik yang terdiri atas beberapa perlengkapan dan peralatan listrik dan menjadi penghubung listrik

Lebih terperinci

STUDI KOORDINASI RELE PENGAMAN PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. WILMAR NABATI INDONESIA, GRESIK JAWA TIMUR. Studi Kasus Sistem Kelistrikan PT.

STUDI KOORDINASI RELE PENGAMAN PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. WILMAR NABATI INDONESIA, GRESIK JAWA TIMUR. Studi Kasus Sistem Kelistrikan PT. STUDI KOORDINASI RELE PENGAMAN PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. WILMAR NABATI INDONESIA, GRESIK JAWA TIMUR Pendahuluan Teori Penunjang Studi Kasus Sistem Kelistrikan PT. Wilmar Hasil Simulasi dan Analisis Penutup

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Relai Proteksi Relai proteksi atau relai pengaman adalah susunan peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi atau merasakan adanya gangguan atau mulai merasakan adanya ketidak

Lebih terperinci

BAB IV 4.1. UMUM. a. Unit 1 = 100 MW, mulai beroperasi pada tanggal 20 januari 1979.

BAB IV 4.1. UMUM. a. Unit 1 = 100 MW, mulai beroperasi pada tanggal 20 januari 1979. BAB IV PERHITUGA ARUS GAGGUA HUBUG SIGKAT FASA TUGGAL KE TAAH TERHADAP GEERATOR YAG TITIK ETRALYA DI BUMIKA DEGA TAHAA TIGGI PADA PLTU MUARA KARAG 4.1. UMUM Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mentransmisikan dan mendistribusikan tenaga listrik untuk dapat dimanfaatkan

BAB I PENDAHULUAN. mentransmisikan dan mendistribusikan tenaga listrik untuk dapat dimanfaatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu sistem tenaga listrik pada dasarnya untuk membangkitkan, mentransmisikan dan mendistribusikan tenaga listrik untuk dapat dimanfaatkan oleh para konsumen [1].

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Proteksi Sistem proteksi merupakan sistem pengaman yang terpasang pada sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga transmisi tenaga listrik dan generator listrik.

Lebih terperinci

2014 ANALISIS KOORDINASI SETTING OVER CURRENT RELAY

2014 ANALISIS KOORDINASI SETTING OVER CURRENT RELAY BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Alat proteksi pada STL (Sistem Tenaga Listrik) merupakan bagian yang penting di bidang ketenagalistrikan seperti pada PT. PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-Dasar Sistem Proteksi 1 Sistem proteksi adalah pengaman listrik pada sistem tenaga listrik yang terpasang pada : sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga, transmisi

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator, BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK II.1. Sistem Tenaga Listrik Struktur tenaga listrik atau sistem tenaga listrik sangat besar dan kompleks karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik

Lebih terperinci

BAB III PERALATAN LISTRIK PADA MOTOR CONTROL CENTER (MCC) WATER TREATMENT PLANT (WTP) 3

BAB III PERALATAN LISTRIK PADA MOTOR CONTROL CENTER (MCC) WATER TREATMENT PLANT (WTP) 3 BAB III PERALATAN LISTRIK PADA MOTOR CONTROL CENTER (MCC) WATER TREATMENT PLANT (WTP) 3 3.1 Sistem Proteksi Kelistrikan pada Motor Control Center (MCC) Sistem proteksi kelistrikan pada motor control center

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN KEBUTUHAN GENSET

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN KEBUTUHAN GENSET BAB IV ANALISA PERHITUNGAN KEBUTUHAN GENSET Dalam penulisan tugas akhir ini penulis menganalisa perhitungan kebutuhan genset pada gedung Graha Reformed Millenium Jakarta. Di batasi pada analisis perhitungan

Lebih terperinci

BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA

BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA 41 BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA 3.1 Pengamanan Terhadap Transformator Tenaga Sistem pengaman tenaga listrik merupakan sistem pengaman pada peralatan - peralatan yang terpasang pada sistem tenaga

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISIS STABILITAS TRANSIEN DAN PELEPASAN BEBAN DI PT. WILMAR NABATI GRESIK AKIBAT ADANYA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN FASE 2

TUGAS AKHIR ANALISIS STABILITAS TRANSIEN DAN PELEPASAN BEBAN DI PT. WILMAR NABATI GRESIK AKIBAT ADANYA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN FASE 2 TUGAS AKHIR ANALISIS STABILITAS TRANSIEN DAN PELEPASAN BEBAN DI PT. WILMAR NABATI GRESIK AKIBAT ADANYA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN FASE 2 WIJAYA KHISBULLOH -------2208100001-------- Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

BAB III KRONOLOGI & DAMPAK GANGGUAN

BAB III KRONOLOGI & DAMPAK GANGGUAN BAB III KRONOLOGI & DAMPAK GANGGUAN 3.1 Pendahuluan PLTU BANTEN 3 LONTAR memiliki system kelistrikan auxiliary untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan di system pembangit itu sendiri yang disebut PS(pemakaian

Lebih terperinci

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini menggunakan data plant 8 PT Indocement Tunggal

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini menggunakan data plant 8 PT Indocement Tunggal 4.1. Data yang Diperoleh BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini menggunakan data plant 8 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang telah dikumpulkan untuk menunjang dilakukannya perbaikan koordinasi

Lebih terperinci

BAB III BEBAN LISTRIK PT MAJU JAYA

BAB III BEBAN LISTRIK PT MAJU JAYA BAB III BEBAN LISTRIK PT MAJU JAYA 3.1 Sistem Kelistrikan Sejak tahun 1989 PT Maju Jaya melakukan kontrak pasokan listrik dari PLN sebesar 865 KVA dengan tegangan kerja 20 KV, 3 phasa. Seluruh sumber listrik

Lebih terperinci

Standby Power System (GENSET- Generating Set)

Standby Power System (GENSET- Generating Set) DTG1I1 Standby Power System (- Generating Set) By Dwi Andi Nurmantris 1. Rectifiers 2. Battery 3. Charge bus 4. Discharge bus 5. Primary Distribution systems 6. Secondary Distribution systems 7. Voltage

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Adapun tampilan Program ETAP Power Station sebagaimana tampak ada gambar berikut:

PENDAHULUAN. Adapun tampilan Program ETAP Power Station sebagaimana tampak ada gambar berikut: PENDAHULUAN Dalam perancangan dan analisis sebuah sistem tenaga listrik, sebuah software aplikasi sangat dibutuhkan untuk merepresentasikan kondisi real.hal ini dikarenakan sulitnya meng-uji coba suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat melalui jaringan distribusi. Jaringan distribusi merupakan bagian

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat melalui jaringan distribusi. Jaringan distribusi merupakan bagian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sistem Tenaga Listrik terdiri dari beberapa sub sistem, yaitu Pembangkitan, Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan distribusi.

Lebih terperinci

UTILITAS BANGUNAN. Tjahyani Busono

UTILITAS BANGUNAN. Tjahyani Busono UTILITAS BANGUNAN Tjahyani Busono UTILITAS BANGUNAN INSTALASI KELISTRIKAN DI BANDUNG TV STASIUN TELEVISI BANDUNG TV JL. SUMATERA NO. 19 BANDUNG SISTEM INSTALASI LISTRIK Sistim kekuatan / daya listrik Sistim

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan sebuah kesatuan interkoneksi. Komponen tersebut mempunyai fungsi

BAB I PENDAHULUAN. merupakan sebuah kesatuan interkoneksi. Komponen tersebut mempunyai fungsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem tenaga listrik merupakan sekumpulan pusat listrik dan gardu induk atau pusat beban yang satu sama lain dihubungkan oleh jaringan transmisi sehingga merupakan

Lebih terperinci

BAB II SALURAN DISTRIBUSI

BAB II SALURAN DISTRIBUSI BAB II SALURAN DISTRIBUSI 2.1 Umum Jaringan distribusi adalah salah satu bagian dari sistem penyaluran tenaga listrik dari pembangkit listrik ke konsumen. Secara umum, sistem penyaluran tenaga listrik

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK 3.1 Tahapan Perencanaan Instalasi Sistem Tenaga Listrik Tahapan dalam perencanaan instalasi sistem tenaga listrik pada sebuah bangunan kantor dibagi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Bab ini berisikan uraian seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung dari awal proses penelitian sampai akhir penelitian. Mulai Studi

Lebih terperinci

PENGGUNAAN RELAY DIFFERENSIAL. Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan

PENGGUNAAN RELAY DIFFERENSIAL. Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan PENGGUNAAN RELAY DIFFERENSIAL Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan kesimbangan (balance), yang membandingkan arus-arus sekunder transformator arus (CT) terpasang pada

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM PENGOPERASIAN GENERATOR SINKRONISASI

BAB IV SISTEM PENGOPERASIAN GENERATOR SINKRONISASI BAB IV SISTEM PENGOPERASIAN GENERATOR SINKRONISASI 4.1 Prinsip Kerja Sinkronisasi Genset di PT. ALTRAK 1978 Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet homogen, maka akan terinduksi

Lebih terperinci

BAB III ALAT PENGUKUR DAN PEMBATAS (APP)

BAB III ALAT PENGUKUR DAN PEMBATAS (APP) BAB III ALAT PENGUKUR DAN PEMBATAS (APP) 3.1 Alat Ukur Listrik Besaran listrik seperti arus, tegangan, daya dan lain sebagainya tidak dapat secara langsung kita tanggapi dengan panca indra kita. Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Listrik merupakan salah satu komoditi strategis dalam perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Listrik merupakan salah satu komoditi strategis dalam perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik merupakan salah satu komoditi strategis dalam perekonomian Indonesia, karena selain digunakan secara luas oleh masyarakat terutama untuk keperluan penerangan,

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Tujuan Melakukan analisis terhadap sistem pengaman tenaga listrik di PT.PLN (PERSERO) Melakukan evaluasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendukung di dalamnya masih tetap diperlukan suplai listrik sendiri-sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. pendukung di dalamnya masih tetap diperlukan suplai listrik sendiri-sendiri. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap) Suralaya mampu membangkitkan listrik berkapasitas 3400 MW dengan menggunakan tenaga uap. Tetapi perlu diketahui bahwa di dalam proses

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS RENCANA SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB III PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS RENCANA SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BAB III PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS RENCANA SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 3.1 TAHAP PERANCANGAN DISTRIBUSI KELISTRIKAN Tahapan dalam perancangan sistem distribusi kelistrikan di bangunan bertingkat

Lebih terperinci

Sistem Listrik Idustri

Sistem Listrik Idustri Skema Penyaluran Tenaga Listrik Sistem Listrik Idustri Oleh: Tugino, ST, MT Jurusan Teknik Elektro STTNAS Yogyakarta Tugino, ST MT STTNAS Yogyakarta 2 Sistem Listrik Industri Meliputi Generator Pembangkit

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Distribusi 1 Bagian dari sistem tenaga listrik yang paling dekat dengan pelanggan adalah sistem distribusi. Sistem distribusi adalah bagian sistem tenaga listrik yang

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Prinsip Umum Sinkronisasi Ganset di PT. ALTRAK 1978 3.1.1. Penjelasan Umum Sistem Kelistrikan Seiring laju perkembangan zaman dan teknilogi, maka pemenuhan akan kebutuhan sarana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Analisis penerapan Kontroler PID Pada AVR Untuk Menjaga Kestabilan Tegangan di PLTP Wayang Windu

BAB I PENDAHULUAN. Analisis penerapan Kontroler PID Pada AVR Untuk Menjaga Kestabilan Tegangan di PLTP Wayang Windu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Energi listrik merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi umat manusia. Tanpa energi listrik manusia akan mengalami kesulitan dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari.

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SIMULATOR PROTEKSI ARUS HUBUNG SINGKAT FASA KE TANAH PADA SISTEM DISTRIBUSI MENGGUNAKAN RELAI TIPE MCGG

RANCANG BANGUN SIMULATOR PROTEKSI ARUS HUBUNG SINGKAT FASA KE TANAH PADA SISTEM DISTRIBUSI MENGGUNAKAN RELAI TIPE MCGG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan distribusi. Oleh sebab itu jaringan distribusi merupakan bagian jaringan listrik yang paling dekat dengan masyarakat.

Lebih terperinci

BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 2.1 PENGERTIAN GANGGUAN DAN KLASIFIKASI GANGGUAN Gangguan adalah suatu ketidaknormalan (interferes) dalam sistem tenaga listrik yang mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB III. PERANCANGAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA (COS φ) DAN PERHITUNGAN KOMPENSASI DAYA REAKTIF

BAB III. PERANCANGAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA (COS φ) DAN PERHITUNGAN KOMPENSASI DAYA REAKTIF BAB III PERANCANGAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA (COS φ) DAN PERHITUNGAN KOMPENSASI DAYA REAKTIF 3.1. Perancangan Perbaikan Faktor Daya ( Power Factor Correction ) Seperti diuraikan pada bab terdahulu, Faktor

Lebih terperinci

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (Persero) BAB III TINJAUAN PUSTAKA. 3.1 Pengertian PMCB (Pole Mounted Circuit Breaker)

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (Persero) BAB III TINJAUAN PUSTAKA. 3.1 Pengertian PMCB (Pole Mounted Circuit Breaker) BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Pengertian PMCB (Pole Mounted Circuit Breaker) PMCB (Pole Mounted Circuit Breaker) adalah sistem pengaman pada Tiang Portal di Pelanggan Tegangan Menengah 20 kv yang dipasang

Lebih terperinci

BAB III. PRINSIP KERJA UPS dan PERMASALAHANNYA

BAB III. PRINSIP KERJA UPS dan PERMASALAHANNYA BAB III PRINSIP KERJA UPS dan PERMASALAHANNYA 3.1 Sejarah UPS UPS merupakan singkatan dari Uninterruptable Power Sistem atau sering juga disebut dengan Uninterruptable Power Supply, jika diterjemahkan

Lebih terperinci

KONDISI TRANSIENT 61

KONDISI TRANSIENT 61 KONDISI TRANSIENT 61 NAMEPLATE GENERATOR GENERATOR SET SALES MODEL RATING 1000 KVA 800 KW 0.8 COSΦ 50 HZ CONTINUOUS XXX PRIME STANDBY STANDBY GENERATOR DATA 3 PHASE 12 WIRE XXX WYE DELTA CONNECTION XXX

Lebih terperinci

BAB III PENGATURAN SISTEM

BAB III PENGATURAN SISTEM BAB III PENGATURAN SISTEM 3.1 Deskripsi Sistem Secara Umum Power plant pada salah satu Gedung JAATS (Jakarta Automated Air Traffic Services) memiliki dua unit genset diesel dengan kode DG.1 dan DG.2.Genset

Lebih terperinci

STUDI PERENCANAAN PENGGUNAAN PROTEKSI POWER BUS DI PT. LINDE INDONESIA GRESIK

STUDI PERENCANAAN PENGGUNAAN PROTEKSI POWER BUS DI PT. LINDE INDONESIA GRESIK STUDI PERENCANAAN PENGGUNAAN PROTEKSI POWER BUS DI PT. LINDE INDONESIA GRESIK Nama : Sandi Agusta Jiwantoro NRP : 2210105021 Pembimbing : 1. Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT. 2. Dr. Dedet Candra Riawan, ST.

Lebih terperinci

Analisis Kestabilan Transien Dan Mekanisme Pelepasan Beban Di PT. Pusri Akibat Penambahan Generator Dan Penambahan Beban

Analisis Kestabilan Transien Dan Mekanisme Pelepasan Beban Di PT. Pusri Akibat Penambahan Generator Dan Penambahan Beban JUNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-170 Analisis Kestabilan Transien Dan Mekanisme Pelepasan Beban Di PT. Pusri Akibat Penambahan Generator Dan Penambahan Beban Baghazta

Lebih terperinci

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Awalnya energi listrik dibangkitkan di pusat-pusat pembangkit listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTP dan PLTD dengan tegangan menengah 13-20 kv. Umumnya pusat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 24 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metodologi yang digunakan dalam penelitian Tugas Akhir Skripsi ini antara lain adalah sebagai berikut : a. Studi literatur, yaitu langkah pertaman yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Sistem proteksi adalah sistem yang memisahkan bagian sistem yang. b. Melepaskan bagian sistem yang terganggu (fault clearing)

BAB II DASAR TEORI. Sistem proteksi adalah sistem yang memisahkan bagian sistem yang. b. Melepaskan bagian sistem yang terganggu (fault clearing) BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Proteksi Panel Tegangan Menegah Sistem proteksi adalah sistem yang memisahkan bagian sistem yang terganggu sehingga bagian sistem lain dapat terus beroperasi dengan cara sebagai

Lebih terperinci

SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd.

SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd. SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd. Artikel Elektronika I. Sistem Distribusi Merupakan system listrik tenaga yang diawali dari sisi tegangan menengah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Obyek Penelitian Rumah akit Roemani emarang mendapatkan suplai daya listrik dari PLN dengan sistem tegangan tiga fasa melalui dua buah trafo, yang mempunyai saluran berbeda,

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun

Lebih terperinci

BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI

BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI 3.1 Umum Masalah pengasutan motor induksi yang umum menjadi perhatian adalah pada motor-motor induksi tiga phasa yang memiliki kapasitas yang besar. Pada waktu mengasut

Lebih terperinci

BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA UPS

BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA UPS BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA UPS 4.1 Perancangan UPS 4.1.1 Menghitung Kapasitas UPS Uninterruptible Power Supply merupakan sumber energi cadangan yang sangat penting bagi perusahaan yang bergerak di

Lebih terperinci

BAB III DASAR TEORI 3.1 Penjelasan Umum sistem Kelistrikan

BAB III DASAR TEORI 3.1 Penjelasan Umum sistem Kelistrikan BAB III DASAR TEORI 3.1 Penjelasan Umum sistem Kelistrikan Dengan perkembangan zaman dan teknologi sekarang ini, maka kebutuhan tentang kelistrikan menjadi suatu keharusan, salah satunya unsur menjadi

Lebih terperinci

GANGGUAN SISTEM DAPAT DISEBABKAN OLEH : KARENA KESALAHAN MANUSIA DARI DALAM / SISTEM ATAU DARI ALAT ITU SENDIRI DARI LUAR ALAM BINATANG

GANGGUAN SISTEM DAPAT DISEBABKAN OLEH : KARENA KESALAHAN MANUSIA DARI DALAM / SISTEM ATAU DARI ALAT ITU SENDIRI DARI LUAR ALAM BINATANG GANGGUAN SISTEM DAPAT DISEBABKAN OLEH : KARENA KESALAHAN MANUSIA DARI DALAM / SISTEM ATAU DARI ALAT ITU SENDIRI DARI LUAR ALAM BINATANG JENIS GANGGUAN 1. BEBAN LEBIH 2. HUBUNG SINGKAT 3. TEGANGAN LEBIH

Lebih terperinci

Simulasi dan Analisis Stabilitas Transien dan Pelepasan Beban pada Sistem Kelistrikan PT. Semen Indonesia Pabrik Aceh

Simulasi dan Analisis Stabilitas Transien dan Pelepasan Beban pada Sistem Kelistrikan PT. Semen Indonesia Pabrik Aceh B-468 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5 No. (016) ISSN: 337-3539 (301-971 Print) Simulasi dan Analisis Stabilitas Transien dan Pelepasan Beban pada Sistem Kelistrikan PT. Semen Indonesia Pabrik Aceh David Firdaus,

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Skema Sistem Tenaga Listrik (3)

Gambar 2.1 Skema Sistem Tenaga Listrik (3) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Umum Secara umum suatu sistem tenaga listrik terdiri dari tiga bagian utama, yaitu, pusat pembangkitan listrik, saluran transmisi dan sistem distribusi. Perlu dikemukakan

Lebih terperinci

dalam sistem sendirinya dan gangguan dari luar. Penyebab gangguan dari dalam

dalam sistem sendirinya dan gangguan dari luar. Penyebab gangguan dari dalam 6 Penyebab gangguan pada sistem distribusi dapat berasal dari gangguan dalam sistem sendirinya dan gangguan dari luar. Penyebab gangguan dari dalam antara lain: 1 Tegangan lebih dan arus tak normal 2.

Lebih terperinci

BAB IV PENGGUNAAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN TERHADAP PERBAIKAN TEGANGAN JARINGAN 20 KV. 4.1 Perhitungan Jatuh Tegangan di Jaringan 20 kv

BAB IV PENGGUNAAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN TERHADAP PERBAIKAN TEGANGAN JARINGAN 20 KV. 4.1 Perhitungan Jatuh Tegangan di Jaringan 20 kv 39 BAB IV PENGGUNAAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN TERHADAP PERBAIKAN TEGANGAN JARINGAN 20 KV 4.1 Perhitungan Jatuh Tegangan di Jaringan 20 kv persamaan 3.2 Untuk mencari jatuh tegangan di delapan penyulang

Lebih terperinci

Jurnal Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN :

Jurnal Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN : STUDI ANALISA PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN GROUND FAULT DETECTOR (GFD) PADA JARINGAN 20 KV PLN DISJAYA TANGERANG Badaruddin 1, Achmad Basofi 2 1,2 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan

Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan JURNAL DIMENSI TEKNIK ELEKTRO Vol. 1, No. 1, (2013) 37-42 37 Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Samuel Marco Gunawan, Julius Santosa Jurusan

Lebih terperinci

Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta

Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta - Circuit Breaker (CB) 1. MCB (Miniatur Circuit Breaker) 2. MCCB (Mold Case Circuit Breaker) 3. NFB (No Fuse Circuit Breaker) 4. ACB (Air Circuit Breaker) 5. OCB (Oil

Lebih terperinci