RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA"

Transkripsi

1 RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK NDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 22 ayat (4) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara perlu menetapkan Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kerugian Negera/Daerah terhadap Bendahara. : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Lembaran Negara Nomor 4355); 3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400); 5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 4654). Setelah Berkonsultasi dengan Pemerintah, MEMUTUSKAN, Menetapkan : PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Bendahara adalah setiap orang atau badan yang di beri tugas untuk dan atas nama negara/daerah, menerima, menyimpan, dan menbayar/ rnenyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang negara/ daerah. 2. Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah adalah tim, yang menangani penyelesaian kerugian negara/daerah yang diangkat oleh pimpinan instansi yang bersangkutan, selanjutnya disebut TPKN/D. 3. Piutang Negara/Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah Pusat/Daerah dan/atau hak Pemerintah Pusat/Daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku atau akibat lainnya yang sah. 4. Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. 5. Surat keterangan tanggung jawab mutlak adalah surat keterangan yang menyatakan kesanggupan dan/atau pengakuan, bahwa yang bersangkutan

2 bertanggung jawab atas kerugian negara/daerah yang terjadi dan bersedia mengganti kerugian negara/daerah dimaksud, selarjutnya disebut SKT JM. 6. Surat keputusan pembebanan sementara adalah surat keputusan yang dikeluarkan oleh menteri/ pimpinan lembaga/kepala badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota tentang pembebanan penggantian sementara atas kerugian negara/ daerah sebagai dasar untuk melaksanakan sita jaminan. 7. Surat keputusan penetapan batas waktu, adalah surat keputusan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan tentang pemberian kesempatan kepada bendahara untuk mengajukan keberatan atau pembelaan diri atas tuntutan penggantian kerugian negara/daerah, selanjutnya disebut SK-PBW. 8. Surat keputusan pencatatan adalah surat keputusan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan tentang proses penuntutan kasus kerugian negara/daerah untuk sementara tidak dapat dilanjutkan karena bendahara tidak diketahui keberadaannya dan tidak memiliki ahli waris. 9. Surat keputusan pembebanan adalah surat keputusan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang mempunyai kekuatan hukum tetap tentang pembebanan penggantian kerugian negara/ daerah terhadap bendahara. 10. Surat keputusan pembebasan adalah surat keputusan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan tentang pembebasan berdahara dari kewajiban untuk mengganti kerugian negara/ daerah karena tidak ada unsur perbuatan melawan hukum. 11. Perhitungan Ex-Officio adalah suatu perhitungan perbendaharaan yang dilakukan oleh atasan langsung bendaharawan, karena berdahara tidak membuat pertanggungjawaban atau bendahara meninggal dunia, melarikan diri, atau berada dalam pengampuan. BAB II RUANG LINGKUP, SUMBER INFORMASI, DAN PEMBERITAHUAN Pasal 2 Tata cara sebagaimana dimaksud dalam peraturan ini berlaku terhadap bendahara, baik Bendahara, Bendahara Umum Negara/Daerah, Bendahara Penerimaan, maupun Bendahara Pengeluaran. Pasal 3 Informasi tentang kerugian negara/daerah dapat diketahui dari : a. Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. b. Pengawasan aparat pengawasan fungsional. c. Pengawasan dan! atau pemberitahuan atasan langsung atau kepala kantor/satuan kerja. d. Perhitungan ex-officio. Pasal 4

3 (1) Atasan langsung atau kepala kantor/kepala satuan kerja perangkat daerah wajib melaporkan setiap kerugian negara/daerah kepada Menteri/pimpinan lembaga/kepala badan-badan lain/gubernur/bupati/ walikota dan dlberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan. (2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilengkapi sekurangkurangnya dengan dokumen Berita Acara Pemeriksaan Kas/Barang. (3) Bentuk dan isi surat pemberitahuan kepada Badan Pemeriksa Keuangan tentang kerugian negara/ daerah dibuat sesuai dengan Lampiran I. BAB III PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH DI DEPARTEMENI LEMBAGA/BADAN-BADAN LAIN PEMERINTAH DAERAH Bagian Kesatu Tim Penyelesain Kerugian Negara/Daerah Pasal 5 (1) Menteri/pimpinan lembaga/pimpinan badan-badan lain/gubernur/bupati/walikota wajib membentuk TPKN/D. (2) TPKN/D terdiri dari : a. Sekretaris Jenderal/ Kepala Kesekretariatan, Badan-badan lain/ Sekretaris Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota, sebagai ketua; b. Inspektur Jenderal/ Kepala Satuan Pengawasan Internal/Inspektur Propinsi/ Inspektur Kabupaten/ Inspektur Kota, sebagai wakil ketua; c. Kepala Biro/ Bagian Keuangan/Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah, sebagai sekretaris; d. Personil lain yang berasal dari unit kerja di bidang pengawasan, keuangan, kepegawaian, hukum, umum, sebagai anggota e. Sekretariat. (3) Kepala instansi vertikal di daerah dapat membentuk tim ad hoc untuk menyelesaikan kerugian negara/ daerah yang terjadi di daerahnya masing-masing. Pasal 6 (1) TPKN/D bertugas melakukan penelitian untuk mengetahui bahwa kerugian negara/daerah terjadi sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum baik sengaja ataupun lalai yang dilakukan bendahara, mencari atau melengkapi bukti, serta menindaklanjuti kerugian negara/daerah. (2) Dalam rangka melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), TPKN/D menyelenggarakan fungsi untuk : a. menginventarisir informasi kerugian negara/daerah yang diterima; b. menghitung jumlah kerugian negara/daerah; c. meneliti terhadap ada tidaknya unsur perbuatan melawan hukum yang dilakukan bendahara; d. mengumpulkan bukti-bukti pendukung bahwa bendahara telah melakukan perbuatan melawan hukum sehingga mengakibatkan terjadinya kerugian negara/daerah; e. menilai terhadap harta kekayaan milik bendarara untuk dijadikan sebagai jaminan penyelesaian kerugian negara/daerah;

4 f. menyelesaikan kerugian negara/daerah melalui SKTJM; g. memberikan pertimbangan kepada menteri/ pimpinan/ lembaga/ gubernur/ bupati/ walikota tentang kerugian negara/daerah sebagai bahan pengambilan keputusan dalam menetapkan pembebanan sementara; h. menatausahakan penyelesaian kerugian negara/daerah; i. menyampaikan laporan perkembangan penyelesaian kerugian negara/daerah kepada menteri/pimpinan lembaga/pimpinan badanbadan lain/ gubernur/ bupati/ walikota dengan tembusan kepada Badan Pemeriksa Keuangan. Bagian Kedua Penelitian Atas Kerugian Negara/Daerah oleh TPKN/D Pasal7 Menteri/pimpinan lembaga/pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota segera menugaskan TPKN/D untuk menindaklanjuti setiap informasi tentang kerugian negara/daerah selambat-iambatnya 7 (tujuh) hari sejak menerima laporan sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (1). Pasal 8 (1) TPKN/D melakukan penelitian atas dokumendokumen, antara lain sebagai berikut : a. Surat keputusan pengangkatan bendahara; b. berita acara pemeriksaan kas/barang; c. register penutupan kas/ barang; d. surat keterangan tentang sisa uang yang belum dipertanggungjawabkan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)/Pejabat Pengelala Keuangan Daerah (PPKD); e. surat keterangan bank tentang saldo kas di bank bersangkutan; f. fotokopi/ rekaman buku kas umum bulan yang bersangkutan yang memuat adanya kekurangan kas; g. surat tanda lapor dari kepolisian dalam hal kerugian negara/daerah mengandung indikasi tindak pidana; h. berita acara pemeriksaan tempat kejadian perkara dari kepolisian dalam hal kerugian negara/daerah terjadi karena pencurian atau perampokan. (2) TPKN/D mencatat kerugian negara/ daerah dalam daftar kerugian negara/daerah. Pasal 9 (1) Selama dalam proses penelitian, bendahara dibebastugaskan sementara dari jabatannya. (2) Penelitian dilakukan selama 30 hari. Bagian Ketiga Pelaksanaan SKT JM Pasal 10 (1) Dalam hal hasil penelitian menunjukkan bahwa kerugian Negara/Daerah disebabkan oleh adanya unsur perbuatan melawan hukum baik sengaja atau lalai, maka TPKN/D mengupayakan agar bendahara/pengampu yang memperoleh hak ahli waris bersedia membuat dan menandatangani SKT JM paling lambat 7 (tujuh) hari setelah diketahui adanya perbuatan melawan hukum.

5 (2) Dalam hal hasil penelitian menunjukkan bahwa ke lalaian Negara/Daerah bukan disebabkan oleh perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai, TPKN melaporkan kepada Badan Pemeriksa Keuangan untuk dilakukan evaluasi. Pasal 11 (1) Dalam hal bendahara/ pengampu/ yang mem peroleh hak/ ahli waris bersedia membuat SKTJM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris wajib menyerahkan dokumen kepada TPKN/D sebagai berikut: a. Daftar barang jaminan. b. Bukti kepemilikan barang atas nama bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris. c. Surat kuasa menjual dari bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris. (2) Barang atas nama bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, nilainya minimal sama dengan jumlah kerugian negara/daerah. (3) SKTJM yang telah ditandatangani oleh bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris tidak dapat ditarik kembali. (4) Surat kuasa menjual sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c berlaku setelah BPK mengeluarkan surat keputusan pembebanan (5) Bentuk dan isi SKTJM dibuat sesuai dengan Lampiran II. Pasal 12 (1) Penggantian kerugian negara/daerah dilakukan secara tunai selambat-iambatnya 40 (empat puluh) hari kerja sejak bendahara menandatangani SKTJM. (2) Dalam rangka pelaksanaan SKTJM, bendahara/ pengampu/yang memperoleh hak/ ahli waris dapat melakukan penjualan atas assetnya di bawah pengawasan TPKN/D. Pasal 13 Dalam hal penggantian kerugian negara/daerah dilakukan oleh pihak ketiga, maka dilakukan sebagaimana diatur pada Pasal 13. Pasal 14 (1) TPKN/D melaporkan hasil pelaksanaan SKTJM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 kepada menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak pelaksanaan SKTJM. (2) Menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota memberitahukan hasil pelaksanaan SKTJM sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak menerima laporan tim dilengkapi dengan dokumen sebagaimana dimaksud da/am Pasal 11 ayat (1).

6 Pasal 15 Dalam hal inforrnasi tentang kerugian negara/daerah diperoleh berdasarkan pemeriksaan BPK dan bendahara bersedia mengganti kerugian secara sukarela, maka bendahara membuat dan menandatangani SKTJM di hadapan BPK. Bagian Keempat Perhitungan Ex-Officio Pasal 16 (1) Apabila bendahara tidak dapat memberikan perhitungan karena berada dalam pengampuan, melarikan diri, meninggal duria dan/atau tidak membuat pertanggungjawaban, maka dibentuk atasan langsung bendaharawan segera melakukan perhitungan ex-officio. (2) Perhitungan ex-officio dilakukan dengan meneliti semua bukti, buku-buku dan pengujian kas/ persediaan dengan membuat berita acara pemeriksaan kas/ persediaan sehingga dapat ditetapkan saldo buku dan saldo kas/ saldo persediaan yang sesungguhnya. (3) Pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris dan bendahara dapat hadir untuk menyaksikan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan diberi kesempatan untuk melihat atau meneliti buku dan bukti-bukti. (4) Dalam hal hasil perhitungan ex-officio menunjukkan terdapat kerugian Negara/Daerah, berlaku ketentuan Pasal 4 sampai dengar Pasal 14 Peraturan ini. Bagian Kelima Laporan Hasil Penelitian TFKN/D Pasal 17 (1) TPKN/D menuangkan hasil penelitian ke dalam Laporar Hasil Pemeriksaan dan menyampaikannya kepada menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota selambat-iambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak dilakukan penelitian. (2) Menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota menyampaikan hasil penelitian TPKN/D sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sejak menerima laporan tim dilengkapi dengan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dan/ atau Pasal 11 ayat (1). Bagian Kelima Pembebanan Kerugian Negara/Daerah Sementara Pasal 18 (1) Dalam hal kerugian negara daerah terjadi akibat perbuatan melawan hukum namun bendahara/ pengampu yang memperoleh hak ahli waris tidak bersedia menandatangani SKTJM, TPKN/D melaporkan kepada menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota dan diberitahukan kepada BPK dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak bendahara/ pengampu yang memperoleh hak/ ahli waris tidak

7 bersedia menandatangani SKTJM. (2) Apabila bendaharal pengampul yang memperoleh hak/ ahli waris bersedia menandatangani SKTJM namun pelaksanaan SKTJM tidak menjamin penggantian kerugian negara/daerah, maka menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota segera rnengeluarkan surat keputusan pembebanan sementara. (3) Bentuk dan isi surat keputusan pembebanan sementara dibuat sesuai dengan Lampiran III. BAB IV PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/ DAERAH DI BPK Bagian Kesatu Pemeriksaan dan Penetapan Batas Waktu Oleh Badan Pemeriksa Keuangan Pasal 19 (1) Badan Pemeriksa Keuangan melakukan pemeriksaan atas kerugian negara/daerah yang dilaporkan oleh TPKN/D sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), Pasal 14 ayat (2), dan Pasal 18 ayat (1). (2) BPK melakukan pemeriksaan terhadap SKTJM yang telah ditandatangani oleh bendahara/pengampu yang memperoleh hak/ahli waris untuk memastikan bahwa nilai yang tercantum dalam SKTJM sudah tepat dan/atau pulih. Pasal 20 BPK mengeluarkan surat kepada menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota agar kerugian negara/daerah dikeluarkan dari daftar kerugian negaraldaerah apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, BPK berpendapat bahwa tidak terdapat melawan hukum atau pelaksanaan SKTJM sudah tepat. Pasal 21 (1) Badan Pemeriksa Keuangan segera mengeluarkari SK-PBW apabila: a. hasil penelitian TPKN/D menyatakan kekurangan kas/barang bukan merupakan akibat perbuatan melawan hukum namun hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan menyatakan sebaliknya; b. hasil penelitian TPKN/D menyatakan terdapat kerugian negara namun bendahara/pengampu/ yang memperoleh hal/ ahli waris tidak mengakui kesalahan/kelalaian. c. TPKN/D tidak melakukan penelitian sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1). (2) Surat keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) disampaikan kepada bendahara/pengempu/ yang memperoleh hak/ ahli waris melalui atasan langsung bendahara atau kepala kantor/satuan kerja dengan tembusan kepada menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota dengan tanda terima dari bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris atau aparat kelurahan/desa di Iingkungan tempat tinggal bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris.

8 (3) Tanda terima dari bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris atau aparat kelurahan/ desa di lingkungan tempat tinggal bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris disampaikan kepada Badan Pemeriksa Keuangan oleh atasan langsung atau kepala kantor/ satuan kerja selambat-iambatnya 3 (tiga) hari kerja sejak surat keputusan penetapan batas waktu diterima bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris. (4) Bentuk dan isi SK-PBW dibuat sesuai dengan Lampiran IV Bagian Ketiga Upaya Keberatan Pasal 22 (1) Bendaharal pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris dapat mengajukan keberatan kepada Badan Pemeriksa Keuangan dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima SK-PBW. (2) Bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris hanya dapat mengajukan keberatan mengenai ada tidaknya kesalahan oleh akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Pasal 23 Badan Pemeriksa Keuangan mempertimbangkan keberaan dari bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Bagian Keempat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Pasal 24 (1) Badan Pemeriksa Keuangan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan dalam hal: a. Jangka waktu untuk mengajukan keberatan telah lampau dan bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris tidak mengajukan keberatan; atau b. bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris mengajukan keberatan tetapi ditolak; atau c. nilai yang dinyatakan dalam SKTJM yang telah dilunasi, tidak sama dengan hasil pemeriksaan BPK; atau d. telah melampaui jangka waktu 40 hari sejak ditandatangani SKTJM namun kerugian negara/ daerah belum dibayar sepenuhnya. (2) Nilai kerugian negara/daerah yang dapat dibebankan kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris terbatas pada kekayaan yang dikelola atau diperolehnya, yang berasal dari bendahara. (3) Bentuk dan isi surat keputusan pembebanan dibuat sesuai dengan Lampiran VI. Pasal 25 (1) Dalam hal bendahara tidak diketahui keberadaannya dan tidak ada keluarga yang berhak atas waris tidak bersedia betanggung jawab, Badan Pemeriksa Keuangan mengeluarkan surat keputusan pencatatan.

9 (2) Bentuk dan isi surat keputusan pencatatan dibuat sesuai dengan Lampiran VII. Pasal 26 (1) Surat Keputusan Pembebanan disampaikan kepada bendahara/pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris melalui atasan langsung bendahara atau kepala kantor/ satuan kerja bendahara dengan tembusan kepada menteri/pimpinan lembaga/ gubernur/ bupati/ walikota dan pimpinan badan lain yang bersangkutan dengan tanda terima dari bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris. (2) Surat Keputusan Pembebanan sebagaimana dimaksudl pada ayat (1) telah mempunyai kekuatan hukum yang bersifat final. Pasal 27 Apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun telah lampau sejak mengajukan keberatan dan tidak dikeluarkan putusan atas keberatan yang diajukan bendahara/pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris, Badan Pemeriksa Keuanga, dianggap menerima keberatan tersebut. Pasal 28 (1) Badan Pemeriksa Keuangan segera mengeluarkan surat keputusan pembebasan, apabila menerima keberatan yang diajukan oler bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ ahli waris. (2) Bentuk dan isi surat keputusan pembebasan dibuat sesuai dengan Lampiran VII. BAB V PELAKSANAAN SURAT KEPUTUSAN Bagian Kesatu Pelaksanaan Surat Keputusan Pembebanan Sementara Pasal 29 (1) Surat keputusan pembebanan sementara mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan. (2) Pelaksanaan sita jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh instansi yang bersangkutan kepada instansi yang berwenang melakukan penyitaan dan selambat-iambatnya 7 (tujuh) hari setelah diterbitkannya surat keputusan pembebanan sementara. (3) Pelaksanaan surat keputusan pembebanan sementara diatur lebih lanjut oleh masing-masing departemen/ lembaga/ badan-badan lain/ daerah dengan instansi yang berwenang melakukan penyitaan. Bagian Kedua Pelaksanaan Surat Keputusan Pembebanan Pasal 30 (1) Surat keputusan pembebanan mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan penjualan lelang. (2) instansi yang bersangkutan selambat-iambatnya 7 (tujuh) hari setelah diterimanya surat keputusan pembebanan, mengajukan permintaan kepada

10 instansi yang berwenang untuk melakukan penyitaan dan penjualan lelang. (3) Pelaksanaan penjualan lelang diatur lebih lanjut oleh masing-masing departemen/ lembaga/ badanbadan lain/ daerah dengan instansi yang berwenang melakukan penyitaan dan pejualan lelang. Pasal 31 Surat keputusan pembebanan memiliki hak mendahului. Pasal 32 (1) Bendaharal pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris dapat melakukan pembayaran tunai ke kas negaraldaerah. (2) Dalam hal bendahara/ pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris telah melunasi kerugian negara, maka aset yang telah disita di kembalikan kepada yang bersangkutan. (3) Selama proses pelelangan dilaksanakan, dilakukan pemotongan penghasilan sebesar 50% dari penghasilan. Pasal 33 (1) Apabila bendahara/pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak memiliki aset untuk dijual atau penjualan aset tidak mencukupi untuk pelunasan kerugian negara, maka pimpinan instansi yang bersangkutan mengupayakan pengembalian kerugian negara/daerah melalui pemotongan gaji/ penghsilan/taspen /pensiun. (2) Jumlah gaji /penghasilan /pensiun dipotong dengan menperhatikan kepentingan pemulihan kerugian negara/daerah minimal 50%. Pasal 34 Apabila kerugian negara telah dilunasi sepenuhnya, bukti setor disampaikan ke BPK. Pasal 35 (1) Dalam hal nilai penggantian kerugian negara/daerah berdasarkan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap berbeda dengan nilai kerugian negara dalam surat keputusan penbebanan, maka bendahara/pengampu/ penjamin/yang memperoleh hak/ahli waris wajib mengembalikan kerugian negara/daerah sebesar nilai yang tercantum dalam surat keputusan pembebanan. (2) Apabila sudah dilakukan eksekusi atas putusan pengadilan untuk penggantian kerugian negara/ daerah dengan cara disetorkan ke kas negaral daerah, pelaksanaan surat keputusan pembebanan diperhitungkan sesuai dengan nilai penggantian yang sudah disetorkan ke kas negara. Pasal 36 Kerugian negara/daerah atas tanggung jawab bendahara yang tidak dapat ditagih/dapat dihapuskan karena: a. Tagihan telah kadaluwarsa; b. Bendahara meninggal dunia tidak meninggalkan harta benda dan tidak ada ahli waris maupun penjamin.

11 BAB VI LAPORAN PELAKSANAAN SURAT KEPUTUSAN PEMBEBANAN Pasal 37 (1) Menteri/ pimpinan lembaga/ pimpinan badan-badan lain/ gubernur/ bupati/ walikota menyampaikan laporan kepada Badan Pemeriksa Keuangan tentang pelaksanaan surat keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dan Pasal 29. (Sesuaikan dengan pasal setelah koreksi) (2) Bentuk dan isi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat dalam Lampiran VIII BAB VII KADALUWARSA Pasal 38 (1) Kewajiban bendahara untuk membayar ganti rugi menjadi kadaluarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian negara/daerah atau dalam waklu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian negara/daerah tidak dilakukan penuntutan ganti rugi; (2) Tanggung jawab ahli waris, pengampu atau pihak lainnya yang memperoleh hak dari bendahara menjadi hapus apabila tiga tahun telah lewat sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan kepada bendahara, atau sejak bendahara dikelahui me/arikan diri atau meninggal dunia tidak diberitahukan oleh pejabat yang berwenang tentang kerugian negara/daerah. BAB VIII SANKSI Pasal 39 (1) Bendahara yang telah ditetapkan unluk mengganti kerugian negara/daerah dapat dikenakan sanksi administratif danlatau sanksi pidana. (2) Atasan langsung alau kepala kantor/satuan kerja yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), Pasal 10 ayat (2), dan Pasal 36 ayat (1) dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. (cek pasal setelah koreksi). BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 40 Putusan hakim yang menjatuhkan hukuman terhadap seorang bendahara yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dapat dijadikan bukti tentang perbuatan melawan hukum dalam proses tuntutan penggantian kerugian Negara/Daerah. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 (1) Sejak ditetapkannya peraturan ini, kementerian/ Iembaga/ badan-badan lain/ pemerintah daerah membentuk Tim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) selambat-iambatnya 3 (tiga) bulan

12 sejak ditetapkannya peraturan ini. (2) Selama belum terbentuknya Tim, penelitian atas kerugian negara/daerah dilaksanakan oleh tim/ satuan kerja/ Majelis Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi/ Badan Pengawasan Propinsi, Kabupaten/Kota yang sudah ada dengan berpedoman pada tata cara yang diatur dalam peraturan ini. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 42 Pada saat peraturan ini mulai berlaku, semua peraturan pelaksanaan dari ICW mengenai tata cara penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara dinyatakan tidak berlaku. Pasal 43 Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 759 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa ketentuan yang mengatur

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41 / HUK / 2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41 / HUK / 2010 TENTANG PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41 / HUK / 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. bahwa kekayaan daerah adalah

Lebih terperinci

KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG

KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG SALINAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NASIONAL

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PUSAT STATISTIK PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN BADAN PUSAT STATISTIK KEPALA BADAN PUSAT

Lebih terperinci

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 07 TAHUN 2012 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI,

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH KEPUTUSAN DPRD KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 26 TAHUN 2014 T E N T A N G

PROVINSI JAWA TENGAH KEPUTUSAN DPRD KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 26 TAHUN 2014 T E N T A N G Salinan PROVINSI JAWA TENGAH KEPUTUSAN DPRD KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 26 TAHUN 2014 T E N T A N G PERSETUJUAN ATAS RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.05/MEN/2011

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.05/MEN/2011 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.05/MEN/2011 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.923, 2013 KEMENTERIAN LUAR NEGERI. Keuangan Negara. Tim Penyelesaian Kerugian Negara. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 Tahun 2013

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang : a. b. c. d. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG MEKANISME KERJA TIM PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN SEKRETARIS JENDERAL

Lebih terperinci

Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Kerugian Negara Di Lingkungan Kementerian Kesehatan

Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Kerugian Negara Di Lingkungan Kementerian Kesehatan a b MENTERI KESEHATAN KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunianya, maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 60 Tahun 2014 Tentang

Lebih terperinci

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.414, 2012 KOMISI PEMILIHAN UMUM. Tata Cara. Penyelesaian. Kerugian Negara. PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN

Lebih terperinci

WALIKOTA PEKALONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN,

WALIKOTA PEKALONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, WALIKOTA PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN,

Lebih terperinci

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KOTA BANJARMASIN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

- 1 - KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

- 1 - KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA - 1 - SALINAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENETAPAN KERUGIAN NEGARA DAN MEKANISME TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN BPK RI. Susriboy ITTAMA SETJEN DPR RI

PELAKSANAAN PENETAPAN KERUGIAN NEGARA DAN MEKANISME TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN BPK RI. Susriboy ITTAMA SETJEN DPR RI PELAKSANAAN PENETAPAN KERUGIAN NEGARA DAN MEKANISME TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN BPK RI Susriboy ITTAMA SETJEN DPR RI PEMAHAMAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH DALAM RANAH HUKUM ADMINISTRASI KERUGIAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN PUSAT STATISTIK

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN PUSAT STATISTIK KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP PEGAWAI NEGERI BUKAN BENDAHARA ATAU PEJABAT LAIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran penyelesaian

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa pengelolaan keuangan dan barang

Lebih terperinci

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BAGIAN ANGGARAN 007 (SEKRETARIAT NEGARA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1208, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH AGUNG. Kerugian Negara. MA. Badan Peradilan. Penyelesaian. PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL 1 BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN,

KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR:PER- 433/K/SU/2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA Dl LINGKUNGAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA ATAS BARANG MILIK

Lebih terperinci

DAFTAR KERUGIAN NEGARA. Jumlah Kerugian Negara (Rp)

DAFTAR KERUGIAN NEGARA. Jumlah Kerugian Negara (Rp) Contoh Format 1 DAFTAR KERUGIAN NEGARA TRIWULAN TAHUN KANTOR : : : No Nama Pelaku No./Tgl/ SKTJM/ SK Pembebanan Sementara /SK Pembebanan Uraian Kasus/ Tahun Kejadian Jumlah Kerugian Negara (Rp) Jml.Pembayaran

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NO : 14 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUIT 2o1o TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NtrGARA DI I,INGKUNGAN BADAN PERTANAHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.11/Menhut-II/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.11/Menhut-II/2012 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.11/Menhut-II/2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.10/Menhut-II/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.10/Menhut-II/2013 TENTANG 1 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.10/Menhut-II/2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP PEGAWAI NEGERI BUKAN BENDAHARA DAN PIHAK KETIGA DI

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 213/PMK.01/2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 213/PMK.01/2014 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 213/PMK.01/2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 508/KMK.01/1999 TENTANG PETUNJUK

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BOGOR WALIKOTA BOGOR

BERITA DAERAH KOTA BOGOR WALIKOTA BOGOR BERITA DAERAH KOTA BOGOR WALIKOTA BOGOR PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 35 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI BARANG DAERAH PEMERINTAH KOTA BOGOR DENGAN

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara untuk mewujudkan tujuan bernegara menimbulkan

Lebih terperinci

BUPATI LOMBOK UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI LOMBOK UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI LOMBOK UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN bahwa dalam rangka menciptakan transparansi, meningkatkan pengawasan penggunaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN: Sekretariat Jenderal Bawaslu sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kesatu, digunakan dalam pelaksanaan Pengawasan dan evaluasi pada;

-2- MEMUTUSKAN: Sekretariat Jenderal Bawaslu sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kesatu, digunakan dalam pelaksanaan Pengawasan dan evaluasi pada; -2- Terhadap Bendahara; dan 9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PI\/lK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara. MEMUTUSKAN:

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Klik Dicabut dgn Perda 24 Tahun 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang :

Lebih terperinci

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA GANTI RUGI BARANG DAERAH PROVINSI BANTEN

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA GANTI RUGI BARANG DAERAH PROVINSI BANTEN Menimbang GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA GANTI RUGI BARANG DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH S A L I N A N NOMOR 7/E, 2008 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara

Lebih terperinci

CONTOH SURAT LAPORAN KOP BNN

CONTOH SURAT LAPORAN KOP BNN 2012, No.1348 40 LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA CONTOH SURAT LAPORAN KOP BNN Nomor : B/ /.../.../BNN Jakarta,......... 20... Sifat : Segera Lampiran: 1 (satu) berkas Hal : Laporan Indikasi Kerugian Negara.

Lebih terperinci

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN

Lebih terperinci

Contoh Surat Laporan Kehilangan kepada Sekretaris Mahkamah Agung RI Selaku Ketua TIM TPKN KOP SURAT PENGADILAN

Contoh Surat Laporan Kehilangan kepada Sekretaris Mahkamah Agung RI Selaku Ketua TIM TPKN KOP SURAT PENGADILAN 25 LAMPIRAN I Contoh Surat Laporan Kehilangan kepada Sekretaris Mahkamah Agung RI Selaku Ketua TIM TPKN Nomor :..., 20 Sifat : Lampiran : Hal : Yth. Sekretaris Mahkamah Agung RI Selaku Ketua Tim Penyelesaian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG SALIN AN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

dan atas nama negara/daerah, menerima, menyimpan dan membayar/menyerahkan uang atau surat berharga atau barangbarang

dan atas nama negara/daerah, menerima, menyimpan dan membayar/menyerahkan uang atau surat berharga atau barangbarang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG, PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG, Menimbang Mengingat : : bahwa untuk menindaklanjuti

Lebih terperinci

CONTOH - CONTOH FORMAT

CONTOH - CONTOH FORMAT LAMPIRAN II PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 07 TAHUN 2012 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI,

Lebih terperinci

-1- PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG,

-1- PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, -1- PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 144

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 10 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK RESTORAN

LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 10 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK RESTORAN LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 10 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SUNGAI PENUH, Menimbang :

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKALAN

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKALAN PEMERINTAH KABUPATEN BANGKALAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKALAN NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKALAN, Menimbang : a. bahwa dengan semakin

Lebih terperinci

2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia

2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2015 KEMENHUB. Pengawasan. Pengendalian. Barang Milik Negara. Tata Cara Tetap. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 1 TAHUN 2015 TENTANG TATA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG Menimbang : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI PERPANJANGAN IZIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI PERPANJANGAN IZIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI PERPANJANGAN IZIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU,

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU, PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU, Menimbang a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas, nyata

Lebih terperinci

Barang dengan sisa barang yang sesungguhnya terdapat di dalam gudang atau tempat lain yang ditunjuk; h. Kerugian Daerah adalah berkurangnya kekayaan

Barang dengan sisa barang yang sesungguhnya terdapat di dalam gudang atau tempat lain yang ditunjuk; h. Kerugian Daerah adalah berkurangnya kekayaan PERATURAN BUPATI ACEH UTARA NOMOR 26 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KABUPATEN ACEH UTARA Menimbang Mengingat BUPATI ACEH UTARA,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA. Nomor : 11 Tahun : 2010 Seri : B Nomor : 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA NOMOR 11 TAHUN 2010

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA. Nomor : 11 Tahun : 2010 Seri : B Nomor : 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA NOMOR 11 TAHUN 2010 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA Nomor : 11 Tahun : 2010 Seri : B Nomor : 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA www.legalitas.org PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

P E R A T U R A N D A E R A H

P E R A T U R A N D A E R A H P E R A T U R A N D A E R A H KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Menimbang : a. NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI SELATAN, bahwa berdasarkan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 1997 TENTANG PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

a PEMERINTAH KOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

a PEMERINTAH KOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN a PEMERINTAH KOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU,

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU, PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU, Menimbang a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas, nyata

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 139 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

Tata cara Penyelesaian TGR BMN di Lingkungan SetJen DPR RI. Mas Boy Susri ITTAMA- Sekretariat Jenderal DPR RI

Tata cara Penyelesaian TGR BMN di Lingkungan SetJen DPR RI. Mas Boy Susri ITTAMA- Sekretariat Jenderal DPR RI Tata cara Penyelesaian TGR BMN di Lingkungan SetJen DPR RI Mas Boy Susri ITTAMA- Sekretariat Jenderal DPR RI 1 Dasar Hukum Tuntutan Ganti Rugi UU.No.17 Tahun 2003 Pasal.35 ayat (1).Setiap Pejabat negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 89 2001 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 27 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK TELEVISI DENGAN MENGHARAP BERKAT DAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WATA ALLA BUPATI GARUT,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 88 2001 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 26 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DAN SEJENISNYA DENGAN MENGHARAP BERKAT DAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES Nomor : 6 Tahun : 2010 Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan urusan bidang kelautan dan perikanan khususnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) berdasarkan Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang : a. bahwa Pajak Penerangan Jalan sebagaimana diatur

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT PENGINAPAN/PESANGGRAHAN/ VILLA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT PENGINAPAN/PESANGGRAHAN/ VILLA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT PENGINAPAN/PESANGGRAHAN/ VILLA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 87 2001 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 25 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN MENGHARAP BERKAT DAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WATA ALLA BUPATI GARUT,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI UTARA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI UTARA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI UTARA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 28

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN,

KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR: PER- 434 /K/SU/2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA BUKAN KEKURANGAN PERBENDAHARAAN DI LINGKUNGAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN PEKERJAAN UMUM

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN PEKERJAAN UMUM PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 119 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci