BAB II KAJIAN TEORITIS. Menurut Muhajir dan Jaja (2011:61) Bahwa Daya Tahan cardiovaskuler adalah

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN TEORITIS. Menurut Muhajir dan Jaja (2011:61) Bahwa Daya Tahan cardiovaskuler adalah"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN TEORITIS 1.1 Hakekat Daya Tahan Cardiovaskuler Menurut Muhajir dan Jaja (2011:61) Bahwa Daya Tahan cardiovaskuler adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu yang relatif lama. Istliah lainnya sering digunakan ialah respiratori-cardio-vaskulatoir-endurance, yaitu daya tahan yang berhubungan dengan pernafasan jantung, dan peredaran darah. Oleh karena itu, bentuk latihan untuk meningkatkan daya tahan pernafasan-jantung-perdaran darah ini disebut ergosistem sekunder yang dilatih melalui peningkatan ergosistem primer (sistem saraf-otot dan tulang kerangka. Latihan yang yang dapat meningkatkan dan mengembangkan daya tahan jantung dan paru-paru banyak jenisnya, antara lain: lari jarak jauh, renang jarak jauh, croos-country running atau lari lintas alam, fartlek, interval training atau bentuk latihan apapun yang memaksa tubuh unutk bekerja dala waktu yang lama (lebih dari 6 menit). Interval training adalah suatu sistem latihan yang diselingi dengan masa istrahat. Interval training adalah bentuk latihan yang penting dimasukkan dalam program latihan keseluruhan. Bentuk latihan dalam interval training dapat berupa lari (interval running) atau renang (interval swimming). Menurut Moeloek dalam Ruslan (2010:35) bahwa daya tahan menyatakan keadaan yang menekan pada kapasitas melakukan kerja secara terus-menerus dalam suasanan aerobik. Daya tahan adalah kemampuan untuk bekerja, berlatih dalam waktu 7

2 yang lama. Atlet yang memiliki daya tahan yang baik adalah atlet yang dapat berlatih dalam waktu relative singkat, kondisinya telah kembali seperti sebelum latihan. Menurut Engkos Koasih dalam Indrayana (2012:4) Daya Tahan adalah Keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja dalam waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut. Fox dan Mathews dalam Indrayana (2012:4) mengemukakan bahwa Daya Tahan merupakan faktor yang menentukan prestasi olahraga. Sedangkan Harsono dalam Indrayana (2012:4) mengatakan bahwa daya tahan merupakan keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja dalam waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan pekerjaan. Menurut Annarino dalam Indrayana (2012:4) Daya Tahan adalah Hasil kemampuan faal individu untuk memelihara gerakan dalam suatu kurun waktu. Kemampuan fisiologis individu adalah kemampuan adaptasi dari organorgan tubuh seperti otot, jantung dan paruparu terhadap suatu aktifitas dalam kurun waktu tertentu. Daya tahan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Daya tahan umum (General Endurance), dikenal sebagai daya jantung dan paru atau daya tahan aerobic, yang melibatkan aktifitas otot-otot yang luas, serta diarahkan daya tahan jantung dan pernafasan, 2) Daya tahan khusus (Specifik Endurance) dikenal sebagai daya tahan otot atau daya tahan anaerobok. Daya tahan anaerobok sebagai kemampuan untuk mempertahankan kontraksi otot dengan pemberian energi melalui mekanisme anaerobic. Fox et al dalam Indrayana (2012:4). Jadi setiap latihan olahraga yang 8

3 dilakukan secara teratur dan sistematis dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan daya tahan cardiovaskuler. Hal ini menyatakan bahwasanya atlet sepak bola harus memiliki daya tahan cardiovaskuler yang baik agar bertanding dengan maksimal dan mendapatkan gelar juara Cardiovaskuler (Jantung) Organ tubuh yang memiliki peranan penting salah satunya adalah jantung yang terletak pada rongga dada dengan posisi 1/3 berada disebelah kanan dan 2/3 berada disebelah kiri, baik tidaknya suatu daya tahan seseorang pertama-tama akan selalu dilihat dari jantung, paru dan lainnya. Bahkan kondisi jantung tersebut biasanya dijadikan sebagai tolak ukur akan keadaan kondisi fisik seseorang. Oleh karena itu organ jantung, fungsi dan hal-hal yang dapat mempengaruhinya akan selalu dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Begitu juga halnya dengan kegiatan aktivitas olah raga, akan banyak mempengaruhi terhadap struktur jantung dan fungsi jantung itu sendiri. Williams dkk dalam Indrayana (2012:4) Jantung pada dasarnya berfungsi sebagai pompa, curah jantung (Cardiacout put), redistri busi darah. Jantung sebagai pompa adalah memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan sel dan jaringan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup sel (homeostatis). Juga dikenal adanya hukum straling (hukum renggangan) isi vertikelnya, yaitu jumlah dara yang masuk dengan yang dipompa keluar adalah sama. Makin besar kontraksinya, makin besar jumlah darah yang masuk. Hal ini bisa juga disebut sebagai hukum pre load Daya tahan umum dikembangkan dengan latihan intensitas tinggi dan waktu latihan lama 9

4 yang melibatkan jantung, pembuluh darah, dan paru-paru. Dalam hal ini latihan memberi tekanan pada jantung, peredaran darah, dan pernafasan. ketahanan Cardisvaskeler mengacu kepada kemampuan melakukan kegiatan berintensitas sedang keseluruh tubuh dan sebagian besar otot untuk periode waktu yang paling panjang. Menurut Sajoto dalam Indrayana (2012:5) Daya Tahan umum atau cardiorespiratory endurance adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, pernafasan dan peredaran darahnya, secara efektif dalam menjalankan kerja terus menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah otot-otot besar, dengan intensitas tinggi dengan waktu yang cukup lama. Daya tahan Cardiovaskuler-respiratory atau daya tahan jantung paru Menurut Harsini dalam Indrayana (2012:5) adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja untuk waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan perkerjaan tersebut. Oleh karena batasan daya tahan adalah seperti yang diuraikan di atas, yakni kemampuan untuk bekerja atau berlatih dalam waktu yang lama. Maka latihan untuk mengembangkan komponen daya tahan haruslah sesuai dengan batasan batasan tersebut, yaitu bahwa latihan-latihan yang dipilih haruslah berlangsung lama, misalnya lari jarak jauh, renang jarak jauh, cross country atau lari lintas alam, fartlek, interval training, atau bentuk latihan apapun yang memaksa tubuh kita untuk bekerja untuk waktu yang lama. Dari kutipan diatas dapat diambil suatu gambaran bahwa banyak bentuk latihan yang dapat digunakan untuk 10

5 meningkatkan daya tahan Cardiovaskuler, dan perinsipnya adalah latihan-latihan yang dipilih haruslah dapat berlangsung lama VO 2 Max VO 2 Max adalah ukuran volume maksimum oksigen yang atlet dapat menggunakannya. Hal ini diukur dalam mililiter per kilogram berat badan per menit (ml/kg/menit). VO 2 max (maksimal konsumsi oksigen juga, pengambilan oksigen maksimal, puncak serapan oksigen atau kapasitas aerobik) adalah kapasitas maksimum individu tubuh untuk transportasi dan penggunaan oksigen selama latihan tambahan, yang mencerminkan kesegaran jasmani individu. Nama ini berasal dari V (volume per waktu), O 2 (oksigen), max (maksimum). VO 2 max dinyatakan baik sebagai tingkat mutlak dalam liter oksigen per menit (l/min) atau sebagai tingkat relatif dalam mililiter oksigen per kilogram dari berat badan per menit (ml/kg/menit), ekspresi yang terakhir ini sering digunakan untuk membandingkan kinerja atlet olahraga daya tahan. a. Mengukur VO 2 Max Secara akurat mengukur VO 2 max melibatkan upaya fisik yang cukup dalam durasi dan intensitas untuk sepenuhnya pajak sistem energi aerobik. Dalam uji klinis dan atletis umum, hal ini biasanya melibatkan latihan tes dinilai (baik pada treadmill atau pada siklus ergometer) di mana intensitas latihan semakin meningkat sementara mengukur ventilasi dan oksigen dan karbon dioksida dari konsentrasi dihirup dan dihembuskan udara. VO 2 max tercapai ketika konsumsi oksigen tetap pada kondisi mapan meskipun peningkatan beban kerja. VO 2 max didefinisikan oleh persamaan Fick 11

6 : Ketika nilai-nilai ini diperoleh selama pengusahaan di sebuah upaya maksimal. Seorang profesor dari latihan dan ilmu olahraga di Universitas Cape Town, menggambarkan sejumlah variabel yang mempengaruhi VO 2 max, antara lain : 1) Umur 2) Jenis kelamin 3) Kebugaran dan pelatihan 4) Perubahan ketinggian 5) Tindakan otot-otot ventilasi Ada berbagai faktor fisiologis untuk menentukan VO2 max : 1) Pemanfaatan Teori (VO 2 max ditentukan oleh kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen yang tersedia). 2) Presentasi Teori (kemampuan sistem kardiovaskular tubuh untuk memberikan oksigen ke jaringan aktif). b. Evaluasi tes VO 2 Max VO 2 max dapat dilakukan dengan menggunakan bleep test Menegpora dalam Yanuar (2013: 3). 1.2 Daya Tahan Cardoivaskuler Sebagai Komponen Kondisi Fisik Bagi Atlet Sepak Bola 12

7 Menurut Jaja Dan Eli (2010:38-39) bahwa Komponen Daya Tahan Cardoivaskuler sepak bola bagi atlet daya tahan atau endurance adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas dalam waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan. daya tahan di bagi menjadi dua, yaitu daya tahan otot dan daya tahan jantung dan paru-paru. 1. Daya tahan otot Daya tahan otot atau muscle endurance adalah kemampuan sekelompok otot yang melakukan kontraksi secara berulang dan dalam waktu yang lama. Sebagai contoh, yaitu latihan push up dan shit up. 2. Daya tahan jantung dan paru- paru Daya tahan jantung dan paru-paru atau cardiovaskuler andurance adalah daya tahan yang berhubungan dengan kemampuan peredaran darah, pernafasan, dan kerja jantung. Latihan ini biasanya dilakukan dalam waktu dan jarak yang cukup jauh. Sebagai contoh aktivitas yang dilakukan yaitu fartlek dan interval training. a. Fartlek adalah suatu sistem latihan yang dilakukan didalam bebas dengan medan yang bervariasi. Tujuannya untuk membangun, mengembalikan, atau memelihara kondisi tubuh. b. Interval Training adalah sistem latihan yang diselingi masa-masa istirahat. Misalnya dapat diterapkan dalam olahraga lari atau renang dalam jarak tertentu. Kemudian setiap interval selalu diselingi masa istrahat beberapa saat. 13

8 Adapun komponen-komponen kondisi fisik menurut Sajoto dalam Deny, (2012: 4) yaitu terdiri dari kekuatan, daya tahan, daya ledak otot, kecepatan, kelentukan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, ketepatan, dan reaksi. Menurut Nossek dalam Satrio (2013:2) bahwa Kondisi fisik dalam olahraga didefinisikan sebagai the performance capacity of a sportman Yakni kemampuan seseorang olahragawan untuk melakukan kegiatan olahraga. Untuk mendapatkan hasil kondisi fisik yang baik tentunya dipengaruhi oleh beberapa unsur-unsur dari kondisi fisik itu sendiri, dimana dari setiap unsur akan saling berkaitan guna mendapat kondisi fisik yang maksimal. Adapun unsur-unsur yang merupakan kualitas fisik (physical quality) yang menentukan dalam kegiatan olahraga pada umumnya terdiri atas: (1) Speed (kecepatan), (2) Strength (kekuatan), (3) Endurance (daya tahan), (4) Flexibility ( kelentukan ) dan,(5) Agility ( kelincahan ). Di dalam sepakbola adanya keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya sangatlah penting artinya bahwa untuk dapat bermain sepakbola dengan baik seseorang harus menguasai faktor fisik disamping juga keterampilan dasar serta teknik bermain sepak bola yang baik dan benar. Dan untuk mencapai kondisi fisik yang baik, diperlukan latihan yang teratur dan terprogram dengan baik. Pembentukan kemampuan kondisi fisik dan keterampilan teknik dasar yang maksimal tentunya diperlukan jangka waktu yang lama, oleh karena itu pembinaan sejak usia dini sangatlah efektif demi hasil yang maksimal nanti kedepannya. 14

9 a. Kecepatan (Speed) Kecepatan adalah sebagai laju gerak, dapat berlaku secara keseluruhan bagian tubuh. Faktor yang mempengaruhi kecepatan antara lain: kelenturan, tipe tubuh, usia, dan jenis kelamin. Moelek dalam Ruslan, (2010: 37). Sendangkan menurut Jaja dan Eli (2010:36) bahwa kecepatan adalah kemampuan otot melakukan suatu gerakan dengan cepat dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Meningkatkan komponen kecepatan tidak hanya diperoleh dari latihan kecepatan saja, tetapi terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan yaitu komponen kekuatan, waktu reaksi, dan kelentukan. b. Kelincahan (Agility) Menurut Muhajir dan muhajid, (2011:58) mengemukakan bahwa kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan. Kelincahan berkaitan dengan tingkat kelentukan, tanpa kelentukan yang baik seseorang tidak dapat bergerak dengan lincah. Kelincahan sangat berpengaruh dalam permainan sepak bola, misalnya seorang pemain tergelincir dan jatuh dilapangan, namun dia masih dapat menguasai bola dan mengoper bola tersebut dengan tepat kepada temannya. Menurut Moeloek dalam Ruslan (2010:37) kelincahan adalah kemampuan mengubah secara tepat arah tubuh atau atau bagian tubuh tanpa gangguan keseimbangan. Dipengaruhi oleh tipe tubuh, usia, jenis kelamin, berat badan, dan kelelahan. c. Daya Tahan (Endurance) 15

10 Menurut Engkos Koasih dalam Indrayana (2012:4) Daya Tahan adalah Keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja dalam waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut. Menurut Muhajir dan Jaja (2011:61) bahwa daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu yang relatif lama. Istilahnya lainnya yang sering digunakan ialah respiratori-cardio-vaskulatior-endurance. Yaitu daya tahan yang berhubungan dengan pernafasan, jantung, dan peredaran darah. d. Kelentukan (Flexibility) Kelentukan adalah kemampuan persendian untuk melakukan gerakan yang seluas-luasnya. Kelentukan di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu ruang gerak sendi dan elastis otot. Orang yang memiliki elastis otot yang kurang bahkan kaku, ruang geraknya sangat terbatas. Jika jika terus dipaksakan dengan intensitas yang tinggi akan mengakibatkan cedera. Sementara itu, elastis otot yang dimiliki manusia akan semakin menurun, terlebih bagi yang tidak suka berolahraga. Seorang pemain sepak bola harus lentur agar ia bisa bermain sepak bola dengan baik dan tidak kaku dalam bermain sepak bola. Menurut Hari Setijono dkk dalam Ruslan (2010:37) bahwa kelentukan adalah keefektifan seseorang dalam menyesuaikan dirinya, untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran yang seluas-luasnya terutama otot-otot, ligamen-ligamen disekitar persendian. Daya Tahan memegang peran yang sangat penting dalam permainan Sepak Bola. Latihan daya tahan haruslah direncanakan secara sistematis yang di tujukan 16

11 untuk meningkatkan kondisi fisik dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian dapat mencapai prestasi yang lebih baik. Menurut pendapat Sajoto dalam Yanuar (2013:3) kondisi fisik adalah kesatuan utuh dari komponenkomponen yang tidak dapat dipisahkan, baik peningkatannya, maupun pemeliharaannya. 2.3 Hakekat Permainan Sepak Bola Sepak bola merupakan salah satu olahraga jenis permainan bola besar yang di mainkan secara beregu. Pemain dalam sepak bola berjumlah sebelas orang setiap tim. Oleh karena itu, setiap regu pemain memainkan bola dengan menggunakan seluruh anggota badan, kecuali tangan tidak diperbolehkan. Hanya pemain sepak bola yang menempati posisi sebagai penjaga gawang (kiper) yang diperbolehkan menggunakan semua anggota badan selama dalam batas garis 16 meter. Permainan sepak bola bertujuan untuk memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak mungkin dan menahan/menghalangi bola lawan tidak masuk kegawang. Permainan ini dipimpin oleh seorang wasit dan di bantu dua orang penjaga garis sehingga pelaksanaan permainan ini dapat berjalan dengan baik. Menurut Budi dan Muhammad (2010:1) bahwa sepak bola adalah olahraga yang mengandalkan kerja sama tim. Tanpa adanya kerja sama yang baik, maka sebuah tim sepak bola akan sulit untuk mendapatkan kemenangan. Di dalam permainan sepak bola sangat ditekankan untuk menegakkan sikap saling menghargai dan sportivitas. Menurut Rohmatullah dalam Deny (2012:3) bahwa Sepak bola adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim dengan masing-masing beranggotakan 17

12 sebelas orang. Aspek yang menjadi wujud dan isi sepakbola yaitu aspek mental spiritual, aspek seni, dan juga olahraga prestasi yang dikembangkan dan dibenahi metode latihannya supaya dapat mencapai prestasi yang menggembirakan. Selain aspek tersebut dalam olahraga sepakbola terdapat beberapa aspek penting yang mendukung atlet dalam pencapaian prestasi yaitu: 1. Aspek fisiologis 2. Aspek keterampilan Dasar 3. Aspek Mental Tujuan Permainan Sepak Bola Menurut Muhajir dan Jaja (2011:1) adalah memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Oleh karena itu, regu yang paling banyak memasukkan bola adalah regu pemenangnya. Menendang merupakan faktor terpenting dalam permainan sepak bola. Untuk menjadi seorang pemain sepak bola yang bagus, pemain perlu mengembangkan kemahiran menendang dengan menggunakan kedua belah kakinya. Sebenarnya menedang adalah seni Pengertian Permainan Sepak Bola Pengertian Sepak Bola Menurut Sodikin dan Achmad, (2010:2), bahwa sepak bola merupakan permainan yang dilakukan oleh dua tim/regu. Setiap tim terdiri atas 11 pemain. Permainan sepak bola merupakan kerja tim yang kompak. Disamping itu, variasi dan kombinasi teknik-teknik dasar juga diperlukan dalam permainan ini. Pengertian Sepak Bola Menurut Budi dan Muhammad, (2010:1) bahwa sepak bola adalah olahraga yang mengandalkan kerja sama tim. Tanpa adanya kerja sama yang baik, maka sebuah tim sepak bola akan sulit untuk mendapatkan kemenangan. Di 18

13 dalam permainan sepak bola sangat di tekankan untuk menegakkan sikap saling menghargai dan sportivitas. Menurut Wahyuni dkk, (2010:3) bahwa Permainan Sepak Bola bertujuan untuk memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak mungkin dan menahan/ menghalangi bola lawan tidak masuk ke gawang. Di tambahkan lagi menurut Ginanjar (2012:78-79) mengemukakan bahwa Permainan sepak bola bertujuan untuk mencetak gol sebanyakbanyaknya dengan menggunakan bola kulit berukuran inci. Lapangan yang di gunakan permainan ini memiliki lebar meter dan panjang meter. Gawang tempat mencetak gol terletak di bagian ujung lapangan dengan di batasi jaring berukuran tinggi 8 kaki, dan lebar 24 kaki. Permainan ini hampir seluruh dimainkan dengan menggunakan tungkai kecuali penjaga gawang yang diperbolehkan menggunakan lengannya di daerah tendangan hukumannya. Dalam perkembangan permainan ini dapat dimainkan diluar lapangan (outdoor) dan dilalam ruang tertutup (indoor). Seorang pemain sepak bola yang tidak menguasai teknik dasar bermain sepak bola tidak akan jadi pemain yang baik dan terkemuka. Sasaran yang hendak dicapai dalam pembinaan ini adalah penguasaan gerak tubuh. Latihan dengan bola sudah banyak ragamnya, ini akan nampak jika dilakukan latihan intensif dengan bola, dimana akan semakin menambah kegembiraan berlatih. Tidak ada cabang olahraga lain yang mendalami penguasaan teknik begitu banyak seperti sepak bola. Situasi yang dihadapi senantiasa berubah sedang lawan yang harus ditanggulangi mungkin seorang tapi bisa juga lebih. Penguasaan teknik yang baik 19

14 merupakan persyaratan agar dapat ditanggulangi berbagai situasi dalam permainan dengan sikap yang mantap Teknik Dasar Permainan Sepak Bola Teknik Dasar adalah semua kegiatan yang mendasari sehingga dengan modal sedemikian itu sudah dapat bermain sepak bola. Untuk meningkatkan mutu permainan kearah prestasi maka masalah teknik dasar merupakan persyaratan yang menentukan. Dengan demikian seorang pemain sepak bola yang tidak menguasai teknik dasar dan keterampilan bermain sepak bola tidaklah mungkin akan menjadi pemain yang baik dan terkemuka. Menurut Budi dan Muhammad (2010:2) mengemukakan bahwa teknik dasar permainan sepak bola merupakan fondasi dari teknis permainan sepak bola, yang harus dimengerti, dikuasai, serta diterapkan di atas lapangan permainan, dikerjakan secara sederhana dan dikembangkan secara sederhana. Semua pemain sepak bola harus menguasai teknik dasar dan keterampilan bermain sepak bola karena orang akan menilai sampai dimana teknik dam keterampilan para pemain. Menurut Muhajir dan Mujahid (2011:1) bahwa tehnik dasar sepak bola memerlukan kemampuan mengukur jarak dan arah bola. Oleh karena itu, seorang pemain yang hendak menendang bola harus dapat mengukur sejauh mana tendangannya dan kemana bola itu mengarah. Oleh karena itu tanpa menguasai dasardasar teknik dan keterampilan sepak bola dengan baik untuk selanjutnya tidak akan dapat melakukan prinsip-prinsip bermain sepak bola, tidak dapat melakukan pola-pola permainan atau pengembangan taktik moderen dan tidak akan dapat pula membaca 20

15 permainan. Pada dasarnya pemain sepak bola merupakan suatu usaha untuk menguasai bola dan untuk merebutnya kembali bila sedang dikuasai oleh lawan. Adapun mengenai teknik dasar sepak bola menurut Budi dan Muhammad (2010:2) bahwa teknik dasar dalam permainan sepak bola pada umumnya dapat dibagi atas dua (2) bagian, yaitu teknik dasar tanpa bola, meliputi teknik lari pemain, teknik lompat dari pemain, gerak tipu badan, dan sikap pertahanan; teknik dasar dengan bola, meliputi menendang bola, menyundul bola, menahan bola, menggiring bola, dan menangkap bola. Tehnik dasar permainan sepak bola sangat penting untuk diketahui, sebagai langkah menuju permainan yang baik untuk di tonton. Menurut Sodikin dan Achmad (2010:2) Teknik-teknik dasar itu adalah menendang bola, menghentikan bola, menggiring bola, menyundul bola, dan melempar bola. Menurut wahyuni dkk (2010:4-7), teknik dasar sepak bola ada beberapa teknik yaitu : 1. Teknik Menendang (Kicking) Teknik menendang dalam permainan sepak bola ada beberapa macam sebagai berikut. 1) Teknik menendang bola dengan kaki bagian dalam sebagai berikut: a) Sikap tubuh berdiri menghadap ke arah bola. b) Kaki tumpu diletakkan disamping bola dengan lutut sedikit ditekuk. Kedua tangan untuk keseimbangan ditekuk di samping badan. c) Kaki yang digunakan untuk menendang sedikit ditekuk dengan diputar kearah luar. 21

16 d) Kaki yang digunakan untuk menendang di ayun dari belakang ke arah depan dengan sasaran bola di bagian samping. e) Setelah menendang, berat badan di geser kekaki yang digunakan untuk menendang. 2) Teknik menendang bola dengan kura-kura kaki sebagai berikut: a) Sikap awal tubuh berdiri menghadap ke arah bola. b) Kaki tumpu diletakkan di samping bola dengan lutut sedikit ditekuk, kemudian tangan rileks untuk keseimbangan. c) Pergelangan kaki yang digunakan untuk menendang bola, ditekuk kebawah dan pandangan mata tertuju pada bola yang akan ditendang. d) Pada waktu akan menendang, lutut kaki yang akan digunakan untuk menendang di tekuk menghadap ke depan dan diayun dari belakang ke arah bola, kemudian kaki di sentuhkan pada bola bagian belakang. e) Setelah menedang, berat badan ke arah depan. 3) Teknik menendang bola dengan kaki bagian luar sebagai berikut. a) Sikap awal berdiri menghadap ke arah bola. b) Kaki tumpu diletakkan di samping bola dengan kedua tangan bergerak rileks untuk keseimbangan. c) Kaki yang di gunakan untuk menendang sedikit di putar kedalam. d) Pandangan mata kearah bola, kaki yang di gunakan menendang di ayunkan ke depan e) Kaki bagian luar dikenakan pada bola, kemudian berat badan digeser ke depan. 22

17 2. Teknik Mengontrol/ Menghentikan Bola ( Stopping) Teknik mengontrol atau menghentikan bola ada beberapa gerakan, yaitu sebagai berikut. 1) Teknik mengontrol dengan kaki bagian dalam sebagai berikut : a) Sikap tubuh menghadap kearah datangnya bola. b) Pergelangan kaki yang digunakan untuk mengontrol di putar ke arah luar. c) Kaki tumpu lututnya sedikit ditekuk dan kedua tangan bergerak secara rileks untuk keseimbangan. d) Kaki yang digunakan untuk mengontrol bola diangkat diarahkan ke datangnya bola. e) Bola di sentuhkan pada kaki bagian dalam, kemudian kaki di tarik ke belakang, selanjutnya bola dikuasai. 2) Teknik mengontrol bola dengan punggung kaki sebagai berikut : a) Sikap tubuh berdiri menghadap ke arah datangnya bola dan pandangan mata ke arah datangnya bola. b) Kaki tumpu sedikit ditukuk dan kaki yang digunakan untuk mengontrol bola ditekuk kedepan dengan pergelangan kaki di tekuk ke bawah. c) Pada waktu mengontrol bola, pungung kaki dikenakan pada bola. Selanjutnya, bola dikuasai. 3) Teknik mengontrol bola dengan telapak kaki sebagai berikut: a) Sikap tubuh berdiri dengan tubuh di bungkukkan kedepan sambil pandangan mata ke arah datangnya bola. 23

18 b) Pada waktu bola datang langsung di tahan dengan telapak kaki menghadap ke arah depan. c) Pada waktu menahan bola kaki tumpu dengan lutut sedikit di tekuk. 4) Teknik mengontrol bola dengan kaki bagian luar sebagai berikut : a) Sikap tubuh berdiri dengan tubuh condong kedepan dan pandangan mata ke arah datangnya bola. b) Kaki tumpu sedikit di tekuk dan kaki yang digunakan untuk mengontrol bola disilangkan untuk manahan bola atau di kenakan. c) Bola di kontrol dengan kaki luar dan tangan bergerak rileks untuk keseimbangan. 5) Mengontrol bola dengan perut menurut Budi dan Muhammad, (2010: 4-5) a) Pandangan mata ke arah bola. b) Badan atas dibungkukkan kedepan, tangan di buka, sedangakn perut dengan otot-otot perut di tarik dan dikencangkan, sehingga membentuk c) Rongga untuk menerima bola yang akan datang (harus dilakukan dengan berhati-hati). d) Tumit diangkat sedikit ketika menahan bola bergulir. e) Bola yang diterima diusahakan jatuh ke tanah untuk di kontrol dan bisa langsung di mainkan. 6) Mengontrol bola dengan dada a) Pandangan mata ke arah datangnya bola. b) Badan condong sedikit kebelakang mulai dari lutut. 24

19 c) Mengontrol dengan dada dilakukan dengan membuka tangan ke samping, dada dikembangkan dan bola diterima dengan tengah-tengah dada, bukan jatuh pada tulang rusuk (berbahaya). Sewaktu bola menyentuh dada, dada ditarik mengikuti bola, sehingga bola jatuh kebawah (tidak memantul kembali). 7) Mengontrol bola dengan paha Bola di kontrol dengan paha, dimana kaki ditekuk pada lutut dan sewaktu mengenai bola paha mengikuti jalan bola sihingga bola tidak mental, tetapi jatuh ketanah dalam jarak permainan. 8) Mengontrol bola dengan kepala Mengontrol bola dengan kepala di lakukan dengan cara bola yang datang pada saat sampai di kaki(menyentuh), maka kepala dan badan atas ditarik kebelakang mengikuti jalan bola, sehingga bola tidak memantul ke udara, tetapi jatuh ke tanah untuk di kontrol atau di mainkan kembali. 3. Teknik Dasar Menyundul Bola (Heading) Menurut sodikin dan ahmad (2010:8-9) bahwa menyundul bola diperlukan sekali bagi pemain sepak bola, terlebih bagi pemain penyerang. Mencetak gol dengan sundulan sangat sukar untuk dihalau kiper (penjaga gawang). Pelaksanaanya: a. Sikap kepala siap menyundul b. Perkenaan bola di dahi (jidat). 25

20 c. Bola terarah terkendali. 4. Melempar Bola Ke Dalam (Throw In) melempar bola kedalam (throw in) biasanya terjadi apabila bola keluar dari garis permainan, jika digaris gawang maka di sebut bola gawang, jika di garis samping lapangan disebut bola keluar (out ball). Pelaksanaan lemparan kedalam : a) Bola di pegang dengan dua tangan di atas kepala. b) Kedua kaki lurus berdiri tegap. c) Badan agak di tekuk kebelakang. d) Bola dilepas di atas kepala, tanpa dibanting. e) Kaki tidak bola di angkat. f) Saat melempar kaki tidak boleh menginjak garis lapangan. 5. Teknik Menggiring (Dribbling) Menurut wahyuni dkk (2010: ), Menggiring bola merupakan gerakan lari sambil mendorong bola dengan kaki agar bola bergulir di atas tanah. Manfaat menggiring bola adalah : a) Untuk melewati rintangan dari lawan. b) Agar dioperkan kepada temannya c) Untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan. Macam-macam teknik menggiring bola sebagai berikut. a) Menggiring bola dengan punggung kaki atau kura-kura kaki penuh. Cara melakukan sebagai berikut : 26

21 1) Letakkan bola dalam jarak mudah dikuasai. 2) Bola didorong dengan punggung kaki maka telapak kaki di tekuk hampir tegak lurus. 3) Langkah kaki harus stabil pada waktu kaki disentuhkan bola. 4) Pandangan bola ke arah yang di kehendaki, misalnya pada teman yang akan dioperi dan sebagainya. b) Mengiring bola dengan kaki bagian dalam. Cara melakukan sebagai berikut. 1) Jarak bola harus dalam keadaan mudah dijangkau. 2) Bola disentuh dengan kaki bagian dalam. 3) Langkah kaki harus menyesuaikan jalannya bola. 4) Pada waktu kaki menyentuh bola lutut sedikit ditekuk. 5) Pandangan mata kearah bola dan melihat posisi teman dan lawan. c) Menggiring bola dengan kaki bagian luar. 1) Posisi tubuh berdiri menghadap ke arah bola. 2) Supaya bola bergulir disentuh dengan kaki bagian luar. 3) Pada waktu kaki menyentuh bola lutut sedikit di tekuk. 4) Waktu menggiring bola pandangan mata ke arah bola dan posisi teman dan lawan. 5) Pada saat mengiring bola langkah kaki disesuaikan dengan jalannya bola. 6. Teknik Dasar Mengumpan Bola Teknik dasar mengumpan bola ada beberapa cara menurut Roji (2009:2) 27

22 a) mengumpan bola dengan kaki bagian dalam cara melakukannya: a) Di awali dengan sikap berdiri menghadap ke arah gerakan. b) Letakkan kaki tumpu di samping bola dengan sikap lutut agak tertekuk dan bahu mengahadap gerakan. c) Sikap ke dua lengan di samping badan agak rentang. d) Pergelangan kaki yang akan di gunakan menendang di putar ke luar dan dikunci. e) Pandangan terpusat pada bola. f) Tarik kaki yang akan digunakan menendang ke belakang lalu ayun ke depan arah bola. g) Perkenaan kaki pada bola tepat pada tengah-tengah bola. h) Pindahkan berat badan kedepan mengikuti arah gerakan. b) Mengumpan bola dengan kaki bagian luar Cara melakukannya : a) Diawali dengan sikap berdiri menghadap arah gerakan bola. b) Letakkan kaki tumpu di samping bola. c) Sikap kedua lengan di samping badan agak terentang. d) Pergelangan kaki yang akan digunakan menedang di putar ke dalam dan di kunci. e) Pandangan terpusat pada bola. f) Tarik kaki yang akan digunakan menendang ke belakang, lalu ayun kedepan arah bola bersamaan kaki di putar ke arah dalam. 28

23 g) Perkenaan kaki pada bola tepat pada tengah-tengah bola. h) Pindahkan berat badan ke depan. Dari beberapa teknik-teknik dasar sepak bola di atas sangatlah berpengaruh terhadap kondisi fisik. Kondisi fisik juga sangat di butuhkan seorang pemain pada saat melakukan teknik dasar menendang, menggiring, mengontrol, menyundul, mengumpan, dan melempar bola ke dalam apalagi pada saat bermain atau dalam pertandingan atau pada saat latihan. Seorang pemain sangat membutuhkan daya tahan cardiovaskuler yang baik sebelum saat pertandingan karena tanpa kondisi fisik yang baik maka seorang pemain tidak mampu melakukan permainan sepak bola dengan baik pula. Maka dari itu kondisi pemain sepak bola harus di jaga dengan baik agar pada saat pertandingan seorang pemain tidak cepat kelelahan sebelum pertandingan selesai. 2.4 Hakekat Kondisi Fisik Kondisi fisik memegang peran yang sangat penting dalam program latihan bagi atlet sepak bola. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara sistematis yang di tujukan untuk meningkatkan kondisi fisik dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian dapat mencapai prestasi yang lebih baik. Menurut pendapat Sajoto dalam Deny (2013:3) mengemukakan bahwa kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya bahwa didalam usaha peningkatan kondisi fisik, maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan. Walaupun disana-sini dilakukan dengan sistem prioritas sesuai keadaan atau status 29

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS. atau ke sisi (Depdikbud, 1995). Sedangkan Takraw berarti bola atau barang

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS. atau ke sisi (Depdikbud, 1995). Sedangkan Takraw berarti bola atau barang 1 BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Permainan Sepak Takraw Sepak takraw berasal dari dua kata yaitu sepak dan takraw. Sepak berarti gerakan menyepak sesuatu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan untuk memulihkan efek dari latihan itu sendiri. Miller juga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan untuk memulihkan efek dari latihan itu sendiri. Miller juga BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Daya Tahan Aerobik a. Kebugaran Aerobik Menurut Rizky Kurnia yang dikutip dari Miller (2002: 115) kebugaran aerobik adalah kemampuan dari sistem sirkulasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lapangan Asrama PPLP Sumatera Utara di Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 2.

Lebih terperinci

I. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang kalian anggap paling benar!!!

I. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang kalian anggap paling benar!!! I. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang kalian anggap paling benar!!! 1. Pada waktu menggiring bola, pergelangan kaki ditahan ke atas saat mendorongkan bola, sedangkan posisi kaki juga di atas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS. Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas, teori-teori yang akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS. Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas, teori-teori yang akan BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS 2.1. Tinjauan Pustaka Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas, teori-teori yang akan dikemukakan harus sesuai dengan variabel penelitian yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profil kondisi fisik adalah keadaan atau potensi dan gambaran dalam diri

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profil kondisi fisik adalah keadaan atau potensi dan gambaran dalam diri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profil kondisi fisik adalah keadaan atau potensi dan gambaran dalam diri seseorang. Keadaan atau gambaran seseorang dalam berfikir dengan cepat dan tepat dengan

Lebih terperinci

STUDI KONDISI FISIK ATLET SEPAK BOLA PERSATUAN SEPAK BOLA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU

STUDI KONDISI FISIK ATLET SEPAK BOLA PERSATUAN SEPAK BOLA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU STUDI KONDISI FISIK ATLET SEPAK BOLA PERSATUAN SEPAK BOLA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu Guna

Lebih terperinci

TAHAP-TAHAP LATIHAN (PHASES OF TRAINING) Hedi Ardiyanto Hermawan

TAHAP-TAHAP LATIHAN (PHASES OF TRAINING) Hedi Ardiyanto Hermawan TAHAP-TAHAP LATIHAN (PHASES OF TRAINING) Hedi Ardiyanto Hermawan TAHAP PERSIAPAN Tahap ini meletakkan dasar-dasar kerangka umum latihan fisik, teknik, taktik, dan mental sebagai persiapan tahap pertandingan

Lebih terperinci

PENGARUH MODIFIKASI LATIHAN LOMPAT BALOK DAN LATIHAN BOLA GANTUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH

PENGARUH MODIFIKASI LATIHAN LOMPAT BALOK DAN LATIHAN BOLA GANTUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH ARTIKEL ILMIAH PENGARUH MODIFIKASI LATIHAN LOMPAT BALOK DAN LATIHAN BOLA GANTUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH DALAM PERMAINAN BOLA VOLI PADA SISWA SMA NEGERI 6 KOTA JAMBI OLEH RUDI SAPUTRA A1D408056 PROGRAM

Lebih terperinci

1. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi rangka adalah. a. membentuk tubuh c. tempat melekatnya otot b. membentuk daging d.

1. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi rangka adalah. a. membentuk tubuh c. tempat melekatnya otot b. membentuk daging d. 1. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi rangka adalah. a. membentuk tubuh c. tempat melekatnya otot b. membentuk daging d. menegakkan tubuh 2. Tulang anggota gerak tubuh bagian atas dan bawah disebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wadah yang di sebut IPSI ( Ikatan Pencak Silat Sealuruh Indonesia ).

BAB I PENDAHULUAN. wadah yang di sebut IPSI ( Ikatan Pencak Silat Sealuruh Indonesia ). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pencak silat adalah salah satu seni beladiri budaya bangsa asli Indonesia. Di setiap daerah seluruh Indonesia memiliki macam-macam aliran pencak silat yang berbeda-beda,

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permainan cabang olahraga bola tangan merupakan salah satu olahraga yang sampai saat ini dapat ditelusuri kebenaran sejarahnya dan telah berusia sangat tua. Sebuah

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu

III. METODOLOGI PENELITIAN. serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metodologi penelitian adalah cara utama yang digunakan untuk mengadakan penelitian dalam mencapai tujuan, misalnya untuk mengkaji atau menguji serangkaian

Lebih terperinci

TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA

TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA Oleh: Muhammad Surur, S.Pd JEMBER 2012 TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT 1. KUDA-KUDA

Lebih terperinci

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai Lampiran Petunjuk Pelaksanaan TKJI Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Petunjuk Pelaksanaan Tes 1. Lari 40 meter a. Tujuan Tes lari ini adalah untuk mengetahui atau mengukur kecepatan.

Lebih terperinci

KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA KLUB ASYABAB DI KABUPATEN SIDOARJO DENI SETIAWAN

KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA KLUB ASYABAB DI KABUPATEN SIDOARJO DENI SETIAWAN KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA KLUB ASYABAB DI KABUPATEN SIDOARJO DENI SETIAWAN ABSTRAK Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan

Lebih terperinci

PROFIL KEKUATAN ATLET PELATIHAN JANGKA PANJANG (PJP) JAWA TENGAH CABANG OLAHRAGA ANGKAT BESI / ANGKAT BERAT DAN BINARAGA PON XVII DARI TAHUN 2005-2006

PROFIL KEKUATAN ATLET PELATIHAN JANGKA PANJANG (PJP) JAWA TENGAH CABANG OLAHRAGA ANGKAT BESI / ANGKAT BERAT DAN BINARAGA PON XVII DARI TAHUN 2005-2006 PROFIL KEKUATAN ATLET PELATIHAN JANGKA PANJANG (PJP) JAWA TENGAH CABANG OLAHRAGA ANGKAT BESI / ANGKAT BERAT DAN BINARAGA PON XVII DARI TAHUN 2005-2006 SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO, 2011). Menurut Departemen Kesehatan RI (2007),

Lebih terperinci

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi Disusun Oleh : DIMAS SONDANG IRAWAN J 110050028

Lebih terperinci

UJIAN SEKOLAH PENJAS SMP NEGERI 43 SURABAYA

UJIAN SEKOLAH PENJAS SMP NEGERI 43 SURABAYA UJIAN SEKOLAH PENJAS SMP NEGERI 43 SURABAYA 1. Dibawah ini mana yang termasuk penyakit kulit menular? A. Cacar, Panu, kudis B. Bisul, alergi, jerawat C. Panu, Kutu air, Kudis D. Alergi, Kurap, Kutil 2.

Lebih terperinci

PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK

PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK 1 PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK Danu Hoedaya FPOK UPI Materi Penyajian Pelatihan Pelatih Fisik Sepak Bola Se-Jawa Barat FPOK-UPI, 14-17 Februari 2007 2 PENGANTAR Materi Psikologi Kepelatihan pada Pelatihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Sesuai dengan aktivitas yang di tekuni dan dilakukan seorang anak. Penguasaan

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Sesuai dengan aktivitas yang di tekuni dan dilakukan seorang anak. Penguasaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gerak merupakan kemampuan dasar yang dimiliki manusia dari sejak lahir ke dunia ini sampai akhir hayat, gerak merupakan inti dari aktivitas kehidupan. Gerak

Lebih terperinci

TINGKAT KESEGARAN JASMANI MURID SD INPRES MALENGKERI SETINGKAT KOTA MAKASSAR PADA KELOMPOK USIA 10-12 TAHUN. Muhammad Adnan Hudain

TINGKAT KESEGARAN JASMANI MURID SD INPRES MALENGKERI SETINGKAT KOTA MAKASSAR PADA KELOMPOK USIA 10-12 TAHUN. Muhammad Adnan Hudain Hudain, Tingkat Kesegaran Jasmani Murid SD Inpres Malengkeri Setingkat Kota Makassar 31 TINGKAT KESEGARAN JASMANI MURID SD INPRES MALENGKERI SETINGKAT KOTA MAKASSAR PADA KELOMPOK USIA 10-12 TAHUN Muhammad

Lebih terperinci

BAHAN AJAR 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH

BAHAN AJAR 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH BAHAN AJAR 10 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH Slipped Disc Salah satu lokasi rasa sakit yang sering membuat para atlet, khususnya pemainpemain bulutangkis, tenis lapangan dan atlet selancar angin mengeluh

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI, DAYA LEDAK TUNGKAI, DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH MURID SD INPRES NO. 132 BUTTALE LENG KABUPATEN JENEPONTO

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI, DAYA LEDAK TUNGKAI, DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH MURID SD INPRES NO. 132 BUTTALE LENG KABUPATEN JENEPONTO Adil, Hubungan Panjang Tungkai, Daya Ledak Tungkai, Dan Keseimbangan Dengan Kemampuan Lompat Jauh 20 HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI, DAYA LEDAK TUNGKAI, DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH MURID SD

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. pengamatan gerakan untuk bisa mengerti bentuk gerakannya, kemudian menirukan

BAB II LANDASAN TEORI. pengamatan gerakan untuk bisa mengerti bentuk gerakannya, kemudian menirukan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Belajar Gerak Dalam Olahraga Bulutangkis Belajar gerak merupakan kegiatan belajar yang menekankan pada aktivitas gerak tubuh (Sugiyanto, 2004:234). Di dalam belajar gerak materi

Lebih terperinci

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI A. DESKRIPSI Menurut Tayyari dan Smith (1997) fisiologi kerja sebagai ilmu yang mempelajari tentang fungsi-fungsi organ tubuh manusia yang

Lebih terperinci

PERMAINAN DALAM PENJAS

PERMAINAN DALAM PENJAS AKTIVITAS PERMAINAN KONSEP DASAR Perbuatan atas kemauan sendiri yang dikerjakan dalam batas-batas, tempat dan waktu yang telah ditentukan, diiringi oleh perasaan senang dan merentangkan kesadaran berbuat

Lebih terperinci

APLIKASI PENDEKATAN LATIHAN INTERVAL TERATUR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KECEPATAN NOMOR LARI 100 DAN 200 METER PADA SISWA SMP.

APLIKASI PENDEKATAN LATIHAN INTERVAL TERATUR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KECEPATAN NOMOR LARI 100 DAN 200 METER PADA SISWA SMP. Rahim, Aplikasi Pendekatan Latihan Interval Teratur Dalam Meningkatkan Kemampuan Kecepatan 47 APLIKASI PENDEKATAN LATIHAN INTERVAL TERATUR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KECEPATAN NOMOR LARI 100 DAN 200

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013 PENGARUH TINGKAT IQ TERHADAP KEMAMPUAN JUGGLING DAN AKURASI TENDANGAN BOLA PADA PEMAIN USIA 11-12 TAHUN SSB APAC INTI KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2012 SKRIPSI diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata

Lebih terperinci

KONTRIBUSI TINGGI BADAN, BERAT BADAN, DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP KECEPATAN LARI CEPAT (SPRINT) 100 METER PUTRA

KONTRIBUSI TINGGI BADAN, BERAT BADAN, DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP KECEPATAN LARI CEPAT (SPRINT) 100 METER PUTRA KONTRIBUSI TINGGI BADAN, BERAT BADAN, DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP KECEPATAN LARI CEPAT (SPRINT) 100 METER PUTRA (Studi pada Mahasiswa Pendkesrek Angkatan 2010 Universitas Negeri Surabaya) ARTIKEL I-JOURNAL

Lebih terperinci

ISU OLAHRAGA YANG LAYAK ANGKAT UNTUK KARYA ILMIAH

ISU OLAHRAGA YANG LAYAK ANGKAT UNTUK KARYA ILMIAH ISU OLAHRAGA YANG LAYAK ANGKAT UNTUK KARYA ILMIAH Dr.dr.BM.Wara Kushartanti FIK UNY PENDAHULUAN Karya ilmiah merupakan bagian tak terpisahkan dari profesi dosen yang juga disebut ilmiawan. Indikator utama

Lebih terperinci

BRONZE MEDAL FOR PSSGOETTINGEN

BRONZE MEDAL FOR PSSGOETTINGEN BRONZE MEDAL FOR PSSGOETTINGEN Oleh: Rangga Handika Perjalanan Tim PSSGoettingen (Persatuan Sepak bola Seluruh Goettingen) 2013 tidak bisa dikatakan panjang tetapi tidak bisa dikatakan juga pendek. Tulisan

Lebih terperinci

HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP HASIL TENDANGAN JARAK JAUH PADA PEMAIN SEPAKBOLA LIPIO UNNES TAHUN 2012

HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP HASIL TENDANGAN JARAK JAUH PADA PEMAIN SEPAKBOLA LIPIO UNNES TAHUN 2012 HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP HASIL TENDANGAN JARAK JAUH PADA PEMAIN SEPAKBOLA LIPIO UNNES TAHUN 2012 SKRIPSI diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1 untuk mencapai

Lebih terperinci

Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak, (2) pembelajaran

Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak, (2) pembelajaran Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : IOF 220 : Perkembangan Motorik Materi 5: Perkembangan Perilaku Gerak Perkembangan Perilaku Gerak Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak,

Lebih terperinci

PENGARUH PANJANG DAN LATIHAN POWER LENGAN TERHADAP HASIL PUKULAN SMAS PENUH PADA PEMAIN PUTRA PB. SINAR MUTIARA PEMALANG TAHUN 2012

PENGARUH PANJANG DAN LATIHAN POWER LENGAN TERHADAP HASIL PUKULAN SMAS PENUH PADA PEMAIN PUTRA PB. SINAR MUTIARA PEMALANG TAHUN 2012 PENGARUH PANJANG DAN LATIHAN POWER LENGAN TERHADAP HASIL PUKULAN SMAS PENUH PADA PEMAIN PUTRA PB. SINAR MUTIARA PEMALANG TAHUN 2012 SKRIPSI diajukan dalam rangka Penyelesaian studi Strata 1 untuk mencapai

Lebih terperinci

OLAHRAGA KESEHATAN BAHAN AJAR

OLAHRAGA KESEHATAN BAHAN AJAR BAHAN AJAR 14 OLAHRAGA KESEHATAN Konsep Olahraga Kesehatan Olahraga terdiri dari dua kata, yaitu olah dan raga. Olah merupakan kata kerja memberikan makna melakukan sesuatu. Sedangkan raga artinya adalah

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KONDISI FISIK ATLET PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN OLAHRAGA PELAJAR (PPLP) DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. Ruslan

MENINGKATKAN KONDISI FISIK ATLET PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN OLAHRAGA PELAJAR (PPLP) DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. Ruslan Ruslan, Meningkatkan Kondisi Fisik Atlet Pusat Pendidikan Dan Latihan Olahraga Pelajar 45 MENINGKATKAN KONDISI FISIK ATLET PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN OLAHRAGA PELAJAR (PPLP) DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Lebih terperinci

PENGARUH LATIHAN INTERVAL PENDEK TERHADAP PENINGKATAN DAYA TAHAN ANAEROBIK PADA PEMAIN HOKI SMA NEGERI 16 SURABAYA JURNAL ILMIAH

PENGARUH LATIHAN INTERVAL PENDEK TERHADAP PENINGKATAN DAYA TAHAN ANAEROBIK PADA PEMAIN HOKI SMA NEGERI 16 SURABAYA JURNAL ILMIAH PENGARUH LATIHAN INTERVAL PENDEK TERHADAP PENINGKATAN DAYA TAHAN ANAEROBIK PADA PEMAIN HOKI SMA NEGERI 6 SURABAYA JURNAL ILMIAH Mohammad Fadhil Ulum 096800 UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

Lebih terperinci

Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan:

Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan: Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan: KATA PENGANTAR Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerntah Nomor 19 Tahun 2005

Lebih terperinci

Nurjamal. Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FKIP Universitas Mulawarman Samarinda. Jl. Muara Pahung Kelua Samarinda.

Nurjamal. Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FKIP Universitas Mulawarman Samarinda. Jl. Muara Pahung Kelua Samarinda. 1 KONTRIBUSI DAYA LEDAK LENGAN DAN KOORDINASI MATA TANGAN TERHADAP KEMAMPUAN SMASH DALAM PERMAINAN BULUTANGKIS PADA SISWA SMA NEGERI 2 SEBULU KHUTAI KARTANEGARA Nurjamal Program Studi Pendidikan Jasmani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan suatu kemutlakan yang perlu dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan suatu kemutlakan yang perlu dilakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi anak usia dini merupakan suatu kemutlakan yang perlu dilakukan sebagai suatu bentuk tanggung jawab atas peningkatan kualitas anak Indonesia.

Lebih terperinci

siding juga bermanfaat untuk: menghindarkan terjadinya cedera, memberi semangat kepada temannya, dan menyajikan seni gerak yang cukup menarik..

siding juga bermanfaat untuk: menghindarkan terjadinya cedera, memberi semangat kepada temannya, dan menyajikan seni gerak yang cukup menarik.. SLIDINGKE DEPAN DALAM PERMAINAN BOLAVOLI Dosen Jurusan Oleh:. 5B Pranatahadi Pendidikan Kepelatihan FIK UNY Abstrak Pelatih bolavoli menganggapbahwa sliding merupakanteknik tinggi yang sulit dikuasai,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari keluhan LBP dapat menyerang semua orang, baik jenis

Lebih terperinci

KESIAPAN SISWA (STUDENT/CHILD READINESS) DALAM SUDUT PANDANG SEHAT FISIK. Oleh Bambang Priyonoadi Jurusan PKR-FIK-UNY

KESIAPAN SISWA (STUDENT/CHILD READINESS) DALAM SUDUT PANDANG SEHAT FISIK. Oleh Bambang Priyonoadi Jurusan PKR-FIK-UNY 1 KESIAPAN SISWA (STUDENT/CHILD READINESS) DALAM SUDUT PANDANG SEHAT FISIK Oleh Bambang Priyonoadi Jurusan PKR-FIK-UNY Abstrak Kesiapan siswa mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar dalam sudut pandang kesehatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Senam Jantung Sehat Senam jantung sehat adalah olahraga yang disusun dengan selalu mengutamakan kemampuan jantung, gerakan otot besar dan kelenturan sendi, serta upaya memasukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya

Lebih terperinci

KEJADIAN NYERI BAHU PADA OLAHRAGAWAN BULUTANGKIS PUTRA DI PERSATUAN BULUTANGKIS TAMA TARAMAN YOGYAKARTA

KEJADIAN NYERI BAHU PADA OLAHRAGAWAN BULUTANGKIS PUTRA DI PERSATUAN BULUTANGKIS TAMA TARAMAN YOGYAKARTA SKRIPSI KEJADIAN NYERI BAHU PADA OLAHRAGAWAN BULUTANGKIS PUTRA DI PERSATUAN BULUTANGKIS TAMA TARAMAN YOGYAKARTA Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi

Lebih terperinci

BAHAN AJAR. Dalam Perang Dunia II permainan ini tersebar di seluruh dunia terutama di Eropa

BAHAN AJAR. Dalam Perang Dunia II permainan ini tersebar di seluruh dunia terutama di Eropa BAHAN AJAR 1. Judul : PERMAINAN BOLA VOLI 2. Penyusun : Drs, Syahrizal 3. Tujuan : Agar siswa dapat mengetahui, mempelajari dan mempraktekan tentang sejarah bola voli dan semua tehnik tentang permainan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian sebagai mana kita kenal sekarang, memberikan garisgaris yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut,

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah keselamatan dan kesehatan kerja adalah masalah dunia. Bekerja dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, udara, bekerja disektor

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan. Oleh : Khamim

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan. Oleh : Khamim PENGARUH LATIHAN PASSING BAWAH MENGGUNAKAN TEMBOK SASARAN DENGAN MEMAKAI LINGKARAN DAN TALI TERHADAP KEMAMPUAN PASSING BAWAH PADA PERMAINAN BOLA VOLI KLUB IDOLA PLAJAN KABUPATEN JEPARA TAHUN 2013 SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mensukseskan pembangunan yang sejalan dengan kebutuhan manusia.

BAB I PENDAHULUAN. mensukseskan pembangunan yang sejalan dengan kebutuhan manusia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan yang cukup besar dalam membina kehidupan bermasyarakat menuju masa depan yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan

Lebih terperinci

SALMUN BENU PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

SALMUN BENU PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR TESIS LATIHAN SEPULUH REPETISI EMPAT SET DAN LIMA REPETISI DELAPAN SET SAMA BAIK MENINGKATKAN KETEPATAN DAN KECEPATAN JUMP SERVIS BOLA VOLI SISWA PUTERA KELAS 10 SMA NEGERI 1 KUPANG TENGAH SALMUN BENU

Lebih terperinci

OLAH TUBUH 2 UNTUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN. Seni Tari Kelas X Semester 2. Drs. Sidik Nugroho BP, M.Sn.

OLAH TUBUH 2 UNTUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN. Seni Tari Kelas X Semester 2. Drs. Sidik Nugroho BP, M.Sn. OLAH TUBUH 2 OLAH TUBUH 2 UNTUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Seni Tari Kelas X Semester 2 Drs. Sidik Nugroho BP, M.Sn. Drs. Sidik Nugroho BP, M.Sn. Drs. Sidik Nugroho BP, M.Sn. OLAH TUBUH 2 MODUL SISWA UNTUK

Lebih terperinci

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 -2 Checklist Indikator PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 Diolah oleh: http://www.rumahinspirasi.com MORAL & NILAI AGAMA a. Dapat

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPONEN FISIK DAN STRUKTUR TUBUH DENGAN KEMAMPUAN SEPAKSILA PADA PERMAINAN SEPAKTAKRAW MAHASISWA BKMF SEPAKTAKRAW FIK UNM

ANALISIS KOMPONEN FISIK DAN STRUKTUR TUBUH DENGAN KEMAMPUAN SEPAKSILA PADA PERMAINAN SEPAKTAKRAW MAHASISWA BKMF SEPAKTAKRAW FIK UNM 1 ANALISIS KOMPONEN FISIK DAN STRUKTUR TUBUH DENGAN KEMAMPUAN SEPAKSILA PADA PERMAINAN SEPAKTAKRAW MAHASISWA BKMF SEPAKTAKRAW FIK UNM Muhammad Adnan Hudain Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FIK

Lebih terperinci

MEKANISME GERAK SISTEM MUSKULOSKELETAL. Sasanthy Kusumaningtyas Departemen Anatomi FKUI

MEKANISME GERAK SISTEM MUSKULOSKELETAL. Sasanthy Kusumaningtyas Departemen Anatomi FKUI MEKANISME GERAK SISTEM MUSKULOSKELETAL Sasanthy Kusumaningtyas Departemen Anatomi FKUI 1 ILMU GERAK KINESIOLOGI : Adalah ilmu yang mempelajari tubuh manusia pada waktu melakukan gerakan. Beberapa disiplin

Lebih terperinci

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar pada Ibu Bersalin 1. Dukungan fisik dan psikologis 2. Kebutuhan makanan dan cairan 3. Kebutuhan eliminasi 4. Posisioning dan aktifitas

Lebih terperinci

ARIS EKO HERMAWANTO NIM : X4606002

ARIS EKO HERMAWANTO NIM : X4606002 PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH NORMAL PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 1 JENAR KABUPATEN SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPSI Oleh

Lebih terperinci

Bugar dan Siap Mengasuh Fit & Ready for Parenting

Bugar dan Siap Mengasuh Fit & Ready for Parenting Bugar dan Siap Mengasuh Fit & Ready for Parenting Bagian Fisioterapi Physiotherapy Department Tel: 9382 6540 Yang Biasanya Terasa Sakit Common Areas of Pain Semasa hamil, adanya hormon relaxin mengendurkan

Lebih terperinci

TUMBUH KEMBANG BAYI DAN PROBLEMATIKANYA

TUMBUH KEMBANG BAYI DAN PROBLEMATIKANYA TUMBUH KEMBANG BAYI DAN PROBLEMATIKANYA Proses tumbuh kembang anak pada masa bayi memiliki kekhasan. Bagai kupu-kupu yang masih lengket sayapnya lantaran baru mengentaskan diri dari kepompong, pada masa

Lebih terperinci

KONDISI FISIK. Danardono

KONDISI FISIK. Danardono KONDISI FISIK Danardono Kuatnya kemauan untuk hidup! MARTUNIS PEMBINAAN ATLET PRESTASI (GOLDEN AGE) KONTINYU BERJENJANG BERKELANJUTAN TIDAK BISA INSTANT Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembinaan

Lebih terperinci

Sistem Rangka dan Otot. Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi

Sistem Rangka dan Otot. Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Sistem Rangka dan Otot 1 Rangka Rangka adalah kumpulan berbagai tulang Pemberi bentuk tubuh Tempat melekatnya otot-otot Pelindung organ lunak Mengganti sel-sel yg rusak Penopang tubuh Menyerap gaya/beban

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KAJIAN TEORI 1. Fasilitas Ruang Pembelajaran Teori Berdasarkan ketentuan dalam Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan Tinggi, Program Pasca Sarjana dan Pendidikan Profesi (2011)

Lebih terperinci

Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns AKPER HKBP BALIGE

Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns AKPER HKBP BALIGE Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns Kala I Bantu ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan Jika ibu tampak kesakitan, dukungan yg dapat dierikan : Perubahan posisi, tetapi jika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi

Lebih terperinci

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL Disusun oleh : HENDRO HARNOTO J110070059 Diajukan untuk memenuhi tugas dan syarat syarat guna memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

Bahan Ajar IPA Terpadu

Bahan Ajar IPA Terpadu Setelah mempelajari materi gerak lurus diharapkan ananda mampu 1. Mendefinisikan gaya 2. Mengidentifikasi jenis-jenis gaya dalam kehidupan sehari-hari 3. Mengidentifikasi gaya gesekan yang menguntungkan

Lebih terperinci

HUBUNGAN DAYA TAHAN OTOT TUNGKAI KAKI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 57 BENGKULU SELATAN SKRIPSI ZUL ADHA NPM.

HUBUNGAN DAYA TAHAN OTOT TUNGKAI KAKI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 57 BENGKULU SELATAN SKRIPSI ZUL ADHA NPM. HUBUNGAN DAYA TAHAN OTOT TUNGKAI KAKI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 57 BENGKULU SELATAN SKRIPSI OLEH ZUL ADHA NPM. 1213912089 PROGRAM SARJANA KEPENDIDIKAN BAGI GURU DALAM

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN GERAK DASAR MELALUI PERMAINAN ROK GEBUG PADA SISWA KELAS V SD NEGERI DUKUHJATI KIDUL 02 KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013

UPAYA PENINGKATAN GERAK DASAR MELALUI PERMAINAN ROK GEBUG PADA SISWA KELAS V SD NEGERI DUKUHJATI KIDUL 02 KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013 UPAYA PENINGKATAN GERAK DASAR MELALUI PERMAINAN ROK GEBUG PADA SISWA KELAS V SD NEGERI DUKUHJATI KIDUL 02 KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013 SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1 untuk mencapai

Lebih terperinci

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN?

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? ASPEK YANG DISUKAI ANAK YANG BISA KITA AJARKAN FISIK Sangat Aktif. Bisa jalan, lari, lompat 2 kaki, bertumpu, dan manjat. Bisa corat-coret, bekerja dengan 3-4

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gerak merupakan hakikat manusia, bergerak adalah salahsatu aktivitas yang tidak akan luput dari kehidupan manusia dalam melaksanakan aktivitasnya seharihari.

Lebih terperinci

HUBUNGAN DAYA LEDAK LENGAN DAN DAYA LEDAK TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN JUMP SHOOT PADA PERMAINAN BOLABASKET SISWA SMA NEGERI 4 MAKASSAR

HUBUNGAN DAYA LEDAK LENGAN DAN DAYA LEDAK TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN JUMP SHOOT PADA PERMAINAN BOLABASKET SISWA SMA NEGERI 4 MAKASSAR HUBUNGAN DAYA LEDAK LENGAN DAN DAYA LEDAK TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN JUMP SHOOT PADA PERMAINAN BOLABASKET SISWA SMA NEGERI 4 MAKASSAR Oleh: ETNO SETIAGRAHA )* ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

FOREHAND TAHUN 2012 SKRIPSI. diajukan untuk mencapai. Oleh

FOREHAND TAHUN 2012 SKRIPSI. diajukan untuk mencapai. Oleh PENGARUH LATIHAN FOREHAND DRIVE DENGAN METODE THREE BALL GROUNDSTROKE DAN FOREHAND ONLY TERHADAP KEMAMPUAN FOREHAND DRIVE PADAA PEMAIN TENIS KLUB PHAPROS SEMARANG TAHUN 2012 SKRIPSI diajukan dalam rangka

Lebih terperinci

Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā

Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Meditasi jalan Sebaiknya, latihan meditasi dimulai dengan meditasi jalan dahulu. Saat

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI MEDIA KARET GELANG PADA SISWA KELAS V SD N 3 SOJOMERTO KEC. GEMUH KAB

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI MEDIA KARET GELANG PADA SISWA KELAS V SD N 3 SOJOMERTO KEC. GEMUH KAB MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI MEDIA KARET GELANG PADA SISWA KELAS V SD N 3 SOJOMERTO KEC. GEMUH KAB. KENDAL TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012 SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

dapat menyebabkan pelaksanaan terganggu.

dapat menyebabkan pelaksanaan terganggu. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Identifikasi Identifikasi adalah proses pengenalan, menempatkan obyek atau individu dalam suatu kelas sesuai dengan karakteristik tertentu. ( Menurut JP Chaplin

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. 40-50 cm, kemudian lompat ke bawah lagi dan lompat ke kotak dan seterusnya.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. 40-50 cm, kemudian lompat ke bawah lagi dan lompat ke kotak dan seterusnya. BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.1.Kajian Teoritis 2.1.1. LATIHAN BOX JUMP Latihan box jumps dimulai dengan berdiri pada dua kaki selebar bahu, kemudian melakukan lompatan ke depan dengan mendarat

Lebih terperinci

Pengaruh Latihan Senam Haji Terhadap Peningkatan Daya Tahan Jantung Paru Pada Calon Jamaah Haji Non Resiko Tinggi

Pengaruh Latihan Senam Haji Terhadap Peningkatan Daya Tahan Jantung Paru Pada Calon Jamaah Haji Non Resiko Tinggi Pengaruh Latihan Senam Haji Terhadap Peningkatan Daya Tahan Jantung Paru Pada Calon Jamaah Haji Non Ika Setia Ningsih, Junaidi Dosen FISIOTERAPI UIEU junaidi@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati Masa Kanak-Kanak Akhir Siti Rohmah Nurhayati MASA KANAK-KANAK AKHIR Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa ini dialami anak pada usia 6 tahun sampai

Lebih terperinci

Dirangkum oleh: Mawan A. Nugroho, S.Kom, M.Kom

Dirangkum oleh: Mawan A. Nugroho, S.Kom, M.Kom 12 Prinsip Animasi Dirangkum oleh: Mawan A. Nugroho, S.Kom, M.Kom 1. Pose dan gerakan antara (Pose-To-Pose and Inbetween) Misalkan kita mengambil adegan orang berjalan dengan menggunakan kamera. Bentangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik bila didukung dengan kebugaran jasmani yang baik.

BAB I PENDAHULUAN. baik bila didukung dengan kebugaran jasmani yang baik. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan dan kesegaran tubuh yang baik merupakan salah satu unsur penting untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan dapat mengantarkan seseorang untuk menikmati isi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 228/100.000 kelahiran

Lebih terperinci

POSISI-POSISI DALAM PERSALINAN. Hasnerita, S.Si.T. M.Kes

POSISI-POSISI DALAM PERSALINAN. Hasnerita, S.Si.T. M.Kes POSISI-POSISI DALAM PERSALINAN Hasnerita, S.Si.T. M.Kes Pendahuluan Tak ada posisi melahirkan yang paling baik. Posisi yang dirasakan paling nyaman oleh si ibu adalah hal yang terbaik. Namun umumnya, ketika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami kecacatan dalam fisik menetap. Menurut Assjari, istilah tuna daksa

BAB I PENDAHULUAN. mengalami kecacatan dalam fisik menetap. Menurut Assjari, istilah tuna daksa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jika dihadapkan pada kehidupan bermasyarakat, tentu akan senantiasa ada perbedaan perlakuan, karena perbedaan fisik berupa cacat atau tidaknya seseorang, perbedaan usia,

Lebih terperinci

PROPOSAL TUGAS AKHIR IPTEK BAGI FISIOTERAPI

PROPOSAL TUGAS AKHIR IPTEK BAGI FISIOTERAPI PROPOSAL TUGAS AKHIR IPTEK BAGI FISIOTERAPI Posisi Tubuh yang Benar dan Program Latihan Di rumah bagi Penderita HNP (Pinggang Kecetit) Oleh : Jundiah PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI FAKULTAS FISIOTERAPI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PADA SKRIPSI. Oleh: FAKULTAS

PADA SKRIPSI. Oleh: FAKULTAS PENGARUH METODE LATIHAN FULLCOURT DRILL THREE MAN WEAVE TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN DASAR BOLA BASKET DAN DAYA TAHAN ANAEROBIC PADA ATLET BOLA BASKET KLUB YUSO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan dan martabat manusia.

Lebih terperinci

1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh?

1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh? 1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh? 3. Sebutkan contoh perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah! 4. Perhatikan bangun ruang di

Lebih terperinci

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I Oleh: I Dewa Ayu Sri Suasmini, S.Sn,. M. Erg. Dosen Desain Interior Fakultas Seni

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET

MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET Oleh : Fitriani, SE Pola hidup sehat adalah gaya hidup yang memperhatikan segala aspek kondisi kesehatan, mulai dari aspek kesehatan,makanan, nutrisi yang dikonsumsi

Lebih terperinci