BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Landasan Hukum

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Landasan Hukum"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Renstra memiliki definisi sebagai suatu proses secara sistematis yang berkelanjutan dari pembuatan keputusan yang beresiko, dengan memanfaatkan sebanyakbanyaknya pengetahuan antisipatif mengorganisasi secara sistematis, usahausaha dalam melaksanakan keputusan tersebut untuk mengukur keberhasilan melalui umpan balik yang terorganisir dan sistematis. Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat sebagai salah satu daerah otonom dalam kerangka wilayah Propinsi Kalimantan Tengah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Undang Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, memiliki kewenangan mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa sendiri sesuai aspirasi masyarakat dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Bupati Kotawaringin Barat Nomor 13 tahun 2006 tentang Pembentukan Unit Pelayanan Terpadu Kabupaten Kotawaringin Barat yang selanjutnya telah ditingkatkan menjadi Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan yang telah ditetapkan melalui Perda Nomor 19 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat berkedudukan dibawah pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat secara otonom. Sebagai unsur Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan memiliki Visi, Misi tujuan kegiatan yang ditetapkan berdasarkan strategi pengembangan bidang perizinan secara khusus dan pengembangan ekonomi daerah pada umumnya. Untuk mencapai apa yang menjadi Visi, Misi serta Tujuan kegiatan tersebut perlu disusun suatu Rencana Starategik (Renstra) sebagai panduan dalam mencapai sukses organisasi. Melalui Renstra organisasi diharapkan mampu menyiapkan perubahan secara proaktif, dapat mengelola keberhasilan, memiliki orientasi kedepan, mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat khususnya dibidang perizinan Landasan Hukum Sebagai landasan hukum Penyusunan Renstra Pembangunan Jangka Menengah Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat adalah : a. Undangundang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; b. Undangundang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah; c. Undangundang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal; d. Undangundang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil Menengah; e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; f. Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah; g. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah;

2 2 h. Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah; i. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan daerah; j. Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 2008 pemberian insentif dan pemberian kemudahan penanaman modal di daerah; k. Inpres Nomor 3 tahun 2006 tentang kebijakan perbaikan iklim investasi; l. Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; m. Permendagri Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; n. Permendagri Nomor 20 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan tata kerja Unit Pelayan Perizinan Terpadu di daerah; o. Permendagri Nomor 37 tahun 2008 tentang Rumpun Pendidikan dan Pelatihan Teknis Substantif Pemerintah Daerah; p. Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan daerah; q. Kewenangan Bupati Kotawaringin Barat Nomor : 050/369/BappSet/2005 tanggal 22 Oktober 2005 tentang penggunaan Renstra Badan/Dinas/Instansi Maksud dan Tujuan Maksud dan Tujuan penyusunan Rencana Strategis Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun adalah sebagai berikut : Maksud : 1. Sebagai pedoman bagi unsur pimpinan dalam rangka mengatur dan pengambilan keputusan dibidang perizinan. 2. Memberikan arah dan panduan kerja bagi penyusunan rencana operasional kegiatan dalam rangka pencapaian target dan sasaran kedepan. 3. Sebagai salah satu sarana pengendalian dan evaluasi pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 ( lima ) tahun. Tujuan : Dengan adanya Rencana strategis lima tahunan yang dituangkan dalam program/ kegiatan tahunan, maka segala kegiatan yang dilakukan akan lebih terarah dan produktif. Melalui Program kerja lima tahunan ini dapat diharapkan adanya koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik antar Dinas/Lembaga/Instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat maupun di lingkungan Internal Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat, sehingga secara bersamasama melangkah menuju sasaran yang telah ditetapkan.

3 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan Renstra SKPD ini memuat 9 (sembilan) Bab yaitu terdiri dari : BAB I PENDAHULUAN menguraikan; Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan, dan Sistematika Penulisan. BAB II GAMBARAN PELAYANAN KANTOR PELAYANAN TERPADU PERIZINAN menguraikan; Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi SKPD, Sumber Daya SKPD, Kinerja Pelayanan SKPD, Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD. BAB III ISUISU STRATEGIS SKPD BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI menguraikan; Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi SKPD, Telaah Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih, Telaah Renstra K/L dan Renstra Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dan Penentuan Isuisu Strategis. BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN menguraikan; Visi dan Misi SKPD, Tujuan, Sasaran Jangka Menengah SKPD, Strategi dan Kebijakan. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF menguraikan; Program Kegiatan dan Indikator Kinerja Program Prioritas., Kelompok Sasaran dan Pendanaan Indikatif KPTP. BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD. BAB VII PENUTUP LAMPIRAN LAMPIRAN.

4 4 BAB II GAMBARAN PELAYANAN KANTOR PELAYANAN TERPADU PERIZINAN 2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi SKPD Tugas ; Melaksanakan sebagian kewenangan daerah dibidang perizinan/ non perizinan; Bidang Perizinan / Non Perizinan sebagaimana dimaksud adalah bidang perizinan yang sebelumnya ditangani oleh SKPD terkait selanjutnya secara bertahap dilimpahkan ke Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan ( KPTP ). Fungsi : Merumuskan dan merencanakan kebijakan tehnis bidang perizinan / non perizinan Melaksanakan pembinaan, penerbitan dan pembatalan perizinan / non perizinan Menyelenggarakan pelayanan perizinan/ non perizinan, sesuai dengan kewenangannya Melaksanakan sistem informasi dan pengaduan perizinan / non perizinan Mengelola data dan pengembangan bidang perizinan / non perizinan Melaksanakan pemungutan retribusi sesuai dengan kewenangan yang diberikan Melaksanakan koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas dibidang perizinan / non peerizinan Melaksanakan penatausahaan Kantor Struktur Organisasi Berdasarkan Perda Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 19 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan lembaga teknis daerah Kabupaten Kotawaringin Barat, maka struktur Organisasi Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan sebagai berikut : a. Kepala Kantor b. Kasubag Tata Usaha c. Kepala Seksi Informasi, Pengaduan dan Dokumentasi d. Kepala Seksi Pelayanan e. Kepala Seksi Investigasi dan Verifikasi f. Kelompok Jabatan Fungsional g. Staf Pelaksana

5 5 BAGAN STRUKTUR ORGANISASI KANTOR PELAYANAN TERPADU PERIZINAN ( PERDA NOMOR 19 TAHUN 2008 ) KEPALA KANTOR KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL KA SUBAG TATA USAHA PELAKSANA PELAKSANA KEPALA SEKSI INFORMASI, PENGADUAN DAN DOKUMENTASI KEPALA SEKSI PELAYANAN KEPALA SEKSI INVESTIGASI DAN VERIVIKASI PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA Rincian tugas, pokok dan fungsi pada masing masing eselon di Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan adalah sbb : 1. Kepala Kantor Kepala Kantor bertugas memimpin, membina, mengkoordinasikan, merencanakan serta menetapkan program kerja, tata kerja dan mengembangkan semua kegiatan pelayanan terpadu perizinan, melaksanakan koordinasi dan penyelenggaraan pelayanan administrasi dibidang perizinan / non perizinan secara terpadu. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Kepala Kantor menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : a. Merumuskan dan merencanakan kebijakan teknis dibidang perizinan / non perizinan; b. Mengkoordinasikan penyelenggaraan pelayanan administrasi perizinan / non perizinan; c. Menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi proses pemberian pelayanan perizinan / non perizinan; d. Menyelenggarakan sistem informasi dan pengaduan perizinan / non perizinan; e. Mengelola data dan pengembangan perizinan / non perizinan; f. Melaksanakan pemungutan retribusi sesuai dengan kewenangan yamg diberikan;

6 6 g. Mengkoordinasikan kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas dibidang perizinan / non perizinan; h. Menandatangani perizinan / non perizinan sesuai kewenangan yang diberikan oleh Bupati; i. Menyelenggarakan penatausahaan Kantor. 2. Sub Bagian Tata Usaha Kepala sub bagian tata usaha mempunyai tugas mengkoordinasikan penyusunan program, penyelenggaraan tugastugas seksi secara terpadu dan tugas pelayanan administratif meliputi : perlengkapan, keuangan, kepegawaian, ketatausahaan, protokol, humas, dan rumah tangga, organisasi, tata laksana dan analisis jabatan serta perpustakaan, dokumentasi dan data pada Satuan Kerja Perangkat Daerah. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Kepala Sub Bagian Tata Usaha menjalankan fungsi sebagai berikut : a. Mengkoordinasikan penyusunan rencana program, kegiatan, dan anggaran SKPD; b. Mengatur pelaksanaan urusan umum, kepegawaian dan perlengkapan SKPD; c. Mengatur pelaksanaan administrasi pengelolaan keuangan SKPD; d. Menyusun evaluasi dan pelaporan kegiatan SKPD; e. Mengkoordinasikan dan membina pelaksanaan tugas seksi secara terpadu; 3. Seksi Informasi, Pengaduan dan Dokumentasi Kepala seksi pengaduan dan dokumentasi melaksanakan tugas merencana, menyusun, melaksanakan, membina, tugastugas pelayanan informasi, pengelolaan dan pengembangan sistem informasi perizinan / non perizinan, pengaduan masalah pelayanan perizinan / non perizinan, penanganan pengaduan, dan melaksanakan pendokumentasian pelayanan perizinan / non perizinan. Untuk melaksanakan tugas tersebut, kepala seksi informasi, pengaduan dan dokumentasi menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : a. Menyelenggarakan pengumpulan data, informasi, permasalahan, peraturan perundangundangan dan kebijakan teknis yang berkaitan dengan sistem informasi dan pengaduan; b. Menyelenggarakan upaya pemecahan masalah yang berkaitan dengan sistem informasi dan pengaduan; c. Menyelenggarakan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan seksi; d. Menyiapkan bahan pengembangan sisitem informasi perizinan / non perizinan; e. Menyelenggarakan penanganan pengaduan masyarakat; f. Menyelenggarakan analisis dan pengembangan kinerja seksi; g. Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, mengevaluasi dan melaporkan kegiatan seksi;

7 7 h. Menyelenggarakan pendokumentasian sistem pelayanan perizinan / non perizinan dan peraturan perundangundangan yang berlaku; i. Menyiapkan bahan kebijakan dan petunjuk teknis yang berkaitan dengan sisitem informasi perizinan / non perizinan; j. Menyiapkan bahan kebijakan dan petunjuk teknis yang berkaitan dengan pengaduan dan advokasi perizinan / non peerizinan; k. Melakukan klarifikasi dan memberikan advokasi terhadap permasalahan yang terjadi dalam pelayanan perizinan / non perizinan; l. Menyiapkan bahan koordinasi penyelesaian permasalahan perizinan / non perzinan; m. Melaksanakan upaya pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan sistem informasi perizinan / non perizinan; n. Melaksanakan upaya pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan pengaduan dan advokasi perizinan / non perizinan; o. Melaksanakan pemberian informasi layanan perizinan / non perizinan dan advice planning serta pengelolaan dan call centre; p. Melayani pengaduan dan komplain masyarakat terhadap layanan yang diberikan kantor; q. Melaksanakan pemantauan dan pengawasan terhadap izin yang telah diterbitkan; 4. Seksi Pelayanan Kepala Seksi Pelayanan melaksanakan tugas merencana, menyusun, melaksanakan, membina, tugastugas pelaksanaan pelayanan perizinan / non perizinan. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud kepala seksi pelayanan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : a. Menyelenggarakan pengumpulan data, informasi, permasalahan perundangundangan dan kebijakan teknis yang berkaitan dengan pelayanan perizinan / non perizinan; b. Menyelenggarakan upaya pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan pelayanan perizinan / non perizinan; c. Menyelenggarakan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan seksi; d. Menyelenggarakan pelayanan perizinan / non perizinan; e. Menyelenggarakan analisis dan pengembangan kinerja seksi; f. Mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi permasalahan serta melaksanakan pemecahan masalah yang berhubungan dengan tugastugas yang berkaitan dengan administrasi dan pelayanan perizinan / non perizinan; g. Menyiapkan bahan kebijakan, bimbingan dan pembinaan serta petunjuk teknis sesuai bidang tugasnya; h. Melaksanakan pelayanan penerimaan pengajuan permohonan perizinan dan penyerahan izin;

8 8 i. Melaksanakan pemeriksaan berkas permohonan dan persyaratan administrasi perizinan / non perizinan; j. Melaksanakan pelayanan legalisasi perizinan dan pembuatan Surat Ketetapan Retribusi ( SKR ) serta pembuatan draf penetapan izin; k. Melaksanakan analisis dan pengembangan kinerja seksi; l. Menyiapkan draf keputusan penolakan, pembatalan, dan pencabutan izin; 5. Seksi Investigasi dan Verifikasi Kepala Seksi Investigasi dan Verifikasi melaksanakan tugas, merencana, menyusun, melaksanakan, membina, tugastugas pelaksanaan investigasi dan verifikasi pelayanan perizinan / non perizinan; Untuk melaksanakan tugas tersebut Kepala Seksi Investigasi dan Verifikasi menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : a. Menyelenggarakan pengumpulan data, informasi, permasalahan peraturan perundangundangan dan kebijakan teknis yang berkaitan dengan tugas investigasi dan verifikasi pelaksanaan pelayanan perizinan / non perizinan; b. Menyelenggarakan upaya pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan investigasi dan verifikasi perizinan / non perizinan; c. Menyelenggarakan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan seksi; d. Menyelenggarakan investigasi dan verifikasi administrasi dan lapangan dalam rangka pelaksanaan pelayanan perizinan / non perizinan; e. Menyelenggarakan analisis dan pengembangan kinerja seksi; f. Mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi permasalahan serta melaksanakan pemecahan masalah yang berhubungan dengan tugas tugas yang berkaitan dengan koordinasi pelayanan perizinan / non perizinan; g. Menyiapkan bahan kebijakan, bimbingan dan pembinaan serta petunjuk teknis sesuai bidangnya; h. Membuat jadwal koordinasi dan penelitian lapangan; i. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dalam pemeriksaan persyaratan teknis dan penelitian lapangan; j. Mengkoordinasikan penanganan permasalahan yang timbul di lapangan; k. Membuat berita acara hasil penelitian lapangan; l. Melaksanakan penetapan retribusi izin; m. Melaksanakan analisis dan pengembangan kinerja seksi.

9 2.2. Sumber Daya SKPD 9 Dalam hal ini Sumber Daya Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat mencakup : Sumber Daya Manusia ( SDM ) kondisi kepegawaian yang berada di Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan pada awal Januari 2012 sebagai berikut : No Uraian Formasi I Menurut Golongan Golongan IV Golongan III Golongan II Golongan I Posisi Awal Tambahan 1 Kurang 1 Posisi Akhir II III Jumlah Menurut Jabatan Struktural Eselon I Eselon II b Eselon III Eselon IV Fungsional Staf Tenaga Kontrak Menurut Pendidikan S2 S1 Sarjana Muda SLTA SLTP SD Jumlah Jumlah Aset/ Modal a. Gedung Kantor Ada 1 (satu) buah gedung kantor ukuran 140 M 2 yang masih menjadi tanggung jawab Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat yaitu gedung kantor yang terletak di Jalan Sutan Syahrir No. 2B Pangkalan Bun. b. Mobilitas Kendaraan Kendaraan Dinas / Operasional untuk mendukung kegiatan kantor tersedia 4 (empat) unit kendaraan dinas roda 2, dan 1 (satu) unit roda 4. c. Peralatan Kerja Peralatan kerja yang tersedia 4 (empat) unit Laptop, 11 (sebelas) unit Komputer, 6 (enam) buah Printer, 4 (empat) unit UPS, 1 (satu) unit Telepon dan 1 (satu) unit Faximili, 10 (sepuluh) buah dalam keadaan baik.

10 10 d. Perlengkapan kerja yang tersedia 13 (tiga belas) buah Filling Kabinet, 9 (sembilan) buah Almari arsip, 2 (dua) buah Almari Besi, 1 (satu) buah Brankas, 1 (satu) buah Meja Kerja Kepala Kantor, 1 (satu) buah Kursi Kepala Kantor, 4 (empat) buah Meja Kerja Kasubag/Kasie, 4 (empat) buah Kursi Kerja Kasubag/Kasie 20 (dua puluh) buah Kursi Putar Pegawai, 8 (delapan) buah Meja Setengah Biro, 1 (satu) buah Meja Biro, 28 (dua puluh delapan) buah Kursi Lipat, 2 (dua) buah Kursi Kayu Panjang, 1 (satu) buah Meja Kayu Panjang, 4 (empat) buah kursi tunggu panjang dari besi, 1 (satu) buah tangga alumunium, 1 (satu) buah mesin potong rumput, 12 (dua belas) kalkulator dan 1 (satu) buah White Bord dalam keadaan baik. Unit Usaha Yang Masih Operasional Unit Usaha yang masih operasional sampai tahun 2012 adalah sebagai berikut : 1. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Rumah 2. Ijin Tempat Usaha (SITU) 3. Ijin Domisili (SIDOM) 4. Ijin Gangguan / HO 5. Ijin Pemasangan Reklame 6. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 7. Ijin Usaha Industri (IUI) dan Tanda Daftar Perusahaan Industri (TDI) 8. Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) 9. Tanda Daftar Gudang /Ruang (TDG/R) 10. Ijin Penumpukan Hasil Hutan dan Bahan Lainnya (IPHHB) 11. Ijin Usaha Pertambangan (IUP) / Kuasa Pertambangan (KP) 12. Ijin Usaha Angkutan (IUA) dan Ijin Trayek (IT) 13. Ijin Usaha Angkutan (IUAPP) dan Ijin Trayek Angkutan (IT) Perairan Pedalaman 14. Ijin Bangunan Air, Logpond dan Dokumen Kapal Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan 15. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Industri 16. Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) 17. Ijin Pemakaian Kekayaan Daerah 18. Ijin Test Laboratorium / Peminjaman Alat Laboratorium

11 Kinerja Pelayanan SKPD Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat berdiri tahun 2008 sebagai upaya tindak lanjut peraturan Mendagri Nomor 20 tahun 2008 tentang pedoman Organisasi dan tata kerja Unit Pelayanan Perizinan Terpadu di daerah yang dituangkan dalam Perda No. 19 tahun 2008 tentang Organisasi dan tata kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah dalam rangka menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat. Adapun tingkat keberhasilan dan review Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan dapat dilihat pada Lampiran Tabel. TIV.C.2 dan TIV.C Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Tantangan ( Threaths ) Ekonomi a. Penerbitan izin masih ditangani oleh Dinas Teknis b. Diberlakukannya perdagangan bebas ASEAN dan ACFTA akan mendorong tingginya persaingan terhadap komoditi yang berasal dari Kabupaten Kotawaringin Barat. c. Masih belum stabilnya Kurs mata uang Dollar terhadap rupiah, sehingga berpengaruh terhadap tingginya tingkat suku bunga perbankan sehingga menghambat perkembangan usaha mengakibatkan lesunya pengurusan perizinan. Teknologi Terjadinya perkembangan iptek yang begitu pesat menyebabkan teknologi yang digunakan dalam proses perizinan menjadi tertinggal dan tidak sesuai dengan kebutuhan pelayanan publik. Politik, Sosial dan Ekonomi a. Kebijakan Pemerintah Pusat maupun Daerah yang seringkali berubah menyebabkan kurangnya kepastian hukum dalam bidang perizinan. b. Ketergantungan akan kondisi sosial, politik dan keamanan secara nasional serta dampaknya terhadap perkembangan ekonomi daerah dan peningkatan investasi. c. Tidak sinkronnya Regulasi terutama yang mengatur sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu, terutama antara Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di bidang Penanaman Modal dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

12 12 Peluang ( Opportunities ) Ekonomi a. Terbukanya peluang pasar bagi hasil produksi Kabupaten Kotawaringin Barat keluar baik antar pulau maupun mancanegara. b. Cukup lancarnya transportasi darat, laut dan udara ke Kabupaten Kotawaringin Barat serta telah dioperasikannya pelabuhan Peti Kemas di Bumi Harjo. c. Meningkatnya gairah pengusaha untuk menanamkan modalnya di semua sektor di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat. Politik, Sosial dan Keamanan a. Mantapnya kondisi keamanan Kabupaten Kotawaringin Barat sehingga terjaminnya kegiatan investasi. b. Terlaksananya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan daerah. c. Adanya komitmen dari pemerintah pusat untuk memberikan kemudahan dalam pengurusan perizinan sebagai upaya dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan iklim investasi yang ditunjukkan dengan terbitnya Undangundang Nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu pintu. d. Adanya komitmen bersama semua komponen masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat ( Pemerintah dan Masyarakat ) untuk memajukan Kabupaten Kotawaringin Barat. Sumber Daya Alam Tersedianya potensi Sumber Daya Alam yang dapat dijadikan sebagai daya tarik investasi.

13 13 BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat dalam rangka menciptakan iklim investasi yang lebih baik diwilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, maka tugas Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan adalah untuk memberikan pelayanan perizinan pada masyarakat secara cepat, tepat, transparan dan murah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diatas perlu didukung dengan adanya : 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Berdasarkan kondisi yang telah berjalan selama ini, Kantor Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Kotawaringin Barat masih menghadapi beberapa permasalahan yang dirasakan cukup menjadi kendala bagi kelancaran pelaksanaan tugas KPTP sesuai dengan Visi dan misi yang diharapkan, diantaranya : Belum adanya pelimpahan wewenang dalam hal pengelolaan perizinan sesuai dengan prinsprinsip Pelayanan Terpadu Perizinan Satu Pintu (PTSP) sehingga visi serta misi yang diemban belum bisa dijalankan secara maksimal. Kurangnya tenaga terampil yang memiliki keahlian khusus terhadap kinerja bidang perizinan, misalnya : ahli komputer, ahli dalam bidang pengelolaan database dan lainlain. Bangunan kantor yang kurang representatif guna menunjang fungsi pelayanan perizinan terhadap masyarakat pengguna jasa perizinan. 3.2 Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Visi dan Misi Kabupaten Kotawaringin Barat Visi Pembangunan Kabupaten Kotawaringin Barat adalah Terwujudnya Kabupaten Kotawaringin Barat yang Sejahtera, Berkeadilan dan Jaya. Visi tersebut mengandung makna bahwa dalam 5 (lima) tahun mendatang diharapkan: 1. Kesejahteraan Rakyat. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat, melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing, kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya bangsa. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Keadilan. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata, yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif, yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia 3. Jaya, terwujudnya kemajuan daerah dalam segala bidang pembangunan yang demokratis, berbudaya, bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. Adapun Misi Pembangunan Kabupaten Kotawaringin Barat terdiri dari 3 (tiga) poin sebagai berikut: 1. Melanjutkan Pembangunan Kotawaringin Barat Sebagai Daerah Pengembangan Pembangunan 2. Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang 3. Menuju Kejayaan Kotawaringin Barat

14 3.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi/ Kabupaten/ Kota 14

15 3.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis 15 MUATAN RANCANGAN PERDA RTRW Kawasan Peruntukan Pertambangan Pasal 42 Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e, terdiri atas kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batu bara, meliputi: a. potensi tambangan batubara di Kecamatan Pangkalan Banteng; b. potensi tambangan biji besi di Kecamatan Arut Utara meliputi Desa Pandau, Desa Riam dan Desa Sambi; c. potensi tambangan emas di Kecamatan Arut Utara meliputi Desa Pangkut, Desa Kerabu dan Desa Penyombaan; dan d. potensi tambangan zirkon di kecamatan Pangkalan Banteng dan Kecamatan Kumai. Kawasan Peruntukan Industri Pasal 43 Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf f, terdiri atas: a. kawasan peruntukan industri/industrial estate, yaitu : 1. industri besar dan menengah berada di Kecamatan Kumai, P.Lada dan P.Banteng seluas Ha ( tiga lokasi); 2. industri kecil tersebar diseluruh daerah di Kabupaten kotawaringin Barat; b. kawasan peruntukan industri diluar kawasan industri, yaitu : 1. industri pengolahan kayu lapis Korea Indonesia (Korindo) merupakan industri besar di Kabupaten Kotawaringin Barat; 2. industri translik merupakan industri rumah tangga. 3. Industri mikro, kecil dan menengah tidak wajib berlokasi dalam kawasan industry (1) Pengelolaan kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana pada pasal 42, berlaku ketentuan: a. pengembangan kawasan pertambangan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi bahan galian, kondisi geologi dan geohidrologi dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan; b. pengelolaan kawasan bekas penambangan harus direhabilitasi/reklamasi sesuai dengan zona peruntukan yang ditetapkan, dengan melakukan penimbunan tanah subur dan/atau bahanbahan lainnya agar lahan dapat digunakan kembali sebagai kawasan hijau, ataupun kegiatan budidaya; c. setiap kegiatan usaha pertambangan harus menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil) untuk keperluan rehabilitasi atau reklamasi lahan bekas penambangan; d. dilakukannya upaya meminimalisasi penggunaan bahan bakar kayu untuk pembakaran kapur dan batu bata, genting, agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan; e. pada kawasan yang teridentifikasi bahan tambang minyak dan gas bumi yang bernilai ekonomi tinggi, sementara pada bagian atas kawasan penambangan adalah kawasan lindung atau kawasan budidaya sawah yang tidak boleh dialihfungsikan, atau kawasan permukiman, maka eksplorasi dan/atau eksploitasi tambang harus disertai AMDAL dan operasi kelayakan secara lingkungan, sosial, fisik dan ekonomi dalam jangka panjang dan skala luas; f. dilakukannya upaya untuk menghindari dan meminimalisir kemungkinan timbulnya dampak negatif dari kegiatan sebelum, saat dan setelah kegiatan penambangan, disertai pengendalian yang ketat; dan g. pemanfaatan lahan bekas tambang yang merupakan lahan marginal untuk pengembangan komoditas lahan yang memiliki nilai ekonomi. (2) Pengelolaan kawasan peruntukan industry sebagaimana pada pasal 43 ditetapkan dengan ketentuan: a. kawasan industri yang akan dikembangkan adalah di Kecamatan Kumai, Pangkalan Banteng dan Pangkalan Lada sebagai industri besar dan Kecamatan Arut Selatan sebagai industri kecil dan menengah b. pengembangan kawasan industri dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekologis melalui penyediaan Ruang Terbuka seluas 30% (tiga puluh persen) terdiri dari 20% (dua puluh persen) berupa Ruang Terbuka Hijau Publik dan 10% (sepuluh persen) berupa Ruang Terbuka Hijau Privat; c. pengembangan kawasan industri didukung oleh adanya jalur hijau atau sabuk hijau di sekitar kawasan sebagai penyangga antar fungsi kawasan industri dengan kawasan sekitarnya; d. industri yang dikembangkan memiliki keterkaitan proses produksi mulai dari industri dasar/hulu dan industri hilir serta industri antara, yang dibentuk berdasarkan pertimbangan efisiensi biaya produksi, biaya keseimbangan lingkungan dan biaya aktifitas sosial; e. setiap kegiatan industri menggunakan metoda atau teknologi ramah lingkungan, serta harus dilengkapi dengan instrumen pengelolaan kemungkinan bencana industri; f. lokasi industri yang masih dipertahankan di wilayah yang tidak diperuntukkan sebagai wilayah pengembangan industri tidak dikembangkan dan apabila kawasan industri yang telah ditetapkan di dalam peraturan daerah ini telah siap, lokasi industri sebagaimana dimaksud diarahkan untuk dipindahkan ke Kawasan Industri (KI); g. ketentuan jenis industri atau kegiatan industri yang diarahkan di Kawasan Industri yang telah ditetapkan akan diatur lebih lanjut melalui kajian dan perencanaan secara tersendiri; h. setiap Kawasan Industri menyediakan ruang untuk kegiatan industri kecil minimal seluas 10% (sepuluh persen) dari total luas kawasan. SKPD PENANGGUNG JAWAB/ PELAKSANA Sekretariat Daerah, Bappeda, Kantor Pelayanan Terpadu dan Perizinan Kab. Kobar Sekretariat Daerah, Bappeda, Kantor Pelayanan Terpadu dan Perizinan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pekerjaan Umum Kab. Kobar Sekretariat Daerah, Bappeda, Kantor Pelayanan Terpadu dan Perizinan Kab. Kobar Sekretariat Daerah, Bappeda, Kantor Pelayanan Terpadu dan Perizinan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pekerjaan Umum Kab. Kobar CATATAN/ KETERANGAN

16 16 MUATAN RANCANGAN PERDA RTRW Bagian Kedua Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pasal 59 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) huruf a, menjadi pedoman bagi penyusunan peraturan zonasi oleh pemerintah kabupaten. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perkotaan; b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perdesaan; c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan transportasi darat; d. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan transportasi laut; e. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan transportasi udara; f. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan energi; g. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan telekomunikasi; h. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan prasarana sumber daya air; i. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan prasarana penyehatan lingkungan; j. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung; k. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya; dan l. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan strategis kabupaten. SKPD PENANGGUNG JAWAB/ PELAKSANA Bappeda,Sekretariat Daerah, Kantor Pelayanan Terpadu Polisi Pamong Praja CATATAN/ KETERANGAN Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Perkotaan Pasal 60 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud pada pasal 59 ayat (2) huruf a meliputi : a. setiap rencana kawasan terbangun dengan fungsifungsi perumahan, perdaganganjasa, industri, dan berbagai peruntukan lainnya, harus ditetapkan besaran dan/atau luasan ruang setiap zona dan fungsi utama zona tersebut dan dirinci atas amplop ruang (koefisien dasar hijau, koefisien dasar bangunan, koefisien lantai bangunan dan garis sempadan bangunan), penyediaan sarana dan parsarana, serta ketentuan lain yang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan; b. dalam pengembangan kawasan perdagangan yang telah ditetapkan dalam RDTR, diatur jarak minimal antara lokasi perdagangan tradisonal dan modern minimal 3 km (tiga kilometer) guna menjaga pertumbuhan perekonomian masyarakat kalangan menengah ke bawah; c. dalam menyusun amplop bangunan di setiap zona pada kawasan perkotaan diupayakan untuk mengefisienkan perubahan fungsi ruang untuk kawasan terbangun melalui arahan bangunan vertikal sesuai kondisi masingmasing ibukota kecamatan dengan tetap menjaga harmonisasi intensitas ruang yang ada; d. pada setiap lingkungan permukiman yang dikembangkan harus disediakan sarana dan prasarana lingkungan yang memadai sesuai kebutuhan masingmasing; e. pada setiap pusatpusat kegiatan masyarakat diupayakan untuk dialokasikan kawasan khusus pengembangan sektor informal; f. pada lahan pertanian yang telah ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan di kawasan perkotaan harus tetap dilindungi dan tidak diperbolehkan dilakukan alih fungsi; g. penyediaan RTH minimal 30% (tiga puluh persen), dengan ketentuan 20% (dua puluh persen) berupa ruang terbuka hijau publik dan 10% (sepuluh persen) berupa hutan terbuka hijau privat; h. kawasan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari RTH di kawasan perkotaan harus tetap dilindungi sesuai dengan fungsi RTH masingmasing, dan tidak diperbolehkan dilakukan alih fungsi; i. pada setiap kawasan terbangun untuk berbagai fungsi terutama permukiman padat harus disediakan ruang evakuasi bencana sesuai dengan kemungkinan timbulnya bencana yang dapat muncul; j. pada setiap kawasan terbangun yang digunakan untuk kepentingan publik harus disediakan ruang untuk pejalan kaki dengan tidak mengganggu fungsi jalan; k. pada kawasan lindung yang ada di perkotaan baik kawasan lindung berupa ruang terbuka, diarahkan untuk tidak dilakukan alih fungsi lindung tetapi dapat digunakan untuk kepentingan lain selama masih menunjang fungsi lindung seperti wisata alam, jogging track tepi sungai yang ditata secara menarik; dan l. pada kawasan lindung berupa bangunan, harus tetap dilakukan upaya konservasi, dan dapat dilakukan nilai tambah dengan melakukan revitalisasi, rehabilitasi dan sebagainya. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Perdesaan Pasal 61 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf b disusun untuk setiap zona kawasan perdesaan dan hanya berlaku pada setiap zona peruntukan sesuai kawasan perdesaan masingmasing kecamatan, dengan arahan meliputi: a. pengendalian kegiatan pembangunan kawasan perdesaan dengan fungsi pertanian dan lindung dilakukan melalui penetapan struktur konservasi lahan yang terintegrasi dengan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya; b. pada rencana kawasan terbangun dengan fungsi perumahan, perdaganganjasa, industri, dan berbagai peruntukan lainnya di perdesaan dapat dilakukan penambahan fungsi yang masih saling berkesesuaian, dengan memperhatikan besaran dan/atau luasan ruang setiap zona dan fungsi utama zona tersebut; c. pada kawasan tidak terbangun atau ruang terbuka untuk pertanian yang produktif harus dilakukan pengamanan, khususnya agar tidak dialihfungsikan pada peruntukan non pertanian; d. setiap kawasan perdesaan harus mengefisienkan ruang yang berfungsi untuk pertanian; e. perubahan fungsi ruang untuk kawasan terbangun hanya dilakukan secara infiltratif pada permukiman yang ada dan harus menggunakan lahan yang kurang produktif; dan f. pengembangan permukiman perdesaan harus menyediakan sarana dan prasarana lingkungan permukiman yang memadai sesuai kebutuhan masingmasing yang bersinergi dengan pengembangan sistem perkotaan. Bappeda,Sekretariat Daerah, Kantor Pelayanan Terpadu Polisi Pamong Praja, Dinas Pekerjaan Umum Bappeda,Sekretariat Daerah, Kantor Pelayanan Terpadu Polisi Pamong Praja, Dinas Pekerjaan Umum

17 17 MUATAN RANCANGAN PERDA RTRW SKPD PENANGGUNG JAWAB/ PELAKSANA CATATAN/ KETERANGAN Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar jaringan transportasi darat Pasal 62 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf c ditetapkan sebagai berikut : a. Ketentuan umum peraturan zonasi Sistem jaringan jalan, meliputi : 1. Di sepanjang sistem jaringan jalan nasional dan provinsi tidak diperkenankan adanya kegiatan yang dapat menimbulkan hambatan lalu lintas regional; 2. Di sepanjang sistem jaringan jalan nasional dan provinsi tidak diperkenankan adanya akses langsung dari bangunan ke jalan; 3. Bangunan di sepanjang sistem jaringan jalan nasional dan provinsi harus memilki sempadan bangunan yang sesuai dengan ketentuan setengah ruas milik jalan ditambah 1; 4. Lebar ruang pengawasan jalan ditentukan dari tepi jalan paling sedikit dengan ukuran sebagai berikut : a) Jalan arteri primer 15 (lima belas) meter; b) Jalan arteri sekunder 15 (lima belas) meter; c) jalan kolektor primer 10 (sepuluh) meter; d) jalan kolektor sekunder 5 (lima) meter e) jalan lokal primer 7 (tujuh) meter; f) jalan local sekunder 3 (tiga) meter; g) jalan lingkungan primer 5 (lima) meter; h) jalan lingkungan sekunder 2 (dua) meter; dan i) jembatan 100 (seratus) meter ke arah hilir dan hulu 5. ruang milik jalan paling sedikit memiliki lebar sebagai berikut : a) jalan bebas hambatan 30 (tiga puluh) meter; b) jalan raya 25 (dua puluh lima) meter; c) jalan sedang 15 (lima belas) meter; dan d) jalan kecil 11 (sebelas) meter. Bappeda,Sekretariat Praja, Dinas Pekerjaan Umum 6. Lokasi terminal tipe B dan C diarahkan lokasi yang strategis dan memiliki akses ke jalan kolektor primer sesuai peraturan perundangan yang berlaku. b. Ketentuan umum peraturan zonasi jalan raya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1. peruntukan ruang di sepanjang sisi jalan perkotaan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi harus dibatasi; 2. alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan perkotaan tidak diperbolehkan sebagai lahan terbangun dan harus sesuai dengan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan perkotaan yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan; 3. ruang pengawasan jalan merupakan ruang tertentu di luar ruang milik jalan, yang penggunaannya berada di bawah pengawasan penyelenggara jalan, dan diperuntukkan bagi pandangan bebas pengemudi dan pengamanan konstruksi jalan serta manfaat jalan; 4. pembangunan jaringan jalan harus sesuai dengan persyaratan teknis jalan yang meliputi kecepatan rencana, lebar badan jalan, kapasitas, jalan masuk, persimpangan sebidang, bangunan pelengkap, perlengkapan jalan, penggunaan jalan sesuai dengan fungsinya, dan tidak terputus serta memenuhi ketentuan standar teknis keamanan, keselamatan, dan lingkungan; 5. menjami tersedianya ruang terbuka hijau berupa jalur hijau di sempadan atau median jaringan jalan; 6. jaringan jalan harus dilengkapi dengan bangunan pelengkap yang disesuaikan dengan fungsi jalan; 7. guna peningkatan hubungan interaksi antar wilayah perkotaan maupun perdesaan, dapat dibangun jembatan penyeberangan; 8. guna peningkatan pemanfaatan jaringan jalan dapat dilakukan pelebaran dan rehabilitasi jalan; 9. dalam hal ruang manfaat jalan dan/atau ruang milik jalan bersilangan, berpotongan, berhimpit, melintas, atau di bawah bangunan utilitas, maka dengan persyaratan teknis dan pengaturan pelaksanaannya dapat dilakukan pembangunan sarana yang ditetapkan bersama oleh penyelenggara jalan dan pemilik bangunan utilitas yang bersangkutan, dengan mengutamakan kepentingan umum; 10. dalam hal ruang milik jalan diperbolehkan untuk prasarana moda transportasi lain dapat diadakan prasarana moda transportasi dengan persyaratan teknis dan pengaturan pelaksanaannya yang ditetapkan bersama oleh penyelenggara jalan dan instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang prasarana moda transportasi yang bersangkutan dengan mengutamakan kepentingan umum; 11. guna peningkatan integrasi perpindahan antar moda baik angkutan yang melayani perkotaan maupun angkutan yang melayani perdesaan dan angkutan yang melayani hingga perbatasan dapat dilakukan penambahan jumlah armada rute. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar jaringan transportasi laut Pasal 63 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan kawasan di sekitar jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada pasal 59 ayat (2) huruf d meliputi : 1. pelabuhan laut harus memiliki kelengkapan fasilitas pendukung sesuai dengan fungsi dari pelabuhan tersebut; 2. pelabuhan laut harus memiliki akses ke jalan kolektor primer; 3. dilarang membuang limbah B3 di media lingkungan hidup di seluruh wilayah perairan kabupaten; dan 4. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar jaringan transportasi laut. Bappeda,Sekretariat Praja, Dinas Perhubungan

18 18 MUATAN RANCANGAN PERDA RTRW ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar jaringan transportasi udara Pasal 64 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan kawasan di sekitar jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud pada pasal 59 ayat (2) huruf e meliputi : a. ketinggian bangunan dan benda tumbuh yang memanfaatkan ruang udara di atas permukaan tanah dibatasi maksimal 15 m, kecuali bangunan khusus yang memerlukan ketinggian lebih dari 15 m seperti tower pemancar/penerima, menara pengawas/pengatur, penerbangan, bangunanbangunan untuk pertahanan, keamanan, bangunan suci, mercusuar, dan monumen; b. struktur dan ketinggian maksimum bangunbangunan pada radius daerah penerbangan harus mengikuti ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan dikoordinasikan dengan instansi terkait; c. ruang udara yang ditetapkan untuk jalur penerbangan harus aman dari kegiatan yang mengganggu fungsinya sebagai jalur penerbangan; d. untuk kepentingan keselamatan penerbangan, manuver pendaratan dan tinggal landas serta pendaratan darurat, maka bangunanbangunan dan kegiatankegiatan lain pada Kawasan Keselamatan Operasi dan Penerbangan (KKOP) yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan dibatasi sesuai dengan persyaratan manuver penerbangan dan peraturan perundangan yang berlaku; e. pembangunan menara telekomunikasi yang dapat memancarkan maupun menerima frekuensi, serta jaringan energi yang mengalirkan listrik dan magnet tegangan tinggi tidak diijinkan dibangun pada Kawasan Keselamatan Operasi dan Penerbangan (KKOP); f. pengembangan kawasan yang menimbulkan bangkitan lalu lintas diharuskan membuat analisa dampak lingkungan (amdal) lalu lintas. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan di sekitar jaringan energi Pasal 65 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan kawasan di sekitar jaringan energi sebagaimana dimaksud pada pasal 59 ayat (2) huruf f meliputi : a. peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik dan harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain; b. peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; c. jarak minimum saluran udara tegangan tinggi 66/150 KV ditetapkan seluas 20 (dua puluh) meter dari tiang kiri dan kanan dan/atau batas aman dari atas tiang transmisi ke bumi adalah 45 0 (empat puluh lima derajat); d. untuk pembangunan sarana kelistrikan dapat memanfaatkan lahan bukan milik umum yang bersetifikat dengan kewajiban menyelesaikan ganti rugi atau kompensasi yang berhubungan dengan tanah, bangunan, dan/atau tanaman; e. luas lahan sebanyak 90% (sembilan puluh persen) dari luas SUTT harus dihijaukan; f. untuk penyesuaian dengan keadaan permukaan tanah jalan dan sebagainya diperbolehkan diambil jarak tiang antara 30 (tiga puluh) meter s/d 45 (empat puluh lima) meter; g. jarak kawat pengantar (konduktor) terhadap unsurunsur di dalam lingkungan seperti bangunan, pohon, jarak tiang dan lainlain disesuaikan dengan peraturan PLN yang berlaku; dan h. diperbolehkan melakukan pengembangan energi baru dan terbarukan seperti pengembangan energi mikrohidro bagi pembangkit listrik oleh badan usaha dengan tetap memperhatikan keseimbangan sumberdaya alam, kelestarian lingkungan hidup. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan prasarana telekomunikasi Pasal 66 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan prasarana telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf g ditetapkan sebagai berikut : a. pembangunan sistem jaringan telekomunikasi dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya; b. dalam rangka pembangunan, pengoperasian dan/atau pemeliharaan jaringan telekomunikasi, penyelenggara telekomunikasi diperbolehkan memanfaatkan atau melintasi tanah, bangunan dan/atau sungai yang dimiliki atau dikuasai Pemerintah; c. dalam penyelenggaraan telekomunikasi diperbolehkan memanfaatkan atau melintasi tanah dan/atau bangunan milik perseorangan untuk tujuan pembangunan, pengoperasian, atau pemeliharaan jaringan telekomunikasi setelah terdapat persetujuan dari pemiliknya; d. setiap penyelenggara jaringan telekomunikasi yang telah memperoleh ijin/persetujuan wajib memasang ramburambu (tandatanda) keberadaan jaringan telekomunikasi; e. untuk ketinggian tower telekomunikasi di atas 60 (enam puluh) meter jarak tower dari bangunan terdekat ditetapkan sejauh 20 (dua puluh) meter; f. untuk ketinggian tower di bawah 60 (enam puluh) meter jarak tower dari bangunan terdekat ditetapkan sejauh 10 (sepuluh) meter; g. jangkauan pelayanan maksimal pada daerah layanan padat dan/atau peak hour per antena BTS ditetapkan dengan batas limit + 3 km (kurang lebih tiga kilometer); h. jarak antar tower minimum antar provider/kelompok provider yang tergabung dalam tower pemanfaatan bersama diperbolehkan mendekati limit + 6 km (kurang lebih enam kilometer); i. untuk penguatan spektrum layanan diperbolehkan menggunakan antena transmiter yang dapat ditempatkan pada mini tower, gedung tinggi dengan disamarkan dan menyesuaikan karakteristik estetika kawasan; j. pengembangan sistem telekomunikasi dengan menggunakan sistem satelit dapat dilakukan dengan pengalokasian secara khusus bagi tiang pemancar dan lokasinya terletak jauh dari permukiman; dan k. pada kawasan perkotaan yang direncanakan pengembangan telematika perlu didata dan pembangunan tower untuk jaringan telematika dibatasi. SKPD PENANGGUNG JAWAB/ PELAKSANA Bappeda,Sekretariat Daerah, Kantor Pelayanan Terpadu Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan Bappeda,Sekretariat Daerah, Kantor Pelayanan Terpadu Polisi Pamong Praja, Dinas Pekerjaan Umum Bappeda,Sekretariat Daerah, Kantor Pelayanan Terpadu Polisi Pamong Praja, Dinas Pekerjaan Umum CATATAN/ KETERANGAN

19 19 MUATAN RANCANGAN PERDA RTRW Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan di sekitar jaringan prasarana sumber daya air Pasal 67 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan kawasan di sekitar jaringan prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud pada pasal 59 ayat (2) huruf h meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan air bersih; dan b. ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan air irigasi. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan air bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi : a. secara umum untuk rencana sistem jaringan air bersih diperlukan suatu rencana induk; b. pelaksanaan program penanggulangan ketersediaan air bersih jangka pendek diarahkan untuk : 1. pengembangan sistem perpipaan dikoordinasikan dengan sistem jaringan lainnya yang memanfaatkan ruang di bawah tanah; 2. pengembangan pipa induk mengikuti sistem jaringan jalan utama untuk memudahkan pengawasan; 3. pengembangan sistem truk tangki perlu didukung penyediaan tangki umum untuk masyarakat; dan 4. pengembangan sumber air bersih yang memanfaatkan air bawah tanah dalam skala besar terutama pada kawasan pesisir perlu dikoordinasikan melalui kajian teknis. c. pelaksanaan program jangka menengah dengan pengembangan sistem transfer air perlu didukung oleh rencana induk dan kajian teknis; d. pelaksanaan program jangka panjang untuk memenuhi kualitas air bersih dengan standar air minimum dilaksanakan melalui beberapa tahap, dengan prioritas adalah pada kawasan perkotaan Pangkalan Bun hingga seluruh Kecamatan; dan e. peningkatan koordinasi baik antara sektor antar kecamatan dalam pemanfaatan air baku untuk air bersih. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan air irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi : a. pelestarian sistem jaringan irigasi dengan membatasi alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis; b. peningkatan sistem jaringan irigasi non teknis di seluruh kawasan pertanian lahan basah (sawah) menjadi sistem jaringan irigasi teknis; c. untuk pengembangan daerah irigasi baru pada daerah kritis air dilakukan dengan transfer air dari daerah yang surplus air disamping mengembangkan irigasi air tanah; d. peningkatan koordinasi baik antar sektor maupun antar kecamatan dalam pemanfaatan air baku untuk air irigasi dengan pengembangan rencana induk sistem irigasi di Kabupaten Kotawaringin Barat; dan e. pemeliharaan dan peningkatan prasarana pengairan pada lahanlahan sawah yang telah beralih fungsi. Ketentuan umum peraturan zonasi prasarana pengelolaan lingkungan Pasal 68 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi pada zona prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf i meliputi: a. sistem jaringan drainase; b. sistem jaringan persampahan; dan c. ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan air minum; dan d. sistem jaringan limbah industri dan domestik. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan sebagai berikut : a. sistem jaringan drainase perkotaan memerlukan saluran pembuangan air hujan dan saluran pembuangan air limbah rumah tangga; b. pemenuhan saluran pembuangan air hujan dapat dilakukan dengan pembangunan saluran terbuka untuk kawasan permukiman dan saluran tertutup untuk kawasan perdagangan; c. pengembangan saluran drainase baru terutama pada jalan arteri dan kolektor dapat dijadikan prioritas bagi pengembangan sistem pematusan; d. guna perbaikan sistem pematusan yang sudah ada agar pemanfaatannya lebih maksimal dapat dilakukan dengan cara pengerukan; dan e. guna keperluan pengendalian banjir dapat ditetapkan penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan untuk kawasan terbangun dan tidak terbangun. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, ditetapkan sebagai berikut: a. pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lainnya diwajibkan menyediakan fasilitas pemilahan sampah, sistem pembuangan air hujan dan limbah; b. penentuan lokasi TPA terpadu diharuskan jauh dari permukiman penduduk; c. lokasi pembuangan sampah harus memperhatikan faktorfaktor seperti topografis, geologis, hidrologis, serta metode pengelolaan sampah itu sendiri. d. di area sekitar TPA wajib dibudidayakan tanaman pepohonan yang berfungsi sebagai sabuk hijau dan upaya membatasi kawasan terbangun; e. perseorangan atau badan hukum diperbolehkan memiliki area penimbunan sampah untuk penimbunan sampah organik; f. dilarang mengoperasikan tempat pengolahan akhir dengan metode open dumping serta mengimpor dan mengekspor sampah; g. tidak diperbolehkan adanya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di dalam kawasan perkotaan; h. diperbolehkan pengembangan TPS secara terpusat pada unitunit lingkungan yang terdapat pada pusatpusat perkotaan dan pusat kegiatan; dan i. diperbolehkan pengembangan lokasi pengolahan sampah dengan komposting. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi : a. secara umum untuk rencana sistem jaringan air minum diperlukan suatu rencana induk; b. pelaksanaan program penanggulangan ketersediaan air minum jangka pendek diarahkan untuk : 1. pengembangan sistem perpipaan dikoordinasikan dengan sistem jaringan lainnya yang memanfaatkan ruang di bawah tanah; 2. pengembangan pipa induk mengikuti sistem jaringan jalan utama untuk memudahkan pengawasan; 3. pengembangan sistem truk tangki perlu didukung penyediaan tangki umum untuk masyarakat; dan 4. pengembangan sumber air minum yang memanfaatkan air bawah tanah dalam skala besar terutama pada kawasan pesisir perlu dikoordinasikan melalui kajian teknis. c. pelaksanaan program jangka menengah dengan pengembangan sistem transfer air perlu didukung oleh rencana induk dan kajian teknis; d. pelaksanaan program jangka panjang untuk memenuhi kualitas air minum dengan standar air minimum dilaksanakan melalui beberapa tahap, dengan prioritas adalah pada kawasan perkotaan pangkalan bun hingga seluruh kecamatan; dan e. peningkatan koordinasi baik antara sektor antar kecamatan dalam pemanfaatan air baku untuk air minum. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan limbah industri dan domestik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, ditetapkan sebagai berikut: a. peningkatan sarana sanitasi dapat dilakukan dengan pembangunan pembuangan air limbah domestik yang ditujukan bagi penduduk yang belum mempunyai sarana dan tidak mampu dari segi pendapatan; b. direkomendasikan adanya pembangunan pengolahan limbah hasil industri secara terpadu pada kawasan industri; dan c. direkomendasikan adanya pemasangan pipa pengolahan limbah industri di kawasan industri besar dengan memperhatikan kondisi lingkungan. SKPD PENANGGUNG JAWAB/ PELAKSANA Bappeda,Sekretariat Praja, Dinas Pekerjaan Umum Bappeda,Sekretariat Praja, Dinas Pekerjaan Umum CATATAN/ KETERANGAN

20 20 MUATAN RANCANGAN PERDA RTRW Pasal 70 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf a ditetapkan sebagai berikut : a. Pemanfaatan kawasan lindung dilakukan dengan ketentuan : 1. tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya; 2. pengolahan tanah terbatas; 3. tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi; 4. tidak menggunakan peralatan mekanis dan alat berat; dan/atau 5. tidak membangun sarana dan prasarana yang mengubah bentang alam b. kegiatan pertambangan di kawasan lindung masih diperkenankan sepanjang tidak dilakukan secara terbuka, dengan syarat harus dilakukan reklamasi areal bekas penambangan sehingga kembali berfungsi sebagai kawasan lindung; c. kawasan lindung dapat dikelola atau dipinjampakaikan sepanjang mengikuti prosedur dan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku; d. pembangunan prasarana wilayah yang harus melintasi kawasan lindung dapat diperkenankan dengan ketentuan : 1. tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut; 2. mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya Pasal 71 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf b yaitu kawasan resapan air meliputi : a. permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat : 1. tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimum 20%, dan KLB maksimum 40%); 2. perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi; 3. dalam kawasan resapan air wajib dibangun sumursumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku. b. kegiatan yang diizinkan, meliputi : 1. kegiatan pengembangan/pembangunan sumber resapan air, cagar alam dan suaka margasatwa; 2. kegiatan pembangunan/penataan sempadan sungai, embung dan mata air; dan 3. kegiatan pemanfaatan ruang lainnya yang dapat meningkatkan fungsi konservasi. c. kegiatan yang diizinkan terbatas, meliputi : 1. kegiatan pengembangan hutan lindung; 2. kegiatan jasa pariwisata; dan 3. pendirian bangunan yang merupakan bagian dari suatu jaringan atau transmisi bagi kepentingan umum yang keberadaannya telah mendapat persetujuan dari instansi terkait, misal : pos pengamat kebakaran, pos penjagaan, papan petunjuk/penerangan,, tugu. d. kegiatan yang diizinkan bersyarat, meliputi : 1. kegiatan pembangunan transmisi, relay, dan distribusi listrik, telekomunikasi dan energi; dan 2. pendirian bangunan penunjang/prasarana bagi hutan konservasi dan kegiatan pariwisata (wanawisata). e. kegiatan yang dilarang pada kawasan konservasi dam resapan air adalah semua pemanfaatan ruang baik untuk budidaya pertanian maupun budidaya non pertanian termasuk mendirikan bangunan kecuali yang dikategorikan diizinkan terbatas dan bersyarat tersebut di atas. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perlindungan setempat Pasal 72 Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 huruf c, meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan pantai; b. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan sungai; dan c. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan danau. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan pantai Pasal 73 Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 ayat (1) huruf a ditetapkan sebagai berikut : a. kawasan sempadan pantai ditetapkan 100 meter dari titik pasang tertinggi; b. dalam kawasan sempadan pantai yang termasuk dalam zona inti wilayah pesisir dan pulaupulau kecil tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya kecuali kegiatan penelitian, bangunan pengendali air, dan sistem peringatan dini (early warning system); c. dalam kawasan sempadan pantai yang termasuk zona pemanfaatan terbatas dalam wilayah pesisir dan pulaupulau kecil diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya pesisir, ekowisata, dan perikanan tradisional;dan d. dalam kawasan sempadan pantai yang termasuk zona lain dalam wilayah pesisir dan pulaupulau kecil diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya sesuai peruntukan kawasan dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan sungai Pasal 74 Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 ayat (1) huruf b ditetapkan sebagai berikut : a. kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kirikanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai dengan lebar sempadan sebagai berikut : 1. bertanggul dan berada dalam kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar; 2. tidak bertanggul dan berada diluar kawasan permukiman dengan lebar minimal paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai; dan 3. tidak bertanggul pada sungai kecil diluar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai. b. dalam kawasan sempadan sungai tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya yang mengakibatkan terganggunya fungsi sungai; c. dalam kawasan sempadan sungai masih diperkenankan dibangun prasarana wilayah dan utilitas lainnya dengan ketentuan : 1. tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut; 2. dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku. SKPD PENANGGUNG JAWAB/ PELAKSANA Bappeda,Sekretariat Praja, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Badan Lingkungan Hidup Bappeda,Sekretariat Praja, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas pekerjaan Umum Praja, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas pekerjaan Umum Praja, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas pekerjaan Umum, Dinas Kelautan dan perikanan Praja, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas pekerjaan Umum, Dinas Kelautan dan perikanan CATATAN/ KETERANGAN

LAPORAN KEGIATAN PELAKSANAAN PUBLIKASI STANDAR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

LAPORAN KEGIATAN PELAKSANAAN PUBLIKASI STANDAR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU LAPORAN KEGIATAN PELAKSANAAN PUBLIKASI STANDAR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KANTOR PELAYANAN TERPADU PERIZINAN KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Laporan kegiatan pelaksanaan Publikasi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 34 TAHUN 2009 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI KANTOR PELAYANAN TERPADU PERIZINAN KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2011-2031 I. UMUM 1. Faktor yang melatarbelakangi disusunnya Rencana Tata Ruang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012

LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PEMANFAATAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; Lampiran III : Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor : 21 Tahun 2012 Tanggal : 20 Desember 2012 Tentang : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2012 2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 37 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH 1 GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 26 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PEMANFAATAN JALAN DI KABUPATEN BANGKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PRT/M/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PRT/M/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PRT/M/2015 TENTANG PENETAPAN GARIS SEMPADAN SUNGAI DAN GARIS SEMPADAN DANAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

BUPATI BOGOR PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

BUPATI BOGOR PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR SALINAN BUPATI BOGOR PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOGOR, Menimbang : a. bahwa dengan semakin meningkatnya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN

BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTABARU, Menimbang : a.

Lebih terperinci

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP LAMPIRAN II PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN PROVINSI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

WALIKOTA TASIKMALAYA,

WALIKOTA TASIKMALAYA, WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS UNIT DINAS BINA MARGA, PENGAIRAN, PERTAMBANGAN DAN ENERGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun No.573, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ATR/BPN. Pertanahan. Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Penataan. PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA TENGAH

BUPATI BANGKA TENGAH BUPATI BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 37 TAHUN 2011 TENTANG PEMANFAATAN BAGIAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang : a. bahwa jalan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 89 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 89 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 89 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS SUMBER DAYA AIR DAN ENERGI, SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN PURWOREJO DENGAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN KATA PENGANTAR Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, mengamanatkan bahwa RTRW Kabupaten harus menyesuaikan dengan Undang-undang tersebut paling lambat 3 tahun setelah diberlakukan.

Lebih terperinci

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 20 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SUKAMARA

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 20 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SUKAMARA BUPATI SUKAMARA Menimbang Mengingat : PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 20 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SUKAMARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI DINAS PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI DINAS PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI DINAS PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG, Menimbang : a. bahwa dengan telah ditetapkannya Peraturan

Lebih terperinci

WALIKOTA BANJARMASIN

WALIKOTA BANJARMASIN WALIKOTA BANJARMASIN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG PENETAPAN, PENGATURAN PEMANFAATAN SEMPADAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJARMASIN,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa mineral dan batubara yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 05 TAHUN 2014 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 40 TAHUN 2011

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 40 TAHUN 2011 BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 40 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KABUPATEN BLITAR BUPATI BLITAR, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN 2011-2031 I. UMUM Proses pertumbuhan dan perkembangan wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN 2013-2032 I. UMUM Ruang yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

GUBERNUR SUMATERA UTARA

GUBERNUR SUMATERA UTARA GUBERNUR SUMATERA UTARA PERATURAN GUBERNUR SUMATERA UTARA NOMOR 37 TAHUN 2011 TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PELAYANAN PERIJINAN KEPADA BADAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 24 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan

Lebih terperinci

BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD

BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD 2.1. Struktur Organisasi Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik perlu memperhatikan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik, dan dalam rangka mendorong peningkatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN 2012-2032 1. PENJELASAN UMUM Lahirnya Undang-Undang Penataan Ruang nomor

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN 2010-2030 I. UMUM Kota Surabaya memiliki kedudukan yang sangat strategis baik dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa mineral dan batubara yang

Lebih terperinci

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BUPATI BATANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BATANG TAHUN

BUPATI BATANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BATANG TAHUN BUPATI BATANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BATANG TAHUN 2011 2031 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah)

No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah) E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah) Sub Bidang Sumber Daya Air 1. Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau, dan

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA, CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 2013-2015 Disusun oleh: Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KETAPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DINAS DAERAH KABUPATEN KETAPANG

PEMERINTAH KABUPATEN KETAPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DINAS DAERAH KABUPATEN KETAPANG PEMERINTAH KABUPATEN KETAPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DINAS DAERAH KABUPATEN KETAPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KETAPANG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH BUMBU,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH BUMBU, PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran apa yang ingin dicapai Kota Surabaya pada akhir periode kepemimpinan walikota dan wakil walikota terpilih, yaitu: V.1

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PENANAMAN MODAL,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN BAGIAN JALAN

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN BAGIAN JALAN PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN BAGIAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BALAI SIDANG JAKARTA, 24 FEBRUARI 2015 1 I. PENDAHULUAN Perekonomian Wilayah Pulau Kalimantan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 /PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN GARIS SEMPADAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 /PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN GARIS SEMPADAN JARINGAN IRIGASI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 /PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN GARIS SEMPADAN JARINGAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 DINAS CIPTA KARYA KABUPATEN BADUNG Mangupura, 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG DINAS CIPTA KARYA PUSAT PEMERINTAHAN MANGUPRAJA MANDALA JALAN RAYA

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN KABUPATEN

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN KABUPATEN BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang : a.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 52 TAHUN 2000 TENTANG JALUR KERETA API MENTERI PERHUBUNGAN,

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 52 TAHUN 2000 TENTANG JALUR KERETA API MENTERI PERHUBUNGAN, KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 52 TAHUN 2000 TENTANG JALUR KERETA API MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang: a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 29 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN 2011 2031 UMUM Ruang wilayah Kabupaten Karawang dengan keanekaragaman

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN BELITUNG

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN BELITUNG BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2016 TAHUN 2016 TENTANG

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2016 TAHUN 2016 TENTANG PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2016 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA TATA RUANG KAWASAN STRATEGIS PROVINSI KAWASAN PERKOTAAN BREBES-TEGAL-SLAWI-PEMALANG TAHUN 2016-2036 I

Lebih terperinci

BAB 5 RTRW KABUPATEN

BAB 5 RTRW KABUPATEN BAB 5 RTRW KABUPATEN Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten terdiri dari: 1. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang; 2. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung dan Budidaya; 3. Rencana Pengelolaan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN PELAYANAN BAPPEDA

BAB II GAMBARAN PELAYANAN BAPPEDA BAB II GAMBARAN PELAYANAN BAPPEDA 2.1 Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi Bappeda Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Probolinggo Nomor 10 Tahun 2007 tanggal 12 Nopember 2007 tentang Organisasi dan

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD 3.1.1 Permasalahan Infrastruktur Jalan dan Sumber Daya Air Beberapa permasalahan

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 31 TAHUN 2013

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 31 TAHUN 2013 1 BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG KORIDOR JALAN LETJEND S. PARMAN - JALAN BRAWIJAYA DAN KAWASAN SEKITAR TAMAN BLAMBANGAN

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA SAMARINDA TAHUN 2011

BAB II GAMBARAN UMUM RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA SAMARINDA TAHUN 2011 BAB II GAMBARAN UMUM RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA SAMARINDA TAHUN 2011 A. Isu Strategis Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Samarinda Tahun 2011 merupakan suatu dokumen perencanaan daerah

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 21 PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR : 333 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 21 PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR : 333 TAHUN 2010 TENTANG BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 21 PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR : 333 TAHUN 2010 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK, FUNGSI, URAIAN TUGAS DAN TATA KERJA BADAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU KOTA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN, Menimbang : a. bahwa dengan semakin meningkatnya pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, telah diatur

Lebih terperinci

PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991)

PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991) PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991) Tanggal: 14 JUNI 1991 (JAKARTA) Sumber: LN 1991/44; TLN NO. 3445 Tentang: SUNGAI

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR : 10 TAHUN TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR : 10 TAHUN TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR : 10 TAHUN 2012... 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG 9 BUPATI PENAJAM PASER UTARA PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI KEPULAUAN SELAYAR

BUPATI KEPULAUAN SELAYAR BUPATI KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 18 TAHUN 2008 T E N T A N G

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 18 TAHUN 2008 T E N T A N G BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 18 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUKAMARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.533, 2015 KEMEN-PUPR. Garis Sempadan. Jaringan Irigasi. Penetapan. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8/PRT/M/2015 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sungai sebagai sumber air sangat penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN 2011 2031 I. UMUM Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas yang meliputi

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 39 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, Menimbang PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, WALIKOTA TASIKMALAYA, : a. bahwa penanaman modal

Lebih terperinci

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 67 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KARJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PROBOLINGGO

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga Naskah Akademis untuk kegiatan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan dapat terselesaikan dengan baik

Lebih terperinci