HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN"

Transkripsi

1 BULETIN ISSN : Volume 11, Nomor 1, Januari - April 2013 HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN Keterkaitan Posisi Bank Indonesia Sebagai Lembaga Negara Dengan Pengisian Jabatan Dewan Gubernur Bank Indonesia Yang Memerlukan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Outlook Pengawasan Perbankan Pasca Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan Kajian Hukum Terhadap Penyelesaiaan Likuidasi Bank Yang Dicabut Izin Usahanya Sebelum Berlakunya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan Perlindungan Privasi Dan Data Pribadi: Suatu Telaahan Awal Perspektif Yuridis Pengawasan Keuangan Daerah Daftar Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia, Januari - April 2013 Ringkasan Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia, Januari - April 2013

2 Volume 11, Nomor 1, Januari - April 2013 BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN Departemen Hukum Bank Indonesia Pelindung Deputi Gubernur Bidang Hukum Bank Indonesia Penanggung Jawab Siddha Karya, Wahyudi Santoso, Libraliana Badilangoe, Rosalia Suci Pemimpin Redaksi Libraliana Badilangoe Sekretaris Redaksi Dyah Pratiwi Dewan Redaksi Imam Subarkah, Agus Susanto Pratomo, Amsal C. Appy, Hari Sugeng Raharjo, Endang R. Budi Astuti, Pulih Widayaningrum Redaksi Pelaksana Ellia Syahrini, Kuwat Wijayanto, Chandra Herwibowo, Veri Dyatmika Adhiraharja Mitra Bestari Prof. Dr. Erman Radjagukguk, SH., LLM Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH., LLM Prof. Dr. Huala Adolf, SH., LLM Dr. Inosentius Samsul, SH., LLM Dr. Lastuti Abubakar, SH., MH Penanggung Jawab Pelaksana dan Distribusi Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum, Departemen Hukum Bank Indonesia Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan ini diterbitkan oleh Departemen Hukum Bank Indonesia. Isi dan hasil penelitian dalam tulisan-tulisan dalam buletin ini sepenuhnya tanggung jawab para penulis dan bukan merupakan pandangan resmi Bank Indonesia. Buletin ini pada awal tahun penerbitan, tahun 2003, diterbitkan 6 (enam) bulan sekali, yaitu pada bulan Juli dan Desember. Mulai tahun 2004 buletin ini terbit secara berkala pada bulan April, Agustus dan Desember, dan mulai tahun 2009, buletin diterbitkan pada bulan Januari, Mei, dan September. Peminat buletin ini dapat menghubungi Bagian Administrasi Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Gedung B Lt. 16, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350, telepon (021) , facsimile (021) , Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa artikel ilmiah atau semi ilmiah serta resensi buku berkenaan dengan hukum perbankan dan kebanksentralan. Tulisan tersebut dapat disampaikan kepada Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum, Departemen Hukum Bank Indonesia, Gedung Tipikal Lt. 9 Jl. M.H Thamrin No. 2 Jakarta 10350, telepon (021) , facsimile (021) Atas dimuatnya artikel dan resensi buku dimaksud, Redaksi memberikan uang jasa penulisan. Buletin ini dapat diakses melalui website Bank Indonesia di pilih links riset, survey dan publikasi, kemudian pilih publikasi

3 Halaman ini sengaja dikosongkan

4 DARI MEJA REDAKSI Pembaca Buletin Yang Berbahagia, di tahun 2013 Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan (Buletin) Volume 11 Nomor 1, Edisi Januari April 2013 kembali hadir dan menyapa pembaca sekalian, dengan berbagai artikel. Dalam rangka mempersiapkan bahan-bahan amandemen UU Bank Indonesia pasca UU Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia melakukan penelitian dengan fakultas hukum. Dalam edisi ini secara khusus Buletin menampilkan hasil penelitian kerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), yaitu mengenai Keterkaitan Posisi Bank Indonesia Sebagai Lembaga Negara Dengan Pengisian Jabatan Dewan Gubernur Bank Indonesia Yang Memerlukan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Isharyanto, S.H., M.Hum; Dr. Hari Purwadi, S.H., M.Hum; Djatmiko Anom Husodo, S.H., M.H; Munawar Kholil, S.H., M.Hum., disarikan menjadi artikel yang dimuat dalam buletin edisi kali ini. Selain itu, masih terkait Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Buletin juga menurunkan artikel mengenai Outlook Pengawasan Perbankan Pasca Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan, yang ditulis oleh Sdr. Rio Fafen Ciptaswara, S.H., MH; Kajian Hukum Terhadap Penyelesaiaan Likuidasi Bank Yang Dicabut Izin Usahanya Sebelum Berlakunya Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan, oleh Sdr. Alex Kurniawan S.H., M.H; Perlindungan Privasi Dan Data Pribadi: Suatu Telaahan Awal, oleh: Sdr. Josua Sitompul, S.H., IMM; serta artikel mengenai Perspektif Yuridis Pengawasan Keuangan Daerah, oleh Sdr. Dayanto, S.H.,M.H. Harapannya, artikel yang dimuat dalam Buletin tersebut akan memperkaya wacana dan kajian dalam rangka pengembangan ilmu hukum, khususnya hukum perbankan dan kebanksentralan. Akhirnya, guna memberikan pengkinian informasi produk perundang-undangan Bank Indonesia, Buletin ini akan memuat daftar Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Surat Edaran (SE) Ekstern Bank Indonesia dari bulan Januari sampai dengan April 2013, yang dilengkapi dengan Ringkasan Peraturan Bank Indonesia, dengan harapan agar semakin mempermudah pembaca dalam menelusuri dan mencari regulasi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Selamat membaca. Jakarta, April 2013 Redaksi i

5 Halaman ini sengaja dikosongkan

6 BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN VOLUME 11, NOMOR 1, JANUARI APRIL 2013 Dari Meja Redaksi... Halaman i Daftar Isi... iii Keterkaitan Posisi Bank Indonesia Sebagai Lembaga Negara Dengan Pengisian Jabatan Dewan Gubernur Bank Indonesia Yang Memerlukan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Dr. Isharyanto, S.H., M.Hum; Dr. Hari Purwadi, S.H., M.Hum; Djatmiko Anom Husodo, S.H., M.H; Munawar Kholil, S.H., M.Hum. Outlook Pengawasan Perbankan Pasca Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan Rio Fafen Ciptaswara, S.H., M.H. Kajian Hukum Terhadap Penyelesaiaan Likuidasi Bank Yang Dicabut Izin Usahanya Sebelum Berlakunya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan Alex Kurniawan S.H., M.H. Perlindungan Privasi Dan Data Pribadi: Suatu Telaahan Awal Josua Sitompul, S.H., IMM. Perspektif Yuridis Pengawasan Keuangan Daerah Dayanto, S.H., M.H. Daftar Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia, Januari - April Tim Informasi Hukum (Departemen Hukum Bank Indonesia) Ringkasan Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia, Januari - April Tim Informasi Hukum (Departemen Hukum Bank Indonesia) iii

7 Halaman ini sengaja dikosongkan

8 KETERKAITAN POSISI BANK INDONESIA SEBAGAI LEMBAGA NEGARA DENGAN PENGISIAN JABATAN DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA YANG MEMERLUKAN PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT 1 Oleh : Dr. Isharyanto, S.H., M.Hum; Dr. Hari Purwadi, S.H., M.Hum; Djatmiko Anom Husodo, S.H., M.H; Munawar Kholil, S.H., M.Hum 2 Abstrak Adanya sejumlah faktor yang mempengaruhi struktur kelembagaan Bank Sentral menunjukkan tidak adanya gejala tunggal, khususnya berhubungan dengan pembagian kekuasaan, tetapi pola-pola kelembagaan yang saling berpengaruh satu sama lain. Pandangan ini dapat disebut sebagai theory of combines process intitutionalized (teori kombinasi proses kelembagaan). Dalam hal ini, perubahan kelembagaan terjadi di dalam prinsip regulasi dan organisasi, perilaku, dan pola-pola interaksi. Arah perubahan tersebut biasanya menuju ke peningkatan perbedaan prinsip-prinsip dan pola-pola umum di dalam kelembagaan yang saling berhubungan. Sementara itu, pada waktu yang bersamaan terdapat peningkatan kebutuhan untuk melakukan integrasi di dalam sistem yang kompleks. Perbedaan tersebut dapat berarti juga memperluas mata rantai saling ketergantungan yang menuntut adanya integrasi. Tentu saja, perubahan kelembagaan itu mendorong kepada perubahan-perubahan kondisi yang kemudian membuat penyesuaian baru yang diperlukan. Tujuan utama dari perubahan kelembagaan itu adalah menciptakan keseimbangan baru. Mengingat independensi Bank Indonesia, pengisian jabatan Dewan Gubernur Bank Indonesia yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat memiliki rasionalitas yang amat terkait dengan status kelembagaan bank sentral. Hanya saja ke depan nampaknya perlu dilakukan perubahan mekanisme itu guna menghindari politicking yang berlebihan. Kata kunci: Bank Indonesia, lembaga negara, pengisian jabatan, dewan gubernur BI, persetujuan, dpr. A. Pendahuluan Keberadaan Bank Sentral berikut atribut yang berkaitan dengan posisi kelembagaan dan 1 Sebagian Analisis Penelitian Formulasi Pengaturan Kedudukan Bank Indonesia Dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia, Peneliti FH UNS: Isharyanto, S.H., M.Hum; Dr. Hari Purwadi, S.H., M.Hum; Djatmiko Anom Husodo, S.H., M.H; Munawar Kholil, S.H., M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Surakarta independensinya amat dipengaruhi oleh theory of delegation monetery. Dalam hal ini, para politisi menyerahkan urusan-urusan pengelolaan sumber daya keuangan yang bersifat teknokratik kepada organ khusus yang dibentuk untuk itu. Dengan mekanisme kelembagaan itu, maka akan berpengaruh kepada decetion making role of governing bodies dari Bank Sentral. Dalam pola pembagian kekuasaan negara sampai dengan abad ke-18, masalah-masalah perekonomian dipandang sebagai fenomena pasar 1

9 (market) yang berkembang dalam dinamika masyarakat sendiri, sehingga tidak memerlukan pengaturan yang ketat oleh negara. Cara pandang demikian ini juga mempengaruhi penyusunan konstitusi. Meskipun sejak disahkannya konstitusi Amerika Serikat pada tahun 1789, negara-negara yang menganut paham demikian, kecuali Inggris, selalui memiliki naskah konstitusi tertulis, tetapi konstitusinya tidak memuat ketentuan mengenai ekonomi sama sekali. Konstitusi Amerika Serikat, yang acapkali disebut sebagai konstitusi modern yang pertama kali, tidak ada satu pasal pun yang berkaitan dengan soal-soal perekonomian. Sampai sekarang konstitusi tersebut sudah mengalami perubahan sebanyak 27 kali. Perubahan I sampai dengan Perubahan X dilakukan secara serentak dan sering dikenal sebagai Bill of Rights karena isinya menyangkut hak asasi. Sementara itu, 17 perubahan lainnya dlakukan secara terpisah. Pendek kata, dalam keseluruhan teks konstitusi Amerika Serikat tidak diketemukan satu pasal atau ayat pun yang mengatur mengenai persoalan hak-hak ekonomi, apalagi mengenai sistem perekonomian seperti yang lazim diatur dalam konstitusi negara-negara sosialis komunis. Kalaupun ada ketentuan yang berkaitan dengan perekonomian dan keuangan, hanya yang berhubungan dengan kebijaksanaan administrasi negara di bidang keuangan, perpajakan, dan anggaran. Meskipun demikian, ketentutan-ketentuan tersebut tentu pada waktunya mempengaruhi dinamika perekonomian yang terjadi di dalam masyarakat. Akan tetapi, ketentuanketentuan mengenai moneter, perpajakan, dan anggaran itu lebih berkaitan dengan administrasi negara dibandingkan misalnya dengan peran pasar dengan negara dalam pengelolaan hak milik dan dalam manajemen kekayaan alam yang secara langsung berkaitan dengan ciri-ciri liberalisme atau sosialisme. perekonomian. Pertama, ditinjau dari kronologi penyusunannya, sampai dengan abad ke-18, masalah tersebut tidak pernah menjadi pemikiran penyusunan konstitusi. Kedua, ditinjau dari kelembagaan, ketentuan mengenai perekonomian bukanlah merupakan aspirasi atau tujuan pembentukan konstitusi, akan tetapi merupakan instrumen pragmatis dalam rangka penegakan hak melalui mekanisme pengadilan (judicial enforcement). Ketiga, kenyataan American exeptionalism, yang terwujud dalam absennya gerakan sosial yang mempengaruhi konstitusioanlisme. Keempat, ditinjau dari segi realitas, dalam kurun waktu 1960-an dan 1970, Mahkamah Agung mempunyai pandangan yang sempit mengenai bagaimanakah pemenuhan hak-hak yang berhubungan dengan perekonomian tersebut. 3 Dengan mengambil kenyataan ini, maka rintisan pendirian Bank Sentral tidak berhubungan dengan pengelolaan sumber daya perekonomian dan pemenuhan hak-hak asasi di bidang sosial dan ekonomi, tetapi lebih menekankan kepada kebutuhan pencarian sumber pembiayaan dari Pemerintah. B. Mencari Keseimbangan: Dari Theory of Delegation Monetery menuju Theory of Combines Process Intitutionalized Dalam perkembangan selanjutnya, relasi pemisahan kekuasaan negara dalam konteks theory of delegation monetary tidak mencukupi untuk menjelaskan bagaimanakah struktur Bank Sentral. Sebagai suatu kenyataan dinamis, utamanya relasi Bank Sentral dengan Parlemen tidak diposisikan dalam pembicaraan pembagian kekuasaan, akan tetapi ditentukan oleh 6 (enam) faktor. Pertama, tujuan pembangunan ekonomi mempengaruhi aktivitas dan formulasi kelembagaan Bank Sentral. Pembangunan, terutama di negara-negara yang berpendapatan rendah, menyebabkan aktivitas Bank Sentral mengarah juga Menurut Carr R. Sunstein, ada 4 (empat) hal yang menyebabkan konstitusi Amerika Serikat sampai sekarang tidak pernah mengatur mengenai 3 Cass R. Sunstein, Why Does the American Constitution Lack Social and Economic Guarantees?,Chicago Law and Legal Theory Working Paper, No. 36, Januari, 2003, hlm. 4. 2

10 kepada sektor quasi fiskal. 4 Bahkan di negara-negara berkembang, Bank Sentral mengarah kepada instrumen moneter dengan campur tangan politik yang kuat dalam melaksanakan tujuan-tujuannya. Kedua, faktor sejarah, kebiasaan, dan tradisi. Amat jarang Undang-Undang mengatur Bank Sentral secara komprehensif. Oleh sebab itu, dalam praktik seringkali diwarnai dengan perubahan-perubahan ketentuan yang bersifat parsial. Ketiga, faktor politik. Faktor ini menyebabkan desain Bank Sentral bervariasi dalam derajat otonomi dan akuntabilitasnya. Politik diakui perannya, akan tetapi dalam beberapa hal pada saat politik menciptakan lingkungan negara yang lemah akan memberikan dorongan yang besar untuk menciptakan independensi tinggi kepada Bank Sentral. Perlindungan terhadap pemecatan atas pejabat Bank Sentral menjadi bagian yang penting. Akhirnya, struktur Bank Sentral relasi dengan Parlemen, kepala negara, kabinet, atau kementerian akan ditentukan oleh sistem politik. Keempat, tradisi legal yang dianut. Mayoritas Bank Sentral merupakan badan hukum, sepenuhnya dimiliki negara, dan diatur oleh Undang- Undang, akan tetapi sangat sedikit Bank Sentral yang merupakan perusahaan terbuka dan ada kepemilikan saham pribadi. Struktur pemerintahan akan menentukan hukum korporasi yang berlaku. Dalam tradisi Anglo Saxon misalnya, perusahaan hanya mempunyai satu organ, sementara di negara Eropa perusahaan mempunyai struktur organ pelaksana dan organ pengawas. 5 Kelima, faktor konstitusi. Umumnya negara-negara demokrasi lama tidak mengatur soal Bank Sentral dalam konstitusi. Hanya sedikit negara, antara lain Afrika Selatan, yang menetapkan tugas Bank Sentral dalam konstitusi. Sejumlah negara di kawasan Amerika Latin usai krisis tahun 1980-an mengubah konstitusi, termasuk mengatur rinci mengenai Bank Sentral dan larangan peminjaman kredit kepada Pemerintah. 6 Konstitusi di negara-negara yang mengalami transisi biasanya mengatur pula ketentuan mengenai nominasi dan rekrutmen pejabat Bank Sentral. Keenam, kontinuitas. Faktor ini ditentukan oleh seberapa sering ketentuan Undang-Undang Bank Sentral diubah dan tingkat detail pengaturannya. Undang-Undang mengenai The Federal Reserve System di Amerika Serikat termasuk kategori Undang-Undang yang mempunyai ketegori rinci, sementara di negara lain tidak dijumpai ketentuan semacam itu. Di negara lain, Undang- Undang diubah beberapa kali dalam kurun waktu tertentu. Di Khazaztan, Undang-Undang Bank Sentral 1995 telah diubah sebanyak 16 kali sampai tahun Undang-Undang di Denmark sejak ditetapkan tahun 1936, hanya 4 (empat) kali mengalami perubahan kecil (1938, 1939, 1967, dan 1969). 7 Adanya sejumlah faktor yang mempengaruhi struktur kelembagaan Bank Sentral menunjukkan tidak adanya gejala tunggal, khususnya berhubungan dengan pembagian kekuasaan, tetapi pola-pola kelembagaan yang saling berpengaruh satu sama lain. Pandangan ini dapat disebut sebagai theory of combines process intitutionalized (teori kombinasi proses kelembagaan). Dalam hal ini, perubahan kelembagaan terjadi di dalam prinsip regulasi dan organisasi, perilaku, dan pola-pola interaksi. Arah perubahan tersebut biasanya menuju ke peningkatan perbedaan prinsip-prinsip dan pola-pola umum di dalam kelembagaan yang saling berhubungan. Sementara itu, pada waktu yang bersamaan terdapat peningkatan kebutuhan untuk melakukan integrasi di dalam sistem yang kompleks. Perbedaan tersebut dapat berarti juga memperluas mata rantai saling ketergantungan yang menuntut adanya integrasi. Tentu saja, perubahan kelembagaan itu mendorong kepada perubahan-perubahan kondisi 4 Diskusi selengkapnya: Snoh Unakul dan Supachai Panitchpakdi, 1987, Role of Central Banks in Economic Development, paper prepared for the Twelfth SEANZA Central Banking Course, Bank of Thailand (Bangkok). 5 Lihat dalam: Douglas Branson, Douglas, The Very Uncertain Prospect of Global Convergence in Corporate Governance, Cornell International Law Journal, 2001, Vol. 34, No, 2, hlm Lihat: Eva Gutiérrez, Inflation Performance and Constitutional Central Bank Independence: Evidence from Latin America and the Caribbean, IMF Working Paper No. 03/53 (Washington: International Monetary Fund). 7 Pembahasan selengkapnya, periksa: Peter Moser, Checks and Balances, and the Supply of Central Bank Independence, European Economic Review, 1999, Vol. 43, hlm

11 yang kemudian membuat penyesuaian baru yang diperlukan. Tujuan utama dari perubahan kelembagaan itu adalah emnciptakan keseimbangan baru. Berdasarkan argumen menurut theory of combines process intitutionalized, maka relasi antara parlemen dengan Bank Sentral adalah untuk menciptakan keseimbangan baru diantara keduanya di hadapan Pemerintah. Khususnya berkaitan dengan isu pengisian jabatan Dewan Gubernur Bank Sentral, keseimbangan itu menjadi penting untuk ditekankan. Terutama pada negara-negara berkembang, pola keseimbangan itu tercipta ke dalam 3 (tiga) pola sebagai berikut. Pertama, Pemerintah terlibat langsung dalam pengisian jabatan board dan masa jabatan Dewan Gubernur lebih pendek. Kedua, Pemerintah pada umumnya terwakili dalam Dewan Gubernur.Ketiga, Bank Sentral menikmati sedikit proteksi legal, terutama ketika berselisih dengan Pemerintah. Dalam pengisian jabatan Dewan Gubernur itu dapat berlangsung dalam salah satu atau variasi diantara 5 (lima) prosedur berikut ini. Pertama, Gubernur direkrut tanpa campur tangan Pemerintah. Pola ini diterapkan di negara Bulgaria, Kroasia, Republik Ceko, Estonia, Latvia, Lithuania, Malaysia, Pakistan, Polandia, Romania, Slovakia, Slovenia, dan Turki. Kedua, Gubernur mempunyai masa jabatan lebih dari 5 (lima) tahun. Hal ini antara lain dipraktikkan di Argentina 8, Brazil 9, Bulgaria 10, China 11, Kroasia 12, Republik Ceko 13, Hongaria 14, Latvia 15, Filipina 16, Polandia 17, Slovenia 18, Thailand, dan Venezuela 19. Ketiga, Dewan Gubenur direktur tanpa campur tangan Pemerintah seperti antara lain di Bulgaria 20, Kroasia 21, Republik Ceko 22, Estonia 23, Hungaria 24, Latvia 25, Lithuania 26, Polandia 27, Romania 28, Rusia 29, dan Turki 30. Keempat, Dewan Gubernur mempunyai masa jabatan lebih dari 5 (lima) tahun seperti antara lain di Argentina 31, Brazil 32, 14 Act LVIII of 2001 on the National Bank of Hungary. 15 Law "On the Bank of Latvia" of May 19, 1992, terakhir diubah 12 Juli The New Central Bank Act of the Republic of Philippines Juli, Law of August 29, 1997 on the National Bank of Poland, terakhir diubah 1 Januari Bank of Slovenia Act of July Law on the Central Bank of Venezuela", terakhir diubah 4 September Law on the Bulgarian National Bank Tahun Law on the Croatian National Bank, 5 April, Czech National Council Act No. 6/1993 Coll of 17 December 1992 on The Czech National Bank, terakhir diubah 1 Mei Law on the Central Bank of the Republic of Estonia of 18 May 1993, last amendment RT I 1999,16, Act LVIII of 2001 on the National Bank of Hungary. 25 Law "On the Bank of Latvia" of May 19, 1992, terakhir diubah 12 Juli Law on the Bank of Lithuania, Law No. I-678 of December 1, 1994, terakhir diubah 13 Maret Charter of the Central Bank of the Argentine Republic, Law 24,144 of September 23, 1992, diubah terakhir pada September 2003 (Law 25, 780). 9 Central Bank Law of Brazil, Law No. 4595/64 of December 31, 1964, terakhir diubah 31 Mei Law on the Bulgarian National Bank Tahun Law on the People's Republic of China on the People's Bank of China of March 18, Law on the Croatian National Bank, 5 April, Czech National Council Act No. 6/1993 Coll of 17 December 1992 on The Czech National Bank, terakhir diubah 1 Mei Law of August 29, 1997 on the National Bank of Poland, terakhir diubah 1 Januari Law on the Statute of the National Bank of Romania of May 26, 1998, terakhir diubah dengan Law No. 156 of October 12, Federal Law No. 86-FZ on the Central Bank of the Russian Federation (The Bank of Russia) of June 27, The Law on the Central Bank of the Republic of Turkey (Law No. 1211), terakhir diubah 25 April Charter of the Central Bank of the Argentine Republic, Law 24,144 of September 23, 1992, terakhir diubah 21 September 2003 (Law 25,780). 32 Central Bank Law of Brazil, Law No. 4595/64 of December 31, 1964, terakhir diubah 31 Mei

12 Bulgaria 33, Chile 34, China 35, Kroasia 36, Republik Ceko 37, Hongaria 38, Latvia 39, Lithuania 40, dan Filipina. 41 Kelima, tidak ada perwakilan Pemerintah dalam Dewan Gubernur seperti di Afrika Selatan 42, Peru 43, dan Thailand. 44 Selanjutnya, relasi keseimbangan baru antara Pemerintah, Parlemen, dan Bank Sentral sekurangkurangnya akan berpengaruh kepada 3 (tiga) hal penting. Pertama, derajat campur tangan Pemerintah dalam menentukan kebijaksanaan moneter. Di negara berkembang, kecenderungan campur tangan Pemerintah tidak ada dalam memformulasikan kebijaksanaan moneter, kecuali di negara seperti Bahamas, Bangladesh, Barbados, Benin, Burkina Faso, Côte d Ivoire, Guinée Bissau, Mali, Niger, Senegal dantogo.kedua, penentuan stabilitas moneter sebagai salah satu fungsi Bank Sentral. Nyaris semua negara menganut ketentuan ini kecuali negara seperti Comoros, Iran, dan Sudan. Ketiga, proteksi legal Bank Sentral di hadapan Pemerintah. Pada kebanyakan negara berkembang, proteksi Bank Sentral lebih besar 33 Law on the Bulgarian National Bank, amended as of Law 18,840, Basic Constitutional Act of the Central Bank of Chile, terakhir diubah 31 Mei Law on the People's Republic of China on the People's Bank of China of March 18, Law on the Croatian National Bank, new law enacted on April 5, Czech National Council Act No. 6/1993 Coll of 17 December 1992 on The Czech National Bank, terakhir diubah pada 1 Mei Act LVIII of 2001 on the National Bank of Hungary. 39 Law "On the Bank of Latvia" of May 19, 1992, terakhir diubah 12 Juli Law on the Bank of Lithuania, Law No. I-678 of December 1, 1994, terakhir diubah 13 Maret ketika terjadi perselisihan dengan Pemerintah, kecuali di negara seperti Angola, Bahamas, Bangladesh, Kolumbia, Haiti, Iran, dan Vietnam. Untuk hal yang ketiga ini dalam praktiknya undang-undang akan menentukan secara berbeda-beda. Misalnya, (i) Pemerintah akan mematuhi keputusan Bank Sentral dan akan menunda kebijaksanaannya dalam waktu tertentu seperti di Chile; (ii) Parlemen akan melakukan intervensi atau sekurang-kurangnya melakukan dengar pendapat seperti Australia, Kanada, Inggris, dan Norwegia; dan (iii) Pemerintah mengajukan perdebatan umum di Parlemen seperti di Selandia Baru. Format pengisian jabatan Dewan Gubernur 45 mencakup isu komposisi, kualifikasi, serta masalah pengusulan, pengangkatan, dan pemberhentian. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat masingmasing isu tersebut. Kebanyakan undang-undang di sejumlah negara menetapkan jumlah anggota Dewan Gubernur adalah antara 7-9 orang.banyak studi yang mengatakan bahwa jumlah yang ideal adalah antara 5-9 orang, sekalipun diantara praktik tersebut jumlah yang kecil dan yang besar tetap saja mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Bank Sentral Swiss hanya mempunyai 3 (tiga) anggota, sementara The Federal Reserve System mempunyai 19 anggota (walaupun hanya 12 yang mempunyai hak suara) dan Bank Sentral Eropa mempunyai 22 anggota. 46 Dalam komposisi ini dalam praktik kebanyakan Gubernur (Governor) secara otomatis merupakan Ketua (Chairman). 47 Pada Bank of Japan terdiri atas seorang Gubernur, dua Deputi Gubernur, dan 6 (enam) anggota Policy Board. Bundesbank di Jerman memiliki seorang Presiden, seorang wakil, dan 6 (enam) anggota Executive Board. Di Finlandia meliputi seorang 41 The New Central Bank Act of the Republic of Philippines of July, South African Reserve Bank Act of August 1, 1989, terakhir diubah tahun Central Reserve Bank of Peru Organic Law, Decree-Law No of January 1, Bank of Thailand Act Selain Dewan Gubernur, istilah lain yang acapkali dipakai adalah Executive Board, Policy Board, atau lainnya. 46 Berger et al (2006) 47 Istilah lain adalah Presiden. 5

13 Chairman dan maksimum 5 (lima) anggota. Kanada menetapkan Dewan Gubernur meliputi seorang Gubernur, seorang Deputi Gubernur, dan 12 anggota Boards of Director. Di Ghana, The Board of Director meliputi seorang Gubernur, 2 (dua) Deputi Gubernur, dan 8 (delapan) directors, dan 1 (satu) orang yang mewakili Menteri Keuangan. Aturan Dewan Gubernur juga mencakup ketentuanketentuan yang berhubungan dengan kualifikasi atau syarat-syarat untuk menduduki jabatan tersebut. Ada syarat yang merujuk kepada kapasitas profesional, misalnya pengalaman dalam sektor perbankan, keuangan, ekonomi, dan hukum; serta lapangan lain seperti akuntansi, auditor, dan perdagangan internasional seperti persyaratan di Kolumbia. Di negara yang mengalami transisi ekonomi, untuk Gubernur dan Deputi Gubernur lazim dipersyaratkan harus sudah pernah menjabat dalam kedudukan serupa untuk jangka waktu tertentu. Beberapa negara menetapkan batas usia tertentu bagi Gubernur dan Deputi Gubernur. Di Cape Verde mengatur bahwa Dewan Gubernur minimal mempunyai pengalaman 8 (delapan) tahun di sektor perbankan. Di Venezuela, calon harus berumur minimal 30 tahun. Filipina menetapkan batas usia minimal 35 tahun dan untuk keanggotaan Dewan Moneter sekurang-kurangnya 40 tahun. Di Namibia, calon harus berumur serendahrendahnya 21 tahun dan maksimal 65 tahun saat dilantik. Pada Bank Sentral Belgia, Dewan Gubernur berhenti saat mencapi usia 67 tahun, yang atas rekomendasi Menteri Keuangan dapat terus bertugas sampai usia 70 tahun. Papua Nugini mensyaratkan berhentinya Dewan Gubernur saat usia 70 tahun. Di negara yang lain, jika dipersyaratkan bahwa Dewan Gubernur merupakan pejabat karir birokrasi, ketentuan batras usia tunduk pada ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang. Syarat kewarganegaraan acapkali juga menjadi salah satu persyaratan.tetapi salah satu contoh menarik di Bosnia Herzegovina. Mengingat situasi yang sulit pada waktu itu, Undang-Undang mengatur bahwa untuk pertama kalinya Dewan Gubernur tidak merupakan warganegara yang bersangkutan, yang ditetapkan oleh International Monetery Fund dan diambil dari negara tetangga. Pada akhir masa jabatan, otoritas setempat memberikan kewargenaraan dan mereka dicalonkan kembali. Syarat kapasitas profesional diuji dalam mekanisme fit and proper test untuk tercapai standar moralitas tertentu seperti di Bank Sentral Eropa, berperikelakuan tidak tercela (Filipina), atau integritas yang tidak meragukan (Filipina). Syarat tidak pernah menjalani hukuman pidana, kecuali denda, juga lazim diperlakukan seperti di Bostwana. Syarat lain misalnya tidak pailit, tetapi di sejumlah negara memperkenankan dalam lampau waktu tertentu. Di Peru misalnya, syarat itu mencakup ketidakmampuan pajak atau tidak terdaftar sebagai wajib pajak.bolivia melarang calon yang memiliki kepemilikan saham di institusi keuangan. Sementara itu, masa jabatan dan kemungkinan pengangkatan kembali Dewan Gubernur antara Bank Sentral yang satu dengan yang lain tidak selalu sama. Sebagai contoh di The Federal Reserve System mempunyai masa jabatan 14 tahun dan tidak dapat dicalonkan kembali. Dua dari anggota Dewan Gubernur dipilih sebagai Chairman dan wakil untuk masa jabatan 4 (empat) tahun dan diangkat kembali selama masih dalam jangka jabatan 14 tahun. Semua anggota Executive Board (termasuk Presiden dan wakilnya) di Bank Sentral Eropa mempunyai masa jabatan 8 (delapan) tahun dan tidak dapat dipilih kembali. Finlandia mengatur bahwa masa jabatan Gubernur adalah 7 tahun dan dalam keanggotaan Dewan Gubernur dapat dipilih sampai 3 (tiga) kali masa jabatan, kecuali untuk menjabat Gubernur maksimal 2 (dua) periode masa jabatan. Masalah pengusulan, pengangkatan, dan pemberhentian anggota Dewan Gubenur masingmasing berbeda-beda. Sebagai contoh, pada The Federal Reserve System diusulkan oleh Presiden untuk nendapat persetujuan Senat. Sedangkan Chairman dan wakilnya ditunjuk dari anggota Dewan Gubernur oleh Presiden dan dikonfirmasi oleh Senat. Di Albania, 6

14 Gubernur dicalonkan oleh Presiden atas usul Bank Sentral, sementara untuk anggota masing-masing dicalonkan oleh Parlemen (3 orang), Presiden (1 orang); serta Kabinet, Dewan Gubernur, Menteri Keuangan, dan Gubernur Bank Sentral masing-masing 1 (satu) orang. Di Armenia, Gubernur dan Deputi Gubernur diangkat oleh Presiden dengan persetujuan Parlemen, sementara sebanyak 5 (lima) anggota yang lain diangkat oleh Presiden. Di Belarusia, Gubernur diangkat oleh Presiden atas persetujuan Parlemen, sementara Parlemen dan Kabinet berhak mengusulkan masing-masing 1 (satu) anggota Dewan Gubernur. Di Rusia Gubernur diangkat oleh Presiden dengan persetujuan Parlemen, sementara 13 anggota lainnya diangkat oleh Presiden dengan memperhatikan saran Gubernur.Sementara pengangkatan seluruh anggota Dewan Gubernur atas kehendak Presiden sepenuhnya terjadi di Republik Ceko, sedangkan di Bulgaria, Kroasia, dan Ukraina sepenuhnya di bawah kendali Parlemen. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Tonny Lybek dan Jo Anne Morrist 48 terhadap 100 Bank Sentral menyimpulkan bahwa mekanisme pengusulan Dewan Gubernur dilakukan dengan kategori sebagai berikut: (i) diusulkan oleh Kepala Negara/Presiden sebanyak 31 negara; (ii) diusulkan oleh Parlemen sebanyak 12 negara; (iii) diusulkan oleh Menteri Keuangan sebanyak 17 negara; (iv) diusulkan oleh Perdana Menteri sebanyak 5 negara; (v) diusulkan oleh Kabinet sebanyak 12 negara dan (vi) diusulkan dengan variasi yang menggabungkan sejumlah pihak sebanyak 23 negara. Penelitian yang sama mengungkapkan bahwa mekanisme pengangkatan meliputi variasi-variasi sebagai berikut: (i) memerlukan persetujuan Presiden/Kepala Negara sebanyak 51 negara; (ii) memerlukan persetujuan Parlemen sebanyak 23 negara; (iii) memerlukan persetujuan Perdana Menteri sebanyak 3 negara; (iv) memerlukan persetujuan Kabinet sebanyak 8 negara; (v) memerlukan persetujuan Menteri Keuangan sebanyak 5 negara, dan (vi) memerlukan persetujuan yang menggabungkan sejumlah pihak sebanyak 10 negara. 49 Jika ditelaah, maka mekanisme pengusulan, pengangkatan, dan pemberhentian Dewan Gubernur pada Bank Sentral akan meliputi tipe sebagai berikut: (i) mekanisme oleh Bank Sentral sendiri; (ii) mekanisme dengan campur tangan (usul) Bank Sentral; (iii) mekanisme yang melibatkan Pemerintah dan Parlemen; (iv) mekansime yang melibatkan Pemerintah secara kolektif; dan mekanisme atas kehendak Pemerintah atau Parlemen secara pribadi. Dengan demikian, tafsiran keseimbangan antara Pemerintah dan Parlemen berhadapan dengan Bank Sentral diterjemahkan secara berbeda-beda di setiap negara. Sedangkan alasan-alasan untuk melakukan pemberhentian (dismissal) diatur secara tidak sama diantara banyak negara, yang pada garis besarnya mencakup 3 (tiga) bentuk. Pertama, bersifat nonpolitik seperti Albania, Armenia, Republik Ceko, Estonia, Hongaria, dan Rusia.Kedua, kegagalan menjalankan kewajiban perbankan seperti di Bulgaria. Ketiga, perselisihan kebijaksanaan moneter antara Bank Sentral dengan Pemerintah dan/atau Parlemen seperti di Georgia.Keempat, tidak terikat syarat dan kondisi tertentu seperti di Rumania. C. Praksis di Indonesia Sehubungan dengan Dewan Gubernur Bank Indonesia, ketentuan UU No. 13 Tahun 1968 Pasal 15 mengatakan bahwa Gubernur dan Direktur diangkat oleh Presiden atas usul Dewan Moneter untuk masa 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali. Komposisi Dewan Gubernur meliputi Direksi yang terdiri atas satu orang Gubernur dan minimal 5 atau 7 orang Direktur.Pasal 16 menyebutkan bahwa Direksi 48 Tonny Lybek and JoAnne Morrist, Central Bank Governance: A Survey of Board and Management, IMF Working Paper, Desember 2004, hlm Ibid. 7

15 bertanggung jawab kepada Pemerintah. Pasal 17 menyebutkan bahwa Presiden dapat memberhentikan Gubernur dan Direktur, meskipun masa jabatannya belum berakhir. Sebagai tambahan, anggota Direksi tidak boleh merangkap jabatan pada lembaga lain, kecuali karena kedudukannya (Pasal 18). Sementara itu, Pasal 22 menyebutkan bahwa Komisaris Pemerintah mengawasi pengurusan Bank Indonesia sebagai perusahaan dan boleh hadir dalam Rapat Direksi. Pengambilan keputusan dilakukan atas dasar musywarah untuk mencapai mufakat (kolektif).dengan ketentuan ini, Bank Indonesia memiliki political independence terbatas. Pada masa berlakunya UU No. 13 Tahun 1968, rekrutmen Dewan Gubernur menunjukkan mekanisme sebagai berikut: (i) Pengangkatan dilakukan oleh Presiden secara pribadi 50 seperti yang berlaku di Republik Ceko; (ii) Pengusulan jabatan dilakukan oleh Presiden secara pribadi; (iii) pengangkatan dilakukan dengan beberapa kualifikasi; (iv) Masa jabatan adalah 5 tahun; (v) Pemberhentian dilakukan oleh Presiden secara pribadi 51 ; (vi) terdapat ketentuan untuk memungkinkan pengangkatan kembali dalam masa jabatan untuk satu periode; dan (vii) terdapat ketentuan rangkap jabatan, kecuali karena kedudukannya. Political independence bagi Bank Indonesia meningkat cukup tajam dengan berlakunya UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn Komposisi Dewan Gubernur meliputi seorang Gubernur, seorang Deputi Gubernur Senior dan 7 sampai 9 orang Deputi. 50 Berturut-turut Gubernur Bank Indonesia adalah Radius Prawiro ( ), Rachmat Saleh ( ), Adrianur Mooy ( ), Arifin M. Siregar ( ), dan Soedrajat Djiwandono ( ). 51 Ketika krisis ekonomi mulai melanda Indonesia, Presiden Soeharto ( ) waktu itu bisa secara mendadak mencopot Soedrajat Djiwandono dari posisi Gubernur, karena yang bersangkutan menolak penerapan kebijakan Currency Board System (CBS) untuk mengendalikan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam sistem waktu itu, memang Gubernur BI merupakan pejabat negara setingkat menteri dalam Kabinet Pembangunan VI, suatu tradisi yang menjadi kebijakan Orde Baru semenjak tahun Dalam Pasal 40 UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn diatur syarat-syarat calon anggota Dewan Gubernur, selain (i) harus warganegara Indonesia, juga (ii) harus memiliki integritas akhlak dan moral yang tinggi; dan (iii) memiliki keahlian dan pengalaman di bidang ekonomi, keuangan, perbankan, atau hukum. Pada bagian Penjelasan Pasal 40, dikatakan bahwa syarat keahlian berdasarkan pendidikan dan keilmuan, sedangkan yang berhubungan dengan pengalaman terutama berhubungan dengan karier calon dalam salah satu bidang, yaitu ekonomi, keuangan, perbankan, atau hukum, khususnya yang berkaitan dengan tugas-tugas Bank Sentral. Dalam hal ini, syarat jabatan Dewan Gubernur tidak mencakup persyaratan umur baik dalam kualifikasi minimal ataupun maksimal.persyaratan lebih mengarah kepada kualifikasi profesional.tidak ada ketentuan bahwa calon harus berasal dari pejabat karir di Bank Sentral. Mengenai mekanisme pengusulan, pencalonan, dan pengangkatan diatur dalam Pasal 41 UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn Pengusulan, pencalonan, dan pengangkatan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Pencalonan Gubernur dan Deputi Gubernur Senior merupakan wewenang penuh dari Presiden, sedangkan calon Deputi Gubernur diusulkan oleh Presiden berdasarkan usul Gubernur untuk sebanyakbanyak 3 (tiga) orang calon. Jika calon Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan Deputi Gubernur ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden wajib mengajukan calon baru. Jika para calon baru itu tidak disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden wajib mengangkat kembali Gubernur, Deputi Gubernur Senior, atau Deputi Gubernur untuk jabatan yang sama atau Deputi Gubenur Senior atau Deputi Gubernur untuk jabatan yang lebih tinggi dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Lamanya masa jabatan anggota Dewan Gubernur adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan. 8

16 Adapun masalah pemberhentian Dewan Gubernur diatur dan ditentukan oleh Pasal 48 ayat (1) UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn Pada pokoknya, Dewan Gubernur tidak dapat diberhentikan dalam masa jabatan, kecuali mengundurkan diri, terbukti melakukan tindak pidana kejahatan, dan inipun menurut putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap; tidak dapat hadir secara fisik untuk waktu selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan; dinyatakan pailit atau tidak mampu memenuhi kewajiban kepada kreditur berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap; atau berhalangan tetap yaitu meninggal dunia, mengalami cacat fisik atau cacat mental sehingga tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik; atau karena kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Pemberhentian terhadap anggota Dewan Gubernur ini harus dilakukan dengan Keputusan Presiden.Selain itu, anggota Dewan Gubernur tidak dapat dihukum karena telah mengambil keputusan atau kebijakan sesuai dengan tugas dan kewenangannya (Pasal 45). Sebagai tambahan, anggota Dewan Gubernur tidak boleh merangkap jabatan pada lembaga lain, kecuali karena kedudukannya (Pasal 47). Sementara itu, Pasal 43 mengatur bahwa wakil Pemerintah boleh hadir dalam Rapat Dewan Gubernur dengan hak bicara tanpa hak suara atau veto. Pelaksanaan UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn mengalami dinamika sendiri.ketika Bank Indonesia (BI) dilanda mendung keresahan akibat ditetapkannya Gubernur BI Burhanuddin Abdullah sebagai tersangka 52 dalam kasus aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi 53, maka bersamaan 52 Ketika Burhanuddin Abdullah ditetapkan sebagai tersangka, US$ 5,1 miliar atau sekitar Rp47 triliun harus digelontorkan ke pasar uang untuk meredam gejolak rupiah. Hal ini karena bagi BI, kasus ini merupakan pertaruhan besar. Lihat, Tempo, 24 Februari 2008, hlm YPPI diduga mengalirkan dana gelap sebesar Rp127,75 miliar di mana sebesar Rp96,25 miliar diberikan kepada aparat penegak hukum dalam upaya penyelesaian kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang itu juga masa jabatan gubernur bank sentral mendekati akhir periode. 54 Untuk mengisi jabatan Gubernur BI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan 2 (dua) orang calon Agus Martowardoyo 55 dan Raden Pardede 56 --untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pengajuan itu dilakukan pada 17 Februari dan setelah melalui serangkaian fit and proper test, pada 18 Maret 2008 DPR menyatakan menolak terhadap calon-calon yang diajukan oleh Presiden tersebut. Bukanlah aspek legal yang memang sudah diatur di dalam peraturan perundang-undangan yang kemudian memancing perdebatan seru di balik drama pengisian Gubernur BI itu. Namun memang penolakan DPR itu mengisyaratkan bacaan sebagai upaya politis untuk mempengaruhi independensi BI sebagai bank sentral. Lagi-lagi di sini menunjukkan kontur kenegaraan kita yang menonjolkan kekuatan dalam hubungan antarlembaga negara. Debat soal independensi BI terkait dengan pengisian jabatan Gubernur BI pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (1999- menjerat 5 pejabat BI pada kurun Adapun sebanyak Rp31,5 miliar diberikan kepada anggota DPR yang membahas amandemen UU BI. Lihat, ibid. Adapun YPPI sendiri sebenarnya didirikan oleh BI untuk tujuan melatih tenaga-tenaga perbankan dan yayasan ini semula bernama Yayasan Pendidikan Kader Bank, kemudian menjadi Yayasan Akademi Bank pada Pada 30 April 1970, namanya diubah menjadi YPPI. Pada 1977 yayasan ini dibubarkan dan sebagai gantinya didirikan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Seiring dengan adanya UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, yang antara lain mewajibkan yayasan berbentuk badan hukum, maka pada 2003 BI mencatatkan lembaga ini ke Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, dan namanya kembali menjadi YPPI. 54 Sebenarnya Burhanuddin Abdullah ingin menjadi gubernur bank sentral kembali. Berbekal predikat Gubernur Bank Sentral terbaik 2007 versi Global Finance dan penghargaan Bintang Mahaputra dari pemerintah pada tahun yang sama, semula jalan untuk kembali memimpin BI kian melempang. Lihat, Tempo, 24 Februari 2008, hlm Sejak Mei 2005, ia menjadi Direktur Utama Bank Mandiri, setelah sebelum berkiprah menjadi pucuk pimpinan Bank Permata. Ia dinobatkan menjadi bankir Indonesia terbaik oleh Majalah Asia Money pada Pardede adalah doctor ekonomi lulusan Boston University dan pendiri lembaga kajian ekonomi terpandang Danareksa Research Institute. Ia pernah menjadi konsultan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, staf khusus Menteri Koordinator Perekonomian, Wakil Tim Asistensi Menteri Keuangan, Ketua Forum Stabilisasi Sektor Keuangan, Komisaris Independen BCA, dan sekarang Wakil Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset. 9

17 2001). Waktu itu sang presiden ingin Prijadi Praptosuhardjo, kelak menteri keuangan, menjadi Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ternyata tidak mungkin, karena menurut aturan yang berlaku, Prijadi tidak lulus fit and proper test yang diselenggarakan oleh BI. Presiden marah dan minta agar Gubernur BI waktu itu, Syahril Sabirin, untuk mengundurkan diri atau dikriminalkan atas dasar indikasi terlibat skandal Bank Bali. Syahril menolak dan akhirnya memang dia memang dikriminalkan dan ditahan oleh Jaksa Agung. Momentum itu dijadikan wahana bagi pemerintah untuk melakukan perubahan terhadap undang-undang bank sentral yang pada intinya memungkinkan Presiden mencopot Gubernur BI pada masa jabatan jika dinilai tidak mempunyai kinerja yang baik. Tetapi, seperti ditulis oleh Kwik Kian Gie 57, proses perubahan undangundang itu berlarut-larut sehingga tidak pernah mencapai keberhasilan. Ketika krisis ekonomi mulai melanda Indonesia, Presiden Soeharto ( ) waktu itu bisa secara mendadak mencopot Soedrajat Djiwandono dari posisi Gubernur BI, karena yang bersangkutan menolak penerapan kebijakan Currency Board System (CBS) untuk mengendalikan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam sistem waktu itu, memang Gubernur BI merupakan pejabat negara setingkat menteri dalam Kabinet Pembangunan VI, suatu tradisi yang menjadi kebijakan Orde Baru semenjak tahun Barangkali Presiden Megawati Soekarnoputri ( ) yang beruntung karena pada masa jabatannya pergantian gubernur bank sentral tidak mengalami kegoncangan ketika ia mencalokan Burhanuddin Abdullah sebagai calon tunggal ke DPR. Jika ditelaah, sehubungan dengan pengusulan, pencalonan, dan pengangkatan Dewan Gubernur menurut UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn dapat dianalisis sebagai berikut. Dalam hal pengisian jabatan Gubernur, maka mengandung norma-norma: (i) pengangkatan dilakukan oleh Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat; (ii) pengusulan dilakukan secara pribadi oleh Presiden; (iii) terdapat ketentuan mengenai kualifikasi atau persyaratan jabatan tertentu; (iv) masa jabatan adalah 5 tahun; (v) ada keamanan penuh terkait dengan masa jabatan yaitu tidak dapat diberhentikan dalam masa jabatan kecuali menurut syarat ketentuan undang-undang; (vi) dapat diangkat kembali dalam masa jabatan berikutnya; dan (vii) terdapat larangan untuk merangkap jabatan tertentu, kecuali karena kedudukannya. Selanjutnya untuk Deputi Gubernur Senior berlaku norma-norma sebagai berikut: (i) pengangkatan dilakukan oleh Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat; (ii) pengusulan dilakukan oleh Presiden secara pribadi; (iii) terdapat ketentuan mengenai kualifikasi atau persyaratan jabatan tertentu; (iv) masa jabatan adalah 5 tahun; (vi) ada keamanan penuh terkait dengan masa jabatan yaitu tidak dapat diberhentikan dalam masa jabatan kecuali menurut syarat ketentuan undang-undang; (vi) dapat diangkat kembali dalam masa jabatan berikutnya; (vii) terdapat larangan rangkap jabatan kecuali karena kedudukannya; dan (viii) pengangkatan dilakukan secara berkala. 57 Kwik Kian Gie, 2006, Pikiran yang Terkorupsi, Jakarta: Kompas, hlm Berturut-turut Gubernur BI adalah Radius Prawiro ( ), Rachmat Saleh ( ), Adrianur Mooy ( ), Arifin M. Siregar ( ), Soedrajat Djiwandono ( ), dan Syahril Sabirin ( ). Kecuali Syahril Sabirin, semua gubernur bank sentral tadi diangkat menurut UU No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral. Sementara itu, Syahril Sabirin yang berprestasi karena memegang jabatan untuk 4 orang presiden selama dan yang bersangkutan termasuk yang membidani kelahiran UU No. 23 Tahun 1999 yang menempatkan posisi BI dalam kedudukannya yang paling independen semenjak berdirinya republik ini. Untuk tingkat Deputi Gubernur, ketentuan UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn mengandung norma-norma sebagai berikut: (i) pengusulan dilakukan Bank Sentral kepada Presiden; (iii) terdapat ketentuan mengenai kualifikasi atau persyaratan jabatan tertentu; (iv) masa jabatan adalah 5 tahun; (v) ada keamanan penuh terkait dengan masa jabatan yaitu tidak dapat diberhentikan dalam masa jabatan kecuali menurut syarat ketentuan undang-undang; (vi) dapat diangkat kembali dalam masa jabatan berikutnya; (vii) terdapat 10

18 larangan untuk merangkap jabatan tertentu, kecuali karena kedudukannya; (viii) terdapat pengangkatan jabatan secara bertahap; dan (ix) tidak ada wakil Pemerintah dalam Dewan Gubernur. Diantara mekanisme pengisian jabatan Dewan Gubernur menurut UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn terdapat hal yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus. Jika diperhatikan, ketentuan Pasal 40 UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn mengenai syarat rekrutmen bersifat sangat umum yaitu hanya mencakup: (i) harus warganegara Indonesia; (ii) harus memiliki integritas, akhlak, dan moral yang tinggi; serta (iii) harus memiliki keahlian dan pengalaman dalam bidang ekonomi, keuangan, perbankan, atau hukum. Selain syarat warganegara, kedua syarat yang terakhir dapat dipilah menjadi 2 (dua) kategori yaitu kategori kompetensi moralitas dan kompetensi profesional. Untuk kompetensi moralitas pengujiannya menjadi lebih abstrak dibandingkan dengan kompetensi profesional. Oleh sebab itu, jika kedua persyaratan tersebut masuk dalam kualifikasi persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat akan menimbulkan kompleksitas tersendiri. Apalagi persetujuan tidak semata-mata kata akhir, akan tetapi juga mekanisme semenjak awal sampai pengambilan keputusan di Dewan Perwakilan Rakyat. Dapat saja terjadi bahwa seorang calon mempunyai kapasitas profesional, akan tetapi bagaimanakah jika proses pengujian kompetensi moralitas itu diwarnai dengan tindakan-tindakan tercela seperti penyuapan atau korupsi, akankah hal tersebut berpengaruh kepada legitimasi calon? Sebaliknya, jika kompetensi moralitas tidak menimbulkan persoalan, apakah klausula undang-undang mengenai mempunyai keahlian dan pengalaman utnuk kompetensi profesional dapat diuji oleh Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga politik? account the effects switching jobs might have on both his personal and professional lives. 59 Dengan adanya persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, maka akan timbul suatu penilaian bahwa Rational candidates seeking to maximize their electoral prospects must go hunting where the ducks are, tailoring their appeal to those prospective voters who are both likely to turn out and susceptible to conversion. 60 Selanjutnya, The important question here is whether the candidates know where there are ducks and, having found them, if they can distinguish the live birds from the decoys. More specifically, if a potential candidate does not think that there are enough voters in the area where he lives who will support his candidacy, he will likely choose not to run for office. 61 Di dalam praktik, persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menjalankan mekanisme fit and proper test untuk mempertimbangkan calon Dewan Gubernur yang diajukan oleh Presiden. Mekansime itu sendiri tidak diatur dalam UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn Sementara dalam praktik, pelaksanaannya merujuk kepada Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pelaksanaan fit and proper test itu sebagai berikut: (i) Presiden menyampaikan surat resmi yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang berisi daftar nama calon anggota Dewan Gubernur sejumlah 2 (dua) calon untuk masingmasing jabatan; (ii) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat menerima surat tersebut dan kemudian menetapkan secara resmi penerimaan pengusulan calon tersebut; (iii) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat menindaklanjuti dengan pemberitahuan kepada alat kelengkapan terkait untuk melaksanakan fit and proper test dan ditembuskan kepada tiap-tiap fraksi; (iv) Alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat terkait Dalam pengisian jabatan tersebut, kategori yang hendak dicari adalah the values an individualplaces on the benefits of a central bank position. Seperti dikatakan oleh Watson dan Dwaning, dalam kategori ini maka, This is a series of decisions that takes into 59 Lihat dalam: Watson, Richard A. and Rondal G. Downing, 2009, The Politics of the Bench and the Bar: Judicial Selection Under the Missouri Nonpartisan Court Plan. New York, John Wiley and Sons, Inc. 60 Ibid. 61 Ibid. 11

19 kemudian melaksanakan kegiatan fit and proper test yang biasanya terbuka untuk umum; (v) Alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat terkait kemudian menetapkan keputusan untuk menerima atau menolak calon yang diusulkan oleh Presiden, yang biasanya dengan pemungutan suara; (vi) Alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat terkait kemudian menyampaikan secara resmi keputusan fit and proper test kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dengan tembusan kepada alat kelengkapan yang merencanakan kegiatan Dewan (Badan Permusyawaratan); (vii) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat kemudian menyampaikan hasil keputusan pencalonan tersebut dalam rapat paripurna menurut Peraturan Tata Tertib untuk dimintakan persetujuan kepada seluruh anggota Dewan, yang lazimnya mengikuti apa yang sudah diputuskan alat kelengkapan terkait; dan (viii) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat menyampaikan keputusan Dewan kepada Presiden. Selain perdebatan dari sisi legitimasi hukum mengenai mekanisme dan pelaksanaan fit and proper test persoalan juga mencakup isu batasan dan sifat pengujian yang tidak tegas apakah mencakup kompetensi moralitas atau kompetensi profesional calon. Sebuah fit and proper test yang menilai calon yang sudah memenuhi persyaratan Undang- Undang untuk jabatan tertentu seperti anggota Dewan Gubernur tentu lebih tepat apabila menguji kompetensi moralitas guna menemukan calon yang mempunyai kepribadian dan kecakapan yang tidak tercela seperti di Filipina. Menurut Moh. Nadjib Immanullah, pengujian itu mendekati mekanisme hearing di Senat Amerika Serikat dalam menentukan calon anggota The Federal Reserve System. 62 Tidak pada tempatnya, jika argumentasi ini diikuti, bahwa fit and proper test oleh lembaga politik semacam Dewan Perwakilan Rakyat merambah pengujian terhadap penilaian komptensi profesional calon. Akan tetapi, Hari Purwadi menolak jika sifat politik 62 Pendapat dalam Focus Group Discussion dalam rangka penelitian ini di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Jumat, 23 Desember kelembagaan Dewan Perwakilan Rakyat menjadi dasar pendapat untuk menyatakan validitas fit and proper test. Sebagai sebuah realitas politik yang kemudian menjadi ketentuan Undang-Undang proses semacam itu tidak perlu dinilai berlebihan terhadap Dewan Perwakilan Rakyat. Banyak pengisian jabatan di Indonesia yang memerlukan persetujuan parlemen, akan tetapi persoalan yang sangat penting di Indonesia adalah keterputusan bias ideology antara calon yang diputuskan dengan kinerja. Hampir persoalan itu tidak pernah muncul. Ideology resmi partai nyaris tidak menjadi dasar untuk menguji kapasitas calon yang nantinya akan tercermin dalam putusan-putusan yang ditetapkan oleh calon. 63 Ketentuan UU No. 23 Thn jo. UU No. 3 Thn sendiri tidak memberikan penjelasan terhadap makna persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat itu sendiri. Sebagai perbandingan, ketentuan UU No. 3 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara dan UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. 64 Sejak pelaksanaan Undang-Undang Kepolisian pertama kali pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri (2002), calon yang diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia hanya satu orang dan diikuti kemudian pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan pengisian jabatan pada tahun 2005, 2007, dan Sementara itu, Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia pertama kali dipraktikkan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengisi jabatan Panglima Tentara Nasional 63 Pendapat Dr. Hari Purwadi, S.H., M.Hum.,Focus Group Discussion dalam rangka penelitian ini di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Jumat, 23 Desember Kedua undang-undang ini menindaklanjuti Ketetapan MPR No.VII/MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. 65 Untuk pertama kali, Presiden Megawati Soekarnoputri mengajukan Jenderal (Pol) Da I Bachtiar sebagai satu-satunya calon dan preseden ini diikuti oleh Presiden Yudhoyono ketika mencalonkan Jenderal (Pol) Soetanto (2005), Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Dhanuri (2007), dan Jenderal (Pol) Timur Pradopo (2010). 12

20 Indonesia pada tahun 2005 dan kemudian pada tahun 2008 dan Sekalipun pada awalnya dikritik oleh Dewan Perwakilan Rakyat karena hanya satu calon, tetapi proses pemberian persetujuan selama ini tidak pernah mengalami hambatan sama sekali. Artinya persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menjadi bermakna operaisonal ketika calon yang diajukan oleh Presiden hanya satu. Pengalaman sebelumnya berbeda dalam pengisian jabatan Gubernur Bank Indonesia. Untuk mengisi jabatan Gubernur BI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan 2 (dua) orang calon Agus Martowardoyo dan Raden Pardede--untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pengajuan itu dilakukan pada 17 Februari dan setelah melalui serangkaian fit and proper test, pada 18 Maret 2008 DPR menyatakan menolak terhadap calon-calon yang diajukan oleh Presiden tersebut. Kemudian Presiden mengajukan Boediono (Menteri Koordinator Perekonomian) sebagai calon Gubernur Bank Indonesia. Seperti sudah diramalkan oleh banyak pihak, pencalonan Menteri Koordinator Perekonomian Boediono untuk posisi Gubernur Bank Indonesia berjalan mulus. Pada 8 April 2008 yang lalu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memberikan persetujuan bagi profesor ekonomi Universitas Gadjah Mada itu untuk menduduki posisi di lembaga yang berperan penting sebagai otoritas moneter di republik ini. Atas dasar pengalaman itu, maka ketika Boediono menjadi Wakil Presiden (2009), untuk mengisi jabatan Gubernur Bank Indonesia, Presiden mengajukan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Darmin Nasution sebagai satu-satunya calon pada Oktober 2010 yang lalu dan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Ada kemungkinan bahwa praktik pengisian jabatan dengan mengajukan satu calon akan menjadi konvensi ketatanegaraan. Persoalan pengisian jabatan Gubernur Bank Indonesia dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat amat erat dengan sifat independensi bank sentral. Dalam kasus Indonesia, independensi itu harus dipahami yang dapat saja menunjukkan ketidakmutlakan independensi itu sekurang-kurangnya terhadap 3 (tiga) aspek. Pertama, walaupun terdapat keterkaitan antara indendensi dan rendahnya laju inflasi, tidak berarti bahwa semakin independen suatu bank sentral, inflasi yang rendah dapat dicapai. Kedua, kebijakan moneter merupakan bagian dari kebijakan ekonomi secara keseluruhan, meskipun terpisah namun kebijaksanaan fiskal, moneter, ketenagakerjaan, perdagangan, atau kebijaksanaan lainnya harus tetap saling mendukung. Ketiga, dengan terpilihnya pejabat Bank Sentral dalam mekanisme politik yang demokratis, maka keputusan mengenai suku bunga, nilai tukar, inflasi, dan hal-hal moneter lainnya akan mewakili kepentingan masyarakat pada umumnya. Mengingat independensi Bank Indonesia, pengisian jabatan Dewan Gubernur Bank Indonesia yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat memiliki rasionalitas yang amat terkait dengan status kelembagaan bank sentral. Hanya saja ke depan nampaknya perlu dilakukan perubahan mekanisme itu guna menghindari politicking yang berlebihan. Untuk posisi Gubernur dan Deputi Gubernur Senior, hendaknya dapat dilaksanakan dalam satu paket pemilihan. Presiden dapat menetapkan sendiri mekanisme untuk pengusulan jabatan tersebut dan masing-masing hanya satu calon untuk kemudian dimintakan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Sementara itu, untuk anggota Dewan Gubernur, dalam hal ini Deputi Gubernur dilakukan pengisian jabatan secara berkala dan tidak perlu memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pengusulan calon dilakukan oleh Gubernur Bank Indonesia kepada Presiden dan kemudian ditetapkan oleh Presiden. 66 Presiden Yudhoyono mengajukan Marsekal Djoko Suyanto sebagai satusatunya calon Panglima Tentara Nasional Indonesia (2005), lalu Jenderal Djoko Santoso (2008), dan Laksamana Agus Suhartono (2010). Pemisahan mekanisme yang berlaku untuk Gubernur dan Deputi Gubernur Senior dengan anggota Dewan Gubernur dilakukan minimal dengan 3 (tiga) alasan. Pertama, mengingat kelembagaan Bank Indonesia 13

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA ESTONIA LATVIA LITHUANIA DENMARK INGGRIS BELANDA IRLANDIA POLANDIA JERMAN BELGIA REPUBLIK CEKO SLOWAKIA HONGARIA

SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA ESTONIA LATVIA LITHUANIA DENMARK INGGRIS BELANDA IRLANDIA POLANDIA JERMAN BELGIA REPUBLIK CEKO SLOWAKIA HONGARIA SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA PORTUGAL IRLANDIA LUKSEMBURG INGGRIS BELGIA SPANYOL BELANDA PERANCIS DENMARK JERMAN SLOVENIA AUSTRIA ITALIA POLANDIA KROASIA RUMANIA BULGARIA YUNANI ESTONIA LATVIA LITHUANIA

Lebih terperinci

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS II. PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARISIS Tujuan Untuk menilai: kecukupan jumlah, komposisi, integritas dan kompetensi anggota Dewan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA

No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA Perihal: Bank Umum Syariah Dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tanggal

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam menghadapi perkembangan perekonomian nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sistem jaminan sosial

Lebih terperinci

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA 1. Penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik Lembaga Pembiayaan Ekspor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang OJK. Pembentukan lembaga

I. PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang OJK. Pembentukan lembaga I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL PP. No. : 45 Tahun 1995 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN UMUM Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi

Lebih terperinci

PROSEDUR PENETAPAN CALON ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI DAN KOMITE LEVEL KOMISARIS

PROSEDUR PENETAPAN CALON ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI DAN KOMITE LEVEL KOMISARIS PROSEDUR PENETAPAN CALON ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI DAN LEVEL KOMISARIS Tanggal Efektif Berlaku : 15 November 2013 Page 1/13 DAFTAR ISI 1.0. LATAR BELAKANG 3 2.0. MAKSUD DAN TUJUAN 3 3.0. DASAR

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme

Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme Program Erasmus (EuRopean Community Action Scheme for the Mobility of University Students) atau Erasmus Project adalah program pertukaran pelajar di

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a bahwa Presiden sebagai Penyelenggara Pemerintahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keuangan negara merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011 TENTANG PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011 TENTANG PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011 TENTANG PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kesehatan bank merupakan sarana

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama [ ] disingkat [ ], dalam bahasa Inggris disebut [ ] disingkat [ ], untuk selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini disebut "Yayasan" berkedudukan di

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk menumbuhkembangkan perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGANGKATAN DEWAN PENGAWAS PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan mengalami

Lebih terperinci

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) DEWAN KOMISARIS, DIREKSI DAN KOMITE-KOMITE PENUNJANG DEWAN KOMISARIS

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) DEWAN KOMISARIS, DIREKSI DAN KOMITE-KOMITE PENUNJANG DEWAN KOMISARIS PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) DEWAN KOMISARIS, DIREKSI DAN KOMITE-KOMITE PENUNJANG DEWAN KOMISARIS Pedoman dan Tata Tertib Kerja Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1962 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK BANK PEMBANGUNAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1962 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK BANK PEMBANGUNAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1962 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK BANK PEMBANGUNAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mempercepat terlaksananya usaha-usaha

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa saat ini jumlah transaksi maupun nilai nominal pengiriman uang baik di

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SALINAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam upaya turut memelihara dan mendukung pencapaian stabilisasi nilai rupiah,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. NOMOR : 25 / P / M.Kominfo / 11 / 2005 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. NOMOR : 25 / P / M.Kominfo / 11 / 2005 TENTANG PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 25 / P / M.Kominfo / 11 / 2005 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 31 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN BADAN REGULASI

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

K E P U T U S A N. KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR : 06/KPPU/Kep/XI/2000 T E N T A N G

K E P U T U S A N. KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR : 06/KPPU/Kep/XI/2000 T E N T A N G Menimbang : REPUBLIK INDONESIA Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53 Lt. 12, Jakarta 12950 Telp. 52961791-3 dan 5255509 pes. 2183, Fax. 52961792 K E P U T U S A N NOMOR : 06/KPPU/Kep/XI/2000 T E N T A N G KODE

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

KONVENSI MENGENAI PENERAPAN PRINSIP PRINSIP HAK UNTUK BERORGANISASI DAN BERUNDING BERSAMA

KONVENSI MENGENAI PENERAPAN PRINSIP PRINSIP HAK UNTUK BERORGANISASI DAN BERUNDING BERSAMA 1 KONVENSI MENGENAI PENERAPAN PRINSIP PRINSIP HAK UNTUK BERORGANISASI DAN BERUNDING BERSAMA Ditetapkan oleh Konferensi Umum Organisasi Buruh Internasional, di Jenewa, pada tanggal 1 Juli 1949 [1] Konferensi

Lebih terperinci

http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+8&f=pp63-2008.htm

http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+8&f=pp63-2008.htm 1 of 11 11/6/2008 9:33 AM Gedung DitJend. Peraturan Perundang-undangan Go Back Tentang Kami Forum Diskusi FAQ Web Jln. Rasuna Said Kav. 6-7, Kuningan, Jakarta Selatan Mail Email: admin@legalitas.org. PERATURAN

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG TIM GABUNGAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG TIM GABUNGAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG TIM GABUNGAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN UU 28-2004 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati,

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati, -------------------------------- LAPORAN KOMISI III DPR RI TERHADAP HASIL PEMBAHASAN DAN PERSETUJUAN MENGENAI PENGANGKATAN KAPOLRI (UJI KELAYAKAN CALON KAPOLRI) PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI Kamis, 16 April

Lebih terperinci

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2001/14 20 Juli 2001 REGULASI NO.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kejahatan yang menghasilkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

UNDANG-UNDANG DASAR IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA UNDANG-UNDANG DASAR IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No. 12/13/DPbS Jakarta, 30 April 2010 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal: Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah dan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1 ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama Yayasan Gedhe Nusantara atau Gedhe Foundation (dalam bahasa Inggris) dan selanjutnya dalam Anggaran

Lebih terperinci

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal...

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal... DAFTAR ISI Hal - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum... - BAB I Ketentuan Umum... 4 - BAB II Asas Penyelenggara Pemilu... 6 - BAB III Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA. Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA. Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG PENERAPAN PRINSIP MENGENAL NASABAH (KNOW YOUR CUSTOMER PRINCIPLES) GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam menjalankan kegiatan usaha,

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/22/PBI/2001 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/22/PBI/2001 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/22/PBI/2001 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka menciptakan disiplin pasar (market discipline) perlu diupayakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA

No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal : Kewajiban Penyediaan Modal Minimum sesuai

Lebih terperinci

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN PENERAPAN SISTEM MERIT DALAM MANAJEMEN ASN DAN NETRALITAS ASN DARI UNSUR POLITIK DALAM UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA Oleh: Akhmad Aulawi, SH., MH. * Akhir tahun 2013, menjadi momentum yang penting

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pemerintah berhubung dengan keadaan dalam dan luar negeri

Lebih terperinci