! " #! $ %" & ' (!! " # % & & & ) )! " ) # $ % & ' & ( ) ( *+,,-!. / (!" #$ 0 * " ) ) % ,,6!

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "! " #! $ %" & ' (!! " # % & & & ) )! " ) # $ % & ' & ( ) ( *+,,-!. / (!" #$ 0 * " ) ) % 12 3 2 4 5,,6!"

Transkripsi

1 PENGARUH VARIASI KADAR AIR TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG TYPE FRICTION PILE PADA TANAH EKSPANSIF Imam Alwan 1 & Indarto 2 1 Mahasiswa Program Pascasarjana Bidang Keahlian Geoteknik Jurusan Teknik Sipil, FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, 2 Guru Besar pada Jurusan Teknik Sipi, FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, its.ac.id Variasi kadar air dalam tanah terus menerus terjadi sepanjang tahun seiring dengan pergantian musim. Dalam perspektif mekanika tanah akibat adanya variasi kadar air tersebut, telah mengakibatkan adanya variasi parameter tanah serta variasi kelakuan tegangan dari tanah. Variasi parameter dan tegangan tanah tersebut tentunya akan memberikan pengaruh pada struktur pondasi atau struktur lain yang memiliki interaksi langsung dengan tanah atau hal-hal yang berkaitan dengan struktur geoteknik. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mempelajari bagaimana pengaruh variasi kadar air terhadap parameter tanah, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap daya dukung pondasi friction pile, khususnya pada tanah ekspansif. Penelitian ini dilakukan dengan membuat model tiang type friction pile skala laboratorium yang dipasang pada tanah dengan berbagai variasi kadar air. Model tiang tersebut kemudian di uji daya dukungnya dengan pengujian pembebanan (loading test). Untuk menunjang pemodelan laboratorium, dilakukan juga simulasi numerik terhadap model pondasi tiang skala lapangan dengan software Plaxis 3D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kadar air, sangat mempengaruhi parameter tanah, baik parameter fisik maupun mekanik tanah. Akibat dari perubahan parameter tanah tersebut, daya dukung pondasi juga berubah. Pemodelan laboratorium membuktikan bahwa, ketika kadar air berkurang melalui proses pengeringan, daya dukung tiang mengalami peningkatan. Sebaliknya, bertambahnya ketika kadar air akan menurunkan daya dukung tiang. Ketika terjadi pembasahan hingga kadar air mendekati jenuh (Sr 1%) daya dukung pondasi tiang masih relatif tinggi. Namun, pembasahan secara terus-menerus meskipun tanah telah jenuh, daya dukung tiang berangsur-angsur menurun. Besarnya penurunan tergantung dari tingkat pembasahan tanah. Selain itu, penurunan daya dukung juga dipengaruhi oleh panjang tiang yang berada pada tanah yang mengalami pembasahan. Kata kunci: Variasi kadar air, daya dukung friction pile, tanah ekspansif 1. PENDAHULUAN Variasi kadar air dalam tanah dapat terjadi karena adanya perubahan musim kemarau, ataupun musim penghujan. Pada tanah lunak atau pada tanah dimana muka air tanah tidak terlalu dalam, kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi muka air tanah akibat adanya pasang surut yang sering juga disebut zona aktif. Pada tanah ekspansif, dimana muka air tanah terletak pada kedalaman yang jauh dari permukaan, kondisi variasi kadar air akibat adanya musim kemarau dan hujan dapat mengakibatkan kembang susut atau variasi volume pada tanah, yang juga dibatasi oleh apa yang dinamakan zone aktif. Dalam perspektif mekanika tanah, akibat adanya variasi kadar air tersebut telah mengakibatkan adanya variasi parameter tanah serta variasi kelakuan tegangan dari tanah. Variasi parameter dan tegangan tanah ini akan memberikan pengaruh pada struktur pondasi atau struktur lain yang memiliki interaksi dengan tanah atau hal-hal yang berkaitan dengan struktur geoteknik (Indarto, 29).

2 Imam Alwan Sanglerat (1987) dan Logeais (1971) mengelompokkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi kegagalan struktur pondasi. Menurut Sanglerat dan Logeais, Salah satu penyebab kegagalan pondasi adalah perubahan sifat tanah akibat perubahan kadar air, khususnya pada lempung. Kerusakan yang diakibatkan oleh kegagalan pondasi menyebabkan kerugian yang sangat besar bahkan bisa melebihi bencana alam yang lain. Misalnya, di Amerika tercatat bahwa akibat dari kembang susut tanah ekspansif telah menyebabkan kerusakan pondasi dan bangunan senilai US 2,3 milyar per tahun. Nilai tersebut lebih besar dari 2 (dua) kali biaya tahunan yang dikeluarkan pemerintah akibat bencana banjir, tornado dan gempa bumi (Jones & Holtz, 1973). Selain itu, masih banyak kasus kerusakan pondasi akibat keberadaan air yang tercatat dan berhasil dipublikasikan. Sayangnya, di Indonesia sedikit sekali kasus yang terekam apalagi di publikasikan (Indarto, 28). Berdasarkan ulasan di atas, sudah saatnya pengaruh variasi kadar air menjadi perhatian yang serius dalam mendesain suatu pondasi. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mempelajari bagaimana pengaruh variasi kadar air terhadap daya dukung pondasi tiang, khususnya friction pile pada tanah ekspansif. Penelitian ini dilakukan dengan membuat pemodelan tiang type friction pile skala laboratorium. Model tiang tersebut dipasang pada tanah dengan berbagai macam variasi kadar air kemudian dilakukan pengujian pembebanan (loading test). Bersamaan dengan itu, dilakukan juga penelitian bagaimana pengaruh variasi kadar air terhadap parameter fisik maupun mekanik tanah (kohesi), karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa daya dukung friction pile merupakan fungsi langsung dari kohesi tanah. Untuk menunjang hasil penelitian, dilakukan juga simulasi numerik dengan software Plaxis 3D untuk memodelkan pondasi tiang skala lapangan. 2. DASAR TEORI Zona Aktif Zona aktif merupakan zona yang dipengaruhi oleh pergantian musim. Zona aktif terbentuk melalui proses infiltrasi air hujan dan penguapan, sebagai dampak dari pergantian musim yang datang silih berganti. Gambar 1 memperlihatkan terbentuknya zona aktif pada tanah lunak dan pada tanah ekspansif. Kadar air, w Depth, h M a t Zona aktif Depth, h Seasonal variation Zona aktif equilibrium (a) (b) Gambar 1 Zona Aktif pada Tanah Lunak (a) dan Zona Aktif pada Tanah Ekspansif (b) Daya Dukung Pondasi Tiang Pengujian pembebanan (loading test) adalah salah satu pengujian lapangan yang paling diyakini memberikan gambaran daya dukung yang sesungguhnya di lapangan (Coduto, 1994). Pengujian pembebanan dilakukan dengan membebani tiang dengan beban

3 Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap Daya Dukung Pondasi Tiang Type Friction Pile Pada Tanah Ekspansif tertentu dan dicatat penurunan yang terjadi. Hasil dari pengujian ini adalah kurva korelasi antara beban aksial yang diterapkan dan penurunan yang terjadi atau kurva loading test. Dari kurva tersebut kemudian ditentukan beban ultimit suatu tiang. Terdapat berbagai metode untuk penentuan daya dukung ultimit berdasarkan kurva loading test. Metode-metode yang telah dikembangkan antara lain Metode Terzaghi (1942), Civil Engineering Code No. 4 tahun 1954, Metode Fellenius (198), AASHTO dan Davison s (1973). Namun, metode yang paling popular dan sering digunakan adalah metode yang dikembangkan oleh Terzaghi (1942) yang menganggap daya dukung ultimit adalah beban aksial yang menyebabkan penurunan sebesar 1% dari diameter tiang (Poulos dan Davis, 198). 3. METODOLOGI Penelitian ini direncanakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu pemodelan skala laboratorium dan skala lapangan. Pemodelan laboratorium dilakukan dengan membuat model tiang pada berbagai variasi kadar air, kemudian di bebani untuk mengetahui daya dukungnya. Sketsa pemodelan laboratorium ditampilkan pada Gambar 2. Bersamaan dengan itu, dilakukan juga pengujian karakteristik fisik, mekanik dan tegangan air pori negatif tanah pada berbagai variasi kadar air, untuk memberikan gambaran bagaimana pengaruh variasi kadar air terhadap variasi parameter tanah. Disamping itu, hasil dari pengujian ini juga dimaksudkan sebagai data masukan pemodelan dengan software Plaxis 3D. Loading Ring Model Tiang Ø6 mm Tiang rangka (frame) Contoh Tanah Pipa PVC Ø 4 Inc 4cm Displacement Gauge Pengatur kecepatan Power Engkol Gambar 2 Sketsa Pemodelan Laboratorium untuk Menguji Daya Dukung Friction Pile pada Berbagai Variasi Kadar Air

4 Imam Alwan Untuk menunjang hasil penelitian, dilakukan juga simulasi numerik dengan bantuan software Plaxis 3D. Simulasi numerik dilakukan dengan memodelkan suatu pondasi tiang tunggal pada tanah ekspansif. Model tiang yang digunakan adalah tiang beton dengan panjang 1 m dan berdiameter 4 mm. Simulasi numerik dilakukan dengan asumsi sebagian tiang berada pada tanah yang mengalami pembasahan. Tebal lapisan tanah yang mengalami pembasahan dibuat bervariasi dan dimodelkan sedemikian rupa sehingga panjang tiang yang berada pada lapisan tanah yang mengalami pembasahan yaitu 1 m, 2 m, 3 m, dan 4 m. Pembasahan ditentukan menjadi enam tingkatan. Lapisan tanah dianggap homogen dan data tanah disesuaikan dengan data tanah hasil pengujian kondisi asli di lapangan. 4. HASIL DAN DISKUSI Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap Parameter Tanah Keberadaan air yang mengisi rongga pori pada tanah, akan memberikan dampak yang besar pada tanah, khususnya pada tanah yang memiliki sifat kembang-susut yang besar seperti pada tanah ekspansif. Pada tanah ekspansif, infiltrasi air yang mengisi rongga pori akan menyebabkan swelling yang diinterpretasikan melalui membesarnya angka pori. Karena terjadi swelling, peningkatan kadar air masih bisa terjadi meskipun tanah telah mencapai kondisi jenuh. Sebaliknya, ketika kadar air dikurangi, angka pori tanah akan mengecil sehingga volume tanah juga akan menyusut. Selain itu, variasi kadar air juga mempengaruhi tekanan air pori negatif. Korelasi antara kadar air, derajat kejenuhan, angka pori dan tegangan air pori negative disajikan dalam Gambar 3. Fenomena naik-turunnya tegangan air pori negatif akibat variasi kadar air, tidak terlepas dari evolusi volume pori, yang tercermin dari nilai angka pori tanah. Jensen dan Dempsey (198) mengungkapkan bahwa, besarnya tegangan air pori negatif merupakan fungsi dari diameter meniscus yang mengisi rongga pori. Semakin kecil angka pori suatu tanah maka diameter meniscus yang terbentuk juga akan semakin kecil. Akibatnya, tinggi air kapiler (h c ) akan meningkat. Kenyataan ini terlihat jelas dari formula untuk menentukan tinggi air kapiler (h c ), dimana hc = 2Ts/( w.g.rs). Ts adalah tegangan permukaan air dan Rs adalah jari-jari meniscus. Meningkatnya tinggi kapilaritas (h c ) inilah yang menyebabkan tegangan air pori negatif (-u w ) meningkat, karena besarnya tegangan air pori negatif berbanding lurus dengan tinggi kapilaritas (u w = - w.g.h c ). Meningkatnya tegangan air pori negatif berarti pula meningkatnya tegangan efektif tanah. Senada dengan Jansen dan Dempsey (198), Indarto (29) juga berpendapat bahwa tegangan air pori negatif pada suatu benda uji tanah, akan diterjemahkan secara simultan oleh variasi angka pori, derajat kejenuhan dan kadar airnya. Terlihat pada Gambar 3a ketika kadar air terus meningkat, derajat kejenuhan juga meningkat hingga tanah mencapai kondisi jenuh (Sr=1%). Meskipun telah mencapai jenuh sempurna, angka pori terus membesar (Gambar 3b). Dari uraian sebelumnya, diketahui bahwa membesarnya angka pori akan mengakibatkan butiran-butiran tanah akan merenggang satu sama lainnya sehingga jari-jari meniscus yang terbentuk akan membesar. Akibatnya, tegangan air pori negatif menjadi lebih kecil. Mengecilnya tegangan air pori negatif setelah adanya penambahan kadar air terlihat dengan jelas pada Gambar 3c. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Gambar 3d dimana membesarnya angka pori pada tanah akan menurunkan nilai tegangan air pori negatifnya.

5 Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap Daya Dukung Pondasi Tiang Type Friction Pile Pada Tanah Ekspansif a Water Content, w (%) Degree of Saturation, Sr (%) Angka Pori, e b Suction, -u w (KPa) c 1 1 Gambar 3 Korelasi Antara Kadar Air, Derajat Kejenuhan, Angka Pori dan Tegangan Air Pori Negatif (Suction) Selain mempengaruhi sifat fisik dan tegangan air pori negatif, variasi kadar air juga berpengaruh terhadap parameter kuat geser tanah lempung (kohesi). Hasil pengujian kuat geser (UCS & Vane Shear Test) pada benda uji dengan berbagai variasi kadar air, menunjukkan adanya korelasi langsung antara kadar air dan nilai kohesi tanah. Kurva korelasi antara kadar air, derajat kejenuhan dan kohesi disajikan dalam Gambar 4. Gambar 4a adalah kurva hubungan antara kadar air dengan kohesi undrained hasil pengujian kuat geser pada benda uji yang telah dikondisikan mengalami pengeringan dan pembasahan. Secara umum, peningkatan kadar air dalam tanah akan menurunkan kuat geser tanah tersebut. Hal ini disebabkan karena ketika kadar air meningkat, maka rongga-rongga pori tanah akan terisi oleh air yang mengakibatkan jarak antara butiran tanah menjadi lebih besar. Selain itu, semakin tinggi kadar air maka nilai tegangan air pori negatif akan semakin kecil, sehingga kuat geser tanah menurun. 1 1 d

6 Imam Alwan Kadar Air, w (%) 1 a Gambar 4 Korelasi Antara Kadar Air, Kohesi dan Derajat Kejenuhan Kohesi Undrained, Cu (kpa) Pada awal pembasahan di mana tanah masih dalam kondisi tidak jenuh hingga tanah benar-benar dalam kondisi jenuh sempurna, kohesi tanah masih relatif tinggi. Terlihat pada Gambar 4b, nilai kohesi ketika tanah mencapai kondisi jenuh adalah sekitar 5 KPa. Namun, apabila proses pembasahan terus berlanjut meskipun tanah telah mencapai kondisi jenuh, nilai kohesi berangsur-angsur akan menurun, seperti yang terlihat pada Gambar b Derajat Kejenuhan, Sr (%) Kohesi Undrained, Cu (kpa) a 4 b Kadar Air, w (%) Derajat Kejenuhan, Sr (%) Gambar 5 Korelasi Antara Kadar Air, Kohesi dan Derajat Kejenuhan Setelah Tanah Mencapai Kondisi Jenuh

7 Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap Daya Dukung Pondasi Tiang Type Friction Pile Pada Tanah Ekspansif Gambar 5a adalah kurva hubungan antara kadar air dan kohesi undrained tanah, sedangkan Gambar 5b adalah kurva hubungan antara derajat kejenuhan dan kohesi undrained. Terlihat pada Gambar 5a ketika kadar air sekitar 54% kohesi tanah masih relatif tinggi yaitu sekitar 5 KPa. Jika dihubungkan dengan derajat kejenuhan (Gambar 5b), maka pada kondisi tersebut tanah telah mencapai jenuh sempurna (Sr=1%). Apabila pembasahan terus dilakukan, meskipun tanah telah jenuh, terlihat pada Gambar 5b nilai kohesi turun drastis hingga sekitar 6 KPa pada kadar air sekitar 86%. Kendati demikian, tidak semua jenis tanah memiliki karakteristik seperti tanah ekspansif yang meskipun telah mencapai derajat kejenuhan 1%, masih memungkinkan terjadinya peningkatan kadar air. Peningkatan kadar air pada tanah setelah tanah mencapai jenuh, semata-mata terjadi karena fenomena swelling, dan swelling hanya terjadi pada tanah yang mengandung mineral montmorillonite tinggi. Jadi, pada tanah yang tidak mengandung montmorillonite, apabila tanah telah jenuh atau seluruh rongga pori terisi penuh oleh air, maka air tidak bisa berpenetrasi ke dalam rongga pori. Penyebabnya adalah karena volume rongga pori tidak mengembang atau tidak terjadi swelling. Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap daya Dukung Friction Pile Gambar 6 adalah kurva loading test hasil pemodelan tiang skala laboraorium. Terlihat pada gambar tersebut bahwa dari kondisi inisial beban aksial maksimum yang mampu ditahan sebelum tiang runtuh adalah sekitar 8 Kg. Namun, apabila kadar air di tambah, beban aksial maksimum yang mampu ditahan oleh model tiang menunjukkan penurunan. Begitu juga sebaliknya, ketika kadar air berkurang, beban aksial maksimum yang mampu ditahan oleh model tiang menunjukkan peningkatan. Jadi, apabila kadar air dalam suatu tanah bertambah, maka daya dukung friction pile pada tanah tersebut akan menurun seiring dengan bertambahnya kadar air. Beban Aksial, P (Kg) Settlement, (mm) Drying-2, Wc=28.63%, Sr=84% Drying-1, Wc=36.94%, Sr=9% Initial, Wc=4.43%, Sr=91% Wetting-1, Wc=44.53%, Sr=1% Wetting-2, Wc=53.81%, Sr=1% Wetting-3, wc=65.35%, Sr=1% Gambar 6 Kurva Hubungan Antara Beban Aksial dan Penurunan Pemodelan Pondasi Tiang Skala Laboratorium

8 Imam Alwan Di lapangan, besar kecilnya perubahan daya dukung friction pile akibat adanya variasi kadar air sangat tergantung dari besar kecilnya perubahan kadar air pada tanah. Selain itu, perubahan daya dukung juga dipengaruhi oleh panjang tiang yang berada pada lapisan tanah yang mengalami perubahan kadar air. Hal ini berdasarkan hasil simulasi numerik dengan bantuan software Plaxis 3D. Salah satu output dari software Plaxis 3D ditampilkan pada Gambar 6, sedangkan rangkuman hasil analisa ditampilkan pada Gambar 7. Gambar 6 Salah Satu Output Software Plaxis 3D 1 inisial Daya Dukung, Pu (KN) Pembasahan Pembasahan 1m Pembasahan 2m Pembasahan 3m Pembasahan 4m Kadar Air, W (%) Gambar 7 Kurva Korelasi Antara Kadar Air, Daya Dukung Ultimit dan Kedalaman Pembasahan Gambar 7 merupakan kurva hubungan antara kadar air dan daya dukung ultimit tiang type friction pile. Terdapat 4 (empat) kurva yang berbeda, dimana tiap kurva menunjukkan panjang tiang yang berada pada lapisan tanah yang mengalami pembasahan. Berdasarkan Gambar 7, dapat dikatakan bahwa secara umum daya dukung ultimit pondasi friction pile mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya

9 Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap Daya Dukung Pondasi Tiang Type Friction Pile Pada Tanah Ekspansif kadar air dalam tanah. Trend kurva juga memperlihatkan penurunan paling drastis terjadi pada rentang kadar air sekitar 4% s.d 55%. Jika dikaitkan dengan derajat kejenuhan, maka pada rentang tersebut tanah pada kondisi mendekati jenuh sampai dengan jenuh. Selain itu, besarnya penurunan yang terjadi juga sangat tergantung dari panjang tiang yang berada pada lapisan tanah yang mengalami pembasahan. Semakin panjang tiang yang berada pada lapisan yang mengalami pembasahan, maka semakin besar penurunan beban ultimit yang terjadi. 5. KESIMPULAN 1. Variasi kadar air saat pengeringan dan pembasahan akan mempengaruhi parameter fisik seperti derajat kejenuhan, angka pori dan berat volume kering. yang lain. Variasi kadar air juga mempengaruhi besarnya tegangan air pori negatif dan parameter kuat geser tanah lempung (kohesi). 2. Variasi kadar air juga mempengaruhi daya dukung pondasi tiang khususnya tipe friction pile. Semakin besar perubahan kadar air yang terjadi, semakin besar pula penurunan daya dukung ultimit tiang. 3. Akibat adanya variasi kadar air, angka kemanan suatu struktur geoteknik tidak pernah konstan. 4. Dalam desain hendaknya diperhatikan perubahan daya dukung yang mungkin terjadi di lapangan. Oleh karena itu hendaknya konstruksi didesain untuk berbagai kemungkinan faktor aman baik selama masa konstruksi, pasca konstruksi, dan angka keamanan selama masa penggunaan konstruksi. 6. DAFTAR PUSTAKA 1. Coduto D. P. (1994), Foundation Design, Prentice-Hall, New Jersey. 2. Indarto (28), Pathologie Pondasi dan Tantangan Bagi Industri Bangunan Sipil, Pidato Pengukuhan untuk Jabatan Guru Besar dalam Bidang Mekanika Tanah pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. 3. Indarto (29), Peranan Variasi Kadar Air Terhadap Kestabilan Struktur Pondasi dan Geoteknik, Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah Program Diploma Teknik Sipil, FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. 4. Jansen, D. J. dan B. J. Dempsey (198), Soil-moisture Properties of Subgrade Soils, 6 th Annu Transportation Res. Board Meeting, Wahington. 5. Jones D. E. dan Holtz (1973), Expansive Soils-The Hidden Disaster Civil Engineering, Vol 43, No. 8, ASCE, Amerika. 6. Meyerhof, G. G. (1956), Penetration Test and Bearing Capacity of Cohesionless Soils, ASCE Journals of the Soil Mechanics and Foundations Division, Vol. 82, No. SM1, p:1-19, Amerika. 7. Poulos H. G. dan Davis E. H. (198), Pile Foundation Analysis and Design,John Willey and Sons, Amerika. 8. Sanglerat, Guy (1987), Pathologie des Fondations et des Reprise en Sous- Ouvre, Conférence Presentee également Sous L égidee du Universite de Thessalonique, Perancis. 9. Tomlinson, M. J. (1987), Foundation Design and Construction Practice, 3 rd Ed., Viewpoint, London.

MODUL 5 DAYA DUKUNG TIANG TUNGGAL

MODUL 5 DAYA DUKUNG TIANG TUNGGAL MODUL 5 DAYA DUKUNG TIANG TUNGGAL DAFTAR ISI Bab 1 Pengantar... 1 1.1. Umum... 1 1.2. Tujuan Instruksional Umum... 1 1.3. Tujuan Instruksional Khusus... 1 Bab 2 Mekanisme Transfer Beban... 2 Bab 3 Persamaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daya Dukung Pondasi Tiang Pondasi tiang adalah pondasi yang mampu menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi tiang dibuat menjadi satu

Lebih terperinci

PENGARUH ELEKTROKINETIK TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG DI LEMPUNG MARINA

PENGARUH ELEKTROKINETIK TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG DI LEMPUNG MARINA PENGARUH ELEKTROKINETIK TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG DI LEMPUNG MARINA Daniel Tjandra, Paravita Sri Wulandari Dosen Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Petra

Lebih terperinci

STUDY OF SLOPE MODEL CRITICAL CONDITION WITH SILT LAND IN THE ENDE FLORES REGION, DURING THE WETTING

STUDY OF SLOPE MODEL CRITICAL CONDITION WITH SILT LAND IN THE ENDE FLORES REGION, DURING THE WETTING TESIS-PS 2399 STUDY OF SLOPE MODEL CRITICAL CONDITION WITH SILT LAND IN THE ENDE FLORES REGION, DURING THE WETTING BY : VERONIKA MIANA RADJA NRP : 3107 201 001 SUPERVISOR : Prof. Dr. Ir. Indarto Dra. Sri

Lebih terperinci

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23%

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23% PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23% Jemmy NRP : 0021122 Pembimbing : Herianto Wibowo, Ir,

Lebih terperinci

Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On Pile di Pulau Kalukalukuang Provinsi Sulawesi Selatan

Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On Pile di Pulau Kalukalukuang Provinsi Sulawesi Selatan Bab 7 DAYA DUKUNG TANAH Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On ile di ulau Kalukalukuang rovinsi Sulawesi Selatan 7.1 Daya Dukung Tanah 7.1.1 Dasar Teori erhitungan

Lebih terperinci

DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR

DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Lebih terperinci

d. Apa Yang Jawaban : pembebanan keamanan. KEPADATAN Φ( o ) Dr (%) 0-5 26-30 0-5 5-10 5-30 28-35 30-60 35-42 10-30 30-50 38-46 60-95 RELATIF TANAH

d. Apa Yang Jawaban : pembebanan keamanan. KEPADATAN Φ( o ) Dr (%) 0-5 26-30 0-5 5-10 5-30 28-35 30-60 35-42 10-30 30-50 38-46 60-95 RELATIF TANAH UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK Jawaban UAS Teknikk Pondasi (Waktu 1 menit) Tanggal : 11 Juni 1 Soal no 1. Teori a. Sebutkan data fisik tanah yang diperlukan untuk perencanaan. Data fisik tanah yang

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU TERHADAP PENINGKATAN KAPASITAS DUKUNG KELOMPOK TIANG PADA TANAH LUNAK

PENGARUH WAKTU TERHADAP PENINGKATAN KAPASITAS DUKUNG KELOMPOK TIANG PADA TANAH LUNAK PENGARUH WAKTU TERHADAP PENINGKATAN KAPASITAS DUKUNG KELOMPOK TIANG PADA TANAH LUNAK Razaq Arif Cakra Wardana Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil S1 Fakultas Teknik Universitas Riau Ferry Fatnanta Dosen Jurusan

Lebih terperinci

I. Tegangan Efektif. Pertemuan I

I. Tegangan Efektif. Pertemuan I Pertemuan I I. Tegangan Efektif I.1 Umum. Bila tanah mengalami tekanan yang diakibatkan oleh beban maka ; Angka pori tanah akan berkurang Terjadinya perubahan-perubahan sifat mekanis tanah (tahanan geser

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN DANA PNBP TAHUN ANGGARAN 2012 PEMETAAN KAPASITAS DUKUNG TANAH BERDASARKAN DATA SONDIR DI KOTA GORONTALO OLEH :

LAPORAN PENELITIAN DANA PNBP TAHUN ANGGARAN 2012 PEMETAAN KAPASITAS DUKUNG TANAH BERDASARKAN DATA SONDIR DI KOTA GORONTALO OLEH : LAPORAN PENELITIAN DANA PNBP TAHUN ANGGARAN 2012 PEMETAAN KAPASITAS DUKUNG TANAH BERDASARKAN DATA SONDIR DI KOTA GORONTALO OLEH : FADLY ACHMAD, S.T., M.Eng JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80. Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph.

PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80. Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph. PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80 Shanti Destawati NRP : 9821010 Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph.D FAKULTAS TEKNIK JURUSAN

Lebih terperinci

PENGARUH MUKA AIR TANAH TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH DI BAWAH PONDASI DANGKAL

PENGARUH MUKA AIR TANAH TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH DI BAWAH PONDASI DANGKAL PENGARUH MUKA AIR TANAH TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH DI BAWAH PONDASI DANGKAL Gati Sri Utami 1 dan Dwi Ayu Damayanti Teknik Sipil-ITATS, Jl. Arief Rahman Hakim No. 100 Surabaya Email 1 : fitrianarosyanita@yahoo.com

Lebih terperinci

MODUL 7 TAHANAN FONDASI TERHADAP GAYA ANGKAT KE ATAS

MODUL 7 TAHANAN FONDASI TERHADAP GAYA ANGKAT KE ATAS Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana 7 MODUL 7 TAHANAN FONDASI TERHADAP GAYA ANGKAT KE ATAS Fondasi menara (tower) sering menerima gaya angkat ke atas

Lebih terperinci

Zufialdi Zakaria. Laboratorium Geologi Teknik Jurusan Geologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran

Zufialdi Zakaria. Laboratorium Geologi Teknik Jurusan Geologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran Seri Mata Kuliah 1 Zufialdi Zakaria Laboratorium Geologi Teknik Jurusan Geologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran 2006 1 DAYADUKUNG TANAH FONDASI DANGKAL (1) Zufialdi

Lebih terperinci

Efek Kerapatan Relatif (Dr) Terhadap Daya Dukung Fondasi Dangkal pada Tanah Pasiran dengan Beban Sentris

Efek Kerapatan Relatif (Dr) Terhadap Daya Dukung Fondasi Dangkal pada Tanah Pasiran dengan Beban Sentris Pujiastuti ISSN 0853-2982 Jurnal Teoretis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil Efek Kerapatan Relatif (Dr) Terhadap Daya Dukung Fondasi Dangkal pada Tanah Pasiran dengan Beban Sentris Heni Pujiastuti Jurusan

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH 4.1. Pengambilan Sampel Sampel tanah yang digunakan untuk semua pengujian dalam penelitian ini adalah tanah di sekitar jalan dari Semarang menuju Purwodadi

Lebih terperinci

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract One of thrifty effort

Lebih terperinci

Daya Dukung Pondasi Tiang

Daya Dukung Pondasi Tiang Daya Dukung Pondasi Tiang tanah lunak SIVA batuan (rock) 1 Pondasi Dalam ~ untuk melimpahkan beban ke tanah di bawahnya ~ utamanya untuk tanah lunak atau beban berat tanah lunak P I L E batuan (rock) 2

Lebih terperinci

SIMULASI NUMERIK MODEL RUMAH TAHAN GEMPA TANPA BETON BERTULANG

SIMULASI NUMERIK MODEL RUMAH TAHAN GEMPA TANPA BETON BERTULANG SIMULASI NUMERIK MODEL RUMAH TAHAN GEMPA TANPA BETON BERTULANG SKRIPSI Diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Strata-I pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Andalas

Lebih terperinci

KAJIAN AWAL BAHAYA GEOTEKNIK PONDASI PLTN: STUDI KASUS PADA CALON TAPAK DI PULAU BANGKA

KAJIAN AWAL BAHAYA GEOTEKNIK PONDASI PLTN: STUDI KASUS PADA CALON TAPAK DI PULAU BANGKA KAJIAN AWAL BAHAYA GEOTEKNIK PONDASI PLTN: STUDI KASUS PADA CALON TAPAK DI PULAU BANGKA Basuki Wibowo, Imam Hamzah, Eko Rudi I, Bansyah Kironi -BATAN Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710

Lebih terperinci

FENOMENA CERUCUK SEBAGAI PENINGKATAN DAYA DUKUNG DAN MEREDUKSI PENURUNAN BEBAN BANGUNAN DI ATAS TANAH LEMBEK

FENOMENA CERUCUK SEBAGAI PENINGKATAN DAYA DUKUNG DAN MEREDUKSI PENURUNAN BEBAN BANGUNAN DI ATAS TANAH LEMBEK FENOMENA CERUCUK SEBAGAI PENINGKATAN DAYA DUKUNG DAN MEREDUKSI PENURUNAN BEBAN BANGUNAN DI ATAS TANAH LEMBEK Ir. Muhrozi, MS. (Ka. Lab. Mekanika Tanah Undip) 1. Pendahuluan Masyarakat di daerah pantai,

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun KATA PENGANTAR Modul dengan judul Menguji Kuat Dukung Tanah merpuakan bahan ajar yang digunakan sebagai panduan praktikum peserta diklat (siswa) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk membentuk salah satu

Lebih terperinci

STUDI PERKUATAN LERENG DENGAN SOFTWARE GEO SLOPE PADA TANAH LEMPUNG

STUDI PERKUATAN LERENG DENGAN SOFTWARE GEO SLOPE PADA TANAH LEMPUNG JURNAL TUGAS AKHIR STUDI PERKUATAN LERENG DENGAN SOFTWARE GEO SLOPE PADA TANAH LEMPUNG Disusun Oleh: SUBRIADI SUBRI D111 08 914 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

Lebih terperinci

Daya Dukung (Bearing Capacity)

Daya Dukung (Bearing Capacity) Daya Dukung (Bearing Capacity) Tanah kuat SIVA batuan (rock) 1 Pondasi Dangkal ~ untuk melimpahkan beban ke lapisan di bawahnya ~ utamanya untuk tanah kuat atau beban ringan Tanah kuat batuan (rock) 2

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON

RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON Civil Engineering Dimension, Vol. 6, No. 2, 94 100, September 2004 ISSN 1410-9530 RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON Handoko Sugiharto, Wong Foek Tjong Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DATA DAN PENYELIDIKAN AWAL

BAB III ANALISA DATA DAN PENYELIDIKAN AWAL BAB III ANALISA DATA DAN PENYELIDIKAN AWAL 3.1. Umum Dalam bab ini akan dibahas mengenai analisa data yang didapat meliputi klasifikasi tiap lapisan tanah berdasar pada sifat sifat fisik tanah, sifat sifat

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA DUKUNG TANAH LEMPUNG YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR DAN PASIR. Risman

ANALISIS DAYA DUKUNG TANAH LEMPUNG YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR DAN PASIR. Risman ANALISIS DAYA DUKUNG TANAH LEMPUNG YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR DAN PASIR Risman Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Jln. Prof. H.Soedarto, S.H. Tembalang, Semarang 50275 Telepon 081325768904

Lebih terperinci

Estimasi Kuat Dukung Ultimit Tiang Pancang Dengan Metode Chin Dari Hasil Static Load Test (SLT) Kasus : Hasil SLT di Proyek-proyek Surabaya Barat

Estimasi Kuat Dukung Ultimit Tiang Pancang Dengan Metode Chin Dari Hasil Static Load Test (SLT) Kasus : Hasil SLT di Proyek-proyek Surabaya Barat NEUTRON, Vol.6, No.1, Februari 2006 Estimasi Kuat Dukung Ultimit Tiang Pancang Dengan Metode Chin Dari Hasil tatic Load Test (LT) Kasus : Hasil LT di Proyek-proyek urabaya Barat Helmy Darjanto ABTRAK Ada

Lebih terperinci

BAB III KOMPILASI DATA

BAB III KOMPILASI DATA BAB III KOMPILASI DATA 3.1 TINJAUAN UMUM Tanah memiliki sifat fisik (Soil Properties) dan sifat mekanik (Index Properties). Sifat - sifat fisik tanah meliputi ukuran butiran tanah, warnanya, bentuk butiran,

Lebih terperinci

STUDI DAYA DUKUNG TIANG PANCANG TUNGGAL DENGAN BEBERAPA METODE ANALISA

STUDI DAYA DUKUNG TIANG PANCANG TUNGGAL DENGAN BEBERAPA METODE ANALISA JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 STUDI DAYA DUKUNG TIANG PANCANG TUNGGAL DENGAN BEBERAPA METODE ANALISA Dwi Dedy Ariyanto, DR.Ir. Djoko Untung Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil

Lebih terperinci

HALAMAN PENGESAHAN PERENCANAAN JEMBATAN GANTUNG TUGU SOEHARTO KELURAHAN SUKOREJO KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG

HALAMAN PENGESAHAN PERENCANAAN JEMBATAN GANTUNG TUGU SOEHARTO KELURAHAN SUKOREJO KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN GANTUNG TUGU SOEHARTO KELURAHAN SUKOREJO KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG Disusun Oleh: ADITYO BUDI UTOMO TOSAN KUNTO SURYOAJI L2A004005 L2A004124 Semarang,

Lebih terperinci

STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S)

STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S) STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S) Anang Kristianto 1 dan Iswandi Imran 2 1 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Kecamatan di Bekasi sering diberitakan kerusakan yang terjadi

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI SEBAB-SEBAB KERUSAKAN OPRIT JEMBATAN DAN ALTERNATIF PENANGANANNYA PADA JEMBATAN BUIHOMAU-DAUDERE TIMOR LESTE

IDENTIFIKASI SEBAB-SEBAB KERUSAKAN OPRIT JEMBATAN DAN ALTERNATIF PENANGANANNYA PADA JEMBATAN BUIHOMAU-DAUDERE TIMOR LESTE TESIS IDENTIFIKASI SEBAB-SEBAB KERUSAKAN OPRIT JEMBATAN DAN ALTERNATIF PENANGANANNYA PADA JEMBATAN BUIHOMAU-DAUDERE TIMOR LESTE BONIFASIUS HENDRIKUS SUNI NO. MHS : 125101814/PS/MTS PROGRAM STUDI MAGISTER

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

Semarang, Februari 2007 Penulis

Semarang, Februari 2007 Penulis KATA PENGANTAR Pertama-tama kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-nya, kami telah dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul Analisa Keretakan

Lebih terperinci

PENGARUH KEMIRINGAN CANGKANG PONDASI HYPAR TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNANNYA DI ATAS TANAH KOHESIF JENUH

PENGARUH KEMIRINGAN CANGKANG PONDASI HYPAR TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNANNYA DI ATAS TANAH KOHESIF JENUH PENGARUH KEMIRINGAN CANGKANG PONDASI HYPAR TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNANNYA DI ATAS TANAH KOHESIF JENUH Edy Purnomo ; Sunarto ; HE.Meiyanto Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

ALTERNATIF ALAT SAMBUNG KONSTRUKSI SAMBUNGAN KAYU TAHAN TARIK,TEKAN DAN LENTUR ABSTRAK

ALTERNATIF ALAT SAMBUNG KONSTRUKSI SAMBUNGAN KAYU TAHAN TARIK,TEKAN DAN LENTUR ABSTRAK ALTERNATIF ALAT SAMBUNG KONSTRUKSI SAMBUNGAN KAYU TAHAN TARIK,TEKAN DAN LENTUR Munarus Suluch Dosen Diploma Teknik Sipil, FTSP-ITS. Email : munarusz@ce.its.ac.id & munarusz@yahoo.com ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS)

KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS) KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS) Amelia Sugondo Jurusan Teknik Mesin Universitas Kristen Petra

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN 4.1 UMUM Pada bab ini berisi pengolahan data dan analisis data percobaan yang dilakukan di laboratorium. Pada umumnya, suatu penelitian perlu dilakukan berulang

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15 STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15 I Kadek Ervan Hadi Wiryanta 1, Triyogi Yuwono 2 Program

Lebih terperinci

PEMODELAN PERILAKU KEMBANG TIGA DIMENSI TANAH LEMPUNG EKSPANSIF MENGGUNAKAN OEDOMETER MODIFIKASI

PEMODELAN PERILAKU KEMBANG TIGA DIMENSI TANAH LEMPUNG EKSPANSIF MENGGUNAKAN OEDOMETER MODIFIKASI i PEMODELAN PERILAKU KEMBANG TIGA DIMENSI TANAH LEMPUNG EKSPANSIF MENGGUNAKAN OEDOMETER MODIFIKASI oleh : Agus Tugas Sudjianto UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF LATAR BELAKANG Penyebab gerakan adalah gaya. Gaya merupakan pembangkit gerakan. Objek bergerak karena adanya gaya yang bekerja padanya.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang... I-1 1.2. Permasalahan... I-2 1.3. Maksud dan tujuan... I-2 1.4. Lokasi studi... I-2 1.5. Sistematika penulisan... I-4 BAB II DASAR TEORI 2.1. Tinjauan

Lebih terperinci

ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KANWIL DJP DAN KPP SUMBAGUT I JALAN SUKA MULIA MEDAN TUGAS AKHIR

ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KANWIL DJP DAN KPP SUMBAGUT I JALAN SUKA MULIA MEDAN TUGAS AKHIR ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KANWIL DJP DAN KPP SUMBAGUT I JALAN SUKA MULIA MEDAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat untuk

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

Pertemuan IV,V,VI,VII II. Sambungan dan Alat-Alat Penyambung Kayu

Pertemuan IV,V,VI,VII II. Sambungan dan Alat-Alat Penyambung Kayu Pertemuan IV,V,VI,VII II. Sambungan dan Alat-Alat Penyambung Kayu II.1 Sambungan Kayu Karena alasan geometrik, konstruksi kayu sering kali memerlukan sambungan perpanjang untuk memperpanjang kayu atau

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PERENCANAAN

KONSEP DAN METODE PERENCANAAN 24 2 KONSEP DAN METODE PERENCANAAN A. Perkembangan Metode Perencanaan Beton Bertulang Beberapa kajian awal yang dilakukan pada perilaku elemen struktur beton bertulang telah mengacu pada teori kekuatan

Lebih terperinci

JUDUL : Timbunan Badan Jalan di Atas Tanah Lunak Daerah Aie Pacah Kota Padang

JUDUL : Timbunan Badan Jalan di Atas Tanah Lunak Daerah Aie Pacah Kota Padang JUDUL : Timbunan Badan Jalan di Atas Tanah Lunak Daerah Aie Pacah Kota Padang 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Kawasan Terminal Regional (TRB) Aie Pacah merupakan salah satu kawasan fungsional untuk

Lebih terperinci

Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method

Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method Mata Kuliah : Analisis Struktur Kode : TSP 202 SKS : 3 SKS Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method Pertemuan - 7 TIU : Mahasiswa dapat menghitung reaksi perletakan pada struktur statis tak

Lebih terperinci

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER Yeni Arsih Sriani, Mokhamad Nur Cahyadi Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih terperinci

Sprinkler Tipe BIR Versi 1 Teknologi Tepat, Investasi Hemat

Sprinkler Tipe BIR Versi 1 Teknologi Tepat, Investasi Hemat Tipe BIR Versi 1 Teknologi Tepat, Investasi Hemat KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR Teknologi Tepat Pada Lahan Kering Pemanfaatan

Lebih terperinci

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING TUGAS AKHIR PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING Oleh : Viego Kisnejaya Suizta 2104 100 043 Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM Sifat mekanik bahan adalah : hubungan antara respons atau deformasi bahan terhadap beban yang bekerja. Sifat mekanik : berkaitan dengan kekuatan, kekerasan, keuletan, dan kekakuan.

Lebih terperinci

OPTIMASI DAYA DUKUNG TANAH PADA STRUKTUR PONDASI TELAPAK DENGAN METODE SUB-SOIL IMPROVEMENT PADA PROYEK AUDITORIUM UNSYIAH BANDA ACEH

OPTIMASI DAYA DUKUNG TANAH PADA STRUKTUR PONDASI TELAPAK DENGAN METODE SUB-SOIL IMPROVEMENT PADA PROYEK AUDITORIUM UNSYIAH BANDA ACEH OPTIMASI DAYA DUKUNG TANAH PADA STRUKTUR PONDASI TELAPAK DENGAN METODE SUB-SOIL IMPROVEMENT PADA PROYEK AUDITORIUM UNSYIAH BANDA ACEH Iskandar Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun KATA PENGANTAR Modul dengan judul Memasang Pondasi Batu Kali merupakan bahan ajar yang digunakan sebagai panduan praktikum peserta diklat (siswa) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk membentuk salah satu

Lebih terperinci

Stabilitas lereng (lanjutan)

Stabilitas lereng (lanjutan) Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana 12 MODUL 12 Stabilitas lereng (lanjutan) 6. Penanggulangan Longsor Yang dimaksud dengan penanggulangan longsoran

Lebih terperinci

ANALISIS MID-POINT TIE-IN PADA PIPA BAWAH LAUT

ANALISIS MID-POINT TIE-IN PADA PIPA BAWAH LAUT ANALISIS MID-POINT TIE-IN PADA PIPA BAWAH LAUT Mulyadi Maslan Hamzah (mmhamzah@gmail.com) Program Studi Magister Teknik Kelautan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Jl Ganesha

Lebih terperinci

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS Saintek Vol 5, No 1 Tahun 2010 TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS ABSTRAK (STUDI KASUS BEBERAPA QUARRY DI GORONTALO) Fadly Achmad Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) Mata Kuliah : Teknologi Bahan Konstruksi Kode Mata Kuliah : MKT 1106 SKS : 2(2-0) Waktu Pertemuan : 100 Menit A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan pembelajaran umum mata kuliah

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1 JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1 Analisa Kestabilan Arah pada Kendaraan Formula Sapu Angin Speed Berdasarkan Variasi Posisi Titik Berat, Kecepatan dan Tes Dinamik Student Formula

Lebih terperinci

ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG BETON PADA BANGUNAN PELABUHAN DANAU PANGGANG KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN SKRIPSI

ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG BETON PADA BANGUNAN PELABUHAN DANAU PANGGANG KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN SKRIPSI ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG BETON PADA BANGUNAN PELABUHAN DANAU PANGGANG KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN SKRIPSI Oleh Ritman Miko Hartanto NIM 071910301026 PROGRAM STUDI STRATA

Lebih terperinci

UJI BATAS BATAS ATTERBERG ASTM D-4318-00

UJI BATAS BATAS ATTERBERG ASTM D-4318-00 1. LINGKUP Percobaan ini mencakup penentuan batas-batas Atterberg yang meliputi Batas Susut, Batas Plastis, dan Batas Cair. 2. DEFINISI a. Batas Susut (Shrinkage Limit), w S adalah batas kadar air dimana

Lebih terperinci

Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah

Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah Vokasi Volume 8, Nomor 2, Juni 2012 ISSN 1693 9085 hal 121-132 Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah MANAGAM RAJAGUKGUK Jurusan Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-2 DAN R-34a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W Ridwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma e-mail: ridwan@staff.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

BAB I Bab 1 PENDAHULUAN

BAB I Bab 1 PENDAHULUAN BAB I Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dari pertengahan tahun 1980-an hingga 1997 perekonomian Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan lebih dari 6% per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini,

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Lebih terperinci

Pertemuan I,II,III I. Kayu Sebagai Bahan Konstruksi

Pertemuan I,II,III I. Kayu Sebagai Bahan Konstruksi Pertemuan I,II,III I. Kayu Sebagai Bahan Konstruksi I.1 Dasar-Dasar Penggunaan Kayu Kayu merupakan satu dari beberapa bahan konstruksi yang sudah lama dikenal masyarakat, didapatkan dari semacam tanaman

Lebih terperinci

SIFAT MEKANIK MATERIAL BAJA

SIFAT MEKANIK MATERIAL BAJA MODUL 1 1 SIFAT MEKANIK MATERIAL BAJA 1. Sifat Mekanik Material Baja Secara Umum Adanya beban pada elemen struktur selalu menyebabkan terjadinya perubahan dimensional pada elemen struktur tersebut. Struktur

Lebih terperinci

Optimalisasi Daya Dukung Tanah dan Penurunan Melalui Pemilihan Bentuk Dasar Penampang Pondasi Tiang Pada Tanah Lempung

Optimalisasi Daya Dukung Tanah dan Penurunan Melalui Pemilihan Bentuk Dasar Penampang Pondasi Tiang Pada Tanah Lempung LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA Optimalisasi Daya Dukung Tanah dan Penurunan Melalui Pemilihan Bentuk Dasar Penampang Pondasi Tiang Pada Tanah Lempung TIM PENGUSUL : Ir.Isnaniati, MT (0724086501)

Lebih terperinci

DAYA DUKUNG ULTIMIT PONDASI DANGKAL DI ATAS TANAH PASIR YANG DIPERKUAT GEOGRID

DAYA DUKUNG ULTIMIT PONDASI DANGKAL DI ATAS TANAH PASIR YANG DIPERKUAT GEOGRID Civil Engineering Dimension, Vol. 6, No. 1, 15 2, March 24 ISSN 141-953 DAYA DUKUNG ULTIMIT PONDASI DANGKAL DI ATAS TANAH PASIR YANG DIPERKUAT GEOGRID Pontjo Utomo Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik

Lebih terperinci

DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT FLUIDA

DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT FLUIDA DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT FLUIDA Mekanika fluida dan hidrolika adalah bagian dari mekanika terpakai (Applied Mechanics) yang merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dasar bagi teknik sipil. Mekanika

Lebih terperinci

Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas

Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas Ahmad Dien Warits 1206240101 Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok Abstrak : Selama ini kita melakukan analisis kecepatan benda

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR Perhitungan Struktur Bab IV 4.1 TINJAUAN UMUM Analisis konstruksi gedung ini dilakukan dengan menggunakan permodelan struktur 3D dengan bantuan software SAP2000. Kolom-kolom

Lebih terperinci

PENGARUH DAN FUNGSI BATANG NOL TERHADAP DEFLEKSI TITIK BUHUL STRUKTUR RANGKA Iwan-Indra Gunawan PENDAHULUAN

PENGARUH DAN FUNGSI BATANG NOL TERHADAP DEFLEKSI TITIK BUHUL STRUKTUR RANGKA Iwan-Indra Gunawan PENDAHULUAN PENGARUH DAN FUNGSI BATANG NOL TERHADAP DEFLEKSI TITIK BUHUL STRUKTUR RANGKA Iwan-Indra Gunawan INTISARI Konstruksi rangka batang adalah konstruksi yang hanya menerima gaya tekan dan gaya tarik. Bentuk

Lebih terperinci

TEKNIK UJI NON DESTRUKTIF UNTUK MENDETEKSI INTEGRITAS PONDASI TIANG

TEKNIK UJI NON DESTRUKTIF UNTUK MENDETEKSI INTEGRITAS PONDASI TIANG TEKNIK UJI NON DESTRUKTIF UNTUK MENDETEKSI INTEGRITAS PONDASI TIANG Gouw Tjie-Liong - PT. Limara ABSTRACT: Non destructive testing on piles can be divided into two main categories. The first category is

Lebih terperinci

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB Moses L. Singgih 1, Sri Gunani Partiwi 2 dan Arum S. Dani 3 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi

Lebih terperinci

PREDIKSI WAKTU LAYAN BANGUNAN BETON TERHADAP KERUSAKAN AKIBAT KOROSI BAJA TULANGAN

PREDIKSI WAKTU LAYAN BANGUNAN BETON TERHADAP KERUSAKAN AKIBAT KOROSI BAJA TULANGAN Civil Engineering Dimension, Vol. 7, No. 1, 6 15, March 2005 ISSN 1410-9530 PREDIKSI WAKTU LAYAN BANGUNAN BETON TERHADAP KERUSAKAN AKIBAT KOROSI BAJA TULANGAN Agus Santosa Sudjono Dosen Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

Pengujian Meter Kadar Air

Pengujian Meter Kadar Air Pengujian Meter Kadar Air 1 POKOK BAHASAN 1 2 Meter Kadar Air (MKA) Pengujian MKA Pengujian MKA Metode Referensi Pengujian MKA Metode Master Meter Pengujian MKA Metode Master Sample 2 Review 1 2 Definisi

Lebih terperinci

TINJAUAN TINGGI TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG DENGAN TURAP DAN TANPA TURAP PADA TANAH BERBUTIR HALUS

TINJAUAN TINGGI TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG DENGAN TURAP DAN TANPA TURAP PADA TANAH BERBUTIR HALUS TINJAUAN TINGGI TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG DENGAN TURAP DAN TANPA TURAP PADA TANAH BERBUTIR HALUS Edy Harseno 1) Edi Daryanto 2) 1) Jurusan teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta 2) Jurusan teknik

Lebih terperinci

yang tinggi, dengan pencelupan sedang dan di bagian tengah baja dapat dicapai kekerasan yang tinggi meskipun laju pendinginan lebih lambat.

yang tinggi, dengan pencelupan sedang dan di bagian tengah baja dapat dicapai kekerasan yang tinggi meskipun laju pendinginan lebih lambat. 10: HARDENABILITY 10.1 Hardenability Mampu keras merujuk kepada sifat baja yang menentukan dalamnya pengerasan sebagai akibat proses quench dari temperatur austenisasinya. Mampu keras tidak dikaitkan dengan

Lebih terperinci

Identifikasi Pola Perumahan Rumah Sangat Sederhana di Kawasan Sematang Borang Kota Palembang

Identifikasi Pola Perumahan Rumah Sangat Sederhana di Kawasan Sematang Borang Kota Palembang TEMU ILMIAH IPLBI 2014 Identifikasi Pola Perumahan Rumah Sangat Sederhana di Kawasan Sematang Kota Palembang Wienty Triyuly, Fuji Amalia Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Lebih terperinci

SIFAT MEKANIK KAYU. Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu :

SIFAT MEKANIK KAYU. Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu : SIFAT MEKANIK KAYU Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu : Sumbu axial (sejajar arah serat ) Sumbu radial ( menuju arah pusat ) Sumbu tangensial (menurut arah

Lebih terperinci

Sifat Sifat Material

Sifat Sifat Material Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam

Lebih terperinci

PENINGKATAN UNJUK KERJA PERALATAN AIR WASHER

PENINGKATAN UNJUK KERJA PERALATAN AIR WASHER PENINGKATAN UNJUK KERJA PERALATAN AIR WASHER Fandi D. Suprianto, Ekadewi A Handoyo Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Universitas Kristen Petra Jl Siwalankerto 142-144, 236 fandi@peter.petra.ac.id

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Dari hasil penyelesaian tugas akhir dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

BAB V PENUTUP. Dari hasil penyelesaian tugas akhir dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari hasil penyelesaian tugas akhir dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Cooling tower yang dibuat dapat disirkulasikan dengan lancer dan layak untuk dilakukan pengujian

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN RANGKA BAJA SEBAGAI PENGGANTI SHEAR WALL EXSISTINGPADA CORE BUMIMINANG PLAZA HOTEL PADANG SUMATERA BARAT SKRIPSI

PENGARUH PENGGUNAAN RANGKA BAJA SEBAGAI PENGGANTI SHEAR WALL EXSISTINGPADA CORE BUMIMINANG PLAZA HOTEL PADANG SUMATERA BARAT SKRIPSI PENGARUH PENGGUNAAN RANGKA BAJA SEBAGAI PENGGANTI SHEAR WALL EXSISTINGPADA CORE BUMIMINANG PLAZA HOTEL PADANG SUMATERA BARAT SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Strata-1

Lebih terperinci

BAB VIII TAHAP PELAKSANAAN

BAB VIII TAHAP PELAKSANAAN BAB VIII TAHAP PELAKSANAAN 8.1 Umum Dalam bab pelaksanaan ini akan diuraikan mengenai itemitem pekerjaan konstruksi dan pembahasan mengenai pelaksanaan yang berkaitan dengan penggunaan material-material

Lebih terperinci

STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA

STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA TUGAS AKHIR Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program strata-1 pada Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 SKS : 3 SKS Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Pertemuan - 11 TIU : Mahasiswa dapat mendesain berbagai elemen struktur beton bertulang TIK

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS APARTEMEN KALIBATA RESIDENCE TOWER D JAKARTA. Laporan Tugas Akhir. Atma Jaya Yogyakarta. Oleh :

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS APARTEMEN KALIBATA RESIDENCE TOWER D JAKARTA. Laporan Tugas Akhir. Atma Jaya Yogyakarta. Oleh : PERANCANGAN STRUKTUR ATAS APARTEMEN KALIBATA RESIDENCE TOWER D JAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : ERWIN OLIVER

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Desember 2009 bertempat di Bengkel Teknik Mesin Budidaya Pertanian, Departemen Teknik Pertanian IPB.

Lebih terperinci

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls 1. TURBIN AIR Dalam suatu sistim PLTA, turbin air merupakan salah satu peralatan utama selain generator. Turbin air adalah alat untuk mengubah energi air menjadi energi puntir. Energi puntir ini kemudian

Lebih terperinci

S1 Teknik Sipil FT UNS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

S1 Teknik Sipil FT UNS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Judul : Dokumen level 4: S1 Teknik Sipil FT UNS REKAMAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MK STRUKTUR KAYU RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN No. Dokumen Revisi ke 0 Tgl. berlaku Halaman 1 / 28 Nama Dosen

Lebih terperinci

SIFAT SIFAT FISIK ASPAL

SIFAT SIFAT FISIK ASPAL Oleh : Unggul Tri Wardana (20130110102) Dea Putri Arifah (20130110103) Muhammad Furqan (20130110107) Wahyu Dwi Haryanti (20130110124) Elsa Diana Rahmawati (20130110128) Bitumen adalah zat perekat (cementitious)

Lebih terperinci