LAPORAN STUDY BANDING

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN STUDY BANDING"

Transkripsi

1 ,. LAPORAN STUDY BANDING MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA 2009

2 LAPORAN HASIL STUDY BANDING KE PERADILAN ADMINISTRASI THAILAND DIBANGKOK ( TGL 3-4 NOVEMBER 2009) OLEH TIM DELEGASI : PROF. DR. AHMAD SUKARDJA, SH (HAKIM AGUNG MA Rl) OYO SUNARYO,SH (DIREKTUR BINGANIS DITJEN MILTUN MA Rl) ARIFIN MARP AUNG, SH. M.HUM (HAKIM TINGGI PENGADILAN TINGGI TUN JAKARTA) DAN! ELPAH, SH. MH (KETUA PENGADILAN TUN MATARAM) EDI NURJONO, (KETUA PENGADILAN SLAMET (KETUA PENGADILAN SH TUN PALEMBANG) SUP ARJOTO,SH,MH TUN YOGYAKARTA) DISIPLIN MANAO, SH.MH. (WAKIL KETUA PENGADILAN TUN LAMPUNG) BANGKOK 2009

3 KA TA PENGANTAR Pertama-tama memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemampuan bagi para peserta delegasi untuk melakukan kunjungan Study banding dibidang hukum ke Pengadilan Administrasi Thailand di Kota Bangkok hingga pembuatan laporan hasil study banding ini. Selanjutnya mengucapkan terimakasih kepada Pimpinan Mahkamah Agung Rl yang telah memberi kesempatan dan anggaran bagi para peserta sehingga para peserta berkesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang sangat berharga serta bermanfaat untuk mendukung pelaksanaan tugas peradilan. Study banding telah dilaksanakan pada Mahkamah Agung Peradilan Umum dan Pengadilan Administrasi Tingkat Pertama maupun Mahkamah Agung Peradilan Administrasi yang masing-masing berkedudukan di Kota Bangkok. Sasaran study banding terutama untuk mendapatkan bahan-bahan hukum guna memahami sistem peradilan di Thailan terutama Peradilan Administrasi. Metode mendapatkan bahan-bahan hukum dilakukan dengan cara wawancara kepada para pejabat Peradilan seperti Ketua Mahkamah Agung dan para hakim baik di tingkat pertama maupun para hakim agung. Selain itu bahanbahan hukum juga diperoleh dari dokumen-dokumen tertulis berupa buku dan peraturan perundangan Thailand yang berkaitan dengan Peradilan. Bahan-bahan hukum terse but telah dijadikan sebagai sumber hukum dalam pembuatan laporan ini. Disadari bahwa isi laporan Study banding ini adalah sangat terbatas terutama karena hanya terfokus pada jajaran Peradilan Administrasi. Sorotan utama pada peradilan Administrasi adalah mengenai kompetensi peradilan dan wewenang hakim dalam memeriksa perkara serta pelaksanaan putusan pengadilan administrasi. Hal ini dipandang sangat diperlukan dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan Peradilan Administrasi di Indonesia terutama dalam menyongsong era undang-undang Administrasi Pemerintahan yang sedang dirancang oleh Pemerintah. Dengan menyadari keterbatasan hasil study banding ini, maka para delegasi yang telah menyusun laporan ini mengharapkan berbagai kritikan positif dari para pembaca yang budiman. Akhimya para delegasi berharap kiranya laporan ini dapat memberi manfaat untuk pengembangan hukum di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan Peradilan Administrasi. Demikian laporan singkat ini disusun sebagai wujud tanggungjawab para delegasi yang telah menggunakan anggaran negara selama menjalankan tugas study banding. Atas segala keterbatasan dan kesederhanaannya kami haturkan mohon maaf yang sebesarbesarnya. Desember Ahmad Sukardja, S.H.

4 DAFTAR ISI KA TA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii HASIL STUDY BANDING. I. Pembentukan dan Strnktur Peradilan Administrasi di Thailand 1 1. Sejarah Pembentukan Peradilan Administrasi Thailand 1 2. Landasan hukum Pembentukan Peradilan Administrasi 2 3. Sruktur peradilan di Thailand 2 a. Connstitutional Court 2 b. Judicial Court 3 c. Administrative Court 3 d. Militery court 3 II. Kompetensi Peradilan Administrasi 3 1. Kompetensi Pengadilan Administrasi (sebagai tingkat Pertama) 5 2. Kompetensi Supreme Administrative Court 5 III. Hakim Peradilan Administrasi 5 1. Penentuanjabatan Ketua, Wakil Ketua dan Ketua Majelis 5 2. Seleksi untuk diangkat jadi Hakim 6 3. Syarat menjadi Hakim Supreme Administrative Court 6 4. Syarat menjadi Hakim Administrasi Tingkat Pertama 7 5. Gaji dan Tunjangan Hakim 8 6. Masa Kerja dan Pensiun Hakim 8 IV. Komisi Yudisial 8 V. Sekretaris Jenderal Peradilan Administrasi 10 VI. Contempt of Court 10 VII. Pengajuan Gugatan Pihak yang mengajukan gugatan Gugatan dan surat-surat lain harns tertulis Syarat Formal gugatan Kompetensi Relatif Pengadilan Tenggang waktu pengajuan gugatan Majelis Hakim, Hakim Reporteur, Hakim Kommisioner Peringatan dan sanksi kepada Tergugat yang tidak taat pada Putusan Pengadilan 13 VIII. Putusan Perkara dan Eksekusi Pemutusan perkara Isi Putusan : Eksekusi Putusan Pengadilan Perlawanan pihak ketiga 14 IX. Peninjauan kembali 15 LAMPlRAN : Book of "The Supreme Court of Thailand" III

5 HASIL STUDY BANDING KE PERADILAN ADMINISTRASI THAILAND (THAILAND ADMINISTRATIVE COURT) I. Pembentukan dan Struktur Peradilan Administrasi di Thailand. 1. Sekilas sejarah Pembentukan Peradilan Administrasi Meskipun Peradilan Administrasi di Thailan baru dibentuk pada tahun 2001, akan tetapi keberadaannya telah ada sejak lama. Keberadaan Peradilan tersebut dapat ditelusuri sejak tahun 1874 sebagai berikut: a. Fase pertama dimulai sejak tanggal 14 Juni 1874 (BE. 2417), yaitu ketika Raja yang bernama CHULALONGKORN membentuk Undang-undang tentang Counsil of State yaitu selaku badan penasehat dibidang administrasi public dan perancangan undang-undang. Badan ini yang bertanggungjawab untuk memeriksa keberatan-keberatan masayarakat. Council of State ini mirip dengan organisasi yang dikenal dengan Conseil d'etat di Perancis maupun di Negara lain yang menganut System Civil Law seperti Nederland, Belgia, Luxemburg, Itali, Mesir, Yunani, Tunisia dan Colombia. Tugas dan kewenangan Cuoncil of State yang didirikan tahun 1874 saat ini telah dijalankan oleh Peradilan Administrasi. b. Fase kedua yaitu mas a setelah peralihan regim Monarkhi Absolut menjadi Monarkhi Konstitusional pada tahun Masa ini diprakarsai oleh PROF. DR. PRiDI PHANOMYONG. Awalnya pemerintah mengembangkan kebijakannya untuk mendirikan suatu organisasi yang bertugas selaku penasehat bagi pemerintah dan mempunyai kekuasaan yang sama dengan Council of State dalam lingkungan bidang peradilan sipil. Badan ini delengkapi dengan Undang-undang tentang Council of State Tahun 1933 (BE 2476). Undang-undang ini telah mewajibkan pemisahan ketentuan untuk menentukan tipe kasus administrasi dengan prosedur administrasi yang belum ditangani. Kekurangan disini karena Council of State yang baru dibentuk hanya berfungsi selaku lembaga konsultasi hukum bagi eksekutif sehingga tidak dapat melakukan fungsi peradilan/judisial atau berbagai us aha penerapan hukum menyangkut tugas judisial. Namun kemudian pada tahun 1949 Undang-undang tentang Petisi Council (Petition Council Act) telah diberlakukan untuk menguji penyalahgunaan wewenang pejabat pemerintahan yang merugikan masyarakat. Akan tetapi undang-undang ini juga tidak sepenuhnya berhasil mengatasi persoalan meskipun telah diikuti dengan pembentukan lembaga Tribunal sebagai lembaga yang menangani prosedur administrasi. c. Fase ketiga pada tahun 1979 ketika PROF DR.AMORN CHANDARASOMBOON, sebagai Sekretaris Jenderal Counsil State memberi pandangan bahwa membangun peradilan administrasi tanpa mempersiapkan sistem administrasi peradilan dan personil yang siap pakai serta dengan dukungan peralatan hanyalah mengulangi kegagalan pada masa yang lalu. Sehingga reforrnasi hukum -pada Council of State akan tercapai dengan cara menggabungkan Law Drafting Council 1

6 dibawah undang-undang Council of State Act 1933 (BE. 2476) dengan Tribunal dibawah undang-undang tentang Petition Council Act 1949 (BE.2492). Ketentuan baru ini disebut dengan Council of State Act 1979 (BE.1979). Pada Council of State 1979 ini terbentuk dua badan yang disebut Law Drafting Council dan Petition Council. Law Drafting Council ini diberi missi judicial, sedangkan Petition Council adalah sebagai alat untuk menentukan prinsip hukum administrasi mana yang akan dikembangkan. Hal ini diharapkan sebagai suatu progres agar Petition Council memimpin pembentukan lembaga peradilan administrasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa peradilan administrasi memperoleh wjudnya selama periode yang diilhami oleh Petition Council. Berbagai dukungan dari kalangan administrasi telah mendorong pengembangan Petition Council menjadi Peradilan administrasi yang juga hams diatur dalam konstitusi, yang akhirnya ditentukan pertama kalinya pada Charter tahun d. Fase keempat yaitu setelah rencana amandemen konstitusi yang kelima pada tahun Dalam konsep amandemen konstitusi ini telah dinyatakan bahwa peradilan administrasi menganut dual system peradilan. Pada akhirnya dalam Konstitusi tahun 1997 secara tegas telah ditentukan adanya peradilan administrasi. Inilah yang dipandang sebagai awal berdirinya peradilan administrasi yang berdiri sendiri terpisah dari peradilan lainnya. Selanjutnya pada tahun 1999 (B.E.2542) dibentuk Undang-undang Peradilan Administrasi dan Peradilan Prosedur Administrasi. Pada tanggal 9 Maret 2001 (BE 2544) diresmikanlah pendirian Supreme Admimnsitrative Court dan Central Administrative Court. 2. Landasan Hukum Pembentukan Peradilan Administrasi. Landasan Hukum Pembentukan Peradilan Administrasi di Thailand didasarkan pada; - Konstitusi Kerajaan Thailand (Constitution of The Kingdom of Thailand) B.E (Tahun 1997) : Articel Konstitusi Kerajaan Thailand (Constitution of The Kingdom of Thailand) B.E (Tahun 2007): Article Undang-undang Pembentukan Peradilan Administrasi dan Acara Peradilan - Administrasi (Act on Establisment of Administrative Court and Administrative Procedure) B.E (Tahun 1999) 3. Struktur Peradilan di Thailand Berdasarkan Konstitusi Kerajaan Thailand B.E (Tahun 1997) peradilan di Thailand menganut Multy Cuort System dimana masing-masing badan peradilannya berpuncak pada Mahkamah Agung yang masing-masing berdiri sendiri. Ada empat Badan Peradilan yakni : a. Constitutional Court (Mahkamah Konstitusi). Ini merupakan peradilan tingkat pertama dan terakhir. 2

7 b. Judisial Court (Peradilan Umum) terdiri dari tiga tingkatan: ~ Supreme Court (Mahkamah Agung) sebagai peradilan Kasasi. ~ Court of Appeals (Pengadilan Tinggi) sebagai peradilan banding ~ Court of first Instance sebagai peradilan Tingkat pertama Perlu dicatat bahwa pada peradilan tingkat pertama terdapat beberapa kamarlbidang, seperti Civil Court, Criminal Court dan Juvenile and Family Court. Selain itu ada juga beberapa peradilan khusus yakni Labor Court, Tax Court, Intelectual Property and International Trade Court serta Bankruptcy Court. c. Administrative Court (Peradilan Administrasi) terdiri dari dua tingkatan: ~ Supreme Administrative Court (Mahkamah Agung Peradilan Administrasi) sebagai peradilan tingkat kasasi. I ~ Administrative Court of First Instance (sebagai tingkat pertama). Ada dua macam sebutan Peradilan tingkat pertama. Yang pertama yaitu Central Administrative Court yang hanya ada dan berkedudukan di Bangkok. Jenis yang kedua yakni Regional Administrative Court yang berkedudukan masing-masing di ibu kota provinsi selain Bangkok. Regional administrative Court ini ada di 7 provinsi yaitu masing-masing: Chiang Mai AC, Nakhon Ratchasima AC, Khon Kaen AC, Phitsanuluk AC, Rayong AC, Nakhon Si Thammarat AC dan Sangkhla AC. d. Militery Court (Peradilan Militer) terdiri dari tiga tingkatan: ~ Supreme Militery Court (Mahkamah Agung Peradilan Militer) sebagai peradilan kasasi. ~ Central Militery Court (Pengadilan Tinggi Militer) sebagai peradilan banding ~ Militery Court of First Innstance sebagai peradilan tingkat pertama Militer. II. Kompetensi Peradilan Administrasi (Administrative Court Jurisdiction). 1. Berdasarkan pasal 9 Undang-undang Peradilan Administrasi Thailand Tahun 1999 (Act on Establishment of Administrative Court and Administrative Court Procedure B.E.2542 (1999), dapat ditentukan kompetensinya yaitu memeriksa dan mengadili atau memerintahkanl menetapkan (order) menyangkut hal-hal sebagai berikut: a. Sengketa yang berkaitan dengan tindakan yang melanggar aturan (unlawfull act) yang dilakukan oleh Pejabat administrasi (administrative Saat iru President of Supreme Administrastive Court of Thailand adalah PROF.DR.ACKARATORN CHULARAT. Beliau saat ini juga sebagai President of The International Association of Supreme Administrative Jurisdictions. 3

8 agencys: atau pegawai pemerintah yang mendapat tugas pemerintahan (State official) 3, berupa: ~ Penerbitan suatu keputusanlkebijakan (issuance of a rule) atau perintah (order) atau berkenaan dengan tindakan lainnya tanpa kewenangan atau melampaui batas kewenangan (Without or beyond the scope of power and duties), atau ~ Tidak konsisten terhadap hukum (inconsistence with the law) atau bentuk (the form) atau proses (process) yang dipersyaratkan untuk itu, atau ~ Tidak dipercaya (bad faith), atau ~ Ada indikasi diskriminatif (indicating unfair discrimination), atau ~ Melakukan ketidak pastian proses (Unnecessery process), atau ~ Merugikan publik (excessive burden to the publik), atau sekelompok orang atau ~ Melakukan ketidak pantasan dalam pembuatan suatu keputusan (undue exercise of discretion). b. Sengketa yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan pejabat pemerintahan atau pegawai pemerintahan yang melalaikan tugasnya (neglecting official duties) yang seharusnya dilakukan sesuai yang ditentukan hukum yang berlaku, atau melakukan penundaan pelaksanaan tugasnya dengan tidak masuk akal (unreasonable delay) c. Sengketa yang berkaitan dengan tindakan yang salah/melanggar hukum (wrongful) atau berkenaan dengan suatu tanggung jawab (liabilities) dari pejabat pemerintahan atau pegawai pemerintahan yang timbul akibat penggunaan kewenangan menurut hukum (under the law or from a law), perintah/keputusan administratif atau perintah lain, atau atas kelalaian pelaksanaan tugasnya yang menurut ketentuan seharusnya dilakukan, atau melakukan penundaan tugasnya tanpa suatu alasan yang masuk akal (unreasonable delay). d. Sengketa yang berkaitan dengan kontrak administrasi (administrative contract) e. Sengketa yang ditentukan oleh hukum untuk diajukan ke peradilan oleh instansi pemerintah atau pegawai pemerintah atas pemberian mandat kepada seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan tertentu. f Sengketa yang menu rut hukum yang berlaku ditentukan sebagai kewenangan peradilan administrasi. 2 Article 3 of Act on Establehment of Administrative Court and Administrative Court Procedure, B.E (1999). Administrative Agency means a Ministry, Sub Ministry, Department, Government agency called by ather names and ascribed the status as a Department, provincial administration, State enterprise established by an Act or Royal decree or other State agency and shall include an agency entrusted to exercise the administrative power or carry out administrative acts. 3 Ibid. State Official means, Government official, official, employee, group ofpers~ns or person performing duties in an administrative agency 4

9 2. Tidak termasuk kompetensi Peradilan Administrasi yaitu : a. Tindakan yang berkaitan dengan disiplin militer b. Tindakan yang dilakukan Komisi judisial sesuai dengan ketentuan tentang komisi judisial c, Sengketa menyangkut kompetensi peradilan anak dan peradilan keluarga (Juvenile and Family Court), peradilan perburuhan (Labor Court), peradilan pajak (Tax Court), peradilan hak inteklektual dan perdagangan Internasional (lntelectual Property and International Trade Court), peradilan kepailitan (Bankruptcy Court) dan peradilan khusus lainnya. 3 Kompetensi Peradilan Administrasi sebagi tingkat pertama Pengadilan administrasi pada tingkat pertama berwenang untuk memeriksa dan mengadili semua sengketa yang termasuk kompetensi Peradilan administrasi, kecuali yang seharusnya menjadi kompetensi Supreme Administrative Court (Mahkamah Agung Peradilan Administrasi). 4. Kompetensi Supreme Administrative Court (Mahkamah Agung). Mahkamah Agung Peradilan Administrasi berwenang memeriksa dan mengadili: ~ Sengketa yang berkaitan dengan putusan komisi quasi peradilan (quasi - judicial commissions" sebagaimana yang ditetapkan (prescribed) oleh Majelis Umum Hakim Mahkamah Agung Administrasi (General Assembly of the Judges of the Supreme Administrative Cour) ~ Sengketa yang berkaitan dengan legalitas Keputusan Raja (Royal Decree) atau keputusan-keputusan (By-Law issuedf dari Lembaga Kementerian (Council of Minister) atau persetujuan Lembaga Kementerian (approval of Council Minister) ~ Sengketa yang ditentukan oleh undang-undang menjadi kewenangan Supreme Administrative Court. ~ Sengketa kasasi yang dilakukan atas putusan atau perintahlpenetapan (order) Pengadilan Administrasi tingkat pertama. III. Hakim Peradilan Administrasi. Persyaratan sebagai hakim Peradilan Administrasi maupun menyangkut hakhak dan kewajibannya secara rinci telah ditentukan dalam Undang-undang Peradilan Administrasi Thailand yang diatur dalam dalam Bab II mulai dari pasal 12 sd. Pasal 34. Mengamati pasal-pasal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Penentuan jabatan Ketua, Wakil Ketua dan Ketua Majelis Jabatan hakim pada Supreme Court maupun pada Pengadilan Administrasi Tingkat pertama terdiri dari jabatan: President (Ketua), Vice of 4 Ibid, Ouasi-judicial commission means a commission established under the law which provides for the organization and procedure for the adjudication of disputes in respect of rights and duties under the law. 5 Ibid. By Law means a Royal Decree, Ministerial Ragulation, Notification of Ministry, Ordonance oflocal administration, Rule, Regulation or other provision which is of general application and not intended to be addressed to any specific case or person. 5 '.

10 Presidents Wakil Ketua), Presidents of Chamber (Ketua Majelis), dan Judges (Para Hakim anggota). Penentuan Jabatan Ketua,Wakil Ketua dan Ketua Majelis dilakukan dengan prosedur yang sarna baik untuk Supreme Court maupun untuk tingkat pertama. Ketentuan mengenai Prosedur seleksi ditentukan oleh J.c.A.C dengan disetujui oleh Majelis lengkap Supreme Administrative Couurt. Cara seleksi untuk memilih jabatan-jabatan terse but dipilih dari antara seluruh Hakim. Setelah nama calon ditentukan, selanjutnya nama tersebut diajukan kepada Perdana Menteri. Perdana Menteri harus melakukan persetujuannya paling lama dalam jangka waktu 15 hari. Atas persetujuan Perdana Menteri tersebut nama calon diajukan kepada Raja untuk selanjutnya ditetapkan dalam jabatan tersebut. 2. Seleksi untuk diangkat jadi Hakim. Baik hakim Supreme maupun Hakim Tingkat pertama dipilih oleh Komisi Yudisial (Judicial Commission of Administrative Court =JCA.C) dengan disetujui Parlemen (House of Representative and Senate). Namun dengan adanya perubahan Konstitusi Kerajaan Thailand BE (2007), dalam pasal 224 ditentukan bahwa pengangkatan Hakim pada semua tingkatan Peradilan Administrasi cukup dilakukan oleh J.C.A.C tanpa memerlukan persetujuan Parlemen. 3. Syarat menjadi Hakim pada Supreme Administrative Court Rekrut Hakim Peradilan Administrasi di Thailand pada dasamya bukanlah hakim karier, karena mereka selain yang berlatar belakang pemah sebagai hakim, mereka dapat juga direkrut dari otrang yang berlatar belang dan mempunyai keahlian hukum, ilmu politik, publik administrasi, ekonomi, ilmu so sial atau berasal dari pegawai pemerintah yang ditentukan oleh C.J.A.C. Syarat lain yang ditentukan adalah Warga negara Thailan, berusia serendah-rendahnya 45 Tahun, serta mempunyai latar belakang atau pengalaman salah satu atau lebih sebagai berikut: ~ Pemah menjadi Law Councilor, Petition Councilor atau Councilor of State. ~ Pemah menduduki jabatan hakim yang jabatannya tidak lebih rendah dari Ketua Majelis pada Pengadilan Administrasi Tingkat pertama. ~ Pemah menduduki jabatan yang tidak lebih rendah dari jabatan Judge of Supreme Court of Justice atau yang setara dengan itu atau sebagai hakim pada Supreme Military Court. ~ Pemah menduduki jabatan yang tidak lebih rendah dari jabatan Kepala Kejaksaan (Regional Chief Publik Prosecutor) atau jabatan lain yang setara dengan itu. ~ Pemah menduduki jabatan yang tidak lebih rendah dari jabatan Direktur Jenderal atau yang setara dengan itu pada lembaga pemerintahan yang ditentukan oleh J.C.A.C. ~ Seorang yang berpendidikan tinggi dan bergelar Professor yang pemah menduduki jabatan dosen pada perguruan tunggi dibidang hukum, ilmu politik, public administrasi, ekonomi, pengetahuan sosial yang relevan dengan urusan administrasi pemerintahan. ~ Pemah menjadi Pengacara (Lawyer) yang berpengalaman menangani kasusu-kasus administrasi yang lamanya tidak kurang dari dua puluh tahun dengan persyaratan yang ditentukan oleh C.lA.C. 6

11 Para calon tersebut selajutnya dipilih oleh C.J.A.C yang dibuat dalam suatu daftar nama-nama calon dan diajukan kepada Perdana Menteri (Prime Minister). Setelah daftar calon tersebut diterima selanjutnya paling lama dalam waktu 15 hari harus menentukan persetujuannya dan mengajukan kepada Raja untuk dipertimbangkan dan ditunjuk. 4. Syarat menjadi Hakim Pengadilan Administrasi Tingkat pertama: Rekrut Hakim administrasi pada tingkat pertama juga dilakukan oleh C.J.A.C. Persyaratan yang ditentukan undang-undang sebagai nberikut: a. Warga Negara Thailand b. Berusia serendah-rendahnya 35 Tahun c. Mempunyai pengalaman dibidang hukum, ilmu politik, Publik administrasi, ekonomi pengetahuan sosial atau administrasi pemerintahan pada bidang yang ditentukan oleh C.J.A.C. d. Pemah berpengalaman pada salah satu atau lebih dari hal-hal sebagai berikut: Sebagai petition commissioner atau sekretaris pada Law Councilor pada kantor Councilor State paling sedikit 3 tahun. Berpengalaman paling sedikit 3 tahun pada kantor sengketa administrasi yang klasnya ditentuklan oleh J.C.A.C. Berpengalaman paling sedikit 3 tahun sebagai hakim pengadilan perdata perdata atau hakim pada pengadilan pidana atau hakim pada pengadilan militer Berpengalaman paling sedikit tiga tahun sebagai jaksa atau yang setara dengan itu pada Kejaksaan di tingkat Privinsi. Berpengalaman paling sedikit 3 tahun sebagai pegawai pemerintah serendah-rendahnya pangkat tertentu yang ditentukan C.J.A.C Pemah menjadi dosen dibidang hukum, ilmu politik, public administrasi, ekonomi, ilmu social yang berkaitan dengan administrasi bidang pemerintahan pada perguruan tinggi dan memperoleh posisi paling rendah sebagai Assosiate Professor paling sedikit tiga tahun, Memperoleh ijajah Master dalam bidang Hukum Publik dan bekerja dalam bidang pemerintahan paling sedikit sepuluh tahun sejak memperoleh Master. Aatu berijajah Doktor dan pemah bekerja paling sedikit 6 tahun sejak mendapat ijajah doktor. Pemah menjadi Pengacara paling sedikit 12 tahun dan berpengalaman menangani kasus-kasus administrasi sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh C.J.A.C. Selanjutnya prosedur seleksi dan pengusulannya sarna dengan prosedur seleksi dan pengajuan Hakim pada Supreme Addministrative Court. 7 '.

12 5. Gaji dan tunjangan Hakim Besaran Gaji Hakim di Thailan ditentukan dengan pengaturan level penggajian. Posisi level Penggajian ini telah ditentukan dalam undang-undang Peradilan Administrasi, Seperti misalnya level gaji seorang Ketua Supreme Court berada lada level 4 yaitu gaji sebesar Bath, tunjangan sebesar Bath. Sedangkan Wakil Ketua, Ketua Majelis dan Hakim Anggota pada Supreme maupun Ketua Pengadilan Tingkat pertama pada Level 3 yaitu gaji sebesar Bath, tunjangan sebesar Bath. Selanjutnya Gaji Wakil Ketua, Ketua Majelis dan Hakim anggota pada Pengadilan tingkat pertama digaji berdasarkan level gaji antara level 2 hingga level 3. Gaji untuk hakim pada level 2 sebesar Bath, sedangkan tunjangannya sebesar Bath. Penentuan besaran gaji dan tunjangan hakim ini adalah berdasarkan Tabel Gaji Bagi Hakim Peradilan Administrasi yang diberlakukan sejak tanggal I Oktober Masa kerja dan Pensiun Hakim. Seseorang untuk dapat diangkat menjadi Hakim pad a Supreme Administrative Court haruslah memenuhi syarat usia serendah-rendahnya 45 tahun. Sedangkan pada Administrative Court of First Instance (Tingkat pertama) serendah-rendahnya usia 35 tahun. Usia pensiun bagi hakim Supreme maupun tingkat pertama adalah 65 tahun, akan tetapi bila kesehatannya memungkinkan dapat diperpanjang hingga 70 tahun. Ketentuan mengenai pemeriksaan kesehatan dan perpanjangan usia diatur oleh J.C.A.C dengan disetujui oleh Majelis Umum Supreme Administrative Court. Ada juga hal menarik, dimana pakaian seragam dan penggunaannya, serta penentuan hari kerja, jam kerja, hari libur kantor dan mengenai absensi hakim semuanya telah ditetapkan dalam peraturan yang dibuat oleh J.A.A.C. IV. Komisi Judisial (Judicial Commission) Di Thailand, masing-masing badan peradilan mempunyai Komisi Judisial sendiri-sendiri. Komisi judisial untuk Peradilan Administrasi dinamakan Judicial Commision of Administrative Court (disingkat J.C.A.C). Komposisi Komisi Judisial terdiri dari 13 orang yaitu: a. Presiden Supreme Administrative Court otomatis sebagai Ketuanya. b. 6 orang dari Hakim Agung. c. 3 orang dari Hakim tingkat pertama d. 2 orang yang dipilih oleh Senat 6 Sebagai illustrasi dapat diperbandingkan dengan gaji Hakim Indonesi sebagai berikut: Gaji Ketua Supreme Administrative Court (Level 4): Bath Tunjangan : Bath Jumlah Gaji dan tunjangan : I Bath Bila I Bath = Rp.3000, maka gaji dan tunjangan Ketua setara dengan Rp ,- 7Hakim anggota pada Peradilan Administrasi tingkat pertama di Thailand digaji dengan ruang gaji antara level 2 hingga level 3. Gaji untuk level 2 ditentukan sebesar Bath. Sedangkan tunjangan sebesar Bath. Sehingga gaji ditambah tunjangan = Bath. Bila 1 Bath = Rp.3000, maka gaji ditambah tunjangan hakim tingkat pertama setara dengan Rp ,- 8

13 e. 1 orang ditunjuk oleh Council of Minister f. Sekretaris Jenderal Supreme Administrative Court otomatis menjadi Sekretaris Jenderal J.C.A.C Penentuan Hakim Agung dan Hakim tingkat pertama untuk menjadi anggota Komisi Judisial dilakukan melalui pemilihan yang dilakukan oleh sebuah panitia yang bersifat langsung bebas dan rahasia. Panitia ini terdiri dari Sekretaris Jenderal Supreme Administrative Court, tiga orang dari kalangan hakim administrasi serta tiga orang pimpinan Fakultas Hukum/Dekan (Dean) perguruan tinggi pemerintah yang ditentukan oleh Ketua Mahkamah Agung (President of Supreme AC). Penanggungjawab pelaksanaan pemelihan berada pada Ketua Mahkamah Agung Administrasi. Masa kerja Komisi Judisial adalah dua tahun, akan tetapi masih dapat dipilih kembali dan maksimum untuk dua periode. Bila ada anggota Komisi judicial yang berhenti sebelum masa periodenya berakhir, maka ia akan diganti dengan cara pemilihan yang sarna, kecualai masa tugasnya hanya tinggal 90 hari lagi. Tugas Komosi Judisial a. Mengadakan seleksi terhadap Calon Hakim Agung dan mengajukannya kepada Perdana Meneteri untuk mendapat persetujuan Senat dan penetapan Raja. b. Memilih diantara Hakim Agung untuk menjadi President Of Supreme Administrative Court (Ketua MA) dan mengajukan kepada Perdana Menteri untuk mendapat persetujuan Senat dan penetapan Raja. c. Memilih diantara Hakim Agung untuk diusulkan menjadi Wakil Ketua MA dan untuk menjadi Ketua Majelis MA serta mengajukan kepada Perdana Menteri untuk selanjutnya mendapat penetapan Raja. d. Mengadakan seleksi calon hakim untuk dipilih menjadi Hakim tingkat pertama dan mengajukan kepada Perdana Menteri untuk selanjutnya ditunjuk oleh Raja e. Memilih diantara Hakim tingkat I untuk diusulkan menjadi Ketua, Wakul Ketua dan Ketua Majelis serta mengajukan kepada Perdana Menteri untuk ditetapkan oleh Raja. f. Menetapkan Kode Etik Hakim g. Menbentuk Komite pemeriksa hakim yang dianggap melakukan pelanggaran etik hakim. (komite mana terdiri dari empat orang hakim dan seorang pegawai Civil Service). h. Mengusulkan pemberhentian Hakim yang berdarakan periksaan Komite Pemeriksa dipandang bahwa yang bersangkutan telah terbukti melalaikan tugasnya atau melanggar etik hakim, atau mengalami sakit yang permanen atau dihukum pidana dipenjara akibat kejahatan yang dilakukan dengan sengaja. 1. Memberi persetujuan permutasianjabatan hakim. J. Mengadakan seleksi atas hakim yang perlu perpanjangan USIa pensiunnya hingga 70 tahun. k. Membuat berbagai aturan berkenaan dengan hakim seperti pengaturan pakaian seragam, pengaturan jam kerja, pembuatan kode etik hakim, ketentuanketentuan menganai pegawai yang membantu persidangan (admistrative case official) dan berbagai hallainnya. 9

14 V. Sekretaris Jenderal Peradilan Administrasi Sekretaris Jenderal pada peradilan administrasi di Thailand merupakan institusi yang indevenden yang bertugas dan bertanggungjawab untuk melakukan tugas-tugas kesekretariatan. Yang menjabat Sekretaris Jenderal haruslah berlatar belakang pendidikan nhukum. Sekretariat Jenderal bertugas selain menangani hal yang berkaitan dengan kesekretariatan juga: - Melakukan kegiatan administyrasi kesekretariatan - Melakukan kegiatan yang berkaitan dengan administrasi perkara, - Melakukan eksekusi atas putusan pengadilan administrasi. - Mengumpul dan mempelajari berbagai imformasi yang berkaitan dengan penagnan perkara - Menganalis perkara yang masuk ke pengadilan guna memberi saran kepada pemerintah untuk perbaikan pemerintahan - Mempublikasikan putusan atau penetapan pengadilan - Mengadakan pelatihan hakim, kepada pegawai kesekretariatan. Bahkan dengan koordinasi sebelumnya pelatihan juga dapat dilakukan kepada pegawai lain diluar peradilan guna pengembangan prinsip-prinsip hukum publik dan huum adminstrasi - Menunjuk pegawai (adminitrative case official) untuk membantu hakim raporteur (judge- raporteur) dalam persidangan perkara. VI. Contemtp of Court. Pengadilan Admistrasi berwenang untuk menetapkan ketentuan/persyaratan bagi pihak yang bersengketa atau siapapun yang hadir di pengadilan, yang oleh pengadilan menganggap perlu guna memelihara ketertiban, keterbukaan dan kelancaran persidangan sengketa-sengketa administrasi. Kewenangan pengadilan disini termasuk juga melarang para pihak yang bersengketa untuk bersikap sembrono (pursuing frivolous), memperlambat persidangan atau bersikap berlebihan (delatory or superfluous proceedings). Pelanggaran atas ketentuan yang ditetapkan pengadilan tersebut dianggap sebagai perbuatan yang merendahkan pengadilan (contemtp of court). Atas pelanggaran tersebur pengadilan berwenang untuk: - Memberi peringatan baik tertulis atau tidak tertulis (warming wiht or without written reproach). - Memerintahkan keluar dari ruang persidangan (expelling from the Court's precinct) - Menjatuhkan hukuman penjara (inflicting imprisonment) dengan waktu yang tidak lebih dari satu bulan atau denda (fine) tidak lebih dari lima puluh ribu bath. Penjatuhan hukuman pejara haruslah dilakukan oleh majelis hakim yang lain dari majelis yang menangani kasus yang bersangkutan." Akan tetapi bagi orang yang mengkritisi persidangan atau peradilan dengan etikat baik dan dengan alasan akademik (academic means) tidak dapat dihukum dan juga tidak dapat dinyatakan menista pengadilan atau hakim. 8 Ketentuan menganai pemberlakuan contempt of court ini diatur dalam Hukum Acara Perdata (Civil procedure code) akan tetapi berdasarkan Article 64 dari Act of AC and AC Procedure dinyatakan berlaku secara mutatis mutandis

15 VII. Pengajuan Gugatan (Filling Administrative Case) dan Pemeriksaan Perkara (hearing). 1. Pihak yang dapat mengajukan gugatan adalah : ~ setiap orang yang dirugikan atau ~ yang kerugiannya tidak dapat dihindari (any person who is aggrieved or injured or who may inevitably be aggrieved) akibat suatu tindakan atau pengabaian yang dilakukan oleh pejabat administrasi atau pegawai pemerintahan, atau ~ pihak yang mempunyai perselisihan berkaitan dengan kontrak administrasi atau persoalan-persoalan lainnya. 2. Gugatan dan surat-surat lain harus tertulis. Gugatan maupun dokumen-dokumen lain yang diajukan ke pengadilan haruslah tertulis dan dengan bahasa Tahiland. Apabila pengadilan mengijinkan dokumen tidak tertulis (made orally) maka hal itu harus diresume dalam berita acara (shall write down the statemen' in the memorandum of proceeding). Pengajuan gugatan dapat juga dikuasakan kepada orang lain dengan surat kuasa tertulis, dapat diantar langsung (by handing) ke pengadilan atau via post dengan surat tercatat (by registered post). 3. Syarat formal suatu gugatan haris berisi: a. Nama dan alamat penggugat b. Nama pejabat pemerintahan (name of the administrative agency) yang menerbitkan keputusan yang disengketakan c. Semua perbuatan yang relevan dijadikan sebagai fakta (all acts constituting the couse of action as well as necessary facts) d. Gambaran permintaan yang diharapkan penggugat (the relief sought by the planintiff). e. Gugatan harus ditandatangan oleh penggugat. Jika diberi kuasa kepada orang lain, haruslah dilengkapi dengan surat kuasa. Apabila persyaratan tersebut diatas tidak dipenuhi, maka Sekretaris jenderal dapat memberi nasihat agar hal itu diperbaiki 4. Kompetensi relatif pengadilan. Gugatan haruslah diajukan ke pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi domisili penggugat atau ke pengadilan dimana akibat yang ditimbulkan perbutan pejabat itu terjadi (the cause of action has arisen). Dalam hal suatu pengadilan menganggap bahwa gugatan tersebut tidak termasuk dalam kompetensi relatifnya, maka gugatan terse but dapat diteruskan ke pengadilan yang dianggapnya kompeten. Akan tetapi bila pengadilan yang terakhir ini juga merasa tidak berwenang, persoalan ini langsung diajukan ke Mahklamah Agung untuk diputus. 5. Tenggang waktu Pengajuan gugatan Gugatan dapat diajukan dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh hari) sejak penggugat mengetahui atau seharusnya mengetahui akibat 9 Statement means a summery of facts, law and opinion of the judge-commissioner of justice submitted to chamber for trial and adjudication. 11

16 tindakan pejabat. Atau bilamana sipejabat tidak menjawab/memberi penjelasan atas permohonan tertulis yang diajukan penggugat, maka gugatan dapat diajukan setelah lewat 90 (sembi Ian puluh) hari sejak permohonannya diajukan. Akan tetapi apabila sengketa tersebut akibat perbuatan terguagat yang melanggar undang-undang atau karena kelalaiannya atau menunda melakukan pelayanan dengan tidak masuk akal atau yang berkenaan dengan kontrak administrasi, maka gugatan dapat diajukan dalam jangka waktu satu tahun Selanjutnya apabila sengketa tersebut menyangkut persoalan yang berkaitan dengan perlindungan kepentingan umum atau menyangkut status seseorang, gugatan dapat diajukan setiap waktu 6. Majelis Hakim, Hakim Rapporteur, Hakim Kommissioner. Pada Mahkamah Agung, majelis hakim yang mengangani perkara minimal lima orang hakim. Sementara pada peradilan administrasi tingkat pertama minimal tiga orang hakim. Hakim mempunyai kebebasan untuk mencari kebenaran materiel, dimana hakim dapat memeriksa bukti, saksi atau ahli menurut inisyatifnya sendiri meski tidak diajukan oleh pihak yang berperkara. Hakim Rapporteur, Apabila suatu perkara telah didistribusikan kepada majelis hakim, maka Ketua pengadilan/ketua Mahkamah agung menunjuk hakim rapporteur (judge-rapporteur) yang bertugas untuk mengumpulkan fakta- fakta dan bukti maupun keterangan-keterangan para pihak. Hakim rapporteur ini juga dibantu oleh pegawai administrasi (administrative case official). Hakim rapporteur haruslah mengadakan pemeriksaan kepada para pihak, bukti-bukti dan berkas- berkas perkara guna mendapatkan fakta dan hukum yang relevan. Bahkan dapat memerintahkan para pihak untuk menyerahkan bukti-bukti yang dipandang perlu diserahkan dalam limit waktu tertentu. Apabila hakim rapporteur memandang bahwa persoalan menyangkut fakta dan hukum sudah cukup, maka ia akan menyampaikan/rnerepresentasikan pendapatnya kepada majelis yang menagani perkara yang bersangkutan. Hakim Commissioner. Hakim Komisioner adalah hakim selain Majelis hakim yang menagani suatu perkara yang dapat mengikuti jalannya persidangan. Berbeda dengan Hakim Rapporteur yang hanya bertugas dalam tahap pemeriksaan awal sebelum persidangan perkara. Hakim Kommissioner ini menerima kesimpulan mengenai fakta dan hukum yang dihimpun oleh hakim rapporteur. Hal itu sudah diterima sebelum hari persidangan. Hakim Komisioner ini juga memberi opini kepada Majelis hakim, mereka berhak untuk mengikuti persidangan dan menghadiri musyawarah majelis hakim. Akan tetapi mereka tidak mempunyai hak suara dal;am p[ uitusan musyawarah. Singkatnya bahwa hakim komisioner hanyalah sebagai pembanding mengenai fakta dan hukum. Penunjukan Hakim Komisioner ini dilakukan oleh ketua, yang ditunjuk dari antara hakim-hakim akan tetapi selain/diluar hakim majelis yang menangani kasus yang bersangkutan. Adakalanya hakim komisioner pada Mahkamah 12.,

17 Agung ditunjuk oleh Ketua Makhklamah pertama. Agung dari kalangan Hakim tingkat 7. Peringatan dan sanksi kepada tergugat yang tidak taat pada persidangan. Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh hakim rapporteur, dan dalam hal tergugatlpejabat tidak mengindahkan perintah hakim rapporteur atau tidak memenuhinya dalam waktu yang telah ditentukan, maka pengadilan dapat mengambil tindakan: - melaporkan hal itu kepada atasannya atau kepada Perdana Menteri guna dijadikan sebagai koreksi, atau - memberi paksaan atau menetapkan tindakan displiner, atau - tanpa pemeriksaan pengadilan menjatuhkan hukuman penjara dengan alas an contempt of court. VIII. Putusan Perkara dan eksekusi 1. Pemutusan perkara haruslah dilakukan dengan suara terbanyak. Apabila ada hakim yang berpendapat berbeda, maka ia akan membuat dissenting opinion secara tertulis. Suatu perkara dapat juga diputus oleh Majelis lengkap (General assembly) apabila menurut Ketua Mahkamah Agung hal itu diperlukan. Majelis lengkap tidak boleh kurang dari separoh jumlah hakim selain ketua Mahkamah Agung sendiri. 2. Isi Putusan Suatu putusan paling sedikit haruslah memuat hal-hal sebagai berikut: a. nama penggugat b. pejabat yang digugat c. akibat perbuatan (tergugat) d. fakta hukum e. alasan yang melandasi putusan f. pertimbangan hukum g. keputusan pejabat bila ada, dan hal yang harus dilakukan pejabat (yang digugat) Hari dan tang gal pengucapan putusan harus diberitahu kepada para pihak yang berperkara. Apabila para pihak tidak hadir pada pengucapan putusan, maka kepadanya harus diberikan salinannya. Penyerahan itu dianggap sebagai hari pengucapan putusan. Putusan tersebut juga harus dipublikasikan oleh Sekretaris Jenderal kepada publik, termasuk yang dipublikasikan juga opinoi hakim komisioner pada perkara yang bersangkutan. Putusan Hakim Agung mengikatldapat dilaksanakan sejak hari yang secara khusus detetapkan pada putusannya. Akan tetapi pelaksanaan Putusan Hakim tingkat pertama ditunda hingga habis tenggang kasisi (appiel) yang ditentukan. Masa pengajuan kasasi ditentukan 30 hari. Putusan pengadilan juga mengikat kepada pihak ketiga dengan ketentuan sebagai berikut: Putusan mengenai perintah/pengusiran seseorang dari suatu temp at dapat dilakukan tanpa mereka membuktikan titel khusus untuk itu. Jika seseorang telah memberi suatu jaminan di pengadilan untuk sesuatu tindakan yang ditentukan dalam putusan, maka jaminan itu harus 13

18 dilaksanakan dan putusan itu tidak perlu lagi dilakukan kepada... sipenjamm. Putusan menganai status hukum atau kapasitas seseorang dapat diterapkan kepada pihak ketiga kecuali bila pihak ketiga tersebut menunjukkan suatu titel hukum yang lebih baik/tinggi Putusan yang diambil berkaitan dengan hak atas kekayaan dapat diterapkan oleh para pihak kepada pihak ketiga kecuali pihak ketiga mempunyai titel hukum yang lebih baik/tinggi 3. Eksekusi putusan pengadilan. Dalam melaksanakan putusan pengadilan, pengadilan berwenang sebagai berikut: Dalam hal keputusan pejabat melanggar hukum, pengadilan dapat memerintahkan pencabutan keputusan atau penundaan sebagian atau seluruhnya Dalam hal pejabat melakukan suatu kelalaian atau menunda pelayanan dengan tidak masuk akal, maka pengadilan dapat memerintahkan pimpinan pejabat administrasi yang bersangkutan untuk melakukan suatu kewajiban yang ditentukan pengadilan. Dalam hal keputusan pejabat diterbitkan dengan melanggar hukum atau menyalahi kewajibannya atau yang berkaitan dengan kontrak administrasi, maka pengadilan dapat memerintahkan pembayaran sejumlah uang atau penyerahan barang atau melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan dengan atau tanpa memberi jangka waktu atau keadaan/kondisi tertentu. Berkaitan dengan suatu permohonan mengenai hak dan kewajiban seseorang, maka pengadilan dapat memerintahkan pemulihan hak dan kewajiban. Memerintahkan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang ditentukan hukum. Putusan mengenai pembatalan keputusan pejabat. hams diumurnkan dalam lembaran negara (Gaverment Gazette). Apabila putusan pengadilan menyangkut kewajiban untuk membayar sejumlah uang atau penyerahan barang, maka pengadilan dapat melakukan eksekusi terhadap harta kekayaan yang bersangkutan. Apabila putusan pengadilan menyangkut suatu perintah untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbutan, maka pengadilan dapat melakukan eksekusi dengan menggunakan Hukum Acara Perdata secara mutatis mutandis. 4. Perlawanan pihak ketiga. Apabila terdapat pertentangan putusan pengadilan yang berbeda tingkatan mengenai suatu persoalan yang sarna dan putusan yang telah berkekuatan tetap, maka putusan Mahkamah agung terse but harus dimenangkan/diutamakan. Selanjutnya apabila pertentangan putusan tersebut terjadi atas putusan sesama pengadilan tingkat pertama, maka para pihak atau pihak ketiga yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung yang memohon agar ditetapkan putusan mana yang hams digunakan. Putusan Mahkamah Agung dalam hal in merupakan putusan akhir dan mengikat. 14

19 IX. Peninjauan kembali. Terhadap suatu putusan pengadilan, para pihak atau pihak ketiga yang berkepentingan terhadap putusan tersebut dapat mengajukan permohonan ke pengadilan untuk memohon pemeriksaan dan pemutusan ulang perkara yang bersangkutan dengan syarat-syarat sebagai berikut: - Pengadilan administrasi telah keliru mengenai fakta, untuk itu diharuskan adanya bukti baru. - Pihak yang bersengketa atau pihak ketiga tidak hadir atau kehadirannya ditolak dengan alasan yang tidak mas uk akal sehingga tidak berkesempatan untuk membela kepentingannya - Telah terjadi ketidak pantasan proses pemeriksaan perkara sehingga berakibat putusan tidak adil - Telah terdapat pertentangan fakta dan hukum satu dengan yang lain - Bahwa pihak pemohon atau pihak ketiga terse but sarna sekali tidak mengetahui adanya pemeriksaan perkara yang bersangkutan - Permohonan dapat diajukan setelah 90 (sebilan pulu hari) sejak putusan perkara yang bersangkutan, akan tetapi tidak boleh melebihi jangka waktu lima tahun sejak putusan terse but. 15

20 SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA Nomor Sifat Lampiran Hal B- :L/ 0ei!setneg/Setmen/KTLN/1 0/2009 Biasa Persetujuan penugasan ke luar negen. Jakarta,J Oktober 2009 Yth. Sekretaris Mahkamah Agung di Jakarta Sehubungan dengan surat Saudara nomor 484/SEKl011X12009 tanggal 27 Oktober 2009, dengan hormat diberitahukan bahwa Pemerintah menyetujui penugasan ke luar negeri : 1. Prof. DR. Achmad Sukardja, SH - NIP Hakim Agung, Mahkamah Agung; 2. Oyo Sunaryo, SH - NIP Oirektur Pembinaan TenagaTeknis dan Administrasi Peradilan Tata Usaha Negara, Mahkamah Agung; 3. H. Suglyoto, SH.,MM - NIP Sekretaris Oitjen Badan Peradilan Militer Peradilan Tata Usaha Negara, Mahkamah Agung; 4. H. Siamet Suparjoto, SH.,M.Hum - NIP Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta; 5. Arifln Marpaung, SH.,MH - NIP Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negeri Jakarta; 6. H. Eddy Nurjono, SH - NIP Ketua Penqendalian Tata Usaha Negara Palembang; 7. Dlslplin F. Manao, SH.,MH - NIP Wakil Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar Lampung; 8. Danl Elpah, SH - NIP Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Mataram; untuk melakukan studi banding mengenai Peradilan Administrasi, di Supreme Court of Thailand dan Administrative Court of Thailand, Thailand, tanggal 2 s.d. 5 Nopember Persetujuan Pemerintah ini diberikan dengan ketentuan-ketentuan : 1. Biaya penugasan tersebut dlbebankan pada anggaran Mahkamah Agung; 2. Setelah tiba kembali di Indonesia yang bersangkutan menyampalkan laporan tertulis kepada Sekretariat Negara; 3. Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tanggal 28 Juni 2002, perjalanan yang bersangkutan harus menggunakan perusahaan penerbangan nasional, sepanjang jalumya memungkinkan. ' Tembusan: 1. Sekretaris Menter; Sekretaris Negara 2. Kepala BPKP 3. Dirjen Anggaran dan PK, Depkeu 4. Oirjen Perbendaharaan, Oepkeu 5. Oir. Konsuler, Oep. Luar Negerl Jalan Veteran No , Jakarta Telepon (021) , POI_

21 LAMPlRAN Book of: The Supreme Court of Thailand

22 Preface The Supreme Court originates in the history and civilization of the 1hai people. Appeal (Dika) was the petition that people filed before the King to request his supreme prerogative to abolish any hardship. In the era of the absolute monarchy, the King would himself adjudicate all disputes. Once the royal duty had increased, the Department of Appeal (Dika) Scrutiny was formed to lighten his royal burdens. Subsequently, the Court of the Supreme Commissioner and the Supreme Court were founded respectively. In this manner, the Supreme Court was to established with the duty to expand and strengthen the King's authority over laws and legal pmceedings. Moreover, the Supreme Court was given the authority to exercise jurisdiction over all cases where there is no law designating such jurisdiction to ~ther courts and, according to the royal custom, to be the representative of the judiciary. The Ministry of Justice was formerly responsible for the administration of the Court of Justice. When the Thai Constitution 1997 (BE.2540) stipulated that the administration of the Court of Justice is to be independent, the scope of duties of the President of the Supreme Court increased. In addition to managing cases, the President of the Supreme Court is now also the responsible for the formulation of the administrative policy of the Court of Justice, and the supervision of the Office of the Judiciary, the administrative branch. This book, "The Supreme Court of Thailand", has been published in order to provide knowledge of the history, organizational structure, scope of authority and duties of the Supreme Court as well as the essential role of the President of the Supreme Court. It intended to foster fundamental understanding of the highest court of the land and to commemorate of this institute.

23 2 Chapter 1 History Historically, a Thai King personally decided all disputes. Sometimes his authority was delegated to councilors under his closed scrutiny, thus, this royal supreme authonty was never fully discharged to others. Early in the Rattanakosin Era, the executive and judicial power was not yet separated, the adjudication of cases was the responsibility of different governmental entities. Generally speaking, courts were scattered among several departments whose officials could act as the Judges deciding cases. There was no Supreme Court in the early Rattanakosin t.ra. Citizens appealed directly to the King, as in Ayuthaya era, along his route to places out of the Palace. 1he King thus became the supreme authonty of the Justice system. This appeal system changed from time to time depending upon the reign of the various Kings. During the reign of King Rarna V, an official department for appeals was set up in the Palace. This, however, was not the Supreme Court In its present form. It was more like a section for appeal examination under the direct supervision of the King. In 1891, King Rama V set up the Ministry of Justice and gathered all courts into the Ministry. The former appeal section was transformed Into the Royal Appeal Court. People could stili Oika appeal the case directly to the King subsequent to Royal Appeal Court decisions. In 1898, King Rama V formed a commission to adjudicate Oika appeals. The decision made by such commission was first approved by the King prior to having binding force. The commission acted as the final court of the country, although at that time the commission was not a part of the Ministry of Justice. I ater, such commission became the Supreme Court in its present form. The Judicator Act 1908 was enacted In the reign King Rama V. Tho Supreme Court became the highest court in the country by this Act. Cases, decided by this Court, were no longer appealed to the King. Nonetheless, the Supreme court was reported directly to the King until In the I~eign of King Rarna VI, the Ministry of Justice was reorganized and the Supreme Court was taken into the Ministry. The work of the Ministry of Justice was then comprised court administration and judicial work. The Minister was responsible only for the court administration and not for judicial work.

24 3 The 1932, Thailand adopted a democratic regime of government with tho King as Head of the State and at that time judicial authority became increasingly developed. The Constitution adopted at that time provided that the Judiciary was independent from the Executive. The Judicature Act 1934 was enacted to amend the Judicature Act The courts were divided into three levels: Courts of First Instance, Courts of Appeal and the Supreme Court. The head of the Supreme Court was named tho "President of the Supreme Court". Being independent from the Minister of the Justice Ministry, the President of the Supreme Court was mandated to have the authority to regulate judicial duties, ensuring that the work of the courts was in accordance with law. In 2000, a new dimension in the judiciary of Thailand occurred an independent secretariat has been established for the Courts of Justice. Ihe Office of the Judiciary has autonomy in personnel administration, budget and other activities as provided by law. Presently, the Supreme Court retains tho important status as the highest court of justice in the country and the President of the Supreme Court is the head of the Judiciary. 1he role of the President of the Supreme Court, as provided by the current Constitution, has the ultimate authority over the Courts of Justice both, in court administration and judicial work, completely independent from other branches of government.

25 4 Chapter 2 Organization of the Courts of Justice The Courts of Justice have authority to try and adjudicate criminal, civil, bankruptcy, and all cases which are not within the jurisdiction of other types of courts. When there is a question as to whether a particular case will fall under the jurisdiction of which type of court, the Commission on Jurisdiction of Courts chaired by the President of the Supreme Court is authorized by the Constitution to decide. Such decision is final. The Courts of Justice are classified Into three levels consisting of the Courts of First Instance, the Courts of Appeal and the Supreme Court.

26 5 01' laniwtioll ('hal'l 01!IH' ('11111'1 or.iii lie' III pt' ( III II t,- I,,! IF (:/I I (, \ I \1'1 ~ 1< \ 2.1 The Courts of First Instance The Courts of First Instance are categorized into general courts, juvenile, family and specialized courts. The general courts are ordinary courts which have the jurisdiction to try and adjudicate criminal and civil cases. Those courts are: Civil Courts, Criminal Courts, Provincial Courts and Kwaeng Courts General Courts

27 6 In general courts, except Kwaeng Courts, at least two judges form a quorum. Appeals against a judgment on both questions of law and, subject to some conditions, questions of fact or an order of the general courts is presented before the Courts of Appeal. With respect to the administration of the Provincial Courts and Kwaeng Courts, the Office of the Regional Court of Justice headed by the Chief Judge of each region, is responsible for the courts In the region to some extent. In the case where the Office of the Regional Chief Judge becomes vacant or if the Chief Judge's become unable to perform official duties, the President of the Supreme Court will appoint a judge to the perform duties of such Chief Judge. Regional Chief Judges are regarded as judges of any court In their raqlons With authority to try and adjudicate particular cases, such as cases concerning offences against public security, serious Criminal offences, high value claims and contempt of court. When it is necessary, the I~egional Chief Judge has the authority to order a judge of the court in such region, upon the latter's consent, to work temporarily for not more than three months in another court. The Chief Judge, however, must immediately inform the President of the Supreme Court about such order. Judges are recruited by the Judicial Commission and are appointed by Ilis Majesty the King. Besides having certain qualifications such as being of Ihai nationality, passing the examination of the Thai Bar Association to become a Barrister at-law, and having not less than two years working experience in the legal profession, a candidate must pass a highly competitive examination given by the Judicial Commission. Once candidates are recruited, they have to serve as judge trainees for at least one year In Bangkok Metropolis Civil Courts Under Thai Law, a plaintiff must bring a Civil case before the court where the cause of action arises or where the defendant is domiciled. Where immovable property IS involved, the plaintiff is required to bring a lawsuit to the court where such property is situated, or where the defendant IS domiciled. In l3angkok, Courts of First Instance dealing with civil cases are the Civil Court, the Civil Court of Southern Bangkok, the Thon Buri Civil Court and the Min BUrl Provincial Court. For disputes on civil matters occurring outside the territorial jurisdiction. the Civil Court has the discretion either to try and adjudicate those cases or to transfer them to the court having territorial jurisdiction. Criminal Courts In criminal cases, the court in the district where the accused resides or is arrested, or where an inquiry official has made the investigation makes an inquuv has Jurisdiction over the cases. In Bangkok,

28 7 Courts of First Instance handling criminal cases are the Criminal Court, the Criminal Court of Southern Bangkok, the Thon Buri Criminal Court and the Min Buri Provincial Court. Criminal Courts have the discretion either to try and adjudicate criminal cases arising outside its territorial jurisdiction brought before it or to transfer them to the court having territorial jurisdiction. The Min Buri Provincial Court The Min Buri Provincial Court, the only provincial court in Bangkok Metropolis, deals with both civil and criminal cases arising in the northern part of Bangkok Metropolis. The character of this court is the same as general provincial courts. Kwaeng Courts The primary function of Kwaeng Courts is to dispose of small cases quickly with a minimum formality and expense. The jurisdiction of these courts covers both criminal and civil cases. Criminal cases that fall under this jurisdiction pertain to criminal offences punishable by a maximum of three years imprisonment, or fine not exceeding 60,000 Baht or both. For civil cases, the claim amount must not exceed 300,000 Baht. Proceedings in Kwaeng Courts emphasize a speedy trial, therefore, the trial is tends to be simple and oral judgments or summary judgments are issued In other Provinces Provincial Courts Provincial Courts exercise unlimited original jurisciction in all general civil and criminal matters within their own districts, which are generally the provinces themselvos. for the purpose of expansion of services of the court to distance areas, some provinces may have more than one Provincial Court. Where a case within the jurisdiction of the Kwaeng Court is brought to the Provincial Court, such cases are transferred to Kwaeng Courts. Provincial Kwaeng Courts The jurisdiction of Kwaeng Courts in other provinces is the same as Kwaeng Courts in l3angkok Metropolis as explained above Juvenile and Family Courts Juvenile and Family Courts consist of the Contral Juvenile and Family Court, the Provincial Juvenile and Family Courts, and the Division of Juvenile and Family Courts in Provincial Courts. Two career judges and two associate judges, one of whom must be a woman, constitute a quorum for Juvenile and Family Courts. An appeal against a judgment or order of Juvenile and Family Courts is presented before Courts of Appeal Specialized Courts

29 8 There are four specialized courts in Thailand, the Labour Court, the Tax Court, the Intellectual Property and International Trade Court, and the Bankruptcy Court. The establishment of the specialized courts is to ensure that specific m technical problems will be heard before an appropriate judge. Judges of specialized courts are appointed from judges who possesses competent knowledge and expertise of the specific matters. Quorums for two of the specialized courts, namely the Labour Court and the Intellectual Property and International Trade Court, consists of both career judges and associate judges. Associate judges are laymen recruited specifically to work together with career judges in adjudicating cases. 3.2 The Courts of Appeal The Courts of Appeal consist of the Court of Appeal and nine Regional Courts of Appeal. The Court of Appeal handles appeals against judgments or orders of the Civil Courts and the Criminal Courts. Meanwhile, the Regional Courts of Appeal handle appeals against the judgments or orders of the other Courts of First Instance. The jurisdictions of the Regional Courts of Appeal are consistent with the jurisdictions of the Courts of First Instance Region 1-9. The Courts of Appeal is divided into divisions, each division has one chief justice and two other justices. At least three justices me required to Iorrn a quorum. An appeal on questions of law and, subject to certain specified restrictions, on questions of fact is brought before the Courts of Appeal and then to the Supreme Court. Justices of the Courts of Appeal are appointed from among judges of the Courts of First Instance with seniority, extensive knowledge and experience. Each Court of Appeal has a Research Division consisting of research judges. The primary functions of the division are to assist justices of the Courts of Appeal by examining all relevant factual and legal issues of the cases, conducting legal research and discussing with those justices to ensure consistant and fair results. 3.3 The Supreme Court The Supreme Court is the final court of appeal in all civil and criminal cases in the entire Kingdom. The Court consists of the President, Vice - Presidents, the Secretary and a number of justices. It is divided into divisions with three justices in each division. The President of the Supreme Court is also the head of the Courts of Justice. In the present system of the Courts of Justice, the President of tho Supreme Court plays the pivotal role in all judicial and administrative works. justices. Like the Courts of Appeal, the Supreme Court also has a Research Division consisting of research At least three justices of the Supreme Court form a quorum The Court may, however, sit in plenary session to determine cases of exceptional importance and cases where there are reasons for

30 9 reconsideration or overruling of precedents. The quorum for the full Court is not less than half of the total number of justices on the Supreme Court. Justice of the Supreme Court shall be appointed from among justices of the COUI"tsof Appeal with seniority, extensive knowledge and experience. As a result of the 1997 Constitution, the Criminal Division for Iioiders of Political Positions was set up within the Supreme Court to act as a trial court for cases where the Prime Minister, a minister, member of the House of Representatives, senator or other political official is accused of becoming unusually wealthy, committing malfeasance in office according to the Criminal Code, performing duties dishonestly, or of corruption under to other laws. During a trial, a member of the House of Representatives or a senator is unable to claim the immunity provided in the Constitution. The Criminal Division for Iioiders of Political Positions in the Supreme Court must rely on records from the National Counter Corruption Commission and may investigate to receive additional facts and evidence as it deems fit. The quorum for this special division of the Court consists of nine justices of the Supreme Court who hold a position of not lower than justice of the Supreme Court, and are elected by a plenary session of the Supreme Court justices on a case by case basis. Judgments will be made by a majority of votes; provided that each justice constituting the quorum will prepare a written opinion and make oral statements to the meeting before making decision. Orders and decisions of the Criminal Division for Holders of Political Positions in the Supreme Court will be disclosed and final.

31 10 Chapter 3 Authority and Organizational Structure of the Supreme Court The Supreme Court is the highest court of the Kingdom with jurisdiction throughout the nation in all kinds of appeal cases from the lower courts in accordance with the law. A party who challenges an order or a judgment issued by the Courts of First Instances, the Court of Appeal or tho Courts of Appeal Regions I - IX has the right to appeal against the lower court's order or Judgment under conditions required under the law. Moreover, specialized laws such as the procedural laws on labour, tax and intellectual property and international trade allow parties to appeal against judgments of such specialized courts directly to the Supreme Court. An order or a judgment of the Supreme Court in all kinds of cases is final. judges. The President of the Supreme Court is the head of the Court and has the highest position among At least three justices of the Supreme COUI-tform a quorum. At present, the Supreme Court has divided the justices internally into 25 chambers. Each chamber has three justices. Ihe most senior justice in a chamber is the presiding justice of that chamber. The Supreme Court may sit in plenary session (the full court) to determine cases when the President of the Supreme Court views that it is appropriate or If there is a requirement to do so under a specific law. The quorum of the plenary session consists of all Justices of the Supreme Court who are present in the Court on the date the plenary session is held but not less than half of the total number of justices of the Supreme Court. The Supreme Court has eight divisions for specialized cases, namely, the Juvenile and Family Division, the Labour Division, the Tax Division, the Intellectual Property and International Trade Division, the Bankruptcy Division, the Criminal Division for Holders of Political Positions, the Commercial Division and the Administrative Division. Each division has about 10 justices assigned by the President of the Supreme Court and also has one Chief Justice or Presiding Justice supervising the work of a division. Following the adoption of 1997 Constitution, the Criminal Division for Iioiders of Political Positions was set up in the Supreme Court to act as a trial court in cases where the Prime Minister, a Minister, a member of the House of Representatives, a senator or other political official is accused of becoming unusually wealthy, committing malfeasance in office according to the Criminal Code, performing duties dishonestly, or of corruption under other laws. The quorum of this special division of the supreme Court consists of nino justices of the Supreme Court who hold positions of not lower than justices of the Supreme Court, and are elected by a plenary

32 11 session of the Supreme Court on a case by case basis. A judgment will be made by a majority of votes; provided that each justice constituting the quorum will prepare a written opinion and make oral statements to the meeting before a making decision. Orders or judgments of the Supreme Court Criminal Division for Holders of Political Positions must be disclosed and final. The 1997 Constitution also designates several duties to the Supremo Court including the selection of five justices of the Supreme Court to be justices of the Constitution Court and nomination of five qualified persons to the Chairman of the House of Senate for the selection of an Election Commissioner.

33 12 Chapter 4 Adjudication of the Supreme Court Appeals against judgments of the lower courts to the Supreme Court will be assigned to a justice of the Supreme Court by the President of the Supreme Court on a case by case basis. Some kinds of cases, such as labour, tax, bankruptcy, juvenile and family, intellectual property and international trade or some criminal cases in which the defendants are in custody during trials arc given priority to be adjudicated urgently. As mentioned in Chapter 3, justices in the specialized divisions of the Supreme Court will adjudicate specialized cases within the division. The Supreme Court has a Research Division consisting of research justices and associate research judges. The primary function of the division is to assist justices of the Supreme Court by examining all relevant factual and legal issues of the cases, conducting legal research and discussing with those justices to ensure consistent and fair results. In addition, each specialized division has research justices and associate research judges appointed as the secretary and assistant secretaries to the division. The Secretary of the Supreme Court will assign research justices and associate research judges to assist the justices of the Supreme Court by initially examining factual and legal issues set forth in the drafts of the judgments of the Supreme Court. The research justices or associate research judges will then make comments, consult with and submit the drafts to the senior research justices who are authorized to review the drafts. The drafts with comments will later be submitted to the Vice - Presidents of the Supreme Court and the President of the Supreme Court respectively for final approval. When a research justice who examines a draft judgment disagrees with a question of fact or law appearing in the draft, he or she may initially seek advice from a senior research justice before consultation with a justice who presided over such case and who drafted the judgment. If there is disagreement between the research justice and the justice who drafted the judgment, the research Justice may attach the draft with his or her comments and suggestions before submitting the documents to the senior research justice, the Vice - President and the President of the Supreme Court, respectively. Ihe President of the Supreme Court may agree with the presiding justice or may suggest the latter to review tho draft. If the President of the Supreme Court considers that the issues appearing in such judgment are crucial, he may refer the case to the consideration of the plenary session of the Supreme Court. When the President of the Supreme Court, the authorized Vice - President of the Supreme Court or the authorized Chief Justice of the specialized division approves the draft, the draft will then be processed

34 13 under the administrative system of the Supreme Court and sent in a sealed envelope to tho Court of First Instance for pronouncement.

35 14 Work Flow of the Supreme Court. Appeal from the lower court. 1 Initial process of administrative work. 1 President of the Supreme Court assigns a caso to a justice of the Supreme Court.. 1 Adjudication Process of the quorum of the Supreme Court. 1 A draft of judgment or order is released. 1 Examination process by the Research Division or approval process by a specialized division. 1 Transmission of a case file with a Judgment of the Supreme Court to the COUI"tof First Instance for pronouncement.

36 15 Chapter 5 Organization of Court Administration The Office of the Supreme Court is responsible for the administration of the courts and all staff and it supports the work of all justices of the Supreme Court. There are 6 divisions in the Office. 5.1 General Administration Division This division is responsible for sending, receiving, draftinq, filing and printing official documents; annual budgets; building maintenance; office supplies and procurement; vehicles; security and monitoring of employees of the Supreme Court. 5.2 Division of Adjudication This division is responsible for receiving, examining and filing complaints, requests, applications and arguments; collecting statistics; and monitoring compromise agreements between parties. 5.3 Division of Orders This division is responsible for receiving general requests and bail, drafting and submitting orders for the Vice Presidents and the President to approve. 5.4 Division of Judgments This division is responsible for printing, revising, modifying and dispatching judgments and orders, as well as returning the case files to the lower courts and following upon the pronouncement of Supreme Court Judgments. 5.5 Division of Legal Officers This division is responsible for providing lawyers, legal resources to research judges and justices, arranging for quorums or sections and the plenary meetings of the Supreme Court. 5.6 Criminal Division for the Holders of Political Positions

37 16 Chapter 6 Role of the President of the Supreme Court The Constitution of the Kingdom of Thailand, Section 275, stipulates that "The Courts of Justice shall have and independent secretariat, with the Secretary-General of the Office of the Courts of Justice as the superior responsible directly to the President of the Supreme Court of Justice. The appointment of the Secretary-General of the Office of the Courts of Justice must be approved by the Judicial Commission of the Courts of Justice. The Office of the Courts of Justice shall have autonomy in personnel administration, budget and other activities as provided by law." The Courts of Justice consequently are independent from the Ministry of Justice. The President of the Supreme Court of Justice thus becomes the highest administrator of the Courts of Justice both in judicial and in administrative affairs. The Office of the Courts of Justice is the supportive office to the President of the Supreme Court on administration, budget and other essential policy of the Courts of Justice. The President of the Supreme Court is responsible for a variety of functions many as follows: 6.1 The Head of Judiciary Holding highest judicial position, the President of the Supreme Court has the authority and positions, according to the Judicature Act and the Judicial Officials Act, as follows to issue judicial rules so as to ensure justice equally, fairly and efficiently; to issue managerial regulations with the approval of the Judiciall\dministration Commission; to serve as the Chairman of the Judicial Commission whose responsibility is to provide judicial independence for judges; to approve or disapprove the resignation of a Judge; to appoint, promote and transfer a judge with the approval of the Judicial Commission; and to order judicial disciplinary action. 6.2 The Top Executive of the Judiciary The President of the Supreme Court is the top executive of the Courts of Justice, the same role filled by the Minister of Justice before the constitutional separation of power. I\ccording to the Judicial Administration Act, the President shall have authority as follow: to determine the policy for the Courts of Justice;

38 to be in charge and keep control of acts related to the Courts of Justice; to serve as the chairman of the Judicial Administration Commission whose responsibility is to provide assistance and advice to the President on administrative matters; to approve the structure and responsibilities of divisions in the organization; and to supervise of the Secretary-General. 6.3 Other Responsibilities pursuant to the Constitution The President of the Supreme Court serve as: to be a member of the Selection Committee for Judges of the Constitutional Court; a member of the Selection Committee for members of the Counter Corruption Commission; a member of the Selection Committee for members of the Audit Commissioners; and the Chairman of the Committee for Jurisdictions of Courts.

39 18 Chapter 7 International Relations 7.1 Judicial Agreement At present, Thailand has entered into four bi-lateral treaties with the Republic of Indonesia, the People's Republic of China, the Commonwealth of Australia and the Kingdom of Spain, on the service of judicial documents and taking of evidence. The objective of them four agreements is to establish direct contact between the Office of the Judiciary and the Ministries of Justice in the said countries for service of process, judicial documents and mutual assistance in the taking of evidence between the Courts in Thailand and their counterparts. These agreements shorten the process of mutual assistance by bypassing the diplomatic channel, that is, requests for assistance can be addressed directly to the court of the other country through the Ministry of Justice or, in the case of Thailand, the Office of the Judiciary and hence saves some valuable time in the process. For the other countries, in the absence of an international agreement with Thailand, the Civil Procedure Code shall apply in accordance with the principle of internalional reciprocity and comity. Any request shall be done via diplomatic channels. 7.2 International Cooperation The Thai Judiciary has been recognized internationally for upholding social justice and the full protection of fundamental human rights. Some countries in /\sia, especially those in the Indochina region, contemplate the roles and structures of the Thai Judiciary as a reference for the reformation and improvement of their justice systems. These countries, also, have requested the assistance of the Court of Justice in organizing legal and administrative training programs, arrangement for study visit of judicial officials, as well as arrangement to send Thai judges with special expertise to their countries in order to provide assistance in the establishment of domestic laws. Every year various groups of judges, senior legal officials, university professors and legal practitioners from abroad visit the Supreme Court for the purpose of observation and exchange of views and experience on the development of judicial systems, the structuring of the Court and its activities. The Supreme Court of Thailand also sends delegations abroad to participate in international conferences and visit foreign courts, relevant agencies and universities to study and research about the judicial system and laws of the other countries in order to keep pace with the new developments of judicial administration and laws. 7.3 The Roles of the President of the Supreme Court-International Functions

40 19 In the international arena, the President of the Supreme Court, as the leader of tho Judiciary, plays the following important roles The President of the Supreme Court has been designated as the representative of the Judiciary, which is one of the three branches of sovereign power, to pay courtesy calls and exchange views related to judicial and legal matters with the heads of states that formally visit Thailand as honored guests of His Majesty and Her Majesty The President of the Supreme Court is the Thai delegate who participates in the Conference of Chief Justices of Asia and the Pacific Region held every three years to exchange views on suitable roles of Courts of Justice and development of judicial administration The President of the Supreme Court is a member of National Committee of the Asean Law Association for Thailand consisting of legal professionals in both government and non-government sectors aiming at strengthening the relationship and cooperation as well as the exchange of legal knowledge and innovation of new laws among Asean countries Being the representative of the Thai Judiciary, the President of the Supreme Court goes abroad to strengthen relationships with and cooperation among the Judiciary of the other countries and to exchange views on issues relating to Judicial system and laws.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

SKRIPSI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI SKRIPSI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI Diajukan oleh : KLANSINA IRENE DUWIRI NPM : 07 05 09701 Program Studi Program Kekhususan : Ilmu Hukum : Peradilan dan Penyelesaian Sengketa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

Oleh SIGIT PRIAMBODO E1A008234. Disusun untuk meraih gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman

Oleh SIGIT PRIAMBODO E1A008234. Disusun untuk meraih gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman LEMBARAN PENGESAHAN SKRIPSI PENCEMARAN NAMA BAIK TERHADAP BADAN HUKUM MELALUI MEDIA MASSA SEBAGAI DELIK ADUAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 183 K/PID/2010) Oleh SIGIT PRIAMBODO

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

KAJIAN YURIDIS PEREDARAN MATA UANG ASING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA

KAJIAN YURIDIS PEREDARAN MATA UANG ASING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA KAJIAN YURIDIS PEREDARAN MATA UANG ASING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA Disusun Oleh : SIGAP DHARMA APRIDHIKA E1A008014 SKRIPSI Untuk memenuhi salah satu pra-syarat memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 158/PMK. 01/2012 TENTANG BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 158/PMK. 01/2012 TENTANG BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 158/PMK. 01/2012 TENTANG BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA Sumber gambar: twicsy.com I. PENDAHULUAN Profesi jaksa sering diidentikan dengan perkara pidana. Hal ini bisa jadi disebabkan melekatnya fungsi Penuntutan 1 oleh jaksa,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, enimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

Pengajuan Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali Tagihan Bea Masuk

Pengajuan Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali Tagihan Bea Masuk Pengajuan Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali Tagihan Bea Masuk ABSTRAK Importir yang tidak setuju atas penetapan tarif dan/atau nilai pabean oleh pihak pabean sehingga mengakibatkan tambah bayar

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa ketentuan-ketentuan mengenai pemberhentian Pegawai

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR : 04/PMK/2004 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR: 05/PMK/2004 TENTANG PROSEDUR PENGAJUAN KEBERATAN ATAS PENETAPAN HASIL PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2004 MAHKAMAH

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN PERKARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap pencari keadilan dimanapun. Undang-Undang Nomor 48 Tahun

Lebih terperinci

BIDANG PENGAWASAN MELEKAT

BIDANG PENGAWASAN MELEKAT II. BIDANG PENGAWASAN MELEKAT 1. Ruang Lingkup Pengawasan a. Meliputi Penyelenggaraan, Pelaksanaan, dan Pengelolaan organisasi, administrasi dan Finansial Pengadilan; b. Sasaran Pengawasan : Aparat Pengadilan.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN KERJA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA. Presiden Republik Indonesia,

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA. Presiden Republik Indonesia, UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa dalam rangka usaha mencapai tujuan nasional yaitu mewujudkan

Lebih terperinci

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO Syarat-Syarat Berperkara Secara Prodeo 1. Anggota masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis dapat mengajukan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

KELENGKAPAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN (SOM) DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PADA 9 KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA SEMARANG

KELENGKAPAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN (SOM) DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PADA 9 KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA SEMARANG KELENGKAPAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN (SOM) DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PADA 9 KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA SEMARANG Oleh: ADHYARANI PRISSILIA ADIWASONO NIM : 232007002 KERTAS

Lebih terperinci

Potensi Kenaikan Biaya Pajak Bila SPT Terpisah

Potensi Kenaikan Biaya Pajak Bila SPT Terpisah IES Bulletin Maret 2012 KPMG Hadibroto Potensi Kenaikan Biaya Pajak Bila SPT Terpisah Hal- hal untuk diketahui pasangan dengan NPWP Terpisah Q & A berikut bertujuan untuk menyediakan informasi perpajakan

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM Perbaikan Tgl. 28-02-2012 MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM NOMOR : 1/DJU/OT.01.03/I/2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 MAHKAMAH AGUNG RI 2008 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... iii Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : KMA/032/SK/IV/2007

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 536 TAHUN 2013 TENTANG

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 536 TAHUN 2013 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR TAHUN 0 TENTANG TENAGA KEPENDIDIKAN TETAP NON PNS UNIVERSITAS BRAWIJAYA REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Lebih terperinci

HAK ANAK ANGKAT DARI ORANG TUA ANGKAT DALAM HUKUM ISLAM (Studi Pada Pengadilan Agama Medan)

HAK ANAK ANGKAT DARI ORANG TUA ANGKAT DALAM HUKUM ISLAM (Studi Pada Pengadilan Agama Medan) HAK ANAK ANGKAT DARI ORANG TUA ANGKAT DALAM HUKUM ISLAM (Studi Pada Pengadilan Agama Medan) TESIS Oleh : TRESNA HARIADI NIM : 027011065 PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keuangan negara merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding:

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding: Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding: 1. Permohonan banding harus disampaikan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan agama/mahkamah syar iah dalam tenggang waktu : a. 14 (empat belas)

Lebih terperinci

REGULASI MENGENAI HUKUM ACARA AJUDIKASI SENGKETA PEMAIN DI KOMITE STATUS PEMAIN. Pasal 1 Ketentuan Umum

REGULASI MENGENAI HUKUM ACARA AJUDIKASI SENGKETA PEMAIN DI KOMITE STATUS PEMAIN. Pasal 1 Ketentuan Umum REGULASI MENGENAI HUKUM ACARA AJUDIKASI SENGKETA PEMAIN DI KOMITE STATUS PEMAIN Pasal 1 Ketentuan Umum (1) Pemain adalah pemain sepak bola yang terdaftar di PSSI. (2) Klub adalah Anggota PSSI yang membentuk

Lebih terperinci

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA 1958 Konvensi mengenai Pengakuan

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN. ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram )

JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN. ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram ) i JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram ) Oleh : L I S M A Y A D I D1A 009 211 FAKULTAS HUKUM

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH. Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

JURNAL ILMIAH. Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM JURNAL ILMIAH ASPEK HUKUM PENGALIHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN MENJADI LAHAN PERTANIAN (NON HUTAN) DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS

Lebih terperinci

A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN. Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail.

A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN. Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail. A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail.com INDONESIAN PASSIVES With the Prefix di- Rumah itu akan dijual.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

BIAYA PERKARA UNDANG-UNDANG NO. 50 TAHUN 2009

BIAYA PERKARA UNDANG-UNDANG NO. 50 TAHUN 2009 BIAYA PERKARA UNDANG-UNDANG NO. 50 TAHUN 2009 1 TAKAH RAKERPTA 2012 Pasal 91A UU NO. 50 TAHUN 2009 (1) Dalam menjalankan tugas peradilan, peradilan agama dapat menarik biaya perkara. (2) Penarikan biaya

Lebih terperinci

REGULASI NOMOR 28/2001 TENTANG PENDIRIAN DEWAN MENTERI

REGULASI NOMOR 28/2001 TENTANG PENDIRIAN DEWAN MENTERI UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor UNTAET NATIONS UNIES Administration Transitoire des Nations es au Timor Oriental UNTAET/REG/2001/28 19 September 2001 REGULASI NOMOR

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

ELYAKIM SNEKUBUN NOMOR MAHASISWA 125201899/PS/MIH

ELYAKIM SNEKUBUN NOMOR MAHASISWA 125201899/PS/MIH TESIS SINKRONISASI DAN HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERHADAP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PEMBERIAN GANTI KERUGIAN PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM ELYAKIM SNEKUBUN NOMOR MAHASISWA 125201899/PS/MIH

Lebih terperinci

KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI. http://www.antarajateng.

KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI. http://www.antarajateng. KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI http://www.antarajateng.com I. PENDAHULUAN Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN Translated from English to Indonesian Steps in the Prosecution Process Translated June 2013 LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA JAKARTA 2014 STANDAR PELAYANAN PERADILAN DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA I. KETENTUAN UMUM A. Dasar Hukum 1. Undang-undang

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTUR JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTUR JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTUR JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM Nomor : 52/DJU/SK/HK.006/5/ Tahun 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN MAHKAMAH

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

PARTNERS. * Hengki M. Sibuea, Founder dan Senior Partner pada Kantor Hukum HENGKI SIBUEA &

PARTNERS. * Hengki M. Sibuea, Founder dan Senior Partner pada Kantor Hukum HENGKI SIBUEA & PENERAPAN RASA KEADILAN YANG BERTENTANGAN DENGAN JUMLAH YANG SUDAH DISEPAKATI ADALAH PERTIMBANGAN YANG KELIRU Oleh: Hengki M. Sibuea * Topik tersebut merupakan pertimbangan hukum Majelis Hakim Kasasi pada

Lebih terperinci

HAL-HAL YANG PERLU PENGATURAN DALAM RUU PERADILAN MILITER

HAL-HAL YANG PERLU PENGATURAN DALAM RUU PERADILAN MILITER 1. Pendahuluan. HAL-HAL YANG PERLU PENGATURAN DALAM RUU PERADILAN MILITER Oleh: Mayjen TNI Burhan Dahlan, S.H., M.H. Bahwa banyak yang menjadi materi perubahan dalam RUU Peradilan Militer yang akan datang,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 19 Tahun

Lebih terperinci

PSN 05-2006 PSN. Pedoman Standardisasi Nasional. Tenaga Ahli Standardisasi untuk Pengendali Mutu Perumusan SNI. Badan Standardisasi Nasional

PSN 05-2006 PSN. Pedoman Standardisasi Nasional. Tenaga Ahli Standardisasi untuk Pengendali Mutu Perumusan SNI. Badan Standardisasi Nasional PSN 05-2006 PSN Pedoman Standardisasi Nasional Tenaga Ahli Standardisasi untuk Pengendali Mutu Perumusan SNI Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar Isi...i Kata Pengantar... ii 1 Ruang Lingkup...

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy Perjanjian ini dibuat pada hari ini, , tanggal , bulan tahun (dd-mm-yyyy), antara: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia,

Lebih terperinci

Curriculum Vitae (CV)

Curriculum Vitae (CV) Curriculum Vitae (CV) Personal Data Name : Jamin Ginting Address : Medang Lestari, B 3 / C-10 Medang, Pegedangan, Tangerang, Indonesia Place / Date of Birth : Medan/ October 23, 1972 Religion : Christian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa wakaf adalah suatu lembaga

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Tentara Nasional Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

KODE ETIK PANITERA DAN JURUSITA

KODE ETIK PANITERA DAN JURUSITA KODE ETIK PANITERA DAN JURUSITA KETENTUAN UMUM Pengertian PASAL 1 1. Yang dimaksud dengan kode etik Panitera dan jurusita ialah aturan tertulis yang harus dipedomani oleh setiap Panitera dan jurusita dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF ACTS OF NUCLEAR TERRORISM (KONVENSI INTERNASIONAL PENANGGULANGAN TINDAKAN TERORISME

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI DI PENGADILAN

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI DI PENGADILAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 144/KMA/SKNIII/2007 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI DI PENGADILAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG MENTERI KETENAGAKERJAAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA PUBLIKDONESIA PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH AKIBAT HUKUM AKTA BUKU NIKAH YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

JURNAL ILMIAH AKIBAT HUKUM AKTA BUKU NIKAH YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 1 JURNAL ILMIAH AKIBAT HUKUM AKTA BUKU NIKAH YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 Oleh : DESFANI AMALIA D1A 009183 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci