MILlK KEMENTEfiUAN AGAMA RI TiDAK 61PERJUAL 8ELlKAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MILlK KEMENTEfiUAN AGAMA RI TiDAK 61PERJUAL 8ELlKAN"

Transkripsi

1 MILlK KEMENTEfiUAN AGAMA RI TiDAK 61PERJUAL 8ELlKAN K lompok Binaan Zakat

2 MILIK KEMENTERIAN AGAMA RI TIDAK DIPERJUAL BELIKAN PETUNJUK PELAKSANAAN KELOMPOK BINAAN ZAKAT Direktorat Pemberdayaan Zakat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI TAHUN 2011

3 KATA PENGANTAR Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Agama, dalam hal ini Oirektorat Pemberdayaan Zakat dalam rangka mensosialisasikan sekaligus merealisasikan Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 1999 tentang PengelolaanZakat, salah satunya adalah dengan cara mengoptimalkan fungsi dan peran arnil, muzakki dan juga Mustahik secara sinergi. Oi sisi lain, pengoptimalisasian tersebut masih bersifat parsial, terbatas hanya pada lembaga zakat besar, baik BAZ maupun LAZ termasuk UPZ yang notabenenya berada pada lingkungan ataupun tempat tertentu yang terkadang kurang menyentuh masyarakat bawah. Misalnya UPZdari SAZ provinsi di tempatkan di bank-bank, bandara, super market [mall besar) ataupun perusahaan-perusahaan besar lainnya, tanpa menoleh mereka yang ada dipinggiran. Padahaltidak sedikit dari mereka yang 'dipinggiran' memiliki potensi, baik sebagai muzakki, apalagi mustahiq. Untuk itu, kami menyambut baik terbitnya buku "Petunjuk PelaksanaanKelompok Binaan Zakat" ini, kerena di dalamnya memuat hal-hal pokok yang perlu disosialisasikan di lingkungan masyarakat, antara lain tentang pemahaman yang konfrehensif dan modern tentang seluruh potensi dan peluang yang ada, Juklak Ke/ompok Binaan Zakat I iii

4 dalam rangka membentuk kelompok-kelompok binaan zakat. Hadirnya buku ini, diharapkan menjadi terobosan baru serta mendapat perhatian dari semua pihak. Terakhir, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut memberikan kontribusi pemikiran dalam penyusunan buku ini. Semoga Allah Swt memberkati niat baik dan upaya yang kita lakukan. Amin, semoga bermanfaat Jakarta, Juli 2011 iv IJuklak Kelompok Binaan lakat

5 DAFTAR 151 KATA PENGANTAR DAFTAR iii v BAB I PENDAHUlUAN 1 A. LATAR BELAKANG... 1 B; DASAR HUKUM 4 C. TUJUAN... 5 D. SISTIMATIKA 6 BAB II PEMBENTUKAN KElOMPOK BINAAN ZAKAT... 7 A. PENGERTIAN DAN TUJUAN 7 B. YANG BERHAK DAN LANGKAH PEMBENTUKAN KBZ... 9 C. TUGAS DAN KRITERIA SURVEY E. PETUNJUK PEMILIHAN ANGGOTA 16 F. METODE PENYULUHAN ZAKAT 21 G. TUJUAN, MANFAAT DAN SASARAN 28 H. SIAPA YANG BERHAK MEMBERIKAN PENYULUHAN 30 I. PENGETAHUAN DAN PERANAN PENYULUH ZAKAT 31 J. PENYUSUNAN PROGRAM 38 Juklak Kelompok Binaan Zakat I v

6 BAB III TAHAP PEMBINAAN 39 A. OPTIMALISASI 39 B. PASCA KEGIATAN 40 C. LATIHAN PENGUMPUL ZAKAT 41 D. PENGUMPULAN DAN PEMANFAATA IZt,;(;..T 47 BAB IV TAHAP PEMANTAPAN ~ A. STUDI LAPANGAN 55 B. LATIHAN PENGEMBANGAN 56 C. PELAKSANAAN PELATIHAN 56 D. PENINGKATAN DAN PELAKSANAAN 60 BAB V PENCATATAN DAN PELAPORAN 63 A. TAHAP PERSIAPAN 63 B. TAHAP PEMBINAAN 64 C. TAHAP PEMANTAPAN 65 BAB VI PEN U T UP LAMPI RAN- LAMPIRAN 69 TIM PENYUSUN BUKU JUKLAKKElOMPOK BINAAN ZAKAT 96 vi IJUklak Kelompok Binaan Zakat

7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia, disebut-sebut oleh banyak orang, mulai dari birokrat, politisi, akademisi, cendikiawan, mahasiswa dan bahkan oleh rakyatsekalipun adalah negarayang kava.sebutan itu bukan tanpa alasan, kalau pada kalangan atas dengan segala pengetahuan dan data yang mereka miliki mungkin wajar, akan tetapi banyak juga rakyat yang menyatakan hal yang sama. Sebutan ini dinyatakan dengan pandangan kasat mata, misalnya mereka melihat betapa banyaknya batu bara yang ada di ranah Nusantara ini, ribuan dan bahkan jutaan kebun kelapa sawit dan juga karet, sumber-sumber minyak, hasillaut dan masih banyak sumber daya alam (SDA) lainnya, hebatnya, kesemuanya itu terdapat hampir diseluruh wilayah Indonesia. Pajak, yang sering digaungkan dan dibicarakan, juga menjadi bagian dari penghasilan negara yang cukup besar nilainya. Bahkan ada guyon yang tak asing dan sering kali terdengar 'tidak ada yang tidak terkena pajak'. Artinya, penghasilan pajak yang triliyunan jumlahnya itu memberikan )uklak Kelompok Binaan Zakat I 1

8 sumbangan besar kepada bangsa ini. Ironinya, berbagai kekayaan yang dikemukakan di atas, nyaris belum begitu dirasakan keberadaannya oleh banyak rakyat Indonesia, jangankan mereka yang ada di desa-desa, yang pinggiran kotapun belum tersentuh. Ketika krisis multi dimensi melanda bangsa ini, ada satu hal yang ironi dan nyata di depan mata kita, ada pemandangan yang sangat bertolak belakang, dimana kemiskinan dan kemegahan saling bertatapan. Ada yang miskin dengan segudang rona de rita diwajahnya, sementara dihadapannya berdiri sosok yang penuh dengan kemegahan. Yang miskin semakin terpuruk dalam kemiskinannya, sementara yang kava semakin kokoh berdiri. Inilah yang dimaksud ironi. Kenyataan yang bertolak belakang ini adalah imbas dari hilangnya solidaritas sosial yang pernah menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan. Saat itu bangsa ini saling bahu membahu menegakkan kemerdekaan, dan mengibarkan bendera kemenangan. Yang kava dan yang miskin saling membantu. Solidaritas tersebut akhirnya melahirkan ketahanan dan kestabilan bangsa. Jika kita amati secara seksama, ironi di atas tadi tidak perlu terjadi, jika nilai-nilai solidaritas dapat diterapkan dengan baik. Kemiskinan dan kelaparan tidak mungkin terjadi seandainya orang-orang yang mampu mau menyisihkan harta miliknya untuk membantu. Belum lagi, Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang mayoritas berpenduduk agama Islam. Artinya, ketika nilai-nilai keislaman dijalankan sesuai dengan aturan syariat, niscara akan terwujud masyarakat 2 IJUkiak Kelompok Binaan Zakat

9 yang berkeadilan, yang miskin membantu yang kava dan yang kava membantu yang miskin. Sayangnya, fenomena ini belum terwujud secara maksimal. Sebagai contoh, pemberdayaan zakat, baik muzakki, mustahiq, pengelolaan rnaupun peruntukannya belum menyentuh kehidupan mereka-mereka yang berada dipinggiran dan juga di desa-desa. Para muzakki hanya cenderung mereka yang kava dan berdomisili di perkotaan. Padahal, tidak sedikit mereka yang tergolong muzakki juga banyak yang berdomisili dipinggiran kota maupun di desa. Demikian pula dengan mustahiq, karena para muzakkinya berasal dari kota, dan dana zakat tersebut dikelola oleh orang kota, maka mereka yang menjadi sasaranpun adalah mustahiq kota atau disekitar wilayah tersebut. Kalaupun sampai ke pelosok atau ke desa, tak lebih hanya sekedar beras beberapa kilogram ataupun berupa hewan ternak yang kemudian menjadi konsumsi. Disini terlihat jelas, bahwa azas berkeadilan belum terbentuk secara maksimal, kepedulian antar sesama juga belum tumbuh optimal, solidaritas kelompok kava marjinal belum dimanfaatkan dan lain sebagainya. Belum lagi bicara tentang prokduktifitas dana zakat agar tidak hanya sebatas konsumtif, lebih dari itu, harus produktif Dengan harapan dana produktif tersebut dapat dirasakan secara continuitas oleh masyarakat. Dana zakat, memiliki peran penting sebagai elemen penunjang dakwah dan pengembangan umat. Selain itu, juga dapat menjadi sumber pendanaan yang sangat potensial )uklak Kelompok Binaan Zakat I 3

10 B. DASAR HUKUM Kelompok Binaan Zakat (KBZ) ini dibentuk berdasarkan usulan, saran dan fakta di lapangan dengan berdasarkan kepada beberapa aturan yang telah ditetapkan, balk Undangdan akan menjadi sebuah kekuatan pemberdayaan ekonomi umat dan pemerataan pendapatan. Tujuan dan hikmah zakat sebagai pranata keagamaan memiliki kaitan secara fungsional dengan upaya pemecahan masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, bahkan lebih jauh lagi akan dapat meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran akan pentingnya nilai-nilai solidaritas, dan juga untuk mengoptimalkan kerja timbal balik, serta agar dana zakat lebih berdaya guna, serta saran dan usulan pengurus lembaga pengelola zakat dari berbagai daerah, Direktorat Pemberdayaan Zakat berinisiatif membentuk Kelompok Binaan Zakat (KBZ) di setiap desa ataupun Rukun Warga sebagai percontohan zakat yang dilakukan oleh Badan Ami! Zakat. Buku ini diharapkan, agar masyarakat semakin sadar untuk terus memberdayakan zakat sebagai bagian dari upaya menciptakan pemerataan kesejahtraan umat. Kesemuanya ini dilakukan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Dengan harapan Direktorat Pemberdayaan Zakat Dirjen Bimas dapat memberikan akselerasi serta aksebelitas pelayanan, dengan membangun suatu sistem dan mekanisme pelayanan umat melalui kelompok - kelompok binaan zakat. 4!JUklak Kelompok Binaan lakat

11 undang, peraturan pemerintah maupun keputusan menteri terkait, antara lain: 1. Undang-undang Dasar Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. 3. Undang-undang RI Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. 4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 1981 Tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin. 5. Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2005 Tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. 6. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama. C. TUJUAN 1. Menjadi pedoman atau acuan awal dalam pembentukan Kelompok Binaan Zakat (KBZ) 2. Menjadi pedoman dalam pelaksanaan berbagai kegiatan yang terkait dengan Kelompok Binaan Zakat 3. Pedoman bagi para pengurus Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA), agar dalam pelaksanaan pembinaan kelompok binaan zakat terarah pada pemberdayaan fakir miskin, sosialisasi zakat di lingkungan KBZ, pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan zakat. 4. Panduan aparat Kementerian Agama baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dalam memberikan bimbingan dan layanan terhadap kelompok binaan zakat dan BAZDA. Juklak Kelompok Binaan Zakat I 5

12 D. SISTIMATIKA Buku Petunjuk Pelaksanaan Kelompok Binaan Zakat disusun dengan sistematika sebagai berikut : Bab I latar belakang, dasar hukurn, tujuan serta sistematika penyusunan. Bab II Pembentukan Kelompok Binaan Zakat, memuat pengertian, siapa yang berhak, langkah pembentukan, proses pembentukan,tugas dan kewajiban KBZ, syarat calon ketua dan anggota pengurus termasuk metode penyuluhan dan lain-lain. Bab III Pembinaan Kelompok Binaan Zakat terdiri dari optimalisasi kelompok binaan zakat, pengumpulan zakat, pendistribusian zakat, pedoman menghitung, rencana pemanfaatan zakat produktif. Bab IV, Tahap Pemantapan secara terinci diuraikan sebagai berikut: Studi lapangan, latihan pengembangan, peningkatan motivasi, pelaksanaan pengembangan. BabV Pencatatan dan Pelaporan terdiri dari tahap persiapan, tahap pembinaan, dan tahap pemantapan. BabVI Penutup dan lampiran-iampiran. 6 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

13 BAB II PEMBENTUKAN KELO'MPOK BINAAN ZAKAT Sebelum menguraikan berbagai hal yang berkaitan dengan Kelompok Binaan Zakat (KBZ) dengan segala komponen terkait, terlebih dahulu dijelaskan apa yang di maksud dengan KBZ, siapa yang berhak membentuknya, bagaimana langkah-iangkah membentuknya, apa maksud dan tujuannva, apa hak dan kewajibannya, siapa yang berhak menjadi pengurus dan anggotanya dan lain sebagainya. A. PENGERTIAN DAN TUJUAN 1. Pengertian Kelompok Binaan Zakat adalah suatu kelompok masyarakat yang tergabung dalam satu wadah/kelompok, berkeinginan untuk ikut serta dalam pengelolaan zakat, mulai dari pengumpulannya, pendistribusiannya serta bagaimana menjadikan dana zakat tersebut tidak hanya konsumtif tetapi juga produktif. Juk/ak Kelompok Binaan Zakat I 7

14 2. Tujuan Adapun tujuan dari pembentukan Kelompok Binaan lakat ini adalah : a. Umum: Pembentukan Kelompok Binaan lakat bertujuan membantu Badan Amil lakat dalam pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat, serta mensosialisasi peraturan perundang-undangan zakat kepada masyarakat sehingga menjadi desa yang swasembada. b. Khusus: a. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang zakat, dan segala sesutu yang terkait dengan zakat. b. Memberikan bimbingan dalam penunaian zakat kepada masyarakat sekitarnya, sebagai salah satu upaya membumikan ajaran Islam. c. Memberikan penyuluhan kepada para muzakki agar membayarkan zakatnya melalui Badan Amil lakat yang berada di tempat tinggalnya. d. Memberikan penyuluhan kepada mustahiq untuk memanfaatkan zakat yang mereka terima secara maksimal, baik yang diterima dari BAl, muzakki secara langsung ataupun dari KBl. e. Memberikan pembinaan kepada mustahiq yang menerima zakat, kalau memungkinkan agar diproduktifkan, dengan harapan dapat memberikan perubahan dalam penghasilan. 8 IJuk/ClkKelompok BinClelnlClkClt

15 f. Memberdayakan mustahiq melalui pengembangan 1. Yang Berhak Membentuk Sesuai dengan maksud dan tujuan dibentuknya KBZ, maka yang berhak membentuk adalah : Pertama, Kementerian Agama Republik Indonesia, dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Zakat. Karena akan dibentuk di Kecamatan, Kelurahan dan desa-desa maka yang memiliki wewenang untuk membentuk KBZadalah Kantor Wilayah Kementerian Agama pada masing-masing provinsi. Kedua, Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) berhak membentuk KBZ dengan berkoordinasi kepada Kanwil Kementerian Agama setempat. 2. Langkah Pembentukan Berikut usaha yang berada dalam Kelompok Binaan Zakat, guna mendorong binaan. ini adalah langkah awal yang harus dilakukan Kementerian Agama atau Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi untuk membentuk KBZ yang ada di wilayahnya : peningkatan ekonomi masyarakat B. YANG BERHAK DAN LANGKAH PEMBENTUKAN KBZ a. Kanwil Kementerian Agama yang ada di provinsi melalui kasi zakatnya membentuk satu tim yang secara langsung terjun ke lapangan atau lokasi yang dianggap memiliki potensi untuk dibentuk KBZ. Juklak Kelompok Binaan Zakat I 9

16 b. Tim dimaksud adalah tim survey awal, terdiri dari unsur Kanwil kementerian Agama, BAl Daerah, serta unsur terkait lainnya, seperti Camat dan Lurah wilayah setempat yang akan dijadikan objek sasaran. c. Tim terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan 7 (tujuh) orang anggota. d. Agar memilliki legal formal, tim tersebut di SK kan Kementerian Agama. KET:Langkahini juga berlaku bagi BAZDA,hanya saja harus berkoordinasi dengan Kemenagsetempat C. TUGAS DAN KRITERIA SURVEY 1. Tugas Awal Tim yang sudah dibentuk memiliki tugas awal sebagai berikut: a. Mengadakan rapat guna menentukan atau merumuskan berbagai hal yang akan dirumuskan berkaitan dengan pembentukan/pendirian KBl sesuai dengan kondisi wilayah sasaran. b. Menentukan wilayah yang akan menjadi sasaran dibentuknya KBl. Sebagai langkah awal, tentukanlah wilayah yang secara kultur dan adat istiadat gampang menerima perubahan atau terlihat kompak. Hal ini dimaksudkan sebagai KBl percontohan lainnya. bagi wilayah atau daerah 10 jjuk/ak Ke/ompok Binaan Zakat

17 c. Terjun ke lokasi yang telah ditentukan guna mengumpulkan data penting yang harus dicatat dan diketahui, antara lain jumlah penduduk, mata pencarian, tokoh-tokon masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agarna, organisasi kemasyarakatan yang ada, sarana umum dan lain sebagainya yang ada kaitannya dengan pengembangan percontohan kelompok binaan zakat. d. Menentukan kriteria ketua dan anggota KBZ. e. Melaporkan hasil survay kepada Kanwil Kementerian Agama guna mendapatkan persetujuan atau melalui pejabatyang menangani zakat di Kanwil Kementerian Agama provinsi. Juga kepada Lurah dan KUA wilayah sasaran. f. Setelah mendapatkan persetujuan, tim kembali terjun ke lapangan guna membetuk secara langsung KBZ(akan dijelaskan kemudian). 2. Kriteria a. KETUA: 1. Tokoh agarna, pemuda, masyarakat yang memiliki wawasan ke depan yang luas sesuai dengan perkembangan zaman. Atau seorang pakar yang ahli dalam bidang pemberdayaan ekonomi dan memiliki pengetahuan tentang zakat 2. Umur minimal 30 th dan maksimal 50 tahun 3. Sudah menikah dan memiliki penghasilan tetap 4. Memiliki kepekaan sosial 5. Mimiliki visioner Juklak Kelompok BinaanZakat I 11

18 6. Pendidikan terendah SMA atau sederajat. Akan tetapi kalau ada strata satu (S-l) akan lebih balk. 7. Memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang berbagai usaha produktif usaha produktif D. LANGKAH PEMBENTUKAN KBZ Berikut langkah-iangkah pembentukan KBZ yang secara langsung dibentuk oleh tim yang sudah di SK-kan dan sudah mengadakan survey ke lapangan : guna pengembangan KBZyang akan terbentuk 8. Mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi b. ANGGOTA: dengan baikterhadap masyarakatdan pemerintah Semua anggota masyarakat berhak menjadi anggota KBZ dengan syarat-syarat yang sudah di tetapkan oleh tim Kementerian Agama, antara lain: 1. Memiliki wawasan ke depan yang luas sesuai dengan perkembangan zaman. 2. Umur minimal2s th dan maksimalss tahun 3. Setidaknya memiliki penghasilan tetap 4. Memiliki kepekaan sosial dan kemauan yang tinggi untuk memajukan KBZ S. Pendidikan terendah SMU sederajat (untuk umur dibawah 40) dan SO(untuk umur dibawah 60) yang penting ada kemauan yang tinggi dan bisa membaca dan berhitung. 6. Mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik terhadap masyarakat 12 IJUkiakKelompok Binaan Zakat

19 1. Tim terlebih dahulu menyampaikan pemberitahuan sekaligus meminta izin kepada pemerintahan setempat 2. Bersama-sama pemerintahan setempat mengumpulkan masyarakat guna mensosialisasikan rencana pembentukan KBZtersebut. Sebaiknya diwakili oleh berbagai komponen masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi dan orang-orang yang memiliki kepekaan sosial Perlu diingat bahwa tidak semua warga sudah mengetahui banyak tentang zakat, karenanya dalam acara ini hendaknya disampaikan secara umum segala sesuatu yang berkaitan dengan zakat, bila perlu dibuka dialog agar suasana lebih terbuka dan masyarakat dapat menerima dengan lapang dada. 3. Setelah acara penyampaian selesai, baru kemudian pembentukan kelompok KBZ dengan langkah sebagai berikut: KET: Acara pernillhan ini dipimpin langsung oleh tim yang dibentuk kemenag. Tim ini hanya berhak membentuk pengurus yangterdiri dari, ketua, sekretaris dan bendahara beserta 7 orang anggota. a. Masyarakat mengajukan beberapa calon/nama yang memenuhi kriteria yang sudah ditentukan b. Sebaiknya calon/nama yang diajukan berjumlah ganjil dan sedikitnya 5 orang c. Calon atau nama yang sudah ditunjuk dan disepakati masyarakat sebaiknya menerima dengan ikhlas dan tidak menolak Juklak Ke/ompok Binaan Zakat I 13

20 d. Selanjutnya proses pemilihan dapat dilaksanakan dengan beberapa cara : 1. Tim Formatur. Cara ini biasa dilakukan dalam memilih ketua suatu organisasi. Caranya, seluruh peserta yang memiliki hak suara (dalam pembentukan KBZ ini adalah Masyarakat) menunjuk beberapa orang yang dijagokan sebagai kandidat ketua KBZ. Calon yang diusung atau yang dimajukan hendak harus memenuhi kriteria ketua yang telah ditentukan. Dengan bimbingan tim kemenag mereka menentukan seorang ketua. 2. Tunjuk Langsung. Cara ini cukup demokrasi, dimana masyarakat secara langsung dan aklamasi menunjuk seorangtokoh yang memang sudah dipandang layak serta memenuhi syarat untuk menjadi ketua. Intinya, yang bersangkutan jangan menolak. 3. Pemilihan Secara Umum. Seperti pemilu, mengajukan beberapa calon yang sudah mencukupi syarat, kemudian dipilih masyarakat secara langsung, baik dengan menggunakan kertas atau dengan cara mengangkat tangan. e. Setelah terpilih satu orang ketua, diharapkan disetujui dan disepakati oleh seluruh perwakilan masyarakatyang hadir dalam pemilihan tersebut, kemudian disyahkan oleh tim Kemenag disaksikanoleh Camat/Lurah/Kades. Selanjutnyadi SK-kanoleh KementerianAgama. 14 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

21 f. Selanjutnya ketua memberikan kata sambutan, sekaligus memberikan nama kelompok KBZ. Diharapkan KBZ diberi mana sesuai dengan wilayah setempat. Misalnya KBZ Desa Sakatiga INdralaya, KBZ Desa Kp. Baruh Sungai Lendir, KBZ Desa Maju Jaya Banten dsb. g. Selanjutnya dengan berkonsultasi kepada RT/ RW/Kades setempat, ketua menentukan susunan pengurus KBZ. Sebaiknya pengurus KBZ tidak terlalu banyak, disesuaikan dengan tugas dan fungsi masing-masing bagian yang direncanakan Gambaran: Ketua, sekretaris, bendahara Urusan pengumpulan 3 orang Urusan pendistribusian 3 orang Urusan pendayagunaan 3 orang Penyuluh 1 orang h. Setelah terbentuk, susunan pengurus diajukan ke Kanwil Kementerian Agama setempat untuk di SKkan. i. SK ditembuskan kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kecamatan, Camat, Lurah, Kades, RW dan RT, termasuk penyuluh Agama setempat. Sebagai Yang dimaksud dengan penyuluh di KBZ ini adalah seorang yang memiliki pengetahuan tentang zakat dan segalasesutu mengenai zakat Juklak Kelompok Binaan Zakat I 15

22 E. PETUNJUK PEMILIHAN ANGGOTA Pada prinsipnya semua masyarakat di wilayah KBZ adalah anggota, karena akan terlibat, baik sebagai muzakki, mustahiq, kelompok perberdayaan ekonomi dll. Akan tetapi tetap disarankan mengikuti beberapa teknis berikut : 1. Sebaiknya anggota dikelompokkan menjadi anggota muzakki, mustahiq dan anggota kelompok binaan usaha produktif 2. Anggota adalah orang yang aktif secara sosial 3. Memiliki pengetahuan serta mampu mengembangkan usaha kelompok 4. Setiap kelompok KBZmemiliki tahapan kerja : a. Tahap Persiapan Yang dimaksud tahap persiapan adalah langkah awal yang harus dipersiapkan dan dilakukan oleh kelompok Binaan Zakat (KBZ) yang sudah terbentuk, guna mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan program kerja. Diantaranya adalah :. 1. Pengurus terpilih mengadakan rapat guna memusyawarahkan berbagai hal yang terkait dengan program kerja 2. Masing-masing bidang hendaknya mempersiapkan program kerja guna efektipitas kerja 3. Merumuskan hasil musyawarah dan program kerja dalam bentuk format resmi 4. Melaporkan rencana progja kepada Kanwil Kementerian Agama setempat dan juga BAZDA, yang ditembuskan ke KUA,Camat, Lurahatau Kades setempat 16 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

23 5. Program kerja tersebut kemudian di buat dalam bentuk buku sebagai pedoman kerja, yang juga dapat diketahui dan dimiliki oleh masyarakat 6. Program kerja masing-masing bidang disesuaikan dengan tugas dan fungsinya masing-masing b. Sarasehan Apa! Sarasehan sebutan yang biasa dikemukakan masyarakat untuk suatu perkumpulan guna memecahkan atau merumuskan satu masalah. (edit ulang) Serasehan dalam KBZ adalah berkumpulnya masyarakat di wilayah KBZ dengan seluruh pengurus KBZ guna menyampaikan konsepsi zakat yang akan ditetapkan sebagai percontohan Mengapa! Mengapa sarasehan perlu dilaksanakan! Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat, khususnya para muzakki, mustahiq dan juga kelompok masyarakat yang akan tergabung dalam kelompok binaan mengetahui, memahami dan diharapkan dapat mengaplikasikan konsepsi zakat yang sudah dirumuskan bersama. Hal ini penting untuk dilakukan, agar secara umum masyarakat menerima dan dapat melaksanakan konsepsi tersebut secara bersama dan terbuka, tanpa ada yang merasa berat apalagi menolak. Para muzakki misalnya, diharapkan mereka berkenan untuk menyalurkan zakatnya pada KBZ yang ada di Nklak Ke/ompok Binaan lakat' I 17

24 lingkungannya. Hal ini tentu«c -'::a ::;-;:: +e-ra dapat diterima, apalagi bagi mereka ' aan == ~5.G +erwalurkan zakatnya pada satu lembaga za a: ::;"'::;-:... atau sudah memiliki langganan atau musta='c..etac, Belum lagi kegiatan ini ban, _-:_ Je-..a"'1a kalinya dilakukan, karenanya pengurus 3:"12- _S ~a-!j... -nevakinkan para muzakki agar dengan ikhlas ca- tanca aoa ragu untuk menyalurkan zakatnya di KBZ sere"""'::;: )"5"" al) perlunya sarasehan dan juga penyuluh zaca: se-ta xernampuan komunikasi yang baik Demikian pula dengan para -- _5:a-.:. ereka harus mendapatkan penjelasan bahwa zakat vang mereka terima -di antaranya- adalah harta zakat oar oars muzakki yang ada diwilayah mereka senori, ~a- sangat mungkin saling bertetangga. Dengan haraoan oara "1ustahiq lebih menghargai dan memaknai serta merna...~atkan mereka terima akan diproduktifkan. a. Menghilangkan mengakrabkan antar sesama. b. Menghilangkan prasangka negatif muzakki terhadap mustahiq dan sebaliknya. c. Muzakki dapat melihat dan merasakan langsung akan kemanfaatan zakatnya. d. Mustahiq akan lebih bersyukur karena merasa mendapatkan perhatian langsung dari orang mampu yang ada disekitarnya. kesenjangan sosial dan zakat yang secara maksimal aan 00. mal. Apalagi jika Selain itu cara ini juga dapat mernoerikan beberapa hikmah berikut : lebih 18 IJuk/ak Ke/ompok Binaan Zakat

25 e. Tentunya, ketika harta zakat muzaki di produktifkan, hal ini akan lebih membuka hati para muzakki akan kemanfaatan harta mereka. Poin ini harus dibuktikan, dan inilah yang akan membuat dalam menyalurkan zakatnya. para muzakki istiqamah f. Masyarakat secara umum akan memberikan penilain posttif balk kepada para muzakki maupun para mustahiq yang ada di lingkungan mereka. Cara ini akan memberikan pola hidup bermasyarakat yang positif. Bagaimana! Bagaimana serasehan itu dilakukan! 1. Untuk pertama kalinya pengurus KBZ mengumpulkan masyarakat -khususnya kepala keluarga- pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. a. Undang mereka secara resmi, demikian pula dengan aparat pemerintah setempat, Carnat, Lurah, Kades dan Kepala Kantor Urusan Agama Islam. b. Kegiatan sarasehan dapat dilaksanakan di balai Camat/Desa/lurah, juga dapat dilakukan di masjid atau mushalla. Akan tetapi tidak menuntut kemungkinan juga dapat dilaksanakan di rurnahrumah penduduk secara bergantian. Dengan cara ini akan lebih menambah keharmonisan serta memunculkan rasa tanggungjawab yang maksirnal. c. Masalah waktu, usahakan pada saat libur, kecuali kalau dirasakan mendadak dan urgen. Juklak Kelorhpok BinaanZakat I 19

26 d. Sebaiknya susunan acarc ::'05 2='::- 0 e pengurus KBZ. e. Kalau memungkinkan clsec a ::- -a...a a <ingan ala kadarnya. 2. Selanjutnya, disepakati a~'" c' a:e -- sarasehan pada setiap bulan, perdua bulan arau :.e-:' kali diperlukan. dan anggota masyarakat....2'" atau setiap Intinya harus c :=:2 ca;:- 0 e'l pengurus 3. Sebaiknya pengurus KBZsuca= -'"IE"'.?:::,;ar oanan-bahan yang akan didiskusikan, bila ~er... : -.. s poin-poinnya kemudian dibagikan kepaaa ""a5)'2"2 -a~ seoagai bahan acuan atau diskusi. 4. Bahan diskusi tersebut... gc cacat ditampilkan melalui media, jika mem..."'g' "'.;:-,"sa nya dengan menggunakan media LCD aza., mecla rainnva, seperti papan tulis, whait board dl., -a - agar mudah diserap oleh anggota sarasehan. 5. Dalam diskusi sebaiknya serao orang memiliki kesempatan yang sama untuc r"e"ge't'l..kakan pendapat, baik berupa usulan, saran atauou«tanggapao. Karenanya disarankan bentuk lavoutrva o"g are atau U. (lihat lampiran). 6. Karenanya ketua KBZ, dlharanxar mampu memenej pertemuan menjadi hal yang r,enyenangkan dan dirindukan rnasvarakat. Mulai dar' memenej waktu, mengatur siapa yang harus bicara, mana yang harus ditanggapi, dijawab ataupun yang harus dibantah. 20 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

27 7. Pada setiap pertemuan diharapkan menghasilkan kesepakatan demi terlaksananya berbagai program yang direncanakan. 8. Sekretaris KBZ hendaknya memiliki buku khusus guna mencatat berbagai pendapatyangdikemukan masyarakat, sekaligus sebagai arsip dan bukti jika diperlukan. 9. jika diperlukan, hasll atau kesepakatan yang dihasilkan dilaporkan kepada pemerintahan setempat, terutama BAZOAdan Kanwil Kementerian Agama. KET : Yang perlu dingatkan bahwa yang memiliki peranan penting dalam serasehan ini selain ketua juga penyuluh zakat, karena dialah yang akan mernberikan banyak pengetahuan tentang zakat dan pemberdayaannya. Karenanya penyuluh harus dipilih orang tepat. F. METODE PENYULUHAN ZAKAT Metode adalah "suatu cara yang dapat digunakan pendidik, penyuluh zakat, da/am hal ini tenaga Penyuluh Agama dengan berbagai teknik yang harus dikuasai, agar materi yang disampaikan dapat dengan mudah serta efektif diterima dengan baik oleh para perserta". Oiantara metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan penyuluhan adalah sebagai berikut : 1. METODE LANGSUNG a. Metode Ceramah Metode ceramah sudah lazim dilakukan dalam penyampaian pesan. Metode ceramah dapat diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan JukJak KeJompokBinaan Zakat I 21

28 secara lisan oleh tenaga per,... ~ c.engan retorika yang baik. Sedangkan perar a...c e~ senagai penerima pesan, mendengar, mer-iper+ar' er dan mencatat informasi yang disarnpa'ka OE-. <.l,jh agama bila diperlukan. Seorang penyuluh, juga na"tos...a-npu mengatur waktu dalam rnenvampacan ~a:eri agar tepat dan tidak terkesan searah dan otor ter, Ber' enaan dengan lamanya waktu penyamoa a'" """a:eri disesuaikan dengan materi yang akan 0 sar+ca <LiP, Bahasa yang disampaikan harus balk, je as ca'",.,.,...dah dimengerti sehingga tidak menlmou <0" xesalahpaharnan terhadap makna yang 0' Clr'\c_-gnya, Sikap para penyuluh dalam rnenggunasar metode ceramah hendaklah bersifat rendah hati sopan, lemah lembut dan tidak tergesa-gesa dala-r- "1"'e"'{dmpaikanmateri. Beberapa hal berikut harus "':le""jadl perhatian para penyuluh zakat : 1. Seorang penyuluh, he=oaxnva memiliki pengetahuan agama, khususnya yang berkaitan dengan zakat. 2. Memahami masalah-masa ah yang aktual yang terjadi di masyarakat. 3, Seorang penyuluh juga harus memiliki kemampuan dasar berpidato atau kemampuan berkomunikasi secara balk, tentunya dengan tutur bahasa yang baik pula. 22 IJUklak Kelompok BinaanZakat

29 b. Metode Diskusi Metode diskusi ini merupakan lanjutan dari materi ceramah. sebuah diskusi dapat dilaksanakan setelah adanya materi penyuluhan yang disampaikan sebelumnya, agar materi yang disampaikan menjadi lebih kaya dan guna mendapat masukan ataupun kritikan membangun dari para peserta. Agar diskusi terarah, hidup dan tidak menyalahi etika, diperlukan seseorang moderator atau Me yang bertugas mengarahkan, siapa yang harus bicara, siapa yang harus menanggapi, mengatur waktu pembicara utama, menanggapi hingga menyimpulkan. Intinya, sebuah diskusi akan hid up dan semarakjika dipimpin oleh seorang moderator yang menguasai audien dan juga materi yang disampaikan penyuluh. c. Metode Seminar Metode seminar sama dengan diskusi, hanya saja memiliki bobot lebih tinggi, dengan cara membahas suatu materi dalam bentuk makalah yang disajikan oleh seorang pakar dan juga dibutuhkan seorang moderator. Metode ceramah dan seminar, dimaksudkan untuk : 1. Menggali dan mengembangkan sebaik mungkin pengetahuan dan pengalaman serta gagasan yang ada tentang suatu masalah yang sedang diangkat. 2. Saling tukar menukar pikiran, pengetahuan dan gagasan serta pengalaman. Juklak Keiompok BinaanZakat I 23

30 3. Meningkatkan ketera... ::: a- ceserta untuk 2. TIDAK LANGSUNG Selain beberapa metode atau bentuk penyuluhan langsung, penyuluhan juga dapat dilaksanakan dalam bentuk tidak langsung melalui berbagai media yang ada, baik media cetak maupun elektronik, mengemukakan peocaoat seca-a ooyektif dan sistematis di depan orarg oaa 'a. 4, Meningkatkan keterarnp, an dan kemampuan berkomunikasi untuk rnengungkap dan memahami pikiran dan oencaoat orang lain. d. Metode Pemberian Tugas Metode yang satu ini mert'oer <an tugas-tugas khusus tentang suatu persoa or> dengan jangka waktu yang telah ditetapkan atas casar kesepakatan bersama. Caranya mernbertkao ertas kerja yang telah disiapkan oleh penyulun yang oerxaltan dengan suatu materi yang disarnpalkan, e. Metode Simulasi Metode inijuga dapat diterapkan, 'l<e'loatihanyaberupa trik atau langkahawal dalam rangka "nengetahui image, pandangan dan penilaian pese-ta penyuluhan terhadap sesuatu yang berkaitan dengan zacar. seperti surat kabar, radio, televisi, film dan sejenisnya. Biasanya dengan cara ini akan lebih mudah ditangkap oleh peserta. Syaratnya, para penyuluh harus memiliki kemampuan mengoperasikan komputer/ laptop dengan berbagai programnya, Internet, pemakaian infokusjlcd dan lain sebagainya. 24!JUklak Kelompok Binaan Zakat

31 a. Media Cetak Media cetak dapat dipergunakan dalam penyuluhan zakat meliputi : buku, surat kabar, majalah atau dapat dilakukan dengan cara membuat stiker, spanduk, benner, note book, brosur, liflet dan lain sebagainya. Hal ini terlihat lebih efektif, karena tidak terbatas kepada peserta tertentu, tetapi kepada setiap orang yang membacanya dan bahkan lebih luas. Karena sangat mungkin mereka yang membaca atau melihat media-media tersebut akan menyampaikannya kepada orang lain. 1) Buku Pemanfaatan buku sebagai media dalam penyuluhan dapat dilakukan sebagai bentuk sarana, sebagai upaya memberikan pemahaman dan memberikan perubahan tentang materi-materi penyuluhan zakat, memuat secara lengkap informasi tentang segala sesuatu pengelolaan zakat. 2) Surat Kabar atau Koran Penyuluhan juga dapat dilakukan dalam bentuk tulisan dan gambar-gambar yang mendeskripsikan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi penyuluhan zakat. Surat kabar atau koran memiliki dava penyebaran yang cukup cepat keseluruh lapisan masyarakat. Di samping itu, masyarakat mudah memahaminya, sebab koran merupakan media yang telah mampu menjangkau keberadaan masyarakat, bahkan hingga kepelosok desa. )uklak Kelompok Binaan Zakat I 25

32 3). Majalah atau Buletin Penyuluhan melalui majalah dapat dilakukan sesuai dengan corak majalah yang ada. Misalnya, penyuluhan tentang keluarga sakinah dapat disampaikan dengan menggunakan majalah wanita, majalah nikah, majalah ayah bunda dan lain sebagainya. Penyuluhan zakat, dapat dilakukan dengan menggunakan majalah khusus tentang perzakatan atau majalah keagamaan dan lainnya yang berkaitan erat dengan zakat. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan : a) Bagaimana agar media yang disajikan menarik untuk dibaca atau diketahui oleh setiap orang. b) Bagaimana agar media yang ada tidak memberikan kejenuhan untuk dibaca setiap saat atau setiap kali disajikan, hendaknya memiliki pesanfilosofis tersendiri. c) Media yang disajikan harus membuka nuansa berfikir pembaca sehingga akan lebih memberikan analisa tajam bagi pembaca. b. Media Elektronik Selain media cetak, penyuluhan zakat juga dapat dilakukan dengan media elektronik. Di antara media elektronik dimaksud adalah: (1) Televisi (2) Radio (3) CD Animasi dan Interaktif 26 IJUKlal<KelompoK Binaan Zakat

33 Penyuluhan melalui media elektronik ini dipandang cukup ampuh, selain jangkauannya lebih luas dari media cetak, juga memberikan kesan tersendiri, karena dapat dilihat, didengar dan dibaca secara langsung oleh pemirsa. Penyuluhan bisa dalam bentuk semacam iklan singkat dengan durasi yang sangat terbatas, talkshow, dialog interaktif, tanya jawab di radio, pragmen, video klip, kesenian, dakwah dan lain sebagainya. Dari sekian banyak media elektronik yang ada, media televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia, khususnya dalam penyampaian materi penyuluhan dalam rangka mempengaruhi pemirsa. Telivisi memiliki kelebihan, karena dapat didengar dan dilihat (audiovisual) atau juga dalam bentuk tulisan yang tentunya dengan disain yang maksimal sehingga menarik dan memberikan kesan tersendiri bagi para pemirsanya. c. Media Visualisasi Visualisasi merupakan media yang dapat berfungsi menampilkan suatu materi dalam bentuk gambar atau visual, seperti dilakukan dalam beragam pameran. Media ini dapat dilakukan dengan cara memberikan informasi tentang beragam kegiatan penyuluhan zakat dalam bentuk foto, grafik, overhead atau film slide. 1) Gambar Foto Dalam penyuluhan media gambar (diam) dapat lebih meyakinkan audien zakat terhadap ungkapan para penyuluh. Karena gambar dianggap sebagai bukti Juklak Kelompok BinaanZakat I 27

34 terhadap peristiwa -.'2"g ~:::: cz yang telah disajikan. 2) Film Slide Media film slide ber...na ': ::-Z" gambar pada rupa, sehingga dapat oilihzt -cs "'ya sesuai dengan peristiwa yang daoat :;'D'cgrai'l: an, terutama tentang tertib kegiata-.a g o a a=akan, sekaligus sebagai alat peraga ca am ~e je asxan masalah zakat. Atau juga daoat ~e"'gg...naxan Overhead Proyektor. G. TUJUAN, MANFAAT DAN SASARA I 1. Tujuan Sebagaimana dijelaskan paca casar pemikiran di atas bahwa pemahaman rnasvarakat 'r-oonesia masih bersifat konvensional, kaku, beku oan ugu, SOM yang kurang profesional, fungsi dan peran pengelola harta zakat yang kurang maksimal dan optimal dan lain sebagainya, maka penyuluhan zakat ini bertujuan untuk memberikan pandangan modern terhadap permasalahan zakat, sekaligus menghidangkan paradigma baru kepada masyarakat Indonesia bahwa banyak hal tersirat yang belum diungkapkan sebelumnya. Karenanya kegiatan penyuluhan tentang zakat harus diprogramkan. a. Tujuan Umum Tujuan umum dari penyuluhan ini adalah membantu masyarakat agar memiliki pengetahuan maksimal, 28 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

35 2. Manfaat a. Masyarakat dapat memahami dan mengembang kan pengetahuan dan wawasannya tentang zakat, mulai dari berbagai paradigma tentang zakat dan segal a sesuatu yang berkaitan dengan zakat. b. Masyarakat dapat memahami betapa pentingnya pengelolaan zakat produktif secara modern agar memberikan manfaat yang besar guna kemaslahatan umat dan tercapainya kesejahteraan dan keadilan sosial. c. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berzakat. d. Tersosialisasinya Undang-Undang Zakat dan 3. Sasaran tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan zakat. Juga memberikan pandangan modern tentang zakat, sekaligus menghidangkan paradigma baru kepada masyarakat Indonesia bahwa banyak hal tersirat yang belum diungkapkan sebelumnya. b. Tujuan Khusus 1). Meningkatkan fungsi dan peran pengelola zakat 2). Memberikan Paradigma Tentang Zakat 3). Meningkatkan Manajemen Pengelola 4). Terwujudnya Kesejahteraan Umat dan Keadilan Sosial berbagai program yang dicanangkan pemerintah. a. Para'Amil Zakat Juklak Kelompok BinaanZakat I 29

36 b. Aparat Pemerintah yang Terkait dengan Zakat c. Tokoh Masyarakat d. Politisi e. Calon Muzakki f. Masyarakat Umum H. SIAPAYANG BERHAKMEMBERIKAN PENYULUHAN Merujuk kepada pengertian tenaga teknis penyuluh zakat di atas, maka tenaga ahli dimaksud adalah orang-orang yang berkompeten dalam melaksanakan tugas-tugas penyuluhan. Mereka dapat bersifat perseorangan, organisasi, lembaga, yayasan atau badan hukum, yang memiliki keterkaitan dengan zakat atau ekonomi syariah. 1. Pejabat Kementerian Agama Pejabat Kementerian Agama yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam bidang perzakatan adalah Pejabat yang berada pada Direktorat Pemberdayaan Zakat, seperti Direktur Pemberdayaan Zakat, para kasubdit dan kasi. Berkaitan dengan jabatan struktural ini, dan seiring dengan semakin maraknya para pendidik, termasuk para pejabat pemerintah melanjutkan studi strata 2 (5-2) maupun 3 (5-3). Dengan demikian diharapkan para pejabat pemerintah dimaksud setidaknya sudah berstatus Tokoh Agama atau Masyarakat a. Tokoh agama ataupun masyarakat yang memiliki pengetahuan berkaitan dengan permasalahan zakat, baik secara syariah maupun perundang-undangan. 30 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

37 b. Pernah mengikuti seminar/pelatihan dan penyuluhan yang diselenggarakan Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Zakat. c. Pernah terjun secara langsung di ranah perzakatan, baik di organisasi atau lembaga yang berbadan hukum dan berkaitan dengan zakat atau pemberdayaan ekonomi umat. 3. Akademisi dan Profesional Adalah mereka yang menspesialisasikan profesinya di bidang zakat, seperti para dosen yang mengajar mata kuliah zakat, atau para sarjana, khususnya Magister (52) dan Doktor (53) yang pernah meneliti ataupun menulis tentang zakat. Termasuk juga para pengamat dunia perzakatan dan badan hukum, baik L5M, Yayasan atau organisasi yang memiliki komitmen dalam pengembangan ekonomi umat, misalnya Dompet Dhuafa yang telah menjalankan manajemen zakat modern. I. PENGETAHUAN DAN PERANAN PENVULUH ZAKAT 1. Pengetahuan 5eorang atau lembaga penyuluh zakat memiliki kewajibankewajiban dan tugas sekaligus tanggungjawab yang cukup berat untuk menyampaikan dan rnensosiallsaslkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan zakat. Tentunya tanggungjawab tersebut tidak diberikan kepada yang bukan ahlinya, dan bukan pula tanpa syarat. 5ebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ada individu-individu ataupun Juklak Ke/ompok Binaan Zakat I 31

38 lembaga-iembaga yang berhak memberikan penyuluhan. Berikut beberapa pengetahuan yang harus mereka miliki, antara lain: a. Pengetahuan Agama Tentang Zakat b. IImu Komunikasi c. Manajemen d. Ekonomi e. Keterampilan Mengemas Materi f. KayaAkan Materi 2. Peranan Penyuluh Zakat Pada bagian ini akan dijelaskan peranan penyuluh zakat, dalam hal ini adalah Penyuluh Agama. Berdasarkan tugastugas yang diemban oleh seorang penyuluh zakat, termasuk penyuluh agama, sebagaimana disebutkan di atas, memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan perzakatan, kesadaran dan kemauan masyarakat selaku calon muzakki untuk mezakatkan harta benda miliknya, sangat bergantung kepada pemahaman, bimbingan, sugesti dan arahan-arahan yang diberikan oleh para Penyuluh Zakat. Untuk meminimalisir dan menghilangkan kendalakendala yang dapat menghambat keberlangsungan kegiatan perzakatan, maka peranan yang dimainkan oleh Penyuluh Zakat sangat strategis, baik sebagai motivator, konsultan, dan fasilitator. 1. Motivator 2. Konsultan 3. Meneliti Berbagai Fenomena yang Terkait dengan Zakat 32 IJUkiak Kelompok Bineen Zeket

39 3. Kompetensi Penyuluh Zakat 1. Kompetensi Pokok Yang dimaksud dengan kompetensi pokok adalah sesuatu yang berhubungan langsung dengan kegiatan perzakatan, meliputi: a. Kompetensi Kewenangan b. Kompetensi Kecakapan 1). Kecakapan terhadap materi penyuluhan 2). Kecakapan terhadap metode penyuluhan 3). Kecakapan terhadap komunikasi massa 4). Kecakapan berfikir konseptual (Conseptual Skill) secara abstrak dan sistimatis. 5). Keahlian dalam mengelola waktu (time manajemen skill) secara efektif dan efisien. 6). Kecakapan mengambil keputusan 2. Kompetensi Penunjang Maksudnya adalah penguasaan terhadap berbagai peralatan dan media (technical skill) yang digunakan dalam menunjang keberhasilam penyuluhan, seperti keahlian mengoperasikan komputer/laptop, OHP, dan media-media pendukung lainnya. Sehingga penyampaian materi penyuluhan dapat terlaksana secara maksimal. 4. Materi Penyuluhan Zakat Materi penyuluhan zakat secara umum adalah membangun kesadaran para pengelola harta zakat dan juga masyarakat tentang pentingnya pengelolaan zakat menjadi )uklak Kelompok Binaan Zakat I 33

40 produktif, tepat guna dan berhasil. Produktifitas zakat akan memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ekonomi masyarakat dan pembinaan umat Islam. Materi penyuluhan ini terdiri dari materi pokok dan materi penunjang, berikut dengan pokok bahasannya : 1. Materi pokok terdiri dari: a. Arti pentingnya pengelolaan zakat b. Membangun kesadaran para 'ami! dan masyarakat dalam pengelolaan zakat c. Strategi pengelolaan zakat produktif d. Manajemen pengelolaan zakat produktif e. Kontribusi produktifitas zakat dalam pengembangan ekonomi umat Islam f. Amil Profesional 2. Materi penunjang terdiri dari: a. Fiqih zakat dalam berbagai perspektif b. Kendala dan solusi problema zakat di Indonesia c. Undang-undang zakat, teknis pengelolaan zakat d. Sejarah perzakatan di dunia Islam dan Indonesia e. Zakat Profesi S. Tahap Sosialisasi Tahap sosialisasi merupakan tahap pelaksanaan kegiatan yang telah dirumuskan dan disepakati ketika sarasehan. Tentunya, tahap awal sosialisasi dari program yang ada akan mendapatkan beberapa kesulitan, kejanggalan, mungkin juga modal, SMD dan lainnya sebagainya. Hendaknya, berbagai problem atau kesulitan itu bukan menjadi penghambat dan 34 I)uklak Kelompok BinaanZakat

41 kendala ataupun membuat KBZ ragu, melainkan menjadi pemicu untuk maju. Kelompok Binaan Zakat yang sudah terbentuk dengan segala kepengurusannya harus memulai dengan hal-hal atau program yang relatif mudah untuk direslisasikan atau dilaksanakan: Setelah berjalan maksimal baru kemudian melangkah para program berikutnya. Misalnya, mendata siapa-siapa saia yang termasuk dalam kelompok muzakki dan mustahiq. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang memiliki jiwa sosial dan kewirausahaan, balk cara dialog atau sllaturrahmi ke rumah agar berkenan masuk dalam kelompok binaan guna mewujudkan kegiatan yang produktif. 1. Pengumpulan Zakat Paradigma zakat yang dipahami masyarakat menengah ke bawah, seperti masyarakat desa, relatif masih tradlslonal, Dengan kata lain mereka hanya mengetahui zakat fitrah dan inilah yang mereka lakukan selama ini. Kendati mereka tahu ada zakat mal (harta), namun belum dapat direalisasikan secara maksimal. Padahal tidak dipungkiri bahwa, beberapa desa dalam wilayah tertentu di Indonesia menjadi sumbersumber penghasilan perkebunan, pertanian ataupun tambang yang sangat mungkin dimlliki oleh masyarakat setempat. Kendati secara kasat mata, kehidupan mereka -khususnya rumah tempat tinggal mereka- terlihat biasa-biasa saja, tidak mewah seperti orang-orang kota, tetapi mereka sudah berhaji 2, atau mungkin 3 kali. Bahkan banyakjuga anak-anak mereka yang kuliah di ikota hingga menjadi sarjana. Artinya desa atau Juklak Kelompok Binaan Zakat I 35

42 daerah seperti ini memiliki potensi zakat. Pertanyaan yang tersisa, bagaimana dengan zakat mereka? Katakanlah mereka belum menunaikan kewajiban yang satu ini karena beberapa faktor berikut : 1. Misalnya mereka belum mengetahui apa itu zakat mal, dalam hal ini zakat pertanian atau hasil bumi lainnya, ataupun zakat profesi. Ketidaktahuan itu bisa jadi juga disebabkan latar belakang pengetahuan agama, ditambah dengan minimnya ulama, ustadz ataupun muballigh. Atau mungkin juga belum tersentuh penyuluh agama dan masih banyak lagi faktor lainnya. 2. bisa jadi juga mereka sudah melakukan, tetapi masih dengan tradisi lama yang sudah berlaku, tanpa memenuhi aturan syariat. 3. atau mungkin juga, minimnya petugas atau masyarakat yang mau memenej terlaksananya pelaksaan zakat secara maksimal 4. atau mungkin juga mereka sudah melakukan, tetapi disalurkan ke lembaga zakat yang jauh, sehingga tidak menyentuh masyarakat yang tergolong muzakki dl desa mereka sendiri. Guna mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, dan agar para muzakki dan mustahiq dalam suatu wilayah tertentu/desa dapat merasakan manfaat timbal balik yang saling menguntungkan, maka diperlukan KBZ guna mengadakan suatu perubahan ke arah pemberdayaan zakat yang lebih baik. 36 IJuklak Kelompok BinaanZakat

43 Dalam hal pengumpulan zakat misalnya, KBZ yang ada melalui penyuluhnya menginformasikan kepada masyarakat bahwa para muzakki desa setempat dapat mengumpulkan zakatnya ke Unit Pengumpulan Zakat (UPZ)' yang sudah mereka bentuk, sekaligus menyampaikan bahwa dana zakat tersebut juga akan dibagikan kepada mereka-mereka yang tergolong mustahiq di wilayah mereka sendiri. Berikut beberapa tahapan yang harus dilakukan KBZ: 1. Mengadakan penyuluhan tentang zakat, diharapkan dihadiri oleh masyarakat, bisa diwakili oleh masingmasing kepala keluarga. 2. Pembentukan UPZ oleh KBZ harus dilaporkan kepada BAZDA setempat 3. Mendata para muzakki dan juga mustahiq. Pendataan ini harus dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan, jangan mendengar dari orang lain 4. Membentuk UPZdengan seizin BAZDAsetepat 5. Membuat berbagai formulir yang berkaitan dengan segala administrasi zakat yang diperlukan. 6. Tahap pengumpulan zakat dari para muzakki tahap ini bisa dilakukan dengan dua cara : a. Muzakki dengan kesadarannya sendiri mengantarkan/ menyetorkan zakatnya langsung kepada UPZ atau ke KBZsetempat. b. Juga dapat dilakukan dengan cara muzakki memberitahukan kepada UPZ agar mengambil zakat yang wajib dikeluarkannya ke rumah, atau Jukfak Kefompok Binaan Zakat I 37

44 c. Pihak UPZ yang langsung mengingatkan sekaligus menjemput zakat kepada para muzakki. d. Kesemuanya ini tentunya sudah dipahami dan disepakati bersama ketika penyuluhan dan sarasehan berlangsung. 7. Tahap pendistribusian kepada para mustahiq yang berhak menerimanya. J. PENYUSUNAN PROGRAM 1. Ketua Kelompok Binaan Zakat menyiapkan konsepkonsep program yang sederhana, dapat dilaksanakan dan mudah dibahas oleh peserta saresehan. 2. Konsep tersebut meliputi motivasi, program aksi, pengumpulan zakat dan pendayagunaannya. 3. Untuk tahap persiapan pada dasarnya masih bersifat motivatif dan banyak dilakukan saresehan atau musyawarah. 38 IJuklak Ke/ompok Binaan Zakat

45 BAB III TAHAP PEMBINAAN A. OPTIMALISASI Kelompok KBZ yang sudah terbentuk dengan segala kemampuan dan aktifitas yang mereka lakukan, tentunya tidak bisa dilepas begitu saja. Mereka tetap harus dibina oleh Kanwil Kementerian Agama dan juga Badan AMil Zakat Daerah, balk secara langsung ataupun melalui KUA, penyuluh Agama ataupun BAZ Kecamatan. Hal ini dimaksudkan untuk : 1. Mengoptimalkan kelompok binaan zakat yang telah dibina melalui pemanfaatan dari dana zakat untuk usaha produktif, agar pengelolaan dana zakat dapat dilakukan secara terencana dan terarah; 2. Membangun komunikasi antar kelompok binaan zakat sehinggatercipta kelompok kerja sesamaanggota kelompok; 3. Membangun komunikasi dan kerjasama antar kelompok usaha bersama yang lain seperti (Kelompok Tani, Kelompok peri kanan, kelompok peternakan dll ); 4. Meningkatkan pola pikir masyarakat khususnya yang tergabung dalam kelompok binaan, dalam upaya menjadikan masyarakat yang mandiri. JukJak KeJompok Binaan Zakat I 39

46 B. PASCA KEGIATAN Terkadang orang mengabaikan sesuatu yang masih harus dilakukan pasca terlaksananya suatu xeglatan. Perasaan puas, bangga dan sukses kerap kali dirasakan karena sudah terlaksananya suatu kegiatan yang sudah direncanakan, terlepas apakah kegiatan itu terlaksana dan berjalan sesuai rencana atau tidak, atau mungkin juga melupakan penilaian atau kepuasan mereka-mereka yang menyaksikan ataupun merasakannya. Sesuatu yang harus dilakukan pasca kegiatan dimaksud adalah : 1. Melakukan evaluasi program yang telah dilakukan kelompok binaan dalam, baik perkegiatan, pertriwulan ataupun pertahun, disesuaikan dengan kebutuhan. 2. Setelah evaluasi dilakukan, tentunya diadakan pengkajian ulang terhadap program -program untuk periodeperiode berikutnya. 3. Evaluasi ini dilakukan dengan menghadirkan seluruh pengurus KBZ dan juga sangat memungkinkan menghadirkan masyarakat, agar penilaian evaluasi berjalan secara objektif. 4. Dalam proses evaluasi hendaknya masing-masing individu terkait membuka diri dan dapat menerima ishlah dengan berlapang dada. Setidaknya ada satu prinsip yang dipegang dalam berdialog guna mencapai perbaikan yaitu "jangan berebut benar karena akan berujung salah, tetapi berebutlah salah yang akan berujung pada kebenaran". Artinya kalau semua berebut benar maka 40 IJukfak Kefompok BinaanZakat

47 akan saling menyalahkan, sebaliknya kalau berebut salah, rnaka akan menemukan kebenaran dalam bentuk solusi atau perbaikan. 5. Semua hasil evaluasi hendaknya dicatat dan dikomendasikan secara rapi sebagai acuan pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya. C. LATIHAN PENGUMPUL ZAKAT Karena pintu masuknya berbagai kegiatan yang akan dilakukan KBZtidakterlepasdari danazakat, maka perlu kiranya diadakan satu latihan agar dana zakat yang akan dikelola maksimal dan berdayaguna. Permasalahan pengumpulan dana zakat mernang nampak ringan, tapi jangan sekali-kali dirernehkan. Karena 'amil KBZtidak sarna dengan 'amil yang ada dimasjid atau mushalla yang hanya menunggu orang mengantarkan zakat fitrah. KBZrnemiliki tanggungjawab yang lebih besar, sekaligus menjadi ujung tombak terlaksananya berbagai program pemberdayaan. Karenanya pelatihan ini sangat diperlukan guna mendapatkan orang-orang trarnpil, khususnya bagi si pengumpul zakat ('Amil zakat). Berikut beberapa hal dan langkah-iangkah yang harus dilakukan: Tata Cara : 1. Kelompok Binaan Zakat (KBZ) mengadakan latihan Tenaga Pengumpul Zakat (TPZ) untuk masing-masing wilayah binaan. Sesuai dengan prosedurnya rnaka harus bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Daerah/ Kecamatan. JuJdak KeJompok 8inaan Zakat I 41

48 2. Peserta pelatihan d':'~_ ::_:.::_.: :~- +asing-rnasing desa atau Keluraha-' 2(Clh binaan. Pelatihan ini juga daoar c :6C.-= _- :-:e-...ilayah yang lebih besar, misaln ~ 5:::::_-.:. _-, ::-:::: " kabupaten. 3. Untuk efektifitas pe a --=.-=.:- --:- 32':2 nva peserta pelatihan tidak leb'" ::::- -: :=.-~ ;;-S oiambil dari 4. Calon Pengumpur ;:::,c.:_ -=: svarat-svarat sebaga :;::~. _- a. Sebaiknya ber'e~=_- :~-: e. Ada kernauakemajuan xaz, g. Mempunya' baik terhadap -~.:: _- sesuai dengan muzakkinya oerbuat memenuhi b. Umur minima. r :-=:::- -::: -::: 5: ::an\.ln. Sengaja dicari yang rncca 25=~.=-:::- :~:- +engurnpulkan zakat. c. Setidaknya - --=-I-:=:- :e:ap, kendati minimal. d. Pendidikan e'e-:;-: = ::':~: ::, oisa membaca dan berhitung demi KET: Jika calon ceserta -=~:..., -=~~ ar'han, dapat diadakan seleksi0 e-.:.:. :e.:_-.:- ::::: _CC cancadangan atau peserta pengga-- asi dengan 42 IJuklak Kelompok B;"G'::-::':

49 5. Selama latihan, juga diadakan mudzakarah/diskusi untuk pemantapan konsepsi zakat. 6. Seluruh peserta mendapatkan semua perlengkapan yang diperlukan dalam latihan tersebut. 7. berkaitan dengan kegiatan tersebut sebaiknya Kelompok Sinaan Zakat (KSZ)juga menyiapkan bahan ; a} Hasil telaahan ulang atas pelasaknaan tahap pertama atau hasil evaluasi yang sudah dilaksanakan (review). b) Peta Zakat yang ada di wilayah, agar di ketahui nara sumber atau peserta lain guna menjadi acuan dalam pengumpulan zakat. c) Formulir-formulir latihan /praktek. 8. Diakhir pelatihan sebaiknya peserta diuji konpetensinya, guna melihat sekaligus menyeleksi kelayakan siapasiapa saja yang berhak menjadi seorang TPZ. Akan lebih arif/bijaksana jika hal ini sudah disampaikan diawal pelaksanaan, agarybs serius mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. 9. Semua peserta, panitia, dan nara sumber mendapatkan piagam (keterangan telah mengikuti latihan). Bagi mereka yang dinyatakan lulus konpetensi diberikan piagam khusus sebagai Tenaga Pengumpul Zakat (TPZ). 10. Sebagai identitas formal dalam melaksanakan tugas di lapangan TPZ juga dibuat kartu pengenal khusus yang ditandatangani oleh ketua KSZ,di ketahui oleh ketua SAZ atau Kemenag setempat. 11. Selanjutnya pengurus KSZmemberitahukan secara resmi kepada masyarakat di wilayahnya,siapa saja yang menjadi Juklak Kelompok Binaan Zakat I 43

50 TPZ di desa mereka te _~~= sudah terdata sebelu ~- -;.izakkl yang Nara Sumber : Nara sumber atau pernare ~~- :~::--a!l ini dapat diambil dari berbagai uns...- c==_ --: - ;:_::-:I \: khususnya Kementerian Agama b'oa-g ::; =- --- :.-.: :1'o"insi. Akan tetapi, tidak menuntut ':=':J..2t mengajak nara sumber dari lnstars 2==_ ~.2-.: Misalnya berkaitan der-gan administrasi perkantora= :)s- -:::- _=~- ::engelolaannya dapat mengajak nara SU"i::;e' :=. -::- g anll ekonomi dan lain sebagainya. Ja"'~- _:~...~ -e-,adikan salah seorang pengurus KBZ,oa.:- _= =.==_ i!:!:- _ u'1nya sebagai nara sumber awal, karena ~E-: = c- -:-g :::: f' banyak tahu tentang kondisi segalan.a. 9 -;:=.:: -- :::""2 'lara sumber lainnya dapat melihat enca a.::.-:a :: aoa saja yang harus dicarikan solusinya. Sebagai gambaran nara S...--:}2-: 1) Petugas Provinsi UC1tU """'0:2 -";2-LaS' pengembangan dan pengelolaan zaka.. :1;:-52""2-2- U--um). 2) Petugas BAZDA Provins. atau ~o...oaten untuk sistem pengumpulan zakat (teo- can ora 3) Penyuluh Agama atau pra<tisi za 'a mengenal materi perzakatan. 4) Cendikiawan atau ilmuan oa 0""" :>ioa"g profesi lainnya. Materi Materi pelatihan yang dlsampa.ka«tentunya disesuaikan e I' 44 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

51 dengan target dan sasaran yang ingin dicapai KBZ.Akan tetapi yakinlah bahwa para nara sumber sudah mengetahui Metode Beberapa metode yang disajikan sebelum dapat dijadikan acuan dalam menyempaikan materi pelatihan, tentunya metode yang digunakan harus disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Karena metode sudah dijelaskan sebelum, maka pada bagian tidak akan dijelaskan kembali, hanya mengingatkan bahwa di antara metode yang dapat digunakan antara lain: apa yang seharusnya akan mereka sampaikan. Sebaiknya materi yang disampaikan tidak hanya sebatas pata teori-teori saja, tetapi usahakan juga ada yang bersifat praktik. Bisa juga di adakan kunjungan ke tempat-tempat usaha produktif (rihlah iqtishadiyah) yang sudah berhasil, sehingga dapat dijadikan percontohan atau acuan dalam mengembangkan dana zakat. Diantara materi yang dapat disajikan antara lain: 1. Metode Penyuluhan Zakat 2. Bagaimana mengelola dana zakat agar menjadi produktif 3. Fiqih Zakat dalam berbagai perspektif 4. Petunjuk bagi para muzakki 5. Pendayagunaan zakat 6. beberapa bentuk usaha produktif yang sudah sukses Nb. Sekilas tentang beberapa materi dimaskud dapat dilihat pada lampiran Juk/ak Ke/ompok Binaan lakat I 45

52 Waktu Waktu pelatihan disesuai dengan program yang dibuat oleh Kementerian Agama, baik pusat maupun daerah atau juga dengan BAZ pusat maupun daerah. akan tetapi sangat mungkin kalau memiliki dana KBZsendiri bisa melaksanakan kegiatan pelatihan ini dengan tetap berkonsultasi kepada Kementerian Agama dan Badan Amil Zakat Daerah. Berapa kali pelatihan ini dilaksanakan juga disesuaikan dengan kebutuhan, bisa saja dalam satu tahun diadakan 2 kali pada setiap KBZ, misalnya tahap 1 dan 2 yang tentunya, materi yang disajikan pemula dan menengah dan seterusnya. Atau mungkin juga semua tahap awal dengan peserta yang berbeda, sehingga dari waktu ke waktu TPZ semakin bertambah, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pada tiap-tiap wilayah KBZ. Tempat Tempat latihan ditentukan oleh panitia pelaksana, baik oleh Kemenag, BAZ ataupun KBZ. Karena tempat sangat menunjang efektifitaas diharapkan refresentatif dan nyaman. Misalnya harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Mudah dijangkau dengan mudah oleh calon-calon TPZ 2. Sesuai dengan jumlah kapasitas peserta dan jumlah panitia 3. Memiliki sound sistem yang memadahi 4. Bisa dapat dilakukan untuk pelaksanaan praktik 5. Memiliki arena parkir yang cukup dan aman 46 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

53 D. PENGUMPULAN DAN PEMANFAATAN ZAKAT Setelah diadakan pelatihan dan telah ditetapkan beberapa orang untuk menjadi TPZ di kelurahan dan desa yang menjadi wilayah KBZ, berikut disertakan beberapa pedoman pengumpulan zakat. 1. PEDOMAN PENGHITUNGAN ZAKAT Pedoman yang disajikan ini mernang tidak mewakili semua jenis zakat dengan segala permasalahan yang terkait, secara umum dapat dijadikan pedoman atau acuan awal, selanjutnya dapat dipelajari lagi. JUMLAH HARTA Juklak Kelompok Binaan Zakat I 47

54 2. Pelaksanaan Pengumpulan a. Dalam pelaksanaan pengumplan zakat KBZ membantu BAZsetempat dalam mengumpulkan dana zakat. b. Sebelum aksi pengumpulan dilakukan, diadakan mudzakarah/diskusi antara PZdan KBZ,berkaitan dengan langkah-iangkah pengumpulan zakat dari para muzakki c. KBZmempersiapkan formulir bagi para muzakki. d. Petugas yang ditunjuk memberikan edaran sekaligus formulir kepada para muzakki berkenaan dengan jadwal pengumpulan dana zakat harus dilengkapi dengan identitas PZagar tidak mencurigakan atau membuat ragu muzakki. e. Pemberiantahuan tersebut bisa dilakukan dengan cara menyurati atau menelepon yang bersangkutan secara langsung. Tetapi, sebaiknya datang langsung kepada para muzakki, terutama untuk menjelaskan tujuan pengumpulan dan cara pengisian forrnulir atau dapat juga membantu mengisikan formulir. f. Setelah batas waktu yang telah disepakati antara PZ dengan muzakki, formulir yang sudah diberikan dapat kembali diambil oleh para PZ. atau mengambilnya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan muzakki. g. Selanjutnya, zakat muzakki diarnbil oleh TPZatau diantar langsung oleh muzakki ke pusat pengumpulan zakat h. Sebagai langkah awal masjid di setiap desa dan atau kelurahan dapat dijadikan langkah awal zakat yang didapat TPZ. 48 IJUkiak Ke/ompok Binaan lakat

55 i. Selanjutnya Pusat Pengumpulan Zakat Terpadu Zakat yang terkumpul dipilah-pilah sesuai dengan ijab qobu/ para muzakki. Apakah zakat, mal, pertanian, profesi ataupun zakat fitrah. Berkaitan dengan zakat fitrah dalam bentuk mengadministrasikan hasil pengumpulan zakat dan melaporkan kepada pengurus BAZsetempat. j. Sebagai sarana penunjang KBZdiberikan bantuan berupa brankast dan timbangan dari Kemenag pusat. 2. Rencana Pemanfaatan makanan pokok (beras), ada satu hal yang kurang disadari/diperhatikan para PZ atau amil zakat masjid atau mushalla yang notebene suka mencampur antara satu beras dengan beras yang lainnya. Padahal sangat mungkin kwalitas beras dan satu dengan yang lainnya berbeda, demikian pula dengan harganya. Kenapa hal ini tidak boleh dilakukan! Sebagai pengalaman berakibat pada cara memasak dan hasil beras campuran itu sendiri. Kecuali kalau semua bentuk makanan pokok itu dijadikan uang terlebih dahulu. Karena harus dipilah dan dipisahkan. Zakat yang sudah terkumpul harus dibagikan dan didistribusikan kepada para mustahiq yang sudah ditentukan, termasuk peruntukan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Karenanya perlu diadakan musyawarah atau rapat antar pengurus KBZdan juga PZ,antara lain membicarakan langkah pendistribusian, misalnya : a. Zakat yang ada akan dibagi ke dalam berapa kelompok mustahiq. Juk/ak Ke/ompok Binaan lakat I 49

56 b. Apakah ada paradigma baru berkaitan dengan ke 8 ashnaf tersebut, termasuk pendidikan, dakwah, sosial kemasyarakatan c. Menyusun daftar mustahiq di wilayah setempat sesuai dengan syariat dan kultur yang ada, serta presentase yang bersifat konsumtif dan produktif. d. Bagaimana teknis pendistribusiannya, apakah diantar langsung kepada mustahiq, atau mereka yang mengambil secara langsung ke KBZ atau masjid, atau mungkin juga dengan sistem kupon dan lain sebagainya. e. kalau dengan sistem kupon, apakah harus diambil oleh yang bersangkutan atau boleh diwakilkan. 3, Bagaimana dengan zakat produktif. Harta zakat diharapkan tidak hanya bersipat konsumtif, tetapi juga produktif. Dengan harapan dapat memberikan peluang kerja kepada para mustahiq. Harapan yang lebih besar lagi, para mustahiq dapat menumbuh kembangkan usaha tersebut. Pada akhirnya mereka tidak lagi menjadi mustahiq, melain sudah menjadi muzakki. Cara ini merupakan usaha kongkrit dalam mengurangi kemiskinan masyarakat. Paradigma dan berbagai usaha ke arah ini sudah lama dicanangkan dan dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, BAZ, lembaga-iembaga zakat, para cendikiawan, ekonom dan juga akademisi, kendati tetap memunculkan kontra interpretasi. Misalnya ada pendapat yang menyatakan bahwa zakat fitrah tidak boleh diproduktifkan dan harus habis dibagikan, atau zakat fitrah 50 IJUk/ak Ke/ompok Binaan Zakat

57 tidak boleh diberikan ke masjid atau mushalla, kendati sangat memerlukan, misalnya dalam keadaan direhab. Ada juga pendapat bahwa yang boleh diproduktifkan hanya zakat mal dan lain sebagainya. Kita tidak memperdebatkan perbedaan ini, pertanyaanya jika zakat yang dikumpulkan TPZ cukup banyak, dan setelah dibagikan kepada para Mustahik tetap masih tersisa banyak dan akan diproduktifkan, maka langkah berikut ini yang harus dipersiapkan KBZ,antara lain : 1. Dana zakat dapat diproduktifkan, setelah para mustahiq yang ada disekitar wilayah KBZ sudah mendapatkan bagiannya, sesuai dengan aturan syar'i dan Undangundang Zakat. 2. Rencana produktiftersebut harus disepakati oleh seluruh pengurus KBZ,termasuk penyuluh zakat dengan berbagai pertimbangan yang sudah matang 3. Usaha peroduktif yang akan diwujudkan, tentunya disesuaikan dengan jumlah dana/modal yang ada, termasuk kemampuan memenej usaha dimaksud. 4. Yang tak kalah pentingnya, usaha produktif tersebut merupakan ide masyarakat yang akan mengelolanya dan disetujui oleh KBZ.Jangan sampai KBZ memaksakan satu usaha tertentu tetapi masyarakat yang akan mengelola kurang atau mungkin tidak senang/ahli. 5. Sebaiknya masyarakat yang akan mengelola usaha produktif tersebut dilatih atau dikursuskan terlebih dahulu. 6. Harus diestimasi/diperhitungkan secara matang untung rugi yang akan terjadi, jangan sampai tidak dipegang oleh Juklak Kelompok Binaan Zakat I 51

58 tangan-tangan trampil yang berujung pada kerugian. Kalau ini terjadi, apalagi tanpa alasan legis, hal ini akan mengikis rasa kepercayaan para muzakki. EVALUASI Setelah semuanya terlaksana, mulai dari proses persiapan pengumpulan zakat, pelaksanaan pengumpulan zakat, pendistribusiannya, bagaimana respon masyarakat, tanggapan para muzakki, format berbagai formulir yang disiapkan dan lain sebagainya, termasuk masalah zakat produktif, pengurus KBZ dan juga PZ mengadakan evaluasi guna melihat berbagai kemungkinan langkah-iangkah strategis dalam pelaksanaan pada tahun berikutnya. Dalam proses pengumpulan misalnya ; a. Apakah semua muzakki sudah terdata! b. Apakah format surat edaran pemberitahuan sudah pas dan menyentuh para muzakki! Atau mungkin dengan cara silaturrahim langsung para PZ! c. Manakah pola yang terbaik dalam pengumpulan zakat! apakah dijemput langsung oleh PZ atau menunggu diantarkan muzakki! d. Apakah pengumpul zakatsudah bekerja secara maksimal! e. Apakah media dan sarana yang digunakan sudah cukup menunjang terlasananya pengumpulan dengan efektif atau perlu penambahan dsb! f. Bagaimana dengan gudang, Apakah sudah memadahi atau belum! 52 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

59 g. Adakah muzakki yang komplek dengan cara pengumpulan tersebut! h. Termasuk berbagai hambatan lainnya. Dalam pendistribusian misalnya ; a. Adakah mustahiq yang terlewatkan! b. Apakah pola yang diterapkan cukup adil dan tidak ada komentar negatif dari para mustahiq khususnya! c. Kalau cara pendistribusian kali ini dengan cara kupon, apakah sudah efektif! Kalau belum diambillangkah baru untuk tahun berikutnya. Mungkin harus diantarkan langsung oleh KBZ ke rumah mustahiq, agar mereka merasa lebih terhormat dsb d. Apakah presentase antara konsumtif dan produktif sudah pas! e. Dan berbagai hambatan lainnya. Juk/ak Ke/ompok Binaan Zakat I 53

60 BAB IV TAHAP PEMANTAPAN Tahap ini merupakan tahap yang harus dipersiapkan oleh berbagai komponen terkait, mulai dari Kementerian Agama pusat dan daerah, KUA, BAZ, KBZ, PZ dan juga instansi atau aparat pemerintah terkait lainnya, agar pelaksanaan zakat pada tahun-tahun berikutnya dapat berjalan lebih baik dan lebih bermanfaat lagi. Diharapkan dapat menemukan satu konsep yang dapat dilakukan dalam pengembangan model yang terpadu baik dari segi struktur, organisasi, koordinasi, mekanisme operasional serta pendekatan yang digunakan. Diharapkan pula semua komponen memiliki satu visi dan misi yang sama dan sejalan, memiliki satu tekad dan cita-cita secara bersama guna mencapai kesejahtraan dan kemakmuran bersama. Berikut beberapa hal yang harus dipersiapkan : A. STUDI LAPANGAN 1. Kelompok Binaan Zakat mempelajari ulang hasil evaluasi pelaksanaan tahap pertama dan tahap kedua. Mulai dari proses pembentukan KBZ, PZ, pengumpulan dan pendistribusiannya, termasuk berbagai mekanisme pembentukan, pengumpulan dan pendistribusian. Juklak Kelompok Binaan Zakat I 55

61 2. Kelompok Binaan Zakat mengkaji perkembangan umum terutama perkembangan sosial dan kependudukan di desa yang bersangkutan. 3. Kelompok Binaan Zakat juga membuka diri untuk mengadakan evaluasi intren, mulai dari kinerja individu, kelompok, system dan pola kerja, tata ruang kantor, sarana dan prasarana, pelayanan, hubungan komunikasi dan lain sebagainya. 4. dalam usaha produktif,jika dianggap perlu mencari orangorang yang ahli dalam bidang koperasi, motivator sebagai penyuluh, tokoh masyarakat -kalau memungkinkan dari kelompok rnuzakkl- dan lain sebagainya. B. LATIHAN PENGEMBANGAN 1. Kelompok Binaan Zakat mengadakan latihan pengembangan untuk memperoleh tenaga ahli dalam mengembangkan pendayagunaan zakat. 2. Kelompok Binaan Zakat menyiapkan kembali peta zakat, mulai dari muzakki, Mustahik, dan peruntukannya. 3. Memperbaharui formulir-formulir dan peralatan latihan. 4. mendokumentasikan hasil review tahap pertama dan kedua sebagai bahan acuan untuk tahap berikutnya. 5. Mengadakan survey bagi anggota KBZke berbagai usaha produktif yang sudah sukses, agar dapat diterapkan di wilayah KBZsetempat. C. PELAKSANAAN PELATIHAN Pelatihan tahap pengembangan ini tidak juah berbeda 56 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

62 dengan tahap awal ketika akan mengadakan pembentukan KBZ, hanya saja peserta, nara sumber dan juga materi yang akan disampaikan akan lebih terarah berdasarkan hasil-hasil evaluasi di atas. 1. Peserta latihan a. Peserta latihan maksimal 40 orang, terdiri dari : 1. Pengurus KBZ, PZyang lama atau mungkin juga yang baru 2. Usahakan tetap mewakili KBZ dan PZ masingmasing desa/kelurahan 3. Para mustahiq yang diseleksi untuk mengadakan pengembangan usaha produktif b. Calon peserta harus memenuhi persyaratan dan minat untuk pengembangan zakat c. Setelah mengikuti pelatihan peserta diberi piagam, sertifikat atau surat keterangan d. pada tahap ini peserta sangat mungkin juga terdiri 2. Materi dari pihak koperasi, petani tambak (udang-ikan dll) petani sayuran atau pengrajin lainnya Pada tahap ini materi disesuaikan dengan berbagai rencana/target yang akan dicapai pada tahap berikutnya, sesuai dengan hasil evaluasi. misalnya : 1. Materi terdiri dari teori, praktek dan penugasan 2. Konsepsi zakat hasil musyawarah evaluasi 3. Administrasi dan managemen elementer 4. Akhlak dan kejujuran 5. Penjelasan kembali fungsi, tugas, kewajiban dan tanggung jawab KBZ Ju.klak Kelompok Binaan Zakat I 57

63 6. Tentang proyek percontohan zakat produktif 7. Kewirausahaan dan usaha produktif 3. Nara Sumber Nara sumber atau instruktur, tentunya disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Nara sumber yang berkaitan dengan zakat misalnya, bisa dari Kementerian Agama Pusat ataupun Provinsi, tentunya yang membidangi zakat, dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Zakat. Atau sangat mungkin juga dari BAZ pusat maupun daerah atau dari praktisi zakat. Kalau berkaitan dengan usaha produktif hendaknya diambil dari pengusaha atau pelaku usaha produktif yang sudah sukses. Berkaitan dengan administasi hendaknya diajak mereka ahli administrsi dan lain sebagainya. Singkatnya nara sumber pelatihan ini dapat diambil dari : 1. Kementerian Agama 2. Badan Amil Zakat 3. Lembaga Pelaku Zakat 4. Profesional atau dosen 5. Penyuluh Agama / Penyuluh Zakat 6. Instansi terkait 4. Metode Tentunya para nara sumber yang profesional tentunya akan menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan materi yang diamanahkan, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. KET:lihat penjelasan sebelumnya 58 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

64 5. Waktu dan Tempat Pada dasarnya waktu pelaksanaan disesuaikan dengan jadwal yang sudah terencana oleh instansi yang berwenang untuk melaksanakannya, misalnya Kementrian Agama, BAZ atau instansi dan lembaga terkait lainnya. 1. Pelaksanaanya dapat dilakukan dua kali dalam satu tahun 2. Jika dilakukan 2 x, diharapkan dengan peserta yang berbeda. 3. Tempat latihan sebaiknya dilaksanakan dilingkungan wilayah KBZ,bisa di balai desa ataupun di masjid dan tidak menuntut kemungkinan diadakan di lapangan terbuka. 4. tempat latihan yang ditetapkan diharapkan juga dapat dipakai untuk penugasan atau latihan peraktik secara langsung 6. Pasca pelatihan Setelah diadakan pelatihan, pemerintah -dalam hal ini Kementerian Agama Pusat- tidak lepas tangan, demikian pula dengan BAZNAS. Para kelompok KBZ akan diberikan bantuan awal atau modal untuk merealisasikan perbagai pengetahuan atau pemikiran kreatif yang didapat selama mengikuti pelatihan. Tentunya KBZ harus mempersiapkan proposal ke Kemenag dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Setidaknya langkah umumnya berikut ini : 1. Membuat proposal permohonan yang diajukan kepada Kementerian Agama Pusat yang berisikan : Juklak Kelompok Binaan Zakat I 59

65 a. Usaha produktif yang akan dilakukan b. Susunan pengurus/ SK kepengurusan c. Anggaran yang dibutuhkan 2. Proposal di ketahui oleh Kementerian Agama Provinsi 3. Memiliki rekening koran dan referensi Bank sebaiknya atas nama KBZlangsung Selain bantuan sebagai modal awal, kemenag pusat juga akan memberikan spanduk atau benner yang berkaitan dengan motivasi-motivasi usaha produktif, mandiri dan soslalls, kampanye zakat produktif, manfaat penyuluhan dan lain sebagainya yang terkait dengan zakat. D. PENINGKATAN DAN PELAKSANAAN 1. PENINGKATAN a. Kelompok Binaan Zakat meningkatkan motivasi/ penyuluhan zakat dengan teknik seperti tahap pertama dan tahap kedua. b. Para penyuluh setelah diseleksi juga diminta mengadakan penyuluhan tentang kelompok - kelompok binaan.. c. Untuk melaksanakan butir 2 supaya meminta bantuan kepada para penyuluh dari sektor yang bersangkutan seperti penyuluh pertanian, ternak, koperasi dan sebagainya di desa kelompok binaan zakat. d. Naskah dan poster penyuluhan dapat menggunakan bahan yang sudah disiapkan oleh Tim Pusat atau provinsi dengan kreasi sendiri dari penyuluhan bahwa zakat mengatasi kemiskinan dan masalah sosial. 60 IJUkiak Kefompok Binaan Zakat

66 2. PELAKSANAAN a. Dengan melangkah kepada tahap pengembangan aksi pengumpulan tetap dijalankan bahkan makin diti ngkatka n. b. Tatacara pengumpulan seperti tahap kedua tetap dilaksanakan dengan pusat pengumpulan di masjid yang ditetapkan pada tahap kedua. c. Kelompok binaan dilakukan dengan : 1. Menyusun risalah evaluasi tahap kedua dan hasil diskusi latihan pengembangan. 2. Mudzakarah diadakan antara anggota KSZdan aparat desa, serta SAZ setempat. 3 Menetapkan proyek-proyek pengembangan dan pelaksanaannya serta tim pemantauannya. d. Kelompok binaan adalah esensi pelaksanaan pendayagunaan zakat dalam rangka usaha bersama oleh karena itu perlu dipersiapkan sebaik-baiknya. Juklak Ke/ompok Binaan Zakat I 61

67 BABV PENCATATAN DAN PELAPORAN Pencatatan dan Pelaporan adalah sangat penting untuk mengetahui kegiatan Kelompok Binaan Zakat, agar dapat memudahkan pemantauan dan penentuan tindak lanjut. Pada tiap-tiap tahap pencatatan dan pelaporan diatur secara khusus. A. TAHAP PERSIAPAN 1. Kelompok BinaanZakat (KBZ)berkewajiban menyampaikan laporan pelaksanan secara bertahap, mulai dari persiapan. 2. Laporan disampaikan kepada : a. Kementerian Agama Pusatc.q. Direktur Pemberdayaan Zakat. b. KantorUrusanAgama Kecamatan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kotamadya dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi yang bersangkutan. c. Bupati atau kepala daerah setempat. 3. Laporan memuat a. Pelaksanaan saresehan zakat yang meliputi nama peserta, hal-hal yang dibicarakan dan permasalahan lainnya. Juklak Kelompok Binaan Zakat I 63

68 b. Program kelompok binaan ZaKaL c. Susunan pengurus Kelompox B' Clan Zakat. d. Pertanggungjawaban keuanga-i ke Badan Amil Zakat dan Pusat. e. Evaluasi oleh penyuluh Kelompo B'naan yang berisi saran untuk tahap selanjutnva. 4. Laporan dibuat rangkap 5 unruk ceperluan laporan tersebut pada nomor 2 dan arsip. B. TAHAP PEMBINAAN 1. Kelompok Binaan Zakat (KBl berkewajiban menyampaikan laporan pelaksanan tanap pembinaan. 2. Laporan disampaikan kepada : a. KementerianAgama Pusatc.q. DirekturPemberdayaan Zakat b. Kantor Urusan Agama Kecamatan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten /Kotamadya dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi yang bersangkutan. c. Bupati atau kepala daerah setempat. 3. Laporan memuat: a. Pelaksanaan latihan Pengumpul Zakat yang meliputi nama-nama peserta PZ,materi yang diberikan (teori dan praktek) dan permasalahan lainnya. b. Peningkatan motivasi c. Pelaksanaan Pengumpulan d. Pertanggung jawaban keuangan. e. Evaluasi oleh penyuluh Kelompok Binaan Zakat yang berisi saran untuk tahap selanjutnya. 64 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

69 f. Perencanaan Pemanfaatan C. TAHAP PEMANTAPAN 1. Kelompok Binaan Zakat (KBZ) berkewajiban menyampaikan laporan pelaksanaan tahap pemantapan. 2. Laporan yang disampiakan kepada : a. Kemenag Pusat cq Direktur Pembinaan Zakat. b. Kantor Urusan Agama Kecamatan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten /Kotamadya dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi yang bersangkutan. c. Bupati Kepala Daerah setempat. 3. Laporan memuat : a. Pelaksanan latihan pengembangan zakat yang meliputi nama peserta. materi yang diberikan (teori dan praktek) dan permasalahan lainnya. b. Peningkatan motivasi. c. Pelaksana pengembangan. d. Pertanggungjawaban keuangan kepada Direktur Pemberdayaan Zakat dan Badan Amil Zakat. e. Pemanfaatan zakat produktif. f. Evaluasi oleh Kelompok Binaan Zakat yang berisi saran untuk pengembangan selanjutnya. g. Perencanaan Pemanfaatan. 4. Laporan dibuat rangkap 5 untuk keperluan laporan tersebut nomor 2 dan arsip. Juklak Kelompok Binaan Zakat I 65

70 66 IJukJakKeJompokBinaan Zakat

71 BAB VI PENUTUP Upaya pengembangan kelompok binaan zakat sebagai salah satu Program Direktorat Pemberdayaan Zakat Ditjen Bimas Islam terus dikembangkan sesuai dengan arahan dan sasaran, serta pemanfaatan zakat kearah pemberdayaan masyarakat yang lebih optimal. Diharapkan dari kegiatan ini, tumbuh kesamaan pengertian terhadap pentingnya manfaat zakat dan sekaligus salah satu upaya menghilangkan jurang pemisah antara sikaya (muzakki) dan simiskin (mustahiq). Prinsip kerja yang amanah, profesional dan transparan serta keterampilan merupakan kunci keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan, yang pada gilirannya nanti akan timbul rasa kepercayaan masyarakat (muzakki) untuk membayarkan zakatnya guna kemaslahatan umat, sehingga muzakki akan merasakan hikmat nyata terhadap zakat yang dikeluarkannya. Semoga berman/oat Juklak Ke/ompok Binaan Zakat I 67

72 LAMPI RAN- LAMPIRAN : A. Pada Tahap Persia pan dipergunakan 4 formulir, yaitu ; 1. Form 1 tentang Data Pengembangan Kelompok Binaan Zakat Percontohan 2. Form 2 tentang Data Pendukung Pengembangan Kelompok Binaan Zakat Percontohan 3. Form 3 tentang Pelaksanaan Sarasehan {Musyawarah}. 4. Form 4 tentang Pelaksanaan Motivasi {Penyuluhan/ pendampingan}. FORM 1 NO NAMA ANGGOTA JENIS USAHA ANGGOTA KETERANGAN Juklak Kelompok Binaan Zakat I 69

73 FORM 2 DATA PENGEMBANGAN KELOMPOK BINAAN ZAKAT PERCONTOHAN NO NAMA UNSUR KETERANGAN Ulama Pejabat/pegawai/ABRI Pedagang Mahasiswa/Pemuda Anggota Masyarakat 70 IJUklakKelompok Binaan Zakat

74 FORM 3 DATA PENDUKUNG PENGEMBANGAN KELOMPOK BINAAN ZAKAT PERCONTOHAN PESERTA SARASEHAN ZAKAT SARASEHAN (MUSVAWARAH) 1. Sarasehan/Musyawarah ke 2. Jumlah peserta 3. Topik yang dibicarakan 4. Pernbicara utama/ penceramah/pembawa naskah 5. Harapan yang dituju sampai sarasehan berikutnya 6. Pimpinan sarasehan 7. Waktu 8. Tempat 9. Tanggapan peserta 10. Rencana sarasenan berikutnya hari, tanggal, jam Catatan : Dibuat setiap akhir sarasehan, dilaporkanke Kantor Kementerian Agamasetempat Penyuluh Juklak Kelompok Binaan Zakat I 71

75 FORM 4 PElAKSANAAN MOTIVASI 1. Nama motivator/penyuluh/pendamping 2. Pelaksanaan motivator/penyuluhan/ pendamping 3 Tempat hari, tanggal, jam 4. Yang dihimbaukan kepada masyarakat 5. Bahan yang digunakan 6. Tanggapan Masyarakat 7. Hambatan yang dihadapi dan upaya penanggu langannya 8. catatan : Dibuat setiap sesudah memberi motivasi, di/aporkan kepada Kepada Ketua kejompok KBZ. Motivator/Penyu Iuh 72 IJuklak Kelompok BinaanZakat

76 B. PadaTahap Pembinaandipergunakan 5 Formulir yaitu : Form. 5 Formulir Muzakki Form. 6 Daftar Penerimaan Forrnulir Form. 7 Register Penyetoran Zakat Form. 8 Tanda Penerimaan Zakat Form. 9 Laporan Rekapitulasi HasilZakat. Adapun contoh formulir tersebut adalah sebagai berikut: FORMS NamaKBZ Desa Kecamatan Kabupaten FORMULIR MUZAKKI No Urut: Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama At a rn a t Peke~aan Wilayah Dusun/desa Menurut nisab dan haulnya berscdia mengeluarkan zakat : 1. Ziroah (pertanian) Rp. _ 2. Tijaroh Perdagangan Rp. _ 3. Maal (harta) Rp. _ Desa, 20 Yangmenyerahkan- x) Coret yang tidak perlu... Juklok Kelompok BinaonZokat I 73

77 TANDA TERIMA Sudahterima dari Banyak uang/barang PembayaranZakat tahun Desai 20. Yang menerima Alamat Petugas : Petugas, No. Surat tugas/dari: Nama Jelas 74 IJuklak Ke/ompok BinaanZakat

78 FORM 6 Desa Kecamatan DAFTAR PENERIMMN Nomor. BADAN/AMILlAKALDESA BADANAMILZAKAT FORMULIR No. Tanggal Nomor Penyetoran Zakat Urut diberikan formulir Nama Alamat Tei Tangan Desa, 20. Ketua SAZ Desa ( ) )uklak Kelompok Binaan Zakat I 75

79 FORM 7 BADAN AMIL ZAKAT DESA DESA KECAMATAN REGISTER PENYETORAN ZAKAT NO. TANGGAL JUMLAH JUMLAH URAIAN PENERIMAAN BARANG UANG KEL Desa, 20. Petugas, 76 IJUklakKelompok Binaan Zakat

80 FORMS TANDA PENERIMAAN ZAKAT Dengan ridha Allah SWT, telah kami terima zakat, dari Sdr. : Nama Alamat Jenis zakat Sanyaknya Sesarnya Rp Ditulis dengan huruf. : Ton/kg. Desa,. Badan/Amil Zakat Desa.. Ketua, Nama Jelas Dibuat pengurus SAZ desa diberikan kepada petugas yang menyetorkan Juklak Kelompok Binaan Zakat I 77

81 FORM 9 DESA KEC./KAB. BULAN BADAN AMIL ZAKAT DESA LAPORAN REKAPITULASl HASILZAKAT NO. PENYETORAN 1m 1lAH HASIL NAMA WlLAYAH SAM PAl DENGAN I..LARI:"')'GL~ KERJA TGL..a:.... KET. (DESA) FOR UANG JML JML JML I MUUR FORM UANG FORM U;':,G I I Desa,.._~ 20. Ketua SAl Desa ( Nama Jelas Catatan. Dibuat tiap-tiap akhir bulan oleh Pengurus BAZ Desa 78 IJUkfak Kefompok Binaan Zakat

82 c. Pada Tahap Pemantapan dipergunakan 6 formulis yaitu : Form 10 Form 11 Form 12 Form 13 Form 14 Form 15 Sesunan Kelompok Binaan Zakat Peta zakat Daftar penyuluh Daftar peserta latihan pengembangan Jadwal waktu latihan pengembangan Laporan pelaksanaan tahap pelaksanaan Adapun contoh formulir tersebut adalah sebagai berikut : FORM 10 SUSUNAN KELOMPOK BINAAN ZAKAT (KBZ) No Nama Unsur MZ/MTx) Keterangan *) Ml: Muzakki MT: Mustahiq Juklak Ke/ompok Binaan Zakat I 79

83 FORM 11 PETAZAKAT 1. Jumlah Penduduk : orang 2. Jumlah umat Islam yang tahun ini telah membayar zakat : a. Zakat Fitrah... orang Berupa Beras/jagung kg Bernilai Rp.. b. Zakat maal Berupa.. orang Binatang Pertanian Emas/perak perdagangan... ekor... kg... gr Rp. Profesi Rp. Rikaz Rp.. Kekayaan Rp.. TOTAL Rp. 3. Pendayagunaan zakat a. Konsumtif Berupa Bernilai Jumlah mustahiq a orang b orang b. Produktif benda zakat yang diproduktifkan : bentuk produktifttas jumlah mustahiq yang menerima dikembangkan : orang... organisasi 80 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

84 FORM 12 DAFTAR PENYULUH No Nama Unsur Alamat Desa Keterangan*) *) Diisi penyujuh atau penyuluh pembantu Juklak Kelompok Binaan Zakat I 81

85 FORM 13 DAFTAR PES R'TA LA - No Nama U~ I ~..._an*) Ii ~I *) diisi penyuluh atau Pengumpulan Zakat (PZ) atau tokoh koperasi atau wiraswasta atau mustahiq (yang diseleksi) 82 IJUkiak Keiompok Binaanlakat

86 FORM '4 JADWAL WAKTU LATIHAN PENGEMBANGAN No Tanggal Jam Materl penyuluh Keterangan luklak Kelompok Binaan Zakat I 83

87 KOP KElOMPOK BINAAN ZAKAT Nomor Lampiran Perihal..., (satu) berkas Permohonan bantuan Kepada Yth. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam c.q, Direktur Pemberdayaan Zakat JI. Moh. Husni Thamrin No.6 Jakarta Assalamu'alaikum wr. Wb. Salam silaturrahim kami sampaikan kepada Bapak beserta staf, semoga senantiasa mendapatkan kasih sayangnya dalam we ialan segala aktifitas keseharian. Amin Dalam rangka, Kelompok Binaan Zakat OJ.. Kami memohon bantuan DANA OPERASIOt-.Al ~tuk meningkatkan produktivitas program kerja kami. Sebagai bahan pertimbangan, berikut kami sertacan 1 berkas proposal (terlampir) Demikian permohonan ini kami sampaikan, atas segala kebaikan dan perkenannnya kami ucap terima kasih. Mengetahui, Ketua BAZ Daerah Kabupaten I Kota Kelompok Sinaan Zakat Pengurus (Nama Jelas) ( Nama jetas ) 84 IJUklak Kelompok BinaanZakat

88 NB ; Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, proposal harus dilengkapi dengan rekomendasi Kementerian Agama Kabupaten/Kota/BAZ Kabupaten/Kota. Selain itu juga harus dilengkapi dengan : 1. Nama dan alamat kelompok Binaan Zakat 2. Nama Pengurus Kelompok Binaan Zakat 3. Struktur organisasi kelompok Binaan Zakat 4. Jumlah anggota kelompok Binaan Zakat 5. Jumlah tenaga pendamping Kelompok Binaan Zakat 6. Deskripsi infrastruktur. Juklak Kelompok B/noonZokot I 85

89 Instrument Verifikasi Calon Penerima Bantuan 1. Nama Kelompok 2. Alamat lengkap Jalan Desa/kelurahan Rt/ Rw Kecamatan Kabupaten/Kota Provinsi Telepon/fax Contact Person 1. Nama 2. Tip / Hp 3. Nama Ketua Kelompok 4. Deskripsikan secara singkat dan jelas aktivitas dan kegiatan yang ada di kelompok (dilampiri dokumen pendukung) 5. RencanaPenggunaan Bantuan : 6. Kebutuhan yang menjadi prioritas : 7. Dokumen-dokumen yang mendukung eksistensi kelompok : (susunan pengurus kelompok, pendampingan kelompok dll) \8. Sarandan rekomendasi Ketua Kelompok Petugas Verifikasi NIP. 86 I)uklak Kelompok Binaan Zakat

90 Instrument Monitoring Penerima Bantuan Nama Kelompok Alamat lengkap Jalan Desa/kelurahan Rt/Rw.. Kecamatan Kabupaten/Kota Provinsi Telepon/fax Contact Person 1. Nama 2. Tlp/ Hp Nama Ketua Kelornpok Jumlah bantuan yang diterima Waktu penerimaan bantuan pemanfaatan dana bantuan 7. Sumber dana : Rp. Partisipasi Kelompok : Rp. : Rp. 8. laporan pertanggungjawaban (Iampirkan dokumen pendukung) Ketua Kelompok Petugas Monitoring... NIP. Juklak Kelompok Binaan Zakat I 87

91 Kop Dlnas Dlrektorat Jenderal Berita Acara Serah Terima Bantuan Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Dr. H. Rohadi Andul Fatah, M. Ag NIP Jabatan Direktur Pemberdayaan Zakat Alamat JI. Muh. Husni Thamrin No.6 Jakarta Pusat 10110It. 9 Dalam hal ini disebut Plhak Pertama Nama Jabatan Ketua Kelompok Alamat _ Dalam hal ini disebut Plhak Kedua Pihak Pertama telah menyerahkan kepada Pihak Kedua dan Pihak Kedua telah menerima uang sebesar Rp. (ditulis latin), sesuai dengan SK Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam No. tahun 20 Dana bantuan tersebut oleh Pihak Kedua dipergunakan untuk perkembangan rencana kerja kelompok, dan kepada kelompok Binaan Zakat penerima bantu an wajib membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan bantuan kepada pihak pertama. Selanjutnya, penerima bantuan wajib membuat laporan tertulis tentang penggunaan bantuan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dana bantuan tersebut sepenuhnya menjadi tanggungjawab bagi pengguna bantuan. Demikian Berita Acara Serah Terima Bantuan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Pihak Pertama PihakKedua Dr. H. Rohadl Abdul Fatah, M. Ag NIP Saksi- saksi 1). 2). 88 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

92 Surat Pernyataan Kesediaan Memenuhi Ketentuan bagi Penerima Bantuan. Kepada Dlrektur Jenderal Bimbingan Masyarakat 'slam c.q, Direktur Pemberdayaan Zakat JI. Moh. Husnl Thamrin No.6 Jakarta Assalammualalkum Wr. Wb. Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Tempat/tgllahir Alamat Dalam hal ini bertindak atas nama Kelompok Binaan Zakat... yang beralamat di : Jalan Desa/Kelurahan Kecamatan Kab./Kota Provinsi )uklak Kelompok Binaan Zakat I 89

93 Dengan ini menyatakan setuju menerima bantuan sebesar Rp '" ' ( ditulis latin) cengan system tanggung renten serta sanggup memutarkan dana ~artuan kepada seluruh anggota Kelompok Binaan Zakat dan Kelo.-'pok Binaan Zakat lainnya, Demikian surat pernyataan kesedlaan ini kami buat dengan sadar dan penuh rasa tanggung jawab... _ -. _ _...,... ' '" 2011 Mengetahui, Kabid Zakat Kab/Kota... Ketua elompok Binaan Zakat Ketua Badan Ami! Zaka1)aerah Kab./ Kota IJUkiak Kelompok Binaan Zakat

94 SURAT PERJANJIAN PEMBERIAN BANTUAN OPERASIONAl KElOMPOK BINAAN ZAKAT Pada hari ini tanggal bulan '" tahun '" '" '" '" '" ; yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NIP Jabatan Alamat Dr. H. Rohadi Andul Fatah, M. Ag Direktur Pemberdayaan Zakat JI. Muh. Husni Thamrin No.6 Jakarta Pusat 10110It. 9 Nama Jabatan A/amat Kantor ; Se/anjutnya disebut PIHAK PERTAMA... Ketua Ke/ompok Binaan Zakat '" '"... '" '" '".... Bertindak untuk dan atas nama Ke/ompok Binaan Zakat '"... '"... '" '" '" '" '" selanjutnya disebut PIHAK KEDUA. Kedua belah pihak di atas sepakat dan menyetujui untuk me/aksanakan perjanjian sebagai berikut ; Pasai1 Pemberi dan Penerima Bantuan P'HA~ PERTAMA memberi BANTUAN '" '" '" '" '" '"... Kepada PIHAK KEDUA dan kedua belah pihak sepakat bahwa dana BANTUAN in; hanya akan dipergunakan untuk: (1) '" '" '" '" '"... '" '".. Pasal2 Dasar Pelaksanaan Bantuan Bantuan dimaksud di/aksanakan berdasarkan kepada : 1. Usulan yang diajukan o/eh Kasubdit Penyuluhan Zakat sesuai dengan a/okasi yang sudah ditetapkan sebelumnya secara proporsional. (setelah me/a/ui verifikasi dan rekomendasi Kantor Juklak Kelompok Binaan Zakat I 91

95 Kementerian Agarna Kab. I Kota atau Badan Ami! Zakat Daerah Kab./ Kota) 2. Proposal yang diajukan oleh PIHAK KEDUA dan sudah diverifikasikan serta disetujui oleh PIHAKP RTAMA, dan 3. Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Pasal3 Nilai Bantuan Besar bantuan yang diberikan PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA sebesar Rp (ditu/is latin), dan dana ini sudah termasuk biaya transfer antar rekening bank. Pasal4 Waktu Penyelesaian Program Bantuan Waktu penyelesaian bantuan sesuai tahun anggaran berjalan dan proposal yang diajukan PIHAK KEDUA telah disetujui oleh PIHAK PERTAMA. Pasal5 Pemeriksaan Pelaksanaan Pekerjaan 1. PIHAK KEDUA wajib membuat reneana kerja dan jadwal pelaksanaan pengembangan program kerja kelompok serta diketahui I disetujui PIHAKP RTAMA 2. PIHAK KEDUA wajib membuat dan memberikan laporan hasil pelaksanaan pekerjaan pengembangan program ker]a kelompok seeara berkala, sekurang -kurangnya satu kali setiap 6 (enam) bulan kepada PIHAK P RTAMA, dan 3. Setiap saat PIHAK P RTAMA atau yang ditunjuk berwenang untuk mengawasi dan memeriksa hasi! pelaksanaan pekerjaan pengembangan program kelompok PIHAK KEDUA antara lain: spesifikasi, mutu dan perkembangan jumlah. 92 IJUklak Kelompok Binaan Zakat

96 Pasal6 Pemberian Bantuan Pemberian bantuan dilakukan satu tahap langsung ke rekening Kelompok Binaan Zakat. Pasal7 Sanksi Jika berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi oleh PIHAK PERTAMA, ternyata PIHAK KEDUA tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan proposal yang disepakati I tidak sesuai dengan peruntukan bantuan, maka PIHAK KEDUA wajib mengembalikan uang ke kas Negara sebesar Rp (Tu/is latin) selambatlambatnya hari setelah hasil pemantauan dan evaluasi diterima oleh PIHAKPERTAMA. Pasal8 Lain -lain 1. Semua dokumen yang mendahului Surat Perjanjian ini merupakan hubungan yang tidak dipisahkan dari perjanjian ini dan bersifat mengikat bagi kedua belah pihak, dan 2. Surat Perjanjian ini dibuat rangkap 4 (em pat ), lembar pertama dan lembar kedua masing-masing dibubuhi materai Rp , (enam rlbu rupiah), lembar lainnya tanpa materai tetapi memiliki kekuatan hukum sama. PIHAK KEDUA Ketua Kelompok Binaan Zakat PIHAK PERTAMA Kasubdlt Pengelolaan Zakat Direktorat Pemberdayaan Zakat Ttd dan cap ttd dan cap Nama Terang Nama terang dan NIP Juklak Kelompok Binaan Zakat I 93

97 KESIMPULAN EVAlIJAS Bismillahirrahmanirrahim, Pertemuan Evaluasi Kelompok Bina2~ -::~~ - Desa yang diselenggarakan pada tanggal C~- 20 di setelah mempe~.z 1. Pengarahan Bapak Direktur Jendera E=- 'asyarakat Islam; 2. Laporan/evaluasi Pelaksanaan Ke 0,...:>0 3 "'aan Zakat 3. Laporan pengembangan zakat denga- C2'"? >ogrem Kelompok Binaan Zakat; 4. Juklak Pengembangan Kelompok Binac- :.cc2: G Desa; 5. Pendapat/tanggapan/saran peserta ya~ :)er' e+oang selama acara evaluasi. Menyimpulkan sebagai berikut: 1. Kegiatan kelompok binaan zakat di telah mendapat sambutan positif dan merco;-o.-g a masyarakat untuk meningkatkan pengumpu 2"' Je-geJolaan dan pendayagunaan zakat. Kegiatan-keg 2:2- c atas diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelornpox-ce 0-':>0 di desa-desa pada kabupaten di-maksud dan kabuazter- amrrya, sehingga pada gilirannya kegiatan tersebut co2 Go set:iap desa-desa kabupaten/kotamadya di seluruh Indooesia. 2. Untuk pelaksanaan pengembangan kejo'"""::>obmaan zakat di setiap kabupaten!kotamadya diperlukantx...lc... :JeQOI1laJ1 yang baku. 3. Perlu adanya peraturan perundang-undanga.t'icililnya mengenai pengaturan zakat 4. Menerima konsep Juklak Pengembar.ga""l Kelompok Binaan Zakat di Desa sebagai pedoman de!"1ga, penyempurnaanpenyempurnaan setelah mempelajari laporan kelompok binaan zakat di serta pendapat dap saranyang berkembang dalam pertemuan evaluasiini antara lain: a. Dalam rangka pengembangan zakat periu adanya dukungan kewibawaandari Ulama danumara. b. Perlu adanya koordinasi antara instansi dan Badan/Lembaga yang terkait. 94 IJUkiak Ke/ompok Binaan ZaKat

98 c. Meningkatkan motivasi berzakat, infaq dan shadaqah guna lebih menghayati dan mengamalkan ajaran agama, sekaligus untuk menunjang stabilitas ketahanan nasional dan suksesnya pembangunan. d. Melengkapi kepustakaan Fiqihzakat. e. Dana administrasi pengelolaan dan pengembangan usaha mustahiq dapat diambil dan dana yang masuk rnaksrnal m % dari jumlah seluruhnya. f. Memanfaatkan fungsi masjid sebagai sentral pembinaan umat dalampengembanganzakat,infaq danshadaqah. Jukiak Keiompok BinaanZakat I 95

99 TIM PENYUSUN BUKU JUKLAK KELOMPOK BINAAN ZAKAT Ketua 5ekretaris Anggota : Drs. H. A. Buwaethy, M. Pd. I : Drs. H. Yumul Mayeswin, M. Pd : 1. Hj. Wida 5ukmawati, 5. 50S 2. Drs. Zulkifly Tambunan 3. Dudi Abdul Kadir 4. Hj. Yulmunah Asfianti, 5. 50S S. H. Meftah, 5E 6. Arif Rizal 7. Tarukhi Jakarta, 31 Januari 2011 Direktur Pemberdayaan Zakat 96 IJuklak Kelompok Binaan Zakat

100 '0

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT I. UMUM Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

PEMERINTAHAN KABUPATEN BINTAN

PEMERINTAHAN KABUPATEN BINTAN PEMERINTAHAN KABUPATEN BINTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BINTAN, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roda pemerintahan terus bergulir dan silih berganti. Kebijakan baru dan perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. Dampak

Lebih terperinci

PERATURAN ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA NOMOR : V TAHUN 2010 TENTANG TATA KERJA ORGANISASI

PERATURAN ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA NOMOR : V TAHUN 2010 TENTANG TATA KERJA ORGANISASI PERATURAN ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA NOMOR : V TAHUN 2010 TENTANG TATA KERJA ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA ------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG JABATAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2012 NOMOR 17 A PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 17 A TAHUN 2012 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2012 NOMOR 17 A PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 17 A TAHUN 2012 TENTANG BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2012 NOMOR 17 A PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 17 A TAHUN 2012 TENTANG MEKANISME DAN TATA CARA PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA 17 /PER/M.

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA 17 /PER/M. MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17 /PER/M. KOMINFO/03/2009 TENTANG DISEMINASI INFORMASI NASIONAL OLEH PEMERINTAH,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PERTAHANAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN. KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR : 05 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN. KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR : 05 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR 05 TAHUN 2014 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1 ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama Yayasan Gedhe Nusantara atau Gedhe Foundation (dalam bahasa Inggris) dan selanjutnya dalam Anggaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan paradigma baru pengelolaan barang milik negara/aset negara yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 0 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA

PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA Oleh Hertanto Widodo Sumber: BUKU KRITIK & OTOKRITIK LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia (Hamid Abidin & Mimin Rukmini)

Lebih terperinci

FORMULIR LAPORAN PENGELOLAAN ZAKAT ACEH 2013 BAITUL MAL KABUPATEN ACEH JAYA

FORMULIR LAPORAN PENGELOLAAN ZAKAT ACEH 2013 BAITUL MAL KABUPATEN ACEH JAYA FORMULIR LAPORAN PENGELOLAAN ZAKAT ACEH 2013 BAITUL MAL KABUPATEN ACEH JAYA Nama Institusi : SK Lembaga / Tanggal (terakhir) : (dilampirkan) SK Pengurus / Tanggal (terakhir): Baitul Mal Kabupaten Aceh

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan)

PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan) PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan) PENDAHULUAN Guru kini semakin menghadapi permasalahan yang cukup berat dalam

Lebih terperinci

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.01/2008 TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat

Lebih terperinci

PEDOMAN PENETAPAN ANGKA KREDIT DAN KENAIKAN JABATAN/PANGKAT PENGAWAS MADRASAH

PEDOMAN PENETAPAN ANGKA KREDIT DAN KENAIKAN JABATAN/PANGKAT PENGAWAS MADRASAH PEDOMAN PENETAPAN ANGKA KREDIT DAN KENAIKAN JABATAN/PANGKAT PENGAWAS MADRASAH Oleh : Team Penyusun KEMENTERIAN AGAMA RI DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM DIREKTORAT PENDIDIKAN MADRASAH JAKARTA 2014

Lebih terperinci

Tipe-tipe komunikasi. Puri Kusuma D.P

Tipe-tipe komunikasi. Puri Kusuma D.P Tipe-tipe komunikasi Puri Kusuma D.P a)komunikasi kesehatan b)komunikasi politik c) Komunikasi bisnis d)komunikasi keluarga e) dll Konteks-konteks komunikasi Komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa-sosial,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7 PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Diajukan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF BAGI KEPALA SEKOLAH

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF BAGI KEPALA SEKOLAH KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF BAGI KEPALA SEKOLAH OLEH A. MULIATI, AM Kepala sekolah dalam meningkatkan profesonalisme guru diakui sebagai salah satu faktor yang sangat penting dalam organisasi

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014;

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014; -2- Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana telah diubah dengan dengan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 8,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK

TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK Fitri Rahmawati, MP. Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik UNY email: fitri_rahmawati@uny.ac.id Seni Berbicara Kemampuan menggabungkan: Penguasaan Pesan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

RANCANGAN PROGRAM KERJA KULIAH KERJA NYATA PEMBELAJARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (KKN-PPM)

RANCANGAN PROGRAM KERJA KULIAH KERJA NYATA PEMBELAJARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (KKN-PPM) RANCANGAN PROGRAM KERJA KULIAH KERJA NYATA PEMBELAJARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (KKN-PPM) DISUSUN OLEH: Nama: Bejoi Nicolas NPM: 0103285687 Lokasi KKN-PPM: Puncak Lawang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat tidak mungkin dihindari dan sangat mendasar bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat tidak mungkin dihindari dan sangat mendasar bagi kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan berkomunikasi laksana bernapas bagi manusia. Suatu kegiatan yang sangat tidak mungkin dihindari dan sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Melalui

Lebih terperinci

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KMA NOMOR 23 TAHUN 2014

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KMA NOMOR 23 TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT pada tahun anggaran 2014 kami dapat menyusun buku Keputusan Menteri Agama RI Nomor Tahun 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG TENAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG TENAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG TENAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!

BAB 1 PENDAHULUAN. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia! BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia! Siapakah yang tidak mengenal kalimat

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. Bahwa karya cetak

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurang maksimalnya pemanfaatan media merupakan salah satu dari sekian banyak masalah dalam pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika. Permasalahan

Lebih terperinci

dimengerti oleh penerima, dan secara nyata dapat dilaksanakan, sehingga tercipta interaksi dua arah.

dimengerti oleh penerima, dan secara nyata dapat dilaksanakan, sehingga tercipta interaksi dua arah. Sekalipun Anda memiliki produk unggulan, konsep layanan prima dan gagasan-gagasan kreatif, tetapi tidak Anda komunikasikan kepada orang lain, tidak ada gunanya. Sehebat apa pun ilmu dan jurus-jurus bisnis

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

Teknologi & Media Pembelajaran

Teknologi & Media Pembelajaran Teknologi & Media Pembelajaran Oleh: Khairul Umam dkk 1.1 Pengertian Secara etimologi, kata "media" merupakan bentuk jamak dari "medium", yang berasal dan Bahasa Latin "medius" yang berarti tengah. Sedangkan

Lebih terperinci

Susanti, Liberti Pandiangan

Susanti, Liberti Pandiangan PENGARUH PENERAPAN EKSTENSIFIKASI WAJIB PAJAK TERHADAP PENINGKATAN PENERIMAAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SERPONG PADA TAHUN 2010-2012 Susanti, Liberti Pandiangan Universitas

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA JAKARTA 2008 PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

NO NAMA JABATAN TUGAS POKOK FUNGSI URAIAN TUGAS

NO NAMA JABATAN TUGAS POKOK FUNGSI URAIAN TUGAS LAMPIRAN : PERATURAN WALIKOTA CIMAHI Nomor : 30 Tahun 2008 Tanggal : 28 Nopember 2008 Tentang : TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS PADA KECAMATAN DAN KELURAHAN KOTA CIMAHI KECAMATAN NO NAMA JABATAN TUGAS

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 9 Juli 2013 Kepada : Yth. 1. Gubernur 2. Bupati/Walikota 3. Pimpinan DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota di - SELURUH INDONESIA SURAT EDARAN NOMOR 160/3559/SJ

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id

Lebih terperinci

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047 MUATAN MATERI PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA DAN PELAKSANAANNYA DALAM PROSESS PEMBELAJARAN (Analisis Isi Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Siswa Kelas VIII Terbitan Kemendikbud

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2007 TENTANG PELAKSANAAN PENGANGKATAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2007 TENTANG PELAKSANAAN PENGANGKATAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2007 TENTANG PELAKSANAAN PENGANGKATAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

Kumpulan Makalah Pembekalan KKN UNY 2011, hal 21-29 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KULIAH KERJA NYATA. Oleh: Wawan S. Suherman *)

Kumpulan Makalah Pembekalan KKN UNY 2011, hal 21-29 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KULIAH KERJA NYATA. Oleh: Wawan S. Suherman *) PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KULIAH KERJA NYATA Oleh: Wawan S. Suherman *) A. Pendahuluan Sebagai sebuah institusi perguruan tinggi, Universitas Negeri Yogyakarta memiliki tugas untuk menjalankan tridharma

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa dunia usaha dan perusahaan,

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 22/PER/M.KOMINFO/12/2010

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 22/PER/M.KOMINFO/12/2010 MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 22/PER/M.KOMINFO/12/2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL DI KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL PERATURAN PRESIDEN NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa hak cipta merupakan kekayaan intelektual di bidang

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450 PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PETA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BENAR SALAH BERANTAI PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 01 JATIHARJO KECAMATAN JATIPURO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010

Lebih terperinci

Kemampuan peserta. Daya Serap Peserta. Kemampuan pengajar. Efektifitas alat bantu pengajaran. Alat Bantu Pengajaran

Kemampuan peserta. Daya Serap Peserta. Kemampuan pengajar. Efektifitas alat bantu pengajaran. Alat Bantu Pengajaran Kemampuan peserta Kemampuan pengajar Daya Serap Peserta Efektifitas alat bantu pengajaran 2 Penglihatan 82% Pendengaran 11 % Penciuman 1 % Pencecapan 2,5 % Perabaan 3,5 % 3 10 % dari apa yang dibaca 20

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Perspektif Kesejahteraan Guru Kini Dalam setiap Peringatan Hari Guru, persoalan kesejahteraan guru selalu menjadi topik yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, PERBAIKAN DR SETUM 13 AGUSTUS 2010 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PEDOMAN TUGAS BELAJAR DAN IZIN BELAJAR PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUP PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP DAN IZIN LINGKUNGAN DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad

BAB I PENDAHULUAN. Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad informasi dan pengetahuan. Karena informasi dan pengetahuan akan menjadi landasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG 68 BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG A. Analisis terhadap pelaksanaan hibah seluruh harta kepada anak angkat

Lebih terperinci

Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai

Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai Berbagi informasi terkini bersama teman-teman Anda Jakarta Istilah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bukan suatu hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Namun

Lebih terperinci

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN METODE PEMBELAJARAN Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi yang sudah direncanakan. Jenis metode pembelajaran : Ceramah : penyajian melalui penuturan secara lisan/penjelasan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS OPTIMALISASI PENYALURAN DANA YANG TEPAT SASARAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN. A. Pelaksanaan Penyaluran Dana Pendidikan YDSF Surabaya

BAB IV ANALISIS OPTIMALISASI PENYALURAN DANA YANG TEPAT SASARAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN. A. Pelaksanaan Penyaluran Dana Pendidikan YDSF Surabaya BAB IV ANALISIS OPTIMALISASI PENYALURAN DANA YANG TEPAT SASARAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN A. Pelaksanaan Penyaluran Dana Pendidikan YDSF Surabaya Lembaga Amil Zakat yang biasa disebut dengan LAZ, berfungsi

Lebih terperinci

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa A. Latar Belakang KOPI, Dewasa ini, tradisi masyarakat menjadi perhatian aset warisan bangsa. Hal ini disebabkan karena dinamika zaman telah mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Tradisi masyarakat selalu

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : Menetapkan :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2015 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG JABATAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci