Bab 10 Teori dan Praktek Penataan Ruang Sumbangan Pikiran Tiga Praktisi tentang Tata Ruang Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab 10 Teori dan Praktek Penataan Ruang Sumbangan Pikiran Tiga Praktisi tentang Tata Ruang Indonesia"

Transkripsi

1 10.5 SUMBANGAN PIKIRAN TIGA PRAKTISI TENTANG TATA RUANG INDONESIA Oleh Hendropranoto Suselo MENGAPA KETIGA PRAKTISI? Mungkin ada yang bertanya mengapa perlu dituliskan mengenai sumbangan pikiran ketiga praktisi dalam tulisan ini, dan siapakah ketiga praktisi tersebut. Praktisi yang dimaksud adalah Sutami, Poernomosidi Hajisarosa, dan Radinal Moochtar yang kebetulan ketiganya pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum di Indonesia. Penulisan tentang ketiga praktisi tersebut bukanlah untuk meniadakan penghargaan terhadap sumbangan pikiran banyak praktisi atau pemikir lainnya tentang tata ruang Indonesia. Namun, pengemukaan sumbangan pikiran ketiga praktisi didasari oleh latar belakang pemikiran bahwa ketiga pemikir tersebut telah mengembangkan konsep pemikirannya dan pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum, dengan asumsi bahwa jalan pikirannya mempengaruhi pelbagai pengambilan keputusan tentang tata ruang di Indonesia. Pengambilan keputusan ini terutama mempengaruhi pola pembangunan prasarana dan sarana pekerjaan umum di wilayah tanah air kita. Pengemukaan sumbangan pikiran ketiga pemikir itu juga dimudahkan karena dua di antaranya (yaitu Sutami dan Poernomosidi Hajisarosa) banyak menulis tentang apa yang dipikirkannya sehingga mudah ditelusuri alur pikiran yang menjadi buah orisinil hasil renungan kedua pemikir tersebut. Walaupun tidak dapat ditemukan tulisan Radinal Moochtar, akan tetapi berdasarkan kedekatan hubungan penulis dengannya dapat diketahui karya yang telah dihasilkannya. X.5-1

2 Penulis beruntung masih aktip menjalankan tugas di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum pada saat pemikiran tersebut dicetuskan, sehingga dapat dikatakan berperan sebagai saksi sejarah mengenai makna dan dampak dari pemikiran kedua praktisi yang diuraikan dalam tulisan ini. Sayang sekali bahwa tulisan tulisan kedua praktisi kini sudah sulit diperoleh karena publikasinya amat terbatas, juga dari Badan Penerbit Pekerjaan Umum yang pernah menerbitkan tulisannya. ESENSI PEMIKIRAN KETIGA PRAKTISI TENTANG TATA RUANG INDONESIA Apa sebenarnya esensi pemikiran ketiga praktisi tentang tata ruang di Indonesia? Sutami adalah seorang insinyur sipil yang saat menjabat Menteri Pekerjaan Umum harus mencari penyelesaian atas begitu banyak persoalan pembangunan prasarana dan sarana fisik nasional. Sutami terkenal rajin berkunjung ke segenap pelosok tanah air dan paham betul persoalan yang dihadapi rakyat di pelbagai tempat yang berbeda beda keadaan lingkungan fisik dan sosialnya. Penguasaan persoalan rakyat di pelbagai tempat di tanah air merupakan salah satu latar belakang lahirnya pemikiran yang bermakna tentang tata ruang Indonesia. Dari pengalamannya jelas bahwa Sutami sadar faktor tempat atau lokasi sebagai faktor yang demikian pentingnya dalam pemecahan persoalan pembangunan prasarana dan sarana pekerjaan umum. Dimensi tempat dan lokalitas merupakan faktor yang menjadi ciri utama tata ruang. Sutami (lihat dalam tulisan Sutami, Beberapa Pemikiran untuk Pembangunan Nasional; dan Hendropranoto Suselo dalam tulisan Sutami, Sosok Manusia Pembangunan dalam Majalah Prisma Edisi Khusus 20 Tahun Pertama, 1991 (1) sangat sadar bahwa suatu wilayah atau tempat selalu mempunyai dua system, pertama adalah sistem ekologi atau sistem yang menentukan keadaan lingkungan fisik dalam tatanan kehidupan masyarakat di suatu wilayah, dan kedua adalah sistem sosial atau manusia dan keadaan sosial budaya setempat yang berinteraksi dengan system ekologi wilayah yang bersangkutan. Sebagai seorang insinyur sipil Sutami mengibaratkan suatu wilayah sama dengan sebuah bangunan, yaitu seperti semua bangunan memiliki superstructure dan infrastructure demikian juga suatu wilayah. Sutami lebih menekankan perlunya memperhatikan X.5-2

3 substructure yang dalam sebuah bangunan adalah pondasi dari bangunan yang menentukan kekuatan dan kestabilan dari bangunan tersebut. Dalam hal suatu wilayah substructure nya ada dua, yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. Apabila kurang diperhatikan aspek substructure tersebut, maka kekuatan bangunan tersebut menjadi goyah dan bahkan seluruh bangunan dapat ambruk dan musnah karena ketidakkuatan substructure nya. Sutami mengamati bahwa banyak persoalan dalam pembangunan prasarana dan sarana wilayah bersumber pada pengabaian elemen substruktur dari suatu wilayah. Teori Sutami sudah dikembangkannya pada pertengahan tahun 1970an bersamaan dengan Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Lingkungan Hidup di Stockholm yang pertama kali menyadarkan manusia di bumi ini untuk memperhatikan masalah lingkungan hidupnya. Meskipun hampir bersamaan, tetapi pemikiran Sutami sama sekali tidak dipengaruhi oleh gerakan PBB tersebut dan berlangsung sama sekali terpisah karena pemikirannya berkembang dalam konteks persoalan pembangunan di Indonesia. Jelas, Sutami telah memberikan sumbangan pemikiran yang orisinil dan mengingatkan betapa pentingnya untuk memperhatikan masalah lingkungan hidup dalam upaya pembangunan. Teori Sutami berkembang jauh sebelum Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) Emil Salim menggunakan tata ruang sebagai instrumen yang strategis dan penting dalam menangani persoalan lingkungan hidup di Indonesia. Emil Salim misalnya mempromosikan pengendalian kawasan Bopunjur (Bogor Puncak dan Cianjur) dengan meletakan landasan perencanaan tata ruang bagi kawasan tersebut sebagai alat pengendaliannya. Sutami adalah seorang praktisi, dan menerapkan teorinya dalam apa yang dinamakan sebagai Operasi Penyelamatan Pulau Jawa seperti diuraikannya dalam tulisannya di atas. Dengan teorinya, Sutami mengatasi persoalan banjir dan bencana alam lainnya yang melanda tanah air kita dengan pengamatannya mengenai kondisi lingkungan hidup di P.Jawa yang sudah sangat menurun akibat kenaikan jumlah penduduk yang sudah melampaui daya dukung lingkungannya. Cara mengatasi persoalan lingkungan hidup dilakukan dengan cara yang sama dengan penanganan suatu penyakit. X.5-3

4 Pertama, perlu diketahui dulu penyakit dan sebab-sebabnya (the desease and causes), kemudian gejala-gejalanya (symptoms) dan komplikasinya (complications). Dan akhirnya, diterapkan langkah untuk mengurangi penderitaan (lessening the impact) dan usaha untuk penyembuhannya (theraphy). Menurut Sutami penyakit yang menahun dan kronis adalah ketidakseimbangan antara jumlah petani penggarap dan luas tanah garapannya. Penyakit ini menyerang daerah tertentu dan menyebabkan kurangnya pangan dan pendapatan petani, sedangkan dalam bentuknya yang parah mengakibatkan rusaknya tata air yang menyebabkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau di P.Jawa. Gejalanya secara terbatas adalah daerah tertentu yang terancam bahaya kurang pangan, dan dalam bentuknya yang parah mengakibatkan pendangkalan dan rusaknya sungai-sungai. Komplikasinya antara lain disebabkan karena meletusnya gunung berapi, iklim yang berubah-ubah, adanya keinginan untuk terus menerus menanam padi, rendahnya disiplin petani penggarap dan lemahnya sistim informasi. Upaya untuk mengurangi penderitaan misalnya dilakukan melalui usaha intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas para petani. Namun, penyembuhannya harus dilakukan melalui usaha melaksanakan transmigrasi secara besar-besaran keluar Jawa. Ditunjuknya bahwa setiap tahun jumlah penduduk yang ditransmigrasikan agar lebih besar dari bertambahnya penduduk. Cara Sutami menerapkan konsepnya dalam mengatasi pelbagai persoalan di tanah air seperti bencana alam, misalnya banjir jelasjelas bukanlah semata-mata dengan pendekatan teknis atau engineering saja, tetapi digunakannya pendekatan pengembangan wilayah dan tata ruang. Sutami bukanlah hanya praktisi tetapi juga mengembangkan konsepsinya secara akademis. Oleh karena itu Sutami menuliskan konsepnya dalam bentuk Ilmu Wilayah yang mengantarkannya untuk mendapatkan gelar Doktor kehormatan dalam pengembangan wilayah dari Universitas Gajah Mada. Dalam mengembangkan ilmunya, Sutami banyak dipengaruhi oleh rekan staf yang banyak membantunya seperti Lego Nirwhono yang pada masa itu menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan Departemen Pekerjaan Umum, Soefaat yang bertugas sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) X.5-4

5 Departemen Pekerjaan Umum, dan Soenaryono Danudjo yang bertugas sebagai Kepala Biro Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Departemen Pekerjaan Umum. Lego Nirwhono misalnya memperkenalkan konsep yang dikemukakan oleh seorang ahli administrasi pembangunan Saul Katz dalam bukunya A System Approach to Development Administration (2), yang dikutip Sutami dalam Pidato Pengukuhannya sebagai gurubesar di Universitas Gajah Mada yang berjudul Ilmu Wilayah dalam Kaitannya dengan Analisa Kebijaksanaan dan Perencanaan Pembangunan di Indonesia (3). Keinginannya untuk mengukuhkan dan mengembangkan lebih lanjut pemikirannya diwujudkan dengan mendirikan suatu Pusat Penelitian Perencanaan Pembangunan Regional (yang kemudian diubah menjadi Nasional ) Universitas Gajah Mada, dengan bantuan staf inti lain yang membantunya. Teori Sutami sempat diterjemahkan dalam bentuk kurikulum dan sylabus (4) bagi pendidikan Ilmu Wilayah yang dikembangkan di Universitas Gajah Mada. Dalam upayanya Sutami telah mengembangkan pendidikan dan latihan di bidang tata ruang yang mempunyai selera berbeda dengan pendidikan planologi di Institut Teknologi Bandung. Di Universitas Gajah Mada pendidikan yang diawali oleh Ilmu Wilayah Sutami selanjutnya menjadi tempat pendidikan latihan yang lebih praktis sifatnya bagi para staf perencana yang dibutuhkan oleh Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) yang dalam kurun waktu itu dibentuk baik di tingkat Propinsi dan juga di daerah tingkat II Kabupaten dan Kotamadya, dibandingkan dengan pendidikan akademis yang lebih tinggi tingkatannya di ITB. Selanjutnya, berbeda dengan Sutami, Poernomisidi adalah seorang Doktor dalam Metalurgi lulusan Jerman yang selain banyak berperan sebagai staf Sutami juga mengembangkan pemikiran mengenai pengembangan wilayah dan tata ruang yang berlainan dengan Sutami. Poernomosidi selain cukup berperan dalam proyek persawahan pasang surut, proyek bangunan Conefo, dan proyek besar lainnya, juga berpengaruh besar dengan pernah membawa sebagian dari tugas penyelenggaraan transmigrasi, khususnya pengembangan lahan untuk kebutuhan transmigrasi ke Departemen Pekerjaan Umum. X.5-5

6 Dalam hal ini Poernomosidi menjadi bagian yang amat penting dalam pelaksanaan konsep Sutami mengenai Operasi Penyelamatan Pulau Jawa seperti digambarkan diatas. Kedekatan Poernomosidi dengan Sutami dapat antara lain digambarkan dari cara Sutami menggunakan kasus penyakitnya sebagai cara Sutami menjelaskan pemikirannya tentang pengembangan wilayah di Indonesia (5). Tugas transmigrasi ini kemudian ditarik kembali dan dikeluarkan lagi dari Departemen Pekerjaan Umum, dalam periode Kabinet sesudah Sutami dan Poernomisidi berhenti sebagai Menteri. Selain bakat kepemimpinannya Poernomosidi juga cerdas dalam mengembangkan pemikiran, khususnya mengenai masalah pengembangan wilayah. Berbeda dengan Sutami yang menggali banyak pemikirannya dari pengalamannya di lapangan, Poernomisidi adalah pemikir yang sangat konseptual dan merupakan salah satu tokoh yang memperkenalkan penggunaan pendekatan sistem dalam memecahkan pelbagai persoalan pembangunan termasuk dalam pengembangan wilayah. Pendekatan system dalam berpikir guna memecahkan persoalan pembangunan nasional dan wilayah, serta pembangunan prasarana dan sarana pekerjaan umum yang dikembangkannya, kemudian dikenal sebagai disiplin berpikir nya Poernomosidi. (6). Dengan menggunakan "disiplin berpikirnya" Poernomisidi mengembangkan pemikirannya mengenai pengembangan wilayah seperti dituangkannya dalam bukunya Konsepsi Dasar Pengembangan Wilayah di Indonesia (7). Poernomosidi sering mengatakan bahwa konsep pemikirannya mengenai pengembangan wilayah adalah khas untuk Indonesia. Dikenalinya dua kebutuhan pokok manusia yaitu berupa barang dan jasa, dan teorinya disusun berdasarkan pengamatannya tentang struktur pergerakan barang dan jasa tersebut dalam suatu wilayah yang membentuk suatu susunan hirarki. Teorinya dikembangkan dengan menggunakan prinsip prisnip dasar teori lokasi. Pemikiran Poernomisidi menentang teori klasik dari Walter Kristaller tentang Central Place Theory yang cenderung mengamati lokasi aglomerasi kegiatan dari segi pelayanan ke dalam, dengan mengetengahkan Teori Lokasi Ujung atau Edge Place Theory terutama sehubungan dengan jangkauan pelayanan yang jauh maupun orientasinya keluar. Dengan dasar ini Poernomisidi melakukan pengamatan terhadap pola perdagangan antar daerah yang disebutnya sebagai Orientasi Geografis X.5-6

7 Pemasaran yang pada masing-masing daerah di Indonesia mengarah pada perairan dalam Indonesia, yaitu mengarah ke Laut Jawa. Pemikiran Poernomisidi juga sering menggunakan istilah pintu-pintu gerbang pemasaran, atau aliran barang dan jasa yang keluar-masuk suatu wilayah. Melalui pengamatan orientasi kedalam dan keluar ini kemudian dikenali dua fungsi pelayanan dalam suatu wilayah, yaitu fungsi primer untuk pelayanan yang menjangkau keluar dan fungsi sekunder untuk pelayanan yang berorientasi kedalam. Konsep pengembangan wilayah Poernomisidi seperti diakuinya sendiri lebih memperhatikan fungsi fungsi primer dari pelayanan suatu wilayah, karena menuirut pendapatnya fungsi sekunder pada dasarnya tidak berpengaruh dalam pembentukan struktur suatu pengembangan wilayah. Dengan menggunakan dasar fungsi primer ini kemudian dikenalinya apa yang olehnya disebut sebagai Satuan Wilayah Pengembangan atau SWP-SWP. Satuan Wilayah Pengembangan ini mempunyai struktur dan juga hirarki, dan pusat-pusat dari setiap SWP kemudian memiliki suatu hirarki dalam bentuk Orde Kesatu, Kedua, Ketiga dan sebagainya. Pemikiran yang dikembangkan oleh Poernomisidi didasari atas pengamatannya untuk dapat mewujudkan keseimbangan antar daerah dalam hal tingkat pertumbuhannya dalam suatu wilayah nasional termasuk dalam bagian-bagian wilayahnya. Konsepnya dilandasi pula dengan tujuan untuk memperkokoh kesatuan ekonomi nasional dan memelihara efisiensi pertumbuhan nasional. Peornomisidi mengembangkan pemikirannya saat menjabat sebagai Deputy Pembangunan Regional di Bappenas. Meskipun tidak mempunyai latar belakang pendidikan dalam perancangan atau planning gagasan yang dikembangkan Poernomosidi pantas mendapatkan acungan jempol karena diperkenalkannya pada saat Indonesia baru memasuki tahap awal memikirkan mengenai pengembangan wilayah atau regional development planning di Indonesia. Dalam hal ini, Poernomosidi merupakan perintis dalam pemikiran mengenai konsepsi pengembangan wilayah yang penting dalam sejarah tata ruang. Tentunya Poernomisidi tidak berhenti dalam konsepsi tetapi pemikirannya kemudian dicoba dilaksanakannya dengan cukup berhasil dalam menentukan pola X.5-7

8 jaringan jalan nasional, saat Poernomisidi menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Marga dan kemudian sebagai Menteri Pekerjaan Umum. Selanjutnya praktisi ketiga yaitu Radinal mempunyai latar belakang sebagai arsitek, dan dari pengalaman serta minatnya kemudian banyak sekali keterlibatannya dalam penataan ruang. Radinal pada awal karir setelah kembali dari pendidikannya di luar negeri menjabat sebagai Direktur Perencanaan Kota dan Daerah di Bawah Departemen Cipta Karya dan Konstruksi yang kemudian menjadi Direktorat Jenderal Cipta Karya di bawah naungan Departemen Pekerjaan Umum. Selain di Departemen Pekerjaan Umum, Radinal juga berkarier sebagai Kepala Biro Fisik dan Tata Ruang di Bappenas di bawah Deputy Bidang Regional dan Daerah yang waktu itu dijabat oleh Poernomosidi. Dalam konteks karyanya di Bappenas. Radinal bersama Poernomosidi memprakarsai penyelenggaraan studi pengembangan regional yang pertama dilakukan di Sumatera Barat dan kemudian berkembang menjadi kegiatan yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Dari pekerjaan ini Radinal bersama Poernomosidi menjadi perintis pertama dari perencanaan pengembangan wilayah ( regional development planning ) di Indonesia dalam praktek yang nyata. Dalam kedudukannya di Direktorat Perencanaan Kota dan Daerah, Radinal merintis program bantuan teknis yang pertama dalam penataan ruang dengan membentuk apa yang kemudian dikenal dengan nama unit perencanaan daerah di semua Propinsi. Unit perencanaan daerah yang semula bersifat embrio lembaga kemudian menjadi suatu proyek atau bagian program dan bertahan selama lima Repelita. Unit perencanaan daerah yang dibentuk oleh Departemen Pekerjaan Umum ini menjadi motor penggerak bagi berfungsinya Bappeda-Bappeda yang kemudian bersamaan dengan dimulainya Repelita dibentuk di tiap-tiap Propinsi, dan kemudian di tiap Kotamadya dan Kabupaten. Unit perencanaan daerah juga menjadi tangan-tangan Departemen Pekerjaan Umum yang pada Repelita pertama membantu daerah-daerah dalam menyusun Rencana Umum Tata Ruang (Outline Plan) dari tiap-tiap Kotamadya dan Kabupaten serta Propinsi. Radinal kemudian menyadari bahwa bantuan teknis penyusunan Rencana Umum Tata Ruang tidak akan banyak manfaatnya kalau pemerintah daerah tidak dibantu dengan menyusunkan program pembangunan untuk mewujudkannya. X.5-8

9 Dengan kesadaran ini, Radinal mulai memprakarsai dilakukannya Studi Pengembangan Kota dimulai untuk kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Ujungpandang, Semarang, Surakarta, Yogyakarta dan kemudian diikuti juga oleh kota-kota sedang dan kecil lainnya. Studi Pengembangan Kota ini yang selanjutnya menjadi embrio bagi proyek-proyek pengembangan perkotaan (Urban Develompment Projects atau UDP-UDP) yang mendapatkan dukungan dari pelbagai lembaga internasional seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia,USAID, Pemerintah Belanda, Pemerintah Jepang, Pemerintah Kanada, dan lainnya. Konsep pemikiran Radinal pada umumnya bersifat praktis dan langsung dipergunakan untuk melaksanakan pembangunan. Dalam karier selanjutnya sebagai Direktur Jenderal Cipta Karya Radinal mengembangkan pelbagai konsep penanganan program pembangunan perkotaan seperti untuk air bersih IKK (Ibukota Kecamatan), pembangunan dengan standardisasi dan prefabrikasi, pembangunan dengan standar kebutuhan dasar dan secara massal, pengembangan sistem moduler, pengembangan upaya perintisan untuk perbaikan kampung, dan upaya-upaya penghematan biaya yang sangat mewarnai program Direktorat Jenderal Cipta Karya selama beberapa Repelita. Selanjutnya, dalam kedudukannya sebagai Menteri Pekerjaan Umum Radinal melakukan pelbagai langkah pengembangan kelembagaan yang signifikan dari segi penataan ruang, yaitu : (1) pembentukan Pustra (Pusat Strategis) pengkajian kebijakan pembangunan prasarana dan sarana pekerjaan umum yang dilatarbelakangi pemikiran pengembangan wilayah dan penataan ruang, (2) perubahan struktur organisasi Departemen Pekerjaan Umum dari struktur sektoral menjadi struktur wilayah (yang membagi Indonesia dalam wilayah Indonesia Barat, Tengah dan Timur), (3) penegasan bahwa perencanaan tata daerah tidak diberikan penonjolan dalam tugas Departemen Pekerjaan Umum (karena tugasnya melampaui kewenangan Departemen Pekerjaan Umum), sehingga nama Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah diubah menjadi Direktorat Pembinaan Tata Perkotaan Perdesaan. Khusus mengenai hal yang ketiga Radinal beranggapan berbeda dengan Poernomosidi yang menghendaki dan bercita-cita Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah berfungsi sebagai dapur tata ruang nasional. Hal ini tercermin juga dari pembangunan gedung Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah, di Jl. Raden Patah yang X.5-9

10 semula direncanakan keseluruhan gedung hanya menampung kegiatan Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah. Dengan perkembangan yang terjadi belakangan gedung tersebut tidak diperuntukkan hanya untuk kegiatan Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah tetapi menjadi gedung Direktorat Jenderal Cipta Karya. DAMPAK PRAKTEK KETIGA PEMIKIRAN Seperti disinggung pada awal tulisan relevansi dari tulisan ini adalah karena ketiga praktisi menduduki peran penting sebagai Menteri Pekerjaan Umum, dan karenanya pemikiran-pemikirannya pasti mempunyai dampak terhadap pengambilan keputusan mengenai kebijakan publik yang penting dalam bidang tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Berbeda dengan Poernomosidi, sayangnya Sutami tidak menjabat cukup lama setelah mengembangkan pemikirannya untuk dapat menerapkan semua yang dipikirkannya. Oleh karena menderita sakit, Sutami baru sempat menuliskan gagasannya di tempat tidur selama masa sakitnya, dan belum sempat membina suatu kelompok staf yang memenuhi sebagai critical mass untuk menterjemahkan pemikirannya dalam operasi penyelenggaraan tugas sehari-hari di Departemennya. Namun, pendekatan substruktur Sutami merupakan konsep yang amat bernilai untuk diperhatikan oleh para pejabat publik sekarang dan di masa yang akan datang mengenai begitu pentingnya segi manajemen sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk dapat menjaga mutu lingkungan hidup yang baik di suatu wilayah, dan dalam mengatasi pelbagai persoalan kritis dalam pengembangan wilayah seperti persoalan banjir, bencana alam dan lainnya. Sutami tidak hanya memberikan perhatian pada faktor fisik dan sumber daya alam, tetapi secara seimbang menekankan begitu pentingnya faktor sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Kalau membaca keseluruhan tulisannya akan mudah terasa betapa besar perhatian Sutami, bahkan menurut penulis sangat emosional, akan perlunya mengolah manusia Indonesia dalam suatu nation and character building yang merupakan keharusan untuk dilaksanakan. Sangat disayangkan, Sutami tidak sempat mendisseminasikan sendiri konsepsi pemikirannya, demikian pula X.5-10

11 hidupnya terlalu singkat untuk dapat membangkitkan cukup banyak pengikut yang dapat mempromosikan dan mengembangkan lebih lanjut pemikirannya. Buku tulisannya merupakan satu-satunya tinggalan Sutami yang apabila lebih banyak putera bangsa yang akan membacanya, pasti akan mengenali betapa masih relevannya cara pendekatan dan pemikiran Sutami dalam mengatasi pelbagai persoalan atau penyakit yang diderita tanah air kita yang merupakan bahaya laten yang dapat menyerang kita sewaktu-waktu. Poernomisidi mempunyai lebih banyak waktu dan kesempatan untuk mendisseminasikan dan melestarikan pemikirannya, dan sempat membangun suatu korps pemikir seperti Ruslan Diwiryo, Suryatin, Soenaryo Soemadji, Risman Maris yang selain memahami pola pikirnya juga cukup fanatik (dalam arti positip) untuk menerapkan pemikiran Poernomosidi dalam pengambilan keputusan di bidang tugas yang riil, yaitu khususnya dalam menentukan pola jaringan jalan nasional. Disiplin berpikir Poernomosidi cukup tertanam kuat diantara cukup banyak pengikutnya. Harus diakui bahwa Poernomosidi lebih berhasil ketika kembali ke lingkungan kerjanya sendiri di Departemen Pekerjaan Umum daripada ketika pada awal membangun pemikirannya di Bappenas. Faktor yang berpengaruh atas keterbatasan penerimaan konsep pemikirannya di Bappenas adalah dominasi para ahli ekonomi dibawah pimpinan Widjojo Nitisastro, termasuk Emil Salim yang memang sangat kuat pada awal-awal pelaksanaan Repelita dan pada saat para pemikir ekonomi sektoral masih mendikte pembangunan nasional kita. Baru akhir-akhir ini sayap pembangunan regional dan daerah di Bappenas mendapatkan porsi yang lebih seimbang dalam pengambilan keputusan alokasi sumber pendanaan dibandungkan dengan para penganut pembangunan sektoral, dalam memutuskan misalnya dalam sektor pembangunan perkotaan, yang terjadi pada saat tumbuh dan berkembangkan proyek-proyek pengembangan perkotaan (urban development projects atau UDP) yang mendapatkan pembiayaan dari pinjaman badan multilateral internasional seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia. Keberhasilan Poernomosidi dalam mengaplikasikan pemikirannya berada dalam bidang yang terbatas yaitu dalam bidang pembangunan jalan yang menjadi tugas Direktorat Jenderal Bina Marga yang dipimpinnya. Pemikiran Poernomisidi mempunyai keterbatasan, kalau tidak dibilang kelemahan, karena fokus perhatian X.5-11

12 dalam konsepnya adalah dalam pergerakan barang dan jasa. Dalam konsepsinya pergerakan manusia kurang mendapatkan bobot dalam penilaian dalam pembentukan struktur dalam suatu pengembangan wilayah. Demikian pula pemikirannya kurang menyentuh pada fungsi fungsi sekunder dalam suatu wilayah yang menurut anggapannya kurang berpengaruh pada pembentukan struktur pengembangan wilayah. Oleh karena itu pemikirannya mengalami keterbatasan apabila diterapkan dalam konteks suatu wilayah perkotaan dimana misalnya pergerakan manusia dari tempat huniannya ke pusat-pusat pekerjaan (journey from home to work) menurut pendapat penulis merupakan faktor yang menentukan dalam pembentukan struktur wilayah perkotaan. Dalam konteks ini peranan fungsi sekunder pelayanan dalam kota sulit untuk diabaikan dalam pertimbangan. Pasti dewasa ini dan masih dalam waktu yang akan dating masih dapat ditemukan jejak dari pemikiran yang berasal dari Poernomisidi. Sementara itu, Radinal tidak melempakan gagasan-gagasan yang sangat menarik perhatian dan juga tidak menuliskan gagasannya dalam suatu tulisan. Tetapi pengaruh dari apa yang menjadi konsep pemikirannya meletakkan tapak yang jelas dalam sejarah penataan ruang, di satu pihak keyakinannya betapa pentingnya penataan ruang dalam menata kehidupan dan melaksanakan pembangunan, tetapi di lain pihak kesadaran dan pengamatannya yang jernih bahwa penataan ruang yang berhenti dalam perencanaan tidak akan memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat. Radinal menterjemahkan pendekatan penataan ruang dalam bahasa yang sederhana yaitu kebersamaan dalam memimpin Departemen Pekerjaan Umum. Radinal tidak membuat orang berpikir tetapi orang dapat memahami dari tindakannya betapa kaya pemikirannya mengenai bagaimana menata ruang dalam kenyataan operasional pembangunan, sesuatu hal yang sampai sekarang pun masih banyak dicari oleh para pengambil keputusan penataan ruang. Radinal juga membangun sambil berpikir dan cepat dalam mengkoreksi langkah yang kurang tepat sebelumnya. Radinal akan terus dikenang karena pernah menciptakan unit perencanaan daerah, studi pengembangan kota, program air bersih IKK, program perintisan prasarana dan sarana, program moduler prefabrikasi dengan dasar standardisasi untuk pembangunan massal, lembaga Pustra, dan X.5-12

13 merintis struktur kewilayahan dalam organisasi Departemen Pekerjaan Umum. PENUTUP Ketiga praktisi besar dalam sejarah tata ruang telah menyumbangkan hasil-hasil pemikiran yang amat besar manfaatnya bagi pembangunan tanah air dan bangsa Indonesia. Sutami memberikan nuansa pada dimensi lingkungan hidup yang bertumpu pada unsur substruktur dalam suatu wilayah yang pasti masih relevan untuk mengatasi pelbagai persoalan pembangunan nasional, terutama persoalan yang bersifat kronis, kritikal dan mengakibatkan krisis nasional. Poernomisidi besar sumbangannya dalam mengintroduksikan pemakaian pendekatan system melalui disiplin berpikir yang tepat dalam menganalisa struktur pengembangan wilayah melalui konsep struktur dan hirarki satuan wilayah pengembangan dan orde-orde dari pusat-pusat pengembangan wilayah dalam pengambilan keputusan jaringan prasarana dan sarana ekonomi nasional. Peran dan sumbangan Radinal menonjol dalam menciptakan pola bantuan teknis, program pembangunan perkotaan dan bentuk kelembagaan yang dilandasi kuat oleh pemikiran penataan ruang yang kesemuanya merupakan modal bagi penyelenggaraan desentralisasi ketika Indonesia memasuki era reformasi pembangunan. Ketiga pemikir besar di atas mempunyai ciri satu yang menonjol, yaitu berhasil mengetengahkan konsep pemikiran tata ruang dan pengembangan wilayah yang khas untuk dan digali dari situasi dan kondisi tanah air kita Indonesia, bukan dikembangkan dari teori di buku atau pun berasal dari literatur luar. Meskipun seperti halnya dengan konsep pemikiran lainnya masing-masing mempunyai keterbatasan dalam aplikasi dan penerimaannya, tetapi pemikiran yang telah dikembangkan ketiga praktisi besar, Sutami dan Poernomisidi dan Radinal seyogyanya menjadi bacaan dan pengetahuan wajib yang seharusnya memberikan inspirasi bagi pemecahan pelbagai persoalan tata ruang, pembangunan prasarana dan sarana, dan pembangunan nasional dalam artinya yang luas. X.5-13

14 Konsep Poernomosidi menjadi tetap relevan, karena berkaitan dengan konsep Sutami yang dalam era sesudah reformasi menjiwai diperlukannya Penataan Ruang Wilayah Pulau (yang perlu ditetapkan dalam bentuk RPP atau R Inpres) dalam kerangka penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan kesatuan wilayah nasional sebagai bagian dari Wawasan Nusantara. X.5-14

15 DAFTAR PUSTAKA 1) Sutami, Ilmu Wilayah, Beberapa Pemikiran untuk Pembangunan Nasional, tidak diterbitkan, 1980, dan Hendropranoto Suselo, Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia, PRISMA Edisi Khusus 20 Tahun Prisma, ) Saul M.Katz, A Syatem Approach to Development Administration, American Society for Public Administration, July ) Sutami, Ilmu Wilayah dalam Kaitannya dengan Analisa Kebijaksanaan dan Perencanaan Pembangunan di Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam ilmu Wilayah Universitas Gajah Mada, ) Sutami, Kurikulum dan Silabus Ilmu Wilayah, Memeograph, ) Sutami, Direktur Jenderal Saya Kena Penyakit Thrombo Phlebitis dengan Lymph Adenitis pada Kaki Kirinya, Departemen PUTL, ) Dr.Ir.Poernomosidi Hadjisarosa, Disiplin Berpikir Menuju Pengenalan Masalah Pengembangan Wilayah, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum, ) Dr.Ir.Poernomosidi Hadjisarosa, Konsepsi dasar Pengembangan Wilayah di Indonesia, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum X.5-15

Bab 4 Kelembagaan Lembaga Tata Ruang Pertama di Indonesia

Bab 4 Kelembagaan Lembaga Tata Ruang Pertama di Indonesia 4.1 Bab 4 Kelembagaan LEMBAGA TATA RUANG PERTAMA DI INDONESIA Oleh Soefaat LEMBAGA TATA RUANG PERTAMA Lembaga tata ruang pertama yang didirikan di Indonesia bernama Balai Tata Ruangan Pembangunan (BTRP).

Lebih terperinci

Bab 4 Kelembagaan Kelembagaan Penataan Ruang di Kementerian Lingkungan Hidup

Bab 4 Kelembagaan Kelembagaan Penataan Ruang di Kementerian Lingkungan Hidup 4.3 KELEMBAGAAN PENATAAN RUANG DI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP Oleh Arie D.D. Djoekardi & Isa Karmisa Ardiputra KEBERADAAN Kelembagaan tata ruang di bidang lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari

Lebih terperinci

Bab 10 Teori dan Praktek Penataan Ruang Tata Ruang sebagai Ilmu Interdisiplin : Implikasi dan Perkembangannya

Bab 10 Teori dan Praktek Penataan Ruang Tata Ruang sebagai Ilmu Interdisiplin : Implikasi dan Perkembangannya 10.1 TATA RUANG SEBAGAI ILMU INTERDISIPLIN : IMPLIKASI DAN PERKEMBANGANNYA Oleh Hendropranoto Suselo ILMU INTERDISIPLIN? Tata ruang kerap dikatakan sebagai ilmu interdisiplin. Maksudnya, pengetahuan dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM Menimbang : a. Bahwa sebagai

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa transmigrasi merupakan bagian integral

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH. Budiman Arif 1

APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH. Budiman Arif 1 APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH Budiman Arif 1 PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN ADVERSITY DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN ADVERSITY DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN ADVERSITY DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh

Lebih terperinci

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki disampaikan oleh: DR. Dadang Rukmana Direktur Perkotaan 26 Oktober 2013 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG Outline Pentingnya Jalur Pejalan

Lebih terperinci

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana Wilayah pesisir dan laut memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah daratan. Karakteristik khusus

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG bidang TEKNIK ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG MOHAMAD DONIE AULIA, ST., MT Program Studi Teknik Sipil FTIK Universitas Komputer Indonesia Pembangunan pada suatu

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. http://www.linkedin.com/company/pt-jasa-raharja-persero- diakes pada tanggal 24 April 2014

BAB I PENDAHULUAN. http://www.linkedin.com/company/pt-jasa-raharja-persero- diakes pada tanggal 24 April 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai Negara berkembang Indonesia terus mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam bidang pembangunan. Pembangunan menandakan majunya suatu

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA TARIK DUA PUSAT PELAYANAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN DI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Kasus: Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo)

ANALISIS DAYA TARIK DUA PUSAT PELAYANAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN DI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Kasus: Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo) ANALISIS DAYA TARIK DUA PUSAT PELAYANAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN DI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Kasus: Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo) TUGAS AKHIR Oleh : SRI BUDI ARTININGSIH L2D 304 163 JURUSAN

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 12/MEN/VIII/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN TENAGA

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono 6.7 PEMBANGUNAN KOTA BARU Oleh Suyono BEBERAPA PENGERTIAN Di dalam Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Undang-undang Otonomi Daerah) 1999 digunakan istilah daerah kota untuk

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

pula motivasi kerja menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Ternyata kedemokratisannya mampu mempengaruhi motivasi kerja yang cukup

pula motivasi kerja menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Ternyata kedemokratisannya mampu mempengaruhi motivasi kerja yang cukup BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan 1. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratis terhadap Motivasi Kerja Gaya kepemimpinan yang meliputi dimensi Pengambilan Keputusan, Penegakan Disiplin,

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

KAJIAN DAYA TAMPUNG RUANG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN KOTA TARAKAN TUGAS AKHIR

KAJIAN DAYA TAMPUNG RUANG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN KOTA TARAKAN TUGAS AKHIR KAJIAN DAYA TAMPUNG RUANG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN KOTA TARAKAN TUGAS AKHIR Oleh : M. HELWIN SETIAWAN L2D 099 434 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2004

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

DRAFT RANCANGAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR: TAHUN TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN KELAIKAN OPERASI JEMBATAN TIMBANG

DRAFT RANCANGAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR: TAHUN TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN KELAIKAN OPERASI JEMBATAN TIMBANG DRAFT RANCANGAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR: TAHUN TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN KELAIKAN OPERASI JEMBATAN TIMBANG DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT Menimbang : (1) Bahwa untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan paradigma baru pengelolaan barang milik negara/aset negara yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA. Nomor 69 Tahun 1996. tentang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA. Nomor 69 Tahun 1996. tentang PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA Nomor 69 Tahun 1996 tentang PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN SERTA BENTUK DAN TATA TAT CARA PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG BADAN KOORDINASI TATA RAUNG

Lebih terperinci

MANAJEMEN SITUASIONAL

MANAJEMEN SITUASIONAL MANAJEMEN SITUASIONAL Walaupun suatu organisasi bisnis telah memiliki seperangkat instrumen untuk mengendalikan perilaku sumber daya manusia di dalamnya - baik antara lain melalui deskripsi tugas (wewenang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN I - 1 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM Ketersediaan jembatan sebagai salah satu prasarana transportasi sangat menunjang kelancaran pergerakan lalu lintas pada daerah-daerah dan berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat menjamin pertumbuhan ekonomi, kesempatan lcerja dan memperbaiki kondisi kesenjangan yang ada. Keunggulan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional

Lebih terperinci

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 LAMPIRAN I : PERATURAN BNPP NOMOR : 3 TAHUN 2011 TANGGAL : 7 JANUARI 2011 RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 A. LATAR BELAKANG Penyusunan Rencana Aksi (Renaksi)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R.

MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R. MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R. I. LATAR BELAKANG DAN LANDASAN PERLUNYA KERJASAMA Kerjasama bukan suatu hal yang baru di masyarakat, baik kerjasama di bidang ekonomi, pendidikan,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

Pertama-tama perkenankanlah kami memanjatkan puji dan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang KATA PENGANTAR

Pertama-tama perkenankanlah kami memanjatkan puji dan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang KATA PENGANTAR Pendahuluan i Pertumbuhan Wilayah & Wilayah Pertumbuhan, oleh Prof. Dr. Rahardjo Adisasmita., M.Ec. Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-4462135; 0274-882262;

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

RELOKASI KANTOR DPRD KABUPATEN EMPAT LAWANG TA 110

RELOKASI KANTOR DPRD KABUPATEN EMPAT LAWANG TA 110 BERITA ACARA SIDANG KELAYAKAN LAPORAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Dengan ini dinyatakan telah dilaksanakan sidang kelayakan Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kota Semarang direncanakan menjadi pusat perdagangan dan industri yang berskala regional, nasional dan internasional. Kawasan Johar merupakan salah satu pusat perniagaan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5 KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5.1. Substansi Otonom Daerah Secara subtantif otonomi daerah mengandung hal-hal desentralisasi dalam hal bidang politik, ekonomi dalam rangka kemandirian ekonomi daerah dan

Lebih terperinci

SEJAUH MANA KEAMANAN PRODUK BIOTEKNOLOGI INDONESIA?

SEJAUH MANA KEAMANAN PRODUK BIOTEKNOLOGI INDONESIA? SEJAUH MANA KEAMANAN PRODUK BIOTEKNOLOGI INDONESIA? Sekretariat Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia Puslit Bioteknologi LIPI Jl. Raya Bogor Km 46 Cibinong Science Center http://www.indonesiabch.org/

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA I. Umum Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia,

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko)

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme)

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) Diajukan

Lebih terperinci

Sultan Abdurrahman adalah Raja Sumenep yang ke-32 yang memerintah dari tahun 1811 1854 M. Sultan Abdurrahman ini adalah anak dari Panembahan

Sultan Abdurrahman adalah Raja Sumenep yang ke-32 yang memerintah dari tahun 1811 1854 M. Sultan Abdurrahman ini adalah anak dari Panembahan Setiap kali saya bertanya siapa sosok Aria Wiraraja kepada para remaja Sumenep, dengan lantang mereka menjawab, Raja pertama di Sumenep! Begitu juga disaat saya bertanya apakah mereka kenal dengan sosok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan sehingga dapat memperoleh keturunan. Proses tersebut ditempuh melalui suatu lembaga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan pada gilirannya telah menimbulkan multi krisis yang berskala luas telah menjadi persoalan

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH Manajerial Menyusun perencanaan untuk berbagai tingkatan perencanaan Memimpin dalam rangka pendayagunaan sumber daya secara optimal Menciptakan budaya dan iklim yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF KEMENTERIAN PARIWISATA DAN

Lebih terperinci

VISI KALTIM BANGKIT 2013

VISI KALTIM BANGKIT 2013 VISI KALTIM BANGKIT 2013 Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri Dan EnergiTerkemuka Menuju Masyarakat Adil Dan Sejahtera MENCIPTAKAN KALTIM YANG AMAN, DEMOKRATIS, DAN DAMAI DIDUKUNG PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab telah menjadi tuntutan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola

Lebih terperinci

KAJIAN KINERJA JALAN ARTERI PRIMER DI SIMPUL JALAN TOL JATINGALEH KOTA SEMARANG (Studi Kasus : Penggal Ruas Jalan Setia Budi)

KAJIAN KINERJA JALAN ARTERI PRIMER DI SIMPUL JALAN TOL JATINGALEH KOTA SEMARANG (Studi Kasus : Penggal Ruas Jalan Setia Budi) KAJIAN KINERJA JALAN ARTERI PRIMER DI SIMPUL JALAN TOL JATINGALEH KOTA SEMARANG (Studi Kasus : Penggal Ruas Jalan Setia Budi) TUGAS AKHIR Oleh: SYAMSUDDIN L2D 301 517 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, DAN FUNGSI ESELON I KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2

KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2 KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2 1. Pendahuluan Menurut peraturan pemerinath nomor 30 tahun 1990, pendidikan tinggi diselenggarakan dengan dua tujuan yaitu: 1. Menyiapkan

Lebih terperinci

1 C I T Y H O T E L D I H A R B O U R B A Y B A T A M F e r i t W i b o w o BAB I PENDAHULUAN

1 C I T Y H O T E L D I H A R B O U R B A Y B A T A M F e r i t W i b o w o BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hotel merupakan salah satu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, yang disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan berikut makanan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Susanti, Liberti Pandiangan

Susanti, Liberti Pandiangan PENGARUH PENERAPAN EKSTENSIFIKASI WAJIB PAJAK TERHADAP PENINGKATAN PENERIMAAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SERPONG PADA TAHUN 2010-2012 Susanti, Liberti Pandiangan Universitas

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR

ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR Oleh: JIHAN MARIA ULFA L2D 306 014 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 ABSTRAK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

TEKNIK MENYUSUN SKRIPSI YANG BEBAS PLAGIAT *Salam, M.Pd

TEKNIK MENYUSUN SKRIPSI YANG BEBAS PLAGIAT *Salam, M.Pd TEKNIK MENYUSUN SKRIPSI YANG BEBAS PLAGIAT *Salam, M.Pd A. Pendahuluan Ketika seorang mahasiswa sudah masuk pada semester VII, terasa ada beban yang mulai menyelimuti pikirannya. Pikiran itu mengarah pada

Lebih terperinci

terendam akibat dari naiknya muka air laut/rob akibat dari penurunan muka air tanah.

terendam akibat dari naiknya muka air laut/rob akibat dari penurunan muka air tanah. KOTA.KOTA IDENTIK dengan pemusatan seluruh kegiatan yang ditandai dengan pembangunan gedung yang menjulang tinggi, pembangunan infrastruktur sebagai penunjang dan sarana penduduk kota untuk mobilisasi,

Lebih terperinci

2.5 Pemerintahan Umum

2.5 Pemerintahan Umum 2.5 Pemerintahan Umum 2.5.1 Pelayanan Catatan Sipil. Besarnya jumlah penduduk bagi suatau negara merupakan modal pembangunan yang cukup berharga, namun dibalik itu menuntut dipenuhinya berbagai kebutuhan,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549.

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat, dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang

Lebih terperinci

Peresmian Perguruan Tinggi Teknik Hindia (terjemah bebas oleh: Bambang Soemarwoto, )

Peresmian Perguruan Tinggi Teknik Hindia (terjemah bebas oleh: Bambang Soemarwoto, ) Sejarah pendirian ini tidaklah panjang. Pada tahun 1917 dilakukan penggalangan dana dari kalangan dagang, industri, pertanian, pertambangan dan perkapalan, hingga pada tahun 1919 terkumpul sejumlah 3 1/3

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Acara Temu Muka dan

Lebih terperinci

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi.

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. Disampaikan Pada: DIKLAT KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Bagian

Lebih terperinci