DARI MEJA REDAKSI. Redaksi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DARI MEJA REDAKSI. Redaksi"

Transkripsi

1 DARI MEJA REDAKSI BUDAYA. Membaca judul ini, kami yakin pikiran para pembaca akan melayang pada hal-hal yang bersangkutan dengan kesenian da ri suatu bangsa, daerah, suku bangsa tertentu. Sesungguhnya ka ta ini luas cakupannya. Ini merupakan sesuatu yang ada kait annya dengan pikiran dan akal budi manusia, suatu kegiatan ma nu sia yang sudah mendarah daging karena terus-menerus dilakukan. Misalnya, ji ka kita berbicara mengenai budaya orang Sunda, maka itu dapat mengenai ke seniannya, adat istiadatnya, bahasanya, ataupun kebiasaan orangnya. Sekarang ini orang banyak memakai kata budaya untuk menunjukkan sua tu kebiasaan yang sudah begitu mendarah daging sehingga dapat dianggap se bagai bagian dari kehidupan manusia. Contohnya, korupsi sudah menjadi budaya dalam suatu organisasi, mulai dari yang kecil seperti perusahaan, sampai yang besar seperti badan pemerintahan. Budaya nyontek merupakan kegiatan yang umum dilakukan diantara para pelajar atau orang yang belajar sesuatu. Bu daya bergosip merupakan kegiatan yang biasanya terjadi begitu dua orang dan lebih wanita bertemu. Budaya gadget sudah demikian merasuki sebagian be sar orang di dunia ini, dari balita sampai orang dewasa, sehingga patut diwas padai. Dan masih ada segudang budaya lainnya. Sebagai anak-anak Tuhan, alangkah indahnya jika kita jadikan membaca Alki tab budaya kita dari balita sampai usinda, seperti layaknya smartphone bagi orang dunia. Dan alangkah baiknya jika budaya bergosip kita alihkan menjadi bu daya menginjil, memperhatikan sesama yang membutuhkan kasih Kristus. Dan budaya korupsi kita ubah menjadi budaya donasi, memberikan bantuan pada mereka yang hidup berkekurangan. Di dalam edisi ini, kami telah mengumpulkan sejumlah budaya yang patut di simak dan diketahui oleh anak-anak Tuhan agar kita dapat menjadi terang dan ga ram dunia seperti yang Tuhan kita perintahkan, bukannya terbawa-bawa oleh arus dunia, hidup seperti orang dunia. SELAMAT BERBUDAYA YANG BENAR! Redaksi Pemimpin Umum: Wisesa Pemimpin Pelaksana: Juliawati Kartajodjaja Pemimpin Redaksi: Bong San Bun Anggota Redaksi: Cynthia Radiman, Tjie Tjing Thomas Pra-cetak: Aming Alamat Redaksi: GII HOK IM TONG, Jl. Gardujati 51 Bandung Tel Fax Rekening Bank: CIMB NIAGA a.n. GII Hok Im Tong Bank Central Asia a.n. GII Gardujati Buletin Euangelion menerima karangan (baik terjemahan, saduran dan asli). Redaksi berhak mengubah isi karangan yang akan di muat. Karangan yang tidak dimuat hanya dikembalikan kepada pengirim apabila disertai sampul yang sudah diberi ala mat le ng kap dan perangko secukupnya Buletin Euangelion juga menerima persembahan saudara yang terbeban. Semua persembahan da pat diserahkan melalui kan tor gereja atau ke rekening bank tercantum di atas. EUANGELION 173 1

2 DAFTAR ISI Noertjahja Nugraha Pdt. Chandra Gunawan Teduh Primandaru Herlise Y. Sagala, D.Th Desiana M. Nainggolan Dr. Togardo Siburian Grace Emilia M. Yuni Megarini C. Ellen Theresia Meilania Donny A. Wiguna W. Kirana Wilton Djaya Shirley Du Pdt. Bong San Bun Sandra Lilyana Pdt. Agus Surjanto Alonso Patiaraja Kristus dan Budaya Budaya Yunani-Romawi dalam Perjanjian Baru Budaya Iman Pengaruh Smartphone Terhadap Budaya dan Panggilan Orang Percaya Untuk Memuliakan Tuhan Multikultural: Keniscayaan Untuk Bermisi Kristus & Budaya: Transformasi Melalui Sikap Akomodasi Kebiasaan Solitude & Silence Menolong Mengatasi Keberhargaan Diri Palsu Budaya Menang Kalah Dalam Perspektif Psikologi Karakter Non Akademis Gaya Hidup Generasi Millennials: Smartphone-Mandiri- Kolaborasi Anti Kebiasaan Korup Budaya Perusahaan Kebudayaan Visual Kelas Menengah: Representasi Kebahagiaan dan Rasa Dicintai 2 Korintus 3:2-3 Meditasi Melestarikan Cagar Budaya Obrolan Ringan Budaya Hidup Sehat dan Bersih Sudut Refleksi Sekolah Kecil di Belakang Gereja Tokoh Alkitab Kedatangan Kristus Yang Kedua Kali Apresiasi Musik Crown Him With Many Crowns Ulasan Buku You Lost Me: Why Young Christians Are Leaving Church... and Rethinking Faith 2 EUANGELION 173

3 Kristus dan Budaya Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:2 Manusia dan budaya adalah 2 hal yang seolah tak terpisahkan, sebab pada dasarnya manusia terkait erat dengan komunitas di mana ia hi dup. Tiap-tiap individu memiliki karakteristik/perilaku tertentu. Maka mun cullah manusia-manusia yang erat menyatu dengan budaya di mana ia tinggal, bahkan sudah mendarah da ging, tercermin dalam pola pikir, pe rilaku, adat kebiasaan. Seorang da ri suku Batak misalnya, karena me rantau untuk kuliah di Bandung, lo gat Bataknya seolah lenyap dan di ganti dengan logat Sunda setelah ting gal di sana selama 2 tahun. Ia da pat beradaptasi dengan pengaruh bu daya dan bahasa setempat. Dalam konteks kekristenan, buda ya adalah konteks nyata tempat In jil berjumpa dengan manusia yang ting gal di dalamnya. Ia mewakili cara hi dup untuk suatu masa dan tempat ter tentu, dipenuhi dengan nilai, lam bang dan makna, menjangkau ha rapan-harapan yang ada. Tanpa kepekaan terhadap konteks budaya, gere ja dan teologia tidak akan berakar. Per kembangan gereja dan teologia di suatu tempat dipengaruhi oleh ke buda yaan yang ada di tempat tersebut. Injil sebagai kabar baik ke se lamat an di dalam Yesus Kristus tidak le pas dari kaitan budaya Yahudi di ma na Yesus lahir dan hidup. Oleh ka rena itu ada banyak tradisi Israel yang muncul dalam kesaksian Injil, se perti hari raya Pondok Daun, tahun Yo bel, aturan Sabat dan sebagainya. Be lum lagi budaya patriakhal yang di anut bangsa Yahudi menyebabkan pe ristiwa Yesus dicatat dari kacamata mas kulin, seperti peristiwa Yesus mem beri makan 5000 laki-laki. Dalam Alkitab terdapat banyak hal yang menceritakan tentang ajaran Tu han Yesus yang memakai adat is tiadat Yahudi untuk menjelaskan ke rajaan Allah. Dalam berbagai cara, to koh-tokoh teologia selalu berusaha me mbahas hubungan antara Kristus de ngan kebudayaan. Ketika Yesus ber inkarnasi sebagai manusia, Ia hi dup dalam lingkungan manusia tem pat Ia lahir dan dibesarkan oleh ibu dan bapa-nya. Sebagai seorang ayah, ten tu Yusuf mengajar Yesus tentang hu kum-hukum dan adat yang terdapat da lam masyarakat Yahudi sebab Yusuf ada lah seorang Yahudi dan Maria ju ga seorang Yahudi, dimana sudah men ja di keharusan bagi seorang ayah un tuk mengajarkan hukum-hukum dan adat istiadat Yahudi kepada anak-anaknya. Dalam ki tab Ulangan di ka takan: Kasihilah TU HAN, Allahmu, dengan segenap ha timu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada ha ri ini haruslah engkau perhatikan, EUANGELION 173 3

4 ha ruslah engkau mengajarkannya ber ulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila eng kau duduk di rumahmu, apabila eng kau sedang dalam perjalanan, apa bila engkau berbaring dan apabila eng kau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau me nuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. (Ul 6:6-9). Kebudayaan merupakan praktek hi dup yang dilakukan oleh suatu kelom pok masyarakat di suatu daerah ter tentu. Negara Indonesia, sebagai ne gara yang memiliki banyak suku, me miliki budaya yang banyak. Oleh ka rena itu, kekristenan yang masuk ke In donesia sejak lama, tidak lepas dari ke budayaan. Lama sebelum agama Kris ten datang ke Indonesia, telah ba nyak kebudayaan yang terbentuk da lam masyarakat Indonesia. Bukan ha nya di Indonesia, di seluruh du nia kebudayaan tidak bisa lepas da ri hidup manusia. Akan tetapi, ke budayaan yang berbeda membuat ke lompok masyarakat tertentu mengalami problem terhadap ma suk nya kekristenan dan hal ini sudah berlangsung sangat lama. Oleh ka re na itu, Kristus dan kebudayaan me rupakan hal yang tidak baru lagi untuk di perbincangkan. Dalam situasi ini, cu kup menolong bila kita mengingat bah wa masalah kekristenan dan peradaban bukanlah hal yang baru dan bah wa kebingungan orang Kristen da lam bidang ini sudah berlangsung la ma, dan bahwa masalah ini adalah ma salah yang ada sepanjang abadabad kekristenan. Hal ini juga menjadi ma salah yang timbul pada masa kini. Se tiap orang yang lahir ke dunia tergabung dalam sebuah kebudayaan. Ti dak ada manusia yang lepas dari sua tu kebudayaan. Wilayah yang berbeda menyebabkan budaya yang berbeda. Seperti halnya budaya di Ba rat berbeda dengan budaya yang ada di Asia. Budaya daerah Jawa Barat atau Sunda berbeda dengan budaya Ja wa (Jateng dan Jatim), dan berbeda ju ga dengan budaya Sumatera Utara atau Batak. Begitupun dengan bu daya Sulawesi Utara atau Menado, Pa pua, Sumbawa, Kalimantan Barat atau Dayak. Oleh karenanya, cara pen dekat an terhadap keduanya berbeda. De ngan demikian perlu dipahami me tode yang benar untuk mengatasi ma salah tersebut, yaitu dengan cara kontekstualisasi. Masalah budaya terhadap iman Kris ten (kekristenan) merupakan ma salah yang tak putus-putusnya di bicarakan oleh banyak orang perca ya. Hal ini disebabkan manusia su dah memiliki kebudayaan sejak ter ciptanya suatu suku di daerah tertentu. Kebudayaan mempengaruhi ter bentuknya pribadi sesrorang. Sebelum seseorang mengenal Tuhan, ia pasti sudah memiliki pemahaman yang dibentuk berdasarkan budaya tempat tinggalnya. Usaha manusia menemukan jalan ke luar terhadap masalah kebudayaan su dah menempuh waktu yang sungguh lama. Sejak Injil berada di Asia, In jil tidak diterima dengan mudah. Hal ini disebabkan karena negara- 4 EUANGELION 173

5 ne gara di Asia adalah negara-negara yang memiliki nilai budaya yang ting gi. Sebab itu, ketika Kristus dibawa ke benua Asia, Injil akan berhadapan dengan budaya di mana In jil dibawa. Karenanya sangat perlu un tuk memahami dengan benar bagaimana hubungan antara Kristus dan Budaya. Ketika seseorang yang membawa Kris tus ke suatu daerah tidak mengerti ba gaimana kebudayaan yang berlaku di daerah tersebut, akan timbul masalah yang tidak diinginkan. Jika hal ini terjadi pada saat pertama ka li Kristus diperkenalkan di daerah tersebut, maka untuk kali berikutnya akan mengalami kesulitan yang be sar untuk memperkenalkan Kristus ke daerah yang diinginkan untuk mengenal Kristus. Kebudayaan memegang peranan pen ting dalam hal hubungan antara ma nusia. Budaya merupakan suatu alat yang mempersatukan satu individu dengan individu lain dalam sua tu kelompok masyarakat. Jika dili hat dari sudut fungsi adat tersebut, adat adalah suatu alat komunikasi yang sangat mempersatukan banyak orang. Kebudayaan sangat mem pengaruhi kehidupan umat ma nusia sebab konteks kebudayaan ti dak mencakup hanya satu hal sa ja. Budaya mencakup banyak hal da lam aspek hidup manusia, salah sa tu di antaranya adalah alat musik. Budaya memiliki cakupan yang sa ngat luas dan masing-masing ca kupan memberi arti tersendiri bagi ma syarakat. Ini memungkinkan studi terhadap apa yang disebut unsur-unsur budaya ting gi (seni, puisi, musik, keyakinan ke agamaan) dan unsur-unsur budaya rak yat (ada-istiadat, takhyul), serta un sur-unsur dari sistem budaya (or ganisasi sosial, organisasi, ekonomi dan politik) dalam cara yang m e mungkin kan kita melihat mereka sebagai un sur-unsur yang mengikat dan saling terkait. Dengan melakukan hal tersebut, pem bawa Injil Kristus akan lebih mu dah melakukan dan menilai buda ya tersebut dengan baik. Dari hal tesebut, dapat dilihat bahwa ke tika Yesus berinkarnasi sebagai ma nusia, Yesus juga ikut dalam men ja lankan kebudayaan yang ada dalam lingkungan bangsa Yahudi. Gereja-gereja Asia, khususnya di Indonesia ka ya, dengan keragaman budaya lo kal yang tak kalah menarik dan krea tif mewarnai kehidupan umat per caya. Ibadah-ibadah kita perlu mem beri tempat pada kekayaan bu daya lokal dalam hal musik, tarian, dan lainlain yang tentunya lebih ber makna bagi individu-individu yang ter kait dengan budayanya masing-masing. Berbagai gereja di Indonesia cen derung beribadah dengan tata iba dah pola Barat. Dengan demikian me ngabaikan potensi adat yang sebenarnya bisa dipakai untuk memuji Al lah. Hal inilah yang menyebabkan ma salah dalam lingkungan orang yang sudah percaya. Saat ini dalam kalangan orang perca ya, bukan lagi bagaimana Injil itu ma suk ke alam suatu daerah, tetapi EUANGELION 173 5

6 yang menjadi masalah sekarang ini adalah timbulnya masalah-masalah yang mempertentangkan Kristus dengan kebudayaan. Yang menjadi masalah dalam lingkungan gereja saat ini bukan hanya orang kafir yang menolak Kristus, namun orang percaya yang telah menerima Kristus juga menemui kesulitan dalam mengombinasikan tuntutan-nya kepada mereka dengan tuntutan masyarakat. Pergumulan dan ketenteraman, ke menangan dan perdamaian, tidak ha nya terlihat secara terbuka di mana pi hak-pihak yang menyebut diri orang Kris ten dan orang-orang anti-kristen ber temu. Lebih sering perdebatan ten tang Kristus dan kebudayaan ber langsung di antara orang Kristen, dan di dalam hati nurani individu yang tersembunyi, bukannya sebagai perta rungan dan penyesuaian diri antara per caya dengan yang tidak percaya, te tapi sebagai suatu pergumulan dan per damaian iman dengan iman. Pergumulan dan ketenteraman di da lam menjalani hidup bukan hanya ada pada kalangan orang yang belum per caya kepada Kristus saja, tetapi ju ga di kalangan orang yang sudah per caya. Masalah yang selalu datang hing ga saat ini adalah pemahaman ter hadap hubungan antara Kristus dan budaya. Hal ini disebabkan oleh hubungan Kristus dan budaya mem pengaruhi hubungan sesama ma nusia. Dalam masyarakat orang per caya saat ini terdapat paham yang me ngatakan bahwa Kristus dan buda ya adalah dua hal yang tidak bisa di gabungkan. Hal ini mendorong se bagian orang percaya untuk tidak me megang kebudayaan dalam lingkungan kekristenan. Akan tetapi di lain pihak ada orang percaya yang tetap memegang bu daya yang diwarisi dari nenek moyangnya, walaupun sudah menerima Kri s tus di dalam hidupnya. Kedua go longan ini memegang paham yang memiliki tujuan supaya iman ter hadap Kristus tidak terlupakan. Da lam kekristenan di Asia selalu mun cul masalah tentang bagaimana me nanggapi Kristus dan budaya. Da lam masyarakat Kristen se karang ini, terdapat golongan yang memiliki Kristus dan ajaran ke kristenan dan pada waktu yang bersa maan menjalankan juga ajaran kebudayaan. Perpalingan kepada kekristenan bia sanya berarti membuang semua sistem keagamaan lainnya, te tapi nyatanya, dalam praktek hidup sebagian orang Kristen tetap mem pertahankan bagian-bagian pen ting atau keseluruhan dari sis tem tersebut. Hal inilah yang di ha da pi gereja sekarang ini. Dengan si tuasi yang seperti ini perlu adanya pemba haruan pemahaman terhadap Kris tus dan kebudayaan. Pandangan yang baik terhadap hubungan Kristus dan kebudayaan membuat sikap dan praktek hidup yang baik dalam mengikut Tuhan. I. Definisi Budaya Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki ber sama oleh suatu kelompok orang dan di wariskan dari generasi ke generasi. 6 EUANGELION 173

7 Bu daya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, per kakas, pakaian, bangunan, dan kar ya seni. Bahasa, sebagaimana ju ga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia se hingga banyak orang cenderung me ng anggapnya diwariskan seca ra genetis. Ketika seseorang be r usaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, ini membuktikan bahwa bu daya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hi dup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek bu daya turut menentukan perilaku ko munikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak ke giatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika ber komu nikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Bu daya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pan dangan atas keistimewaannya sen diri. Citra yang memaksa itu me ng ambil bentuk-bentuk berbeda da lam berbagai budaya seperti indi vidualisme kasar di Amerika, keselarasan individu dengan alam di Je pang dan kepatuhan kolektif di Tiong kok. Citra budaya yang bersifat me maksa tersebut membekali anggo ta-anggotanya dengan pedoman me ngenai perilaku yang layak dan me netapkan dunia makna dan ni lai logis yang dapat dipinjam ang gota-anggotanya yang paling ber sahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, bu dayalah yang menyediakan sua tu kerangka yang koheren untuk mengor ganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan peri laku orang lain. II. Pengertian Kebudayaan Kebudayaan sangat erat hu bung annya dengan masyarakat. Kebu dayaan adalah sesuatu yang akan mem pengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, se hingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abs trak. Sedangkan perwujudan ke bu daya an adalah benda-benda yang di ciptakan oleh manusia sebagai mah luk yang berbudaya, berupa pe ri laku dan benda-benda yang ber sifat nyata, misalnya pola-po la perilaku, bahasa, peralatan hi dup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia da lam melangsungkan kehidupan ber masyarakat. III. Ciri-ciri Kebudayaan Ciri-ciri khas kebudayaan adalah: * Bersifat historis. Manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis dan selalu maju, yang diwariskan se cara turun temurun. * Bersifat geografis. Kebudayaan ma nusia tidak selalu berjalan sera gam, ada yang berkembang pesat dan ada yang lamban, dan ada EUANGELION 173 7

8 pula yang mandeg (stagnan), yang nyaris berhenti kemajuannya. Dalam interaksi dengan lingkungan, ke budayaan berkembang pada komu nitas tertentu, dan lalu meluas da lam kesukuan dan kebangsaan/ ras. Kemudian kebudayaan itu meluas dan mencakup wilayah/regional, dan makin meluas dengan belahan-bumi. Puncaknya adalah kebudayaan kos mo (duniawi) dalam era informasi di mana terjadi saling melebur dan ber interaksinya kebudayaan-ke budayaan; * Bersifat perwujudan nilai-ni lai tertentu. Dalam perjalanan ke bu daya an, manusia selalu berusaha melam paui (batas) keterbatasannya. Di si nilah manusia terbentur pada nilai. Ni lai yang mana, dan seberapa jauh nilai itu bisa dikembangkan? Sampai batas mana? IV. Hubungan Antara Gereja dan Kebudayaan Dalam sejarah gereja, hubungan an tara gereja dan budaya telah menda pat perhatian sejak awal sampai se karang. Walaupun demikian, hubungan itu tidak berlangsung cu ma dalam satu model, melainkan beraneka ragam, tergantung pada sejauh ma na kita memahami apa itu gereja dan apa itu budaya. Menurut H.Richard Niebuhr, jika kita mencermati sejarah gereja (khu susnya di Eropa dan Amerika sam pai pasca perang dunia kedua), ada sejumlah model/pola hubungan ge reja dan budaya yang bertolak dari ba gaimana memahami hubungan gereja/kristus dan kebudayaan. Richard Niebuhr adalah seorang Etikus Teologia Kristen Amerika yang pa ling terkenal dengan bukunya Christ and Culture, yang membahas ten tang hubungan antara kekristenan dan kebudayaan maupun sistem-sistem kemasyarakatan, di mana hal-hal yang berkaitan dengan hubungan an tara kekristenan dan kebudayaan akan berkembang menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan ketika manusia mengetahui bahwa Kris tus atau kekristenan itu sendiri ada lah suci, sempurna, dan tidak ber dosa, sementara budaya adalah buatan manusia, di mana manusia itu sendiri penuh dosa. Lalu, tim bullah pertanyaan, bagaimana Kristus dapat bertahan di tengah-tengah dan bercampur dengan keti daksempurnaan tersebut? Hal ini semakin dipermasalahkan lagi me ngingat banyaknya ayat-ayat Al kitab yang mengharuskan kita un tuk tidak menjadi seperti dunia, se mentara banyak juga ayat yang meng haruskan kita tetap berada di du nia, sebagaimana adanya manusia. Un tuk menunjukkan bagaimana kekris tenan menanggapi permasalahan ini, Richard Niebuhr memperkenalkan li ma pandangannya mengenai hu bungan antara Kristus dan ke bu da yaan, antara lain: Christ against Cul ture, Christ of Culture, Christ above Culture, Christ and Culture in paradox, Christ transforms culture. Sebagai pen dahuluan, Niebuhr memulai de ngan definisi tentang Yesus dan Kebudayaan masing-masing. Tentang Yesus, Niebuhr berpendapat bah wa definisi manusia tentang 8 EUANGELION 173

9 Ye sus tidaklah cukup (mengingat bah wa manusia tidak akan pernah bi sa menjangkau dan memahami ha kikat Yesus secara total, dengan ke nyataan bahwa konsep tentang Ye sus itu sendiri telah sedemikian ru pa dipengaruhi oleh eksistensi ke budayaan yang menempel dalam per jalanan hidup manusia sejak la hir). Kebudayaan oleh Niebuhr di definisikan sebagai total proses da ri aktivitas manusia dan segala ma nifestasinya, yang mengacu kepada lingkungan atau hal-hal sekunder (seperti adat istiadat, sistem-sistem kemasyarakatan, norma-norma, dan lain-lain) yang manu sia implementasikan ke dalam kehidupannya. 1. Christ against Culture (Kristus ver sus kebudayaan) Ini adalah pandangan yang cukup keras menegaskan tentang oto ritas tunggal Kristus terhadap ke budayaan dan menolak segala hal yang diyakini kebudayaan. Menurut pan dangan ini, kesetiaan kepada Kris tus merupakan suatu penolakan ter hadap lingkungan atau sistem ke budayaan, dan bahwa ada suatu ga ris tegas yang memisahkan dunia dengan anak-anak Allah. Sisi positif: orang-orang yang mempercayai atau menganut Christ against culture bisa dikatakan ada lah faktor utama mengapa kita ma sih boleh bersimpati terhadap pandangan ini. Mereka yang menolak du nia pastinya akan dengan teguh mem pertahankan keyakinannya kepada Kristus. Banyak di antara mereka yang menderita secara men tal dan fisik demi menjalankan ke inginan mereka. Bahkan mereka rela menyerahkan rumah, properti, harta, dan juga hak perlindungan negara de mi pergerakan mereka menolak dunia. Sisi negatif: Menurut Niebuhr, pan dangan ini tidaklah sesuai karena pe misahan antara dunia dengan Kristus tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, sekalipun manusia berpi kir bahwa itu mungkin bisa terjadi. Se lain itu, menurutnya terdapat pe ngertian yang salah dimana orang ber pikir bahwa di dalam kebudayaan ter dapat dosa. Dan ketika kekristenan men jauhi kebudayaan, manusia di katakan telah menjauhi dosa. Pada hal, dosa bukan hanya mengenai ke budayaan. Dengan atau tanpa men jauh dari budaya, manusia itu sen diri telah berdosa dan akan tetap bi sa berbuat dosa. Yang terpenting me nurut Niebuhr, pandangan ini tidaklah mengenal Yesus dan peran Roh da lam penciptaan dunia secara utuh. 2. Christ of Culture (Kristus bagian da ri Kebudayaan) Dalam pandangan ini, manusia me mosisikan Yesus sebagai Mesias da lam lingkungan sosial mereka, so sok yang dapat memenuhi segala ha rapan dan aspirasi mereka, penyempurna keyakinan mereka, sumber dari roh kudus mereka. Orang yang menganut paham ini cen derung lebih terbuka untuk menjalin per temanan atau hubungan bukan ha nya dengan mereka yang percaya, ta pi juga dengan mereka yang ti- EUANGELION 173 9

10 dak percaya. Mereka juga tidak bi sa menemukan perbedaan yang sig nifikan antara gereja dan dunia, an tara hukum-hukum sosial dan kepercayaan pada Tuhan, antara etika ke selamatan dan etika sosial. Di satu si si, mereka menginterpretasikan k e budayaan melalui Kristus, di mana as pek yang paling mirip dengan Yesus mendapat penghormatan dan apresiasi lebih besar. Di sisi lain, mereka menginterpretasikan Kris tus melalui budaya, menyeleksi pe ngajaran-pengajaran Kristen yang paling harmonis dengan sistem-sistem so sial dan budaya mereka. Itulah yang akan mereka aplikasikan dalam kehidupan mereka. Sisi positif: orang cenderung me rasa bahwa hanya mereka yang menolak beradaptasi dengan kebu dayaan yang dapat melakukan pe nyerangan terhadap kebudayaan. Orang yang menganut pemahaman ini pasti bisa berdamai dengan budaya dan dunia. Bagaimanapun, sejarah telah menjadi saksi bahwa manusia dap at memiliki ketertarikan pada Kris tus karena adanya keselarasan an tara ajaran Kristiani dengan ajaran-ajar an tokoh-tokoh besar moral dan fi losofi keagamaan. Dan orang-orang yang menganut paham ini cenderung meli batkan diri mereka ke dalam suatu ling k ungan sosial dimana mereka me rasa diri mereka potensial untuk mem buat suatu perubahan atau penga ruh terhadap individu lain dalam lingkungan tersebut. Sisi negatif: menurut Niebuhr, ma salah terbesar dalam konsep pan dangan ini terletak pada distorsi Kris tus, dimana Kristus digambarkan se bagai sosok yang dibentuk atau sa ngat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. 3. Christ above Culture (Kristus di atas Kebudayaan) Pandangan ini sama sekali ti dak menghadirkan pertentangan an tara Kristus dengan budaya. Yang dihadirkan justru pertentangan antara Kris tus yang suci dengan manusia yang berdosa. Penganut paham ini me nekankan bahwa Kristuslah yang ber ada di atas segala budaya, yang mem bentuk dan mengijinkannya un tuk terjadi. Maka budaya tidak bi sa dikatakan buruk, tapi juga tidak bi sa dikatakan baik. Ketika seorang ma nusia melakukan dosa, lalu meng ekspresikan pemberontakannya ke pada Tuhan lewat suatu bentuk budaya, itu juga tidak mengartikan bahwa budaya merupakan sesuatu yang bu ruk. Mereka mengatakan bahwa bu daya ada karena Kristus yang men ciptakannya secara penuh, dan me reka melihat bahwa keselarasan an tara Kristus dan budaya adalah se buah jawaban yang tepat untuk men jawab semua pertanyaan. Menurut Niebuhr, penganut paham ini tidak bisa membedakan antara pekerjaan manusia (yang ada lah budaya) dari kemuliaan Tuhan, karena semua pekerjaan manusia itu bi sa terjadi juga karena kemuliaan Tu han. Tapi mereka juga tidak bisa me misahkan antara pengalaman akan kemuliaan Tuhan dari aktivitas bu daya mereka, karena bagaimana mung kin seseorang bisa mencintai 10 EUANGELION 173

11 Al lah yang tidak kelihatan, tanpa melayani saudara-saudara mereka yang kelihatan? Sisi positif: adanya keseimbangan an tara melihat Kristus sebagai ba gian da ri budaya dengan melihat Kris tus se bagai sosok di luar budaya (Dia lah yang membuat budaya itu ada). Mela lui paham ini, kita sam pai kepada pe ngertian tentang hu kum moral da lam lingkungan so sial dan juga tentang keterlibatan Tu han dalam lingkungan sosial. Niebuhr menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk so sial, dan merupakan suatu yang tak mungkin ji ka lingkungan so sial memfungsikan eksis tensinya tanpa arahan dari Tuhan. Ma ka dari itu, gerejapun akhirnya se lain memfungsikan diri sebagai pem bangun iman dan spiritual, ju ga memfungsikan dirinya menjadi penjaga/pengawas hukum-hukum dunia, se bagai suatu pelayanan terhadap dunia. Sisi negatif: masalahnya timbul keti ka paham ini sampai di sebuah titik ba tas, di mana bisa membawa dunia me lihat gereja sepenuhnya sebagai se buah institusi saja (institusionalisasi ge reja). Jelas sekali terlihat bahwa pa ham ini suatu hari nanti akan mem bawa perhatian dan keyakinan umat semakin jauh dari fungsi gereja se benarnya. 4. Christ and Culture in paradox (Kris tus dan Budaya dalam paradoks) Ini adalah paham yang kurang le bih mirip dengan Christ above cul ture. Perbedaannya ketika pe nganut paham ini berkeinginan mempertahankan kesetiaan pada Kris tus tapi di sisi lain juga ingin mempertahankan tanggung jawab terhadap budaya secara bersama-sama. Me reka percaya bahwa integrasi ini bu kanlah suatu hal yang seimbang dan menyenangkan, seperti yang penganut above-culture rasakan. Mereka me nekankan bahwa ada sebuah para doks di mana konflik yang terjadi an tara Kristus dan budaya disebabkan ka rena dosa yang terdapat dalam budaya. Sisi positif: pandangan ini me nangkap dengan cukup je las penekanan Alkitab yang di deskrip sikan untuk umat Kristen di du nia. Karena manusia berada di ba wah hukum, namun juga tidak di bawah hukum selain karunia. Ma nusia adalah pendosa namun bijak sana. Penerima pembalasan dan ju ga belas kasihan Kristus. Ini adalah sua tu proses yang dinamis, dan juga bu kanlah suatu penolakan ataupun pe nerimaan terhadap budaya dari mo del-model yang lain, tapi lebih ke pada pengalaman pribadi manusia yang menjadi saksi bahwa perjalanan hi dup dengan budaya penuh dengan da mai juga kesengsaraan. Sisi negatif: kekristenan bisa ke hilangan suara untuk mengatakan hal apapun yang bermakna dalam/terhadap budaya. Ini adalah paham yang membawa kita untuk menerima budaya karena kita melihat secara bersa maan pembalasan maupun belas ka sih Kristus, dan karena manusia me lihat keduanya, maka akan sa ngat bahaya jika manusia harus me mu tus- EUANGELION

12 kan apakah yang ia lakukan sudah be nar sesuai kehendak Kristus, atau akan dianggap melanggar kehendak- Nya. Ia akan terus menerus dalam kon flik dan menjadi stress. 5. Christ transforms Culture (Kristus mentransformasi kebudayaan) Ini adalah sebuah paham yang pa ling disarankan oleh Niebuhr, di ma na secara teologis pandangan ini me miliki 3 garis besar, yaitu melihat Tu han sebagai Pencipta, menyadari ke jatuhan manusia dari sesuatu yang baik, dan memandang kita me rasakan interaksi antara Tuhan de ngan manusia dalam perjalanan hi dup manusia yang historis. Maka da ri itu, penganut paham ini percaya bah wa kebudayaan manusia adalah ke hidupan manusia yang telah ditransformasikan ke dalam dan di dalam kemuliaan Tuhan. Pada praktek nya, pandangan ini memiliki arti bah wa kita bekerja dalam sebuah ling kup budaya untuk mengupayakan se suatu yang lebih baik, karena Tuhan pa da dasarnya telah menberikan manusia kreativitas, dan itu baik (dan je las bisa menjadi baik). Kita juga bi sa berkontribusi dalam pekerjaan transfor masi ini, karena ketika di dalam bu daya ada dosa, masih ada harapan me lalui Kristus untuk penyelamatan bu daya itu sendiri. Lebih jauh lagi, ki ta akan mengalahkan dosa bukan de ngan cara menjauhinya ataupun de ngan memeranginya secara langsung, namun dengan bantuan mata ma nusia yang tertuju pada Yesus, dan niat kita yang positif dan berorientasi pa da-nya, akan membuat kita mampu mengalahkan dosa. Pada saat kita hidup sebagai orang Kristen maupun mencoba mem bawa Injil Kristus ke tengah-tengah ma syarakat Indonesia, tentunya kita per lu memperhatikan kebudayaan In donesia pada umumnya, dan kebudayaan lokal pada khususnya supaya Injil bisa lebih dimengerti dan di terima tanpa harus mengorbankan ni lai-nilai Kristen yang mutlak. Paham Kris tus mentransformasi budaya dipakai bukan untuk berbenturan dengan budaya setempat, apalagi meng ingat kekristenan adalah minoritas di Indonesia, namun secara lambat laun akan mengubah kebudayaan yang tidak sejalan dengan Injil Kristus. Bu daya menyembah pohon atau percaya pada tahayul harus digantikan de ngan percaya dan menyembah Tu han. Namun gamelan atau wayang bi sa saja dipakai dalam pekabaran In jil karena budaya tersebut tidak ber tentangan dengan ajaran atau nilai kekristenan. Kiranya nama Tuhan di muliakan dalam kita melihat dan ber interaksi dengan kebudayaan se cara bijak untuk membawa Injil Kris tus ke tengah-tengah masyarakat dan memenangkan jiwa mereka bagi Tuhan. Noertjahja Nugraha 12 EUANGELION 173

13 Budaya Yunani-Romawi dalam Perjanjian Baru EUANGELION 173 A. Pendahuluan Dalam membaca kitab suci, seorang Kristen perlu memahami konteks budaya dari para penulis dan pem baca pertama Alkitab. Membaca Al kitab dengan kacamata modern da pat membuat seseorang salah memahami pesan kitab suci karena membacanya dalam konteks yang berbeda da ri konteks awalnya. Realitas ini mem buat beberapa ahli dalam studi Al kitab, seperti Gordon Fee (dalam bukunya New Testament Exegesis) dan Grant Osborne (dalam bukunya Hermeneutic Spiral), menekankan penting nya memahami latar belakang ke hidupan dan pemikiran dari zaman di mana Alkitab dituliskan. Orang-orang yang hidup dalam Per janjian Lama dipengaruhi oleh ke budayaan yang disebut Ancient Near East (Timur Dekat Kuno) dan ke budayaan Mesir. Orang-orang yang hidup dalam era PL sangat me ngenal budaya dari masyarakat Ba bel ataupun Mesir dan cara pandang mereka terhadap, misalnya rea litas alam, memiliki kemiripan de ngan orang-orang di zamannya. Mi salnya saja, lautan yang dipandang se bagai tempat di mana kekuatan jahat tinggal. Baik orang Israel, Ba bel maupun Mesir Kuno memiliki pan dang an yang mirip. Berbeda dengan konteks PL, orang-orang yang hidup dalam era Perjanjian Baru dipengaruhi terutama oleh budaya Yunani. Pe nga ruh budaya Yunani terhadap ke hidupan masyarakat abad pertama Ma sehi muncul sebagai akibat dari proses Hellenisasi yang terjadi saat Alexander Agung menaklukkan wila yah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Persia. Setelah Is rael dikalahkan oleh kerajaan Asyur dan Babel, bangsa Israel ditawan, di bawa ke pembuangan, dan hidup da lam kendali bangsa asing (bdk. Ki tab Daniel). Setelah bangsa Babel di kalahkan oleh kerajaan Persia, orang-orang Israel mendapatkan ke sempatan kembali ke tanah air mere ka. Meskipun demikian, ada banyak orang Yahudi yang memilih tinggal di wi layah-wilayah jajahan seperti Mesir dan Mesopotamia. Perubahan politik internasional ter jadi saat kerajaan Yunani berhasil me naklukkan Persia dan seorang pemimpin muda bernama Alexander ber hasil menaklukkan berbagai wilayah baik yang ada di Eropa, Afri ka, dan Asia. Salah satu visi dari Alexander adalah menciptakan se buah masyarakat di bawah payung kul tur Yunani. Budaya Yunani yang bercampur dengan kultur lokal ma syarakat jajahan, misalnya saja kultur Asia. Inilah yang disebut sebagai Hel lenis. Dalam konteks ini lah gereja mu la-mula lahir dan bertumbuh. Bahasa Yunani pun kemu dian digunakan sebagai bahasa 13

14 in ternasional di era Perjanjian Baru. Wa laupun kemampuan seseorang da lam menggunakan bahasa Yunani beragam, semua orang pada umumnya mampu berbicara dalam ba hasa Yunani, termasuk orangorang Yahudi di Palestina. Kota Yeru salem sebagai pusat dari agama Ya hudi dan Kristen tidak luput dari pe ngaruh budaya Yunani. Karena se bagian besar orang-orang Yahudi, khu susnya mereka yang tinggal di diaspora (tersebar di berbagai negara), sudah tidak bisa lagi menggunakan bahasa Ibrani, maka orangorang Yahudi membutuhkan kitab su ci dalam bahasa Yunani. Kitab su ci PL pun kemudian ditulis dalam ba hasa Yunani. Tulisan ini disebut Sep tuaginta (LXX). Para penulis Perjanjian Baru pada umumnya menggunakan Alkitab berbahasa Yunani. Dalam artikel ini, kita akan memba has pengaruh budaya Yunani da lam tulisan Perjanjian Baru. Kita akan mendiskusikan beberapa teks Alkitab yang memperlihatkan adanya isu tertentu yang akan dapat lebih mu dah dipahami jika kita, sebagai pem baca modern, memahaminya dalam konteks kultur zamannya, yakni budaya Yunani. B. Studi Kasus: 1 Korintus 7, 11:2-16 dan Lukas 17: Korintus 7 merupakan teks Alkitab yang penting dalam membicara kan isu perceraian dan pernikahan kem bali. Meskipun 1 Korintus 7 memang berbicara tentang ajaran Tuhan mengenai larangan perceraian, na mun bagian ini bersifat occasional (ter ikat dengan konteks tertentu). Hal ini berarti nasehat yang diberikan Pau lus terkait dengan situasi dan kon disi tertentu yang terjadi dalam jemaat Korintus. Untuk memahami isu perceraian da lam jemaat Korintus, kita perlu me mahami bagaimana isu tersebut di diskusikan oleh orang-orang era ter sebut. Will Deming, seorang ah li dalam studi Perjanjian Baru, menemukan bahwa dalam konteks Yu nani kuno, masyarakat pada umum nya mengikuti salah satu dari dua aliran pemikiran utama, yakni pe mikiran kaum Stoa dan kaum Cynic. Kedua mashab ini berbeda pan dangan mengenai perlu atau ti daknya seseorang menikah. Baik kaum Stoa dan Cynic memahami bahwa pernikahan menuntut tang gung jawab. Meskipun demikian, ke dua kelompok tersebut berbeda pan dang an dalam menjawab pertanyaan: Should the intelligent, informed, mo rally upright person take on such [marriage] responsibility? (Haruskah se seorang yang cerdas, banyak tahu, lurus secara moral, mengambil tang gung jawab [pernikahan] yang de mikian?) Kaum Stoa memandang tang gung jawab pernikahan adalah hal yang baik sebab manusia dicipta un tuk hidup sesuai dengan naturnya dan natur manusia adalah mereka harus menikah supaya dapat memenuhi bu mi. Berbeda dengan kaum Stoa, Cy nic memandang pernikahan se bagai ikatan yang harus dihindari. Alasannya, sebab segala ikatan tang gung jawab pernikahan dapat mem buat seseorang terhambat dalam me ngejar apa yang utama, yakni mengejar hik mat/filsafat. 14 EUANGELION 173

15 Menurut Frank Matera, dalam bu kunya New Testament Ethics, 1 Ko rintus 7 dilatarbelakangi oleh hadirnya kelompok orang Kristen yang mem praktekkan kehidupan yang aske tis dan memaksakan pola hidup ter sebut kepada jemaat Kristen yang lain. Isu mengenai perceraian pun, menurut Matera, kemungkinan terkait dengan praktek hidup asketis yang membuat beberapa jemaat menceraikan pasangannya. Seorang ah li yang lain, bernama Victor P. Furnish, melihat bahwa dalam jemaat Ko rintus terdapat kelompok orang yang mempraktekkan hidup yang ecs tatic dan ascetic, yang mana me reka yakin bahwa pernikahan an tara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman haruslah di akhiri sebab pernikahan merupakan ke satuan total dari dua pribadi/kehidupan. Warisan pemikiran Yahudi da lam komunitas mereka membuat me reka berkeyakinan bahwa per nikah an campur haruslah diakhiri dengan perceraian. Dalam merespons isu tentang per ceraian, Paulus tidak mengadopsi pan dangan dari kaum Stoa ataupun Cy nic ataupun gerakan asketis yang ha dir dalam jemaat Korintus. Paulus meng gunakan terutama ajaran Tuhan Yesus untuk menjawab isu tersebut. Banyak ahli, misalnya saja An thony Thieselton, melihat kutipan yang Paulus gunakan dari ajaran Yesus paralel dengan kutipan ajaran Ye sus yang dituliskan oleh Markus. Da lam kitab Markus, Yesus tidak me nyebutkan mengenai adanya pengecualian apapun mengenai per cerai an. Dalam menjawab pertanyaan me ngenai perceraian, ada dua aspek pe ngajaran yang Paulus gunakan da ri pengajaran Yesus yakni (i) tidak adanya alasan untuk perceraian dan kon sekuensi untuk tidak menikah la gi bila perceraian terjadi; (2) argumentasi bahwa pernikahan me rupa kan satu daging. Dalam konteks per nikahan dari orang-orang yang su dah berada dalam Tuhan (sudah per caya kepada Kristus), Paulus me negaskan, seperti halnya Tuhan Ye sus, bahwa perceraian tidak da pat diterima/tidak dapat diijinkan. Dalam kehidupan rumah tangga orangorang percaya memang da pat timbul masalah, bahkan masalah yang sangat berat, yang dapat mem buat salah satu pasangan tersakiti. Da lam kasus yang demikian, per ceraian bukanlah solusi, Paulus meng harapkan supaya dalam situasi yang de mikian, yang harus dilakukan adalah memberikan pengampunan dan men jalani rekonsiliasi. Dalam 1 Korintus 11 Paulus juga me nyoroti isu mengenai peran perempuan dalam ibadah dan dalam keluarga. Untuk memahami isu ini, kita per lu memahami bagaimana orangorang yang hidup pada abad pertama Ma sehi memahami mengenai peran kaum perempuan. Ben Witherington III menelaah peran dari kaum perempuan di era abad per tama Masehi dan menemukan bah wa kaum perempuan dalam kehidupan dan masyarakat Yunani--di luar perempuan yang menjadi pelacur dan budak- terbagi dalam ti ga golongan, yakni athenians citizen, EUANGELION

16 concubines, and companions or foreign wo man (warganegara Athena, wanita simpanan, dan pendamping bayaran atau wanita asing). Walaupun ada banyak kaum perempuan Yunani yang dipandang rendah, namun tidak se mua kaum perempuan Yunani meng alami diskriminasi. Ada wanita-wanita tertentu yang menikmati po sisi yang tinggi dan dihormati da lam masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, ada pembatasan-pembatasan yang diberikan kepada kaum perempuan Yunani, misalnya terkadang tidak boleh ke pasar, tidak bo leh bertemu sanak familinya dan cen derung terisolir dalam rumahnya (un tuk mempelajari hal ini, baca Craig S. Keener dalam bukunya Paul, Wo man and Wife). Bahkan, untuk se orang perempuan yang menjadi war ga Athena sekalipun, mereka di batasi haknya dengan tidak boleh men jadi saksi di pengadilan, kecuali un tuk kasus bunuh diri. Dalam hal ke agamaan, kita sulit untuk melihat si kap masyarakat Yunani terhadap kaum perempuan. Dalam ritual masya rakat Yunani ditemukan adanya ke terlibatan kaum perempuan dalam iba dah mereka, namun peran mereka ada lah sebagai pelacur bakti. Berbeda dengan wanita Yunani, kaum perempuan Romawi menerima per lakukan yang lebih baik dari pada orang-orang Yunani. Masyarakat pa da umumnya memandang kaum pe rempuan setara dengan kaum lakila ki. Dalam budaya Romawi, kaum pe rempuan memiliki hak-hak dalam eko nomi, politik, keagamaan dan da lam menuntut perceraian. Dalam hal keagamaan kaum perempuan Ro mawi dipandang sederajat dengan kaum laki-laki. Hal ini nampak dalam sa lah satu ukiran batu di Museo yang memperlihatkan adanya kaum perempuan dengan tudung di kepalanya sedang membawa persembahan (bdk. Ben Witherington III, Conflict and Community). Bagaimana dengan masyarakat Ya hudi? Dalam komunitas Yahudi, kaum perempuan, seperti halnya dalam masyarakat Yunani dipandang le bih rendah dari kaum laki-laki. Yosefus, seorang ahli sejarah kuno, menga takan bahwa wanita dalam segala hal lebih inferior dibandingkan laki-laki. Warisan tradisi yang diterima oleh orang Yahudi bahwa seseorang harus ber bahagia karena ia tidak dilahirkan se bagai wanita memperlihatkan cara pan dang yang negatif terhadap kaum pe rempuan. Dalam hal ibadah, kaum pe rempuan juga menempati posisi ke dua. Hal ini nampak misalnya saja da lam hal pemberian Taurat yang ha nya diberikan kepada kaum lakila ki, perempuan tidak diijinkan untuk men jadi saksi, dan tempat kaum pe rempuan dipisahkan dari kaum laki-laki. Bagaimanakah Paulus menjawab isu ini? Seperti halnya dalam 1 Ko rintus 7, Paulus tidak mengadopsi baik bu daya Yunani, Romawi ataupun Ya hudi. Paulus kembali kepada apa yang diajarkan dalam kitab suci bah - wa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai gambar dan rupa Allah. Meskipun demikian, Pau lus tidak mengaburkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki. Kaum 16 EUANGELION 173

17 pe rempuan memang diberikan peran bu kan sebagai kepala. Hal ini berarti ada perbedaan peran antara kaum pe rempuan dan laki-laki, tetapi keper bedaan ini bukanlah dalam hal na tur, sebab semua manusia baik la ki-laki maupun perempuan dicipta me nurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27) dan dalam Kristus tidak ada pembedaan antara laki-laki dan pe rempuan. Dalam gereja, laki-laki dan perempuan hendaknya diberikan kesempatan yang sama un tuk melayani Tuhan. Dalam 1 Ko rintus 11:4 Paulus menyinggung me ngenai perempuan yang berdoa dan bernubuat. Kedua istilah tersebut me nunjuk pada dua kegiatan dalam ge reja yang umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki tetapi Paulus me ngizinkan perempuan untuk melakukan hal tersebut sebab tidak ada pem bedaan laki-laki dan perempuan dalam gereja. Dalam Lukas 17:11-19 kita membaca mengenai Tuhan Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta. Ke cenderungan kita saat membaca teks tersebut adalah membacanya da lam kacamata budaya modern. Ki ta memandang bahwa kisah ini hen dak menyoroti sikap satu orang yang berbeda dari sembilan lainnya. Walaupun disembuhkan Yesus, sembilan orang tidak kembali dan hanya satu orang kembali untuk berterima kasih ke pada Tuhan. Kebudayaan kita yang sa ngat menekankan etika dan sopan san tun mungkin mempengaruhi persepsi kita sehingga saat membaca teks tersebut, perhatikan kita langsung tertuju pada satu orang yang me nunjukkan rasa terima kasih pada Tuhan Yesus. Bagaimanakah masyarakat abad per tama Masehi membaca ce rita da lam Lukas 17:1-19? Apakah sa at me reka membaca kisah ini me reka me miliki respons yang sama de ngan pem baca modern? Dalam du nia ku no, kita mengenal sebuah konsep yang disebut sebagai grace (anu gerah) dan gratitude (rasa terima kasih). Dalam konteks ini, masyarakat memiliki sebuah tata-ni lai yang diterima bersama bahwa sa a t seseorang menerima grace su dah sewajarnya dan seharusnya ia merespons-nya dengan memberikan gratitude. Bentuk gratitude yang di harapkan beragam, selain bentuk ucap an terima kasih, meniru kebaikan yang diterima seseorang me rupakan sebuah bentuk gratitude yang dipandang paling mulia (bdk. Mat 18:21-35; tuntutan bahwa sese orang yang telah menerima peng ampunan haruslah belajar meng ampuni merupakan salah satu ben tuk relasi grace dan gratitude). Si kap seseorang dalam memberikan gra titude yang sepatutnya disebut se bagai perilaku yang terhormat. Se baliknya, perilaku seseorang yang ga gal dalam memberikan respons se harusnya, disebut sebagai hal memalukan (shameful). Perilaku seperti ini dipandang sebagai hal yang tidak dapat diterima. Dalam konteks cara pandang ini, sikap satu orang yang kembali un tuk berterima kasih kepada Yesus (li hat EUANGELION

18 ayat 15-16) bukanlah hal yang ha rus dipan dang unik dan istimewa, se bab hal ter sebut memang lazimnya de mikian. Se seorang yang menerima ke baikan da ri seseorang (menerima grace) se harusnya ia memberikan respons da lam bentuk gratitude. Kalaupun ia tidak bisa meniru kebaikan yang di lakukan seseorang yang telah mem berikan grace kepadanya, setidaknya ia dapat mengucapkan teri ma kasih. Hal yang justru aneh da lam peristiwa ini adalah sembilan orang yang telah menerima grace da ri Tuhan Yesus, mereka ternyata ga gal dalam memberikan respons yang seharusnya. Saat mereka disembuhkan oleh Tuhan dalam perja lanan mereka memperlihatkan di ri kepada imam-imam Yahudi, me reka seharusnya kembali kepada Ye sus untuk menunjukkan gratitude mereka. Si kap mereka yang mengabaikan grati tude dipandang oleh orang-orang abad pertama Masehi sebagai hal yang memalukan dan tidak dapat diterima. Dalam kisah ini, Tuhan Yesus mem bandingkan dua hal yakni: (1) si kap sembilan orang yang tidak tahu me respon anugerah Allah dengan se orang Samaria (bdk. Luk 17:18), dan (2) respon seseorang terhadap anu gerah Allah dengan iman yang me nyelamatkan (Luk 17:19). Dalam du nia kuno, orang Kusta dipandang sebagai orang yang unclean. najis, mes kipun demikian, orang Samaria yang sakit kusta dipandang bukan saja tubuhnya unclean tetapi juga status so sialnya juga unclean. Akan tetapi, ter nyata sembilan orang Yahudi yang sa kit kusta lebih unclean daripada orang Samaria. Kegagalan mereka da lam menunjukkan respon yang se harusnya terhadap anugerah Allah mem perlihatkan bahwa kesembuhan fi sik yang mereka alami tidak mempe ngaruhi kondisi jiwa/hidup mereka yang unclean. Sebaliknya, satu orang Sa maria yang merespons anugerah Al lah dengan sikap yang benar, mem buktikan bahwa orang ini bukan sekedar fisiknya disembuhkan oleh Tuhan tetapi hatinya juga diubahkan Tuhan. Inilah alasannya Tu han Yesus berkata kepada orang Sa maria tersebut: imanmu telah menye lamatkan Engkau (Luk 17:19). C. Penutup Pengaruh dari budaya Yunani dan Ro mawi dalam PB adalah hal yang je las. Meskipun demikian, kita perlu ber hati-hati untuk memilah antara pe ngaruh budaya dan pengaruh da lam teologi/konsep berpikir. Para pe nulis Alkitab berbicara dalam kon teks budaya lokalnya. Dalam su rat-suratnya, Rasul Paulus misalnya, sering membahas isu-isu tertentu dalam jemaat yang mun cul karena persoalan budaya. Mes kipun demikian, Rasul Paulus dan penulis Alkitab lainnya tidak me ng adopsi budaya tertentu dalam men jawab persoalan dalam jemaat. Hal ini menunjukkan bahwa para pe nulis Alkitab membedakan antara otoritas dan konteks pergumulan jema at. Otoritas ada pada Firman Al lah; walaupun Firman Allah per lu disampaikan dalam konteks per gumul an jemaat namun Firman Allah 18 EUANGELION 173

19 ti dak dipengaruhi oleh budaya atau kon teks pergumulan zaman tertentu. Ge reja memang harus menyampaikan fir man Tuhan dalam bahasa dan kon teks yang dapat dipahami oleh orang-orang zamannya. Untuk itu Firman Tuhan memang perlu disam paikan sesuai dengan konteks dan kultur zamannya. Meskipun de mikian, merestrukturisasi pesan Fir man Tuhan berdasarkan kultur za man tertentu tidak dapat kita te rima. Di beberapa negara maju, mi salnya saja Belanda, masyarakat me mandang bahwa konsep laki-laki sebagai kepala sebagai sebuah ben tuk diskriminasi dan kesewenangwe nangan. Itulah sebabnya gagasan ini dipandang hanya sebagai budaya ku no yang tidak bisa diterapkan la gi dalam masyarakat modern. Ji ka kita membandingkan apa yang Ra sul Paulus tegaskan mengenai ajar an laki-laki sebagai kepala, Ia memandang ajaran ini bukan sebagai wa risan kultur, tetapi sebagai ajaran Fir man Tuhan. Itulah alasannya ia meng gunakan gagasan tersebut se bagai prinsip dalam menjawab isu peran perempuan dalam ibadah jemaat. Mencermati bagaimana ge re ja masa kini sering mencoba mem bangun sebuah ajaran berdasarkan kon teks zaman yang ada haruslah di evaluasi dengan bijak. Sebagai con toh, banyak gereja mulai menyesuaikan tuntutan Firman Tuhan ber dasarkan karakter generasi muda ma sa kini. Gereja menganggap seolah-olah jika Firman Tuhan tidak me ngikuti budaya dan kultur generasi mu da masa kini atau konteks zaman ter tentu maka pemberitaan Firman Tu han tidak akan efektif. Walaupun per gumulan dari generasi orangorang Kristen dapat berbeda dan kon teks budaya orang-orang Kristen di daerah tertentu dapat berbeda teta pi Firman Allah tetap berkuasa dan mam pu berbicara lintas generasi dan lintas daerah. Pdt. Chandra Gunawan...satu orang Sa maria yang merespons anugerah Al lah dengan sikap yang benar, mem buktikan bahwa orang ini bu kan sekedar fisiknya disembuhkan oleh Tuhan tetapi hatinya juga di ubahkan Tuhan. EUANGELION

20 BUDAYA IMAN PENDAHULUAN Kehidupan sebagai pengikut Kristus menuntut kita untuk bertindak se suai dengan harkat dan martabat Kris tus. Tentu ini tidaklah mudah, se bab kita hidup dalam kedagingan yang selalu ingin melawan harkat dan martabat tersebut. Walaupun demi kian, kita perlu menyadari bahwa iman kita tidak hadir atau eksis hanya da lam sepenggal waktu, melainkan se panjang hidup. Menghidupi iman de ngan seluruh prinsip-prinsip ke benaran firman Tuhan di sepanjang perja lanan hidup kita, di manapun kita ber ada, inilah yang disebut budaya iman. KESELAMATAN YANG HIDUP Tatkala kita menerima Yesus se bagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, di situlah momen keselamatan itu menjadi anugerah buat hidup ki ta, dan itu bersifat kekal. Namun keselamatan dalam prinsip firman Tu - han tidaklah hanya berimplikasi ke lak sesudah kematian daging (future), melainkan juga pada saat ini (present). Memang, keselamatan itu sen diri hanya akan dinyatakan tatkala ke lak kita sudah di alam baka, sebab ka ta selamat merupakan sebuah antitesis dari kata hukuman. Namun buah keselamatan itu bersifat aktif dan terus menerus. Apabila buah ke selamatan tidak menampakkan ak tivitas dan pertumbuhan yang baik, kita patut bertanya-tanya, sungguh kah keselamatan itu terjadi? Ki tab Filipi pasal 2 menolong kita me mahami hal ini dengan baik, di - mulai dari ayat berikut ini: Hai sauda ra-saudaraku yang kekasih, kamu se nantiasa taat; karena itu tetaplah kerj akan keselamatanmu dengan takut dan gentar... (Flp 2:12a) Ayat di atas memerintahkan kita agar menghidupi keselamatan. Frase yang dipakai tetaplah kerjakan ber asal dari kata κατεργάζεσθε (katergazesthe) yang merupakan sebuah kata perintah bertensa present, yang bermakna terus-menerus, se lama hidup kita. Keselamatan yang terus menerus dihidupi akan membawa kita kepada akhir ke hidupan yang tiada bercela (ay 15). Na mun menghidupi keselamatan ti daklah dengan kekuatan sen di ri, melainkan Allahlah yang me nger jakan nya (ay 13). Jadi, tidak mungkin ke selamatan yang dimiliki orang per caya itu diam saja, apalagi mati, tan pa menghasilkan apa-apa. Buahbuah keselamatan akan tampak dan men jadi bukti bila keselamatan yang ki ta peroleh adalah eksis. BUDAYA KRISTEN Guna melihat lebih jauh indikasi ke selamatan yang hidup di atas, saya akan membandingkan dua paradigma un tuk kita renungkan bersama secara se rius sehingga kita dapat mengukur dan sekaligus merenungkan, siapa ki ta di hadapan Kristus (kita masingma sing patut menjawab pertanyaan yang Yesus sampaikan dalam Lukas 9: 20). Dua paradigma tersebut adalah bu daya Kristen dan budaya iman. 20 EUANGELION 173

21 Akhir-akhir ini saya sering mendapatkan banyak berita, pe san singkat, dan opini tentang per tumbuhan dan perkembangan sebuah aga ma yang disinyalir menjadi amat pe sat dewasa ini. Di kantong-kantong yang mayoritas Kristen (mungkin juga Katolik) terjadi sebaliknya, yaitu ke munduran, baik dalam konteks iden titas maupun praktek kehidupan. Fe nomena apakah ini? Atau apa yang da pat kita jelaskan tentang hal ini? Sung guhkah kekristenan mengalami kemunduran? Firman Tuhan di dalam Yesus Kris tus harus kita yakini sebagai ya dan amin (2 Kor 1:20), maka apa yang dinyatakan di dalam firman Tu han, yaitu Alkitab kita saat ini adalah sebuah kebenaran. Keyakinan seperti ini amatlah penting bagi ki ta pengikut Kristus, dan dengan demi kian fenomena di atas dapat kita pa hami dengan baik. Kekristenan dalam konteks sebagai sebuah entitas bu daya, bagi saya, saat ini memang sedang mengalami kemerosotan dan bah kan menurut saya sudah hendak ber akhir dan karenanya kemunduran ada lah sebuah keniscayaan. Dunia barat yang (awalnya) kental dengan kekris tenan dalam segala aspek, seperti pe merintahan, gereja, pendidikan, pe ri kehidupan sehari-hari, dan se bagainya (dibuktikan dengan nilai-nilai kris tiani yang amat kuat dan pekerjaan misi yang luar biasa), kini hanyalah me nyisakan elemen budaya semata, ta pi rendah dan bahkan kehilangan kua litas kerohaniannya. Tatkala bulan Desember dimana hari Natal ti ba, pernak-pernik dan ornamenor namen yang muncul hanyalah un tuk kemeriahan semata, bukan pe rilaku hidup yang semakin baik, apa lagi benar. Jika sudut pandang de - mikian kita alihkan ke daerah-dae rah mayoritas Kristen (umumnya di sebut kantong-kantong Kristen) yang menjadi obyek kekuatiran yang saya se but di atas, apakah yang dapat kita katakan dan simpulkan? Bagi saya, setali ti ga uang alias sama saja dengan apa yang terjadi di dunia barat. Maka, ten tu saja karena rapuh dan lemah, se bab hanya tampak permukaan saja, budaya Kristen jadi semakin surut dan lama kelamaan bisa saja hilang. Oleh karena itu harus ada sesuatu yang menggantikannya, dan itu sa ya sebut dengan istilah budaya iman. Paradigma kantong Kristen atau peradaban Kristen barangkali ke lak hanya tinggal sebuah warisan (legacy) semata. Jika demikian maka ki ta juga tidak akan berjumpa lagi de ngan konsep mayoritas Kristen, dan minoritas agama lainnya di suatu daerah tertentu. Fenomena ini sebenarnya bukan melulu pertumbuhan dan perkem bangan suatu agama tertentu. Mung kin dalam konteks Indonesia ter jadi demikian. Namun di belahan du nia lain, dalam beberapa survei di sebutkan justru mereka yang tidak me miliki afiliasi agama tertentu se perti ateisme dan agnostisme ber tumbuh secara pesat. Di Ero pa dan Amerika kelompok ini mendu duki jumlah kedua terbesar ( com/2016/04/ atheism- agnostic-secular-nones-rising- EUANGELION

22 religion). Jika Eropa dan Amerika me ngalami situasi demikian, masihkah kita sebagai pengikut Kristus bangga mereferensikan benua ter sebut sebagai berbudaya Kristen ha nya karena pernak-pernik fisik yang bernuansa kristiani, dan itupun ha nya di saat-saat Natal? Kekristenan ada lah tentang Kristus, bukan pernak-pernik, ornamen, hiasan, dan se macamnya yang terlihat fisik. Be gi tulah penegasan Yesus (Mat 16:24): Lalu Yesus berkata kepada mu rid-murid-nya: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. BUDAYA IMAN Sebagai bandingan dari budaya Kris ten yang demikian, budaya iman per lu mulai kita galakkan. Budaya iman berangkat dari pemikiran dasar yang terdapat pada ayat di bawah ini: Se bab di dalamnya nyata kebenaran Al lah, yang bertolak dari iman dan me mimpin kepada iman, seperti ada ter tulis: Orang benar akan hidup oleh iman. (Rm 1:17). Sebagaimana disebutkan dalam pa paran sebelumnya, iman kita ha ruslah bersifat aktif, karena kita ma sih hidup di dunia ini. Iman kita ha nya dapat bertumbuh dengan baik sehingga kita layak dibenarkan Al lah tatkala kita menghidupinya. Meng hidupi iman inilah yang menjadi ha kekat terbentuknya budaya iman. Bu daya iman bersumberkan pada Injil, firman Tuhan. Paulus menegaskan dalam ayat 16 kitab Roma bah wa karena Injillah orang beroleh ke selamatan. Di dalam Injil ada kuasa Al lah yang membawa orang kepada ke selamatan. Dengan demikian, tatkala kita beroleh keselamatan yang ber sumber dari Injil, di dalam diri kita (se harusnya) muncul iman yang hidup, yang terus-menerus bertindak sesuai de ngan citra kebenaran Ilahi. Oleh ka rena terjadi terus menerus, tentu la ma-kelamaan menjadi kebiasaan, dan inilah yang disebut budaya iman. Da lam tataran praksis, budaya iman akan memberikan dampak yang amat besar dalam memperkenalkan ke benaran Allah dan keselamatan yang disediakan-nya. Apakah kemerosotan budaya ke kristenan sebagaimana disebut di atas merupakan sesuatu yang serius dan fundamental di mata Tuhan? Ter nyata firman Tuhan mengatakan ti dak. Mari kita simak ayat berikut ini: Begitu pula anggur yang baru ti dak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu ter buang dan kantong itupun hancur. Te tapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya (Mat 9:17). Budaya kekristenan bagaikan kantong kulit yang tua, dan isinya pun su dah tua. Budaya kekristenan sudah pur na dan tidak perlu lagi diaktivasi ulang. Sementara itu budaya iman ada lah bagaikan kantong anggur yang baru. Isinya, yaitu anggurnya pun tidak bersifat ornamental, simbol, ritual, atau pernak-pernik semata. Anggur baru ini bersumber pa da kebenaran murni firman Tuhan 22 EUANGELION 173

23 yang merupakan fondasi dasar iman di dalam Yesus Kristus, sebagaimana yang Paulus sampaikan dalam kitab Ro ma di atas. Sebagai pengikut Kristus, ada be gitu banyak keistimewaan yang ki ta bisa peroleh. Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa ki ta disebut anak Allah (Yoh 1:12), dan Allah dengan demikian adalah Bapa kita. Allah yang mahakuasa itu menjadi Bapak buat kita?, Ya, benar! kita juga disebut sebagai murid (Ki tab Yohanes banyak menyebutkan ten tang murid ini). Bukankah da lam dunia pendidikan banyak pe lajar dan mahasiswa berlomba-lom ba mendapatkan sekolah yang terbaik? Salah satu alasan sekolah atau kampus itu disebut terbaik ten tu karena gurunya berkualitas. Nah, kalau kemudian kita disebut se bagai murid Kristus, yang adalah in karnasi Allah, bukankah itu suatu ke hormatan yang amat tinggi? I Pe trus 2:9 memberikan banyak ke istimewaan lainnya lagi. Namun se dihnya, semua keistimewaan tersebut ti dak membuat banyak orang yang me ngaku Kristen memiliki cara hidup yang baik atau bahkan lebih baik (dari pada mereka yang di luar Kristus). Ke istimewaan itu seperti menjadi se buah kebanggaan semata, namun nir hakekat. Dengan kata lain, banyak yang suka disebut anak Allah, mu - rid Kristus, dan sebagainya na mun kehidupannya tidak seturut de ngan sebutan tersebut. Dapatkah yang demikian itu disebut pengikut Kristus? Beriman kepada Tuhan Yesus ber arti menjadikan Yesus sebagai prio ritas utama dan pusat kehidupan, apa pun itu yang terjadi, suka atau du ka, sehat atau sakit. Namun lihatlah betapa masih banyak orang (Kris ten) yang manakala tertimpa ke susahan menganggap Tuhan jahat, ti dak adil, tega, dan sebagainya, se hingga akhirnya meninggalkan imannya bahkan cenderung mulai meng hujat Tuhan. Pernahkah kita se rius bertanya dalam perenungan iman kita, mengapa jalan Allah untuk keselamatan adalah dengan in karnasi Yesus dan inkarnasi itu mes ti dijalankan dalam penderitaan? Bu kankah Allah itu mahakuasa? Ka lau untuk memurnikan hidup manusia dan menjadikannya kudus agar berkenan kepada-nya, tidakkah Al lah dengan kemahakuasaan-nya sanggup membuat kudus manusia tan pa harus berkorban demikian? Na mun tahukah Anda bahwa inilah pertanyaan-pertanyaan orang yang justru sebenarnya tidak memiliki budaya iman, yang berpusatkan pada Kristus. Me reka justru meragukan jalan yang de mikian, dan karenanya sangat wajarlah untuk tidak menghidupi iman yang demikian. Tapi bagi kita yang ingin hidup benar dan sungguh-sungguh dalam Kristus, jalan keselamatan yang Allah sediakan semestinya menjadi refleksi iman yang senantiasa hi dup di segenap eksistensi kita. Pengorbanan Kristus me nun jukkan bahwa dosa bukanlah perkara ke cil, sepele, apalagi mengada-ada. Dosa adalah noda paling men ji jik kan EUANGELION

24 di hadapan Allah. Oleh ka re na bobot nya yang besar itulah ma ka jalan ke selamatan Allah juga haruslah yang amat berharga, yaitu pengorbanan Kris tus. Ketika kita paham jalan itu, ma ka seharusnya itu tercermin dalam k e hidupan kita sehari-hari, yaitu buda ya iman yang benar. Budaya iman bisa bersifat individu, pun bisa bersifat komunal. Berdoa kapanpun itu, tanpa harus menunggu ada suatu kegiatan tertentu, bukanlah se suatu yang tidak patut. Membaca dan merenungkan firman Tuhan kapanpun dan dimanapun, entahkah ki ta sangat sibuk, dikejar jam masuk ker ja atau sekolah, dapat (seharusnya) de ngan mudah dilakukan. Kita tidak per lu melakukannya dengan banyak ayat. Satu atau dua ayat pun tetaplah baik, apalagi bila kita sanggup mengha falnya, tentu akan sangat baik dalam membangun budaya iman ki ta. Banyak hal-hal praktis lainnya yang sesungguhnya amatlah mudah dan bukan sesuatu yang bersifat gim mick (hanya untuk mengelabui su paya tampak rohani semata). Mem beritakan Injil, pendalaman Al kitab, dan sebagainya dapat kita ja lankan tanpa perlu merasa tertekan apa lagi terbeban. Bila kita memiliki ca ra hidup yang baik dalam seluruh as pek kehidupan, dan kemudian orang lain melihatnya sebagai sebuah keindahan, tidakkah itu akan menjadi jalan yang mudah bagi kita un tuk menegaskan bahwa kebaikan itu karena kita memiliki Kristus. Tapi ingatlah dan pahamilah bahwa ke baikan yang memancar dalam ke hidupan kita tidaklah melulu sesuatu yang serba enak, nyaman, dan senang. Berhasil, beruntung, suk ses, berprestasi memang adalah hal-hal yang hebat dan membuat orang lain kagum, hormat, dan bah kan segan pada kita. Namun ke tika kita sakit, terpuruk, gagal, men derita dan sebagainya yang tam pak tidak menyenangkan dan kita bi sa tetap hidup dalam iman yang ber pusatkan Kristus, maka itu juga akan me mu liakan Allah (2 Kor 4:7, I Pet 2:20). Budaya iman adalah cara hidup seha ri-hari yang bergantung, bersandar, dan berpusatkan pada Kristus. Tiada hi dup tanpa Kristus. Itulah budaya iman sejati. Bila budaya iman yang de mikian betul-betul hadir, maka ti dak perlu ada lagi kegelisahan, ke kuatiran, apalagi kegeraman ter - hadap semua fenomena per kembangan dan pertumbuhan fal safah atau agama apapun (di luar Kris tus). Budaya iman yang demikian membangun keyakinan yang kokoh, tak ter goyahkan sebagaimana Paulus te gaskan dalam kitab Roma di atas. Ja di, budaya manakah yang Anda hidu pi saat ini? Teduh Primandaru Jemaat GII Kebaktian Kota Baru Parahyangan 24 EUANGELION 173

25 PENGARUH SMARTPHONE TERHADAP BUDAYA DAN PANGGILAN ORANG PERCAYA UNTUK MEMULIAKAN TUHAN Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Kor 10:31 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Roma 11:36 Pengantar Salah satu produk perkembangan teknologi adalah hadirnya perangkat ko mu nikasi smartphone. Hal terse but telah membawa dampak yang luar biasa dalam budaya manusia ter masuk di Indonesia. Pengguna smart phone di Indonesia cukup besar. Kementerian Komunikasi dan Informasi RI menyatakan bah wa Indonesia adalah raksasa tek nologi Asia yang sedang tertidur. Peng guna smartphone Indonesia juga bertum buh dengan pesat. Lebih jauh Men kominfo menyatakan bahwa Lem baga riset digital marketing Emar keter memperkirakan pada ta hun 2018 jumlah pengguna aktif smarphone di Indonesia lebih dari 100 ju ta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara de ngan pengguna aktif smartphone ter besar keempat di dunia setelah Ci na, India, dan Amerika. Sadar atau ti dak sadar, peningkatan pengguna smart phone tersebut menyebabkan per ubahan besar dalam budaya masya rakat: dalam norma-norma, pola pi kir, nilai-nilai dan dalam sikap etis. Sebagai orang percaya, perubahan ter sebut akan berkaitan pula dengan pang gilan orang percaya untuk memuliakan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupannya. Panggilan untuk memuliakan Tuhan terus berkumandang dalam berbagai perubahan budaya dunia sepanjang za man. Paparan ini adalah kajian etika Kristen terhadap penggunaan smart phone dalam kaitan dengan ke hi dupan orang percaya yang terpanggil untuk memuliakan Tuhan, termasuk dalam menyikapi penggunaan smart phone dalam ke hi dupannya. Pengaruh smartphone dalam buda ya KBBI memberikan definisi budaya ada lah pikiran, akal budi. Charles H. Kraft memberikan pengertian bu daya sebagai gaya hidup suatu ma syarakat dalam suatu kelompok, yang merupakan warisan dari satu ge nerasi kepada genarsi berikutnya. Pe ngungkapan lain tentang budaya ia lah rancangan masyarakat untuk ke hidupannya. Setiap budaya mengandung norma-norma, pola pi kir, pengetahuan, nilai-nilai yang diterima dalam kelompok tersebut. Ber dasarkan budaya tersebut, setiap orang melakukan tindakan dalam kelompoknya. EUANGELION

26 Smartphone sebagai alat bu daya yang sudah merupakan ke butuhan pada masa kini, akan memiliki pengaruh yang sangat be sar dalam mengubah budaya ka rena smartphone dapat digunakan se bagai hp biasa, atau akun facebook, Whats app, instragram, mengakses , bertransaksi bisnis dan lain sebagainya. Satu smartphone seolaholah satu perkantoran yang memiliki banyak fungsi. Kepemilikan smartphone bukan lagi sekedar pilihan tetapi te lah menjadi kebutuhan bahkan ke harusan untuk hidup pada masa ki ni. Smartphone telah menjadi sa lah satu alat/instrumen budaya, da lam berbagai aspek kehidupan. Ke hadiran smartphone menyebabkan ter jadi transfer norma, nilai, konsep berpikir yang disampaikan dengan baik karena dapat dikirim beserta fo tofoto pendukungnya. Itulah se babnya kehadiran smartphone telah me ngaki batkan perubahan budaya. Hal itu masih akan terjadi terus dengan perkembangan yang ada pada masa depan. Perubahan budaya akan terjadi ke arah yang positif maupun negatif. Oleh karena itu, setiap orang per caya pengguna smartphone tidak da pat membebaskan diri dari tang gung jawab, karena pada akhirnya pengguna smartphone harus ber tanggung jawab, baik kepada manusia maupun kepada Tuhan. Kondisi Smarphone yang tidak dapat bekerja sendiri Smartphone dirancang oleh manusia untuk hal yang baik dan ber sifat netral, dan smartphone ba ru da pat bekerja ketika manusia meng gunakannya. Oleh karena itu, se bagaimana sifat benda umumnya, smart phone dapat menjadi alat yang mem bawa kepada kehidupan yang me muliakan Tuhan atau menjadi alat ib lis untuk melaksanakan rancangan ke jahatannya, tergantung kepada peng gunanya. Sebagai contoh: pisau yang dirancang untuk menjadi alat me nolong manusia, yang sangat berguna di tangan master chef, akan men jadi alat yang membahayakan di ta ngan orang yang berniat ja hat karena dapat mengancam keselamatan dan keamanan orang lain. Adalah berbahaya jika pengguna smartphone ti dak memikirkan bahwa iblis dapat menggunakan smartphone untuk tujuannya. Oleh karena itu, perlu kesadaran se tiap orang percaya pengguna smart phone, bahwa tanggung jawab kepemilikan smartphone bukan pa da bendanya tetapi pada manusia penggunanya: bukan hanya terhadap manu sia tetapi juga terhadap Tuhan. Ada pang gilan untuk memuliakan Tuhan ba gi setiap orang percaya ketika memakai smartphone. Vern S. Poythrees dalam Redeeming Science menyatakan bahwa Tuhan de ngan jelas menunjukkan adanya ke superioran manusia terhadap mahluk lain: binatang dan tumbuhan. Ma nusia tidak memiliki batasan dan dapat menggunakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan be bas. Pembatasan terhadap manusia hanyalah tidak boleh me ngambil pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Larangan itu meru pakan pengingat akan adanya 26 EUANGELION 173

27 tang gung jawab manusia kepada Tu han atas kepercayaan yang dibe rikan kepada mereka. Manusia bu kan tuan atas segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya, te ta pi hanya penatalayan yang akan membe rikan pertanggungjawaban pada waktunya. Hal tersebut juga nyata dalam pe r- umpamaan Tuhan Yesus dalam Ma tius 25:14-30 tentang Tuan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya dengan tujuan untuk di ganda kan. Ada yang dipercayakan lima ta lenta, dua talenta dan satu talenta. Ma sing-masing menurut kemampuan me reka. Waktu pengelolaan adalah sam pai tuan tersebut kembali. Demikian pula halnya dengan peng gunaan smartphone akan diminta pertang gungjawaban. Untuk itu orang per caya harus memahami tanggung ja wabnya sebagai orang percaya dalam penggunaan smartphone yang di pu nyainya. Orang percaya ada lah penatalayan hal-hal yang dipercayakan Tuhan. Pengaruh Smartphone yang Positif Smartphone sebagai hasil per kembangan teknologi telah mem ba wa pertumbuhan pesat pa da manusia dalam berbagai aspek kehidupan yang men jadikan pekerjaan lebih mudah. Mi salnya dalam berkomunikasi, dalam penyampaian informasi, dalam mo bilisasi, dalam pelaksanaan pekerjaan atau bisnis, dalam kegiatan pe layanan dan pelaksanaan ibadah. Oleh karena itu smartphone bukan la gi suatu benda penanda prestise, te tapi telah menjadi kebutuhan setiap orang: tua muda, kecil besar, terdidik atau biasa saja, yang penggunaanya ter kait dengan semua lini kehidupan. Smartphone masih akan terus me ngalami pengembangan. Kita dapat meli hat bahwa setiap tahun ada produk ba ru dengan tambahan fitur-fitur yang lebih baik dan canggih dan akan te rus dikembangkan untuk dapat membawa lebih banyak hal positif. Sebagai orang percaya, panggilannya adalah da pat menggunakan apapun yang dimi likinya termasuk smartphone untuk me muliakan Tuhan, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dalam melakukan komunikasi, de ngan adanya smartphone komu ni kasi dapat dilakukan secepat mung kin karena smartphone telah memungkinkan melakukan ko munikasi antar kota, antar provinsi, antar negara dan antar benua dengan baik. Perkembangan ter akhir menunjukkan komunikasi de ngan bertatap muka telah dapat di lakukan melalui Whatsapp. Perca kapan tersebut biayanya tidak ma hal. Contoh lain ialah bahwa setiap stasiun TV sekarang ini telah me ngembangkan peranan informasi ma syarakat akan berbagai hal. Hal ter sebut dapat terjadi dengan adanya smart phone, sehingga berita dan buk ti pendukung berita dapat dikirim se cepat mungkin dengan baik. Oleh ka rena itu, segala sesuatu yang terjadi di berbagai daerah bahkan di dunia, akan dapat diketahui dengan cepat, ji kalau akses untuk smartphone sudah ada di sana. EUANGELION

28 Terjadi efisiensi dalam waktu dan da na serta efektif karena dengan ce pat dapat dilakukan. Hal tersebut da pat menolong dalam hal-hal yang membutuhkan pertolongan se perti tabrakan, adanya gempa, ban jir dan lain-lain. Juga undangan-un dangan rapat, pernikahan, ucapan-ucap an Selamat dapat disampaikan dengan whatsapp. Kalau dahulu setiap undangan harus dengan bukti fi sik, kini undangan dalam bentuk fo to telah diterima dengan baik, kecuali untuk orang-orang yang pa ling dihormati. Terjadi perubahan budaya yang cukup signifikan. Dalam melakukan mobilisasi, smart phone sangat menolong. Pembentukan kelompok group telah mem buka komunitas-komunitas da lam jumlah kelompok yang ber variasi. Ada jumlah kelompok kecil, menengah, dan ada kelompok besar. Hal se perti itu belum pernah terpikirkan 15 tahun lalu. Hal tersebut juga menyebabkan perubahan dalam pelaksanaan kepemimpinan. Itu telah di praktekkan untuk memobilisasi orang dalam pelaksanaan Pilkada dan Pemilu. Dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnis, penggunaan smartphone juga sangat besar. Bisnis online dapat berkembang dengan baik dengan ada nya smartphone. Segala urusan bis nis dapat lebih efisien dan efektif ju ga. Con tohnya, sekelompok petani di Ja wa Tengah telah tertolong dengan peng gunaan smartphone untuk memahami banyak hal tentang harga ha sil bumi dan lain-lainnya. Masa kini banyak gereja telah mengizinkan Alkitab digital dalam smartphone-nya. Oleh karena itu pengguna smartphone telah menginstall Alkitab, yang dapat diinstall dalam berbagai ver si dan bahasa. Ini membuat ibadah semakin praktis. Banyak hal yang dibutuhkan dalam pelayanan da pat dicari dalam google yang dapat dibuka dalam smartphone. Budaya orang percaya diubahkan. Ini me mudahkan setiap orang untuk me miliki materi Alkitab. Meskipun pembacaan Alkitab dari smartphone me miliki pengaruh negatif, pengaruh po sitipnya cukup signifikan. Beberapa hal di atas menunjukkan bahwa smartphone telah memberikan pe ngaruh positif dalam kehidupan ma nusia, termasuk orang percaya. Pa tut disyukuri penemuan-penemuan ba ru yang dapat menolong peradaban ma nusia berkembang lebih baik lagi. Pengaruh Smartphone yang Negatif Pengaruh smartphone yang negatif aki bat perubahan budaya dapat di amati antara lain: godaan untuk tidak memuliakan Tuhan atau godaan ib lis yang membuka potensi untuk ber dosa, kemajuan penyampaian in formasi yang tidak dibarengi dengan kesiapan mental, munculnya ke terasingan di tengah keramaian, ke tagihan ataupun pemberhalaan smart phone dan kemalasan untuk ber komunikasi secara langsung. Godaan untuk tidak memuliakan Tu han mudah terjadi dalam penggu naan smartphone ketika ibadah. Ib lis juga menggunakan smartphone 28 EUANGELION 173

29 da lam menggoda orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan dengan terdapat konten-konten kiriman, yang merupakan godaan sek sualitas, penipuan, perilaku ce pat marah dengan tulisan-tulisan dalam argumentasi yang muncul, dan percakapan-percakapan yang kadang kala tanpa sopan santun lagi. Pe nipuan-penipuan dapat terjadi me lalui facebook dan whatsapp yang telah banyak memakan korban, kare na percakapan-percakapan yang ter jadi tanpa pertemuan seringkali me nutupi banyak jatidiri yang tidak benar. Penyampaian informasi yang tidak di barengi dengan kesiapan mental. Pa da masa lalu, setiap budaya ma nusia diturunkan ke generasi beri kutnya melalui pengajaran baik di te ngah keluarga maupun sumber etis lain nya. Ada cukup waktu untuk mencernanya. Perkembangan smartphone mem bawa penyampaian informasi yang luar biasa cepat. Banyak pene rima belum siap secara mental. Pa dahal, siap atau tidak siap, normanor ma. pola pikir lain terus memasuki se tiap pengguna dengan bebasnya. Se tiap pengguna smartphone se olah berjuang sendiri menghadapi berba gai informasi yang masuk. Terjadi glo balisasi budaya. Sebagai contoh: ba nyak orang terperdaya oleh status orang yang dikenal melalui facebook. Hal tersebut akan membahayakan dirinya. Dampak negatif lainnya ialah muncul nya rasa keterasingan di tengah segala keramaian. Orang tergoda lebih bergaul melalui smartphone daripada ber temu langsung. Pergaulan langsung menghadirkan senyum, dan eti ka, tetapi dengan smartphone orang menggunakan emotikon-emotikon yang hanya dapat dilihat te tapi tidak dapat dirasakan. Dapat ju ga menyebabkan kemalasan untuk berkomunikasi. Panggilan untuk memuliakan Tuhan Panggilan untuk memuliakan nya ta dalam Alkitab. Dampak negatif ti dak harus ditakuti, melainkan harus di hadapi bersama Tuhan. Sebagai orang percaya yang telah merasakan ka sih dan pengampunan Tuhan di da lam Tuhan Yesus, yang diterima dengan iman bahwa penebusan terjadi oleh darah Tuhan Yesus yang tercurah di Kalvari, dan melalui firman Tuhan, pas ti akan didatangkan rasa syukur ke pada Tuhan dan ingin memuliakan Tu han di dalam hidup. Pernyataan li ma sola: Sola Gratia, Sola Fide, Solus Christus, Sola Scriptura diakhiri dengan Soli Deo Gloria. Panggilan untuk memuliakan hi dup sekaligus tantangan agar da pat menggunakan segala milik yang dipercayakan Allah umumnya dan smartphone khususnya untuk me muliakan Tuhan. Penggunaan smart phone dapat dilakukan dengan me naati pengajaran Tuhan Yesus. Pe rintah untuk mengasihi Tuhan de ngan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi serta perintah un tuk mengasihi sesama seperti diri sen diri dipraktekkan dengan menaati fir man Tuhan. Hal tersebut diamati da lam berbagai pernyataan dan pe rintah Tuhan Yesus, yaitu hidup EUANGELION

30 se bagai garam dan terang dunia, be rusaha memelihara kekudusan hi dup, menggunakan smartphone se bagai alat untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Mengasihi Tuhan dengan segenap ha ti, segenap jiwa dan segenap akal budi dalam penggunaan smartphone mengandung menaati prinsip-prinsip Alkitab. Secara alki tabiah perlu disadari bahwa iblis ju ga menggunakan smartphone un tuk mencapai tujuannya. Hal ini nya ta dalam berbagai penggunaan smartphone. Komunikasi yang terjadi da lam smartphone dapat jatuh kepada umbaran kemarahan dan ketidaketisan dalam berkomunikasi. Se tiap orang percaya kiranya dapat me nyadarinya dan berdiri sebagai orang percaya menjadi kesaksian bagi dunia ini. Dalam penggunaan smartphone da lam ibadah, perlu diwaspadai tarikan untuk melakukan kegiatan lain, se perti membalas whatsapp ketika iba dah, atau melakukan bisnis ketika sedang ibadah. Hidup sebagai garam dan terang du nia. Orang percaya terpanggil un tuk hidup sebagai garam dan terang dunia Dalam Matius 5:13-14 Tu han Yesus mengatakan, Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu men jadi tawar, dengan apakah ia di asinkan? Tidak ada lagi gunanya se lain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang ter letak di atas gunung tidak mungkin ter sembunyi. Hal ini menunjukkan orang percaya adalah orang yang te lah dibaharui Tuhan. Kehidupan se bagai garam dan terang dunia me nunjukkan kehidupan yang telah me ngalami pembaharuan dan telah ter hubung dengan terang itu sendiri, yaitu Tuhan Yesus. Kedua gambaran ter sebut merupakan kehidupan yang men jadi internal tersembunyi tetapi mem ba wa dampak pembusukan da lam du nia ini, sedangkan orang per caya se bagai terang dunia karena su dah ter hubung dengan Yesus yang ada lah te rang dunia. Hal tersebut berarti orang percaya mengasihi orang yang ma sih tinggal dalam kegelapan dan mem bimbingnya mengenal Ye sus. Peng gunaan smartphone kare nanya un tuk arah kesaksian dan pe layanan. Orang percaya menjadi utus an Tuhan me nyaksikan Tuhan yang sudah mati dan bangkit untuk me nebus dosa ma nusia dengan menggunakan smart phone-nya. Penggunaan smartphone dengan akun facebook, whatsapp, instagram, men jadi media kesaksian iman. Ke taatan tersebut bukan karena ta kut UU ITE (meskipun itu perlu di per hatikan), tetapi lebih kepada ta kut akan Allah yang mengetahui sam pai kepada motivasi tindakan dan ketaatan kepada Tuhan. Seba gai orang tebusan Allah, orang per caya yang mengasihi Allah akan ber kehendak menaati firman Tuhan (Yoh 14:15, 21,23). Orang percaya selayaknya mengasihi Tuhan, Allahnya, de ngan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi; dan me ngasihi sesama seperti diri sen - di ri (Mat 22:37-39). Itu bukan untu k meraih kasih Tuhan tetapi kare na sudah dikasihi oleh Tuhan. 30 EUANGELION 173

31 Oleh karena itu, smartphone juga di gunakan untuk memuliakan Tuhan baik dalam penerimaan maupun pe ngiriman pesan, gambar dan lain sebagainya. Kekudusan Hidup. Panggilan un tuk memuliakan Allah dalam peng gunaan smartphone berkaitan de ngan pemeliharaan kekudusan hi dup. Perintah kekudusan hidup di berikan pada masa Perjanjian La ma dan diulang kembali dalam Per janjian Baru. Ini menunjukkan sua tu kesamaan prinsip hidup dalam Per janjian Lama sampai kepada Perjan jian Baru. Dalam 1 Petrus 1:15-16 dinyatakan te tapi hendaklah kamu menjadi ku dus di dalam seluruh hidupmu sa ma seperti Dia yang kudus, yang te lah memanggil kamu, sebab ada ter tulis: Kuduslah kamu, sebab Aku ku dus. (Bnd. Im. 11:44-45). Orang du nia hidup menurut apa yang dike hendakinya tetapi orang percaya men jalani pengudusan hidup terus me nerus. Oleh karena itu diminta un tuk hidup kudus. Kekudusan bukan se suatu yang berdasarkan usaha sen diri, tetapi lahir dari ketaatan kepada Allah. Apapun juga yang di persembahkan seseorang kepada Tu han tanpa kekudusan hidup, itu ti dak akan memuliakan Tuhan. Tuhan akan bertindak terhadap anak-anak yang tidak belajar untuk hidup kudus, karena Tuhan tidak memandang mu ka. Oleh karena itu, orang percaya hendaknya memelihara smartphone-nya da ri kandungan hal-hal yang tidak kudus. Smartphone seringkali dipakai iblis un tuk menyebarkan ketidakkudusan, atau menawarkan perzinahan, peni puan, mengumbar kemarahan dan kekesalan, perselisihan dan lain se bagainya. Orang percaya yang me nyadari jati dirinya sebagai umat te busan Tuhan hendaknya belajar memelihara diri dari hal-hal yang tidak ku dus tersebut. Dalam penyebaran be rita, mewaspadai berita hoax. Ketidakkudusan dan kekudusan hendaknya tidak disandingkan dalam smart phone. Setiap ketidakkudusan hen daknya dapat di-delete. Penggunaan smartphone yang punya batasan waktu Dalam Matius 6:21 dinyatakan, ka rena di mana hartamu berada, di si tu juga hatimu berada. Pernyataan ter sebut menunjukkan bahwa sega la sesuatu yang mengikat hati be gitu rupa menunjukkan indikasi ke berhalaan seseorang. Orang perca ya seyogyanya lebih mengasihi Tuhan daripada smartphone-nya. Tapi smart phone kadang menyebabkan ke tagihan yang membuat orang per caya seperti tidak nyaman jika ti dak memegang smartphone-nya. Ra sa amannya bertambah jika smartphone-nya ada di tangannya. Hal tersebut hendaknya menjadi per hati an orang percaya, sehingga dapat mengevaluasi diri. David Beckam, pemain dan pelatih bo la dari Inggris, telah menjadi ayah yang dikagumi karena pernyataannya da lam salah satu wawancara dengan wartawan tentang rahasia EUANGELION

32 ke harmonisan keluarganya, secara khu sus relasinya dengan anak. David Beckam menyatakan bahwa bila dia berkumpul dengan keluarga, dia tidak menggunakan smartphone-nya. Itu menunjukkan keluarga bernilai ba ginya sehingga dia membebaskan di ri dari smartphone dalam periode ter tentu agar dapat memberi diri pada keluarganya. Orang percaya yang sulit me lepaskan smartphone-nya untuk pe riode tertentu, merupakan kondisi yang ha rus diperhatikan supaya tidak jatuh ke dalam penyembahan berhala. Hal tersebut terasa menjadi godaan yang lazim. Namun memuliakan Tuhan dengan menghentikan sejenak peng gunaan smartphone adalah sa ma dengan melatih diri untuk me naklukkan godaan. Sebagai instru men komunikasi dan instrumen in formasi, smartphone diperlukan, na mun menghentikan sejenak demi Tu han dan keluarga adalah pelatihan di ri untuk tidak ketagihan terhadap smart phone. Simpulan Penggunaan smartphone memiliki tang gung jawab kepada Tuhan dan se sama. Oleh karena itu, dalam meng gunakannya perlu sikap yang je las, yaitu untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Orang percaya merupakan penatalayan Tuhan da ri segala yang di milikinya yang me rupakan ke per ca yaan Tuhan kepadanya, jadi bukan se bagai pemilik. Oleh karena itu, be lajar menggunakan smartphone se cara bertanggung jawab dengan mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan. Juga menyadari akan ada waktu untuk mempertanggungjawabkannya ke pada Tuhan. Kesadaran ini akan mem bawa setiap orang percaya meng gunakan smartphone dengan be nar dan baik sehingga nyata bahwa orang percaya adalah garam dan terang untuk dunia ini. Orang per caya pengguna smartphone ti dak da pat mem bebaskan diri dari tang gung ja wab, karena pada akhirnya pengguna smartphone harus bertanggung ja wab, baik kepada manusia maupun kepada Tuhan. Dalam penggunaan smartphone ju ga disadari adanya godaan dari ib lis. Oleh karena itu orang percaya me nyadari adanya peperangan iman dan etis melalui smartphone. Un tuk itu orang percaya hendaknya te tap memelihara smartphone dari pengaruh dunia dan iblis dengan memelihara relasi dengan Tuhan. Tuhan Ye sus sumber segala berkat akan mem bimbing dan memelihara hati dan pikiran orang percaya berpusat pada-nya. Soli Deo Gloria. Herlise Y. Sagala, D.Th 32 EUANGELION 173

33 Multikultural: Keniscayaan Untuk Bermisi Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa berdiri di hadapan takhta dan dihadapan Anak Domba... Wahyu 7:9 Multikultural adalah gambaran ke beragaman budaya yang di temu kan dalam konteks sosial. Multi kultural juga dikenal dengan sebutan kemajemukan, dimana masyarakat dari berbagai suku bang sa dan dari penganut agama yang berbeda hidup bersama di da lam kehidupan masyarakat. Kata keberagaman terkadang kita sebut ju ga variasi. Dennis E. Johnson dalam bukunya Berita dari Kisah Para Ra sul dalam Sejarah Penebusan mengatakan bahwa variasi adalah bumbu kehidupan. Dalam banyak hal penda pat ini benar, walau pada sisi lain di katakan bahwa perbedaan antar bu daya tidak selalu menghasilkan peng alaman yang menyenangkan. Jika di terjunkan ke dalam suatu budaya dan bahasa yang asing bagi kita, kita mung kin kewalahan oleh guncangan bu daya, dan dalam jangka panjang oleh kelelahan budaya. Keberagaman budaya ditemukan di muka bumi ini sebagai gambaran ke mahakuasaan Tuhan Sang Pencip ta. Multikultural dalam konteks In donesia diikat dalam satu kesatuan de ngan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yakni berbeda-beda namun tetap sa tu. Gambaran ini yang seyogianya ter jadi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dari masyarakat yang multikultural. Namun pada sisi lain, konflik akan ha dir ketika ada yang mengklaim bah wa budayanya yang lebih do minan dan menempatkannya se ba gai yang superior. Konflik ini mun cul karena adanya sikap yang me rasa superior dan mayoritas. Atau dengan perkataan lain, sikap yang me lihat sesama yang berbeda dan men jadikan budayanya sebagai yang lebih dibanding yang lain. Keadaan ini tentunya bukan hal yang harus dilestarikan, tapi disikapi dengan tetap menghargai semua suku bang sa dengan segala kelebihan dan kekurangan budayanya. Hadirnya konflik di tengah multi kultural bukan saja di ranah sosial, te tapi juga di ranah agama. Ini tentu da pat mengakibatkan keadaan yang ti dak kondusif di tengah kehidupan ber bangsa yang multikultural. Kaitan de ngan permasalahan di atas, tentu men jadi urgen untuk memperhatikan le bih jauh hal-hal yang seharusnya di hadirkan sehingga multikultural bu kan hal yang mempersulit di tengah kehidupan berbangsa, tetapi jus tru membawa kesejahteraan. Un tuk inilah pentingnya kita me li- EUANGELION

34 hat gambaran yang indah yang dinyatakan dalam kebenaran firman Tuhan. Alkitab jelas banyak berbicara tentang suku dan bangsa yang semuanya ha rus bertujuan memuliakan Tuhan. De ngan ini menjadi pembelajaran yang baik untuk kembali melihat kebenaran yang akan memampukan se mua warga gereja menjadi berkat di tengah kehidupan bangsa yang mul tikultural. Lebih dari itu, orang per caya dapat melihat bahwa semua yang ada di tengah keperbedaan ada lah keniscayaan untuk melakukan mi si-nya. Panggilan orang percaya di tengah multikulural adalah untuk men jadi berkat supaya terang kasih Tu han nyata di tengah kehidupan semua suku dan bangsa. Untuk inilah ki ta akan melihat bagian firman Tu han yang menjadi fondasi untuk meng hadirkan tujuan Tuhan di dalam ke hidupan semua umat yang dikasihi- Nya. Multikultural: Tinjauan Alkitab dan Fon dasi Alkitab dengan jelas memaparkan ke beradaan yang berbeda dari suku dan bangsa. Setelah peristiwa Menara Ba bel (Kej 11) terjadi keberagaman su ku dan bangsa dan semua orang ter serak ke seluruh bumi. Namun kita ju ga menemukan bahwa di dalam ke beragaman suku dan bangsa, Tuhan menunjukkan kasih-nya ke pada semuanya. Tuhan memilih bang sa Israel untuk menjadi berkat ba gi bangsa-bangsa lain supaya se mua bangsa datang memuji dan memuliakan Tuhan; pemilihan satu bangsa dengan tujuan membawa yang lain datang memuji dan memuliakan Tuhan. Dalam keberagaman budaya, kita me lihat Tuhan ada di atas budaya. Ia punya intervensi yang membawa semua suku dan bangsa yang memiliki ke beragaman itu melihat kepada kedaulatan-nya atas semua yang ada di mu ka bumi ini. Di bawah ini kita dapat me lihat beberapa gambaran yang telah dipaparkan di dalam Alkitab: Yesaya 66:18 - Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan me reka, dan Aku datang untuk me ngumpul kan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-ku. Mazmur 22:19 - Sebab TUHANlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa. Mazmur 46:11 - Diamlah dan ke tahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, di tinggikan di bumi! Maleakhi 1:11 - Sebab dari terbitnya sam pai kepada terbenamnya ma tahari nama-ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat di bakar dan dipersembahkan korban ba gi nama-ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TU HAN semesta alam. Wahyu 7:9, 10 - Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kum pulan besar orang banyak yang ti dak dapat terhitung banyaknya, da ri segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di ha dap an takhta dan di hadapan Anak Dom ba, me makai jubah putih dan memegang 34 EUANGELION 173

35 daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka ber seru: Keselamatan bagi Allah ka mi yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba! Filipi 2:10, 11 - supaya dalam nama Ye sus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bu mi, dan segala lidah mengaku: Ye sus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! Yesaya 49:6 - Terlalu sedikit bagimu ha nya untuk menjadi hamba-ku, un tuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orangorang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau men jadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pa da-ku sampai ke ujung bumi. Mazmur 67 - Kiranya Allah mengasihi kita dan memberkati kita... supa ya jalan-mu dikenal di bumi dan ke selamatan-mu diantara segala bangsa... kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-mu... Kiranya suku-suku bangsa bersukaci ta dan bersorak-sorai... Dari beberapa kebenaran firman Tuhan di atas, dapatlah dimengerti fondasi dalam memahami ke beragaman yang ada, yakni Tuhan ada di atas semua suku dan bangsa, Tu hanlah SUBYEK di tengah suku dan bang sa. Tuhan mengasihi suku dan bang sa. Dan semua pada akhirnya HA RUS meninggikan Tuhan Pencipta. Ti dak ada suku dan bangsa yang tidak bersujud dihadapan-nya. Umat Tuhan di tengah kehidupan yang multikultural menjadi keniscayaan untuk hadirkan terang ka sih Tu han EUANGELION 173 sehingga semua suku dan bangsa dapat mengenal Tuhan dan membawa me reka untuk mengaku bahwa hanya Tu hanlah yang patut ditinggikan, dan Tu han yang dikenal di dalam Yesus Kris tus adalah Juruselamat yang mem berikan keselamatan untuk semua suku dan bangsa. Keniscayaan di dalam hidup orang percaya ini ber kaitan dengan gambaran hidup ba ru yang dimilikinya. D.A. Carson me ngatakan bahwa salah satu dari prin sip yang menjadi dasar hidup baru ia lah Kita hidup untuk mengasihi sesama, dimana kasih kepada sesama itu seperti mengasihi diri sendiri dan mem perlakukan mereka seperti diri sen diri ingin diperlakukan. Keadaan ini se makin mempertegas tindakan yang ha rus dilakukan oleh setiap orang per caya walau berhadapan dengan kon teks sosial yang multikultural. Nyatakan Kasih Tuhan di Konteks Mul tikultural: Aplikatif Berdasarkan paparan terdahulu, kem bali dipertegas bahwa Tuhan Pen cipta mencurahkan kasih-nya ke pada semua orang di muka bumi. Ke tika Ia mencurahkan kasih-nya da lam kehidupan semua suku bangsa, ada yang menerima kasih itu, ada ju ga yang tidak berespon baik atau me nolak. Ini memberi indikasi bahwa ke beragaman bukanlah kondisi yang di hindari, melainkan keniscayaan untuk hadirkan kasih Tuhan. Dalam keberagaman kitapun me nemukan keindahan yang dapat mem perkaya. Dalam skop yang le - bih sempit, misalnya dalam kon teks gereja, dimana terdapat juga ke bera gaman budaya di antara anggota 35

36 je maat, hal ini memberikan kekayaan da lam hidup kegerejaan. Kita dapat ka takan seperti ini karena setiap suku memiliki keindahan di dalamnya dan tentu ini memberi gambaran ke indahan di dalam kehidupan bergereja. Mengaitkan hal ini dengan gambar an warga gereja yang setia, Joel R. Beeke dalam bukunya Keindahan & Ke muliaan Mempelai Wanita Kristus me ngatakan bahwa ada lima tanda ke anggotaan gereja yang setia, yakni: me nerima Firman Kristus, bersatu de ngan pribadi-nya, berelasi dengan umat-nya, melayani tujuan-nya, dan ber tumbuh dalam gambar-nya. Poin ini semakin mempertegas esensi orang percaya di dalam dan di luar gereja. a. Panggilan Umat Tuhan, Hadir di Te ngah Konteks Multikultural Dalam konteks kegerejaan, perka taan umat Tuhan mengarah ke pada kumpulan orang percaya yang telah dipanggil dari kegelapan dan masuk kepada terang. Ini memberi indikasi pada orang-orang yang sudah mengalami Injil (euanggelion) dan mereka adalah orang-orang yang menghadirkan In jil di dalam kehidupannya. Kaitan de ngan ini, D.A. Carson mengatakan: Seorang beriman melaksanakan in jil (euanggelion) pada saat ia memprak tekkannya, menaati Firman yang memimpin pada anugerah dan kemerdekaan Kristus, lalu menunjukkan dan menyaksikan ja lan yang harus diikuti itu kepada orang lain. Dapat dikatakan bahwa ke berada an ini mempertegas panggilan orang percaya untuk hadir dalam kon teks multikultural, bukan hanya da lam satu komunitas tertentu. Fung si gereja yang sentripetal (bergerak menuju pusat/ke dalam) dan sen trifugal (bergerak menjauhi pusat/ke luar) harus seimbang. Ini menegaskan bahwa gereja yang se hat dan dinamis menuju ke arah pertum buhan yang sehat, bukan hanya ber gerak di dalam gereja, tetapi ju ga ke luar dari gereja, masuk ke da lam kehidupan masyarakat yang multikultural. Menjadi jelas bahwa war ga gereja seharusnya melakukan panggil annya untuk menghadirkan kasih Tu han di tengah masyarakat yang multikultural. Keberadaan gereja akan semakin je las ketika hadir dalam konteks masya rakat yang multikultural guna me nyampaikan kasih Tuhan yang Agung yang dibutuhkan oleh semua su ku dan bangsa. Ini juga sebenarnya mem perjelas orang percaya untuk ha dir sebagai garam dan terang. Joel R. Beeke mengatakan: Karena itu pergilah - karena Aku, Tuhan, dan Juruselamatmu -- mempunyai otoritas di surga dan di bumi. Aku bu kan sekedar Raja atas bangsa Ya hudi, tetapi juga Raja atas segala ra ja. Aku mempunyai otoritas global. Ka rena itu pergilah, dan ajarlah semua bangsa (Mat.28:19-20). b. Tujuan Tuhan, Tujuan Umat-Nya Berangkat dari panggilan kepada orang percaya yang nota bene juga ada lah warga gereja yang terdiri da ri keberagaman budaya, menjadi signifikan untuk melihat tujuan Tuhan da lam semua karya Agung-Nya. 36 EUANGELION 173

37 Ber dasarkan rancangan Allah, kita (orang percaya) adalah makhluk yang ber orientasi pada tujuan. Jadi, apapun yang kita perbuat pasti berdasarkan pa da alasan. Hal ini mendorong kita untuk melakukan tujuan Tuhan. Tu han menginginkan semua orang me ngalami keselamatan yang telah di hadirkan-nya. Tujuan ini menjadi tu juan yang harus diwujudnyatakan oleh orang percaya agar semua suku dan bangsa mengalami keselamatan da ri Tuhan. Pada akhirnya, semua su ku dan bangsa akan berdiri di hadapan-nya untuk menyembah dan memuliakan Tuhan. Semua suku dan bangsa yang mul tikultural adalah bagian dari ren cana Agung Tuhan, maka orang per caya secara dinamis seyogianya me ngupayakan dengan masuk dalam kon teks multi dan memproklamirkan ka sih Tuhan yang dibutuhkan oleh semua suku dan bangsa. c. Perspektif Benar, Tindakan Dipertegas Dalam bagian ini kembali diper je las bahwa menjadi orang percaya adalah anugerah dan di da lam anugerah seyogianya ada res ponsibilitas guna menghadirkan Tu han yang hidup di semua konteks kehidupan. Untuk itu orang percaya harus hadir dalam skopus yang luas dimana terdapat keberagaman budaya. Si kap dan tindakan haruslah searah de ngan panggilan sebagai orang per caya. Ini adalah bagian yang seha rusnya ada dalam hidup orang per caya, mengingat Tuhan hadirkan ki ta di tengah dunia dengan tujuan su paya orang percaya menjadi terang ba gi suku dan bangsa. Kaki dian bukan ditaruh di bawah gantang, tetapi ha rus menerangi skopus yang lebih luas, seperti dikatakan di dalam Matius 5:16, Demikianlah hendaknya te rangmu bercahaya di depan orang, su paya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Berdasarkan perspektif yang benar, maka seyogianya dalam hidup orang percaya muncul tindakan nyata da lam konteks multikultural guna mem bawa kasih dan terang sejati Tuhan. Panggilan ini sebenarnya ba gian yang natural dalam hidup orang percaya. Hidup orang percaya yang benar ada lah melakukan misi Tuhan supaya se mua suku dan bangsa mengalami ke selamatan yang dari Tuhan. Berbaur Tapi Tidak Kabur Orang percaya di konteks multi kultural menunjukkan gambaran pem bauran tapi tidak menjadi kabur ja ti dirinya. Dunia tidak mewarnai hi dup orang percaya, tetapi orang per caya yang mewarnai dunia. Ini harus menjadi tegas dan jelas. Hal ini tentu tidak memberi ruang un tuk hadir di tengah dunia dengan war na abu-abu yang pada akhirnya ti dak dapat dibaca dengan jelas jati dirinya sebagai orang percaya. Walau ten densi ini mungkin terjadi oleh ka rena pengaruh dunia yang cukup kuat dengan segala isme yang ada, si kap tegas haruslah nyata. Demikian ju ga, guna mencapai skopus yang lebih luas, sikap akomodatif haruslah dilakukan. EUANGELION

38 Kehadiran orang percaya di tengah kon teks multikultural merupakan kai ros untuk hadirkan misi yang ber sahabat di tengah keadaan yang be ragam. Ini mempertegas bahwa hi dup orang percaya bukan eksklusif di tempat tertentu, tetapi di semua tem pat dan di semua keadaan. Langkah Riil Hadir di Konteks Multi kultural Pada bagian ini dipertegas langkah-langkah praktis yang membawa orang percaya melakukan tanpa merasa takut, yakni: Hadir di tengah lingkungan tempat tinggal dengan melibatkan diri da lam kegiatan kemasyarakatan. Ini ke sempatan untuk dapat berinteraksi de ngan baik, membangun relasi dengan baik, dan pada akhirnya dapat menghadirkan kasih Tuhan. Di tempat pekerjaan, sebagai pim pinan atau karyawan, hadir sebagai pribadi yang berbaur de ngan sikap menghargai semua per bedaan yang ada, termasuk per bedaan budaya. Tempat dimana Tu han mengutus kita bekerja, di si tulah ladang yang harus digarap. Pro fesi kita adalah panggilan untuk mengha dirkan kasih Tuhan. Panggilan orang percaya dengan segala hal yang dipercayakan kepadanya adalah mem bawa semua yang ada padanya untuk memuliakan Tuhan. Dalam konteks berbangsa, ke beragaman budaya dilihat sebagai kesempatan untuk menikmati kekayaan da ri pekerjaan Tuhan dan membangun jem batan untuk menjangkau orang guna membawanya kepada ke se lamat an. Atau dengan perkataan lain, da lam hidup kemasyarakatan yang mul tikultural, kita hadir sebagai warga ma syarakat yang dalam kebersamaan ha dirkan peran untuk kemajuan bangsa. Warga gereja tidak boleh terpisah da ri hidup kemasyarakatan di tengah ke hidupan bangsa yang multikultural ka rena warga gereja adalah juga warga masyarakat. Dalam lingkungan gereja yang ju ga multikultural, hadirkan sikap pe nerimaan tanpa memperuncing per bedaan budaya yang ada. Sebagai pe nerima kasih karunia Tuhan, bersama menghadirkan shalom kepada sia papun dan dimanapun. PENUTUP Multikultural adalah keadaan dima na kita semakin melihat kekayaan pe kerjaan Tuhan dan keniscayaan untuk orang percaya bermisi. Dalam keberagaman kita semakin menikmati re lasi yang indah dengan sesama dan pada akhirnya dapat membawa me reka mengerti keselamatan yang dibutuhkan. Keberagaman bukan hal yang harus dihindari, melainkan ke nis cayaan bagi orang percaya untuk berbaur dan menghadirkan kasih Tuhan yang dibutuhkan oleh semua suku dan bangsa. Ini mempertegas tujuan ki ta di tengah konteks multikultural. Dalam keberagaman, dengan meli hat kasih Tuhan kita melihat bahwa: Se gala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di ha dapanmu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-mu (Mzm 86:9). Desiana M. Nainggolan 38 EUANGELION 173

39 KRISTUS DAN BUDAYA: TRANSFORMASI MELALUI SIKAP AKOMODASI Prawacana Biasanya kita menerima pan dangan Christ transform Culture sebagai pendekatan injili. Kali ini saya menyoroti pola itu dengan sikap ako modasi teologis agar gereja-gereja era ini ti dak hanya memandang satu arah da ri sikap konfrontasi dan paralelisasi dualisme. Kaum injili hanya menerima Kristo logi dari atas, yaitu posisi teologis yang menekankan keilahian Yesus dan secara sengit menolak kristologi da ri bawah yang dianggap terlalu me nekankan kemanusiaan-nya. Bah kan sering melupakan kristologi da ri depan yang menekankan akibat Yesus imani. Kali ini kedua topik itu -transfor masi dan akomodasi- akan dikom prehensikan dalam pemikiran in tegratif berdasarkan pola inkarnasi Kris tus (Yoh 1:14) dan sikap Kenosis (Flp 2:6) di dalam status Kristen seba gai garam dan terang dunia (Mat 13:33-36) dan ragi ilahi dalam masya rakat (Mat 6:13). Budaya sebagai Mandat Kristiani: Re fleksi Lanjutan Kebudayaan adalah hasil budi dan daya manusia sebagai cipta an khusus Allah (Kej 1:26-27). Kekhususan ilahi dalam mandat buda ya didasarkan pada Kejadian 2: 15, ketika Tuhan menempatkan [manusia] dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara tanah itu. Kedua kata kerja itu identik dengan berbudaya yang akhirnya me munculkan mandat budaya injili. Ke jatuhan manusia membuat budayabu daya manusia mengandung segise gi durjana dalam rasisme suku, chau vinisme bangsa, termasuk ju ga sekularisme gereja kekinian, se perti gereja ala kafé, persekutuan ala gamers, kebaktian ala bioskop dan entertainmen, pemuridan ala mo tivasi bisnis, Kristen ala dunia ko mersial. Kebudayaan di sini bukanlah se ke dar lapangan adat istiadat dan se ni etnis saja, tetapi semua lapisan hi dup manusia, termasuk lapanganla pangan keagamaan, bahasa, pendi dikan, teknologi, ideologi, ma syara kat, ekonomi, politik, ling ku ngan, per tahanan, hukum, dan lain-lain. Injili harus mengatasi ke sa lahpahaman mengenai budaya yang hanya sebatas hal-hal etnik dengan daya tarik primitivitasnya. Kebanyakan kita memahami budaya seca ra umum yang menyangkut pernakper nik kategori budaya tradisional dan diperhadapkan dengan budaya kon temporer yang menekankan kebia saan pop sekarang. Dalam kajian Etnografi kita melihat apa yang disebut budaya di da lam lingkungan sosial yang mengan dung suatu rutinitas kebiasaan yang terpola dan berulang, misalnya: bu daya gereja atau budaya tukang bak so atau budaya milenial, bahkan bu daya injili dan lain-lain. EUANGELION

40 Kebudayaan adalah suatu sistem ke hidupan manusia dan kelompoknya yang dipengaruhi oleh wawasan du nia, yaitu mental ideologis yang me ngarahkan dan mengontrol keseluruhan pemikiran dan kegiatan. Ja di, kebudayaan tidak netral karena ada isme-isme tertentu di balik hasilhasil budaya. Ada kesalahan generalisasi sepin tas dalam frasa budaya Kristen se cara keagamaan. Sebenarnya kita ha rus menempatkan kekristenan pa da pelaku personal, bukan pada ha sil pembudidayaan tersebut. La bel Kristen pada budaya akan membatasi cakupan esensialnya dalam universalitas Kristus. Khusus terhadap pola transformasi ekstrim yang berekses negatif pada usaha kris tenisasi dimensi-dimensi budaya umum seperti: Negara Kristen, bank Kris ten, partai Kristen, matematika Kris ten. Artinya, ruang publik dibaptis secara formalitas ekslusif agama. Relasi Kristus-Budaya dan Sikap Orang Kristen Richard Niegbuhr, seorang teolog non Injili, dalam buku klasik Kristus dan Budaya (Gunung Mulia, 1986?) ma sih merupakan referensi favorit pa da isu relasi kekeristenan dan kebu dayaan. Ia membandingkan lima po la relasi di bawah ini: 1. Kristus melawan kebudayaan. Po sisi yang menolak dunia sebagai hal jahat dan mengibaratkan orang Kristen sebagai musafir de ngan banyak godaannya, serta ha rus menarik diri dari urusan dunia seperti: militer, seni, politik, so sial, hiburan, dan lain-lain. 2. Kristus dari kebudayaan. Posisi ini meng gambarkan Kristus sebagai Ke pala dari budaya seseorang yang terbungkus nilai-nilai budaya ter sebut sekaligus dipakai sebagai da sar kritik. Keselamatan Kristus ha nya dalam pengaruh moral. 3. Kristus sejajar Kebudayaan. Prinsip dualisme dan polarisasi Kristus dan dunia yang telah terjatuh na mun tidak terlepas dari Kristus yang mengatur struktur sosial dan m emulihkan kembali. Manusia se bagai pendosa di dunia, yang di benarkan oleh anugerah dan meng hasilkan suatu pribadi berkua sa. 4. Kristus di atas Kebudayaan. Kris tus adalah sumber anugerah se kaligus budaya. Budaya-budaya di dasarkan hukum alamiah yang ter batas cakupannya, sedangkan anu gerah berdasarkan hukum su pra natural mencakup kese lamat an. Secara sintesis, di mana alam digenapi oleh anugerah. 5. Kristus memperbaharui Kebudaya an. Dunia telah jatuh dalam do sa dan rusak total, namun Kris tus dapat menyucikannya se cara pribadi dan sosial dan mem baharuinya dengan nilai-nilai rohani kerajaan Allah. Sejalan dengan pola di atas, muncul isu yang setara dalam tema-tema in jil dan adat istiadat atau gereja dan po litik, kekristenan dan dunia, iman dan ilmu pengetahuan, dan lain-lain. 40 EUANGELION 173

41 Selanjutnya ada kajian lanjut Mal colm Brownlee dalam Tugas Ma nusia Dalam Dunia Milik Tuhan (Gunung Mulia, 1993), yang secara so sio-teologis menurunkan pola- pola ter sebut dalam sikap per sikap orang Kris ten sebagai anggota masyarakat plural sekarang: Sikap kontroversi dalam eks trimis me ekslusif karena tidak ada sedikitpun kesesuaian. Sikap isolasi dalam dualisme hidup dan berjalan sendiri-sendiri secara paralel. Sikap akomodasi dalam relasi to leran si dan menyesuaikan diri da lam masyarakat. Sikap asimilasi cara sinkritisme dalam pencampuran kompromis. Sikap transformasi dalam pem baha ruan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Kristen. Dalam krisis kemanusian global ini kita harus melampaui mandat bu daya selama ini mencakup mandat peradaban yang lebih luas. Pen ting adanya prinsip relasi inklusif ber dasarkan motif inkarnasi Kristus di dunia yang menggunakan kelima po la [pendekatan-sikap] sekaligus. Keunikan Akomodasi Teologis bagi Injili Secara teoritis, akomodasi adalah term sosiologis, khusus dalam meng hadapi suatu kontroversi bahkan di sintegrasi dalam masyarakat plural dan majemuk (S Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, Grafindo, 2003). Ku rangnya pengertian akomodasi mem buat kalangan injili menolaknya dan menganggapnya kompromi. Dalam konteks pluralitas agama, Donald Kauffman menjelaskan bahwa accomodation dapat berbentuk dua hal [praktis]: mengadaptasi dan mengaplikasi (Baker s Concise Dictionary of Religion [Baker, 1985]). Kita dapat menghubungkan pendekatan misiologis possessio Herman Bavinck pada perspektif misi mo dern dimengerti dalam memiliki ke budayaan bagi Kristus, sekaligus men transformasi di dalam Kristus (In troduction to the Science of Missions trans. Presbyterian & Reformed Pub., 1969). Secara filosofis, pendekatan akomo dasi teologis dimulai dengan ti ga batasan makna semantik: (1) yang kuat/benar kepada yang (diang gap) lemah/salah, dan (2) dapat ber ubah dalam hal-hal sekunder (fe nomenal), tetapi tetap (mutlak) da lam hal-hal primer (esensial), atau (3) prinsip keras di dalam (internal) dan lunak di luarnya (eksternal). Arti nya, akomodasi sejalan dengan ko operasi (aplikasi) kekristenan dan ko ordinasi dalam adaptasi, bukan ja lan Korelasi yang berbentuk adopsi da lam sinkretisme. Sekaligus meno lak jalan Asimilasi sebagai jalan percampuran (fusi) yang tidak per lu ketika menghadapi realitas kon troversi yang berkonflik dalam ma syarakat budaya majemuk. Saya sen diri menambahkan satu term lagi yang luas dan umum pemakaiannya, ya itu toleransi sebagai pengikat ketiga makna di atas, yang tidak harus di salahpahami sebagai relativisme iman dan kompromi. EUANGELION

42 Prinsip keseimbangan injili dalam ako modasi jelas dalam posisi antar aga ma eksklusif-inklusif atau eksklusif yang selektif atau inklusif yang terbatas. Jadi, prinsip Kristen yang proprosional adalah unik tanpa ha rus menjadi eksklusif(isme). Implikasi, Allah sendiri memakai prin sip ini dalam doktrin inspirasi Alki tab, inkarnasi Kristus, dan lain-lain (lih. Roger McKim, Encyclopaedia of Reformed Faith [John Knox, 1999]). Prinsipnya, natur sorgawi da pat mengambil bentuk-bentuk ma nusiawi yang dapat dimengerti umat-nya, namun kemutlakan tidak bo leh diikat (terikat) di dalam bentukben tuk itu sendiri. Hal Fenomena bo leh berubah tetapi esensial tidak da pat berubah (kekal). Jadi, dalam hal ini akomodasi teo logis yang injili keunikan Kristen te tap dipertahankan, namun dapat to leransi kepada budaya-budaya non Kristen yang kita anggap lemah dan kurang genap. Kristus bukan dari dunia tetapi datang ke dunia menjadi ma nusia yang terbatas. Ia berbudaya Ya hudi, namun bukan anak Yahudi, te tapi Anak Allah. Kristus bangkit dan naik ke sorga. Dasar Alkitabiah untuk sikap akomodasi 1. Matitus 5:13-14, Kamu adalah garam dan terang dunia. - mempengaruhi - meyembuhkan - memelihara - memperbaiki 2. Matius 5:15-16, Kamu adalah terang dunia... demikianlah ki ranya terangmu bercahaya di de pan orang, supaya mereka me li hat per buatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu. - menerangi (mengusir kejahatan) - memberi arah (menuntun teladan) 3. Yohanes 1:1 dan 14, Pada mulanya adalah firman... Firman itu te lah menjadi manusia dan diam di an tara kita... - menyesuaikan diri - mentoleransi - menempati 4. Filipi 2:6-7, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap se bagai milik yang harus diper tahankan, melainkan telah mengosong kan dirinya sendiri - merendahkan diri - menyangkal diri 5. Matius 13:33,... hal Kerajaan sorga itu seumpama ragi diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sam pai khamir seluruhnya. - mempengaruhi - memperbaharui 6. Matius 2:15 dari Hosea 11:1, Hal itu terjadi supaya genaplah apa yang difirmankan oleh Nabi: dari Me sir Kupanggil anakku. - penggenapan - pengaplikasian Kristus Mentransform Budaya Melalui Sikap Akomodasi Gereja Secara keseluruhan, kajian kristo logi dapat dilihat dari 4 arah, yaitu dari: 1) belakang, fokus janji nubuatan PL akan Mesias; 2) atas, perspektif keila hian pra inkarnasi Kristus; 3) bawah, fo kus kehidupan dan karya Kris tus; 4) depan, pada akibat-akibat kar ya ke selamatan Kristus dalam hati orang 42 EUANGELION 173

43 per caya (Lih dan bdk, Henricus Berkhof, Christian Theology, trans, Wm. Erd manns 1976). Keempat pers pektif ini dapat ditunjau sekaligus se cara wa jar dan proporsional sambil meng ingat bahayanya relativisasi iman dan sekularisasi Kristen sebagai usul an orang barat modern. Biasanya kaum injili sangat sensitif pa da segi kristologi from below dan di kontraversialkan dengan segi kristo logi from above yang dianutnya. Ini mengakibatkan juga melupakan se gi from affore, sebagai sesuatu yang penting, dimana konsekuensi si teriologis praktis kekinian setelah menerima Kristus Ada 5 prinsip transformasi ako moda tif: 1) Keselarasan antara Kristus dan budaya, di mana hidup dan ajaran-ajaran Yesus untuk dunia dalam pro ses perwujudan kedamaian dunia; 2) Tidak ada ketegangan [signifikan] an tara Kristus dan kebudayaan; 3) Dengan cara penyesuaian diri secara eksternal, tanpa kompromi internal; 4) Akomodasi kristologis adalah mempertahankan keunikan Kristus sambil mencari relevansi peris tiwa Kristus pada manusia; 5) Me nuju transformasi budaya dalam pro ses peradaban tanpa memaksakan pendirian kita. Dari prinsip akomodasi sebagai da sar teologi kontekstual untuk men jembatani mode berteologi from above dan from below secara se imbang. Jadi, bukan hanya sematama ta studi sosiologi belaka, tetapi me nuju transformasi unsur-unsur jahat atau jelek budaya manusia. Kristus ti dak memusuhi orang berbudaya apa pun, meskipun bidang-bidang bu daya itu berlawanan dengan prinsip dan konsep Kerajaan Allah. Meskipun ba nyak dari orang budaya bahkan ideo logi budayanya memusuhi kekristenan, misalnya sekularisme, ateis me dan lain-lain. Relasi pembaharuan budaya ju ga bisa berjalan berdampingan dan berhubungan baik dalam kemanusiaan dengan yang berbeda, bah kan mengakomodasi sejauh tidak berkompromi. Prinsip Kris to logi misional pada gereja lokal men jadi sangat penting bagi tugas transformasi berkeadaban di tengah masyarakat. Gereja sebagai pengikut Kristus le b ih berkeadaban dalam memelihara ke unikan iman tanpa menjadi eks klusivisme agama. Sikap Kristen adalah akomodasi pada yang berbeda bah kan berlawanan dengan prinsip ideo logis, namun bukan berarti gereja ber musuhan lalu memeranginya. Ka lau dimusuhi mereka, itu bukan sa lah gereja tetapi kondisi mengikut Kristus. Fondasi Doktrinal untuk Akomodasi Fondasi doktrinal yang me legitimasi sikap akomodasi kita adalah: 1) wahyu umum, bahwa seca ra alamiah dan universal Allah me nyatakan diri-nya juga melalui bu daya-budaya manusia: agama, moral, iptek, dan lain-lain; 2) anu ge rah umum, dimana Allah telah mem beri kan anugerah-nya kepada semua orang termasuk orang non Kristen di te ngah budaya-budaya dunia. EUANGELION

44 Menuju kontekstualisasi teologis yang injili dalam theologizing in loco harus didasarkan ajaran Alkitab pada unsur-unsur yang berlainan dari budaya kemudian harus diisi penuh dengan prinsip-prinsip kekristenan sampai akhirnya dikenal sebagai Kristen saja, misalnya: Gereja, Injil, penebusan, pembenaran, dan lainlain. Tugas Injili untuk Mandat Budaya yang berkeadaban Kaum injili masa kini harus me lampaui tugas mandat budayanya sam pai man dat peradaban. Kondisi kri sis multi-dimensional global mem buat kehidupan bumi ini semakin hancur karena clash of cultures bangsa-bangsa, yang oleh Huntington dipandang sebagai clash of civilization. Kristen dari budaya memakai pen dekatan akomodasi pada budaya. Da lam relasi agama-agama disebut pen dekatan toleransi, sebagai suatu bentuk menahan kekuatan di ri untuk menyesuaikan hal-hal terluar demi hidup bersama tanpa ber kompromi dalam asimilasi dan korelasi. Akomodasi yang be nar adalah berkoordinasi tanpa mengadopsi ajaran lain tetapi menghargai dan kelak membaharui secara ber keadaban. Konsekuensi pada mandat buda ya yang berkeadaban penting diutarakan juga sebagai pemikiran nisca ya sekarang. Gereja Kristus di dunia se harusnya relatif dapat hidup lebih bi jaksana di bumi yang telah jatuh ini, ka rena Kristus sendiri meletakkan kita men jadi pendamai kebudayaan. Orang-orang yang mencintai Kris tus, menghargai kebudayaan pa da saat yang sama. Artinya, orang Kristen dari budaya melihat re le vansi Kristus dalam keluarga, sosial, pendi dikan, adat, tradisi bahkan agama di masyarakat. Ini yang dikatakan akomodasi transformatif. Kebudayaan dilihat dalam terang Kris tus, di mana ajaran dan perbuatan Kris tus direlevansikan sesuai unsurun sur kebudayaan manusia yang lemah, tanpa mengabaikan unsur-unsur [esen sial] dari kehidupan Kristus. Trans formasi religius Kristen dalam kon frontasi budaya secara ekstrim. Di Asia, orientasi misioner buda ya barat harus ditinjau ulang. Ka lau Kristus, Anak Allah saja meno leransikan diri-nya bagi dunia ber dosa ini, mengapa kita ragu un tuk menirunya? Target populasi mi sioner selama ini harus dilampaui sam pai tugas misional gerejawi yang le bih berkeadaban dalam nilai-nilai Ke raja an Allah yang rohani. Penutup Mandat budaya yang berkeadaban ada lah sesuatu yang urgen bagi kekristenan injili di dalam krisis mul ti dimensi global sekarang ini. Prinsip transformasi Kristus yang proposional menjadi fondasi sikap Kristen dalam relasi sosio kultural da lam masyarakat. Ini jalan menuju mul tikulturalisme Injili. Sikap akomodatif pada budaya ber prinsip dasar keselarasan dengan me milih hal-hal yang berguna dari bu daya yang tidak bertentangan dengan moral Kristen. Ide toleransi 44 EUANGELION 173

45 yang tidak berkompromi pendirian ajar annya, tetapi akhirnya untuk kemuliaan Allah sehingga studi teologi ki ta tetap teosentris. Dapat dikatakan pendekatan ra dikal juga dalam balancing Christianity se cara positif dan konstruktif dalam bu daya-budaya berkeadaban. Ja di, akomodasi teologis bukan se mata-mata untuk menghormati atau bersikap simpatik kepada kelemahan budaya-budaya non Kristen (antroposentris). Dr. Togardo Siburian STT Bandung Ucapan Terima Kasih Untuk edisi 172, Juni-Juli 2019, redaksi EUANGELION telah me ne ri ma per sembah an dari saudara-saudari seiman sebagai berikut: 01. GII Gardujati Rp ,- 02. GII Dago Rp ,- 03. Jemaat Gatot Subroto Rp ,- 04. Jemaat Mekarwangi Rp ,- 05. Jemaat Rahayu Rp ,- 06. Jemaat Kebonjati Rp ,- 07. Jemaat Setrasari Rp ,- 08. Jemaat Rajawali Rp ,- 09. Jemaat Cicadas Rp ,- 10. Jemaat Batununggal Rp ,- 11. Jemaat Kota Baru Parahyangan Rp ,- 12. Jemaat Puri Rp ,- 13. Jemaat BSD Rp ,- 14. Jemmat Semanggi Rp ,- 15. Jemaat Bali Rp ,- 16. Jemaat Surabaya Tengah Rp ,- Total: Rp ,- Pengeluaran untuk penerbitan edisi 174 adalah sebagai berikut: 01. Biaya cetak 900 eksamplar Rp ,- 02. Setting, pengadaan bahan, dll. Rp ,- 03. Perangko DN/LN Rp ,- Total: Rp ,- TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN SERTA PARTISIPASI ANDA TUHAN MEMBERKATI EUANGELION

46 Kebiasaan Solitude & Silence: Menolong Mengatasi Keberhargaan Diri Palsu Di akhir April 2019 lalu, ma syara kat India terperangah ketika 19 sis wa SMU tingkat akhir di negara ba gian Telangana bunuh diri setelah me nerima informasi bahwa mereka ga gal diterima di universitas. Hal ini se sungguhnya bukan hal baru di India ka rena menurut National Crime Re cord Bureau, ribuan anak muda In dia bunuh diri setiap tahunnya. Di 2015 saja, jumlahnya mencapai kematian. Namun yang menge naskan dari kasus ini adalah ka rena menurut pemeriksaan oleh ko mite independen, telah terjadi kerusakan di software komputer yang melakukan penilaian hasil ujian pa ra siswa sehingga tidak memberi pe nilai an dengan benar. Menurut Henri Nouwen dalam bukunya Out of Solitude: Three Me dita tions of the Christian Life, di dunia ini kita semua memiliki keinginan kuat untuk mencapai sesuatu. Se bagai seorang Kristen pun, kita me rasa terpanggil untuk melakukan se suatu yang baik bagi seseorang: mem beri nasehat, memberi rasa nya man, mengusir setan, atau meng khotbahkan kabar baik dari satu tempat ke tempat lainnya. Meskipun ke inginan untuk menjadi berguna da pat merupakan tanda kesehatan men tal dan rohani, di sisi lain hal itupun dapat menjadi sumber yang meng hancurkan keberhargaan diri ki ta, sebab seringkali kita tidak hanya rindu melakukan hal-hal yang ber makna, tapi juga membuat hasil da ri pekerjaan kita sebagai kriteria da ri keberhargaan diri kita. Nouwen menjelaskan lebih lanjut: Kita menjadi pandai karena seseorang memberikan kita nilai yang ting gi. Kita menjadi penolong karena se seorang mengatakan terima kasih. Kita menjadi orang yang di sukai karena seseorang menyukai ki ta. Dan kita menjadi penting karena seseorang berpikir ia tidak dapat hidup tan pa kita. Pendek kata, kita berharga ka rena berbagai kesuksesan kita. Pa dahal, semakin kita membiarkan ber bagai percapaian kita - yang me ru pakan dampak dari berbagai tin dakan kita menjadi tolak ukur keber hargaan diri kita, maka semakin ki ta akan hidup di ujung tanduk. Kita ti dak pernah yakin apakah kita dapat hi dup sesuai ekspektasi yang kita cip takan sendiri dari kesuksesan kita yang sebelumnya. Dalam kehidupan ba nyak orang, ada rantai iblis yang me ngikat sehingga kekhawatiran me ningkat sesuai dengan level ke sukses an sebelumnya. Kuasa gelap dari hal ini telah mendorong banyak artis be sar mengalami kehancuran diri. Nou wen menjelaskan lebih lanjut, Ke tika kita berpegang pada hasil 46 EUANGELION 173

47 da ri berbagai tindakan kita sebagai sa tu-satunya identifikasi diri kita, ki ta menjadi posesif dan defensif ser ta cenderung melihat orang lain se bagai musuh dengan siapa kita ha rus menjaga jarak, dan bukannya men jadi para sahabat dengan siapa ki ta berbagi karunia kehidupan. Pemahaman akan keberhargaan di ri yang tidak tepat semacam ini menyebabkan banyak orang menderita depresi karena hidup di penuhi oleh kegelisahan dan ke takutan bahwa orang lain akan me ngetahui kelemahan dirinya lalu meng hancur kannya. Apalagi jika ia berada di situasi yang sangat kompetitif. Per sahabatan dan cinta pun menjadi se suatu yang tidak mungkin karena ada nya ketakutan yang kuat akan ke terbukaan dan kerapuhan diri. Tak he ran banyak orang yang tidak tahan se hingga kemudian bunuh diri. *** Berdasarkan pemahaman di atas, teo log Dallas Willard menyatakan bah wa disiplin menyendiri (solitude) dan berada dalam keheningan (silence) merupakan disiplin rohani yang paling radikal karena secara lang sung menyerang sumber-sumber da ri perilaku manusia yang salah dan yang paling menyebabkan terjadinya ber bagai penderitaan. Ruth Haley Bar ton dalam bukunya Invitation to Solitude and Silence juga mengakui bah wa disiplin solitude & silence meru pakan disiplin rohani yang paling me nantang, paling dibutuhkan, tapi pa ling jarang dilakukan oleh kalangan Kris ten Injili masa kini. Lebih mudah ba gi kita untuk membicarakan dan mem baca tentang hal ini daripada men jadi sangat tenang, ujar Barton. Padahal, Nouwen mengatakan, Da lam solitude kita dapat secara per lahan-lahan membuka topeng ilu si dari sikap posesif yang telah men cengkeram hidup kita dan mene mukan bahwa kita bukanlah apa yang dapat kita taklukkan, tapi apa yang telah diberikan kepada kita. Di dalam solitude kita dapat mendengar sua ra dari Dia yang telah berbicara ke pada kita sebelum kita dapat mengucapkan sepatah kata pun, dan yang telah mengasihi kita jauh sebelum kita dapat mengasihi siapa pun. Di dalam solitude inilah kita mene mukan bahwa menjadi (being) le bih penting dari memiliki (having) dan bahwa kita lebih berharga dari ber bagai hasil usaha kita. Semasa Yesus Kristus hidup di bu mi sebagai manusia, Ia pun selalu menerapkan solitude & silence dalam keseharian-nya, seperti yang tercatat di Markus 1:35, Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan per gi ke luar. Ia pergi ke tempat yang su nyi dan berdoa di sana. Karena itu lah di dalam Kekristenan, ketika kita memasuki solitude & silence, kita bu kan mengosongkan diri tapi justru ma suk ke dalam persekutuan yang da lam dengan Allah yang menanti di ba lik keributan dan kesibukan hidup kita. Barton menjelaskan bahwa keti ka melakukan solitude, berbagai pi kiran, kehendak dan kerinduan kita di orientasikan ulang kepada Allah EUANGELION

48 Pagi-pagi benar, wak tu hari masih gelap, Ia bangun dan per gi ke luar. Ia pergi ke tempat yang su nyi dan berdoa di sana. Markus 1:35 novizivot.net se hingga kita menjadi tidak terlalu ter tarik lagi pada berbagai tekanan eks ternal dan dapat secara lebih men dalam meresponi kerinduan dan doa Allah di dalam diri kita. Semen tara itu, keheningan (silence) mem perdalam pengalaman solitude kita. Dalam silence kita tidak hanya me narik diri dari berbagai tuntutan ke tika bersama orang lain, tapi juga da ri berbagai suara pikiran dan dorongan diri kita, sehingga kita dapat men dengar suara-nya dengan lebih jelas. Kebergantungan pada pikiran dan kata-kata kita, bahkan ketika ki ta berdoa, dapat merupakan salah sa tu pertanda dari keinginan untuk me ngendalikan segala sesuatu, terma suk mengendalikan hubungan ki ta dengan Tuhan. Di dalam silence-lah kita belajar membiasakan diri untuk melepaskan agenda kita ser ta dorongan diri untuk selalu me ngendalikan, dan menjadi lebih ter buka untuk memberikan diri kita pa da berbagai inisiatif Allah. Dalam keheningan ini kita juga belajar mencip takan ruang bagi Allah, bukannya me menuhi setiap menit yang ada de ngan diri kita sendiri, ujar Barton lebih lanjut. Jika kita melakukan solitude & silence untuk berfokus kepada Al lah sebagai sebuah kebiasaan, ma ka perlahan-lahan, kadang tanpa ki ta sadari, Allah mengerjakan trans formasi di dalam diri sehingga hati kita ti dak lagi menjadi sombong dan kita akan semakin tidak bergantung pada ke mampuan dan sumber-sumber diri ki ta, tetapi hanya kepada Allah saja. Ki tapun menjadi semakin menghidupi iden titas dan keberhargaan kita sebagai seorang yang dikasihi secara men dalam oleh-nya. Kita berharga bu kan karena apa kata orang atau apa yang kita lakukan dan miliki, tapi ka rena Tuhan mengasihi kita sebagai biji mata-nya. Grace Emilia 48 EUANGELION 173

49 BUDAYA MENANG KALAH DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI Kemenangan dan Kekalahan Dalam setiap pertandingan, per lombaan, peperangan atau pemilihan seorang pemimpin di mana pun bahkan dalam permainan, pen capaian untuk dapat menjadi se orang pemenang menjadi hal yang sangat penting. Banyak wak tu yang dikorbankan, beragam la tihan dijalankan, tidak sedikit harta yang dihabiskan, juga energi yang di curahkan demi mencapai yang nama nya kemenangan. Setiap peserta yang terlibat di dalamnya, akan meng hadapi dua keadaan yang men jadi resikonya, yaitu mencapai ke menangan sesuai dengan harap annya atau mendapatkan kekalahan yang menjadi mimpi buruknya, bahkan kekalahan yang diterima akan dapat mempengaruhi ke hidupannya. Banyak peserta yang merasa lebih mudah bekerja keras, giat berlatih, berjuang habisha bisan, dibandingkan menerima sua tu kekalahan. dengan kata lain, ke kalahan menghabiskan energi dan emo si yang sangat besar. Kemenangan dan kekalahan ada lah dua hal yang bisa terjadi ka pan saja. Ada kalanya dapat dipre diksi, tetapi juga tidak tertutup be ragamnya variasi kemungkinan yang lain. Baik anak-anak maupun orang dewasa, saat mendapatkan ke kalahan dapat terpukul. Untuk itu per lu memiliki perspektif yang tepat da lam memaknai suatu kemenangan dan kekalahan. EUANGELION

50 Peran Orangtua Dalam Memaknai Kemenangan dan Kekalahan Sebuah kemenangan layak disyu kuri dan dirayakan, tetapi suatu ke kalahan juga perlu disikapi secara be nar dan tidak berlebihan. Dengan de mikian perlu bagi orangtua un tuk memberikan kesempatan ke pada anak agar dapat merasakan keme nangan dan kekalahan, karena hal itu akan sangat bermanfaat ba gi kehidupannya kelak. Anak dapat berkompetisi di bidang yang dipilihnya atau bidang yang merupakan potensinya, baik bidang aka demik, kesenian, olah raga, bahasa dan sebagainya. Orang tua me rupakan figur penting dalam pem bentukan karakter dan peletakan ni lai-nilai dalam diri anak, begitu juga da lam perannya mendampingi anak da lam memaknai kemenangan atau ke kalahan secara benar. Kenneth Barish, seorang profesor Psi kologi Klinis di Weill Cornell Medical College mengungkapkan pen tingnya peran orangtua dalam pembentukan tatanan emosional anak saat menghadapi kegagalan. Ba rish mencontohkannya dengan pe rilaku anak yang sangat menikmati ke menangan mereka dalam sebuah per mainan. Sebagian orang dewasa me nanamkan pikiran harus menang ke pada anak. Alasan inilah yang membang kitkan perasaan malu dan gagal sa at anak mengalami kekalahan. Dan tragisnya, ada orangtua yang te tap membanggakan kemenangan anak nya, meskipun kemenangan itu di peroleh dengan cara yang salah. De ngan pembiasaan harus menang, anak akan memanipulasi atau menipu, misalnya dengan membuat atur an sendiri atau mengubah aturan de mi keuntungan mereka. Lebih jauh, kemenangan yang didapatkan ti dak cukup lagi untuk anak. Ia dapat me nyombongkan diri dan mengejek la wannya ketika mencapai puncak kemenangan. Barish menjelaskan, sebuah kemenangan akan mampu meng ha dirkan rasa dominasi bagi seseorang, baik secara fisik maupun intelektual. Ke menangan yang didapatkan anak dapat dimaknai sebagai cara un tuk menunjukkan kekuatannya, atau dianggap cara yang dapat me ningkat kan harga dirnya. Kemenangan dan kekalahan ada lah bagian proses menjalani kehi dupan, sangat baik jika sejak kecil anak-anak pernah mengalaminya. Jus tru hal itu tidak perlu dikaburkan, se perti penghapusan sistem peringkat di sekolah, karena dengan adanya peringkat, anak menjadi paham saat ini dia berada di posisi mana dalam ke lompok/kelasnya. Anak menjadi ta hu apa yang harus dipertahankan, di tingkatkan dan diperbaiki dalam di rinya. Fakta buruk atau baik harus di terima sebagai kenyataan, bukan di hindari. Atas dasar itu pulalah orang tua dapat dengan lebih mudah memberikan pengarahan kepada anak ataupun membuat kebijakan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. A. Bentuk-bentuk pendampingan yang HARUS DIHINDARI orang tua: 50 EUANGELION 173

51 1. Menanamkan prinsip pada anak bah wa ia harus selalu menjadi pe menang, sehingga ada te kanan apabila anak mengalami kekalahan. 2. Terlalu membangga-banggakan anak secara berlebihan, sehingga ada beban apabila ucapan orang tua tidak dapat dibuktikannya. 3. Menyalahkan dan membandingbandingkan anak di saat dia kalah. 4. Acuh tak acuh atas kemenangan ataupun kekalahan yang dialami anak. 5. Memberikan pembelaan kepada anak di saat kalah sebagai usa ha untuk membentuk opini ke me nang an dengan cara-cara yang tidak wajar. 6. Mengeluarkan pernyataan negatif ke pada pihak lain yang dianggap pe nyebab kekalahan anaknya sehingga timbul asumsi di hati anak bah wa sebenarnya ia lebih berhak menang. 7. Memberi iming-iming berupa umpan tambahan apabila ia meraih ke menangan yang diinginkan orang tuanya. Hal-hal di atas adalah bentuk pendampingan yang dapat merusak men tal anak, sehingga anak dapat sa lah saat menyikapi sebuah kemenangan dan kekalahan yang dialaminya. Hal ini akan membentuk ji wa yang kerdil dan sempit dalam me nanggapi hal-hal yang tidak sesuai de ngan keinginannya atau keinginan orangtuanya. Apabila berlanjut akan ter bentuk nilai-nilai kehidupan yang sa lah dan sangat merugikan anak serta penyimpangan tingkah laku yang cenderung negatif. B. Bentuk-bentuk pendampingan yang HARUS DILAKUKAN orang tua adalah: 1. Menanamkan sikap obyektif ke - pada anak, agar dia secara ber - tahap dapat menilai mana yang baik dan buruk, mana yang be nar dan salah. Anak belajar ten tang kebenaran dan sanggup me ngakui nya. Hal ini akan memupuk sikap sportif. 2. Mendorong anak untuk selalu melakukan tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya dan tidak menge depankan hasil akhirnya, serta da pat menerima hasil penilaian da ri pihak lain secara rasional. 3. Menanamkan sikap kepada anak bahwa kemenangan dan ke kalah an adalah bagian dari suatu kom petisi, bukan segala-galanya. Ma sa depannya tidak ditentukan da ri menang dan kalah yang pernah dialaminya. 4. Mengajak anak untuk belajar menja d i pribadi yang seimbang dalam me nyikapi suatu kemenangan atau kekalahan yang dialaminya, se hingga ia tidak sombong, mau meng hargai kemenangan orang lain, bisa menerima kekalahan diri sen diri dengan sikap wajar. 5. Membiarkan anak bersaing secara se hat, apapun pencapaian yang di perolehnya tanpa ditunggangi oleh gengsi orang tua dengan EUANGELION

52 mem beri umpan tambahan. Anak su dah mendapatkan hadiahnya de ngan dia berkesempatan berkompetisi, karena ia akan le bih banyak berlatih dan ke mam puan nya menjadi bertambah dan le bih baik. Itulah hadiah yang se benarnya yang diterima oleh anak. Orangtua diharapkan sebagai pri badi yang paling memahami mi nat, bakat dan kemampuan anaknya, termasuk pula kelebihan dan kekurangannya. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya mengarahkan anak pada bidang-bidang yang sesuai dengan keadaan anak. Perlu di cermati, bahwa sangat jarang anak da pat berprestasi di segala bidang se cara sekaligus, pasti ada kelebihan di satu sisi dan kelemahan di sisi yang lain. Dinamika Psikis yang Terjadi Saat Menang dan Saat Kalah Kesalahan terbesar dari orang yang kalah adalah menganggap di rinya adalah seorang pecundang. Dalam hal ini, mereka akan me ng anggap kekalahan adalah hal yang memalukan. Akibatnya, orang tersebut akan takut kalah dan ti dak mem persiapkan diri untuk meng hargai presta si lawan yang me nang. Kita tak bi sa menghindari kekecewaan yang muncul ketika mengalami kekalahan. Ada rasa sakit yang dirasakan ketika ha rus mengakui bahwa sang lawan le bih hebat daripada kita. 1. Saat Mengalami Kemenangan Kemungkinan sikap-sikap positif yang muncul seperti: percaya diri, ma kin rajin belajar/berlatih, dapat me netapkan target yang lebih tinggi un tuk dicapai, makin terpacu untuk me ngikuti berbagai kompetisi lain. Kemungkinan sikap-sikap negatif yang muncul seperti: menjadi sombong, meremehkan orang lain, merasa di ri lebih hebat sehingga kurang mau mengakui kemampuan pihak lain, bahkan sebagian membatasi per gaulannya. 2. Saat Mengalami Kekalahan Kemungkinan sikap-sikap positif yang muncul seperti: menjadi priba di yang sportif dan mengakui ke unggulan pihak lain, dapat me ngevaluasi diri atas kegagalannya, dapat menerima kenyataan yang ti dak diharapkan, mengevaluasi diri ber dasarkan pengalamannya dari sebuah ke gagalan, menjadi lebih paham akan ke mampuannya dan ingin mencoba la gi untuk menebus kekalahannya. Kemungkinan sikap-sikap negatif yang muncul seperti: hatinya terluka dan merasa malu, menyalahkan di ri sendiri, menyalahkan orang-orang di sekitarnya dan tidak bisa le gawa de ngan keberhasilan pihak lain. Larut dalam kesedihan dan me ra sa tidak mampu lagi, jadi enggan berkompetisi karena takut kalah, menun jukkan sikap-sikap negatif kepada pi hak lain yang menang, bahkan da pat berupa serangan fisik ataupun ucap an yang menyakitkan. 52 EUANGELION 173

53 Penutup Dalam kaitan inilah kita perlu meredefinisi makna menang-kalah yang tidak bersifat dikotomis. Tetapi meletakkan keduanya dalam sebuah proses korelatif serta membingkainya dalam hubungan dialogis, bukan konflik. Ka rena menang dan kalah merupakan ba gian dari esensi kehidupan manusia yang bersifat dinamis dan berjalan si lih berganti. Tidak ada kemenangan atau kekalahan yang abadi. Kompetisi da lam memperebutkan kemenangan mestinya dimaknai sebagai persaingan untuk melakukan yang terbaik. Dengan demikian, kemenangan ti dak membutuhkan obyek untuk dika lahkan. Meskipun tentu ada pihak yang dianggap lebih unggul dan le bih baik dari yang lain,tapi tidak men jadikan yang kalah sebagai yang je lek, rendah, tidak berbobot, dan at ribut negatif lainnya, karena baik yang menang maupun yang kalah telah sama-sama mengupayakan yang ter baik, bukan yang terjelek. Kompetisi berbeda dengan kon kurensi yang mempunyai ar ti: perlawanan, persaingan, per sengketaan, menundukkan, menjatuhkan, atau mengalahkan. Pencapaian dalam kon kurensi bukan kemenangan tetapi pe naklukan. Karena itu konkurensi ti dak memungkinkan upaya sinergi an tara si penakluk dengan yang di taklukkan. Dengan demikian, buda ya menerima kekalahan mesti disandingkan dengan budaya menerima ke menangan. Keduanya jangan sampai terpisah, berjalan sendiri-sendiri, apa lagi sampai dioposisi-binerkan. De ngan begitu keduanya dapat berjalan sinergis, bekerja sama untuk te rus mengupayakan yang terbaik. Berkompetisi secara sehat adalah mempersiapkan anak untuk men jadi yang terbaik bagi dirinya dan mampu menghadapi setiap tan tangan, bukan mengalahkan atau menjatuhkan yang lain. Kalah me nang adalah konsekuensi dalam ke hidupan dan bukan tujuan utama. Ingat MENANG bukanlah tujuan ak hir, dan KALAH bukanlah akhir dari segalanya. M. Yuni Megarini C. (Dari berbagai sumber) Orangtua diharapkan sebagai pri badi yang paling memahami mi nat, bakat dan kemampuan anaknya, termasuk pula kelebihan dan kekurangannya. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya mengarahkan anak pada bidang-bidang yang se suai dengan keadaan anak. EUANGELION

54 Karakter Non Akademis Dunia pendidikan Indonesia perlu ber siap-siap dalam menghadapi ber bagai perubahan yang akan dihadapi. Jika bicara tentang pen didikan, rasanya langsung teringat pa da sekolah. Namun sebenarnya, ti dak hanya sekolah yang berperan, me lainkan juga orangtua dan lingkungan masyarakat. Nampaknya sudah bukan mu simnya hanya memprioritaskan pe ringkat yang dapat dicapai. Justru da lam mempersiapkan generasi yang akan datang, kita semua perlu lebih me lek akan karakter anak-anak kita. Ber dasarkan pengalaman saya di dunia pendidikan, terdapat beberapa peri laku yang perlu mendapat perhatian da lam pembentukan karakter. 1. Bertanggungjawab Ingatan saya kembali pada ke jadi an puluhan tahun lalu, saat ma sih menjadi mahasiswa. Suatu hari, sa ya berlari terengah-engah menuju ruang kuliah. Saat saya sampai, waktu sudah menunjukkan pk 10.30, artinya sa ya terlambat 30 menit hadir di ruang kuliah. Saat saya sampai, te rasa se luruh mata tertuju pada saya, teruta ma pandangan mata dosen saya. Kenapa kamu terlambat? tanya be liau dengan nada suara yang datar. Salah saya, Pak jawab sa ya. Pertanyaan saya, kenapa kamu terlambat? Saya terlambat bangun. Nah, gitu dong. Jawaban beliau membuat sa ya ter perangah. Belum selesai ke bi ngu ngan sa ya, beliau menyuruh sa ya duduk. Begitu saja? Tanpa ada kemarahan? Sa ya terlambat 30 menit, itu wak tu yang sangat panjang. Bahkan sa ya su dah mempersiapkan diri diusir dan ti dak boleh masuk ruang kelas. Saat saya sudah duduk, beliau melanjutkan perkataannya di kelas. Kali ini bukan hanya ditujukan pada saya, ta pi pada teman-teman di kelas yang ju ga hadir. Jika kalian terlambat, tolong tidak me ngatakan alasan A, B dan C. Entah ada kemacetan tiba-tiba, ada ban mo tor yang pecah atau alasan yang lain. Kalian yang bertanggung ja wab untuk keterlambatan kalian. Sambil mendengarkan, saya jadi pa ham kenapa beliau tidak mengusir sa ya keluar kelas. Memang alasan sa ya ga banget. Cukup malu untuk me ngungkapkan alasan tersebut. Ba yangkan, terlambat bangun di siang bolong. Tapi itulah yang memang terjadi dan saya memang ti dak punya alasan apapun yang da pat menjelaskan kenapa saya terlam bat masuk kelas. Saat itu saya me renungkan, nekat juga jawaban sa ya. Di saat yang sama, saya pun pasrah ji ka saat itu saya tidak diijin kan masuk ke las dan mengikuti per kuliahan. Hal itu sebagai bentuk tang gung jawab atas perilaku yang sa ya lakukan. Tanggungjawab dalam ba hasa Inggris adalah responsibility. Asal katanya adalah response dan abi lity. Dari asal katanya, sudah 54 EUANGELION 173

55 cu kup jelas bertanggung jawab mengan dung makna kemampuan un tuk berespon terhadap perilaku yang telah dilakukan. Kita dapat melakukan perilaku apapun. Bahkan, se bagai manusia biasa, tidak jarang ki ta bertindak duluan, baru berpikir. Ada kalanya kita melakukan perilakupe rilaku yang kurang pertimbangan. Yang menjadi pertanyaan adalah, se jauh apa kita sanggup untuk menanggung konsekuensi dari perilaku yang dilakukan. Tidak cukup hanya me nanggung konsekuensi. Dalam tang gung jawab, terdapat perilaku yang dilakukan untuk menebus perilaku kita. Pertanyaannya, siapkah orang tua membiarkan anak-anaknya mene rima hukuman atas perilaku yang di lakukan. Hal paling sederhana ada lah dengan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan lingkungan pa da anak. Selama pertanyaan dan perilaku lingkungan tidak memba hayakan, biarkan anak belajar men jawab dan menerima respon da ri lingkungan. Orang tua dapat be kerja di belakang layar, memberi pen jelasan mengenai situasi yang dihadapi, mengapa lingkungan dapat be respon tertentu pada anak dan mem bantu anak mengatasi perasaan yang ditimbulkan. 2. Kejujuran Pada kesempatan lain, saya berhadapan dengan mahasiswa saya. Sa ya memanggil yang bersangkutan un tuk menanyakan tugas yang dikerjakannya. Saat memeriksa, saya se akan mengalami dejavu, tugas yang dikumpulkan seakan pernah sa ya baca sebelumnya. Mahasiswa yang bersangkutan bersikukuh bahwa ia mengerjakannya sendiri. Demikian ju ga mahasiswa lain yang laporannya sa ya anggap serupa tapi tak sama. Ak hirnya saya dapat mengetahui bah wa mbah google berkontribusi ter hadap persamaan tugas yang dikerjakan. Apakah kedua mahasiswa ta di jujur? Ya, mereka mengatakan yang sesungguhnya terjadi, tapi dalam prosesnya, mereka melakukan pla giarism, perilaku yang sangat di haramkan terutama dalam dunia pendidikan. Namun ternyata tidak mudah untuk menyadarkan kedua mahasiswa ta di. Mereka beranggapan bahwa me reka sudah cukup bekerja keras me lakukan berbagai browsing sehingga dapat menuliskan laporan yang dikumpulkan. Pada saat di tunjukkan kesamaan hasil yang di tu liskan, barulah mereka dapat ngeh me ngenai kesalahan yang dilakukan. Lain waktu, saya berhadapan de ngan anak yang dikabarkan menyontek oleh gurunya. Saat saya tanya alasannya, ia mengatakan takut di marahi orangtua jika nilainya jelek. Pa dahal, ia tidak paham dengan mate ri ulangan yang dihadapi. Caranya me nyontek pun cukup kreatif, yang ti dak perlu dijabarkan di si ni. Sampai di sini, saya ingin menun jukkan bahwa kejujuran dan ke tidakjujuran dapat hadir dalam berba gai perilaku dan alasan. Ra sanya se makin hari saya pun menghadapi ca ra meyontek yang semakin kreatif, be lum lagi penjelasan siswa yang me- EUANGELION

56 lakukannya yang sulit memahami bah wa hal yang dilakukannya bu kanlah termasuk perilaku jujur. Namun, tanpa disadari perilaku ju jur seringkali merupakan duplikat orang-orang di sekitar anak, terutama me lalui keluarga. Saat orang tua mengatakan sakit untuk menghindari orang yang tidak ingin ditemui, atau sa at orang tua mengerjakan pekerjaan ru mah anak, atau di dalam situasi lain yang tidak disadari sehingga mem buat anak terbiasa memaknai bah wa perilaku tidak jujur adalah hal yang biasa. Dalam salah satu tontonan lomba memasak, terdapat seorang peserta yang masakannya gagal total karena salah teknik. Tiba-tiba ia melihat tek nik peserta lain dan mengikuti tek nik tersebut. Tanpa disangka, pe serta yang meniru jejak rekannya da pat menyelesaikan masakan lebih cepat dan menjadi pemenang. Sa at saya mengamati hal tersebut, agak sulit untuk menjelaskannya dan memberikan pengertian pada anak saya. Mungkin lomba tersebut me miliki indicator outcomes, bukan pro ses. Hal-hal tersebut yang secara ti dak langsung diamati oleh anak dan dapat menjadi rekam jejak di kemudian hari. Hal ini menjadi dampak dalam perilaku selanjutnya yang akan saya bahas. 3. Kreatif Being creative means original. Men jadi kreatif artinya dapat menghasilkan karya yang original. Bayangkan saat ini saudara diminta un tuk menggambar pemandangan. Apa kah yang saudara gambar? Dua buah gunung dengan matahari menyembul di tengah dan sawah ada di de pan gunung yang digambar. Tidak lu pa terdapat tanda ceklis dalam ko tak-kotak sawah yang menandai ke beradaan padi. Kemudian saat diminta memberi warna, gunung akan di warnai biru dan matahari kuning. Selama beberapa dekade, gambar an pemandangan seperti yang sa ya tuliskan di atas, mewarnai sebagian besar gambar yang kita buat. Ji ka ada anak yang memberi warna me rah untuk gunung, apa yang akan ia hadapi? Mungkin akan diminta un tuk menggambar ulang. Sekilas itu lah gambaran dimana seringkali krea tivitas kita untuk berpikir dan me nyelesaikan persoalan mendapat bor der dari lingkungan. Tanpa disa dari, hal ini seringkali mewarnai keseharian kita. Selain border dari lingkungan, pe rilaku kita sendiri seringkali membuat kita tidak menjadi kreatif. Berkaitan dengan penjelasan di poin se belumnya mengenai kejujuran, sa at seseorang terbiasa untuk melakukan duplikasi dari karya orang lain, pikirannya membaca bahwa hal tersebut adalah hal yang dapat di lakukan untuk menyelesaikan per soalan. Tidak heran jika perilaku co pas (copy-paste) yang sering dila kukan saat masih duduk di bangku se kolah membuat pikiran kita pun ter kungkung oleh hal yang dilakukan orang lain dan tidak membebaskan pi kiran kita sendiri untuk berpikir. Ki ta cukup sering tidak berani ke luar dari yang kebanyakan. Saat ter dapat 56 EUANGELION 173

57 produk yang booming se ringkali banyak orang mengikuti boomingnya produk tersebut dengan menduplikasi konsep produknya, bu kan mencari produk saingan atau membuat produk baru. Ada kalanya hal ini pun menunjukkan kenyamanan ki ta dalam batas zona nyaman dan aman. Selain itu, ketakutan menjadi kalah atau gagal pun menjadi kesulitan tersen diri untuk membebaskan pikiran krea tif kita. Mungkin jika dulu koki pe nemu brownies tidak berani menghidangkan kue bolu bantat yang ia hasilkan karena menganggapnya se bagai kegagalan, kita tidak bisa me nikmati lezatnya kue brownies. Penutup Karakter tidak hanya sekedar si fat yang dimiliki individu. Dalam pro sesnya, sifat-sifat yang dibawa se jak lahir dapat mengalami per kembangan, dapat bertambah, berganti ataupun berkurang. Manusia hidup da lam lingkungan yang menjadi semakin besar sejalan dengan per tambahan usia. Karakter apa yang dapat ber tahan, tidak dapt ditentukan se cara pasti. Namun demikian, semua lapisan masyarakat, dapat men jadi penentu bagaimana karakter anak dapat berkembang. Untuk itu, menyadari setiap perilaku yang di lakukan, dalam istilah psikologi, mindfulness, dapat membantu kita mem bentuk karakter anak. Saat menya dari perilaku tidak baik, kita dapat be lajar memaafkan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya. Ellen Theresia Kebaktian Doa GII Hok Im Tong Setiap Rabu sore di lokasi masing-masing EUANGELION

58 Gaya Hidup Generasi Millennials: Smartphone-Mandiri-Kolaborasi Isi pidato Presiden Joko Widodo 14 Juli 2019 sekilas tidak tampak ada konten atau program yang baru, namun ada nuansa yang beda dalam arah an dan penekanannya. Pidato ter sebut membuat keder generasi tua yang selama ini mengandalkan ke kuatan sistem birokrasi feodal. Pi dato tersebut juga membuat kelimpungan orang-orang yang enggan ber ubah, yang sudah merasa nyaman dan mapan dengan kondisi yang ada. Sebaliknya, pidato yang sama mem berikan energi yang positif bagi kaum muda, Generasi Millennials di Indonesia. Selama ini banyak orangtua yang me nitipkan keluh kesah susahnya hi dup di Indonesia dengan segala bi rokrasi yang membelit. Ijin usaha su sah, mau bikin SIM dipersulit, ngurus apa-apa harus pakai pelicin. Gene rasi yang lebih tua sudah terbiasa men jalani hidup yang rumit dan ber belit-belit tersebut. Namun kini, ada harapan bagi generasi muda di In donesia untuk menjalani hidup yang jauh lebih baik. Indonesia digadang-gadang akan men jadi negera dengan ekonomi ter kuat ke-4 di dunia bila berhasil me manfaatkan bonus demografi dan mam pu mempercepat pertumbuhan eko nomi dalam beberapa dasawarsa ke depan. Berita ini bila disampaikan ke pada generasi yang lebih tua di awal masa kemerdekaan 1945 akan dianggap angin lalu. Namun, generasi ke-3 dan ke-4 yang saat ini ada di dalam barisan bonus de mografi Indonesia sangat optimis dan mengamini bahwa negaranya akan menjadi negara yang kuat eko no minya dan disegani di dunia! Generasi Millennials di Indonesia ber pikir dan bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda dengan ca ra generasi pendahulunya (generasi ayah ibu dan kakek neneknya). Kema juan teknologi menjadi salah sa tu penyebab utama yang paling menda sar dalam mempengaruhi cara Ge nerasi Millennials menjalani hidup mereka. Semua serba online Sebuah tim kecil sedang me lakukan persiapan untuk mengadakan sua tu acara di kota Surabaya. Salah sa tu daftar belanja mereka hari itu adalah: bingkai foto. Seorang re kan panitia yang berusia 40++ ber kata, Oh, di dekat sini ada toko yang jual bingkai foto. Yuk kita ke sa na! Beberapa panitia segera berangkat menuju toko tersebut. Setelah melihat-lihat sekitar 1 menit, me reka sampai pada kesimpulan yang sama bahwa barang yang mereka inginkan tidak ada di toko itu. Masih belum menyerah, tim ini per gi ke toko lain yang berada di de kat toko yang pertama. Sekali lagi, mereka keluar dengan kecewa karena 58 EUANGELION 173

59 ti dak memperoleh apa yang mereka inginkan. Tiba-tiba salah seorang pa nitia yang masih berusia awal 20- an berkata, Ini, aku sudah dapat. Ba rangnya dikirim nanti siang. Aku pesan online. Dalam suatu acara konferensi yang mempertemukan para aktivis pe layanan anak se-asia Tenggara, ter jadi insiden menarik. Pembawa aca ra mengumumkan agar para pe serta mempersiapkan diri untuk mem presentasikan hasil diskusi kelompok malam sebelumnya. Kontan sa ja para peserta senior dengan kebingungan segera mencari wajah-wajah yang dikenali sebagai ang gota kelompok diskusi mereka se malam. Dengan panik masingma sing menanyakan, Siapa yang pe gang kertas catatan hasil diskusi ke marin? Situasi menjadi semakin ti dak menentu saat salah seorang ber ka ta, Kan kemarin kertas hasil dis kusi su dah dikasih ke panitia? Aduh, yang ma na yah panitianya? Se mentara itu, sekelompok anak muda Generasi Millennials yang juga ber gabung dalam acara tersebut tam pak terlihat duduk dengan santai dan senyum-senyum saja. Mengapa? Ka rena hasil diskusi dicatat di salah satu smartphone anggota kelompok dan sudah di-share ke semua anggota ke lompok lainnya sejak semalam. Ja di sekarang mereka tinggal baca-ba ca untuk melihat lagi hasil diskusi mereka semalam. Seorang siswa SMA mengeluhkan gu ru biologinya. Berulang kali dia protes kepada guru biologinya tentang ber bagai materi yang di ajarkan di kelas - yang menurut siswa tersebut ti dak sama dengan apa yang dia pe lajari sendiri. Usut punya usut, ter nyata guru biologinya mengajar meng gunakan diktat kuliah keluaran ta hun 1999 sedangkan siswa SMA tersebut rajin download berbagai buku dan jurnal biologi terbitan terbaru!! Seorang remaja perempuan lu lusan SMA dari NTT mendapat bea siswa untuk kuliah di Jawa. Dia be lum pernah naik pesawat dan tidak berani terbang sendirian. Ada se orang rekannya yang kebetulan ju ga akan ke Jawa. Mereka berdua atur waktu supaya bisa berada di pe sawat yang sama. Namun sesaat men jelang keberangkatan, tiket yang tersedia hanya 1 (bukan 2). Ter paksa mereka terpisah, tidak bi sa terbang dengan pesawat yang sa ma. Remaja perempuan yang ba ru lulus SMA ini mulai panik. Tapi de ngan berbekal smartphone yang di milikinya dia segera browsing dan mem pelajari bagaimana proses check in hingga panggilan boarding serta hal-hal apa saja yang perlu dia ketahui sebelum dia menuju airport. Alhasil, dia berhasil tiba di tujuan dengan se la mat, meski harus transit di pulau lain lagi selama beberapa waktu. Generasi Millennials adalah ge nera si baru yang memiliki alat canggih sak ti mandraguna (serbaguna) di tangannya, yaitu: smartphone!! Dengan smart phone dalam genggaman, me reka siap menjelajah dunia, siap menyelesaikan masalah, siap berkreasi dan berinovasi, siap me ngembangkan dan memajukan diri menjadi lebih baik. EUANGELION

60 Namun awas!! Smartphone yang sama juga bisa menjadi alat pembunuh masa depan Ge ne rasi Millennials. Sementara se bagian generasi muda berhasil me ng op ti malkan fungsi smartphone mereka un tuk hal-hal yang positif dan mem bangun, sebagian generasi muda lain nya justru menjadi korban akibat ke gagalan menjinakkan smartphone sakti mandraguna yang ada di tangan me reka. Smartphone mirip dengan senjata yang luar biasa dahsyat kekuatannya. Bi la digunakan dengan tepat, tentu akan membawa hasil yang luar bia sa. Namun sebaliknya, bila salah di gunakan, akan mempunyai daya hancur yang luar biasa buruknya. Ketidakmampuan generasi muda men jinakkan smartphone Di sebuah lift di sebuah gereja, se orang anak pra-remaja sedang memegang smartphone-nya mau ke ruang ibadah remaja. Seorang pemuda masuk lift dan menyapanya, Halo! Siapa namamu? Anak prare maja tersebut bingung tidak ta hu ha rus berbuat apa. Segera ia me nyalakan smartphone-nya, mem bu ka apps apa saja yang bisa di bu kanya, scroll ke atas ke bawah, la lu ke atas la gi, ke bawah... dan sambil nervous men jawab sambil matanya terus menatap ke layar smartphonenya, Eh.. ko.. nama saya Xxxx. Di sebuah mall, seorang remaja la ki-laki sedang menemani temannya (pe rempuan) menunggu dijemput papanya. Mereka tampak asyik ngobrol ber dua. Lalu terlihat dari kejauhan si pa pa muncul. Segera si remaja cowok ke bingungan tidak tahu harus berbuat apa, jadi dia nyalakan smartphonenya dan tenggelam di dalam apa saja yang bisa dilihat di layar smartphonenya. Dia sama sekali tidak menyapa pa pa teman ceweknya tersebut hingga mereka berdua menghilang dari pandangannya. Pernah dalam sebuah kesempatan sa ya bertanya kepada beberapa rema ja. Jawaban mereka sederhana sa ja. Mereka mengakui bahwa lebih baik tidak berbicara langsung dengan orang yang baru atau tidak mereka ke nal. Mereka merasa lebih nyaman ber jumpa dan berbicara lewat layar smart phone (chatting, kirim pesan teks) daripada harus bertatap muka lang sung dan berbicara. Hal yang sa ma juga mereka lakukan terhadap orang-orang yang mereka sudah kenal, seperti kepada teman, bahkan orang tua. Menurut mereka bicara lang sung itu membuat mereka ke bingu ngan. Lebih baik bicara lewat layar smartphone, jadi masih bisa mikir mau ngomong apa. Dalam sebuah acara CNN yang seca ra khusus meliput anak pra-remaja usia 13 tahun, ditemukan berbagai eks presi yang mengejutkan tentang ba gaimana mereka memaknai hidup me reka terkait dengan penggunaan smartphone. Berikut adalah beberapa statement anak-anak usia pra-remaja yang diwawancara oleh CNN: Lebih baik saya tidak makan selama 1 minggu daripada smartphone saya di ambil dari saya. Saya merasa tertekan untuk terlihat sem purna di IG (instagram). Saya memotret diri saya banyak 60 EUANGELION 173

61 se kali, biasanya 100, atau 150, atau mung kin 200 kalau saya belum men dapatkan yang benar-benar co cok/memuaskan. Be rapa kali saya membuka smartphone saya dalam sehari? Saya tidak bi sa menghitungnya. Itu adalah sebuah keharusan (kebutuhan). Hasil penelitian terhadap anak-anak pra-remaja ini menunjukkan bahwa se makin sering mereka melihat social media, semakin stres mereka. Anakanak pra-remaja ini bukan ha nya fol low teman, me lainkan juga mema ta-matai musuh atau orang-orang yang tidak mereka su kai. Jumlah likes dan dislikes, serta ber bagai komentar di media sosial se nantiasa mengganggu pikiran me reka, mempengaruhi harga diri me reka, dan sampai titik tertentu bisa melumpuhkan mereka. Generasi yang masih sangat muda ini, terjebak da lam dunia maya - dan menganggap bah wa arti hidup mereka ditentukan keberadaan mereka di dunia ma ya. Bagaimana dengan mereka yang kecanduan games online? Bahkan sampai ada yang membunuh temannya gara-gara berselisih soal games. Ada juga pasangan suami istri yang menelantarkan bayi mereka hingga meninggal karena terlalu sibuk main games online. Inilah realita pa hit yang harus dihadapi oleh seluruh masyarakat yang kehilangan anak-anak mudanya yang kalah dalam pertarungan menjinakkan smartphone mereka sendiri. Awalnya smartphone diberikan sebagai sebuah tools (alat) yang bermanfaat bagi kehidupan di zaman ini, namun bila kita tidak tahu cara meng gunakannya dengan bijak, alat ini akan beralih fungsi untuk menghan curkan dan membunuh masa de pan generasi muda. Kegagalan sebagian Generasi Mil lennials untuk menjinakkan smartphone sebenarnya adalah kesalahan po la asuh generasi yang lebih tua ter hadap generasi muda mereka. Se bab, di dalam ketidaktahuan generasi yang lebih tua tentang teknologi, keputusan yang diambil justru mem bawa bencana bagi anak cucu mereka. Kemandirian dan Kolaborasi Ge nerasi Millennials Dua hal yang sekilas terlihat kontradiktif namun sebenarnya sa ling melengkapi (komplemen), ya itu: kemandirian dan kolaborasi. Gene rasi Millennials adalah generasi yang mandiri. Mereka ingin terlepas da ri segala atribut bawaan orangtua me reka. Hal itu bisa saja berarti mening galkan rumah orang tua mereka, ber alih ke profesi yang sama sekali ba ru dan asing bagi keluarga besar me reka, merintis usaha dari nol tanpa bantuan apa pun dari orang tua mau pun keluarga besar mereka, men jalani hidup di tempat baru yang sa ma sekali asing, menekuni bidang atau keahlian yang belum pernah ada se belumnya, dan sebagainya. Semangat untuk mandiri ini memba wa guncangan yang cukup hebat ba gi generasi pendahulu mereka yang menghargai kestabilan dan ke mapanan. Buat generasi yang le bih tua, memiliki rumah sendiri EUANGELION

62 ada lah suatu keharusan - bahkan men jadi cita-cita utama yang dikejar se jak masa muda. Sementara bagi Ge nerasi Millennials dengan gaya hi dup mobilitas tinggi, memiliki rumah sendiri (apalagi dengan tujuan un tuk ditempati secara permanen) ti dak menjadi prioritas. Generasi ini menjalani hidup dengan sikap ter buka terhadap perubahan dan pe luang, termasuk di dalamnya pe r ubahan untuk berpindah tempat tinggal, tempat bekerja, tempat beraktivitas, tempat studi, dan sebagainya. Generasi ini juga terbu ka untuk menghadapi berbagai pe luang, misalnya: untuk mencoba dan berganti pekerjaan di bidang yang sama sekali baru bagi mereka, un tuk mencoba usaha sendiri, untuk me rintis hal-hal yang baru-inovatifkrea tif, bahkan untuk mempelajari hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya. Perubahan, bagi Generasi Millen nials adalah sebuah keniscayaan. Me reka menyambut perubahan de ngan pikiran dan tangan yang le bih terbuka dibanding generasi se belumnya. Semangat untuk mandi ri bukan berarti mereka lebih su ka menyendiri (melakukan apa-apa sendiri), sebaliknya, Generasi Millennials cenderung melakukan hal-hal baru bersama dengan teman-temannya. Mereka bukan saja menyam but perubahan dalam hal ide, kon sep, dan aktivitas, melainkan juga da lam berelasi. Buat generasi ini, ber kolaborasi dengan berbagai pihak ada lah sebuah hal yang alami. Justru sa lah satu syarat untuk mencapai keber hasilan adalah kolaborasi. Dengan ber gandeng tangan, generasi ini mam pu menciptakan relasi yang sa ling menguntungkan (win-win solution). Sebagai contoh, kemudahan berje jaring lewat media sosial banyak di manfaatkan generasi muda untuk me numbuhkan berbagai bisnis online. Ge nerasi ini juga tidak keberatan bila se mua pegawainya adalah part-timer dan tidak ada yang ngantor di satu tem pat yang sama seperti generasi orangtua mereka yang wajib hadir di tem pat kerja dari jam hingga jam Mereka menjalankan usaha ju ga atas dasar relasi, pertemanan, je jaring di media sosial, serta ko nekti vitas yang diperoleh lewat informasi di dunia maya. Apa yang kita wariskan kepada Gene rasi Penerus kita? Di tengah arus perubahan tek nolo gi yang demikian, biasanya generasi yang lebih tua merasa tidak mampu un tuk mengikuti semua perubahan yang tengah terjadi. Nasehat yang di berikan kepada generasi yang le bih muda pun mulai terdengar usang/ketinggalan zaman, sehingga tan pa disadari, generasi yang lebih tua merasa dirinya tertolak dan terabaikan. Berhubung komunikasi mulai ter ganggu bahkan ga nyambung ma ka generasi yang lebih muda ja di malas untuk berkomunikasi de ngan generasi yang lebih tua. Ma sing-masing bersikukuh dengan su dut pandangnya sendiri, yang sesungguhnya didasari oleh alasan yang sama-sama kuat dan benar 62 EUANGELION 173

63 - karena masing-masing memang ada lah produk dari zaman di mana mereka dibesarkan! Oleh sebab itu, perlu ada yang men jembatani gap antar generasi, dan dibutuhkan kepemimpinan yang cakap, yang bisa merangkul se mua generasi untuk bersatu dan memba ngun demi kebaikan bersama. Indo nesia bersyukur memiliki seorang pe mimpin yang cakap, yang mau me rangkul semua generasi agar ber satu dan membangun bangsa ini un tuk mewujudkan kesejahteraan ber sama. Generasi yang lebih tua mung kin punya pengalaman buruk di ma sa lalu dan cenderung menghindar da ri politik praktis maupun ke hidup an bermasyarakat secara luas. Na mun zaman sudah berubah. Ki ni, kesempatan terbuka luas bagi generasi muda untuk ikut ambil ba gian dalam proses membangun bang sa dan negara. Anak-anak Tuhan Generasi Millennials dipanggil untuk ikut serta dalam pembangunan bang sa dan negara di mana Tuhan me nempatkan mereka. Semangat kemandirian dan kola borasi yang dibarengi dengan ke piawaian Generasi Millennials un tuk mengoptimalkan smartphone me reka bagi hal-hal yang positif, pro duktif, dan membangun adalah kun ci keberhasilan kemajuan negara ini untuk membawa kesejahteraan ba gi seluruh lapisan masyarakat. Keunggulan generasi yang lebih tua ada pada Tacit Knowledge (aku mulasi pengetahuan dan pengala man di masa lalu) serta intuisi/kebi jaksanaan dalam melihat masalah ke hidupan. Sedangkan keunggulan ge nerasi yang lebih muda ada pada ke mampuannya untuk beradaptasi ter hadap perubahan serta kece pat - annya dalam mempelajari serta mengimplementasikan hal-hal baru. Paulus memberikan nasehat kepa da anak-anak rohaninya untuk meneruskan/mewariskan ajaran-ajaran yang telah diberikannya kepada ge nerasi-generasi selanjutnya (2 Tim 2:2; Tit 2:2-4). Ini adalah tugas pa ra generasi yang lebih tua, yaitu me wariskan ajaran yang benar kepa da generasi yang lebih muda - se perti tongkat estafet yang akan te rus diserahkan kepada generasi berikutnya turun-temurun. Kita tidak pernah tahu tantangan apa lagi yang akan muncul dan dihadapi oleh generasi-generasi pene rus kita. Namun satu hal yang kita ta hu dengan pasti: setiap generasi mem butuhkan Firman Tuhan untuk me nuntun hidup mereka. Teknologi bi sa dan akan senantiasa berubah. Tan tangan kehidupan juga akan selalu bergolak dan berganti. Namun Fir man Tuhan akan senantiasa menja di landasan serta kekuatan yang ko koh bagi anak-anak Tuhan dalam me ngarungi ombak kehidupan yang se nantiasa berubah. Di sinilah peran ki ta sebagai generasi yang lebih tua un tuk mewariskan Kebenaran Firman Tu han kepada generasi yang lebih mu da. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita. Meilania EUANGELION

64 Anti Kebiasaan Korup Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? (Galatia 2:14) Korup, yang dalam bahasa Inggris ada lah corrupt, menyatakan suatu kon disi atau keadaan di mana suatu ob jek atau orang atau lembaga ti dak lagi berjalan sebagaimana se harusnya. Jaman dahulu, waktu ki ta masih pakai disket komputer, ba rangkali kita masih ingat kesusahan ka rena adanya sektor yang corrupt, se hingga data tidak bisa dibaca. Atau sua tu mesin bagiannya ada yang corrupt sehingga tidak menghasilkan se perti yang dirancang. Jadi, pertama-tama kita perlu pa hami bahwa arti korup lebih luas da ripada definisi korupsi seperti yang ditetapkan oleh Hukum di Indonesia: UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Ko rupsi diperbaharui oleh UU No. 20 Tahun 2001 mengatur tentang tindak pidana korupsi. Di UU yang ja di ukuran adalah tentang kerugian negara karena orang melakukan sesuatu yang tidak semestinya atau tidak me lakukan sesuatu yang seharusnya. Ukur an kerugian ini membuat ba tasan dari perilaku korupsi, yaitu me nimbul kan kerugian pada negara. Bagaimana dengan perilaku, misal nya ketika ada sumbangan 50 kue gu lung untuk jemaat yang hanya di sampaikan 48 buah sedang yang 2 buah dibawa pulang oleh pengelola aca ra? Bawa 2 buah rollcake tidak mem buat kerugian negara, tapi itu ju ga suatu perilaku korup, bukan? Berapa sering orang yang ditunjuk un tuk menjadi pengelola dengan manis mengambil bagian dari apapun yang seharusnya dibagikan semua kepada jemaat? Waktu mulai dalam pelayanan, disebut bahwa semua adalah un tuk kemuliaan Tuhan, namun dalam praktek diam-diam ambil ekstra buat diri sendiri. Apakah ada yang ketahuan? Berapa sering orang berjanji untuk melakukan sesuatu, untuk memikirkan, mencari tahu, membuat pe nelitian dan analisa tapi semua itu malas untuk dikerjakan, akhirnya yang diberikan hanya hasil seadanya dari googling internet, kebetulan da- 64 EUANGELION 173

65 pat satu tulisan yang rasanya bagus, lantas dicopy-paste begitu saja tanpa di teliti lebih lanjut? Atau yang lebih umum: berapa se ring orang begitu saja menerima dan membagikan berita yang kelihatannya bagus, ditulis dengan bahasa yang baik dan rapi, tanpa usaha apa pun untuk mengecek? Sesuatu yang kalau dilakukan sedikit saja bi sa menentukan apakah tulisan itu hoax atau benar, apakah layak untuk di sebarluaskan. Tidak ada lagi saring sebelum sharing. Dalam definisi luas dari makna ka ta korup, itu adalah kebiasaan ko rup yang banyak dilakukan orang. Ti dak merugikan negara, tidak menja d i suatu tindak pidana korupsi, na mun tetap suatu perilaku yang me nyimpang dari kebenaran, tidak sesuai seharusnya. Bagi Tuhan, pernyataan-nya tegas dan langsung: jika ya katakan ya, jika ti dak katakan tidak. Apa yang lebih da ri itu berasal dari si jahat. Walau... kalau orang sejujur itu dalam ber kata-kata, bukankah hal itu bisa me rugikan diri sendiri, atau bahkan mung kin merugikan Gereja? Kenapa ha rus mengatakan ya atau tidak ji ka hal itu merugikan? Bukankah menyembunyikan kebenaran tidak bi cara bohong, dengan tidak berkata apa-apa kadang kala cukup baik dan cer das? Namun di sanalah ada peran si jahat yang memberi masukan-masu kan akal bulusnya. Korupsi di mulai da ri mengatakan tidak untuk sesuatu yang ya, atau mengatakan ya untuk se suatu yang tidak. Itu namanya bohong! Semua korupsi membutuhkan sua tu pengalihan, manipulasi. Pa ling baik adalah kalau tidak ada per tanya an sama sekali, sehingga tidak per lu menjawab. Ada berbagai cara, an tara lain dengan memasang wajah ka ku, judes dan serius, sehingga orang lain sungkan untuk bertanya. Si kap marah pada pertanyaan yang di ajukan, suatu ekspresi perasaan ter singgung yang dihindari orang, ter utama di Asia, adalah alat ampuh meng hindari pertanyaan. Kalau pun ada pertanyaan, maka rangkaian pen jelasan bohong dibuat. Satu ke bohongan harus ditopang oleh ke bohongan lainnya. Tak lama kemu dian orang yang korupsi terjerat da lam rantai kebohongan yang harus di jaganya baik-baik, satu saja dusta ter ungkap maka keseluruhan perkara bi sa terbuka, berantakan. Siapapun bisa terperangkap dalam tindakan bohong dan munafik, con tohnya adalah Kefas alias Petrus, yang Rasul murid Kristus, dan sudah me nyatakan mengasihi Kristus serta siap menggembalakan umat-nya. Wak tu tidak ada orang Yahudi, ia mau ma kan bersama orang non-yahudi, ta pi ketika orang-orang Yahudi datang, ia terus memisahkan diri. Ia men jaga citranya di hadapan orang Ya hudi, namun bukan berarti orangorang non-yahudi itu tidak mengerti apa yang terjadi. Eh, munafik tuh! Rasul Petrus munafik, dan Rasul Pau lus menentangnya dengan keras. Mung kin alasan Petrus terdengar bisa sa ngat dimengerti karena bukankah ki ta juga banyak dilanda perasaan sung kan yang membuat kita berdusta EUANGELION

66 se di kit di sini dan di sana? Tapi itu pun sua tu bentuk korupsi yang tidak akan mem bawa kebaikan apa-apa. Semua yang berasal dari si jahat tidak ada manfaat kebaikannya! Orang yang melakukan sesuatu ka rena ingin menjaga citra, ingin men jaga status rohani di hadapan orang lain, bisa menjadi pelaku korupsi yang membawa sesuatu yang bu kan Injil, tapi diakui sebagai Injil, ke tengah jemaat. Kalau membaca su rat kepada jemaat Galatia yang men jelaskan insiden ini, di awal surat Rasul Paulus memperingatkan je maat tentang penyimpangan yang di sebabkan injil manusia. Orang terus berusaha sendiri mencari status ro haninya, hanya untuk dilihat orang lain. Membuat berbagai-bagai peratur an supaya ada kebanggaan ba gi siapa saja yang bisa memenuhi tuntutan, padahal di dalam Kristus ada ke merdekaan, keselamatan diberikan se bagai kasih karunia. Menjaga citra itu sendiri akan mem butuhkan banyak tenaga upaya, ba nyak dana, dan butuh banyak wak tu serta melibatkan banyak orang. Suatu pernyataan dusta perlu di dukung oleh orang lain, tapi apa yang menjadi alasan orang lain mau men dukung kebohongan? Apa yang da pat diperoleh orang lain sebagai ba las jasa mempertahankan suatu ke bohongan? Biaya korup itu mahal, lho! Maka, korupsi menjadi sesuatu yang bersifat menular dan menyebar. Tidak semua orang pada awalnya berniat untuk korup, sebaliknya, banyak anak muda yang idealis dan bertekad untuk bersikap benar. Namun ketika relasi berkembang dan per temanan menjadi lebih akrab, per mintaan tolong untuk menjaga mu ka menjadi hal yang sukar ditolak. Apalagi kini juga ada bagian ke untungan yang diberikan. Karena su dah mempertahankan suatu kebohongan, maka ada transfer yang me nambah isi rekening tabungan. Me nyenangkan, bukan? Mau lagi? Ta hu-tahu, tanpa orang sadari ia te rus masuk dalam tindak pidana ko rupsi yang diatur oleh UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ba tasan antara merugikan negara de ngan hanya untuk jaga muka saja me rupakan batasan yang tidak jelas le taknya. Tahu-tahu ada petugas KPK di depan pintu kerja. Tindak pidana korupsi menurut UU pa da dasarnya melihat ada tindakan me lawan hukum memperkaya diri sen diri atau orang lain. Kemudian, orang menyalahgunakan jabatan atau wewenangnya untuk membuat di rinya atau suatu pihak lain menjadi lebih ka ya, sedangkan negara mengalami ke rugian. Dalam prosesnya, orang mung kin menerima suap atau grati fikasi, memalsukan dokumen atau ob jek lain, atau menggelapkan dan menghancurkan bukti-bukti dokumen atau objek lain terkait dengan hal yang merugikan negara. Harta itu sendiri bisa menjadi suatu jerat yang tidak disadari. Korupsi men jerat orang melalui status dan pe nampilan yang dianggap harus se suai dengan status tersebut. Keti ka seseorang menjadi pejabat ne gara, ia diharapkan mempunyai 66 EUANGELION 173

67 ru mah lebih baik, kendaraan lebih baik, fasilitas lebih baik. Gaya hidup ber ubah. Sementara pendapatan ga ji besarannya tetap. Variabel pe ngeluaran bagi pejabat negara men jadi tidak terkendali antara kebutuhan pribadi, kebutuhan menja lin komunikasi dan komunitas, ser ta kebutuhan menjaga citra di masyarakat. Tidak lama setelah seseorang dilantik menduduki suatu jabatan, perubah an gaya hidup tidak diimbangi de ngan pengendalian keuangan yang ra sional. Kini mendadak lebih banyak orang yang berada di sekeliling dan me nuntut untuk bisa memperoleh sua tu bagian keuntungan, orangorang yang selama ini sudah membe rikan banyak jasa dan rasanya sung kan kalau tidak terus balas budi kepada mereka. Di mana letaknya integritas? Ba gi banyak orang Asia, membalas bu di adalah suatu bagian dari sikap ber integritas dan bisa diandalkan. Ber sikap tidak mau membantu secara finansial kepada pihak yang se lama ini sudah membantunya, ada lah sikap yang bisa dianggap tidak berintegritas. Ini sikap budaya, sua tu kebiasaan menahun yang tidak selalu benar, karena membantu orang untuk menutupi kesalahan atau memperkaya diri jelas bukan sua tu sikap berintegritas. Lagipula ban tuan finansial dari kantung sendiri ada batasnya, tapi tindak korupsi bi sa memberikan aliran uang dalam jumlah yang jauh lebih besar. Orang yang sudah dilanda ke se rakah an merasa selalu ada jalan untuk me lakukan korupsi, untuk menutupi ke bohongan dan menjaga celah. Ba nyak koruptor yang memakai topeng citra orang saleh yang tekun ber agama, karena dianggap orang yang tekun beragama selalu lebih berin tegritas dan jauh dari tindak pidana ko rupsi. Kenyataannya, korupsi di de partemen Agama adalah korupsi be sar dan serius yang melibatkan bah kan Ketua Umum Partai berbasis aga ma, hingga akhirnya terbongkar dan pelakunya dipenjara. Selama ini Negara dan KPK menja lankan gerakan pencegahan korupsi me lalui 4 pendekatan: (1) Pendekatan Hu kum, dengan ancaman hukum, (2) Pendekatan Bisnis, dengan pe gawai yang lebih kompeten dan se hat, (3) Pendekatan Pasar, dengan keterbukaan kompetitif, dan (4) Pende katan Budaya, dengan mendorong bu daya anti korupsi dan perilaku yang le bih terkontrol menurut persepsi norma dan kearifan lokal yang diarahkan anti korupsi. Pemerintah juga berupaya terus me nekan tindak pidana korupsi dengan mengharuskan keterbukaan dan kontrol yang lebih jauh atas pe rilaku, seperti melarang setiap pe gawai negeri menerima bingkisan par sel hari raya. Ada kebiasaan lama yang kini dilarang, sehingga lebih su kar bagi birokrat memperkaya diri di bandingkan dengan masa-masa pe merintahan lalu. Tentunya ada per lawanan dari aparat yang sudah ter biasa memperkaya diri, dengan men jalankan pelayanan kepada masya rakat secara intoleran dan tidak berkualitas. EUANGELION

68 Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen? Sebagai warga masya rakat, dalam satu dan lain hal pas ti kita berhubungan dengan pe ja bat pemerintah. Mungkin kita sen diri adalah pejabat pemerintah. Bagaimanakah bersikap anti korupsi, tidak jatuh dalam kebiasaan korup? Bagai mana caranya agar kita mengikuti an trian dan prosedur dalam segala sesuatu? Pertama-tama, kita perlu me nyada ri siapa diri kita. Bukankah kita ada lah anak-anak Tuhan? Bukankah ki ta hidup dalam takut akan Tuhan? Ki ta didampingi oleh Roh Kudus, dan ke tika kita membohongi orang lain, ti dak ada satupun yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Kedua, kita perlu menyadari apa ha kekat peran kita dan bagaimana kita me layani sesama serta bertanggung ja wab sebagai pemangku jabatan, en tah itu di pemerintahan maupun se bagai pelaku usaha atau pegawai pe rusahaan atau menjadi pelayan Gere ja. Kita perlu tahu apa yang menjadi hak untuk kita peroleh dan apa yang ti dak boleh kita ambil. Kita perlu tahu apa yang menjadi prinsip utama dan ti dak boleh diubah, dikurangi atau di tambah, atas dasar alasan apapun. Ti dak ada persahabatan yang baik yang memaksa sahabat melanggar prin sip utama dalam perannya. Ketiga, pada akhirnya kita perlu me milih. Tidak mungkin membuat senang semua orang, menguntungkan se mua orang. Banyak orang yang ber usaha menerima keuntungan yang ti dak patut. Korupsi mendatangkan ke untungan yang tidak patut, tidak la yak diterima orang. Termasuk di da lamnya adalah memberi sedekah ke pada peminta-minta di lampu merah yang mengganggu lalu lintas. Bagaimana kita menghadiahi para pengganggu lalu lintas dengan sedekah? Pe rilaku tidak benar muncul dari ma na saja, termasuk dari orang yang jadi sahabat. Kesulitan secara pe rasaan memang muncul ketika orang yang semula bersahabat, ternyata melakukan korupsi dan menginginkan kita ambil bagian. Kalau ki ta menolak, persahabatan mungkin ter putus itu adalah harga yang harus dibayar. Keempat, kita juga tidak bisa meng harapkan untuk menerima ke kayaan sebesar-besarnya di dunia. Adalah suatu kekeliruan jika ber pikir berkat Tuhan berarti keka yaan dan kesejahteraan serta po sisi penuh kuasa. Kita menerima ber kat Tuhan berupa kemampuan un tuk menghadapi persoalan hidup dan kemampuan untuk tetap mem beritakan Kabar Baik yang me nyelamatkan. Usaha kita adalah un tuk membuat lebih banyak kebaikan, lebih banyak membangun ke sadaran akan kebenaran. Upah ki ta ada di Sorga, kita tidak perlu mengharapkannya diberikan di dunia. Kelima, kita perlu ambil bagian da lam usaha kemasyarakatan, secara eko nomi dan juga secara politik, un tuk menegakkan kebenaran. Kebenaran meninggikan derajat bangsa, se dangkan dosa adalah noda bangsa, ka ta amsal Salomo. Kita berdiri mela wan korupsi, ambil bagian dalam po litik, dukung semua pihak yang 68 EUANGELION 173

69 me negakkan kebenaran di atas kepentingan diri dan golongan. Orang Kris ten perlu bersikap lebih aktif, ka rena kita sudah diberi kemampuan ma ka kita pun bertanggung jawab un t uk melakukan apa yang kita bisa. An ti korupsi dan menolak kebiasaan ko rupsi bukanlah sekedar kesadaran pri badi, melainkan juga suatu upaya ko munitas yang terdiri dari orangorang yang sungguh takut akan Al lah. Saya menemukan bahwa soal ta kut akan Allah bukan hanya dimiliki oleh orang Kristen saja. Banyak sau dara kita yang beragama lain juga memahami ekspresi takut akan Allah dan berusaha untuk hidup benar di ha dapan Allah. Sikap anti korupsi meru pakan sikap yang dimiliki banyak ka langan, tidak tergantung agama ke percayaan tertentu. Dasarnya mau me lakukan hal benar dan menolak ber buat bohong dan curang, kita bisa sama-sama berdiri dan membela sikap ini. Semoga Tuhan menolong bangsa In donesia lepas dari penyakit korupsi. Terpujilah TUHAN! Donny A. Wiguna EUANGELION

70 BUDAYA PERUSAHAAN Saat seseorang menyebut kata bu daya, yang pertama kali terlintas di pikiran kita adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesenian dan adat istiadat suatu daerah. Kata budaya dalam Kamus Besar Ba hasa Indonesia diartikan sebagai pi kiran, akal budi atau adat-istiadat. Ke budayaan sendiri diartikan sebagai se gala hal yang berkaitan dengan 70 EUANGELION 173

71 akal atau pikiran manusia, sehingga da pat menunjuk pada pola pikir, peri laku serta karya fisik sekelompok ma nusia. Oleh karena kata budaya su dah terasosiasi demikian kuatnya de ngan seni atau adat istiadat, ma ka saat mendengar kata Budaya Pe rusa haan, sebagian besar orang agak ter heran-heran dan bertanya-tanya apa maksudnya. Apa itu Budaya Perusahaan? Bu daya Perusahaan adalah suatu ka rakteristik yang ada pada sebuah pe rusahaan dan menjadi pedoman pe rusahaan tersebut sehingga membe dakannya dari perusahaan lainnya. De ngan kata lain, budaya perusahaan ada lah norma perilaku dan nilai-nilai yang dipahami dan diterima oleh se mua karyawan perusahaan dan digunakan sebagai dasar dalam aturan pe rilaku dalam perusahaan tersebut. Pe rusahaan yang dimaksud disini ada lah semua organisasi, termasuk di dalamnya gereja. Budaya dalam sebuah perusahaan me libatkan sekumpulan pengalaman, fi losofi, pengalaman, ekspektasi dan juga nilai yang terkandung di dalamnya, yang nanti akan tercermin da lam perilaku karyawan, mulai da ri suasana kerja, interaksi dengan lingkungan di luar perusahaan, sampai eks pektasi di masa depan. Budaya pe rusahaan akan membentuk tingkah la ku karyawan dalam perusahaan tersebut. Jika budaya perusahaan su dah stabil dan kuat, mau tidak mau, karyawan baru yang masuk ke sana akan me ngikuti kebiasaan dan budaya yang berlaku di sana. Sebaliknya, jika bu daya perusahaan masih tidak jelas, ma ka dengan masuknya karyawan de ngan latar belakang budaya yang ber beda-beda, budaya perusahaan ter sebut akan semakin tidak jelaslah. Sa at saya ke Singapura dan melihat-lihat di toko oleh-oleh, saya tertarik dengan kaos bertuliskan rentetan tarif de nda ( fine ) bila Anda melanggar aturan. Smoking - You ll be fine $1.000 Spitting - You ll be fine $ You ll be fine $. - You ll be fine $ Singapore is FINE CITY Di sini ada plesetan kata Fine, yang dalam bahasa Inggris kata fine bisa berarti sangat baik atau in dah, tapi bisa juga berarti denda. Bia sanya kata-kata lucu yang di-pleset-kan dalam kaos mengandung ke benaran. Memang benar Singapura ada lah kota yang indah dan bersih. Ke bersihan dan keteraturan kita jum pai di segenap penjuru negeri. Di Si ngapura biasanya kita dapat menjum pai orang Indonesia yang biasa nye robot antrian, mendadak sontak ber ubah menjadi tertib. Apa pengaruh dari suatu budaya? Kembali ke cerita perilaku turis In donesia saat berada di Singapura. Be gitu kuatnya budaya bersih dan ter atur di Singapura, sehingga turis yang datang akan menyesuaikan di ri, mengikuti budaya tersebut. Sebaliknya, kadang kita heran melihat tu ris asing yang sudah biasa tertib di negaranya, di Indonesia bisa membuang sampah sembarangan. Me- EUANGELION

72 ngapa sampai terjadi demikian? Jujur ki ta akui kebersihan dan ketertiban be lum menjadi budaya di negara ki ta tercinta ini. Oleh karena belum men jadi budaya, maka undang-undang, aturan dan budget negara, ti dak diarahkan untuk terciptanya kebersihan. Baru belakangan ada aturan den da pada orang yang membuang sam pah sembarangan. Akan tetapi, ka lau kita amati aturan tersebut se olah-olah tidak ada taringnya. Me ngapa demikian? Karena ke bersih an dan ketertiban belum menjadi bu daya, maka belum ada keseriusan da ri kalangan pelaksana untuk mene rapkan aturan tersebut, dan dari ka langan pemimpin belum ada keteladanan dalam menjalankan peraturan tersebut. Lain di bibir lain di hati, aturan su dah dibuat tapi saat membuat bu jet, program kebersihan tidak men dapatkan jatah uang yang mendukung terlaksananya program tersebut. Tidak adanya tong sampah dan tidak adanya petugas kebersihan yang rutin membersihkan, membuat be berapa tempat dijadikan gundukan bu a ngan sampah atau bahkan sampah berceceran sepanjang jalan. Dari budaya lahirlah Visi dan Misi. Dari Visi lahirlah suatu ren ca na dan dari suatu rencana lahirlah action plan. Jadi, budaya akan sa ngat mempengaruhi kemana larinya sumber daya yang kita miliki. Budaya akan me nentukan prioritas penggunaan uang, waktu dan tenaga yang Anda miliki. Apa fungsi atau peran dari suatu bu daya? Budaya akan menentukan batasba tas perilaku, dalam arti menentukan apa yang benar dan yang salah. Ia akan ber fungsi sebagai alat pengendali un tuk mengontrol perilaku para karyawan di dalam lingkungan kerja. Bu daya perusahaan juga berfungsi se bagai penentu arah, mana yang bo leh dilakukan dan mana yang tidak. Dari sana, budaya perusahaan akan menentukan identitas dan ci tra sebuah perusahaan di mata ma syarakat. Bila citra perusahaan baik, ia akan membuat bangga karya wan, sehingga menambahkan ra sa kepemilikan dan menaikkan lo yalitas. Bila karyawan loyal, maka akan lebih mudah menumbuhkan ko mitmen bahwa kepentingan bersama adalah di atas kepentingan individual. De ngan adanya komitmen, semua la pis an akan terdorong untuk mening katkan kinerja, baik itu untuk jang ka pendek atau jangka panjang. Bisakah budaya dibentuk dan diubah? Jawaban singkatnya adalah bisa ta pi tidak mudah. Sekali lagi kembali ke cerita di atas, coba bayangkan bi la Anda adalah pribadi yang bersih dan teratur, suatu saat Anda berjalan di jalan yang bertebaran sampah dan tidak menjumpai tong sampah, padahal sudah 30 menit Anda berjalan sam bil menenteng sampah. Sampai be rapa lama Anda mampu bertahan un tuk tidak ikutan membuang sam- 72 EUANGELION 173

73 pah di jalan tersebut? Dan bayangkan bi la Anda terus menerus di tempatkan da lam situasi seperti itu, setahun, dua ta hun, tiga tahun..., maka hanya ada dua kemungkinan yang bakal terjadi, An da berubah jadi jorok atau Anda ter gerak menjadi seorang change agent, membawa perubahan di lokasi itu. Misalkan, demi perubahan, An da mau merogoh kocek pribadi mem belikan beberapa tong sampah dan menggaji 2-3 orang petugas kebersihan untuk rutin setiap jam berkeliling membersihkan jalan. Setelah 3 bulan, 6 bulan, setahun, lokasi terse but pasti akan menjadi bersih. Tantangannya, saat budaya di lokasi tersebut mulai berubah setelah An da berkorban selama setahun, dan ada pendatang-pendatang baru de ngan budaya jorok yang melewati ja lan tersebut, ada kemungkinan me reka membuang sampah sem bara ngan. Pertanyaannya, apakah Anda mam pu bertahan tetap menjalankan per baikan atau Anda menyerah dan lo kasi tersebut kembali lagi menjadi jorok? Probabilitas keberhasilan Anda se bagai seorang change agent akan meningkat apabila saat Anda berjuang ada orang-orang lain yang men dukung. Bisa berupa dukungan mo ril maupun materil. Mungkin boss Anda memberikan sumbangan dana, mungkin pemilik gedung be sar di jalan tersebut menggaji pe tugas kebersihan dan teman Anda membuat kan poster. Sebaliknya, saat Anda sudah ber kor ban mengeluarkan biaya yang be sar, tapi rekan di sekitar Anda be ramai-ramai mem-bully Anda, bi sa jadi Anda berpikir gua gila, apa? kemudian Anda memutuskan se cepatnya cabut dari lingkungan ter sebut, pindah ke lingkungan yang se suai dengan budaya Anda. Maka ten tunya lingkungan itu akan sama, ti dak terjadi perubahan apa pun. Dalam kenyataan, apa yang kita perjuangkan lebih dari sekedar ma salah kebersihan. Bisa Anda bayangkan, kalau untuk menciptakan bu daya bersih saja sedemikian sulitnya, maka sekeras apa usaha yang ha rus dikerahkan dan komitmen ma cam apa yang harus dimiliki untuk men ciptakan budaya bebas korupsi. Ta pi jangan putus asa dan buru-buru berpikir, sudahlah siapa saya, sa ya dilahirkan hanya untuk ikut arus saja. Jangan pernah berpikir de mikian, Anda diciptakan untuk men jadi garam dan terang dunia. Ti dak perlu berpikir terlalu muluk-muluk, lakukan saja hal-hal kecil se cara benar. Belajarlah komunikasi agar Anda dapat mempersuasi dan mempengaruhi orang lain melalui ucapan An da dan membuat orang tergerak me lalui keteladanan Anda. Dari situ lah Anda dapat memulai suatu ge rakan untuk menciptakan suatu bu daya yang baik bagi lingkungan di mana Tuhan menempatkan Anda. Jika Tuhan tempatkan Anda se bagai seorang pemimpin, maka An da memiliki kesempatan sekaligus tang gung jawab yang besar atas budaya perusahaan yang Anda pimpin, atau budaya Gereja yang Anda gembalakan. W. Kirana Psikolog Industri Organisasi EUANGELION

74 Kebudayaan Visual Kelas Menengah: Representasi Kebahagiaan dan Rasa Dicintai 2 Korintus 3: 2-3 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. II Korintus 3:2-3 Peningkatan taraf hidup dan per baikan ekonomi zaman ini telah me nyebabkan meningkatnya jumlah ke las menengah, terutama kelas me nengah yang hidup di wilayah urban. Da ta tahun 2018 menunjukkan bah wa pe ningkatan tersebut ada di kisaran 30% dan diramalkan di ta hun 2023 jumlah tersebut akan me ningkat hingga 49,2%. Hasil ri set dari Euromonitor International (global market research company) yang di publikasikan pada seasia.co memper lihatkan bahwa Indonesia memiliki jum lah kelas menengah yang paling be sar di wilayah Asia Tenggara. Tidak ha nya memiliki jumlah yang besar, ke las menengah ini didominasi oleh generasi millenial. Eksistensi kelas mengah ini terlihat dari karakteristik mereka yang memiliki uang, konsumtif, ser ta menekankan gaya hidup serta pe - ng alaman hidup. Pengeluaran seha ri-ha ri cenderung diperuntukkan atau dihabiskan untuk mencapai pe ngalaman-pengalaman hidup yang belum pernah mereka ala mi sebelumnya. Pengalaman-penga laman ini pun seakan mendapat du kungan dari perkembangan masif tek nologi informasi melalui penetrasi te lepon pintar yang memungkinkan ke las menengah tersebut dapat meng aktualisasi diri mereka. Seperti kita ketahui, salah satu ke unggulan dari telepon pintar adalah dapat merekam gambar dalam ben tuk foto dan video. Selain itu, per saingan antar brand telepon pintar makin semarak di pasar global, yang meliputi persaingan harga dan ke unggulan kualitas kameranya. Fitur ini pun kemudian dimanfaatkan oleh kelas menengah sebagai salah sa tu pendukung dari kecenderungan ak tualisasi diri melalui produk-produk bu daya massa yang bisa mereka akses. Produk-produk tersebut ti dak hanya dikonsumsi tapi juga di vi sua lisasikan. Perilaku konsumsi ini pada praktik nya kemudian mengubah makna pe rilaku konsumsi tradisional. Jika du lu kita mengonsumsi makanan ka rena adanya kebutuhan gizi atau nu trisi, sekarang lebih dari sekedar 74 EUANGELION 173

75 itu. Perilaku makan telah menjadi ga ya hidup. Sekarang bukan lagi persoalan orang mau makan apa, tapi orang mau makan di mana (mereka yang sedang kasmaran mungkin akan menambahkan makan dengan sia pa). Minum kopi pun demikian. Ko pi tidak lagi diminum seperti ki ta biasa meminum kopi, tapi ada banyak hal yang direpresentasikan da ri perilaku tersebut, seperti jenis ko pi yang diminum, penyajiannya, tempat minumnya, harganya, brand-nya. Un tuk urusan jalan-jalan, tempat yang dikunjungi ketika liburan pun merupakan sebuah nilai yang dijadikan pembeda dengan orang lain. Bentuk-bentuk aktualisasi di ri yang disebutkan di atas pada akhirnya divisualisasikan melalui media so sial. Meskipun hampir semua platform media sosial menyediakan fi tur yang dapat menampilkan foto penggunanya, namun instagramlah yang pa ling banyak dipilih sebagai wadah un tuk memvisualisasikan gaya hidup. Pa da tahun 2018, data pengguna in stagram di Indonesia tercatat 45 ju ta lebih, dan jumlah ini adalah yang terbesar di wilayah Asia Pasifik. Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa pengguna telepon di Indonesia sangat produktif memproduksi konten. Se cara ekonomi global tentu saja ini menguntungkan karena tren ini ju ga ikut mempengaruhi terciptanya kreativitas serta lapangan kerja baru. Namun penggunaan platform in stagram sebagai media sosial ten tunya dimaknai berbeda oleh se tiap pengguna. Tren saat ini, insta gram dimanfaatkan sebagai tempat mengaktualisasi diri, sebagai pe nunjang representasi gambar di ri untuk tetap terlihat bahagia dengan segala hal materiil yang bi sa diakses. Dalam konteks dunia virtual, para pengguna media sosial me miliki kehendak bebas untuk mere presentasikan identitas mereka. Orang dari kelas menengah seakanakan berasal dari kelas atas, orang bia sa bisa menjadi figur publik. Secara se derhana, contoh nyata ini banyak di perlihatkan di media sosial, mulai da ri pakaian, makanan, tempattem pat liburan, barang-barang yang di miliki seperti buku baru, kamera ba ru, jam tangan baru, sepatu, dan sebagainya. Bagi para pengguna platform in stagram secara khusus, mereka ber usaha untuk menampilkan semua ke bahagiaan materiil agar terkesan bah wa hidup mereka bahagia, punya uang dan bisa selalu terlihat berkelas, dan yang paling utama, bisa diterima di lingkungan-lingkungan sosial tempat mereka berinteraksi. All we need is love Ketika memproduksi sebuah konten yang akan diunggah ke dalam akun instagram, konten tersebut akan di-framing. Proses framing ini ten tunya meliputi komposisi dan estetika foto seperti cahaya, warna dan ele men-elemen pendukung lainnya se hingga foto yang diproduksi itu da pat menyentuh sisi emosional pa ra pengguna lain yang melihat kon ten tersebut. Perasaan yang EUANGELION

76 tim bul pun bisa beragam, mulai dari ra sa senang, sedih, lucu hingga rasa iri. Campuran rasa tersebut akan meng giring pengguna lain untuk bisa memproduksi konten yang sama de ngan tujuan yang sama pula, yaitu me raih simpati pengguna lain. Simpati yang didapat dari penggu na lain akan diwujudkan melalui tanda like/love. Makanya jumlah like/ love dan follower dinilai penting dan se cara tidak sadar menjadi tolok ukur atau bahkan sebagai sumber keba hagiaan. Sama seperti yang dikemukakan oleh Adam Alter, seorang pro fesor dari New York University dan penulis buku Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keep Us Hooked, bah wa perasaan senang yang kita da pat ketika kita menerima like/love pada media sosial disebabkan oleh produksi hormon dopamine, hormon yang diasosiasikan dengan rasa se nang. Melalui instagram kita akan me representasikan hal terbaik dari di ri kita, artinya ketika kita tiap kali me lihat beranda instagram orang lain, kita tentunya akan melihat as pek terbaik dari diri mereka yang mereka aktualisasikan dan di saat yang bersamaan kita akan langsung memban dingkan diri kita dengan mereka. Representasi kelas Hiruk pikuk para pengguna internet dengan segala usaha un tuk memproduksi konten serta ban jirnya konten di instagram yang berhubungan dengan materi sempat men jadi bahan olok-olokan para peng guna platform lain, seperti twitter. Bahkan hingga saat ini olok-olokan tersebut tetap mengemuka hampir di setiap tweet. Misalnya sebutan sobat miskin (yang biasanya ditulis sobat misqueen atau dibalik menjadi ka ta kismin), atau pernyataan anak twit ter can t relate. Entah dimulai sejak kapan, tapi hu mor satir ini memperlihatkan bah wa perilaku aktualisasi diri di in stagram mengakibatkan sebuah ge sekan dalam masyarakat. Apalagi se lebriti tanah air ikut serta dalam kon testasi pembelanjaan tas dengan brand tertentu. Dalam trilogi Crazy Rich Asians karya penulis Kevin Kwan, kumpulan orang kaya menjuluki kelas menengah dengan sebutan H.E.N.R.Y (High Earn Not Rich Yet), mereka yang berpenghasilan tinggi namun be lum bisa disebut kaya. Di buku ini, julukan HENRY pun sebenarnya adalah sebuah ejekan dari kelas atas pa da kelas menengah yang ingin ber gaya dengan usaha keras untuk bisa membe li barang-barang mewah tapi tetap sa ja tidak dapat meraih atau bahkan me nyamai posisi kelas atas. Ironisnya, anggapan ekstrim yang dikemukakan secara satir ini me nyebutkan bahwa tidak sedikit pa ra pekerja yang ada dalam kelas me nengah disebut sebagai kelas me nengah ngehek. Kategori kelas me nengah ngehek ini didefinisikan se bagai mereka yang bekerja malasma lasan namun selalu berharap akan ke naikan gaji, tidak produktif tapi ber harap adanya peningkatan secara ekonomi. 76 EUANGELION 173

77 Surat Terbuka Tentunya dengan fenomena ini li terasi digital sangat diperlukan. Ke mampuan literasi digital ini tidak ha nya terletak pada keterampilan un tuk memproduksi konten positif, ta pi juga kecerdasaan secara emosio nal dalam menyaring konten apa yang bermanfaat dan yang bisa dijadikan sebagai pendukung untuk meng hasilkan perilaku-perilaku yang mem bawa dampak positif dalam masyarakat. Tidak mudah menampilkan hal po si tif di era ini. Pro dan kontra tetap ada. Bah kan untuk melakukan kebaikan me lalui media sosial pun kerap kali men dapat komentar negatif dari para peng guna lain. Bukan perkara yang mu dah pula untuk mengekspresikan pe rasaan dan pikiran melalui media so sial. Ada sejuta persepsi yang mun cul di ruang-ruang interaksi du nia virtual. Budayawan Sujiwo Te jo bahkan pernah berpendapat se perti ini: Lama-lama orang males ro man tis karena entar disebut galau, ma les peduli karena takut disebut ke po, males mendetail karena takut di bilang rempong, males mengubahubah point of view dalam debat ka rena takut dibilang labil, juga lamala ma generasi mendatang males ber pendapat karena takut dibilang curhat. Sama seperti yang ditulis oleh Pau lus, kehidupan kita sebagai anak Tu han seperti sebuah surat yang terbu ka dan dapat dibaca oleh semua orang. Apapun yang kita lakukan akan terlihat, tidak hanya didunia offline tapi juga di dunia online. Aktualisasi diri ki ta tentunya akan berdampak pada ling kungan sosial, terutama interaksi de ngan orang-orang di sekitar kita. Da lam perspektif ini, kita sebagai peng guna media sosial bukan hanya se bagai produsen yang membuat kon ten bagi para pengguna lain, tapi se kaligus kita adalah konsumen dari kon ten-konten yang diciptakan oleh peng guna lain tersebut. Hal yang perlu kita cermati se bagai orang Kristen adalah konten media sosial seperti apa yang akan ki ta produksi yang tentunya dapat memper lihatkan gambar diri kita sebagai pe ngikut Kristus serta bagaimana ca ra kita merespon konten yang diproduksi oleh pengguna lain. Dalam hal ini tentunya kedewasaan rohani per lu ditingkatkan sembari kita belajar ser ta meningkatkan pengetahuan me ngenai literasi digital. Kita pun per lu bertanya apakah aktualisasi diri ki ta adalah benar merepresentasikan ca ra hidup sebagai anak-anak Tuhan. Wilton Djaya EUANGELION

78 MEDITASI Re nungan-renungan di bawah ini adalah bahan untuk PERSE KUTUAN KELUARGA SE MING GU SEKALI. Bahan diambil dari The One Year Book of Devotions for Women. MINGGU KE-1 AGUSTUS 2019 TURUNLAH DARI SOTOH BACAAN ALKITAB: II Samuel 11:1-13 Alkitab memberitahukan kita bahwa do sa dimulai dari dalam hati kita, dan dosa perzinahan dimulai dari mata. Alkitab juga memberikan kita contoh orang-orang yang membiarkan dirinya jatuh ke dalam dosa perzinahan, Sa lah satunya adalah Raja Daud, raja orang Is rael, pahlawan perang yang agung, penulis maz mur yang hebat, orang yang berkenan di ha ti Allah (Kis 13:22). Tetapi, bahkan Daud se kalipun sangat rawan dalam hal ini. Suatu ketika, raja Daud, yang pada wak tu itu telah mencapai usia paruh baya, membiar kan dirinya bermalas-malasan sementara anak buahnya berjuang di medan perang. Ti daklah heran kalau dia suatu ketika tidak se ngaja kedapatan berdiri di atas sotoh is tana nya memperhatikan Batsyeba, istri Uria, man di. Ketika Daud melihat istri Uria yang can tik itu mandi, ia telah jatuh ke dalam dosa per zinahan. Jauh sebelum ia mengambil Batsye ba ke tempat tidurnya, dosa perzinahan te lah dilakukannya. Dimulai dari mata, turun ke ha ti, menguasai emosi serta hasratnya, lalu ber gerak ke bagian tubuhnya yang lain. Dosa perzinahan dimulai dengan pan da ngan pertama, yang seringkali membawa ke ka li kedua, ketiga keempat, dan seterusnya. Ki ta harus menjauihkan diri dari pencobaan. Ki ta harus menolak tinggal dalam situasi yang dapat menyebabkan kita berdosa. Mekipun Al lah menjanjikan akan memberikan kita ke kuatan untuk bertahan di dalam pencobaan (I Kor 10:13), kita haruslah sedapat mungkin menjauh kan diri dari dosa. Kita harus melakukan apa yang seharusnya Daud kerjakan segera tu run dari sotoh begitu ia melihat pemandangan yang tak layak dilihat!! AYAT MAS: Sekali peristiwa pada waktu pe tang, ketika Daud bangun dari tempat pemba ringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh is tana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu se orang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. II Samuel 11:1-13 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Jika kita perhatikan dengan seksama kisah di atas, kita dapat mena rik kesimpulan bahwa dosa yang dilakukan Daud dimulai dengan kemalasannya. Ia tidak memakai wak tunya dengan melakukan hal-hal yang berguna, sebaliknya, ia berjalan-jalan tanpa tujuan. Budaya ma las memang menjadi budaya yang banyak menggandrungi manusia, membawa mereka ke dalam ba nyak petaka. Kemalasan dapat membawa orang ke dalam banyak tindak kriminal dan tindakan yang ti dak terpuji lainnya. Menjual narkoba dan mencuri bukanlah pekerjaan yang menguras keringat tetapi mem bawa keuntungan besar (kalau tak tertangkap!) dalam sekejap. Karena malas sekolah, siswa mengha biskan waktu di tempat bermain game, baik itu warnet, tempat main bilyar, atau sekedar iseng berjudi di pinggir jalan. Kemalasan membawa kebangkrutan kepada suatu usaha yang dapat merembet ke kehan curan rumahtangga. Kemalasan menambah banyak orang pengangguran, pengemis, gelandangan, yang menjadi beban negara. Amsal mengajarkan kita untuk belajar rajin dari semut (Ams 30:25) dan IITesalonika 3:10 mengatakan bahwa jika kita tidak mau bekerja, janganlah kita makan. KEMALASAN DAPAT MEMBAWA KITA KE DALAM PETAKA BESAR 78 EUANGELION 173

79 MINGGU KE-2 AGUSTUS 2019 PAGUTAN ULAR BACAAN ALKITAB: Bilangan 21:4-9 Menghadapi keluhan dan gerutuan orang da pat sangat melelahkan kita. Musa dan Harus te rus-menerus harus menghadapi orang-orang yang merasa tidak puas. Umat Israel menjadi ti dak sabar dengan para pemimpin mereka dan ja lan kemanatuhan membawa mereka pergi. Me reka baru saja mendapatkan kemenangan da lam peperangan besar (Bil 21:3), dan merasa di ri besar. Mereka melawan Allah, menolak Mu sa dan mengeluh mengenai manna, roti dari sur ga, katanya: Dan akan makanan hambar ini ka mi telah muak (Bil 21:5). Dengan menolak ma kanan yang Allah berikan, mereka menolak ke murahan Tuhan dalam menyediakan segala apa yang mereka perlukan (Yoh 6:32-35, 48-51, 58). Karena itu Allah mengirimkan ularular berbisa ke tengah mereka, dan banyak da ri antara mereka yang mati (Bil 21:6). Al lah menghukum sikap mereka yang suka me ngeluh, namun juga menyediakan jalan ke luarnya. Pengobatan yang Allah sediakan me rupakan ular perunggu yang digantungkan di atas tiang. Siapa yang memandang ular terse but akan hidup (Bil 21:8-9). Sangatlah mudah untuk mengeluh dan meng gerutu. Itu adalah sikap yang salah. Alkitab melarang kita menggerutu. Paulus mempe ringatkan orang-orang di Korintus untuk tidak men cobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh be berapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular (I Kor 10:9). Kita haruslah men jauhkan diri dari bersungut-sungut dan ber bantah-bantahan (Fil 2:4). Begitu kita telah menerima hidup kekal, ki ta mulai lagi bersungut-sungut. Bersungutsu ngut tidaklah mempunyai tempat di dalam hi dup orang-orang percaya. Bersungut-sungut me rupakan suatu kebiasaan yang dapat meng hancurkan diri sendiri. Kita harus behenti me ngeluh mengenai suami/istri, anak-anak, gereja, atau teman-teman kita. Hidup akan te rasa seperti padang pasir yang gersang, dan ki ta akan kepanasan dan kelelahan dan me nginginkan tempat baru untuk hidup dan be kerja. Berhati-hatilah akan sungut-sungut me ngenai apapun atau siapapun, karena itu se perti pagutan ular berbisa! AYAT MAS: Kemudian datanglah bangsa itu men dapatkan Musa dan berkata: Kami telah ber dosa, sebab kami berkata-kata melawan TU HAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, su paya dijauhkannya ular-ular ini dari pada ka mi. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Bilangan 21:7 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Bersungut-sungut merupakan budaya manusia lainnya yang lahir da ri rasa ketidakpuasan mereka. Kita tidak puas akan nasib kita, pekerjaan, honor, perilaku orang lain ter hadap kita, rupa kita, dan lain sebagainya. Orang menjalankan operasi plastik karena mereka tidak puas akan rupa yang Tuhan berikan kepada mereka. Ada orang yang banting tulang siang malam bukan ka rena hidup kekurangan, tetapi karena tidak puas dengan pencapaian mereka, baik itu hasil karya, maupun uang yang mereka dapatkan. Orang memaksa anak les segala mata pelajaran agar anak mereka men jadi super. Memang itu tidak salah, namun berlebihan. APA YANG ALLAH SEDIAKAN BAGI KITA, CUKUP ADANYA EUANGELION

80 MINGGU KE-3 AGUSTUS 2019 APA YANG MEREKA KATAKAN? BACAAN ALKITAB: Yohanes 4:27 Jika kita merenungkan kisah tentang per cakapan wanita Samaria dan Yesus di tepi pe rigi, kita akan menyadari betapa banyaknya orang Kristen yang menjalani hidup kekristenan yang pincang karena apa yang orang lain mung kin katakan. Orang lain itu dapat suami/ is tri, anak, menantu, tante, oom, opa, oma, te man-teman, rekan kerja, tetangga, bahkan orang-orang di gereja atau di persekutuan, atau ju ga di perkumpulan yang mereka ikuti. Yesus ti dak peduli akan apa yang orang katakan me ngenai percakapan-nya dengan seorang wa nita yang dipandang rendah orang karena Ia s a ngat peduli akan wanita tersebut. Untuk misi yang demikianlah Ia telah merendahkan Diri- Nya, dan kitapun harus menyontoh hidup-nya. Ye sus berkata: Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu (Yoh 20:21). Suatu kali, Jill Briscoe, penulis buku renu ngan yang sedang kita bahas ini, bertemu de ngan seorang anak jalanan yang sangar. Se telah pemuda itu menjadi seorang Kristen, ia me minta Jill pergi bersamanya kepada temante mannya. Dimana mereka? tanya Jill. Di bar, jawabnya. Oh, saya tidak dapat pergi ke sana, Jill men jawab dengan cepat. Nanti orang-orang akan mengatai saya yang bukan-bukan. Ia takut saat ia masuk ke tempat tersebut, ke betulan ada orang yang mengenalnya me lihatnya. Apa yang akan mereka katakan, ter lebih lagi ia adalah seorang aktivis gereja. Yesus tidak membuat diri-nya orang yang be reputasi, Allah mengingatkannya. Pergilah dan kerjakan apa yang Yesus lakukan. Maka Jill pergi bersama ex-anak jalanan tersebut ka rena ia ingin berusaha lebih peduli akan pe rintah Allah daripada apa yang mungkin orang-orang katakan mengenai dirinya. AYAT MAS: Pada waktu itu datanglah muridmuridnya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia? Yohanes 4:27 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Budaya bergosip adalah dosa kita lainnya, terutama kaum wanita. Pro gram televisi apakah yang paling digandrungi para emak-emak? Gosip selebriti, bukan? Begitu para wa nita berkumpul, mereka dapat bergosip selama berjam-jam, dari membicarakan orang lain sampai mem bicarakan orang di rumah. Rasanya tidak ada akhirnya. Seru, lagi! Mereka tidak sadar bahaya besar di balik gosip mereka. Bisa-bisa mereka diciduk yang berwajib karena gosip mereka. Demikian juga de ngan anak-anak Tuhan. Gosip dapat menjadi salah satu penghalang yang merintangi mereka untuk men capai jiwa-jiwa yang membutuhkan keselamatn Allah. Kita enggan berteman dengan orang yang be reputasi buruk karena takut digosipkan orang di belakang kita, padahal mereka sangat membutuhkan ka sih serta perhatian kita, dan terutama Injil yang dapat kita sampaikan. GOSIP DAPAT MENJADI BATU BESAR YANG MENGHALANGI JALAN KESELAMATAN 80 EUANGELION 173

81 MINGGU KE-4 AGUSTUS 2019 GAMBARAN ROHANI DIRI BACAAN ALKITAB: II Korintus 10:10 Rasul Paulus mendengar orang membi carakan tentang dirinya di gereja Korintus. Ti daklah enak jika kita dikritik dengan negatif. Itu dapat membuat kita merasa buruk tentang di ri kita sendiri. Paulus di dalam perikop ini me nunjukkan kita bagaimana membiarkan Al lah mengangkat diri kita saat orang lain menjatuhkan kita. Rasul Paulus menyadari bahwa ia sedang di evaluasi oleh orang-orang yang sekedar mem bandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain. Setiap kita mempunyai wilayah pe la yanan sendiri yang ditentukan oleh batasba tas yang ditetapkan Allah (II Kor 10:13). Ma sing-masing ditempatkan Allah dan diberi ta lenta di wilayahnya masing-masing. Paulus ti dak takut dibandingkan dengan orang lain. Dia ha nya ingin diyakinkan bahwa ia cocok dengan ren cana Allah. Paulus menilai dirinya sendiri ber dasarkan pujian Allah. Dia mungkin bukan se orang pembicara terlatih, tetapi ia tahu apa yang sedang dibicarakannya. Keinginan Paulus ha nyalah mengajarkan kebenaran dengan se gala cara yang mungkin. Rencananya tidak da pat dicegah oleh penilaiasn apakah yang di kerjakannya itu lebih baik atau lebih buruk da ripada orang lain, dan kita pun haruslah demi kian. Kita perlu berpegang pada hal-hal yang da pat kita lakukan dengan sangat baik dan be lajar untuk hidup dengan hal-hal yang kita ku rang baik mengerjakannya karena kita kurang bertalenta di wilayah itu. Janganlah kita biar kan penilaian orang lain akan personalitas, ta lenta, atau pelayanan kita mempengaruhi ke hidupan kita secara berlebihan. Talenta, pang gilan dan batas-batas personalitasdi kita di tentukan hanya oleh Allah. Orang percaya ha rus merasa bahagia dengan batas-batas yang Allah berikan dan sukacita di dalam menja laninya. Gambaran rohani diri yang sehat mem berikan kita kebebasan untuk bekerja bagi Kris tus, apapun yang dikatakan orang tentang ki ta! AYAT MAS: Sebab, kata orang, surat-surat nya memang tegas dan keras, tetapi bi la berhadapan muka sikapnya lemah dan per kata an-perkataannya tidak berarti. II Korintus 10:10 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Budaya buruk lainnya dalam hidup manusia adalah budaya mengeritik orang. Budaya ini biasanya lahir dari keirihatian manusia. Seseorang akan mengeritik karya lukis seorang pe lukis jika dirinya sendiri bisa melukis, namun tidak seindah sang pelukis. (Ini berbeda dengan seorang kri tikus yang memang kerjanya menilai, bukan mengeritik, hasil karya seseorang berdasarkan keahlian yang ia miliki). Adalah biasa bagi kaum hawa untuk mengeritik kecantikan seseorang ataupun apa yang di pakainya karena mereka iri tidak secantik orang itu dan tidak memiliki apa yang orang itu pakai.kritikan da pat membangun tetapi dapat pula menjatuhkan seseorang. Jika kritikannya itu benar, dan didengar oleh orang yang dikeritik, maka si orang yang dikeritik itu dapat membangun dirinya menjadi lebih baik. Se baliknya, jika kritikannya itu tidak benar, itu dapat mengecilkan hati orang yang dikeritik, bahkan mungkin ju ga mematikan semangatnya. Karena itulah Paulus menasihatkan kita untuk mengharapkan pujian dari Al lah dan bukan pujian dari manusia dalam pelayanan kita. KRITIKAN DAPAT MENJADI PEDANG BERMATA DUA ATAU BALSAM YANG MENGHANGATKAN EUANGELION

82 MINGGU KE-1 SEPTEMBER 2019 BUAH ANGGUR YANG ASAM BACAAN ALKITAB: Yesaya 5:1-7 Di dalam puisi ini Israel digambarkan se bagai kebun anggur, suatu metafora yang se ring digunakan oleh para nabi. Nyanyian ini me ngingatkan umat Allah akan kasih dan berkat yang dicurahkan Allah atas mereka. Umat Israel mendapatkan tempat yang menguntungkan di lereng bukit yang subur (Yes 5:1) dan menara pengawas untuk melindungi me reka. Meskipun Allah telah memeliharanya de ngan hati-hati, kebun anggur itu hanya meng hasilkan buah-buah anggur yang asam. Apalagi yang harus Aku lakukan? seru Allah Ye hova. Hidup kita pun seperti kebun anggur. Allah me magari kehidupan orang-orang percaya. Ki ta hidup di lereng bukit yang paling subur. Le bih dari itu, kita diberikan Roh Kudus untuk me lindungki kita seperti menara jaga di kebun ang gur. Allah memelihara kita dengan telaten. Ka rena itu, Dia berhak mengharapkan buahbuah yang manis dari hidup kita. Mengapa kita seringkali mengeluarkan buah-buah yang asam? Apakah kita memiliki semangat yang kecut? Mungkin kita telah dikecutkan oleh teman yang ingkar janji. Mungkin seseorang yang me nurut kita tidak sebaik kita pekerjaannya, di pro mo sikan pada jabatan di atas kita. Mungkin banyak hal terjadi di dalam hidup kita yang membuat ki ta merasa berhak untuk merasa kecut. Tetapi pen dapat kita mungkin saja salah. Mengapa Sang Tukang Kebun datang ke da lam hidup kita? Ia datang untuk memangkas hi dup kita agar berbuah lebat secara rohani. Ke tika Tuhan bertanya Mengapa yang ada ang gur-anggur asam?, kita mungkin tidak da pat menjawabnya. Karena itu, biarkanlan Al lah memangkas apa yang harus ia pangkas da ri hidup kita agar karakter kita dapat menjadi ma nis demi Dia. AYAT MAS: Apakah lagi yang harus diperbuat un tuk kebun anggurku itu, yang belum Ku perbuat kepadanya? Aku menanti supaya di ha silkan nya buah anggur yang baik, mengapa yang di hasilkannya hanya buah anggur yang asam? Yesaya 5:4 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Bila kita simak perikop ini, kita dapat melihat bahwa anak-anak Tu han hidupnya seringkali tidak dapat menjadi garam dan terang dunia karena mereka banyak mem biarkan kekecutan di dalam hidup mereka merasuki mereka meskipun mereka tahu janji Tuhan bah wa ia akan melindungi serta memelihara mereka setiap saat. Mereka tidak mempunyai se mangat juang, mudah patah semangat karena rintangan yang kecil sekalipun. Budaya menyerah ka lah atau lebih te patnya picik hati membuat mereka tidak dapat berkembang, malah menjadi batu san dungan bagi orang lain. Bagaimana mereka dapat menyaksikan Kristus dalam hidup mereka ji ka mereka selalu me rasa kalah sebelum berperang? Anak Tuhan yang sejati, meskipun didera oleh penyakit yang me matikan, atau oleh kemiskinan yang tak kunjung berakhir, tidak akan menjadi ke cut, malahan de ngan ketidakberuntungan nya mereka memberikan kekuatan kepada orang-orang yang senasib de ngan mereka. KECUT HATI MENGHALANGI KITA BERBUAH BAGI TUHAN 82 EUANGELION 173

83 MINGGU KE-2 SEPTEMBER 2019 KEPEMILIKAN BACAAN ALKITAB: Efesus 2:16 Jika tembok perseteruan telah dihancurkan oleh kematian Kristus (Ef 2:13-14), mengapa ma sih saja banyak anak-anak Allah di ge re ja menghadapi tembok batu di dalam per se ku tuan mereka? Mengapa tembok itu masih me misahkan warna kulit, kaya dan miskin, status so sial? Itu dikarenakan orang-orang Kristen be lum diajarkan bahwa dasar dari persatuan me reka adalah kepemilikan. Kesatuan dimulai ketika teologi kita benar. Ji ka tembok perseteruan itu telah dihancurkan te tapi nyatanya masih saja ada, itu dikarenakan ada yang membangunnya kembali! Apakah arti nya sebuah tembok? Itu adalah penghalang yang memisahkan kita dari orang lain. Kita dapat merasakannya di antara anak-anak Tuhan di gereja meskipun tembok itu tak kasat mata. Ki ta dapat melihat kelompok-kelompok orang yang berbeda di dalam iman dan kepribadian. Na mun persatuan kita berada di dalam ke pemilikan. Karena melalui Dia kita semua memper oleh jalan menuju Bapa melalui satu Roh. Ia me lihat kita semua berlutut berdoa di samping tem pat tidur kita di malam hari! Kita tidak boleh menjadi pembangun tembok. Kita harus meletakkan sekop kita dan meng gunakan tangan kita untuk mencapai sau dara-saudara kita di dalam kasih. Kita harus ber tindak seolah-olah tembok penghalang itu tidak ada. Kita harus berjalan menembusnya dan berbaurlah dengan mereka serta bersikap manis lah terhadap mereka. Kita harus berusaha se dapat mungkin meyakinkan mereka bahwa ki ta percaya kita semua adalah satu, milik Allah. AYAT MAS: Dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Efesus 2:16 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Budaya memisahkan diri dari yang tidak sama dengan ki ta bukan hanya terjadi di kalangan orang dunia, tetapi juga di antara anak-anak Tuhan. Itulah se babnya tidak sedikit orang yang mundur atau berhenti pergi ke gereja karena mereka merasa di ri mereka tidak diterima di sana oleh sebab keberbedaan yang mereka miliki. Keberbedaan itu mung kin ras/suku bangsa, bahasa, tingkat ekonomi, status sosial, derajat intelektual, dan yang lain nya. Itulah sebabnya ada gereja yang dicap sebagai gereja orang kaya karena pengunjungnya sa ling memamerkan kekayaan mereka. Ada juga yang dicap sebagai gereja borjuis karena orang yang datang di dalam kesederhanaannya tidak akan dipandang mata. Ada juga gereja yang disebut ge reja rasial karena mereka melarang ras tertentu untuk datang beribadah ke gereja itu. Itu terjadi ka rena mereka tidak memahami Firman Allah bahwa di dalam Kristus kita adalah satu, tidak ada hal yang dapat membedakan satu sama lain, baik itu warna kulit, kebudayaan, kekayaan, kepintaran, mau pun status sosial. Semua adalah orang berdosa yang memerlukan keselamatan dari Allah. DI DALAM TUBUH KRISTUS TIDAK ADA TEMBOK YANG MENGKOTAK-KOTAKKAN ORANG PERCAYA EUANGELION

84 MINGGU KE-3 SEPTEMBER 2019 PERAN YANG KURANG PENTING BACAAN ALKITAB: Ulangan 6:10-25 Di dalam kitab Ulangan 6:13, Allah dengan je las memerintahkan umat-nya untuk melayani Dia (NIV) atau berbuat bakti (LAI terjemahan la ma). Untuk melayani, orang harus bersedia me langkah keluar dari lampu sorot panggung dan memainkan peran yang kurang penting. Ada pepatah yang mengatakan bahwa me mainkan peran yang kurang penting dengan baik itu lebih berarti dari apa yang dapat di ucapkan lidah. Memainkan peran yang ku rang penting adalah cara terbaik untuk me mulai melayani orang lain. Banyak sekali po sisi yang kurang penting untuk diisi. Asal sa ja kita mau menyingsingkan lengan baju dan mengerjakannya. Jika kita bersedia terlibat di ma na saja kita diperlukan, Tuhan akan dapat me ngerjakan hal-hal besar melalui diri kita. Sama seperti kita tidak dapat mengarahkan mo bil yang tidak bergerak, Tuhan juga tidak da pat mengarahkan orang-orang Kristen yang ti dak mau bergerak. Kita harus mulai pergi ke sua tu tempat dan melakukan sesuatu! Kita mung kin menggerutu: Tetapi saya tidak bisa me ngajar Sekolah Minggu, mengumpulkan barang-barang untuk didonasikan, membereskan ge reja, menjemput orang-orang tua, menghitung uang, mencuci gelas-gelas perjamuan kudus, ber saksi. Mungkin memang tidakbisa, tetapi apa kah kita pernah memikirkan bahwa itu mung kin kehendak-nya bagi kita? Tuhan meng ajarkan penulis buku renungan ini, bahwa ji ka dia mau berhenti merasa cemas untuk me mainkan peran yang penting dan mulai dengan peran yang kurang penting, dan me ngerja kannya dengan baik untuk kemulian Tuhan, ma ka ia akan siap untuk pekerjaan yang telah di siapkan baginya. Semua itu dimulai dengan takut akan Tu han yang meliputi kebencian akan sikap indi vidualistis dan sombong, dan mulai dengan se mangat seorang hamba. Tuhan akan menger jakan hal ini di dalam hidup kita jika kita me mohon pada-nya. Apakah kita bersedia me mainkan peran yang kurang penting di dalam pekerjaan Tuhan? AYAT MAS: Hendaklah kamu takut akan Tuhan, Allahmu, dan berbuat bakti kepadanya, dan bersumpah demi namanya jua! Keluaran 6:13 (LAI terjemahan lama) BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Banyak orang yang tidak mau melayani di gereja bukan kare na ia tidak bisa, tetapi karena merasa enggan. Enggan karena merasa diri tidak akan mampu, se perti mengajar Sekolah Minggu, ikut paduan suara, atau enggan karena merasa pelayanan yang diberikan tidak setaraf dengan dirinya. Membesuk, itu kan pekerjaan orang-orang tua yang pe ngangguran. Penyambutan? Saya bukan orang penting, tidak akan dianggap oleh jemaat yang da tang. Membersihkan gereja? Gereja kan banyak OB! Dan masih banyak alasan-alasan lainnya. In tinya, mereka enggan, atau kasarnya, malas. Budaya enggan ini sungguh akan membuat sese orang yang baru saja dibaptis/sidi atau dikobarkan semangatnya di dalam suatu K K R, menjadi di ngin lagi di dalam semangatnya untuk hidup bagi Tuhan, dan lama-lama ia akan mati dan meng hilang dari gereja. MELAYANI TUHAN DENGAN SUNGGUH AKAN MENGOBARKAN SEMANGAT KITA MELAYANI 84 EUANGELION 173

85 MINGGU KE-4 SEPTEMBER 2019 MODEL PARA MODEL BACAAN ALKITAB: Filipi 3:12-21 Suatu saat, Jill, penulis buku renungan ini di un dang berpidato pada suatu upacara wisu da d a ri sebuah sekolah modeling. Setelah ia mem berikan pidatonya, ia memperhatikan ba gaimana para murid berjalan di panggung un tuk menerima sertifikat kelulusan mereka. Me reka semua berjalan dengan tenang dan pas ti, dengan tubuh dan kepalategak dan ram but tertata rapih, muka yang dimake-up pa da tempatnya. Mereka itu sungguh model da ri para model. Terakhir, guru mereka yang ter kenal berdiri untuk menerima aplaus da ri pa ra muridnya. Pada saat itulah Jill me ngerti me ngapa para murid tersebut bisa mem bawakan diri mereka sedemikian rupa. Mereka sung guh-sungguh duplikat dari guru mereka yang berjalan dengan tenang dan pasti, dengan tu buh dan kepala tegak dan rambut tertata rapih ser ta make-up di muka pada tempatnya! Itulah gambaran dari seorang murid yang me nuruti gurunya. Rasul Paulus mengatakan pa da para orang Kristen baru di gereja Fili pi un tuk melihat bagaimana ia menjalani ke hidup an Kristennya dan meneladani apa yang ia lakukan. Paulus tahu betapa pentingnya ba gi para orang yang baru percaya itu untuk mem punyai model yang dapat mereka tiru. Tetapi ini bukan berarti kita harus dengan bang ga dan sombong memisahkan diri kita da ri orang-orang yang baru percaya, atau ber laku seolah-olah kita itu istimewa. Ingatlah se lalu bahwa bahkan rasul Paulus pun tidak me nganggap dirinya sudah sempurna (Flp 3: 13). Kita hendaknya menjadi model dari suatu per tumbuhan/proses, bukan model dari suatu ke sempurnaan. Itulah kuncinya! Paulus berkata kepada sekelompok orangorang saleh yang memperhatikannya un tuk meng ikuti teladannya dan memperhatikan me reka yang hidup sama seperti dirinya yang men jadi te ladan mereka (Flp3:17). Dapatkah Pau lus me nunjuk kita sebagai model bagi para orang Kris ten baru? Dapatkah kita meminta orang lain un tuk mengikuti teladan kita? AYAT MAS: Saudara-saudara, ikutilah te ladan ku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sa ma seperti kami yang menjadi teladanmu. Filipi 3:17 BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA? Beranikah anda meminta orang lain meneladani anda? Jika an da seorang guru, mungkin anda berani menyuruh murid-murid anda mengikuti apa yang anda ajar kan, bukan meneladani diri anda. Hanya orang yang terbilang sempurna yang layak diteladani. Mak sudnya, sifatnya memenuhi buah-buah roh yang tertulis di dalam Galatia 5:22, 23. Dan nilai ini akan bertambah jika disertai intelektual yang tinggi. Orang yang berani meminta orang lain mene ladani dirinya dapat dipastikan akan dicap sebagai orang yang sombong, bangga akan dirinya sen diri, karena boleh dikatakan tidak ada orang yang sedemikian sempurnanya. Berbeda jika orang lain yang meminta kita meneladani seseorang. JANGANLAH MEMEGAHKAN DIRI, TETAPI BIARLAH TUHAN YANG MEMEGAHKAN DIRI KITA EUANGELION

86 MELESTARIKAN CAGAR BUDAYA Seperti halnya bangsa lain di dunia, bangsa Indonesia telah melewati ma sa sejarah yang sangat panjang. Per jalanan sejarah ini terbukti dari temuan penting berupa cagar bu daya (cultural heritage), situs arkeologi, sejarah (archaeological and historical sites) dan lain-lain. Semuanya tersebar mulai dari ujung pu lau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Su lawesi, Bali, Sumbawa, Sumba, hingga Papua. Dengan penyelidikan arkeologi yang telah dilakukan selama ber tahun-tahun, terbukti Indonesia ada lah salah satu negeri yang sangat ka ya akan cagar budaya yang ber aneka ragam, baik bentuk maupun fung sinya. Berdasarkan analisis kuantitatif dan kualitatif, Cagar Budaya dapat di anggap sebagai sumberdaya arkeo logi (archaeological resources) yang sangat potensial. Dengan ka ta lain, Cagar Budaya merupakan ba - gian yang tidak terpisahkan dari ke - budayaan bangsa Indonesia, se hingga dapat dihitung sebagai wa risan bu daya bangsa yang tidak ter ni lai. Tidak hanya penting bagi disiplin il mu arkeologi, benda cagar budaya ju ga bisa dianalisa untuk disiplin ilmu lain, seperti Antropologi, yang da pat melihat kaitan antara benda ca gar budaya dengan kebudayaan se - karang. Cagar budaya Indonesia adalah bukti atau dokumen sejarah yang me ngandung sejumlah pesan yang pa da suatu saat akan merefleksikan hu bungan bangsa kita dengan lingkungan alam di sekitarnya, dan relasinya dengan kelompok-ke lompok sosial lain. Karena Cagar Budaya bersifat ja mak, maka cagar budaya ini dapat di kaji secara multidisipliner untuk men dapat gambaran yang lebih luas. Se bagai bagian dari kebudayaan bang sa, cagar budaya adalah warisan bu daya bangsa yang mengandung ni lai-nilai sosial-budaya yang penting. Apa saja yang bisa dikategorikan se bagai Cagar Budaya? Untuk menentukan Cagar Budaya me mang tidak mudah. Semua harus me lalui proses yang panjang dan lama. Jadi, sebuah tempat atau ben da yang dinyatakan sebagai cagar budaya oleh masyarakat sekitar belum ten tu bisa disebut cagar budaya. Semuanya harus dikaji dan diteliti oleh pa ra ahli arkeolog dan tim ahli khusus da ri wilayah tersebut. Penelitian itu bukan hanya di laku kan tim ahli dari kabupaten sa ja, ta pi diuji dan dikaji juga oleh tim ahli ting kat provinsi dan ke mudian diteliti la gi oleh tim ahli ting kat nasional. Setelah melakukan pe nelitian sejarah dan sesuai dengan kri teria khusus, ba rulah tempat itu bisa ditetapkan sebagai cagar budaya. Syarat dan kriteria suatu bangun an atau kawasan menjadi cagar bu daya sudah ditetapkan dalam Un dang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Mengenai Cagar Budaya. Benda, ba ngunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Cagar Budaya, apabila memenuhi kriteria: 86 EUANGELION 173

87 1. berusia 50 tahun atau lebih; 2. mewakili masa gaya paling singkat ber usia 50 tahun; 3. memiliki arti khusus bagi sejarah, il mu pengetahuan, pendidikan, aga ma, dan/atau Kebudayaan; 4. memiliki nilai budaya bagi penguat an kepribadian bangsa. Sementara satuan ruang geografis da pat ditetapkan sebagai kawasan ca gar budaya apabila: 1. mengandung 2 situs cagar bu da ya atau lebih yang letaknya ber dekatan; 2. berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia berusia 50 tahun; 3. memiliki pola yang mem per lihatkan fungsi ruang pada masa lalu berusia paling sedikit 50 tahun; 4. memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas; 5. memperlihatkan bukti pem bentukan lanskap budaya; 6. memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung bukti kegiatan ma nusia atau endapan Fosil. Mengapa kita harus melestarikan Ca gar Budaya? Menurut informasi yang diambil da ri situs registrasi nasional Cagar Bu daya Indonesia, dari ob yek yang terdaftar untuk bisa di tetapkan sebagai Cagar Budaya, baru ter veri fikasi , di mana dari ob yek yang direkomendasikan, baru obyek yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Dengan jumlah sebanyak itu, ten tu saja belum semua obyek Cagar Bu daya mendapat perlindungan da ri pemerintah. Kesadaran dan EUANGELION 173 ke pedulian sebagian masyarakat ter hadap nilai penting Cagar Budaya juga masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih maraknya tin dak pelanggaran terhadap upa ya perlindungan Cagar Budaya di beberapa daerah. Misalnya pencurian, pe malsuan, pembawaan Cagar Buda ya ke luar negeri secara ilegal, corat-coret pada batu-batu Candi, dan lain-lain. Iklim Indonesia yang tropis dan lem bab juga membuat keberadaan ca gar budaya sangat rentan terhadap ter jadinya kerusakan dan pelapukan, ter lebih dengan bahan dasar yang ber asal dari bahan anorganik seperti ba tu, bata, keramik, kaca, bendaben da logam, meski sebenarnya le bih tahan terhadap faktor cuaca. Se mentara bahan dasar Benda Cagar Bu daya yang berasal dari bahan-bahan organik seperti kayu, kertas, kain, dan tulang sangat peka terhadap fak tor lingkungan sehingga lebih ce pat mengalami proses kerusakan dan pelapukan yang dapat berakibat pa da hancurnya benda cagar budaya tersebut. Kurangnya jumlah tenaga juru pe li hara, terutama untuk Cagar Budaya dan situs-situs yang terletak di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Ma luku dan Papua, juga membuat se bagian besar Cagar Budaya dan Situs tersebut kurang terawat. Seperti yang terjadi di Balai Konservasi Pe ninggalan Borobudur beberapa ta hun lalu. Kita tahu kalau para tenaga trampil bidang pemetaan, peng gambaran, pemugaran, konservasi dan analisis laboratorium Ca gar Budaya hasil pendidikan dan 87

88 pe latihan, sudah banyak yang purna tu gas. Sementara proses regenerasi be lum berjalan secara maksimal. Kondisi ini tentu akan menyulitkan upa ya bangsa Indonesia dalam men - jaga dan melestarikan Cagar Budaya, yang merupakan aset nasio nal tak ternilai harganya. Cagar Bu daya tersebut akan terancam ke rusakan, akibat adanya konflik ke pentingan. Misalnya adanya tekan an pembangunan, perluasan la han, pemanfaatan lahan untuk permukiman dan lain-lain. Pembagian Kategori dalam Cagar Budaya Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010, Cagar Budaya adalah warisan bu daya bersifat kebendaan berupa Ben da Cagar Budaya, Bangunan Ca gar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawas an Cagar Budaya di darat dan/ atau di air, yang perlu dilestarikan ke beradaannya karena memiliki ni lai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/ atau kebudayaan melalui proses penetapan. 1. Benda Cagar Budaya dengan kategori Ben da adalah benda alam dan/ atau benda buatan manusia, baik ber gerak maupun tidak bergerak, be rupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat de ngan kebudayaan dan sejarah per kem ba ng an manusia. Contoh Ca gar Budaya kategori Ben da di In donesia adalah: Arca Bhai rawa koleksi museum Nasional DKI Jakarta, Ar ca Prajnyaparamita di DKI Jakarta, Ben dera Pusaka Sang Sa ka Merah Pu tih milik Sekretariat Re publik In donesia, Prasasti Pasir Awi di Bogor, Jawa Barat, Naskah Proklamasi Ke merdekaan Bangsa Indonesia Tulis an Tangan Soekarno, Bokor Emas be relief cerita Ramayana koleksi Mu seum Nasional Direktorat Jenderal Ke budayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mahkota Sultan Siak Sri Indrapura yang dibuat dari emas bertahtakan berlian dan rubi di DKI Jakarta, dan Biola Wage Rudolf Soe pratman sebagai hadiah dari Willem van Eldik dan masih banyak lagi. 2. Struktur Cagar Budaya dengan kategori Struk tur, yaitu susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia. Contoh Cagar Budaya kategori Struktur: Jembatan Kota Intan di DKI Jakarta, Makam Sultan Adam Al Wasiq Billah di Kabupaten Ban jar, Kalimantan Selatan, dan Tugu Pahlawan di Surabaya, Jawa Timur. 3. Bangunan Cagar Budaya dengan kategori Bangunan adalah susunan binaan yang ter buat dari benda alam atau benda buat an manusia untuk memenuhi ke butuhan ruang berdinding dan/ atau ti dak berdinding, dan beratap. Contoh Ca gar Budaya dengan kategori Ba ngunan adalah: Rumah 88 EUANGELION 173

89 Adat Tiang Pan jang di Sumatera Se latan, Ben teng Marlborough di Bengkulu, Gedung Museum Sumpah Pe muda di Jakarta, Hotel Majapahit di Surabaya, Jawa Timur, Hotel Toegoe di Yogyakarta, Lawang Se wu di Semarang, Ge dung Kebangkitan Na sional di DKI Ja karta, Museum Geo logi, Hotel Savoy Homann dan Gedung Sate di Bandung, Jawa Barat. 4. Situs Cagar Budaya dengan kategori Situs adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Ben da Cagar Budaya. Contoh Cagar Bu daya dengan kategori situs adalah: Ta man Kepurbakalaan Sunyaragi di ko ta Cirebon, Jawa Barat, Gunung Pa dang di Cianjur, Jawa Barat, Benteng Vastenburg di Surakarta, Jawa Te ngah, Benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan, Masjid Istiqlal dan gereja Katedral di Ja karta. 5. Kawasan Cagar Budaya dengan kategori Ka wasan adalah Kawasan satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas. Contoh Cagar Budaya dengan kate gori Kawasan adalah: Trowulan di Mo jokerto, Jawa Timur, Kota Lama Tam bang Batubara Sawahlunto di Sumatera Barat, Prambanan di Klaten, Jawa Tengah, Muarajambi di Mua ro Jambi, Jambi, Borobudur di Ka bupaten Magelang Jawa Tengah, Sa ngiran di Sragen Jawa Tengah, dan Mo numen Nasional di DKI Jakarta. Di kota Bandung sendiri, Bangunan EUANGELION 173 Ca gar Budaya yang paling terkenal ada lah Hotel Savoy Homann dan Gedung Sate. Hotel Savoy Homann 1939 (Sumber Kemendikbud) Pemilik penginapan ini awalnya ada lah Mr. A. Homann, seorang warga negara Jerman yang pindah ke Bandung pada tahun Pada tahun 1880 hotel ini bernama Hotel Post Road dengan gaya arsitektur Baroq. Ke mudian, tahun 1883 berubah menja di Gothic Revial. Pada tahun 1910 di bangunlah gedung baru sebagai tambahan. Tahun 1938, gedung lama yang bergaya Gothic dibongkar dan diganti dengan bangunan ba ru bergaya International Style. Se lanjutnya gedung ini digunakan sebagai Wisma PMI ( ), Wisma Je pang ( ), ke mu dian tahun 1949 ber fungsi sebagai pe nginapan yang per nah diinapi Ir. Soe karno, Chuo En Lai, Jawaharlal Neh ru dan lain nya. Gedung Sate Bandung 1920 (Sumber Cagar Budaya Kemendikbud) 89

90 Gedung Sate dibangun ta hun 1920 dengan menghabiskan bia ya enam juta Gulden. Peletakan ba tu pertama dilakukan oleh Nona Johanna Catherina Coops (puteri su lung B. Coops, Walikota Bandung) dan Nona Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jendral Batavia pada ma sa Pemerintah Kolonial Hindia Be landa. Pada tanggal 3 Desember 1945, tujuh orang pemuda pejuang mem pertahankan bangunan ini dan gu gur me lawan pasukan Ghurka. Kini, mo numen peringatan tersebut berdiri di depan gedung sate. Awalnya, ge dung ini berfungsi sebagai gedung Departemen Perhubungan dan Pengairan. Kini, Gedung Sate di pergunakan sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Jawa Barat. Bagi umat Kristiani, kita juga memiliki banyak tempat-tempat yang ter catat di dalam Alkitab dan masih ek sis pada masa kini, seperti kota suci Ye rusalem. Ini membuktikan bahwa Al kitab itu bukan buku dongeng. Apa yang tertulis di dalamnya adalah benar dan nyata. Adalah kerinduan dari banyak umat Kris tiani untuk melakukan perjalanan zia rah ke Yerusalem dan tempattem pat yang ada hubungannya dengan kehidupan Yesus Kristus, bu kan hanya untuk melihat seperti apa tempat-tempat itu, tetapi juga untuk merasakan apa yang Tuhan ja lani saat Ia merendahkan Diri-Nya menjadi manusia sama seperti kita. Dan umumnya perjalanan ziarah ini sungguh memberikan pengaruh besar pa da pertumbuhan iman mereka. Apa yang tertulis dalam Alkitab adalah nya ta, karena kita bisa melihat dan me rasakannya sendiri meskipun su dah berumur ribuan tahun. Kasih Tu han pada kita juga nyata. Kita bisa me rasakan dan membuktikan sendiri mu jizat dan penyertaan-nya dalam hi dup kita dari hari ke hari. Shirley Du Yerusalem, kota Daud 90 EUANGELION 173

91 Budaya Hidup Sehat dan Bersih OBROLAN RINGAN Budaya Hidup Sehat dan Bersih Saya menjumpai tulisan yang berisi ku tukan jenis baru yang ditempel pada sa tu perumahan, bunyinya demikian: Yang buang sampah sembarangan, se moga jadi gila. Saya tidak yakin ku tukan itu efektif menciutkan nyali orang yang membuang sampah sem barangan, karena doa memohon Tuhan mencabut nyawa orang yang mem buang sampah sembarangan sa ja tidak berpengaruh apa-apa. Jauh sebelum ada doa-doa kutukan, sa ya membaca banner atau spanduk yang isinya bernada positif, seperti: Kebersihan adalah sebagian dari iman. Tidak efektif. Persoalannya ada pa da mental masyarakat yang tidak menganggap hidup sehat dan bersih itu pen ting. Atau mereka berpikir, sejauh sam pah itu di luar rumah saya, maka sa ya tetap sehat dan bersih, seolah ko tornya lingkungan tidak akan berpe ngaruh terhadap kesehatannya. Con toh lain yang menjijikkan adalah ke biasaan membuang bangkai tikus di tengah jalan. Saya tidak mengerti, da rimana dan sejak kapan budaya itu mun cul. Mengapa nasib tikus begitu ma lang. Sudah dibunuh, masih pula ha rus menerima lindasan ban motor/ mo bil. Padahal bangkai itu bisa menye barkan penyakit. Bagaimana perspektif iman Kristen terhadap kebersihan dan ke sehatan? Kitab yang membahas tentang gaya hidup sehat (dikaitkan dengan aspek agama) adalah Imamat, khu susnya pasal Saya beri sa tu contoh saja: Inilah yang haram ba gimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan ka tak menurut jenisnya dan landak, bia wak, dan bengkarung, siput dan bung lon. Itulah semuanya yang haram ba gimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah bi natang-binatang itu mati, menjadi na jis sampai matahari terbenam. Dan segala sesuatu menjadi najis, ka lau seekor yang mati dari binatang-bi natang itu jatuh ke atasnya: perkakas k a yu apa saja atau pakaian atau ku lit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun, ha ruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari ter benam, kemudian menjadi tahir pu la. Kalau seekor dari binatang-bina tang itu jatuh ke dalam sesuatu be langa tanah, maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis dan belanga itu harus kamu pecahkan. (Im 11:29-33). Binatang-binatang yang di se butkan adalah binatang kotor dan pemba wa penyakit. Oleh sebab itu, orang atau benda yang kontak dengan bi natang-binatang itu menjadi najis dan kotor. Seseorang menjadi na jis sampai matahari terbenam EUANGELION

92 mak sudnya adalah orang itu diiso lasi/karantina untuk mencegah ke mungkinan penularan penyakit. Demikian pula, dipecahkannya belanga (alat makan) adalah cara un tuk meng hindari penyebaran pe nyakit. Se dangkan dimasukkannya per kakas kayu apa saja atau pakaian atau ku lit atau karung ke dalam air bertu juan membersihkan alat-alat itu. Alkitab bukan buku tentang gaya hidup sehat dan bersih, tetapi di da lamnya ada pedoman dan prinsip tentang hidup bersih dan se hat. Da lam Alkitab, tidak ada ayat yang eks plisit menyatakan bahwa ke sehat an itu bagian dari iman, tetapi Al kitab ti dak menafikan pentingnya ke se hat an dalam hidup seseorang. Saya mau angkat contoh lain yang ter kenal da ri Perjanjian Baru, yaitu 1 Korintus 3:19-20 (bdk.1 Kor 3:16). Atau tidak tahukah kamu, bahwa tu buhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang ka mu peroleh dari Allah, -- dan bahwa ka mu bukan milik kamu sendiri? Sebab ka mu telah dibeli dan harganya telah lu nas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Ayat ini sering dijadikan dasar un tuk menjawab orang-orang yang ber tanya apakah boleh merokok atau ti dak. Salah satu isu menonjol dalam 1 Korintus adalah kekudusan hidup. Je maat Korintus ditegur Rasul Paulus ka rena gaya hidup mereka yang masih duniawi. Mereka menganggap tu buh fisik itu tidak akan masuk surga, ha nya jiwa yang masuk surga. Jadi, apa pun boleh diperbuat tubuh. Enjoy aja! Gak ada pengaruh. Rasul Paulus mem bantah hal itu. Tubuhmu bukan mi likmu sendiri, tetapi milik Allah. Mu liakan Allah dengan tubuhmu, bu kan hanya dengan hatimu, apalagi mulutmu. Bagaimana kita mengaitkan ayat itu dengan kesehatan? Sederhana sa ja. Jika Anda mengganggap Roh ku dus tinggal dalam diri Anda (yang men cakup fisik Anda pula), jika Anda meng anggap tubuh Anda adalah mi lik Allah, maka Anda tidak akan sem barangan memperlakukannya. An da tidak akan menjadikan tu buh Anda seperti tong sampah yang menampung segala macam makan an yang tidak sehat. Anda tidak akan mager (malas gerak) karena itu me rusak kesehatan. Anda tidak akan ke canduan minuman keras, rokok atau zat adiktif berbahaya lain. Saya gregetan ketika diprotes ka rena membuang minyak jelantah yang masih bening tetapi sudah lebih da ri lima hari. Saya dicap boros. Yang pro tes mengatakan bahwa sejak ke cil ia memakai minyak goreng berulang-ulang sampai seumur lansia ma sih baik-baik saja. Malah dia balik mengatakan bahwa saya yang sa ngat apik menjaga kesehatan, ter nyata terkena kanker juga. Saya ha nya menghela napas panjang. Sa ya tidak mau berdebat kusir. Prinsip saya adalah membangun ga ya hidup sehat karena itu bentuk pertanggungjawaban saya kepada Tuhan yang memberi saya kehidupan. Sa ya tidak akan melakukan sesuatu yang saya tahu merusak kesehatan. 92 EUANGELION 173

93 Iman kepada Tuhan tidak hanya diwu judkan dengan baca firman, doa, pua sa dan sebagainya. Iman juga di nyatakan dengan sikap hidup yang meng hargai hidup (termasuk tubuh fi sik) yang sudah ditebus Tuhan Yesus Kristus. Penghargaan itu saya nya takan dengan menjaga kesehatan tu buh dan lingkungan saya. Soal saya ma sih terkena penyakit meskipun su dah bergaya hidup sehat, itu soal lain. Jawabannya sama dengan perta nyaan, mengapa ada orang yang su dah hati-hati menyetir, masih juga me ngalami kecelakaan di jalan. Kembali ke soal sampah. An da mengerti kan keterkaitan membuang sampah sembarangan dengan iman? Jika lingkungan sehat, tu buh Anda juga akan sehat. Ngomong-ngomong, Anda juga perlu mem bangun keprihatinan soal berjibunnya sampah plastik yang me rusak kesehatan dan lingkungan. Sa ya sudah sejak beberapa waktu memba wa kantong belanja sendiri kalau ber belanja di supermarket. Saya tidak mau lagi memakai sedotan plastik kalau membeli minuman. Hal-hal kecil, te tapi bukankah kebiasaan baik itu di mulai dari hal-hal kecil? Pdt. Bong San Bun P E N G U M U M A N Buletin EUANGELION edisi 174, Oktober-November 2019, akan terbit pada tanggal 6 Oktober 2019 dengan te ma utama Inter Generasi. Yang berminat mengisi, ha rap memasukkan artikelnya selambat-lambatnya tang gal 10 September Buletin EUANGELION edisi 175, Desember 2019-Januari 2020, akan terbit pada tanggal 1 De sember 2019 dengan tema utama Back to Basic. Yang ber minat mengisi, harap memasukkan artikelnya se lambat-lambatnya tanggal 10 November Buletin EUANGELION kini dapat diunggah pada website GII Hok Im Tong: EUANGELION

94 SUDUT REFLEKSI Sekolah Kecil di Belakang Gereja Bulan September ini si kecil Leon akan mulai masuk sekolah. Ya, astaga, wak tu berlalu cepat sekali. Saya ingat ketika umurnya baru sekitar dua bulan, kami membawa Leon ke toko buku untuk pertama kali. Di lift stasiun kereta bawah tanah, se orang opa menyapa saya, Umur be rapa bulan bayimu? Dua bulan, ka ta saya. Leon masih saya bawa-ba wa dalam gendongan waktu itu, ma sih kecil sekali. Wah, manisnya, kata opa, Anak-anak tumbuh besar ce pat sekali. Nanti tiba-tiba saja su dah waktunya mereka sekolah dan kita akan menangis sendiri di ru mah. Rasanya baru kemarin kami ber papasan dengan si opa di lift. Seperti ada yang menekan tombol fast for ward, tiba-tiba sekarang Leon su dah siap-siap mau sekolah. Anak ke sayangan kami sudah bukan lagi ba yi kecil dalam gendongan. Ia sudah pin tar berjalan dan berlari, sudah bisa belajar main scooter, sudah pintar bica ra dan menyanyi. Setiap hari kosa ka tanya bertambah. Ia hafal isi buku ce rita yang sering kami bacakan dan bisa ikut menyanyi, termasuk lagu pem bukaan sekolah Minggu GII HIT, Se lamat pagi Tuhan, tak lupa terima ka sih. Ia juga semakin jahil dan lu cu. Kadang-kadang ia meniru saya atau ayahnya, Adam kalau sedang mengomel lalu ia tertawa-tawa sendiri kare na merasa lucu. Umurnya memang baru akan genap dua tahun pada akhir bulan Agustus, tapi di sini pre-school menerima mu rid mulai dari usia 2 tahun ke atas. Ta dinya saya tidak mau Leon sekolah se cepat itu. Rasanya ia masih kecil sekali meskipun badannya tinggi besar dan ia sering dikira sudah berumur 3 ta hun atau malah 4 tahun. Tadinya sa ya berpikir nanti saja ia mulai sekolah kalau sudah berumur 3 tahun. Wak tu kecil, saya pertama masuk TK juga pada usia 3 tahun. Rupanya sa ya semangat sekali ingin sekolah wak tu kecil, konon katanya saya me minta-minta kepada orang tua sa ya untuk ikut sekolah. Jadilah saya bo leh masuk TK meskipun anak-anak lain umumnya baru mulai pada usia 4 tahun. Tapi ini si kecil Leon bahkan akan mulai lebih dini lagi. Tadinya saya ragu. Rasanya berat un tuk melepas si kecil ke sekolah. Ka rena saya bekerja dari rumah, saya te lah menjaga dan mengurus Leon ham pir setiap hari sejak ia lahir. Saya ta hu hampir segala sesuatu yang ia la kukan, ia katakan, ia makan, ia baca, ia tonton. Tiba-tiba ia akan diasuh oleh orang lain selama di sekolah. Se kolah mana yang harus saya pilih? Sia pa gurunya nanti? Seperti apa dia? Apa kah saya bisa mempercayainya? Ba gaimana ia akan mengasuh dan men didik Leon? Dulu saya bekerja seba gai asisten guru TK dan guru bahasa 94 EUANGELION 173

95 Ing gris SD, rasanya biasa-biasa saja. Se karang saya baru sadar menjadi gu ru itu adalah tanggung jawab yang sa ngat besar. Leon adalah jantung ha ti kesayangan saya dan saya akan mem percayakan anak yang sangat ber harga ini kepada orang asing yang akan ia panggil guru. Bagaimana saya tidak kuatir? Saya mengobrol dengan beberapa orang yang berlatar belakang pendidikan anak usia dini, termasuk pen deta di gereja baru kami. Mereka se mua satu suara bahwa keputusan un tuk menyekolahkan Leon adalah ke putusan yang baik. Anak yang per gi sekolah pada usia dini terbukti me miliki kecakapan sosial lebih baik dibandingkan anak-anak yang pergi sekolah belakangan. Saya bi sa merekomendasikan beberapa sekolah yang bagus untuk Leon, kata Ibu pendeta. Sejak pindah rumah, ka mi berjemaat di gereja lokal yang de kat dengan rumah baru kami. Gembalanya bernama Ibu pendeta Julia. Ke betulan di belakang gereja ini ada se kolah West Hendon Pre School, sekolah kecil khusus untuk anak-anak TK. Ini salah satu sekolah yang direkomendasikan Ibu pendeta. Jadi, saya menelepon kepala sekolahnya, Ibu Mi riam, untuk melakukan kunjungan. Ka mi dipersilakan datang pada jam se kolah untuk melihat kegiatan yang se dang berlangsung dan bertemu dengan guru-gurunya. Leon senang sekali ketika kami ber kunjung ke sekolah. Ia menyangka sa ya akan membawanya ke gereja ka rena gerbang masuk sekolah sama de ngan gerbang masuk gereja. Tidak ada kelas-kelas terpisah di sana, kami ma suk ke satu ruang besar yang dibagi menjadi beberapa area. Ada area bermain dengan rak-rak dan ke ranjang penuh mainan, ada area per pustakaan kecil untuk membaca, ada area permainan dapur-dapuran de ngan oven, kompor dan lemari mi ni, ada meja prakarya, ada sudut is tirahat untuk anak yang perlu waktu te nang dan di ujung ruangan ada area ma kan dan dapur untuk anak-anak ma kan siang bersama. Mata Leon lang sung berbinar melihat semua main an di sana. Tapi ruang besar itu ko song karena semua anak sedang ber main di luar. Ayo, kita keluar melihat temante man yang lain sedang apa, ajak Ibu Miriam. Di halaman sekolah ada jem batan kayu untuk dipanjat, ada pon dok-pondok kecil berisi macamma cam mainan, ada dapur-dapuran un tuk membuat kue lumpur, bak pasir dan anak-anak yang berlarian kian ke mari. Kalau hari cerah dan hangat, anak-anak bebas bermain di luar. Nan ti mereka masuk ke dalam untuk aca ra menyanyi atau mendengarkan ce rita atau makan siang. Jadi, mes kipun namanya sekolah, tidak ada kurikulum atau pelajaran seperti membaca dan menulis. Anak-anak ha nya bermain-main saja seharian. Me tode kami adalah belajar lewat ber main, kata Ibu Miriam. Di Inggris, se kolah wajib dimulai pada usia 5 ta hun ketika anak-anak masuk kelas per tama di SD yang disebut kelas Re ception. Di sana barulah mereka mu lai resmi mendapat pelajaran seperti mem baca, menulis dan berhitung. EUANGELION

96 Kunjungan pertama kami ber kesan positif. Anak-anak di sekolah itu ke lihatan bahagia, rasio guru dan murid juga baik, satu guru menjadi key worker (guru wali) sekitar 6 anak dan gu ru tersebut nanti akan memberikan la poran rutin perkembangan anak ke pada orang tua. Setiap minggu ada kelas khusus drama. Sepanjang ha ri anak-anak bebas mengambil buah-buahan dan susu untuk snack ji ka mereka lapar. Dan ada banyak se kali mainan di sana. Waktu kami se lesai melakukan kunjungan, Leon ti dak mau pulang karena masih asyik me lihat-lihat mainan di sekolah. Ini per tanda bagus, kata Ibu Miriam, Ia lang sung betah di sini. Saya membawa Leon me ngunju ngi beberapa sekolah lain untuk per bandingan. Semua kelihatan baik. Sekolah mana yang harus kami pi lih? Bagaimana kalau kita memilih sekolah yang salah? kata saya kepada Adam. Tidak ada sekolah yang salah, kata Adam, Leon hanya akan men dapat pengalaman yang berbeda di sekolah yang berbeda. Kami me ng unggah laporan Departmen Pen didikan untuk membaca apa sa ja kelebihan dan kekurangan tiap sekolah. Kami mengobrol dengan orang tua lain yang sudah ber pengalaman menyekolahkan anak, dan kami merenung sambil ber doa. Akhirnya saya dan Adam me- 96 EUANGELION 173

97 mutuskan untuk mendaftarkan Leon ke sekolah kecil di belakang gereja ka rena kami sudah biasa pergi ke sana se tiap Minggu, jadi bukan lokasi baru yang asing untuk Leon. Kami suka sua sana kekeluargaan di sekolah kecil itu dan lokasi sekolahnya hanya lima me nit berjalan kaki dari rumah kami, ja di mengurangi resiko terlambat. Ibu Miriam senang sekali waktu sa ya meneleponnya dan berkata ka mi akan mampir untuk mengambil formu lir pendaftaran. Bagaimana kalau Leon mulai rutin datang ke sekolah se minggu sekali mulai sekarang? ka ta Ibu Miriam, Supaya nanti kalau ia mulai sekolah, ia sudah terbiasa dengan lingkungan sekolah, guru-guru dan teman-temannya. Jadi, sudah dua bulan ini saya dan Leon datang ke sekolah setiap hari Selasa saat ada guru khusus datang mengajar ke las drama. Leon ikut belajar gerak dan lagu, mendengarkan cerita lalu mem peragakan cerita yang baru di dengarnya bersama anak-anak lain. Ia masih sedikit malu-malu di se kolah, tapi saat pulang ke rumah, ia bisa ikut menyanyikan lagu-lagu di kelas drama dengan lancar. Minggu la lu saya juga sudah membelikan se ragam sekolah untuk dipakainya nan ti. Sungguh tak percaya, bayi kecil sa ya siap pergi sekolah!! Karena Leon lahir di akhir bulan Agus tus dan semester awal sekolah di mulai bulan September, ia akan men jadi salah satu murid paling kecil di kelas. Saat hamil, kami sempat ber harap bisa menunda kelahirannya sam pai awal September supaya ia bi sa masuk sekolah di gelombang ta hun berikutnya dan menjadi salah sa tu anak paling tua di kelas dengan asumsi ia akan lebih siap. Tapi puji Tu han, kelihatannya kami tidak per lu kuatir soal kesiapan Leon. Ia anak yang pintar, antusias dan riang gembira. Apa yang kamu la kukan nanti kalau ia sekolah? tanya orang-orang kepada saya, Kamu jadi be bas jalan-jalan dan pesta-pesta, ya. Haha, mereka pikir Leon akan se kolah seharian. Ia hanya sekolah ti ga hari seminggu dari jam 9.30 pagi sampai jam lalu saya akan men jemputnya pulang untuk makan siang. Apa yang akan saya kerjakan se lama dua setengah jam waktu be bas saya? Mungkin awalnya saya akan menangis sendirian di rumah, se perti kata sang opa dulu, kangen Leon yang selama ini selalu ada di si si saya, kangen celotehannya yang ta k berhenti-berhenti, kangen suara ter tawanya dan kangen jahilnya. Leon sayang, ini doa Mama untuk ha ri pertama sekolahmu: Tuhan Yesus, kiranya Engkau memberi Leon da mai sejahtera dan membuatnya me rasa aman dan dikasihi. Kiranya Eng kau menyertai dia saat bermain dan belajar dan memberinya hikmat. Ki ranya Leon bisa tersenyum dan men dapat teman-teman baru yang se hati. Berkati guru-guru yang akan me ngajarnya pada hari ini. Ajar saya un tuk percaya mereka semua ada di ba wah tuntunan-mu. Kiranya Engkau me magari kami semua dengan anugerah-mu pada hari pertama sekolah ini. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin. Sandra Lilyana EUANGELION

98 TOKOH ALKITAB churchofjesuschrist.org KEDATANGAN KRISTUS YANG KEDUA KALI Matius 24:29-51; 25:1-13; Yohanes 14:1-3 Alkitab ditulis dengan bahasa manusia (Ibrani, Aram dan Yunani) dan dalam situasi sosial budaya se tem pat (Mesir, padang gurun, Israel, Ero pa dan sebagainya). Karena itu cu kup banyak bagian-bagian Alkitab yang bagi pembaca modern zaman sekarang sulit untuk dimengerti ka rena 98 EUANGELION 173

99 pembaca modern tidak lagi hi dup dalam konteks/situasi situasi so sial dan budaya pada zaman itu. De ngan demikian, teks Alkitab bisa di salah me ngerti oleh pembaca modern k e- tika mereka menafsirnya sesuai dengan konteksnya sendiri. Untuk dapat me ngerti dengan baik, salah satu hal yang harus dilakukan oleh pembaca Al kitab adalah mencoba memahami si tuasi sosial budaya pada saat tulisan itu dibuat. Tentu saja ada juga hal lain yang harus dipelajari, seperti bahasa as li Alkitab, konteks pembicaraan/ ce rita, arti kata dan perkembangan is tilah, dan banyak hal lainnya. Tetapi si tuasi sosial dan budaya merupakan hal yang penting untuk dapat me maha mi arti teks dengan benar. Kalau ti dak, akan muncul penafsiran yang ke mungkinan besar salah. Tokoh kita kali ini adalah Tuhan Ye sus yang dikatakan dalam Alkitab akan datang kembali menjemput je maat-nya untuk masuk ke dalam Ke rajaan Sorga. Kedatangan Kristus yang kedua kali ini merupakan suatu mis teri. Alkitab mengatakan bahwa wak tu kedatangan-nya seperti pencu ri pada malam hari, berarti tidak di ketahui kapan. Yang menarik adalah Tu han Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang tahu. Ma laikat tidak tahu, Anak pun tidak ta hu. Hanya Bapa yang tahu (Mat 24:36). Perkataan ini sering dikutip oleh para bidat dan melahirkan dua pemahaman yang berbahaya. Perta ma, ini bukti bahwa Tuhan Yesus ti dak mahatahu, berarti Tuhan Yesus itu bukan Allah. Kalau Dia Allah, seha rusnya Dia tahu segala sesuatu, ter masuk kedatangan-nya yang ke dua kali. Kedua, pernyataan ini me rupakan bukti bahwa dalam Allah Tri tunggal ada hirarki. Yang paling ting gi Bapa, ranking kedua Anak, dan ran king ketiga Roh Kudus. Adanya hirarki itulah yang membuat Tuhan Yesus tidak tahu kapan Dia akan datang kembali. Apakah memang Tuhan Yesus bu kan Allah atau kalaupun Dia Allah, Dia Allah ranking kedua? Untuk memahami perkataan Tuhan Yesus di atas dengan benar, maka paling sedi kit kita harus mengerti dua hal: 1. Perkataan-perkataan atau perbuat an-perbuatan yang dilakukan Tuhan Yesus dalam Alkitab, khususnya da lam kitab Injil, harus dimengerti sebagai perkataan atau perbuatan yang di lakukan-nya ketika Dia berinkarnasi se bagai Anak Manusia. Di luar kitab In jil, perkataan atau perbuatan Tuhan Ye sus baru dapat dimengerti sebagai per kataan dan perbuatan Allah Anak. Me ngapa? Karena ketika berinkarnasi men jadi manusia, Tuhan Yesus telah me ngosongkan diri sedemikian rupa se hingga tidak mempertahankan keila hian-nya, tetapi mengambil rupa se orang hamba dan menjadi manusia (Flp 2:5-11). Istilah mengosongkan di ri artinya meletakkan sifat-sifat keila hian-nya dan tidak memakai sifatsi fat ilahi itu dalam semua perbuatan- Nya. Kalau Dia membuat mujizat, itu bukan dari kuasa-nya pribadi, te tapi diberikan oleh Bapa di sorga, atau Bapa mengijinkan Dia untuk me makai kuasa pribadi-nya sebagai Al lah Anak. Dengan kata lain, ketika in karna si, Allah Anak bergantung penuh EUANGELION

100 ke pada Allah Bapa dalam segala hal. Da lam keadaan inilah dikatakan bahwa Bapa lebih besar daripadaku (Yoh 14:28). Maksud dari peristiwa ini adalah untuk memberi teladan ke pada jemaat bagaimana jemaat ha rus taat secara mutlak kepada Allah, sama seperti seorang anak taat ke pada bapanya. Sebab itulah istilah Anak dan Bapa dipakai dalam Alkitab. Is tilah ini bukan untuk menunjukkan bah wa Bapa lebih tinggi derajatnya da ri Anak, tetapi untuk memberikan ilustrasi keteladanan. 2. kita harus memahami dalam kon teks apa Tuhan Yesus mengatakan per kataan-perkataan itu. Sangat mena rik bahwa perkataan itu dikatakan da lam konteks kedatangan-nya yang ke dua kali. Dan kedatangan-nya yang kedua kali sering digambarkan se bagai pengantin pria yang menjemput pengantin wanita (Why 19, 21). Perjanjian Lama seringkali menggam barkan umat Israel sebagai pengantin wanita dan Allah sebagai pengantin pria (Yes 62:5; Yer 2:2, 32). Kita harus memahami situasi sosial dan budaya pada zaman itu tentang apa yang disebut dengan perjamuan kawin atau perkawinan dalam konteks so sial dan budaya orang Yahudi, kare na pernikahan menggambarkan hu bungan antara Kristus dengan je maat-nya (Ef 5:32) dan konteks per kataan dalam Matius 24:36 adalah ten tang kedatangan-nya yang kedua ka li. Dengan memahami konteks bu daya pada zaman itu, kita dapat me ngerti apa yang dimaksud Tuhan Yesus. Alkitab menggambarkan ke datangan Kristus yang kedua kali sebagai perjamuan kawin dengan Kristus sebagai pengantin pria dan jemaat se bagai pengantin wanita. Di dalam pe ngertian inilah kita baru dapat me mahami perkataan Tuhan Yesus da lam Matius 24:36 dan Yohanes 14:1-3 dengan tepat. Untuk itu kita harus me mahami tata cara pernikahan orang Yahudi. Dalam budaya Yahudi per nikahan diatur dalam beberapa ta hap sebagai berikut: Pertama, ayah pengantin pria be r sama pengantin pria melamar pengantin wanita dan membayar uang ma har. Biasanya dilakukan setahun se belum pernikahan dirayakan. Dengan langkah ini, perjanjian telah diadakan dan kedua belah pihak harus se tia dalam perjanjian ini. Perjanjian ini mengikat kedua belah pihak. Inilah yang terjadi dalam peristiwa Yusuf dan Maria. Alkitab mengatakan bah wa mereka bertunangan tetapi be lum hidup sebagai suami istri (Mat 1:18). Dikatakan bahwa Yusuf ingin menceraikan Maria (Mat 1:19). Berar ti pernikahan sudah merupakan ke pastian dan mereka sudah pasti men jadi suami-istri, tetapi belum ditentukan hari pernikahannya. Setelah per janjian dibuat, pengantin pria pulang kembali ke rumahnya sendiri dan nanti pada saatnya akan datang kemba li menjemput pengantin wanita. Kedua, pengantin pria akan datang ke tempat pengantin wanita untuk men jemput pengantin wanita dan mem bawanya ke rumahnya. Langkah ke dua ini dilakukan sebagai berikut: 100 EUANGELION 173

101 1. Sebelum menjemput pengantin wa nita, pengantin pria harus mem persiapkan tempat tinggal atau rumah untuk pengantin wanita. Rumah itu biasanya adalah tem pat atau kompleks di mana ayah nya tinggal. Tuhan Yesus me ngatakan bahwa di rumah Ba pa-nya banyak tempat tinggal dan Dia pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi orang per caya (Yoh 14:1-3). Perkataan ini ha nya dapat dimengerti dengan te pat ketika kita memahami bahwa bagi Tuhan Yesus Dialah pengantin pria itu dan jemaat ada lah pengantin wanitanya. 2. Setelah rumah itu selesai, ayah pengantin pria akan menentukan ha ri pernikahannya dan waktu pen jemputan. Ayah pengantin pria yang mempunyai hak ini, bu kan pengantin prianya. Inilah bu daya Yahudi waktu itu. Karena itu, walaupun pengantin wanita ta hu bahwa dia akan dijemput, dia tidak tahu kapan persisnya dia akan dijemput. Dia hanya dibe ritahu bahwa pengantin pria se dang dalam perjalanan untuk men jemput dia. Dan karena jarak yang harus ditempuh, perjalanan mung kin bisa beberapa jam atau beberapa hari. 3. Dalam perjalanan ke rumah pengantin wanita, pengantin pria diiringi para pengiring dan sepanjang jalan mereka menyanyi dan menari sambil meniup sangkakala/terompet sebagai tanda bahwa pengantin pria sedang menjemput pengantin wa nita. Setelah mendengar tan da-tanda itu, pengantin wanita mempersiapkan diri un tuk di jemput pengantin pria. Dia ha rus berhias diri dan men danda ni dirinya sebagaimana seha rusnya seorang pengantin wa nita (Ef 5:25-27; Why 19:7; 21:1-2). Karena itu, pengantin wa nita harus senantiasa siap ka panpun penganti pria datang menjemputnya. 4. Upacara pernikahan dilakukan dengan mengundang beberapa tamu un dangan khusus, dilanjutkan dengan pesta pernikahan yang bisa ber langsung selama 1 minggu dan di hadiri oleh banyak orang yang diundang. Dengan memahami kedua hal di atas, kita dapat mengerti perkataan Tuhan Yesus dengan tepat. Ke tika inkarnasi, Tuhan Yesus se lalu menempatkan diri dalam kon teks sosial dan budaya zaman itu sehingga semua perkataan-nya da pat dimengerti oleh orang-orang pada zaman itu dengan baik. Dalam Ma tius 24:36, perkataan Tuhan Yesus memberi kesan bahwa Tuhan Ye sus tidak tahu kapan Dia akan da tang kembali, seakan-akan Dia bu kan Allah, atau kalaupun Allah, Dia adalah Allah kelas dua. Bapa ada lah Allah kelas satu. Tetapi kalau ki ta memahami bahwa Tuhan Yesus wak tu itu sedang membicarakan ten tang kedatangan-nya kembali se perti seorang pengantin pria yang sudah dijadwal oleh sang ayah untuk menjemput pengantin wanita, EUANGELION

102 ma ka kita dapat mengerti bahwa per kataan ini bukan bermaksud untuk mengajarkan bahwa Allah Anak ka lah kuasa dengan Allah Bapa, atau Tuhan Yesus tidak mahatahu, tetapi bahwa penjemputan itu adalah ke putusan Bapa, dan Anak yang ber bakti seharusnya taat kepada keputusan Bapa. Sebagai Allah Anak yang se tara dengan Allah Bapa, Tuhan Ye sus tahu, tetapi dengan rela me nyerahkan keputusan itu di tangan Bapa. Sama seperti ketika Dia de ngan rela memutuskan untuk taat mi num cawan murka Allah di taman Getsemani dan juga dengan rela ha ti menyerahkan nyawa-nya di atas kayu salib. Sekarang Dia juga re la menyerahkan keputusan untuk datang kembali kepada Bapa. Kalau du lu waktu inkarnasi Dia rela diutus oleh Bapa, sekarang Dia juga rela me nyerahkan keputusan untuk diutus kembali kepada Bapa di sorga. Ke benaran ini hanya dapat kita paha mi ketika kita mengerti budaya pernikahan orang Yahudi. Perhatikan bahwa tanda-tanda un tuk kedatangan-nya yang kedua ka li adalah dengan tiupan sangkakala/ te rompet (Mat 24:31). Ini adalah tan da yang sama yang digunakan oleh para pengiring pengantin pria ke tika sang pengantin pria dalam per jalanan menjemput pengantin wa nita. Sepanjang perjalanan menuju ru mah pengantin wanita mereka meniup sangkakala/terompet dan bernyanyi dan menari dengan sukacita. Pe ngantin wanita ketika mendengar be rita dari keluarga dan orang-orang bah wa pengantin pria sedang dalam per jalanan menjemput dia (karena ada pemberitahuan dan juga ada tiup an sangkakala/terompet serta iring-iringan penjemputan), maka dia harus mempersiapkan diri dengan se baik-baiknya untuk menyambut pengantin pria. Tiupan sangkakala/terompet ada lah tanda kedatangan pengantin pria yaitu Kristus yang kedua kali. Te tapi tentu saja bukan itu yang di maksudkan oleh Tuhan Yesus ketika nanti Dia datang pada akhir zaman. Sangkakala/terompet adalah lam b ang sehubungan dengan penjemputan pengantin wanita. Un tuk orang percaya, Tuhan Yesus membe rikan tanda-tanda akhir zaman (Mat 24). Tanda-tanda itulah yang di sebut sebagai sangkakala/terompet itu. Sama seperti pengantin wanita ha rus mempersiapkan diri untuk di jemput pengantin pria, demikian ju ga gereja (pengantin wanita) ha rus mem per siapkan diri ketika me lihat atau men de ngar tanda-tanda ak hir zaman. Perumpamaan sepuluh gadis yang menunggu kedatangan pengan tin pria (Mat 25:1-13) merupakan tan da peringatan bagi kita supaya ke tika Kristus benar-benar datang ki ta juga benar-benar sudah siap me nyambut Dia, karena memang wak tunya tidak diketahui. Tuhan Ye sus telah memperingatkan kita bah wa Dia akan datang seperti pencuri, dan Dia meminta orang per caya mempersiapkan diri dengan mem beri kan tanda-tanda akhir zaman. Pdt. Agus Suryanto 102 EUANGELION 173

103 Untuk edisi ini kami persembahkan hymn yang menyatakan kemuliaan Kristus, Ra ja dan Juruselamat kita yang penuh kasih. Hanya Dialah yang layak kita sembah dan tinggikan. Teks Indonesia diambil dari SPK 187. APRESIASI MUSIK Eb 4/4 CROWN HIM WITH MANY CROWNS / / / 2.. Crown Him with man-y crowns, The Lamb up-on His throne; Ra - ja- kan - lah Di - a, Dom- ba di takh-ta - Nya; 2 / / / / 5.. Hark! How the heav n-ly an-them drowns all mu - sic but its own! De - ngar-lah sua ra pu - ji - an ku-man-dang di sor- ga; 5 / / / / 7.. A-wake, my soul, and sing of Him who died for thee, Ba-ngun-lah ji - wa- ku, ber- sa- ma pu- ji- lah, 7 / / / / 1... // And hail Him as thy match-less King Thru all e- ter-ni- ty. Ra - ja yang ma-ti ba - gi- mu se - la-ma-la-ma-nya. Crown Him the Lord of love: Behold His hands and side Rich wounds, yet visible above, in beauty glorified. No angel in the sky can fully bear that sight, But downward bends his wond ring eye At mysteries so bright. Crown Him the Lord of life: Who triumphed o er the grave, Who rose victorious to the strife, for these He came to save. His glories now we sing, Who died and rose on high, Who died eternal life to bring, and lives that death may die. Crown Him the Lord of heav n: One with the Father known; One with the Spirit thru Him giv n from yonder glorious throne. To Thee be endless praise, for Thou for us hast died; Be Thou, O Lord, thru endless days, adored and magnified. EUANGELION

104 thecrossroadschurch.org CROWN HIM WITH MANY CROWNS (Rajakanlah Dia) Syair : Matthew Bridges ( ) Godfrey Thring ( ) Musik : George J. Elvey ( ) Jenis : Hymn Dan matanya bagaikan nyala api dan di atas kepalanya terdapat banyak mahkota dan padanya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan namanya ialah: Firman Allah. Wahyu 19:12, 13 Dia yang memakai mahkota duri saat berada di atas salib, kini dimahkotai ba nyak mahkota sebagai Raja sorga. Masing-masing mahkota di dalam syair hymn ini memuliakan Kristus untuk aspek tertentu dari pribadi-nya atau pe layanan-nya. Bait satu mengenai jabatan-nya sebagai Raja yang kekal; bait dua mengenai kasih-nya yang dinyatakan di dalam penderitaan-nya demi me nebus manusia; bait tiga mengenai kebangkitan-nya yang berkemenangan dan kenaikan-nya ke sorga; bait empat mengenai diri-nya sebagai salah satu priba di dari Allah Tritunggal yang layak kita sembah dan puji. Syair yang penuh penyembahan ini merupakan kombinasi dari karya dua orang pendeta Anglican ternama. Mereka ingin menuliskan hymn pujian bagi Tuhan kita yang menderita namun kini berkemenangan. Ver si Matthew Brid ges pertama kali muncul pada tahun 1851 dengan 6 bait. Dua puluh tiga tahun kemudian Godfrey Thring menulis 6 bait tambahan yang muncul dalam koleksinya Hymns and Sacred Lyrics. Bentuk hymn yang se karang me rupakan gabungan dari karya mereka, di mana bait satu, dua dan empat 104 EUANGELION 173

105 di ambil dari karya Bridges, sedangkan bait tiga diambil dari karya Thring. Na da, Diademata (bahasa Yunani untuk mahkota), digubah khusus un tuk sya ir hymn ini oleh George Elvey, seorang organist ternama dari St. George s Chapel, Windsor, Inggris, yang sering dihadiri oleh keluarga kerajaan Ing gris. Mahkotailah Dia dengan banyak mahkota, Anak Domba di atas takhta-nya: Dengarlah bagaimana nyanyian sorgawi menenggelamkan semua musik! Bangunlah jiwaku dan nyanyilah bagi-dia yang telah mati bagimu, Dan sambutlah Dia sebagai Rajamu yang tiada tara sampai selamanya. Mahkotailah Dia, Tuhan penuh kasih: Tengoklah tangan-nya dan pinggang- Nya Penuh luka, namun terlihat dari atas, indah dan mulia. Tak ada malaikat di langit yang tahan melihatnya, Namun matanya memandang misteri yang begitu cemerlang di bawah sana. Mahkotailah Dia, Tuhan kehidupan: yang menang atas kubur, Yang bangkit dalam kemenangan bagi mereka yang Dia telah datang untuk selamatkan.. Bagi kemuliaan-nya kami kini bernyanyi, bagi Dia yang telah mati dan bangkit, Yang mati tuk membawa kehidupan kekal dan hidup gar kematian binasa. Mahkotailah Dia Tuhan, Raja sorga: Yang dikenal sebagai Allah Bapa; Yang melalui-nya Roh Kudus diberikan dari takhta mulia di atas sana. Bagi Engkau pujian tak berkeputusan, karena Engkau telah mati bagi kami; Biarlah Engkau, O Tuhan, disembah dan dimuliakan selama-lamanya. Biarlah jiwa kita bersukacita di dalam kebenaran bahwa kita milik Dia yang te lah mati untuk membawa kehidupan kekal, dan hidup agar kematian binasa. Sem bahlah dan pujilah Dia dengan syair ini. 5 / / / / 7.. Ba-ngun-lah ji- wa- ku, ber- sa- ma pu- ji- lah, 7 / / / / 1... // Ra- ja yang ma-ti ba- gi- mu se- la-ma-la-ma-nya. BACAAN ALKITAB: Roma 14:9; Ibrani2:7-10; Wahyu 1:5, 6; 5:11-14; 19:1 Disadur dari: Kenneth W. Osbeck, AMAZING GRACE 366 Inspiring Hymn Stories for Daily Devotion EUANGELION

106 ULASAN BUKU YOU LOST ME: Why Young Christians Are Leaving Church... and Rethinking Faith Pengarang : David Kinnaman Penerbit : Baker Books Tahun Terbit : 2011 Penulis David Kinnaman adalah Pre siden dan pemilik mayoritas da ri perusahaan Grup Barna yang berlokasi di Ventura, California. Grup Bar na adalah sebuah perusahaan ri set yang berfokus pada agama dan bu daya. Selain buku You Lost Me, Da vid Kinnaman juga menulis satu buku lainnya yaitu unchristian. Buku You Lost Me dan unchristian berfokus pa da kehidupan spiritual remaja ber dasarkan wawancara lebih dari orang dan pemimpin. Buku You Lost Me, berdasarkan riset yang dilakukan Grup Barna, membu ka kenyataan bahwa komunitas Kris ten, termasuk Gereja, gagal dalam mempersiapkan remaja Kristen un tuk tetap bertahan dalam iman Kris ten di tengah kemajuan teknologi, in formasi dan perubahan budaya yang sangat cepat, tanpa batas dan tan pa filter. Buku ini menampilkan data dan fakta bahwa banyak remaja Kris ten yang berjuang untuk mem per tahankan iman mereka di tengah perkem bangan jaman. Para remaja ini me miliki keraguan tentang spiritual me reka dan tidak sedikit dari mereka yang menjauh, meninggalkan Gereja dan bahkan meninggalkan iman Kristen karena mereka kecewa terhadap ko munitas Kristen dan Gereja. Buku ini mencatat bahwa hampir 60% dari re maja Kristen di Amerika yang sejak ma sa kecilnya telah mengenal Kristus, ak hirnya meninggalkan Gereja dan Ke kristenan setelah masuk SMA. Kekecewaan ini disebabkan oleh ba nyak hal, antara lain, sebagian besar remaja ini merasa bahwa Gereja bu kanlah tempat yang aman untuk mengekspresikan keraguan mereka, 106 EUANGELION 173