BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Dalam bagian ini diuraikan profil Kota Denpasar, yaitu meliputi lokasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Dalam bagian ini diuraikan profil Kota Denpasar, yaitu meliputi lokasi"

Transkripsi

1 103 BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN Dalam bagian ini diuraikan profil Kota Denpasar, yaitu meliputi lokasi geografi, demografi, ekonomi dan pariwisata, politik dan pemerintahan, serta sosial dan budaya. Pada bagian ini juga diuraikan tentang gambaran umum sekolah dasar di Kota Denpasar yang meliputi sebaran dan lokasi, keadaan siswa dan guru, serta kurikulum bahasa Inggris dan sejarah pengajaran bahasa Inggris. Deskripsi ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai hal yang mendasari perkembangan pembangunan di Kota Denpasar pada umumnya dan tentang pembelajaran bahasa Inggris di SD pada khususnya Profil Kota Denpasar Denpasar pada mulanya merupakan pusat Kerajaan Badung. Akhirnya, tetap menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Badung, bahkan mulai tahun 1958 Denpasar dijadikan pusat pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat I Bali. Dengan dijadikan Denpasar sebagai pusat pemerintahan Tingkat II Badung maupun Tingkat I Bali, kota ini mengalami pertumbuhan yang sangat cepat, baik dalam hal fisik, ekonomi, maupun sosial budaya. Keadaan fisik Kota Denpasar dan sekitarnya sedemikian maju dan pola kehidupan masyarakatnya telah banyak menunjukkan ciri-ciri dan sifat perkotaan. Denpasar menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat industri dan pusat pariwisata. Denpasar terdiri atas empat kecamatan, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar Timur, Denpasar Selatan, dan Denpasar Utara. 103

2 104 Seperti halnya kota-kota lainnya di Indonesia, Kota Denpasar mengalami pertumbuhan dan perkembangan penduduk serta lajunya pembangunan di segala bidang terus meningkat sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kota itu sendiri. Demikian pula Kota Denpasar yang merupakan ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan sekaligus merupakan ibu kota Provinsi Daerah Tingkat I Bali, yakni mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Kota Denpasar menerima warisan dari kabupaten Badung, yakni sebagai daerah hunian wisata, yang mewilayahi daerah hunian wisata utama di kawasan Sanur. Dari sisi utara Sanur dengan The Grand Bali Beach hingga Sanur Beach Hotel di sisi selatan Sanur dipadati oleh hotel, restoran, dan berbagai sarana penunjang wisata lainnya. Selanjutnya menyikapi perkembangan Denpasar agar tidak liar tanpa kendali, maka memasuki milenium ketiga, Pemerintah Kota Denpasar menetapkan rambu-rambu bahwa kota Denpasar sebagai kota budaya. Adapun tempat wisata yang ada di Kota Denpasar, seperti: Patung Catur Muka, Monumen Puputan Badung, Art Centre, Museum Bali, Pura Agung Jagatnatha, Pura Pengerebongan, Taman Festival Bali, Pura Sakenan, Benoa, Pantai Sanur, Blanjong Prasasti, Arca Ganesha, Monumen Padanggalak, Pasar Badung, dan Musium Le Mayeur. Kawasan tempat wisata tersebut ditata agar lebih pantas menyandang predikat kota budaya. Paket city tour pun dikemas sebagai ramburambu pendukung untuk menjaga kualitas ruang-ruang tersebut Lokasi dan Geografi Kota Denpasar, selain merupakan ibu kota daerah tingkat II, juga merupakan ibu kota Provinsi Bali dan sekaligus sebagai pusat pemerintahan,

3 105 pendidikan, serta perekonomian. Letak yang sangat strategis ini sangatlah menguntungkan, baik dari segi pusat pendidikan, ekonomi, maupun kepariwisataan karena merupakan titik sentral berbagai kegiatan sekaligus sebagai penghubung dengan kabupaten lainnya. Kota Denpasar berada di antara Lintang Selatan dan Bujur Timur, yakni berbatasan dengan: di sebelah utara Kabupaten Badung, di sebelah timur Kabupaten Gianyar, di sebelah selatan Selat Badung; dan di sebelah barat Kabupaten Badung. Luas seluruh Kota Denpasar adalah Ha, termasuk tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha. Tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata 8,09 %, sedangkan sensus Penduduk 2000 menunjukkan pertumbuhan dengan rata-rata sebesar 3,01 %. Hal ini disebabkan program keluarga berencana yang ada di Kota Denpasar dapat dilaksanakan dengan baik. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk ini disebabkan oleh faktor urbanisasi yang sangat dominan, yakni dengan alasan pokok mencari pekerjaan. Secara regional penyebab banyaknya penduduk yang masuk ke Kota Denpasar karena Denpasar merupakan ibu kota provinsi. Hampir semua kegiatan ekonomi ataupun pendidikan terfokus di kota ini. Selama tahun 2008, pertambahan penduduk sebesar orang, semula orang pada tahun 2007 menjadi orang pada tahun Apabila dilihat dari jumlah penduduk dan tingkat migrasinya, Denpasar tergolong kota besar. Namun, dari segi luas wilayahnya Denpasar tidak dapat dikategorikan sebagai kota besar. Malahan di antara sembilan kabupaten/kota di Bali, luas wilayah Kota Denpasar adalah yang paling sempit/kecil. Walaupun demikian, Denpasar sebagai ibu kota

4 106 Provinsi Bali, pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pariwisata telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Sebagai kota yang tumbuh sangat pesat, tentu bukan sesuatu yang ganjil jika Denpasar berkembang menjadi kota urban. Pertumbuhan ini selain mengucurkan rezeki bagi warganya, juga memberikan dilema-dilema sosial. Denpasar adalah tempat yang cukup menjanjikan kesuksesan. Konsekuensi dari keadaan ini adalah tingginya arus urbanisasi, yakni dengan persentase terbesar datang dari urbanisasi penduduk yang tidak terencana dan terkendali. Mereka umumnya bekerja pada sektor informal, tanpa keterampilan, dan tidak bermodal. Akibatnya, mereka sangat rentan terhadap krisis ekonomi, mempercepat jumlah pengangguran sehingga Denpasar semakin heterogen dan terasa semakin sempit Demografi Menurut registrasi jumlah penduduk sampai akhir Tahun 2008 adalah orang. Hal ini disebabkan program keluarga berencana yang ada di Kota Denpasar dapat dilaksanakan dengan baik. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk ini disebabkan oleh faktor migrasi yang sangat dominan, yakni dengan alasan pokok mencari pekerjaan. Secara regional penyebab banyaknya penduduk masuk ke Kota Denpasar karena kota ini merupakan kota provinsi, di samping hampir semua kegiatan ekonomi maupun pendidikan terpusat di daerah ini. Selama tahun 2008 pertambahan penduduk Kota Denpasar sebesar orang. Pertumbuhan penduduk tersebut hanya sebagian kecil disebabkan oleh pertumbuhan alami, tetapi lebih banyak karena mutasi penduduk, baik dari

5 107 kabupaten di Bali maupun dari luar Bali. Hal ini menyebabkan kepadatan penduduk yang makin meningkat, seperti dirinci pada Table 4.1 berikut ini. Tabel 4.1 Jumlah Penduduk di Kota Denpasar N0 Kecamatan Jumlah Jumlah Sex Ratio Kepadatan Penduduk(Jiwa) Rumah (Jiwa/Km2) Tangga 1 Denpasar Selatan Denpasar Timur Denpasar Barat Denpasar Utara Kota Denpasar Sumber : Dinas Pendidikan Kota Denpasar 2008 Gambaran ketenagakerjaan di Kota Denpasar dapat ditunjukkan oleh tingkat partisipasi, komposisi, dan persebaran angkatan kerja. Aspek ketenagakerjaan yang disajikan meliputi komposisi angkatan kerja, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, status pekerjaan, dan jumlah jam kerja. Dalam hal ini penduduk usia kerja diklarifikasikan dari umur sepuluh tahun ke atas, yaitu mereka yang secara potensial dapat memproduksikan barang dan jasa. Angkatan kerja seluruhnya yang terserap orang, sedangkan yang masih berstatus sebagai pengangguran orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk Kota Denpasar mencapai angka 72,90 %. Dengan kata lain masih terdapat 2,96 % penduduk usia kerja yang berstatus sebagai pengangguran. Penyebaran tenaga kerja tersebut terdiri atas sektor pertanian orang, industri pengolahan

6 orang, perdagangan orang, angkutan orang, jasa orang dan lain-lain orang Ekonomi dan Pariwisata Budaya Lebih dari 37% penduduk Kota Denpasar bekerja pada bidang perdagangan, perhotelan, atau industri rumah makan. Dari data tahun 2001, kontribusi yang cukup signifikan membangun perekonomian Kota Denpasar adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran (34,36%), kemudian diikuti oleh sektor keuangan (15,19%), sektor pengangkutan dan komunikasi (13,66%), sektor industri pengolahan (12,24%), sedangkan sektor lainnya (24,55%), yaitu meliputi sektor pertambangan, jasa, pertanian, bangunan, listrik, dan gas rata-rata 5-6%. Pada tahun 2000, jumlah wisatawan mancanegara yang datang berkunjung mencapai pada Pelabuhan Benoa dan Bandara Internasional Ngurah Rai. Sekitar Juli dan Agustus merupakan bulan sibuk, sementara Desember dan Januari merupakan bulan sepi. Kunjungan ke Bali menunjukkan peningkatan yang kuat pada kurun waktu ketika masalah dalam negeri dan krisis melanda Asia pada umumnya. Keamanan wilayah Bali merupakan daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Pembangunan Kota Denpasar diarahkan untuk tetap mempertahankan tingkat laju pertumbuhan perekonomian yang tinggi serta meningkatkan pemerataan dengan struktur perekonomian yang mantap. Peranan sektor-sektor lain, seperti: pariwisata, seni dan budaya, serta pendidikan sangat menunjang laju pertumbuhan pembangunan di Kota Denpasar, apalagi kota ini mencanangkan diri

7 109 sebagai kota berwawasan budaya. Dengan sendirinya peningkatan dan pelestarian budaya perlu dipertahankan. Kota Denpasar merupakan daerah yang memiliki potensi yang cukup tinggi di bidang kepariwisataan karena didukung oleh kondisi alam, kondisi sosial budaya, serta dunia usaha. Dalam pengembangan pembangunan kepariwisataan di Kota Denpasar masih terdapat beberapa kendala, seperti: masalah kemacetan lalu lintas, kependudukan, kebersihan, dan ketertiban umum. Pada jam tertentu sering terjadi kemacetan, terutama pada ruas jalan yang menjadi pusat pendidikan. Di samping itu, belum terkelolanya secara baik sebagian objek wisata dan dukungan kekhasan daerah sebagai daya tarik wisatawan. Walaupun demikian, pembangunan kepariwisataan merupakan hal yang mendapat perhatian dan disiasati agar pembangunan kepariwisataan Kota Denpasar yang merupakan sektor andalan dan unggulan mampu mewujudkan pariwisata peduli rakyat. Wawasan budaya menempatkan kebudayaan dalam kategori dasar atau asasi, yaitu berfungsi sebagai potensi dasar, cara/pendekatan, di samping sebagai tujuan. Sebagai potensi dasar unsur-unsur kebudayaan Bali bersifat khas, unggul, dan menyiratkan nilai-nilai luhur yang sangat perlu dikedepankan. Unsur-unsur tersebut mencakup: pura, puri, arsitektur Bali, kesenian daerah, upacara, hukum adat, konsepsi-konsepsi budaya, serta unsur-unsur yang lainnya. Selanjutnya, sebagai cara atau pendekatan, terkristalisasi bahwa hakikat pendekatan kebudayaan mengutamakan hal-hal yang prinsipil, seperti menghormati kebersamaan, menghargai segala bentuk pendapat. Secara singkat cara atau pendekatan yang dimaksud harus mengutamakan subjektivitas,

8 110 partisipatif, objektivitas, serta dilandasi kearifan, moral, dan etika secara manusiawi. Sebagai tujuan pembangunan kepariwisataan, orientasi diarahkan pada kesejahteraan yang seimbang dan serasi sesuai dengan amanat Tri hita Karana, yaitu keserasian hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya. Pembangunan Denpasar yang berwawasan budaya yang dilandasi Tri hita Karana menghadapi berbagai hambatan, di antaranya kesemerawutan tata ruang dengan kecenderungan ketersesakan yang makin tinggi sehingga menimbulkan tekanan ekologis yang berat terhadap kehidupan manusia, masyarakat, dan kebudayaan serta kondisi kehidupan warga kota yang heterogen dan kompleks, baik mengenai kepadatan demografis maupun keberagaman etnis, ras, dan agama. Dengan pulihnya perekonomian dunia sudah tentu kehidupan pariwisata Bali akan semakin baik. Wisatawan mancanegara akan semakin banyak datang ke Bali karena Bali memiliki daya tarik yang luar biasa dan diakui dunia. Kebudayaan daerah Bali merupakan modal dasar pembangunan yang melandasi pembangunan yang dilaksanakan. Warisan budaya yang bernilai luhur merupakan dasar dalam rangka pengembangan pariwisata budaya yang dijiwai oleh agama Hindu Sosial dan Budaya Kebijakan pembangunan bidang sosial dan budaya yang dilakukan oleh pemerintah kota, yakni meliputi bidang agana dan kepercayaan terhadaptuhan Yang Maha Esa. Adapun kebijakan di bidang sosial budaya yang sedang

9 111 dilakukan adalah; (1) meningkatkan pengamalan ajaran agama sebagai landasan moral etik dalam kehidupan bermasyarakat; (2) pembinaan kehidupan beragama diarahkan untuk menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana kondusif melalui tri kerukunan umat beragama; (3) meningkatkan sarana dan prasarana kehidupan beragama sesuai dengan kebutuhan dengan mengikut- sertakan masyarakat; (4) pembinaan dan pemahaman penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa agar tidak mengarah pada pembentukan agama; (5) menggali, mengembangkan, dan melestarikan nilai-nilai budaya dan kesenian daerah Bali untuk memperkaya keanekaragaman budaya bangsa yang didukung oleh iklim, sarana, dan prasarana yang memadai; (6) meningkatkan peranan lembaga adat dan lembaga-lembaga tradisional lainnya sebagai perwujudan pemberdayaan masyarakat; dan (7) meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan prioritas pada upaya promotif dan preventif dengan tidak meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif Politik dan Pemerintahan Secara administratif Kota Denpasar terbagi menjadi empat wilayah kecamatan, yakni meliputi Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar Timur, Denpasar Selatan, dan Denpasar Utara. Wilayah Kecamatan dibagi menjadi beberapa desa/kelurahan, masing-masing terdiri atas beberapa dusun/lingkungan. Di samping desa dinas juga terdapat desa adat yang masing-masing terdiri atas beberapa banjar adat. Dalam hal ini antara desa dinas dan desa adat tidak terjadi tumpang tindih, justru sebaliknya terdapat keserasian dan kerja sama yang saling

10 112 mendukung. Selanjutnya, jumlah kelurahan/dinas dan banjar di Kota Denpasar seperti terlihat pada Tabel 4.2 di bawah ini. Tabel 4.2 Jumlah Kelurahan/Dinas dan Banjar di Kota Denpasar No Kecamatan Ibu Kota Kel. Desa Banjar Dinas Adat Dinas Adat 1 Denpasar Barat Pemecutan Kaja Denpasar Utara Peguyangan Denpasar Timur Kesiman Denpasar Selatan Sesetan Kota Denpasar Sumber : Pemerintah Kota Denpasar 2008 Dari 16 kelurahan dan 27 desa yang ada di Kota Denpasar, semuanya sudah termasuk kategori desa/kelurahan swasembada. Adapun kebijakan pembangunan Kota Denpasar dalam lima tahun ke depan diarahkan untuk mewujudkan pembangunan Kota Denpasar yang berwawasan budaya yang dijiwai agama Hindu dan dilandasi Tri hita Karana. Prioritas pembangunan diletakkan pada sektor budaya, pariwisata, perdagangan, jasa, industry, dan sektor pertanian sebagai sektor unggulan, di samping mendorong sektor pelayanan dasar, pengembangan, dan pemberdayaan ekonomi lokal dengan pembenahan kelembagaan secara menyeluruh melalui sistem ekonomi kerakyatan. Landasan kebijakan adalah pernyataan visi yang tetap

11 113 bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu; (a) pemerataan pembangunan, (b) stabilitas daerah/nasional yang sehat dan dinamis, dan (c) Supremasi hukum. Ketiga pilar tesebut saling terkait dan dikembangkan secara selaras, terpadu, dan saling memperkuat. Sejalan dengan prioritas pembangunan Kota Denpasar, kebijakan pengembangan diarahkan pada sektor kebudayaan sebagai landasan pembangunan dalam rangka mewujudkan jati diri Kota Denpasar. Sektor pariwisata sebagai tulang punggung pembangunan diharapkan dapat menggerakkan sektor-sektor lainnya dalam menunjang pembangunan Kota Denpasar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran dikembangkan untuk mendukung pengembangan sektor industri, pariwisata, dan pertanian. Sektor jasa dikembangkan untuk mendukung pelayanan masyarakat, sektor perdagangan, pariwisata, dan pertanian. Sektor industri didorong untuk pengembangan ekonomi kerakyatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sektor pertanian diarahkan untuk pengembangan pertanian pedesaan dan menjaga ekosistem perkotaan. Sektor lain dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor-sektor strategis di atas. Adapun kebijakan pembangunan yang telah dan akan dilaksanakan adalah sebagai berikut; (1) Peningkatan keterampilan dan keahlian, pengembangan potensi/bakat aparat, peningkatan motivasi dan kepribadian pekerja aparat, serta penyempurnaan sistem insentif dan disinsentif untuk mendorong kinerja aparatur pemerintahan. (2) Melakukan reorganisasi dan restrukturisasi kelembagaan agar pelayanan kepada masyarakat dapat diberikan secara efisien dan optimal, di samping pembenahan sistem menejemen

12 114 pemerintahan menuju sistem yang transparan, responsif, efisien, dan efektif. (3) Meningkatkan kemampuan aparatur melalui berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan sehingga secara terstruktur didapatkan sumber daya manusia yang profesional dan bertanggung jawab. 4.2 Sekolah Dasar di Kota Denpasar Kota Denpasar sebagai kota provinsi sudah tentu merupakan pusat kegiatan pendidikan dari jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Saat ini terdapat 183 buah sekolah TK dengan 675 guru dan murid; 218 SD, dengan guru dan murid, 48 SLTP swasta atau negeri, dengan guru, dan murid; 50 buah SMTA negeri atau swasta dengan guru dan menampung murid (Disdikpora Kota Denpasar). Namun untuk tingkat pendidikan tinggi yang meliputi universitas, sekolah tinggi, institut serta akademi terdapat sebanyak 32 buah, baik berstatus negeri maupun swasta. Pemerintah kota telah mengupayakan perluasan jaringan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi melalui peningkatan manajemen, mutu, dan akses pendidikan. Hal penting yang sudah dilakukan adalah memberdayakan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan kemampuan, di samping meningkatkan partisipasi masyarakat. Kota Denpasar sebagai kota provinsi dan pusat pendidikan serta mempunyai jumlah penduduk terpadat dibandingkan dengan daerah kabupaten lainnya, tidaklah mengherankan kalau sekolah yang ada dari tingkatan TK sampai tingkat SMA selalu menjadi rebutan sebagai sekolah pilihan. Sebagai kota yang penduduknya heterogen, sudah tentu terdapat berbagai latar belakang siswa-siswi dari berbagai suku dan etnis

13 115 yang berbeda-beda. Kondisi ini harus dipertahankan oleh para pendidik dan pemerintah dalam rangka menjadikan Kota Denpasar sebagai pusat pendidikan yang multikultural. Dalam konteks Kota Denpasar, yang dikenal dengan muatan yang sarat kemajemukan, pendidikan multikultural menjadi sangat strategis dan harus dikelola secara kreatif sehingga konflik dapat dihindari. Di sisi lain, terdapat 218 buah sekolah dasar negeri dan swasta yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Denpasar Timur, Kecamatan Denpasar Utara, Kecamatan Denpasar Barat dan Kecamatan Denpasar Selatan. Adapun Jumlah SD yang ada di Kota Denpasar adalah seperti tersaji pada Tabel 4.3 di bawah ini. Tabel 4.3 Jumlah dan Jenis Sekolah Dasar di Kota Denpasar Kecamatan Negeri Swasta Kecamatan Denpasar Timur Kecamatan Denpasar Utara Kecamatan Denpasar Barat Kecamatan Denpasar Selatan Jumlah Sumber : Pemerintah Kota Denpasar Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini hanya delapan sekolah yang dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan). Berdasarkan teknik pengambilan sampel ini, maka tempat pelaksanaan penelitian terdiri atas satu SD negeri dan satu SD swasta dari

14 116 masing-masing kecamatan. Sebaran dan lokasi sekolah tersebut adalah seperti terlihat pada Tabel 4.4 berikut ini. Tabel 4.4 Sekolah Dasar Negeri dan Swasta Tempat Penelitian N Kecamatan SD Negeri Alamat SD Swasta Alamat o 1 Denpasar Timur SD 1 Sumerta Jln.Pucuk No 1 Denpasar SD Saraswati 5 Denpasar Jln. W.R.Supratman N Denpasar 2 Denpasar Utara SD 31 Dangin Puri Jln. Mawar No. 8 SD Saraswati 1 Denpasar Jln. Gadung No.28 Denpasar 3 Denpasar Barat 4 Denpasar Selatan SD 8 Dauh Puri SD 1 Sesetan Denpasar Jln.PB Sudirman No. 16 Denpasar Jln. Pulau Saelus No. I/A Sesetan SD Santo Yoseph 1 Denpasar SD Kristen Harapan Jln. Serma Kawi No. 2 Denpasar Jln. Raya Sesetan No. 62 Denpasar Adapun penetapan SD tersebut sebagai tempat penelitian ini didasarkan atas pengamatan sebelumnya bahwa sekolah-sekolah itu telah memberikan pelajaran bahasa Inggris sejak kebijakan pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris untuk sekolah dasar diterapkan di Kota Denpasar. Selain itu, sekolah-sekolah tersebut di atas memiliki keunggulan dalam berbagai prestasi, baik akademik maupun non- akademik. Secara umum fasilitas pembelajaran di SD itu, menurut pengamatan dan informasi yang diperoleh, sudah memadai. Akan tetapi, sarana dan prasarana pembelajaran bahasa Inggris masih menimbulkan kendala, seperti: pengadaan guru bahasa Inggris, laboratorium bahasa dan buku paket untuk pembelajaran bahasa Inggris. Dalam hal ini, memang ada sekolah swasta yang mempunyai fasilitas pendidikan yang lebih lengkap seperti laboratorium bahasa. Sehubungan dengan hal itu ada beberapa sekolah dasar negeri yang ditetapkan sebagai sekolah

15 117 rintisan pembelajaran bahasa Inggris yang memberikan bahasa Inggris dari kelas satu SD. Pemberian pembelajaran bahasa Inggris mulai dari kelas satu sebenarnya atas permintaan orangtua siswa lewat komite sekolah. Selain itu, sekolah juga merasakan keuntungan dari pembelajaran bahasa Inggris ini sehingga menjadi sekolah yang diminati oleh masyarakat. Oleh karena letaknya yang strategis dan dengan fasilitas yang memadai hampir setiap tahun sekolah yang menjadi lokasi penelitian ini selalu menjadi incaran bagi masyarakat untuk dapat memasukkan putra-putrinya agar mendapat pendidikan yang berkualitas. Dalam hal ini ada anggapan bahwa sekolah yang bisa memberikan pelajaran bahasa Inggris sejak awal atau dari kelas satu merupakan sekolah bergengsi Siswa dan Guru Peserta didik yang ada di sekolah negeri tampaknya memiliki tingkat ekonomi yang bervariasi dibandingkan dengan siswa yang memilih sekolah swasta. Secara umum mereka yang memilih sekolah negeri pada umumnya mempunyai tingkat ekonomi yang lebih rendah daripada yang memilih sekolah swasta. Perbedaan latar belakang ekonomi juga berpengaruh terhadap prestasi belajar bahasa Inggris di SD. Keadaan ini tentunya menimbulkan masalah. Namun, para siswa yang datang dari keluarga menengah ke atas, masalah kesulitan berbahasa Inggris ini dapat diatasi dengan mudah. Mereka tinggal menunjuk kursus bahasa Inggris mana saja yang mereka suka dan bisa mulai belajar. Akan tetapi, bagaimana halnya dengan para siswa yang berasal dari kalangan bawah? Hal ini tentu merupakan kesulitan tersendiri karena kadang-

16 118 kadang, apalagi untuk membayar uang kursus, untuk makan pun mereka masih harus mencari uang selepas sekolah. Latar belakang sosial ekonomi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan siswa dalam belajar bahasa Inggris. Secara umum prestasi siswa negeri sangat bervariasi dibandingkan dengan prestasi sekolah swasta yang secara umum berlatar belakang tingkat ekonomi kelas menengah ke atas. Sekalipun keadaan siswa yang heterogen, mereka mempunyai semangat yang sangat tinggi untuk belajar bahasa Inggris. Dari guru dan kepala sekolah diperoleh informasi bahwa siswa sangat tertarik dengan bahasa Inggris karena mereka mendapat semangat dari orangtuanya yang menganggap bahasa Inggris sangat penting untuk dipelajari pada era sekarang ini, terlebih Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia. Masalah tenaga pendidik yang mengasuh mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah yang menjadi lokasi penelitian merupakan kendala yang harus diperhatikan oleh pemerintah, sekolah,dan orangtua siswa. Sehubungan dengan tenaga pengajar atau guru bahasa Inggris untuk sekolah dasar, sebagian besar sudah berkualifikasi S1 bahasa Inggris. Akan tetapi, mereka merupakan guru yang bukan dididik menjadi guru bahasa Inggris untuk pembelajar muda. Memang jumlah guru bahasa Inggris di tingkat SMP dan SMA saja masih belum tentu terpenuhi secara nasional. Oleh karena itu, tenaga pendidik bahasa Inggris di sekolah dasar jelas belum dapat memenuhi persyaratan sebagai guru bahasa Inggris untuk tingkat pemula. Tampaknya ada kesan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di SD sekadar gengsi (Septi, 1996). Oleh karena dengan memberikan

17 119 materi bahasa Inggris di SD itu, maka sudah dianggap mengikuti tuntutan zaman. Namun perlu diingat bahwa mengajarkan ilmu pada anak usia dini sangat riskan jika semua persyaratan yang mendasar tidak terpenuhi. Mutu pendidikan sangat erat kaitannya dengan kualitas sumber daya pendidik karena lulusan berkualitas akan dapat dihasilkan apabila tersedia tenaga pendidik yang profesional. Pelajaran bahasa Inggris telah boleh diajarkan pada tingkat sekolah dasar sejak tahun 1994 sebagai muatan lokal. Namun dalam pelaksanaannya ternyata banyak mengalami kendala terutama yang berkaitan dengan ketersediaan dan kemampuan tenaga pengajar, substansi atau materi pelajaran, metodologi atau pendekatan dalam pembelajaran, sistem evaluasi, serta sarana dan prasarana (Ngadiman, 2005). Sistem perekrutan guru di SD menggunakan sistem guru kelas. Akibatnya bahasa Inggris di SD diajarkan oleh guru kelas yang memiliki kapasitas atau kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, atau diajarkan oleh guru honorer. Kedua model guru tersebut sama-sama memiliki kelemahan. Dalam hal ini guru kelas karena memiliki beban mengajar yang cukup besar mengakibatkan kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. Guru honorer bahasa Inggris memiliki kemampuan mengajar bahasa Inggris lebih baik tetapi pada umumnya mengajar lebih dari satu sekolah karena keterbatasan tenaga. Selain itu, pada umumnya penghargaan terhadap guru honorer ini belum memadai karena kemampuan sekolah yang terbatas. Dalam kaitan ini, beberapa SD, terutama di kota-kota besar telah mengajarkan bahasa Inggris kepada siswanya. Namun, banyak guru yang

18 120 ditugaskan mengajarkan bahasa Inggris bukanlah guru yang telah dipersiapkan, tetapi guru yang "terpaksa" mengajar bahasa Inggris karena ditugaskan kepala sekolah (Panjaitan, ). Di samping itu proses pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang harus dipecahkan dan dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Isu yang sering muncul dalam pengajaran bahasa Inggris di SD adalah tentang rendahnya rasa percaya diri (self-confidence) anak-anak karena mereka masih merasa ada "jarak" dengan bahasa Inggris. Beberapa studi empiris menunjukkan bahwa pembelajaran dan pemerolehan bahasa asing akan lebih baik apabila dilakukan sejak usia dini. Hasil studi inilah yang telah mendorong berkembangnya pemikiran bahwa pengajaran bahasa Inggris seyogianya sudah dilakukan pada satuan pendidikan SD. Di samping itu, mainstream peradaban yang semakin mengglobal juga memberi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab mempersiapkan dan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghadapi semua tantangan perubahan di sekitarnya yang berjalan sangat cepat. Kemampuan serta keterampilan di berbagai bidang ilmu, termasuk kemampuan berbahasa asing (terutama bahasa Inggris) serta penguasaan teknologi adalah kemampuan yang harus dikuasai oleh lulusan suatu lembaga pendidikan dalam memasuki persaingan lapangan kerja, baik domestik maupun luar negeri. Pembelajaran bahasa Inggris di SD dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan komunikatif yang memberikan perhatian secara langsung pada empat

19 121 keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam penerapan pendekatan komunikatif ini, para guru harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memadai dan memiliki berbagai keterampilan dalam menyajikan materi pelajaran, kreatif dalam menyiapkan materi pembelajaran, memanfaatkan media, serta menciptakan situasi dan kegiatan yang mendorong siswa agar berperan secara aktif. Terbatasnya jumlah lembaga diklat serta tenaga pendidik yang menyelenggarakan sistem diklat tatap muka menyebabkan panjangnya rentang waktu yang diperlukan. Kondisi ini masih ditambah lagi dengan masalah kualifikasi guru SD yang sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan nonbahasa Inggris dan berstatus guru kelas dengan beban mengajar yang banyak. Tantangan besar yang sedang dihadapi oleh Depdiknas saat ini adalah implementasi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan penguasaan empat kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian serta peningkatan kualifikasi pendidikan guru. Sebagian besar atau semua sekolah yang menjadi objek penelitian ini mempunyai seorang guru bahasa Inggris yang mengajarkan bahasa Inggris dari kelas empat sampai kelas enam. Berdasarkan hasil pencermatan di lapangan, ternyata mata pelajaran muatan lokal (MULOK) pilihan bahasa Inggris ini menjadi salah satu kendala bagi para guru bahasa Inggris sekolah dasar pada

20 122 umumnya. Hal itu dapat dibuktikan bahwa banyaknya sekolah dasar negeri (SDN) yang mengajarkan bahasa Inggris, ternyata gurunya bukan dari sekolah dasar yang bersangkutan, tetapi mengambil dari luar, yakni guru honorer. Dalam hal ini, untuk Kota Denpasar, sampai penelitian ini dilaksanakan, semua guru bahasa Inggrisnya berstatus guru honorer. Pengajaran bahasa Inggris menjadi tugas berat yang perlu diperhatikan oleh sebagian besar guru bahasa Inggris untuk sekolah dasar sekalipun sebagian besar dari mereka sudah pernah mendapat bekal ketika mereka duduk di bangku sekolah atau saat kuliah. Dengan demikian, secara teori bekal yang dimiliki setiap guru sudah cukup memadai. Namun, karena faktor pendidikan, baik latar belakang, materi yang mereka peroleh, maupun keterampilan mereka berbeda-beda, maka dalam penerapannya pun canggung atau ragu-ragu sehingga hasil yang diperoleh pun akan berbeda-beda. Menurut pengamatan peneliti dan hasil wawancara dengan kepala sekolah, secara umum beberapa hal yang merupakan kendala atau menjadi problema pengajaran bahasa Inggris bagi guru sekolah dasar pada umumnya adalah bahwa: (1) kebanyakan guru bahasa Inggris belum berstatus PNS sehingga belum mempunyai sertifikasi sebagai pengajar bahasa Inggris untuk pemula atau young leaners. Apabila selama ini ada guru SD pengajar bahasa Inggris yang berijazah bahasa Inggris, biasanya guru tersebut bukan PNS, tetapi guru honorer. Hal ini disebabkan bahwa pada umumnya para sarjana, baik umum maupun sarjana pendidikan bahana Inggris enggan atau tidak tertarik untuk mengajar atau menjadi guru honorer di sekolah dasar, kecuali terpaksa atau karena sama sekali belum mendapat pekerjaan.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mencapai orang, yang terdiri atas orang lakilaki

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mencapai orang, yang terdiri atas orang lakilaki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peluang kerja di Indonesia sangat dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk. Menurut hasil sensus penduduk pada tahun 2010 jumlah penduduk di Indonesia mencapai 237.556.363

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang dikenal dan diakui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan Millenium Development Goals (MDGS), yang semula dicanangkan

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan Millenium Development Goals (MDGS), yang semula dicanangkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada kualitas pendidikan. Peran pendidikan

Lebih terperinci

MATERI KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MULOK. By: Estuhono, S.Pd, M.Pd

MATERI KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MULOK. By: Estuhono, S.Pd, M.Pd MATERI KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MULOK By: Estuhono, S.Pd, M.Pd PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM Estuhono, S.Pd, M.Pd I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otonomi daerah, sentralisasi ke desentralisasi, multikultural,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan secara teratur, terus menerus, dan berkelanjutan. Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan secara teratur, terus menerus, dan berkelanjutan. Bahasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa merupakan suatu hasil kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan. Bahasa memungkinkan manusia dapat memikirkan suatu permasalahan secara teratur, terus menerus,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada awal abad XXI, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan

Lebih terperinci

2014 MODEL PENGEMBANGAN BAHAN AJAR UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS SISWA SEKOLAH DASAR DI BANDAR LAMPUNG

2014 MODEL PENGEMBANGAN BAHAN AJAR UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS SISWA SEKOLAH DASAR DI BANDAR LAMPUNG 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional yang paling banyak dipelajari dan digunakan dalam berkomunikasi antar bangsa. Ini sesuai dengan peran

Lebih terperinci

MODEL MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL. SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB SMA/MA/SMALB/SMK

MODEL MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL. SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB SMA/MA/SMALB/SMK MODEL MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB SMA/MA/SMALB/SMK DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA TAHUN 2006 DAFTAR ISI Daftar Isi 1 I. PENDAHULUAN 2 A. Latar Belakang 2 B. Landasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tatanan kehidupan masyarakat yang semrawut merupakan akibat dari sistem

BAB I PENDAHULUAN. Tatanan kehidupan masyarakat yang semrawut merupakan akibat dari sistem BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tatanan kehidupan masyarakat yang semrawut merupakan akibat dari sistem perekonomian yang tidak kuat, telah mengantarkan masyarakat bangsa pada krisis yang berkepanjangan.

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Salahsatu kewenangan otonomi daerah yaitu memiliki kewenangan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Salahsatu kewenangan otonomi daerah yaitu memiliki kewenangan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salahsatu kewenangan otonomi daerah yaitu memiliki kewenangan untuk memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah (Undang-Undang, 1999). Sehingga keanekaragaman

Lebih terperinci

RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA LAMONGAN

RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA LAMONGAN RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA LAMONGAN BIDANG KEGIATAN : PKM GT Diusulkan oleh : Okky Wicaksono 09 / 282652 / SA / 14854 English Department UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

Lebih terperinci

Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN

Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran

Lebih terperinci

Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Peran Kebudayaan dalam Pembangunan Pendidikan Berkelanjutan Salah satu fungsi pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten dan kota di

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten dan kota di BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini, peneliti akan membahas tentang: 1) latar belakang; 2) fokus penelitian; 3) rumusan masalah; 4) tujuan penelitian; 5) manfaat penelitian; dan 6) penegasan istilah.

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH 3.1. Visi Berdasarkan kondisi masyarakat dan modal dasar Kabupaten Solok saat ini, serta tantangan yang dihadapi dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang, maka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan aspek strategis bagi suatu negara. Sifat pendidikan adalah

BAB I PENDAHULUAN. merupakan aspek strategis bagi suatu negara. Sifat pendidikan adalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan elemen penting dari kehidupan seseorang dan merupakan aspek strategis bagi suatu negara. Sifat pendidikan adalah kompleks, dinamis, dan

Lebih terperinci

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG Misi untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman dan berkualitas tinggi merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sumberdaya manusia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang dianut pemangku kebijakan. Kurikulum memiliki. kedudukan yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang dianut pemangku kebijakan. Kurikulum memiliki. kedudukan yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kurikulum menjadi komponen acuan oleh setiap satuan pendidikan. Kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktek pendidikan, selain itu juga

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Pada bab sebelumnya telah diuraikan gambaran umum Kabupaten Kebumen sebagai hasil pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun periode yang lalu. Dari kondisi yang telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah sudah menjadi sempit. Interaksi antar manusia dalam wujud tertentu sudah tidak dapat dibatasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, mengembangkan gagasan dan perasaan serta dapat digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, mengembangkan gagasan dan perasaan serta dapat digunakan untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting dalam peradaban manusia, bahasa juga memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional bagi

Lebih terperinci

BAB III VISI, DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN

BAB III VISI, DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN BAB III VISI, DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2005-2025 3.1. Visi Ada beberapa unsur yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun visi dan misi daerah, yaitu mandat dan perubahan-perubahan yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Budi Utomo, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Budi Utomo, 2014 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pulau Bangka merupakan pulau kecil di sebelah selatan Sumatra. Pulau ini sudah terkenal sejak abad ke-6. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan prasasti

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RPJMD Kota Pekanbaru Tahun

RPJMD Kota Pekanbaru Tahun RPJMD Kota Pekanbaru Tahun 2012-2017 BAB V VISI, MISI, DAN V - 1 Revisi RPJMD Kota Pekanbaru Tahun 2012-2017 5.1. VISI Dalam rangka mewujudkan pembangunan jangka panjang sebagaimana tercantum di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter saat ini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Dalam UU No 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 dikemukakan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa bidang pendidikan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya wajib dilaksanakan. globalisasi, maka pendidikan juga harus mampu menjawab kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya wajib dilaksanakan. globalisasi, maka pendidikan juga harus mampu menjawab kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya wajib dilaksanakan oleh setiap negara. Pendidikan merupakan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan

Lebih terperinci

PENYUSUNAN RPP BERBASIS KTSP PADA MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL DI TINGKAT SEKOLAH DASAR

PENYUSUNAN RPP BERBASIS KTSP PADA MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL DI TINGKAT SEKOLAH DASAR 1 PENYUSUNAN RPP BERBASIS KTSP PADA MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL DI TINGKAT SEKOLAH DASAR A. PENDAHULUAN Semboyan Bhineka Tunggal Ika sebenarnya mewakili kenyataan kondisi tanah air dan bangsa Indonesia.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Melalui observasi awal di lapangan yang telah dilakukan di sekolah- sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Melalui observasi awal di lapangan yang telah dilakukan di sekolah- sekolah BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Melalui observasi awal di lapangan yang telah dilakukan di sekolah- sekolah MTs/SMP baik Negeri maupun Swasta diperoleh informasi bahwa kebanyakan muatan lokal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya kebutuhan akan pendidikan sebagai suatu investasi. Oleh karena itu,

BAB I PENDAHULUAN. khususnya kebutuhan akan pendidikan sebagai suatu investasi. Oleh karena itu, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin kompleks, telah menjadikan kebutuhan manusia semakin kompleks pula, khususnya kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata dari rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah rendahnya perolehan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) a. Pengertian KTSP Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH 5.1 VISI DAN MISI KOTA CIMAHI. Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan adalah sebuah salah satu upaya dalam mencerdaskan. kehidupan bangsa. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional juga

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan adalah sebuah salah satu upaya dalam mencerdaskan. kehidupan bangsa. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional juga 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan adalah sebuah salah satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional juga disebutkan bahwa Pendidikan

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH RANCANGAN RPJP KABUPATEN BINTAN TAHUN 2005-2025 V-1 BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Permasalahan dan tantangan yang dihadapi, serta isu strategis serta visi dan misi pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai dimensi dalam kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, dan

BAB I PENDAHULUAN. berbagai dimensi dalam kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan terus menjadi topik yang diperbincangkan oleh banyak pihak. Pendidikan seperti magnet yang sangat kuat karena dapat menarik berbagai dimensi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan

BAB I PENDAHULUAN. kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR 136 BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR Sebagai bagian dari kajian budaya kritis (critical cultural studies) penelitian ini berfokus pada implementasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan karakter saat ini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Dalam UU No 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013-

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013- BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi 2017 adalah : Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013- ACEH TAMIANG SEJAHTERA DAN MADANI MELALUI PENINGKATAN PRASARANA DAN SARANA

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PELESTARIAN ADAT ISTIADAT DAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA ADAT MELAYU BELITONG KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PROFIL SEKOLAH Sunday, 27 June :50. A. Latar Belakang

PROFIL SEKOLAH Sunday, 27 June :50. A. Latar Belakang A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap orang yang terpelajar dan berpendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi sudah pasti ingin memiliki kemampuan berbicara Bahasa Inggris

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG, PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PELESTARIAN ADAT ISTIADAT DAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA ADAT MELAYU KEPULAUAN BANGKA BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.174, 2014 PENDIDIKAN. Pelatihan. Penyuluhan. Perikanan. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5564) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

A. Gambaran Umum Daerah

A. Gambaran Umum Daerah Pemerintah Kota Bandung BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Umum Daerah K ota Bandung terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat, terletak di antara 107º Bujur Timur dan 6,55 º

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi saat ini menimbulkan kompetensi di berbagai bidang baik ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan

BAB I PENDAHULUAN. suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana

Lebih terperinci

BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA TAHUN 2014

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum merupakan hal penting dalam sistem pendidikan Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum merupakan hal penting dalam sistem pendidikan Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kurikulum merupakan hal penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut kodrat alam, manusia dimana-mana dan pada zaman apapun juga selalu

BAB I PENDAHULUAN. Menurut kodrat alam, manusia dimana-mana dan pada zaman apapun juga selalu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Menurut kodrat alam, manusia dimana-mana dan pada zaman apapun juga selalu hidup bersama, hidup berkelompok-kelompok. Manusia adalah makhluk sosial dan makhluk budaya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kenegaraan, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, dan alat

BAB I PENDAHULUAN. kenegaraan, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, dan alat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, dan alat penghubung pada

Lebih terperinci

MODEL PENGEMBANGAN MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL. SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB SMA/MA/SMALB/SMK

MODEL PENGEMBANGAN MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL. SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB SMA/MA/SMALB/SMK MODEL PENGEMBANGAN MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB SMA/MA/SMALB/SMK PUSAT KURIKULUM, BALITBANG DEPDIKNAS Jl. Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta Pusat Telp. : (62-21)3804248,3453440,34834862

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG UUD 1945 pasal 31 ayat 3 mengamanatkan kepada pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, pemerintah bertanggung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menuju masyarakat yang madani dan

I. PENDAHULUAN. mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menuju masyarakat yang madani dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan nasional merupakan salah satu faktor yang sangat strategis dalam membentuk dan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menuju masyarakat yang madani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi ditandai

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi ditandai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi ditandai dengan berlakunya undang-undang Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan disempurnakan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa setiap daerah harus menyusun rencana pembangunan daerah secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penataan SDM perlu terus diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan

BAB I PENDAHULUAN. Penataan SDM perlu terus diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Penataan SDM

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI A. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Beberapa permasalahan yang masih dihadapi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga

Lebih terperinci

ISU-ISU PENDIDIKAN DIY Oleh Dr. Rochmat Wahab, MA

ISU-ISU PENDIDIKAN DIY Oleh Dr. Rochmat Wahab, MA ISU-ISU PENDIDIKAN DIY Oleh Dr. Rochmat Wahab, MA Pengantar Keberadaan bangsa Indonesia dewasa ini dihadapkan persoalan-persoalan yang sangat kompleks. Secara eksternal, Globalisasi dengan segala konsekuensinya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I

BAB I PENDAHULUAN BAB I BAB I BAB I 1 A Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) merupakan perwujudan dari tekad melakukan reformasi pendidikan untuk menjawab tuntutan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagian besar kota di Negara Indonesia tumbuh dan berkembang pada kawasan pesisir. Setiap fenomena kekotaan yang berkembang pada kawasan ini memiliki karakteristik

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA Keadaan Geografis dan Kependudukan

GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA Keadaan Geografis dan Kependudukan 41 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Jakarta adalah ibu kota Negara Indonesia dan merupakan salah satu Provinsi di Pulau Jawa. Secara geografis, Provinsi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebijakan pemerintah menerapkan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003 (Tambahan Lembaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan dalam tesis ini pada intinya bertujuan memberikan penjelasan awal

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan dalam tesis ini pada intinya bertujuan memberikan penjelasan awal 1 BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan dalam tesis ini pada intinya bertujuan memberikan penjelasan awal tentang perlunya penelitian model kurikulum muatan lokal berdasarkan kompetensi di lakukan. Bab ini di

Lebih terperinci

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK A. Latar Belakang Pemikiran Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keragamannya yang terdapat

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT NOMOR 24 TAHUN 2001 TENTANG PEMBERDAYAAN, PELESTARIAN, PERLINDUNGAN DAN PENGEMBANGAN ADAT ISTIADAT DAN LEMBAGA ADAT DALAM WILAYAH

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 12 2013 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2013 2028 Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bali sebagai pusat pengembangan kepariwisataan di Indonesia telah

BAB I PENDAHULUAN. Bali sebagai pusat pengembangan kepariwisataan di Indonesia telah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali sebagai pusat pengembangan kepariwisataan di Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Hal tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha manusia (pendidik) dengan penuh tanggung jawab untuk membimbing anak didik menuju kedewasaan secara terencana untuk mewujudkan suasana belajar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mathla ul Anwar merupakan salah satu. Madrasah Swasta yang di selenggarakan oleh Perguruan Mathla ul Anwar Kota

PENDAHULUAN. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mathla ul Anwar merupakan salah satu. Madrasah Swasta yang di selenggarakan oleh Perguruan Mathla ul Anwar Kota BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mathla ul Anwar merupakan salah satu Madrasah Swasta yang di selenggarakan oleh Perguruan Mathla ul Anwar Kota Pontianak. Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah sangat luas yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil serta susunan masyarakatnya

Lebih terperinci

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. Visi dan Misi 1. Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sleman 2010-2015 menetapkan

Lebih terperinci

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL I. UMUM Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat

Lebih terperinci

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 PANDUAN PENYUSUNAN KTSP DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No.

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN

MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2005-2025 TAHAPAN I (2005-2009) TAHAPAN I (2010-2014) TAHAPAN II (2015-2019) TAHAPAN IV (2020-2024) 1. Meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat Kabupaten

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Perserikatan Bangsa-Bangsa). (Yusuf dan Anwar, 1997) dalam menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Pembelajaran bahasa Arab

BAB I PENDAHULUAN. (Perserikatan Bangsa-Bangsa). (Yusuf dan Anwar, 1997) dalam menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Pembelajaran bahasa Arab BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru

Lebih terperinci

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 10

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 10 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 10 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 20 TAHUN 2013

Lebih terperinci

Wedding Chapel di Kuta Selatan BAB I PENDAHULUAN

Wedding Chapel di Kuta Selatan BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang mempunyai keanekaragaman jenis budaya, adat istiadat dan seni, dilengkapi dengan pesona wisata alamnya yang sangat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM DI SUAKA MARGASATWA, TAMAN NASIONAL, TAMAN HUTAN RAYA, DAN TAMAN WISATA ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

* Gambaran Umum Kecamatan Denpasar Utara *

* Gambaran Umum Kecamatan Denpasar Utara * Kecamatan Denpasar Utara Evaluasi Kegiatan Pemantapan Pembangunan Tahun 2017 * Gambaran Umum Kecamatan Denpasar Utara * Kecamatan Denpasar Utara merupakan Wilayah Administrasi Kota Denpasar yang termuda

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. proses pembelajaran. Keberadaan pendidikan yang sangat penting tersebut telah

I. PENDAHULUAN. proses pembelajaran. Keberadaan pendidikan yang sangat penting tersebut telah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada hakikatnya pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga Negara Indonesia untuk dapat menikmatinya. Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia

Lebih terperinci