STUDI TINGKAH LAKU PADA ITIK ALABIO (Anas platyrhynchos Borneo) DI KALIMANTAN SELATAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "STUDI TINGKAH LAKU PADA ITIK ALABIO (Anas platyrhynchos Borneo) DI KALIMANTAN SELATAN"

Transkripsi

1 STUDI TINGKAH LAKU PADA ITIK ALABIO (Anas platyrhynchos Borneo) DI KALIMANTAN SELATAN Suryana dan Muhammad Yasin Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan ABSTRAK Itik Alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal di Kalimantan Selatan, yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur produktif. Tingkah laku adalah tindak tanduk hewan yang terlihat, baik secara individual maupun bersama-sama (kolektif). Tingkah laku hewan merupakan suatu kondisi penyesuaian terhadap lingkungannya. Pada tingkat adaptasi, tingkah laku hewan ditentukan oleh kemampuan belajar untuk menyesuaikan terhadap lingkungan yang baru. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Kecamatan Daha Utara dan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kecamatan Labuan Amas Selatan dan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kecamatan Amuntai Selatan dan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Pengamatan dilakukan pada kegiatan tingkah laku menetas, memilih pakan dan kawin terhadap 600 ekor itik Alabio, yang terdiri atas 525 ekor itik betina dan 75 ekor itik pejantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkah laku memilih pakan yang berbentuk pellet merupakan pakan ideal untuk itik dewasa, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam penentuan bentuk pakan yang efisien. Waktu perkawinan itik Alabio yang tepat dilakukan pagi hari pada kandang terkurung, untuk memperoleh fertilitas telur yang optimal, sedangkan tingkah laku menetas itik Alabio meliputi enam tahapan yaitu telur yang sudah berumur 26 hari mulai retak karena adanya gigi untuk memotong kerabang, dorongan paruh kerabang mulai retak dan membesar, dengan menggunakan leher bagian belakang dan paruh bagian atas mendorong hingga kerabang pecah, telur mulai pecah dan terjadi hentakan menjelang anak itik keluar dari kerabang telur, anak itik dengan kondisi bulu masih basah berusaha mulai berdiri dan berjalan dan mematuk-matuk bekas sisa kerabang telur yang pecah. Kata kunci: tingkah laku, memilih pakan, menetas, kawin, itik Alabio PENDAHULUAN Itik lokal Indonesia yang ada sekarang dikenal sebagai itik Indian Runner (Hetzel, 1985). Meskipun merupakan satu rumpun, tetapi ada beberapa itik lokal yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, dengan berbagai nama menurut daerah atau lokasinya masing-masing (Solihat et al. 2003). Beberapa bangsa lokal yang cukup dikenal antara lain itik Tegal, itik Bali, itik Mojosari, itik Magelang (Hetzel 1985; Suwindra 1998), dan itik Alabio (Rohaeni dan Tarmudji 1994). Itik Alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal di Kalimantan Selatan (Hamdan dan Zuraida 2007), yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur produktif (Biyatmoko 2005; Suparyanto 2005; Suryana 2007). 22

2 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 Tingkah laku adalah tindak tanduk hewan yang terlihat, baik secara individual maupun bersama-sama (kolektif). Hewan liar yang telah didomestikasi masih memperlihatkan adanya perbedaan dalam tingkah lakunya. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan hidup yang berbeda, walaupun tetap ada naluri (instinct) yang identik untuk hidup bersama. Tingkah laku hewan merupakan suatu kondisi penyesuaian terhadap lingkungannya. Pada tingkat adaptasi, tingkah laku hewan ditentukan oleh kemampuan belajar untuk menyesuaikan terhadap lingkungan yang baru (Warsono 2009). Perilaku hewan merupakan campuran dari komponen-komponen yang diturunkan/diwariskan atau dibawa dari lahir (naluri) dan yang diperoleh semasa hidupnya. Komponenkomponen yang dibawa dari lahir terdiri atas refleks-refleks sederhana, responsrespons dari berbagai unsur dan pola-pola perilaku kompleks yang dipelajari sehingga menjadi kebiasaan (Craig 1981). Penampilan tingkah laku individu selain dipengaruhi oleh faktor genetik tetuanya (Craig 1981), juga faktor lingkungan internal atau status fisiologis (umur, jenis kelamin, rasa lapar dan kesehatan) (Kilgour & Dalton 1989), serta faktor eksternal lingkungan fisik (nutrisi, temperatur, kelompok seksual dan kontak parental) (Applegate et al. 1998). Perilaku sosial dalam kelompok misalnya pada ternak ayam dapat saja berbeda dan pembentukannya terjadi baik secara lambat maupun cepat, bergantung kepada kondisi kelompok, sifat individu dan banyaknya kelompok (Dukas 2004). Macammacam tingkah laku pada hewan antara lain: bergerak, bernafas, makan, minum, berkelahi, tingkah laku sosial, tingkah reproduksi dan kawin (Mignon-Grasteau, 2005), tingkah laku menyusui anak (Kilgour & Dalton 1989), mandi debu (Buitenhuis et al. 2005), berinteraksi sosial (Farland 1986; Tomaszewska & Putu 1989). Ewing et al. (1995) dan Appleby et al. (2004), membagi tingkah laku berdasarkan kebutuhan pokok yang bersifat naluri yaitu: makan, bereaksi, bergerak, mencari tempat hidup, berkelompok, berintorial, mempertahankan diri, bertelur, tidur dan istirahat. Sistem tingkah laku hewan (misalnya tingkah laku makan, minum, tidur dan kawin) terdiri atas tiga fase aktivitas yang terjadi dalam satu rangkaian yaitu fase hasrat (appetite behavior), fase kebiasaan yang konsisten atau naluri (consummatory behavior) dan fase respon kelanjutan yang menguntungkan (refractory behavior) (Craig 1981). Rangsangan atau respons dalam tubuh berupa perasaan lapar, sifat bermusuhan dan nafsu untuk kawin dipengaruhi oleh sistem syaraf dan reaksi hormonal dalam tubuh dan rangsangan dari luar tubuh berupa suara, pandangan mekanis dan kimia. Kriteria tingkah laku pada ternak menurut Dukas (2004), yaitu tingkah laku merumput, memilih habitat, variasi membedakan benda, mendengar, membau, merasa, memilih warna, makan, minum dan kawin. Setioko (2001) menguraikan tingkah laku kawin alami pada 23

3 itik ada lima tahapan, yaitu tahap perayuan (courtship), tahap naik diatas punggung dan mengatur posisi (mounting and positioning), perangsangan betina (stimulating), ereksi dan ejakulasi (erection and ejaculation), dan gerakan setelah kawin (post coital display). Saerang (2010) menyatakan bahwa tingkah laku yang teridentifikasi pada burung maleo, dapat dikelompokkan dalam tiga macam yaitu: tingkah laku berpindah tempat (jalan, lari dan terbang), tingkah laku makan (mencari makan, mengais pakan, makan dan minum), dan tingkah laku istirahat. Tingkah laku makan dan minum merupakan bagian dari seluruh proses energi (baik lingkungan luar maupun dalam). Pada unggas yang termasuk karakteristik tingkah laku makan yaitu mengkonsumsi pakan, berapa rataan banyaknya konsumsi/ekor, rataan makan harian, rataan jumlah makan berdasarkan ukuran dan bentuk pakan (Schulze et al. 2003), lama membau, lama makan dan distribusi aktivitas mengkonsumsi pakan secara simultan (Barnard 2004; Cook et al. 2005; Fraser & Broom 2005). Faktor yang mempengaruhi tingkah laku makan ada dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tingkah laku makan, yaitu perbedaan kadar glukosa dalam sistem pembuluh darah arterial dan venous, serta peran hormonal. Pusat lapar berada pada hipotalamus bagian lateral, sedangkan pusat kenyang terdapat di hypotalamus bagian ventro-medial. Pusat lapar dan kenyang dipengaruhi oleh perubahan kadar glukosa dalam darah. Jumlah gerakan hewan meningkat, maka jumlah konsumsi pakan juga meningkat, hal ini dapat terjadi karena hewan/ternak berusaha untuk menyesuaikan kebutuhan energi yang keluar dan masuk (Wahju 1997). Tingkah laku makan salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan (temperatur, pakan dan manajemen). Temperatur tinggi akan terjadi pengurangan keinginan untuk pengambilan pakan, tetapi sebaliknya konsumsi air minum meningkat (Larbier & Leclercq 1994), sedangkan pada suhu rendah hewan cenderung untuk mengkonsumsi pakan yang terus menerus (Wahju 1997). Faktor eksternal dalam tingkah laku makan adalah seluruh rangsangan dari luar seperti suara, gerakan dan tanda-tanda lainnya. Mekanisme tingkah laku makan terjadi karena adanya proses rangsangan pada saat melihat pakan yang diteruskan melalui nervous opticus ke otak. Rangsangan ini setelah diproses dalam otak kemudian akan merangsang lambung untuk mengeluarkan cairan asam, sehingga timbul rasa lapar (Kilgour & Dalton 1989). Prosesnya antara lain, pertama-tama hewan melihat objek pakan yang menarik, kemudian terjadi proses pengambilan pakan sebagai akibat reaksi penurunan kadar glukosa di dalam darah dan akibat pembentukan cairan hormonal yang terjadi setelah ada rangsangan neural dari elemen-elemen syaraf di daerah hipotalamus bagian lateral. Tingkah laku yang diamati pada unggas umumnya 24

4 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 dapat disusun dengan menggunakan katalog Ethogram (Orzech 2005; Riber & Mench 2008). Ethogram merupakan sebuah daftar amatan yang dikategorikan ke dalam jenis perilaku yang ditimbulkan oleh ternak selama dalam pengamatan (Tabel 1). Tabel 1. Ethogram tingkah laku makan dan kawin pada unggas Jenis Perilaku Aktivitas Keterangan aktivitas Berpindah tempat Jalan Aktivitas unggas pada saat melangkahkan kaki secara perlahan dan berjalan. Lari Aktivitas pada saat unggas berlari. Loncat Aktivitas pada saat unggas mencari tempat lain atau berteduh Mencari makan dan minum Makan Aktivitas mulai saat makan, sampai habis makan dan mencari minum. Minum Aktivitas pada saat unggas mencelupkan paruhnya ke tempat air minum sampai selesai minum. Aktivitas Aktivitas mulai pejantan dan betina melakukan kawin Kawin persiapan saat dan setelah selesai kawin. Sumber: Orzech (2005); Riber & Mench (2008) Riber & Mench (2008) menyatakan bahwa ethogram dapat digunakan sebagai panduan dalam pengamatan perilaku unggas. Ethogram memuat definisi adalah sebagai daftar acuan yang menjelaskan berbagai aktivitas unggas, seperti tingkah laku minum, makan, merumput, pergerakan, bertelur, aktivitas kawin, kanibalisme dan lain-lain. Seperti halnya unggas lain, itik Alabio memiliki kebiasaan dan tingkah laku makan, minum dan kawin serta aktivitas tingkah laku lainnya. Proses tingkah laku makan perlu diamati, mengingat jenis itik umumnya mempunyai kecenderungan tidak efisiennya dalam mengkonsumsi pakan, karena banyak yang terbuang/tercecer pada saat makan yang diikuti minum. Aktivitas tingkah laku kawin terutama pada kemampuan itik Alabio jantan mengawini beberapa betina pada kondisi temperatur lingkungan berbeda, diduga menunjukkan hasil yang berbeda. Perbedaan tingkah laku pada berbagai aktivitas itik Alabio (makan, minum dan kawin), berguna untuk penentuan cara pemberian pakan dan minum yang baik, sedangkan tingkah laku kawin dapat dimanfaatkan sebagai informasi dalam menerapkan sistem perkawinan dengan perbandingan jantan dan betina yang efisien, sehingga diperoleh fertilitas telur optimal. 25

5 BAHAN DAN METODE Kegiatan penelitian dilaksanakan di Kecamatan Daha Utara dan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kecamatan Labuan Amas Selatan dan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kecamatan Amuntai Selatan dan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ternak Itik Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik Alabio dewasa dengan umur berkisar antara 5 5,5 bulan (masak kelamin) sebanyak 600 ekor (75 ekor jantan dan 525 betina), milik peternak itik Alabio di Desa Paharangan, Daha Utara, Taniran dan Taniran Kubah (HSS), Desa Sungai Jaranih, Murung Taal, Mantaas dan Tabat (HST), Desa Teluk Baru, Simpang Empat, Cangkering dan Mamar (HSU), masingmasing desa diwakili sebanyak 50 ekor, terdiri atas 5 ekor jantan dan 45 ekor betina. Telur Tetas dan Alat Penetasan Telur itik yang digunakan dalam kegiatan ini sebanyak 5250 butir diperoleh dari peternak itik Alabio di Desa Teluk Baru Kecamatan Amuntai Selatan, HSU. Sebelum telur-telur tetas dimasukkan ke dalam alat penetasan, terlebih dahulu diseleksi yang memenuhi persyaratan, baik dari bobot, warna kerabang dan kebersihan telur. Alat penetasan yang digunakan sebanyak empat unit, terdiri atas satu unit milik Laboratorium Unggas, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor kapasitas 200 butir (A) dilengkapi dengan thermometer, thermoregulator dan hygrometer, dan tiga unit alat penetasan sistem gabah dengan kombinasi listrik sebagai sumber panasnya, milik peternak penetas di Desa Mamar Kecamatan Amuntai Selatan, HSU dengan kapasitas masing-masing 1000 butir (B), 1500 butir (C) dan 2500 butir (D). Tingkah Laku Menetas Kegiatan penelitian tingkah laku menetas terlebih dahulu diawali dengan melakukan penetasan telur itik Alabio. Tujuan utama selain untuk memperoleh informasi tentang tingkah laku menetas, juga mengetahui keragaan penetasan. Pengamatan terhadap tingkah laku menetas, dilakukan pada telur-telur yang dieramkan dan telah mendekati tahap akhir proses penetasan (umur telur hari). Satu unit alat penetasan digunakan untuk mengamati tingkah laku menetas dengan kapasitas 200 butir (A) dan dilaksanakan di laboratorium, sedangkan untuk memperoleh data keragaan penetasan di tingkat lapang, digunakan tiga unit alat 26

6 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 penetasan lainnya milik peternak/penetas di Desa Mamar, Kabupaten HSU kapasitas masing-masing 1000 butir (B), 1500 butir (C) dan 2500 butir (D), dengan sumber panas kombinasi antara gabah dengan listrik. Penetasan telur dilakukan menurut petunjuk Setioko (1998), meliputi persiapan dan seleksi telur tetas, pembersihan telur dan persiapan alat penetasan. Aktivitas menetas, diamati mulai dari proses terjadinya retaknya kerabang (umur telur 26 hari dalam alat penetasan) sampai anak itik keluar dari kerabang telur. Tingkah Laku Memilih Pakan Pengamatan aktivitas tingkah laku memilih pakan digunakan sebanyak enam ekor itik Alabio dewasa, yang ditempatkan pada petak kandang individu masingmasing diisi satu ekor. Bahan pakan yang digunakan dalam pengamatan tingkah laku memilih pakan sebanyak enam macam sesuai dengan kebiasaan peternak setempat gunakan. Keenam jenis bahan pakan tersebut adalah dedak halus, keong rawa, sagu parut, gabah, ikan kering dan pakan komersial ayam petelur. Pengamatan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan, kemudian dibuat catatan sesuai dengan aktivitas amatan. Aktivitas memilih pakan, dihitung mulai itik melakukan aktivitas mematuk pakan sampai berhenti makan, kemudian minum. Frekuensi mengulangi makan dan minum dihitung sesuai berdasarkan aktivitas yang terjadi. Sebelum dan sesudah bahan pakan diberikan ditimbang bobotnya untuk mengetahui jumlah sisa pakan yang tidak habis dikonsumsi. Tingkah Laku Kawin Pengamatan kemampuan itik Alabio jantan mengawini betina, dengan cara memasukkan itik jantan dan betina dewasa ke dalam satu petak kandang dengan ratio 1:10 (1 ekor jantan dan 10 ekor betina). Aktivitas harian dicatat berdasarkan scan sampling methods (Tanari 2007), yaitu pengamat mencatat semua aktivitas yang terlihat dalam keseluruhan aktivitas harian. Pengamatan dilakukan secara individual dengan tiga kali ulangan. Aktivitas kawin diamati mulai itik Alabio jantan dan betina melakukan aktivitas sebelum, saat kawin sampai dengan selesai kawin. Pencatatan dilakukan pada setiap waktu pengamatan pagi (pukul 7.00), siang (pukul 13.00) dan sore (pukul 17.00). Analisis Data Data hasil pengamatan berupa tingkah laku memilih pakan, menetas dan tingkah laku kawin dikumpulkan, ditabulasi dan kemudian dianalisis secara deskriptif. 27

7 HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkah Laku Menetas Tahapan perkembangan telur selama proses penetasan sampai DOD keluar dari kerabang telur, disajikan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Berdasarkan Tabel 1 dapat dikemukakan bahwa perkembangan telur selama proses penetasan hingga DOD keluar dari kerabang telur melalui enam tahapan. Tahapan pertama dan kedua merupakan tahapan yang paling menentukan selama proses tersebut. Tahap pertama setelah telur tetas berumur 26 hari dalam alat penetasan, menunjukkan tanda-tanda sudah mulai mengalami keretakan kecil-kecil pada permukaan kerabang telur, karena adanya dorongan gigi (tooth beak) yang terletak di bagian atas untuk memotong kerabang pada bagian ujung runcing telur, kurang lebih pada sepertiga bagian bawah telur. Dorongan ujung runcing paruh (beak) yang berulang-ulang hingga lubang kerabang telur mulai membesar. Selanjutnya tahap kedua yaitu dilanjutkan adanya dorongan paruh yang kuat, sehingga kerabang retaknya semakin membesar dan paruh mulai keluar. Menggunakan leher dan punggung bagian belakang terus mendorong, sehingga anak itik berhasil keluar dari dalam kerabang. Umumnya proses pemecahan kerabang telur pada saat anak unggas akan keluar relatif sama antara itik dan ayam, namun berbeda dengan burung maleo, seperti yang dikemukakan Tanari (2007) dan Saerang (2010), bahwa pada anak maleo sebelum keluar dari kerabang telurnya, terlebih dahulu dimulai dengan adanya desakan tumpuan kedua lutut kaki pada bagian ujung runcing telur, sedangkan pada lubang kerabang telur yang sudah melebar persendian lutut menjadi bebas bergerak, sehingga kaki dan cakar leluasa membantu mendorong untuk lebih memperluas lubang kerabang telur, sehingga terbuka lebar. 28

8 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 Tabel 1. Perkembangan Telur Itik Alabio Selama Proses Penetasan Tahapan Aktivitas Gambar I Telur yang sudah berumur 26 hari dalam alat penetasan mulai 1 a mengalami keretakan kerabang, karena adanya gigi (tooth beak) yang terletak di bagian atas untuk memotong kerabang bagian ujung runcing telur, kurang lebih pada sepertiga bagian bawah telur yang ditandai retaknya kulit luar (shell). Dorongan ujung runcing paruh berulang-ulang sampai lubang kerabang telur mulai membesar. II Dengan kekuatan dorongan paruh, kerabang mulai retak 1 b membesar dan paruh mulai keluar III Pada saat lubang permukaan kulit telur membesar pada 1 c bagian bawah, dengan menggunakan leher bagian belakang mendorong kepala dan paruh bagian atas mendorong kerabang hingga pecah IV Interval istirahat pada setiap hentakan sama, tetapi pada saat 1 d telur mulai pecah interval sentakan semakin kuat sampai menjelang anak itik keluar dari kerabang telur. V Anak itik yang sudah terlepas bebas keluar dari kerabang, 1 e dengan kondisi bulu masih basah berusaha mulai berdiri perlahan-lahan. Setelah bulu tubuhnya mulai mengering, mereka mengumpulkan tenaga untuk berdiri dan berjalan, serta mematuk-matuk sisa kerabang telur. VI Anak itik yang sudah mulai berjalan dan berusaha mematukmatuk bekas sisa kerabang yang pecah, dan siap untuk dipisahkan ke dalam brooder 1 f 29

9 Gambar 1 a. Gambar 1 b Gambar 1 d Gambar 1 c Gambar 1 e Gambar 1 f Gambar 1. Proses penetasan telur 30

10 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 Tingkah Laku Memilih Pakan Rataan jumlah pakan yang dikonsumsi dan sisa pakan selama pengamatan tingkah laku memilih pakan, disajikan pada Tabel 2. Komposisi nilai gizi bahan pakan berdasarkan tabel komposisi pakan dan hasil analisisnya, tertera pada Tabel 3. Tabel 2. Rataan konsumsi pakan Ulangan I II III Jenis bahan pakan Jumlah awal (g) Jumlah dikonsumsi (g) Sisa (g) Dedak halus Keong rawa Sagu parut Gabah Ikan kering Pakan komersial ayam petelur (pellet) Jumlah Rataan Dedak halus Keong rawa Sagu parut Gabah Ikan kering Pakan komersial ayam petelur (pellet) Jumlah Rataan Dedak halus Keong rawa Sagu parut Gabah Ikan kering Pakan komersial ayam petelur (pellet) Jumlah Rataan Berdasarkan Tabel 2 dapat dikemukakan bahwa, pakan berbentuk pellet (pakan komersial) lebih disukai itik Alabio dewasa, disusul dedak dan ikan kering cincang, hal ini ditunjukkan dengan lebih banyak jumlah pakan yang dikonsumsi. Hasil pengamatan ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (1994) dan Pingel (2005), bahwa pakan berbentuk pellet merupakan bentuk ideal untuk dikonsumsi unggas air, khususnya itik. 31

11 Tabel 3. Kandungan zat gizi bahan pakan itik Alabio Bahan pakan Kandungan zat Dedak Keong Ikan Sagu Pakan gizi halus 1) rawa 1) kering 1) parut 1) komersial 2) Gabah 1) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Fosfor (%) Energi metabolis (kkal/kg) Keterangan : 1) Hasil analisis laboratorium; 2 ) berdasarkan Tabel komposisi pakan ayam petelur Rataan lama makan, frekuensi makan, lama minum, frekuensi minum dan pergerakan dari tempat makan ke tempat minum itik Alabio selama pengamatan, ditampilkan pada Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa rataan lama makan sebesar 14,99±0,24 menit/jam, lama minum 6,04±0,50 menit/jam, frekuensi makan 2,88±0,36 kali/jam, frekuensi minum 2,33±0,25 kali/jam dan frekuensi pergerakan dari tempat makan ke tempat minum sebanyak 5,99±0,23 kali/jam. Hasil ini berbeda dengan lama makan itik jantan yang dilaporkan Iskandar et al. (2000) yaitu 57,3 menit/3 jam atau 19 menit/jam. Perbedaan rataan lama makan, diduga disebabkan oleh pengaruh bentuk pakan. Bahan pakan yang disajikan dalam pengamatan ini adalah bentuk mash, pellet dan ikan cincang, sehingga tingkat kesukaannya berbeda-beda (Tabel 5). Beberapa faktor yang menyebabkan efisiensi penggunaan pakan, antara lain adalah perubahan tempat pakan dan air minum. Menurut Hardjosworo (2005) penempatan tempat air minum yang terpisah dari tempat pakan, menyebabkan banyaknya pakan yang tercecer antara tempat minum dan pakan atau ke dalam tempat air minum itu sendiri. Larbier dan Leclercq (1994) menyatakan bahwa tingkat kesukaan unggas dalam mengkonsumsi pakan ditentukan oleh faktor fisiologis unggas, bentuk dan jenis pakan yang diberikan. Schulze et al. (2003) mengemukakan bahwa rataan konsumsi pakan, lama konsumsi pakan/hari, lama pergerakan menuju tempat air minum pada ayam bervariasi, tergantung pada kondisi lingkungan, kandang dan bentuk tempat pakan yang digunakan. 32

12 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 Tabel 4. Rataan lama makan, lama minum, frekuensi makan dan pergerakan dari tempat makan ke tempat air minum Ulangan Lama makan (menit/jam) Lama minum (menit/jam) Frekuensi makan (kali/jam) Frekuensi minum (kali/jam) Frekuensi pergerakan dari tempat pakan ke air minum (kali/jam) I 15,33±0,25 5,62±0,49 3,00±0,37 2,50±0,25 5,66±0,21 II 14,66±0,23 6,80±0,51 2,33±0,35 2,00±0,24 6,00±0,24 III 15,00±0,24 5,71±0,50 3,33±0,38 2,70±0,26 6,33±0,26 Rataan 14,99±0,24 6,04±0,50 2,88±0,36 2,33±0,25 5,99±0,23 Keterangan: Jumlah itik yang digunakan masing-masing ulangan enam ekor Rasyaf (1994) menyatakan bahwa perbedaan bentuk pakan menyebabkan kehilangan pakan karena tercecer sebesar 8,7%. Laporan lain dikemukakan Pingel (2005) bahwa perubahan bentuk tempat pakan dan air minum, pada itik Pekin dan entok menyebabkan kehilangan pakan karena tercecer masing-masing sebesar 5% dan 7%, sementara air minum yang terbuang 14,5% dan 6,8%. Hardjosworo (2005) menyatakan bahwa penempatan tempat air minum di bagian tengah dari tempat pakan dapat memperbaiki efisiensi penggunaan pakan. Ketaren et al. (1999) menduga buruknya efisiensi penggunaan pakan pada itik disebabkan oleh tabiat makan itik termasuk kebiasaannya yang segera mencari air minum setelah makan, dan umumnya pakan tercecer pada saat itik pindah dari tempat pakan ke tempat minum. Iskandar et al. (2000) menyatakan bahwa penyebab perbedaan tingkah laku makan pada itik jantan lokal adalah bentuk dan tempat pakan yang digunakan, sementara frekuensi pergerakan dipengaruhi oleh faktor umur dan kebiasaan itik untuk selalu mencari air. Hal ini menunjukkan bahwa unggas air sangat tergantung pada ketersediaan (kemudahan pencapaian) air, terutama untuk masuknya pakan kering ke dalam saluran pencernaannya (Rasyaf 1994). Menurut Prasetyo et al. (2005), itik sangat memerlukan bantuan air walaupun hanya sedikit untuk menelan pakan yang akan di mulutnya. Oleh karena itu, itik mempunyai kebiasaan langsung lari ke tempat air minum begitu ada pakan di dalam mulutnya. Larbier dan Leclercq (1994) menyatakan bahwa konsumsi air minum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur unggas dan pakan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pakan yang banyak mengandung sodium atau potasium, serta temperatur lingkungan berpengaruh terhadap konsumsi pakan. Pakan yang mengandung 0.25% sodium akan meningkatkan konsumsi air minum sebesar 10%. Bley dan Bessei (2008) mengemukakan bahwa peningkatan konsumsi pakan pada itik dipengaruhi oleh umur dan betuk pakan, sedangkan lama dan kecepatan 33

13 konsumsi pakan seiring dengan peningkatan umur itik. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku makan adalah tipe ternak, lingkungan sosial, sensor fisiologi dan hormon neural, kecermatan makan, laju pencernaan pakan di dalam usus, kandungan nutrien dan palatabilitas pakan (Ewing et al. 1995), stimulasi konsumsi pakan, pola konsumsi dan kebiasaan ternak mengkonsumsi pakan (Pingel 2005). Tingkah Laku Kawin Pengamatan yang dilakukan pada aktivitas tingkah laku kawin, adalah difokuskan pada kemampuan itik Alabio jantan mengawini betina selama pengamatan pagi, siang dan sore hari. Rataan kemampuan itik Alabio jantan mengawini betina, tertera pada Tabel 5 Tabel 5. Rata-rata kemampuan itik pejantan mengawini betina Waktu pengamatan Ulangan Rataan itik betina yang dikawini (ekor) I 8,00±0,10 Pagi (pukul 7.00) II 8,33±0,13 III 8,11±0,12 Rataan 8,14±0,12 I 6,33±0,19 Siang (pukul 13.00) II 6,33±0,19 III 6,22±0,18 Rataan 6,28±0,19 I 7,33±0,25 II 6,67±0,29 Sore (pukul17.00) III 7,10±0,24 Rataan 7,13±0,26 Keterangan: Jumlah itik yang digunakan masing-masing ulangan sebanyak 11 ekor (1 jantan & 10 betina). Berdasarkan Tabel 5 dapat dijelaskan bahwa kemampuan itik Alabio jantan untuk mengawini betina pada waktu pengamatan pagi lebih tinggi dibanding siang dan sore hari. Rataan kemampuan itik Alabio jantan mengawini betina pagi hari (8,14±0,12 ekor), siang hari (6,28± 0,19 ekor) dan sore hari sebanyak 7,13±0,26 ekor. Perbedaan kemampuan itik jantan mengawini sejumlah itik betina, diduga disebabkan oleh perbedaan temperatur lingkungan dan aktivitas pergerakan di dalam kandang. Temperatur lingkungan kandang pada pagi hari relatif dingin bila dibandingkan siang dan sore hari. Selain itu, itik belum banyak melakukan aktivitasnya, sehingga libido seksualnya lebih meningkat dibanding siang atau sore hari. Hal ini dibuktikan bahwa 34

14 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 selama pengamatan, terutama pada siang hari rataan temperatur lingkungan kandang relatif lebih panas tercatat sebesar 38,52. Appleby et al. (2004) menyatakan bahwa aktivitas frekuensi kawin pada unggas akan berkurang seiring meningkatnya umur, tetapi dampaknya tidak secara langsung mempengaruhi fertilitas telur (Applegate et al. 1998). UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada bapak Prof.Dr.Ir. Ronny Rachman Noor, M.Rur.Sc, ibu Prof. (em) Penny S. Hardjosworo, M.Sc. dan bapak Dr. Ir. L. Hardi Prasetyo, M.Agr, yang telah dengan semangat dan tulus memberikan saran, masukan dan memperbaiki makalah ini hingga diterbitkan. KESIMPULAN 1. Pakan berbentuk pellet merupakan pakan ideal untuk itik dewasa, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam penentuan bentuk pakan yang efisien. 2. Cara perkawinan itik Alabio yang tepat dapat dilakukan pagi hari pada kandang terkurung, untuk memperoleh fertilitas telur yang optimal. 3. Perkembangan telur selama proses penetasan hingga DOD keluar dari kerabang telur melalui enam tahapan. DAFTAR PUSTAKA Appleby MC, Mench JA, Hughes BO Poultry Behaviour and Welfare. Center of Agriculture Bioscientific (CAB) Publishing. London. Applegate TJ, Harper D, Lilburn L Effects of hen age on egg composition and embryo development in commercial Pekin ducks. Poult Sci 77: Barnard C Animal Behaviour, Mechanism, Development, Function and Evaluation. Pearson Education Limited. Prentice Hall England. British Library Cataloguing Publication Data. London. Biyatmoko D Petunjuk teknis dan saran pengembangan itik Alabio. Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan. Banjarbaru. 9 hlm. Bley TAG, Bessei W Recording of individual feed intake and feeding behavior of Pekin duck kept in groups. Poult Sci 87:

15 Buitenhuis AJ, et al Quantitative trait loci for behavioural traits in chicken. J Livestock Prod Sci 93: Cook RN, Xin H, Nettleton D Effects of cage stocking density of feeding behaviours of groups housed laying hens. J Am Agric Biol Eng 49 (1): Craig VJ Domestic Animal Behaviour: Causes and Implication for Animal Care and Management. Prentice Hall-Inc. Englewood Cliffs, New Jersey. Dukas R Evolutionary biology of animal cognition. Ann Rev Ecol Syst 35: Ewing SA, Lay DC, Von-Borell E Farm Animal Well Being: Stress Physiology, Animal Behaviour and Environmental Design. Practice Hall New Jersey. Farland D Animal Behaviour; Psychobiology, Ethology and Evolution. ELBS- English Language Book Society Longman. Fraser AF, Broom DM Farm Animal Behaviour and Welfare. CABI Publishing Oxon, United Kingdom. London. Hamdan A, Zuraida R Profil usaha ternak itik Alabio petelur pada lahan rawa lebak Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (Kasus Desa Sungai Durait Tengah Kecamatan Babirik). Di dalam: Revitalisasi Kawasan PLG dan Lahan Rawa Lainnya untuk Membangun Lumbung Pangan Nasional. Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa. Kuala Kapuas, 3-4 Agustus Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. Palangka Raya. hlm Hardjosubroto W Genetika Hewan. Jogjakarta; Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Hardjosworo PS Pengaruh penempatan air minum pada efisiensi penggunaan pakan. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Hetzel DJS Duck breeding strategies the Indonesian example. Di dalam: Farrel DJ and Stapleton P (ed). Duck Production Science and World Practice. University of New England. p.1-5 Iskandar S, Susanti T, Juarini E Respons tingkah laku anak itik jantan lokal terhadap bentuk tempat dan jenis pemberian pakan. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, September Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. hlm Ketaren PP, Prasetyo LH, Murtisari T Karakter produksi telur itik silang Mojosari x Alabio. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 36

16 Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 Kilgour RD., Dalton Livestock Behaviour a Practical Guide. Granada London, Sydney, New York Press. Larbier M, Leclercq B Nutrition and Feeding of Poultry. Nottingham University Press. INRA. Perancis Mignon-Grateau et al Genetic of adaptation and domestication in livestock. Livestock Prod Sci 93:3-14. Orzech K Sample ethogram. contributors [25 Februari 2009]. Pingel H Development of small scale duck farming as a commercial operation. Di dalam: Merebut peluang agribisnis melalui pengembangan usaha kecil dan menengah unggas air. Prosiding Lokakarya Unggas Air Sebagai Peluang Usaha Baru; Bogor, 6-7 Agustus Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bekerjasama dengan Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia dan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. hlm Prasetyo LH, Ketaren PP, Hardjosworo PS Perkembangan teknologi budidaya itik di Indonesia. Di dalam: Merebut Peluang Agribisnis melalui Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Unggas Air. Prosiding Lokakarya Unggas Air Sebagai Peluang Usaha Baru; Bogor, 6-7 Agustus Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bekerjasama dengan Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia dan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. hlm Rasyaf M Beternak Itik Komersial. Edisi kedua. Jogjakarta: Penerbit PT Kanisius Ribber AB, Mench JA Effect of feed and water based enrichmen on activity and cannibalism in muscovy ducklings. Appl Anim Behav. Sci 114: Rohaeni ES, Tarmudji Potensi dan kendala dalam pengembangan peternakan itik Alabio di Kalimantan Selatan. Warta Penel dan Pengemb Pert 26 (1):4-6. Saerang JLP Kajian biologis maleo (Marcocephalon maleo) yang dipelihara secara ex-situ. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Schulze V et al The influences of feeding behaviour on feed intake curve parameters and performance traits of station tested board. J Livestock Prod Sci 82: Setioko AR Penetasan telur itik di Indonesia. Wartazoa 7 (2)

17 Setioko AR Inseminasi buatan pada itik. Disampaikan pada Acara Pelatihan Inseminasi Buatan pada Itik di BPT HMT Pelaihari Kalimantan Selatan. Tambang Ulang, Agustus hlm. Solihat S, Suswoyo I, Ismoyowati Kemampuan performan produksi telur dari berbagai itik lokal. J Peter Trop 3 (1): Suparyanto A Peningkatan produktivitas daging itik mandalung melalui pembentukan galur induk.[disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Suryana Prospek dan peluang pengembangan itik Alabio di Kalimantan Selatan. J Penel Pengemb. Pert 26 (3): Tanari M Karakterisasi habitat, morfologi dan genetik serta pengembangan teknologi penetasan ex-situ burung maleo (Macrocephalon maleo Sal. Muller 1846) sebagai upaya meningkatkan efektivitas konservasi. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tomaszewska MW, Putu IG Behaviour in relation to animal production in Indonesia. Bogor:Institut Pertanian Bogor-Australia Project and Balai Penelitian Ternak Bogor. Wahju J Ilmu Nutrisi Unggas. Jogjakarta:Gadjah Mada University Press. Warsono IU Sifat biologis dan karakteristik karkas dan daging bandikut (Echymipera kalubu). [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 38

STUDI TINGKAH LAKU : KAJIAN PERILAKU MAKAN DAN MINUM AYAM KAMPUNG BERBASIS RISET MANAJEMEN ALAS KANDANG. FPMIPA IKIP PGRI Semarang 2) ABSTRAK

STUDI TINGKAH LAKU : KAJIAN PERILAKU MAKAN DAN MINUM AYAM KAMPUNG BERBASIS RISET MANAJEMEN ALAS KANDANG. FPMIPA IKIP PGRI Semarang 2) ABSTRAK STUDI TINGKAH LAKU : KAJIAN PERILAKU MAKAN DAN MINUM AYAM KAMPUNG BERBASIS RISET MANAJEMEN ALAS KANDANG Mei Sulistyoningsih 1), Dwi Sunarti, Edjeng Suprijatna, Isroli 2) 1) FPMIPA IKIP PGRI Semarang 2)

Lebih terperinci

Laporan Akhir. Budidaya Ternak Babi Komersial oleh Peternak Kecil di NTT - Peluang untuk Integrasi Pasar yang Lebih Baik

Laporan Akhir. Budidaya Ternak Babi Komersial oleh Peternak Kecil di NTT - Peluang untuk Integrasi Pasar yang Lebih Baik Laporan Akhir proyek Budidaya Ternak Babi Komersial oleh Peternak Kecil di NTT - Peluang untuk Integrasi Pasar yang Lebih Baik Laporan Penelitian SADI-ACIAR nomor proyek SMAR/2007/195 tanggal publikasi

Lebih terperinci

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA KADAR NH KADAR 3 DAN NH CH 3 4 DAN SERTA CH 4 CO SERTA 2 DARI COPETERNAKAN 2 DARI PETERNAKAN BROILER PADA KONDISI BROILER LINGKUNGAN PADA KONDISI DAN LINGKUNGAN MANAJEMEN YANG PETERNAKAN BERBEDA YANG DI

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER BIBIT TAHUN 2015

PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER BIBIT TAHUN 2015 PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER BIBIT TAHUN 2015 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER

Lebih terperinci

PARAMETER TUBUH DAN SIFAT-SIFAT KARKAS SAPI POTONG PADA KONDISI TUBUH YANG BERBEDA SKRIPSI VINA MUHIBBAH

PARAMETER TUBUH DAN SIFAT-SIFAT KARKAS SAPI POTONG PADA KONDISI TUBUH YANG BERBEDA SKRIPSI VINA MUHIBBAH PARAMETER TUBUH DAN SIFAT-SIFAT KARKAS SAPI POTONG PADA KONDISI TUBUH YANG BERBEDA SKRIPSI VINA MUHIBBAH PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 RINGKASAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 54/Permentan/OT.140/10/2006 TENTANG PEDOMAN PEMBIBITAN SAPI POTONG YANG BAIK (GOOD BREEDING PRACTICE)

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 54/Permentan/OT.140/10/2006 TENTANG PEDOMAN PEMBIBITAN SAPI POTONG YANG BAIK (GOOD BREEDING PRACTICE) PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 54/Permentan/OT.140/10/2006 TENTANG PEDOMAN PEMBIBITAN SAPI POTONG YANG BAIK (GOOD BREEDING PRACTICE) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN

RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN Kementerian Pertanian 2011 COMMISSION ON

Lebih terperinci

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN TEPUNG IKAN RUCAH NILA (Oreochromis niloticus) DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI AYAM BURAS

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN TEPUNG IKAN RUCAH NILA (Oreochromis niloticus) DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI AYAM BURAS PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN TEPUNG IKAN RUCAH NILA (Oreochromis niloticus) DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI AYAM BURAS Firman Nur Hidayatullah 1 ; Irfan H. Djunaidi 2, and M. Halim Natsir 2 1)

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU HEWAN DISUSUN OLEH:

TINGKAH LAKU HEWAN DISUSUN OLEH: PETUNJUK PRAKTIKUM TINGKAH LAKU HEWAN DISUSUN OLEH: Mujahidin Ahmad, M.Sc JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM 2013 0 Bismillahirrahmaanirrahiim

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL)

KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL) KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL) SKRIPSI Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang Oleh Richo Dian Krisno.A 7450406053

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Realisasi Produksi Ikan Segar di Kabupaten Klaten Tahun 2010. Harga Rata-rata produksi

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Realisasi Produksi Ikan Segar di Kabupaten Klaten Tahun 2010. Harga Rata-rata produksi BAB I PENDAHULUAN Ikan Nila merupakan salah satu komoditi penting perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Ikan ini sebenarnya bukan asli perairan Indonesia, melainkan ikan yang berasal dari Afrika (Wikipedia,

Lebih terperinci

PENGARUH BENTUK TELUR DAN BOBOT TELUR TERHADAP JENIS KELAMIN, BOBOT TETAS DAN LAMA TETAS BURUNG PUYUH (Coturnix-coturnix Japonica)

PENGARUH BENTUK TELUR DAN BOBOT TELUR TERHADAP JENIS KELAMIN, BOBOT TETAS DAN LAMA TETAS BURUNG PUYUH (Coturnix-coturnix Japonica) PENGARUH BENTUK TELUR DAN BOBOT TELUR TERHADAP JENIS KELAMIN, BOBOT TETAS DAN LAMA TETAS BURUNG PUYUH (Coturnix-coturnix Japonica) Muhammad Mahi, Achmanu, and Muharlien Bagian Produksi Ternak, Fakultas

Lebih terperinci

Sistem pertanian organik

Sistem pertanian organik Standar Nasional Indonesia Sistem pertanian organik ICS 65.020.01 Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DALAM PENGOLAHAN SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN SKRIPSI OLEH : AMINAH NUR M.

ANALISIS NILAI TAMBAH DALAM PENGOLAHAN SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN SKRIPSI OLEH : AMINAH NUR M. ANALISIS NILAI TAMBAH DALAM PENGOLAHAN SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN SKRIPSI OLEH : AMINAH NUR M.L 090304067 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus, L.) setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung kondisi lingkungan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus, L.) setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung kondisi lingkungan. 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Keilmuan 1. Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus, L.) Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunanya sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PEMBERIAN LACTIUM TERHADAP TINGKAT KEBUGARAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PEMBERIAN LACTIUM TERHADAP TINGKAT KEBUGARAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PEMBERIAN LACTIUM TERHADAP TINGKAT KEBUGARAN PADA MAHASISWA FK UNDIP ANGKATAN 2008 YANG MENGAHADAPI UJIAN PRE SEMESTER Disusun untuk Memenuhi Tugas

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi

Lebih terperinci

Asisten Peneliti: Aini Aqsa Arafah, SP Yuli Fitriyani, SP Aris Zaenal Muttaqin, SP

Asisten Peneliti: Aini Aqsa Arafah, SP Yuli Fitriyani, SP Aris Zaenal Muttaqin, SP Peneliti: DR. Drajat Martianto, MSi DR. Hadi Riyadi, MS DR. Dwi Hastuti, MSc Prof. Dr. Mien Ratu Oedjoe Ir. Edi Djoko Sulistijo, MP Ir. Ahmad Saleh, MP Asisten Peneliti: Aini Aqsa Arafah, SP Yuli Fitriyani,

Lebih terperinci

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP ii PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP Buku Ajar MKU By Tim MKU PLH Editor: Dewi Liesnoor Setyowati Sunarko Rudatin Sri Mantini Rahayu Sedyawati UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FEBRUARI 2014 iii Kata Pengantar Saat

Lebih terperinci

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Ketahanan Pangan Jakarta, 2006 KATA

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN TA/TL/2008/0254 TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik

Lebih terperinci

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA RIA FAIZAH

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA RIA FAIZAH BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA RIA FAIZAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan

Lebih terperinci

Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan

Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan Budi Tangendjaja dan Elizabeth Wina Balai Penelitian Ternak, Bogor PENDAHULUAN Tiga puluh tahun yang lalu, penggunaan jagung umumnya masih

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG ALAT PENGUPAS KACANG TANAH UNTUK MEMINIMALKAN WAKTU PENGUPASAN

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG ALAT PENGUPAS KACANG TANAH UNTUK MEMINIMALKAN WAKTU PENGUPASAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG ALAT PENGUPAS KACANG TANAH UNTUK MEMINIMALKAN WAKTU PENGUPASAN Diajukan Guna memenuhi syarat Untuk Memmperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri fakultas Teknik

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN EXATON-F PADA PAKAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN FCR JUVENIL IKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp)

PENGARUH PEMBERIAN EXATON-F PADA PAKAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN FCR JUVENIL IKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp) PENGARUH PEMBERIAN EXATON-F PADA PAKAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN FCR JUVENIL IKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp) Ir. Tri Wahyudi, MMA DOSEN UNISLA ABSTRAK Penelitian ini

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI WANITA PENYAPU JALAN RAYA DI KOTA TEGAL DALAM KEDUDUKAN DAN PERAN EKONOMI DI RUMAH TANGGA. Oleh :

LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI WANITA PENYAPU JALAN RAYA DI KOTA TEGAL DALAM KEDUDUKAN DAN PERAN EKONOMI DI RUMAH TANGGA. Oleh : LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI WANITA PENYAPU JALAN RAYA DI KOTA TEGAL DALAM KEDUDUKAN DAN PERAN EKONOMI DI RUMAH TANGGA Oleh : Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd. Dra. Faridah, M.Si. JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERKULOSIS DI RW 04 KELURAHAN LAGOA JAKARTA UTARA TAHUN 2013

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERKULOSIS DI RW 04 KELURAHAN LAGOA JAKARTA UTARA TAHUN 2013 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERKULOSIS DI RW 04 KELURAHAN LAGOA JAKARTA UTARA TAHUN 2013 Skripsi Diajukan Sebagai Tugas Akhir Strata-1 (S-1) pada

Lebih terperinci