BAB I PENDAHULUAN. Orang tua adalah seorang ayah dan atau ibu, yang menghasilkan kehidupan baru, yang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya jaman, semakin bertambah juga tuntutan-tuntutan

BAB I PENDAHULUAN. sekedar persaingan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) saja, tetapi juga produk dan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dan segala usia (Soedijarto,2008). Di Indonesia, pendidikan terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah suatu kunci yang penting terutama dalam era globalisasi. Pada era

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, pendidikan adalah usaha sadar dan

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi tidak lepas dari suatu perubahan pada berbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya dan semua orang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Masa SMA merupakan masa ketika remaja mulai memikirkan dan

BAB I PENDAHULUAN. Di era yang serba maju dan modern ini, banyak sekali perusahaanperusahaan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk

BAB I PENDAHULUAN. memasuki dunia pekerjaan. Mendapatkan predikat lulusan terbaik dari suatu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman yang semakin maju, pendidikan menjadi salah satu faktor

BAB I PENDAHULUAN. tanpa terkecuali dituntut untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dewasa ini pada akhirnya menuntut semakin

BAB I PENDAHULUAN. perubahan di dalam bidang pendidikan. Perubahan perubahan tersebut menuntut

BAB I PENDAHULUAN. remaja yaitu, terkait dengan pemilihan jurusan kuliah di Perguruan Tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan tonggak pembangunan sebuah bangsa. Kemajuan. dan kemunduran suatu bangsa dapat diukur melalui pendidikan yang

BAB I PENDAHULUAN. terhadap masa depan seseorang. Seperti yang dituturkan oleh Menteri Pendidikan

B A B PENDAHULUAN. Setiap manusia yang lahir ke dunia menginginkan sebuah kehidupan yang

BAB I PENDAHULUAN. di bidang tekhnologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pendidikan. Perubahan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial; mereka tidak dapat hidup sendiri dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berakhirnya suatu pendidikan formal, diharapkan seseorang dapat

BAB I PENDAHULUAN. menyerukan kepada seluruh bangsa di dunia bahwa jika ingin membangun dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tugas perkembangannya di periode tersebut maka ia akan bahagia, namun

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka memasuki era globalisasi, remaja sebagai generasi penerus

BAB I PENDAHULUAN. Fase usia remaja merupakan saat individu mengalami perkembangan yang

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini akan membuat siswa mampu memilih,

BAB I PENDAHULUAN. Individu mulai mengenal orang lain di lingkungannya selain keluarga,

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang melibatkan penguasaan suatu kemampuan, keterampilan, serta

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas tersebut diciptakan melalui pendidikan (

BAB I PENDAHULUAN. Kelangsungan hidup suatu negara sangat bergantung pada generasi

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan, diantaranya dalam bidang pendidikan seperti tuntutan nilai pelajaran

BAB I PENDAHULUAN. untuk memperoleh pengetahuan atau menambah wawasan. Penyelenggaraan. melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah salah satu bentuk pendidikan formal yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi, persaingan yang sangat ketat terjadi di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. diandalkan. Remaja merupakan generasi penerus yang diharapkan dapat. memiliki kemandirian yang tinggi di dalam hidupnya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mutia Faulia, 2014

BAB I PENDAHULUAN. Bandung saat ini telah menjadi salah satu kota pendidikan khususnya

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di

BAB I PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini,

BAB I PENDAHULUAN. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah cara yang dianggap paling strategis untuk mengimbangi

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi. dan negara. Contoh peran pendidikan yang nyata bagi perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. Remaja atau Adolescene berasal dari bahasa latin, yaitu adolescere yang

BAB I PENDAHULUAN. Zaman modern menuntut bertambahnya minat siswa untuk meneruskan

BAB I PENDAHULUAN. ilmunya dalam dunia pendidikan hingga tingkat Perguruan Tinggi. Dalam jenjang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Elsa Sylvia Rosa, 2014

BAB I PENDAHULUAN. ditentukan dari proses pembelajaran di sekolah tersebut. Pendidikan dapat

BAB I PENDAHULUAN. mensosialisasikannya sejak Juli 2005 (

BAB I PENDAHULUAN. Undang undang Pemerintahan Negara Republik Indonesia tahun 2003 pasal

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan

BAB I PENDAHULUAN. juga diharapkan dapat memiliki kecerdasan dan mengerti nilai-nilai baik dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membantu individu

BAB I PENDAHULUAN. artinya ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman yang maju mengikuti pertumbuhan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masa remaja merupakan peralihan antara masa kanak-kanak menuju

BAB I PENDAHULUAN. Menurut UU pendidikan No.2 Tahun,1989, pendidikan adalah usaha sadar untuk

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, sehingga terus berusaha untuk memajukan kualitas pendidikan yang ada.

BAB I PENDAHULUAN. perhatian serius. Pendidikan dapat menjadi media untuk memperbaiki sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. yang cacat, termasuk mereka dengan kecacatan yang berat di kelas pendidikan umum,

BAB I PENDAHULUAN. ketidakmampuan. Orang yang lahir dalam keadaan cacat dihadapkan pada

BAB I PENDAHULUAN. bahwa mereka adalah milik seseorang atau keluarga serta diakui keberadaannya.

I. PENDAHULUAN. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal, yang masih

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang mengutamakan

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan di dunia industri saat ini semakin tinggi. Tidak heran jika

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. usia 18 hingga 25 tahun (Santrock, 2010). Pada tahap perkembangan ini, individu

BAB I PENDAHULUAN. diasuh oleh orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga

BAB I PENDAHULUAN. Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dari masa ke

BAB I PENDAHULUAN. menyadari pentingnya memiliki pendidikan yang tinggi. Untuk mengikuti perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. akan tergantung pada orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya

LAMPIRAN I KATA PENGANTAR

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pendidikan formal merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap

BAB I PENDAHULUAN. studi di Perguruan Tinggi. Seorang siswa tidak dapat melanjutkan ke perguruan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan elemen penting bagi kehidupan. Menurut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal (1) ayat 1,

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan tugas pemerintah untuk menciptakan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa, dan

BAB I PENDAHULUAN. individu untuk menuju kedewasaan atau kematangan adalah masa remaja

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini pendidikan sangat penting. Hal ini disebabkan perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan formal maupun nonformal. mempermudah mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan data dari Badan

BAB I PENDAHULUAN. bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik

PENINGKATAN KEMATANGAN KARIER SISWA MELALUI LAYANAN KONSELING KELOMPOK. Lutiyem SMP Negeri 5 Adiwerna, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Komisi Remaja adalah badan pelayanan bagi jemaat remaja berusia tahun. Komisi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat menimbulkan banyak masalah bila manusia tidak mampu mengambil

BAB I PENDAHULUAN. dalam buku Etika Profesi Pendidikan). Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan jenjang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting bagi kehidupan

Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut

ANGKET ANALISIS KEBUTUHAN SISWA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu bidang kehidupan yang dirasakan penting

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi, telah berdampak kepada munculnya bidang-bidang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Orang tua adalah seorang ayah dan atau ibu, yang menghasilkan kehidupan baru, yang menjadi wali, pelindung, dan mendorong semua aspek pertumbuhan anak serta memelihara (Brooks B). Jika pada masa bayi hingga masa anak, seseorang sangat bergantung pada orang dewasa seperti orang tua dan lebih menurut pada perkataan orang tua, lain halnya saat seseorang berada pada masa remaja. Saat remaja, individu mulai melawan atau memberontak pada orang tua, konflik dengan orang tua meningkat, individu memiliki keinginan untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama teman sebaya sehingga membuat waktu untuk berinteraksi dengan orang tua menjadi berkurang. Bagi remaja teman sebaya memiliki peran yang penting dalam kehidupan, salah satunya yaitu sebagai sumber informasi mengenai dunia di luar keluarga, seperti umpan balik mengenai kemampuannya, penilaian bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih baik, sama baik atau kurang baik, semua ini tidak mudah dipelajari apa bila di rumah. (Santrock, 2007) Pentingnya peran teman sebaya bagi remaja bukan berarti menghilangkan peran orang tua pada masa remaja. Menurut Santrock (2003) keluarga masih memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan remaja. Individu akan memeroleh banyak sekali manfaat bila salah satu atau kedua orang tuanya memiliki keterlibatan yang tinggi dalam mendidik dirinya, memberikan kehangatan dan pengasuhan, membantu remaja mengembangkan kendali terhadap dirinya sendiri dan menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan remaja tersebut. Santrock (2007) mengatakan transisi dari masa kanak-kanak hingga masa remaja bersifat kompleks, melibatkan perubahan di berbagai aspek kehidupan 1

2 individu. Agar individu dapat bernegosiasi terhadap transisi ini secara berhasil, orang tua diharapkan mampu beradaptasi, bersikap bijaksana, serta memberikan dukungan kepada remaja. Menurut Blyth, Hill, dan Thiel (1982, dalam Vaux 1988) orang tua merupakan salah satu sumber dukungan sosial. Dukungan sosial didefinisikan sebagai pertukaran antara sedikitnya dua individu yang merasa sebagai pemberi atau penerima dukungan untuk kesejahteraan penerima dukungan (Shumaker dan Brownell, 1984, dalam Vaux, 1988). Dukungan orang tua terdapat 4 jenis yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informasi (House, 1981 dalam Vaux, 1988). Dukungan emosional, adalah tingkah laku orang tua pada anaknya yang berhubungan dengan perhatian terhadap masalah akademis, mau mendengarkan cerita serta kepercayaan yang diberikan dalam memilih jurusan. Dukungan penghargaan, adalah tingkah laku yang berhubungan dengan penghargaan dalam uusaha belajar, ungkapan bangga serta pujian dan pemberian semangat dalam hal akademis. Dukungan instrumental, adalah tingkah laku orang tua yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan anak sifatnya materi seperti fasilitas untuk belajar atau tenaga seperti waktu luang untuk berdiskusi hal akademis. Dukungan informasi adalah tingkah laku orang tua yang berhubungan dengan pemberian informasi, nasehat dan pengarahan. Dukungan orang tua ini bisa diberikan pada berbagai macam aspek kehidupan remaja salah satunya pendidikan. Selama masa remaja pemikiran-pemikiran remaja mengarah ke masa depan seperti mulai memersiapkan pendidikan lanjutan saat berada di sekolah menengah pertama. Cara yang bisa dilakukan untuk memersiapkan pendidikan lanjutan ini yaitu dengan memilih jurusan yang nantinya akan digeluti di bangku kuliah. Pemilihan jurusan kuliah diharapkan sudah dimulai sejak kelas XI walaupun jurusan ini baru akan digeluti nanti setelah lulus SMA. Mengingat jadwal pendaftaran seleksi masuk

3 perguruan tinggi bisa terjadi pada awal semester 2 di kelas XII bahkan semester 1 di kelas XII. Hal ini terlihat dari jadwal pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yaitu seleksi yang menggunakan nilai rapor, untuk tahun ajaran 2015/2016 sudah dimulai sejak bulan Februari 2015. Lain halnya dengan siswa yang ingin mengikuti jalur PMDK (Penerimaan berdasarkan Minat dan Kemampuan) sejak di semester pertama kelas XII harus sudah menentukan jurusan apa yang nanti akan di tempuhnya di perguruan tinggi. Hal ini terjadi pada tahun 2015, dua universitas swasta di Bandung telah membuka pendaftaran jalur PMDK di bulan Oktober 2015. Jadwal tersebut membuat siswa memikirkan lebih awal jurusan apa yang ingin siswa pilih. Dengan keadaan tersebut diharapkan siswa dapat memersiapkan diri memasuki jurusan kuliah yang diminati sejak kelas XI. Bukanlah perkara mudah bagi siswa SMA kelas XI menentukan perguruan tinggi mana dan jurusan apa yang akan dipilih meskipun telah mendapat bimbingan karier atau layanan konseling di sekolah, mengingat begitu banyaknya perguruan tinggi dengan beragam jurusan perkuliahan didalamnya. Keputusan apapun yang diambil menjadi titik awal yang menentukan nasib dan masa depan kemudian jurusan kuliah mana yang akan dipilih akan menentukan pekerjaan apa yang akan digeluti di masa depan. Kebingungan ini membuat tidak sedikit siswa-siswi yang akhirnya memilih jurusan kuliah yang sama dengan teman dekatnya, dan juga karena dorongan atau harapan orang tua padahal dalam memilih jurusan, siswa diharapkan sudah mulai mengenali dirinya sehingga memilih sesuai kepribadian, bakat, minat dan potensi dalam dirinya sehingga apabila siswa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, siswa akan nyaman untuk kuliah, lebih fokus dalam menjalani perkuliahan, serta diharapkan mampu bertahan bila menghadapi masalah yang berkaitan dengan masalah akademis (Herindra, 2014). Sebaliknya ketika siswa memilih jurusan kuliah tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, bukan hanya berakibat pada masalah akademis seperti nilai ujian yang tidak

4 optimal, bahkan tidak akan bertahan lama pada jurusan tersebut. Apabila jurusan tidak sesuai minat dan bakatnya siswa juga kemungkinan akan lulus dengan nilai dan kemampuan yang tidak maksimal sehingga akan sulit mencari pekerjaan (Bahri, dalam Bappenas). Dampak panjang dari salah jurusan salah satunya yaitu pengangguran. Menurut educational psychology dan integrity development flexibility (IDF) Irene Guntur M.Psi,Psik (dalam Rachmad, 2014), salah jurusan bisa memicu pada pengangguran, padahal jumlah pengangguran di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) hingga februari 2015 mencapai 7,45 juta orang (Disfiyant, 2015). Untuk menghindari meningkatnya jumlah pengangguran karena salah jurusan tersebut maka siswa memerlukan orientasi masa depan yang jelas dalam bidang pendidikan. Orientasi masa depan dapat diuraikan sebagai model masa depan seseorang yang menjadi dasar dalam penyusunan tujuan, rencana, eksplorasi berbagai pilihan dan membuat komitmen, dan membimbing jalan perkembangan seseorang (Seginer, 2009). Orientasi masa depan seseorang dapat digambarkan dalam tiga komponen yaitu motivational, cognitive representation, dan behavioral. Motivational berkaitan dengan dorongan sesorang dalam berpikir mengenai masa depannya, dan hal yang mendorong seseorang untuk memikirkan masa depan dirinya secara luas, cognitive representation berkaitan dengan domain kehidupan masa depan yang disusun individu serta hopes dan fears berkenaan masa depannya, dan behavioral berkaitan dengan eksplorasi akan pilihan-pilihan di masa depan serta kemampuan dalam membuat keputusan. Berdasarkan penelitiannya, Seginer (2009) mendeskripsikan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi orientasi masa depan yaitu close interpersonal relation yang meliputi hubungan dengan orang tua, saudara kandung dan teman sebaya. Dalam hubungan dengan orang tua terdapat hal penting yang menunjang orientasi masa depan yaitu dukungan orang tua.

5 Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan koordinator guru BK di SMAN X Bandung, diperoleh informasi bahwa SMAN X Bandung merupakan sekolah inklusi untuk beberapa anak berkebutuhan khusus (ABK) dan untuk pelajar SMA yang menjadi atlet olah raga. Untuk kelas XI angkatan 2015/2016 ini terdapat 21 siswa yang merupakan atlet olah raga. Para siswa ini kebanyakan bergabung dengan Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) yang ditanggung oleh pemerintah. Mereka tinggal di asrama dan ke sekolah menggunakan bus khusus untuk para siswa PPLP dan pulang sekolah mengggunakan bus kembali untuk menuju tempat latihan. Para atlet ini mendapat perlakuan khusus dari sekolah, yaitu apabila jadwal latihan pagi-pagi, mereka tetap dapat masuk ke sekolah setelah latihan tersebut. Kemudian apabila mereka sedang tanding, mereka tetap dianggap hadir, tetapi tetapi tetap harus mengumpulkan tugas. Untuk mengejar materi pelajaran yang tertinggal ketika mereka mengikuti pertandingan, mereka pun mendapat pelajaran tambahan yang biasa dilakukan di wisma tempat mereka tinggal. Pelajaran tambahan ini diberikan oleh guru dari sekolah dan dari guru sekolah lainnya. SMAN X Bandung tidak memiliki jam pelajaran khusus untuk bimbingan konseling dikarenakan jam pelajaran sekolah yang sudah padat. Untuk tetap memenuhi kurikulum bimbingan konseling, guru BK masuk ke kelas apabila jam pembinaan tidak dipakai upacara atau tidak diisi oleh wali kelas dan apabila kelas kosong dikarenakan guru mata pelajaran tidak hadir. Dalam kurikulum tersebut terdapat berbagai jenis kegiatan/strategi layanan dan salah satunya adalah bimbingan karier. Untuk kelas XI guru BK memberikan bimbingan karier dalam bentuk informasi mengenai perguruan tinggi, penjelasan mengenai jurusan di perguruan tinggi, serta nilai yang dibutuhkan untuk masuk ke jurusan dan perguruan tinggi tertentu. Hal ini dilakukan agar siswa memiliki gambaran mengenai jurusan dan perguruan tinggi sejak kelas XI dan informasi ini akan lebih dimantapkan di kelas XII. Guru BK pun mengaku masih banyak siswa yang kebingungan akan memilih jurusan apa,

6 sehingga siswa mendatangi ruangan guru BK untuk melakukan konseling pribadi atau kelompok. Berdasarkan hasil survei pada 24 siswa kelas XI SMAN X Bandung, sebanyak 18 siswa (75 %) menyatakan bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi itu sangat penting, sebanyak 5 siswa (20,8 %) menyatakan penting dan sebanyak 1 siswa (4,1 %) menyatakan biasa saja. Dari 24 siswa tersebut sebanyak 17 siswa (70,83 %) sudah mengetahui akan memilih jurusan apa dan perguruan tinggi mana, mereka juga sudah mengetahui faktor apa saja yang menghambat atau mendukung dalam pemilihan jurusan dan perguruan tinggi seperti nilai yang dibutuhkan untuk jurusan tertentu, mereka juga sudah melakukan upaya untuk mencapai tujuan mereka seperti mencari informasi mengenai jurusan dan perguruan tinggi yang mereka inginkan. Sebanyak 1 siswa (4,16 %) masih belum dapat menentukan akan memilih jurusan apa dan perguruan tinggi mana, namun sudah mengetahui faktor apa saja yang menghambat atau mendukung dalam pemilihan jurusan dan perguruan tinggi seperti pelajaran dan rasa malas, sudah melakukan upaya untuk mencapai tujuan mereka dengan mencari informasi dan bertanya kepada teman, serta merasa yakin bahwa kemampuannya mendukung untuk masuk ke jurusan yang diinginkan. Kemudian sebanyak 3 siswa (12,5%) masih belum dapat menentukan akan memilih jurusan apa dan perguruan tinggi mana, belum mengetahui faktor apa saja yang menghambat atau mendukung dalam pemilihan jurusan dan perguruan tinggi, belum melakukan upaya apaapa untuk mencapai tujuan mereka, namun merasa yakin bahwa kemampuannya mendukung untuk masuk ke jurusan yang diinginkan. Sebanyak 2 siswa (8,33%) masih belum dapat menentukan akan memilih jurusan apa dan perguruan tinggi mana, belum mengetahui faktor apa saja yang menghambat atau mendukung dalam pemilihan jurusan dan perguruan tinggi, namun sudah melakukan upaya untuk mencapai tujuan mereka dengan memelajari banyak hal dan belajar dengan giat, serta merasa yakin bahwa kemampuannya mendukung untuk masuk

7 ke jurusan yang diinginkan. Sebanyak 1 siswa (4,16 %) masih belum dapat menentukan akan memilih jurusan apa dan perguruan tinggi mana, belum mengetahui faktor apa saja yang menghambat atau mendukung dalam pemilihan jurusan dan perguruan tinggi, sudah melakukan upaya untuk mencapai tujuan dengan bertanya kepada teman, namun tidak merasa yakin bahwa kemampuannya mendukung untuk masuk ke jurusan yang diinginkan. Dari 24 siswa tersebut, terdapat 16 siswa (66,6%) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi dalam memilih jurusan kuliah dan perguruan tinggi adalah keluarga atau orang tua. Bentuk pengaruh dari orang tua ini beragam, seperti dukungan, dorongan, arahan, dan persetujuan. Sedangkan 8 siswa (33,3 %) lainnya menyebutkan faktor yang lainnya, seperti biaya, nilai yang dibutuhkan pada jurusan tertentu, dan pekerjaan yang bisa diperoleh dari jurusan kuliah tertentu. Dari 17 siswa yang telah mengetahui akan memilih jurusan apa dan pergururan tinggi mana, sebanyak 8 siswa (47 %) menghayati bahwa dukungan orang tua yang lebih sering diterima adalah dalam bentuk nasehat ketika mendapat nilai buruk, informasi mengenai dunia pendidikan, serta pengarahan mengenai pergaulan. Sebanyak 4 siswa (23,5 %) menghayati bahwa jenis dukungan yang lebih sering diberikan oleh orang tua adalah dalam bentuk perhatian terhadap nilai-nilai di sekolah, menemani mencari kebutuhan, serta mendengarkan pengalaman. Sebanyak 4 siswa (23,5 %) menghayati dukungan yang lebih sering diberikan orang tua adalah dalam bentuk pujian ketika meraih prestasi, ungkapan rasa bangga, serta memberi semangat, dan sebanyak 1 siswa (5,8 %) menghayati dukungan yang lebih sering diberikan orang tua adalah dalam bentuk menyediakan keperluan sekolah, menyediakan fasilitas yang lengkap untuk belajar serta membantu mengerjakan tugas. Dari 7 siswa yang masih belum dapat menentukan dalam memilih jurusan dan perguruan tinggi, sebanyak 6 siswa (85,7 %) menghayati bahwa dukungan orang tua yang lebih sering digunakan adalah dalam bentuk nasehat ketika mendapat nilai buruk, informasi

8 mengenai dunia pendidikan, serta pengarahan mengenai pergaulan. Sebanyak 1 siswa (14,3 %) menghayati bahwa jenis dukungan yang lebih sering diberikan oleh orang tua adalah dalam bentuk menyediakan keperluan sekolah, menyediakan fasilitas yang lengkap untuk belajar serta membantu mengerjakan tugas. Hasil penelitian Dwi Anandiya (2011) mengenai Hubungan Antara Dukungan Orang Tua dan Orientasi Masa Depan Bidang Akademik pada Siswa Siswi Kelas XII di SMA Negeri 5 Cimahi menunjukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan orang tua dan orientasi masa depan bidang akademik. Penelitian yang terkait juga dilakukan oleh Emamiridya Erine (2010) mengenai Orientasi Masa Depan Remaja Ditinjau dari Dukungan Orang Tua, Dukungan Guru dan Dukungan Teman Sebaya yang menunjukan korelasi positif antara dukungan orang tua dan orientasi masa depan pada remaja. Penelitian lainnya yang lebih dahulu dilakukan oleh Liana (2000) mengenai Hubungan Antara Dukungan Orang Tua dan Orientasi Masa Depan dalam Bidang Pendidikan pada Siswa/I Kelas II SMU X di Kodya Bandung menunjukan bahwa terdapat hubungan antara dukungan orang tua dan orientasi masa depan. Dari hubungan yang ada, kontribusi dari jenis-jenis dukungan orang tua terhadap orientasi masa depan belum diteliti secara lebih mendalam. Sementara dari fenomena yang ada kebanyakan siswa menyebutkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi dalam pemilihan jurusan dan perguruan tinggi adalah keluarga atau orang tua, maka peneliti tertarik untuk meneliti seberapa besar kontribusi jenis-jenis dukungan orang tua terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung.

9 1.2 Identifikasi Masalah Dari penelitian ini ingin diketahui seberapa besar kontribusi jenis-jenis dukungan orang tua terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian Untuk memeroleh gambaran seberapa besar kontribusi jenis-jenis dukungan orang tua terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 1.3.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dukungan orang tua manakah yang memiliki kontribusi terbesar terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoretis 1. Memberi masukan bagi ilmu psikologi pendidikan mengenai kontribusi jenis-jenis dukungan orang tua terhadap orientasi masa depan pada siswa kelas XI SMA.

10 2. Memberi informasi tambahan bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai dukungan orang tua dan orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMA. 1.4.2 Kegunaan Praktis 1. Memberi informasi bagi pihak sekolah mengenai dukungan orang tua dan orientasi masa depan dalam bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 2. Menjadi salah satu masukan kepada guru BK untuk memberi informasi bagi para orang tua mengenai dukungan orang tua dan orientasi masa depan dalam bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 1.5 Kerangka Pikir Saat ini siswa kelas XI SMAN X Bandung rata-rata berusia 15-17 tahun yang berarti berada dalam masa remaja. Masa remaja merupakan salah satu tahapan dalam perkembangan individu. Santrock (2007) mendefinisikan sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional. Pada tahapan perkembangan remaja, remaja sudah tidak terbatas pada pengalaman konkret aktual sebagai dasar pemikiran. Remaja berada pada tahap perkembangan kognitif formal operational. Pada tahap ini pemikiran remaja lebih abstrak, idealis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Selama masa remaja pemikiran-pemikiran remaja juga mengarah ke masa depan. Remaja mulai menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan-pemecahan masalah secara sistematis. Dengan pemikiran yang lebih abstrak, remaja diharapkan mulai belajar membuat keputusan yang

11 penting bagi dirinya sendiri. Keputusan yang penting tersebut salah satunya adalah keputusan dalam bidang pendidikan yaitu melanjutkan ke perguruan tinggi. Menurut Seginer (2009), orientasi masa depan adalah model masa depan seseorang yang menjadi dasar dalam penyusunan tujuan, rencana, eksplorasi, berbagai pilihan, dan membuat komitmen, dan oleh karena itu membimbing jalan perkembangan seseorang. Orientasi masa depan memiliki tiga komponen yaitu, komponen motivasional, komponen cognitive representation dan komponen behavioral. Komponen motivasional berhubungan dengan pertanyaan mengenai hal apa yang mendorong siswa kelas XI SMAN X Bandung berpikir tentang masa depan, atau lebih tepatnya apa yang mendorong siswa kelas XI SMAN X Bandung menamamkan pemikiran yang luas ke masa depan. Komponen motivasional ini memiliki tiga variabel yaitu, value, expectance, dan control. Value membahas tentang seberapa penting siswa kelas XI SMAN X Bandung memandang pendidikan lanjutan ke jenjang perguruan tinggi. Misalnya siswa kelas XI SMAN X Bandung menganggap bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi adalah hal yang sangat penting untuk meraih cita-citanya. Siswa yang memiliki value yang demikian akan memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dibanding siswa yang mengganggap bahwa melanjutkan pendidikan bukanlah hal yang penting. Expectance berkaitan dengan keyakinan siswa kelas XI SMAN X Bandung dapat mewujudkan harapan, tujuan dan perencanaan (siswa kelas XI SMAN X Bandung) untuk dapat diterima di jurusan atau perguruan tinggi tertentu. Misalnya, siswa kelas XI SMAN X Bandung memiliki keyakinan bahwa dirinya bisa melanjutkan pendidikannya dan yakin bisa masuk ke jurusan yang diharapkan. Siswa yang memiliki expectance demikian akan memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dibanding dengan siswa yang tidak

12 memiliki keyakinan untuk melanjutkan pendidikannya. Control menggambarkan seberapa besar keyakinan mengenai kekuatan yang dimiliki siswa kelas XI SMAN X Bandung untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Misalnya, seorang siswa merasa tidak yakin akan kemampuannya dalam menghafal pelajaran, padahal dirinya ingin masuk ke jurusan kedokteran. Siswa yang memiliki control demikian akan memiliki motivasi untuk melanjutkan kuliah lebih rendah dibandingkan siswa lain yang memiliki keyakinan akan kemampuannya dalam hal melanjutkan pendidikannya. Komponen cognitive representation dideskripsikan dalam dua dimensi yaitu content dan valence. Content berkaitan dengan domain kehidupan yang disusun siswa kelas XI SMAN X Bandung yaitu ranah pendidikan. Valence berkaitan dengan dasar asumsi yang siswa kelas XI SMAN X Bandung dekati atau jauhi yang diekspresikan melalui hopes dan fears. Hopes menggambarkan sejauh mana siswa kelas XI SMAN X Bandung memiliki harapan dalam melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Fears menggambarkan sejauh mana siswa kelas XI di SMAN X Bandung memiliki hal-hal yang ingin dihindari dalam melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Misalnya siswa yang telah menyusun rencana dalam ranah pendidikan (content) sangat berharap dirinya dapat melanjutkan pendidikannya pada jurusan yang diinginkannya yaitu kedokteran (hopes) untuk meraih keinginannya siswa tersebut giat belajar, mengurangi main agar bisa fokus meraih tujuannya karena siswa tersebut takut gagal (fears). Komponen behavioral menggambarkan sejauh mana usaha yang dilakukan siswa kelas XI SMAN X Bandung dalam upaya melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Komponen ini memiliki dua sub-komponen, yaitu exploration dan commitment. Exploration berkaitan dengan sejauh mana siswa kelas XI SMAN X Bandung mengarahkan perilakunya baik ke dalam maupun ke luar diri yang berkaitan dengan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Commitment berkaitan dengan seberapa mampu

13 siswa kelas XI SMAN X Bandung dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Misalnya, siswa yang ingin masuk ke jurusan kedokteran telah mencari informasi mengenai persyaratan untuk dapat masuk ke jurusan kedokteran, telah berkonsultasi dengan orang tua dan guru (exploration), kemudian siswa tersebut mampu memutuskan untuk memilih jurusan kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung (commitment). Dapat dikatakan usaha siswa tersebut telah kuat dalam hal melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi dibanding siswa yang belum melakukan usaha atau belum memutuskan akan kuliah di mana. Orientasi masa depan bidang pendidikan yang jelas penting dimiliki oleh siswa kelas XI SMAN X Bandung karena orientasi masa depan bidang pendidikan ini tidak hanya memengaruhi perilaku siswa di perkuliahannya nanti, tetapi juga dalam perilaku belajar siswa kelas XI SMAN X Bandung saat ini. Dilihat dari komponen motivational, siswa dengan orientasi masa depan bidang pendidikan yang jelas memandang bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi merupakan sesuatu yang penting (value), sehingga siswa merasa perlu membuat perencanaan seperti memikirkan jurusan apa yang akan diambil serta perguruan tinggi mana yang akan dipilih. Siswa juga memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu mewujudkan perencanaan yang dibuatnya tersebut dalam memilih jurusan di perguruan tinggi yang diinginkan (expectance), dan memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu menentukan jurusan apa yang akan dipilih sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimiliki (control). Dilihat dari komponen cognitive representation, siswa kelas XI yang memiliki orientasi masa depan bidang pendidikan yang jelas akan mencari informasi mengenai jurusan yang diinginkan dengan bertanya pada orang tua, guru, teman sebaya atau mencari informasi dari sumber lainnya. Siswa juga akan mencari apa saja persyaratan yang dibutuhkan oleh jurusan yang diinginkannya (exploration), hingga akhirnya siswa dapat

14 membuat keputusan mengenai jurusan apa yang diambil dan perguruan tinggi mana yang dipilih (commitment). Siswa yang memiliki orientasi masa depan bidang pendidikan yang tidak jelas akan mengganggap bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi bukanlah hal yang penting (value), siswa merasa bingung bahkan tidak tahu akan memilih jurusan apa dan perguruan tinggi mana. Hal ini dapat membuat siswa tidak membuat perencanaan untuk menentukan jurusan dan perguruan tinggi yang akan dipilih (expectance), bahkan siswa dapat memiliki keyakinan bahwa dirinya tidak mampu menentukan jurusan dan perguruan tinggi yang akan dipilih (control). Kemudian siswa akan mengembangkan atau memiliki rasa pesimis bahwa dirinya tidak mampu mewujudkan pilihan jurusan yang diminati (fears). Apabila sejak awal siswa tidak memikirkan rencana melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, siswa mungkin tidak mencari informasi mengenai jurusan dan perguruan tinggi (exploration). Apabila demikian mungkin saja siswa akan mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan mengenai jurusan dan perguruan tinggi yang akan dipilihnya (commitment). Orientasi masa depan bidang pendidikan dikatakan jelas apabila ketiga komponen orientasi masa depan (motivational, cognitive representation, behavioral) memiliki derajat yang tinggi. Orientasi masa depan bidang pendidikan dikatakan tidak jelas apabila salah satu atau lebih komponennya memiliki derajat yang rendah. Selain memiliki tiga komponen, menurut Seginer (2009) orientasi masa depan memiliki faktor yang memengaruhi, salah satunya adalah close interpersonal relation. Close interpersonal relations merupakan faktor yang meliputi hubungan siswa kelas XI SMAN X Bandung dengan orang tua, saudara kandung, dan teman sebaya. Parenting lebih terkait bagaimana siswa kelas XI SMAN X Bandung mengalami hubungan positif dengan orang

15 tuanya akhirnya memiliki dampak positif pada orientasi masa depan (Seginer, 2009). Dalam hubungan dengan orang tua terdapat hal penting yang menunjang orientasi masa depan siswa kelas XI SMAN X Bandung yaitu dukungan orang tua. Menurut Seginer (2009) dukungan orang tua membimbing perilaku positif ke arah masa depan dan kesediaan untuk mengejar tujuan di masa depan. Remaja yang merasa orang tua mereka mendukung dan memberi harapan kepada mereka, menampilkan optimisme yang lebih besar ke arah masa depan dan membangun lebih luas dan membedakan orientasi masa depan (Trommsdorff, 1983;Trommsdorff, Burger, & Füchsle, 1982 dalam Seginer, 2009). Misalnya siswa kelas XI SMAN X Bandung memiliki orang tua yang demokrasi di dalam rumah, sehingga saat hendak memutuskan akan melanjutkan pendidikan dan jurusannya atau langsung bekerja siswa dapat mengutarakan pendapatnya dan mendapat informasi atau masukan dari orang tua sehingga sikap siswa akan terarah ke tujuannya, misalnya siswa hendak masuk jurusan kedokteran, ketika orang tua menyetujuinya dan orang tua memberikan informasi terkait dengan jurusan kedokteran maka siswa tersebut akan yakin terhadap tujuannya. Lain halnya jika siswa kelas XI SMAN X Bandung memiliki orang tua yang tidak demokrasi atau bahkan tidak pernah mendiskusikan mengenai pendidikan lanjutan, siswa kemungkinan tidak akan konsultasi kepada orang tua mengenai jurusan apa yang cocok dengan dirinya untuk mengurangi kebingungan yang ia alami dalam memilih jurusan. Selain parenting ada juga sibling yang memiliki keterkaitan bagaimana siswa kelas XI SMAN X Bandung yang mengalami hubungan positif dengan saudara kandung akhirnya memiliki dampak positif pada orientasi masa depan. Misalnya siswa yang memiliki hubungan yang baik dan sering berdiskusi dengan saudara kandungnya, akan berdiskusi mengenai jurusan-jurusan yang ada diperguruan tinggi dan meminta pendapat mengenai jurusan yang lebih cocok dengan dirinya, sehingga dengan mendapat masukan, siswa kelas XI SMAN X Bandung akan semakin yakin dengan dirinya dan dapat membuat keputusan mengenai jurusan

16 dan perguruan tinggi mana yang dipilihnya. Apabila siswa kelas XI SMAN X Bandung tidak memiliki hubungan yang positif dengan saudara kandungnya, kemungkinan siswa tidak akan mendiskusikan mengenai pendidikan lanjutan dengan saudara kandungnya, dan tidak mendapat masukan yang akan membantu siswa kelas XI SMAN X Bandung dalam membuat keputusan mengenai pendidikan lanjutannya. Satu bagian lagi yang termasuk dalam close interpersonal relation yaitu peer relations yang menggambarkan bagaimana hubungan dengan teman sebaya difokuskan pada kualitas hubungannya. Siswa kelas XI SMAN X Bandung yang memiliki kualitas hubungan yang positif dengan teman sebayanya akan memiliki dampak positif pada orientasi masa depannya (Seginer, 2009, halaman 163). Misalnya siswa kelas XI SMAN X Bandung sering bertukar pikiran dengan teman sebayanya, sehingga ketika siswa tersebut mengalami kebingungan mengenai jurusan yang akan dipilihnya maka teman sebayanya akan memberikan masukan mengenai jurusan apa yang lebih sesuai dengan siswa tersebut dan akan membuat siswa tersebut mendapat pencerahan dan mengurangi kebingungannya. Pentingnya teman sebaya bagi remaja dapat membuat masukan atau umpan balik dari teman sebaya sangat didengar, siswa yang tidak memiliki hubungan yang positif dengan teman sebayanya kemungkinan tidak akan mendapatkan umpan balik mengenai kemampuannya yang kemungkinan akan membantu siswa dalam melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Menurut House (1981, dalam Vaux 1988) terdapat empat jenis dukungan orang tua yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informasi. Dukungan emosional adalah adalah tingkah laku yang berhubungan dengan rasa menyukai, rasa memiliki dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua kepada siswa kelas XI SMAN X Bandung. Misalnya orang tua memerhatikan nilai-nilai di sekolah, mau mendengarkan cerita, serta memberikan kepercayan untuk memilih sendiri jurusan dan

17 perguruan tinggi. Dukungan penghargaan, adalah tingkah laku berhubungan dengan penghargaan yang diberikan orang tua terhadap perbuatan siswa kelas XI SMAN X Bandung. Misalnya, orang tua mengatakan bahwa mereka bangga kepada anaknya, pemberian pujian ketika siswa kelas XI SMAN X Bandung berhasil mendapatkan ranking atau nilai yang tinggi, serta memberi semangat kepada siswa kelas XI SMAN X Bandung. Dukungan instrumental, adalah tingkah laku yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan yang diberikan orang tua terhadap anak yang sifatnya materi atau tenaga. Misalnya, orang tua menyediakan fasilitas untuk belajar atau keperluan sekolah, orang tua menyediakan waktu luang untuk berdiskusi mengenai pendidikan lanjutan atau orang tua bersedia menemani untuk mengunjungi perguruan tinggi yang diinginkan. Dukungan informasi adalah tingkah laku orang tua yang berhubungan dengan pemberian informasi dan nasehat kepada siswa kelas XI SMAN X Bandung tentang lingkungannya. Misalnya orang tua menasehati agar giat belajar, memberi pengarahan bagaimana cara mewujudkan cita-cita atau memberi informasi mengenai pemilihan jurusan dan perguruan tinggi. Siswa kelas XI SMAN X Bandung yang menghayati orang tuanya memerhatikan nilai-nilai di sekolah atau memberi kepercayaan untuk memilih sendiri jurusan dan perguruan tinggi (dukungan emosional) akan merasa lebih yakin bahwa dirinya dapat melanjutkan pendidikannya (expectance) karena orang tua memberi kepercayaan dan perhatian. Orang tua yang memberi kepercayaan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akan membuat siswa semakin menganggap bahwa melanjutkan pendidikan adalah hal yang penting (value). Orang tua yang mendengarkan pengalaman dan masalah anaknya akan membuat anak lebih memahami faktor apa saja yang dapat menghambat atau mendukung dirinya (cognitive representation component) dalam melanjutkan pendidikannya.

18 Siswa kelas XI SMAN X Bandung yang menghayati orang tuanya memberikan pujian, menghargai usaha belajar mereka (dukungan penghargaan) akan merasa diri lebih berharga, lebih positif dan lebih percaya diri sehingga akan membuat siswa mengembangkan harapannya (hopes) serta keyakinannya (expectance) untuk dapat melanjutkan pendidikannya. Orang tua yang memberikan semangat juga akan membuat anak lebih berusaha sungguhsungguh untuk mencari informasi dan berkonsultasi (exploration) guna mencari kesesuaian antara dirinya dan jurusan yang akan dipilih, dengan semangat yang diberikan oleh orang tua, siswa kelas XI SMAN X Bandung dapat mengurangi ketakutan mereka akan kegagalan (fears) melanjutkan pendidikannya. Siswa kelas XI SMAN X Bandung yang menghayati orang tuanya memberikan fasilitas yang lengkap seperti buku atau uang lebih untuk keperluan sekolah (dukungan instrumental) akan lebih mudah mengeksplorasi informasi dan kemampuannya dalam upaya melanjutkan pendidikannya (exploration). Siswa yang mengahayati bawa orang tua berusaha memenuhi keperluan sekolah baik iuran dan alat-alat sekolah kemungkinan tidak akan khawatir mengenai biaya kuliah (fears). Kemudian orang tua yang mengajak anaknya berdiskusi akan membuat siswa lebih mampu membuat keputusan (commitment) dalam usaha melanjutkan pendidikannya. Siswa yang menghayati orang tuanya menasehati agar giat belajar (dukungan informasi) akan merasa bahwa pendidikan penting dan semakin merasa bahwa melanjutkan pendidikan adalah hal yang penting (value). Orang tua yang memberikan informasi mengenai jurusan apa yang sesuai dengan anaknya akan membuat anaknya merasa lebih yakin dalam membuat keputusan (commitment) yang berhubungan dengan melanjutkan pendidikannya. Selain itu dengan orang tua yang memberi pengarahan mengenai cara anak meraih impiannya akan membuat siswa lebih mengembangkan informasi bagi dirinya (exploration).

19 Penjelasan mengenai tiga komponen orientasi masa depan dan faktor-faktor yang memengaruhinya beserta kontribusi dukungan orang tua terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan digambarkan dalam bagan berikut : Dukungan Emosional Dukungan Penghargaan Close Interpersonal relation : Orang tua Dukungan Orang tua Sibling Peers Dukungan Instrumental Dukungan Informasi Orientasi Masa Depan Motivational Value Expectance Control Cognitive Representation Hopes Fears Behavioral Exploration Commitment Bagan 1.1 Kerangka Pikir 1.6 Asumsi Penelitian Berdasarkan kerangka pikir diatas dapat didapat beberapa asumsi sebagai berikut : 1. Orientasi masa depan memiliki tiga komponen yaitu motivation, cognitive representation, dan behavioral.

20 2. Orientasi masa depan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya close interpersonal relation. 3. Dukungan orang tua merupakan salah satu bentuk dari close interpersonal relation. 1.7 Hipotesis Penelitian Terdapat 4 hipotesis penelitian yaitu : 1. Terdapat kontribusi jenis dukungan emosional terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 2. Terdapat kontribusi jenis dukungan penghargaan terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 3. Terdapat kontribusi jenis dukungan instrumental terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung. 4. Terdapat kontribusi jenis dukungan informasi terhadap orientasi masa depan bidang pendidikan pada siswa kelas XI SMAN X Bandung.