PROFIL PENGEMBANGAN DAN PENYIAPAN KEWILAYAHAN INVESTASI PELUANG INVESTASI PADA KAWASAN PENGHASIL PRODUK PERTANIAN

dokumen-dokumen yang mirip
KATA PENGANTAR. Demikian Buku KEADAAN TANAMAN PANGAN JAWA TENGAH kami susun dan semoga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

TABEL 2.1. ESTIMASI KETERSEDIAAN PANGAN JAWA TENGAH 2013 ASEM _2012

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015

BAB I PENDAHULUAN. turun, ditambah lagi naiknya harga benih, pupuk, pestisida dan obat-obatan


PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PROVINSI JAWA TENGAH

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

LUAS TANAM, LUAS PANEN DAN PREDIKSI PANEN PADI TAHUN 2016 DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH

SEBARAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN SAWAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI PADI DI PROPINSI JAWA TENGAH

BAB IV GAMBARAN UMUM

TABEL 4.1. TINGKAT KONSUMSI PANGAN NASIONAL BERDASARKAN POLA PANGAN HARAPAN

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I. PENDAHULUAN. tanggal 28 Juni 1975 tentang Pelaksanaan Perbaikan Statistik. Pertanian. tanggal 17 Desember 1984 tentang Keseragaman Metode untuk

PENELITIAN POTENSI DAN KETERSEDIAAN PANGAN DALAM RANGKA KETAHANAN PANGAN DI JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah dipahami. Apabila

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah

GUBERNUR JAWA TENGAH

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 7 TAHUN 2018 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 27 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Beras merupakan komoditi yang penting bagi Indonesia. Hal ini

GUBERNUR JAWA TENGAH

HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP)

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

I. PENDAHULUAN. Tahun Budidaya Laut Tambak Kolam Mina Padi

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2011: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,93 PERSEN

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. sampai ada kesenjangan antar daerah yang disebabkan tidak meratanya

I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.

PERKEMBANGAN UBI JALAR DAN PELUANG PENGEMBANGANNYA UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PERCEPATAN DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN DI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK

BAB 1 PENDAHULUAN. dan Jusuf Kalla, Indonesia mempunyai strategi pembangunan yang

METODOLOGI PENELITIAN

IR. SUGIONO, MP. Lahir : JAKARTA, 13 Oktober 1961

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber-sumber yang ada

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 20 TAHUN 2014 TAHUN 2013 TENTANG

BERITA RESMI STATISTIK

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan

I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian yang banyak menjadi

BAB I PENDAHULUAN. (Khusaini 2006; Hadi 2009). Perubahan sistem ini juga dikenal dengan nama

KEGIATAN PADA BIDANG REHABILITASI SOSIAL TAHUN 2017 DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH

PROVINSI JAWA TENGAH. Data Agregat per K b t /K t

GUBERNUR JAWA TENGAH,

BAB I PENDAHULUAN. yang melibatkan seluruh kegiatan dengan dukungan masyarakat yang. berperan di berbagai sektor yang bertujuan untuk meratakan serta

BAB I PENDAHULUAN. sejahtera, makmur dan berkeadilan. Akan tetapi kondisi geografis dan

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 116 TAHUN 2016 TENTANG

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

BAB I PENDAHULUAN. penduduk Indonesia. Bagi perekonomian Indonesia kacang kedelai memiliki

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor. pembangunan suatu negara (Maharani dan Sri, 2014).

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 561.4/52/2008 TENTANG UPAH MINIMUM PADA 35 (TIGA PULUH LIMA) KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2009

REKAPITULASI PESERTA PAMERAN SOROPADAN AGRO EXPO 2017 TANGGAL JULI 2017

RAPAT KOORDINASI. Pilot Project Reforma Agraria. Kasubdit Pertanahan Rabu, 30 Oktober 2013

POTENSI SUMBERDAYA PAKAN DI WILAYAH PROPINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. yang memenuhi untuk mencapai pertumbuhan angkatan kerja, yang

GUBERNUR JAWA TENGAH

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zat-zat dalam Susu Nilai Kandungan

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. keadilan sejahtera, mandiri maju dan kokoh kekuatan moral dan etikanya.

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

EVALUASI DAERAH PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENARGETAN BERBASIS WILAYAH

Titik Poin Agribisnis Kedelai

PROFIL PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA TENGAH

1.1. UMUM. Statistik BPKH Wilayah XI Jawa-Madura Tahun

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

PENENTUAN TARGET INVESTASI TAHUN MENUJU JATENG LADANG INVESTASI PENGEMBANGAN DAERAH (BAPPEDA) SALATIGA, 19 DESEMBER 2017

KONDISI UMUM PROVINSI JAWA TENGAH

RUANG LINGKUP KERJA DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROVINSI JAWA TENGAH

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. rakyat. Untuk mencapai cita-cita tersebut pemerintah mengupayakan. perekonomian adalah komponen utama demi berlangsungnya sistem

BOKS RINGKASAN EKSEKUTIF PENELITIAN PERILAKU PEMBENTUKAN HARGA PRODUK MANUFAKTUR DI JAWA TENGAH

PRODUKSI PADI, JAGUNG, KEDELAI, UBI KAYU DAN UBI JALAR (TAHUN 2014: ANGKA TETAP, 2015 : ARAM II)

KATA PENGANTAR. Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN. Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

GUBERNURJAWATENGAH PERATURANGUBERNUR JAWA TENGAH TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PROGRAM DAN KEGIATAN SUBID ANALISA AKSES DAN HARGA PANGAN TA BADAN KETAHANAN PANGAN PROV. JATENG

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN

BAB I PENDAHULUAN. World Bank dalam Whisnu, 2004), salah satu sebab terjadinya kemiskinan

Lampiran 1. Data Penelitian No Kabupaten Y X1 X2 X3 1 Kab. Cilacap Kab. Banyumas Kab.

BAB I PENDAHULUAN. 80-an telah berubah, dari paradigma government driven growth ke public

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015

PENEMPATAN TENAGA KERJA. A. Jumlah Pencari Kerja di Prov. Jateng Per Kab./Kota Tahun 2016

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

PROFIL PENGEMBANGAN DAN PENYIAPAN KEWILAYAHAN INVESTASI PELUANG INVESTASI PADA KAWASAN PENGHASIL PRODUK PERTANIAN DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU PROVINSI JAWA TENGAH 2017

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia-nya sehingga Profil Potensi Investasi pada Kawasan Penghasil Produk Pertanian telah dapat tersaji. Profil ini memuat informasi awal dari 8 komoditas pangan utama Jawa Tengah yang terdiri dari: Padi Sawah, Padi Ladang, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar, terkait dengan potensi kapasitas produksi, sebaran kawasan penghasil, dan peluang pengembangan usaha. Peluang usaha dirinci sesuai tahapan, yaitu pada sektor Primer (budidaya/produksi), Skunder (pengolahan), dan sektor Tersier (jasa/distribusi). Informasi dalam profil masih bersifat umum, berbasis komoditi dan kabupaten/kota, yang disajikan dalam 3 bab pokok, yaitu: Pendahuluan, Potensi/Peluang 8 Komoditi, dan Gambaran pengelolaan investasinya. Untuk informasi lebih detail tentang sebaran wilayah, waktu panen serta kualitas hasil, membutuhkan survey mendalam ke lokasi sentra penghasil. Namun demikian, profil ini diharapkan mampu memberikan gambaran terkait peluang investasi, khususnya pada wilayah sentra penghasil produk pertanian. Ucapan terimakasih disampaikan kepada Prof.Dr.Ir Sony... dari UKSW beserta Tim yang telah mendampingi penyusunan profil serta para narasumber yang mengirim data-data terkait. Semarang, November 2017 Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Tengah Dr. PRASETYO ARIBOWO, SH. M.Soc. SC i P a g e

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI...ii DAFTAR GAMBAR... iii PENDAHULUAN... iv PADI SAWAH... 4 PADI LADANG... 10 JAGUNG... 14 KEDELAI... 20 KACANG TANAH... 25 KACANG HIJAU... 29 UBI KAYU... 33 UBI JALAR... 37 GAMBARAN PENGELOLAAN INVESTASI... 41 ii P a g e

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Produksi Komoditas Tanaman Pangan di Jawa Tengah Tahun 2015... 6 Gambar 2. Produksi Padi Sawah di Jawa Tengah... 7 Gambar 3. Persebaran Luas Panen Padi Sawah di Jawa Tengah... 8 Gambar 4. Produksi Padi Ladang di Jawa Tengah... 11 Gambar 5. Persebaran Luas Panen Padi Ladang di Jawa Tengah... 12 Gambar 6. Produksi Jagung di Jawa Tengah... 15 Gambar 7. Persebaran Luas Panen Jagung di Jawa Tengah... 16 Gambar 8. Persebaran Kesesuaian Lahan Pengembangan Jagung di Gorbogan... 18 Gambar 9. Produksi Kedelai di Jawa Tengah... 21 Gambar 10. Persebaran Luas Panen Kedelai di Jawa Tengah... 22 Gambar 11. Persebaran Luas Kesesuaian Lahan Pengembangan Kedelai di Grobogan... 24 Gambar 12. Produksi Kacang Tanah di Jawa Tengah... 26 Gambar 13. Persebaran Luas Panen Kacang Tanah di Jawa Tengah... 27 Gambar 14. Produksi Kacang Hijau di Jawa Tengah... 30 Gambar 15. Persebaran Luas Panen Kacang Hijau di Jawa Tengah... 31 Gambar 16. Produksi Ubi Kayu di Jawa Tengah... 34 Gambar 17. Persebaran Luas Panen Ubi Kayu di Jawa Tengah... 35 Gambar 18. Produksi Ubi Jalar di Jawa Tengah... 38 Gambar 19. Persebaran Luas Panen Ubi Jalar di Jawa Tengah... 39 iii P a g e

A. PENDAHULUAN Potensi suatu wilayah dan/atau lahan ditentukan oleh berbagai komponen ekosistem yang saling berinteraksi, baik komponen biotik maupun komponen fisik. Kondisi Sumber Daya Alam diperlukan sebagai dasar untuk menetapkan komoditas unggulan suatu wilayah. Suatu komoditas memiliki persyaratan hidup tertentu agar dapat tumbuh kembang dengan baik dan berproduksi tinggi. Faktor alam, yaitu kesesuaian biofisik seringkali merupakan faktor yang sangat menonjol dalam membangun keunggulan komparatif, sehingga dapat menjadikan suatu daerah menonjol dan bahkan memonopoli suatu komoditas/produk tertentu. Sedangkan keunggulan kompetitif merupakan hasil interkasi antara keunggulan komparatif dan distorsi pasar. Pada kondisi perekonomian yang tidak mengalami distorsi sama sekali, maka keunggulan kompetitif adalah juga merupakan keunggulan komparatif. Pada lingkup nasional, kriteria komoditas unggulan diarahkan untuk ketahanan pangan dan merubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Komoditas unggulan nasional diharapkan memenuhi beberapa kriteria yang serupa kriteria yang telah diuraikan sebelumnya, antara lain sebagai berikut: (1) Mempunyai tingkat kesesuaian agroekologi yang tinggi, (2) Mempunyai pasar yang jelas, (3) Mempunyaikemampuan yang tinggi dalam menciptakan nilai tambah, (4) mempunyai kemampuan dalam meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, terutama yang berpendapatan rendah, (5) mempunyai dukungan kebijakan peemrintah dalam bidang-bidang teknologi, prasarana/sarana, kelembagaan, permodalan, dan infrastuktur lain dalam arti luas, (6) merupakan komoditas yang telah diusahakan oleh masyarakat setempat, (7) mempunyai kelayakan untuk diusahakan baik secara finansial maupun ekonomi. Sesuai dengan kebijakan Departemen Pertanian, komoditas unggulan yang seyogyanya dipilih dan ditetapkan oleh Kabupaten/Kota adalah komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi untuk kepentingan nasional. Dalam Dokumen Rencana Pembangunan Pertanian Tahun 2005 2009 telah ditetapkan 32 (tiga puluh dua) komoditas unggulan dimana 5 komoditas tanaman pangan yaitu padi, jagung, kedelai, kacang tanah, dan ubi kayu. Kebijakan penanaman modal bidang pangan difokuskan pada: 1. swasembada beras berkelanjutan 2. mengurangi ketergantungan impor dan swasembada kedelai 3. swasembada gula berkelanjutan 4. mengembangkan kluster pertanian dalam arti luas 5. mengubah produk primer menjadi produk olahan untuk ekspor iv P a g e

Adapun peluang investasi bidang pangan di Jawa Tengah diarahkan untuk: 1. Jawa Tengah berpotensi menjadi pusat industri pangan nasional karena potensinya melimpah 2. Pengolahan pangan skala industri pada kawasan industri maupun peruntukan industri pada wilayah sentra penghasil pertanian pangan 3. Penyediaan buffer stock pangan, pada kawasan industri/pergudangan maupun non kawasan Kawasan prioritas penghasil produk/komoditas sebagai berikut: 1. PADI SAWAH Cilacap, Grobogan, Pati, Brebes, Demak 2. PADI LADANG Wonogiri, Blora, Cilacap, Kebumen, Rembang 3. JAGUNG Grobogan, Wonogiri, Blora 4. KEDELAI Grobogan, Wonogiri, Blora, Kebumen 5. KACANG TANAH Wonogiri 6. KACANG HIJAU Demak, Grobogan, Kebumen, Pati 7. UBI KAYU Wonogiri, Pati, Jepara, Banjarnegara, Rembang 8. UBI JALAR Kab.Semarang, Kab. Magelang, Karanganyar, Wonosobo, Batang v P a g e

KLASTER KAWASAN PANGAN DI PULAU JAWA Klaster Kawasan Pangan di Jawa Tengah berada secara administratif berada di sekitar Kabupaten Brebes-Tegal, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Grobogan Ket : : Jalur Kereta Api : Cluster Kawasan Pangan 1 P a g e

POTENSI INVESTASI BIDANG PANGAN DI JAWA TENGAH BERGASMALANG - Pertanian - Perikanan - Agro Indutri PETANGLONG - Pertanian - Perikanan KEDUNGSAPUR : - Pertanian - Agro Industri Kab. Jepara WANARAKUTI : - Pertanian - Perikanan JAWA BARAT Kab. Cilacap Kab. Brebes Kota. Tegal Kab. Tegal Kab. Banyumas Kab.Pemalang Kab. Purbalingga Kab. Pekalongan Kab. Kebumen Kota Pekalongan Kab. Banjarnegara Kab. Batang Kab. Wonosobo Kab. Purworejo Kab. Kendal Kab. Temanggung Kota Magelang Kab. Magelang Kota Semarang 2 Kab. Jepara Kab. Demak Kab. Semarang Kab. Kudus Kab Boyolali Kota. Salatiga Kab. Pati Kab.Grobongan Kab. Sragen Kota Surakarta Kab. Karanganyar Kab.Klaten Kab. Sukoharjo Kab. Rembang Kab. Blora BANGLOR : - Pertanian JAWA TIMUR - Perikanan YOGYAKARTA Kab. Wonogiri BARLINGMASCAKEB : - Pertanian - Perikanan PURWOMANGGUNG : - Pertanian - Perikanan SUBOSUKOWONOSRATEN : - Pertanian 2 P a g e

PENDEKATAN PELUANG INVESTASI BIDANG PANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN PENUNJANG PANGAN PANGAN 3 P a g e

B. PROFIL POTENSI DAN PELUANG KOMODITAS 4 P a g e

1. PADI SAWAH 5 P a g e

Padi sawah merupakan salah satu komoditas yang menyumbang nilai luas panen dan produksi terbesar di Jawa Tengah, oleh karena itu Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi penyangga pangan nasional. Proporsi produksi padi sawah di Jawa Tengah merupakan yang terbesar yakni mencapai 59 persen (lihat gambar 1), hal ini dikarenakan Jawa Tengah memiliki kondisi lahan, irigasi dan iklim yang sangat sesuai untuk pertanian tanaman pangan padi sawah. Pada tahun 2015 total luas panen padi sawah di Jawa Tengah mencapai 1.804.556 ha, dengan tingkat produktivitas rata-rata padi sawah pada tahun 2015 mencapai 60,99 ku/ha. Produksi padi sawah pada tahun 2015 mencapai 11.006.570 ton jumlah ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 9.294.475 ton. Gambar 1. Produksi Komoditas Tanaman Pangan di Jawa Tengah Tahun 2015 0% Produksi 2015 (Ton) 1% 1% 0% 0% 0% PADI SAWAH 2% 1% 0% 17% 19% 59% UBI KAYU JAGUNG PADI LADANG UBI JALAR KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU GANYONG TALAS SORGUM/CANTEL GANDUM Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 6 P a g e

Produksi Padi Sawah (Ton) Produksi padi sawah di Jawa Tengah selama tahun 1998-2015 secara kumulatif mengalami tren yang positif, meski tak dapat dipungkir pada tahun-tahun tertentu terdapat penurunan produksi seperti yang dapat dilihat pada gambar 2. Pencapaian produksi padi sawah terbesar dari tahun 1998 adalah pada tahun 2015 dimana produksi padi sawah mencapai 11.006.570 ton, jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 1.712.095 ton atau sebesar 18,42 persen dari tahun 2014. 12,000,000 Gambar 2. Produksi Padi Sawah di Jawa Tengah 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 Hampir seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah memiliki hasil panen padi sawah. Persebaran luasan panen padi sawah di Jawa Tengah seperti yang terlihat pada gambar 3, yang memiliki luas panen tertinggi adalah Kabupaten Cilacap seluas 132.742 ha kemudian disusul oleh Kabupaten Grobogan, Pati dan Brebes sedangkan yang memiliki luas panen terkecil adalah Kota Surakarta yakni seluas 195 Ha pada tahun 2015. 7 P a g e

Luas Panen Padi sawah (Ha) Gambar 3. Persebaran Luas Panen Padi Sawah di Jawa Tengah 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 8 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI PADI SAWAH Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya Padi Intensifikasi Sektor Sekunder Industri Tepung Beras Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Industri Mesin penggilingan padi Industri pengolahan mesin kompos Industri Mesin Traktor Sawah Sektor Tersier Rice Mill Pergudangan : Bulog Swasta Jasa Resi Gudang 9 P a g e

2. PADI LADANG 10 P a g e

Produksi Padi Ladang (Ton) Luas tanam padi ladang di Jawa Tengah tidak seluas luas tanam padi sawah. Luasan tanam padi ladang sangat berkaitan dengan banyak atau tidaknya sumber air maupun irigasi pada suatu daerah, karena semakin sedikit sumber air atau irigasi maka semakin tinggi pula luasan tanam padi ladang pada daerah tersebut. Padi ladang pada tahun 2015 menyumbang 0,99 % dari produksi tanaman pangan di Jawa Tengah. Luas panen padi ladang di Jawa Tengah pada tahun 2015 sebesar 71.237 Ha, dengan produktivitas sebesar 41,39 Ku/ha dan produksi sebesar 294.852. Seperti yang terlihat pada gambar 4 produksi padi ladang selama tahun 1998-2015 mengalami tren yang positif, dimana puncak produksi padi ladang tertinggi adalah pada tahun 2014. Penanaman padi ladang pada tahun 2015 cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan kondisi curah hujan pada tahun 2015 rendah, penanaman padi ladang di Jawa Tengah sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan curah hujan. Gambar 4. Produksi Padi Ladang di Jawa Tengah 400,000 350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 11 P a g e

Luas Panen Padi ladang (Ha) Tidak semua kabupaten kota di Jawa Tengah menanam padi ladang, padi ladang hanya dapat di temui di beberapa Kabupaten Kota seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5. Kabupaten Wonogiri, Blora dan Cilacap merupakan Kabupaten dengan luas tanam padi ladang terbesar di Jawa Tengah pada tahun 2015, sedangkan kabupaten Magelang, Sukoharjo, Temanggung, Batang, Kota Magelang, Kota Salatiga dan Kota Tegal merupakan wilayah di Jawa Tengah yang tidak terdapat tanaman padi ladang. Gambar 5. Persebaran Luas Panen Padi Ladang di Jawa Tengah 18,000 16,000 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 12 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI PADI LADANG Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya Padi Intensifikasi Sektor Sekunder Industri Tepung Beras Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Industri Mesin penggilingan padi Industri pengolahan mesin kompos Sektor Tersier Rice Mill Pergudangan : Bulog Swasta Jasa Resi Gudang 13 P a g e

3. JAGUNG 14 P a g e

Produksi Jagung (ton) Jagung merupakan tanaman pangan yang dapat tumbuh baik di lahan sawah maupun lahan non sawah. Jagung menempati urutan ke tiga sebagai penyumbang produksi tanaman pangan di Jawa Tengah pada tahun 2015 degan presentase sebesar 10,75%. Luas panen jagung pada tahun 2015 sebesar 542.804 ha, jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Produktivitas jagung rata-rata adalah 59,18 Ku/ha, dimana produksi jagung pada tahun 2015 sebesar 3.212.391 Ton. Produksi jagung dari tahun 1998-2015 cenderung mengalami peningkatan (lihat table 6). Produksi jagung yang kian mengalami peningkatan ini selain karena tingginya minat petani menanam jagung, adalah karena penggunaan benih jagung hibrida yang semakin meningkat serta adanya program pengembangan jagung yang cukup luas terutama pengembangan di lahan hutan. Tentunya hal ini juga di imbangi dengan semakin tingginya permintaan jagung sebagai bahan baku industri. Gambar 6. Produksi Jagung di Jawa Tengah 3,500,000 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 15 P a g e

Luas Panen jagung (Ha) Jagung merupakan tanaman yang dalam proses tanamnya tidak membutuhkan banyak air, berbeda dengan padi. Oleh karena itu jagung dapat dengan mudah ditemui di semua Kabupaten/Kota di Jawa Tengah selain di Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Pekalongan dan Kota Tegal seperti yang terlihat pada gambar 7. Kabupaten dengan luasan panen jagung terbesar pada 2015 adalah Kabupaten Grobogan, Wonogiri dan Blora, sedangkan yang memiliki luasan terkecil adalah kota Semarang dan Kota Salatiga. Gambar 7. Persebaran Luas Panen Jagung di Jawa Tengah 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 16 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI JAGUNG Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya jagung Intensifikasi Sektor Sekunder Industri Tepung Jagung Industri Makanan Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Industri Mesin Pemipil jagung Industri pakan ternak Sektor Tersier Pergudangan : Bulog Swasta Jasa Resi Gudang Sub terminal agro 17 P a g e

Peta Rekomendasi Intensifikasi Tanaman jagung di Kabupaten Grobogan dengan klasifikasi sangat sesuai dan sesuai seluas 93.062,18 ha atau 45,91% dari total luas lahan yang direkomendasikan. Gambar 8. Persebaran Kesesuaian Lahan Pengembangan Jagung di Gorbogan Sumber : Laporan Mapping Potensi Investasi Kabupaten Grobogan Tahun 2016, Kerjasama DPMPTSP Kabupaten Grobogan dengan CEMSED FEB UKSW 18 P a g e

Gambaran Potensi Investasi Tanaman Jangung di Kabupaten Grobogan Supporting activity yang memungkinkan untuk berinvestasi di Kabupaten Grobogan adalah : Industri Peralatan pertanian, Industri Bibit, Industri Obat-obatan dan Industri pupuk baik organik maupun anorganik. Bidang jasa adalah jasa pengangkutan dan pergudangan. Usaha yang dapat berinvestasi di Kabupaten Grobogan dengan memanfaatkan jagung adalah : Industri makanan, industri pakan ternak, industri pupuk, industri kertas, industri bahan bakar dan industri rokok. 19 P a g e

4. KEDELAI 20 P a g e

Produksi Kedelai (ton) Kedelai merupakan komoditas yang tergolong tidak mudah untuk dibudidayakan di Jawa Tengah, namun pengembangan varietas kedelai lokal yang sesuai dengan iklim dan kondisi alam lokal Indonesia kini sudah makin berkembang. Proporsi Kedelai dalam produksi tanaman pangan di Jawa Tengah berkisar 0.43 % dari total produksi tanaman pangan di Jawa Tengah. Pada tahun 2015 luas panen kedelai di Jawa tengah mencapai 70.629 Ha, dengan rata-rata produktivitas mencapai 18,38 ha. Produksi kedelai tahun 2015 sebesar 129.794 ton, jumlah ini mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2014. Produksi kedelai selama tahun 1998-2015 setiap tahunya sangat fluktuatif dan cenderung mengalami tren yang menurun (lihat gambar 8), hal ini dikarenakan pola atau minat tanam petani yang berbeda setiap tahunya. Pola atau minat tanam petani sangat dipengaruhi oleh harga kedelai dan harga komoditas lain. Untuk meningkatkan produksi kedelai, pemerintah telah mengupayakan mengembangkan kedelai dengan menggunakan benih yang unggul dan sarana seperti pupuk yang memadai. Gambar 9. Produksi Kedelai di Jawa Tengah 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 21 P a g e

Luas Panen Kedelai (Ha) Kabupaten Grobogan merupakan penghasil kedelai terbesar di Jawa Tengah dimana hampir 25 persen luasan panen kedelai di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten ini, di susul Kabupaten Wonogiri, Blora dan Kebumen. Selain memiliki kondisi alam dan iklim yang sesuai untuk penanaman kedelai Kabupaten Grobogan memiliki varietas kedelai lokal unggul yang diberi nama varietas Grobogan. Tidak semua kabupaten kota di Jawa Tengah menaman kedelai seperti yang terlihat pada gambar 9, namun dengan semakin berkembangnya program-program pemerintah memungkinkan pengembangan kedelai di Kabupaten/Kota lain di Jawa Tengah. Gambar 10. Persebaran Luas Panen Kedelai di Jawa Tengah 20,000 18,000 16,000 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 22 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI KEDELAI Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya kedelai Intensifikasi Sektor Sekunder Industri makanan olahan : Tempe, Keripik Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Industri pakan ternak dari ampas kedelai Sektor Tersier Pergudangan Jasa Resi Gudang Sub Terminal Agro 23 P a g e

Peta Rekomendasi Intensifikasi tanaman kedelai di Kabupaten Grobogan dengan klasifikasi sesuai seluas 71.128,16 ha atau 35,01% dari total luas lahan yang direkomendasikan. Gambar 11. Persebaran Luas Kesesuaian Lahan Pengembangan Kedelai di Grobogan Sumber : Laporan Mapping Potensi Investasi Kabupaten Grobogan Tahun 2016, Kerjasama DPMPTSP Kabupaten Grobogan dengan CEMSED FEB UKSW 24 P a g e

5. KACANG TANAH 25 P a g e

Produksi Kacang tanah (Ton) Kacang tanah menyumbang 0,37 persen dari produksi tanaman pangan di Jawa Tengah. Kacang tanah lebih banyak digunakan untuk bahan baku industri pengolahan makanan. Kacang tanah diperuntukan sebagai tanaman sela yang di tanaman setelah penanaman padi ketika musim kemarau, hal ini dikarenakan kacang tanah membutuhkan banyak sinar matahari untuk pembuahan. Pada tahun 2015 produksi kacang tanah mencapai 109.204 Ton dimana produktivitas rata-rata kacang tanah mencapai 13,42. Produksi kacang tanah pada tahun 2015 merupakan produksi kacang tanah terendah selama tahun 1998-2015. Penurunan produksi kacang tanah seperti yang terlihat pada gambar 10 dipengaruhi oleh menurunnya luas panen kacang tanah. Pada tahun 2015 luas panen kacang tanah mencapai 81.395 Ha sedangkan pada tahun 2014 luas panen adalah 91.862 Ha. Selain penurunan luas panen kacang tanah, adanya program pengembangan padi, jagung dan kedelai yang semakin meningkat membuat penanaman kacang tanah sebagai tanaman sela menjadi terhambat. Gambar 12. Produksi Kacang Tanah di Jawa Tengah 00,000 180,000 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 26 P a g e

Luas Panen Kacang Tanah Persebaran komoditas kacang tanah cukup merata sehingga memungkinan menemukan kacang tanah di Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, meskipun dengan produksi yang relative kecil. Luas panen tanaman kacang tanah di Jawa Tengah paling banyak ditemukan di Kabupaten Wonogiri, disusul Kabupaten Sragen dan Jepara. Luas panen kacang tanah di Kabupaten Wonogiri mencapai 41,28 % dari total luas panen kacang tanah di Jawa Tengah. Kabupaten yang memiliki luas panen kacang tanah terkecil adalah Kota Semarang, Kabupaten Demak dan Kota Surakarta. Gambar 13. Persebaran Luas Panen Kacang Tanah di Jawa Tengah 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 27 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI KACANG TANAH Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya jagung Intensifikasi Sektor Sekunder Industri pengolahan kacang : Pabrikan, RT Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Industri Pakan Ternak : limbah hasil olahan Sektor Tersier Pergudangan Jasa Resi Gudang Kuliner Sub Terminal Agro 28 P a g e

6. KACANG HIJAU 29 P a g e

Produksi Kacang Hijau (Ton) Kacang hijau merupakan tanaman pangan yang permintaanya cukup tinggi baik untuk industri makanan maupun rumah tangga, oleh karena itu tak sedikit petani yang kini beralih menanam kacang hijau. Selain karena permintaan yang tinggi proses perawatan dan harga kacang hijau yang menjanjikan semakin menarik minat tanam petani. Luas panen kacang hijau pada tahun 2015 sebesar 82.186 ha, jumlah ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2014 yang hanya sebesar 80.221 ha. Produktivitas rata-rata kacang hijau mencapai 12,04 ku/ha, produksi kacang hujau pada tahun 2015 mencapai 98.992 Ton. Produksi kacang hijau dari tahun 1998-2015 yang tersaji pada gambar 12 cenderung mengalami peningkatan, produksi kacang hijau tertinggi terjadi pada tahun 2011. Fluktuasi kenaikan dan penurunan yang cukup signifikan yang terjadi mulai tahun 2011 diakibatkan karena penanaman kacang hijau yang sangat tergantung dengan kondisi pasar. Saat harga kacang hijau tinggi petani akan beralih menanam kacang hijau, namun bila sebaliknya petani lebih memilih menaman komoditas lain seperti kedelai. Gambar 14. Produksi Kacang Hijau di Jawa Tengah 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 30 P a g e

Luas Panen Kacang Hijau (Ha) Hampir seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah dapat ditanami kacang hijau, namun meski demikian penanaman kacang hijau di Jawa Tengah belum merata hanya ada di beberapa Kabupaten/Kota saja yang menaman kacang hijau seperti yang tersaji dalam gambar 13. Kacang hijau paling banyak ditanam di Kabupaten Demak, diikuti oleh Kabupaten Grobogan dan Kebumen. Sedangkan daerah dengan luas panen terkecil adalah Kabupaten Karanganyar, Wonosobo dan Batang. Gambar 15. Persebaran Luas Panen Kacang Hijau di Jawa Tengah 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 31 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI KACANG HIJAU Sektor Primer Peternakan : Penyedia Pupuk Organik Budidaya kacang hijau Intensifikasi Industri Pengolahan makanan Sektor Sekunder Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Pergudangan : Bulog Swasta Sektor Tersier Kuliner 32 P a g e

7. UBI KAYU 33 P a g e

Produksi Ubi Kayu (Ton) Ubi Kayu merupakan tanaman yang sangat mudah ditanam pada hampir seluruh wilayah di Jawa Tengah. Luas panen ubi kayu pada tahun 2015 seluas 150.874 Ha, dengan tingkat produktivitas rata-rata 236,73 ku/ha. Produksi ubi kayu pada tahun 2015 sebesar 3.571.593 ton, produksi ubi kayu mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 3.977.810 ton. Produksi ubi kayu dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang meningkat, walaupun pada tahun 2015 ini produksi ubi kayu menurun bila dibandingkan dengan tahun 2014. Luas panen ubi kayu setiap tahun cenderung turun, tentunya hal ini akan berdampak pada produksi ubi kayu. Oleh karena itu perlu dilakukan budidaya yang lebih intensif guna meningkatkan produksi ubi kayu. Gambar 16. Produksi Ubi Kayu di Jawa Tengah 4,500,000 4,000,000 3,500,000 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 34 P a g e

Luas Panen Ubi Kayu (Ha) Hampir di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah menanam ubi kayu kecuali Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Kabupaten Wonogiri merupakan wilayah dengan luas panen ubi kayu terbesar di Jawa Tengah, dengan luas panen 35,02 persen dari luasan ubi kayu di Jawa Tengah. Kondisi lahan dan iklim di Wonogiri menjadi salah satu penyebab tingginya luas panen ubi kayu di Wonogiri, berbeda dengan Kabupaten Pati dimana salah satu faktor tingginya luas panen ubi kayu dikarenakan permintaan ubi kayu yang tinggi dari industri tepung tapioka. Gambar 17. Persebaran Luas Panen Ubi Kayu di Jawa Tengah 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 35 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI UBI KAYU Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya Singkong Intensifikasi Sektor Sekunder Industri Pengolahan Makanan : Keripik, Frozen, Singkong Keju & variannya Industri Tapioka, Mocaf Industri Pengolahan makan berbahan baku tapioka, mocav Industri Benih Industri Pupuk dan Obat Organik Sektor Tersier Pergudangan Jasa Resi Gudang Pusat Kuliner bahan Singkong : Kampung Telo Pengiriman 36 P a g e

8. UBI JALAR 37 P a g e

Produksi Ubi Jalar(Ton) Seperti ubi kayu ubi jalar merupakan tanaman yang mudah di tanam. Ubi jalar umunya ditanam bukan untuk kepentingan komersial, hanya ada beberapa daerah yang petaninya menanam ubi jalar untuk kepentingan komersial seperti Kabupaten Batang. Pada tahun 2015 luas panen ubi jalar di Jawa Tengah seluas 7.076 Ha, dengan produktivitas rata-rata mencapai 213,84 ku/ha. Produksi ubi jalar pada tahun 2015 mencapai 151.312 ton, mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2014 dengan produksi 179.394 ton. Penurunan produksi ubi jalar dikarenakan luas lahan yang menurun. Produksi ubi jalar dari tahun 1998-2015 seperti yang terlihat pada gambar 16 menunjukkan tren yang fluktuatif. Kenaikan produksi ubi jalar mulai terjadi pada tahun 2010 sampai dengan 2013, setelah itu produksi ubi jalar cenderung mengalami penurunan, salah satu faktor penyebabnya adalah karena rendahnya permintaan ubi jalar oleh karena itu petani lebih memilih menanam komoditas lain yang memiliki permintaan lebih tinggi. Gambar 18. Produksi Ubi Jalar di Jawa Tengah 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 38 P a g e

Luas Panen Ubi Jalar (Ha) Ubi jalar dapat mudah ditemukan pada hampir seluruh wilayah di Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Pada tahun 2014 Kabupaten yang memiliki luas panen ubi jalar terbesar adalah Kabupaten Batang karena pada saat itu permintaan ubi jalar untuk diekspor tinggi. Namun karena permintaan ubi jalar untuk di eskpor berkurang maka pada tahun 2015 daerah dengan luas panen ubi jalar terbesar tidak ditempati lagi oleh Batang namun Kabupaten Semarang, Magelang dan Karanganyar. Gambar 19. Persebaran Luas Panen Ubi Jalar di Jawa Tengah 1,200 1,000 800 600 400 200 0 Sumber : Statistik Tanaman Pangan Tahun 2015 39 P a g e

POTENSI PENGEMBANGAN INVESTASI UBI JALAR Sektor Primer Peternakan : Support Pupuk Organik Budidaya ubi Intensifikasi Industri Pengolahan makanan : Ice Cream, Cake, Keripik, Snack, dll Sektor Sekunder Industri bibit Industri Pupuk dan Obat Organik Sektor Tersier Pergudangan Pusat Kuliner : Kampung Telo 40 P a g e

1. Resi Gudang C. GAMBARAN PENGELOLAAN INVESTASI 41 P a g e

2. Gambaran Investasi Industri Pengolahan Makanan 42 P a g e

Repoeblik Telo merupakan salah satu pusat penyedia oleh-oleh kuliner khas Malang. Sentra makanan ternama di Malang Utara ini menyediakan aneka ragam kuliner yang terbuat dari bahan dasar telo 43 P a g e