BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. pemilik (principals) dengan pihak lain, yaitu manajer (agent). Dalam kontrak,

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan agent untuk memberikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. variabel kompetensi, independensi, dan profesionalisme memiliki pengaruh

PENGARUH DUE PROFESSIONAL CARE, AKUNTABILITAS, DAN TIME BUDGET PRESSURE TERHADAP KUALITAS AUDIT

BAB 1 PENDAHULUAN. Audit dalam bentuk umum yaitu pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Teori Keagenan (Agency Theory) menjelaskan adanya konflik antara manajer

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Audit merupakan suatu proses untuk mengurangi ketidakselarasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini merupakan tinjauan atas berbagai referensi, literatur, jurnal-jurnal

BAB I PENDAHULUAN. Pengauditan merupakan bagian dari assurance service dari kantor akuntan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan muncul ketika

BAB I PENDAHULUAN. atas kinerja perusahaan melalui pemeriksaan laporan keuangan. Laporan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. hubungan antara agent dengan principal. Hubungan teori keagenan mucul

BAB I PENDAHULUAN. pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Menurut FASB, dua

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998)

BAB 1 PENDAHULUAN. informasi yang terdapat antara manajer dan pemegang saham, sehingga

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan dunia bisnis yang semakin pesat memunculkan adanya

BAB I PENDAHULUAN. dunia usaha yang semakin kompetitif (Nirmala dan Cahyonowati, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. pemeriksaan dan mencari informasi tentang kehandalan laporan keuangan

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian audit menurut Mulyadi (2011:9) adalah suatu proses sistematik

BAB 1 PENDAHULUAN. mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kualitas audit yang dihasilkan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. pihak yaitu pemilik (principal), dengan pihak lain yaitu manajer (agent). Dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan

BAB I PENDAHULUAN. Laporan keuangan memberikan gambaran dan informasi posisi keuangan

STANDAR AUDITING. SA Seksi 200 : Standar Umum. SA Seksi 300 : Standar Pekerjaan Lapangan. SA Seksi 400 : Standar Pelaporan Pertama, Kedua, & Ketiga

BAB I PENDAHULUAN. bebas dan tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesi akuntan publik adalah profesi yang bertanggung jawab

BAB I PENDAHULUAN. kepentingan masing-masing. Pengertian laporan keuangan menurut Pernyataan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Profesi akuntan publik merupakan salah satu profesi yang bergantung kepada

BAB 1 PENDAHULUAN. sedangkan pengauditan biasanya tidak menghasilkan data akuntansi, melainkan

BAB I PENDAHULUAN. mengatur tentang tanggung jawab profesi, kompetensi dan kehati-hatian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Audit merupakan suatu proses untuk mengurangi ketidakselarasan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang masalah. untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan. Selain digunakan oleh

BAB II KAJIAN TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB 5 PENUTUP. diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN. informasi itu dan kriteria yang telah ditetapkan. Auditor hars memiliki

BAB I PENDAHULUAN. untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi dan

BAB 1 PENDAHULUAN. suatu entitas usaha berdasarkan standar yang telah ditentukan.

BAB 1 PENDAHULUAN. akan dapat bertahan dalam proses seleksi alam ini. non keuangan, bagi para stockholder (pemegang saham) dan stakeholder

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. dalam bentuk variabel-variabel yang diteliti di bawah ini:

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan dalam setiap sektor, salah satunya dalam hal pelaporan

BAB I PENDAHULUAN. profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik, masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Bab pertama dari skripsi adalah pendahuluan yang mencakup gambaran

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Pengertian audit menurut Arens et al (2008 : 4) adalah sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN. diperdagangakan di bursa saham, mayoritas perusahaan besar lainnya, serta

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. berdasarkan standar auditing yang berlaku umum. Berdasarkan definisi

BAB I PENDAHULUAN. sebagai sarana pengambilan keputusan baik oleh pihak internal maupun pihak

BAB I PENDAHULUAN. laporan keuangan yang belum atau tidak diaudit. keuangan yang terjadi akhir-akhir ini. Singgih dan Bawono (2010) menyebutkan

BAB I PENDAHULUAN. maupun eksternal perusahaan. Menurut Financial Accounting Standards

BAB I PENDAHULUAN. dihasilkan juga akan berkualitas tinggi. etik profesi. Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) guna

BAB I PENDAHULUAN. laporan keuangan adalah relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable).

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan merupakan organisasi formal yang beroperasi dengan menjual atau

BAB 1 PENDAHULUAN. yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan (Mulyadi

BAB I PENDAHULUAN. akuntan publik kewajarannya lebih dapat dipercaya dibandingkan laporan keuangan yang tidak

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah k ti e g n e m r a d e k es na k u b M, O ZC LI

BAB I PENDAHULUAN. dipertanggungjawabkan kepada pihak luar, dimana pihak luarpun memerlukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkatnya permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan akuntan. (Arens dan Loebbecke, 1996:4). keputusan. Para pemakai laporan keuangan selalu memeriksa dan mencari

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat terutama dalam bidang audit terhadap laporan keuangan yang dibuat

BAB I PENDAHULUAN. eksternal perusahaan. (Singgih dan Bawono 2010). sulit untuk diukur, sehingga para pemakai informasi membutuhkan jasa pihak

BAB I PENDAHULUAN. keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kewajarannya lebih dapat

: Tabel Distribusi Kuesioner pada KAP di Jakarta dan Tangerang

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan audit yang dapat diandalkan (Kurnia, dkk, 2014). Profesi

BAB 1 PENDAHULUAN. dilakukan dalam hal pelaporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan haruslah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. perwujudan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Melalui

BAB I PENDAHULUAN. Akuntansi memiliki dua fungsi dasar yang saling melengkapi, yaitu : untuk

BAB I PENDAHULUAN. suatu Negara maka persaingan pasar tidak dapat dihindari dan akan semakin

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. harus memegang prinsip-prinsip profesi. Menurut Simamora (2002) ada 8 prinsip. dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

BAB I PENDAHULUAN. Wiratama dan Budiartha (2015), laporan keuangan memiliki dua. karakteristik penting yaitu relevan dan dapat diandalkan, sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Kasus audit yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat. kepercayaan masyarakat terhadap kualitas audit menurun.

BAB I PENDAHULUAN. kompetensi dari pihak yang melakukan audit (Weningtyas et al., 2006).

BAB I PENDAHULUAN. secara wajar sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Prinsip. Akuntansi Berterima Umum (PABU).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Audit merupakan pengumpulan dan evaluasi bukti tentang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan yang semakin berkembang saat ini, tidak hanya membutuhkan modal

BAB II LANDASAN TEORI. mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal), namun di sisi lain

BAB I PENDAHULUAN. keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Diharapkan semakin banyaknya

BAB I PENDAHULUAN. mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian yang dilakukan Lauw, et. al (2012) dengan judul Pengaruh

BAB I PENDAHULUAN. memastikan kelayakan informasi akuntansi perusahaan, pengelola perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Dengan terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. laporan keuangan adalah relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable). Kedua

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kantor akuntan publik (KAP) dari waktu ke waktu semakin

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Kasus yang menimpa beberapa Kantor Akuntan Publik seperti kasus Enron, telah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. manajemen selaku agen dengan pemilik selaku principal. Jensen dan Meckling

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengalaman pemeriksa serta kualitas hasil penelitian. pendidikan dan jenjang pendidikan. Sumber daya manusia merupakan pilar

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KUALITAS AUDIT, AKUNTABILITAS DAN PENGETAHUAN. dan standar pengendalian mutu.

BAB I PENDAHULUAN. usaha yang terjadi. Selain mempertahankan didunia usaha, perusahaan dapat

BAB II LANDASAN TEORITIS

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) Adanya hubungan keagenan, ketika terjadi kontrak antara satu pihak, yaitu pemilik (principals) dengan pihak lain, yaitu manajer (agent). Dalam kontrak, manajer terikat untuk memberikan jasa bagi pemilik. Pada intinya menjelaskan hubungan kontraktual antara pemilik dan manajer. Hubungan kontraktual ini terjadi ketika ada pemisahan fungsi pengelolaan dan kepemilikan perusahaan, yaitu pemilik mendelegasikan sebagian otoritas pengambilan keputusan kepada manajer. Hal ini pemilik ingin mengetahui segala informasi termasuk aktivitas terkait dengan investasi yang dilakukan dengan meminta laporan pertanggungjawaban pada manajer. Berdasarkan laporan tersebut, pemilik dapat menilai kinerja manajer (Nirmala, 2013:29). Di samping itu, adanya pemisahan fungsi pengelolaan dan kepemilikan perusahaan, meskipun terdapat kontrak antara manajer (agent) dengan pemilik (principals), dapat memicu munculnya asimetri informasi (information asymmetry), yaitu manajer memiliki informasi lebih banyak perihal kondisi perusahaan dibanding pemilik. Asimetri informasi yang terjadi karena manajer tidak bersedia memberikan informasi yang dimilikinya kepada pemilik. Oleh karena itu, asimetri informasi dapat merugikan pemilik. Sebab, pemilik tidak mampu mengetahui keadaan perusahaan secara utuh dan 26

27 pemilik menjadi kurang percaya pada manajer atas laporan pertanggung jawaban yang dibuat oleh manajer berupa laporan keuangan (Messier et.al., 2014:9). Kemungkinan manajer tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan pemilik, sehingga dapat memicu terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest). Jadi, untuk dapat mengurangi konflik kepentingan, pihak manajer harus mempertanggung jawabkan atas kepercayaan yang diberikan oleh pemilik berupa laporan keuangan auditan. Auditor mengemban tugas dan tanggung jawab dari manajer (agent) untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan yang dikelolanya. Agency theory membantu auditor sebagai pihak ketiga untuk memahami adanya konflik kepentingan yang muncul antara manajer dan pemilik. Pemilik selaku investor bekerja sama dan menjalin kontrak kerja dengan manajer perusahaan. Diharapkan dengan adanya auditor independen, tidak ada kecurangan dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajer, tetapi juga dapat mengevaluasi kinerja manajer sehingga informasi yang dihasilkan relevan dan dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan investasi. 2.1.2 Kualitas Audit Audit merupakan suatu proses yang sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta dalam penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang

28 berkepentingan. Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, audit adalah pemeriksaan (examination) secara obyektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut (Mulyadi, 2009:11). Audit bukan hanya merupakan proses review terhadap laporan keuangan, namun juga mengenai pengkomunikasian yang tepat terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Hal itu digunakan sebagai dasar pengukuran kualitas audit. Oleh sebab itu, kualitas audit adalah hal yang harus dipertahankan oleh seorang auditor dalam proses pengauditan. Akuntan publik atau auditor independen dalam menjalankan tugasnya harus memegang prinsip-prinsip profesi. Menurut Arens et al. (2011:71) ada lima prinsip yang harus diterapkan auditor adalah sebagai berikut : 1. Integritas adalah para auditor harus terus terang dan jujur serta melakukan praktik secara adil dan sebenar-benarnya dalam hubungan profesional mereka. 2. Objektivitas adalah para auditor harus tidak kompromi dalam memberikan pertimbangan profesionalnya karena adanya bias, konflik kepentingan atau karena adanya pengaruh dari orang lain yang tidak semestinya. 3. Kompetensi profesional dan kecermatan adalah auditor harus menjaga pengetahuan dan keterampilan profesional mereka dalam tingkat yang cukup tinggi dan tekun dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka ketika memberikan jasa profesional.

29 4. Kerahasiaan adalah para auditor harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh selama tugas profesional maupun hubungan dengan klien. Para auditor tidak boleh menggunakan informasi yang bersifat rahasia dari hubungan profesional mereka, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan pihak lain tanpa seizin klien mereka. Kecuali jika ada kewajiban hukum yang mengharuskan mereka mengungkapkan informasi tersebut. 5. Perilaku profesional adalah para auditor harus menahan diri dari setiap perilaku yang akan mendiskreditkan profesi mereka, termasuk melakukan kelalaian. Mereka tidak boleh membesar-besarkan kualifikasi atau pun kemampuan mereka dan tidak boleh membuat perbandingan yang melecehkan atau tidak berdasar terhadap pesaing. Selain itu akuntan publik harus berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) untuk membantu auditor memenuhi tanggung jawab profesionalnya dalam audit atas laporan keuangan historis dan pertimbangan mengenai kualitas profesional mereka. Standar auditing yang berterima umum dapat dibagi menjadi tiga katagori yaitu (SA Seksi 150 dalam SPAP, 2011) : 1. Standar Umum a. Auditor harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai seorang auditor. b. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

30 c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. 2. Standar Pekerjaan Lapangan a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. b. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. 3. Standar Pelaporan a. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. b. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika terdapat ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi, bahwa pernyataan demikian

31 tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Sehingga berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu. Selanjutnya menurut De Angelo (dalam Indah, 2010:33) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemungkinan (probability) dimana auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran yang ada dalam sistem akuntansi klien. Adanya kemampuan untuk menemukan salah saji yang material dalam laporan keuangan perusahaan tergantung akuntabilitas yang dimiliki auditor, sedangkan kemahiran dalam menemukan bukti-bukti selama audit tergantung pada due professional care yang dimiliki auditor. 2.1.3 Due Professional Care Menurut SA Seksi 230 dalam SPAP (2011), kecermatan dan keseksamaan menuntut auditor untuk melaksanakan skeptisme profesional, yaitu suatu sikap auditor yang berpikir kritis terhadap bukti audit dengan selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi terhadap bukti audit tersebut, serta berhati-hati dalam bertugas, tidak ceroboh dalam melakukan pemeriksaan dan memiliki keteguhan dalam melaksanakan tanggung jawab. Secara sederhana, kemahiran profesional berarti bahwa auditor adalah profesional yang bertanggung jawab melaksanakan tugasnya dengan tekun dan saksama. Kecermatan mencakup pertimbangan mengenai kelengkapan dokumentasi audit, kecukupan bukti audit, serta ketepatan laporan audit. Sebagai

32 profesional, auditor tidak boleh bertindak ceroboh atau dengan niat buruk, tetapi mereka tidak juga diharapkan selalu sempurna (Arens et al., 2011:43). Untuk itu auditor dituntut untuk memiliki keyakinan yang memadai dalam mengevaluasi bukti audit. Penting bagi auditor untuk mengimplementasikan due professional care dalam pekerjaan auditnya. Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan saksama memungkinkan auditor untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan (fraud). Menurut Agustin (2013) melihat ada lima indikator yang digunakan untuk mengukur due professional care antara lain yaitu: a) Menggunakan kecermatan dan keterampilan dalam bekerja. b) Memiliki keteguhan dalam melaksanakan tanggung jawab. c) Kompeten dan berhati-hati dalam melaksanakan tugas. d) Adanya kemungkinan terjadi kesalahan, ketidakteraturan dan ketidakpatuhan. e) Waspada terhadap risiko signifikan yang dapat mempengaruhi objektivitas. 2.1.4 Akuntabilitas Menurut SA Seksi 110 dalam PSAP (2011), auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan.

33 Istilah akuntabilitas berasal dari Bahasa Inggris accountability yang artinya pertanggungjawaban atau keadaan untuk dipertanggungjawabkan atau keadaan untuk diminta pertanggungjawaban. Tetclock (dalam Madisar dan Sari, 2007:6), mendefinisikan akuntabilitas sebagai bentuk dorongan psikologi yang membuat seseorang berusaha mempertanggungjawabkan semua tindakan dan keputusan yang diambil kepada lingkungannya. Sehingga auditor dituntut untuk mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya dengan cara menjaga dan mempertahankan akuntabilitas. Libby dan Luft (dalam Febriyanti, 2014) melihat ada tiga indikator yang dapat digunakan untuk mengukur akuntabilitas individu, yaitu: a. Seberapa besar motivasi mereka untuk meyelesaikan pekerjaan tesebut. Motivasi secara umum adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan. b. Seberapa besar usaha (daya pikir) yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Orang dengan akuntabilitas tinggi mencurahkan usaha (daya pikir) yang lebih besar dibanding orang dengan akuntabilitas rendah ketika menyelesaikan pekerjaan (Cloyd, dalam Madisar dan Sari, 2007) c. Seberapa yakin mereka bahwa pekerjaan mereka akan diperiksa oleh atasan. Keyakinan bahwa sebuah pekerjaan akan diperiksa atau dinilai orang lain dapat meningkatkan keinginan dan usaha seseorang untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas. Seseorang dengan akuntabilitas tinggi memiliki keyakinan yang lebih tinggi bahwa pekerjaan mereka akan diperiksa

34 oleh supervisor/manajer/pimpinan dibandingkan dengan seseorang yang memiliki akuntabilitas rendah. 2.1.5 Time Budget Pressure De zoort (dalam Prasita dan Adi, 2007:6) mendefinisikan time budget pressure sebagai bentuk tekanan yang muncul dari keterbatasan sumber daya yang dapat diberikan untuk melaksanakan tugas. Sumber daya dapat diartikan sebagai waktu yang digunakan auditor dalam pelaksanaan tugasnya. Tekanan anggaran waktu (time budget pressure) adalah keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembatasan waktu dan anggaran yang sangat ketat dan kaku (Sososutikno dalam Nirmala, 2013:23). Auditor seringkali bekerja dalam keterbatasan waktu, untuk itu setiap KAP perlu membuat anggaran waktu dalam kegiatan pengauditan. Anggaran waktu dibutuhkan untuk menentukan kos audit dan mengukur kinerja auditor (Simamora dalam Muhshyi, 2013:28). Tekanan anggaran waktu merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang. Tekanan anggaran waktu dalam hal ini, merupakan suatu kondisi dimana auditor diberikan batasan waktu dalam mengaudit. Kondisi ini tidak dapat dihindari auditor, apalagi dengan semakin bersaingnya KAP. Dimana KAP harus bisa mengalokasikan waktu secara tepat karena berhubungan dengan kos audit yang harus dibayar klien. Apabila KAP tidak bisa mengalokasikan waktu, sehingga waktu audit menjadi lebih lama maka berdampak pula pada kos audit yang semakin besar. Hal ini akan membuat klien

35 memilih KAP lain yang bisa menyelesaikan tugas auditnya dengan efektif dan efisien (Sososutiksno dalam Muhshyi, 2013:29). Sehingga anggaran waktu sesuai dengan realisasi atas pekerjaan yang dilakukan dan muncul perilaku fungsional yang dapat meningkatkan kualitas audit. Hal ini sesuai dengan Nataline (dalam Muhshyi, 2013:28) yang menyebutkan bahwa saat menghadapi tekanan anggaran waktu, auditor akan memberikan respon dengan dua cara yaitu, fungsional dan disfungsional. Tipe fungsional adalah perilaku auditor untuk bekerja lebih baik dan menggunakan waktu sebaik-baiknya. Sedangkan, tipe disfungsional adalah perilaku auditor yang membuat penurunan kualitas audit. 2.1.6 Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan Prasita dan Adi (2007) berjudul pengaruh kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu terhadap kualitas audit dengan moderasi pemahaman terhadap sistem informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu mempunyai pengaruh negatif terhadap kualitas audit. Interaksi antara kompleksitas, tekanan anggaran waktu, dan pemahaman terhadap sistem informasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Penelitian yang dilakukan Simanjuntak (2008) berjudul pengaruh time budget pressure dan risiko kesalahan terhadap penurunan kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa time budget pressure membuat auditor cenderung melakukan tindakan yang menyebabkan penurunan kualitas audit.

36 Penelitian yang dilakukan Singgih dan Bawono (2010) berjudul pengaruh independensi, pengalaman, due professional care, dan akuntabilitas terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi, due professional care, dan akuntabilitas secara parsial berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan pengalaman tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Penelitian yang dilakukan oleh Badjuri (2011) berjudul faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas audit auditor independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi dan akuntabilitas berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan pengalaman dan due professional care tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Penelitian yang dilakukan oleh Arisinta (2013) berjudul pengaruh kompetensi, independensi, time budget pressure, dan audit fee terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi, independensi, time budget pressure, dan audit fee berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Penelitian yang dilakukan oleh Muhshyi (2013) berjudul pengaruh time budget pressure, risiko kesalahan, dan kompleksitas audit terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa time budget pressure, risiko kesalahan, dan kompleksitas audit berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Penelitian yang dilakukan oleh Febriyanti (2014) berjudul pengaruh independensi, due professional care, dan akuntabilitas terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi dan akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap kualitas audit, sedangkan due professional care berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

37 Tabel 1 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Metode Penelitian Hasil peneliti 1 Prasita dan Adi (2007) berjudul pengaruh kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu terhadap kualitas audit dengan moderasi pemahaman terhadap sistem informasi. 2 Simanjuntak (2008) berjudul pengaruh time budget pressure dan risiko kesalahan terhadap penurunan kualitas audit. 3 Singgih dan Bawono (2010) berjudul pengaruh independensi, pengalaman, due professional care, dan akuntabilitas terhadap kualitas audit. Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) di Semarang. Teknik sampel: metode survey. Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Teknik sampel: teknik acak (random). Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) Big Four di Indonesia. Teknik sampel: simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas audit dan tekanan anggaran waktu mempunyai tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa time budget pressure membuat auditor cenderung melakukan tindakan yang menyebabkan penurunan kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi, due professional care, dan akuntabilitas secara parsial berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan pengalaman tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.

38 4 Badjuri (2011) berjudul faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas audit auditor independen. 5 Arisinta (2013) berjudul pengaruh kompetensi, independensi, time budget pressure, dan audit fee terhadap kualitas audit. 6 Muhshyi (2013) berjudul pengaruh time budget pressure, risiko kesalahan, dan kompleksitas audit terhadap kualitas audit. 7 Febriyanti (2014) berjudul pengaruh independensi, due professional care, dan akuntabilitas terhadap kualitas audit. Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jawa Tengah. Teknik sampel: purposive sampling. Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) di Surabaya. Teknik sampel: metode pengumpulan data survey. Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) di DKI Jakarta. Teknik sampel: convenience sampling Populasi: Kantor Akuntan Publik (KAP) di Padang dan Pekanbaru. Teknik sampel: metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi dan akuntabilitas berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan pengalaman dan due professional care tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi, independensi, time budget pressure, dan audit fee berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa time budget pressure, risiko kesalahan, dan kompleksitas audit berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi dan akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap kualitas audit, sedangkan due professional care berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

39 2.2 Rerangka Pemikiran Berdasarkan uraian yang dimulai dari latar belakang hingga penelitian terdahulu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Variabel-variabel yang diduga mempengaruhi kualitas audit adalah due professional care, akuntabilitas, dan time budget pressure. Rerangka pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Teory Agency Principals (Pemilik) Principals mendelegasikan sebagian otoritas kepada Agent Agent (Manajer) Conflict of interest Information Aseymmetry Audit Quality Auditor Due Professional Care Akuntabilitas Time Budget Pressure Gambar 1 Rerangka Pemikiran

40 2.3 Perumusan Hipotesis 2.3.1 Pengaruh Due Professional Care terhadap Kualitas Audit Due professional care memiliki arti kemahiran professional yang cermat dan seksama. Menurut SA Seksi 230 dalam SPAP (2011), kecermatan dan keseksamaan menuntut auditor untuk melaksanakan skeptisme profesional, yaitu suatu sikap auditor yang berpikir kritis terhadap bukti audit dengan selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi terhadap bukti audit tersebut. Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama memungkinkan auditor untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan. Auditor yang cermat dan seksama akan dapat menghasilkan audit yang berkualitas (Nirmala, 2013:13). Penelitian yang dilakukan oleh Febriyanti (2014) menyatakan bahwa due professional care berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Hasil penelitian ini di dukung dengan Singgih dan Bawono (2010). Hal ini membuktikan bahwa kemahiran profesional dan keyakinan yang memadai atas bukti-bukti yang ditemukan akan sangat membantu auditor dalam melaksanakan pekerjaan audit. Berdasarkan penelitian tersebut dapat diambil hipotesis alternatif yaitu : H 1 : Due Professional Care berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit

41 2.3.2 Pengaruh Akuntabilitas terhadap Kualitas Audit Tetclock (dalam Mardisar dan Sari, 2007:6) mendefinisikan akuntabilitas sebagai bentuk dorongan psikologi yang membuat seseorang berusaha mempertanggungjawabkan semua tindakan dan keputusan yang diambil kepada lingkungannya. Akuntan memiliki kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi dimana mereka berlindung, profesi mereka, masyarakat dan pribadi mereka sendiri dimana akuntan mempunyai tanggung jawab menjadi kompeten dan berusaha menjaga integritas dan obyektivitas mereka. Auditor memiliki kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis mereka kepada organisasi, profesi, masyarakat, dan pribadi mereka sendiri dimana akuntan publik mempunyai tanggung jawab. Auditor yang memiliki akuntabilitas tinggi akan bertanggungjawab penuh terhadap pekerjaannya sehingga kualitas audit yang dihasilkan pun akan semakin baik. Penelitian yang dilakukan oleh Badjuri (2011), menyatakan bahwa Akuntabilitas berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Hasil penelitian ini di dukung Singgih dan Bawono (2010) yang memberi hasil bahwa akuntabilitas memberi pengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit, hal ini membuktikan bahwa jika auditor menyadari perannya, maka akan memiliki keyakinan bahwa dengan melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, ia akan memberi kontribusi yang besar bagi masyarakat dan profesinya tersebut. Berdasarkan penelitian tersebut dapat diambil hipotesis alternatif yaitu : H 2 : Akuntabilitas berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit

42 2.3.3 Pengaruh Time Budget Pressure terhadap Kualitas Audit Sososutikno (dalam Nirmala, 2013:36) menyatakan Time budget pressure adalah keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembahasan waktu anggaran yang sangat ketat dan kaku Dalam praktiknya, tekanan time budget digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas audit merupakan komponen penting dalam penilaian kinerja auditor antara lain terpacunya kinerja auditor untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat pada waktunya. Kondisi ini tidak dapat dihindari auditor, apalagi dengan semakin bersaingnya KAP. Dimana KAP harus bisa mengalokasikan waktu secara tepat karena berhubungan dengan kos audit yang harus dibayar klien. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arisinta (2013) menyatakan time budget pressure berpengaruh positif terhadap kualitas audit, hal ini membuktikan bahwa anggaran waktu dapat meningkatkan kualitas audit karena time budget pressure merupakan keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembahasan waktu anggaran yang sangat ketat dan kaku sehingga akan meningkatkan kualitas audit. Berdasarkan penelitian tersebut dapat diambil hipotesis alternatif yaitu : H 3 : Time Budget Pressure berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit