DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 2

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada. tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION

BAB III METODE PENELITIAN

Oleh : Komang Meilia In Diana Putri Pratiwi Edward Thomas Lamury Hadjon Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Udayana

Latar Belakang dan Sejarah Terbentuknya. WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) Bagian Pertama. Fungsi WTO. Tujuan WTO 4/22/2015

PENYELESAIAN SENGKETA KASUS INVESTASI AMCO VS INDONESIA MELALUI ICSID

PERLINDUNGAN INDUSTRI DALAM NEGERI MELALUI TINDAKAN SAFEGUARD WORLD TRADE ORGANIZATION

BAB I PENDAHULUAN. terkait dengan suksesi negara. Bersandar dari konsepsi hukum internasional, suksesi

BAB I PENDAHULUAN. membuat perubahan dalam segala hal, khususnya dalam hal perdagangan. Era

BAB I PENDAHULUAN. terhadap hukum bisnis internasional dan penanaman modal asing suatu negara

Kata Kunci: National Treatment, Pajak Impor Dalam Industri Telepon Genggam, Kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri

Pengantar Hukum WTO. Peter Van den Bossche, Daniar Natakusumah dan Joseph Wira Koesnaidi 1

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

TINJAUAN HUKUM LAUT INTERNASIONAL MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM NELAYAN TRADISIONAL INDONESIA. Jacklyn Fiorentina

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi atau kegiatan bisnis yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang

BAB III PENUTUP. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. menggali, mengelola dan merumuskan bahan-bahan hukum dalam menjawab

PENERAPAN PENGGUNAAN MATA UANG RUPIAH BAGI PELAKU USAHA PERDAGANGAN LUAR NEGERI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten. 2 Jadi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) saat ini merupakan satu satunya organisasi

2 b. bahwa Persetujuan dimaksudkan untuk menetapkan prosedur penyelesaian sengketa dan mekanisme formal untuk Persetujuan Kerangka Kerja dan Perjanjia

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis, Sifat Penelitian, dan Pendekatan. normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai salah satu negara yang telah menjadi anggota World Trade

BAB I PENDAHULUAN. aktivitasnya melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Hal ini sejalan pula dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perserikatan Bangsa Bangsa selanjutnya disebut PBB merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. internasional, sudah sejak lama dilakukan oleh negara-negara di dunia ini. Perjanjianperjanjian

terhadap penelitian normatif (penelitian yuridis normatif), maka penting sekali

PENERAPAN PRINSIP NON REFOULEMENT TERHADAP PENGUNGSI DALAM NEGARA YANG BUKAN MERUPAKAN PESERTA KONVENSI MENGENAI STATUS PENGUNGSI TAHUN 1951

BAB III METODE PENELITIAN. sistematis, metodologis, dan konsisten. Sistematis artinya menggunakan sistem

BAB I PENDAHULUAN. Konferensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa III telah berhasil

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah normatif, yang dilakukan dengan cara meneliti bahan

BAB I PENDAHULUAN. secara signifikan meningkat dengan pesat, khususnya ketika ekonomi

DUMPING DAN ANTI-DUMPING SEBAGAI BENTUK UNFAIR TRADE PRACTICE DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Artikel 22 ayat 1, DSU Agreement.

PELANGGARAN KEDAULATAN NEGARA TERKAIT TINDAKAN SPIONASE DALAM HUBUNGAN DIPLOMASI INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan hukum bagi konsumen 1 bertujuan untuk melindungi hak-hak

BAB I PENDAHULUAN. dalam masyarakat itu sendiri, untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam hal ini

BAB III METODE PENELITIAN. Penyusunan skripsi ini yang berjudul Tindakan Amerika Serikat dalam

BAB I PENDAHULUAN. dituntut untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dan profesionalisme

2 b. bahwa Persetujuan dimaksudkan untuk menetapkan prosedur penyelesaian sengketa dan mekanisme formal untuk Persetujuan Kerangka Kerja dan Perjanjia

IDENTITAS MATA KULIAH

BAB I PENDAHULUAN.. Di dalam kondisi perekonomian saat ini yang bertambah maju, maka akan

BAB I PENDAHULUAN. dari aktivitas yang dilakukan. Tetapi beberapa di antara resiko, bahaya, dan

KONSTRUKSI HUKUM PERUBAHAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TIDAK TERTENTU MENJADI PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU

Oleh : Komang Eky Saputra Ida Bagus Wyasa Putra I Gusti Ngurah Parikesit Widiatedja

BAB I PENDAHULUAN. Negara dan Konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan.

PENEGAKAN HUKUM HUMANITER DALAM KONFLIK BERSENJATA INTERNAL SURIAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGATURAN PROSPEKTUS PENAWARAN WARALABA DALAM PERJANJIAN WARALABA. Oleh Calvin Smith Houtsman Sitinjak Desak Putu Dewi Kasih.

BAB III METODE PENELITIAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. ilmiah adalah proses analisa yang meliputi metode-metode penelitian untuk

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan prasyarat penting dalam negara. demokrasi. Dalam kajian ilmu politik, sistem Pemilihan Umum diartikan sebagai

LEGALITAS PENGANCAMAN DAN PENGGUNAAN SENJATA NUKLIR OLEH NEGARA DALAM HUKUM INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan satu macam

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional, karena kesehatan sebagai kebutuhan yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. masih tetap berlaku sebagai sumber utama. Unifikasi hak-hak perorangan atas

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, undang-undang yang mengatur asuransi sebagai sebuah

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu perdagangan yang lazim dikenal dengan perdagangan ekspor-impor.

METODE PENELITIAN. sistematika, dan pemikiran tertentu dengan jalan menganalisisnya. Metode

III. METODE PENELITIAN. lazim digunakan untuk meneliti ketentuan-ketentuan hukum positif sebagaimana

2 negara lain. Dari situlah kemudian beberapa negara termasuk Indonesia berinisiatif untuk membentuk organisasi yang berguna untuk mengatur seluruh pe

Oleh : Putu Ayu Satya Mahayani I Ketut Sujana Hukum Keperdataan, Fakultas Hukum, Universitas Udayana

ANALISIS TENTANG PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI PIHAK DALAM PEMBENTUKAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Penyelesaian Sengketa (APS) atau Alternative Dispute Resolution (ADR). 3 Salah satu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. suatu proses untuk menemukan suatu aturan hukum, prinsip-prinsip hukum,

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KLAUSULA DALAM PERJANJIAN WARALABA YANG DAPAT MENIMBULKAN PRAKTIK MONOPOLI

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan perekonomian yang sangat pesat telah. mengarah kepada terbentuknya ekonomi global. Ekonomi global mulai

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. aspek kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut juga berpengaruh

BAB I PENDAHULUAN. Pidana bersyarat merupakan suatu sistem pidana di dalam hukum pidana yang

AKIBAT HUKUM ATAS PELANGGARAN MEREK OLEH PIHAK YANG BUKAN PEMEGANG LISENSI

WEWENANG OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) TERHADAP PENYELESAIAN SENGKETA PASAR MODAL OLEH BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA (BAPMI)

III. METODE PENELITIAN

HAK ISTIMEWA BAGI INVESTOR ASING DALAM BERINVESTASI DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL

UPAYA PENERAPAN RETALIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO)

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

PERTANGGUNGJAWABAN IMPORTIR ATAS KERUGIAN EKSPORTIR AKIBAT DARI FREE ON BOARD TRAP

BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 10

BAB I PENDAHULUAN. haknya atas tanah yang bersangkutan kepada pihak lain (pembeli). Pihak

KEKUATAN MENGIKAT RESOLUSI DEWAN KEAMANAN PBB DALAM PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL

PERLINDUNGAN KEPENTINGAN PARA PIHAK DALAM KONTRAK KERJASAMA INTERNASIONAL BERDASARKAN UNIDROIT

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia.

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL (STUDI KASUS NIKARAGUA AMERIKA SERIKAT)

NASKAH PENJELASAN PENGESAHAN

III. METODE PENELITIAN. hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang

BAB I PENDAHULUAN. digunakan manusia dalam membantu kegiatannya sehari-hari.

BAB III METODE PENELITIAN. Yogyakarta telah melaksankan ketentuan-ketentuan aturan hukum jaminan

Transkripsi:

DAFTAR ISI Halaman Sampul... i Halaman Prasyarat Gelar Sarjana Hukum... ii Halaman Persetujuan Pembimbing/Pengesahan... iii Halaman Pengesahan Panitia Penguji... iv Kata Pengantar... v Surat Pernyataan Keaslian... viii Daftar Isi... ix Daftar Gambar... xiii Daftar Lampiran... xiii Abstrak...... xiv Abstract...... xv BAB I PENDAHULUAN... 2 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 7 1.3 Ruang Lingkup Masalah... 8 1.4. Orisinalitas Penelitian... 8 1.5. Tujuan Penelitian... 11 Tujuan Umum... 11 Tujuan Khusus... 12 1.6. Manfaat Penelitian... 12 a. Manfaat Teoritis... 12 b. Manfaat Praktis... 13 1.7. Landasan Teoritis... 13 a. Teori-Teori Tentang Dasar Kekuatan Mengikat Hukum Internasional... 13 b. Prinsip Resiprositas (Timbal Balik)... 15 c. Prinsip Non-Diskriminasi... 15 d. Prinsip Most Favoured Nation Treatment... 16 e. Prinsip Perlakuan Nasional (National Treatment)... 16 f. Prinsip Transparansi (Transparency)... 17 ix

g. Prinsip Kebebasan Berdagang... 17 h. Prinsip Pacta Sunt Servanda... 18 1.8 Metode Penelitian... 18 a. Jenis Penelitian... 19 b. Jenis Pendekatan... 19 c. Sumber Bahan Hukum... 22 d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum... 23 e. Teknik Analisa Bahan Hukum... 24 BAB II TINJAUAN UMUM... 26 2.1. Hukum Perdagangan Internasional... 26 2.1.1. Pengertian... 26 2.1.2. Ruang Lingkup... 27 2.1.3. Hukum Perdagangan Internasional Bersifat Interdisipliner... 30 2.1.4. Subjek Hukum Dalam Hukum Perdagangan Internasional... 31 A. Negara... 31 B. Organisasi Perdagangan Internasional... 32 C. Individu... 33 D. Perusahaan Multinasional... 34 2.1.5. Sumber Hukum Perdagangan Internasional... 34 A. Perjanjian Internasional... 35 B. Hukum Kebiasaan Internasional... 36 C. Prinsip-prinsip Hukum Umum... 36 D. Putusan-putusan Badan Pengadilan dan Doktrin... 37 E. Hukum Nasional... 38 2.1.6. Penyelesaian Sengketa Dalam Perdagangan Internasional... 39 2.2. Hukum Perdagangan Internasional dalam Bidang Jasa menurut Pengaturan World Trade Organization... 40 2.2.1. Sejarah Terbentuknya World Trade Organization... 40 2.2.2. Pengaturan Jasa dalam World Trade Organization... 43 2.3. Prosedur Penyelesaian Sengketa dalam World Trade Organization... 44 x

A. Tahap Konsultasi, Jasa Baik, Konsiliasi dan Mediasi... 45 B. Tahap Panel... 46 C. Tahap Banding... 48 D. Pengawasan Pelaksanaan Putusan dan Rekomendasi... 49 2.4. Ketentuan Pajak Berganda Internasional sebagai Indikator Peningkatan Kekayaan... 50 BAB III PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA YANG DIGUNAKAN OLEH PANAMA DAN ARGENTINA DALAM WORLD TRADE ORRGANIZATION PADA KASUS MEASURES RELATING TO TRADE IN GOODS AND SERVICES (TINDAKAN-TINDAKAN TERKAIT PERDAGANGAN BARANG DAN JASA)... 57 3.1. Tahap Konsultasi... 59 3.1.1. Pihak-Pihak dalam Sengketa... 59 3.1.2. Pelaksanaan sesuai dengan General Agreement on Trade in Services 60 3.2. Tahap Panel... 62 3.2.1. Prosedur Pembentukan Panel... 62 3.2.2. Prosedur Pengadilan dalam Panel... 63 3.2.3. Laporan Panel... 69 3.3 Tahap Banding... 72 3.3.1. Prosedur Pembentukan Badan Banding... 72 3.3.2. Prosedur Pengadilan dalam Banding... 73 3.3.3. Laporan Badan Banding... 77 3.4. Pengesahan Laporan Panel dan Badan Banding oleh Dispute Settlement Body... 78 xi

BAB IV KEBIJAKAN ARGENTINA TERKAIT KEBIJAKAN PENINGKATAN KEKAYAAN TERHADAP STATUS YANG DIMILIKI OLEH PANAMA... 81 4.1. Prinsip Most Favoured Nation Treatment dalam General Agreement on Trade in Services... 82 4.2. Pengaturan dalam Hukum Nasional Argentina... 85 4.2.1. Pengaturan Klasifikasi Status Negara Kooperatif... 85 4.2.2. Pengaturan Terkait Peningkatan Kekayaan... 89 4.3. Analisis dalam Panel... 92 4.3.1. Argumentasi Panama... 92 4.3.2. Argumentasi Argentina... 96 4.3.3. Argumentasi Pihak Ketiga... 99 4.3.3.1. Brazil... 99 4.3.3.2. Amerika Serikat... 100 4.3.3.3. Uni Eropa... 101 4.3.4. Penemuan, Laporan dan Rekomendasi Panel... 101 4.4. Analisis dalam Banding... 120 4.4.1. Argumentasi Panama... 121 4.4.2. Argumentasi Argentina... 122 4.4.3. Penemuan, Laporan dan Rekomendasi Badan Banding... 123 4.4.4. Putusan dan Rekomendasi DSB... 129 BAB V PENUTUP... 130 5.1. Kesimpulan... 130 5.2. Saran... 130 DAFTAR PUSTAKA... 130 LAMPIRAN... 130 xii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Skema Penyelesaian Sengketa di WTO... 58 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Summary Of The Case Concerning Measures Relating To Trade In Goods And Services Between Panama And Argentina xiii

ABSTRAK Pada tahun 2012, Panama menggugat Argentina atas dugaan peningkatan kekayaan yang melanggar prinsip Most Favoured Nation. Gugatan tersebut dibawa ke Organisasi Perdagangan Dunia dengan General Agreement on Trade in Services sebagai dasar gugatannya. Organisasi Perdagangan Dunia melalui Dispute Settlement Body melakukan proses pemeriksaan atas dugaan tersebut sesuai dengan Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes. Prosedur penyelesaian sengketa telah diatur jangka waktunya, dalam kasus ini mengalami jangka waktu penyelesaian melebihi aturan tersebut sehingga perlu dilakukannya penelitian apakah prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes. Gugatan yang dilakukan Panama mengenai prinsip Most Favoured Nation Treatment dalam General Agreement on Trade in Services juga perlu dilakukan penelitian mengenai kemungkinan Argentina telah melanggar prinsip tersebut. Metode penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus, pendekatan perundang-undangan dan pendekatan fakta. Bahan hukum primer yang digunakan adalah Perjanjian Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia, Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Dispute, dan General Agreement on Trade in Services. Hasil dari tulisan ini menyimpulkan bahwa prosedur penyelesaian sengketa yang telah diatur dalam Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Dispute mengenai jangka waktu selama para pihak setuju maka jangka waktu penyelesaian sengketa dapat diperpanjang. Argentina juga tidak melanggar prinsip perlakuan Most Favoured Nation karena kesimpulan badan banding membalikkan kesimpulan panel dengan alasan dasar penemuan yang keliru. Penguatan kesimpulan tersebut dilakukan dengan pengesahan yang dilakukan oleh Dispute Settlement Body. Kata Kunci : Perlakuan Most Favoured Nation, Perdagangan Jasa, Penyelesaian Sengketa xiv

ABSTRACT In 2012, Panama sued Argentina over alleged increase in wealth that violate the principles of Most Favoured Nation treatment. The suit was brought to the World Trade Organization by the General Agreement on Trade in Services as the basic claim. The World Trade Organization through the Dispute Settlement Body conducted an inspection of the presumption in accordance with the rules of the Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes. The procedur of dispute settlement already set the time period, in this case experienced a completion period which exceed the rule so it is necessary to do a research wheter the procedure in this case is accordance with the Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes. The lawsuit made by Panama concerning Most Favoured Nation Treatment principle under the General Agreement on Trade in Services also necessary to do a research concerning feasibility Argentina violates this principle. The research methodology in this paper is using normative legal research method with case approach, statute approach and fact approach. Primary legal materials are the Agreement Establishing the World Trade Organization, the Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Dispute, and the General Agreement on Trade in Services. The result in this paper concluded that the procedur of dispute settlement set out in the Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Dispute regarding the period for the parties to agree the reasonable period of time may be extended. Argentina did not violate Most Favoured Nation treatment principle by reason of the appellate body conclusion that reversed panel conclusion which is panel erred to use the basic reason of panel conclusion. Strengthening these conclusions do with the adoption made by the Dispute Settlement Body. Keywords: Most Favoured Nation Treatment, Trade in Services, Dispute Resolution xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem penyelesaian sengketa di World Trade Organization (selanjutnya disingkat WTO) mulai beroperasi pada tahun 1995 dan memiliki badan penyelesaian sengketa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, yaitu Badan Penyelesaian Sengketa atau Dispute Settlement Body (selanjutnya disingkat DSB). Pada akhir 2004, lebih dari 300 (tiga ratus) gugatan diajukan dan rata-rata tiga puluh kasus baru setiap tahunnya, serta lebih dari 100 panel telah dibentuk dan gugatan lain telah berhasil diselesaikan melalui konsultasi. Pada 10 (sepuluh) tahun pertama, sebanyak 75 (tujuh puluh lima) laporan panel dan 50 (lima puluh) laporan badan banding telah disahkan oleh DSB. 1 Tanggal 1 Desember 2007 total kasus yang dibawa ke WTO mencapai 369 kasus. 2 Prosedur penyelesaian sengketa di WTO dapat dilakukan melalui tahap konsultasi, proses panel, proses banding, dan pelaksanaan serta penegakkan keputusan. Konsultasi adalah prosedur pertama yang diambil oleh para pihak dalam menyelesaiakan sengketanya dalam WTO, namun bila hal tersebut tidak dapat menyelesaikan sengketa para pihak maka pihak penggugat dapat melanjutkan prosedur penyelesaian sengketa di WTO, yaitu panel. prosedur panel akan menghasilkan laporan panel. Laporan panel dapat naik banding ke badan 1 Aust, Anthony, 2005, Handbook of International Law, Cambridge University, New York, h. 384. 2 Bossche, Peter Van Den, 2010, The Law and Policy of the World Trade Organization Text, Cases and Materials, cet. II, Cambridge University, New York, h. 169. 1

banding. Proses badan banding menghasilkan laporan badan banding yang menguatkan, merubah, atau membalikkan laporan panel. 3 Penyelesaian sengketa di WTO menjadi tanggung jawab DSB yang merupakan penjelmaan dari Dewan Umum (General Council). 4 DSB memiliki kewenangan untuk membentuk panel; mengesahkan laporan panel dan badan banding; mengawasi pelaksanaan aturan dan rekomendasi; menangguhkan hak atau kewajiban anggota WTO; menunjuk anggota badan banding; dan mengesahkan aturan pelaksana dalam penyelesaian sengketa WTO. 5 Kasus mengenai jasa termasuk isu baru di dalam WTO, sehingga aturanaturannya belum secara jelas dan tegas memberi pengertian di dalam pasalpasalnya. Cara yang dapat dilakukan anggota WTO dalam mencari penafsiran yang sesuai aturan tersebut adalah dengan melihat yurisprudensi yang ada sesuai kasus yang sudah ditangani oleh DSB, baik panel maupun badan banding. Aturan sektor jasa pada umumnya di dalam WTO adalah General Agreement on Trade in Services (selanjutnya disingkat GATS). Sektor jasa sangat vital bagi perekonomian sebuah negara, meliputi berbagai kegiatan di bidang transportasi, keuangan, komunikasi, distribusi, penginapan, pendidikan, kesehatan, konstruksi dan sebagainnya yang bersifat bukan barang. 6 Pada tanggal 12 Desember 2012, Panama meminta konsultasi dengan Argentina sesuai dengan Pasal 4 Understanding on Rules and Procedures 3 Ibid, h. 198-199. 4 Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi, dan Hak Kekayaan Intelektual et. al., 2013, Sekilas WTO World Trade Organization, Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi, dan Hak Kekayaan Intelektual; Direktorat Jendral Multilateral; Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta, (selanjutnya disingkat Direktorat Perdagangan RI), h. 50. 5 Bossche, Peter Van Den, op.cit, h. 236. 6 Direktorat Perdagangan RI, op.cit, h. 33. 2

Governing the Settlement of Disputes (selanjutnya disingkat DSU), Pasal XXII General Agreement on Tariffs and Trade 1994 (selanjutnya disingkat GATT), dan Pasal XXII GATS mengenai beberapa langkah yang diambil oleh Argentina sehingga berdampak pada perdagangan barang dan jasa. 7 Hal tersebut berkaitan dengan kebijakan Argentina dalam mengatur perpajakan yang membedakan negara menjadi cooperative state (negara kooperatif) dan non-cooperative state (negara non-kooperatif). Berdasarkan Pasal 1 Surat Keputusan Nomor 589/2013 Administrasi Federal Argentina tentang Pendapatan, bahwa: Countries, dominions, jurisdictions, territories, associate States or special tax regimes which have signed with the Government of the ARGENTINE REPUBLIC an agreement on exchange of tax information or a convention for the avoidance of international double taxation with a broad information exchange clause shall be considered cooperative for tax transparency purposes, provided that there is an effective exchange of information... (Terjemahan bebas: Negara, kekuasaan, yurisdiksi, wilayah, asosiasi negara atau rezim pajak khusus yang telah menandatangi kesepakatan pertukaran informasi pajak atau konvensi untuk penghindaran pajak berganda internasional dengan Pemerintah Republik Argentina dengan klausul pertukaran informasi yang luas tersebut, harus dipertimbangkan kooperatif untuk tujuan transparansi pajak dan terdapat pertukaran informasi yang efektif.) Perumusan pasal tersebut adalah negara yang telah menandatangani perjanjian pertukaran informasi pajak atau perjanjian penghindaran pajak berganda dengan pemerintah Argentina maka negara tersebut dipertimbangkan sebagai negara kooperatif dalam tujuan transparansi pajak. Konsultasi tersebut berisikan materi tentang dugaan sebagai berikut: 7 WT/DS453/1, h. 1. 3

1. diskriminasi dari taksiran keuntungan pajak berdasarkan asal atau tempat tinggal pemberi jasa asing; 2. diskriminasi tindakan terhadap dugaan tidak tepat penambahan kekayaan; 3. diskriminasi dalam penilaian transaksi dengan angota dari negara terdaftar; 4. tindakan yang berdampak pada perdagangan dalam sektor jasa asuransi; 5. diskriminasi persyaratan untuk pendaftaran perusahaan, cabang dan pemegang saham dari pemberi jasa asing tertentu; 6. tindakan yang berdampak kepada repatriasi penanaman modal; 7. tindakan yang berdampak terhadap perdagangan dalam instrumen keuangan; 8. diskriminasi syarat deduksi untuk pembayaran barang atau jasa yang dipenuhi oleh penduduk asing; dan 9. penolakan potongan dan pengurangan terhadap Pajak Pertambahan Nilai. 8 Pada tanggal 21 Desember 2012, Uni Eropa mengajukan permintaan untuk ikut dalam proses konsultasi. Amerika Serikat kemudian ikut mengajukan permintaan dalam proses konsultasi pada tanggal 28 Desember 2012. Proses konsultasi yang dilakukan pada tanggal 5 Februari 2013 di Geneva tidak dapat menyelesaikan permasalah tersebut, oleh karena itu sesuai dengan Pasal 4 paragraf (7) dan (6) DSU, Pasal 23 ayat (2) GATT 1994 dan Pasal 22 GATS, Panama meminta DSB membentuk panel. 9 Panama dalam proses panel mengajukan 8 (delapan) gugatan terhadap kebijakan yang dilakukan Argentina berkaitan dengan kebijakan pajaknya. Kasus 8 Ibid, h. 1-7. 9 WT/DS453/4, h. 1. 4

ini kemudian dikenal dengan kasus measures relating to trade in goods and services (tindakan-tindakan terkait perdagangan barang dan jasa) antara Panama v. Argentina (selanjutnya disingkat Kasus Panama v. Argentina). Kebijakan-kebijakan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pajak penghasilan dalam pembayaran bunga atau gaji untuk jasa keuangan tertentu dari pemberi yang berasal dari negara non-kooperatif; 2. Dugaan segala dana yang masuk dari negara non-kooperatif sebagai peningkatan kekayaan yang tidak sesuai aturan; 3. Tranfer pembayaran dalam menentukan keuntungan pajak, tata cara bertransaksi dengan individu dari negara non-kooperatif; 4. Pembentukan aturan khusus mengenai alokasi belanja untuk keuntungan pajak, tata cara yang khusus mengenai pembayaran jasa yang dilakukan individu dari negara non-kooperatif; 5. Pembatasan akses pasar Argentina terhadap asuransi; 6. Pembatasan akses pasar kapital Argentina terhaadap pemberi jasa keuangan dari negara non-kooperatif; 7. Pembebanan lebih dalam persyaratan untuk pembentukan cabang perusahaan dari negara non-kooperatif; dan 8. Pembebanan terhadap persyaratan pertukaran ijin asing. 10 Pada tahap panel selain Panama dan Argentina (selanjutnya disingkat Para Pihak) terdapat juga pihak ketiga (third parties), antara lain Australia, Brazil, Cina, Ekuador, Uni Eropa, Guatemala, Honduras, India, Oman, Saudi Arabia, 10 WT/DS453/R/Add.1, h. B2-B3. 5

Singapura, dan Amerika Serikat. Tahap panel telah berlangsung dan telah memberikan laporannya kepada DSB untuk disahkan, akan tetapi para pihak mengajukan banding sehingga pengesahan tersebut ditahan hingga laporan akhir dari badan banding telah ada. Pada tahap banding para pihak menggugat ke badan banding bahwa terdapat kesalahan penemuan hukum oleh panel sehingga terdapat kesalahan dalam pengambilan kesimpulan laporan panel. Pada tahap banding Panama dan Argentina sama-sama menggugat ke badan banding mengenai laporan panel. Panama menggugat bahwa: i. Panel salah dalam menafsirkan dan menggunakan istilah perlakuan yang kurang menguntungkan ; ii. Panel salah dalam menggunakan istilah diperlukan untuk menjamin pemenuhan hukum dan aturan ; dan iii. Panel salah dalam menafsirkan ruang lingkup dari paragraf 2 (a) Lampiran Tentang Jasa Keuangan dalam GATS. 11 Argentina secara umum menggugat bahwa panel salah dalam memberikan beban pembuktian kepada Argentina dan panel salah dalam membuat prima facie (tindakan permulaan) kasus. 12 Gugatan yang diajukan oleh Panama berdasarkan beberapa aturan dalam WTO antara lain, GATS dan GATT dalam kaitannya prinsip Most Favoured Nation (selanjutnya disingkat MFN) dan prinsip National Treatment (selanjutnya disingkat NT). Gugatan Panama pada intinya berkaitan dengan sektor jasa, walaupun terdapat klausula yang menyangkut mengenai barang atau penanaman 11 WT/DS453/AB/R/Add.1, h. A2-A3. 12 Ibid, h. A4-A5. 6

modal karena sektor jasa merupakan sektor yang luas cakupannya. Kasus Panama v. Argentina memiliki pembahasan yang luas, oleh karena itu penulis membatasi tulisan ini pada prosedur penyelesaian sengketa jasa yang diambil para pihak dan menganalisis kebijakan Argentina terhadap dugaan peningkatan kekayaan yang melanggar prinsip MFN dalam WTO pada tahap panel hingga badan banding. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat kasus tersebut dalam bentuk skripsi dengan judul ANALISIS KASUS MEASURES RELATING TO TRADE IN GOODS AND SERVICES (TINDAKAN- TINDAKAN TERKAIT PERDAGANGAN BARANG DAN JASA) ANTARA PANAMA V. ARGENTINA SEHUBUNGAN DENGAN PENINGKATAN KEKAYAAN BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mengangkat 2 (dua) permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut. Permasalahan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Apakah prosedur penyelesaian sengketa yang digunakan oleh Panama dan Argentina dalam WTO pada kasus Measures Relating To Trade In Goods And Services (Tindakan-tindakan terkait Perdagangan Barang dan Jasa) sesuai dengan aturan dalam DSU? 2. Apakah kebijakan Argentina terhadap tindakan peningkatan kekayaan kepada status yang dimiliki oleh Panama melanggar prinsip MFN? 7

1.3 Ruang Lingkup Masalah Penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah perlu ditegaskan mengenai materi yang diatur di dalamnya. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari agar isi atau materi yang terkandung di dalamnya tidak menyimpang dari pokok permasalahan yang telah dirumuskan dengan demikian dapat diuraikan secara sistematis. Pemberian batasan mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dilakukan untuk menghindari pembahasan menyimpang dari pokok permasalahan. Ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut : 1. Secara umum akan diuraikan mengenai perbedaan dari negara kooperatif dan non-kooperatif, termasuk kewajiban dan haknya. 2. Secara umum akan dibahas mengenai prosedur yang diambil oleh Panama dan Argentina dalam menyelesaikan sengketa. 3. Secara umum akan dibahas mengenai kebijakan Argentina yang berkaitan dengan peningkatan kekayaan. 4. Secara umum akan diuraikan mengenai keputusan atau rekomendasi DSB terhadap kasus antara Panama dan Argentina mengenai Tindakan-tindakan terkait Perdagangan Barang dan Jasa. 1.4. Orisinalitas Penelitian Orisinalitas suatu penelitian sangatlah diperlukan untuk menghindari terjadinya suatu plagiarisme. Penulis tidak menemukan penulisan karya ilmiah yang sama dalam penulisan skripsi ini, akan tetapi perlu adanya perbandingan dengan karya 8

tulis yang penulis rasa memiliki topik pembahasan yang serupa. Penulis menggunakan perbandingan dengan 2 (dua) karya tulis, yaitu: karya tulis Aurora Jillena Meliala yang berjudul Penyelesaian Sengketa Dalam Perdagangan Internasional: Studi Tentang Sengketa Indonesia Versus Amerika Serikat, Eropa Dan Jepang Mengenai Mobil Nasional dari Universitas Indonesia. karya tulis Meita Glovita yang berjudul Pelaksanaan Keputusan Panel Sengketa WTO Terhadap Praktek Perdagangan Rokok (Studi Kasus Antara Indonesia Dan Amerika Serikat) dari Universitas Hasanuddin. Indikator Penulis Aurora Meita Judul Analisis Kasus Penyelesaian Pelaksanaan Measures Relating To Sengketa Dalam Keputusan Panel Trade In Goods And Perdagangan Sengketa WTO Services (Tindakan- Internasional: Terhadap Praktek Tindakan Terkait Studi Tentang Perdagangan Perdagangan Barang Sengketa Rokok (Studi Dan Jasa) Antara Indonesia Versus Kasus Antara Panama V. Argentina Amerika Serikat, Indonesia Dan Sehubungan Dengan Eropa Dan Jepang Amerika Serikat) Peningkatan Kekayaan Berdasarkan Hukum Internasional Mengenai Nasional Mobil 9

Rumusan 1. Bagaimanakah 1. Mengapa 1. Apa yang Masalah prosedur Proyek Mobil menjadi penyebab penyelesaian Nasional sengketa rokok sengketa yang melanggar WTO? kretek antara digunakan oleh 2. Bagaimana Indonesia dengan Panama dan perkara ini Amerika Serikat Argentina dalam diselesaikan dalam sehingga dibawa WTO pada kasus WTO dan ke persidangan Measures Relating bagaimana sikap WTO? To Trade In Goods Indonesia 2. Apa And Services menggapai pertimbangan (Tindakan- sengketa Mobil WTO dalam tindakan terkait Nasional ini? memutuskan Perdagangan 3. Bagaimana sengketa rokok Barang dan Jasa)? konsekuensi jika kretek antara 2. Apakah kebijakan Indonesia tidak Indonesia dengan Argentina terhadap melaksanakan Amerika Serikat? tindakan peningkatan putusan appellate kekayaan kepada body WTO? status yang dimiliki oleh melanggar Panama prinsip MFN? 10

Pembahasan Kasus perdagangan Kasus Kasus Kasus jasa yang berdasarkan perdagangan perdagangan dengan GATS sesuai barang yang barang yang prinsip MFN berdasarkan berdasarkan GATT dengan sesuai GATT prinsip sesuai prinsip NT MFN dan NT Berdasarkan rincian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa penulisan skripsi ini tidak memiliki kemiripan yang signifikan terhadap penulisan karya ilmiah yang telah ada sebelumnya, terlebih mengenai substansi pembahasan. 1.5. Tujuan Penelitian Penulisan suatu karya tulis ilmiah harus memiliki tujuan yang nantinya dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan penelitian meliputi tujuan umum dan tujuan khusus. Penjelasan lebih lanjut mengenai tujuan umum dan khusus dari pembuatan skripsi ini adalah sebagai berikut : Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari penulisan skripsi ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaturan perdagangan internasional yang terkait dengan bidang jasa dalam hukum internasional, khususnya dalam WTO. 11

2. Untuk mengembangkan pengetahuan dan ruang lingkup berlakunya prinsip MFN dalam hukum perdagangan internasional. Tujuan Khusus Tujuan khusus yang diharapkan dapat tercapai dari penulisan skripsi ini adalah : 1. Untuk mengetahui apakah prosedur penyelesaian sengketa yang digunakan oleh Panama dan Argentina dalam WTO pada kasus Tindakan-tindakan terkait Perdagangan Barang dan Jasa sesuai dengan aturan dalam DSU. 2. Untuk mengetahui secara yuridis normatif apakah kebijakan Argentina terhadap tindakan peningkatan kekayaan kepada status yang dimiliki oleh Panama melanggar prinsip MFN. 1.6. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai prosedur penyelesaian sengketa dalam WTO sesuai dengan Perjanjian WTO, khususnya DSU, serta membantu dalam memberikan pengertian dan ruang lingkup dari berlakunya prinsip MFN. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan referensi tambahan untuk pengembangan ilmu hukum secara umum, khususnya di bidang hukum perdagangan internasional mengenai analisis yuridis terhadap penyelesaian sengketa melalui DSB yang melalui proses konsultasi, panel dan banding. 12

b. Manfaat Praktis Manfaat praktis yaitu berguna sebagai upaya yang dapat diperoleh langsung manfaatnya, seperti peningkatan keahlian meneliti dan keterampilan menulis, sumbangan pemikiran dalam pemecahan suatu masalah hukum, acuan pengambilan keputusan yuridis, dan bacaan baru bagi penelitian ilmu hukum. 13 Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat internasional sebagai sarana pengembangan pemikiran tentang pengaturan di dalam WTO. Penelitian ini juga diharapkan agar masyarakat internasional dapat mengetahui mengenai keefektifan dari prosedur penyelesaian sengketa yang digunakan oleh Panama dan Argentina dalam WTO pada Kasus Panama v. Argentina, khususnya pada kebijakan Argentina yang berdampak terhadap status yang dimiliki oleh Panama, sehingga diharapkan lebih kritis, berani dan lebih aktif ikut serta dalam mengembangkan pengetahuan mengenai hukum perdagangan internasional. 1.7. Landasan Teoritis a. Teori-Teori Tentang Dasar Kekuatan Mengikat Hukum Internasional Kenyataan bahwa hukum internasional tidak memiliki lembaga legislatif, eksekutif, yudisial, maupun kepolisian tetapi hukum internasional itu tetap mengikat. Adanya badan legislatif, yudisial dan polisi merupakan ciri yang jelas dari suatu sistem hukum positif yang efektif, tetapi hal ini tidak berarti h. 66. 13 Abdul Kadir Muhamad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 13

bahwa tanpa lembaga-lembaga tersebut tidak terdapat hukum. 14 Beberapa teori yang berkembang dalam mencoba memberikan landasan pemikiran tentang mengikatnya hukum internasional, yaitu: i. Teori Kehendak Bersama Negara-negara. Hukum internasional itu mengikat bukan karena kehendak negara-negara secara sendiri-sendiri melainkan karena kehendak bersama negara-negara itu. Kehendak bersama ini lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan kehendak negara secara sendiri-sendiri. Kehendak bersama ini tidak perlu dinyatakan secara tegas atau spesifik karena terdapar Vereinbarungstheorie, yaitu teori yang menerangkan sifat hukum kebiasaan (costumary law) dengan mengatakan bahwa dalam hal demikian kehendak untuk terikat diberikan secara diam-diam. 15 ii. Teori Wina Dasar mengikat hukum internasional ada pada norma atau kaidah hukum yang telah ada terlebih dahulu yang terlepas dari dikehendaki atau tidak oleh negara-negara (teori objektivis). Mengikatnya kaidah hukum internasional didasarkan oleh mengikatnya kaidah hukum lain yang lebih tinggi dan demikian seterusnya. Hal tersebut seterusnya terjadi hingga sampai pada suatu puncak piramida kaidah-kaidah hukum yang dinamakan kaidah dasar (grundnorm) yang tidak lagi dapat dijelaskan secara hukum melainkan harus 14 Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, 2010, Pengantar Hukum Internasional, Alumni, Bandung, h. 46. 15 Ibid, h. 50-53. 14

diterima adanya sebagai hipotesa asal (ursprungshypothese). Kaidah dasar yang berkembang dari teori ini adalah prinsip pacta sunt servanda. 16 b. Prinsip Resiprositas (Timbal Balik) Prinsip resiprositas adalah ketika suatu negara mencari perbaikan akses di pasar negara lain, negara tersebut harus siap juga untuk memberikan konsesi yang dianggap menguntungkan atau memiliki nilai yang sama dengan konsesi yang diminta oleh negara mitra dagangnya tersebut. 17 Suatu negara ketika mengeluarkan kebijaksanaan dalam perdagangan internasionalnya menurunkan tarif masuk atas produk impor dari suatu negara, maka negara pengekspor produk tersebut wajib juga menurunkan tarif masuk untuk produk dari negara yang pertama tadi. Berdasarkan prinsip ini diharapkan setiap negara secara timbal balik saling memberikan kemudahan bagi lalu lintas barang dan jasa. 18 c. Prinsip Non-Diskriminasi Prinsip non-diskriminasi dalam hukum internasional publik memiliki pengertian hak dan kebebasan yang diberikan tanpa adanya perbedaan baik ras, jenis kelamin, bahasa atau agama. Isu non-diskriminasi dalam kaitannya dengan perlakuan terhadap asing telah dianggap pembahasan lain. Terdapat otoritas untuk menggunakan non-diskriminasi sebagai prinsip membatasi kebebasan negara dalam konteks tertentu, termasuk pengambilalihan, 16 Ibid, h. 51-52. 17 Direktorat Perdagangan RI, op.cit, h. 7. 18 Muhammad Sood, 2011, Hukum Perdagangan Internasional, Rajawali Pers, Jakarta, h. 45. 15

devaluasi mata uang, perpajakan, dan perdagangan ekspor. 19 Prinsip nondiskriminasi dalam kaitannya dengan hukum internasional privat, khususnya hukum perdagangan internasional terbagi menjadi prinsip MFN dan NT. d. Prinsip Most Favoured Nation Treatment MFN memiliki pengertian bahwa tindakan suatu negara pada umumnya tidak membatasi pemberian perlakuan khusus dimana tindakan tersebut diberikan kepada negara lainnya. 20 Perlakuan ini berlaku untuk semua area perdagangan yang ditangani oleh WTO, namun beberapa pengecualian diperbolehkan. Pengecualian yang diperbolehkan seperti beberapa negara anggota membentuk persetujuan perdagangan bebas yang hanya berlaku bagi negara-negara yang ada di dalam kelompok tersebut; negara anggota dapat memberikan special access kepada beberapa negara berkembang untuk masuk ke pasar mereka; dan suatu negara dapat mengenakan hambatan yang lebih tinggi terhadap produk-produk dari suatu negara yang dinilai melakukan tindakan yang tidak adil (unfair) dalam melakukan perdagangan. 21 e. Prinsip Perlakuan Nasional (National Treatment) Negara anggota diwajibkan untuk memberikan perlakuan sama atas barang-barang impor dan lokal 22 yang mensyaratkan suatu negara 19 Brownlie, Ian, 1998, Principles of Public International Law, cet. V, Oxford University, New York, h. 602 dan 604. 20 Jennings, Robert, dan Watts, Arthur, 1996, Oppenheim s International Law, Jilid I, cet. IX, Longman, London, h. 1326. 21 Direktorat Perdagangan RI, op.cit, h. 5. 22 Ibid. 16

memperlakukan hukum yang sama yang diterapkan terhadap barang-barang dan jasa yang telah memasuki pasar dalam negerinya dengan hukum yang diterapkan terhadap produk-produk atau jasa yang dibuat di dalam negeri. 23 f. Prinsip Transparansi (Transparency) Negara anggota dijawajibkan untuk bersikap terbuka/transparan terhadap berbagai kebijakan perdagangannya sehingga memudahkan para pelaku usaha untuk melakukan kegiatan perdagangan, sehingga negara anggota diharapkan untuk menotifikasi segala kebijakannya yang terkait dengan perdagangan barang dan jasa. Negara anggota diharapkan melakukan pemberitahuan atas segala kebijakannya yang terkait dengan perdagangan. Pemberitahuan tersebut baik dalam perdagangan barang maupun jasa. 24 g. Prinsip Kebebasan Berdagang Berdasarkan prinsip ini, setiap negara memiliki kebebasan untuk berdagang dengan setiap orang atau setiap negara. Kebebasan ini tidak boleh terhalang oleh karena negara memiliki sistem ekonomi, ideologi atau politik yang berbeda dengan negara lainnya. Kebebasan ini terkait erat dengan adanya fakta hukum bahwa setiap negara berhak untuk memilih sistem 23 Huala Adolf, 2015, Hukum Ekonomi Internasional Suatu Pengantar, cet. VI, Keni Media, Bandung, (selanjutnya disingkat Huala Adolf I), h. 24-25. 24 Direktorat Perdagangan RI, op.cit, h. 6. 17

politik, sistem ekonomi, dan sistem budayanya sendiri tanpa intervensi atau campur tangan negara lain. 25 h. Prinsip Pacta Sunt Servanda Prinsip ini berarti bahwa kesepakatan yang telah disepakati dan ditandatangani oleh para pihak harus dilaksanakan dengan itikad baik oleh para pihak. Prinsip ini juga diatur dalam Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (the Vienna Convention on the Law of Treaties). 26 1.8 Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu proses penalaran yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan untuk menyelidiki masalah yang memerlukan jawaban. Pengertian penelitian hukum ialah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi, 27 serta menemukan kasus-kasus yang terkait untuk memperkuat hasil penelitian. Penulis menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu dari sejumlah pendekatan yang dikenal dalam penelitian hukum normatif dengan memperhatian kaidah-kaidah penelitian yaitu sebagai berikut: 25 Huala Adolf I, op.cit, h. 16. Lihat General Assembly Declaration on the Friendly Relation and Cooperation among States in accordance with the Charter of the United Nation 1970. 26 Huala Adolf, 2013, Hukum Perdagangan Internasional, Rajawali, Jakarta, (selanjutnya disingkat Huala Adolf II), h. 16 27 Peter Mahmud, 2011, Penelitian Hukum, cet. VII, Kencana, Jakarta, (selanjutnya disebut Peter Mahmud I), h. 35. 18

a. Jenis Penelitian Berdasarkan permasalahan yang diteliti oleh penulis, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan karya tulis skripsi ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif berarti penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah sistem norma. Metode penelitian hukum normatif merupakan metode atau cara yang dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada. 28 Peter Mahmud Marzuki menyatakan pendapatnya mengenai penelitian hukum normatif, adalah suatu proses untuk menemukan suatu aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrindoktrin hukum untuk menjawab permasalahan hukum yang dihadapi, selain itu hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. 29 b. Jenis Pendekatan Pendekatan adalah cara pandang peneliti dalam memilih spektrum ruang bahasan yang diharapkan mampu memberikan kejelasan uraian dari suatu substansi karya ilmiah, 30 hendaknya disusun dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat. Dalam penelitian hukum terdapat 28 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, cet. XI, Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 13 14. 29 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normative & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, h. 34. 30 Pasek Diantha, 2016, Metodelogi Penelitian Hukum Normatif Dalam Justifikasi Teori Hukum, Prenada Media, Jakarta, h. 156 19

beberapa pendekatan, antara lain pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach), dan pendekatan konseptual (conceptial approach). 31 Dalam buku pedoman fakultas hukum universitas udayana, penelitian normatif umumnya mengenal 7 jenis pendekatan yaitu: 32 1. Pendekatan kasus (the case approach) 2. Pendekatan perundang-undangan (the statute approach) 3. Pendekatan Fakta (the fact approach) 4. Pendekatan Analisis Konsep Hukum (analytical and conceptual approach) 5. Pendekatan Frasa (word and phrase approach) 6. Pendekatan Sejarah (historical approach) 7. Pendekatan Perbandingan (comparative approach) Adapun pendekatan yang digunakan penulis dalam karya ilmiah skripsi ini adalah pendekatan kasus (the case approach), pendekatan perundangundangan (the statute approach) dan pendekatan fakta (the fact approach). Pendekatan kasus (the case approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan melakukan penelitian lebih dalam pada kasus terkait dengan mengidentifikasi putusan-putusan pengadilan yang telah berkualifikasi yurisprudensi untuk digunakan dalam perkara konkret yang sedang 31 ibid dan Peter Mahmud, 2008, Penelitian Hukum, cet. IV, Prenada Media Group, Jakarta, h. 133. 32 Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2013, Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, h. 80. 20

ditangani. 33 Penggunaan pendekatan kasus yang perlu dipahami oleh peneliti adalah ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada keputusan. 34 Kasus Panama v. Argentina, Panama sebagai negara yang merasa dirugikan oleh kebijakan yang dilakukan Argentina melakukan penyelesaian sengketa menurut Perjanjian WTO karena kedua belah pihak merupakan anggota dari WTO dan kebijakan tersebut terdapat dalam pengaturan dari GATS. Kasus ini juga dikaitkan dengan kasus-kasus yang memiliki alasan hukum dalam membantu menyelesaikan kasus Panama v. Argentina. Kasus ini telah dibawa ke DSB hingga tahap badan banding (Appelette Body). Pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) adalah penelitian lebih dalam dengan melakukan pengamatan terhadap undangundang dalam memahami hierarki dan asas-asas yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, baik umum atau khusus. 35 Pendekatan perundang-undangan berupa legislasi dan regulasi yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. 36 Penulisan karya ilmiah skripsi ini, penulis menganalisis instrumeninstrumen hukum internasional seperti Perjanjian WTO dan GATS yang berkaitan dengan kasus sehingga dapat ditemukan substansi dari permasalahan yang akan dikaji serta peraturan hukum nasional Argentina mengenai pajak. 33 Pasek Diantha, loc.cit. 34 Peter Mahmud I, op.cit, h. 119. 35 Pasek Diantha, op.cit, h. 159. 36 Peter Mahmud, 2009, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, (selanjutnya disebut Peter Mahmud II), h. 97. 21

Pendekatan Fakta (the fact approach) adalah penelitian lebih dalam yang penulis lakukan yang mengaitkan suatu peristiwa hukum dengan kasus yang diangkat. Fakta yang diangkat dalam skripsi ini, bahwa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Argentina terhadap status yang dimiliki Panama tidak serta merta dapat memberikan perlakuan yang berbeda dari negara kooperatif. c. Sumber Bahan Hukum 1. Bahan hukum primer adalah semua aturan tertulis yang ditegakkan oleh negara yang dapat ditemukan dalam putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (yurisprudensi), perundang-undang, keputusan eksekutif, dan putusan hukum agen-agen administrasi. 37 Peter Mahmud Marzuki berpandangan bahwa bahan hukum primer ini bersifat otoritatif, artinya mempunyai otoritas, yaitu merupakan hasil tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang untuk itu. 38 Bahan hukum primer yang berasal dari peraturan perundang-undangan serta ketentuanketentuan yang lebih khusus yang berkaitan dan digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain : - Agreement Establishing The World Trade Organization - Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Dispute - General Agreement on Trade in Services 37 Pasek Diantha, op.cit, h. 142. Lihat Morris Cohen dan Kent Olson, 1992, Legal Research In A Nutshell, West Publishing Co, Amerika Serikat, h. 3. 38 Peter Mahmud II, op.cit, h. 144-154. 22

2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, seperti rancangan peraturan perundang-undangan, hasil penelitian, buku-buku teks, jurnal ilmiah, surat kabar, pamflet, brosur, karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat di media massa dan berita di internet. 39 Penulisan skripsi ini menggunakan sumber dari kepustakaan seperti buku-buku, karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat dalam media massa maupun berita di internet yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, yaitu mengenai kebijakan Argentina yang dianggap merugikan Panama terhadap jasa. 3. Bahan hukum tersier menurut Peter Mahmud Marzuki merupakan bahan non hukum yang digunakan untuk menjelaskan, baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensiklopedi, dan lainlain. 40 d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum Teknik pengumpulan bahan-bahan hukum yang dipergunakan adalah teknik studi dokumen, yaitu dalam pengumpulan bahan hukum terhadap sumber kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas dengan cara membaca dan mencatat kembali bahan hukum tersebut yang kemudian dikelompokkan secara sistematis yang berhubungan dengan masalah dalam 39 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, op.cit, h. 47. 40 Ibid. 23

penulisan skripsi ini. Pengumpulan bahan-bahan hukum dilakukan untuk menunjang penulisan skripsi ini dengan melalui : 1. Pengumpulan bahan hukum primer dilakukan dengan cara mengumpulan instrumen internasional yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. 2. Pengumpulan bahan hukum sekunder dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan yang bertujuan untuk mendapatkan bahan hukum yang bersumber dari buku-buku, karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat dalam media massa maupun berita di internet yang terkait dengan permasalahan yang hendak dibahas dalam skripsi ini. 3. Pengumpulan bahan hukum tersier dilakukan dengan menggunakan kamus hukum. e. Teknik Analisa Bahan Hukum Teknik pengolahan bahan hukum yaitu setelah bahan hukum terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik deskripsi yaitu dengan memaparkan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. 41 Bahan hukum primer dan sekunder yang terkumpul selanjutnya diberikan penilaian (evaluasi), kemudian dilakukan interpretasi dan selanjutnya diajukan argumentasi. Argumentasi disini dilakukan oleh peneliti untuk memberikan preskripsi atau penilaian mengenai benar atau salah atau apa yang seyogyanya menurut hukum terhadap peristiwa yang terjadi, selanjutnya akan ditarik kesimpulan secara sistematis 41 Ronny Hanitijo, 1991, Metode Penelitian Hukum, cet. II, Ghalia Indo, Jakarta, h. 93. 24

agar tidak menimbulkan kontradiksi antara bahan hukum yang satu dengan bahan hukum yang lain. Teknik lainnya yang penulis gunakan adalah teknik analisis, yaitu pemaparan secara mendetail dari keterangan-keterangan yang didapat pada tahap sebelumnya yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini sehingga keseluruhannya membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan secara logis. 25