BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN TEORI. a. Pengertian Kanker Leher Rahim

BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks (leher rahim) adalah salah satu kanker ganas yang

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas berasal dari kata pubercere yang

GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 3, September 2017 ISSN

BAB I PENDAHULUAN menyepakati perubahan paradigma dalam pengelolaan masalah

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak semua manusia yang harus dijaga,

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC) diketahui

Kanker Serviks. 2. Seberapa berbahaya penyakit kanker serviks ini?

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU DALAM PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI POLI GINEKOLOGI RSUD DR PIRNGADI MEDAN TAHUN

BAB 4 HASIL PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN DENGAN PELAKSANAAN DETEKSI DINI KANKER SERVIK MELALUI IVA. Mimatun Nasihah* Sifia Lorna B** ABSTRAK

LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN. Saya bernama Hilda Rahayu Pratiwi / , sedang menjalani

BAB I PENDAHULUAN BAB II ISI

No. Responden: B. Data Khusus Responden

BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Foundation for Woman s Cancer (2013) kanker serviks adalah

BAB I PENDAHULUAN. penyakit kanker yang menempati peringkat teratas diantara berbagai penyakit kanker

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Kata Kunci : umur, paritas,usia menikah,stadium kanker serviks Daftar Pustaka : 15 buku

BAB I PENDAHULUAN. paling sering terjadi pada kisaran umur antara tahun.

BAB I PENDAHULUAN. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization

BAB II TINJAUAN TEORI

No. Responden. I. Identitas Responden a. Nama : b. Umur : c. Pendidikan : SD SMP SMA Perguruan Tinggi. d. Pekerjaan :

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. serviks uteri. Kanker ini menempati urutan keempat dari seluruh keganasan pada

BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks adalah kanker tersering nomor tujuh secara. keseluruhan, namun merupakan kanker terbanyak ke-dua di dunia pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang paling umum yang diakibatkan oleh HPV. Hampir semua

BAB I PENDAHULUAN. payudara, dan kanker ovarium (Maysaroh, 2013). Salah satu kanker yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. daerah leher rahim atau mulut rahim, yang merupakan bagian yang terendah dari

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya umur harapan hidup sebagai salah satu tujuan

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemampuan untuk mengatur fertilitas mempunyai pengaruh yang bermakna

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KANKER PAYUDARA dan KANKER SERVIKS

BAB I PENDAHULUAN. (Emilia, 2010). Pada tahun 2003, WHO menyatakan bahwa kanker merupakan

BAB I PENDAHULUAN. datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut. Sukaca (2009, p.25) menyatakan, kanker leher rahim (Kanker Serviks)

BAB I PENDAHULUAN. bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. 1

A. Pengetahuan Kanker Serviks NO. PERTANYAAN JAWABAN 1. Kanker leher rahim ( serviks ) merupakan penyakit?

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker leher rahim (kanker serviks) masih menjadi masalah

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan manusia tidak dapat melakukan aktivitas sehari-harinya. Keadaan

BAB 1 PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal.

BAB I PENDAHULUAN. rahim yaitu adanya displasia/neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyakit kanker

BAB I PENDAHULUAN. awal (Nadia, 2009). Keterlambatan diagnosa ini akan memperburuk status

BAB II TINJUAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masa kehamilan (Prawirohardjo, 2000). Menurut Manuaba (2001), tujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. kanker yang paling tinggi di kalangan perempuan adalah kanker serviks. yang paling beresiko menyebabkan kematian.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. uteri. Hal ini masih merupakan masalah yang cukup besar dikalangan masyarakat Di

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan terjadinya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. porsio. Untuk mengetahui adanya tanda-tanda awal keganasan servik. rahim dengan menggunakan mikroskop (Supriyanto, 2010)

BAB II TINJAUAN TEORI

Kanker Servix. Tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah kanker servik (Cervical Cancer), atau kanker pada leher rahim.

BAB I PENDAHULUAN. human papilloma virus (HPV) terutama pada tipe 16 dan 18. Infeksi ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mendorong, mengaktifkan atau menggerakkan dan yang mengarahkan

Seri penyuluhan kesehatan. Kanker Leher Rahim. Dipersembahkan dengan gratis. Oleh: Klinik Umiyah. Jl. Lingkar Utara Purworejo,

BAB I PENDAHULUAN. Kanker leher rahim adalah tumor ganas pada daerah servik (leher rahim)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kanker serviks adalah suatu penyakit kanker terbanyak kedua di seluruh dunia

Jurnal Siklus Volume 6 Nomor 2 Juni 2017 p-issn :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK GAMBARAN KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2013

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. serviks. Setiap 1 menit muncul 1 kasus baru dan setiap 2 menit meninggal 1 orang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan kanker serviks atau yang disebut juga sebagai kanker leher rahim

Tingkat Pengetahuan Siswi Sekolah Menengah Atas tentang Kanker Serviks dan Pencegahannya. Rosnancy Sinaga :

30/10/2015. Penemuan Penyakit secara Screening - 2. Penemuan Penyakit secara Screening - 3. Penemuan Penyakit secara Screening - 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. penderita kanker serviks baru di dunia dengan angka kematian karena kanker ini. sebanyak jiwa per tahun (Emilia, 2010).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai penyakit kanker yang menyerang kaum perempuan (Manuaba, 2008).

Beberapa Penyakit Organ Kewanitaan Dan Cara Mengatasinya

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA DALAM MENGHADAPI DYSMENORRHEA PADA SISWI KELAS XI SMA NEGERI 3 SLAWI

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG FLOUR ALBUS FISIOLOGI DAN FLOUR ALBUS PATOLOGI DI SMK NEGERI 2 ADIWERNA KABUPATEN TEGAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB XXIV. Kanker dan Tumor. Kanker. Masalah pada leher rahim. Masalah pada rahim. Masalah pada payudara. Masalah pada indung telur

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi uraian tentang teori-teori yang berkaitan dengan penelitian. Uraian pada bagian ini dimulai dari konteks atau ruang lingkup penelitian tentang konsep kanker serviks, terdiri dari definisi, penyebab, gejala, stadium, dan pencegahan. Setelah itu uraian tentang konsep pengetahuan terdiri dari definisi, sumber pengetahuan, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, tingkatan pengetahuan dan cara mengukur pengetahuan. Selanjutnya, uraian tentang konsep perilaku terdiri dari definisi, bentukbentuk perilaku, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, proses adopsi perilaku, kerangka konseptual, dan hipotesis penelitian 10

2.1 Konsep Kanker Serviks 2.1.1 Definisi kanker serviks Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh dan berkembang pada serviks atau mulut rahim, khususnya berasal dari lapisan epitel atau lapisan terluar permukaan serviks (Samadi, 2011). 2.1.2 Penyebab kanker serviks Kanker serviks disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor utama dan faktor-faktor risiko pemicu terjadinya kanker serviks. Faktor utama adalah human papilloma virus (HPV) tipe onkogenik (Samadi, 2011). Sedangkan faktor-faktor risiko pemicu kanker serviks (Temple dan Martin dalam Yarbro et al., 2011), yaitu merokok, memiliki pasangan seksual lebih dari satu, menggunakan obat-obat imunosupresan atau penekan kekebalan tubuh, ketidaktersediaan atau kurangnya skrining, usia yang lebih tua, penggunaan jangka panjang kontrasepsi oral, riwayat penyakit menular seksual, seks di usia muda, paparan diethylstilbestrol (DES) dalam rahim, diet rendah folat, karoten, dan vitamin C, dan multiparitas. 2.1.3 Gejala kanker serviks Gejala klinis yang ditimbulkan akibat kanker serviks berbeda-beda sesuai dengan stadiumnya. Pada stadium awal gejala yang muncul adalah perdarahan per vagina/lewat vagina pasca senggama atau perdarahan 11

spontan diluar masa haid, dan keputihan. Pada stadium lanjut, gejala yang ditunjukkan adalah keluarnya cairan dari liang vagina berbau tidak sedap, nyeri (panggul, pinggang, dan tungkai), gangguan berkemih, nyeri di kandung kemih dan rektum/anus. Jika kanker telah menyebar maka akan timbul gejala sesuai dengan organ yang terkena, misalnya penyebaran di paru-paru, liver, tulang, serta jika kambuh/residif maka gejala yang muncul yaitu bengkak atau edema tungkai satu sisi, nyeri panggul menjalar ke tungkai, dan gejala pembuntuan saluran kencing/obstruksi ureter (Samadi, 2011). 2.1.4 Stadium kanker serviks Pengobatan kanker serviks harus didasarkan pada penetapan stadiumnya. Pengobatan yang dijalani oleh seorang pasien kanker serviks harus sesuai atau berdasarkan stadium kanker yang dialaminya. Stadium kanker serviks menunjukkan tanda dan lokasi penyebaran kanker yang berbeda-beda, dan sekaligus sebagai parameter untuk menilai kondisi kesehatan pasien. Menurut FIGO (Federation International Of Gynecologic And Gynecology) stadium kanker serviks terdiri dari stadium 0 sampai stadium IVB. (Samadi, 2011). Distribusi stadium kanker serviks dapat dilihat pada Tabel 2.1.4 12

Tabel 2.1.4 Stadium kanker serviks Stadium Stadium 0 Stadium I Stadium IA Stadium IA1 Stadium IA2 Stadium IB Stadium IB1 Stadium IB2 Stadium II Stadium IIA Stadium IIB Stadium III Stadium IIIA Stadium IIIB Stadium IVA Stadium IVB Keterangan Tanda-tandanya yaitu carsinoma in situ, yaitu kanker yang masih terbatas pada lapisan epitel mulut rahim dan belum punya potensi menyebar ke tempat atau organ lain. Tanda-tandanya yaitu terbatas di uterus Tanda-tandanya yaitu diagnosis hanya dengan mikroskop (penyebaran horizontal 7mm) Tanda-tandanya yaitu kedalaman invasi 3 mm Tanda-tandanya yaitu kedalaman invasi > 3 mm dan 5 mm Tanda-tandanya yaitu terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara mikroskopik > IA2 Tanda-tandanya yaitu besar lesi/tumor/benjolan 4 cm Tanda-tandanya yaitu besar lesi/tumor/benjolan > 4 cm Tanda-tandanya yaitu invasi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bagian bawah vagina Tanda-tandanya yaitu tanpa invasi ke parametrium/jaringan disamping uterus Tanda-tandanya yaitu invasi ke parametrium Tanda-tandanya yaitu invasi mencapai dinding pangul, 1/3 bagian bawah vagina atau timbul hidronefrosis/bendungan ginjal Tanda-tandanya yaitu invasi pada 1/3 bagian bawah vagina Tanda-tandanya yaitu dinding panggul atau hidronefrosis Tanda-tandanya yaitu invasi mukosa kandung kemih/rektum atau meluas keluar panggul kecil Tanda-tandanya yaitu metastasis jauh 2.1.5 Pencegahan kanker serviks Pencegahan kanker serviks adalah suatu tindakan pencegahan yang dilakukan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Pencegahan kanker serviks terdiri dari: a. Pencegahan Primer Perilaku preventif primer adalah suatu tindakan pencegahan awal kanker yang utama. Hal ini untuk menghindari faktor-faktor resiko pemicu kanker serviks (Sukaca, 2009). Cara-cara pencegahan primer yang dapat dilakukan antara lain: 1. Menunda dan tidak melakukan hubungan seksual di usia dini 13

2. Setia pada pasangan dan tidak berganti-ganti pasangan seksual. 3. Menolak berhubungan seksual dengan orang yang mempunyai banyak pasangan. 4. Menolak berhubungan seksual dengan orang yang memiliki riwayat infeksi menular seksual. 5. Membatasi penggunaan jangka panjang kontrasepsi oral. 6. Melakukan vaksinasi HPV sebelum aktif melakukan hubungan seks. 7. Tidak merokok 8. Menjaga pola makan seimbang dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung folat, karoten, dan vitamin C. 9. Tidak multiparitas 10. Tidak menggunakan diethylstilbestrol (DES) paparan dalam rahim. b. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder adalah suatu tindakan pencegahan yang dilakukan selama periode patogenesis setelah suatu penyakit termanifestasi dalam tanda dan gejala (Potter dan Perry, 2005). Pencegahan sekunder kanker serviks, terdiri dari pemeriksaan pap smear, IVA, kolposkopi, dan tes HPV DNA. c. Pencegahan Tersier Perilaku preventif tersier merupakan tindakan preventif yang dilakukan pada orang sudah terkena penyakit ini, dengan mengikuti berbagai jenis 14

tindakan pengobatan untuk mencegah komplikasi dan kematian yang awal (SA, 2010). Ada beberapa hal penting yang dapat dilakukan oleh penderita kanker serviks yaitu menurunkan faktor resiko misalnya dengan menghilangkan perilaku seksual yang mengakibatkan terpapar dengan infeksi human papilloma virus (HPV), serta memperhatikan kebersihan organ kewanitaan. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki atau memodifikasi gaya hidup seperti menghilangkan kebiasaan merokok atau tidak merokok, berolahraga, istirahat (tidur), dan juga mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan asam folat. 2.2 Konsep Pengetahuan 2.2.1 Definisi pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap objek terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan diri sendiri. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo (2003) dalam Wawan dan M (2010)). 15

2.2.2 Sumber pengetahuan Menurut Potter dan Perry (2005), Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain: a. Tradisi Salah satu cara untuk mendapatkan pengetahuan yaitu belajar melalui tradisi. Tradisi merupakan suatu tindakan atau perbuatan yang sudah menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan sosial masyarakat tertentu, dan dilakukan secara turun temurun. Tradisi juga adalah suatu metode yang efisien untuk belajar. b. Para ahli atau pakar di bidang tertentu Pengetahuan juga didapatkan dengan mencari informasi dari pakar dibidangnya. Para pakar seringkali diminta untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. c. Pengalaman Seseorang juga belajar dari pengalaman. Jika pengalaman menyebabkan seseorang mempelajari sesuatu dengan tidak benar, maka orang tersebut menggunakan pengetahuan dengan tidak tepat. d. Belajar Belajar dengan pemecahan masalah juga merupakan cara lain untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Ausubel (1961) dalam Sarwono (2008), belajar juga dapat dilakukan dengan cara yaitu: 16

1. Belajar dengan menerima saja (reception learning) Pelajar hanya menyerap bahan-bahan yang tersedia baginya sehingga di masa yang akan datang ia bisa mereproduksi kembali. 2. Belajar dengan menemukan sesuatu (discovery learning) Pelajar menemukan sendiri materi yang harus dipelajarinya. Ia tidak hanya menyerap, tetapi mengorganisasi dan mengintegrasikan materimateri yang dipelajarinya ke dalam struktur kognitifnya. Pengulangan dari discovery learning meningkatkan kemampuan penemuan dari individu yang bersangkutan. 3. Belajar dengan Menghafal (rote learning) Pelajar mengingat-ingat bahan yang dipelajari sebagai rangkaian katakata. 4. Belajar dengan mengartikan (Meaningful learning) Pelajar berada dalam situasi yang mengandung sifat yaitu bahan yang akan dipelajari secara potensial mempunyai arti, dan pelajar mempunyai kecenderungan berpikir untuk menghubungkan informasiinformasi atau konsep-konsep baru dengan struktur kognitif yang sudah ada dan relevan. 2.2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut Wawan dan M (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang terdiri dari: 17

a. Faktor internal 1. Pendidikan Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam, 2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. 2. Pekerjaan Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. 3. Umur Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang 18

yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa. b. Faktor eksternal 1. Faktor lingkungan Menurut Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam (2003), lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. 2. Sosial budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi. 2.2.4 Tingkatan pengetahuan Sunaryo (2004), tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif, mencakup 6 tingkatan, yaitu: 1. Tahu Tahu, artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran bahwa seseorang itu tahu, adalah ia dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan. 19

2. Memahami Memahami, artinya kemampuan untuk menjelaskan dan menginterpretasikan dengan benar tentang objek yang diketahui. Seseorang yang telah paham tentang sesuatu harus dapat menjelaskan, memberikan contoh, dan menyimpulkan. 3. Penerapan Penerapan, yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat menggunakan hukum-hukum, rumus, metode dalam situasi nyata. 4. Analisis Analisis artinya kemampuan untuk menguraikan objek ke dalam bagianbagian lebih kecil, tetapi masih di dalam suasana struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain. Ukuran kemampuan adalah ia dapat menggambarkan, membuat bagan, membedakan, memisahkan, membuat bagan proses adopsi perilaku, dan dapat membedakan pengertian psikologi dengan fisiologi. 5. Sintesis Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Ukuran kemampuan adalah ia dapat menyusun, meringkaskan, merencanakan, dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada. 20

6. Evaluasi Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek. Evaluasi dapat menggunakan kriteria yang telah ada atau disusun sendiri. 2.2.5 Cara mengukur pengetahuan Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif (Arikunto (2006) dalam Wawan, dan M (2010), yaitu: a. Baik : hasil presentase 76% - 100% b. Cukup : hasil presentase 56% - 75% c. Kurang : hasil presentase < 56% 2.3 Konsep Perilaku 2.3.1 Definisi perilaku Perilaku merupakan suatu tanggapan atau respon seseorang terhadap rangsangan (stimulus) yang tampak oleh mata (nyata), karena Itu rangsangan sangat mempengaruhi perilaku (Skinner 1938 dalam Sarwono, 2008). 2.3.2 Bentuk-bentuk perilaku Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Sudarma (2008), Secara garis besar bentuk perilaku ada dua macam, yaitu: 21

1. Perilaku tertutup (covert behavior) Perilaku tertutup ditunjukkan dalam bentuk perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran dan reaksi lainnya yang tidak tampak. 2. Perilaku terbuka (over behavior) Perilaku terbuka merupakan bentuk tindakan nyata aktif 2.3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Perilaku dipengaruhi oleh faktor endogen (faktor genetik) dan faktor eksogen/eksternal. Faktor endogen atau genetik antara lain yaitu jenis ras, jenis kelamin, sifat fisik, sifat kepribadian, bakat pembawaan, dan intelegensi. Faktor eksogen atau faktor dari luar individu seperti faktor lingkungan, pendidikan, agama, sosial ekonomi, dan kebudayaan, serta faktor-faktor lain yaitu susunan saraf pusat, persepsi, dan emosi (Sunaryo, 2004). 2.3.4 Proses adopsi perilaku Menurut Notoatmodjo (1977), proses adopsi perilaku, yang mengutip pendapat Rogers (1974), sebelum seseorang mengadopsi perilaku, di dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses yang berurutan (akronim AIETA) yaitu: a. Awareness (kesadaran), individu menyadari adanya stimulus. b. Interest (tertarik), individu mulai tertarik pada stimulus. 22

c. Evaluation (menimbang-nimbang), individu menimbang-nimbang tentang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Pada proses ketiga ini subjek sudah memiliki sikap yang lebih baik lagi. d. Trial (mencoba), individu sudah mulai mencoba perilaku baru e. Adoption, individu telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, sikap, dan kesadarannya terhadap stimulus. Menurut Rogers, adopsi perilaku tidak selalu melewati tahap AIETA sehingga umumnya perilaku baru tersebut tidak langgeng. Sebaliknya, perilaku yang melalui proses AIETA akan bersifat langgeng. 2.4 Kerangka Teori Gambar 2.4.1 Kerangka Teori Hubungan Pengetahuan Tentang Anatomi dan Fisiologis Serviks dan Kanker Serviks dengan Perilaku Preventif Kanker Serviks Pengetahuan Perilaku preventif kanker serviks Terjadi kanker serviks A. Pengetahuan tentang serviks (anatomi dan fisiologi) B. Pengetahuan tentang kanker serviks 1. Perilaku preventif primer 2. Perilaku preventif sekunder 3. Perilaku preventif tersier Tidak terjadi kanker serviks Gambar 2.4.1 memperlihatkan hubungan pengetahuan tentang anatomi dan fisiologis serviks dan kanker serviks dengan perilaku preventif kanker serviks. Secara umum, pengetahuan dapat diperoleh melalui tradisi, para pakar, pengalaman dan proses belajar. Pengetahuan memegang peranan 23

penting dalam kehidupan seseorang, terutama bagi para wanita. Wanita yang memiliki pengetahuan baik, tentunya akan berespon terhadap keadaan atau kondisi disekitarnya termasuk masalah kesehatan yang muncul atau bahkan yang ia alami sendiri. Masalah kesehatan salah satunya yaitu masalah organ reproduksi wanita bagian dalam yaitu kanker serviks. Pengetahuan yang dimiliki oleh wanita akan sangat membantunya dalam memproteksi diri secara dini terhadap kanker serviks, terutama dalam melakukan berbagai upaya pencegahan. Upaya pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan melalui tiga tahapan yaitu perilaku pencegahan secara primer, sekunder, dan tersier. Perilaku pencegahan secara primer dapat dilakukan dengan cara menghindari faktor resiko sebelum muncul manifestasi tanda dan gejala kanker serviks. Perilaku pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan mengikuti skrining berupa tes pap atau IVA, kolposkopi, tes HPV DNA. Perilaku pencegahan tersier dilakukan dengan mengikuti berbagai pengobatan kanker serviks untuk mencegah komplikasi penyakit dan kematian yang lebih awal. Kemudian, bila perilaku pencegahan dilakukan baik dan sedini mungkin, maka kemungkinan untuk terkena kanker serviks sangat kecil. Kalau pun terdeteksi adanya lesi prakanker, akan segera diobati sehingga dapat disembuhkan. Sebaliknya, bila perilaku pencegahan ini diabaikan dan tidak dilakukan sama sekali, maka membahayakan kesehatan wanita itu sendiri karena bisa terkena kanker serviks. 24

2.5 Hipotesis a. H0: 1. Tidak terdapat hubungan yang sigfnifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang anatomi serviks dengan perilaku menikah lebih dari satu kali, menikah umur muda, melakukan hubungan seks umur muda, mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, perilaku memeriksakan diri di tempat pelayanan kesehatan terkait perdarahan per vagina dan keluhan keputihan, mempunyai anak umur muda, paritas, pemakaian pil KB, perilaku sering memakai antiseptik, perilaku menaburi bedak disekitar vagina, perilaku merokok, perilaku pemeriksaan pap smear dan IVA, perilaku mencari tempat pelayanan kesehatan untuk berobat, dan perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami. 2. Tidak terdapat hubungan yang sigfnifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang fisiologis serviks dengan perilaku menikah lebih dari satu kali, menikah umur muda, melakukan hubungan seks umur muda, mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, perilaku memeriksakan diri di tempat pelayanan kesehatan terkait perdarahan per vagina dan keluhan keputihan, mempunyai anak umur muda, paritas, pemakaian pil KB, perilaku sering memakai antiseptik, perilaku menaburi bedak disekitar vagina, perilaku merokok, perilaku pemeriksaan pap smear dan IVA, perilaku mencari tempat pelayanan 25

kesehatan untuk berobat, dan perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami. 3. Tidak terdapat hubungan yang sigfnifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang kanker serviks dengan perilaku menikah lebih dari satu kali, menikah umur muda, melakukan hubungan seks umur muda, mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, perilaku memeriksakan diri di tempat pelayanan kesehatan terkait perdarahan per vagina dan keluhan keputihan, mempunyai anak umur muda, paritas, pemakaian pil KB, perilaku sering memakai antiseptik, perilaku menaburi bedak disekitar vagina, perilaku merokok, perilaku pemeriksaan pap smear dan IVA, perilaku mencari tempat pelayanan kesehatan untuk berobat, dan perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami. b. H1: 1. Terdapat hubungan yang sigfnifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang anatomi serviks dengan perilaku menikah lebih dari satu kali, menikah umur muda, melakukan hubungan seks umur muda, mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, perilaku memeriksakan diri di tempat pelayanan kesehatan terkait perdarahan per vagina dan keluhan keputihan, mempunyai anak umur muda, paritas, pemakaian pil KB, perilaku sering memakai antiseptik, perilaku menaburi bedak disekitar vagina, perilaku merokok, perilaku pemeriksaan pap smear dan IVA, perilaku mencari tempat pelayanan 26

kesehatan untuk berobat, dan perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami. 2. Tidak terdapat hubungan yang sigfnifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang fisiologis serviks dengan perilaku menikah lebih dari satu kali, menikah umur muda, melakukan hubungan seks umur muda, mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, perilaku memeriksakan diri di tempat pelayanan kesehatan terkait perdarahan per vagina dan keluhan keputihan, mempunyai anak umur muda, paritas, pemakaian pil KB, perilaku sering memakai antiseptik, perilaku menaburi bedak disekitar vagina, perilaku merokok, perilaku pemeriksaan pap smear dan IVA, perilaku mencari tempat pelayanan kesehatan untuk berobat, dan perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami. 3. Tidak terdapat hubungan yang sigfnifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang kanker serviks dengan perilaku menikah lebih dari satu kali, menikah umur muda, melakukan hubungan seks umur muda, mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, perilaku memeriksakan diri di tempat pelayanan kesehatan terkait perdarahan per vagina dan keluhan keputihan, mempunyai anak umur muda, paritas, pemakaian pil KB, perilaku sering memakai antiseptik, perilaku menaburi bedak disekitar vagina, perilaku merokok, perilaku pemeriksaan pap smear dan IVA, perilaku mencari tempat pelayanan kesehatan untuk berobat, dan perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami. 27