BAB I PENDAHULUAN. dan keahlian tertentu kepada individu-individu guna mengembangkan bakat

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. hekekatnya untuk membangun suatu Negara dibutuhkan individu individu yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pelaku pembangunan pendidikan berupaya untuk menaikkan derajat mutu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejak awal Millenium ketiga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

BAB I PENDAHULUAN. yang menuntut manusia terus mengembangkan wawasan dan kemampuan di

memegang peranan yang sangat besar dalam kehidupan.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi dewasa

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalani hidup dan kehidupan, sebab pendidikan bertujuan untuk memberikan

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pendidikan memiliki peranan penting dalam mempersiapkan sumber

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan adalah suatu usaha untuk mewujudkan pembangunan di masa

BAB I PENDAHULUAN. untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. dirinya melalui penampilannya dengan menggunakan berbagai upaya. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (TIK) yang sangat

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN INQUIRY

BAB I PENDAHULUAN. tanggung jawab terhadap pembentukan sumber daya manusia yang unggul. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. yang bertanggung jawab terhadap penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM)

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, dengan teknologi dan komunikasi yang canggih tanpa mengenal

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan kaum wanita. Salah satu faktor pendukung berkembangnya. Dengan semakin berkembangnya dunia mode rambut yang sangat maju

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Melalui pendidikan yang maju, maka perkembangan suatu bangsa

BAB I PENDAHULUAN. ingin menjaga kecantikannya baik dari dalam atau pun dari luar. Pada dasarnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

BAB I PENDAHULUAN. IPTEK namun alat-alat pendukung perkuliahan seperti LCD kurang dimanfaatkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. IPTEK, dituntut sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing secara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan sebuah

BAB I PENDAHULUAN. hidup secara sempurna sesuai kodrat kemanusiaanya. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Perkembangan teknologi saat ini telah berkembang pesat, dimana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Upaya menanamkan pendidikan kepada seseorang diselenggarakan di

BAB I PENDAHULUAN. satu kendala tersebut disebabkan kurangnya kreatifitas guru-guru dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan upaya yang terorganisir yang

BAB I PENDAHULUAN. adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga yang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia

dikelola oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Mengengah Kejuruan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Menurut Muhaimin (2008: 333), kurikulum adalah seperangkat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan yang berkualitas menuntut pendidikan yang mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. SDM yang berkemampuan dan berketerampilan, mampu diandalkan dan. mampu menghadapi tantangan persaingan era pasar bebas.

BAB I PENDAHULUAN. kelas. 1 Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. peralatan praktik, penyempurnaan kurikulum maupun peningkatan. profesionalisme guru yang dilakukan secara nasional.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk mencerdaskan kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional mengartikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kualifikasi guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan dapat mengembangkan potensi

BAB I PENDAHULUAN. ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu kegiatan universal pada kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, manusia hampir tidak pernah dapat

BAB I PENDAHULUAN. dalam interaksi dirinya dengan lingkungannya. Hasil dari interaksi yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan meningkatkan mutu kehidupan setiap individu. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bertujuan untuk membentuk karakter dan kecakapan hidup. Nasional (UU No. 20/2003) Bab II Pasal 3, bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat,

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan bentuk pendidikan menengah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia, pemerintah. pembangunan pendidikan, karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu

RANI DIANDINI, 2016 PENDAPAT SISWA TENTANG PELAKSANAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN TATA HIDANG DI SMK NEGERI 2 BALEENDAH

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha yang dapat ditempuh untuk mengembangkan. dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki oleh

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dalam suatu bangsa atau negara. Sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ya Hedi Saputra, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1:

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu proses pengembangan individu dan kepribadian seseorang yang

BAB I PENDAHULUAN. demokratis, dan cerdas. Pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan syarat mutlak

. BAB I PENDAHULUAN. terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Vita Rosmiati, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan bagi bangsa Indonesia merupakan aspek yang sangat penting,

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. suatu masyarakat yang pintar, intelek, berkemampuan berfikir tinggi. Disamping itu

BAB I PENDAHULUAN. seamkin baik pula kualitas sumber daya manusianya.

BAB 1 PENDAHULUAN. sumber daya yang profesional adalah aspek yang saling berkaitan. dapat meningkat sesuai dengan yang diharapkan.

BAB I PENDAHULUAN. sarana untuk pengembangan diri. Dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini semakin pesat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dihadapkan pada tantangan-tantangan yang berat khususnya dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan perkembangan potensi bagi manusia agar bermanfaat bagi

BAB I PENDAHULUAN. yang berlaku. Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan. diluncurkan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013.

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup yang lebih baik. Agar dapat memiliki kemampuan dan

BAB I PENDAHULUAN. dipisahkan dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia sekarang ini selalu mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan persoalan pendidikan. Persoalan yang di hadapi perlu meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan menengah serta kejuruan. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya. untuk memberikan pengetahuan, wawasan, keterampilan dan keahlian tertentu kepada individu-individu guna mengembangkan bakat serta kepribadian mereka. Dengan pendidikan manusia berusaha mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi akibat adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat, Tersebarnya informasi yang semakin meluas dan seketika serta informasi dalam berbagai bentuk yang bervariasi tersaji dalam waktu yang cepat. Guru berperan didalam merancang berbagai peristiwa pembelajaran. Mengingat pentingnya pendekatan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, guru diharapkan dapat menciptakan kegiatan situasi belajar mengajar yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa, sedangkan siswa itu sendiri hendaknya dapat memotivasi dirinya sendiri untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penyampaian proses belajar mengajar staff pendidikan harus mampu mengajarkan kepada siswa agar lebih menarik. Guru harus mampu 1

2 menyampaikan materi pembelajaran dengan mempunyai cara tersendiri agar siswa mudah dan mengerti dengan materi yang di sampaikan yaitu dengan mengembangkan model pembelajaran. Kondisi ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN, 2008) yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Sekolah menengah kejuruan SMK adalah salah satu Lembaga Pendidikan Nasional yang memiliki peran yang sangat penting dalam bidang ketekhnikan. Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pengajaran (KTSP, 2008) SMK bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan pengetahuan kepribadian akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Untuk menyiapkan lulusan menjadi tenaga yang produktif, adaptif dan kreatif, SMK Negeri 3 Pematangsiantar mempunyai tiga jenis mata pelajaran yang digolongkan menjadi: Pelajaran Normatif, Adaptif dan Produktif. Pemangkasan Rambut Dasar adalah salah satu mata pelajaran produktif yang diterima siswa SMK Bidang Keahlian Tata Kecantikan. Pemangkasan rambut merupakan suatu tindakan mengurangi ukuran panjang rambut semula yang dilakukan dengan bantuan sisir, gunting dan jari jari, guna memperindah atau mengubah bentuk pola pangkasan sebelumnya menjadi suatu mode tatanan rambut yang baru sesuai dengan perkembangan mode

3 tren rambut saat itu dengan melihat kesesuaian bentuk wajah klien itu sendiri(rostamailis, 2008). Didalam pemangkasan dasar terbagi menjadi beberapa kelompok salah satunya yaitu pemangkasan rambut dasar solid paralelatau horizontal line. Pemangkasan dasar solid paralel (horizontal line) merupakan pemangkasan tanpa ada pengangkatan (0 ) dengan pola garis pangkas paralel dengan hasil akhir pangkasan berupa garis lurus, sama panjang antara rambut belakang, samping dan depan (Winarni,2001). Berdasarkan hasil temuan data pada mata pelajaran pemangkasan dasar di SMK Negeri 3 Pematangsiantar, baik melalui studi kepustakaan maupun melalui penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti (2014) menunjukkan antara lain: (1) penerapan model pembelajaran yang kurang mengembangkan kreativitas siswa melalui pemanfaatan sumber belajar dalam pembelajaran, (2) belum mengembangan model pembelajaran untuk keefektifan belajar mengajar, (3) aktifitas siswa yang masih rendah dalam pembelajaran, (4) materi/bahan ajar yang masih sulit diperpustakaan, (5) fasilitas ruang praktek/laboratorium yang masih kurang memadai, (6) hasil belajar (nilai mata pelajaran) berupa tugas/praktek atau latihan umumnya rendah. Pada mata pelajaran pemangkasan beberapa dari siswa yang tidak menguasai bagaimana melakukan pemangkasan rambut yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosa rambut, memparting rambut dan tekhnik memegang gunting. Terlihat dari pelaksanaan pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

4 Pemahaman dasar siswa kurang tentang mendiagnosa struktur rambut dan klasifikasi rambut yang berguna untuk menentukan arah tarikan rambut dalam pemangkasan, cara memparting kurang rapi dan ketebalan dalam mengambil section rambut dan tekhnik dalam memegang gunting dalam pelaksanaan memangkas rambut ketika dari step satu ke step selanjutnya tidak sama rata, terlihat dari hasil pemangkasan yang tidak rata dan rapi. Siswa juga masih memiliki keraguan dan kesiapan diri yang kurang dan takut akan salah dalam memangkas rambut. Apabila salah dalam memangkas rambut maka patal akibatnya, rambut tidak dapat dikembalikan seperti semula apabila salah dalam pemotongan, berbeda hanya dengan make up, apabila salah maka dapat dihapus dan diulang kembali. oleh karena itu siswa harus paham tentang dasar dalam pemangkasan, mengerti pola pemangkasan dan tekhnik-tekhnik dalam melakukan pemangkasan rambut. Pada mata pelajaran pemangkasan rambut Selain kendala di atas, juga ditemukan adanya permasalahan lain berkaitan dengan proses pembelajaran. Dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran pemangkasan rambut yang dilaksanakan 17 Juli 2014 bahwa, selama ini pembelajaran dilakukan dengan cara konvensional. Model pembelajaran yang kurang menarik perhatian siswa. Hal ini menyebabkan kurang tersampaikannya tujuan dalam proses belajar mengajar. Pada mata pelajaran pemangkasan rambut ada kompetensi yang belum tercapai diperkuat dengan ditemukannya nilai hasil belajar pemangkasan dasar yang kurang memuaskan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut ditunjukkan dari data hasil belajar siswa 2 tahun terakhir. Data sekunder hasil belajar

5 pemangkasan rambut siswa kelas XI SMK Negeri 3 Pematangsiantar dari Tahun 2012 2013 nilai siswa Tata Rias SMK Negeri 3 Pematangsiantar rata rata menurun. Pada tahun 2013 yang memperoleh nilai 89 70 hanya 23 siswa. Sementara yang memperoleh nilai 69 50 ada 37 siswa. Sedangkan di tahun 2012 yang memperoleh nilai 89 70 ada 34 siswa dan yang memperoleh nilai 69 50 ada 26 siswa. Perbedaan yang cukup jauh dari tahun 2012 dan 2013 hasil nilai belajar siswa pada mata pelajaran pemangkasan rambut. Mata pelajaran pemangkasan dasar merupakan mata pelajaran awal sebelum mengarah kepada mata pelajaran pemangkasan lanjutan. Oleh karena itu perlu pengetahuan dan pemahaman kuat untuk mampu melanjutkan ke mata pelajaran lanjutan.(silabus SMK Negeri 3). Mata pelajaran pemangkasan dasar merupakan mata pelajaran yang membutuhkan pengetahuan kemampuan berpikir holistik, kreatif, obyektif dan logistik jadi tidak hanya dalam bentuk menghafal melainkan dapat dipahami dan diaplikasikan. Suatu tekhnik pemangkasan rambut, jika hanya diperoleh dengan membaca teori buku cetak, tidak ada pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan siswa agar lebih memahami maka akan menyebabkan kurangnya daya serap siswa dan tidak tersampaikanlah arti tujuan pembelajaran tersebut. Dan permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan perilaku guru dalam ruangan, mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

6 Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya pengembangan desain model pembelajaran agar diperoleh suatu rancangan yang efektif, efesien, dan menarik sehingga diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Upaya ini dilaksanakan dengan memperbaiki proses yang diwujudkan melalui inovasi pengembangan model pembelajaran. Suatu model pembelajaran dikembangkan dengan kaidah kaidah tertentu sehingga membentuk suatu bidang pengetahuan. Sebagai suatu bidang pengetahuan, model pembelajaran dapat dipelajari dan kemudian diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Perlunya menggunakan suatu model pembelajaran dalam suatu pembelajaran karena mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Tanpa model pembelajaran yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit tercapai, dengan kata lain pembelajaran tidak dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Model pembelajaran sangat berguna, baik bagi guru maupun siswa, bagi guru model pembelajaran dapat dijadikan pedoman dan acuan bertindak yang sistematik dalam pelaksanaan langkah langkah pembelajaran. Bagi siswa dapat mempermudah proses belajar dan mempercepat memahami isi pembelajaran. Pengembangan tersebut dapat melalui pengembangan model pembelajaran Dick and Carrey. Pada penelitian ini dikembangkan model pembelajaran ini dikembangkan model pembelajran Dick and Carrey yaitu suatu model pembelajaran yang bersifat sistematis dan terdiri dari sepuluh langkah (1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, (2) melaksanakan analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi

7 tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan performasi, (5) mengembangkan butir butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, (8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) merevisi bahan pembelajaran, (10) mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.(dick and Carrey, 1990) Hal ini diperkuat dari hasil penelitian Baharuddin (2012), yang menyimpulkan Model Dick and Carrey sangat baik digunakan pada kompetensi praktek penggunaan dan pengaturan motor listrik mahasiswa pendidikan Tekhnik Elektro Unimed. Oleh karena itu peneliti juga ingin menulis hal yang sama pada mata pelajaran pemangkasan rambut. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Model Pembelajaran Dick and Carrey Pada Mata Pelajaran Pemangkasan Rambut Siswa Kelas XI SMK Negeri 3 Pematangsiantar.

8 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat diidentifikasi masalah yang ada sebagai berikut: 1. Hasil belajar siswa SMK Negeri 3 Pematangsiantar masih cenderung rendah. 2. Model pembelajaran yang diterapkan pada SMK Negeri 3 Pematangsiantar masih cenderung konvesional. 3. Model pembelajaran pemangkasan rambut dasar yang dilakukan selama ini masih monoton sehingga suasana pembelajaran terlihat membosankan dan tidak menarik. 4. Proses pembelajaran yang masih kurang efektif dilakukan di SMK Negeri 3 Pematangsiantar. 5. Masih belum ada tingkat pemahaman siswa pada mata pelajaran pemangkasan rambut dasar melalui pengembangan model pembelajaran Dick and Carrey. 6. Pengembangan model pembelajaran Dick and Carrey di SMK Negeri 3 Pematangsiantar Pada kompetensi dasar Pemangkasan Rambut Solid Paralel belum pernah dilaksanakan.

9 C. Pembatasan Masalah Dari identifikasi masalah tersebut, maka pengembangan model pembelajaran Dick and Carrey dibatasi dalam ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Materi pelajaran meliputi kompetensi dasar pemangkasan rambut dasar solid paralel dengan penjelasan dasar antara lain: (1) menjelaskan pengertian pemangkasan rambut rambut dasar solid paralel, (2) menjelaskan alat dan bahan yang digunakan dalam pemangkasan rambut dasar solid paralel, (3) menjelaskan tentang tekhnik tekhnik pemangkasan rambut dasar solid paralel yang meliputi tekhnik memegang gunting, tekhnik memparting rambut, tekhnik mengambil section rambut, melihat tingkat keseimbangan rata hasil pemangkasan rambut pada kelas XI Kecantikan Rambut SMK Negeri 3 Pematangsiantar. 2. Model pembelajaran yang dikembangkan berupa desain model pembelajaran Dick and Carrey. 3. Objek penelitian ini adalah siswa kelas XI Rambut pada semester Genap Bidang Keahlian Tata Kecantikan SMK Negeri 3 Pematangsiantar

10 D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, maka masalah penelitian dirumuskan Bagaimanakah pengembangan model pembelajaran Dick and Carrey pada mata pelajaran pemangkasan rambut dasar solid paralel di SMK Negeri 3 Pematangsiantar? E. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan model pembelajaran Dick and Carrey pada mata pelajaran pemangkasan rambut dasar solid paralel di SMK Negeri 3 Pematangsiantar. F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermakna bagi peneliti, guru-guru dan sekolah sebagai berikut, adalah: 1. Untuk memberikan pengalaman lebih konkret, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam mengembangkan model pembelajaran alternatif yang lebih komunikatif dan produktif dalam dunia pendidikan serta untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dan dapat diterapkan untuk proses pembelajaran pada mata pelajaran lain. 2. Dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran pemangkasan rambut dasar solid paralel dengan pembelajaran yang interaktif, menarik, dan menyenangkan bagi setiap siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar.

11 3. Sebagai salah satu alternatif dalam pemanfaatan model pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan untuk meningkatakan kualitas pembelajaran di kelas. 4. Sebagai bahan masukan bagi guru bidang studi produktif untuk menggunakan media pembelajaran yang efektif dan efisien guna meningkatkan hasil belajar siswa. 5. Sebagai bahan rujukan bagi peneliti untuk mendesain dan mengembangkan model pembelajaran guna memecahkan masalah sesuai bidang terutama ilmu yang diemban yakni ranah model pembelajaran

12