BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Peneliti Terdahulu Hasil penelitian Rahayu (2015) tentang Analisis Pembebanan Biaya Overhead Pabrik terhadap Harga Jual Produk pada UKM di Wilayah Sukabumi yaitu perusahaan kurang paham dalam memperlakukan BOP sesuai dengan kaedah yang benar, terlebih lagi perusahaan tersebut adalah usaha kecil dan menengah (UKM). Penelitian yang dilakukan Rosita dan Sunrowiyati (2014) tentang Analisis Biaya Overhead Pabrik Terhadap Penentuan Beban Pokok Produksi pada UD. Karya Mandiri Blitar mendapat kesimpulan bahwa Dengan menggunakan metode satuan produk beban pokok produksi untuk kendang jimbe dan kendang jawa lebih tinggi dari pada harga jual. Dengan menggunakan metode jam tenaga kerja langsung, beban pokok produksi untuk kendang jimbe, kendang jawa, rebana, bass habsi dan ketipung lebih rendah dari pada harga jual. Masing-masing sebesar 10.5%, 8%, 29%, 47%, 22%. Dengan menggunakan metode jam mesin, beban pokok produksi untuk kendang jimbe, kendang jawa, rebana, bass habsi dan ketipung lebih rendah dari pada harga jual yaitu masing-masing 14.5%, 5.5%, 24%, 48%, 19%. Dari perhitungan harga jual diketahui bahwa harga jual baru kendang jimbe dan kendang jawa lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga jual lama. Setiawan (2004) melakukan penelitian tentang Evaluasi atas Metode Penerapan Alokasi Overhead Menurut Departemen terhadap Penetapan Harga 8
9 Pokok Produksi pada PT Sonoco Indonesia mendapat kesimpulan bahwa dalam mengalokasikan overhead pabrik untuk setiap departemen sudah cukup baik, karena pihak manajemen menentukan pengalokasiannya berdasarkan survei pabrik yang dilakukan pada awal tahun. Penentuan tarif overhead pabrik yang ditentukan dimuka dengan menggunakan dasar jam tenaga kerja langsung merupakan langkah yang tepat karena dalam pengolahan produksi dilakukan hanya dua tahap saja yakni departemen spiral winder dan departemen finishing. B. Landasan Teori 1. Perngertian UKM Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Usaha kecil dan menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar untuk usaha kecil, dan tidak menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha kecil atau usaha besar untuk usaha menengah dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. 2. Akuntansi Biaya Menurut Horngren dkk., (2008) akuntansi biaya merupakan akuntansi yang menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam akuntansi manajemen dan
10 akuntansi keuangan. Akuntansi biaya mengukur serta melaporkan setiap informasi keuangan dan nonkeuangan yang terkait dengan biaya perolehan atau pemanfaatan sumber daya dalam suatu organisasi. Mulyadi (2010) menyatakan akuntansi biaya merupakan akuntansi yang membicarakan tentang penentuan biaya dari suatu barang yang diproduksi oleh perusahaan dalam rangka memenuhi pesanan ataupun mengisi persediaan yang akan dijual. Dengan demikian pengertian akuntansi biaya tidak terlepas dari dua pengertian yakni akuntansi dan biaya. Akuntansi adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan pelaporan dengan cara-cara tertentu dari transaksi keuangan serta penafsirannya. Hasil akhir dari proses akuntansi adalah Laporan Keuangan yang terdiri dari Neraca, Laporan Rugi-Laba, dan Laporan Perubahan Modal. Sedangkan pengertian biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dengan isatuan uang, yang telah terjadi atau yang mungkin akan terjadi untuk tujuan tertentu. Dengan demikian pengertian biaya secara luas mengandung unsur yaitu merupakan pengorbanan sumber ekonomi dan diukur dengan satuan uang. 3. Biaya Produksi Mulyadi (2010) menyatakan bahwa biaya produksi merupakan biayabiaya yang dikeluarkan dalam pengelolahan bahan baku menjadi produk. Biaya produksi membentuk kos produksi, yang digunakan untuk menghitung kos produk jadi dan kos produk pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Pengumpulan kos produksi sangat ditentukan oleh cara produksi. Secara garis
11 besar, cara memproduksi produk dapat dibagi menjadi dua macam: produksi atas dasar pesanan dan produksi massa. Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan melaksanakan pengelolahan produknya atas dasar pesanan yang diterima dari pihak luar. Contoh perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan antara lain adalah perusahaan percetakan, perusahaan mebel, perusahaan dok kapal. Perusahaan yang berproduksi berdasar produk massa melaksanakan pengolahan produksinya untuk memenuhi persediaan digudang. Umumnya produknya berupa produk standar. Contoh perusahaan yang berproduksi massa antara lain adalah perusahaan semen, pupuk, makanan ternak, bumbu masakan, makanan ringan dan tekstil. Perusahaan yang berproduksi berdasar pesanan, mengumpulkan kos produksinya dengan menggunakan metode kos pesanan (job order cost method). Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan kos produksi per satuan produk yang dihasilkan untuk memenuhi pesanan tersebut dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan. Metode penentuan kos produksi adalah memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam kos produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam kos produksi, terdapat dua pendekatan yaitu full costing dan variable costing. Metode full costing biaya produksi yang diperhitungkan dalam penentuan kos produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung
12 dan biaya overhead pabrik, baik yang berprilaku tetap maupun yang berprilaku variabel. Dalam metode variable costing, biaya produksi yang diperhitungkan dalam penentuan kos produksi adalah hanya terdiri dari biaya produksi variabel, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan overhead pabrik variabel. 4. Laporan Keuangan Laporang keuangan berdasarkan GAAP dan IFRS adalah merupakan produk atau hasil akhir dari suatu proses akuntansi. Inilah merupakan wujud jasa dari profesi akuntan. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan atau sebagai laporan pertanggung-jawaban manajemen atas pengelolaan perusahaan. Dalam siklus akuntansi manual tiap transaksi perusahaan dikelompokkan menjadi dua akun, dengan nilai rupiah pada transaksi didalam ayat jurnal. Penempatan nilai daya dana dan ekuiti adalah perlu karena pemakai laporan keuangan ingin mengetahui sesuatu mengenai nilai. Para pemakai menginginkan informasi mengenai nilai dan harga karena tujuan yang akan dicapai meliputi juga perubahan nilai (Syam, 2011). 5. Biaya Overhead Pabrik (BOP) Menurut Hansen dan Mowen (2004), biaya overhead pabrik adalah elemen biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, yang terdiri dari biaya bahan tidak langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya pabrik lainnya. Sedangkan menurut Mulyadi (2010) biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu:
13 a. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya: 1) Biaya bahan penolong Biaya yang sesacara kasat mata komposisinya kecil jika di telusuri di akhir produk yang dihasilkan tetapi berperan dalam menyelesaikan proses produksi produk tersebut. Misalnya lem dalam perusahaan percetakan, pernis dan paku dalam perusahaan mebel. Pengembang dan pelembut roti dalam perusahaan kue atau roti. 2) Biaya reparasi dan pemeliharaan Adalah biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan/ pemeliharaan mesin, kendaraan, perkakas (contoh suku cadang), bangunan pabrik dan peralatan pabrik lainnya. 3) Biaya tenaga kerja tidak langsung Adalah upah yang dibayarkan kepada karyawan pabrik yang secara fisik tidak berhubungan dengan proses pembuatan produk. Termasuk dalam kelompok ini antara lain upah mandor, gaji pegawai administrasi pabrik dll. 4) Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap Adalah biaya yang timbul karena adanya depresiasi/penyusutan akibat pengunaan dan waktu sehingga aktiva tetap tersebut mengalami penurunan penilaian akibat pemakian.
14 5) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu Adalah Biaya yang terjadi karena kesengajaan untuk memproteksi demi keamanan. Yang tergolong ke dalam kelmpok biaya ini adalah Biaya asuransi Gedung, kendaraan, Asuransi kecelakaan karyawan dll. 6) Biaya overhead pabrik lainnya yang memerlukan pengeluaran uang tunai. b. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi: 1) Biaya overhead pabrik tetap adalah BOP yang tidak berubah dalam kisaran tertentu. 2) Biaya overhead pabrik variabel adalah BOP yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. 3) Biaya overhead pabrik semi variable adalah campuran dari BOP tetap dan variabel. c. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen: 1) Biaya overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead expenses). Tarif BOP perdepartemen untuk mengestimasi biaya yang terjadi dalam departemen tertentu (misalnya departemen produksi) untuk penyesuian dalam tahun anggaran dan penggunaan tarif BOP per departemen digunakan dari jam kerja langsung aktual tahunan. Contoh Biaya gaji mandor departemen produksi.
15 2) Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen (indirect departemental overhead expenses). BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contoh Asuransi Gedung Pabrik yang dinikmati oleh beberapa departemen. Menurut Mulyadi (2010) penentuan tarif biaya overhead pabrik dapat dilakukan melalui tiga tahap,yaitu: a. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik. b. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk. c. Menghitung tarif biaya overhead pabrik. Karakteristik Biaya Overhead Pabrik Menurut Dunia dan Abdullah (2012) adalah : a. Tidak proporsional dengan volume produksi. b. Sulit ditelusur dan diidentifikasi langsung ke produk atau pesanan. c. Jumlahnya tidak material. 6. Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Menurut Dunia dan Abdullah (2012) dalam menghitunga tarif biaya overhead dapat dilakukan apabila taksiran atau anggaran biaya overhead pabrik dan tingkat kegiatan telah ditetapkan. Pemilihan basis alokasi yang paling layak sangatlah penting agar dapat menghasilkan informasi biaya yang berarti dan bernilai bagi manajemen. Dalam memilih basis alokasi yang akan digunakan sebagai angka penyebut dalam rumus penentuan tarif overhead pabrik harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
16 a. Adanya hubungan langsung antara basis alokasi yang dipilih dengan biaya overhead pabrik yang akan dibebankan. b. Paling mudah untuk dihitung dan diterapkan. c. Menentukan biaya tambahan yang paling sedikit. Ada beberapa basis alokasi yang dapat digunakan untuk menghitung tarif biaya overhead pabrik, yaitu sebagai berikut: a. Satuan produk Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan langsung membebankan BOP kepada produk baban BOP untuk setiap produk dihitung dengan rumus sebagai berikut: Biaya overhead pabrik taksiran = Tarif biaya overhead pabrik per unit Jumlah unit produksi taksiran b. Biaya bahan langsung Basis alokasi ini dapat digunakan apabila terdapat hubungan antara biaya bahan langsung dan biaya overhead pabrik, dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut: Biaya overhead pabrik taksiran x 100% = Presentase BOP dari BB langsung Biaya bahan langsung taksiran c. Biaya tenaga kerja langsung Basis alokasi ini dapat digunakan apabila biaya overhead pabrik mempunyai hubungan dengan biaya tenaga kerja langsung. Rumus untuk menghitung biaya overhead pabrik sebagai berikut:
17 Biaya overhead pabrik taksiran x 100% = Presentase BOP dari biaya TKL Biaya tenaga kerja langsung taksiran d. Jam tenaga kerja langsung (JTKL) Oleh karena ada keterkaitan yang sangat erat antara biaya tenaga kerja langsung dengan jumlah jam kerja langsung, maka BOP di bebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung dengan rumus sebagai berikut: Biaya overhead pabrik taksiran = Tarif BOP per jam tenaga kerja langsung Jam tenaga kerja langsung taksiran e. Jam mesin Apabila BOP berpariasi dengan waktu penggunaan mesin (contoh bahan bakar atau listrik dipakai untuk menjalankan mesin), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya adalah jam mesin. Dengan rumus sebagai berikut: Biaya overhead pabrik taksiran = Tarif biaya overhead pabrik per jam mesin Jumlah jam mesin taksiran 7. Penentuan Kapasitas Tingkat Produksi Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingkat kegiatan kapasitas yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP (Dunia dan Abdullah, 2012) adalah :
18 a. Kapasitas Teoritis Merupakan kapasitas untuk memproduksi pada kecepatan penuh tanpa berhenti (100%) dari aktivitas/kapasitas yang ditetapkan. Perusahaan dianggap mampu pada tingkatan yang maksimun tanpa memperhitungkan adanya hambatan baik yang berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. b. Kapasitas Praktis Kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan. Penetapan kapasitas praktis ini perlu dilakukan karena sangat tidak mungkin suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoritis. Dengan demikian perlu diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu dalam penentuan kapasitas seperti penghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena kerusakan mesin. c. Kapasitas Normal Adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Jika dalam penentuan kapasitas praktis hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktorfaktor intern perusahaan, maka dalam penentuan kapasitas normal diperhitungkan pula kecenderungan penjualan dalam jangka panjang.
19 d. Kapasitas Sesungguhnya Kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang. Untuk kelemahanya yaitu akan berakibat terjadinya perbedaan yang besar pada tarif Biaya Overhead Pabrik dari tahun ke tahun dan sebagai akibat perubahan yang besar pada tarif Biaya Overhead Pabrik dari periode ke periode. 8. Pengertian Harga Pokok Produksi Menurut Hansen & Mowen (2004) harga pokok produksi (cost of goods manufactured) mencerminkan total biaya barang yang diselesaikan selama periode berjalan. Biaya yang hanya dibebankan ke barang yang diselesaikan adalah biaya manufaktur bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Harga pokok produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang atau jasa selama periode bersangkutan, dengan kata lain bahwa harga pokok produksi merupakan biaya untuk memperoleh barang jadi yang siap dijual (Mulyadi, 2010).