BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISIS DATA LAPANGAN. Ananlisi ini menjadi salah satu sarana untuk mencari ilmu yang tidak

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II HARMONISA PADA GENERATOR. Generator sinkron disebut juga alternator dan merupakan mesin sinkron yang

Tenaga Uap (PLTU). Salah satu jenis pembangkit PLTU yang menjadi. pemerintah untuk mengatasi defisit energi listrik khususnya di Sumatera Utara.

BAB I PENDAHULUAN. Pada sebuah peralatan atau mesin berputar (rotary machine) sudah pasti terdapat

BAB I PENDAHULUAN. Dengan ditemukannya Generator Sinkron atau Alternator, telah memberikan. digunakan yaitu listrik dalam rumah tangga dan industri.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Dasar Teori Generator Sinkron Tiga Fasa

MODUL 3 TEKNIK TENAGA LISTRIK PRODUKSI ENERGI LISTRIK (1)

1 BAB I PENDAHULUAN. energi alternatif yang dapat menghasilkan energi listrik. Telah diketahui bahwa saat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. memanfaatkan energi kinetik berupa uap guna menghasilkan energi listrik.

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

BAB I PENDAHULUAN. putaran tersebut dihasilkan oleh penggerak mula (prime mover) yang dapat berupa

BAB III PLTU BANTEN 3 LONTAR

BAB I PENDAHULUAN. yang dipakai adalah tegangan dan arus bolak-balik ( AC). Sedangkan tegangan dan arus

Mesin AC. Dian Retno Sawitri

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ANALISIS PERBANDINGAN REGULASI TEGANGAN GENERATOR INDUKSI PENGUATAN SENDIRI TANPA MENGGUNAKAN KAPASITOR KOMPENSASI DAN DENGAN MENGGUNAKAN KAPASITOR

BAB II ISI. 2.1 Komponen Penting PLTU Penanganan Batubara

STUDI PENGARUH PERUBAHAN TEGANGAN INPUT TERHADAP KAPASITAS ANGKAT MOTOR HOISTING ( Aplikasi pada Workshop PT. Inalum )

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB III METODE PENELITIAN

Dampak Perubahan Putaran Terhadap Unjuk Kerja Motor Induksi 3 Phasa Jenis Rotor Sangkar

LISTRIK GENERATOR AC GENERATOR DAN MOTOR

BAB III OPERASI PARALEL GENERATOR PLTU UNIT 3/4 TANJUNG PRIOK

BAB IV DESAIN DASAR PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH DI KOTA BANDUNG

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,

Permasalahan. - Kapasitas terpasang 7,10 MW - Daya mampu 4,92 MW - Beban puncak 31,75 MW - Defisit daya listrik 26,83 MW - BPP sebesar Rp. 1.

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena serta hubungan-hubunganya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II DASAR TEORI. a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan tempat dimana. ke gardu induk yang lain dengan jarak yang jauh.

ANALISA PERBANDINGAN PENGARUH HUBUNGAN SHORT-SHUNT DAN LONG-SHUNT TERHADAP REGULASI TEGANGAN DAN EFISIENSI GENERATOR INDUKSI PENGUATAN SENDIRI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III 3 METODE PENELITIAN. Peralatan yang digunakan selama penelitian sebagai berikut : 1. Generator Sinkron tiga fasa Tipe 72SA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Arief Hario Prambudi, 2014

Kata Kunci : PLTMH, Sudut Nozzle, Debit Air, Torsi, Efisiensi

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan permintaan energi dalam kurun waktu menurut

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. adanya tambahan sumber pembangkit energi listrik baru untuk memenuhi

ANALISIS PENGOPERASIAN SPEED DROOP GOVERNOR SEBAGAI PENGATURAN FREKUENSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PLTU GRESIK

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III SISTEM KELISTRIKAN MOTOR INDUKSI 3 PHASA. 3.1 Rangkaian Ekivalen Motor Induksi Tiga Fasa

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS

ANALISIS PENYEBAB DAN UPAYA MINIMALISASI KERUSAKAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI DI WILAYAH KERJA PT PLN (PERSERO) AREA MEDAN RAYON LABUHAN

ALAT PEMBAGI TEGANGAN GENERATOR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Studi Pengaturan Arus Eksitasi untuk Mengatur Tegangan Keluaran Generator di PT Indonesia Power UBP Kamojang Unit 2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB IV PENGUJIAN, ANALISA DAN PEMBAHASAN

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

Disusun oleh Muh. Wiji Aryanto Nasri ( ) Ryan Rezkyandi Saputra ( ) Hardina Hasyim ( ) Jusmawati ( ) Aryo Arjasa

BAB I PENDAHULUAN. mendirikan beberapa pembangkit listrik, terutama pembangkit listrik dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... KATA PENGANTAR... HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR...

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISIS KINERJA GENERATOR DENGAN MENGGUNAKAN AVR. Analisis kinerja generator dengan menggunakan Automatic

MODIFIKASI ALTERNATOR MOBIL MENJADI GENERATOR SINKRON 3 FASA PENGUAT LUAR 220V/380V, 50Hz. M. Rodhi Faiz, Hafit Afandi

MOTOR LISTRIK 1 & 3 FASA

PEMBUATAN DAN PENGUJIAN AWAL GENERATOR AXIAL MAGNET PERMANEN KECEPATAN RENDAH

BAB I PENDAHULUAN. Pada suatu kondisi tertentu motor harus dapat dihentikan segera. Beberapa

MESIN ASINKRON. EFF1 adalah motor listrik yang paling efisien, paling sedikit memboroskan tenaga, sedangkan.

GLOSSARY STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG JASA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TENAGA LISTRIK

PEMELIHARAAN CB DAN ROTATING DIODA, SERTA SISTEM OPERASI PADA PLTU UNIT 3 PT INDONESIA POWER UBP SEMARANG

SEMINAR ELEKTRIFIKASI MASA DEPAN DI INDONESIA. Dr. Setiyono Depok, 26 Januari 2015

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN GENERATOR INDUKSI MAGNET PERMANEN SATU FASE KECEPATAN RENDAH

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN Sistem Eksitasi Pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi

BAB 1 PENDAHULUAN. Load Flow atau studi aliran daya di dalam sistem tenaga merupakan studi

BAB II GENERATOR SINKRON

BAB II MOTOR INDUKSI SEBAGAI GENERATOR (MISG)

STUDI PENGGUNAAN SISTEM PENDINGIN UDARA TEKAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI TRANSFORMATOR PADA BEBAN LEBIH

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik seluruh Indonesia (Statistik Ketenagalistrikan 2014, 2015)

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN EKSITASI TERHADAP DAYA REAKTIF GENERATOR

Speed Bumb sebagai Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan dan Terbarukan

BAB I PENDAHULUAN. I.I Latar Belakang

1. BAB I PENDAHULUAN

Studi Pembangunan PLTU 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau berkaitan dengan Krisis Energi di Kalimantan Tengah

BAB I PENDAHULUAN. dengan melalui 6 tahapan, yaitu raw material extraction, raw material preparation,

BAB III PENGUMPULAN DATA. Pusat Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Muara Karang terletak ditepi pantai

ANALISA PENGARUH TEMPERATUR AMBIENT TERHADAP KERJA KOMPRESOR SCREW (ULIR) DI PLTU LABUHAN ANGIN 2 X 115 MW

Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB III KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN

PERANCANGAN MINI GENERATOR TURBIN ANGIN 200 W UNTUK ENERGI ANGIN KECEPATAN RENDAH. Jl Kaliurang km 14,5 Sleman Yogyakarta

STUDI KESTABILAN SISTEM BERDASARKAN PREDIKSI VOLTAGE COLLAPSE PADA SISTEM STANDAR IEEE 14 BUS MENGGUNAKAN MODAL ANALYSIS

MESIN SINKRON ( MESIN SEREMPAK )

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TENAGA LISTRIK NO LOAD AND LOAD TEST GENERATOR SINKRON EXPERIMENT N.2 & N.4

BAB I PENDAHULUAN. Motor listrik dewasa ini telah memiliki peranan penting dalam bidang industri.

Efisiensi PLTU batubara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Di era yang serba modern seperti saat ini, energi merupakan salah satu hal penting

BAB I PENDAHULUAN. Energi listrik merupakan energi yang dihasilkan dari sumber energi lain

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

KINERJA GENSET TYPE EC 1500a MENGGUNAKAN BAHAN PREMIUM DAN LPG PENGARUHNYA TERHADAP TEGANGAN YANG DIHASILKAN

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian atau pengambilan data ini akan dilakukan di PLTU Labuhan Angin.Penelitian atau Pengambilan Data akan dilaksanakan setelah proposal diseminarkan dan disetujui. 3.2 Peralatan dan Data Sekunder Data sekunder yang digunakan untuk melakukan penelitian ini diperoleh dari data PLTU Labuhan Angin yaitu data generator, data beban yang dilayani generator, data temperatur pada bagian stator generator. Karena Penelitian ini merupakan study kasus pada PLTU Labuhan Angin maka percobaan tidak dilakukan oleh kami secara langsung tetapi dapat diamati dan diperoleh data tersebut dari PLTU Labuhan Angin. 3.3 Variabel yang Diamati Dalam penelitian iniada beberapa hal yang menjadi variabel untuk diamati dan akan dianalisa yaitu sebagai berikut: Karakteristik udara tekan Temperatur pada stator generator (keadaan aktual). Rugi-rugi pada generator. Daya output yang dihasilkan generator. Tegangan & arus eksitasi. Tahanan DC pada belitan stator. 31

3.4 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian dalam tugas akhir ini dapat dilihat pada flowchartdibawah ini: Diagram Alir (Flowchart) Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Perhitungan Nilai Efektivitas 32

1. Pengambilan Data Data yang dibutuhkan dari PLTU Labuhan Angin. Berikut ini spesifikasi generator : Generator sinkron 143,7 MVA Rating Tegangan 13,8 KV Rating Arus 6,014 A Berikut ini data-data yang dibutuhkan dalam penelitian. Karakteristik udara tekan. Temperatur pada stator generator (keadaan aktual). Rugi-rugi pada generator. Daya output yang dihasilkan generator. Tegangan & Arus eksitasi. Tahanan DC pada belitan stator. 2. Analisa Data Data-data yang telah diperoleh tersebut kemudaian digunakan untuk dilakukan perhitungan berdasarkan rumus yang telah ditentukan.data-data yang dibutuhkan tersebut telah diuraikan pada poin pengambilan data diatas. 3. Melakukan Perhitungan Suhu dengan Asumsi Beban Berdasarkan data-data tersebut dilakukanlah perhitungan untuk mencari temperatur pada bagian stator dari generator untuk berbagai keadaan, yaitu saat generator diasumsikan berbeban 15%, 25%, 35%, dan45%. 33

4. Menganalisa Hasil Perhitungan dengan Keadaan Aktual Data-data hasil perhitungan perlu dilakukan analisa terhadap suhu keadaan aktualgenerator. 5. Melakukan Perhitungan Nilai Efektivitas Setelah dilakukan analisa terhadap hasil perhitungan, selanjutnya dibandingkan hasil yang diperoleh secara perhitungan dengan hasil yang diperoleh dalam keadaan aktual. Dengan membandingkan kedua hasil ini, maka dapat ditentukan besarnya nilai efektivitas udara tekan dalam mendinginkan stator generator. 34

BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN 4.1 Hasil Survey Lapangan Nuansa Cina terekam pengerjaan proyek dipinjam dari pemerintah Cina. Para pekerja asal jelas dalam proyek pengerjaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan Angin, Tapanuli Tengah. Para pekerja asal Shanghai, Cina berseliweran. Tulisan beraksara Cina terpampang di berbagai sudut proyek. Material bangunan buatan Cina. Tak usah heran, karena memang uang Cina tampak berseliweran di antara sejumlah pekerja lokal, di lokasi proyek pengerjaan PLTU Labuan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapteng, Sabtu (18/10) dua hari lalu. Kebanyakan masih berusia muda. Dalam kontrak pinjaman dengan pemerintah Cina, memang diatur mengenai ketentuan soal pelaksana proyek, yang dimenangkan China National Machinery Export and Import Corporation (CMEC) sebagai kontraktor utama. Pihak CMEClah yang mendatangkan para pekerja Cina ke PLTU Labuan Angin berkapasitas 2 115 MW. Tak hanya SDM, material konstruksi bangunan pun sebagian besar didatangkan langsung dari Cina.Tak heran kalau sejumlah tulisan di konstruksi PLTU itu beraksara Cina. Mengenai total biaya pengerjaan proyek, Aji menjelaskan, mencapai 220 juta dolar AS atau sekitar Rp2 triliun. Dana itu dipinjam PT PLN dari pemerintah Cina, melalui pemerintah Indonesia. Nantinya, PT PLN akan membayar dana tersebut ke pemerintah Indonesia secara bertahap. 35

PLTU ini berbahan bakar batubara. Pemasok batubara untuk pengoperasian PLTU Labuan Angin diperoleh dari tiga pemasok, dua pemasok dari Muara Bungo, Provinsi Sumatera Selatan, dan satu pemasok lain dari Kalimantan Selatan Adapun cara kerjanya, batubara dari tambang dikirim ke coal hoper dan dihaluskan sampai ukuran 5 cm. Setelah itu dikirim ke pembangkit melalui konveyor. Selanjutnya batubara dihancurkan melalui crusher, dari ukuran 50 mm menjadi paling besar 10 mm, sebelum dibakar di ruang pembakaran, untuk memanaskan air di dalam boiler sampai menjadi uap PLTU berbahan bakar batubara, termasuk murah mengingat Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia (setelah Australia, 2006).Saat ini, harga batubara sekira Rp500 ribu-rp600 ribu per ton kalori 4.200-4.800.Per hari, diperkirakan Unit I PLTU membutuhkan 1.500 ton batubara.artinya, cost untuk batubara mencapai Rp750 juta-rp900 juta per hari.jumlah batubara sebesar itu untuk mendidihkan air sebesar 1.000 kubik menjadi uap. Unit I PLTU Labuan Angin ditargetkan beroperasi penuh mulai Desember nanti, dengan kapasitas 115 MW (Mega Watt) daya masuk system jaringan interkoneksi SUAR (Sumatera Utara, Aceh, dan Riau).Pertengahan September lalu, uji coba sudah dilakukan dengan melepaskan 50 MW masuk SUAR. Jika pengoperasian Unit I yang akan menghasilkan power sebesar 115 MW ini benarbenar sudah maksimal, maka CMEC selaku pelaksana proyek, akan menyerahkan pengoperasian sepenuhnya kepada pihak PLN. Sementara itu, tahap II dengan kapasitas daya yang sama, 115 MW, akan dioperasikan empat bulan setelah pengoperasian tahap I atau tepatnya April 2009. 36

Dengan beroperasinya kedua unit PLTU Labuan Angin ini, diharapkan krisis energi listrik di wilayah Sumut, Aceh dan Riau (SUAR) benar-benar akan teratasi. Saat ini, kebutuhan listrik untuk ketiga daerah yang masuk dalam jaringan SUAR ini sebesar 1.050 1.100 MW.Sedangkan energi yang diproduksi selama ini hanya sebesar 1.000 MW. Dengan masuknya daya sebesar 115 MW tahap pertama, secara otomatis akan menambah kapasitas daya untuk sistem jaringan interkoneksi SUAR, dan dapat dimanfaatkan untuk dikomersilkan kepada konsumen atau pelanggan umum yang berada di wilayah Sumut, Aceh dan Riau. Pembangkit seharusnya bisa memproduksi listrik 2 x 115 MW, hanya bisa menghasilkan kurang dari 50 MW.Pembangkit ini merupakan perwujudan dari dipulihkannya kerjasama ekonomi antara Indonesia-Tiongkok.Inilah proyek yang dananya diberikan oleh Tiongkok.Inilah proyek yang jadi simbul penting dari dimulainya babak baru hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok. Kerusakan yang terjadi adalah karena banyaknya batu yang tercampur dengan batubara.akibatnya batu-batu itulah yang menghantam boiler tiap hari secara terus-menerus. Diharapkan control yang begitu keras akan pemasokan batu bara yang masuk ke PLTU Labuhan Angin serta kontraktor-kontraktor untuk dapat menangani kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Dengan resiko ada pada dirinnya. Foto tumpukan batubara itu tidak ada bedanya dengan tumpukan lumpur.itulah sebabnya kalau PLTU ini batuk-batuk terus.dia harus menelan makanan yang sebenarnya tidak bisa dia telan. Memang ada kelemahan lain yang mendasar. Di samping kualitas batubara yang tidak cocok, prasarana PLTU ini 37

juga kurang tepat.atap gudang batubaranya kurang lebar.akibatnya, di musim hujan seperti sekarang ini, sangat sengsara.batubara yang kandungan ash (debu) nya sangat tinggi itu kena hujan, sehingga terjadi lumpur.itulah yang menyebabkan batubara tidak bisa mengalir lancar ke dalam boiler.juga tidak bisa dibakar dengan sempurna. Tapi proses penggantian pemasok ini perlu waktu. Kini diketahuilah dengan pasti bahwa kualitas batubara memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja PLTU Labuhan Angin.Bagian-bagian tertentu dari PLTU ini sudah terlanjur babak belur kena hajar batu-batu yang menyelundup atau diselundupkan ke dalam batubara selama lebih dari setahun ini.maka pada saat yang tepat nanti, PLTU ini harus dipaksa berhenti secara bergantian selama dua bulan.untuk diadakan perbaikan. Kami sangat menginginkan agar krisis listrik di Sumut yang sudah berlangsung selama empat tahun dan sudah teratasi seminggu yang lalu itu bisa berlangsung seterusnya.minggu lalu adalah tonggak penting teratasinya krisis listrik di Sumut.Bahkan beberapa hari terakhir Sumut sudah bisa mensedekahkan listriknya sebanyak 50 MW ke Riau. 4.2 Data Hasil Percobaan Data Umum Rating generator : 115 MW Rating tegangan : 13,8 kv Rating arus : 6014,1 A Frekuensi : 50 Hz Faktor daya : 0,8 Phasa : 3 38

Kecepatan putar : 3000 rpm Tahanan rotor (R F ) saat 75 o C : 0,1491 Ω Tahanan stator (R A ) saat 75 o C / fasa : 0,001226 Ω 4.3 Perhitungan Temperatur pada Belitan Stator Berdasarkan besarnya nilai arus dan tegangan eksitasi yang diukur, temperatur rata-rata pada belitan stator dapat dihitung menggunakan persamaan berikut : TT + tt TT + t 0 = R f R 0 235 + tt 235 + t 0 = R f R 0 235 + t = Rf R 0 (235+t 0 ) 235 + t = 1 R 0 (235+t 0 ) x R f 235 + t = 1 RR0 (235+t 0) x Vf I f t = 1 R 0 (235 + tt 0 )xx Vf I f 235 Dimana : t : Temperatur pada belitan stator ( o C) R 0 : Tahanan DC pada belitan stator saat t 0 (Ω) R F : Tahanan medan pada stator saat t (Ω) V F : Tegangan eksitasi (Volt) I F : Arus eksitasi (Ampere) 39

Beban 15% Tabel 3. Data Percobaan Untuk Asumsi Beban 15% Daya Aktif (MW) Daya Reaktif (MVar) Faktor Daya Arus Eksitasi (A) Tegangan Eksitasi (V) Temperatur Aktual Stator (oc) 20,3 23,1 0,85 654,3 104,3 72 Berdasarkan hasil pengukuran resistansi DC pada belitan stator, diperoleh nilai R 0 = 0,134 Ω pada saat t 0 = 15ºC. t = 1 R 0 (235 + tt 0 )xx Vf I f 235 t = 1 104,3 (235 + 15)xx 235 0,134 654,3 t = 62,401 ºC 40

Beban 25% Tabel 4. Data Percobaan Untuk Asumsi Beban 25% Daya Aktif (MW) Daya Reaktif (MVar) Faktor Daya Arus Eksitasi (A) Tegangan Eksitasi (V) Temperatur Aktual Stator (oc) 30 21,1 0,85 648,8 103 74 Berdasarkan hasil pengukuran resistansi DC pada belitan stator, diperoleh nilai R 0 = 0,134 Ω pada saat t 0 = 15ºC. t = 1 (235 + tt0)xx Vf 235 R0 If t = 1 103 (235 + 15)xx 235 0,134 648,8 t = 61,184 ºC 41

Beban 35% Tabel 5. Data Percobaan Untuk Asumsi Beban 35% Daya Aktif (MW) Daya Reaktif (MVar) Faktor Daya Arus Eksitasi (A) Tegangan Eksitasi (V) Temperatur Aktual Stator (oc) 40 19,0 0,85 661,3 105,6 68 Berdasarkan hasil pengukuran resistansi DC pada belitan stator, diperoleh nilai R 0 = 0,134 Ω pada saat t 0 = 15ºC t = 1 (235 + tt0)xx Vf 235 R0 If t = 1 0,134 t = 58,483 ºC 105,6 (235 + 15)xx 235 661,3 42

Beban 45% Tabel 6. Data Percobaan Untuk Asumsi Beban 45% Daya Aktif (MW) Daya Reaktif (MVar) Faktor Daya Arus Eksitasi (A) Tegangan Eksitasi (V) Temperatur Aktual Stator (oc) 53,8 19,4 0,85 589,8 91,5 68 Berdasarkan hasil pengukuran resistansi DC pada belitan stator, diperoleh nilai R 0 = 0,134 Ω pada saat t 0 = 15ºC. t = 1 (235 + tt0)xx Vf 235 R0 If t = 1 0,134 t = 54,435 ºC 91,5 (235 + 15)xx 235 589,8 43

Temperatur Stator ( C) 80 75 70 65 60 55 50 45 40 Beban vs Temperatur 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 Beban (%) Gambar 4.1 Grafik Pengaruh Perubahan Beban Terhadap Temperatur pada Stator Generator Dari grafik diatas dapat kita simpulkan bahwa setiap perubahan beban yang dilayanai generator pada PLTU Labuhan Angin maka temperatur pada generator tersebut juga berubah-ubah secara berkala. Pada pelayanan asumsi beban 15% temperatur rata rata pada stator generator 74,297 0 C, pada pelayanan asumsi beban 25% temperatur rata rata pada stator generator 73,03 0 C, pada pelayanan asumsi beban 35% temperatur rata rata 74,837 0 C, pada pelayanan asumsi beban 45% temperature rata-rata 66,0128 0 C. 44

4.4 Perhitungan Efektivitas Pendingin stator Generator Berdasarkan perhitungan tempertur pada stator generator, maka dapat ditentukan efektivitas dari pendingin stator generator dalam setiap keadaan beban, seperti berikut: Beban 15% Tabel 7. Data Temperatur Asumsi Beban 15% No Temperatur Aktual ºC Temperatur Perhitungan ºC 1 72 62,401 Maka didapat nilai efektivitas pendingin stator generator saat berbeban 15%, yaitu sebesar : Efektivitas 1 = TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT x 100% = 62,401 72 x 100% = 86,67 % 45

Beban 25% Tabel 8. Data Temperatur Asumsi Beban 25% No Temperatur Aktual ºC Temperatur Perhitungan ºC 1 74 61,184 Maka didapat nilai efektivitas pendingin stator generator saat berbeban 25%, yaitu sebesar : Efektivitas 2 = TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT x 100% = 61,184 74 = 82,68 % x 100% Beban 35% Tabel 9. Data Temperatur Asumsi Beban 35% No Temperatur Aktual ºC Temperatur Perhitungan ºC 1 68 58,483 Maka didapat nilai efektivitas pendingin stator generator saat berbeban 35%, yaitu sebesar : Efektivitas 3 = TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT x 100% = 58,483 68 = 86 % x 100% 46

Beban 45% Tabel 10. Data Temperatur Asumsi Beban 45% No Temperatur Aktual ºC Temperatur Perhitungan ºC 1 68 54,435 Maka didapat nilai efektivitas pendingin stator generator saat berbeban 45%, yaitu sebesar : Efektivitas 4 = TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT x 100% = 54,435 68 = 80,05 % x 100% Sehingga diperoleh efektivitas rata-rata dari pendingin stator generator, yaitu : Efektivitas = Efektivitas = Efektivitas = 335,4 % 4 Efektivitas = 83,85% EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE 1+EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE 2+eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee 3+EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE 4 4 86,67 % + 82,68 % + 86 % + 80,05 % 4 47

E f e k t i v i t a s (%) 87 86,75 86,5 86,25 86 85,75 85,5 85,25 85 84,75 84,5 84,25 84 83,75 83,5 83,25 83 82,75 82,5 82,25 82 81,75 81,5 81,25 81 80,75 80,5 80,25 80 Beban vs Efektivitas 15 25 35 45 B e b a n (%) Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Perubahan Beban Terhadap Efektivitas Pendingin Stator Generator 48

Dari gambar grafik diatas dapat dijelaskan bahwa perubahan beban yang dilayani generator sangat mempengaruhi juga pada perubahan nilai efektivitas pendinginan generator untuk mengamankan kinerja generator dari temperature yang meningkat. Pada beban 15% efektivitas sebesar 86,67%, pada beban 25% efektivitas sebesar 82,68%, pada beban 35% efektivitas sebesar 86%, pada beban 45% efektivitas sebesar 80,05%. Pendinginan generator menggunakan udara tekan adalah baik tetapi kurang konsisten. 49

BAB V KESIMPULAN & SARAN 5.1 KESIMPULAN Dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan sebagaiberikut : 1. Perubahan beban yang dilayani generator akan mempengaruhi perubahan temperature pada belitan di stator generator. Setelah analisa data temperature pada stator generator diperoleh bahwa temperature tidak konstan. Pada beban 15% temperature sebesar 62,401ºC, pada beban 25% temperature sebesar 61,184ºC, pada beban 35% temperature sebesar 58,483 ºC, pada beban 45% temperature sebesar 54,435ºC 2. Perubahan beban yang dilayani generator juga akan mempengaruhi perubahan efektivitas pendingin belitan di stator generator. Dari analisa perhitungan nilai efektivitas pendingin kita peroleh bahwa tidak konstan. Kita lihat data percobaan bahwa pada beban 15% efektivitas sebesar 86,67%, pada beban 25% efektivtas sebesar 82,68%, pada beban 35% efektivitas sebesar 86%, pada beban 45% efektivitas sebesar 80,05%. 3. Dari penelitian ini diperoleh bahwa kenaikan perubahan beban yang dilayani sangat mempengaruhi perubahan temperature yang ada di generator dan juga mempengaruhi perubahan nilai efektivitas pendingin generator, namun dari grafik yang ada menunjukkan akan ketidak stabilan perubahan nilai efektivitas pendingin terhadap perubahan kapasitas pelayanan beban. 50

4. Dari analisa data percobaan diperoleh efektivitas rata-rata pendingin generator menggunakan udara tekan sebesar 83,85%. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Udara Tekan sebagai media pendingin generator adalah baik dan layak untuk digunakans ebagai pendingin generator untuk mengurangi panas pada generator tetapi bersifat tidak stabil disamping itu udara tekan tidak lebih baik dari pada jenis media pendingin lain seperti gas hydrogen yang lebih efektiv. 5. Masalah PLTU Labuhan Angin sering terjadi dan tidak dapat menyuplai daya bahkan hanya 60 MW, ternyata dikarenakan salah satu alasan. Batubara yang digunakan sebagai bahan bakar tidak sesuai dengan standard dan banyak tercampur dengan batuan lain. 5.2 SARAN Dari penulisan tugas akhir ini adabe berapa saran yang diajukan penulis, sebagai berikut : 1. Sebaiknya peneliti selanjutnya dapat meneliti dua atau lebihjenis media pendingin generator dan membandingkan efektivitasnya. 2. Untuk pendinginan menggunakan udara tekan kurang efektive makas ebaiknya pendinginan generator ada baiknya jika menggunakan media yang lebih efektive dibanding udara tekan. 3. Dengan pengoperasian PLTU Labuan Angin, diharapkan investor akan lebih melirik kawasan Tapanuli, khususnya Sibolga-Tapteng untuk membangun industri. 51

4. Untuk pengolahan uap diharapkan lebih teliti dan cermat terhadap bahan bakar yang digunakan yaitu batubara serta pemasokannya untuk menghindari kerusakan alat dan efisiensi kerja generator. 52