Meidi Nugroho Adi Sudaryatno

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2016 Farid Ibrahim, Fiqih Astriani, Th. Retno Wulan, Mega Dharma Putra, Edwin Maulana; Perbandingan Ekstraksi

Lampiran 1. Peta klasifikasi penutup lahan Kodya Bogor tahun 1997

ANALISIS KELEMBABAN TANAH PERMUKAAN MELALUI CITRA LANDSAT 7 ETM+ DI WILAYAH DATARAN KABUPATEN PURWOREJO

LAPORAN PRAKTIKUM PEMETAAN TEMATIK BERBASIS CITRA PENGINDERAAN JAUH

ix

Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pemetaan Tingkat Kekeringan Berdasarkan Parameter Indeks TVDI Data Citra Satelit Landsat-8 (Studi Kasus: Provinsi Jawa Timur)

ANALISIS PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN TANAH DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT TERRA DAN AQUA MODIS (STUDI KASUS : DAERAH KABUPATEN MALANG DAN SURABAYA)

BAB III METODE PENELITIAN

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Analisis Rona Awal Lingkungan dari Pengolahan Citra Landsat 7 ETM+ (Studi Kasus :Daerah Eksplorasi Geothermal Kecamatan Sempol, Bondowoso)

Pemanfaatan Citra Landsat 7 ETM+ untuk Menganalisa Kelembaban Hutan Berdasarkan Nilai Indeks Kekeringan (Studi Kasus : Hutan KPH Banyuwangi Utara)

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

5. PEMBAHASAN 5.1 Koreksi Radiometrik

III. METODOLOGI. Gambar 1. Peta Administrasi Kota Palembang.

Oleh : Hernandi Kustandyo ( ) Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

LOGO PEMBAHASAN. 1. Pemetaan Geomorfologi, NDVI dan Temperatur Permukaan Tanah. 2. Proses Deliniasi Prospek Panas Bumi Tiris dan Sekitarnya

Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan

KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK. Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, Penginderaan Jauh, Citra Landsat 8, Indeks Vegetasi (NDVI, MSAVI2 dan WDRVI) vii

Nilai Io diasumsikan sebagai nilai R s

PEMANFAATAN CITRA ASTER DIGITAL UNTUK ESTIMASI DAN PEMETAAN EROSI TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI OYO. Risma Fadhilla Arsy

Sudaryanto dan Melania Swetika Rini*

Gambar 1.1 Siklus Hidrologi (Kurkura, 2011)

BAB III METODA. Gambar 3.1 Intensitas total yang diterima sensor radar (dimodifikasi dari GlobeSAR, 2002)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISA KELEMBABAN HUTAN BERDASARKAN NILAI TVDI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (Studi Kasus : Hutan KPH Banyuwangi Utara)

Norida Maryantika 1, Lalu Muhammad Jaelani 1, Andie Setiyoko 2.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH UNTUK MONITORING DENSIFIKASI BANGUNAN DI DAERAH PERKOTAAN MAGELANG

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN HASIL

PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 UNTUK IDENTIFIKASI NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) DI KECAMATAN SILAT HILIR KABUPATEN KAPUAS HULU

THE MULTISPECTRAL DATA ANALYSIS TO IDENTIFICATE GEOTHERMAL POTENTIAL

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

DAFTAR TABEL. No. Tabel Judul Tabel No. Hal.

PENGARUH FENOMENA LA-NINA TERHADAP SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN KABUPATEN MALANG

PEMETAAN SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ASTER DI PERAIRAN LAUT JAWA BAGIAN BARAT MADURA

ESTIMASI DISTRIBUSI SPASIAL KEKERINGAN LAHAN DI KABUPATEN TUBAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

JURNAL GEOGRAFI Media Pengembangan Ilmu dan Profesi Kegeografian

BAB II DASAR TEORI Koreksi Geometrik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo)

Aplikasi Penginderaan Jauh Untuk Monitoring Perubahan Ruang Terbuka Hijau (Studi Kasus : Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Citra Satelit Landsat

Pemanfaatan Data Landsat-8 dan MODIS untuk Identifikasi Daerah Bekas Terbakar Menggunakan Metode NDVI (Studi Kasus: Kawasan Gunung Bromo)

PEMANFAATAN SALURAN THERMAL INFRARED SENSOR (TIRS) LANDSAT 8 UNTUK ESTIMASI TEMPERATUR PERMUKAAN LAHAN

METODOLOGI. Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA. permukaan lahan (Burley, 1961 dalam Lo, 1995). Konstruksi tersebut seluruhnya

A JW Hatulesila. Analisis Spasial Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk Penanganan Perubahan Iklim di Kota Ambon. Abstrak

3. BAHAN DAN METODE. Penelitian yang meliputi pengolahan data citra dilakukan pada bulan Mei

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Suhu Udara Perkotaan

LAPORAN PRAKTIKUM PENGINDERAAN JAUH KOMPOSIT BAND CITRA LANDSAT DENGAN ENVI. Oleh: Nama : Deasy Rosyida Rahmayunita NRP :

11/25/2009. Sebuah gambar mengandung informasi dari obyek berupa: Posisi. Introduction to Remote Sensing Campbell, James B. Bab I

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print)

BAB I PENDAHULUAN. and R.W. Kiefer., 1979). Penggunaan penginderaan jauh dalam mendeteksi luas

Geo Image 5 (2) (2016) Geo Image.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Gambar 11. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321

KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN

Penginderaan Jauh Dan Interpretasi Citra Khursanul Munibah Asisten : Ninda Fitri Yulianti

Analisa Perubahan Tutupan Lahan di Waduk Riam Kanan dan Sekitarnya Menggunakan Sistem Informasi Geografis(SIG) dan data citra Landsat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KEMAMPUAN SALURAN TERMAL CITRA LANDSAT 7 ETM+ DAN CITRA ASTER DALAM MEMETAKAN POLA SUHU PERMUKAAN DI KOTA DENPASAR DAN SEKITARNYA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 2. TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Geodesi Undip Juli 2017

MODEL INDEKS TVDI (TEMPERATURE VEGETATION DRYNESS INDEX) UNTUK MENDETEKSI KEKERINGAN LAHAN BERDASARKAN DATA MODIS-TERRA

memberikan informasi tentang beberapa daftar penelitian LAI dengan pendekatan optik dan hukum Beer-Lambert.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENENTUAN TINGKAT KEKERINGAN LAHAN BERBASIS ANALISA CITRA ASTER DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Pemetaan Potensi Kekeringan Lahan se-pulau Batam menggunakan Teknik Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK. Kata Kunci: kebakaran hutan, penginderaan jauh, satelit Landsat, brightness temperature

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (Tahura

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Jun, 2013) ISSN:

BAB III PEMBAHASAN. 3.1 Data. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa :

GD 319 PENGOLAHAN CITRA DIGITAL KOREKSI RADIOMETRIK CITRA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam Pasal 12 Undang-undang Kehutanan disebutkan bahwa. penyusunan rencana kehutanan. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan

I PENDAHULUAN. α =...(1) dimana, α : albedo R s : Radiasi gelombang pendek yang dipantulkan R s : Radiasi gelombang pendek yang datang

III. METODE PENELITIAN. berlokasi di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Taman Nasional Way

Jurnal Geodesi Undip April 2017

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan

BAB III BAHAN DAN METODE

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only. 23 LAMPIRAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia 123

BAB III. METODOLOGI 2.5 Pengindraan Jauh ( Remote Sensing 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Data dan Alat Penelitian Data yang digunakan

Latar belakang. Kerusakan hutan. Perlu usaha: Perlindungan Pemantauan 22/06/2012

Transkripsi:

PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 UNTUK PENENTUAN ZONASI KEKERINGAN PERTANIAN DI SEBAGIAN KABUPATEN GROBOGAN DENGAN METODE TVDI (TEMPERATURE VEGETATION DRYNESS INDEX) Meidi Nugroho Adi meidi_nugroho@yahoo.com Sudaryatno sudaryatno@ugm.ac.id Abstract This study aims to determine the pattern of agricultural drought in Grobogan based on TVDI (Temperature Vegetation Dryness Index) indices. Remote sensing imagery used in this study are Landsat 8 recording of May until October. Obtained R 2 value of 0,7207 for the regression analysis between SAVI transformation and by calculating the density of the canopy, the RMS difference values obtained at 0,177. Regression between the surface temperature of the extracted image with measurement in field R 2 value of 0,7275 for bands 10 and 0,6514 for the band 11. Based on test accuracy, the value of RMS difference of 5,601 for bands 10 and 7,586 for the band 11. In this research, July, August and September is dry periods in Grobogan. By drought duration map is known that the District Karang Rayung, Penawangan, Pulokulon, Kradenan, Wirosari, Toroh, Purwodadi, Tawangharjo, Gabus, and Ngaringan agricultural drought with a duration of > 3 months. Keywords : SAVI, TVDI, Agricultural Drought, Landsat 8 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kekeringan pertanian di Kabupaten Grobogan berdasarkan indeks TVDI (Temperature Vegetation Dryness Index). Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah Landsat 8 perekaman bulan Mei hingga Oktober. Diperoleh nilai R 2 sebesar 0,7207 untuk analisis regresi antara transformasi indeks vegetasi SAVI dengan perhitungan kerapatan tajuk di lapangan serta untuk uji akurasi diperoleh nilai RMS difference sebesar 0,177. Uji regresi antara nilai suhu permukaan hasil ekstraksi citra dengan hasil pengukuran langsung di lapangan diperoleh nilai R 2 sebesar 0,7275 untuk band 10 dan 0,6514 untuk band 11. Kemudian berdasarkan uji akurasi, diperoleh nilai RMS difference sebesar 5,601 untuk band 10 dan 7,586 untuk band 11. Dalam penelitian ini diketahui bahwa bulan Juli, Agustus, dan September merupakan periode kering di Kabupaten Grobogan. Berdasarkan peta durasi kekeringan diketahui bahwa Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Pulokulon, Kradenan, Wirosari, Toroh, Purwodadi, Tawangharjo, Gabus, dan Ngaringan mengalami kekeringan pertanian dengan durasi > 3 bulan. Kata kunci : SAVI, TVDI, Kekeringan Pertanian, Landsat 8

PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang memiliki iklim tropis, serta tidak lepas dari pengaruh angin muson barat maupun angin muson timur. Dalam kondisi normal, angin muson barat bersifat basah, sehingga menyebabkan di Indonesia mengalami musim penghujan. Sedangkan angin muson timur bersifat kering, menyebabkan di Indonesia mengalami musim kemarau. Akan tetapi adanya perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan durasi musim penghujan dan musim kemarau. Apabila musim kemarau berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan persediaan air di dalam tanah sangat terbatas, maka dapat menyebabkan terjadinya kekeringan pada suatu wilayah. Teknologi penginderaan jauh mengalami perkembangan yang pesat dewasa ini. Hal tersebut dapat menunjang penyediaan data untuk memecahkan permasalahan kekeringan. Teknologi penginderaan jauh memiliki kelebihan dalam memberikan informasi secara lebih cepat dengan cakupan pengamatan yang lebih luas. Salah satu produk teknologi penginderaan jauh yang tergolong masih baru adalah citra Landsat 8. Citra Landsat 8 memiliki keunggulan dalam penyajian gambar dengan tingkat sensitifitas 16 bit, sehingga objek - objek lebih mudah untuk dibedakan. Selain itu citra Landsat 8 juga menunjang untuk penelitian yang bersifat monitoring karena tersedia secara gratis dan memiliki data yang bersifat time series. Penentuan zonasi kekeringan dapat dilakukan melalui ekstraksi suhu permukaan (land surface temperature) band termal citra Landsat 8 serta transformasi indeks vegetasi SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index). Transformasi SAVI dipilih karena dapat menonjolkan informasi vegetasi dengan meminimalisir pengaruh objek tanah. Hal tersebut sesuai dengan kondisi tutupan vegetasi di daerah penelitian yang didominasi oleh vegetasi kerapatan rendah. Melalui data suhu permukaan dan transformasi indeks vegetasi, maka akan dihasilkan indeks TVDI (Temperature Vegetation Dryness Index). TVDI merupakan indeks kekeringan yang ditentukan berdasarkan hubungan antara suhu permukaan dan indeks vegetasi (Sandholt, 2002). Kabupaten Grobogan adalah salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki riwayat kekeringan hampir setiap tahun. Meskipun terdapat Waduk Kedung Ombo, namun karena pendistribusian air tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka kekeringan tetap terus melanda Kabupaten Grobogan. Kabupaten Grobogan memiliki relief berupa daerah perbukitan serta dataran yang mendominasi di bagian tengahnya. Oleh karena materi batuan yang mendominasi merupakan batuan gamping, maka akan sangat berpengaruh terhadap kelembaban dan kembang kerut tanah. Saat kelembaban tanah rendah dan kembang kerut tanah tinggi, dapat dipastikan bahwa tidak ditemukan air yang cukup di permukaan tanah. Tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengkaji akurasi transformasi indeks vegetasi SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) dari citra Landsat 8 untuk mendapatkan informasi kerapatan vegetasi. 2. Mengkaji akurasi berbagai saluran TIRS (Thermal Infrared Sensor) citra Landsat 8 untuk mendapatkan informasi sebaran suhu permukaan. 3. Mengkaji sebaran kekeringan di Kabupaten Grobogan berdasarkan indeks TVDI (Temperature Vegetation Dryness Index) yang diekstrak dari suhu permukaan (Land Surface Temperature) dan indeks SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index). 2

Penginderaan jauh sistem termal bekerja pada bagian spektrum inframerah termal yang diemisikan oleh objek yang ada di permukaan bumi. Tenaga termal dapat digunakan untuk mengenali objek di permukaan bumi melalui pengukuran suhu benda dengan bantuan sinar matahari. Sinar matahari berperan sebagai sumber energi utama. Semua objek yang ada dipermukaan bumi juga memiliki tenaga pancaran energi saat terkena sinar matahari, itulah yang akan ditangkap oleh sensor penginderaan jauh. Ekstraksi suhu permukaan dapat dilakukan melalui pengolahan citra pada saluran termal citra Landsat 8. Hal tersebut berangkat dari konsep bahwasanya setiap benda yang mempunyai suhu diatas nol mutlak dapat memancarkan energi radiasi yang berbentuk energi elektromagnetik (Lillesand and Kiefer, 1994). TVDI merupakan indeks kekeringan yang ditentukan berdasarkan hubungan antara suhu permukaan dan indeks vegetasi. Indeks tersebut diperoleh hanya berdasarkan input dari informasi satelit penginderaan jauh (Sandholt, 2002). Suhu permukaan diperoleh dari hasil pengolahan citra penginderaan jauh termal. Sedangkan kerapatan vegetasi diperoleh dari hasil transformasi indeks vegetasi. Berdasarkan teorinya, suhu permukaan sebagai fungsi dari indeks vegetasi yang merepresentasikan dari rentang kering hingga basah. Dengan meningkatnya jumlah vegetasi hijau, suhu permukaan menurun. Untuk kondisi kering, hubungan negatif didefinisikan oleh sisi atas, yang merupakan batas atas suhu permukaan untuk jenis permukaan tertentu (Hadi, 2011). Jika suatu permukaan basah, suhu permukaan akan menjadi rendah. Sebaliknya jika permukaan kering, suhu permukaan akan meningkat. Kekeringan pertanian adalah suatu periode ketika air tanah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman sehingga pertumbuhannya terhambat, bahkan tanaman mati (Changnon, 1987). Dapat dikatakan bahwa kekeringan pertanian merupakan kekeringan yang berdampak terhadap pertumbuhan tanaman. Kekeringan pertanian sebenarnya merupakan dampak dari kekeringan meteorologi yang berdampak terhadap produksi tanaman pangan. Kekeringan pertanian terjadi akibat kadar lengas tanah berada dibawah titik layu permanen tanaman sehingga tidak mencukupi untuk mempertahankan pertumbuhan tanaman. METODE PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat 8 perekaman bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober. Selain itu dibutuhkan juga peta RBI Kabupaten Grobogan skala 1 : 25.000 sebagai acuan koreksi geometrik dan cek lapangan. Koreksi geometrik dilakukan untuk menempatkan kembali posisi piksel pada posisi yang semestinya, sehingga citra yang terekam sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Koreksi geometrik dilakukan dengan menggunakan acuan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 25.000 wilayah penelitian. Kemudian koreksi radiometrik dilakukan untuk membuat nilai piksel yang ada pada citra benar - benar merepresentasikan pantulan objek yang sebenarnya. Transformasi indeks vegetasi adalah suatu upaya untuk mengubah nilai piksel citra agar menghasilkan citra dengan nilai piksel baru yang merepresentasikan variasi vegetasi. Transformasi indeks vegetasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI). Transformasi ini diajukan oleh Huete (1988), dapat menghasilkan nilai indeks vegetasi dengan meminimalisir pengaruh objek tanah. Nilai yang dihasilkan oleh 3

transformasi indeks vegetasi SAVI ini berkisar antara -1 dan 1. Adapun persamaan yang digunakan transformasi indeks vegetasi SAVI adalah : SAVI = [(NIR RED) / (NIR + RED + L)] (1 + L) Dimana NIR adalah saluran inframerah dekat, RED adalah saluran merah, dan L adalah faktor adjustment tanah global. Berdasarkan kondisi tutupan vegetasi di daerah penelitian yang tergolong rendah, maka nilai L yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,5. Ekstraksi suhu permukaan dilakukan untuk mendapatkan informasi sebaran suhu permukaan melalui pengolahan citra pada saluran termal citra Landsat 8. Ekstraksi dilakukan dengan cara mengkonversi nilai digital (digital number/dn) menjadi nilai radian. Nilai radian merupakan besarnya nilai pancaran energi yang dipancarkan oleh permukaan benda, yang kemudian dapat terekam oleh sistem sensor satelit. Adapun pengolahan nilai DN menjadi nilai radian pada citra Landsat 8 pada saluran 10 dan 11 adalah sebagai berikut : L λ = (Radiance multiplier * DN) + add radiance Keterangan : L λ = Nilai radian band yang bersangkutan (band 10 / 11) DN = Nilai piksel band yang bersangkutan (band 10 / 11) Dimana nilai radiance multiplier dan add radiance dapat diperoleh dari pembacaan header citra. Dalam ekstraksi suhu permukaan diperlukan juga koreksi atmosfer. Koreksi atmosfer dilakukan apabila tersedia data meteorologi lokal seperti transmittance, upwelling radiance, dan downwelling radiance. Data ini sudah tersedia di website NASA. Koreksi atmosfer dari input diatas dilakukan berdasarkan formula dari Coll (2010) yaitu : Dimana : CVR2 CVR1 L L τ ε CVR2 = ((CVR1 L ) / ε τ ) (((1 ε) / ε) L ) = Radiansi setelah koreksi atmosfer = Nilai L λ = Upwelling radiance = Downwelling radiance = Transmittance = Emissivity Nilai transmittance, upwelling radiance, dan downwelling radiance merupakan faktor - faktor atmosferik lokal sesuai daerah kajian, dapat dilihat pada situs web NASA. Nilai - nilai tersebut disajikan dalam tabel berikut : Tabel 3.1. Faktor Atmosferik Lokal Variabel Nilai Upwelling Radiance 0,5 Downwelling Radiance 0,85 Transmittance 0,93 Emissivity 0,96 Berdasarkan nilai yang telah diperoleh dari langkah diatas, kemudian dilakukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan nilai suhu kecerahan (brightness temperature) sebagai berikut : T rad= K2 / ln (K1 / L λ) + 1 Keterangan : Trad = Suhu kecerahan ( 0 K) K2 = Konstanta kalibrasi band termal K1 = Konstanta kalibrasi band termal L λ = Nilai radiansi spektral Kemudian selanjutnya dilakukan pengubahan nilai brightness temperature menjadi land surface temperature. 4

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : Tk = ε 1/4. T Keterangan : Tk = Suhu permukaan ( 0 K) ε = Emisivitas objek T = Suhu radiasi objek ( 0 K) Penentuan lokasi pengambilan sampel sangat penting karena dengan pengambilan sampel pada lokasi dan rute yang tepat maka dapat menghemat waktu, biaya, dan tenaga selama berada di lapangan. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified random sampling, dimana lokasi sampel ditetapkan dengan mempertimbangkan histogram yang ditampilkan pada citra. Pengumpulan data lapangan meliputi pengukuran indeks vegetasi dan pengambilan data suhu permukaan. Pengukuran indeks vegetasi dilakukan dengan menghitung luasan tajuk vegetasi pada titik sampel seluas 45 m x 45 m (1,5 x luas resolusi spasial). Kemudian data suhu permukaan didapatkan dari pengukuran langsung di lapangan menggunakan termometer infrared. Tahap pasca lapangan meliputi analisis regresi, uji akurasi, pemetan TVDI, dan pembuatan peta kekeringan pertanian. Analisis regresi dilakukan antara suhu permukaan hasil pengolahan citra Landsat 8 dengan suhu permukaan hasil pengukuran langsung di lapangan. Selain itu, analisis regresi juga dilakukan antara transformasi indeks vegetasi SAVI hasil pengolahan citra dengan pengecekan SAVI di lapangan. Uji akurasi dilakukan untuk mengetahui selisih antara transformasi indeks vegetasi SAVI dari citra dengan hasil pengukuran kerapatan tajuk di lapangan serta ekstraksi suhu permukaan dengan pengukuran suhu permukaan di lapangan. Uji akurasi dapat dilakukan berdasarkan nilai RMS Difference (root means square difference). Rumus perhitungan RMS Difference adalah sebagai berikut (Sugita and Brutsaert, 1993 dalam Hadi, 2011 ) : δ = 2 / N 1/2 Keterangan : δ : RMS Difference N : Data pengamatan lapangan : Data hasil ekstraksi suhu permukaan / transformasi indeks vegetasi SAVI : Jumlah Data Nilai TVDI yang diperoleh berkisar antara 0 hingga 1. Nilai 1 menyatakan sisi kering (ketersediaan air terbatas) dan 0 menyatakan sisi basah (ketersediaan terjamin). Melalui citra hasil ekstraksi suhu permukaan dan transformasi SAVI kemudian dapat ditampilkan dalam bentuk scatter plot. Dari tampilan scatter plot tersebut kemudian dapat ditentukan batas bawah dan batas atas sebagai input formulasi indeks TVDI. Rumus pengolahan indeks TVDI adalah sebagai berikut : TVDI = Keterangan : Ts min : Suhu permukaan minimum, mendefinisikan sisi basah (Ts min= a + b SAVI, nilai SAVI pada batas bawah, a adalah konstanta dan b adalah koefisien SAVI) Ts : Suhu permukaan pada suatu piksel Ts max : Suhu permukaan maksimum mendefinisikan sisi kering (Ts max= a + b SAVI, nilai SAVI pada batas atas, a adalah konstanta dan b adalah koefisien SAVI) 5

Peta kekeringan pertanian dibuat berdasarkan hasil pengolahan TVDI. Peta TVDI akan menjadi input dalam penyusunan peta kekeringan pertanian. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai RMS eror yang diperoleh dalam koreksi geometrik citra adalah sebesar 0,4567. Nilai 0,4567 berarti citra yang dikoreksi mengalami pergeseran piksel sebesar 0,4567 x resolusi spasial (30 m) atau sebesar 13,701 meter. Kemudian koreksi radiometrik yang dilakukan pada penelitian ini adalah terhadap band termal yaitu band 10 dan band 11. Koreksi radiometrik yang dilakukan adalah koreksi atmosferik terhadap gangguan awan. Koreksi radiometrik dilakukan dalam perolehan nilai brightness temperature sebelum memperoleh informasi suhu permukaan. Nilai SAVI yang diperoleh berbeda - beda pada setiap bulan penelitian, tergantung kondisi tutupan vegetasi di area yang direkam oleh citra dan kondisi awan pada saat perekaman. Kondisi awan akan sangat mempengaruhi nilai piksel pada citra, sehingga kemudian juga akan sangat berpengaruh saat dilakukan transformasi indeks vegetasi. Citra hasil transformasi SAVI perlu diuji akurasinya dengan kondisi nyata di lapangan. Berdasarkan analisis regresi antara transformasi SAVI dari citra dengan perhitungan kerapatan tajuk di lapangan diperoleh nilai R 2 sebesar 0,7207. Artinya bahwa nilai regresi menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara indeks SAVI citra dan pengukuran di lapangan, oleh karena nilai R 2 > 0,5. Berdasarkan perhitungan RMS difference yang telah dilakukan, diketahui bahwa nilai RMS difference yang diperoleh adalah 0,177. Semakin kecil nilai RMS difference yang diperoleh, maka dapat dikatakan semakin akurat transformasi yang dilakukan. Dalam pengolahan band termal, melalui input citra setelah dilakukan koreksi atmosferik, kemudian dihasilkan citra suhu permukaan dengan mempertimbangkan konstanta kalibrasi band termal. Agar citra suhu permukaan dapat lebih mencermikan suhu objek, maka harus digunakan pertimbangan emisivitas masing - masing objek. Nilai emisivitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah emisivitas penutup lahan vegetasi yang tajuknya tidak menutup, yaitu sebesar 0,96. Hal tersebut dikarenakan nilai 0,96 mencermikan kenampakan yang mendominasi di lapangan. Berdasarkan analisis regresi antara suhu permukaan hasil ekstraksi citra dengan pengukuran langsung di lapangan, nilai R 2 yang diperoleh adalah 0,7275 untuk band 10 dan 0,6514 untuk band 11. Semakin besar (mendekati 1) nilai R 2 yang diperoleh, maka semakin kuat korelasi suhu permukaan yang diekstrak dengan kondisi di lapangan. Dari analisis regresi, diketahui bahwa band 10 citra Landsat 8 memiliki nilai hubungan yang lebih kuat dengan suhu permukaan di lapangan dibandingkan dengan band 11. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diketahui bahwa nilai RMS difference yang diperoleh adalah sebesar 5,601 untuk band 10 dan 7,586 untuk band 11. Artinya, band 10 lebih akurat dibandingkan dengan band 11 karena memiliki nilai RMS difference yang lebih kecil. Dapat disimpulkan bahwa band yang paling baik digunakan dalam penelitian ini adalah band 10. Berdasarkan hasil pengolahan citra Landsat 8, selanjutnya ditentukan batas atas dan batas bawah melalui scatter plot hubungan antara indeks vegetasi dan suhu permukaan yang berbentuk seperti segitiga. Batas garis atas segitiga diasumsikan sebagai batas kering (dry edge), sedangkan batas garis bawah sebagai batas basah (wet edge). Batas atas dan batas bawah yang akan digunakan sebagai formula dalam 6

pembuatan citra TVDI sesuai rumus pada bagian metode. Formula tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 5.3. Formula Transformasi Citra TVDI No Bulan Formula 1 Mei (b2-(0,6671*b1+23,288) / ((-3,0457*b1+28,59) - (0,6671*b1+23,588)) 2 Juni (b2-(-8,5735*b1+27,455) / ((-4,9404*b1+28,734) - (-8,5735*b1+27,455)) 3 Juli (b2-(1,4612*b1+26,745) /((-2,0325*b1+30,442) - (-1,4612*b1+26,745)) 4 Agustus (b2-(-5,3062*b1+29,84) /((-10,618*b1+37,767) - (-5,3062*b1+29,84)) 5 September (b2-(6,4022*b1+31,472) /((-7,6889*b1+36,542) - (-6,4022*b1+31,472)) 6 Oktober (b2-(-3,8366*b1+32,621) /((-7,1363*b1+41,607) - (-3,8366*b1+32,621)) terbilang luas adalah di Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Pulokulon, Toroh, Grobogan, Gabus, Kradenan, Wirosari, Ngaringan, Brati, dan Tawangharjo. Sedangkan kekeringan selama 1 bulan mendominasi yakni meliputi sebagian besar Kecamatan di Kabupaten Grobogan. Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa prioritas mitigasi dan penanganan kekeringan pertanian dapat dilakukan di Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Purwodadi, dan Toroh. Kemudian prioritas selanjutnya adalah Kecamatan Gabus, Tawangharjo, Pulokulon, Grobogan, Kradenan, Wirosari, Ngaringan, dan Brati. Hal ini sejalan atau sesuai dengan fakta di lapangan (menurut Tempo.co pada tanggal 29 Agustus 2013), dimana hampir setiap tahun Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Pulokulon, Kradenan, Wirosari, Purwodadi, Tawangharjo, Toroh, Gabus, dan Ngaringan mengalami kekeringan. Berdasarkan peta durasi kekeringan sebagian Kabupaten Grobogan, hampir tidak terdapat bagian wilayah yang mengalami kekeringan selama 6 bulan berturut - turut saat bulan kering. Akan tetapi dalam skala peta yang lebih besar, dapat dimungkinkan wilayah tersebut dapat terlihat. Wilayah yang mengalami kekeringan selama 5 bulan ditemukan di sebagian Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Purwodadi, dan Toroh. Wilayah yang mengalami kekeringan selama 4 bulan terdapat di sebagian Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Gabus, dan Tawangharjo. Kemudian Kecamatan yang mengalami kekeringan selama 3 bulan dan 2 bulan adalah seluruh sebagian kecil Kecamatan di Kabupaten Grobogan, namun yang 7

8

KESIMPULAN Kesimpulan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan analisis regresi antara transformasi indeks vegetasi SAVI band 4 dan band 5 citra Landsat 8 dengan perhitungan kerapatan tajuk di lapangan diperoleh nilai R 2 sebesar 0,7207. Berdasarkan uji akurasi melalui analisis RMS difference, diperoleh nilai 0,177. Artinya selisih rata - rata antara transformasi indeks vegetasi SAVI dengan pengukuran di lapangan adalah 0,177. 2. Dalam uji regresi antara nilai suhu permukaan hasil ekstraksi citra dengan suhu permukaan hasil pengukuran langsung di lapangan diperoleh nilai R 2 sebesar 0,7275 untuk band 10 citra Landsat 8 dan 0,6514 untuk band 11 citra Landsat 8. Kemudian berdasarkan uji akurasi melalui analisis RMS difference, diperoleh nilai RMS difference sebesar 5,601 untuk band 10 dan 7,586 untuk band 11. Dapat disimpulkan bahwa band yang paling baik digunakan untuk melakukan ekstraksi suhu permukaan dalam penelitian ini adalah band 10. 3. Berdasarkan indeks kekeringan TVDI, kekeringan pertanian di Kabupaten Grobogan mulai terlihat secara signifikasn pada bulan Agustus dan September dengan sebaran di hampir seluruh wilayah Kabupaten Grobogan. Akan tetapi memasuki bulan Oktober, kekeringan pertanian berangsur menurun menuju kondisi normal seiring dengan pergantian musim menuju musim penghujan. Berdasarkan peta durasi kekeringan, Kecamatan Karang Rayung, Penawangan, Pulokulon, Kradenan, Wirosari, Toroh, Purwodadi, Tawangharjo, Gabus, dan Ngaringan mengalami kekeringan pertanian dengan durasi lebih dari 3 bulan, hal ini sesuai dengan fakta di lapangan sebagaimana yang diberitakan oleh Tempo.co pada tanggal 29 Agustus 2013. Oleh karena itu perlu prioritas mitigasi dan penanganan kekeringan oleh pemerintah Kabupaten Grobogan di masing - masing wilayah tersebut. DAFTAR PUSTAKA Campbell, J.B. (2013). Landsat 8 Set to Extend Long Run of Observing Earth. diakses pada tanggal 24 November 2013, dari http://www.usgs.gov/. Changnon, S.A. (1987). Droughts in Illinois : Their Physical and Social Dimensions. Illinois : State Water Survey. Coll, J. M. Galve, J. M. Sánchez, and V. Caselles. (2010). Validation of Landsat-7/ETM+ Thermal - Band Calibration and Atmospheric Correction With Ground -Based Measurements. Geosci Remote Sens, vol. 48, no. 1, pp. 547 555. Danoedoro, P. (2012). Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Yogyakarta : Penerbit Andi. Hadi, A.P. (2011). Penentuan Tingkat Kekeringan Lahan Berdasarkan Analisa Citra Landsat 8 dan Sistem Informasi Geografi (Kasus di Sebagian Wilayah Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), Tesis. Yogyakarta : Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Huete, A. (1988). A Soil Adjusted Vegetation Index. Remote Sensing of Environtment, 25, 295-309. 9

Huete, A., dan Didan, K. (2011). MODIS Vegetation Indices Land Remote Sensing and Global Environmental Change. New York : Springer. Lillesand, T.M., dan W. Kiefer. (1994). Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra, (Diterjemahan oleh Sutanto). New York : John Wiley & Sons. Liliesand, T.M., W. Kiefer., Chipman, J.W. (2004). Remote Sensing And Image Interpretation (Fifth Edition). New York : John Wiley & Sons. Marsono, D., Paskalis, L., Haryanto, E. (2003). Kekeringan Dampak dan Penanggulangannya. Biograf Publishing Bekerja Sama Dengan Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTLl) Yogyakarta. Yogyakarta : Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTLl). Parwati, dan Suwarsono. (2008). Model Indeks TVDI (Temperature Vegetation Dryness Index) Untuk Mendeteksi Kekeringan Lahan Berdasarkan Data MODIS - TERRA. Jurnal PIT MAPIN XVII, Vol. 5, 35-44. Sandholt, I., Rasmussen, K., and Andersen, J., (2002). A Simple Interpretation of The Surface Temperature/Vegetation Index Space for Assessment of Surface Moisture Status. Remote Sensing of Environment, Vol. 79, 213-224. Sutanto. (1986). Penginderaan Jauh I. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Sutanto. (1994). Penginderaan Jauh II. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. 10