BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan, terencana dengan mengintegrasikan seluruh stakeholder yang terlibat di

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dasar lingkungan yang memadai dengan kualitas perumahan dan permukiman

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. adalah penanggulangan kemiskinan yang harus tetap dilaksanakan Pemerintah Pusat

BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan dan pengangguran menjadi masalah yang penting saat ini di

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kebijakan pembangunan di Indonesia dalam menanggulangi

BAB I PENDAHULUAN. tidak terpisahkan serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan

BAB I PENDAHULUAN. lainnya adalah: PPK (Program Pengembangan Kecamatan) yang dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan tidak dapat ditakar hanya dengan kemampuan memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. sehingga harus disembuhkan atau paling tidak dikurangi. Kemiskinan merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ukuran agregat, tingkat kemiskinan di suatu wilayah lazim digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menerus di bidang fisik, ekonomi dan lingkungan sosial yang dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan suatu kondisi bukan hanya hidup dalam

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan yang tengah dihadapi oleh dunia adalah kemiskinan.

BAB I PENDAHULUAN. pun manusia dan bangsa di dunia ini yang tidak membutuhkan kehidupan yang sedang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini membahas secara berurutan tentang latar belakang

Analisis tingkat kesehatan lembaga unit pengelola kegiatan( studi kasus. pada UPK PNPM Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen ) Oleh : Wawan Apriyanto

BAB I PENDAHULUAN. kepada pemberdayaan dan partisipasi. Sebelumnya telah dilalui begitu banyak

BAB I PENDAHULUAN. bentuk upaya pengentasan kemiskinan dalam masyarakat. kesejahteraan di wilayah tersebut. Dengan demikian, kemiskinan menjadi salah

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. Hilir tahun adalah Indragiri Hilir berjaya dan gemilang Pada

BAB I PENDAHULUAN. rentan terhadap pasar bebas yang mulai dibuka, serta kurang mendapat dukungan

BAB 4 ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan kemakmuran dan

BAB I PENDAHULUAN. kerja bagi angkatan kerja di perdesaan. Permasalahan kemiskinan yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian agar mampu menciptakan lapangan kerja dan menata kehidupan yang

BAB I PENDAHULUAN. Badan Pusat Statistik. Data Penduduk Indonesia Per Maret Diakses 14 Februari 2011

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup

KUALITAS & AKSESIBILITAS PDDKN BLM MERATA ANGKA PENGANGGURAN MASIH TINGGI

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1994). Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah Persentase (Juta) ,10 15,97 13,60 6,00 102,10 45,20. Jumlah Persentase (Juta)

PLANO MADANI VOLUME 5 NOMOR 2, OKTOBER 2016, P ISSN X - E ISSN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kemiskinan dengan meluncurkan program-program pemberdayaan. Sejak periode

BAB I PENDAHULUAN. negara di dunia, terutama negara sedang berkembang. Secara umum

BAB I PENDAHULUAN. penduduk miskin, kepada tingkatan yang lebih baik dari waktu ke waktu.

ADVETORIAL PENANGANAN KEMISKINAN DI KOTA DEPOK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan aspek lainnya yang menjadi masalah

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

III. METODE PENELITIAN. Lebak yang merupakan wilayah pelaksana Program Nasional Pemberdayaan

ditingkatkan dan disebarluaskan ke berbagai kota baik di perlu mengadakan usaha-usaha pembinaan yang aktif,

BAB 1 PENDAHULUAN. yang bertujuan untuk membangun daerah secara optimal guna meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan. Kemiskinan telah membuat pengangguran semakin bertambah banyak,

KERANGKA ACUAN KEGIATAN RAPAT KOORDINASI PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN DI 4 KABUPATEN (PURWOREJO, WONOSOBO, PEMALANG DAN REMBANG)

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Banyak permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia.

BAB VII SIMPULAN DAN REKOMENDASI. dilengkapi dengan hasil wawancara, implikasi, keterbatasan, dan saran-saran

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB I PENDAHULUAN. karena kawasan ini merupakan pusat segala bentuk aktivitas masyarakat. Pusat

Oleh : Arief Setyadi. Persyaratan Gender dalam Program Compact

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. upaya untuk dapat mewujudkan cita-cita bangsa yakni terciptanya kesejahteraan

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional disegala bidang,

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan merupakan proses kearah yang lebih baik sesuai tujuan yang

I. PENDAHULUAN. Didalam kehidupan ekonomi pada umumnya, manusia senantiasa berusaha untuk

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. penduduknya seperti Indonesia. Kemiskinan seharusnya menjadi masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. upaya-upaya secara maksimal untuk menciptakan rerangka kebijakan yang

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dan penyediaan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin. memberdayakan masyarakat (BAPPENAS, Evaluasi PNPM 2013: 27).

BAB I PENDAHULUAN. harus diminimalisir, bahkan di negara maju pun masih ada penduduknya yang

BAB I PENDAHULUAN. selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yakni terciptanya

MEMORANDUM PROGRAM SANITASI Program PPSP 2015

BAB I PENDAHULUAN. Papua merupakan daerah di kawasan timur Indonesia yang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. yang terkena PHK (pengangguran) dan naiknya harga - harga kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan utama dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia saat ini

PENDAHULUAN. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap pembangunan di suatu daerah seyogyanya perlu dan

BUPATI TULUNGAGUNG PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. multidimensional, yang dapat ditandai dengan keberadaan pengangguran,

: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA ORGANISASI : BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, PEMERINTAHAN DESA DAN KELURAHAN Halaman.

BAB I PENDAHULUAN. kemiskinan sturktural dan kemiskinan kesenjangan antar wilayah. Persoalan

III. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sampai saat ini, karena itulah program-program pengentasan

Pembatasan Pengertian Perencanaan Partisipatif

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pembangunan desa memegang peranan yang penting karena

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan kemakmuran masyarakat yaitu melalui pengembangan. masalah sosial kemasyarakatan seperti pengangguran dan kemiskinan.

LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN DI GORONTALO TIM KAJIAN PERENCANAAN PARTISIPATIF (PJM PRONANGKIS)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

LAMPIRAN PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 2-H TAHUN 2013 TENTANG STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA SURAKARTA BAB I PENDAHULUAN

HARMONISASI PROGRAM PEMBERDAYAAN. Oleh: Irawan Hasan, Askoorkot Kab. Karo, KMW IV P2KP-3 Sumatera Utara. Karo, 02 Juni 2007

BAB I PENDAHULUAN. Nasional menyatakan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan

BAB I PENDAHULUAN. sekelompok orang yang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan yang dilaksanakan di daerah bertujuan untuk meningkatkan

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan, terutama bagi negara-negara di dunia ketiga. Angka kemiskinan yang semakin meningkat menjadi permasalahan tersendiri dan harus segera diselesaikan secara terencana dengan mengintegrasikan seluruh stakeholder yang terlibat di dalamnya. Banyak ahli yang berpendapat bahwa permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan multidimensional. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial (2012) menyebutkan bahwa kemiskinan mempunyai berbagai wujud, termasuk kurangnya pendapatan dan sumber daya produktif yang memadai untuk menjamin kelangsungan hidup; kelaparan dan kekurangan gizi; kesehatan yang buruk; keterbatasan akses pendidikan dan pelayanan dasar lainnya; peningkatan morbiditas; lingkungan yang tidak aman; dan diskriminasi sosial dan pengecualian. Permasalahan kemiskinan seringkali dihubungkan dengan unsur spasial. Hasil penelitian dari SMERU (2008) dalam memetakan kemiskinan di Indonesia menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki pola yang cenderung memusat di daerah-daerah tertentu. Perbedaan karakteristik sumberdaya alam, ekonomi, sosial, penduduk, dan pendidikan di setiap lokasi yang berbeda akan menimbulkan permasalahan kemiskinan yang berbeda pula. Kasim (2006) menjelaskan bahwa dalam memahami masalah kemiskinan, perlu untuk 1

2 mencermati dimana lokasi kelompok masyarakat miskin itu beraktivitas dan melangsungkan kehidupan sehari-harinya. Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki angka kemiskinan di atas rata-rata provinsi maupun nasional. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa di tahun 2015, angka kemiskinan ratarata di Kabupaten Trenggalek mencapai 13,37%. Sedangkan untuk rata-rata kemiskinan di tingkat Provinsi Jawa Timur adalah 12,28% dan tingkat nasional sebesar 11,13%. Kemiskinan yang terdapat di Kabupaten Trenggalek penyebarannya cenderung merata, yakni hampir seluruh wilayahnya mengalami permasalahan kemiskinan. Akan tetapi jika dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk miskin tiap desa, persentase kemiskinan tertinggi terdapat pada desadesa yang berada di wilayah perbukitan, kemudian wilayah pesisir berada di posisi kedua, dan wilayah dataran rendah menempati posisi ketiga. Tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi telah mendorong pemerintah untuk menyusun kebijakan dan melaksanakan program pengentasan kemiskinan secara lebih fokus dan terkoordinir. Sejalan dengan kebijakan pengentasan kemiskinan dari pemerintah pusat, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) pun mulai diberlakukan di Kabupaten Trenggalek semenjak tahun 2003. Program ini kemudian dilanjutkan dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan di tahun 2008. Semenjak diberlakukan, terdapat 12 dari 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang menjadi lokasi PNPM Mandiri Perdesaan.

3 Pelaksanaan program di lapangan tentu membutuhkan evaluasi. Begitu pula dengan implementasi PNPM Mandiri Perdesaan yang ada di Kabupaten Trenggalek. Hampir sepuluh tahun diterapkan, tentunya ada capaian yang sudah sesuai dan ada pula yang belum sesuai dengan tujuan awal program. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi apakah PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Trenggalek sudah berjalan secara efektif atau belum. Selanjutnya, berkaitan dengan kondisi geografis yang beragam di Kabupaten Trenggalek, yaitu perbukitan, dataran rendah, dan pesisir, maka penting juga untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi PNPM Mandiri Perdesaan di ketiga tipe daerah tersebut. Pemilihan tiga jenis wilayah ini didasarkan pula pada pandangan bahwa karakteristik sosial budaya masyarakat (termasuk lembaga) dan kegiatan perekonomian yang ada di dalamnya berbeda satu dengan yang lainnya. 1.2 Pertanyaan Penelitian Berbagai program seperti IDT, P2KP, PEMP, PDM-DKE, P3DT, dan juga Gerdu Taskin telah diluncurkan pemerintah sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan kemiskinan di Indonesia. Akan tetapi berdasarkan pada evaluasi yang dilakukan BAPPENAS, ternyata hasil penerapan program-program tersebut masih dinilai kurang efektif. Tidak jauh berbeda, PNPM Mandiri yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat pun dipandang kurang efektif dalam menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Padahal program ini, termasuk di dalamnya PNPM Mandiri Perdesaan, merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang disusun berdasar

4 pada pembelajaran dan penyempurnaan dari program-program pemberdayaan masyarakat yang telah ada sebelumnya. Kritisi pun muncul karena selama ini pendekatan yang diterapkan oleh pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan, baik di tingkat nasional, regional, maupun lokal, cenderung melalui pendekatan ekonomi semata dan seringkali mengabaikan konteks lokasi masyarakat. Seperti kritisi yang dikemukakan oleh Kusnadi (2003) bahwa masyarakatlah yang akan menjadi korban dari kurang tepatnya pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan program pembangunan, yang mana program tersebut hanya bersifat proyek jangka pendek. Lebih lanjut lagi, Kusnadi memandang bahwa penting pula untuk mempertimbangkan kondisi sosial budaya, karakteristik sumberdaya, serta keadaan geografis. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan dari Bradshaw (2006) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kemiskinan adalah karena adanya kesenjangan geografis. Kesenjangan geografis yang dimaksudkan Bradshaw disini adalah sebagai bentuk pemusatan pertumbuhan di wilayah tertentu sehingga menimbulkan kemiskinan di daerah lainnya. Sementara Bradshaw membahas aspek geografis kaitannya dengan bentuk fisik tata ruang dalam mempengaruhi fenomena kemiskinan, maka Epprecht M, et al (2008) lebih membahas fenomena kemiskinan tersebut ditinjau dari aspek fisik geografis alami berupa, elevasi (ketinggian), kemiringan lereng, temperatur, serta akses menuju kota dan sungai. Selama ini banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa faktor geografis memiliki pengaruh terhadap terjadinya fenomena kemiskinan. Akan

5 tetapi, masih sedikit penelitian tentang keterkaitan antara kondisi geografis dengan efektivitas program pengentasan kemiskinan. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka dapat dikemukakan pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Sejauh mana capaian pelaksanaan program pengentasan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Trenggalek? 2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi capaian pelaksanaan program pengentasan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Trenggalek? 3. Bagaimana keterkaitan antara capaian PNPM Mandiri Perdesaan dengan efektivitas program pengentasan kemiskinan? 1.3 Tujuan dan Keluaran Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengukur capaian pelaksanaan program pengentasan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Trenggalek, dengan melihat perbedaan karakteristik geografis antara wilayah perbukitan, dataran rendah, dan pesisir. 2. Untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi capaian pelaksanaan program pengentasan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Trenggalek, terutama didasarkan pada perbedaan karakteristik geografis wilayah.

6 3. Untuk mengukur / mengkaji hubungan antara capaian PNPM Mandiri Perdesaan dengan efektivitas program pengentasan kemiskinan. Keluaran yang ingin dicapai dari tujuan penelitian ini adalah : 1. Tingkatan efektivitas program dan penilaian faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap program pengentasan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan di wilayah yang memiliki keragaman karakteristik geografi. 1.4 Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh, yaitu : 1. Sebagai masukan penyempurnaan program pengentasan kemiskinan berdasarkan perbedaan karakteristik wilayah. 2. Sebagai upaya pengembangan pengetahuan teoritik mengenai hubungan antara karakter geografis wilayah dan capaian program pengentasan kemiskinan. 3. Sebagai tambahan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kriteria efektivitas pelaksanaan PNPM-Mandiri Perdesaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

7 1.5 Batasan Penelitian 1.5.1 Fokus Adapun fokus penelitian ini menekankan pada evaluasi pelaksanaan PNPM-MPd di Kabupaten Trenggalek dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. 1.5.2 Lokus Lokus penelitian ini adalah desa-desa yang terletak di tiga kecamatan di Kabupaten Trenggalek, yaitu Kecamatan Dongko, Durenan, dan sebagian desa di wilayah pesisir Kecamatan Watulimo. Desa-desa yang terletak di Kecamatan Dongko merepresentasikan wilayah perbukitan/dataran tinggi. Sedangkan desadesa yang terletak di Kecamatan Durenan merepresentasikan wilayah dataran rendah, dan sebagian desa di Kecamatan Watulimo merepresentasikan wilayah pesisir. 1.6 Keaslian Penelitian Pengkajian terhadap penelitian terdahulu sangat penting untuk dilakukan guna memberikan pemahaman yang komprehensif terkait posisi penelitian. Penentuan posisi penelitian ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang perbedaan penelitian yang dilakukan saat ini dengan penelitian-penelitian terdahulu. Berikut ini adalah tabel ringkasan dari pengkajian terhadap penelitianpenelitian terdahulu. Tabel 1.1 Keaslian penelitian No Nama Peneliti Judul Metode Hasil dan Kesimpulan 1 Haryanto Evaluasi Metode analisis data : Ada beberapa tahap dalam Program PNPM deskriptif kualitatif pelaksanaan PNPM Mandiri :

8 Mandiri dalam Peningkatan Prasarana Kehidupan di Kelurahan Taroada Kabupaten Maros dengan model analisis interaktif. Teknik pengumpulan data : observasi, interview/wawancara, studi pustaka, dokumentasi 1. Pemberian sosialisasi 2. Penjaringan aspirasi masyarakat 3. Proses pelaksanaan Faktor pendukung keberhasilan program : Sosialisasi, SDM, dan partisipasi yang tinggi. Faktor penghambat keberhasilan program : Masalah pendanaan yang cenderung lambat dan faktor fisik lingkungan (hujan). 2 Orthinus Ferdinando Samfar Kawer Evaluasi Pelaksanaan PNPM Mandiri- Respek Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Distrik Heram Metode analisis data : deskriptif kualitatif Teknik pengumpulan data : observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi PNPM di Distrik Heram berjalan lancar dengan fokus pada empat kategori, yaitu pembangunan sarana dan prasarana fisik, peningkatan kesehatan masyarakat, pemberdayaan perempuan, dan pengadaan inventaris. Faktor yang mempengaruhi kekurangberhasilan PNPM : 1. Faktor internal : kurangnya partisipasi masyarakat dan kurangnya kesesuaian harapan antara pemerintah dan masyarakat. 2. Faktor eksternal : Masih kuatnya pengaruh dari atas, lemahnya koordinasi antar instansi, dan rendahnya kualitas SDM pelaksana pembangunan. 3. Efendi Heru Setiawan Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Desa Sesulu, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam, Paser Utara Metode analisis data : deskriptif kualitatif Teknik Pengumpulan data : observasi, wawancara, penelitian dokumen Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan di Desa Sesulu Kabupaten Penejam Paser Utara ini ditinjau dari indikator sukses : 1. Tingkat partisipasi masyarakat 2. Tingkat perkembangan kelembagaan 3. Sarana dan prasarana yang dibangun Selanjutnya, ditinjau dari

9 indikator kerja : 1. Peningkatan partisipasi masyarakat 2. Peningkatan kualitas kelembagaan 3. Peningkatan anggaran dari pemerintah daerah Faktor pendukung keberhasilan program : Tingkat partisipasi masyarakat Faktor penghambat keberhasilan program : Tidak ada faktor penghambat yang cukup berarti Berbeda dengan penelitian terdahulu, pada penelitian ini, peneliti bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pengentasan kemiskinan PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Trenggalek dengan melihat perbedaan karakteristik geografis wilayah, yaitu antara wilayah perbukitan, dataran rendah, dan juga pesisir. Sedangkan pada analisis faktor pengaruh, penelitian terdahulu sebatas menggunakan analisis deskriptif untuk menjabarkan faktor-faktor yang mendukung atau pun menghambat pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan. Akan tetapi, pada penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan pengolahan data statistik berupa multiple regression analysis atau analisis regresi berganda untuk semakin memperkuat hasil dari analisis yang dilakukan. Melalui uji regresi ini nantinya akan diketahui seberapa besar pengaruh dari masing-masing faktor terhadap efektivitas pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di ketiga karakteristik wilayah di Kabupaten Trenggalek.