BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) Propinsi Riau dan Propinsi Jambi, dimulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Mei 2010. Alasan pemilihan TNBT sebagai lokasi penelitian adalah: 1) mempunyai potensi ekowisata berupa keindahan lansekap, kekhasan/ keunikan dan kelangkaan spesies, ekosistem, dan budaya, 2) lokasinya berada pada lintas kabupaten dan lintas propinsi, yakni Kab. Indragiri Hulu dan Kab. Indragiri Hilir di Propinsi Riau, serta Kab. Tebo dan Kab. Tanjung Jabung Barat di Propinsi Jambi, dan 3) terdapat tiga masyarakat tradisional (Suku Anak Dalam, Talang Mamak, dan Melayu Tua). Peta lokasi TNBT disajikan pada Gambar 5. Gambar 5. Peta Lokasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh B. Tahapan Kegiatan Penelitian Tahapan pelaksanaan penelitian disajikan pada Gambar 6. 36
Gambar 6. Tahapan pelaksanaan penelitian (file terpisah) 37
C. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta rupa bumi skala 1 : 5.000, peta RTRW, peta padu serasi, citra landsat TNBT, peta tematik kawasan TNBT, peta administrasi pemerintahan, pedoman wawancara, dan kuesioner. Peralatan yang digunakan adalah kamera, GPS, binokuler, dan laptop. D. Metode Penelitian Metode penelitian akan didekati dari tujuan-tujuan penelitian. Oleh sebab itu akan dikelompokkan ke dalam metode pengumpulan data, jenis data yang dikumpulkan, dan analisis data 1. Metode Pengumpulan Data Data sekunder diperoleh dari beberapa sumber yaitu dokumen perencanaan, laporan, statistik, dan jenis dokumen lain yang berisi tentang pengelolaan TNBT, pengembangan daerah penyangga TNBT, dan pembangunan wilayah. Untuk mengetahui kondisi hutan TNBT dan daerah penyangganya secara spasial digunakan citra landsat tahun 1996, 2002, 2006, dan 2007. Adapun data primer diperoleh dengan melakukan kegiatan sebagai berikut : a. Pengamatan Lapangan Metode pengamatan merupakan suatu alat yang mendasar untuk memperoleh data dalam studi, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat orang / peristiwa maupun tingkah laku. Penggunaan metode pengamatan ini dimaksudkan untuk menjaring peristiwa / kegiatan yang sulit dilukiskan atau segan diceriterakan oleh responden. Untuk memudahkan pelaksanaan pengamatan, obyek pengamatan dilaksanakan pada moment / peristiwa tertentu dalam masyarakat, misalnya pada kegiatan melakukan perladangan, memungut hasil hutan, acara sosial kemasyarakatan, dan lain-lain. b. Wawancara dengan Masyarakat Tradisional Wawancara (interview) dengan masyarakat tradisional dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi, persepsi dan keterlibatan masyarakat tradisional dalam pengelolaan ekowisata TNBT. Wawancara ( interview) dilakukan dengan 30 38
orang responden dari Suku Talang Mamak dan 10 orang responden dari Suku Melayu Tua yang dipilih secara acak yang berada pada dusun-dusun di TNBT. c. Wawancara dengan Masyarakat Daerah Penyangga Wawancara dengan masyarakat daerah penyangga dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi, persepsi dan keterlibatan masyarakat daerah penyangga dalam pengelolaan ekowisata TNBT. Selain wawancara dilakukan pengisian kuesioner oleh 60 orang responden yang dipilih secara sengaja (purposive) dari desa-desa yang merupakan jalur ekowisata TNBT yang berada di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Peta sebaran lokasi asal responden masyarakat tradisional dan masyarakat daerah penyangga dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Peta Sebaran Lokasi Asal Responden dari Masyarakat Tradisional dan Masyarakat Penyangga d. Wawancara dengan Aparat Pemerintah Daerah Wawancara dengan aparat pemerintah daerah dilakukan untuk mengetahui kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan daerah penyangga TNBT dan pembangunan wilayah yang terkait dengan pengelolaan TNBT. Wawancara 39
dilakukan dengan lima orang responden dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dan lima orang responden dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir yang dipilih secara sengaja (purposive). d. Wawancara dengan Ekowisatawan Wawancara dengan ekowisatawan dilakukan untuk mengetahui kondisi demand (permintaan) ekowisata TNBT. Wawancara difokuskan pada beberapa aspek yaitu; motivasi ekowisatawan, daya tarik obyek wisata alam, fasilitas dan layanan ekowisata, serta persepsi dan harapan terhadap pengembangan ekowisata TNBT. Jumlah responden yang diwawancara sebanyak 30 orang yang dipilih secara acak dari ekowisatawan yang berkunjung ke TNBT selama masa penelitian. e. Focus Group Discussion (FGD) Focus Group Discussion (FGD) dengan staf Balai TNBT dan mitra kerjanya dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempunyai nilai pengaruh penting (strategis) terhadap pengembangan pengelolaan TNBT. Faktor yang diidentifikasi terdiri dari faktor internal yang meliputi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dan faktor eksternal yang meliputi peluang (opportunity) dan ancaman (threat). Dalam mengidentifikasi faktor-faktor strategis internal dan eksternal digunakan Thally sheet. e. Pengisian Kuesioner oleh Pakar Terpilih Pengisian kuesioner oleh pakar terpilih (expert choise) dimaksudkan untuk mendapatkan pertimbangan secara profesional dari kepakaran para responden dalam menentukan tingkat kepentingan dari beberapa variabel dalam merumuskan program prioritas pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata. Desain kuesioner difokuskan pada faktor-faktor strategis internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan pengelolaan terintegrasi kawasan TNBT sesuai hasil analisis SWOT. Suatu faktor pengelolaan boleh jadi secara tingkat pengaruh lebih penting dari pada faktor lainnya. Tingkat besarnya pengaruh (relative important) suatu faktor yang berpengaruh didasarkan pada perannya terhadap pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata. 40
Penentuan pakar terpilih dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1) Identifikasi para pembuat keputusan (aktor) dari berbagai instansi dan lembaga pemerintah baik di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten; pakar dari lembaga pendidikan dan penelitian, serta Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan pengembangan pengelolaan TNBT. 2) Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, selanjutnya dilakukan seleksi pakar terpilih yang dinilai telah berpengalaman, menguasai dan terlibat dalam pembuatan keputusan yang terkait dengan pengembangan pengelolaan TNBT. Jumlah pakar terpilih sebanyak empat belas orang dengan beberapa keahlian yang berasal dari lembaga/ instansi seperti dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Daftar Bidang Keahlian dan Asal Pakar Terpilih NO. Bidang Keahlian Asal Lembaga / Instansi Jumlah (orang) 1. Konservasi keanekaragaman hayati Kementrian Lingkungan Hidup 1 2. Pengelolaan Taman Nasional Direktorat Jenderal PHKA. 2 3. Perencanaan pembangunan daerah Bappeda Kabupaten INHU Bappeda Kabupaten INHIL 2 4. Pengelolaan hutan Dinas Kehutanan Propinsi Riau, 3 Dinas Kehutanan Kab. INHU, dan Dinas Kehutanan Kab. INHIL 5. Pariwisata Dinas Pariwisata Prop. Riau, Dinas 3 Pariwisata Kab. INHU dan Dinas Pariwisata Kab. INHIL 6. Budaya / Antropologi Yayasan Alam Sumatera, Pekanbaru 1 7. Konservasi satwa liar Yayasan Penyelamatan Harimau 1 Sumatera, Riau 8. Pemberdayaan masyarakat KKI - WARSI Jambi 1 Jumlah 14 2. Jenis Data yang Dikumpulkan Data yang dikumpulkan terdiri dari data sekunder dan data primer. Jenis data yang dikumpulkan dapat dilihat pada Tabel 2. 41
Tabel 2. Jenis Data yang Dikumpulkan No. Jenis Data Variabel Metode Pengumpulan Data Pengelolaan Taman Nasional A. Data Sekunder 1. Luas, letak dan sejarah kawasan TNBT. Luas dan letak kawasan TNBT, kronologis penunjukan dan penetapan TNBT. 2. Kondisi fisik Topografi, tipe iklim, geologi dan jenis tanah, hidrologi 3. Kondisi biologi Jenis flora fauna penting, tipe ekosistem, etnozologi, kondisi penutupan hutan 4. Sosekbud masyarakat tradisional Jumlah dan penyebaran masyarakat tradisional, sosial-ekonomi dan budaya 5. Peta kawasan TNBT Citra landsat, peta wilayah kerja, peta zonasi, peta obyek wisata alam, peta penyebaran flora-fauna, peta penyebaran masyarakat tradisional. 6. Kelembagaan pengelolaan TNBT Struktur organisasi Balai TNBT, Visi dan Misi, SDM, anggaran, pembagian wilayah kerja 7. Perencanaan Rencana pengelolaan dan rencana strategis. 8. Pelaporan Laporan akuntabilitas dan tahunan 9. Statistik Balai TNBT. Data kawasan, personil, sarpras, keuangan, jumlah pengunjung 10. Obyek wisata alam Jenis, jumlah, lokasi, dan daya tarik obyek wisata alam B. Data Primer 1. Kondisi keintegrasian pengelolaan TNBT Keintegrasian secara : spasial, kebijakan, fungsional, dan sistem 2. Tingkat kerusakan hutan 3. Persepsi dan keterlibatan masyarakat tradisional dalam pengelolaan ekowisata TNBT 4. Kondisi supply ekowisata TNBT. 5. Kondisi demad ekowisata TNBT. Laju kerusakan hutan per tahun Tingkat pengetahuan masyarakat tradisional terhadap TN., bentuk keterlibatan masyarakat, jumlah masyarakat yang terlibat, harapan masyarakat Daya tarik obyek ekowisata,fasilitas dan layanan ekowisata, aksessibilitas, serta persepsi dan harapan Motivasi ekowisatawan, daya tarik terhadap obyek wisata alam, kebutuhan fasilitas dan layanan ekowisata, aksessibilitas persepsi dan harapan Analisis spasial Wawancara, pengamatan Pengisian kuesioner oleh pengelola TNBT Pengisian kuesioner oleh ekowisatawan. 6. Promosi ekowisata Media promosi, frekwensi kegiatan Pengamatan 7. Kegiatan pengembangan obyek wisata alam (OWA) Jenis, jumlah dan lokasi kegiatan pengembangan (OWA) Pengamatan 42
Tabel 2 (lanjutan) No. Jenis Data Variabel Metode Pengumpulan Data Pengembangan Daerah Penyangga A. Data Sekunder 1. Lokasi daerah penyangga TNBT. Lokasi desa-desa yang termasuk daerah penyangga 2. Kondisi bio-fisik Iklim, jenis tanah, flora-fauna penting 3. Demografi Jumlah penduduk, agama, budaya, tingkat pendidikan, mata pencaharian 4. Tataguna kawasan hutan 5. Sarana-prasarana umum 6. Kegiatan pengelolaan daerah penyangga oleh Balai TNBT dan PEMDA. 7. Obyek wisata alam di daerah penyangga 8. Pengelolaan ekowisata di daerah penyangga Hutan produksi, hutan lindung, hutan wisata, konsesi pertambangan, perkebunan Jaringan jalan Jenis dan lokasi kegiatan Jenis, lokasi obyek wisata alam Jenis dan lokasi kegiatan pengelolaan B. Data Primer 1. Persepsi dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata TNBT 2. Pendapatan masyarakat dari kegiatan ekowisata TNBT Data Pembangunan Wilayah A. Data Sekunder 1. RTRW Propinsi dan Kabupaten 2. Sarana prasarana umum 3. Kebijakan PEMDA yang terkait dengan pengelolaan TNBT. 4. Kebijakan PEMDA di bidang pengembangan ekowisata Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap TN., bentuk keterlibatan masyarakat, jumlah masyarakat yang terlibat, harapan masyarakat Pendapatan dari : pemilik perahu, pemilik mobil rental, tukang ojek, pemandu, pemilik rumah makan, pemilik penginapan, penjual souvenir. Penggunaan lahan Jalan raya, bandara, hote/ penginapan Jenis kebijakan, implementasi Jenis kebijakan, implementasi Pengisian kuesioner, pengamatan Wawancara, pengamatan 43
Tabel 2 (lanjutan) No. Jenis Data Variabel Metode Pengumpulan B. Data Primer 1. Sistem perencanaan Mekanisme penyusunan rencana Pengamatan, 2. Kebijakan PEMDA yang terkait dengan pengelolaan TNBT. 3. Kebijakan PEMDA di bidang pengembangan ekowisata 4. Pembangunan saranaprasarana umum yang terkait dengan ekowisata TNBT pembangunan daerah Jenis kebijakan, implementasi Jenis kebijakan, implementasi Jenis sarana prasarana wawancara Pengamatan, wawancara Pengamatan, wawancara Pengamatan, wawancara 3. Metode Analisis Data Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa metode analisis, yaitu ; Analisis Spasial, Analisis Penawaran (supply) dan Permintaan (demand), Analisis SWOT, Analisis AWOT (integrasi antara SWOT dan AHP / Analytic Hierarchy Process ), dan Analisis Sistem Dinamik. Uraian dari masing-masing metode analisis data sebagai berikut : a. Analisis Spasial Terjadinya kerusakan hutan pada beberapa lokasi di kawasan TNBT, telah menyebabkan terdegradasinya potensi wisata alam baik keanekaragaman jenis, kelangkaan dan keunikan spesies, maupun keindahan panorama alam. Kerusakan hutan TNBT tersebut terjadi karena adanya aktifitas perladangan berpindah yang dilakukan oleh masyarakat tradisional yang sebagian sudah tidak sesuai lagi dengan budaya asli mereka, misalnya perladangan yang dilakukan dengan tidak menerapkan sistem rotasi dan perladangan yang dilakukan di sempadan Sungai Batang Gansal. Analisis spasial dilakukan untuk mengetahui laju kerusakan hutan TNBT. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ArtView sedangkan peta tutupan lahan yang dianalisis merupakan hasil pengukuran Balai TNBT. 44
b. Analisis Penawaran dan Permintaan Analisis penawaran (supply) dan permintaan (demand) ekowisata TNBT dilakukan dengan cara membandingkan antara kondisi penawaran dan permintaan ekowisata TNBT sesuai hasil pengamatan lapangan, pengisian kuesioner oleh responden dari pegawai Balai TNBT, dan pengisian kuesioner oleh responden dari ekowisatawan. Variabel yang dibandingkan adalah variabel utama yang berpengaruh terhadap pengembangan ekowisata TNBT, yaitu : motivasi ekowisatawan, daya tarik obyek ekowisata, fasilitas dan layanan ekowisata, serta persepsi dan harapan terhadap pengembangan ekowisata TNBT. Berdasarkan hasil pembandingan tersebut selanjutnya dilakukan analisis terhadap kemungkinan terjadinya kesenjangan (gaps) antara kondisi penawaran dan permintaan. c. Analisis SWOT Analisis faktor strategis meliputi analisis faktor internal dan analisis faktor eksternal. Analisis faktor internal dilakukan dengan menggunakan matrik faktor strategi internal (Internal Strategic Factors Analysis Summary / IFAS), sedangkan analisis faktor eksternal menggunakan matrik faktor strategi eksternal (Eksternal Strategic Factors Analysis Summary / EFAS). Tahapan penyusunan matrik IFAS dan matrik EFAS, serta analisis SWOT sebagai berikut : Penyusunan Matrik Faktor Strategi Internal (IFAS) : 1) Menentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam pengelolaan TNBT berbasis ekowisata dengan metode diskusi (brainstorming) atau penelaahan pustaka 2) Menentukan peringkat masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan berdasarkan pendapat responden, dengan skala 1 4 (pengaruh kecil sedang - besar sangat besar) 3) Memberikan bobot masing-masing faktor tersebut berdasarkan masukan dari pihak pengelola TNBT, dengan skala mulai dari 1,0 (paling penting) sampai 0,0 (tidak penting), Jumlah bobot dari seluruh faktor tidak boleh melebihi nilai 1,00 4) Menghitung nilai pengaruh masing-masing faktor dengan cara mengalikan nilai bobot dengan nilai peringkat untuk masing-masing faktor. 45
Penyusunan Matrik Faktor Strategi Eksternal (EFAS) : 1) Menentukan faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman dalam pengelolaan TNBT berbasis ekowisata dengan metode diskusi (brainstorming) atau penelaahan pustaka 2) Menentukan peringkat masing-masing faktor peluang dan ancaman berdasarkan pendapat responden, dengan skala 1 4 (pengaruh kecil sedang - besar sangat besar) 3) Memberikan bobot masing-masing faktor tersebut berdasarkan masukan dari pihak pengelola TNBT, dengan skala mulai dari 1,0 (paling penting) sampai 0,0 (tidak penting), Jumlah bobot dari seluruh faktor tidak boleh melebihi nilai 1,00 4) Menghitung nilai pengaruh masing-masing faktor dengan cara mengalikan nilai bobot dengan nilai peringkat untuk masing-masing faktor. Berdasarkan Matriks IFAS dan Matrik EFAS selanjutnya dibuat matrik SWOT, seperti dapat dilihat pada Tabel 3. Dari masing-masing unsur SWOT diambil lima unsur yang memiliki nilai pengaruh paling tinggi atau yang dianggap paling strategis. Tabel 3. Matrik SWOT FAKTOR INTERNAL FAKTOR EKSTERNAL OPPORTUNITIES (O) Daftar 5-10 faktor-faktor peluang eksternal THREATS (T) Daftar 5-10 faktor-faktor ancaman eksternal STRENGTHS (S) Daftar 5-10 faktor-faktor kekuatan internal STRATEGI SO Strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI ST Strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman WEAKNESSES (W) Daftar 5-10 faktor-faktor kelemahan internal STRATEGI WO Strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI WT Strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Berdasarkan Matrik SWOT tersebut diperoleh empat alternatif strategi yaitu : Strategi SO Strategi ini dibuat dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya 46
Strategi ST Strategi ini dibuat dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada untuk meminimalkan kelemahan yang ada Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman Berdasarkan nilai IFAS dan EFAS tersebut, maka untuk memilih salah satu dari empat alternatif strategi dibuat diagram Matrik SPACE seperti dapat dilihat pada Gambar 8. Berbagai Peluang 3. Mendukung Strategi Turn Arraound 1. Mendukung Strategi Agresif Kelemahan Internal Kekuatan Internal 4. Mendukung Strategi Defensif 2.. Mendukung Strategi Diversifikasi Berbagai Ancaman Gambar 8. Diagram Analisis SWOT d. Analytic Hierarchy Process (AHP) Untuk menentukan prioritas program pengembangan pengelolaan TNBT, berdasarkan faktor internal dan eksternal yang mempunyai nilai pengaruh penting, serta mempertimbangkan preferensi dari aktor yang terlibat, perlu dilakukan analisis AWOT yang merupakan integrasi antara analisis SWOT dan AHP (Analytic Hierarchy Process). 47
Analytic Hierarchy Process (AHP), yaitu suatu metode pengambilan keputusan dengan kriteria majemuk yang dikembangkan oleh Saaty (1993). Pada dasarnya metode AHP adalah sebuah hierarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok-kelompoknya, kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki. Tahapan analisis dalam penentuan prioritas program dengan metode AWOT sebagai berikut : 1) Penyusunan model program pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata. Penyusunan model program ditujukan untuk menyederhanakan kompleksitas permasalahan pengelolaan ekowisata TNBT yang dihadapi sehingga dapat dianalisis secara sistematis. Model ini disusun dengan cara membuat struktur hierarki permasalahan yang terdiri dari lima tingkatan seperti ditunjukkan pada Gambar 9. Dalam hal ini, model program disusun berdasarkan hasil analisis SWOT dan pertimbangan dari pakar yang kompeten. 2) Penentuan tingkat kepentingan relatif antar elemen model. Tingkat kepentingan relatif dari elemen-elemen model kebijakan ditentukan melalui perbandingan berpasangan (painwise comparison). Pada masing-masing tingkatan hierarki, responden (pakar terpilih) diminta untuk membandingkan tingkat kepentingan relatif antara satu elemen terhadap elemen lainnya. 3) Penentuan prioritas dari alternatif-alternatif program. Untuk menentukan prioritas dari alternatif-alternatif program, bobot kepentingan dari masing-masing elemen model pada setiap tingkatan hierarki digabungkan dengan cara penjumlahan terboboti (weighted summation). Dalam penelitian ini, proses tersebut dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ExpertChoice. Hasil akhir yang diperoleh adalah bobot kepentingan yang menunjukkan prioritas dari alternatif-alternatif program yang dianalisis. 48
Tujuan Pengembangan Pengelolaan TNBT secara Terintegrasi Berbasis Ekowisata Komponen SWOT STRENGHTS ( Kekuatan ) WEAKNES ( Kelemahan ) OPPORTUNITIES ( Peluang ) THREATS ( Ancaman ) Faktor A Faktor A Faktor A Faktor A Faktor SWOT Faktor B Faktor C Faktor B Faktor C Faktor B Faktor C Faktor B Faktor C Faktor D Faktor D Faktor D Faktor D Faktor E Faktor E Faktor E Faktor E Alternatif Program Program 1. Program 2. Program 3.. Program 4. Program 5. Aktor Aktor 1. Aktor 2. Aktor 3.. Aktor 4. Aktor 5. Keterangan : Faktor-faktor SWOT : sesuai hasil analisis SWOT Alternatif program : sesuai hasil penelitian di lapangan Gambar 9. Struktur Hirarki dengan Metode Analisis AWOT 49
e. Analisis Sistem Dinamis Untuk membuat model pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dilakukan analisis sistem dinamis. Sesuai dengan Purnomo (2005), analisis sistem dinamis dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1) Identifikasi isu, tujuan, dan batasan Dalam penelitian ini isu utamanya adalah pengelolaan TNBT secara terintegrasi. Tujuannya adalah membuat model pengelolaan TNBT secara terintegrasi yang berbasis pada pengembangan ekowisata 2) Konseptualisasi model Berdasarkan isu yang telah ditetapkan kemudian dilakukan konseptualisasi model. Berdasarkan model konseptual selanjutnya dirinci menjadi sebuah diagram stok atau aliran. Diagram ini dibuat dengan bantuan perangkat lunak STELLA 9.02. serial number : 90047796426 3) Spesifikasi model Pada tahapan ini kuantifikasi dan perumusan hubungan antar komponen dilakukan sehingga model bisa dijalankan pada komputer. 4) Evaluasi model Untuk mengetahui ketepatan model yang dibuat akan dilakukan evaluasi dengan cara validasi model (evaluasi kelogisan model), uji sensitivitas model (perilaku model), dan simulasi model (perbandingan dengan dunia nyata). Validasi model dilakukan dengan uji validasi struktur yang menekankan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran. Uji sensitivitas model dilakukan dengan melihat respon model terhadap suatu stimulus. 5) Penggunaan model Model yang telah dievaluasi selanjutnya akan digunakan untuk menguji hipotesis dan/ atau menentukan skenario-skenario pemecahan masalah. Secara garis besar, masing-masing metode analisis tersebut disajikan pada Tabel 4., sedangkan diagram aliran informasi dapat dilihat pada Gambar 10. 50
Tabel 4. Metode Analisis Data M e t o d e Analisis Tahapan Analisis Data yg Dianalisis T u j u a n Analisis Spasial Tahap persiapan : pengumpulan data (peta administrasi lokasi, peta topografi, peta geologi dan Citra Landsat TM), pengkajian dan studi pustaka, dan mempersiapkan peralatan survey. Inventarisasi awal dilakukan dengan analisis citra landsat TM dan kelasifikasi penggunaan lahan Analsis citra dilakukan untuk mendapatkan kelas penutup lahan. Citra landsat Peta kawasan TNBT Peta wilayah kerja perusahaan di daerah penyangga TNBT Mendapatkan peta kondisi tutupan hutan TNBT dan peta tata ruang daerah penyangga TNBT Mengetahui laju kerusakan hutan TNBT Kelasifikasi penggunaan lahan dilakukan dengan berdasarkan informasi yang diekstrak dari citra Landsat TM, didukung dengan informasi peta topografi dan informasi lain digunakan untuk membuat peta penutupan lahan. Analisis Penawaran (supply) dan Permintaan (demand) Rekapitulasi data hasil pengamatan lapangan, pengisian kuesioner oleh responden pegawai Balai TNBT untuk komponen penawaran, dan responden ekowisatawan untuk komponen permintaan. Membandingkan antara kondisi penawaran dan permintaan. Motivasi ekowisatawan, Daya tarik obyek wisata alam, Fasilitas ekowisata Layanan ekowisata, Persepsi dan harapan terhadap pengembangan ekowisata TNBT. Mengetahui kondisi penawaran (supply) dan permintaan (demand) ekowisata TNBT. 51
Tabel 4 (lanjutan) M e t o d e Analisis Tahapan Analisis Data yg Dianalisis T u j u a n Menganalisis adanya kesenjangan antara kondisi penawaran dan permintaan. Analisis SWOT Menentukan unit manajemen yang dianalisis : Balai TN. FGD untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap ekowisata TNBT. Menentukan nilai pengaruh faktor Analisis dengan strategi : SO, ST WO, dan WT (Rangkuti, 1998) Faktor internal : kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) Faktor eksternal : peluang (opportunity) dan ancaman (threat). Menentukan faktor internal dan eksternal yang mempunyai nilai pengaruh penting (strategis) terhadap ekowisata TNBT Analisis AWOT (integrasi antara SWOT dan AHP ) Menyusun model kebijakan (struktur hierarki) Menentukan tingkat kepentingan relative antar elemen model oleh pakar terpilih Menentukan prioritas dari alternatif-alternatif kebijakan (Saaty,1988) Faktor internal dan eksternal yang mempunyai nilai pengaruh penting (strategis) terhadap ekowisata TNBT. Menentukan prioritas kebijakan pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata Analisis Sistem Dinamik Identifikasi isu, tujuan, dan batasan Konseptualisasi model Spesifikasi model Evaluasi model Penggunaan model (Purnomo, 2005 ) Data sub model kebijakan Data sub model jumlah ekowisatawan Data sub model pendapatan masyarakat. Membuat model pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata 52
Gambar 10. Diagram Aliran Informasi (file terpisah) 53