Perbarui Imanmu (Jaddid Imanak)

dokumen-dokumen yang mirip
BERJALAN DI BAWAH CAHAYA. Menuju Hidup Bahagia

Merasakan Manisnya Keimanan

( ٢ W ) א Serial Bimbingan & Penyuluhan [No:2] Sambutlah bulan yang mulia ini dengan taubat nashuha kepada Allah ta'ala, bergegaslah menuju keta'atan,

3 Wasiat Agung Rasulullah

Renungan Pergantian Tahun

Khutbah Jum'at. Sebelum Ramadhan Pergi. Bersama Dakwah 1

Sejumlah ulama berpendapat bahwa menjalankan shalat berjamaah mengandung banyak nilai kebaikan, diantaranya berikut;

Motivasi Agar Istiqomah

Beribadah Kepada Allah Dengan Mentauhidkannya

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan

Oleh: Drs. Abas Asyafah, M.Pd.

Menyelami. Makna Bacaan. Shalat. Edisi Panduan

Membentuk. Akhlak Anak. Cara Mendidik Akhlak Anak Menurut Islam. Roidah

Tauhid untuk Anak. Tingkat 1. Oleh: Dr. Saleh As-Saleh. Alih bahasa: Ummu Abdullah. Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary. Desain Sampul: Ummu Zaidaan

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Bagaimana Kita Merespon Perintah Puasa

Keutamaan Bulan Dzul Hijjah

Berkawan dengan Orang Shalih

Muslimah Keren _MUSLIMAH KEREN_RM pdf 1 5/17/2017 5:29:17 PM

Takwa dan Keutamaannya

AYO BUDAYAKAN SHOLAT SUBUH DI MASJID

Doa Hari ke 1. Doa Hari ke 2

dengan dunianya? Mereka saling menonjolkan

Mengenal Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

??????????????????????????????????:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Tegakkan Shalat Dengan Berjamaah

Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah

Pendukung dan Penghalang dari Taubat

Nasehat Bagi Orang Yang Melalaikan Shalat

Bab 4 Belajar Mendirikan Shalat Berlatih Akhlak Mulia Membangun Kesejahteraan Umat

E١١٧ J١٠٩ W F : :

DOA WIRID YANG TERMUAT DALAM AL QUR AN

Munakahat ZULKIFLI, MA

Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H

??????????????????????????????????????????????? :????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

Mula Kata, Bismillah

TIDAK SEKADAR PUASA BADANI

Muhasabah dan Muraqabah, Jalan Menuju Takwa

Sucikan Diri Benahi Hati

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46).

Khutbah Jum'at. Memaafkan Sesama Sebelum Ramadhan Tiba. Bersama Dakwah 1

Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama

Kekhususan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Oleh Umatnya

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Keutamaan Puasa

Jadilah Pembuka Pintu Kebaikan

Menerima dan Mengamalkan Kebenaran

BELAJAR MUDAH MEMAHAMI HIKMAH

Serial Bimbingan & Penyuluhan Islam

HADITS KEduapuluh tujuh Arti Hadits / :

Khutbah Jumat Manfaatkan Nikmat Kehidupan

Kewajiban Menunaikan Amanah

Macam-Macam Dosa dan Maksiat

BAB IV ANALISIS TENTANG PENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU (MIT) NURUL ISLAM RINGINWOK NGALIYAN SEMARANG

Keutamaan Bulan Ramadhan

Tauhid Yang Pertama dan Utama

Lailatul Qadar. Rasulullah SAW Mencontohkan beberapa amal khusus terkait Lailatul Qadar ini, di antaranya:

1 1 Dari Paul, Silwanus, dan Timotius.

Diantara perintah Allah Azza wa Jalla kepada kita adalah perintah agar kita mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Keistimewaan Hari Jumat

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116]

Ramadhan Bulan Pembebasan dari Api Neraka

Sunah Yang Hilang di Bulan Dzulhijjah

Tafsir Surat Al-Ashr: Meraih Sukses Dunia dan Akhirat

Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya

Umrah dan Haji Sebagai Penebus Dosa

Akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH DAN QABLIYAH SHUBUH

HUBUNGAN SEKSUAL SUAMI-ISTRI Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Pertanyaan:

10 Cara Sukses dalam Islam

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

BAB IV ANALISIS PERANAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN PENGAMALAN IBADAH ANAK DALAM KELUARGA DI DESA KEMASAN KECAMATAN BOJONG KABUPATEN PEKALONGAN

Jihad Palsu, Amalan Yang Menipu

Memperhatikan dan Menasihati Pemuda Untuk Shalat

Allah menjanjikan berbagai kenikmatan di bulan ini. Semua amal shalih orang yang berpuasa dilipatgandakan pahalanya.

Persiapan Menuju Hari Akhir

malam bentangkan gelap, ia berdiri menyesali diri karena takut tiada tara menjadi teman kesedihan pada siang hari

HIKMAH RAMADHON (Dikutip dari Kuliah Subuh Ust.Ir.Al-Bahra,M.Kom di Masjid Nurul Hidyah, Citra Raya)

ketik a al-qur an tak lagi diagungk an

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Urgensi Menjaga Lisan

Kematian Lebih Baik Bagi Seorang Mukmin

Sengsara membawa Nikmat (Buah dari Kesabaran) Oleh: Estu Miyarso

MENGHAYATI PERAN ISTRI

Suatu ketika Rasulullah harus sedikit menegur Aisyah ketika sang Humaira cemburu berat.

Metode Bijak Memperbaiki Aib

Kewajiban Pemerintah dan Rakyat

[ Indonesia Indonesian

Engkau Bersama Orang Yang Kau Cintai

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Masa Kecil Tanpa Tangisan

5. Kisah-kisah dan Sejarah 5.8 Nabi Syu aib AS.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. seluruh umat Muslim di dunia. Dalam ibadah yang disyariatkan Allah kepada

DAFTAR TERJEMAH No Halaman BAB Terjemah

Bab 1 Hakikat Puasa. Kewajiban Puasa Ramadhan Kewajiban puasa Ramadhan disebutkan oleh Allah Swt di dalam irman-nya:

Standar Kompetensi : 3. Membiasakan perilaku terpuji.

Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.

Khutbah Jumat Masjid Nabawi: Bagaimana Setelah Ramadhan?

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Transkripsi:

(Jaddid Imanak)

(Jaddid Imanak) Syaiful Anshor Penerbit PT Elex Media Komputindo

(Jaddid Imana) Syaiful Anshor PT Elex Media Komputindo, Jakarta,2016 Hak cipta dilindungi undang undang Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kompas - Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta 2016 716101622 978-602-02-9341-7 Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak.sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan

Daftar Isi KATA PENGANTAR... v Perbarui Imanmu... 1 Apa Kabar Imanmu Hari ini?... 11 Iman yang Bergelora... 20 Ketika Cahaya Iman Redup... 34 Yang Beriman yang Diuji... 48 Tetap Tabah Hadapi Musibah... 59 Seberapa Kuatkah Radar Spiritual Kita?... 65 Secercah Cahaya dari Rumah Allah... 78 Dua Pusaka yang Menyelamatkan... 89 Dengan Apa Kita Selamatkan Diri dari Api Neraka?... 98 Ya Allah, Karena-Mu Aku Menangis... 110 Jika Karena-Nya, Maka akan Diganti dengan yang Lebih Baik... 120 Momen Terindah Bersama Allah... 130

Bermuhasabahlah di Tengah Kesibukan... 138 Ingatlah: Selagi Masih Bisa... 147 Berharap Khusnul Khatimah hingga Akhir... 158 Ada Allah di Setiap Masalah... 165 Perempuan Peminang Surga... 173 Puncak Kenikmatan... 180 DAFTARA PUSTAKA...185 TENTANG PENULIS...187 viii

! Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. (HR. Imam Bukhari) Salah seorang sahabat pernah mengeluhkan kondisi spiritualnya. Ibadahnya tidak teratur. Kadang shalat kadang tidak. Bolong-bolong. Berbeda ketika mondok di pesantren dulu. Ibadahnya terjaga. Shalat berjemaah lima waktu dalam sehari. Rajin puasa sunah Senin-Kamis, tilawah Al-Qur an, dan shalat tahajud. Hidupnya juga terarah, damai dan tenang. Hatinya tidak gersang dan gulana. Kondisi itu berubah drastis ketika lulus pesantren dan bekerja di sebuah perusahaan. Aktivitasnya mulai seabrek. Pergi pagi pulang sore. Peras keringat banting tulang. Waktunya pun mulai padat. Hanya hari libur. Padatnya pekerjaan membuatnya lelah dan hanya fokus pada pekerjaan. Ya, memang pada awalnya ibadahnya masih terjaga. Masih shalat lima waktu ditambah shalat sunah muakkad. Namun, lambat laun mulai malasmalasan. Sesekali bolong. Hingga akhirnya berani dan sering meninggalkan shalat.

Hal itu diperparah dengan kondisi lingkungan pekerjaan yang kurang mendukung. Teman kantornya yang jarang shalat. Apalagi berjemaah. Tidak hanya itu. Dia mulai terpengaruh pergaulan dan kebiasaan buruk lingkungan. Awalnya, masih bisa menjaga diri. Tidak terpengaruh oleh ajakan mereka. Imannya masih kuat. Setiap kali diajak bermaksiat masih bisa menolak, Maaf. Saya tidak mau melakukan itu. Tetapi, lambat laun, karena sering dibujuk, dia mulai terpengaruh. Imannya kendor. Hatinya pun mencair seperti es. Dengan berat hati, dia mau diajak melakukan perbuatan maksiat dan dosa yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Untung saja, perbuatan buruk yang dilakukan masih sebatas itu. Jika diajak bermaksiat dan melakukan dosa yang lebih jauh dari itu, hatinya selalu menolak dan berontak seraya berkata, Jangan. Itu haram dan berdosa. Panggilan hatinya masih menjaga imannya untuk tidak bermaksiat dan melakukan dosa yang lebih besar. Hidup di lingkungan yang kurang bahkan tidak mengenal agama membuat spiritualnya kering kerontang. Imannya pun keropos. Ibadah menurun drastis. Mulai jarang shalat. Apalagi ibadah lainnya: puasa, tilawah, dan shalat malam. Praktis ditinggalkan. Kondisi spiritual yang tak ubahnya seperti padang rumput yang gersang itu membuat hidupnya berubah. Terasa sempit, hambar, dan gelisah. Jauh dari ketenangan dan kebahagiaan. Hidupnya seolah tidak berarti. Setiap hari, jiwanya selalu diliputi gundah gulana dan ketakutan. 2

! Batinnya bergejolak. Dahsyat. Seakan ada dua kutub berlawanan yang saling tarik menarik. Antara hak dan batil. Antara yang benar dan salah. Antara, ya, dan tidak. Pergolakan batin itu pertanda masih ada secercah cahaya di dalam hati. Secercah iman itu selalu membisikinya, Kembalilah ke jalan yang benar. Jalan seperti ketika di pondok pesantren dulu yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tinggalkan jalan buruk ini. Jangan tenggelam terlalu lama! Panggilan hati itu selalu dipikirkannya. Siang dan malam. Hingga berani mengambil keputusan besar: keluar dari pekerjaan itu dan mencari pekerjaan baru yang lebih mendukung serta lingkungan yang kondusif. Itu dilakukan demi menyelamatkan iman yang dulu pernah membuatnya pernah merasakan manisnya iman. Dia tidak mau hanya gara-gara dunia yang tidak seberapa harus kehilangan nikmat yang paling berharga. Ya, di dunia ini, tidak sedikit orang mengalami seperti sepenggal kisah di atas. Meski dengan kisah yang berbeda. Tetapi intinya sama: pernah mengalami saat di mana iman menurun drastis, jauh dari Allah, dan gemar bermaksiat. Meski awalnya memiliki iman yang kokoh. Tetapi, karena gempuran dan pengaruh dari luar, lambat laun pertahanan iman yang kokoh itu akhirnya juga jebol. Kualitas ibadah menurun. Maksiat meningkat. Hidup diliputi kegersangan dan gundah gulana setiap saat. Na uzubillah. Itulah sifat iman: fluktuatif. Pada satu waktu bisa bertambah (yazid), dan pada saat yang lain dapat berkurang (yanqush). 3

Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. (HR. Imam Bukhari) Perkataan dari ulama di atas patut direnungkan. Bukankah banyak kisah iman seseorang yang naik turun; terkadang beriman dan terkadang tidak? Pada waktu malam beriman, sedangkan pada waktu siang bermaksiat. Ketika berada di masjid khusyuk beribadah, tetapi saat di luar masjid, di kantor, di pasar, di rumah, dan di jalan raya bermaksiat: mencuri, korupsi, menfitnah, dan mengadu domba. Ketika muda beriman. Sedangkan di masa tua kafir. Sebaliknya tak sedikit pula yang ketika masa muda bermaksiat kepada Allah. Sedangkan di saat tuanya mendapat hidayah dan bertambah keimanannya. Ibadahnya menjadi lebih rajin dan akhlaknya semakin baik. Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia. (HR. Ahmad) Iman adalah sesuatu yang menuntut banyak keterlibatan anggota badan. Tidak hanya dibenarkan oleh hati. Tidak hanya diucapkan oleh lisan. Tetapi, iman juga harus dibuktikan dengan perbuatan. Nah, amal saleh adalah bukti dan tolok ukurnya. Itu kenapa, dalam banyak ayat Al-Qur an, kata iman disandingkan dengan amal saleh. Karena iman dan amal saleh tidak bisa 4

! dipisahkan. Ibarat dua mata uang yang saling terkait. Salah satunya seperti yang terdapat pada surah Al- Ashr. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al- Ashr [103]: 3) Fluktuasi iman ini, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari diakibatkan karena dua faktor: ketaatan dan kemaksiatan. Ketaatan yang dilakukan kepada Allah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-nya akan meningkatkan keimanan. Shalat wajib lima waktu ditambah yang sunah muakkad, puasa, membaca Al-Qur an, dan ibadah lainnya. Amal ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dengan keikhlasan Insya Allah akan menambah keimanan. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Manusia pilihan Allah yang setiap tutur katanya mulia ini betul-betul menjaga imannya dengan melaksanakan berbagai macam ibadah wajib dan sunnah. Padahal, nabi sendiri orang yang maksum dan telah dijamin masuk surga, tetapi tetap beribadah bahkan shalat tahajudnya tidak pernah tertinggal. Air matanya selalu tumpah di atas tempat sujud dalam sujud yang panjang di sepertiga malam. Pun demikian para ulama. Mereka begitu berhati-hati dalam menjaga iman. Tidak mau sedikit pun iman ternoda oleh dosa dan maksiat. Mereka begitu takut jika hati ternoda. Betapa takutnya jika sekali saja dosa terjadi meski tanpa disengaja. Perutnya dijaga dari yang haram. Sangat selektif dalam mengonsumsi makanan. 5

Tentang penulis Syaiful Anshor. Lahir pada tanggal 8 Agustus di sebuah desa transmigrasi di pelosok Sumatera Selatan. Pendidikan SD diselesaikan di desanya. Melanjutkan SMP di Pesantren Hidayatullah Palembang dan menamatkan jenjang menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Depok. Sedangkan, kuliahnya ditempuh di Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL), Surabaya. Putra keenam dari sepuluh bersaudara ini memulai karier menulisnya sejak duduk di bangku kuliah. Setiap pagi, selalu menanti loper koran Jawa Pos dan Kompas yang menyisipkan koran di bawah pintu kantor yang terbuat dari kaca transparan tebal untuk dibaca sebelum diambil office boy. Sejak itu, dia mulai tergugah untuk menulis dan mengirimkannya ke media. Beberapa tulisannya telah dimuat surat kabar. Di antaranya Jawa Pos, Majalah Suara Hidayatullah, Radar Surabaya, Kaltim Post, dan Radar Sulbar.

Tamat kuliah, penulis sempat menjadi wartawan majalah Suara Hidayatullah. Pernah pula mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (Penerapan Standar Kompetensi Wartawan Angkatan Ke-4) yang diadakan Lembaga Pers Dr. Soetomo. Selain menjadi koresponden di sejumlah media, penulis juga sibuk mengajar dan berbagi motivasi. Buku ini pun diniatkan menjadi ladang dakwah yang mengalirkan pahala tiada henti. 188