(Jaddid Imanak)
(Jaddid Imanak) Syaiful Anshor Penerbit PT Elex Media Komputindo
(Jaddid Imana) Syaiful Anshor PT Elex Media Komputindo, Jakarta,2016 Hak cipta dilindungi undang undang Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kompas - Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta 2016 716101622 978-602-02-9341-7 Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak.sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan
Daftar Isi KATA PENGANTAR... v Perbarui Imanmu... 1 Apa Kabar Imanmu Hari ini?... 11 Iman yang Bergelora... 20 Ketika Cahaya Iman Redup... 34 Yang Beriman yang Diuji... 48 Tetap Tabah Hadapi Musibah... 59 Seberapa Kuatkah Radar Spiritual Kita?... 65 Secercah Cahaya dari Rumah Allah... 78 Dua Pusaka yang Menyelamatkan... 89 Dengan Apa Kita Selamatkan Diri dari Api Neraka?... 98 Ya Allah, Karena-Mu Aku Menangis... 110 Jika Karena-Nya, Maka akan Diganti dengan yang Lebih Baik... 120 Momen Terindah Bersama Allah... 130
Bermuhasabahlah di Tengah Kesibukan... 138 Ingatlah: Selagi Masih Bisa... 147 Berharap Khusnul Khatimah hingga Akhir... 158 Ada Allah di Setiap Masalah... 165 Perempuan Peminang Surga... 173 Puncak Kenikmatan... 180 DAFTARA PUSTAKA...185 TENTANG PENULIS...187 viii
! Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. (HR. Imam Bukhari) Salah seorang sahabat pernah mengeluhkan kondisi spiritualnya. Ibadahnya tidak teratur. Kadang shalat kadang tidak. Bolong-bolong. Berbeda ketika mondok di pesantren dulu. Ibadahnya terjaga. Shalat berjemaah lima waktu dalam sehari. Rajin puasa sunah Senin-Kamis, tilawah Al-Qur an, dan shalat tahajud. Hidupnya juga terarah, damai dan tenang. Hatinya tidak gersang dan gulana. Kondisi itu berubah drastis ketika lulus pesantren dan bekerja di sebuah perusahaan. Aktivitasnya mulai seabrek. Pergi pagi pulang sore. Peras keringat banting tulang. Waktunya pun mulai padat. Hanya hari libur. Padatnya pekerjaan membuatnya lelah dan hanya fokus pada pekerjaan. Ya, memang pada awalnya ibadahnya masih terjaga. Masih shalat lima waktu ditambah shalat sunah muakkad. Namun, lambat laun mulai malasmalasan. Sesekali bolong. Hingga akhirnya berani dan sering meninggalkan shalat.
Hal itu diperparah dengan kondisi lingkungan pekerjaan yang kurang mendukung. Teman kantornya yang jarang shalat. Apalagi berjemaah. Tidak hanya itu. Dia mulai terpengaruh pergaulan dan kebiasaan buruk lingkungan. Awalnya, masih bisa menjaga diri. Tidak terpengaruh oleh ajakan mereka. Imannya masih kuat. Setiap kali diajak bermaksiat masih bisa menolak, Maaf. Saya tidak mau melakukan itu. Tetapi, lambat laun, karena sering dibujuk, dia mulai terpengaruh. Imannya kendor. Hatinya pun mencair seperti es. Dengan berat hati, dia mau diajak melakukan perbuatan maksiat dan dosa yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Untung saja, perbuatan buruk yang dilakukan masih sebatas itu. Jika diajak bermaksiat dan melakukan dosa yang lebih jauh dari itu, hatinya selalu menolak dan berontak seraya berkata, Jangan. Itu haram dan berdosa. Panggilan hatinya masih menjaga imannya untuk tidak bermaksiat dan melakukan dosa yang lebih besar. Hidup di lingkungan yang kurang bahkan tidak mengenal agama membuat spiritualnya kering kerontang. Imannya pun keropos. Ibadah menurun drastis. Mulai jarang shalat. Apalagi ibadah lainnya: puasa, tilawah, dan shalat malam. Praktis ditinggalkan. Kondisi spiritual yang tak ubahnya seperti padang rumput yang gersang itu membuat hidupnya berubah. Terasa sempit, hambar, dan gelisah. Jauh dari ketenangan dan kebahagiaan. Hidupnya seolah tidak berarti. Setiap hari, jiwanya selalu diliputi gundah gulana dan ketakutan. 2
! Batinnya bergejolak. Dahsyat. Seakan ada dua kutub berlawanan yang saling tarik menarik. Antara hak dan batil. Antara yang benar dan salah. Antara, ya, dan tidak. Pergolakan batin itu pertanda masih ada secercah cahaya di dalam hati. Secercah iman itu selalu membisikinya, Kembalilah ke jalan yang benar. Jalan seperti ketika di pondok pesantren dulu yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tinggalkan jalan buruk ini. Jangan tenggelam terlalu lama! Panggilan hati itu selalu dipikirkannya. Siang dan malam. Hingga berani mengambil keputusan besar: keluar dari pekerjaan itu dan mencari pekerjaan baru yang lebih mendukung serta lingkungan yang kondusif. Itu dilakukan demi menyelamatkan iman yang dulu pernah membuatnya pernah merasakan manisnya iman. Dia tidak mau hanya gara-gara dunia yang tidak seberapa harus kehilangan nikmat yang paling berharga. Ya, di dunia ini, tidak sedikit orang mengalami seperti sepenggal kisah di atas. Meski dengan kisah yang berbeda. Tetapi intinya sama: pernah mengalami saat di mana iman menurun drastis, jauh dari Allah, dan gemar bermaksiat. Meski awalnya memiliki iman yang kokoh. Tetapi, karena gempuran dan pengaruh dari luar, lambat laun pertahanan iman yang kokoh itu akhirnya juga jebol. Kualitas ibadah menurun. Maksiat meningkat. Hidup diliputi kegersangan dan gundah gulana setiap saat. Na uzubillah. Itulah sifat iman: fluktuatif. Pada satu waktu bisa bertambah (yazid), dan pada saat yang lain dapat berkurang (yanqush). 3
Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. (HR. Imam Bukhari) Perkataan dari ulama di atas patut direnungkan. Bukankah banyak kisah iman seseorang yang naik turun; terkadang beriman dan terkadang tidak? Pada waktu malam beriman, sedangkan pada waktu siang bermaksiat. Ketika berada di masjid khusyuk beribadah, tetapi saat di luar masjid, di kantor, di pasar, di rumah, dan di jalan raya bermaksiat: mencuri, korupsi, menfitnah, dan mengadu domba. Ketika muda beriman. Sedangkan di masa tua kafir. Sebaliknya tak sedikit pula yang ketika masa muda bermaksiat kepada Allah. Sedangkan di saat tuanya mendapat hidayah dan bertambah keimanannya. Ibadahnya menjadi lebih rajin dan akhlaknya semakin baik. Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia. (HR. Ahmad) Iman adalah sesuatu yang menuntut banyak keterlibatan anggota badan. Tidak hanya dibenarkan oleh hati. Tidak hanya diucapkan oleh lisan. Tetapi, iman juga harus dibuktikan dengan perbuatan. Nah, amal saleh adalah bukti dan tolok ukurnya. Itu kenapa, dalam banyak ayat Al-Qur an, kata iman disandingkan dengan amal saleh. Karena iman dan amal saleh tidak bisa 4
! dipisahkan. Ibarat dua mata uang yang saling terkait. Salah satunya seperti yang terdapat pada surah Al- Ashr. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al- Ashr [103]: 3) Fluktuasi iman ini, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari diakibatkan karena dua faktor: ketaatan dan kemaksiatan. Ketaatan yang dilakukan kepada Allah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-nya akan meningkatkan keimanan. Shalat wajib lima waktu ditambah yang sunah muakkad, puasa, membaca Al-Qur an, dan ibadah lainnya. Amal ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dengan keikhlasan Insya Allah akan menambah keimanan. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Manusia pilihan Allah yang setiap tutur katanya mulia ini betul-betul menjaga imannya dengan melaksanakan berbagai macam ibadah wajib dan sunnah. Padahal, nabi sendiri orang yang maksum dan telah dijamin masuk surga, tetapi tetap beribadah bahkan shalat tahajudnya tidak pernah tertinggal. Air matanya selalu tumpah di atas tempat sujud dalam sujud yang panjang di sepertiga malam. Pun demikian para ulama. Mereka begitu berhati-hati dalam menjaga iman. Tidak mau sedikit pun iman ternoda oleh dosa dan maksiat. Mereka begitu takut jika hati ternoda. Betapa takutnya jika sekali saja dosa terjadi meski tanpa disengaja. Perutnya dijaga dari yang haram. Sangat selektif dalam mengonsumsi makanan. 5
Tentang penulis Syaiful Anshor. Lahir pada tanggal 8 Agustus di sebuah desa transmigrasi di pelosok Sumatera Selatan. Pendidikan SD diselesaikan di desanya. Melanjutkan SMP di Pesantren Hidayatullah Palembang dan menamatkan jenjang menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Depok. Sedangkan, kuliahnya ditempuh di Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL), Surabaya. Putra keenam dari sepuluh bersaudara ini memulai karier menulisnya sejak duduk di bangku kuliah. Setiap pagi, selalu menanti loper koran Jawa Pos dan Kompas yang menyisipkan koran di bawah pintu kantor yang terbuat dari kaca transparan tebal untuk dibaca sebelum diambil office boy. Sejak itu, dia mulai tergugah untuk menulis dan mengirimkannya ke media. Beberapa tulisannya telah dimuat surat kabar. Di antaranya Jawa Pos, Majalah Suara Hidayatullah, Radar Surabaya, Kaltim Post, dan Radar Sulbar.
Tamat kuliah, penulis sempat menjadi wartawan majalah Suara Hidayatullah. Pernah pula mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (Penerapan Standar Kompetensi Wartawan Angkatan Ke-4) yang diadakan Lembaga Pers Dr. Soetomo. Selain menjadi koresponden di sejumlah media, penulis juga sibuk mengajar dan berbagi motivasi. Buku ini pun diniatkan menjadi ladang dakwah yang mengalirkan pahala tiada henti. 188