PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI MENGENAI SELF REGULATION PADA SISWA KELAS XI DI KELAS IQ SMA PASUNDAN 1 BANDUNG. Eni Nuraeni Nugrahawati, 2 Yuaninta Sari, 3 Delis Irmawati

BAB I PENDAHULUAN. seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengajar. Teori Self-Regulated Learning dari B.J Zimmerman yang menjelaskan

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan generasi muda penerus cita-cita bangsa dan negara,

BAB I PENDAHULUAN. menyelesaikan seluruh mata kuliah yang diwajibkan dan tugas akhir yang biasa

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sejak dahulu tenaga perawat pelaksana di ruang rawat inap dibutuhkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu perguruan tinggi terdapat proses belajar dan mengajar, proses ini

Studi Deskriptif Mengenai Self Regulation pada Siswa Atlet SMPN 1 Lembang. Suchi Fuji Astuti,

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu dalam hidupnya tidak terlepas dari proses belajar. Individu

BAB I PENDAHULUAN. Universitas ini mengelola 12 fakultas dan program studi, dan cukup dikenal di

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang membangun negara

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu terlahir dengan memiliki kapasitas untuk belajar yang

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini pendidikan sangat penting. Hal ini disebabkan perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, perhatian masyarakat mengenai hal-hal yang menyangkut

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan salah satu syarat untuk bisa melakukan kegiatan

BAB 1 PENDAHULUAN. bebas, dan otonomi daerah telah mendesak dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi untuk

Studi Mengenai Self Regulator pada Mahasiswa Underachiever di Fakultas Psikologi Unisba

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah pelajar yang berada dalam jenjang pendidikan perguruan

Lampiran 1 KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting untuk meningkatkan

Prosiding Psikologi ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. senantiasa bertambah, begitu juga halnya di Indonesia (

BAB I PENDAHULUAN. setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004, pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. ( ISAK_TOROBI/T_ADP _Chapter1.pdf).

BAB 1 PENDAHULUAN. yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang

Studi Deskriptif mengenai Self Regulation dalam Bidang Akademik pada Mahasiswa

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang baik maka tidak tersedia modal untuk melangkah ke depan

BAB I PENDAHULUAN. Semua orang membutuhkan pendidikan. Pendidikan yang telah diperoleh

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan individu dimana mereka dituntut untuk belajar setiap

BAB II KAJIAN TEORITIK. Menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) bahwa

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. performance or volitional control self regulation pada mahasiswa angkatan 2014

Data Pribadi. Kelas/No. Absen. Alamat/Telp :... Pendidikan Ayah/Ibu. c. di bawah rata-rata kelas. Kegiatan yang diikuti di luar sekolah :.

BAB I PENDAHULUAN. berkembang sejalan dengan pembangunan nasional. Pendidikan merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN. Pada jaman yang semakin berkembang, Indonesia semakin membutuhkan

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka memasuki era globalisasi, remaja sebagai generasi penerus

BAB 1 PENDAHULUAN. Menengah Pertama individu diberikan pengetahuan secara umum, sedangkan pada

BAB I PENDAHULUAN. satunya adalah melalui sekolah menengah kejuruan (SMK). Pendidikan kejuruan adalah bagian sistem pendidikan nasional yang

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang semakin canggih, dan persaingan dalam dunia pekerjaan yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi mahasiswa menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Kamisa,

BAB I PENDAHULUAN. Organisasi adalah salah satu usaha dari sekelompok orang yang bekerja

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring ketatnya persaingan didunia pekerjaan, peningkatan Sumber Daya

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk

Prosiding SNaPP2012: Sosial, Ekonomi, dan Humaniora ISSN Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan untuk menghafal, dan bukan untuk berpikir secara kreatif, seperti

BAB I PENDAHULUAN. daya yang terpenting adalah manusia. Sejalan dengan tuntutan dan harapan jaman

BAB I PENDAHULUAN. kutu buku, bahkan kurang bergaul (Pikiran Rakyat, 7 November 2002).

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi. dan negara. Contoh peran pendidikan yang nyata bagi perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. peserta didik, untuk membentuk Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan penyalahgunaan atau ketergantungan narkoba mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. (Kagan & Coles, 1972; Keniston, 1970; Lipsitz, 1977, dalam Steinberg, 1993).

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan di era globalisasi sangat menuntut sumber daya manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai

BAB I PENDAHULUAN. perlu dikembangkan sepanjang hidupnya. Dalam menjalani proses belajar setiap

BAB I PENDAHULUAN. Penurunan jumlah imam yang ada di Indonesia saat ini seringkali menjadi

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah salah satu bentuk pendidikan formal yang

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan pendidikan selain ikut mengantarkan manusia ke harkat dan martabat

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, sehingga terus berusaha untuk memajukan kualitas pendidikan yang ada.

Prosiding Psikologi ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang dimilikinya. Salah satu faktor penentu kualitas sumber daya manusia adalah

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini setiap orang berusaha untuk dapat bersekolah. Menurut W. S

Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. awal, dimana memiliki tuntutan yang berbeda. Pada masa dewasa awal lebih

BAB I PENDAHULUAN. Pada era gobalisasi ini, perkembangan masyarakat di berbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi era globalisasi, berbagai sektor kehidupan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. inteligensi adalah faktor utama yang menentukan academic performance. Para

BAB I PENDAHULUAN. akademik dan/atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni

BAB I PENDAHULUAN. latihan sehingga mereka belajar untuk mengembangkan segala potensi yang

BAB I PENDAHULUAN. tanpa terkecuali dituntut untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada.

2016 HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DENGAN PRESTASI BELAJAR

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman yang maju mengikuti pertumbuhan ilmu

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

I. PENDAHULUAN. Dalam pembelajaran di sekolah, agar memperoleh prestasi harus dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Undang undang Pemerintahan Negara Republik Indonesia tahun 2003 pasal

REGULASI DIRI DARI RESIDEN YANG MENJALANI PROGRAM REHABILITASI KETERGANTUNGAN NARKOBA. Shirley Melita Sembiring M. Universitas Medan Area, Indonesia

I. PENDAHULUAN. tujuan penelitian, asumsi penelitian, manfaat penelitian dan ruang lingkup

I. PENDAHULUAN. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal, yang masih

BAB I PENDAHULUAN. merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

I. PENDAHULUAN. yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah, terutama dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN. Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas/Berbakat Istimewa, terdapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gina Aprilian Pratamadewi, 2013

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keunggulan suatu bangsa tidak lagi tertumpu pada kekayaan alam,

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas tersebut diciptakan melalui pendidikan (

BAB 1 PENDAHULUAN. Zaman modern yang penuh dengan pengaruh globalisasi ini, kita dituntut

BAB I PENDAHULUAN. di bidang tekhnologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pendidikan. Perubahan

BAB I PENDAHULUAN. Krisis multidimensional dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang

PENGARUH DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS X IS SMA NEGERI 5 TEGAL TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI

Transkripsi:

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh 1. Skripsi digital ini hanya digunakan sebagai bahan referensi 2. Cantumkanlah sumber referensi secara lengkap bila Anda mengutip dari Dokumen ini 3. Plagiarisme dalam bentuk apapun merupakan pelanggaran keras terhadap etika moral penyusunan karya ilmiah 4. Patuhilah etika penulisan karya ilmiah Selamat membaca!!! Wassalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh UPT PERPUSTAKAAN UNISBA

STUDI MENGENAI SELF REGULATION PADA SISWA KELAS XI DI KELAS IQ SMA PASUNDAN 1 BANDUNG SKRIPSI Diajukan Dalam Rangka Melengkapi Salah Satu Persyaratan Menempuh UJian Sidang Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung Disusun oleh : Delis Irmawati 10050007031 UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG FAKULTAS PSIKOLOGI 2012

STUDI MENGENAI SELF REGULATION PADA SISWA KELAS XI DI KELAS IQ SMA PASUNDAN 1 BANDUNG Nama : DELIS IRMAWATI NPM : 100500070311 Bandung, September 2012 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG Menyetujui, Eni N. Nugrahawati, Dra., M.Pd. Yunita Sari, M.Psi. Pembimbing I Pembimbing II Mengetahui, DR. H. Umar Yusuf, M.Si. Dekan Fakultas Psikologi

Motto É9ô¹$#uρy7 ø tρyìtβt Ï%!$#šχθãô tƒνæη /u Íο4ρy tóø9$î/äc Å yèø9$#uρtβρß ƒìムçµyγô_uρ( Ÿωuρß ès?x8$uζøštãöνåκ ]tãß ƒìè?sπoψƒî Íο4θuŠysø9$#$u Ρ 9$#( ŸωuρôìÏÜè?ô tβ$uζù=x øîr& çµt7ù=s% tã$tρìø.ïœyìt7?$#uρçµ1uθyδšχ%x.uρ çνãøβr&$wûã èù Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. ii

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Karya ini aku pesembahkan untuk kedua orang tuaku, yang selalu mendukung dan mendoakan, serta memberi semangat di setiap langkahku. iii

ABSTRAK Delis Irmawati (10050007031). Studi Mengenai Self Regulation Pada Siswa Kelas XI di Kelas IQ SMA Pasundan 1 Bandung. Di kelas IQ SMA Pasundan 1 Bandung, terdapat siswa yang memiliki nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) padahal mereka memiliki IQ diatas rata-rata. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memiliki prestasi yang optimal selain inteligensi yaitu kepribadian dan lingkungan. Self regulation turut mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi yang optimal. Berdasarkan hal tersebut peneliti bermaksud untuk meneliti self regulation siswa yang memiliki IQ diatas rata-rata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jumlah subjek sebanyak 32 (tiga puluh dua) siswa di kelas IQ di SMA Pasundan 1 Bandung. Pengumpulan data menggunakan kuesioner self regulation yang dikemukakan oleh Zimmerman. Alat ukur ini terdiri atas 66 item dengan reliabilitas 0.81. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68.7% siswa memiliki self regulation yang rendah. Berdasarkan fase dari self regulation diperoleh hasil bahwa 65.6% siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam melakukan perencanaan (forethought), 65.6% siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam melaksanakan rencana (performance) dan 68.7% siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam melakukan evaluasi dari tindakan dan rencana yang telah disusun sebelumnya (self reflection). Keyword: Self Regulation, Kelas IQ iv

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahim, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas karunia-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul STUDI MENGENAI SELF REGULATION PADA SISWA KELAS XI DI KELAS IQ SMA PASUNDAN 1 BANDUNG sebagai suatu syarat untuk sidang sarjana Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung. Skripsi ini terbagi ke dalam lima bab. Pada bab I terdapat penjelasan mengenai latar belakang masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini. Latar belakang masalah berawal dari adanya siswa kelas IQ SMA Pasundan 1 Bandung yang memiliki nilai UTS (Ujuan Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester) dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) pada beberapa mata pelajaran namun memiliki tingkat kecerdasan (IQ) di atas rata-rata. Sebenarnya siswa tersebut memiliki kemampuan untuk memperoleh nilai yang lebih baik tetapi mereka kurang dapat mengoptimalkan potensi kecerdasan yang dimilikinya. Pada bab II, terdapat penjelasan mengenai teori- teori yang digunakan dalam penelitian. Teori utama yang digunakan adalah teori tentang self regulation. Pada bab III terdapat penjelasan mengenai metode penelitian. Pada bab IV terdapat penjelasan mengenai hasil dan pembahasan penelitian. Sedangkan, pada bab V terdapat simpulan yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian serta saran yang v

ditujukkan untuk siswa yang bersangkutan dan lembaga tempat penelitian ini dilakukan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidaklah sempurna, oleh karena itu masukan dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis perlukan bagi kemajuan penulis. Besar harapan penulis skripsi ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat khususnya dalam dunia pendidikan, terutama bagi para pendidik agar dapat mengembangkan ketahanan diri dan keuletan dalam menyampaikan pengetahuan yang bermakna dan bertujuan. Bandung, September 2012 Delis Irmawati vi

UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada : 1. DR. H. Umar Yusuf, M. Si, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung. 2. Dra. Eni N. Nugrahawati, M. Pd. selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan serta motivasi kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini dengan penuh kesabaran dan ketulusan. 3. Yunita Sari, M. Psi selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan masukan-masukan kepada peneliti yang membantu terwujudnya skripsi ini. 4. Dra. Yenni Styani dan Oki Mardiawan M. Psi selaku dosen wali yang selalu mendukung kemajuan akademik peneliti. 5. Kedua orang tua tercinta yang telah memberikan doa, motivasi serta dukungannya kepada peneliti sehingga peneliti dapat menyelesaikannya skripsi ini. 6. Seluruh keluarga besar peneliti yang telah memberikan dukungan kepada peneliti. 7. Eko Nursandy, Teh Nungky Sukma Perdana S. Psi yang telah membantu memberikan bantuan serta masukan kepada peneliti. 8. Kemi, Dika, Teh Ira, Teh Yuli, Apit, Sukma, Wini, Icha, Alin, Fitri dan seluruh teman-teman Psikologi, yang telah membantu dan memberikan masukanmasukan kepada peneliti. 9. Ajeng, Bela, Deya yang selalu bertanya kemajuan skripsi peneliti. vii

10. Semua teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas dorongannya kepada peneliti untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. 11. Seluruh guru dan staf SMA Pasundan 1 Bandung, khusunya Bu. Yayu, Bu. Anke, Bu. Hj. Enung, Murid XIB2 yang telah bersedia memberikan bantuan dalam pembuatan skripsi ini. 12. Seluruh dosen dan staf Fakultas Psikologi UNISBA yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang berharga pada peneliti. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan harapan peneliti semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya. Bandung, September 2012 Delis Irmawati viii

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... HALAMAN MOTTO... HALAMAN PERSEMBAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i ii iii iv v vii ix xii xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Identifikasi Masalah... 8 1.3 Tujuan Penelitian... 9 1.4 Kegunaan Penelitian... 10 BAB II LANDASAN TEORI... 11 2.1 Self Regulation... 11 2.1.1 Pengertian Self Regulation... 11 2.1.2 Struktur Sistem-Sistem Self Regulation... 12 2.1.2.1 Fase Forethought... 14 2.1.2.2 Fase Performance atau Volitional Control... 17 2.1.2.3 Fase Self Reflection... 20 ix

2.1.3 Karakteristik Self Regulation... 25 2.1.3.1 Karakteristik Individu dengan Self Regulation Tinggi 25 2.1.3.2 Karakteristik Individu dengan Self Regulation Rendah 26 2.1.4 Triadik Self Regulation... 27 2.1.5 Pengaruh Sosial dan Lingkungan terhadap Self Regulation 28 2.1.6 Perkembangan Self Regulation... 30 2.1.7 Hal-hal yang menghambat Self Regulation... 32 2.2 Remaja... 35 2.2.1 Pengertian Remaja... 35 2.2.2 Ciri Remaja... 37 2.2.3 Tugas-tugas Perkembangan Remaja... 40 2.3 Kerangka Pikir... 41 BAB III METODE PENELITIAN... 46 3.1 Rancangan Penelitian... 46 3.2 Identifikasi Variabel... 46 3.3 Definisi Operasional Variabel... 47 3.4 Populasi Penelitian... 48 3.5 Alat Ukur... 49 3.6 Uji Coba Alat Ukur... 51 3.6.1 Uji Validitas... 52 3.6.2 Uji Reliabilitas... 54 3.7 Teknik Pengolahan Data... 57 3.8 Prosedur Penelitian... 58 x

3.8.1 Tahap Persiapan... 58 3.8.2 Tahap Pengumpulan Data... 59 3.8.3 Tahap Pengolahan Data... 59 3.8.4 Tahap Pembahasan... 59 3.8.5 Tahap Akhir... 60 BAB IV PEMBAHASAN... 61 4.1 Hasil Pengolahan Data Penelitian... 61 4.1.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian... 61 4.1.2 Hasil Penelitian Self Regulation... 61 4.1.3 Hasil Penelitian Self Regulation pada Setiap Fase... 65 4.1.3.1 Fase Forethought... 65 4.1.3.2 Fase Performance atau Volitional Control... 68 4.1.3.3 Fase Self Reflection... 70 4.2 Pembahasan... 73 BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 78 5.1 Simpulan... 78 5.2 Saran... 78 DAFTAR PUSTAKA... 80 LAMPIRAN xi

DAFTAR TABEL 2.1 Struktur Fase dan Sub Proses Self Regulation... 14 3.1 Kisi-kisi Alat Ukur... 49 3.2 Penskoran Skala Self Regulation... 51 3.3 Parameter Koefisien Reliabilitas Guilford... 56 4.1 Self Regulation... 61 4.2 Penyebaran Persentase Fase dan Sub-Fase Self Regulation... 62 4.3 Penyebaran Fase-Fase Self Regulation... 64 4.4 Fase Forethought... 65 4.5 Penyebaran Fase Forethought... 66 4.6 Fase Performance atau Volitional Control... 68 4.7 Penyebaran Fase Performance atau Volitional Control... 69 4.8 Fase Self Reflection... 71 4.9 Penyebaran Fase Self Reflection... 72 xii

DAFTAR GAMBAR 2.1 Siklus Fase Self Regulation... 12 2.2 Skema Berpikir... 45 4.1 Diagram Lingkaran Self Regulation... 62 4.2 Diagram Batang Penyebaran Persentase Fase dan Sub-Fase Self Regulation... 63 4.3 Diagram Batang Penyebaran Fase-Fase Self Regulation... 64 4.4 Diagram Lingkaran Fase Forethought... 66 4.5 Diagram Batang Penyebaran Fase Forethought... 67 4.6 Diagram Lingkaran Fase Performance/Volitional Control... 68 4.7 Diagram Batang Penyebaran Fase Performance/Volitional Control... 69 4.8 Diagram Lingkaran Fase Self Reflection... 71 4.9 Diagram Batang Penyebaran Fase Self Reflection... 72 xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Melalui pendidikan, suatu negara mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya. Dengan kualitas pendidikan yang baik suatu negara mampu menciptakan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik pula. Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan tiga tahun di sekolah menegah pertama/madrasah tsanawiyah (http://id.wikipedia.org). Jenjang yang ditempuh setelah pelajar mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA). Di Bandung terdapat banyak Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri maupun swasta yang terkenal dan menjadi SMA favorit bagi para calon siswa baru. Salah satu SMA swasta yang cukup dikenal di kota Bandung adalah SMA Pasundan 1. SMA Pasundan 1 Bandung memiliki akreditasi A. SMA Pasundan 1 Bandung memiliki visi sebagai berikut: 1) Menjadikan manusia yang berpendirian religius berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) Menjadikan manusia yang mantap dalam penguasaan Ilmu Pengetahuan & Teknologi (IPTEK) serta mampu berperan aktif dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan & Teknologi (IPTEK), 3) Menjadikan manusia yang mampu mengikuti perkembangan sosial budaya dengan memelihara dan mengembangkan budaya dan 1

BAB I - Pendahuluan tradisi daerah sendiri, serta memiliki misi sebagai berikut: 1) Membina peserta didik berlandaskan keimanan & ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) Mengembangkan layanan profesional dalam semangat kerjasama dan keteladanan guna meningkatkan prestasi kerja dan prestasi belajar peserta didik, 3) Menanamkan semangat humanistis serta inovatif, menghantarkan peserta didik mengenal perkembangan seni dan budaya lokal, nasional maupun internasional, menumbuhkan daya juang dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, 4) Mengembangkan potensi peserta didik dalam meningkatkan kemampuan, intelektual (pengetahuan) dengan disandarkan pada kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. (http://www.smapasundan1bdg) Bertolak dari visi dan misi, SMA Pasundan 1 Bandung menjabarkan tujuannya sebagai berikut: 1) Meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi semua civitas akademika SMA Pasundan 1 Bandung, 2) Mampu meningkatkan prestasi hasil belajar siswa, 3) Meningkatkan kemampuan penggunaan komputer untuk meningkatkan pelayanan proses belajar mengajar bagi tenaga pendidik seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), 4) Memiliki tim kesenian dan olah raga yang handal sehingga mampu menjadi acuan bagi perkembangan seni dan olah raga di tingkat Kota Bandung, 5) Melaksanakan school reform demi peningkatan mutu sekolah berdasarkan prinsipprinsip Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yang berfokus pada: (1) Kualitas mutu pendidikan, (2) Transparansi & Akuntabiliti, (3) Perencanaan dan pengambilan keputusan yang melibatkan unsur komite sekolah, (4) 2

BAB I - Pendahuluan Pemberdayaan masyarakat, dan (5) Peningkatan mutu pendidikan yang berkesinambungan. (http://www.smapasundan1bdg) Dalam rangka dapat mencapai visi, misi serta tujuan, beberapa upaya telah dilakukan oleh pihak sekolah untuk dapat merealisasikannya. Beberapa cara yang telah dilakukan yaitu selain memiliki kelas regular, sekolah juga memiliki beberapa penggolongan kelas yaitu: 1) Kelas RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) 2) Kelas atlet 3) Kelas berprestasi berdasarkan prestasi belajar siswa dan 4) Kelas berdasarkan tes IQ (Intelligence Quotient). Kelas RSBI diadakan dengan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas sekolah agar dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lain yang juga memiliki kelas RSBI. RSBI merupakan kelas yang memiliki fasilitas yang lebih baik dibanding dengan kelas-kelas yang lain. Pada kelas RSBI terdapat infocus serta memiliki pendingin ruangan (AC). Tenaga pengajar yang mengajar di kelas tersebut merupakan guru yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris serta yang dirasa nyaman oleh siswa. Kelas RSBI terdapat di kelas X1, XIB1, XIIB1. Kelas atlet merupakan kelas yang siswanya memiliki bakat di bidang olahraga. Untuk dapat masuk kelas atlet pada saat pendaftaran masuk sekolah, siswa diminta menunjukkan sertifikat atau bukti bahwa ia merupakan atlet yang berprestasi dan masih aktif. Tujuan diadakannya kelas tersebut yaitu untuk mengimbangi kesibukan siswa yang menjadi atlet tersebut. Semua kelas atlet masuk pada pagi hari karena biasanya siswa-siswa tersebut harus mengikuti latihan pada cabang olahraga masing-masing pada sore hari. Kelas atlet ada di kelas X2 dan XIC1. Di kelas XII 3

BAB I - Pendahuluan tidak diadakan kelas atlet, semua siswa yang berada di kelas atlet pada saat kelas XI dipisah-pisahkan. Hal tersebut dikarenakan agar siswa lebih fokus dalam menjelang Ujian Nasional. Kelas berprestasi berdasarkan prestasi belajar siswa merupakan kelas yang dikelompokkan berdasarkan nilai raport yang didapat siswa di kelas satu. Siswasiswa yang berprestasi dimasukkan kedalam kelas XIB3 diharapkan akan dapat menaikkan prestasi serta daya saing diantara siswa di kelas tesebut. Kelas berdasarkan tes IQ (Intelligence Quotient) merupakan kelas yang dikelompokkan berdasarkan IQ. Kelas ini mulai diadakan pada tahun ajaran 2010-2011. Pertimbangan diadakannya kelas IQ yaitu untuk dapat mengoptimalkan potensi siswa yang memiliki IQ yang tinggi agar dapat berkembang jika berada di lingkungan yang memiliki potensi yang sama. Kelas IQ merupakan kelas yang diseleksi menurut klasifikasi jumlah IQ. Tes IQ dilakukan pada saat siswa duduk di kelas X dengan menggunakan APM (Advanced Progressive Matrices), dengan kriteria sebagai berikut: very superior 130 ke atas, superior 120-129, bright normal 110-119, average 90-109, dull normal 89 ke bawah. IQ siswa yang ada di kelas tersebut berada pada klasifikasi di atas rata-rata. Pada tahun ajaran 2011-2012 kelas unggulan berdasarkan tes IQ di kelas XI terdapat di kelas XIB2. Berdasarkan wawancara kepada pihak sekolah, diketahui bahwa siswa apabila memiliki IQ tinggi masuk ke dalam kelas regular maka prestasinya kurang menonjol. Pengelompokkan siswa tersebut diharapkan dapat membuat lingkungan belajar siswa (kelas) yang memiliki potensi akan lebih kompetitif. Berdasarkan informasi dari guru 4

BAB I - Pendahuluan BK (Bimbingan Konseling), diketahui bahwa kelas tersebut diadakan untuk melihat prestasi siswa dari hasil psikotes dibanding kelas lain. Menurut Binet (Winkel, 1997:529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah. Berdasarkan data dari wali kelas menunjukkan presentase nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) dari nilai Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil dari 44 siswa di kelas XIB2 pada 14 mata pelajaran yaitu 100% untuk mata pelajaran agama, 95% matematika dan Bahasa Jerman, 93% Bahasa Indonesia, 76% sejarah dan biologi, 72% fisika, 68% Bahasa Inggris, 65% kimia, 45% Bahasa Sunda, 43% PENJAS, 36% kewarganegaraan, 25% TIK, serta 18% seni tari. Sedangkan presentase nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) dari nilai Ujian Tengah Semester (UTS) semester genap dari 42 siswa (nilai untuk satu siswa baru tidak ada dalam berkas nilai) di kelas XIB2 pada 14 mata pelajaran yaitu 100% untuk mata pelajaran matematika, agama, fisika, dan biologi, 90% kewarganegaraan, 85% seni rupa dan sejarah, 78% PENJAS, 74% Bahasa Jerman, 64% kimia, 57% Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, 55% Bahasa Sunda, serta 53% TIK. 5

BAB I - Pendahuluan Data di atas menunjukkan bahwa siswa kurang dapat mengoptimalkan potensi kecerdasan yang dimilikinya. Mereka memiliki nilai di bawah harapan. Berdasarkan wawancara kepada guru, diketahui bahwa nilai siswa yang tidak optimal disebabkan oleh siswa kurang aktif di kelas seperti bertanya kepada guru jika ada materi yang tidak dimengerti. Beberapa siswa sering tidak berada didalam kelas ketika pelajaran sedang berlangsung. Siswa sering ribut di dalam kelas, terutama jika guru sedang keluar kelas meskipun telah memberikan tugas. Berdasarkan wawancara kepada delapan siswa kelas XIB2 mereka tidak memiliki target nilai yang ingin dicapai karena menurut mereka jika mendapatkan nilai rendah mereka masih dapat memperbaikinya dengan cara mengikuti remedial. Mereka tidak memiliki waktu belajar khusus yang rutin dilakukan di rumah karena lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang menurut mereka lebih menyenangkan seperti menonton televisi, hangout dengan teman, bermain game, dan membuka jejaring sosial seperti facebook, twitter, dsb. Hal tersebut menyebabkan mereka menjadi jarang membaca buku pelajaran di rumah. Mereka tidak memiliki kelompok belajar untuk berdiskusi dalam mengerjakan tugas, mereka lebih tertarik bergosip dibanding membicarakan hal-hal yang merkaitan dengan pelajaran. Siswa sering mengerjakan tugas di sekolah sesaat sebelum dikumpulkan, tidak jarang tugas dalam satu hari bukan hanya satu pelajaran sehingga mencontek pun menjadi pilihan yang diambil agar tugas dapat selesai dan tidak dimarahi oleh guru. Pada saat guru menerangkan materi pelajaran, perhatian siswa mudah teralihkan karena sebentar-sebentar melihat handphone. Beberapa siswa mengatakan 6

BAB I - Pendahuluan bahwa mereka merasa kurang fokus dalam mengikuti pelajaran karena kebisingan siswa lain di kelas. Beberapa siswa pernah tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dengan alasan lupa untuk mengerjakan. Ketika pelajaran sedang berlangsung beberapa siswa sering mengantuk di kelas, alasannya karena sekolah diadakan pada siang hari sehingga membuat mereka mengantuk. Beberapa siswa sering berada diluar kelas ketika jam pelajaran, mereka meminta izin kepada guru untuk pergi ke mesjid dengan alasan solat, tetapi mereka kembali ke dalam kelas setelah pelajaran tersebut selesai. Saat mereka mendapatkan nilai ujian yang kurang memuaskan mereka mengatakan walaupun telah belajar jika akan menghadapi ujian tetapi tetap saja mendapatkan nilai yang kurang memuaskan sehingga mereka malas untuk belajar lebih giat jika akan menghadapi ujian karena dirasa hasilnya sama saja dengan tidak belajar, hal tersebut menyebabkan mereka sering tidak yakin dalam mengerjakan soal ujian. Beberapa siswa mengatakan bahwa pada awal masuk kelas IQ mereka mengira akan ada persaingan untuk mencapai prestasi akademik karena berpikir bahwa mereka masuk pada kelas yang semua siswanya memiliki potensi kecerdasan yang tinggi, tetapi pada kenyataannya siswa yang lain tidak menunjukkan persaingan, mereka mengatakan sama saja seperti ketika mereka berada di kelas X yang belum dikelompokkan pada kelas IQ. Hal tersebut menyebabkan mereka jadi tidak terpacu untuk bersaing dan tidak berusaha secara maksimal untuk mencapai prestasi. 7

BAB I - Pendahuluan Berdasarkan fenomena yang terjadi, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai Studi Mengenai Self Regulation pada Siswa Kelas XI di Kelas IQ SMA Pasundan 1 Bandung. 1.2 Identifikasi Masalah Inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah. Binet (Winkel, 1997:529). Siswa Kelas XI di Kelas IQ SMA Pasundan 1 memiliki IQ diatas rata-rata, diharapkan mereka dapat mencapai nilai yang optimal sesuai dengan potensi yang mereka miliki, akan tetapi pada kenyataannya nilai yang mereka capai tidak sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memiliki prestasi yang optimal. Faktor tersebut diantaranya adalah inteligensi, kepribadian, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah. Namun selain faktor-faktor tersebut ternyata self regulation turut mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi yang optimal (Boekaerts, 2000). Menurut Zimmerman kemampuan mengatur diri (self regulation) adalah kemampuan seseorang mengatur diri yang direncanakan dan secara berulang 8

BAB I - Pendahuluan disesuaikan untuk mencapai tujuan personal (Boekarts, 2000). Self regulation adalah proses individu mengaktifkan pikiran, perasaan dan tingkah laku yang telah direncanakan dan secara sistematis telah disesuaikan dengan kebutuhan individu untuk mempengaruhi belajar dan motivasinya (Schunk, 1994, Zimmerman, 1989, 1990, 2000, Zimmerman & Kitsantas, 1996: Boekaerts, 2000:631). Schunk dan Zimmerman (1998) mengatakan bahwa teori self-regulation memandang belajar sebagai open-ended process yang membutuhkan aktivitas berkesinambungan dalam proses belajar dan terdiri atas 3 (tiga) fase, yaitu fase forethought, fase performance atau volitional control, dan fase self-reflection. Ketiga fase tersebut merupakan proses yang saling berhubungan. Untuk memperjelas penelitian, permasalahan di atas dapat dijabarkan ke dalam perumusan masalah dengan bentuk pernyataan berikut: Bagaimanakah Self Regulation pada Siswa Kelas XI di Kelas IQ SMA Pasundan 1 Bandung? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini ingin memperoleh gambaran empiris mengenai Self Regulation pada Siswa Kelas XI di Kelas IQ SMA Pasundan 1 Bandung. 9

BAB I - Pendahuluan 1.4 Kegunaan Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi penelitian selanjutnya sebagai bahan informasi bagi yang berminat untuk memahami lebih lanjut mengenai penelitian yang berkaitan dengan self regulation. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, terutama yang berada di kelas IQ agar dapat mengetahui gambaran self regulation sehingga diharapkan mampu membuat perencanaan dan langkah-langkah yang efektif agar mendapatkan nilai yang optimal. 10

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Self Regulation 2.1.1 Pengertian Self Regulation Setiap manusia memiliki berbagai macam kegiatan dan diberi kemampuan untuk mengatur semua kegiatannya tersebut. Menurut Zimmerman kemampuan mengatur diri (self regulation) adalah kemampuan seseorang mengatur diri yang direncanakan dan secara berulang disesuaikan untuk mencapai tujuan personal (Boekarts, 2000). Self regulation adalah suatu proses individu mengaktifkan pikiran, perasaan dan tingkah laku, yang telah direncanakan dan secara sistematis telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa untuk mempengaruhi belajar dan motivasi (Schunk, 1994; Zimmerman, 1989, 1990, 2000, Zimmerman & Kitsantas, 1996; dalam Boekaerts, 2000:631). Self regulation meliputi proses penetapan tujuan untuk belajar, mengikuti dan berkonsentrasi pada pelajaran, penggunaan strategi yang efektif untuk mengorganisir, melakukan pengkodean, dan berlatih mengingat informasi, menetapkan suatu lingkungan kerja yang produktif, menggunakan sumber daya yang efektif, meminta bantuan ketika diperlukan, memiliki kepercayaan yang positif tentang kemampuan yang dimiliki, mengantisipasi hasil yang dicapai, serta merasakan kebanggaan dan kepuasan atas usaha yang telah dilakukan (Boekaerts, 2000:631). 11

BAB II Landasan Teori Self regulation pada siswa mengacu pada derajat metakognisi, motivasi, dan perilaku mereka dalam belajar. Setiap siswa memiliki self regulation yang berbeda dalam belajar, termasuk motif mereka dalam belajar, metode yang digunakan, hasil yang tampak dari usaha yang mereka lakukan, dan sumber lingkungan yang mereka gunakan (Boekaerts, 2000:632). 2.1.2 Struktur Sistem-Sistem Self Regulation Performance Forethought Self Reflection Gambar 2.1 Siklus Fase Self Regulation (D. H. Schunk & B. J. Zimmerman, 1998; dalam Boekaerts, 2000: 16) Self regulation digambarkan sebagai siklus karena umpan balik dari kinerja sebelumnya digunakan untuk membuat penyesuaian selama usaha berjalan. Proses self regulatory yang disertai adanya beliefs dibagi menjadi 3 fase siklus, yaitu forethought, performance or volitional control, dan proses self reflection. Ketidakefektifan dalam kemampuan self regulation ini bisa disebabkan oleh kurang 12

BAB II Landasan Teori berkembangnya salah satu fase dalam proses self regulation terutama pada fase forethought dan performance control yang tidak efektif (Bandura, 1991; Zimmerman, 1998 dalam Boekaerts, 2000). Forethought merupakan proses yang terjadi sebelum adanya usaha-usaha untuk bertindak dan berpengaruh terhadap usahausaha tersebut dengan melakukan persiapan pelaksanaan tindakan tersebut. Performance atau volitional control melibatkan proses yang terjadi selama usaha itu berlangsung dan pengaruhnya terhadap persiapan yang telah dibuat dan tindakan yang dilakukan. Self reflection melibatkan proses yang terjadi setelah adanya usahausaha yang dilakukan pada fase performance dan mempengaruhi reaksi individu terhadap pengalaman tersebut. Self reflection ini mempengaruhi forethought terhadap usaha-usaha berikutnya sehingga dengan demikian melengkapi siklus sebuah self regulatory. Masing-masing fase memiliki sub proses, seperti yang dijelaskan pada tabel di bawah ini: 13

BAB II Landasan Teori Tabel 2.1 Struktur Fase dan Sub Proses Self Regulation (D. H. Schunk & B. J. Zimmerman, 1998; dalam Boekaerts, 2000: 16) Forethought Task analysis Goal setting Strategic planning Self-motivation beliefs Self-efficacy Outcome expectation Intrinsic interest/ value Goal orientation Performance/ volitional control Self-control Self instruction Imagery Attention focusing Task strategic Self-observation Self-recording Self-experimentation Self reflection Self-judgment Self-evaluation Causal attribution Self-reaction Self satisfaction/ affect Adaptive-defensive 2.1.2.1 Fase Forethought Ada dua sub proses dari fase forethought yaitu task analysis dan self motivation beliefs. a. Task analysis Bentuk yang utama dari task analysis adalah goal setting. Goal setting berkaitan dengan keputusan yang diambil terhadap hasil belajar atau performance yang spesifik (Locke & Latham, 1990; dalam Boekaerts, 2000:17). Individu yang memiliki self regulation tinggi akan memiliki goal system yang tersusun secara hirarki dan proses tujuan-tujuan tersebut akan dijalankan sebagai self regulation untuk mendapatkan tujuan atau hasil yang sama dengan hasil yang pernah dicapai. 14

BAB II Landasan Teori Bentuk kedua dari task analysis adalah strategic planning (Weinstein & Mayer, 1986; Boekaerts, 2000:17). Untuk menguasai dan mengoptimalkan suatu keahlian, seseorang membutuhkan metode atau strategi yang tepat untuk menjalankan tugas dan tujuannya. Strategi self regulation adalah proses dan tindakan individu yang diarahkan untuk memperoleh keahlian yang diharapkan (Zimmerman, 1989; Boekaerts, 2000:17). Strategi yang dipilih secara tepat dapat meningkatkan performance dengan mengembangkan kognitif, mengontrol affect, dan mengarahkan kegiatan motorik (Pressley & Wolloshyn, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Perencanaan dan pemilihan strategi membutuhkan penyesuaian yang terus menerus karena adanya perubahan-perubahan baik dalam diri siswa sendiri ataupun dari kondisi lingkungan. b. Self motivation beliefs Self motivation beliefs adalah keyakinan individu untuk memotivasi diri sendiri. Keahlian self regulatory menjadi kecil nilainya jika seseorang tidak dapat memotivasi dirinya sendiri dalam menggunakan hal tersebut, yang mendasari forethought dalam goal setting dan strategic planning adalah proses-proses pokok dari self motivation beliefs, yaitu self efficacy, outcome expectations, intrinsic interst/value, dan goal orientation. Self efficacy mengacu pada keyakinan diri untuk belajar dan bertindak secara efektif, sementara outcome expectations mengacu pada keyakinan tentang pencapaian hasil dari performance (Bandura,1997; Boekaerts, 2000:17). Keinginan orang untuk 15

BAB II Landasan Teori melakukan dan meneruskan self regulatory khususnya tergantung pada self regulatory efficacy mereka, yang mengarah pada keyakinan terhadap kemampuan mereka untuk merencanakan dan mengatur fungsi spesifik. Terdapat bukti bahwa keyakinan self regulatory efficacy mempengaruhi proses regulatory seperti strategi belajar akademik (Schunk & Schwartz, 1993; Zimmerman, Bandura, dan Martinez-pons, 1992), manajemen waktu (Britton & Tessor, 1991), menolak tekanan dari kelompok yang merugikan (Bandura, Barbanelli, Caprara dan Pastorelli, 1996), self monitoring (Bouffard-Bauchard, parnt dan Larivee,1991 ), self evaluation dan goal setting (Zimmerman & Bandura, 1994). Sebagai contoh, self efficacy beliefs mempengaruhi pencapaian tujuan seperti berikut ini: semakin mampu seseorang mempercayai diri mereka sendiri, semakin tinggi tujuan-tujuan yang mereka kumpulkan bagi diri mereka sendiri dan semakin kuat mereka tetap bertahan pada tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya (Bandura, 1991; Locke & Latham, 1990; dalam Boekaerts, 2000:18). Ketika seseorang mengalami kegagalan di dalam hasil pencapaian tujuannya, sementara mereka yang self doubters akan menarik diri (Bandura & Cervone, 1986; dalam Boekaerts, 2000:18). Terdapat bukti-bukti yang menunjukan bahwa proses pencapaian tujuan dapat menimbulkan motivasi dari dalam diri dan dapat memperbanyak pencapaian tujuantujuan yang lain (Schunk & Schwatz, 1993; Zimmerman & Kitsantas, 1997 dalam Boekaerts, 2000: 18). Prestasi yang diperoleh memberikan motivasi atau nilai intrinsik yang dapat melengkapi dan bahkan melebihi hasil yang diperoleh (Deci, 16

BAB II Landasan Teori 1975; Lepper & Hodell, 1989; dalam Boekaerts, 2000 :18). Goal orientation adalah motivasi dari dalam diri untuk mencapai suatu tujuan dan usaha yang dilakukan oleh individu agar memiliki performance yang lebih baik (Pintrich & Schunk, 1996; dalam Boekaerts, 2000:18). 2.1.2.2 Fase Performance atau Volitional Control Fase Performance atau Volitional Control meliputi proses-proses yang terjadi selama seseorang bertindak dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada fase sebelumnya. Pada fase ini terdapat 2 tipe, yaitu: a. Self control Self control adalah kemampuan individu untuk mengendalikan tingkah laku sendiri. Proses self control meliputi self instruction, imagery, attention focus, dan task strategies, membantu siswa memfokuskan pada tugas yang dihadapinya dan mengoptimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Self instruction merupakan gambaran bagaimana seseorang mengarahkan diri dan melaksanakan tugasnya. (Schunk, 1982; dalam Boekaerts, 2000:19). Imagery atau bentuk dari gambaran merupakan suatu proses yang digunakan dalam self control secara luas untuk encoding dan performance. Imagery sering digunakan oleh para ahli psikologi olahragawan seperti pemain skate, penyelam, pesenam, untuk membayangkan kesuksesan yang akan diperoleh terhadap rencana mereka, sehingga dapat meningkatkan performance mereka (Garfield & Bennett, 1985; dalam Boekaerts, 2000:19). 17

BAB II Landasan Teori Bentuk ketiga dari self control adalah attention focusing, yaitu proses yang digunakan untuk meningkatkan konsentrasi seseorang pada suatu hal dan mengabaikan hal lainnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Kuhl dan kawan-kawan (Kuhl, 1985; dalam Boekaerts, 2000:19) dikemukakan bahwa agar proses attention focus ini dapat efektif maka seseorang dapat mengabaikan gangguangangguan yang ada disekitar lingkungannya dalam melaksanakan rencananya dan menghindari ingatan-ingatan tentang kesalahan pada masa lampau. Proses self control yang terakhir meliputi Task strategies atau pengaturan terhadap tugas-tugas penting yang harus dilaksanakan. Task strategies membantu proses belajar dan pelaksanaan tugas dengan menyederhanakan suatu tugas menjadi bagian-bagian yang penting dan mengorganisasikannya atau menyusun kembali bagian-bagian tersebut secara bermakna. Sebagai contoh dari task strategies ini antara lain ketika para siswa mendengarkan mata pelajaran sejarah, siswa-siswa tersebut mungkin saja dapat mengidentifikasi sejumlah poin-poin penting dan merekamnya secara kronologis dalam bentuk kalimat-kalimat singkat. Keefektifan dari task strategis ini dipelajari oleh Weinstein dan Mayer (1986), Wood, Woloshyn dan Willoughby (1995), dan Zimmerman dan Martinez-pons (1988) (Boekaerts, 2000:19). Hal yang termasuk ke dalam strategi-strategi belajar antara lain membuat catatan, persiapan tes, membaca untuk pemahaman, dan performance strategi seperti teknik menulis, teknik pengungkapan secara lisan dan pemecahan masalah. Adapula contoh lain seorang anak yang berada pada fase ini misalnya saat anak mencoba untuk memecahkan persoalan matematika, anak memperlihatkan verbalisasi dalam 18

BAB II Landasan Teori mengingat rumus-rumus matematika (self instruction), mencoba untuk membentuk suatu gambaran mental secara utuh misalnya dengan cara melakukan proses encoding (imagery) ataupun mencoba berbagai teknik untuk melatih konsentrasi agar dapat dengan mudah menghafalkan rumus-rumus matematika tersebut (attention focusing). b. Self Observation Bentuk yang kedua dari fase ini adalah self observation yang merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan pengamatan dari pelaksanaan tugas mereka, kondisi sekelilingnya dan (akibat yang dilakukan) perilakunya. Self observation berkenaan dengan aspek yang sangat spesifik yang dimiliki oleh seseorang dari performance-nya dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya dan tampak dari hasil tersebut (Zimmerman & Paulsen, 1995; dalam Boekaerts, 2000:19). Berkaitan dengan self observation ini dikemukakan akan lebih baik bila individu mengingat suatu performance yang berhasil dilakukan daripada mengingat suatu performance yang gagal dilakukan. Self observation meliputi self recording dan self experimentation. Ada beberapa ciri dari self observation yang dapat mempengaruhi keefektifannya, yaitu ciri yang pertama adalah proximity, mengacu pada seberapa dekat feedback yang diberikan dengan performance, merupakan variabel yang sangat menentukan (Bandura, 1986; Kadzin,1974, dalam Boekaerts, 2000:20). Ciri kedua yang menunjukan kualitas yang tinggi dari self observation adalah adanya feedback terhadap performance. Sedangkan ciri yang ketiga adalah keakuratan dari self observation dan ciri yang terakhir adalah valensi dari feedback terhadap tingkah laku. 19

BAB II Landasan Teori Self recording merupakan suatu teknik dari self observation yang dapat meningkatkan proximity (kedekatan), makna atau informasi, keakuratan, dan valensi (daya tarik) dari feedback (Zimmerman & Kitsantas, 1996:20). Dengan mencatat atau merekam segala sesuatunya yang terjadi di lingkungan, seseorang dapat menangkap informasi tentang pribadinya saat itu juga, menyusunnya menjadi informasi yang sangat penting, mempertahankan keakuratannya tanpa mempedulikan adanya gangguan-gangguan dan menyediakan data-data untuk memberikan fakta yang tajam terhadap kemajuan yang telah dicapai. Self observation akan lebih lengkap dengan adanya self experimentation, ketika self observation yang dilakukan secara alami dalam tingkah laku tidak memberikan informasi diagnosa yang kuat, individu dapat melakukan percobaan sendiri secara sistematis berbagai aspek berfungsi dari fungsi diri yang dipertanyakan. Self observation yang sistematis seperti ini dapat membuat individu memahami pribadinya dan melakukan performance atau volitional control yang lebih baik. 2.1.2.3 Fase Self Reflection Fase self reflection meliputi proses yang terjadi setelah seseorang melakukan upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya dan pengaruh dari respon (feedback) terhadap pengalamannya yang kemudian akan memberikan pengaruh pada fase forethought dalam menetapkan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilaksanakannya. Dalam artian self reflection ini merupakan fase dimana seseorang melakukan introspeksi diri. (Bandura, 1986; dalam Boekaerts, 2000:21) 20

BAB II Landasan Teori mengidentifikasikan dua proses pada self reflection yang berhubungan erat dengan self observation, yaitu self judgment dan self reaction. a. Self judgment Self judgment adalah penilaian diri terhadap usaha atau tindakan yang sudah dilakukannya. Self judgment mencakup self evaluating terhadap performance seseorang dan causal attributions. Self evaluation menunjukan perbandingan hasil pemantauan informasi yang diperoleh dengan standar atau tujuan yang ingin dicapai. Ada 4 kriteria khusus yang digunakan seseorang dalam mengevaluasi diri, yaitu mastery, previous performance, normative, dan collaborative. Kriteria mastery meliputi penggunaan rangkaian tes kelulusan atau tes yang hasilnya diurutkan dari tingkat yang rendah ke tingkat yang tinggi. Kriteria mastery juga untuk tes dan seleksi di sekolah. Kriteria mastery dipelopori oleh Covington dan Roberts (1994; dalam Boekaerts, 2000:21) yang menyoroti fakta penting pada kemajuan belajar seseorang karena diberikan latihan terus-menerus. Previous performance atau self criteria melibatkan perbandingan performance tingkah laku seseorang saat ini dengan tingkah laku sebelumnya (Bandura, 1997; dalam Boekaerts, 2000:21). Sebagai contoh, para perokok dapat menilai diri mereka berhasil dalam mengatasi kebiasaannya merokok dengan membandingkan jumlah rokok yang dihisap saat ini dengan jumlah rokok yang dihisap pada hari-hari sebelumnya. Sedangkan kriteria normatif melibatkan perbandingan sosial dengan performance seseorang seperti teman sekelas. Siswa yang lebih memfokuskan diri pada hasil yang dicapai dipengaruhi oleh kriteria normatif untuk menilai diri sendiri 21

BAB II Landasan Teori karena hasil yang diperoleh seringkali bersaing untuk mendapatkan penghargaan dan menonjolkan diri di masyarakat. Kriteria yang terakhir adalah collaborative, digunakan terutama pada kerja sama sebuah tim (Bandura, 1991; dalam Boekaerts, 2000 :22). Pada situasi yang membutuhkan kerjasama tim namun lebih kompleks, keberhasilan didefinisikan dengan terpenuhinya peran yang diberikan, seperti seorang point guard pada tim bola basket. Kriteria sukses bagi seorang point guard berbeda dengan posisi lainnya di tim bola basket dan seberapa baiknya point guard dapat kooperatif dengan rekan-rekan satu timnya akan menjadi kriteria utama dalam berhasil. Causal attribution berkaitan dengan hasil, seperti apakah performance yang buruk berkaitan dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki atau karena usaha yang dilakukan belum maksimal. Attribution judgment sangat penting peranannya pada self reflection, karena atribusi yang salah akan mendorong individu untuk bereaksi negatif dan menurunkan usahanya dalam memperbaiki kemampuannya (Weiner, 1979 dalam Boekaerts, 2000:22). Atribusi tidaklah otomatis memberikan hasil self evaluation yang positif atau negatif, tetapi lebih bergantung pada penilaian kognitif terhadap beberapa faktor yang menunjang, seperti persepsi terhadap keyakinan pribadi atau kondisi-kondisi yang menunjang dari lingkungan. (Bandura, 1991; dalam Boekaerts, 2000:22). Sebagai contoh ketika karyawan menerima penilaian yang negatif atas pekerjaannya, mereka yang self efficacious lebih mengaitkan dengan usaha mereka yang kurang maksimal atau buruknya strategi yang digunakan untuk mengerjakan tugas daripada mereka yang self doubters. 22

BAB II Landasan Teori Proses forethought juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap attributional judgement. Orang-orang yang membuat rencana selama fase forethought menggunakan strategi khusus dan melaksanakannya selama fase performance, lebih mengaitkan kegagalan yang dialaminya dengan strategi yang digunakan daripada dikarenakan kemampuan yang dimilikinya rendah, dimana hal ini dapat mengganggu kepribadian (Zimmerman & Kitsantas, 1997; dalam Boekaerts, 2000: 23). b. Self Reactions Self reactions adalah tanggapan atau reaksi diri terhadap apa yang telah dilakukannya. Self evaluative dan attributional self judgement berhubungan erat dengan dua bentuk pokok dari self reactions, yaitu self satisfaction dan adaptive inferences. Self satisfaction melibatkan persepsi terhadap kepuasan atau ketidakpuasan dan menghubungkan dengan performance seseorang. Hal tersebut sangat penting, karena umumnya seseorang akan mengambil tindakan yang memberikan kepuasan dan efek yang positif dan menghindari tindakan yang memberikan kepuasan dan efek negatif, seperti cemas (Bandura, 1991; dalam Boekaerts, 2000:23). Ketika self satisfaction yang timbul sesuai dengan tujuan yang telah dicapai, orang-orang mengarahkan tindakannya dan mendorong diri mereka untuk tetap berusaha. Dengan demikian motivasi seseorang tidak hanya berasal dari tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari reaksi penilaian diri sendiri terhadap tingkah laku yang dihasilkan. Tingkat self satisfaction juga bergantung pada nilai intrinsik atau penting tidaknya suatu tugas. Adaptive or defensive inferences merupakan kesimpulan seseorang tentang perlunya untuk mengubah self regulatory dalam usaha berikutnya untuk belajar atau 23

BAB II Landasan Teori bertingkah laku. Adaptive inferences sangat penting karena mengarahkan orang-orang ke bentuk performance self regulation yang baru dan lebih baik secara potensial, seperti dengan mengubah tujuan secara hirarki atau memilih strategi yang lebih efektif. (Zimmerman & Martinez-Pons, 1992; dalam Boekaerts, 2000:23), namun defensive inferences dapat mengurangi kesuksesan seseorang dalam menyesuaikan diri, karena dalam defensive inferences hal yang paling utama adalah melindungi individu dari ketidakpuasan dan akibat-akibat yang tidak disukai dimasa yang akan datang. Reaksi-reaksi defensive yaitu helplessness (keadaan tidak berdaya), procrastination (penundaan), menghindari tugas, cognitive disengagement (ketidakmampuan kognitif) dan apati. Garcia dan Pintrich (1994, dalam Boekaerts, 2000:23) menunjukan reaksi-reaksi defensive seperti itu sebagai strategi self handicapping, karena meskipun melindungi diri itu diperlukan, pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan pribadi. Self reaction mempengaruhi proses forethought dan seringkali memberikan pengaruh yang sangat kuat pada rangkaian tindakan di masa yang akan datang terhadap tujuan individu yang paling penting dan menjauhi individu dari rasa takut yang dalam. Sebagai contoh reaksi dari self satisfaction memperkuat self efficacy beliefs jika dapat menguasai keahlian akademik, orientasi tujuan belajar (Schunk, 1996; dalam Boekaerts, 2000:24) dan minat intrinsik terhadap tugas (Zimmerman & Kitsantas, 1997; dalam Boekaerts, 2000:24). Sebaliknya, reaksi dari self dissatisfaction mengurangi sense of efficacy seseorang dan minat intrinsik dalam menghadapi tugas selanjutnya. 24

BAB II Landasan Teori 2.1.3 Karakteristik Self Regulation (Zimmerman, 1989; Boekaerts, 2000:17-23) 2.1.3.1 Karakteristik Individu dengan Self Regulation Tinggi Individu yang memiliki kemampuan Self Regulation yang tinggi akan memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Memiliki goal system yang tersusun secara hierarki, dan proses tujuan tersebut akan dijalankan sebagai regulator untuk mendapatkan tujuan atau hasil yang sama dengan hasil yang pernah dicapai sebelumnya b. Dapat memotivasi dirinya sendiri dan mampu mengarahkan tindakannya pada tujuan yang hendak dicapai c. Mampu melakukan manajemen waktu yang baik d. Ketika mengalami kegagalan, mereka menganggap usahanya kurang maksimal atau strategi yang digunakan kurang efektif. Hal ini termasuk dalam kelompok individu yang self efficacious, yang mana mereka akan berusaha meningkatkan atau memperbaiki usahanya e. Tingkat self satisfaction bergantung pada nilai intrinsik atau penting tidaknya suatu tugas f. Mengarah pada adaptive inferences, yang mana individu dapat mengubah tujuannya secara hirarki atau memilih strategi yang lebih efektif 25

BAB II Landasan Teori 2.1.3.2 Karakteristik Individu dengan Self Regulation Rendah Karakteristik individu yang memiliki kemampuan self regulation yang rendah adalah sebagai berikut: a. Goal system yang dimilikinya tidak tersusun secara hierarki. Masing-masing proses tujuan yang ada tidak dapat berfungsi sebagai regulator, sehingga tidak dapat mengarahkan tindakannya pada tujuan atau hasil yang sama dengan hasil yang pernah dicapai sebelumnya. b. Mempunyai motivasi yang rendah sehingga tidak mampu mengarahkan tindakannya pada tujuan yang akan dicapai c. Ketika mengalami kegagalan di dalam pencapaian tujuannya, individu cenderung untuk menarik diri d. Tingkat self satisfaction bergantung pada nilai ekstrinsik seperti adanya pujian atau hadiah e. Mengarah pada defensive inferences yang dapat melindungi dari ketidakpuasan dan akibat-akibat yang tidak disukai pada masa yang akan datang. 26

BAB II Landasan Teori 2.1.4 Triadik Self Regulation Self regulation melibatkan proses tiga rangkaian yang baik secara proaktif ataupun secara reaktif melakukan penyesuaian untuk mencapai tujuan personal. Individu Self Regulation Lingkungan Perilaku Self regulation merupakan suatu interaksi dari faktor-faktor pribadi, tingkah laku dan lingkungan (Bandura, 1986; dalam Boekaerts, 2003:13). Self regulation digambarkan sebagai sebuah siklus karena feedback dari performance sebelumnya digunakan untuk penyesuaian diri terhadap upaya yang sedang dilakukan. Self regulation adalah suatu proses dimana individu mengaktifkan pikiran, perasaan dan tingkah laku, yang telah direncanakan dan secara sistematis telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa untuk mempengaruhi belajar dan motivasi. (Schunk, 1994; Zimmerman, 1989, 1990, 2000, Zimmerman & Kitsantas, 1996 ; dalam Boekaerts, 2000:631). Meskipun metakognisi memiliki peranan penting, self regulation juga bergantung pada self beliefs, seperti perasaan terganggu dan takut dalam situasi-situasi tertentu (Zimmerman, 1986; dalam Boekaerts, 2000:632). Self regulation pada 27

BAB II Landasan Teori siswa mengacu pada derajat metakognisi, motivasi dan perilaku mereka dalam belajar (Zimmerman, 1986; dalam Boekaerts, 2000:632 ). Masing-masing siswa memiliki self regulation yang berbeda-beda dalam belajar, termasuk motivasi mereka untuk belajar, metoda yang digunakan, hasil yang tampak dari usaha yang dilakukan dan sumber lingkungan yang mereka gunakan (Zimmerman, 1994; dalam Boekaerts, 2000:632). Menurut Corno (1989), siswa dapat menggunakan self regulation untuk menghadapi tuntutan-tuntutan dari tugas secara efektif dan fleksibel. Self regulation meliputi proses penetapan tujuan untuk belajar, mengikuti dan berkonsentrasi pada pelajaran, penggunaan strategi yang efektif untuk mengorganisir, melakukan pengkodean dan mengulang materi yang diperoleh agar diingat, menentukan suatu lingkungan pekerjaan yang produktif, menggunakan sumber daya secara efektif, memantau tingkah laku yang ditampilkan, mengatur waktu secara efektif, mencari bantuan ketika dibutuhkan, memiliki keyakinan yang positif tentang kemampuan yang dimiliki, dan mengantisipasi hasil yang diperoleh, dan merasa bangga dan puas atas usaha yang telah dilakukan (Mc Combs, 1989; Pintrich & De Groot, 1990; Weinstein & Mayer, 1986; Zimmerman, 1994; dalam boekaerts, 2000:631). 2.1.5 Pengaruh Sosial dan Lingkungan terhadap Self Regulation Hal utama dalam self regulation adalah The Interdependent Roles of Social, Environmental, dan Self Influences. Lingkungan sosial mempengaruhi proses self reflection dengan cara yang hampir sama dengan proses forethought dan fase 28