BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II kerap diikuti dengan kebijakan proteksionisme negara Jepang, khususnya dalam bidang agrikultur salah satu sektor andalan perekonomian Jepang. Proteksionisme dilakukan oleh Jepang untuk mengembalikan perekonomiannya yang sempat hancur setelah perang. Seiring dengan berjalannya waktu, perekonomian Jepang kembali pulih. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat sehingga Jepang pun kembali bertumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar di dunia. Meskipun Jepang telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dibandingkan negara-negara lain di kawasannya pada masa itu sebelum ada the rising China, Jepang tidak serta merta mengubah kebijakan ekonominya menjadi berorientasi pasar. Alih-alih mengganti kebijakan perdagangannya menjadi bebas, Jepang justru mempertahankan dan semakin memperkuat kebijakan proteksionisme perdagangannya pada sektor pertanian. Adanya hal ini tentu merupakan kenyataan yang tidak menyenangkan bagi Amerika Serikat yang merupakan mitra dagang utama Jepang pasca Perang Dunia II yang juga menginginkan agar Jepang membuka pasarnya secara bebas untuk produk-produk impor. Baru-baru ini, Amerika Serikat yang membentuk kerjasama Trans Pacific Partnership (TPP) sebuah aliansi perdagangan bebas regional Asia Pasifik yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di dunia, berusaha untuk kembali meminta Jepang yang juga didaulat sebagai salah satu negara calon potensial anggota TPP untuk menerapkan kebijakan pasar bebas agar perdagangan dalam organisasi tersebut dapat berjalan dengan lancar. Hal ini dikarenakan TPP bertujuan untuk mengatur liberalisasi perdagangan barang dan jasa, rezim investasi, penghapusan hambatan perdagangan, hak kekayaan intelektual, hingga 1
liberalisasi sektor pertanian di kawasan Asia Pasifik. 1 Meskipun pada awalnya hanya disampaikan secara tersirat melalui dimasukkannya Jepang sebagai salah satu calon potensial anggota TPP, tuntutan Amerika Serikat akan adanya liberalisasi pasar Jepang sangat mudah untuk dibaca mengingat sejarahnya yang selalu menginginkan liberalisasi pasar Jepang. Shinzo Abe pun dihadapkan kepada dilema antara memilih untuk bergabung dengan TPP dan membuka pasarnya secara bebas atau tetap mempertahankan kebijakan proteksionismenya mengingat saat ini kondisi ekonomi Jepang sedang menurun. Meskipun demikian, hingga detik akhir dinyatakannya persetujuan mengenai TPP, Jepang masih teguh mempertahankan kebijakan proteksionismenya, terutama di bidang agrikultur. Sektor pertanian Jepang sangat dilindungi karena adanya beberapa faktor seperti semakin meningkatnya penduduk Jepang sehingga memerlukan semakin banyak kebutuhan pangan dan semakin menyempitnya lahan pertanian karena adanya industrialisasi. 2 Meskipun pada putaran terakhir negosiasi TPP, 5 Oktober 2015, akhirnya Jepang menyetujui untuk meningkatkan impornya, Jepang tetap membatasi impor bagi komoditas sektor agrikultur, yaitu beras. 3 Hal tersebut di atas menarik untuk dibahas dimana Jepang yang sejak awal menerapkan kebijakan proteksionisme, melihat adanya peluang terakhir untuk membangkitkan kembali negaranya yang sempat terpuruk selama dua dekade terakhir ini melalui TPP, namun Jepang juga dihadapkan pada kenyataan bahwa dengan bergabungnya ia ke dalam TPP, hal itu berarti Jepang telah mengkhianati negaranya sendiri karena telah menyerahkan pasarnya secara bebas bagi produk-produk asing yang tentu akan mengancam eksistensi produkproduk lokal. Sikap Shinzo Abe menghadapi dilema inilah yang akan dibahas ke depannya karena berdasarkan hasil perundingan TPP, Jepang masih terlihat 1 New York Times Editorial, Joining the New Trade Club(daring), January 2, 2014, <http://www.nytimes.com/2014/01/03/opinion/joining-the-new-tradeclub.html?hpw&rref=opinion&_r=1>, diakses 10 Oktober 2015. 2 Y. Harada, Japan s Agriculture and the TPP, Tokyo Foundation and Waseda University, Tokyo, 2013, p.1. 3 Office of the United States Trade Representative, Summary of the Trans Pacific Partnership Agreement (daring), <https://ustr.gov/about-us/policy-offices/press-office/pressreleases/2015/october/summary-trans-pacific-partnership>, diakses 10 Oktober 2015. 2
mempertahankan kebijakan proteksionismenya, dalam artian negara ini tidak melakukan liberalisasi pasar secara 100% atau dengan kata lain, Jepang menerapkan standar ganda. Penulis juga ingin mengetahui faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Jepang dalam menerapkan standar ganda ini, yaitu dengan tetap bergabung menjadi anggota TPP dan tetap mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya. Dalam tulisan sepanjang 12.379 kata ini akan dijabarkan bagaimana kebijakan proreksionisme yang selama ini diterapkan oleh Jepang dalam hubungan perdagangannya dengan negara lain terkhusus kepada Amerika Serikat, munculnya TPP yang kembali melahirkan tuntutan Amerika Serikat pada Jepang untuk melakukan liberalisasi pasar bagi produk-produk dari sektor agrikulturnya demi memperlancar kerjasama perdagangan regional dimana keduanya samasama terlibat di dalamnya, dilema yang dihadapi Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe dan sikap Abe dalam menghadapinya, serta faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan Abe dalam mengambil kebijakan tersebut. Tulisan ini kemudian akan membahas alasan Jepang yang pada akhirnya tetap condong mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya meskipun di saat yang sama ia telah resmi menjadi anggota TPP. B. Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan menjadi fokus pembahasan dalam tulisan ini adalah: 1. Bagaimana respon Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe terhadap dilema antara proteksionisme dan liberalisasi pasar yang dialaminya? 2. Apa pertimbangan Abe mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya dibandingkan membuka pasar 100% meskipun saat ini ia telah menjadi salah satu anggota TPP? 3
C. Landasan Konseptual Untuk menjawab dan membahas rumusan masalah di atas, ada 2 konsep yang akan digunakan, yaitu: 1. Two Level Game Teori two level game dicetuskan oleh Robert Putnam. Ketika dunia internasional memperdebatkan tentang bagaimana politik domestik dan politik internasional dapat saling mempengaruhi, bagi Putnam yang paling penting adalah bagaimana menjalankan hubungan dua arah tersebut. Seorang pengambil keputusan atau kepala negara harus mampu menjalankan dua permainan, yaitu di tingkat domestik dan internasional, dan memenangkan keduanya. Kemenangan tersebut adalah bentuk keberhasilan dari proses two level game. Putnam memfokuskan pada interaksi yang terjadi antara dua medan permainan, yaitu di level domestik dan internasional. Konsep tersebut dikembangkan menjadi dua konsep, yaitu acceptability set (platform penerimaan) dan win set (platform kemenangan). Acceptability set merupakan tingkatan perjanjian yang dapat dicapai dan diperjuangkan oleh pengambil keputusan atau negosiator. Hasil pada konsep tersebut adalah persetujuan sementara atau hanya sampai persetujuan ditandatangani. Sedangkan win set merupakan perjanjian yang sudah dicapai dan dirasa cukup oleh negosiator dimana dirinya sudah mendapatkan apa yang diinginkan dari proses negosiasi. 4 Meskipun demikian, win set tidak bisa diukur hanya dari persepsi negosiator, win set harus bisa diterima juga oleh publik dalam negeri. Oleh karena itu, masih diperlukan proses ratifikasi yang bisa mendorong atau menggagalkan hasil dari proses negosiasi tersebut. Jika bisa diterima oleh publik, maka proses negosiasi yang ditempuhnya berhasil atau menang. 5 4 N. Pamuji dan H. Rais, Politik Kerjasama Internasional: Sebuah Pengantar, Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2011, pp.33-41. 5 P. B. Evans, H. K. Jacobson, dan R. D. Putnam, Double-Edged Diplomacy: International Bargaining and Domestic Politics, University of California Press, 1993, pp. 29-31. 4
Win set juga dapat dipahami sebagai kemenangan secara penuh dari proses negosiasi baik di tingkat internasional maupun di tingkat domestik. Jika pengambil keputusan dapat meraih win set yang cukup besar di level internasional, maka ia juga akan dapat dengan mudah meraih win set pada level domestik. Begitu pula sebaliknya, jika pada level internasional win set yang ia dapatkan rendah, maka kemungkinan besar negosiator tidak akan meraih win set pada level domestik. 6 Menurut Putnam, besarnya win set bergantung pada tiga hal, yaitu preferensi dan koalisi pada level domestik, model institusi politik level domestik, dan strategi negosiator pada level internasional. Sebagaimana dikutip dari pernyataannya, 7 The politics of many international negotiations can usefully be conceived as a two level game. At national level, domestic groups pursue their interest by pressuring the government to adopt favorable policies, and politicans seek power by constructing coalition among those groups. At the international level, national governments seek to maximize their own ability to satisfy domestic pressures, while minimizing the adverse consequences of foreign developments. Dengan kata lain, dalam teori two level game ini, pemerintah harus dapat memainkan dua tingkat permainan dalam politik luar negerinya. Di tingkat domestik, pemerintah harus dapat merealisasikan aspirasi dan mengakomodasi kebutuhan domestik. Sedangkan di tingkat internasional, pemerintah berusaha memenuhi kebutuhan domestik serta meminimalisir konsekuensi yang dapat berdampak buruk pada negaranya. Sukses atau menang dalam konsep ini artinya negosiator dapat menyeimbangkan tekanan domestik dan tuntutan internasional, dengan kata lain mencapai kebijakan yang memuaskan keduanya. Teori ini akan digunakan untuk membahas sikap Shinzo Abe dalam menghadapi dilema yang dialami pada masa pemerintahannya, yaitu antara membuka pasar domestiknya 100% dalam rangka bergabung dengan TPP atau tetap mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya untuk melindungi pasar domestik. Di sini, Shinzo Abe terlihat menerapkan standar ganda untuk memaksimalkan keuntungan yang didapat dengan bergabung dalam TPP dan 6 R. D. Putnam, Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games, International Organization, Vol. 42, No. 3, 1988, p. 435. 7 R. D. Putnam, p. 434 5
meminimalisir dampak kerugian pada sektor agrikultur dengan tetap menerapkan proteksionisme. Penerapan kebijakan berstandar ganda ini adalah bentuk win set yang dapat dicapai Abe dimana kebijakan ini dirasa paling menguntungkan, baik bagi hubungan Jepang di dunia internasional maupun bagi situasi domestik Jepang sendiri. 2. Proteksionisme Dalam bukunya yang berjudul Proteksionisme, 8 Bhagwati mendefinisikan proteksionisme sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara untuk melindungi pasarnya dari barang-barang impor dengan cara memberlakukan tarif masuk barang yang tinggi serta memberikan kuota. Paham ini berakar dari pemikiran merkantilis bahwa kemakmuran dapat diperoleh dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor. Proteksionisme juga muncul dari para pemikir realis yang menghubungkan perdagangan dengan keamanan dimana perdagangan dapat menimbulkan kerugian keamanan bagi suatu negara ketika perdagangan tersebut membuat negara tergantung pada negara lainnya. Pada masa kemunculan General Agreement on Trade and Tariff (GATT) yang mampu meningkatkan liberalisasi pasar, proteksionisme semakin berkurang dan bahkan menghilang sehingga negara kemudian mulai menyesuaikan tarif ke nilai yang lebih rendah serta menghapuskan kuota. Namun, pada dasarnya setiap negara masih memiliki kecenderungan untuk melakukan proteksionisme terhadap pasar nasionalnya. Hal ini terlihat dari munculnya hambatan masuk yang dibuat oleh negara di luar tarif dan kuota seperti subsidi dan jenis hambatan non tarif lainnya. Jenis hambatan semacam ini justru semakin meningkat seiring suksesnya GATT dalam mengurangi hambatan tarif dan kuota. 9 Padahal, hambatan non tarif dan kuota ini justru bisa lebih berbahaya karena seringkali bersifat lebih restriktif, susah untuk dikenali, serta lebih tidak rasional dibandingkan dengan tarif. 10 Pada akhirnya, hal tersebut memunculkan asumsi bahwa pada dasarnya setiap negara 8 J. Baghwati, Proteksionisme, Penerbit Angkasa, Bandung, 1992, p. 60. 9 H. Haqqi, Ecolabel sebagai Bentuk Proteksionisme Baru (Case Study: Pemblokiran Kayu Bersertifikat Ecolabel Indonesia oleh Uni Eropa), Yogyakarta, Sekolah Pasca Sarjana UGM, 2007, p. 9. 10 T. H. Cohn, Global Political Economy: Theory and Practice, 5 th edn., Pearson, New York, 2010, p. 1. 6
memiliki kecenderungan untuk terus mengupayakan proteksionisme guna menjaga pasar nasionalnya dari produk asing. Dalam tulisan ini, konsep proteksionisme yang akan digunakan lebih merujuk kepada agricultural protectionism. 11 Konsep proteksionisme agrikultur menekankan pada pemilihan kebijakan ekonomi dan perdagangan proteksionis untuk melindungi sektor agrikultur domestik dari kompetisi perdagangan internasional. Singkatnya, konsep proteksionisme agrikultur ini dilakukan dengan memunculkan hambatan bagi masuknya barang-barang asing dari sektor agrikultur ke pasar domestik suatu negara sehingga pasar domestik tetap bersahaja dengan produk-produk agrikultur lokal. Tidak hanya impor, kebijakan proteksionisme agrikultur ini juga dilakukan dalam kerangka ekspor dengan tujuan secara umum untuk melindungi perekonomian suatu negara. Dari uraian di atas dan dikaitkan dengan Jepang, maka sangat terlihat relasi antara keduanya. Jepang adalah salah satu negara yang menerapkan kebijakan proteksionisme agrikultur, khususnya bagi sensitive products beras, gandum, daging sapi dan daging babi, produk susu, dan pemanis. Oleh karena itu, konsep ini akan digunakan untuk menjawab faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Jepang dalam mengambil respon kebijakan berstandar ganda. Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, khususnya dari dalam negeri Jepang sendiri mengingat politik luar negeri negara ini sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek domestik. D. Argumentasi Utama Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, argumentasi utama yang diajukan adalah bahwa Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe merespon dilema yang timbul dari tuntutan Amerika Serikat, yaitu antara membuka pasar 100% dalam kerangka TPP dan mempertahankan proteksionisme sektor agrikulturnya dengan cara menerapkan standar ganda dimana kebijakan tersebut merupakan win set yang 11 I. Markovic dan M. Markovic, Agricultural Protectionism of the European Union in the Conditions of International Trade Liberalization, Economics of Agriculture, Vol. 2, No. 61, 2014, p. 424. 7
didapat dari penerapan konsep two level game. Hal ini dilakukan Shinzo Abe karena adanya beberapa faktor pertimbangan, yaitu (1) sektor pertanian adalah sektor andalan perekonomian Jepang, (2) para petani Jepang adalah basis pendukung Liberal Democratic Party (LDP), dan (3) kebijakan proteksionisme sektor agrikultur merupakan antisipasi akan terjadinya permasalahan pangan. Dengan memberlakukan proteksionisme agrikultur melalui kebijakan pasar yang strategis dalam bidang pertanian, Jepang berusaha menjaga agar politik dan situasi di dalam negerinya tetap stabil serta di saat yang sama berusaha untuk menjamin berlangsungnya food security dan hubungan baik dengan negara-negara lain. E. Metode Pengumpulan Data Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, data yang akan dikumpulkan cenderung bersifat kualitatif dan deskriptif sehingga metode penelitian yang paling sesuai untuk digunakan adalah studi literatur. Metode ini menempatkan data-data yang bersumber dari beberapa buku, terbitan pemerintah, dan beberapa artikel dari berita dunia maya yang memiliki validitas data yang terpercaya dan bisa diuji sebagai sumber utama. F. Lingkup Waktu Penelitian ini akan difokuskan pada masa pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe (2012-sekarang) dimana ia mempunyai kebijakan untuk memulihkan perekonomian Jepang yang dirangkum dalam program ekonomi Abenomics 2.0 yang terdiri dari three pronged atau three-arrows, yaitu: 12 1. Paket stimulasi kebijakan fiskal yang jumlahnya mencapai $122 milyar untuk meningkatkan infrastruktur, khususnya bagi daerah yang mengalami dampak buruk pada bencana alam tsunami Maret 2011. 2. Paket stimulasi kebijakan moneter untuk mengatasi deflasi yang menyebabkan nilai tukar mata uang Jepang berada jauh di bawah nilai dolar Amerika Serikat. 12 W. H. Cooper, U.S-Japan Economic Relations: Significance, Prospects, and Policy Options, Conggresional Research Service, 2014, p. 3. 8
3. Paket reformasi ekonomi yang ditujukan bagi sektor agrikultur, kesehatan, dan elektronik, serta untuk mempromosikan berbagai industri baru di Jepang. Dari tiga poin di atas, yang menjadi fokus utama dalam tulisan ini adalah poin ketiga yang menyangkut paket reformasi ekonomi dalam sektor agrikultur dimana masuknya Jepang ke dalam TPP dianggap oleh Abe sebagai katalis untuk mempercepat pemulihan ekonomi Jepang. Namun, di saat yang bersamaan Abe juga dihadapkan pada para petani pendukung partainya, LDP, yang akan terpuruk apabila Jepang meliberalisasi perdagangan produk-produk sektor agrikultur di negaranya. Sikap dan pertimbangan Abe dalam menghadapi dilema menentukan liberalisasi pasar atau mempertahankan proteksionisme agrikulturnya inilah yang kemudian akan dibahas dalam subbab-subbab berikutnya. G. Sistematika Penulisan Penelitian yang berjudul Kebijakan Jepang dalam Merespon Tuntutan Liberalisasi Pasar dari Amerika Serikat dalam Kerangka Trans Pacific Partnership: Proteksionisme Sektor Agrikultur akan dibagi menjadi 4 Bab. Pada BAB I akan disajikan pendahuluan penelitian yang mengulas latar belakang yang kemudian melahirkan gambaran awal permasalahan yang akan dibahas, konsep yang akan digunakan untuk membahas permasalahan yang diajukan, argumentasi utama yang diajukan sebagai jawaban awal sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, metode pengumpulan data yang akan digunakan, lingkup waktu penelitian, serta sistematika penulisan. Pada BAB II akan dielaborasikan mengenai kebijakan proteksionisme yang diberlakukan Jepang dalam hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat, kerjasama TPP, hingga munculnya dilema antara liberalisasi pasar secara penuh atau tetap mempertahankan proteksionisme, khususnya di sektor agrikultur yang akan menjadi jawaban atas rumusan masalah pertama, yaitu bagaimana respon Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe terhadap dilema antara proteksionisme dan liberalisasi pasar yang dialaminya. 9
Pada BAB III akan dielaborasikan jawaban atas rumusan masalah kedua, yaitu mengenai faktor-faktor pertimbangan Jepang dalam mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikultur, khususnya untuk komoditas beras hingga bagaimana strategi yang diterapkan untuk mengendalikan sektor agrikultur tersebut. Pada BAB IV akan diberikan kesimpulan dari seluruh pembahasan yang diberikan pada bab-bab sebelumnya untuk mengetahui apakah argumentasi utama yang diajukan benar atau salah. 10