LATIHAN WEIGHT TRAINING DENGAN METODE CIRCUIT TRAINING TERHADAP HYPERTHROPY OTOT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA Passing dan Ketepatan Tembakan Sepak Bola

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan secara terencana akan meningkatkan kebugaran jasmani seseorang.

BAB I PENDAHULUAN. tua, orang muda, bahkan anak-anak. Banyak diantara anak-anak yang ingin

BAB I PENDAHULUAN. penting, karena olahraga dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya dalam

BAB I PENDAHULUAN. Psikologi Olahraga, Filsafat Olahraga serta banyak lagi ilmu yang lainnya.

BAB 1 PENDAHULUAN. Di dalam buku Coaching dan aspek aspek Psikologis dalam coaching

METODE PEMBINAAN KEBUGARAN ATLIT *) Oleh: Eka Swasta Budayati (FIK UNY)

BAB I PENDAHULUAN. Hal ini terbukti dari pertandingan dan perlombaan yang telah di ikuti belum

BAB I PENDAHULUAN. satu karakteristik permainan sepak bola yaitu menendang dan mengoper bola

ANALISIS KONDISI FISIK PEMAIN SEPAK BOLA KLUB PERSEPU UPGRIS TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhammad Fahmi Hasan, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

AKTIVITAS PENGEMBANGAN DAN KESEHATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. kerjasama yang baik untuk membentuk suatu tim. Kecerdasan dalam mangatur

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Jurusan PENJASKESREK OLEH :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perkembangan yang sangat cepat. Manusia dalam berolahraga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

ARTIKEL SKRIPSI. Diajukan Untuk Penulisan Skripsi Guna Memenuhi Salah SatuSyarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Jurusan PENJASKESREK

2015 DAMPAK PENERAPAN POLA LATIHAN CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENINGKATAN KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cabang olahraga atletik adalah salah satu nomor cabang yang tumbuh dan berkembang seiring dengan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Irman Rediansyah, 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN TEORITIS. kemampuan melakukan aktifitas olahraga. Menurut Tangkudung yang dikutip

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Olahraga adalah salah satu bentuk dari upaya peningkatan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia olahraga yang sedang naik daun/yang sedang menjadi favorite

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menghadapi era globalisasi, tantangan yang dihadapi akan semakin berat, hal ini disebabkan karena semakin

METODE MELATIH KEKUATAN

2015 PENGARUH LATIHAN SQUAT D AN LATIHAN PNF TERHAD AP HASIL SMASH KED ENG PAD A PERMAINAN SEPAKTAKRAW

SEMINAR NASIONAL PENINGKATAN KUALITAS PENULISAN KARYA ILMIAH STOK BINA GUNA, SABTU 16 SEPTEMBER 2017 PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SIDE SHUFFLE

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. waktu ke waktu baik tingkat daerah propinsi maupun nasional dan internasional. Hal

Disusun oleh : Rihandoyo A BAB I PENDAHULAUAN. A. Latar Belakang. Atlet-atlet juara yang mampu memperoleh prestasi tertinggi dalam dunia

BAB I PENDAHULUAN. khususnya olahraga prestasi. Olahraga prestasi yang dimaksud dalam

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan Nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP) UNIVERSITAS NUSANTARA PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA UNP KEDIRI 2015

TEORI LATIHAN. Devi Tirtawirya, M.Or. Danang Wicaksono, M.Or TIM.

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkannya, karena hampir setiap toko olahraga menjual peralatan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa

BAB I PENDAHULUAN. para atlet sepak bola yang berkualitas. Namun masih banyak yang harus dilakukan

BAB II KAJIAN TEORITIS. kaki, kepala, dan dada. Hanya penjaga gawang yang disahkan memakai tangan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Prinsip dasar permainan bola voli adalah untuk memenangkan

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran. Hal ini sejalan dengan filosofi yang mendasari pendidikan jasmani,

I. PENDAHULUAN. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak besar pada perkembangan

2015 PENGARUH BENTUK LATIHAN ENVELOPE RUN DAN LATIHAN BOOMERANG RUN DENGAN METODE LATIHAN REPETISI TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN SEPAK BOLA

BAB I PENDAHULUAN. melakukan aktifitas sehari-hari seperti bekerja di kantor, menyertir mobil atau

BAB I PENDAHULUAN. internasional dan membangkitkan rasa kebangaan nasional. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. dipertanggungjawabkan adalah melalui pendekatan ilmiah. Menurut Cholik

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan seseorang sebagai. dan pembentukan watak. Pendidikan Jasmani pada dasarnya merupakan

KEBUGARAN JASMANI DAN LATIHAN KEBUGARAN JASMANI

BAB I PENDAHULUAN. dan waktu reaksi latihan daya tahan, kelentukan dan kelincahan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hakekat olahraga merupakan kegiatan teknik yang mengandung sifat permainan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk menjaga kondisi fisik agar tetap fit dan bisa bekerja lebih baik.

BAB I PENDAHULUAN. secara efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan (Irianto, 2004).

KAJIAN ILMIAH KEPELATIHAN BERBASIS SPORT SCIENCE (Upaya Peningkatan SDM Pelatih Taekwondo Pengcab. Taekwondo Kota Tasikmalaya)

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan efek samping yang bersifat kontra produktif terhadap upaya

Tipe Tubuh Manusia. Ada tiga tipe tubuh manusia, yakni ectomorph (kurus), endomorphs (ideal/atletis), dan mesomorphs (pendek dan bulat).

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Group Design E1 : P1 X1 P2 E2 : P1 X2 P2. Gambar 2.

Strength Training (Latihan Kekuatan) Oleh: Faizal Chan, PORKES FKIP Universitas Jambi

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas fisik dan olahraga. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari setiap

PENERAPAN IPTEKS HUBUNGAN POWER OTOT LENGAN DAN FLEXIBILITY OTOT PUNGGUNG TERHADAP KEMAMPUAN SERVICE DALAM PERMAINAN BOLA VOLI.

Luh Putu Tuti Ariani. Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, ilmu pengetahuan dan

1. PENDAHULUAN. Kemampuan ini saling melengkapi satu sama lainnya karena setiap bola yang. dioper harus diterima dan dikontrol oleh rekan seregu.

BAB I PENDAHULUAN. dan memiliki banyak penggemar di Indonesia. Perkembangan Bola Voli di

BAB I PENDAHULUAN. tingkat kebugaran seseorang, semakin kuat juga fisik seseorang tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa sekarang sepak bola bagi sebahagian orang tidak hanya

BAB I PENDAHULUAN. pada cabang olahraga yang diikuti (Halim, 2004). Olahraga dapat dilakukan

BAB II KERANGKA TEORETIS DAN HIPOTESIS. 1. Hakikat Mengontrol Bola dengan Sepak Sila dalam Permainan Sepak Takraw

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mencapai prestasi yang maksimal, banyak. Harsono (2000:4) mengemukakan bahwa: Apabila kondisi fisik atlet dalam

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan dan olahraga, mulai dari pemilihan calon atlet sampai pada metode latihan

I. PENDAHULUAN. Sepakbola adalah salah satu cabang olahraga yang sangat digemari. masyarakat, di desa maupun di kota sering kali dijumpai orang yang

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip dasar permainan bola voli adalah untuk memenangkan. bola voli adalah memasukan bola ke daerah lawan untuk memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. perempuan. Khususnya atlet Taekwondo Putra junior Sibayak Club

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah. Salah satu bagian dari peningkatan kualitas hidup manusia adalah pembinaan

2015 UJI VALID ITAS D AN RELIABILITAS KONSTRUKSI ALAT UKUR POWER END URANCE TUNGKAI

BAB I PENDAHULUAN. Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga populer di dunia

I. PENDAHULUAN. sehingga dengan mempelajari taekwondo, pikiran, jiwa dan raga kita secara

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

K. J. Gambar 1. Hubungan Antar Komponen Kemampuan Biomotorik (Bompa, 1999:317) E.S. I E.S. II. Komponen Dasar. Fisiologis (Kualitas Fungsi Dasar)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS/ Hakekat Heading Dalam Permainan Sepak Bola

2016 PENGARUH LATIHAN POWER LENGAN MENGGUNAKAN MODEL LATIHAN PULL OVERPASS DAN PULL OVER TERHADAP HASIL LEMPARAN PADA ATLET LEMPAR LEMBING JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. (1990:3) dalam bukunya mengemukakan, permainan bola voly baru dapat di

Bab 1 Seribu Satu Manfaat Calisthenics

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENGARUH LATIHAN KNEE-TUCK JUMP

I. PENDAHULUAN. watak serta peradaban bangsa yang bermatabat, dan merupakan salah satu tujuan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari program pendidikan umum yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MEDIKORA Vol. VIII, No 2 April 2012

Oleh Cerika Rismayanthi, M.Or. Ahmad Nasrulloh, M.Or. Fatkhurahman Arjuna, M.Or. (TIM PENGAMPU)

BAB I PENDAHULUAN. tubuh. Gerak merupakan perpindahan kedudukan terhadap benda lainnya baik

BAB I PENDAHULUAN. olahraga yang populer di masyarakat. Permainan. masyarakat dari berbagai tingkat usia, anak-anak, remaja dan dewasa baik

Transkripsi:

LATIHAN WEIGHT TRAINING DENGAN METODE CIRCUIT TRAINING TERHADAP HYPERTHROPY OTOT Ardyansyah Arief Budi Utomo 1), Ghon Lhisdiantoro 2) 1 Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains, Universitas PGRI Madiun email: ardyansyah@unipma.ac.id 2 Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains, Universitas PGRI Madiun email: ghon@unipma.ac.id Abstrak Latihan weight training kini sudah sangat menjamur di masyarakat, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan weight training sebagai suatu disiplin ilmu yang harus diimplementasikan untuk menuju kepada suatu tujuan latihan sesuai dengan yang dikehendaki. Metode latihan circuit training salah satunya, metode circuit training adalah suatu metode latihan fisik yang melibatkan latihan kebugaran jasmani dan latihan kekuatan. Metode latihan circuit training sudah teruji dapat meningkatkan daya tahan otot dan kekuatan otot dengan efektif. Circuit training pada weight training juga merupakan penerapan dan kombinasi yang tepat dalam meningkatkan kebugaran, kekuatan, dan massa otot (muscle hyperthropy). Ada beberapa prinsip latihan weight training yang tidak boleh ditinggalkan, karena hal itu merupakan prinsip untuk membangun otot secara tepat dan menghindarkan dari over training. Kata Kunci: Weight Training, Circuit Training, Hyperthropy Otot PENDAHULUAN Latihan dalam terminologi asing sering disebut dengan training, exercise, workout, dan practice. Di dalam Ambarukmi (2007:1), menyebutkan bahwa beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang pengertian latihan (training) olahraga sebagai berikut: (1) Latihan adalah proses penyempurnaan berolahraga melalui pendekatan ilmiah, khususnya prinsip-prinsip pendidikan, secara teratur dan terencana sehingga mempertinggi kemampuan dan kesiapan olahragawan (Hare, 1982); (2) Latihan adalah program pengembangan atlet untuk bertanding, berupa peningkatan keterampilan dan kapasitas energi (Bompa, 1999:394); (3) Latihan adalah proses yang sistematis untuk meningkatkan kebugaran atlet sesuai cabang olahraga yang dipilih (Thomson, 1993:61). Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa latihan merupakan aktifitas fisik yang dilakukan dengan pendekatan ilmiah dengan proses yang sistematis yang merupakan program pengembangan kemampuan atlet. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan teori latihan yang didalamnya terdapat beberapa disiplin ilmu antara lain filsafah, psikologi olahraga, biomekanika, sejarah, gizi olahraga, dan anatomi fisiologi. Adapun sasaran latihan diperlukan sebagai pedoman pelatih maupun atlet dalam menjalankan program latihan, menurut Ambarukmi (2007:2), sasaran latihan tersebut meliputi: 1. Perkembangan Fisik Multilateral Atlet memerlukan pengembangan fisik secara menyeluruh (multilateral) berupa kebugaran (fitness) sebagai dasar pengembangan aspek lainnya yang diperlukan untuk mendukung prestasinya. 2. Perkembangan Fisik Khusus Cabang Olahraga Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017 335

Setiap atlet memerlukan persiapan fisik khusus sesuai cabang olahraganya, mislanya seorang pemain bola voli perlu power otot tungkai yang baik, seorang pesenam memerlukan kelentukan yang sempurna, pemain sepak bola dituntut memiliki kelincahan yang baik, dan sebagainya. 3. Faktor Teknik Kemampuan biomotor seorang atlet dikembangkan berdasarkan kebutuhan teknik cabang olahraga tertentu untuk meningkatkan efisiensi gerakan, mislanya untuk menguasai teknik jump servis, seorang pemain voli perlu memiliki power tungkai dan keseimbangan tubuh yang baik. 4. Faktor Taktik Siasat memenangkan pertandingan merupakan bagian dari tujuan latihan dengan mempertimbangkan kemampuan kawan, kekuatan dan kelemahan lawan, dan kondisi lingkungan pada saat itu. 5. Aspek Psikologis Kematangan psikologis diperlukan untuk mendukung prestasi atlet. Latihan psikologis bertujuan untuk meningkatkan disiplin, semangat, daya juang, rasa percaya diri, dan keberanian. 6. Faktor Kesehatan Kesehatan merupakan bekal yang perlu dimiliki seorang atlet, sehingga perlu pemerikasaan secara teratur dan perlakuan untuk mempertahankannya. 7. Pencegahan Cedera Cedera merupakan peristiwa yang paling ditakuti setiap atlet, untuk itu perlu adanya upaya pencegahan cedera melalui peningkatan kelentukan sendi, kelenturan, dan kekuatan otot. Dari beberapa sasaran latihan di atas, maka dapat dikonklusikan bahwa latihan dengan sasaran yang berbeda, maka perlakuan pada saat latihanpun pasti berbeda, sebagai contoh, seorang atlet binaraga tidak diharuskan mempunyai kelentukan yang sama dengan atlet senam. Setiap kecabangan olahraga pasti mempunyai target prestasi yang berbeda-beda, atlet sprint 100 meter dituntut mempunyai limit yang sedikit, atlet sepak bola dituntut memasukkan gol ke dalam gawang lawan, dan sejenisnya. Namun hal itu perlu adanya latihan, terutama dalam hal kondisi fisik seperti kekuatan, power, kelentukan, kelincahan, dan sebagainya. Dalam hal kekuatan dan power, tentu saja berkaitan langsung dengan massa otot, secara ilmiah, semakin besar massa otot atlet, maka semakin kuat atlet tersebut melakukan gerakan yang dimaksud. Sebagai contoh, atlet angkat berat dituntut mempunyai kekuatan dan power otot lengan dan dada dalam melakukan bench press, maka yang harus dilakukannya adalah melatih otot lengan dan dada dengan melakukan weight training atau latihan beban. Salah satu indikasi bahwa kekuatan dan power atlet tersebut meningkat ialah ditandai dengan adanya hyperthropy otot lengan dan dada. 336 Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Weight Training Weight Training atau latihan beban merupakan jenis latihan untuk meningkatkan kekuatan otot. Ditandai dengan membesarnya massa otot atau disebut hyperthropy. Weight Training dibagi menjadi 2 bentuk latihan, yaitu Free Weight dan Weight Machine. Free Weight adalah bentuk latihan beban yang menggunakan beban bebas biasanya dalam bentuk dumbbell atau barbbell, beban latihan berupa piringan beban ditaruh di ujung bar yang terbuat dari baja (Ambarukmi, 2007:89). Seperti contoh, gerakan biceps curl menggunakan beban dumbbell, gerakan triceps kick back menggunakan dumbbell. Dalam gambar 1 berikut akan dipaparkan berupa gambar mengenai bentuk free weight dari weight training. Gambar 1. Free Weight (Biceps Curl) Sedangkan Weight Machine adalah bentuk latihan beban yang menggunakan bantuan alat katrol atau sejenisnya yang bebannya sudah dijadikan dalam satu tempat dan dapat disesuaikan dengan mudah serta lebih safety dalam penggunaannya. Bentuk latihan yang menggunakan Weight Machine bisa berupa Chest Press Machine, Lat Pull Down, dan masih banyak lagi. Dalam gambar 2 berikut akan dipaparkan berupa gambar mengenai bentuk Weight Machine. Gambar 2. Weight Machine (Chest Press Machine) Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017 337

2. Circuit Training Circuit training atau latihan sirkuit adalah suatu metode latihan fisik yang melibatkan latihan kebugatan jasmani dan latihan kekuatan. Latihan sirkuit merupakan metode latihan yang sudah teruji dan dapat meningkatkan daya tahan otot dan kekuatan otot dengan efektif (Ambarukmi, 2007:102). Circuit training diperkenalkan pertama kali oleh Morgan dan Admason pada tahun 1959 di Universitas Leeds. Menurut Morgan dan Admason, circuit training merupakan metode untuk mengembangkan kebugaran jasmani secara general atau umum (Bompa, 1999:124). Ciri-ciri circuit training adalah berisi beberapa station exercise atau beberapa pos latihan yang dilakukan secara circle. Pengelompokan circuit training berdasarkan jumlah pos latihannya dibagi menjadi 3, yaitu short exercies (6-9 exercises), medium exercises (9-12 exercises), dan long excersices (12-15 exercises) (Bompa, 1999:124). Adapun pengaturan latihan jika ingin melakukan metode latihan circuit training antara lain adalah: a. Atlet boleh memilih jenis latihan dari pos mana saja kemudian pindah ke pos latihan berikutnya, sampai semua pos latihan dikunjungi dan dikerjakan, yang keseluruhannya membentuk circle latihan yang lengkap. b. Ada waktu maksimal yang menjadi batas waktu penyelesaian satu sirkuit atau jumlah repetisi latihan yang harus diselesaikan pada setiap pos latihan. c. Pertimbangan yang harus dilakukan ketika hendak melakukan latihan sirkuit antara lain adalah: bentuk latihan, urutan latihan (kaki lengan perut dst), waktu kerja/waktu latihan, dan lamanya istirahat. Terlepas dari batasan-batasan dan pengaturan pada circuit training, durasi latihan dan boleh jadi beberapa kali akan diulang tergantung dari jumlah pos latihan yang terlibat. Dalam memutuskan jumlah sirkuit, jumlah repetisi per pos, dan beban, maka harus mempertimbangkan level kebugaran dari masing-masing individual atlet. Berikut akan dipaparkan contoh weight training menggunakan metode circuit training yang mendasarkan pada kebugaran jasmani dan hyperthropy otot: a. Pos 1 (Bench Press) istirahat maksimal 1 dilanjutkan ke pos 2 Gambar 3. Bench Press 338 Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017

b. Pos 2 (Paralel Bar Dips) istirahat maksimal 1 dilanjutkan ke pos 3 Gambar 4. Paralel Bar Dips c. Pos 3 (Dumbbell Flys) istirahat maksimal 1 dilanjutkan ke pos 4 Gambar 5. Dumbbell Flys d. Pos 4 (Reverse Push Down) istirahat maksimal 3 melanjutkan kembali ke pos 1 (1 sirkutit). Gambar 6. Reverse Push Down Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017 339

Ilustrasi dari latihan di atas akan ditampilkan dalam bentuk gambar sebagai berikut: 1 SIRKUIT 4 1 3 2 Gambar 7. Circuit Training Record Sheet Untuk mempermudah pencatatan latihan dalam circuit training, maka dibuatlah Circuit Training Record Sheet sebagai berikut: Tabel 1. Circuit Training Record Sheet Circuit Training Record Sheet Nama... HR Min...bit/mnt Umur...Tahun HR Max...bit/mnt Pos Latihan Bench Press Bar Dips Dumbbell Fly Reverse Push Down Catatan: Sirkuit 1 2 3 4 5 6 7 (Ambarukmi, 2007:106). 3. Hypertrophy Otot Hypertrophy otot adalah pertumbuhan jaringan otot melalui peningkatan ukuran dari unsur jaringan otot, bukan jumlah sel otot. (Bompa, 1999:132). Hypertrophy otot bisa didapatkan dengan cara berlatih mengangkat beban (weight training). Utamanya bagi atlet binaragawan, pembesaran otot sangat diperlukan bagi binaragawan, dengan ukuran otot yang lebih besar, maka atlet dapat meraih prestasi. Namun tidak semua atlet memerlukan ukuran otot yang terlampau besar, seperti halnya atlet sprint 100 meter tidak akan memerlukan ukuran otot yang terlampau besar, namun untuk menguatkan otot-otot yang notabene dominan pada otot kaki, atlet sprint dapat melatih secukupnya menggunakan weight training. 340 Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017

SIMPULAN DAN SARAN Latihan merupakan satu-satunya cara untuk meraih prestasi bagi seorang atlet. Peranan otot sangat berpengaruh bagi terealisasinya sebuah prestasi atlet, baik dalam hal kekuatan, ketrampilan, kelentukan, semuanya itu menggunakan peran otot. Untuk itu atlet dituntut agar selalu melatih kekuatan otot, sebagai komponen penggerak utama dalam aktifitas. Salah satu latihan yang mampu dan dikhususkan untuk membesarkan ukuran otot adalah weight training atau latihan beban. Di dalam weight training, terdapat beberapa macam metode latihan, salah satunya adalah metode latihan circuit training. Yang mana metode circuit training termasuk dalam metode yang menghindarkan dari kejenuhan saat berlatih, karena pada penerapannya metode tersebut dilakukan dengan berganti-ganti pos latihan. Jika weight training dilakukan secara rutin, maka besar kemungkinan ukuran otot akan bertambah. Secara ilmiah, semakin besar ukuran otot, maka semakin kuat pula melakukan suatu gerakan tertentu. Namun, hal ini tidak menjadi tolok ukur sepenuhnya untuk menjadi komponen tercapainya prestasi, karena masih banyak komponen-komponen lainnya yang juga harus dikembangkan dan dilatih oleh atlet seperti kelincahan, koordinasi, kelentukan, ketrampilan, dan lain-lain. Circuit training (dalam hal ini pada weight traning) merupakan metode latihan yang cukup general, karena melibatkan seluruh bagian otot (tergantung dari isi latihan per posnya). DAFTAR PUSTAKA Ambarukmi, (2007). Pelatihan Pelatih Fisik Level 1. Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Bompa, Tudor O. (2006). Periodization Training for Sports. Unites States of America: Human Kinetics. Delavier, Frederic. (2007). Strenght Training Anatomy. Second Edition. Canada: Human Kinetics. Delavier, Frederic. (2010). Strenght Training Anatomy. Third Edition. Canada: Human Kinetics. Unesa, (2014). Pedoman penulisan tesis dan disertasi program pasca sarjana. Surabaya: Unesa University Press. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNIPMA 2017 341