1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Dalam menjalani kehidupan sebagai suami istri pasti ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi sehingga dapat mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga, karena namanya hidup itu tidak akan pernah lepas dari masalah, baik masalah itu datangnya dari suami maupun dari istri. Permasalahan yang muncul itu bisa suami yang membenci istrinya atau sebaliknya. Dalam kondisi ini, Islam berpesan agar bersabar dalam mencari jalan keluar yang terbaik (Syarifuddin 2003, 124). Akan tetapi kebencian terkadang semakin meruncing, sehingga masalah yang awalnya kecil menjadi besar, sementara solusi untuk mencari jalan keluarnya semakin sulit untuk didapatkan dan akhirnya rumah tangga berada dalam kehancuran. Dalam masalah ini ila merupakan salah satu penyebabnya. Ila merupakan perbuatan tercela yang dilakukan pada masa sebelum Islam, dimana si istri dicekam kegelisahan yang bahkan adakalanya berlansung sepanjang hayatnya. Kata Ila menurut bahasa merupakan mashdar dari kata aalaa-yuulii-iilaa an, sewazan dengan a thaa-yu thii thaa an, yang artinya sumpah. Menurut istilah dalam hukum Islam, Ila ialah sumpah suami dengan menyebut nama Allah atau sifat-nya yang tertuju kepada istrinya untuk tidak mendekati istrinya itu, baik secara mutlak maupun dibatasi dengan ucapan selamanya, atau dibatasi empat bulan atau lebih (Depag 1984, 261 ). Beberapa contoh ucapan Ila adalah ucapan suami kepada istrinya sebagai berikut : a. Demi Allah, saya tidak akan mengumpuli istriku. b. Demi Kekuasaan Allah, saya tidak akan mencampuri istriku selama lima bulan. c. Demi Allah, saya tidak akan mendekati istriku selamanya. 1
2 Ila yang secara harfiah maksudnya bersumpah, secara teknis berarti mengambil sumpah bahwa seseorang tidak akan melakukan hubungan kelamin terhadap istrinya. Pada masa sebelum Islam, orang orang Arab sering melakukan sumpah semacam ini. Sebagian mereka menolak untuk menggauli istrinya di ranjang dalam waktu tertentu sesuai yang diinginkan. Sebagian yang lain bersumpah untuk tidak mendekati istrinya selama masa tertentu. Kemudian, sebelum masanya habis ia kembali bersumpah agar ia dapat lebih lama menjauhi istrinya. Demikianlah kebiasaan tersebut menjadi tradisi yang menghinakan dan menyulitkan kaum wanita dan mencegah mereka untuk mendapatkan hak untuk digauli sebagai seorang istri (Asy-Sya rawi 2007, 155). Karena waktu yang membimbangkan itu tak terbatas berlansungnya, maka kadangkala si istri menghabiskan masa seluruh hidupnya dalam keterkurungan, tidak menempati kedudukan sebagai seorang istri, juga tidak seperti wanita yang diceraikan dan bebas untuk menikah kembali dengan orang lain (Abdurrahman 1992, 100). Setelah kedatangan Islam, keadaan itu diperbaiki melalui wahyu Ilahi yang memerintahkan, seandainya si suami tidak menjalin kembali hubungan perkawinannya dalam tempo empat bulan, maka istrinya itu harus diceraikan. Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 226-227 menyatakan: Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, Maka Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Ayat diatas menjelaskan bahwa apabila suami mengila istrinya dan akan diberi tangguh selama empat bulan, kemudian apabila dalam waktu
3 empat bulan suami juga tidak menggauli istrinya, maka si istri berhak menuntut untuk dikumpuli atau diceraikan. Ulama fikih menyatakan bahwa alasan yang membuat suami melaksanakan ila adalah karena suami tidak setuju dengan sikap keseharian istrinya, sehingga suami sakit hati dan marah. Sebab lain, suamisudah bosan dan ingin mempermainkan serta memberi mudarat kepada istrinya (Ensiklopedi Hukum Islam 2000, 695). Karena suami merasa kesal terhadap istrinya dan secara spontan bersumpah untuk tidak mau menggaulinya. Dalam hal ini sumpahnya baik dengan nama Allah ataupun dengan berpuasa atau dengan bersadaqah atau dengan haji bahkan dengan bercerai. Dalam penantian selama empat bulan seorang istri yang di ila merasa tidak diperdulikan oleh suami dan si istri merasa terkatung-katung seolah-olah tak bersuami tetapi juga tidak diceraikan. Allah telah meletakan batas tertentu bagi perbuatan yang meyusahkan ini dan dibatasi hingga empat bulan, dimana seorang suami boleh tidak mengumpuli istrinya. Selama waktu pisah ini mereka harus berusaha untuk berdamai satu sama lain demi kebaikan mereka sendiri, sehingga mereka dapat melanjutkan hubungan perkawinan mereka atau dapat bebas menikah lagi dengan orang yang cocok menurut keinginan masing masing (Abdurrahman 1992, 101). Bagi suami yang mengila istrinya lalu diwajibkan menjauhinya selama empat bulan itu menimbulkan kerinduan terhadap istri, lalu menyesali sikapnya yang sudah lalu dengan memperbaiki diri sebagai bekal sikap yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Dalam hal ini jika kemudian suami berbalik kembali kepada istrinya diwajibkan membayar kafarah sumpah karena telah mempergunakan nama Allah untuk keperluan dirinya. Kaffarah sumpah itu berupa : a. Memberi makan 10 orang miskin, atau b. Memberi pakaian kepada 10 orang miskin, atau
4 c. Memerdekakan budak, atau d. Berpuasa selama tiga hari Jika tidak sanggup melakukan salah satu dari tiga hal tersebut, maka kafarahnya adalah berpuasa selama tiga hari, Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah surah Al-Maidah ayat 89: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi Pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpahsumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum- Nya agar kamu bersyukur (kepada-nya). Setelah berlalu masa empat bulan terhitung sejak suami menyatakan sumpah ila itu ternyata suami tidak mencabut kembali sumpahnya, berarti selama waktu itu tidak ada perubahan ke arah perbaikan, maka suami berarti menghendaki perceraian. Dalam hal ini baik dengan jalan suami menjatuhkan talak terhadap istrinya, atau istri mengadukan halnya kepada hakim, lalu hakim menetapkan terjadinya perceraian itu (Ghazaly 2012,235). Berdasarkan penjelasan mengenai pembahasan ila ini, penulis menemukan sebuah permasalahan yang mana seorang suami telah
5 mangila istrinya atau mengucapkan sumpah untuk tidak menggauli istrinya, kemudian suami tersebut meninggal dunia setelah berlalu masa empat bulan. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat berhubungan dengan setelah lewat masa ila yang telah ditentukan. menurut Hanafi mengatakan setelah lewat masa empat bulan maka lansung jatuh talak ba in tanpa harus diajukan lagi perkaranya kepada hakim, atau jika tidak suami harus menalak istrinya. Sedangkan Maliki, Syafi i dan Hambali mengatakan apabila lewat masa empat bulan dan suami tidak mencampuri istrinya, maka tidak terjadi talak secara lansung. Akan tetapi persoalan ini diajukan kepada hakim supaya hakim menyuruh laki-laki itu mencampuri istrinya. Kalau dia menolak, hakim memerintahkannya untuk menjatuhkan talak, dan jika dia tetap menolak maka hakim yang akan menjatuhkan talaknya dan talaknya adalah talak raj i. Dalam hal ini penulis lebih memusatkan atau menfokuskan pada penyelenggaraan jenazah suami, salah satu bagian dari penyelenggaraan jenazah adalah memandikan jenazah. Memandikan mayat hukumnya adalah fardhu kifayah bagi orang-orang yang hidup. Jumhur ulama berpendapat bahwa memandikan jenazah seorang muslim hukumnya fadhu kifayah. Artinya, jika sebagian orang telah melakukannya maka yang lain sudah terwakili. Ini merujuk kepada perintah Rasulullah saw., dan selalu dilaksanakan oleh kaum muslimin (Sabiq 2010, 44). Menutup aurat mayit hukumnya adalah wajib, maka bagi yang memandikan dan lainnya tidak boleh melihat auratnya dan menyentuhnya. Bagi yang memandikan itu wajib menggunakan secarcik kain pada tangannya untuk ia gunakan membersihkan auratnya, baik aurat ringan maupun aurat berat. Sedangkan untuk sisa badan lainnya boleh menyentuhnya secara lansung tanpa secarcik kain (Al Jazairi 1996, 244). Bagi laki-laki tidak boleh memandikan mayat wanita dan sebaliknya wanita juga tidak boleh memandikan mayat laki-laki, keculi suami istri
6 maka keduanya boleh memandikan yang lain. Seperti yang disebutkan di dalam haditsshahih Sunan Ibnu Majah yang berbunyi : Dari Aisyah, dia berkata, kalau saja aku mengetahui perkaraku lebih awal, maka aku tidak akan menundanya, tidak ada yang boleh memandikan Nabi saw. Selain para istri beliau (HR. Abu Daud) (Al Bani 2013, 09). Dari Aisyah dia berkata, Rasulullah pulang dari Baqi, beliau mendapatiku saat aku merasa kepalaku sangat pusing, aku bekata, oh kepalaku. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Bahkan aku yang sakit kepala, wahai aisyah. Kemudian beliau bersabda lagi, Apakah yang membuatmu resah jika kamu meninggal dunia sebelumku, aku akan mengurusmu, memandikanmu, mengkafani, menshalati dan menguburkanmu (HR. Ahmad) (Al Bani 2013, 10). Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa rasulullah SAW. boleh memandikan istrinya (Aisyah), dan istrinyapun juga boleh untuk memandikan suaminya. Hal ini dalam keadaan suami dengan istrinya tidak ada permasalahan yang sedang dihadapi. Namun, jika suami dan istri yang sudah habis masa empat bulan dalam penantian ila apakah seorang istri tersebut masih bolehkah untuk memandikan jenazah suaminya. Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik membahas masalah ini dengan memberi sebuah judul penelitian yaitu: Istri Memandikan Jenazah Suami Yang Telah Mengila nya Ditinjau Dari Hukum Islam.
7 2. Rumusan Masalah Beranjak dari pemaparan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah yang akan penulis teliti adalah Bagaimana Menurut Pandangan IslamHukum Memandikan Jenazah Suami Yang Telah Mengila nya? 3. Pertanyaan Penelitian Adapun yang menjadi pertanyaan penelitiannya adalah: 3.1. Apa akibat hukum yang ditimbulkan setelah suami mengila istrinya? 3.2. Bagaimana status atau kedudukanistri yang telah diila oleh suaminya? 3.3. Bagaimana hukum istri memandikan jenazah suami yang telah mengila nya? 4. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah Untuk mendudukkanbagaimana hukum menurut pandangan islam istri memandikan jenazah suami yang telah mengila nya, diantaranya : 4.1. Untuk menjelaskan akibat hukum yang ditimbulkan setelah suami mengila istrinya 4.2. Untuk menjelaskan status atau kedudukan istri yang telah diila oleh suaminya. 4.3. Untuk menjelaskan hukum istri memandikan jenazah suami yang telah mengila. 5. Kerangka Teori Penelitian ini akan membahas permasalahan tentang Bagaimana Hukum Bagi Istri Memandikan Jenazah Suami Yang Telah Mengila nya. Dalam penelitian ini penulis akan menjelaskan teori yang akan penulis gunakan untuk meneliti permasalahan ini. Ila asal katanya dalam bahasa Arab (aala, yu lii, iilaan) artinyabersumpah ataumenolak melakukan sesuatu dengan bersumpah atau mengelak dengan bersumpah (Yunus 1989, 47).Ila adalah sumpah suami kepada seorang istri dengan menggunakan nama Allah atau salah
8 satu sifat-nya untuk tidak menggauli istrinya dalam jangka waktu tertentu. Bagi suami yang mengila istrinya, maka diwajibkan menjauhi istrinya tersebut selama empat bulan. Jika kemudian suami berbalik kembali kepada istrinya diwajibkan membayar kafarah sumpah karena telah mempergunakan nama Allah untuk keperluan dirinya. Kaffarah sumpah itu berupa : 1. Memberi makan 10 orang miskin, atau 2. Memberi pakaian kepada 10 orang miskin, atau 3. Memerdekakan budak, atau 4. Berpuasa selama tiga hari. Istri adalah wanita (perempuan) yang telah menikah atau yang bersuami (Syarifuddin 1993 ). Memandikan jenazah merupakan gabungan dari kata memandikan dan jenazah. Kata memandikan berasal dari kata mandi yang berarti menyiramkan air ke seluruh badan. Memandikan disini maksudnya mensucikan mayat misalnya sesudah meninggal lalu dimandikan (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1995, 630).Maksudnya perbuatan orang yang masih hidup terhadap orang yang sudah meninggal dunia dengan cara menyiramkan air atau mengalirkan air ke seluru tubuh untuk mengangkat najis yang menempel pada tubuh jenazah tersebut dengan niat kepada Allah SWT. Jenazah artinya mayat, maksdunya jasad manusia yang telah ditinggalkan oleh ruhnya. Memandikan mayat hukumnya adalah fardhu kifayah bagi orangorang yang hidup. Jumhur ulama berpendapat bahwa memandikan jenazah seorang muslim hukumnya fadhu kifayah. Artinya, jika sebagian orang telah melakukannya maka yang lain sudah terwakili. Ini merujuk kepada perintah Rasulullah saw., dan selalu dilaksanakan oleh kaum muslimin (Sabiq 2010, 44). Bagi laki-laki tidak boleh memandikan mayat
9 wanita dan sebaliknya wanita juga tidak boleh memandikan mayat lakilaki, keculi suami istri maka keduanya boleh memandikan yang lain. Hukum Islam adalah Seperangkat peraturan yang berdasarkan hukum Allah dan Sunnah rasul-nya tentang tingkah laku mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat bagi seluruh anggotanya yaitu semua orang yang beragama Islam (Syarifuddin 1993, 18). 6. Telaah Pustaka Untuk menghindari kesalahpahaman dan pengulangan penelitian penulis menambahkan satu sub pembahasan yakni studi kepustakaan. Sejauh kajian kepustakaan yang penulis lakukan, penulis menemukan satu pembahasan yang mengkaji tentang pembahasan ini, yaitu terdapat dalam skripsi: Jeri Afrinaldo, Nim 0312.138 dengan judul skripsi Analisis Pendapat Hanafiyah Tentang Hukum Memandikan Mayat Suami bagi Istri yang Telah Ditalak Raj i. Yang menjadi rumusan masalah dalam skripsi ini adalah apakah dalil dan metode istinbat hukum ulama Hanafiyah yang membolehkan istri yang ditalak raj i untuk memandikan mayat suaminya. Kesimpulannya adalah golongan Hanafiyah berpendapat bahwa seorang istri yang ditalak raj i kemudian suaminya meninggal, maka istri boleh memandikan mayat suaminya tersebut. Mereka beralasan bahwa ketika terjadi talak raj i, milkun nikah(hubungan kemahraman suami-istri) belum hilang antara keduanya. Dalil yang dipergunakan adalah hadis dari Aisyah : Seandainya aku mengetahui sebelumnya, maka tidaklah yang memandikan Rasulullah melainkan para istri beliau. Maka dalam hal ini status istri yang ditalak raj i boleh memandikan mayat suaminya, sama dengan istri yang kematian suaminya. Berdasarkan penelitian yang dibahas oleh peneliti yang terdahulu, jelas berbeda dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Peneliti terdahulu membahas tentang analisis pendapat ulama hanafiyah tentang istri memandikan jenazah suami yang telah ditalak raj i. Sedangkan
10 penelitian yang akan penulis lakukan adalah istri memandikan jenazah suami yang telah mengila nya ditinjau dari hukum Islam. 7. Metode Penelitian 7.1. Jenis penelitian Dalam penelitian ini, penulis akan melakukan penelitian kepustakaan (library research) dimana data yang dipakai adalah data-data kepustakaan. Penelitian kepustakaan merupakan suatu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca karya-karya yang terkait dengan masalah yang akan diteliti, kemudian mencatat bagian yang memuat kajian penelitian. 7.2. Sumber data Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Data tersebut adalah data pustaka yang diperoleh dari buku-buku atau bahan bacaan yang relevan dengan pembahasan ini. Sumber data dalam penelitian ini hanya menggunakan sumber data sekunder kecuali Al-Qur an dan Hadits, diantaranya yaitu; kitab al-fiqh al-islam Wa Adillatuhu karangan Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqh Ala Al-Mazahib Al-Arba ah karangan Abdurrahman Al-Juzairi, BidayatuAl-Mujtahid Karangan Ibnu Rusyd, Al-Majmu Syarh Al-Muhazzab karangan Imam An- Nawawi Fiqih Sunnah karangan Sayyid Sabiq, Fiqh Munakahat, Fiqh Wanita, Buku Pintar Mengurus Jenazah dan buku-buku Fiqh lainnya yang berhubungan dengan pembahasan penulis. 7.3. Metode pengumpulan data Dalam penelitian ini pengumpulan data hanya dilakukan dengan studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan metode tunggal yang dipergunakan mengkaji dan menela ah berbagai buku dan sumber tertulis lainnya yang mempunyai relevansi dengan kajian ini.
11 7.4. Teknis analisis data Untuk menganalisa data, penulis menggunakan analisis data kualitatif (Arifin 1995, 134). Dalam hal ini hendak diuraikan beberapa pemikiran ulama dan tokoh fiqh Islam tentang bagaimana kedudukan hukum memandikan jenazah suami yang telah mengila istrinya, untuk itu digunakan metode deskriptif analisis yakni menggambarkan dan menganalisa data dengan teliti. Kemudian juga menggunakan metode comparatif yaitu dengan cara membandingkan beberapa pendapat Ulama tentang permasalahan yang diteliti. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fiqh. Adapun metode istimbath yang penulis gunakan adalah metode istibath qiyasi. 8. Sistematika Penulisan Untuk lebih terarahnya dalam penelitian ini, penulis membuat sistematika penulisan dan garis-garis besar yang terdiri dari bab pendahuluan sampai kepada bab penutup. Bab satu merupakan bagian pendahulun yang dibahas di dalamnya: latar belakang masalah, rumusan masalah,pertanyaan penelitian, signifikasi penelitian, telaah pustaka, metode penelitian, sistematika penulisan dan sumber bacaan. Bab dua memaparkan tentang pengertian jenazah, bagaimana hukum memandikan jenazah, tata cara memandikan jenazah, syarat syarat memandikan jenazah.bab tiga merupakan bab yang membahas mengenai pengertian dan dasar hukum ila, rukun dan syarat ila, masa berlaku ila, akibat hukum ila. Bab empat merupakan pembahasan inti yang membahas tentang hasil penelitian penulis, yatiu: apa akibat hukum yang ditimbulkan setelah suami mengila istrinya, bagaimana status istri yang telah diila oleh suaminya, bagaimana pandangan hukum Islam tentang istri memandikan jenazah suami yang telah mengila nya.bab lima penulis akan memberikan
12 kesimpulan dari pembahasan yang telah penulis kemukakan dan dilengkapi dengan saran-saran. 9. Sumber Bacaan Adapun sumber bacaan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah kitab al-fiqh al-islam Wa Adillatuhu karangan Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqh Ala Al-Mazahib Al-Arba ah karangan Abdurrahman Al-Juzairi, Bidayatu Al-Mujtahid Karangan Ibnu Rusyd, Al-Majmu Syarh Al-Muhazzab karangan Imam An-Nawawi, Buku Asas-asas Hukum Islam tentang Perkawinan Karangan Kamal Mukhtar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pembahasan penulis.