1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pernikahan merupakan suatu sarana yang membolehkan hubungan antara laki-laki dan perempuan, dengan adanya hubungan tersebut maka akan terjalin rasa kasih sayang, mendapatkan ketenangan batin dan akan terbentuknya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Nikah adalah sunnah Allah bagi hamba-hambanya untuk menempuh bahtera kehidupan rumah tangga. Allah SWT tidak ingin dunia ini statis atau berjalan menurut keinginan penghuninya, tetapi Allah mengatur dan menetapkan aturan bagi hamba Nya untuk bisa memelihara martabat dan kesucian dirinya (Sabiq 1980, 557). Pernikahan di anggap sah dalam Islam apabila memenuhi rukun dan syarat tertentu serta terhindar dari larangan-larangan pernikahan. Untuk melakukan pernikahan ada beberapa larangan perkawinan,larangan pernikahan tersebut ada yang bersipat selamanya dan ada yang bersifst sementara. Meskipun telah memenuhi seluruh rukun dan syarat yang ditentukan belum tentu perkawinan tersebut sah, karena masih tergantung lagi pada satu hal, yaitu perkawinan itu telah terlepas dari segala hal yang menghalang. Halangan perkawinan itu disebut juga dengan larangan perkawinan. Adapun yang dimaksud dengan larangan perkawinan dalam bahasa adalah orang orang yang tidak boleh melakukan perkawinan. Yang dibicarakan di sini iyalah perempuan- perempuan mana saja yang tidak boleh dikawini oleh seorang laki-laki; atau sebaliknya laki-laki mana saja yang tidak boleh mengawini seorang perempuan.keseluruhannya diatur dalam al-qur an dan dalam hadis Nabi. Larangan perkawinan itu ada dua macam: 1
2 1.1. Larangan perkawinan yang berlaku haram untuk selamanya dalam arti sampaikapan pun dan dalam keadaan apa pun laki-laki dan perempuan itu tidak boleh melakukan perkawinan. Larangan dalam bentuk ini disebut mahram muabbad. Keharaman menikahi perempuan untuk selama-lamanya (haram mu abadah) terbagi atas tiga kelompok : 1.1.1. Haram disebabkan karena nasab (kekerabatan) 1.1.2. Haram disebabkan karena perkawinan 1.1.3. Haram karena sepersusuan. 1.2. Larangan perkawinan berlaku untuk sementara waktu dalam arti larangan itu berlaku dalam keadaan dan waktu tertentu; suatu ketika bila keadaan tertentu itu sudah berubah iya sudah tidak lagi menjadi haram, yang di sebut mahram muaqqat. Keharaman yang berlaku untuk sementara waktu (mahram mu aqaddah) terbagi ke dalam beberapa kelompok. Diantaranya adalah : 1.2.1. Perempuan yang bersuami atau dalam masa iddah, 1.2.2. Mantan isetri yang telah di talak tiga oleh mantan suaminya, 1.2.3. Perempuan musyrik sampai ia masuk Islam, 1.2.4. Perempuan pezina sampai ia bertaubat, 1.2.5. Perempuan dalam masa ihram, 1.2.6. Memadu dua orang yang bersaudara Diantara haram muaqqat adalah memadu dua orang yang masih bersaudara baik saudara sekandung, saudara seayah maupun saudara sepersususan. Ketentuan mengenai larangan ini berdasarkan firman Allah surat An-Nisa ayat 23 :
3 Artinya: Dan diharamkan kamu menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau (Q.S, an-nisa ayat 23). Dan juga hadits dari abu dawud, dia berkata: عن ابي ھریرة قل قل رسول الللھ صلي الله علیھ وسلم لاتنكح المر أة على عمتھا ولا العمة عل بنت أخیھا ولا المرأة عل خا لتھا ولا الخا لة على بنت أختھا ولا تنكح الكبرى عل الصغرى ولا الصغرى على الكبرى(رواه ابى داود) Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda: Tidak boleh seorang wanita dinikahi sebagai madu bibinya(saudari ayah),dan seorang bibi dinikahi sebagai madu anak wanita saudara laki-lakinya,,dan tidak boleh seorang wanita dinikahi sebagai madu bibinya(saudari ibunya) dan seorang bibi sebagai madu bagi anak wanita saudara wanitanya. Dan tidak boleh seorang kaka wanita dinikahi sebagai madu adik wanitanya dinikahi sebagai madu kaka wanitanya. (abu dawud) Berdasarkan ayat dan hadis tersebut Islam melarang memadu antara dua orang yang bersaudara. Bila seorang laki-laki telah mengawini seorang perempuan dalam waktu yang sama, ia tidak boleh mengawini saudara dari perempuan tersebut. Bila isterinya telah diceraikan, boleh ia kawin dengan saudara perempuannya atau dengan saudara ayah atau saudara ibunya (Syarifuddin, 109-110).
4 Selain itu di dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam juga diatur mengenai rukun, syarat dan larangan perkawinan) diatur dalam pasal 14 sebagai berikut: 1.2.7. Calon Suami 1.2.8. Calon Istri 1.2.9. Wali Nikah Dua orang saksi dan 1.2.10. Ijab dan Kabul Pasal 40 Dilarangan melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu : 1.2.11. Karena wanita yang bersangkutan masih terkait satu perkawinan dengan pria lain. 1.2.12. Seorang wanita yang masih berada dalam masih masa iddah dengan pria lain. 1.2.13. Seorang wanita yang tidak beragama islam. Pasal 41 1.2.14. Seorang pria dilarang memadu istrinya dengan seorang wanita yang mempunyai hubungan hubungan pertalian nasab atau susuan dengan istrinya. 1.2.15. Saudara kandung seayah atau seibu serta keturunannya. 1.2.16. Wanita dengan bibinya atau kemenakannya. 1.3. Larangan tersebut pada ayat (1) tetap berlaku meskipun ist eriisterinya telah ditalak raj i, tetapi masih dalam masa iddah. Akan tetapi berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat ke khususannya masyarakat di Desa Sumur Padang dan Baringin Baru dari tahun 2006 sampai 2016 terdapat tiga kasus yang terjadi di tengah masyarakat perkawinan seorang pria dengan dua orang wanita yang bersaudara kandung. Peristiwa ini diawali dengan tindakan suami yang berzina dengan adik isterinya. Kemudian perzinaan itu menyebabkan kehamilan. Ketika masyarakat mengetahui permasalahan itu masyarakat
5 kemudian memaksa sisuami menikahi adik si istri yang lagi hamil tersebut. Sedangkan masyarakat tahu bahwa antara kedua perempuan itu bersaudara kandung. Bentuk-bentuk gambaran kasus yang terjadi di masyarakat yaitu: 1.3.1. Nama : Maulida sari menikah dengan Wahid Nasution dan wahid berzina dan dinikahkan secara paksa dengan adik istrinya yang bernama, Zainab. 1.3.2. Nama: Rukiah menikah dengan Rusdi Harahap dan Rusdi Harahap berzina dan dipaksa kawin dengan adik istrinya yang bernama, Anna maria. 1.3.3. Nama: Ira menikah dengan Zainal pane dan Zainal pane berzina dan dipaksa kawin dengan adik istrinya yang bernama, Lina marlisa. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam tentang tinjauan hukum Islam mengenai kawin paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya di Desa Sumur Padang dan Baringin Baru tersebut. Dengan demikian peneliti tertarik mengangkat kasus tersebut menjadi sebuah penelitian yang berjudul Kawin Paksa Terhadap Suami Yang Menghamili Saudari Kandung Istrinya (Studi Kasus di Desa Sumur Padang Dan Baringin Baru Kecamatan Padang Gelugur. Pasaman). 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, yang menjadi rumusan masalah adalah Bagaimana Pandangan Hukum Islam tentang Kawin paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya di Kecamatan Padang Gelugur? 3. Pertanyaan Penelitian adalah: Adapun yang menjadi pertanyaan penelitian dalam peneliti ini
6 3.1. Apa alasan masyarakat mengawinkan paksa suami yang menghamili saudari kandung istrinya? 3.2. Apa tujuan masyarakat mengawinkan secara paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya? 3.3. Bagaimana pandangan hukum Islam tentang kawin paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya? 4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 4.1. Tujuan Penelitian 4.1.1. Untuk mengetahui alasan masyrakat mengawinkan paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya. 4.1.2. Untuk mengetahui tujuan masyarakat mengawinkan paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya. 4.1.3. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam tentang kawin paksa terhadap suami yang menghamili saudari kandung istrinya. 4.2. Kegunaan Secara Teoritis 4.2.1. Sebagai bahan untuk menambah, memperdalam dan memperluas keilmuan mengenai hukum perkawinan Islam. 4.2.2. Dapat digunakan sebagai tambahan refrensi dan rujukan bagi penelitian selanjutnya. 4.2.3. Untuk melengkapi salah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana Hukum pada fakultas Syari ah IAIN Imam Bonjol Padang. 4.3. Kegunaan Secara Praktis 4.3.1. Pembaca atau masyarakat diharapkan mampu memahami dan dapat dijadikan Sebagai sarana pengetahuan supaya tidak terjadi maksiat dan hamil luar nikah. 4.3.2. Dapat memberikan informasi atau pengetahuan tentang keluarga sakinah yang merupakan tujuan perkawinan dalam Islam. 5. Kerangka Teori 5.1. Rukun dan Syarat Pernikahan
7 Jumhur ulama sepakat bahwa rukun perkawinan itu terdiri atas : 5.1.1. Adanya calon suami dan istri yang akan melakukan perkawinan. 5.1.2. Adanya wali dari pihak calon pengantin wanita 5.1.3. Akad nikah akan dianggap sah apabila ada seorang wali atau wakilnya yang akan menikahkanyya. 5.1.4. Adanya dua orang saksi 5.1.5. Pelaksanaan akad nikah akan sah apabila dua orang saksi yang menyaksikan akad nikah tersebut. 5.1.6. Sighat akad nikah 5.2. Larangan pernikahan (larangan muaqqat dan larangan mua abbadah). 5.2.1. Haram disebabkan karena nasab (kekerabatan) 5.2.2. Haram disebabkan karena perkawinan 5.2.3. Haram karena sepersusuan. 5.2.4. Perkawinan Wanita Hamil Dalam menikahkan perempuan hamil karena zina terdapat dua hukum yang mana para ulama berbeda pendapat di dalamnya, yaitu : 5.2.1 Hukum kawin dengan wanita yang hamil di luar nikah 5.2.2 Hukum pria yang kawin dengan wanita yang dihamili oleh orang lain Selain pendapat ulama mengenai kawin hamil tersebut juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Tentang Kawin Hamil dalam Pasal 53 : 5.2.1 Seorang wanita yang hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. 5.2.2 Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu terlebih dahulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Dalam
8 KHI (Kompilasi Hukum Is lam juga diatur mengenai rukun dan syarat perkawinan) diatur dalam pasal 14 sebagai berikut: 5.2.1 Calon Suami 5.2.2 Calon Istri 5.2.3 Wali Nikah 5.2.4 Dua orang saksi dan 5.2.5 Ijab dan Kabul 5.2.6 Mashlahah Para ahli Ushul Fiqh mengemukakan beberapa pembagian maslahah jika dilihat dari beberapa segi. Dilihat dari segi kualitas dan kepentingan kemaslahatan itu, para ahli Ushul Fiqh membaginya kepada tiga macam yang mana salah satunya adalah Mashlahah al-dharuriyyah, yaitu kemaslahatan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok umat manusia di dunia dan di akhirat. Kemaslahatan seperti ini ada lima, yaitu : 5.2.7. Memelihara Agama 5.2.8. Memelihara Jiwa 5.2.9. Memelihara Akal 5.2.10. Memelihara Keturunan, dan 5.2.11. Memelihara Harta(Haroen 1995, 115). 5.3. Wanita yang boleh dinikahi dan yang haram untuk dinikahi. Meskipun perkawinan telah memenuhi seluruh rukun dan syarat yang ditentukan, namun belum tentu perkawinan tersebut sah, karena masih tergantung lagi pada suatu hal, yaitu perkawinan itu terlepas dari segala hal yang menghalang. Halangan perkawinan itu disebut dengan larangan perkawinan. Hal ini diatur dalam al-qur an dan hadits Nabi. Laranngan perkawinan ada dua macam: 5.3.1. Mahram Muabbad. Mahram muabbad, yaitu orang yang haram melakukan perkawinan untuk selamanya (Syarifuddin 2006, 110), mahram muabbad ada tiga kelompok:
9 5.3.2. Disebabkan oleh adanya hubungan kekerabatan. Perempuan-perempuan yang haram dikawini oleh seorang lakilaki untuk selamanya disebabkan oleh hubungan kekerabatan atau nasab adalah sebagai berikut: 5.3.2.1. Ibu; 5.3.2.2. Anak; 5.3.2.3. Saudara; 5.3.2.4. Saudara ayah; 5.3.2.5. Saudara ibu; 5.3.2.6. Anak dari saudara laki-laki; 5.3.2.7. Anak dari saudara perempuan; 5.4. Hukum menikahi wanita hamil Pelaku Zina hukumannya berbeda sesuai dengan perbedaan mereka, yaitu ada empat macam: muhshan (telah menikah) sebagai janda/duda, masih kecil, orang merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan, sementara hukuman hadd yang berdasarkan syariat Islam ada tiga: rajam, dera dan pengasingan (Rusyd 2007, 879). Di samping syariat Islam memperbolehkan monologi, tapi juga memperbolehkan poligami. Hal ini sebagai alternatif yang lebih luas bagi umatnya untuk menyalurkan kebutuhan biologis dengan cara yang halal. Di samping itu, diperbolehkannya poligami dalam Islam agar orang yang melakukan perzinaan tidak lagi beralasan untuk berzina, Islam sangat berhati-hati dalam menerapkan hukumnya bagi orang yang berzina yang dilaksanakan untuk mengancam para pelaku perzinaan. Di antara bentuk antara kehati-hati Islam dalam menetapkan hukuman perzinaan adalah (Sabiq 2013, 231-232): Menurut ulama Hanafiyah ini tidak ada larangan menikahi wanita yang hamil karena zina tersebut, sekalipun kandunganya belum lahir akan tetapai laki-laki itu belum boleh bersetubuh sebelum wanita itu melahirkasn kandunganya.
10 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ulama Hanafiyah membolehkan menikahi wanita hamil kaerena zina tanpa menunggu kelahiran kandungannya. Akan tetapi laki-laki itu dilarang untuk bersetubuh sampai wanita itu melahirkan kandunganya. Sebaliknya Abu Yusuf( Ulama Mazhab Hanafi)justru bebeda pendapat dengan imam mazhabnya dengan tidak membolehkan menikahi wanita hamil tersebut,karena menurutnya tujuan menikah adalah untuk menghalalkan hubungan seks,jika hubungan seks itu dilarang maka tentu dilarang pula melakukan akad. 5.4.1. Syafi iyah Sebagaimana halnya ulama hanafiyah, ulama dari klangan Syafi iayah juga membolehkan menikahi wanita yang hamil karena zina, seperti yang dijelaskan dalam kitab al-bajuri: sekalipun (seseorang) menikahi wanita hamil karena zina pernikahan itu sah dan boleh bersetubuh sebelum wanita itu melahirkan kandungannya. Maksudnya kehamilan di luar nikah itu tidak memjadi penghalang terhadap sahnya nikah dan melakukan persetubuhan. Dalam hal ini, ulama Syafi iyah tidak membedakan apakah yang menikahi wanita itu adalah laki-laki yang menghamilinya atau tidak, menikahi wanita itu walaupun kandungannya belum lahir tetap dibolehkan. Dalil yang mereka pakai sama dengan dalil yang dipakai oleh ulama hanafiyah. 6. Tinjauan Kepustakaan Skripsi yang ditulis oleh Defel Fakhyadi Bp. 305.027 dengan judul Larangan Menikah Saudara Mertua Ditinjau Dari Hukum Islam dengan rumusan masalah kenapa dilarangnya menikahi saudara mertua (bibi istri) di Kenagarian Pariaman Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap larangan adat tersebut. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, Defel Fakhyadi dalam Bab V skripsinya bahwa alasan ninik mamak melarang perkawinan
11 seseorang dengan saudara mertua adalah agar tetap terjalin hubungan silatur rahmi antara mantan suami dengan mantan istri dan tidak hilangnya raso pareso (perasaan) antara sesama saudara atau keluarga. Skripsi yang ditulis oleh Yusrizal Bp. 302.216 dengan judul Status Pernikahan Suami Yang Memiliki Dua Orang Istri Bersaudara Setelah Masuk Islam (Studi Analisis Fiqh Hanafiyah) dengan rumusan masalah kenapa ulama Hanafiyah menyatakan status pernikahan suami yang memiliki dua istri bersaudara setelah masuk Islam, istri yang sah adalah siapa yang melakukan akad pertama kali. Berdasarkan rumusan masalahnya terdapat kesimpulan dalam Bab V bahwa menurut Ulama Hanafiyah seorang laki-laki yang memiliki istri dua orang perempuan yang bersaudara setelah masuk Islam ia memilih istrinya berdasarkan yang pertama di akadnya dan menceraikan istri yang di akadnya kedua. Alasannya adalah bahwa pengumpulan istri 2 (dua) orang perempuan yang bersaudara itu setelah terjadi akad yang ke 2 (dua), oleh karena itu nikah yang pertama sah dan nikah yang kedua batal, maka laki-laki itu harus dipisahkan dengan istri yang kedua. 7. Metode Penelitian 7.1. Jenis Penelitian Peneliti ini adalah peneliti lapangan (field research) dan kepustakaan. Penelitian lapangan digunakan untuk menjawab pertanyaan, alasan dan tujuan masyrakat mengawinkan secara paksa suami yang menghamili saudari kandung istrinya.sedangkan penelitian kepustakaan diperlukan untuk menjawab tinjauan hukum Islam terhadap kawin paksa bagi suami yang menghamili saudari kandung istrinya. 7.2. Sumber data dalam penelitian ini terbagi atas dua macam : 7.2.1. Sumber data primer Sumber data primer adalah sumber data utama yang dapat dijadikan jawaban terhadap masalah penelitian (saebani 2008, 158)
12 Dalam penelitian ini sumber data primer adalah para informan yang terdiri dari beberapa pasangan yang dipaksa menikah, ketua desa Sumur padang dan Beringin Baru, hatobangon, para saksi, alim ulama dan orangtua pihak-pihak yang menikah paksa beserta masyarakat di tempat penelitian tersebut. 7.2.2. Sumber data sekunder Sumber data sekunder adalah sumber data yang membantu sebagai pelengkap di dalam sebuah penelitian. Dalam penelitian ini data sekunder penulis adalah buku- buku yang membahas atau yang berkaitan tentang adat dan perkawinan. 7.3. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara. Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan antara dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi atau keterangan(narbuko, Ahmadi 2005, 83) Penulis mengadakan wawancara langsung dengan subjek penelitian yang berbentuk pertanyaan. Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak yang melaksanakan pernikahan tersebut dan orangtua pihak-pihak yang menikah paksa tersebut beserta hatobangon dan alim ulama ditempat penelitian tersebut. Untuk menemukan informan penulis menggunakan teknik proposive sampling yakni mewawancarai atau mencari informasi terhadap tokoh-tokoh petinggi di lokasi penelitian. 7.4. Metode Analisis Data Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan beberapa teknik pendekatan yaitu analisis Induktif dan Dedukatif. Analisa tersebut dilakukan agar data yang dipergunakan betul-betul data yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. 8. Sistematika Penulisan Pembahasan penelitian ini diuraikan dalam lima bab dengan sitematika penulisan sebagai berikut:
13 Bab I merupakan pendahuluan yang memuat Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Kerangka Teori, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan. Bab II merupakan landasan teori yang menguraikan tentang Pengertian dan Dasar Hukum Perkawinan, Hukum Perkawinan, Rukun dan Syarat Perkawinan, Pendapat mazhab tentang hamil di luar nikah, Kompilasi Hukum Islam mengenai proses. Bab III merupakan Gambaran Umum Lokasi Peneletian, menjelaskan tentang Keadaan Geografis, Demografi Kependudukan, Kondisi Sosial Budaya, Pendidikan Masyarakat, Keagamaan dan Ekonomi Masyarakat. Bab IV merupakan analisis yang menjelaskan tentang Bagaimana pandangan masyrakat terhadap suami yang menikahi saudara kandung istri akibat zina dan bagaimana pelaksanaan pernikahan bagi masyarakat terkait kasus tersebut. Bab V merupakan Penutup yang memuat Kesimpulan dan Saran.