BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PEMBAHASAN EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU TAMAN SAMPANGAN DAN TAMAN TIRTOAGUNG DI KOTA SEMARANG

KUESIONER KENYAMANAN PENGGUNA

BAB VI KESIMPULAN. berdasarkan kebutuhan pengguna? 6.1 Penilaian Pengguna Mengenai Komponen Setting Fisik Ruang Terbuka Publik Kawasan Eks MTQ

Karakteristik Pengunjung dan Aktivitasnya Terhadap Penggunaan Taman Kota Sebagai Ruang Sosial di Taman Keplaksari Kabupaten Jombang

Karakteristik Pengunjung dan Aktivitasnya Terhadap Penggunaan Taman Kota Sebagai Ruang Sosial di Taman Keplaksari Kabupaten Jombang

Evaluasi Tingkat Kenyamanan Penghuni Pasca Perubahan Fungsi Taman Parang Kusumo Semarang

2016 KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERD ASARKAN JUMLAH PEND UD UK D I KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMED ANG

VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. dari 67 orang laki-laki dan 33 orang perempuan. Pengunjung TWA Gunung

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGGUNA TERHADAP PENATAAN PASAR TRADISIONAL

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. masyarakat dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

STUDI TINGKAT KEEFEKTIFAN PEMANFAATAN OPEN SPACE BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI DI LINGKUNGAN PERUMAHAN PERUMNAS TLOGOSARI TUGAS AKHIR

LAMPIRAN KUESIONER PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRIBUT PENGELOLAAN 4A PADA OBJEK WISATA CANDI KALASAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara

BAB III HASIL PENGAMATAN RUANG TERBUKA HIJAU TAMAN SAMPANGAN DAN TAMAN TIRTOAGUNG DI KOTA SEMARANG

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami

ARAHAN PENYEDIAAN RUANG PEJALAN KAKI DI KAWASAN ALUN-ALUN LOR KOTA SURAKARTA TUGAS AKHIR

BAB IV KESIMPULAN. Lembah Manding, hutan pinus, kearifan lokal, dan briefing di basecamp sebelum

ARAHAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KAWASAN PENDIDIKAN TEMBALANG TUGAS AKHIR. Oleh: SULISTIANTO L2D

BAB VI HASIL RANCANGAN

PERANCANGAN KOTA BAB IV ANALISA ALUN ALUN KABUPATEN WONOGIRI MENURUT 8 ELEMEN KOTA HAMID SHIRVANI. 4.1 Analisa Tata Guna Lahan Alun alun Wonogiri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

POLA PEMANFAATAN DAN PELAYANAN ALUN-ALUN KOTA PATI BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TUGAS AKHIR TKPA 244

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Terdapat 3 (tiga) metode dalam memarkir kendaraan, diantaranya adalah:

PENATAAN JALUR PEJALAN KAKI PADA KORIDOR JALAN MALIOBORO BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG LAPORAN TUGAS AKHIR

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dari ruang lingkup pembahasan yaitu setting fisik, aktivitas

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada skripsi mengenai

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kota baik dari skala mikro maupun makro (Dwihatmojo)

BAB V ARAHAN PERBAIKAN FISIK PASAR TRADISIONAL DI KOTA BANDUNG

KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA PUBLIK DENGAN AKTIVITAS REKREASI MASYARAKAT PENGHUNI PERUMNAS BANYUMANIK TUGAS AKHIR. Oleh : FAJAR MULATO L2D

BAB V PENUTUP. 50 responden yang mengunjungi Objek Wisata Candi Kalasan DIY. Serta masukan

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Kelurahan Muktiharjo Kidul. memiliki luas wilayah 204,378 ha, dengan batas batas kelurahannya

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, sosial dan budaya dengan sendirinya juga mempunyai warna

PENGEMBANGAN KOMPONEN PARIWISATA PADA OBYEK-OBYEK WISATA DI BATURADEN SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BATURADEN TUGAS AKHIR

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

IMPLIKASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOTA HIJAU (P2KH) TERHADAP PEMENUHAN LUASAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PERKOTAAN

Perhitungan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Jenis Publik (Studi Kasus : Kota Surakarta)

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: ( Print) C-114

Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar Isnaeny Adhi Nurmasari I BAB I PENDAHULUAN

KAJIAN KARAKTERISTIK BERLOKASI PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN PENDIDIKAN TEMBALANG KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kondisi Sistem Setting dan Livabilitas Ruang Terbuka Publik di Lapangan Puputan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan

IDENTIFIKASI KENYAMANAN PEJALAN KAKI DI CITY WALK JALAN SLAMET RIYADI SURAKARTA

MATA KULIAH PRASARANA WILAYAH DAN KOTA I (PW ) Jur. Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

I. PENDAHULUAN. heterogen serta coraknya yang materialistis (Bintarto,1983:27). Kota akan selalu

PENGARUH AKSESIBILITAS TERHADAP WILAYAH PELAYANAN PUSKESMAS DI KOTA MAGELANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG TUGAS AKHIR

Kriteria Ruang Publik untuk Masyarakat Usia Dewasa Awal

II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia

Form Kuesioner Untuk Pengunjung

EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR. Arif Mudianto.

BAB I PENDAHULUAN. Fristiawati, 2015 PENGEMBANGAN TAMAN RA. KARTINI SEBAGAI RUANG REKREASI PUBLIK DI KOTA CIMAHI

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB IIKAJIAN TEORI...

BAB I PENDAHULUAN. yaitu Pemerintah Kota Bandung dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan sosial

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

BAB V PENUTUP. 1. Variabel store exterior, general interior, dan interior display berpengaruh. pembelian pada Uda Espresso Cafe Payakumbuh.

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI

Studi Kepuasan Pengunjung Terhadap Pusat Kegiatan Olah Raga (PKOR) Way Halim Sebagai Ruang Publik

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban

I. PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. mengembangkan otonomi daerah kepada pemerintah daerah.

BAB 4 PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN

RE-DESAIN WELCOME AREA AGROWISATA SALATIGA BERTEMA TAMAN BUGENVIL REDESIGN OF THE AGROWISATA SALATIGA WELCOME AREA IN BOUGAINVILLEA PARK THEME

BAB IV ANALISIS TINGKAT PELAYANAN TERMINAL LEUWIPANJANG BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT SEBAGAI PENGGUNA

Indikator Konten Kuesioner

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KETENTUAN PRASARANA DAN SARANA MINIMAL

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) 1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan

Penetuan Tema Ruang Terbuka Hijau Aktif Di Kota Malang Berdasarakan Preferensi Masyarakat

BAB VI KESIMPULAN DAN ARAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ARAHAN PENATAAN PEMAKAMAN UMUM TRUNOJOYO BANYUMANIK DENGAN KONSEP TAMAN TUGAS AKHIR

VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perencanaan kebun agrowisata Sindang Barang adalah kebun produksi tanaman budidaya IPB untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

persepsi pengunjung yang telah dibahas pada bab sebelumnya. VIII. PROSPEK PENGEMBANGAN WISATA TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR

Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU)

Arahan Optimalisasi RTH Publik Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

VI. ATRIBUT-ATRIBUT YANG MEMPENGARUHI WISATAWAN UNTUK BERKUNJUNG KEMBALI KE CV ALAM SIBAYAK

V. KONSEP PENGEMBANGAN

02-Feb-18 DINAS KEPEMUDAAN OLAHRAGA DAN PARIWISATA K O T A M A G E L A N G

alami maupun buatan. Perancangan wisata alam memerlukan ketelitian dalam memilih objek wisata yang akan dikembangkan.

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT

BAB 4. TINJAUAN UMUM KAWASAN KAMBANG IWAK PALEMBANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk di Indonesia disetiap tahun semakin meningkat. Hal ini

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Jumlah penduduk yang terus meningkat membawa konsekuensi semakin

Evaluasi Pasca Huni (Post Occupancy Evaluation) pada Taman Lansia di Kota Bandung

Transkripsi:

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berkembangnya suatu kota membawa konsekuensi terhadap perubahan fisik kota yang biasanya juga dibarengi pertumbuhan penduduk dan pembangunan fasilitas ekonomi yang cukup tinggi dengan penyebaran yang semakin cepat dan luas. Banyaknya kegiatan pembangunan tersebut kadang tidak serta merta diikuti dengan penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR) mengamanatkan adanya alokasi untuk RTH minimal 30 % dari wilayah kota/kawasan perkotaan, dengan komposisi 20% RTH publik dan 10 % RTH privat. Pengalokasian 30 % RTH ini juga dipertegas dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di tiap Kota/Kabupaten. Setelah dilakukan analisis pada penelitian mengenai kajian evaluatif kondisi RTH Taman Sampangan dan Taman Tirtoagung di Kota Semarang, penulis dapat mengambil kesimpulan mengenai evaluasi kondisi ruang terbuka hijau (RTH) secara umum yang ada di Taman Sampangan dan Taman Tirtoagung. Penelitian ini memanfaatkan RTH tingkat kawasan, berupa Taman Tirtoagung dan Taman Sampangan, yang berada di Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Gajahmungkur. 6. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan, penulis dapat mengambil dua poin utama untuk menjawab pertanyaan penelitian, yaitu mengenai ketersediaan RTH dikaitkan jangkauan pelayanan masyarakat, serta kondisi RTH dikaitkan dengan keinginan masyarakat. 4.1.4. Kesimpulan Ketersediaan RTH Dikaitkan Jangkauan Pelayanan Masyarakat Setelah melakukan analisis, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan RTH Taman Sampangan dan Taman Tirtoagung di Kota Semarang sudah mencukupi kebutuhan penduduk akan RTH. Taman Tirtoagung dan Taman Sampangan direncanakan sebagai taman kawasan. Namun jika dilihat berdasarkan luas taman dan membandingkannya dengan ketentuan penyediaan RTH yang dikeluarkan oleh Permen PU No.05/PRT/M/2008, kedua taman tersebut belum layak disebut sebagai taman kawasan. Taman tersebut lebih tepat disebut

sebagai taman kelurahan atau bahkan taman RW. Walaupun demikian ketersediaan fasilitas di kedua taman tersebut sudah cukup sesuai untuk sebuah taman tingkat kecamatan. Berdasarkan hasil analisis jangkauan pelayanan RTH yang telah dilakukan, baik Taman Tirtoagung maupun Taman Sampangan telah melayani kebutuhan RTH penduduk di kecamatan yang dinaungi. Adapun Taman Tirtoagung dimanfaatkan sebagian besar penduduk di Kecamatan Banyumanik dan juga sebagian penduduk di Kecamatan Tembalang karena lokasi taman yang berada di perbatasan antara Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Tembalang. Keberadaan taman yang terletak relatif dekat dengan lokasi perguruan tinggi di Semarang menyebabkan banyak pengunjung dari kalangan mahasiswa. Mayoritas pengunjung berasal dari daerah yang berjarak lebih dari 3 km dari Taman Tirtoagung. Di sisi lain, Taman Sampangan sebagian besar dinikmati oleh pengunjung yang berasal dari Kecamatan Gajahmungkur, di mana taman ini berdiri, dan tempat tinggal mereka hanya berjarak antara 1-3 km dari taman. Meskipun jarak menuju taman tidak terlalu jauh, pengunjung tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk menjangkau taman dengan alasan flksibilitas dan kenyamanan. Para responden memilih mengunjungi kedua taman bukan dikarenakan ketidaan RTH di lingkungan mereka, tetapi karena ada faktor lain yang mereka pertimbangkan seperti faktor kedekatan lokasi, suasana taman yang nyaman, bersih, dan asri, dan kelengkapan fasilitas; serta pemandangannya yang menarik. Responden mengungkapkan bahwa terdapat RTH di lingkungan tempat tinggal mereka, meskipun mereka sendiri masih belum tepat mendefinisikan tipe RTH tersebut. Beberapa temuan studi yang patut digarisbawahi antara lain: a. Sebagian besar pengunjung taman berjenis kelamin perempuan; b. Mayoritas pengunjung bekerja di sektor swasta; c. Sebagian besar pengunjung berusia remaja, yaitu yang memiliki rentang umur antara 12-25 tahun, meskipun demikian penyediaan fasilitas taman tidak spesifik untuk kalangan umur tertentu; d. Taman Tirtoagung dan Taman Sampangan tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk di dua kecamatan tersebut, melainkan juga oleh penduduk di kecamatan lain yang lokasinya masih berdekatan; e. Jika dilihat ukuran taman dan dibandingkan dengan jumlah penduduk seluruh kecamatan, kedua taman tersebut tidak sesuai standar taman skala kecamatan menurut Permen PU No.05/PRT/M/2008.

4.1.5. Kesimpulan Kondisi RTH Dikaitkan Keinginan Masyarakat Karakteristik pengunjung di Taman Tirtoagung maupun Taman Sampangan sangat bervariasi. Namun, kedua taman menunjukkan pola karakteristik pengunjung yang hampir sama, yaitu sebagian besar pengunjung yang menjadi responden berjenis kelamin wanita dan berusia remaja dengan rentang umur 12-25 tahun. Sebagian besar responden saat diwawancarai telah menempuh pendidikan tingkat SMA dan mayoritas bekerja pada sektor swasta. Diantara responden yang telah lulus SMA tersebut juga terdapat responden yang belum bekerja dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Berdasarkan hasil tersebut dapat menjadi rujukan untuk penyediaan RTH selanjutnya yang disesuaikan dengan karakteristik pengunjung, misalnya berdasarkan jenis kelamin dan rentang usia. Dengan demikian penyediaan fasilitas RTH juga lebih sesuai dan RTH dapat dibedakan dengan jelas, mana-mana saja RTH yang ditujukan untuk anak-anak, remaja, ataupun para lansia dan manula. 6.2. Kebutuhan Penduduk Kota Semarang akan RTH Keinginan penduduk Kota Semarang untuk menikmati RTH cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan hasil kuesioner yang mencatat sebanyak 31 orang responden di Taman Tirtoagung dan 15 orang responden Taman Sampangan menginginkan untuk dapat menikmati suasana taman sekali dalam seminggu. Frekuensi kunjungan yang dilakukan oleh para responden menunjukkan bahwa mayoritas responden mengunjungi taman dan beraktivitas di taman tersebut setiap 1-2 kali dalam seminggu. Jika dibandingkan dengan hasil analisis keinginan frekuensi, maka dapat diketahui bahwa keinginan responden akan RTH lebih besar daripada kemampuan responden untuk mengunjungi RTH tersebut. Hal ini menunjukkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan ke RTH tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan responden ke taman merupakan faktor penarik dari dalam taman itu sendiri, antara lain: - faktor kedekatan lokasi; - suasana taman yang nyaman, bersih, dan asri; - kelengkapan fasilitas; serta pemandangannya yang menarik.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, faktor penarik tertinggi pengunjung dalam mengunjungi Taman Tirtoagung maupun Taman Sampangan adalah faktor kedekatan lokasi. Sebagian besar responden mengunjungi taman bersama anggota keluarga atau teman mereka. Dalam analisis selanjutnya diperoleh informasi bahwa aktivitas yang paling banyak dilakukan responden saat menhunjungi Taman Tirtoagung dan Taman Sampangan adalah duduk bersantai sambil membeli makanan atau minuman yang dijajakan oleh para PKL. Di dalam aktivitas tersebut tidak dipungkiri memunculkan suatu interaksi antar individu yang berarti fungsi RTH sebagai ruang interaksi sosial dapat berjalan dengan baik. Hal ini dapat dipahami karena sebagian besar responden tersebut pergi bersama teman atau anggota keluarga, sehingga aktivitas yang dilakukan cenderung merupakan aktivitas yang dapat dilakukan secara bersama-sama. 6.3. Persepsi Responden akan Kualitas Taman Sementara itu, responden menilai kualitas Taman Tirtoagung dan Taman Sampangan sudah cukup baik. Penilaian dilihat berdarakan aspek aksesibilitas taman, kondisi vegetasi taman, ketersediaan fasilitas, penataan taman atau setting area, kondisi kebersihan, serta daya tampung taman. 1) Kualitas RTH Berdasarkan Tingkat Aksesibilitas Responden menilai bahwa aksesibilitas kedua taman sudah cukup baik, tetapi ada beberapa perbaikan yang diharapkan. Responden menghendaki adanya perbaikan ataupun penyediaan fasilitas yang belum ada, meliputi main entrance, jalur pedestrian, dan jalur diffable. Terkait keterjangkauan taman dengan alat transportasi umum, responden di Taman Tiirtoagung mengharapkan adanya penyediaan angkutan umum menuju taman. 2) Kualitas RTH Berdasarkan Kondisi Vegetasi Dilihat dari kondisi vegetasi yang ada di taman, sebagian besar responden menghendaki adanya penambahan jumlah maupun varietas tanaman yang ada di dalam taman untuk menambah keasrian taman karena dirasa masih kurang, khususnya di Taman Tirtoagung. Responden menginginkan adanya pepohonan yang berkambium, contohnya adalah pohon kersen. Mereka juga menghendaki adanya jenis tanaman bunga-bunga seperti pohon bougenvile, pohon bunga

tanjung, yang dapat menambah estetika taman, serta beberapa tanaman obat yang dapat menjadi media belajar bagi anak-anak. Responden menilai perbandingan KDH dan bagian perkerasan di kedua taman sudah cukup proporsional, tetapi butuh ditingkatkan perawatan tanamannya. 3) Kualitas RTH Berdasarkan Kondisi Fasilitas Dilihat dari kondisi fasilitas secara keseluruhan, responden menilai kondisi fasilitas di kedua taman tersebut hanya pada tingkat sedang. Responden menginginkan penambahan fasilitas yang dirasa masih kurang, seperti penambahan sarana bermain anak, penambahan lampu taman khususnya di Taman Sampangan, penambahan bangku taman di Taman Sampangan, perbaikan jalur pedestrian, penyediaan papan petunjuk, serta perluasan tempat parkir. Selain penyediaan fasilitas, juga dibutuhkan perawatan terhadap fasilitas yang sudah ada, agar tetap terjaga dan tidak cepat rusak, yang meliputi pengecekan berkala terhadap kerusakan, serta pengecatan fasilitas taman. 4) Kualitas RTH Berdasarkan Penataan Taman Penataan taman atau setting area mempengaruhi persepsi responden mengenai tingkat kenyamanan dan estetika taman. Responden di Taman Tirtoagung menilai penataan taman di Tirtoagung cukup bagus, sementara untuk responden di Taman Sampangan menilai pentaan taman Sampangan hanya sedang. Dari tingkat kenyamanan, responden di Taman Tirtoagung menilai tingkat kenyamanan Taman Tirtoagung sedang atau cukup, sementara responden di Taman Sampangan menilai bahwa Taman Sampangan sudah nyaman. Peningkatan kenyamanan taman dapat dilakukan dengan menyediakan desain bangku taman berkanopi, meningkatkan keamanan taman, dan merapikan serta membangun ruang khusus bagi PKL. Estetika taman dapat diperindah dengan penambahan tanaman bunga di dalam taman serta ornamen-ornamen lain yang dapat mempercantik taman. 5) Kualitas RTH Berdasarkan Tingkat Kebersihan Dari sisi kebersihan taman, sebagian besar responden di kedua taman menghendaki adanya penambahan fasilitas tempat sampah di beberapa spot untuk meningkatkan kebersihan taman. Selain itu diharapkan setiap pengguna taman ikut andil dalam menjaga kebersihan taman.

6) Kualitas RTH Berdasarkan Daya Tampung Daya tampung taman digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan taman terhadap kebutuhan penduduk. Dilihat dari skala pelayanan, daya tampung tempat parkir, dan tempat-tempat yang dapat diakses publik, responden beranggapan bahwa daya tampung kedua taman sudah mencukupi. Hanya butuh sedikit perbaikan, seperti penyediaan parkir mobil dan pernambahan tempat yang dapat diakses publik, seperti toilet, mushola, dan air mancur buatan. 7. Rekomendasi Berdasarakan hasil analisis yang telah dilakukan, penulis akan memberikan rekomendasi terkait pelaksanaan evaluasi kondisi RTH Taman Sampangan dan Taman Tirtoagung di Kota Semarang, sehingga ke depannya pelaksanaan pengembangan RTH dapat lebih terarah dan bisa sesuai dengan kondisi empiris di lapangan. 5.2.1. Rekomendasi Bagi Pemerintah Rekomendasi ini diberikan kepada pemerintah terkait operasional kebijakan, antara lain: 1. Dukungan pemerintah diperlukan bagi pelaksanaan pengembangan kondisi RTH; 2. Penataan PKL yang merupakan fasilitas yang dibutuhkan responden dalam sebuah taman, sehingga perlu dimasukkan dalam Permen PU No 5/PRT/M/2008 ttentang Pedoman Penyediaan dan Pemafaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; 3. Penataan taman atau setting area perlu ditingkatkan seperti main entrance, diffable, tempat sampah, bangku taman, lampu taman, tempat parkir dan tanaman bunga; 4. Penyediaan RTH hendaknya disesuaikan dengan karakteristik pengguna, sehingga penyediaan fasilitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya; 5. Sebelum menentukan tipologi suatu RTH hendaknya mempertimbangkan luas perencanaan dan daya tampung yang dibutuhkan; 6. Pemerintah diharapkan mampu meminimalisir gangguan yang ada di RTH, misalnya aksi pemalakan, pencurian, dan sebagainya.

5.2.2. Rekomendasi Bagi Masyarakat Rekomendasi ini diberikan kepada masyarakat selaku pengguna RTH yang telah disediakan oleh pemerintah, antara lain: 1. Masyarakat hendaknya memanfaatkan RTH dengan penuh tanggung jawab serta tetap memelihara keindahan dan fasilitas yang telah tersedia; 2. Perlunya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan RTH; 3. RTH yang disediakan oleh pemerintah hendaknya difungsikan sebagaimana mestinya dan bila perlu masyarakat juga dapat turut andil dalam menjaga keamanan dan kenyamanan RTH. 5.2.3. Rekomendasi Studi Rekomendasi studi diberikan sebagai masukan untuk penelitian selanjutanya yang menyempurnakan studi ini. Terdapat beberapa hal yang secara tidak langsung berkaitan dengan penelitian ini, sehingga hal tersebut sekiranya dapat menjadi masukan untuk tematema penelitian selanjutnya, antara lain: 1. Kajian mengenai kebijakan pengembangan RTH berdasarkan karakteristik pengguna; 2. Studi tentang penyediaan RTH yang mendukung konsep kota hijau; 3. Evaluasi penyediaan RTH di kota-kota besar di Indonesia.