LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Masalah Perubahan dimensi pada cetakan gigi dan mulut biasanya

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Manipulasi Bahan Cetak Alginat

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Recovery from Deformation Material Cetak Alginat

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT BERDASARKAN VARIASI SUHU AIR (REVISI)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

BAHAN CETAK ELASTOMERIK. Gatot Sutrisno

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

3. Bahan cetak elastik. -Reversible hidrokolloid (agaragar).

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : Recovery From Deformation Material Cetak Alginat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mereproduksi hasil yang akurat dari gigi, jaringan lunak dan jaringan keras di dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. material. Contoh bahan cetak elastomer adalah silikon, polieter dan polisulfida.

PENGARUH TEKNIK PENCETAKAN PUTTY/WASH ONE-STEP DAN TWO-STEP TERHADAP CACAT PERMUKAAN CETAKAN DAN AKURASI DIMENSI MODEL KERJA GIGI TIRUAN CEKAT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL. Tgl. Praktikum : 12 Desember : Helal Soekartono, drg., M.Kes

VII. TEKNIK PENCETAKAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. dijumpai di bidang kedokteran gigi. Restorasi pengganti gigi setelah pencabutan

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam bidang kedokteran gigi semakin beragam dan pesat. Terdapat berbagai jenis

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Setting Time Bahan Cetak Alginat Berdasarkan Variasi Suhu Air

PERBEDAAN PERUBAHAN DIMENSI HASILCETAKAN PADA BAHAN CETAKELASTOMER POLYVINYLSILOXANETIPE LIGHTBODY DAN MEDIUM BODY

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERBEDAAN PERUBAHAN DIMENSI HASIL CETAKAN PADA BAHAN CETAK ELASTOMER POLYVINYL SILOXANE TIPE LIGHT BODY DAN HEAVY BODY

BAB I PENDAHULUAN. cetak non elastik setelah mengeras akan bersifat kaku dan cenderung patah jika diberi

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik.

BAB I PENDAHULUAN. mudah dalam proses pencampuran dan manipulasi, alat yang digunakan minimal,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kasus kehilangan gigi merupakan kasus yang banyak dijumpai di kedokteran gigi. Salah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras. Istilah ireversibel menunjukkan bahwa

HUBUNGAN ELASTISITAS DENGAN STABILITAS DIMENSIONAL PADA BAHAN CETAK SILOXANE

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni. b. Semen ionomer kaca tipe 1 (Fuji I, GC, Japan)

PERUBAHAN BERAT HASIL CETAKAN BAHAN CETAK ALGINAT TIPE NORMAL SETTING YANG BERBEDA PADA MENIT-MENIT AWAL IMBIBISI

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 2

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni. b. Adhesif semen konvensional (Fuji I merk GIC).

2.2 Indikasi dan Kontra Indikasi Mahkota Jaket a. Indikasi Mahkota jaket dapat dipakai untuk memugar gigi gigi anterior yang :

MATERIAL KEDOKTERAN GIGI YANG MEMPUNYAI BAHAN DASAR POLIMER

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA 1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jaringan lunak dalam rongga mulut secara detail. Menurut Craig dkk (2004)

PENGARUH PENYEMPROTAN REBUSAN DAUN SIRIH DAN LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT PADA CETAKAN ELASTOMER TERHADAP PERUBAHAN DIMENSI MODEL FISIOLOGIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mulai menggunakan secara intensif bahan cetakan tersebut (Nallamuthu et al.,

BAB 1 PENDAHULUAN. model gigitiruan dilakukan dengan cara menuangkan gips ke dalam cetakan rongga

PERUBAHAN DIMENSI HASIL CETAKAN POLIVINIL SILOKSAN SETELAH DIRENDAM DALAM LARUTAN DAUN MIMBA 15% DENGAN WAKTU YANG BERBEDA

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis dari penelitian ini adalah eksperimental laboratori.

BAB 1 PENDAHULUAN. rumput laut tertentu yang bernama Brown Algae bisa menghasilkan suatu ekstrak lendir,

BAB 3 RANCANGAN PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Semen ionomer kaca banyak dipilih untuk perawatan restoratif terutama

BPSL BLOK ILMU MATERIAL KEDOKTERAN GIGI SEMESTER II TAHUN AKADEMIK BUKU PETUNJUK SKILLS LAB NAMA : NIM : KLP

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH UJI TEMPERATUR AIR PENCAMPUR TERHADAP SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT DENGAN PENAMBAHAN PATI GARUT (Maranta arundinaceae L.

LILIN KEDOKTERAN GIGI. Yunita Fatmala

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. kekompakan dengan jaringan mulut (Anusavice, 2004). banyak unit. Polimer ada dua jenis yaitu polimer alami dan polimer sintetik.

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1. Penyusun:

BAB 1 PENDAHULUAN. jaringan lunak dan juga sebagai tempat melekatnya anasir gigitiruan. 1 Pada dasarnya,

BAHAN CETAK ELASTOMER POLYVINYL SILOXANE. Perubahan Dimensi Hasil Cetakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi

LAPORAN PRAKTIKUM SKILL LAB REHABILITASI 1 GIGI TIRUAN JEMBATAN

MAKALAH DISKUSIINTEGRASI MODUL 3.11 SEMINAR BAHAN KEDOKTERAN GIGI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

1. Jelaskan cara pembuatan activator secara direct dan indirect. Melakukan pencetakan pada rahang atas dan rahang bawah.

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH WAKTU PENIUPAN PADA METODA DEGASSING JENIS LANCE PIPE, DAN POROUS PLUG TERHADAP KUALITAS CORAN PADUAN ALUMINIUM A356.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Uji Temperatur Air Pencampur Terhadap Setting Time Bahan Cetak Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana) Dian Yosi Arinawati¹, Andi Triawan²

KOMBINASI BAHAN CETAK ALGINAT DAN POLYVINILSILOXANE UNTUK MENCETAK GIGI YANG GOYANG. Mirna Febriani, Irsan Ibrahim. Lisbeth Aswan

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Simple Random Sampling. itu direndam dalam larutan fisiologis. Silinder dengan diameter 4 mm dan tinggi 4 mm

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Material yang digunakan dalam pembuatan organoclay Tapanuli, antara lain

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. lunak dan merupakan tempat melekatnya anasir gigitiruan. 1 Berbagai macam bahan

BAB 3 METODOLOGI. berpori di Indonesia, maka referensi yang digunakan lebih banyak diperoleh dari hasil

VARIASI PENAMBAHAN FLUK UNTUK MENGURANGI CACAT LUBANG JARUM DAN PENINGKATAN KEKUATAN MEKANIK

Pengertian sticker dan jenisnya

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. fungsional gigi dapat menyebabkan migrasi (tipping, rotasi, dan ekstrusi),

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SEBAB KEGAGALAN WELDING PLASTIK

BAB I PENDAHULUAN. untuk area yang memiliki daerah tekan yang lebih besar (Powers dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR) ionomer kaca. Waktu kerja yang singkat dan waktu pengerasan yang lama pada

PENENTUAN WAKTU AKHIR SINERESIS PADA BEBERAPA BAHAN CETAK ALGINAT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengetahui dan menjelaskan karakteristik suatu komposit beton-polimer agar dapat

BAB III METODOLOGI DAN PELAKSANAAN PENELITIAN. Persiapan : - Studi literatur - Survey ke Ready Mix CV. Jati Kencana Beton

PEMERIKSAAN TITIK LEMBEK ASPAL (RING AND BALL TEST) (PA ) (AASHTO-T53-74) (ASTM-D36-69)

BAB III METODELOGI PENELITIAN

PENGOLAHAN DAN KARAKTERISASI SERBUK HIDROSIAPATIT DARI LIMBAH TULANG SAPI UNTUK BAHAN GIGI PENGGANTI

14.1 Proses Pembuatan Komposit Material Plastik yang Diperkuat Serat Proses Pencetakan Terbuka (Open-Mold Processes)

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah ekperimental laboratoris murni.

Optimalisasi Variasi Komposisi Batu Kapur Lhoknga Aceh Besar sebagai Bahan Baku Material Dental Gipsum

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris.

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

III. METODOLOGI PENELITIAN. 1. Pemilihan panjang serat rami di Laboratorium Material Teknik Jurusan

Laporan Praktikum Kimia Laju Reaksi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka

Transkripsi:

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1 Topik Kelompok : Manipulasi Material Cetak Elastomer : A10 Tgl. Pratikum : Senin, 27 Maret 2017 Pembimbing : Priyawan Rachmadi, drg., Ph.D Penyusun : 1. Salsalia Siska Azizah ( 021611133045 ) 2. Intan Savina Noer A ( 021611133046 ) 3. Anisa Nur Afifah ( 021611133047 ) 4. Tata Prasantat M ( 021611133048 ) DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2017

1. TUJUAN Pada akhir praktikum mahasiswa mampu melakukan manipulasi material cetak elastomer jenis silikon adisi dengan teknik double impression melalui cara hand mixing dan static auto mixing. 2. MANIPULASI MATERIAL CETAK SILIKON 2.1 Alat e b e a f Gambar 1.Alat-alat untuk manipulasi elastomer a. Paper pad dan spatula b. Mixing Gun c. Catridge dan mixing tips d. Sendok cetak sebagian e. Model kerja f. Cutter 2.2 Bahan a. Material cetak silicon, 2 tube pasta b. Material cetak silicon putty, 2 toples

c. Material cetak silicon light body dalam catridge 2.3 Cara Kerja 2.3.1 Teknik Double Impression secara indirect dengan metode hand mixing bahan putty dan pasta light body 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mencetak 2. Menentukan gigi target yang akan dicetak menggunakan elastomer 3. Mencobakan sendok cetak yang sesuai dengan rahang model kerja 4. Mengambil satu sendok takar putty base, dan diratakan. Kemudian mengambil satu sendok putty catalyst 5. Putty base diletakkan pada tangan kiri dan putty catalyst pada tangan yang lain. Mencampurkan base dan catalyst selama 20 detik, hitung menggunakan stopwatch 6. Setelah adonan tercampur hingga homogen, adonan diletakkan pada sendok cetak sebagian dan ditekan menggunakan jari agar bagian tengah lebih rendah 7. Kemudian sendok cetak dicetakkan ke model kerja rahang atas yang ingin direparasi. Adonan ditunggu hingga setting 8. Setelah setting, sendok cetak dilepas dari model kerja 9. Rapikan sekeliling gigi target sekitar 3-5 mm dengan karter 10. Mencobakan kembali sendok cetak pada model kerja untuk latihan agar pas saat mencetakkan kembali 11. Pasta base dan catalyst dikeluarkan dari tube dan diletakkan di atas paper pad sepanjang 2 cm 12. Pasta base dan catalyst diaduk menggunakan spatula dengan gerakan memutar selama 20 detik dan gerakan gerakan melipat selama 25 detik 13. Setelah homogen, adonan dikumpulkan pada spatula dan hasil pengadukan dimasukkan ke dalam sendok cetak sebagian pada daerah gigi target yang telah dirapikan 14. Kemudian dilakukan pencetakan dan ditunggu sampai setting dan setelah setting sendok cetak dilepas dan mengamati hasilnya

Gambar 2 : Mencampur putty base dan catalyst dengan gerakan melipat Gambar 3: Hasil adonan putty yang telah dilepas dari model kerja 2.3.2 Teknik Double Impression secara direct dengan metode static auto mixing (bahan putty dan light body dalam catridge) 1. Menyiapkan alat dan bahan 2. Menentukan gigi target yang akan dicetak menggunakan elastomer 3. Mencobakan sendok cetak yang sesuai dengan rahang model kerja 4. Menyiapkan mixing gun dengan memasang catridge silicone light body yang telah diisi dengan light body 5. Mixing tips dipasang pada catridge 6. Mengambil satu sendok takar putty base, dan diratakan. Kemudian mengambil satu sendok putty catalyst. 7. Putty base diletakkan pada tangan kiri dan putty catalyst pada tangan yang lain. Mencampurkan base dan catalyst selama 20 detik, hitung menggunakan stopwatch 8. Secara bersamaan saat mencampur putty juga dilakukan memberikan light body ke gigi target 9. Setelah adonan tercampur hingga homogen, adonan putty diletakkan pada sendok cetak sebagian dan pada daerah sekitar gigi target ditekan menggunakan jari membentuk suatu lubang 10. Kemudian pada lubang tersebut diisi sebagian menggunakan bahan light body catridge 11. Sendok cetak dicetakkan ke model kerja rahang bawah yang ingin direparasi. Adonan ditunggu hingga setting 12. Setelah setting, sendok cetak dilepas dari model kerja dan amati hasilnya

2.3.3 Teknik Double Impression secara direct dengan metode hand mixing (bahan putty dan pasta medium body) 1. Menyiapkan alat dan bahan 2. Menentukan gigi target yang akan dicetak menggunakan elastomer 3. Mencobakan sendok cetak yang sesuai dengan rahang model kerja 4. Pasta base dan catalyst dikeluarkan dari tube dan diletakkan di atas paperpad sepanjang 2 cm 5. Pasta base dan catalyst diaduk menggunakan spatula dengan gerakan memutar selama 20 detik dan gerakan gerakan melipat selama 25 detik 6. Pada detik ke 20 pencampuran medium body, secara bersamaan pasta base dan catalyst material putty yang telah dipersiapkan dicampurkan hingga homogen 7. Setelah adonan pasta base dan catalyst material putty tercampur hingga homogen, adonan kemudian diletakkan pada sendok cetak sebagian dan pada daerah sekitar gigi target ditekan menggunakan jari membentuk suatu lubang 8. Kemudian pada lubang tersebut diisi sebagian menggunakan adonan medium body paste. Sebagian lagi pada gigi target yang ingin direparasi juga diberikan adonan medium body paste 9. Sendok cetak dicetakkan ke model kerja rahang bawah yang ingin direparasi. Adonan ditunggu hingga setting 10. Setelah setting, sendok cetak dilepas dari model kerja. Gambar 4: Mencampur kedua pasta dengan gerakan memutar 3. HASIL PRAKTIKUM Pada praktikum ini, didapatkan hasil:

PERCOBAAN KE 1. MODEL KERJA Gigi rahang bawah TEKNIK Hand Mixing (ada pengurangan pada cetakan putty) 2. Gigi rahang atas Static Auto Mixing Hand Mixing Gigi rahang 3. (tanpa bawah pengurangan) Tabel 1. hasil praktikum material cetak elastomer Percobaa n Ke Sillicon HASIL CETAKAN - Ada porus pada hasil cetakan - light body melapisi seluruh permukaan gigi target - Ada bintil pada hasil cetakan - Hasil cetakan cukup detail - Ada porus pada hasil cetakan - Light body tidak melapisi gigi target secara baik - Ada gelembung udara / bintil - Light body tidak melapisi gigi target secara baik Setting Time 1. Putty (pengurangan pada cetakan putty) 03 menit 54 detik Pasta 02 menit 30 detik 3. Putty + light body 03 menit 41 detik 4. Putty + pasta 03 menit 48 detik Tabel 2. Setting time material cetak elastomer A B C Gambar 5: hasil praktikum ketiga teknik yang berbeda 4. PEMBAHASAN

Material cetak elastomer merupakan bahan cetak elastik seperti karet, pada mulanya bahan cetak elastomer dikenal dengan sebutan rubber impression material atau karet sintetik. Termasuk dalam bahan cetak sintetik polimer yang secara kimiawi mengalami ikatan penyilangan (cross-linked) saat bereaksi dan dapat dengan tepat mencetak dimensi asli dari objek yang akan dicetak. Terdiri dari dua komponen yaitu pasta dasar dan katalis yang dapat berupa pasta maupun liquid. (Anusavice, Kenneth J., 2013, hal: 153) Material cetak elastomer menjadi pilihan dokter gigi karena tinggi kekuratannya, mempunyai stabilitas dimensi baik dan memilki kemampuan mencetak dengan detail yang baik. Material cetak elastomer dan beberapa bahannya diklasifikasikan oleh standart ISO untuk Dental Elastomeric Impression Material (ISO 4823). Material cetak elastomer terbagi menjadi Polysulphides, Silicone condensation, Silicone addition dan Polyethers. (McCabe dan Walls, 2008, hal: 153) Selain itu material cetak elatomer dapat dibedakan menurut kekentalannya atau konsistensinya yaitu, extra low, low, medium, heavy, dan putty. Extra low dan putty tersedia hanya untuk kondensasi dan silikon adisi. Polisulfide tersedia hanya pada light-body dan heavy body,. Tidak ada bentuk heavy-body yang digunakan untuk kondensasi silikon. (Anusavice, Kenneth J., 2013, hal: 153) Pada kedoteran gigi material cetak elastomer digunakan untuk mencetak gigi tiruan lepasan, immendiate denture, dan mahkota serta gigi tiruan tetap yang memerlukan cetakan yang akurat an detail pada gigi yang telah di preparasi. (Yuliati et al, 2014. Buku Ajar Ilmu Material Kedokteran Gigi I. Surabaya: Airlangga University Press. pp.82) Pada praktikum kali digunaka material cetak silikon adisi. Komposisi bahan cetak addition silicones terdiri dalam bentuk pasta base dan pasta accelerator (katalis). Pasta base mengandung polymethylhydrosiloxane, sama baiknya dengan divinylpolysiloxane. Sedangkan pasta katalis (atau accelerator) mengandung Cdan platinum salt. Platinum salt dan polymethylhydrosiloxane keduanya terpisah sebelum pencampuran. Keduanya baik pasta base maupun pasta accelerator mengandung bahan pengisi. (Anusavice 2008, hal 154) Pada pencampuran pasta platinum dan katalis adisi akan terjadi reaksi yang menyebabkan ikatan cross linking antara dua jenis silixane prepolymer. Patut diketahi bahwa reaksi tidak

menghasilkan produk sampingan tetapi kadang-kadang menghasilkan hidrogen (McCabe dan Walls, 2008, hal: 168-170). Secara teknik, gas hidrogen adalah produk sampingan yang tidak berpengaruh pada stabilitas dimensi pada bahan cetak. Meskipun begitu, gas hidrogen dapat mengakibatkan pinpoint voids pada hasil cetakan gypsum sesaat setelah cetakan di lepas dari mulut (Anusavice, KJ, 2007, Philips Science of Dental Materials. Eleventh Edition, Missouri: Saunders Elsevier, p. 154). Oleh karena itu beberapa produsen menyarankan penuangan ditunda hingga evolusi hidrogen selesai agar permukaan cor tidak menjadi berlubang. Mekanisme pelepasan hidrogen tidak jelas, tetapi mungkin melibatkan reaksi katalis platinum dengan kelembaban. Silang menghasilkan peningkatan viskositas ditambah dengan perkembangan sifat elastis (McCabe dan Walls, 2008, hal: 170). Salah satu kelemahan material bahan cetak silikon adalah sifatnya hindrofobik. Surfaktan nonionic dapat ditambahkan pada pasta pada proses manufaktur untuk mengurangi besarnya sifat hidrofobik pada permukaan material. Silicon addition diklasifikasikan berdasarkan tingkat viskositasnya yaitu terbagi menjadi light body, medium body, heavy body, dan putty. Pada material cetak putty memiliki nilai viskositas tinggi dan memiliki kemampuan flow yang rendah sehingga cetakan yang dihasilkan kurang detail, namun sifat material ini tidak kaku sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan dari cetakan. Oleh karenanya putty digunakan sebagai material sendok cetak bersama dengan material vikositas rendah, teknik ini menggunakan dua jenis material cetak silicon atau yang dikenal dengan double impression. (Rianti, Devi. 2014) Material vikositas rendah dalam praktikum ini menggunakan jenis medium body dan light body. Pada praktikum manipulasi material cetak elastomer, diguanakan teknik double impression yakni mencetak dengan dua bahan. Yaitu putty dengan light body yang dimanipulasi dengan hand mixing dan static auto mixing. Static auto mixing merupakan teknik mencetak secara mekanik. Cartridge yang berisi sillicon light body dimasukkan ke dalam mixing gun dan material base dan katalis keluar dari mixing tip, dimana pencampuran terjadi pada tabung mixing tip. Material (yang telah

homogen) dapat ditempatkan ke gigi yang dipreparasi secara langsung dan sendok cetak. Salah satu kelebihan sistem ini yaitu tangan operator tidak menyentuh bahan secara langsung dalam pencampuran melainkan menggunakan alat. Kekurangan dari static auto mixing yaitu bahwa mixing tip hanya dapat digunakan sekali pakai dimana material sisa yang terdapat didalam tube tersebut lama-kemalaan setting dan menyumbat saluran tube. Hand mixing merupakan teknik mencetak secara manual menggunakan spatula untuk mencampurkan dua bahan, cara ini lebih praktis karena hanya menggunakan alat yang sederhana yaitu spatula dan paper pad. Namun cara ini juga memiliki kekurangan karena jumlah katalis dan base kurang presisi perbandingannya, yaitu 1:1. Hal ini disebabkan karena kemampuan mengira-ngira jumlah pasta yang dituangkan pada paper pad terbatas sehingga bisa jadi tidak sama. Selain itu sangat sulit untuk menyamakan ukuran base dan katalis pada paper pad. Pada praktikum manipulasi hand mixing dilakukan percobaan pengurangan hasil cetakan putty pada gigi target setelah itu baru diletakkan manipulasi material dengan hand mixing dan juga tanpa pengururangan pada cetakan putty gigi target. Beberapa masalah yang dapat terjadi pada saat memanipulasi material cetak elastomer silikon adisi antara lain (Mc Cabe & Walls, 2008): 1. Working time yang kurang cukup. Hal ini biasanya disebabkan oleh suhu yang terlalu panas sehingga working time dan setting time hanya sebentar. Apabila material cetak tidak setting bisa jadi katalis tidak aktif karena sudah terkontaminasi oleh zat lain seperti tin atau sulfur compound. 2. Kurang detail. Apabila silikon adisi belum dimodifikasi sehingga ia masih memiliki sifat hidrofobik akan menyebabkan cetakan kurang detail. 3. Porus. Permukaan hasil cetakan dapat berporus karena adanya gas hidrogen yang, jika terjadi hal demikian lebih baik penuangan die ditunda selama satu jam terlebih dahulu. 4. Distorsi. Hal ini dapat terjadi apabila polysiloxane adhesive kurang. Penambahan adhesive dengan cara dikombinasikan dibutuhkan. Pada praktikum manipulasi hand mixing dilakukan percobaan pengurangan hasil cetakan putty pada gigi target setelah itu baru diletakkan manipulasi material dengan hand mixing dan juga tanpa pengururangan pada cetakan putty gigi target. Beberapa defect (kerusakan) pada hasil material :

a) Teknik Double Impression secara indirect dengan metode hand mixing bahan putty dan pasta light body 1. Hasil percobaan didapati light-body kurang melapisi putty secara menyeluruh. Hal ini disebabkan karena kurangnya material light body yang dituang kedalam putty sehingga belum mencetak sampai ke permukaan bagian dalam. Viskositas dari light body juga lebih tinggi sehingga kurang mengalir pada sela-sela ataupun detail mulut. 2. Bintil yang ditemukan pada permukaan light body disebabkan karena pengolesan light body yang kurang merata, sehingga waktu sendok cetak dicetakkan pada model kerja terdapat udara yang terjebak. Dapat juga disebabkan oleh pengadukan putty yang tidak homogen. b) Teknik Double Impression secara direct dengan metode static auto mixing (bahan putty dan light body dalam catridge) 1. Hasil praktikum didapatkan material light body sudah menutupi semua permukaan pada cetakan gigi target. Selain itu material medium body juga menutupi di daerah sekitar gigi target 2. Porus lebih banyak ditemuakan di cetakan gigi target daripada cara manipulasi static auto mixing disebabkan oleh flow pada material hand mixing lebih rendah, selain itu pengadukan secara hand mixing dengan menggunakan spatula mampu membuat udara terprangkap. 3. Bintil yang ada disebabkan oleh body di servikal labial tidak merata sehingga pada saat sendok cetak dimasukkan pada model kerja terdapat udara yang terperangkap. 4. Hasil cetakan cukup detail, semua detail gigi target tercetak hal tersebut dikarenakan light body yang diletakkan pada cetakan putty sudah cukup sehingga semua permukaan gigi target tertutupi oleh light body saat dicetakkan pada model kerja sehingga. menghasilkan cetakan yang cukup detail c) Teknik Double Impression secara direct dengan metode hand mixing (bahan putty dan pasta medium body) 1. Pada percobaan ini dilakukan pencetakan pada rahang atas, saat pencetakan gigi target posisi sendok cetak kurang tepat atau kurangnya luas permukaan

area yang ditekan sehingga material light body mengalir keluar dari area target. Oleh karena itu didapati permukaan putty belum tertutupi light body secara merata. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya pemberian material light body pada bagian incisal dan proximal gigi target. 2. Terdapat porus pada permukaan gigi target dikarenakan pada saat mencampur bahan cetak putty tidak homogen. Penyebab lainnya adalah saat memasukan sendok cetak yang berisi putty dan light body ke gigi target kurang pas atau tergeser hal ini menyebabkan udara terjebak. 5. SIMPULAN Manipulasi material cetak elastomer dengan teknik double impression dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung (ada pengurangan). Pencampuran material cetak elastomer tersebut dapat menggunakan metode hand mixing dan static auto mixing. Kedua cara tersebut dapat menghasilkan hasil cetakan yang detail. Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil cetakan yang paling bagus adalah hasil pencetakkan dengan metode indirect karena hasil dengan metode indirect dapat dihasilkan cetakan yang akurat, detail, dan melapisi keseluruhan gigi target. Hal ini diakibatkan karena metode indirect dilakukan pengerokan terlebih dahulu sehingga bahan medium body yang diisikan tidak keluar-keluar saat melakukan cetak pada gigi target dan juga gigi target pas pada daerah pengerokan, tidak seperti metode direct yang belum tentu pas dicetakkan pada lubang yang ditekan. 6. DAFTAR PUSTAKA Anusavice, KJ. 2013. Phillips Science of Dental Materials. 12 th ed. China : Elsevier Saunders. pp. 153-154, pp 169 171. Yuliati et al, 2014. Buku Ajar Ilmu Material Kedokteran Gigi I. Surabaya: Airlangga University Press. pp. 82. Mc Cabe, JF., Walls A. 2008. Applied Dental Materials 9 th ed. Wiley, John and Sons Incorporated. pp.153, pp 168-170 Kuliah Devi Rianti, drg., M.Krs., 2014, Material Kedokteran GIGI