Psikologi Kepribadian. Kurt Lewin

dokumen-dokumen yang mirip
Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi

Teori Psikologi Kepribadian Kontemporer

Carl Rogers, Abraham Maslow

Psikologi Kepribadian Kontemporer

Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi

Sejarah dan Aliran Psikologi

Gestalt PENDIDIKAN SENI RUPA FBS UNY

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Penelitian ini mendapatkan konsep awal tentang anti-materialisme

TEORI ORGANISMIK KURT GOLDSTEIN

BAB V PEMBAHASAN. A. Rangkuman Hasil Seluruh Subyek Hasil penelitian dengan mengunakan metode wawancara, tes

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KONFLIK INTERPERSONAL DAN STRES KERJA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI SKRIPSI

Teori Belajar dan Pembelajaran Strategi Pembelajaran Inkuiri & Teori Gestalt STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI DAN TEORI GESTALT

PERSEPSI BENTUK. Persepsi, Lanjutan Modul 2. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berlian Ferdiansyah, 2014

PSIKOLOGI GESTALT.

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

02FDSK. Persepsi Bentuk. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si.

Modul ke: Psikologi Sosial I. Fakultas Psikologi. Intan Savitri,S.P., M.Si. Program Studi Psikologi

KONSEP DASAR. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Psikoanalisa

Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya)

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Slameto (2003:1) dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah,

Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Serlly Oktaviana Prodi Pendidikan Matematika Universitas Nusantara PGRI Kediri 2013

TEORI GESTALT. Universitas Negeri Yogyakarta oleh : Yulia Ayriza

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. belum diketahui serta memaksimalkan potensi yang dimiliki seseorang.

BAB I PENDAHULUAN. Jepang adalah salah satu negara yang memiliki kekuatan dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Identity Achievement. (Kartono dan Gulo, 2003). Panuju dan Umami (2005) menjelaskan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menitikberatkan pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Bekerja. Kata motivasi ( motivation) berasal dari bahasa latin movere, kata dasar

TEORI BELAJAR TINGKAH LAKU

HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN BERAKTUALISASI DIRI DAN KONFLIK PERAN DENGAN CITRA DIRI. Skripsi

A. Proses Pengambilan Keputusan

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Belajar menurut pandangan konstruktivisme adalah proses. pengkonstruksian pengetahuan oleh individu pembelajar sebagai upaya

BAB II URAIAN TEORITIS. Rianawati (2005) judul Analisis Pengaruh Faktor Dari Perilaku Konsumen

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dan juga merupakan faktor krisis yang dapat menentukan maju

II. TINJAUAN PUSTAKA. perubahan tingkah laku pada diri sendiri berkat pengalaman dan latihan.

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai

Sensasi persepsi perhatian - berpikir - mengambil keputusan - memori motivasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek

NATURALISME (1) Naturalisme 'natura' Materialisme

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Era globalisasi dan informasi yang ditandai oleh perubahan sosial, budaya, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Memasuki Abad 21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

Psikologi Sosial 2. Teori-teori Psikologi Sosial. Setiawati Intan Savitri, S.P. M.Si. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

TINJAUAN MATA KULIAH...

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Psikologi muncul sebagai ilmu pengetahuan di Jerman (psikologi asosiasi) Filsafat Descartes: cogito ergo sum saya berfikir maka saya ada.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diri dan lingkungan sekitarnya. Cara pandang individu dalam memandang dirinya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua pekerjaan memiliki resiko dan potensi bahaya yang berpengaruh

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Pengaruh konflik pekerjaan..., Sekar Adelina Rara, FPsi UI, 2009

ELEKTROMAGNETIKA. Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2007

SURVEY KEMAMPUAN MOTORIK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH SE-KECAMATAN TAMAN SIDOARJO TAHUN AJARAN DIDIK CAHYO WICAKSONO ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan hasil ekspresi atau ungkapan kejiwaan seorang yang

I. PENDAHULUAN. manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka keberadaan

Oleh : Muh. Mustakim, M.Pd.I

BAB I PENDAHULUAN. daya yang terpenting adalah manusia. Sejalan dengan tuntutan dan harapan jaman

LANDASAN PSIKOLOGIS BK. Diana Septi Purnama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Robert K Merton menulis beberapa pernyataan penting tentang

BAB 2 LANDASAN TEORI

SKRIPSI. Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat. Guna Mencapai Gelar Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi

II. LANDASAN TEORI. Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proses penyesuaian diri seseorang dalam konteks interaksi dengan lingkungan

BAB 2 LANDASAN TEORI. manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan (Goets et al,

BAB II KAJIAN TEORI. seseorang karena konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. satu hal dan pengetahuan umum yang berlaku bagi keseluruhan hal

TEORI BELAJAR GESTALT DAN GAGNE PERT-4

BAB II KAJIAN TEORI. dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan

KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

I. PENDAHULUAN. Sekolah sebagai lembaga formal yang dapat meningkatkan kualitas belajar

Dalam psikologi pendidikan, konsep minat diniterpretasikan sebagai variabel motivasi konten spesifik yang dapat diselidiki dan secara teori dapat dire

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

ADJOURNING BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karyawan dalam sebuah perusahaan sangat dibutuhkan untuk mencapai prestasi

MEMBANGUN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI MELALUI MODEL T3C DI SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi yang cepat, perampingan perusahaan, PHK, merger dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proaktif (urun rembuk) dalam memecahkan masalah-masalah yang diberikan

BAB I PENDAHULUAN. membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Mahasiswa, adalah seseorang

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju

BAB I PENDAHULUAN. mengerjakan pekerjaannya dengan pendidikan yang cukup tinggi dan manusia

OLEH : NANDANG BUDIMAN

Transkripsi:

Psikologi Kepribadian Kurt Lewin A. Latar Belakang Kurt Lewin lahir pada tanggal 9 September, 1890 di suatu desa kecil di Prusia, daerah Posen. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia belajar di Universitas Freiberg, Munich, Berlin, dan mendapat gelar doktor di Universitas Berlin pada tahun 1914. Setelah meraih gelar doktornya pada tahun 1914, Lewin bertugas di ketentaraan Jerman selama empat tahun. Pada akhir perang ia kembali ke Berlin sebagai instruktur dan asisten penelitian pada lembaga Psikologi. Setelah ikut perang dunia I, dia kembali ke Berlin dan bekerja sebagai instruktur dan asisten research pada lembaga psikologi, bekerja sama dengan Wertheimer dan Kohler yang telah mendirikan psikologi Gestalt. Pada tahun 1926, Lewin diangkat menjadi professor Universitas Berlin. Pada waktu kekuasaan Hitler meningkat dia pindah ke A.S., dan menetap di sana sampai akhir hidupnya (1947). Dia menjadi guru besar psikologi kanak-kanak di Universitas Cornell dan selanjutnya di lowa; kemudian memimpin pusat research, yang menyelidiki dinamika kelompok. B. Pandangan Dasar Kurt Lewin adalah penganut Gestalt, ia memfokuskan pekerjaannya di bidang psikologi sosial dan kepribadian alih-alih dalam konteks persepsi dan pemecahan masalah. Lewin menciptakan teori ruang pada tahun 1935. Konsepnya mengenai ruang dapat dilihat sebagai ruang dalam konteks vektor-vektor matematis atau sebagai ruang kehidupan. Kurt Lewin dikenal sebagai Bapak Psikologi Medan. Teori medan dalam fisika (dikembangkan oleh Michael Faraday, James Maxwell dan Heinrich Hertz pada abad 19) menunjukkan fenomena listrik/magnet, dan grafitasi mempengaruhi medan disekitarnya. Bagi Lewin, teori medan bukan suatu sistem psikologi baru yang terbatas pada suatu isi yang khas: teori medan merupakan sekumpulan konsep dengan dimana seseorang dapat menggambarkan kenyataan psikologis.lewin juga menggolongkan teori medan sebagai suatu metode untuk menganalisis hubungan hubungan kausal dan untuk membangun konstruk-konstruk ilmiah

Memakai asumsi Gestalt, Lewin mendasarkan pengembangan teorinya berdasarkan 3 asumsi: 1. Dasar pemahaman psikologi adalah saling hubungan, pola atau konfigurasi. 2. Beberapa saling hubungan menjadi dasar dari saling hubungan yang lain, jadi kepribadian cenderung bergerak menuju kesatuan Gestalt. 3. Psikologi seharusnya difahami dalam bentuk teori medan, di mana field adalah sistem pengaturan diri yang ditentukan oleh saling hubungan anatar bagian-bagian dari unsur yang mendukung sistem itu. Pokok pikiran psikologi Gestalt ialah bahwa tingkah laku ditentukan oleh medan psikofisis yang terdiri dari suatu sistem tekanan-tekanan atau kekuatan-kekuatan yang terorganisasi yang sama dengan medan gravitasi atau medan elektromagnetik. Perhatian utama psikologi Gestalt adalah persepsi, belajar, dan berpikir, bukan kepribadian. C. Prinsip-prinsip Dasar Prinsip dasar dari teori ini berasal dari ilmu fisika dan kimia mempengaruhi psikologi dengan memberi cara berpikir baru mengenai obyek, apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Teori medan dalam fisika menunjukkan fenomena listrik dan grafitasi mempengaruhi medan sekitarnya. Dan konsep pengaruh medan ini diadopsi dalam psikologi menjadi Psikologi Gestalt oleh Max Werheimer, Wolfgang Kohler, Kurt Koffka. Adopsi teori medan dalam psikologi kepribadian dilakukan oleh Kurt Lewin. Pendekatan Lewin bersifat dinamis, karena dia mencari sistem yang mendasari perilaku yang tampak. Lewin menekankan pada kekuatan yang mempengaruhi seseorang berubah dari waktu ke waktu dan dari situasi ke situasi. Teori Kurt Lewin berfokus pada ruang hidup, yaitu semua dorongan internal dan eksternal yang berperan pada inidividu-dan hubungan struktural antara manusia dan lingkungan. Menurut Kurt Lewin, perilaku jelas merupakan sebuah fungsi dari karakteristik personal dan situasi sosial. Lewin merangkum idenya tersebut ke dalam persamaan B = f (P,E) perilaku adalah sebuah fungsi dari manusia dan lingkungan. Ciri ciri utama dari teori Lewin, yaitu : 1. Tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi

2. Analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian bagian komponennya dipisahkan 3. Orang yang kongkret dalam situasi yang kongkret dapat digambarkan secara matematis. D. Struktur Kepribadian Menurut Lewin sebaiknya menggambarkan pribadi itu dengan menggunakan definisi konsep-konsep struktural secara spasial. Dengan cara ini, Lewin berusaha mematematisasikan konsep-konsepnya sejak dari permulaan. Matematika Lewin bersifat non-motris dan menggambarkan hubungan-hubungan spasial dengan istilah-istilah yang berbeda. a. Ruang Hidup (Life Space) Ruang hidup mengandung semua kemungkinan fakta yang dapat menentukan tingkah laku individu.ruang hidup meliputi segala sesuatu yang harus diketahui untuk memahami tingkah laku kongkret manusia individual dalam suatu lingkungan psikologis tertentu pada saat tertentu.tingkah laku adalah fungsi dari ruang hidup. b. Lingkungan Psikologis Meskipun pribadi dikelilingi oleh lingkungan psikologisnya, namun ia bukanlah bagian atau termasuk dalam lingkungan tersebut. Lingkungan Psikologis berhenti pada batas pinggir elips, Tetapi batas antara pribadi dan lingkungan juga bersifat dapat ditembus.hal ini berarti fakta fakta lingkungan dapat mempengaruhi pribadi.seperti daerah pribadi-dalam, daerah lingkungan psikologis dibagi-bagi dalam pecahan, disebut region. 1. Region: semua stimulus yang ditangkap oleh persepsi, dan kemudian mempengaruhi atau menjadi bagian yang menyibukkan fungsi kognitif manusia, berarti stimulus itu mempunyai tempat tertentu yang disebut region dalam lingkungan psikologis seseorang. 2. Bondaris: semua garis yang tertera pada diagram itu disebut bondaris, bisa merupakan batas antar sel, antar region atau antar daerah lingkungan psikologis dengan daerah persepsi motorik dan antara daerah persepsi motorik dan daerah pribadi dalam.

NonPsikologis Lp P Lp NonPsikologis c. Daerah Pribadi (Person Area) Menurut Lewin, pribadi adalah heterogen, terbagi menjadi bagian bagian yang terpisah meskipun saling berhubungan dan saling bergantung. Daerah dalam personal dibagi menjadi sel sel. Sel sel yang berdekatan dengan daerah konseptual motor disebut sel sel periferal; sel sel dalam pusat lingkaran disebut sel sel sentral. Didalam daerah pribadi terbagi menjadi dua bagian besar, daerah persepsi-motorik dan daerah pribadi-dalam: Daerah Persepsi Motorik (perception-motor area) Menjadi daerah antara yang menghubungkan pribadi-dalam dengan lingkungan psikologis. Daerah Pribadi-dalam (inner-personal area) Berisi aspek-aspek motivasional. Sel (Cells) Sel yang berkaitan dengan daerah persepsi motorik disebut sel perifer, sedang sel yang berada ditengah-tengah lingkaran tersebut se; sentral. (Psikologi Kepribadian Alwisol, hal 301) P-M DP P-M

E. Dinamika Keperibadian 1. Enerji Lewin menganggap bahwa pribadi merupakan suatu sistem enerji yang kompleks. jenis enerji yang melakukan aktivitas psikologis disebut enerji psikis. Meningkatnya tegangan di salah satu sel yang lebih tinggi dibanding sel lain, akan menghasilkan ketidakseimbangan, dan usaha sistem pribadi-dalam untuk menyeimbangkan kembali tegangan antar sel itu akan menimbulkan enerji psikis. 2. Tegangan Tegangan adalah suatu keadaan dalam diri sang pribadi, atau lebih tepat, suatu keadaan dari suatu daerah dalam-personal dalam kaitannya dengan daerah-daerah dalam-personal lainnya. Tegangan memiliki dua sifat konseptual yang penting. Sifat pertama adalah bahwa suatu keadaan tegang dalam suatu sistem tertentu cenderung menyamakan diri dengan jumlah tegangan dalam sistem-sistem di sekitarnya. Sarana psikologis lewat mana tegangan itu menjadi merata dinamakan proses yang berupa berpikir, mengingat, merasa, mempersepsikan, bertindak, dan sebagainya. Sifat kedua adalah bahwa tegangan tersebut menekan garis batas sistem. Apabila batas itu sangat kuat, penyebaran tegangan dari salah satu sistem ke sistem-sistem yang berdekatan akan terhambat, dan sebaliknya. 3. Kebutuhan Peningkatan tegangan dalam suatu daerah dalam-personal disebabkan oleh timbulnya kebutuhan. Kebutuhan bisa berupa keadaan fisiologis, keinginan akan sesuatu, intensi untuk mengerjakan sesuatu. Menurut Lewin, kebutuhan itu mencakup pengertian motif, keinginan dan dorongan. 4. Tegangan dan Tindakan Motorik Tegangan yang meekan garis batas luar dari pribadi tidak dapat menyebabkan lokomosi. Lewin menghubungkan kebutuhan dengan sifat tertentu dari lingkungan yang kemudia menentukan bentuk lokomosi yang akan terjadi. 5. Valensi Valensi adalah suatu kuantitas yang bervariasi, ia mungkin lemah, sedang, atau kuat. Pada dasarnya, besarnya valensi ditentukan oleh kebutuhan. Selain itu ada pula faktor lain seperti pengalaman dan budaya yang dapat mempengaruhi valensi. Ada dua macam nilai dalam valensi, yaitu positif dan negatif.

(i) Sesuatu mempunyai valensi atau nilai positif apabila menyebabkan berkurangnya atau hilangnya tegangan jika pribadi mendapatkan atau memasuki daerah itu, serta menyebabkan meningkatnya tegangan kalau pribadi tercegah untuk mendapatkannya. (ii) Sesuatu mempunyai valensi atau nilai negatif apabila menyebabkan meningkatnya tegangan apabila pribadi meninggalkannya. Jadi valensi positif bersifat menarik, valensi negatif bersifat menolak. 6. Kekuatan atau vektor Kekuatan ada di dalam lingkungan psikologis, sedangkan tegangan merupakan sifat dari sistem dalam-personal. Sifat-sifat konseptual dari kekuatan adalah arah, besarnya, dan titik sasaran. Ketiga sifat itu digambarkan dengan vector: (i) Arah kekuatan digambarkan dengan arahnya vector; (ii) Besar kecilnya kekuatan digambarkan dengan panjang pendeknya vector; (iii) Titik tangkap kekuatan digambarkan dengan tenpat anak panah vector, jadi P. Vektor adalah tingkah laku atau gerak seseorang yang akan terjadi kalau ada kekuatan yang cukup yang mendorongnya. Lewin menyebut kekuatan itu dengan nama vektor. Vektor digambarkan sebagai kekuatan psikologis yang mengenai seseorang, cenderung membuatnya bergerak ke arah tertentu. Arah dan kekuatan vektor adalah fungsi dari valensi positif dan negatif dari satu arah atau lebih region dalam lingkungan psikologis. 7. Konflik Konflik terjadi di daerah lingkungan psikologis. Lewin mendefinisikan konflik sebagai situasi di mana seseorang menerima kekuatan-kekuatan yang sama besar tetapi arahnya berlawanan. Ada beberapa jenis kekuatan, yang bertindak seperti vektor, yakni: (i) Kekuatan mendorong: menggerakkan, memicu terjadinya lokomosi ke arah yang ditunjuk oleh kekuatan itu. (ii) Kekuatan penghambat: halangan fisik atau sosial, menahan terjadinya lokomosi, mempengaruhi dampak dari kekuatan pendorong. (iii) Kekuatan kebutuhan pribadi: menggambarkan keinginan pribadi untuk mengerjakan sesuatu. (iv) Kekuatan pengaruh: menggambarkan keinginan dari orang lain yang masuk menjadi region lingkungan psikologis.

(v) Kekuatan non manusia: bukan keinginan pribadi tetapi juga bukan keinginan orang lain. Ini adalah kekuatan atau tuntutan dari fakta atau objek. Ada beberapa macam tipe konflik, yaitu: (i) Konflik tipe 1: konflik sederhana yang terjadi kalau hanya ada dua kekuatan berlawanan yang mengenai individu. Konflik semacam ini mempunyai konflik 3 macam: Konflik mendekat-mendekat, dua kekuatan mendorong ke arah yang berlawanan. Konflik menjauh-menjauh, dua kekuatan menghambat ke arah yang berlawanan. Konflik mendekat-menjauh, dua kekuatan mendorong dan menghambat muncul dari satu tujuan. (ii) Konflik tipe 2: konflik yang kompleks bisa melibatkan lebih dari dua kekuatan. Konflik yang sangat kompleks dapat membuat orang menjadi diam, terpakau atau, terperangkap oleh berbagai kekuatan dan kepentingan sehingga dia tidak dapat menentukan pilihan, adalah konflik tipe 2. (iii) Konflik tipe 3: orang berusaha mengatasi kekuatan-kekuatan penghambat, sehingga konflik menjadi terbuka, ditandai sikap kemarahan, agresi, pemberontakan,atau sebaliknya penyerahan diri yang neurotik. Pertentangan antar kebutuhan pribadi-dalam, konflik antar pengaruh, dan pertentang antara kebutuhan dengan pengaruh, menimbulkan pelampiasan usaha untuk mengalahkan kekuatan penghambat. 8. Restrukturasi Dinamis Struktur Lingkungan Psikologis Dinamika lingkungan psikologis dapat berubah dalam empat cara yang berbeda: (i) Nilai daerah dapat berubah secara kuantitatif. (ii) Vektor dapat berubah dalam besarnya atau dalam arahnya, atau dalam keduaduanya. (iii) Garis batas dapat menjadi lebih kuat atau lebih lemah, muncul atau menghilang. (iv) Sifat material suatu daerah. 9. Kembali pada Keseimbangan Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan adalah meratakan seluruh daerah di dalam-personal. Cara lain yang sangat lazim adalah dengan melakukan

lokomosi sebagaimana mestinya dalam lingkungan psikologis. Lokomosi yang tepat membawa priadi ke daerah objek tujuan yang memuaskan. Kecenderungan mencapai keseimbangan itu tidak berarti membuat diri seimbang sempurna, tetapi menyeimbangkan semua tegangan dalam daerah pribadidalam. Tujuan utama dari perkembangan psikologis adalah menciptakan semacam struktur internal yang meminjam keseimbangan psikologis, bukan membuat bebas tegangan. F. Perkembangan Kepribadian 1. Perubahan Tingkah Laku Menurut Lewin, sejumlah perubahan tingkahlaku yang penting terjadi sepanjang perkembangan. Semakin bertumbuh orang semakin bebas bergerak dan orientasi waktu semakin luas. Tingkahlaku menjadi semakin terorganisis, hirarkis, realistis, dan efektif. (i) Organisasi Bertambahnya usia membuat orang semakin sadar pentingnya pengoirganisasian. Misalnya, anak-anak dapat mempertahankan hubungannya dengan beberapa temannya waktu itu, semakin dewasa mereka akan berinteraksi dengan semakinj banyak orang dalam berbagai kelompok. (ii) Hirarkis Tingkahlaku menjadi hirarkis, anak-anak bermain untuk memperoleh kepuasan dari permainan itu. Semakin dewasa mereka memakai permainan sebagai instrument untuk memperoleh kepuasaan bersaing dengan teman lain, dan bersaing menjadi instrument untuk memacu diri berguna mencapai tujuan. (iii) Realistis Sesudah kemasakan dicapai, kemampuan kita untuk membedakan realitas dengan fantasi meningkat. Meningkatnya realism persepsi lebih dikenali pada area hubungan sosial. (iv) Efektif Kemasakan juga membuat tingkahlaku menjadi semakin ekonomis. Orang berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan usaha yang minimal. Tingkahlaku yang efektif menuntut adanya penyesuaian ruang hidup dengan sifat-

sifat yang sebenarnya dari lingkungan eksternal fisik dan sosial. Penyesuaian semacam itu hanya dapat dilakukan oleh orang dewasa yang masak. 2. Diferensiasi dan Integrasi Diferensiasi adalah peningkatan jumlah bagian-bagian dari keseluruhan. Jumlah sel dalam pribadi-dalam bverlipat dengan bertambahnya usia, dan jumlah region dalam lingkungan psikologis juga meningkat. Konsep saling ketergantungan yang teroganisir (organizational interdependence) menjelaskan bagaimana daerah pribadi-dalam dan daerah lingkungan psikologis yang semakin terdeferensiasi dan semakin otonom, dapat bekerja sama menghasilkan tingkahlaku yang integrative. Sel dan region diintegrasikan dalam keseluruhan yang lebih besar. 3. Regresi Perkembangan bisa bergerak mundur. Walaupun tidak memerinci periodisasi perkembangan, Lewin menemukan dua macam gerak mundur perkembangan, regresi dan retrogresi. Retrogresi dalah kembali ke bentuk tingkahlaku lebih awal dalam sejarah kehidupan manusia, sedang regresi adalah kembali ke bentuk tingkahlaku yang lebih primitive, tidak peduli apakah pribadi pernah melakukan hal itu. 4. Tahap-tahap Perkembangan Menurut Lewin perkembangan merupakan suatu proses yang bersinambung di mana sulit untuk menetapkan tahap-tahap yang terpisah. Perubahan yang terpenting terjadi pada sekitar usia 3 tahun, yang kemudia disusul oleh suatu masa yang relative stabil samapai masa adolesen yang merupakan masa reorganisasi dinamis yang akhirnya berakhir pada masa dewasa yang stabil. G. Kritik terhadap Teori Lewin 1. Lewin tidak mengelaborasi pengaruh lingkungan luar atau lingkungan obyektif. Lewin memang mengemukakan sifat bondaris antara lingkungan psikologis dengan lingkungan obyektif yang permenable, tetapi hal ini tidak diikuti oleh penjelasan dinamika bagaimana lingkungan luar itu mempengaruhi region-region atau menjadi region baru. 2. Lewin kurang memperhatikan sejarah individu pada masa lalu sebagai penentu tingkah laku. Ini merupakan resiko teori yang mementingkan masa kini dan masa yang akan datang. Teori ini juga terlalu berpusat terhadap aspek-aspek yang

mendalam dari kepribadian sehingga mengabaikan tingkah laku motoris yang nampak dari luar. 3. Lewin menyalahgunakan konsep ilmu alam dan konsep matematika. Memang tidak mudah memahami jiwa dengan memakai rumus-rumus matematika.bahkan Lewin berani mengambil resiko dengan memakai istilah-istilah dalam matematika dan fisika untuk dipakai dalam psikologi dengan makna yang sangat berbeda dengan makna aslinya. 4. Penggunaan konsep-konsep topologi telah menyimpang dari arti sebenarnya. Penggambaran topologis dan vaktorial dari Lewin tidak mengungkapkan sesuatu yang baru tentang tingkah laku.