BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pengendalian yang dilakukan dalam mengontrol populasi Setothosea asigna dengan menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) (Susanto dkk., 2010), Konsep ini bertumpu pada monitoring dan sensus populasi hama dilapangan. Pengendalian hama terpadu (PHT) lebih mengutamakan berjalannya pengendalian alami khususnya pengendalian hama yang dilakukan oleh berbagai musuh alami. Dengan memberikan kesempatan sepenuhnya kepada musuh alami untuk bekerja berarti menekan sedikit mungkin penggunaan pestisida. Pestisida sendiri secara langsung dan tidak langsung dapat merugikan perkembangan populasi musuh alami (Untung, 2001). Pengandalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami yang terdiri dari parasitoid, predator dan patogen merupakan pengendalian utama hama yang bekerja secara densitydependent (Untung, 2001). 2.1 Biologi dan Morfologi S. asigna Klasifikasi ulat api Setothosea asigna Van Eecke Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera : Limacodidae : Setothosea : Setothosea asigna Van Eecke 4
Ulat api merupakan salah satu jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang paling sering menimbulkan kerugian besar di perkebunan kelapa sawit. Jenis-jenis ulat api yang paling banyak ditemukan adalah S. asigna, S. nitens, Darna trima, D. diducta dan D. bradleyi. Jenis yang jarang ditemukan adalah Thosea vestusa, T. bisura, Susica pallida dan Birthamula chara (Norman dan Basri, 1992). Jenis ulat api yang paling merusak tanaman kelapa sawit di Indonesia adalah S. asigna, S. nitens dan D. trima sehingga dapat menurunkan produksi sampai 90% (Susanto dkk., 2006). 2.2 Siklus Hidup S. asigna 2.2.1 Telur Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar dengan permukaan daun sebelah bawah, biasanya pada pelepah daun ke 16-17. Satu tumpukan telur terdiri dari 300-400 butir. Telur biasanya menetas 4-8 hari setelah diletakkan. Telur pipih dan berwarna kuning muda (Gambar 2.1). Gambar 2.1. Telur S. asigna 5
2.2.2 Larva Larva yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis jaringan daun dari permukaan daun dan meninggalkan epidermis permukaan bagian atas daun. Larva berwarna hijau kekuningan dengan bercak bercak yang khas (berbentuk pita yang menyerupai piramida) pada bagian punggungnya. Selain itu pada bagian punggungnya dijumpai duri duri yang kokoh (Gambar 2.2) (Prawirosukarto, 2002). Gambar 2.2. Larva S. asigna 2.2.3 Pupa Pupa (Gambar 2.3a) berada di dalam kokon (Gambar 2.3b) yang terbuat dari campuran air liur ulat dan tanah, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap, terdapat di bagian piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Pupa jantan dan betina masing masing berlangsung selama +- 39,7 hari. Gambar 2.3. Pupa (a) dan Kokon (b) S. asigna 6
2.2.4 Imago Lebar rentangan sayap dewasa (ngengat) (Gambar 2.4a) betina 51 mm dan (Gambar 2.4b) jantan 41 mm. Sayap depannya berwarna coklat kemerahan dengan garis transparan dan bintik bintik gelap, sedangkan sayap belakang berwarna coklat muda (Sudharto, 1991). Gambar 2.4. Imago atau ngengat betina (a) dan jantan (b) S. asigna 2.3 Gejala Serangan S. asigna Serangan S. asigna di lapangan umumnya mengakibatkan daun kelapa sawit habis dengan sangat cepat dan berbentuk seperti melidi. Tanaman tidak dapat menghasilkan tandan selama 2-3 tahun jika serangan yang terjadi sangat berat. Umumnya gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah hingga akhirnya helaian daun berlubang habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun saja. Ulat ini sangat rakus, mampu mengkonsumsi 300-500 daun sawit per hari. Tingkat populasi 5-10 ulat per pelepah merupakan populasi kritis hama tersebut di lapangan dan harus segera diambil tindakan pengendalian (Lubis, 2008). Kerugian yang di timbulkan S. asigna, yaitu terjadi penurunan produksi sampai 69% pada tahun pertama setelah serangan dan +- 27% pada tahun kedua setelah serangan, bahkan jika serangan berat, tanaman kelapa sawit 7
tidak dapat berbuah selama 1-2 tahun berikutnya (Gambar 2.5) (Sipayung & Hutauruk, 1982). Gambar 2.5. Gejala Serangan S. asigna 2.4 Metode Pengendalian S. asigna 2.4.1 Pengendalian Hama Terpadu a. Predator Beberapa agen antagonis telah banyak digunakan untuk menggendalikan ulat api. Agen antagonis tersebut seperti predator ulat api yang sering di temukan adalah Eochantecona furcellata (Hemiptera: Pentatomidae). Predator ini di perbanyak di perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago predator tersebut seperti bunga Turnera subulata, Antigonon leptopus (Gambar 2.6). Gambar 2.6. Predator E. furcellata 8
b. Parasitoid Parasitoid pada larva S. agina adalah Brachimeria lasus, Spinaria spinator, Apanteles alullea, Chlorocyptus purpuratus, Fornicia ceylonica (Gambar 2.7), Systropus roepkei, Dolichogenidae metesae, dan Chaetexorista javana, sedangkan parasitoid telur S. asigna adalah Trichogrammatoidea thoseae (Hymenoptera: Trichogrammatidae). Parasitoid dapat diperbanyak di areal perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago parasitoid tersebut seperti Turnera subulata, Cassia tora, Borerria alata dan Elephantopus tomentosus (Desmier dkk., 2002). Oleh karena itu, clean weeding tidak dianjurkan dan tanaman-tanaman tersebut hendaknya tetap ditanam dan jangan dimusnahkan. Gambar 2.7. Parasitoid F. ceylonica c. Biologi Cordyceps militaris (Gambar 2.8) dan Bacillus thuringiensis, adalah contoh insektisida biologi yang efektif melawan larva S. nitens, D. trima dan S. asigna dengan tingkatan kematian 90% dalam 7 hari (Wood dkk., 1977). 9
Gambar 2.8. Cordyceps militaris d. Kimiawi Pengendalian ulat pemakan daun kelapa sawit dengan menggunakan insektisida kimia merupakan cara yang umum dilakukan di perkebunan kelapa sawit untuk mengatasi ledakan populasi ulat api. 2.5 Klasifikasi Ilmiah Tanaman A. leptopus Kingdom Phylum Class Family Genus Species : Plantae : Magnoliophyta : Caryophyllales : Polygonceae : Antigonon : Antigonon leptopus Air mata pengantin (Antigonon leptopus) adalah tumbuhan memanjat (liana) anggota suku Polygonaceae yang berasal dari amerika tengah (Gambar 2.9). 10
Gambar 2.9. Tanaman A. leptopus 11