MONITORING LINGKUNGAN

dokumen-dokumen yang mirip
MONITORING LINGKUNGAN

MONITORING LINGKUNGAN

PENDAHULUAN. PT. Bintuni Utama Murni Wood Industries 1

BAB I PENDAHULUAN. atas pulau, dengan garis pantai sepanjang km. Luas laut Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas berbagai

HASIL IDENTIFIKASI DAN RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN NILAI KONSERVASI TINGGI DI AREAL KERJA PT BINTUNI UTAMA MURNI WOOD INDUSTRIES

I. PENDAHULUAN. Kawasan lahan basah Bujung Raman yang terletak di Kampung Bujung Dewa

BAB I PENDAHULUAN. fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut.

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

SUMBERDAYA ALAM WILAYAH PESISIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

VI. SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia, kini semakin merata ke berbagai

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini

1. Pengantar A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hutan mangrove desa Margasari memiliki luas 700 ha dengan ketebalan hutan

Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi

BAB III METODE PENELITIAN

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN CILACAP

PENILAIAN NILAI KONSERVASI TINGGI RINGKASAN EKSEKUTIF

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

BAB I PENDAHULUAN. batas pasang surut air disebut tumbuhan mangrove.

RENCANA PENGELOLAAN PERIODE TAHUN PT. TELAGABAKTI PERSADA

PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia

ANALISIS VEGETASI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE KPH BANYUMAS BARAT

BAB III METODE PENELITIAN. Jawa Timur, dilaksanakan pada bulan November sampai dengan bulan Desember

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. kesempatan untuk tumbuhan mangrove beradaptasi (Noor dkk, 2006). Hutan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam 3 zona berdasarkan perbedaan rona lingkungannya. Zona 1 merupakan

ANALISIS VEGETASI MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA OLEH MASYARAKAT KAMPUNG ISENEBUAI DISTRIK RUMBERPON KABUPATEN TELUK WONDAMA SKRIPSI YAN FRET AGUS AURI

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Struktur dan Komposisi Mangrove di Pulau Hoga Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara Jamili

REPORT MONITORING MANGROVE PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL WAKATOBI KABUPATEN WAKATOBI

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di

TINJAUAN PUSTAKA. lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Menurut

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN,

I. PENDAHULUAN. paling tinggi di dunia. Menurut World Wildlife Fund (2007), keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi

19 Oktober Ema Umilia

Keanekaragaman Jenis dan Indeks Nilai Penting Mangrove di Desa Tabulo Selatan Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo

BAB I PENDAHULUAN. tertentu dan luasan yang terbatas, 2) Peranan ekologis dari ekosistem hutan

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG

LAMPIRAN. Lampiran 1. Analisis vegetasi hutan mangrove mulai dari pohon, pancang dan semai berdasarkan

KERUSAKAN MANGROVE SERTA KORELASINYA TERHADAP TINGKAT INTRUSI AIR LAUT (STUDI KASUS DI DESA PANTAI BAHAGIA KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI)

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB I PENDAHULUAN. Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove dilaporkan berasal dari kata mangal yang menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Ujicoba Pembibitan Ceriops tagal

BAB I PENDAHULUAN. klimaks pada daerah dengan curah hujan mm per tahun, rata-rata

BAB I PENDAHULUAN. Karena berada di dekat pantai, mangrove sering juga disebut hutan pantai, hutan

BAB I. PENDAHULUAN. pulau-nya dan memiliki garis pantai sepanjang km, yang merupakan

ANALISIS STRUKTUR DAN STATUS EKOSISTIM MANGROVE DI PERAIRAN TIMUR KABUPATEN BIAK NUMFOR

PENDAHULUAN. Gambar 1 Bange (Macaca tonkeana) (Sumber: Rowe 1996)

TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu

Lampiran 1 Foto Dokumentasi Penelitian Keaneakaragaman Jenis Burung

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara Geografis Pantai Sari Ringgung (PSR) terletak di posisi LS dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mangrove merupakan vegetasi yang kemampuan tumbuh terhadap salinitas air

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2010

I. PENDAHULUAN. pantai yang mempunyai arti strategis karena merupakan wilayah terjadinya

Struktur Dan Komposisi Vegetasi Mangrove Di Pulau Mantehage

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 04 TAHUN 2002 TENTANG LARANGAN DAN PENGAWASAN HUTAN MANGROVE DI KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi warga Indonesia untuk

BAB I PENDAHULUAN. Hutan adalah salah satu sumber daya alam yang memiliki manfaat

BAB I PENDAHULUAN. alam dan jasa lingkungan yang kaya dan beragam. Kawasan pesisir merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, NOMOR : 201 TAHUN 2004 TENTANG KRITERIA BAKU DAN PEDOMAN PENENTUAN KERUSAKAN MANGROVE

PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE

TINJUAN PUSTAKA. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Ringkasan Publik PT. Mitra Hutani Jaya

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

KUESIONER DI LAPANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi - manggi,

PROPOSAL PENELITIAN PENYIAPAN PENYUSUNAN BAKU KERUSAKAN MANGROVE KEPULAUAN KARIMUNJAWA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Herlin Nur Fitri, 2015

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3. No. 1, Maret 2012: ISSN :

I. PENDAHULUAN. tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan

KORELASI ANTARA KERAPATAN AVICENNIA DENGAN KARAKTERISTIK SEDIMEN DI KAWASAN HUTAN MANGROVE DESA SUNGAI RAWA KABUPATEN SIAK, RIAU

PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE UNTUK EKOWISATA DI KECAMATAN KUTA RAJA KOTA BANDA ACEH Syifa Saputra1, Sugianto2, Djufri3 1 ABSTRAK

TINJAUAN PUSTAKA. terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. rawa, hutan rawa, danau, dan sungai, serta berbagai ekosistem pesisir seperti hutan

KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN

AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT.

Transkripsi:

MONITORING LINGKUNGAN Monitoring atau pemantauan lingkungan yang diimplementasikan oleh PT. BUMWI, dilakukan terhadap 4 (empat) komponen lingkungan yang terkena dampak yaitu meliputi komponen Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT), komponen biologi, komponen fisik kimia, dan komponen sosial. Data yang diperoleh dari hasil monitoring berfungsi sebagai bahan evaluasi terhadap efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan terhadap keempat komponen lingkungan tersebut. Data hasil monitoring juga merupakan instrumen dalam membangun sistem peringatan dini terhadap dampak yang muncul pada tiap komponen lingkungan sehingga mampu menjadi input untuk pengembangan pola pengelolaan lingkungan. Data hasil monitoring pada tahun 2016 untuk setiap komponen lingkungan adalah sebagai berikut. 1. Komponen Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) Luas total seluruh KBKT di PT.BUMWI berdasar hasil identifikasi NKT oleh IDEAS Consultancy Services adalah sebesar 19.837,94 Ha. Kawasan tersebut meliputi Kawasan Sempadan, Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah (KPPN), Kantong Satwa, Hutan Sagu, Hutan Nipah, Hutan Darat (Namawene, Sarbe-Naramasa, Kasuri 1, Kasuri 2, Kasuri 3), Hutan Rawa Primer, Kampung Lama dan Zona Penyangga CATB. Keberadaannya yang tersebar di seluruh areal PT. BUMWI merupakan habitat yang penting bagi pelestarian flora fauna. Selain karena perannya sebagai habitat, penyedia pakan dan tempat berlindung, KBKT juga berfungsi sebagai koridor yang menghubungkan mozaik cluster mangrove di seluruh penjuru areal konsesi PT. BUMWI. Kegiatan monitoring fauna pada KBKT menggunakan metode line transect dan point count, sedangkan monitoring vegetasi menggunakan metode quadrat plot sampling. Hasil monitoring menunjukkan bahwa kondisi areal KBKT seluruhnya berada dalam kondisi utuh dan tidak terdapat gangguan dari pihak luar. Gambar 1. Elang bondol (Haliastur indus) Data keanekaragaman jenis hayati dari hasil monitoring KBKT selama tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Data spesies flora hasil monitoring di areal KBKT tahun 2016. No. KBKT Jumlah Jenis Flora 1 2 Sempadan Pantai, Sungai dan Alur Zona Penyangga CATB 3 Hutan Sagu 4 Hutan Nipah Sempadan pantai: 8 jenis flora mangrove mayor dari 3 famili, Sempadan sungai: 10 jenis flora mangrove dari 4 famili Sempadan alur: 9 jenis flora mangrove dari 3 famili Status Perlindungan PP IUCN CITES - 1 spesies - 7 jenis flora mangrove dari 3 famili - - - Didominasi oleh jenis sagu (Metroxylon sagu, Rottb) Didominasi oleh jenis nipah (Nypa fructicans) - - - - - - 5 KPPN 7 jenis flora mangrove dari 3 famili - 1 spesies - 6 Kantong Satwa 6 jenis flora mangrove dari 3 famili - - - 7 Namawene 8 Sarbe Naramasa Didominasi oleh jenis bakau (Rhizophora apiculata) 103 jenis flora hutan dataran rendah dari 46 famili - - - - 4 spesies 6 spesies Gambar 2. Nipah (Nypa fruticans) Gambar 3. Pal batas KBKT

Tabel 2. Data spesies fauna hasil monitoring di areal KBKT. No. KBKT Jumlah Jenis Fauna 1 2 Sempadan Pantai, Sungai dan Alur Zona Penyangga CATB 3 Hutan Nipah 2. Komponen Fisik-Kimia 2. 1 Kualitas Air Sempadan pantai: 33 jenis burung dari 19 famili dan 1 jenis reptilia Sempadan sungai: 33 jenis burung dari 17 famili dan 1 jenis reptilia Sempadan alur: 29 jenis burung dari 19 famili dan 2 jenis reptilia dari 2 famili 18 jenis fauna burung dari 13 famili dan 2 jenis reptilia dari 2 famili 16 jenis burung dari 12 famili dan 1 jenis mamalia Status Perlindungan PP No 7 IUCN CITES 13 spesies - 6 spesies 9 spesies - 4 spesies 7 spesies - 4 spesies 4 KPPN 5 jenis fauna burung dari 4 famili 2 spesies - - 5 Kantong satwa 6 Namawene 7 Sarbe Naramasa 12 jenis burung dari 6 famili dan 1 jenis reptil 9 jenis burung dari 7 famili dan 1 jenis reptilia 45 jenis burung dari 20 famili, 3 jenis mamalia dari 3 famili, dan 2 jenis reptilia dari 2 famili 11 spesies - 5 spesies 5 spesies - 3 spesies 20 spesies - 11 spesies Lokasi sampel untuk pengukuran kualitas air adalah lokasi tebangan yang masih berjalan yaitu blok 2016 (Et) serta bekas tebangan blok 2015 (Et+1) dan blok 2016 (Et+2). Pada masing-masing blok dipilih lokasi sampel dengan tingkat ketinggian tapak yang berbeda yaitu tapak rendah, sedang dan tinggi. Data kontrol menggunakan lokasi sampel di virgin forest sekitar blok sampel. Hasil pengukuran kualitas air dibandingkan dengan Baku Mutu Lingkungan yang tertera pada Kepmen LH No. 02/1988. Hasil monitoring menunjukkan bahwa besar rerata ph pada lokasi tebangan (Et) adalah sebesar 7,53. ph rata-rata pada seluruh lokasi sampel pasca tebangan (Et+1 dan Et+2) adalah sebesar 7,65. Sedangkan ph pada lokasi virgin forest adalah sebesar 7,13. Rata-rata kadar salinitas pada lokasi tebangan, bekas tebangan, dan virgin forest berturut-turut adalah sebesar 0,91-0,90-0,93. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ph dan salinitas tidak melebihi baku mutu. Siklus pasang surut diurnal pada kawasan Teluk Bintuni terlihat mampu menjadi sistem nature purification di ekosistem mangrove yang dikelola oleh PT. BUMWI sehingga tidak terdapat perbedaan kualitas air yang signifikan antara lokasi tebangan, bekas tebangan dan virgin forest.

2. 2 Tanah Hasil pemantauan menunjukkan bahwa pada sub komponen tanah, tidak terdapat pola kecenderungan penurunan permukaan tanah yang konsisten pada areal bekas tebangan. Pada beberapa titik sampel di areal bekas tebangan justru ketebalan tanahnya lebih besar dibanding virgin forest di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penebangan dan penyaradan kayu yang dilakukan pada hutan mangrove tidak memberikan dampak besar pada sub komponen tanah mengingat kegiatan eksploitasi yang dilakukan hanya menggunakan tenaga manusia tanpa mobilisasi alat berat. 2. 3 Hidrooceanografi Lokasi sampel untuk pemantauan pemunduran garis pantai adalah pantai di blok RKT 2009 (tingkat abrasi besar) dan pantai di blok RKT 2010 (tingkat abrasi kecil). Kedua blok tersebut berada pada satu bentang lahan, yaitu pulau besar yang berada di kawasan Sungai Wemoi Sungai Naramasa. Hasil monitoring menunjukkan bahwa pemunduran garis pantai pada blok 2010 di tahun 2016 adalah 1,01 m/tahun. Sedangkan hasil monitoring pemunduran garis pantai pada blok 2009 adalah sebesar 13,99 m/tahun. Abrasi yang terjadi pada pantai Blok RKT 2009 bukanlah abrasi yang disebabkan oleh kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu yang dilakukan PT. BUMWI. Abrasi pada lokasi tersebut adalah abrasi alam. Sedangkan pada lokasi pemanenan hutan mangrove, tidak ditemukan pemunduran garis pantai yang signifikan karena terdapat sempadan pantai selebar 200 m yang mampu menjaga keberadaan dan kestabilan garis pantai di areal konsesi PT. BUMWI. 3. Komponen Biologi Monitoring terhadap komponen biologi dilakukan terhadap empat lokasi blok RKT yaitu blok 2006, 2011, 2015, dan 2017 (Et+10, Et+5, Et+1 dan virgin forest). Data kontrol menggunakan lokasi virgin forest blok URKT 2017. Metode yang digunakan adalah garis transek untuk pengamatan jenis fauna dan di dalam transek di buat plot pengamatan jenis vegetasi dengan menggunakan quadrat plot sampling. Jarak antara transek yaitu 1 km dan jumlah total plot pada seluruh areal pengamatan yaitu 175 plot. Struktur Vegetasi Hasil monitoring terhadap struktur vegetasi menunjukkan bahwa pada tingkat strata pohon, lokasi blok sampel dengan kerapatan tertinggi adalah blok URKT 2017 yaitu 262 batang/ha

dan lokasi blok sampel dengan kerapatan terendah adalah blok RKT 2011 yaitu 30 batang/ha. Perbandingan kerapatan pada jenis pohon untuk tiap blok sampel dapat dilihat pada grafik 1. Jumlah pohon/ha 2006 2011 2015 2017 174 38 20 19 1 14 26 2 7 8 8 60 23 34 2 4 1 16 Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera parviflora Ceriops decandra Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Grafik 1. Kerapatan pohon (N/ha) di seluruh lokasi sampel. Keanekaragaman Jenis Flora Hasil pemantauan menunjukan bahwa besaran indeks H di seluruh blok sampel tidak bergeser jauh dari angka indeks 1. Pada hutan mangrove sangat sulit untuk mencapai indeks keanekaragaman jenis yang tinggi karena jenis flora yang mampu tumbuh di ekosistem mangrove sangatlah terbatas. Indeks keanekaragaman jenis pada seluruh lokasi blok sampel dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Indeks keanekaragaman jenis Shannon Wienner (H ) flora di lokasi blok sampel. No. Tingkat Strata Indeks Shannon Wienner (H ) 2006 2011 2015 2017 1 Semai 0,99 0,94 1,06 1,29 2 Pancang 0,80 0,70 1,20 1,20 3 Tiang 1,05 0,70 1,08 1,09 4 Pohon 1,02 0,73 1,23 1,06 Jenis Flora Dilindungi Tidak terdapat jenis flora mangrove yang dilindungi, namun terdapat 1 spesies mangrove dengan status Near Threatened menurut Red List IUCN v 3.1 tahun 2012 yaitu Ceriops decandra. Spesies ini dapat dijumpai dengan kelimpahan yang tinggi dan distribusi yang cukup luas pada areal PT. BUMWI.

Hasil monitoring menunjukan bahwa spesies Ceriops decandra ditemukan dengan merata untuk tingkat strata semai. Sedangkan untuk strata pancang, tiang dan pohon jenis ini hanya dijumpai pada beberapa lokasi blok sampel (lihat tabel 4). Tabel 4. Persebaran jenis Ceriops decandra di lokasi blok sampel. Jenis Ceriops Decandra Tingkat Strata Jumlah individu (N) 2006 2011 2015 2017 Total Semai 200 250 1900 500 2850 Pancang 240-400 480 1120 Tiang 2-12 20 34 Pohon - - 8 8 16 Hasil monitoring menunjukkan bahwa jenis Ceriops decandra yang memiliki status Near Threatened pada IUCN Red List, ternyata memiliki persebaran yang cukup melimpah di areal konsesi PT. BUMWI. Sehingga jika jenis tersebut dikatakan langka secara global belum tentu langka secara nasional. Hal tersebut sesuai dengan deskripsi yang dikemukakan oleh Rusila Noor, dkk. (1999) bahwa spesies tersebut berstatus langka secara global namun relatif umum dijumpai dalam lingkup lokal di Indonesia. Jenis Fauna Dilindungi Hasil monitoring menunjukkan bahwa terdapat 20 jenis burung dan 1 jenis reptil yang memiliki status fauna penting. Lokasi sampel dengan jumlah tertinggi untuk fauna penting adalah pada blok RKT 2011 yaitu sebanyak 16 jenis. Sedangkan blok sampel dengan jumlah fauna penting terkecil adalah blok RKT 2015 yaitu sebanyak 6 jenis. Daftar jenis fauna penting di seluruh blok sampel dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Daftar Jenis Fauna yang Dilindungi di Berbagai Blok RKT. No Spesies Nama Ilmiah Status Perlindungan Lokasi Sampel CITES PP 7 IUCN 2006 2011 2015 2017 1 Biawak Varanus salvadorii App. II NL + + + + 2 Burung madu sriganti Nectarinia jugularis P LC + + 3 Kukabura perut merah Dacelo gaudichaud P LC + + 4 Meliphaga aru Meliphaga aruensis P LC + + + + 5 Meliphaga mimika Meliphaga mimikae P LC + + 6 Raja udang kecil Alcedo pusilla P LC + 7 Cekakak rimba Halcyon macleayii P LC + + + + 8 Cikukua lantang Philemon corniculatus P LC + + 9 Cikukua tanduk Philemon buceroides P LC + + + + 10 Ibis suci Threskiornis aethiopicus P LC + +

Jumlah tenaga kerja No Spesies Nama Ilmiah Status Perlindungan Lokasi Sampel CITES PP 7 IUCN 2006 2011 2015 2017 11 Isap madu polos Ramsayornis modestus P LC + + + 12 Julang papua Rhyticeros plicatus App. II P LC + 13 Kakatua koki Cacatua galerita App. II P LC + + + + 14 Cekakak sungai Halcyon chloris p LC + 15 Cikukua tanduk Philemon buceroides P LC + + 16 Isap madu zaitun Lichmera argentauris P LC 17 Nuri pipi merah Geoffroyus geoffroyi App. II LC + + + 18 Elang bondol Haliastur indus App. II P LC + + 19 Perkici kerdil Charmosyna wilhelminae App. II LC + 20 Perkici pelanggi Trichoglossus goldiei App. II LC + 21 Kuntul karang Egretta sacra P + 4. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya 4.1 Kesempatan Kerja Hasil monitoring terhadap kesempatan kerja yang menunjukkan perbandingan jumlah tenaga kerja lokal dan pendatang yang bekerja di base camp PT. BUMWI selama tahun 2016, dapat dilihat pada grafik 2. Persentasi tenaga kerja lokal yang bekerja di base camp PT. BUMWI masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan tenaga kerja pendatang. Perusahaan telah membuka kesempatan yang selebar-lebarnya bagi masyarakat lokal yang ingin bekerja dalam pengelolaan mangrove di Teluk Bintuni. Namun demikian, hanya sedikit masyarakat lokal yang berminat untuk bekerja di PT. BUMWI dikarenakan terdapat sumber penghidupan lain yang telah ditekuni oleh masyarakat. 200 150 100 50 0 Lokal Pendatang Grafik 2. Perbandingan jumlah tenaga kerja lokal dan pendatang yang bekerja di base camp PT. BUMWI selama tahun 2016.

Jumlah pasien Jumlah nominal (Rp) Jumlah nominal (Rp) 4.2 Kesempatan Berusaha Hasil monitoring terhadap kesempatan berusaha dalam hal jumlah nominal pembelian hasil usaha masyarakat lokal oleh PT. BUMWI selama tahun 2016, dapat dilihat pada grafik 3. Kegiatan operasional PT. BUMWI dalam mengelola hutan mangrove di kawasan Teluk Bintuni praktis memberikan peluang yang sangat baik bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh penghasilan tambahan dengan menjual hasil usaha mereka kepada perusahaan. Hasil usaha masyarakat lokal yang diserap oleh PT. BUMWI berasal dari desadesa yang ada di sekitar areal perusahaan. 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 0 JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES Grafik 3. Nominal (Rp) pembelian hasil masyarakat selama tahun 2016. 4.3 Kesehatan Masyarakat Perusahaan memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada masyarakat yang ada di sekitar areal perusahaan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada pada klinik PT. BUMWI di base camp P. Amutu Besar. Pasien yang datang berobat ke klinik PT. BUMWI mayoritas hanya melakukan pengobatan ringan. Untuk jenis keluhan penyakit yang berat, mantri klinik PT. BUMWI memberikan surat rujukan untuk selanjutnya melakukan pengobatan lanjutan ke Puskesmas atau RSUD Bintuni. Jumlah pasien dan nominal biaya penggunaan obat yang digunakan oleh masyarakat sekitar perusahaan dapat dilihat pada grafik 4. 100 80 60 40 20 0 90 62 85 100 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000,000 0 Grafik 4. Data jumlah pasien (kiri) dan jumlah nominal penggunaan obat dalam Rupiah (kanan) masyarakat lokal yang berobat ke klinik PT. BUMWI di P. Amutu Besar Tahun 2016.