BAB I PENDAHULUAN. 1.3 Rumusan Masalah

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Batik merupakan karya seni budaya bangsa Indonesia yang dikagumi dunia.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III PROSES PERANCANGAN. A. Bagan Pemecahan Masalah. Batik Kreasi Baru. Permasalahan : 1. Bagaimana merancang motif batik dengan sumber ide makanan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Nur Akmalia, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perancangan/Penciptaan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara dengan kekayaan kebudayaan yang beragam.

BAB III KONSEP PERANCANGAN A.

BAB I PENDAHULUAN. mendukung kegiatannya sehari-hari. Berbagai macam cara dilakukan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB III PROSES PERANCANGAN. A. Bagan Pemecahan Masalah. Batik Kudus. Perancangan Motif Batik. Konsep desain

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PENCIPTAAN SERAGAM BATIK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

A. Bagan Pemecahan Masalah

EKSPLORASI SIMPUL PADA TALI KATUN UNTUK PELENGKAP BUSANA

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. menjadi negara yang kaya dengan keunikan dari masing-masing suku tersebut.

BAB 1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha. Gambar 1.1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perancangan

BAB III PROSES PERANCANGAN. A. Bagan Pemecahan Masalah. Perancangan Motif Batik Geometri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Identifikasi Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Kriya merupakan suatu proses dalam berkesenian dengan berkegiatan

BAB I PENDAHULUAN. tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad XVIII atau awal

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

A. Bagan Pemecahan Masalah. Cetak Saring. Desain Motif Fauna

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I GAMBARAN USAHA. India, Cina, Thailand, dan terakhir Malaysia, mengakui bahwa Seni Batik berasal

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Penjelasan Judul Perancangan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. setelah ditenun dengan tali sebagai perintang atau menolak warna. Ikat celup di

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi dan hasil budaya yang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

Indasari Purba, 2014 Manfaat Hasil Belajar Pengetahuan Tekstil Pada Pemilihan Kain Untuk Pembuatan Produk Kriya Tekstil

Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB II METODE PERANCANGAN. A. Analisis Permasalahan. Berdasarkan fokus permasalahan di atas ada tiga permasalahan yang

BAB II. METODE PERANCANGAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN

2015 MANFAAT HASIL BELAJAR FASHION PACKAGING SEBAGAI KESIAPAN MENJADI FASHION PACKAGING DESIGNER

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Mata kuliah Kriya Tekstil dan Batik III ini merupakan mata kuliah lanjutan dari Kriya

ANALISIS VISUAL MOTIF BATIK KARAWANG

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAPORAN TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. komoditas terbesar dari budaya Indonesia, karena batik mewariskan suatu nilai

Misi. Tujuan. Visi. Memberikan pendidikan terjangkau di bidang fesyen untuk semua lapisan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seni adalah karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sandang ini merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan busana yang terus meningkat pesat membuat para desainer. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang


BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

juga sangat mendukung sekali untuk terciptanya sebuah produk alas kaki yang indah dan menarik (wawancara dengan H. Otang Suherman, 10 Oktober 2012).

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KIRIGAMI. di masyarakat luas. Seni kerajinan ini berasal dari Negeri Matahari, Jepang.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB III METODE PENELITIAN. inti permasalahan yang sebenarnya (nomena) dari gejala-gejala yang tampak di

BAB IV. KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada era globalisasi ini, kebutuhan teknologi komputer sangat dibutuhkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN. sektor penting dalam pembangunan perekonomian bangsa-bangsa di dunia (Naude

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Perancangan. dinamika selera modern dan teknologi (Asti dkk., 2011: 9). Perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan setiap

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi produksi dan pengelolaan pada industri tekstil serta pengolahan kain dewasa ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kemajuan tersebut telah menghasilkan tekstil yang memiliki berbagai sifat dan beragam jenisnya. Bersumber pada keinginan manusia yang menuntut aneka ragam pemenuhan untuk kebutuhan hidup yang salah satunya adalah memberi hiasan pada tekstil dengan berbagai macam rupa dan warna untuk mengatasi kebosanan akibat kepolosan pada permukaan kain. Di era sekarang ini, salah satu upaya manusia untuk meningkatkan produk tekstil agar memiliki nilai estetis dan ekonomis yang lebih tinggi adalah dengan memberikan ragam hias, sehingga menimbulkan motif dan warna yang dapat dibuat dengan berbagai macam teknik. (Hartanto, 1979:1) Teknik ikat celup telah banyak dilakukan di berbagai negara. Seperti di negara India dan Pakistan yang populer dengan teknik Bhandhana, di Jepang populer dengan teknik Shibori serta di Indonesia populer dengan teknik ikat celup itu sendiri. Teknik ikat celup merupakan proses tradisional yang sudah lama ada sejak zaman dahulu, yang pada awalnya penggunaan ikat celup ini berasal dari Jepang dan India pada abad ke 6 M. Kemudian meluas dan memasuki Indonesia, yang selanjutnya di Indonesia itu sendiri ikat celup populer di beberapa daerah dengan penyebutan namanya masing-masing. Oleh sebab itu, hal tersebut dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk pengembangan teknik ikat celup itu sendiri. Teknik ikat celup adalah teknik pembuatan ragam hias dengan mengikat erat sebagian bidang kain yang tidak ingin terkena warna saat melalui proses pencelupan pewarnaan. Teknik ikat celup pun memiliki kelebihan dari efek warna atau corak yang disengaja maupun tidak disengaja menghasilkan bentuk yang tidak akan persis sama antara satu dengan yang lainnya, karena dilakukan secara handmade. Melihat adanya potensi besar dalam tren fesyen pada teknik ikat celup yang dapat menjadi suatu karya yang berbeda dengan permainan komposisi corak yang lebih bervariatif dan menarik. Dalam hal ini teknik ikat celup akan dikembangkan dengan penggunaan bahan perintang tambahan yaitu parafin. Parafin merupakan salah satu jenis perintang yang dapat digunakan dalam proses pembuatan celup rintang. Pengembangan ini dirancang dan di realisasikan untuk produk bahan busana dengan cara mengoptimalisasi dalam penggunaan bahan secara baik. Diharapkan dengan diangkatnya teknik ikat celup menggunakan perintang parafin kali ini, dapat dijadikan sebagai ragam hias yang sesuai tren. Oleh karena itu pengembangan ini dapat menjadi tren dan memenuhi permintaan konsumen serta diterima oleh masyarakat luas. 1.2 Identifikasi Masalah Berikut identifikasi masalah dari penelitian ini adalah : 1. Kurangnya pengembangan teknik ikat celup yang lebih variatif dan inovatif pada tren fesyen 2. Masih sedikitnya dalam mengoptimalkan penggunaan bahan pada proses tradisional ikat celup dengan menggabungkan teknik perintang parafin 1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah: 1. Bagaimana mengembangkan teknik ikat celup agar dapat mengikuti tren fesyen yang lebih bervariatif dan inovatif? 2. Bagaimana cara mengoptimalkan penggunaan bahan dengan baik untuk dijadikan produk busana menggunakan teknik ikat celup dan perintang parafin? 1.4 Batasan Masalah Batasan masalah penelitian ini adalah : 1. Ditargetkan untuk wanita dewasa muda berusia 23-35 tahun 2. Berdomisili di kota Metropolitan 3. Target pasar yang dituju upper-middle end 4. Teknik yang digunakan adalah teknik ikat celup 5. Menggunakan material kain berserat alam 1.5 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menjadikan teknik ikat celup dan perintang parafin sebagai ragam hias yang dapat mengikuti tren fesyen 2. Memperkenalkan kembali tekstil ikat celup oleh pelaku industri fesyen dan masyarakat luas 3. Mengembangkan dan membuat inovasi dengan teknik ikat celup menggunakan parafin sebagai alternatif untuk produk bahan busana 4. Membuat sebuah produk dengan mengoptimalkan penggunaan bahan dengan baik 5. Meningkatkan nilai estetis dan ekonomi corak ikat celup dengan penggunaan parafin untuk produk fesyen 1.6 Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Menerapkan keahlian serta pengetahuan yang dimiliki dalam bentuk karya yang nyata dan mendorong kreatifitas dalam menciptakan inovasi baru terhadap bidang tekstil 2. Memberikan kebaharuan dalam teknik ikat celup terhadap bidang tekstil dan masyarakat luas 3. Dapat digunakan sebagai acuan penelitian berikutnya dalam pembuatan sebuah karya pada produk tekstil 1.7 Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan adalah : 1. Studi literatur Melakukan studi literatur untuk mendapatkan info mengenai perkembangan ikat celup, pengertian ikat celup, teknik ikat celup, pewarnaan ikat celup serta tren fesyen yang akan datang melalui media cetak seperti buku, jurnal dan media online

2. Eksperimentatif Mengekplorasi untuk mendapatkan pengembangan dari teknik ikat celup dengan menggunakan bahan perintang tambahan yaitu parafin 3. Observasi Melakukan pengamatan dari perkembangan ikat celup saat ini serta pengamatan tren desain, warna, dan motif yang digunakan 1.8 Skema Penelitian

Bagan 1.1 Skema Penelitian (sumber : dokumentasi pribadi) 1.9 Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Berisi latar belakang yang menjelaskan tentang menurunnya minat masyarakat terhadap corak tradisi serta pengidentifikasian masalah yang terdapat dalam latar belakang. Dalam bab ini juga terdapat

pengelompokan batasan masalah untuk mengukur sejauh mana penelitian ini akan diselesaikan. Selain itu juga terdapat rumusan masalah, tujuan serta manfaat dilakukannya penelitian, metode pengumpulan data dalam melakukan penelitian, kerangka penelitian untuk mempermudah penulis dalam menyusun penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II Studi pustaka Bab ini berisikan landasan teori yang mendukung hasil analisa dalam penelitian. Teori yang dipaparkan merupakan teori dari kata-kata kunci yang terdapat dalam judul mulai dari pengertian dan klasifikasi. Selain itu, pada Bab II juga berisikan pemaparan mengenai teori yang akan direalisasikan menjadi sebuah produk. Meliputi pengertian tekstil, klasifikasi tekstil, pengertian fesyen, klasifikasi fesyen, pengertian busana, fungsi busana, celup rintang, pengertian ikat celup, teknik perintangan ikat celup, bahan kain, pewarnaan tekstil, parafin, unsur-unsur desain, prinsip-prinsip desain Bab III Konsep Perancangan dan Proses Eksplorasi Pada bab ini dipaparkan latar belakang yang mendasari konsep perancangan serta memperlihatkan hasil eksplorasi yang telah dilakukan selama menyusun penelitian. Selain itu ditampilkan juga desain produk serta proses perancangan dan proses produksi. Bab IV Kesimpulan dan Saran Bab ini berisi tentang kesimpulan selama penulis melaksanakan proses penelitian hingga menghasilkan produk akhir serta saran-saran yang penulis berikan terkait proses perancangan yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk penelitian berikutnya.