Jurnal Fakultas MIPA, UNG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PENENTUAN TAHANAN JENIS BATUAN ANDESIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER (STUDI KASUS DESA POLOSIRI)

POTENSI SUMBERDAYA AIR TANAH DI SURABAYA BERDASARKAN SURVEI GEOLISTRIK TAHANAN JENIS

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Seminar Nasional Ke III Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS 2 DIMENSI UNTUK MENENTUKAN PERSEBARAN AIR TANAH DI DESA GUNUNGJATI KECAMATAN JABUNG KABUPATEN MALANG

Rustan Efendi 1, Hartito Panggoe 1, Sandra 1 1 Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Tadulako, Palu, Indonesia

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PENGUKURAN TAHANAN JENIS (RESISTIVITY) UNTUK PEMETAAN POTENSI AIR TANAH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PRAYA. Oleh:

Prosiding Seminar Nasional XII Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi 2017 Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal ISSN :

Pemetaan Akuifer Air Tanah Di Sekitar Candi Prambanan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta Dengan Menggunakan Metode Geolistrik Tahanan Jenis

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II TINJAUAN UMUM

III.1 Morfologi Daerah Penelitian

BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup di muka bumi. Makhluk hidup khususnya manusia melakukan

BAB IV GEOMORFOLOGI DAN TATA GUNA LAHAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

POLA ALIRAN AIR BAWAH TANAH DI PERUMNAS GRIYA BINA WIDYA UNRI MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI ELEKTRODA SCHLUMBERGER

ANALISIS DATA GEOLISTRIK UNTUK IDENTIFIKASI PENYEBARAN AKUIFER DAERAH ABEPURA, JAYAPURA

Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 19 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /

REVISI, PEMODELAN FISIKA APLIKASI METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK INVESTIGASI KEBERADAAN AIR TANAH

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Dinisa Hanifa 1, Ibrahim Sota 1, Simon Sadok Siregar 1

Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Barat, Jalan Jhoni Anwar No. 85 Lapai, Padang 25142, Telp : (0751)

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

IDENTIFIKASI BATUAN GRANIT KECAMATAN SENDANA KOTA PALOPO MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS (RESISTIVITY)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Umur GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Gambar 2. Lokasi Penelitian Bekas TPA Pasir Impun Secara Administratif (

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.

KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP SEBARAN ENDAPAN KIPAS BAWAH LAUT DI DAERAH GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH

PENYELIDIKAN HIDROGEOLOGI CEKUNGAN AIRTANAH BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PEMODELAN AKUIFER AIR TANAH UNTUK MASYARAKAT PESISIR LINGKUNGAN BAHER KABUPATEN BANGKA SELATAN. Mardiah 1, Franto 2

APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI AKUIFER DI KECAMATAN PLUPUH, KABUPATEN SRAGEN

Jurnal APLIKASI ISSN X

Pendugaan Akuifer serta Pola Alirannya dengan Metode Geolistrik Daerah Pondok Pesantren Gontor 11 Solok Sumatera Barat

METODE GEOLISTRIK UNTUK MENGETAHUI POTENSI AIRTANAH DI DAERAH BEJI KABUPATEN PASURUAN - JAWA TIMUR

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Air merupakan sumberdaya alam yang terbarukan dan memiliki peranan

BAB 3 GEOLOGI SEMARANG

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Cekungan. Air Tanah. Penyusunan. Pedoman.

GEOLOGI DAERAH KLABANG

PROSPEK DAN POTENSI AIR TANAH DI DAERAH LAPANGAN GOLF BADDOKA KOTA MAKASSAR BERDASARKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITY

BAB IV GEOLOGI PANTAI SERUNI DAERAH TAPPANJENG. pedataran menempati sekitar wilayah Tappanjeng dan Pantai Seruni. Berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan terhadap barang ini pun kian meningkat seiring bertambahnya jumlah

BAB III GEOLOGI DAERAH NGAMPEL DAN SEKITARNYA

, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10

BAB IV KONDISI HIDROGEOLOGI

POTENSI AIR TANAH DAERAH KAMPUS UNDIP TEMBALANG. Dian Agus Widiarso, Henarno Pudjihardjo *), Wahyu Prabowo**)

MENENTUKAN LITOLOGI DAN AKUIFER MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER DAN SCHLUMBERGER DI PERUMAHAN WADYA GRAHA I PEKANBARU

BAB III METODE PENELITIAN

IDENTIFIKASI AIRTANAH DAERAH CIEMAS, KABUPATEN SUKABUMI BERDASARKAN CITRA SATELIT, GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI

PEMETAAN GEOLOGI METODE LINTASAN SUNGAI. Norma Adriany Mahasiswa Magister teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta

GEOHIDROLOGI PENGUATAN KOMPETENSI GURU PEMBINA OSN SE-ACEH 2014 BIDANG ILMU KEBUMIAN

5.1 Peta Topografi. 5.2 Garis kontur & karakteristiknya

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PENDUGAAN KETERDAPATAN AKIFER AIRTANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK DI KECAMATAN SUKATANI - KABUPATEN PURWAKARTA

Konfigurasi Geologi Bawah Permukaan Untuk Menelusuri Zona Kontaminasi di Daerah Jatinangor dan Rancaekek, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

IDENTIFIKASI KEDALAMAN AQUIFER DI KECAMATAN BANGGAE TIMUR DENGAN METODA GEOLISTRIK TAHANAN JENIS

STUDI BIDANG GELINCIR SEBAGAI LANGKAH AWAL MITIGASI BENCANA LONGSOR

Riad Syech, Juandi,M, M.Edizar Jurusan Fisika FMIPA Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Pekanbaru ABSTRAK

Geologi dan Analisis Struktur Daerah Cikatomas dan Sekitarnya, Kabupaten Lebak, Banten. BAB I PENDAHULUAN

e-issn : Jurnal Pemikiran Penelitian Pendidikan dan Sains Didaktika

PENENTUAN ZONA PENGENDAPAN TIMAH PLASER DAERAH LAUT LUBUK BUNDAR DENGAN MARINE RESISTIVITY Muhammad Irpan Kusuma 1), Muhammad Hamzah 2), Makhrani 2)

BAB II GEOLOGI REGIONAL

Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2016 ISSN: Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

SURVEY GEOLISTRIK DI DAERAH PANAS BUMI KAMPALA KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daerah penelitian termasuk dalam lembar Kotaagung yang terletak di ujung

BAB 4 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA

POSITRON, Vol. VI, No. 2 (2016), Hal ISSN :

BAB II Geomorfologi. 1. Zona Dataran Pantai Jakarta,

5.1 PETA TOPOGRAFI. 5.2 GARIS KONTUR & KARAKTERISTIKNYA

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 33-37

Interpretasi Kondisi Geologi Bawah Permukaan Dengan Metode Geolistrik

Week 10 AKIFER DAN BERBAGAI PARAMETER HIDROLIKNYA

APLIKASI GEOLISTRIK UNTUK MENENTUKAN POTENSI AKUIFER AIR TANAH: STUDI KASUS DI KECAMATAN MASARAN, KEDAWUNG DAN SIDOHARJO, KABUPATEN SRAGEN

PROFIL RESISTIVITAS 2D PADA GUA BAWAH TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER-SCHLUMBERGER (STUDI KASUS GUA DAGO PAKAR, BANDUNG)

BAB II GEOMORFOLOGI 2. 1 Fisiografi Regional Jawa Tengah

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN :

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PEMODELAN FISIKA APLIKASI METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK INVESTIGASI KEBERADAAN AIR TANAH

Transkripsi:

GEOLOGI DAN PEMETAAN CEKUNGAN AIR TANAH KOTA GORONTALO DENGAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS Andri saputra Jusuf 471410009 Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian, FMIPA, Universitas Negeri Gorontalo Jln Jend. Soedirman No 6 Kota Gorontalo andrejusuf@yahoo.com Intisari Penelitian pemetaan CAT Gorontalo yang telah dilakukan bertujuan untuk memetakan akuifer air tanah di Kota Gorontalo berdasarkan nilai tahan jenis batuan dari hasil pemetaan geologi bawah permukaan dengan menggunakan Geolistrik yang sebelumnya dilakukan survey geologi menyangkut data geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi. Pengambilan data geolistrik sebanyak 8 titik sounding yang telah dibuat menjadi 3 lintasan. Hasil bawah permukaan dari data tahanan jenis diolah dengan menggunakan Softwere IP2Win yang menghasilkan model perlapisan bawah permukaan (2D) kemudian di olah dengan Softwere Surfer 11 untuk menampilakan model 3D akuifer Kota Gorontalo. Pengambilan data sumur untuk mengetahui penyebaran airtanah pada CAT Gorontalo telah dilakukan sebanyak 200 titik sumur yakni data koordinat dan kedalam muka airtanah. Berdasarkan hasil interpretasi data geolistrik bahwa pada titik sounding 1,2,3,4,7 dan 8 tersusun oleh batuan alluvial yang terdiri dari lempung, batupasir, pasirlempungan dan kerikilpasiran yang merupakan akiufer pada CAT Gorontalo. Pada titik sounding 6 dan titik 8 tersusun oleh batugamping dan granit yang sebagai batuan induk. Arah aliran muka airtanah berasal dari perbukitan bagian utara Kota Gorontalo sebagai daerah Recharge Area. Kata Kunci : Geologi, Geolistrik, akuifer, Airtanah. 1. PENDAHULUAN Indonesia memiliki potensi airtanah terbesar yakni pada 224 cekungan airtanah (groundwater basin), dengan potensi cadangan sebesar 4,7 milyar m³/tahun (Soetrisno, 1993). Air hujan menjadi faktor penting sebagai imbuhan airtanah. Karakteristik Indonesia yang beriklim tropis memiliki keadaan musim hujan dan musim kemarau yang telah diteliti oleh Oldeman dan Frere (1982). Perkembangan jumlah penduduk Kota Gorontalo rata-rata 1,2 % pertahun dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir dan penggunaan lahan yang dibedakan atas lahan sawah seluas 1.013 Ha, lahan kebun 695 Ha, lahan pekarangan seluas 452 H dan penggunaan lainnya seluas 39,74 Ha. (BPK-RI Provinsi Gorontalo, 2014). Seiring dengan perkembangan dan pembangunan daerah Kota Gorontalo maka pertumbuhan penduduk dan pembangunan sektoral dalam hal ini pemukiman, pertanian, industri, dan fasilitas perekonomian mendorong meningkatnya pemanfaatan air bersih. Sehubungan dengan peningkatan pertumbuhan penduduk dan pembangunan sektoral serta agar keberlanjutan perekonomian didukung

oleh ketersediaan sumberdaya air di wilayah Kota Gorontalo, sehigga sangat perlu dilakukan pemetaan air tanah dengan menggunakan Geolistirik yang merupakan metode geofisika. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui kondisi geologi dan memetakan akuifer dengan menggunakan metode Geolistrik pada daerah Kota Gorontalo. Manfaat dari penelitian ini ialah memberikan informasi mengenai cadangan airtanah dan posisi strategis kepada masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya air di CAT Kota Gorontalo Sebagai data sekunder dalam eksplorasi hidrogeologi lebih detail Dapat memprediksi arah pencemaran airtanah melalui arah aliran airtanah di CAT Kota Gorontalo. 2. TINJUAN PUSTAKA 2.1 Akuifer Airtanah adalah air yang ada dibawah permukaan tanah maupun batuan pada zone jenuh air, dengan tekanan hidrostatis sama atau lebih besar daripada tekanan udara. Airtanah terdapat pada berbagai formasi geologi, terutama pada akuifer. Akuifer biasa disebut dengan resevoir airtanah merupakan formasi batuan yanga dapat menyimpan dan mengalirkan air. Faktor yang sangat mempengaruhi dalam mengontrol kondisi dan distribusi sistem akifer dalam sistem geologi yakni litologi, stratigrafi dan struktur endapan endapan geologi. Berdasarkan hidrodinamiknya akuifer dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu akuifer tertekan ( Confined aquifer ), akuifer bebas (Unconfined aquifer) dan akuifer bocor ( Leaky aquifer). Akuifer tertekan Akfer tertekan merupakan bagan atas dan bawahnya dibatasi oleh lapisan yang kedap air atau akuikluk. Akuifer ini airtanah terletak dibawah lapisan kedap air dengan mempunyai tekanan lebih besar daripada tekanan atmosfirnya. Gambar 1. Konfigurasi akifer tertekan dan muka airtanah pada sumur Akifer bebas Akifer bebas yang biasa dengan akifer tidak tertekan umumnya berada pada kedalam yang relatif dangkal atau kurang dari 40 dan terdapat lensa lensa lempung seringkali membentuk akifer menggantung. Akifer ini dibatasi oleh lapisan impermeanel bagian bawahnya dan bagaiannya tidak terdapat lapisan penutup. Gambar 2. Konfigurasi akifer tak tertekan dan muka airtanah

Akuifer bocor Akuifer ini pada umumnya dapat dijumpai pada daerah lembah aluvial dan dataran, yang airtanahnya dibatasi oleh lapisan yang setengah kedap air atau akuitard. lapisan saja, hal ini teruram untuk spasi elektroda yang lebih lebar. Harga tahanan jenis terukur tersebut merupakan nilai tahanan jenis semu (apparent resistivity). (Telford, 1990). Gambar 4. Tahan jenis semu Maka persamaan dari tahanan jenis dapat dirumuskan sebagai berikut : Gambar 3. Konfigurasi akifer bocoran dan muka airtanah pada sumur 2.2 Geolistrik Geolistrik merupakan metode yang paling populer dalam menyelidiki airtanah dari permukaan bumi dalam bidang hidrogeologi. (Todd, 1980). Selain itu, geolistrik sangat mudah dibawa, mudah dioperasikan, pengambilan datanya cepat dengan biaya murah serta akurasi data yang dapat dipercaya. Metode ini menggunakan asumsi bahwa bumi bersifat homogen isotropis. Sebagai contoh medium berlapis yang ditinjau misalnya terdiri dari dua lapis yang mempunyai resistivitas berbeda (ρ1 dan ρ2) dianggap sebagai medium satu lapis homogen yang mempunyai satu harga tahanan jenis semu ρa, dengan konduktivitas lapisan fiktif sama dengan jumlah konduktivitas masimgmasing lapisan, yaitu σa = σ1 + σ2. (Gambar.4). Oleh karena itu harga tahanan jenis yang diukur bukan merupakan nilai tahan jenis untuk satu... (1) Dimana ρa adalah tahanan jenis semu, K adalah faktor geometri, ΔV adalah beda potensial antara kedua elektroda (P1, P2) dan I adalah kuat arus yang diinjeksikan. Berdasarkan persamaan (I) dapat diketahui bahwa nilai tahanan jenis semu tergantung pada geometri konfigurasi elektroda yang digunakan antara lain konfigurasi Schlumberger, konfigurasi Wenner, konfigurasi dipoledipole dan sebagainya. Gambar 5. Instrumen geolistrik sounding (Bahri, 2005)

Tabel 1. Nilai Resitivitas materila material bumi (Telford, 1990). 2.3 Cekungan Airtanah Cekungan airtanah merupakan suatu wilayah yang dibatasi oleh hidrolgeologis, dimana terdapat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan airtanah berlangsung yang merupakan proses kejadian hidrogeologis. Cekungan airtanah merupakan salah satu contoh dari sistem geomorfologi. (Gregory dan Walling, 1973). Pendapat Boonstra dan Ridder (1981) menjelaskan bahwa pada suatu cekungan airtanah mengalami proses hidrologi yang berlangsung secara terus menerus. Faktor litologi sangat menentukan terhadap kecepatan proses perkolasi air permukaan. Keterdapatan endapan aluvial merupakan ciri utama litologi suatu cekungan airtanah. Todd (1980), berpendapat bahwa cekungan airtanah merupakan suatu satuan hidrogeologi yang terdiri dari satu atau beberapa bagian akuifer yang saling berhubungan membentuk suatu system dan dapat berubah akibat perubahan lingkungan. Batas hidrologi ditentukan oleh batas geologi dan batas hidrologi yang bisa menjadi batas suatu wilayah berdasarkan kesepakatan Internasional. Batas geologi pada cekungan air tanah yang terdiri dari atas batuan kedap air atau lapisan dengan kelulusan rendah, struktur geologi, pelapisan batuan kedap air dengan batuan lulus air ; dan batas hidrologi pada cekungan airtanah yang terdiri dari atas airtanah permukaan berupa permukaan air laut danau, dan sungai. Cekungan air tanah tidak selalu berbentuk cekungan akan tetapi lapisan akifer (lapisan batuan yang menyimpan dan mengalirkan air) yang mendatar, miring, terlipat atau terpatahkan. Skiklus hidrologi juga mempunyai peran penting dalam penyediaan airtanah, dimana air permukaan mengalami penguapan mengalami kondensasi kemudian menjadi air hujan yang turun kepermukaan bumi menjadi airtanah permukaan dan menjadi airtanah dalam. Siklus ini menjadi pendukung terhadap airtanah untuk mendapat air yang kemudian meresap kedalam tanah serta batuan (bedrock recharge) memiliki peran penting dalam penyediaan air. Banyaknya sumursumur dalam (wells) yang berperan menyadap airtanah dari berbagai akifer yang ada menjadi tanda daerah pelapasan dengan masing-masing dibatasi oleh lapisan kedap air berupa lempung. CAT Gorontalo berdasarkan Peta Cekungan Air Tanah Provinsi berdasarkan konduktivitas dan transmisivitas serta litologi penyusunan dapat dibagi menjadi 2 bagian yakni bagian tepi cekungan (Selatan dan utara) diserta bagian tengah cekungan yang terdapatnya danau Limboto yang diperkirakan muncul akibat Sesar

Gorontalo. Bagian tengah cekungan tersusun atas litologi endapan danau dan bagian Utara; selatan tersusun oleh batuan Gamping ( T. Pandi. dkk 1997). Kedua litologi pada umumnya diperkirakan merupakan akuifer baik. 3. METODE Metode yang dilakukan pada penelitian ini ialah melakukan survey geologi dan bawah permukaan. Adapun beberapa tahapan yang dilakukan pada metode ini ialah : 3.1 Tahap Pengambilan Data Awal tahap pengamibilan data lapangan yang dilakukan ialah melakukan survey geologi dengan skala 1:50.000 yaitu data geomorfologi, litologi, dan struktur geologi. Ini bertujuan untuk mengetahui morfologi dan batuan penyusun serta struktur geologi yang berkerja pada daerah penelitian. Selanjutnya dilakukan pengukuran sumur warga, mengambil data koordinat dengan menggunakan GPS Oregon 550 elevasi, dan tinggi muka airtanah. Data sumur yang telah diambil sebanyak 200 titik Gambar 6. Peta Cekungan Airtanah Provinsi Gorontalo Gambar 7. Diagram Alir Penelitian sumur yang menyebar di setiap kecamatan yakni kecamatan Kota barat, Kota Timur, Kota Selatan, Kota engah, Kota Utara, Sapitana dan Dungingi.

Pengambilan data geolistrik dilakukan pada 8 titik pengamatan yang dibagai menjadi 3 penampang. Penampang 1 terdiri dari 3 titik sounding yaitu titik 1, 5 dan 7 yang berada ditengah, penampang 2 terdiri dari 3 titik sounding yaitu titik 2, 6 dan 7 yang berada di bagian barat serta penampang 3 terdiri dari 4 titik sounding yaitu titik 5, 4, 3 dan 8. Alat geolistrik yang digunakan ialah Resistivity meter IPMGEO 4100 dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi ini membutuhkan 4 buah elektroda, 2 buah elektroda (C1,C2) digunakan sebagai penginjeksi arus (I) dan 2 elektroda (P1,P2) sebagai penerima tegangan (V) yang dihasilkan. Jarak antara dibuat sesuai konfigurasi Schlumberger (Gambar 7) dengan urutan C1, P1, P2, C2 dengan panjang bentangan 200 m. Gambar 8. Konfigurasi Schlumberger 3.1 Pengolahan data - Pengolahan data geologi Interpretasi kelurusan morfologi untuk mengetahui pola kelurusan yaitu berupa arah rekahan rekahan yang bekerja daerah penelitian. Dimana data kelurusan diolah dengan menggunakan diagram roset sehingga menghasilkan peta pola kelurusan. Selanjutnya membagai satuan morfologi dareah penelitian, dimana morfologi tersebut sangat berpengaruh terhadap sistem hydrologi (Gregory dan Walling, 1973). Pengurutan stratigrafi dilakukan setelah membagi satuan batuan sehingga dapat mengetahui batuan penyusun dan penyebaran batuan daerah penelitian urutan umur batuan. Pengolahan data struktur berupa sesar dan kekar dilakuaan dengan menggunakan metode stronet sehingga dapat menentukan jenis sesar dan arah tegasan utama yang bekerja pada daerah tersebut. Dari berbagai macam data diatas dapat dituanggkan dalam bentuk peta geologi. - Pengolahan data sumur Pengolahan data sumur warga mengenai posisi dan tinggi muka airtanah dilakukan interpolasi dengan menggunakan Softwere Surfer 11, untuk mengetahui arah penyebaran dari muka airtanah. - Pengolahan data geolistrik Data yang didapatkan dari pengukuran kemudian diolah dengan softwere IP2win, dengan memasukan nilai arus (I) dan nilai beda potensial (ΔV) serta jarak spasi elektroda (a) dimasukan kedalam tabel softwere IP2win, sehingga hasil berupa tampilan grafik dan nilai tahanan jenis batuan (ρa) lapisan bawah permukaan secara vertikal. Pada pengolahan data tersebut perlu dilakukan koreksi data dengan melakukan inversi hingga didaptkan kesalahan (error) paling kecil. Proses tersebut bertujuan untuk mengetahui masing masing lapisan dari harga tahan jenis. Selanjutnya, kegiatan interpretasi dari setiap harga tahanan jenis sehingga menggambarkan geologi bawah

permukaan, serta dapat menentukan zona akuifer, kemudian diolah dengan softwere Surfer 11 yang akan menggambarkan 3D lapisan akuifer. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Morfologi Daerah Penelitian Hasil orientasi kelurusan morfologi dengan menggunakan diagram rose dimana data yang didapatkan sebanyak 1.639 data kelurusan serta memperliahatkan di daerah penelitian memiliki kelurusan dominan berarah NE (0-10 ). Dari hasil orientasi kelurusan dapat menjadi dasar sebagai penentuan arah dari bentangan geolistrik yakni NW-SE. (Gambar. 13) Berdasarkan interpretasi morfologi bahwa derah penelitian terbagi menjadi 2 satuan geomorfologi yaitu (1) Satuan Bentangalam Pedataran : Satuan ini memiliki ciri topografi yang relatif datar dengan presentase kemiringan lereng berkisar antara 0 2 % atau 1 5 dengan beda tinggi kurang dari 5 meter. Proses morfogenesa morfologi ini dipengaruhi oleh proses fluviatil (aktivitas sungai), marine (aktivitas laut) dan lakustrin (aktivitas danau). (2) Satuan Bentangalam Perbukitan : Kenampakan dari satuan ini digambarkan oleh pola kontur yang agak rapat dan dengan lereng yang agak curam. Sudut lereng berkisar antara 14-55% atau sekitar 25-55 dengan beda tinggi 75-500 meter. Kondisi geomorfologi termasuk aspek dalam kajian airtanah Verstappen (1977,1983) dan Sutikno (1989). Satuan bentangalam pedataran yang dominan memiliki relief datar mencerminkan airtanah terkumpul pada satuan morfologi tersebut. Satuan Bentangalam Perbukitan memiliki topografi lebih tinggi mencerminkan bahwa arah gerakan airtanah mengalir kebagian lebih rendah dalam hal ini menuju Satuan Bentangalam Perbukitan. Bentangalam Pendataran Kota gorontalo dan CAT Gorontalo Bentangalam Perbukitan Jajaran Perbukitan dan Pegununan Tilongkabila Foto 1. Kenampakan Morfologi Kota Gorontalo dan CAT Gorontalo, arah foto utara 4.2. Stratigrafi Daerah Penelitian Kesebandingan dilakukan terhadap peta geologi regional Lembar Kotamubagu skala 1: 250.000 (Apandi, T. dan Bahri. S, 1997). Berdasarkan hal tersebut pembagian stratigarfi daerah penelitian terbagi atas 4 satuan stratigrafi dari batuan yang paling tua sampai sampai yang paling muda yaitu : 1. Satuan Granit Satuan ini merupakan satuan batuan yang tertua pada daerah penelitian dengan menempati sekitar 20 % dari dari luas daerah penelitian, serta singkapan ini dijumpai di daerah donggala, tenda, dan daerah pantai selatan. Ciri ciri batuan ini berwarna putih sampai abu-abu, mengalami pengkekaran, berwarna kuning coklat jika mengalami pelapukan, tekstur faneritik porfiritik, bentuk kristal

euhedral subhedral, dan kandungan mineral terdiri dari Quarzt, orthoklas, biotite, horblende dan terdapat mineral sekunder epidot. 2. Satuan Breksi Vulkanik Satuan ini menempati 15 % dari luas wilayah daerah penelitian dan singkapan satuan ini dapat dijumpai Leato bagian timur dan Tanjung keramat. Ciri ciri batuan ini berwarna hitam coklat, berfragmen polimik andesit dan basalt, ukuran butir dari kerikil boulder, matriks pasir kasar halus, tersemenkan oleh silika. Satuan ini diterobos oleh Satuan Granit, dan breksi diperkirakan berumur Pliosen Plistosen. 3. Satuan Gamping Koral Satuan ini menempati 10 % dari luas wilayah daerah penelitian dan satuan ini dapat dijumpai di daerah Benteng otanaha, tenilo dan sekitar batutonuo. Ciri ciri batuan ini berwarna putih, terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping klastik, nampak fosil molusca dan terumbu koral. Satuan ini diendapakn pada laut dangkal yang berumur Quarter. 4. Satuan Endapan Alluvial Satuan ini menempati 10 % dari luas wilayah daerah penelitian dan satuan ini dapat dijumpai di daerah Benteng otanaha, tenilo dan sekitar batutonuo. Ciri ciri batuan ini berwarna putih, terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping klastik, nampak fosil molusca dan terumbu koral. Satuan ini diendapakn pada laut dangkal yang berumur Quarter. Foto 2. Singkapan Satuan Granit daerah Leato Selatan Foto 3. Singkapan Satuan Breksi Vulkanik Foto 4. Singkapan Gamping Koral Foto 5. Singkapan Endapan Alluvial

4.3 Struktur Geologi Struktur geologi dari hasil analisis serta kesebandingan dengan Peta geologi regional lembar Kotamubagu 1 : 250.000 ( Apandi, T. dan Bachri. S, 1997) bahwa struktur geologi daerah penelitian terdiri dari sesar dan kekar yang mempunyai orientasi berbeda sebagai berikut : 2. Sesar Naik Leato Foto7. Kenampakan sesar naik leato 1. Sesar Turun Leato Gambar 10. Kedudukan umum sesar N 128 E/81 pada streonet 3. Sesar Turun Buliide Foto 6. Kenampakan sesar turun leato dengan kedudukan umum N 70 E/77 Gambar 9. Kedudukan umum sesar N 70 E/77 pada streonet Foto 8. Kenampakan sesar turun buliide

4. Kekar Berpasangan Gambar 11. Kedudukan umum sesar N 301 E/69 pada streonet Foto 9. Kenampakan berpasangan Gambar 12. Kedudukan kekar dan arah tegasan : σ1: 21/329, σ2: 44/81, σ3:39/221 Gambar 13. Peta Densitas Kelurusan Morfologi

Gambar 14. Peta Geomorfologi Daerah Penelitian Gambar 15. Peta Geologi Daerah Penelitian

4.4 Muka Airtanah Secara umum kondisi airtanah cekungan Gorontalo mengalir dari arah perbukitan utara menuju kedataran dibagian tengah. Hal itu berarti bahwa daerah pengisian (recharge area) terletak di daerah jajaran perbukitan dan Pegunungan Tilongkabila. Sementara daerah pelepasan (discharge area) didataran Cekungan Gorontalo. Airtanah mengalir dominan melalui ruang antar butir (porositas) dan sebagiannya melalui celah maupun rekahan. Berdasarkan data geologi dan hidrogeologi, akuifer bebas tersebar dari intermediate slope hingga plains. Muka airtanah semakin dalam kearah selatan atau bagian tengah cekungan mengikuti ketinggian topografi. Airtanah di daerah Cekungan Gorontalo pada umumnya tersimpan pada endapan alluvium. Depth (m) Arah Aliran airtanah Kontur airtanah KOTA GORONTALO Gambar 16.Peta aliran airtanah 4.5 Interpretasi Sistem Hidrogeologi CAT Gorontalo Berdasarkan analisis data geolistrik resistivitas sounding konfigurasi Schlumberger maka kurva yang didapatkan sebagai berikut :

BAB 5. POTENSI HASIL Gambar 17. Kurva resistivity saounding titik 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 & 8 Dari kurva diatas maka setiap titik sounding dapat ditentukan jenis lapisan batuan berdasarkan nilai tahan jenis serta kedalamnya. Penampang geolistrik 1 terdiri dari gabungan antara titik 5, titik 1, titik 7, penampang geolistrik 2 gabungan antara titik 6, titik 2, titik 7 dan penampang geolistrik 3 gabungan antara titik 5, titik 4, titik 3, titik 8. Korelasi dari setiap penampang dapat dilihat dari penampang pada gambar 18. Berdasarkan penampang geolistrik 1, kedalaman 1,3 m sampai 62,3 m terdapat zona akuifer bebas pada litologi pasirlempungan (titik 1) dan kerikilpasiran (titik 7) tetapi pada titik 5 tidak terdapat zona akuifer karena tersusun atas litologi granit. Penampang geolistrik 2, kedalaman 2,13 m sampai 62,3m terdapat zona akuifer bebas pada litologi pasirlempungan (titik 2) dan kerikilpasiran (titik 7) dan pada titik 6 terdapat zona akuifer bebas yang mengalir melalu porositas sekunder pada litologi batugamping dengan kedalaman 2 m sampai 30 m. Penampang geolistrik 3, kedalaman 5,3 m sampai 32,7 m terdapat zona akuifer

bebas pada litologi batulempung, batupasir, dan pasirlempungan tetapi pada litologi granit tidak terdapat zona akuifer. Gambar 18. Penampang Geolistrik 1,2 dan 3

Berdasarkan hasil penampang geolistrik 1, 2 dan 3 maka dapat dibuat interpolasi seluruh titik sounding dengan menggunakan Softwere Surfer 11 yang menggambarkan litologi bahwa permukaan sehingga menghasilkan peta model 3 D akuifer Kota Gorontalo. Bentuk lahan Perbukitan Kota Gorontalo Bentuk lahan Pedataran Gambar 19. Model 3 D konseptual lapisan akuifer Kota Gorontalo berdasarkan penampang geolistrik. 5. KESIMPULAN Berdasarkan studi geologi, hidrologi, dan geolistrik bahwa hasilnya sangat berkaitan erat. Satuan bentang alam pedataran mencirikan batuan endapan alluvium yang terdiri dari lempung, pasir,pasirlempungan dan kerikilpasiran yang merupakan indikasi bahwa airtanah dangkal (lapisan akuifer bebas) dan satuan bentang alam perbukitan mencirikan batuan yang lebih resisten berupa granit dan batugamping. Aliran airtanah pada daerah peneltian merupakan pengisian airtanah dari bagian utara yang terkumpul tepat di tengah wilayah Kota Gorontalo. DAFTAR PUSTAKA Azhar, Gunawan Handayani,2004. Penerapan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger untuk Menentukan Tahanan Jenis Batubara. Institut Teknologi Bandung (ITB). Bandung. Bayu A. Sadjab, As ari, Tanauma A. 2012. Pemetaan Akuifer Air Tanah Disekitar Candi Prambanan Kabupaten Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta Dengan Menggunakan Metode Geolistrik Tahanan Jenis. UNSRAT. Manado. Badan Geologi. 2013. Peta Cekungan air tanah Provinsi Gorontalo. Bahri, 2005. Hand Out mata Kuliah Geofisika Lingkungan dengan topik Metode Geolistrik Resistivitas, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITS, Surabaya. Gregory, K.J. and Walling, D.E. 1973. Drainage Basin Form and Process. Fletcher and Son Ltd. Norwich. Nurliana L, Widodo. L E. 2009. Potensi Imbuhan dan Imbuhan Airtanah Cekungan Airtanah Bandung. ITB, Bandung Puradimaja D.J.2006. Hidrogeologi kawasan gunungapi dan karst di Indonesia. ITB. Bandung Purnama Ig. S, Sulwasono B.2006. Pemanfaatan Teknik Geolistrik untuk mendeteksi persebaran airtanah asin pada akuifer bebas dikota surabaya. UGM. Jogyakarta S. Bahcri, T. Pandi, Sukido dan N. Raman serta, 1997. Peta Geologi Regional Lembar tilamuta dan Lembar Kotamubagu, Sulawesi Telford, W. M., Geldart, L. P., dan Sherif, R. E., 1990. Applied Geophysics, Cambridge University Press, New York. Todd, D.K, 1980. Groundwater Hydrology. John Wiley & Sons, New York. Verstappen, H.Th and Van Zuidam, R.A.1968. System of Geomorphological Survey. ITC. Delf.