PERBEDAAN TERAPI MICRO WAVE DIATHERMY

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. menentukan karakter atau cirikas dari orang satu dan orang lainya. Isi hati

Disusun oleh: RUSTRIA IKA PURWANINGSIH J Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Modern ini banyak masyarakat menggunakan alat transportasi

PROSES ASUHAN FISIOTERAPI PADA KONDISI BELL S PALSY SINISTRA DI RSAL. DR.RAMELAN SURABAYA

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI BELLS PALSY DEXTRA DENGAN

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA BELLS PALSY DEXTRA DI RSAL. DR.RAMELAN SURABAYA

DEWI TRI MAULITA J

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI BELL S PALSY DEXTRA DI RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN

A. Latar Belakang Masalah. diketahui,tanpa adanya kelainan neurologic lain. Pada sebagian besar

PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN MWD DAN LATIHAN ISOMETRIK QUADRISEP DENGAN TENS DAN LATIHAN ISOMETRIK QUADRISEP TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA OA LUTUT

PENATALAKSANAAN SHORT WAVE DIATHERMY DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU DEXTRA DI RSOP dr. SOEHARSO SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual

Definisi Bell s palsy

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI CAPSULITIS ADHESIVA DEXTRA DENGAN MODALITAS SHORT WAVE DIATHERMI DAN TERAPI LATIHAN DI RSUD SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dimana dijumpai beraneka ragam jenis keluhan antara lain gangguan neuromuskular,

BAB I PENDAHULUAN. gangguan peredaran darah otak yang tejadi secara mendadak dan. menimbulkan gejala sesuai daerah otak yang terganggu (Bustaman MN,

BAB I PENDAHULUAN. Cita cita bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam. pembukaan Undang Undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa

MANFAAT TERAPI MANIPULASI SARAF FASIALIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL OTOT-OTOT WAJAH PADA PENDERITA BELL S PALSY

BAB I PENDAHULUAN. merupakan keadaan dinamis dan dapat ditingkatkan sehingga manusia dapat

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELLS PALSY SINISTRA DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA KARYA TULIS ILMIAH

PENGGUNAAN & EFEK LISTRIK PADA PERMUKAAN TUBUH. Arif Yachya

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis

BAB I PENDAHULUAN. lain olahraga dan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari. Dalam olahraga

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009,

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL SPALSYDEXTRA

BAB ² PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah

BAB I PENDAHULUAN. yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini

BEDA PENGARUH TERAPI INFRA RED DENGAN PARAFFIN BATH TERHADAP PENGURANGAN NYERI AKIBAT REMATOID ARTRITIS JARI-JARI TANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan. kemajuan teknologi saat ini, diharapkan dapat mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit paru-paru merupakan suatu masalah kesehatan di Indonesia, salah

PENGARUH PENAMBAHAN MANIPULASI SARAF FASIALIS PADA TERAPI LATIHAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL BELL S PALSY SKRIPSI NASKAH PUBLIKASI

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU BILATERAL DENGAN MODALITAS MICROWAVE DIATHERMI DAN TERAPI LATIHAN DI RSUD SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang sangat banyak. cidera atau gangguan sendi yang cukup besar. (Kuntono 2003).

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KASUS HEMIPARESE POST STROKE NON HEMORAGE DEXTRA DI RSUD SRAGEN

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL S PALSY DI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS KNEE DEXTRA DI RSUD KOTA SRAGEN

Bell s palsy. Dr Nurdjaman Nurimaba Sp.S(K) Bagian Ilmu Penyakit Saraf FK UNPAD - RSHS

BAB I PENDAHULUAN. itu gerak dan fungsi dari sendi bahu harus dijaga kesehatannya. tersebut, salah satu diantaranya adalah frozen shoulder.

PARALISIS BELL. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan taraf hidup dan umur harapan hidup. Namun peningkatan umur

KARYA TULIS ILMIAH. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS KNEE SINISTRA DI RSAL Dr. RAMELAN SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. nyeri tak tertahankan, mempengaruhi tangan, punggung, leher, lengan, bahkan

PENATALAKSANAAN SINAR INFRA MERAH DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU BILATERAL DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam keluhan dan gangguan. Hal ini terjadi karena kurangnya

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI MICRO WAVE DIATHERMY DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU UNILATERAL

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL S PALSY DEXTRA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. sebesar 6,7% hingga 66,7%. Keluhan tentang keluhan bahu juga sering terjadi

BAB I PENDAHULUAN. organisme berbahaya dan bahan-bahan berbahaya lainnya yang terkandung di

BAB I PENDAHULUAN. memberikan prioritas pada upaya promotif dan preventif tanpa

BAB I PENDAHULUAN. klinis, histologist, dan radiologi. Penyakit ini bersifat asimetris, tidak ada

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CAPSULITIS ADHESIVA DEXTRA DI RUMKITAL dr. RAMELAN SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. atau permukaan rawan sendi. Karena tulang dikelilingi oleh struktur jaringan

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI CERVICAL ROOT SYNDROME DENGAN MODALITAS IR, & TERAPI LATIHAN DI RSAL Dr. RAMELAN SURABAYA

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL S PALSY DEXTRA DI RST dr. SOEDJONO MAGELANG

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan diarahkan guna mencapai kesadaran, kemauan

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN MIOGENIK DI RST. Dr. SOEJONO MAGELANG

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL S PALSY DEXTRA DI RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

PENGARUH TERAPI LATIHAN SETELAH PEMBERIAN TERAPI GABUNGAN ULTRASOUND DAN TENS PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS LUTUT KRONIS SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan upaya pengelolaan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mencapai hasil yang optimal. Upaya kesehatan yang semula dititikberatkan pada

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI LOW BACK PAIN ET CAUSA MYOGENIK DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Hasil Evaluasi Nyeri Tekan Menggunakan Skala VDS

Oleh: ARIF FI AM J KARYA TULIS ILMIAH

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: AYUDIA SEKAR PUTRI J

BAB I PENDAHULUAN. trauma, over use, repetitive injury, operasi pada sendi, hypertiroidisme,

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan peradaban manusia sudah semakin berkembang pesat di

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN SPONDYLOSIS LUMBALIS 4-5 DENGAN MWD ULTRA SOUND DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE DI RSUD SRAGEN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL. Pasien atas nama Ny.IA berumur 65 tahun yang mengeluh pergelangan

SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi. Diajukan Oleh: : LINA WULANINGSIH

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENGARUH SENAM KAKI DIABETIK TERHADAP NYERI KAKI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DELANGGU

BAB I PENDAHULUAN. umum dan untuk mencapai tujuan tersebut bangsa Indonesia melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan pembanguan adalah semakin

Oleh: NURUL SAKINAH J KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. jaman. Termasuk ilmu tentang kesehatan yang di dalamnya mencakup. manusia. Selama manusia hidup tidak pernah berhenti menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. sering terjadi di masyarakat. Nyeri punggung bawah sering dijumpai dalam

PENATALAKSANAAN INFRA MERAH, MASSAGE DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI POST ORIF CLOSED FRAKTUR ANTEBRACHII DEXTRA DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI BELL S PALSY SINISTRA DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang lebih modern masyarakat juga mengalami perubahan dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kronik di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Penelitian dilakukan selama 2 minggu.

BAB I PENDAHULUAN. untuk hiduplebih maju mengikuti perkembangan tersebut. Untuk memenuhi tuntutan

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL S PALSY SINISTRA DI RSU AISYIYAH PONOROGO

BAB I PENDAHULUAN. Osteoartritis (OA) penyakit sendi degeneratif atau artritis hipertropi.

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL S PALSY DEXTRA DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam studi kasus ini, seorang pasien perempuan dengan inisial Ny. NF

PERBEDAAN PENGARUH INTERVENSI SHORT WAVE DIATHERMY DAN TERAPI MANIPULASI DENGAN SHORT WAVE DIATHERMY DAN LATIHAN PENDULUM

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA DENGAN KETERLIBATAN DALAM MOBILISASI DINI PASIEN STROKE DI RSU ISLAM KUSTATI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. merupakan anggota gerak yang sering digunakan dalam aktifitas sehari-hari,

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. umumnya. Seseorang bisa kehilangan nyawanya hanya karena serangan

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyebab 40% kunjungan pasien berobat jalan terkait gejala. setiap tahunnya. Hasil survei Word Health Organization / WHO

Transkripsi:

PERBEDAAN TERAPI MICRO WAVE DIATHERMY DAN ARUS FARADIK DENGAN INFRA RED RADIATION DAN ARUS INTERUPTED DIRECT CURRENT PADA PENDERITA BELL S PALSY TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL WAJAH DI POLIKLINIK FISIOTERAPI RSUD Dr. H. MOH. ANWAR SUMENEP SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Derajat Sarjana D IV FISIOTERAPI Disusun Oleh NANANG HERU SUMARSONO J 110 080 029 FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bell s palsy merupakan salah satu bentuk kelumpuhan saraf fasialis perifer yang lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan kelumpuhan saraf kranialis yang lain. Kelumpuhan saraf fasialis menimbulkan kelainan bentuk wajah yang menyebabkan penderita sangat terganggu baik fungsional maupun kosmetik. Penyebab terjadinya belum diketahui dengan pasti, sampai sekarang masih banyak kontroversi mengenai bell s palsy ini. Penyakit bell s palsy ini menyerang pria sama banyaknya dengan wanita dan bisa menyerang semua usia, sering dijumpai pada usia 20 50 tahun (Hamid, 1991). Etiologi yang pasti belum diketahui, beberapa teori dikemukakan antara lain teori iskhemik vaskuler, teori virus, teori herediter dan teori immunologi. Secara patogenesis akan terjadi penekanan pada n. fasialis yang mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah. Kelumpuhan otot-otot wajah dapat berupa antara lain hilangnya kerut dahi, tidak dapat menutupnya kelopak mata, wajah menjadi asimetris baik waktu istirahat maupun waktu melakukan aktivitas, yang mana ini merupakan problema terutama bagi penderita wanita. Apalagi bila proses kesembuhan tidak berlangsung baik, maka akan timbul sequele berupa crocodile tears phenomena, hemifasial spasme, efifora dan ini mengakibatkan penderita menjadi malu dan menarik diri dari pergaulan. Hal ini bisa membuat penderita 1

2 mengalami kegelisahan dan depresi sehingga timbul problem sosial medik dan psikis. Dalam proses penyembuhannya beberapa faktor dapat mempengaruhi seperti umur penderita, penyakit penyakit yang menyertai antara lain diabetes melitus, hipertensi, derajat kelumpuhan sehingga ada yang bisa sembuh dengan baik ada yang tidak. Adanya mereka yang tidak sembuh dengan baik tentunya dapat menimbulkan problem sosial dan psikis. Data statistik RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep di poli fisioterapi pada bulan Januari hingga bulan Juli 2009 penderita bell s palsy mengalami peningkatan antara 5% s/d 15% tiap bulannya. Pada bulan Juli 2009, penderita bell s palsy menempati urutan ke dua sesudah stroke dari 10 penyakit terbanyak. Penanganan bell s palsy di poli fisioterapi RSUD Sumenep menggunakan modalitas micro wave diathermy, infra red radiation, arus faradik maupun arus interupted direct current pada sisi wajah yang sakit. Untuk dapat menentukan metode penanganan fisioterapi yang efektif dan efisien, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan fungsional wajah dengan menggunakan skala Ugo fisch sebelum dilakukan terapi micro wave diathermy dan arus faradik maupun terapi infra red radiation dan arus interupted direct current. Micro wave diathermy adalah aplikasi energi elektromagnetik 2450 MHz yang dihasilkan oleh arus bolak balik frekuensi tinggi dengan metoda kumparan dengan aplikator circuplode, yaitu aplikator yang menggunakan kumparan yang diletakan dalam pembungkus isolator, yang bertujuan untuk mempercepat proses penyerapan untuk mengurangi peradangan pada foramen stylomastoideus. Energi

3 elektromagnetik dari micro wave diathermy yang diserap oleh jaringan menimbulkan produksi panas, sehingga meningkatkan metabolisme sel-sel lokal ±13% tiap kenaikan temperatur 1 C. Energi panas yang dihasilkan oleh micro wave diathermy dapat memberikan efek vasodilatasi pada pembuluh darah, dan adanya vasodilatasi pada pembuluh darah maka sirkulasi darah setempat akan meningkat. Arus faradik adalah arus bolak balik yang tidak simetris yang mempunyai durasi 0,01 1 ms dengan frekuensi 50 100 cy/detik yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot wajah, hal ini dikarenakan adanya impuls pada motor neuron yang menyebabkan terjadinya aksi potensial yang menimbulkan kontraksi otot yang innervasi. Dengan adanya kontraksi otot yang berulang-ulang maka kekuatan otot wajah diharapkan akan meningkat dan sifat fisiologis otot tetap terpelihara terutama elastisitasnya sehingga dapat mencegah komplikasi lebih lanjut. Sinar infra merah merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 4000 7700 Å. Kedalaman penetrasi adalah 1 10 mm. Tujuan utama terapi infra red radiation pada penderita bell s palsy adalah untuk menimbulkan vasodilatasi yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan darah ke jaringan setempat, dapat juga menaikkan suhu/temperatur jaringan, sehingga dengan demikian bisa menghilangkan spasme otot dan membuat otot relaksasi disamping dapat mengurangi rasa nyeri. Interupted direct current adalah arus searah terputus-putus yang merupakan modifikasi dari arus searah menetap yang diputus-putus dengan

4 frekuensi dan durasi tertentu. Dengan bentuk pemutusannya berupa rektanguler, berdurasi 0,01-1000 ms dan frekuensi 50 100 Hz, yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot wajah, hal ini dikarenakan adanya impuls pada motor neuron yang menyebabkan terjadinya aksi potensial yang menimbulkan kontraksi otot yang innervasi. Dengan adanya kontraksi otot yang berulang-ulang maka kekuatan otot wajah diharapkan akan meningkat dan sifat fisiologis otot tetap terpelihara terutama elastisitasnya sehingga dapat mencegah komplikasi lebih lanjut. Untuk dapat menentukan metode penanganan fisioterapi yang efektif dan efisien, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan fungsional wajah dengan menggunakan Skala Ugo fisch, adalah untuk mengevaluasi kemajuan motorik penderita bell s palsy. Ugo fisch menilai kondisi simetris asimetris antara sisi sakit dengan sisi sehat wajah pada 5 posisi berbeda yaitu : pada saat istirahat, pada saat mengkerutkan dahi, pada saat menutup mata, pada saat tersenyum dan pada saat mecucu atau bersiul. Pada posisi-posisi tersebut dinilai simetri atau tidaknya, dan dinilai pula taksiran kembalinya fungsi otot wajah. Dilatar belakangi oleh hal tersebut, maka penulis tertarik mencoba untuk meneliti tentang Perbedaan terapi micro wave diathermy dan arus faradic dengan infra red radiation dan arus interupted direct current pada penderita bell s palsy terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah di poliklinik fisioterapi RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

5 B. Identifikasi Masalah Bell s palsy merupakan gangguan nervus fasialis yang bersifat akut, perifer, idiopatik dan umumnya unilateral (Hamid, 1991). Biasanya penderita mengeluh mulutnya mencong kesalah satu sisi, berkumur kumur bocor kesisi yang sakit, dan tidak mampu memejamkan mata dengan rapat, sehingga penderita bell s palsy mendapatkan permasalahan antara lain : 1. Kelemahan otot otot wajah 2. Potensial terjadinya kontraktur otot wajah serta perlengketan jaringan 3. Gangguan aktifitas sehari hari karena adanya perasaan kurang percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Terapi micro wave diathermy yang dikombinasikan dengan arus faradik akan memberikan solusi yang pertama untuk mengurangi peradangan pada foramen stylomastoideus, memperbaiki konduktivitas saraf serta me-reedukasi fungsi otot sehingga terjadi peningkatan kemampuan fungsional wajah, sedangkan solusi yang kedua adalah terapi infra red radiation yang dikombinasikan dengan arus interupted direct current yang bertujuan untuk meningkatkan peredaran darah superficial, mengurangi spasme otot, mengurangi rasa nyeri sehingga terjadi peningkatan kemampuan fungsional wajah. Namun perlu diingat pula bahwa suatu keberhasilan terapi ditentukan pula oleh sikap penderita itu sendiri, oleh karena itu kerjasama yang baik antara fisioterapis dan penderita sangat diharapkan.

6 C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah ada pengaruh terapi micro wave diathermy dan arus faradik tehadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy? 2. Apakah ada pengaruh terapi infra red radiation dan arus interupted direct current terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada bell s palsy? 3. Apakah ada perbedaan pengaruh terapi micro wave diathermy dan arus faradic dengan infra red radiation dan arus interupted direct current terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy? 4. Apakah ada faktor faktor yang berpengaruh terhadap perbaikan peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy? D. Pembatasan Masalah Karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya penelitian ini membatasi masalah pada pengukuran derajat peningkatan kemampuan fungsional wajah berdasarkan metode penilaian Ugo fisch, pada penderita bell s palsy menggunakan modalitas micro wave diathermy dan arus faradic dengan infra red radiation dan arus interupted direct current.

7 E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh terapi micro wave diatermy dan arus faradic dengan terapi infra red radiation dan arus interupted direct current terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui pengaruh terapi micro wave diathermy dan arus faradik terhadap peningkatan fungsional wajah pada penderita bell s palsy b. Mengetahui pengaruh terapi infra red radiation dan arus interupted direct current terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy c. Mengetahui perbedaan pengaruh terapi micro wave diathermy dan arus faradik dengan infra red radiation dan arus interupted direct current terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy. d. Mengetahui faktor faktor yang berpengaruh terhadap perbaikan peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy?

8 F. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Merangsang peneliti untuk memperkaya wawasan dalam melaksanakan dan mengadakan serta mengembangkan penelitian yang lebih luas di masa yang akan datang. 2. Bagi Pengetahuan Ilmiah a. Memberikan dasar kepercayaan (evidence base) dari sebuah penelitian dalam penanganan fisioterapi menggunakan terapi micro wave diathermy dan arus faradik dengan infra red radiatian dan arus interupted direct current pada penderata bell s palsy b. Dapat memberikan gambaran tentang perbedaan pengaruh terapi micro wave diathermy dan arus faradik dengan infra red radiation dan arus interupted direct current terhadap peningkatan kemampuan fungsional wajah pada penderita bell s palsy 3. Bagi institusi pelayanan kesehatan a. Sebagai masukan bagi semua fisioterapis, untuk memberikan intervensi micro wave diathermy dan arus faradik atau infra red radiation dan arus interupted direct current secara tepat sesuai dengan proses penyembuhan penekanan saraf perifer b. Digunakan untuk mengembangkan dan mensosialisasikan pemberian terapi micro wave diathermy dan arus faradic atau infra red radiation dan arus interupted direct current pada penderita bell s palsy.