'Iedul Adha Vs 'Iedul Kuffar Natal, Idul Adha, dan Tahun Baru masehi. Pada tahun ini ketiga hari raya tersebut jatuh dalam waktu yang sangat berdekatan. Tetapi sepertinya idul Adha kalah gaungnya dibandingkan dua hari raya kafir tersebut, walaupun lebih dari 80% penduduk negeri ini ber-ktp Islam. Hampir semua hiasan jalan, pasar, dan media masa, serta acara televisi penuh sesak dengan pernak-pernik dua hari raya kafir tersebut. Mulai dari spanduk, penjual kembang api & Terompet, dan lagu-lagu dan kisah-kisah yang berkaitan dengan acara kaum kafir tersebut. Sedangkan Idul Adha, tampak adem-adem saja, kecuali para penjaja hewan qurban, di pinggir-pinggir jalan dan didekat masjid-masjid yang sibuk dengan niaganya. Di berbagai tempat orang-orang (mayoritas muslim) sibuk membicarakan tentang acara apa yang akan mereka adakan untuk menyambut pergantian tahun, tetapi mereka lupa atau pura-pura lupa tentang persiapan hewan qurban mereka. Bahkan ada diantara kaum muslimin yang tidak sadar akan datangnya 'Iedul Adha, tetapi malah sibuk membeli terompet dan kembang api demi merayakan pergantian tahun kafir ini. Ini adalah suatu fenomena yang ada didepan mata kita. Ironis dan menyayat hati yang melukai kemurnian aqidah kita sebagai seorang muslim, REALITA YANG MENYEDIHKAN Apa yang tersirat diatas adalah suatu kenyataan yang sangat menyedihkan. Ternyata memang banyak kaum muslimin yang lebih perduli dengan hari raya orang kafir dibandingkan hari raya mereka sendiri. Malam Tahun baru mereka kompak iuran dengan dana yang tidak sedikit untuk berbagai acara, sementara untuk membeli seekor hewan qurban mereka berat melaksanakannya. Seolah hari Raya 'Iedul Adha hanya milik para pengurus masjid saja. Akbat derasnya propaganda pluralisme, yang siang malam tiada hentinya mencekoki kaum muslimin, maka banyak diantara kaum muslimin yang menganggap remeh akan hal ini. Sehingga banyak dari kaum muslimin yang ikut-ikutan dalam merayakan hari raya orang kafir atau cuma sekedar memberi ucapan selamat. Aqidah ummat ini makin rusak tatkala ada tokoh masyarakat dan orang yang dianggap alim, yang mengatakan bahwa hal ini adalah sah-sah saja dan tidak mengapa, bahkan tidak segan-segan mereka malah berani datang di majelis perayaan mereka. Sehingga ini menjadi dalih bagi orang awam untuk ikut-ikutan. Padahal ikut merayakan hari raya orang kafir atau hanya sekedar mengucapkan selamat adalah merupakan salah satu dosa besar. Rasulullah bersabda: 1 P a g e
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia (termasuk bagian) dari mereka" (Riwayat Abu Dawud Dengan sanad shahih) Akan tetapi saat ini dosa besar ini seolah telah dianggap biasa. Dikatakan biasa karena banyak orang yang memakluminya ketika ada yang terperosok didalamnya. Bahkan lebih parah lagi tatkala kemaksiatan ini sudah dianggap bukanlah suatu kedzaliman. Akan tetapi, ketika ada orang yang mengingatkan akan hal ini, justru mereka dituduh dengan tuduhan-tuduhan miring. Seperti; Ekstrim, foundamentalis, dan gelar buruk lainnya. Kebiasaan kita berlatah dengan mengucapkan selamat kepada orang diluar Islam (kaffar) pada hari besarnya adalah suatu kedzaliman besar, bahkan masuk dalam kedzaliman aqidah. Kedzaliman yang lazim ini memberikan tafsiran bahwa kita masih mengakui adanya agama lain yang diridhoi Allah selain Islam. Harusnya kita berkeyakinan bahwa sesungguhnya keselamatan tidak akan pernah menaungi kepada siapapun yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, sehingga mereka kembali ber-islam. Jadi siapapun yang berada diluar Islam, maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, lalu mengapa kita masih mengucapkan selamat pada hari raya mereka,...?. Karena mengucap selamat berarti kita ridho dan yakin akan keberadaan agama mereka. Adalah Rasulullah pernah bersabda: 2 P a g e Demi Allah yang jiwa Muhammad berada ditangannya, setiap orang yang telah mendengar risalahku, baik ia Yahudi atau Nashrani, kemudian ia mati tanpa beriman dengan Risalahku itu, maka dia pasti masuk neraka.(hr. Muslim,Dari Abu Hurairah ) HARI RAYA DI DALAM ISLAM Hari raya atau yang sering kita sebut dengan 'ied secara lughoh bermakna kembali. Secara istilah bermakna hari yang diramaikan, karena untuk mengenang sesuatu yang mulia atau dicintai. (Al Mu'jamul wasith hal 635) Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata; "'Ied adalah nama suatu hari atau tempat yang mereka tentukan untuk brkumpul dengan acara tertentu, dan juga nama setiap amalan yang mereka adakan di tempat dan waktu itu. Sebenarnya hal itu tidak dilarang, akan tetapi menjadi haram karena memuliakan hari atau waktu yang tidak disyari'atkan, dan disertai dengan amalan yang dibuat-buat" (Muhadzab Iqtidha' 4/635)
Dalam Islam 'Ied atau hari raya hanya ada dua macam, yaitu 'Iedul Adha dan 'Iedul Fithri. Dan selainnya maka bukan termasuk hari raya ummat Islam, walaupun tampaknya seolah seperti Islamy. Maka kita tidak boleh melakukan perayaan selain dua hari raya tersebut, walaupun kita lakukan dengan niat yang baik. Tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan Nabi dan para shahabatnya melakukan perayaan selain dua hari raya tersebut. Juga tidak ada salah satu diantara empat imam Madzab yang merayakan selain dua hari raya tersebut. Rasulullah adalah sebaik-baik teladan, dan para sahabat adalah sebaik-baik ummat. Perayaan selain dua hari raya tersebut merupakan sikap takabur, karena seandainya perbuatan itu baik, niscaya mereka (para shahabat ) telah lebih dahulu melakukannya. Rasulullah bersabda: "Rasulullah datang ke Madinah, sedangkan penduduk madinah waktu itu mempunyai dua hari raya yang mereka bersenang-senang pada hari itu. Lalu Rasulullah bertanya; "Ada apa dua hari ini?". Mereka menjawab; " Kami biasa bermain-main pada dua hari itu pada jaman jahiliyah". Rasulullah bersabda; "sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian hari ini dengan hari yang lebih baik, yaitu 'Iedul Adha dan 'iedul fithri" (Riwayat Abu Dawud, dari Anas bin Malik, dengan sanad shahih) Ibnu Taimiyah berkata; "Adapun pengambilan dalil dari hadits ini, adalah dua hari yang diramaikan orang-orang jahiliyah itu tidak ditetapkan oleh Rasulullah. Beliau juga tidak membiarkan bersenangsenang pada hari itu. Tetapi beliau memberikan gantinya dengan dua hari raya Islam ('Iedul Adha dan 'Iedul Fithri). Maka dengan istilah "ganti" berarti sesuatu yang harus dibuang, sebagaimana firman-nya : 3 P a g e "Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr" (Saba' : 16) Maka dengan hujjah diatas menjadi jelas bahwa mengadakan perayaan selain yang telah ditentukan dalam dienul Islam adalah haram hukumnya (Iqtidha' Shirathal Mustaqim) Demikianlah kita dilarang mengadakan perayaan-perayaan selain dua hari yaya Islam. Walaupun perayaan itu nampaknya bernuansa Islam.
Maka untuk perayaan hari raya orang kafir maka tentu larangan ini lebih tegas. SIKAP MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG KAFIR Tentang pembahasan ini berikut kami sampaikan fatwa dari Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi Arabia berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir. Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah: Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperingatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya. Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar'i seperti: Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbol-simbol keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasanya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri. Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka.ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari besar atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir seperti candi-candi atau negeri-negeri yang dianggap suci, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya. Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yang jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain: 4 P a g e
Pertama, Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan. Kedua, Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa. Ketiga, Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan. Ini sebagaimana yang difirmankan Allah, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orangorang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (Al Maaidah :51) Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut.karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah.Dia telah melarang kita untuk tolongmenolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah, "Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-nya." ( Al Maaidah :2) Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka. 5 P a g e
Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah,memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain. Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka.berkaitan dengan ini Ibnul Qayim Rahimahullah pernah berkata, "Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati keharamannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, "Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjerumus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kepada peminum khamr, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid'ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah ". Demikian ucapan beliau Rahimahullah! Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat, sebisa mungkin kita pertahan kan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah lebih dari 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu. Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatnya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong. (Disarikan dari: Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000. Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al- 6 P a g e
Ghadyan, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syakh Shalih bin Fauzan Al Fauzan.) HUKUM - HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN QURBAN Pengertian & Hukum Qurban Qurban adalah binatang ternak yang disembelih pada hari 'Iedul Adha,dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah 7 P a g e Berqurban merupakan salah satu syi'ar Islam yang disyari'atkan. Allah berfirman: "Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berqurbanlah" (Al Kautsar : 2) Rasulullah telah bersabda: "Barangsiapa yang memiliki kelapangan harta, tetapi ia tidak menyembelih qurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami" (Riwayat Ahmad 1/321,Ibnu Majah 3123, dari Abu Hurairah dengan sanad hasan) "Nabi tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan selalu berqurban"(riwayat Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad hasan) Berqurban lebih utama dari pada bersedekah senilai harga hewan qurban. Nabi dan para sahabat berqurban. Tetapi para 'ulama berbeda pendapat tentang hukum qurban ini, Sebagian 'ulama ada yang menyatakan hukumnya wajib. Tetapi Sebagian besar 'ulama menyatakan Sunnah muakadah, inilah pendapat yang rajih (wallahu a'lam). Tetapi realita saat ini banyak kaum muslimin yang melalaikan syari at qurban padahal ia memiliki kemampuan. Hadits diatas juga menunjukan bahwa Nabi selalu berqurban tiap tahun. Ini menunjukan bahwa qurban dilaksanakan tiap tahun bagi yang mampu melaksanakannya. Bukan sekali seumur hidup sebagaimana yang dipahami sebagian kaum muslimin. Kepada Siapa Qurban Disyari'atkan? Hukum asal qurban adalah disyari'atkan untuk orang-orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya berqurban. Adapun hukum qurban untuk orang yang telah meninggal ada tiga macam: a. Meniatkan agar orang yang sudah meninggal mendapatkan pahala berqurban bersama dengan orang yang masih hidup.
Sebagai misal, ada seseorang yang berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Orang tersebut meniatkan bahwa keluarga yang dimaksud mencakup yang masih hidup dan sudah meninggal. Hal ini diperbolehkan, dengan dasar sembelihan qurban Nabi untuk diri dan ahli baitnya, dan diantara mereka ada yang telah meninggal sebelumnya. Beliau bersabda: "Ini adalah dariku (Qurbanku) dan (Qurban) siapa saja dari ummatku yang belum berqurban" (Riwayat Abu Dawud II/86, Tirmidzi, dengan sanad shahih) b. Berqurban untuk orang yang telah mati untuk melaksanakan wasiatnya. Hal ini wajib dilakukan oleh penerima wasiat. Allah berfirman: "Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Al Baqarah :181) c. Berqurban secara khusus untuk orang yang telah meninggal. Hal ini tidak diperbolehkan,karena mengkhususkan qurban untuk orang yang telah meninggal tidak pernah dicontohkan Nabi, karena Nabi tidak pernah berqurban secara khusus untuk keluarganya yang telah meninggal. Beliau tidak menyembelih qurban untuk Hamzah,pamanya yang paling dicintai, Kadhijah istri beliau. Selain itu tidak ada suatu riwayat yang menyatakan para sahabat melakukan hal ini. Waktu Berqurban Waktu menyembelih qurban adalah setelah selesai shalat 'Iedul adha yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, inilah waktu yang paling utama; Nabi bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali kita kerjakan pada hari ini adalah Shalat, kemudian kita akan kembali. Lalu kita akan menyembelih qurban. Maka barangsiapa yang mengerjakan ini, maka sesungguhnya dia telah menetapi sunnah kita, dan barangsiapa yang telah menyembelih (sebelum shalat 'Ied) maka itu adalah daging (sembelihan biasa) yang dia berikan untuk keluarganya, dan tidak termasuk qurban sedikitpun" (Riwayat Bukhari-Muslim, dari barra' bin 'Azib ) 8 P a g e
Diperbolehkan juga mengakhirkan penyembelihan pada hari-hari tasyriq (yaitu tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), karena Rasulullah bersabda: "Dan tiap-tiap hari tasyriq ada penyembelihan" (Riwayat Ahmad IV/8, Baihaqi V/295, Ibnu Hibban 3854, dari Jubair bin Muth'im dengan sanad Hasan) Satu Hewan Qurban Bisa Untuk Satu Keluarga Terkadang saat ini banyak kaum muslimin yang salah dalam hal ini. Mereka meniatkan qurban satu hewan untuk satu orang. Misalnya; tahun ini satu kambing untuk suami, kemudian tahun depan satu kambing lagi, untuk istri, untuk anaknya, dan demikian seterusnya. Padahal seekor kambing cukup untuk satu orang dan keluarganya. Seekor sapi dan onta mencukupi buat tujuh orang dan keluarga mereka sehingga bisa untuk bersekutu. Dikatakan oleh Atha bin Yasar; aku bertanya kepada Ayyub Al Anshari : Bagaimana hewan-hewan qurban dimasa Rasulullah? Dia menjawab; Adalah seorang pria berqurban untuk dirinya dan untuk keluarganya (Riwayat Tirmidzi (1565), dengan sanad hasan) Kriteria Binatang Qurban 1. Sifat binatang qurban Sebaik-baik binatang qurban adalah yang sehat, gemuk, besar dan bagus. Allah berfirman: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`arsyi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati" (Al Hajj: 32) Ibnu Katsir Rahimahullah berkata;"syi'ar-syi'ar adalah perintah-perintah- Nya. (Mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, termasuk ketaqwaan hati), diantaranya adalah membesarkan binatang-binatang yang diqurbankan di Makkah dan (membesarkan) al budn(onta atau sapi yang digemukan untuk berqurban). Ibnu 'Abbas berkata;"yaitu menggemukan, membaguskan, dan membesarkan" 2. Sapi/onta bisa untuk berserikat tujuh orang 9 P a g e
Seekor sapi atau unta bisa digunakan berqurban untuk tujuh orang. Hal ini berdasar sebuah hadits: 10 P a g e "Kami berqurban bersama Nabi pada waktu Hudaibiyah, satu ekor Onta untuk tujuh orang dan satu ekor sapi untuk tujuh orang"(riwayat Muslim 350, dari Jabir bin 'Abdullah ) Realita yang bisa kita lihat disekitar kita sungguh aneh. Ada suatu instansi/lembaga/ sekolah yang mengadakan iuran qurban. Yaitu dengan cara iuran sejumlah uang, yang kemudian dibelikan sapi/kambing untuk qurban satu sekolahan/instansi. Ini jelas menyelisihi syari'at. Hadits diatas telah sangat jelas bahwa satu sapi/onta hanya bisa digunakan qurban untuk tujuh orang, tidak boleh melebihinya.sedangkan "ibadah Qurban" mereka ini, satu sapi atau kambing untuk puluhan atau bahkan ratusan orang. Ini jelas menyelisihi syari'at dan tidak bisa dinamakan qurban. Atau dengan kata lain qurban dengan model seperti ini adalah tidak sah. Mereka beralasan bahwa ini sebagai media berlatih bagi anak-anak sekolah. Namun tujuan yang mulia ini bukan berarti boleh dicapai dengan cara yang tidak benar. Mungkin ada cara lain yang bisa dijadikan sebagai solusi. Yaitu memotifasi anak-anak sekolah untuk menabung. Kemudian apabila tabungan nya telah mencukupi untuk dibelikan binatang qurban, maka anak tersebut melaksanakannya, dan bila belum cukup, maka menunggunya sampai mencukupi. Jelas cara ini lebih syar'i dan lebih mendidik. 3. Binatang Yang tidak boleh untuk Qurban Rasulullah telah bersabda:., : Empat binatang yang tidak boleh untuk berqurban: Hewan yang buta sebelah matanya, yang jelas-jelas kebutaannya, yang sakit, yang jelasjelas sakitnya, yang pincang, yang jelas-jelas pincangnya, dan yang tua yang tidak bersumsum, "Pada lafadz yang lain: dan yang patah (tulangnya)" (Riwayat Ahmad, Tirmidzi, dari Barra bin 'Azib, lihat irwa'ul ghalil 4/361) "Dari Ali berkata: Rasulullah memerintahkan kami supaya kami meneliti mata dan telinganya (hewan qurban, kalau-kalau ada cacatnya), dan supaya kami tidak berqurban dengan (binatang) yang buta sebelah, dengan (binatang) muqaabalah,mudaabarah, kharqaa'
dan tsarmaa" (Riwayat, Ahmad, Tirmidzi, dan Abu dawud, dengan sanad shahih) Maka binatang yang tidak boleh digunakan untuk qurban adalah: Yang buta sebelah matanya, yang jelas-jelas kebutaannya. Yang sakit, yang jelas-jelas sakitnya. Yang pincang, yang jelas-jelas pncangnya. Yang tua, yang tidak bersumsum. Yang patah tulangnya. Muqaabalah; yaitu ujung telinganya dipotong sedikit dan dibiarkan menggelantung. Mudaabarah; yaitu pangkal telinganya dipotong sedikit dan dibiarkan menggelantung. Kharqaa; yaitu yang robek telinganya. Tsarmaa'; yaitu yang telah tanggal (ompong) gigi serinya. Larangan bagi orang Yang Hendak Berqurban Jika Telah masuk bulan Dzulhijah, maka yang harus dijauhi oleh orang yang hendak berqurban untuk memotong rambut, kuku, serta kulitnya meskipun hanya sedikit, hingga ia selesai melaksanakan penyembelihan qurban. Hal ini berdasar hadits Ummu Salamah, Nabi bersabda: :- - 11 P a g e Jika kalian melihat hilal Dzulhijah (dalam lafadz lain: telah tiba sepuluh awal Dzulhijah) dan salah satu kalian ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan (tidak memotong) rambut dan kukunya (Riwayat Muslim dan Ahmad) Dalam lafadz lain: Maka janganlah ia mengambil rambut dan kulitnya sedikitpun Hukum ini hanya berlaku untuk orang yang berqurban, dan hukum ini berkaitan dengan orang yang berqurban, karena Nabi menyatakan; Dan salah satu kalian ingin berqurban, Nabi tidak menyatakan; Ingin berqurban untuknya. Nabi juga berqurban untuk keluarganya dan tidak ada keterangan beliau juga memerintahkan yang demikian pada keluarganya. Maka bagi keluarga yang berqurban boleh ia memotong rambut, kuku dan kulitnya. Jika ada orang yang melanggar hal ini maka kewajibannya hanya bertaubat kepada Allah dan berniat untuk tidak mengulanginya, tidak
ada kaffarat baginya. Memberi Tanda Hewan Qurban Termasuk sunnah Rasulullah adalah memberi tanda hewan qurban kita. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits: : Ketika mensyarah hadits diatas Ibnu Hajar Rahimahullah berkata;"para 'ulama berbeda pendapat mengenai jumlah terompah (sandal) yang dikalungkan, satu buah sandal saja atau sepasang (dua buah) sandal. Yang paling rajih adalah pendapat Ibnul Munir Rahimahullah, yaitu dua buah (sepasang) teompah (sandal)" (Al Fath IV/370) 12 P a g e "Dari 'Aisyah ; "Aku pernah memintal tali (kalung) untuk Nabi, maka Nabi mengalungi kambing (qurbannya), kemudian beliau berdiam pada keluarganya, sebagai tanda telah halal" (Riwayat Bukhari) "Dari 'Aisyah : "Aku telah memintal untuk (hewan) qurban Nabi yaitu kalung sebelum beliau berikhram" (Riwayat Bukhari) Dari kedua hadits diatas telah jelas bahwa kita disunnahkan untuk memberi tanda hewan qurban kita dengan kalung. Kalung yang dimaksud adalah memberi kalung pada hewan qurban kita dan digantungi terompah (sandal) pada kalungnya. Ini adalah sunnah yang telah dilaksanakan oleh Nabi dan para sahabatnya, namun sangat disayangkan ini sudah di lalaikan oleh sebagian besar orang. Bahkan ketika ada seseorang yang mengalungi hewan qurbannya dengan sandal (terompah) malah dianggap aneh atau asing. Mengenai mengalungi hewan qurban dengan sandal, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:. :,() : :,() : "Bahwasanya Nabi melihat seorang laki-laki menuntun badanah (hewan qurban). Nabi bersabda; "Naikilah!" Orang tersebut menjawab;" Sesungguhnya ini adalah badanah", (Nabi ) bersabda; "Naikilah!". Dia (Abu Hurairah ) berkata; "Sungguh aku melihat lakilaki itu naik badanah mengiringi Nabi, sedangkan terompah ada pada leher (badanah tersebut)" (HR Bukhari dari Abu Hurairah )
Sayyid Sabiq Rahimahullah dalam Fiqhus Sunnahnya menjelaskan; " Hikmah pemberian tanda ini adalah untuk mengagungkan dan menampakan syi'ar-syi'ar Allah. Dan memberitahukan kepada manusia bahwa hewan-hewan tersebut adalah hewan qurban, yang akan disembelih dalam rangka bertaqarub kepada Allah " (Fiqhus Sunnah II/269) Adab- Adab Menyembelih Qurban 1. Ikhlash Berqurban harus dilakukan ikhlas karena Allah semata. Adapun menyembelih qurban untuk selain Allah, maka hal ini termasuk syirik akbar. Seperti berqurban untuk berhala, tumbal dan lain-lain. Rasulullah bersabda: "Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah" (HR Muslim,dari 'Ali ) 2. Menyembelih Dengan Ikhsaan Rasulullah bersabda: " Dan apabila kalian menyembelih, berbuatlah ikhsan pada cara penyembelihan(nya), dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan cepatkanlah (kematian) binatang sembelihannya" (Riwayat Muslim) Diantara ikhsan dalam penyembelihan adalah dengan cara mempercepat kematiannya, dengan cara yang paling mudah, yaitu dengan alat yang tajam. Selain itu bentuk ikhsan adalah dengan cara berlaku lembut terhadap binatang yang akan disembelih, serta tidak memperlihatkan pisaunya kecuali saat menyembelih. 3. Membaca Basmalah & Takbir Hal ini berdasar perbuatan Rasulullah ketika menyembelih qurban, yaitu:, -, "Dari Anas bin malik, bahwasanya Nabi pernah berqurban dua ekor kambing kibasy yang bertanduk beliau membaca Bismillah, bertakbir dan meletakan salah satu kaki beliau pada lambung kambing tersebut"- 13 P a g e, :,, - -
dan pada satu lafadz- ia sembelih keduanya dengan tangannya (sendiri); -pada satu lafadz- (dua kambing) yang gemuk; dan bagi Abu 'Awanah di kitab shahihnya; (dua kambing) yang berharga; -dan pada satu lafadz bagi Muslim; "Dan beliau mengucap; "Bismillah Wallahu Akbar" 4. Disunnahkan Menyembelih Di Tempat Shalat Hal ini berdasarkan sebuah hadits: "Bahwa Nabi menyembelih (nahr) atau dzabh di mushalla (Tanah lapang untuk Shalat)" (Riwayat Bukhari, dari Ibnu 'Umar ) 5. Disunnahkan Yang Berqurban Menyembelih Sendiri Adalah lebih utama bagi orang yang berqurban untuk menyembelihnya sendiri dan tidak mewakilkannya. Ini juga berlaku bagi wanita. Imam Bukhari dalam shahihnya meriwayatkan atsar secara mu'allaq bahwa Abu Musa memerintahkan anak-anak wanitanya untuk menyembelih dengan tangan mereka sendiri.(shahih Bukhari, Kitab Al Adhaahi) Tetapi kita juga dibolehkan untuk mewakilkannya kepada orang lain. Bila kita mewakilkannya maka kita tidak boleh mengupahnya dari hewan qurban tersebut, tetapi harus kita beri upah sendiri. Hal ini berdasarkan sebuah hadits:, : Dari Ali : Nabi memerintahkan aku untuk mengawasi (penyembelihan) Budn (Hewan qurban) dan tidak memberikan apapun kepada tukang jagal (sebagai upah menyembelih) (Riwayat Bukhari) Pendistribusian Daging Qurban Disunnahkan bagi shahibul qurban untuk memakan sebagian daging qurbannya, menghadiahkan dan bersedekah dengan daging itu. Allah berfirman: " Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir" (Al Hajj: 28) 14 P a g e
"Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta " (Al Hajj :36) Rasulullah bersabda: "Makanlah (daging qurban), berilah makan orang lain (dengannya), dan simpanlah" (Riwayat Bukhari, dari Salamah bin Al Akwa' ) 15 P a g e " Makanlah (daging qurban), simpanlah, dan bersedekahlah" (Riwayat Muslim, dari 'Aisyah ) 'Ulama berbeda pendapat tentang seberapa banyak daging qurban yang boleh di makan, dan seberapa banyak pula yang harus dihadiahkan dan disedekahkan oleh shahibul qurban. Namun pendapat yang rajih mengenai hal ini adalah tidak ada ketentuan dalam hal ini. Akan tetapi pilihan yang terbaik adalah sepertiga untuk dimakan, sepertiga dihadiahkan, dan sepertiga lagi disedekahkan. Untuk jatah yang dimakan, dibolehkan shahibul qurban untukmenyimpannya dalam waktu yang lama, kecuali jika terjadi wabah kelaparan, maka tidak boleh menyimpannya lebih dari tiga hari, Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang berqurban maka tidak boleh ada daging qurban yang tersisa dirumahnya setelah hari ketiga." Maka pada tahun berikutnya para shahabat bertanya;"wahai Rasulullah apakah kami harus berbuat sebagaimana yang telah kami lakukan pada tahun kemarin?" Beliau bersabda; "Makanlah daging qurban, berilah makan orang lain dengannya dan simpanlah, karena pada tahun kemarin orang banyak berada dalam kesusahan, maka aku ingin kalian membantu mereka" (Riwayat Bukhari, Muslim, dari Salamah bin Al Akwa' ) Larangan Menjual Sesuatu Dari Hewan Qurban Saat ini banyak kaum muslimin, terutama para panitia qurban yang menyelewengkan hal ini. Mereka menjual bagian dari binatang kurban, karena mereka kesulitan mendistribusikannya. Menjual kulit binatang qurban adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh sebagian pengurus qurban padahal ini dilarang. ( ) Dari Ali,bahwa Nabi memerintahkan agar dia mengurusi budn (benatang qurban) beliau, membagi semuanya, dagingnya, kulitnya,
dan jilalnya (kepada orang-orang miskin). Dan dia tidak boleh memberikan satupun (dari qurban itu) kepada penjagalnya (Riwayat Bukhari, Tambahan dalam kurung riwayat Muslim) Imam Syafi'i Rahimahullah berkata: "Aku membenci menjual sesuatu darinya (hewan quban). Menukarkannya merupakan jual beli".(al umm 2/351) Imam Nawawi Rahimahullah berkata: "Dan pendapat kami, tidak boleh menjual kulit hadyu atau qurban, dan tidak boleh pula menjual sesuatu bagian-bagiannya."(lihat Syarh Muslim 5/74-75) Syeikh 'Abdullah bin 'Abdurrahman Al Bassam mengatakan; "Bahwa kulit binatang qurban tidak dijual. Bahkan penggunaankulitnya adalah seperti dagingnya. Pemiliknya boleh memanfaatkannya, atau mensadaqahkan kepada fakir miskin" (Lihat Taudhihul Ahkam) 16 P a g e