REKONTRUKSI CELAH BIBIR BILATERAL DENGAN METODE BARSKY SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh: M. VIGNESVARY MANICKAM NIM: 080600167 DEPARTMEN BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Bedah Mulut Tahun 2012 M. Vignesvary Manickam Rekonstruksi Celah Bibir Bilateral dengan Metode Barsky. viii + 36 halaman Celah bibir dengan atau tanpa celah langitan merupakan kelainan kongenital atau cacat bawaan yang cukup banyak di jumpai di Indonesia. Terbentuknya celah wajah ini disebabkan kegagalan prosesus facialis untuk bersatu pada masa perkembangan embrio, sedangkan upaya untuk mengoreksi terhadap kelainan tersebut terus dikembangkan dengan berbagai metode. Terdapat banyak metode dalam koreksi celah bibir lapioplasti dengan masing-masing kekurangan dan kelebihannya. Metode yang biasa digunakan untuk koreksi celah bibir bilateral antara lain: Millard, Manchester, Straight line closure, dan Barsky. Metode Barsky merupakan metode yang umumnya digunakan untuk penutupan prolabium yang pendek sehingga menghasilkan koreksi bibir yang tidak natural seperti; terjadinya pemanjangan bibir secara vertikal, ada tarikan satu sisi yang lain, terbentuk seperti pulau pada prolabium di tengah bibir dan biasanya tidak terbentuk miring (cupid bow). Celah bibir dapat terjadi pada satu sisi (unilateral) maupun kedua sisi (bilateral) secara simetris atau tidak simetris. Keadaan ini semua tergantung tingkat keparahan gangguan dalam proses pertumbuhan pembentukan embrional. Cacat tetap bila tidak dilakukan rekontruksi, akan menyebabkan masa depan yang suram dan rendah diri selamanya. Tujuan operasi celah bibir adalah untuk menutup celah pada bibir sehingga didapatkan bibir yang mendekati normal baik dalam fungsi maupun
bentuk untuk memperbaiki penampilan. Pedomen utama dalam melakukan operasi bibir sumbing adalah dengan sesedikit mungkin membuang jaringan dan mempertahankan miring (Cupid s bow). Keberhasilan suatu tindakan setelah operasi tidak hanya tergantung dari operatornya tetapi juga oleh kepedulian pasien, keluarga pasien dan juga obat-obatan dalam pemyembuahan luka. Daftar rujukan : 38 (1989-2011)
TIM PENGUJI SKRIPSI Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 10 Februari 2012 TIM PENGUJI KETUA : Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM ANGGOTA : 1. Shaukat Osmani Hasbi, drg., Sp.BM 2. Indra Basar Siregar, drg., M.Kes 3. Hendry Rusdy, drg., Sp.BM., Kes
PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Medan, 10 Februari 2012 Pembimbing : Tanda tangan Shaukat Hasbi Osmani, drg., Sp.BM... NIP : 19491016 197903 1 001
KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan, atas berkat rahmatnya yang diberikan kepada penulis, sehingga sehingga skripsi ini telah selesai disusun dalam rangka memenuhi kewajiban penulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi. terhormat: Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada yang 1. Shaukat Osmani Hasbi, drg., Sp.BM selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Eddy A. Ketaren,.drg., Sp.BM selaku kepala Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG USU yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 3. Sayuti Hasibuan, drg., Sp.PM selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalankan pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi USU. 4. Seluruh staf pengajar FKG USU khususnya Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial yang telah memberi ilmu dan bimbingan di bidang Kedokteran Gigi. 5. Teristimewa buat ibu tercinta, Jayalacthumi yang telah memberikan kasih sayang, didikan, doa dan dukungan baik moril maupun materi dan hanya Tuhan saja yang dapat membalasnya.
6. Abang Babu, dan Saravenen serta kakak Mangai dan Vijaya yang telah memberikan kasih sayang dan dukungan moral. 7. Teman-teman terdekat penulis yaitu Loges, Puva, Kal, Priya, Tamil, Suba, Radha dan teman yang lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan moril kepada penulis. Penulis menyadari kelemahan dan keterbatasan ilmu yang penulis miliki menjadikan skripsi ini kurang sempurna, tetapi penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Medan, 10 Februari 2012 Penulis (M. Vignesvary Manickam) NIM : 080600167
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... iv vi viii BAB 1 PENDAHULUAN... 1 BAB 2 CELAH BIBIR 2.1 Pengertian umum celah bibir (cleft lip)... 4 2.2 Etiologi... 4 2.2.1Faktor genetik... 4 2.2.2 Faktor non-genetik... 5 2.3 Klasifikasi celah bibir dan celah langit-langit... 7 2.4 Komplikasi jika tidak dilakukan operasi... 10 2.5 Pencegahan celah bibir... 12 BAB 3 EMBRIOLOGI DAN PROSES PEMBENTUKAN CELAH BIBIR 3.1 Embriologi... 17 3.2 Proses pembentukan celah bibir... 19 3.3 Diagnosa celah bibir... 22 3.3.1 Dignosa prenatal... 22 3.3.2 Dignosa postnatal... 24 BAB 4 REKONTRUKSI CELAH BIBIR BILATERAL KOMPLIT DAN TIDAK KOMPLIT 4.1 Waktu optimal untuk rekontruksi celah bibir... 25 4.2 Persiapan pra bedah... 26 4.3 Desain Barsky... 27 4.4 Penatalaksanaan metode Barsky... 29 4.5 Perawatan sesudah bedah... 31 4.6 Komplikasi... 31
BAB 5 KESIMPULAN... 33 DAFTAR PUSTAKA... 35
DAFTAR GAMBAR HALAMAN Gambar 1 A. Celah pada langit-langit lunak saja. B. Celah pada langit-langit lunak dan keras. C. Celah yang meliputi langit-langit dan lunak keras juga alveolar pada satu sisi. D. Celah yang meliputi langit lunak dan keras juga alveolar dan bibir pada dua sisi... 8 Gambar 2 A. Celah bibir unilateral tidak komplit. B. Celah bibir unilateral. C. Celah bibir bilateral dengan celah langit-langit dan tulang alveolar. D. Celah langitlangit... 10 Gambar 3 Penggunaan dot khusus pada bayi dengan celah... 11 Gambar 4 Wajah dilihat dari Aspek Frontal. A, Embrio 5 minggu. B, Embrio 6 minggu. Tonjol nasal sedikit demi sedikit terpisah dari tonjol maxila dengan alur yang dalam. C, Embrio 7 bulan. D, Embrio 10 bulan. Tonjol maksila berangsur-angsur bergabung dengan lipatan nasal dan alur terisi dengan mesenkim... 18
Gambar 5 Gambaran Frontal Embrio Usia 6 1 / 2 Minggu- 10 Minggu. A, Gambaran frontal embrio usia 6 1 / 2 minggu. Palatine shelves berada di posisi vertical pada tiap sisi lidah. B, Gambaran ventral embrio usia 6 1 / 2 minggu. C, Gambaran frontal kepala embrio usia 7 1 / 2 minggu. Lidah sudah bergerak turun dan lempeng langit-langit mencapai posisi horizontal. D, Gambaran ventral kepala embrio usia 7 1 / 2 minggu. E, Gambaran frontal kepala embrio usia 10 minggu. Kedua lempeng langit-langit sudah bersatu satu sama lain juga dengan nasal septum... 21 Gambar 6 Gambaran bibir dan palatum... 21 Gambar 7 Penggunaan ultrasonografi untuk melihat terjadinya celah bibir pada masa kehamilan... 23 Gambar 8 Desain metode Barsky... 28 Gambar 9 Hasil akhir post pembedahan Labioplasti Metode Barsky... 28 Gambar 10 Foto pasien labiognatopalatoschizis bilateral komplit dan tidak komplit... 29
Gambar 11 a. Desain metode Barsky. b. Insisi desain metode Barsky. c. Sesudah penjahitan otot bibir dan kulit. d. Penjahitan kulit dan bibir... 30