BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis merupakan kemampuan matematika yang harus dimiliki siswa dalam pencapaian kurikulum. Keberhasilan pembelajaran matematika tidak terlepas dari kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa. Komunikasi matematis siswa merupakan kemampuan siswa dalam menjelaskan suatu algoritma dan cara unik untuk pemecahan masalah (Jihad dan Haris, 2010:149). Bervariasinya kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa dikarenakan beberapa hal. Pertama, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru yang masih bersifat konvensional. Kedua, kurang pedulinya siswa terhadap pembelajaran matematika. Keinginan dan minat yang dalam pembelajaran matematika masih rendah. Kedua hal ini sangat diperlukan siswa dalam mengembangkan ketrampilan matematis, kemampuan pemecahan masalah, dan komunikasi matematis disebut sebagai daya matematika atau ketrampilan matematis. Agar kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi berkembang, maka pembelajaran harus menjadi lingkungan dimana siswa dapat terlibat secara aktif dalam banyak kegiatan matematis yang bermanfaat. Pemecahan masalah merupakan suatu upaya untuk mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan yang memerlukan kesiapan, kreativitas, pengetahuan dan kemampuan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Tuntutan akan kemampuan pemecahan masalah dipertegas secara eksplisit dalam kurikulum tersebut yaitu, sebagai kompetensi dasar yang harus dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah materi yang sesuai. Oleh karenanya kemampuan pemecahan masalah ini menjadi tujuan umum pembelajaran matematika. Turmudi (2009:1) mengemukakan bahwa, melalui pemecahan masalah dalam matematika siswa hendaknya 1
memperoleh cara-cara berfikir, kebiasaan untuk tekun dan menumbuhkan rasa ingin tahu, serta rasa percaya diri dalam situasi tak mereka kenal yang akan mereka gunakan di luar kelas. Namun, yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa pemecahan masalah dalam proses pembelajaran matematika belum dijadikan kegiatan utama dan masih dianggap bagian yang paling sulit dalam matematika baik bagi siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam mengajarkannya. Kemampuan komunikasi matematik secara garis besar terdiri dari komunikasi matematik lisan dan tulisan. Komunikasi matematik lisan dapat diartikan sebagai suatu peristiwa saling interaksi (dialog) yang terjadi dalam suatu lingkungan kelas atau kelompok kecil, dan terjadi pengalihan pesan berisi tentang materi matematik yang sedang dipelajari baik antar guru dengan siswa maupun antar siswa itu sendiri. Sedangkan komunikasi matematik tulisan adalah kemampuan atau keterampilan siswa dalam menggunakan kosa-katanya, notasi, dan struktur matematik baik dalam bentuk penalaran, koneksi, maupun dalam pemecahan masalah (Ansari, 2009:11). Baroody dalam Shafridla (2012:4), menjelaskan ada dua alasan mengapa komunikasi dalam matematika siswa peranan penting dan perlu ditingkatkan di dalam pembelajaran matematika. Pertama mathematics as languange, artinya matematika tidak hanya sebagai alat untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil kesimpulan, tetapi matematika juga sebagai alat yang berharga untuk mengkomunikasikan berbagai ide secara jelas, tepat dan cermat. Kedua, mathematics learning as social activity, artinya matematika sebagai aktivitas sosial dalam pembelajaran, matematika juga sebagai wahana interaksi antar siswa, dan juga komunikasi antara guru dan siswa. Menurut hasil temuan penelitian Siti dan Roziati (dalam Maryani, 2011:23) menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa dinilai masih rendah terutama keterampilan dan ketelitian dalam mencermati atau mengenali sebuah persoalan matematika. 2
Pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dikelola secara efektif dan berpusat pada peserta belajar. Pembelajaran yang ideal dapat tercipta bila peserta didik dapat secara kritis menanggapi hal-hal yang dikemukakan atau dipertanyakan oleh guru sehingga mereka dapat menemukan hakikat aktivitas yang mereka lakukan. Pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar dimaknai sebagai proses belajar yang memungkinkan peserta belajar melihat bahwa hal-hal yang mereka pelajari dan kerjakan itu mempunyai tujuan dan relevansi dengan kehidupannya sehingga mereka juga mempunyai motivasi untuk terlibat di dalamnya. Pembentukan pemahaman matematis peserta didik melalui pemecahan masalah yang tejadi dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan beberapa keuntungan bagi siswa. Pertama, peserta didik memahami hubungan antara matematika dengan situasi nyata yang terjadi di lingkungannya. Kedua, peserta didik lebih terampil dalam memecahkan masalah. Ketiga, meningkatkan rasa percaya diri dalam mengkomunikasikan istilah matematika (Slamet dan Setyaningsih, 2010:126). Tugas guru dalam proses pembelajaran meliputi tugas pedagogik dan administratif. Tugas pedagogik adalah membantu, membimbing dan memimpin peserta didik dalam realitas pembelajaran. Sedangkan tugas administratif guru berkaitan dengan penyiapan administrasi dalam proses pembelajaran seperti menyusun Silabus, Rencana Pembelajaran, Pengembangan materi/bahan ajar, alat/instrumen penilaian, dan lainnya yang berupa dokumen (Muchith, 2008: 24). Kedua tugas guru tersebut harus dilakukan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Bahkan sering dikatakan bahwa apabila persiapan administrasi guru lengkap dan baik, sepertiga tugas guru sudah berhasil. Efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran ditentukan oleh kemampuan guru dalam melakukan improvisasi pembelajaran. Di sinilah peran penting guru dalam menentukan keberhasilan mengelola proses pembelajaran yang ideal. 3
Siswa atau peserta didik adalah inti dari proses belajar mengajar. Dalam sebuah pembelajaran yang efektif, guru dan siswa akan saling melengkapi. Dimana guru bertugas merencanakan pembelajaran dan siswa adalah peserta didik yang akan mendapatkan pembelajaran dari yang direncanakan guru, siswa sebagai subjek yang aktif melakukan proses berfikir, mencari, mengolah, mengurai, menggabungkan, menyimpulkan dan menyesuaikan masalah (Sagala, 2009:164). Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Akibatnya, mengajar merupakan kegiatan partisipasi guru dalam membangun pemahaman siswa. Adapun hal-hal yang harus diperoleh siswa dalam proses pembelajaran yang ideal, yaitu: (1) mengajar berpusat pada siswa; (2) siswa sebagai subjek belajar; (3) proses pembelajaran berlangsung dimana saja; (5) pembelajaran berlangsung sepanjang hayat (Sanjaya, 2011:99). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMP Muhammadiyah 06 Dau pada tanggal 9 Mei 2014 didapatkan hasil yang akan didiskripsikan sebagai berikut. Observasi yang dilakukan di dalam kelas VIII-D dengan jumlah 29 siswa terlihat bahwa pembelajaran sudah menerapkan Kurikulum 2013 sebagai pedoman penyelenggaraan kegitan pembelajaran, namun guru belum menerapkan stretegi REACT maupun seting two stay two stray. Guru masih sering menerapkan metode ceramah di kelas yaitu menjelaskan materi di papan tulis dan siswa memperhatikan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Pada awal pembelajaran guru membukanya dengan salam dan pembelajaran dimulai dengan guru membagikan hasil tes berupa soal ulangan yang telah dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya. Kemudian guru dan siswa membahas soal-soal ulangan yang dianggap sulit menurut siswa. Setelah beberapa soal ulangan selesai dibahas, guru melanjutkan materi pembelajaran dengan pokok bahasan bangun ruang sisi datar. Guru menjelaskan di depan kelas secukupnya kemudian guru melontarkan beberapa pertanyaan kepada siswa. Ada delapan (8) anak yang aktif untuk 4
menjawab pertanyaan tersebut di depan kelas dan menjelaskan di depan teman-temannya yang lain. Setelah siswa selesai menjelaskan jawabannya dari soal yang diberikan guru, terdapat siswa yang bertanya karena belum memahaminya dan guru dengan segera menjelaskan dengan baik supaya siswa lebih memahaminya. Setelah itu guru memberikan tugas untuk siswa mengerjakannya di buku tugas masing-masing hingga selesai. Dalam proses mengerjakan soal tersebut, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengkomunikasikan dan memecahkan masalah pada saat menggunakan rumus, hal ini dikarenakan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi matematis siswa dinilai masih rendah terutama keterampilan dan ketelitian dalam mencermati atau mengenali sebuah persoalan matematika. Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran matematika diperoleh beberapa informasi penting terkait proses pembelajaran di kelas, bahwa 1) belum ada partisipasi aktif siswa dalam menemukan sendiri makna dari pengertian matematika yang mereka pelajari, sehingga siswa kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika yang lebih kompleks, mereka hanya bisa menyelesaikan soal-soal serupa dengan contoh yang diberikan oleh guru; 2) guru menjelaskan bahwa metode yang sudah digunakan sudah cukup bervariasi, mulai dari ceramah, berkelompok, think-pair-share, tutor sebaya, dan penemuan terbimbing. Penerapan pembelajaran yang inovatif masih diperlukan; 3) dilihat dari segi kemampuannya, siswa kelas VIII-D dalam kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematika masih kurang, siswa masih banyak mengalami kesulitan untuk mengaitkan materi yang di peroleh di sekolah dengan masalah yang ada di sekitar mereka; 4) begitu juga dengan mengkomunikasikan istilah matematika, siswa kesulitan mengartikulasikan alasan dalam memahami suatu permasalahan matematika dengan menggunakan gambar, grafik, tabel ataupun simbol-simbol; 5) penggunaan tes uraian untuk mengidentifikasi kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi matematis siswa belum digunakan 5
secara efektif karena alasan teknis pelaksanaan, waktu, serta banyaknya murid pada tiap kelas sebagai kendala. Paparan mengenai penjelasan keadaan nyata yang terjadi di sekolah, diperoleh beberapa aspek pembelajaran yang sudah berjalan dengan baik. Delapan (8) siswa berani dan aktif untuk menjawab pertanyaan dari guru dan menjelaskan di depan teman-temannya yang lain. Untuk metode pembelajaran yang digunakan sudah cukup baik karena guru sudah menerapkan beberapa metode yang bervariasi. Hanya saja untuk kemampuan komunikasi tergolong rendah, karena masih banyak siswa yang kesulitan memahami dan mengkomunikasikan istilah matematika, mengartikulasikan alasan dalam memahami suatu permasalahan matematika dengan menggunakan gambar, grafik, tabel ataupun simbol-simbol, padahal hal tersebut sangat penting bagi siswa supaya pembelajarannya bermakna. Dalam hal kemampuan pemecahan masalah juga tergolong rendah, siswa hanya bisa menyelesaikan soal-soal serupa dengan contoh yang diberikan oleh guru, harusnya guru memberikan soal-soal dimana penyelesaian masalahnya menuntut siswa supaya lebih kreatif dan berani untuk menyampaikan pendapatnya. Alternatif strategi pembelajaran dalam upaya untuk menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematika siswa dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran melalui strategi REACT dengan setting Two Stay Two Stray. Strategi REACT adalah model pembelajaran yang dapat membantu guru untuk menanamkan konsep pada siswa. Siswa diajak menemukan sendiri konsep yang dipelajarinya, bekerja sama, menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan mentransfer dalam kondisi baru (Rahayu dalam Yuliati, 2008:60). Berdasarkan Center for Occupational Research Development (CORD) penerapan pembelajaran kontekstual ada lima prinsip dasar yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring (REACT). Pada tahap relating (mengkaitkan), mempunyai arti dalam belajar materi harus dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari 6
atau dikaitkan dengan pengetahuan awal siswa. Experiencing (mengalami), mempunyai arti bahwa siswa belajar dengan mengalami secara langsung (doing mathematics) melalui kegiatan eksplorasi, penemuan dan penciptaan. Applying (menerapkan) yaitu belajar dengan menempatkan konsep-konsep untuk digunakan yang bersifat realistik dan relevan. Siswa mengaplikasikan konsep ketika dihadapkan pada aktivitas pemecahan masalah. Cooperating (bekerja sama) yaitu belajar dalam konteks saling berbagi (sharing), saling menanggapi (responding), dan berkomunikasi dengan siswa yang lain. Transferring (mentransfer) yaitu menggunakan pengetahuan dalam konteks baru atau situasi baru, yaitu konteks yang belum tercakup dalam kelas, Suprijono (2013:83). Pada tahap cooperating dalam REACT, yaitu pelaksanaan berkerja sama dalam kelompok dapat menerapkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Hasil penelitian Nani (2009:79) disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematikadengan Model Authentic Assesment pada Pembelajaran dengan strategi REACT tergolong cukup aktif. Secara keseluruhan semua aktifitas mengalami peningkatan dari pertemuan I hingga pertemuan IV. Rata-rata persentase aktivitas siswa dari pertemuan I hingga pertemuan IV adalah 74.85%, 78.45%, 80.8%, dan 83.7% dengan persentase klasial 79.07% dengan kriteria baik.persentase ketuntasan hasil belajar siswa (standart sekolah) secara klasikal sebesar 92.5% dengan 37 siswa telah tuntas belajarnya dan 3 siswa lainnya masih belum tuntas. Sedangkan menurut kriteria ketuntasan hasil belajar siswa (Depdiknas) secara klasikal sebesar 80% dengan 32 siswa telah tuntas belajarnya dan 8 siswa lainnya masih belum tuntas. Penggunaan strategi REACT merupakan salah satu alternatif untuk membuat siswa mengalami pembelajaran matematika yang bermakna. Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas harus disiapkan sebaik mungkin supaya berjalan lancar. Penggunaan strategi REACT di dalam kelas masih perlu di dukung dengan model yang dapat mengasah pemahaman dan ketrampilan siswa ketika dihadapkan dengan permasalahan Maka dari itu, 7
pembelajaran dengan strategi REACT perlu digabung dengan model lain yang dapat mendukung REACT. Salah satu model yang bisa digunakan adalah seting two stay two stray (TSTS). Seting Two Stay Two Stray (TSTS) adalah pembelajaran yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan kelompok lain (Lie, 2010:61). Model kooperatif ini berguna untuk mereview atau membagikan tugas kelas. Di awal pembelajaran siswa bekerja sama dengan kelompok berempat seperti biasa. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok bertamu ke kelompok yang lain untuk bertanya dan mencari informasi dari bahan yang telah di diskusikan. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas menjawab pertanyaan tamu dari kelompok lain, membagikan hasil kerja dan informasi dari kelompok tinggal ke siswa tamu. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok asal dan melaporkan hasil temuan dari kelompok lain dan mendiskusikan dengan anggota kelompok. Strategi REACT dengan seting Two Stay Two Stray (TSTS) merupakan salah satu bentuk kreatifitas dari guru dalam penerapan strategi maupun metode belajar dalam proses pembelajaran di kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hasil penelitian oleh Anugraeni (2012:52) menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tipe Two Stay Two Stray (TSTS), selama tiga kali pertemuan proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik yaitu dengan melihat persentase aktivitas guru mencapai 86.9% dan persentase aktivitas siswa mencapai 70.26%. Hasil belajar yang diperoleh siswa setelah dilaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS sebanyak 30 siswa skornya telah mencapai ketuntasan individu, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 6 siswa. Hasil belajar secara klasik telah mencapai standar ketuntasan klasikal yang ditetapkan oleh Depdiknas karena banyak siswa yang tuntas secara klasikal mencapai 83.33%. Dari beberapa pernyataan yang telah diuraikan diatas, menunjukkan bahwa strategi REACT dan seting Two Stay Two Stray dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan pemecahan 8
masalah dan kemampuan komunikasi matematika. Belum pernah dilaksanakannya penelitian terkait dengan strategi REACT dan seting two stay two stray di sekolah yang akan dipilih, maka Implementasi Strategi REACT pada Pembelajaran Matematika dengan setingtwo Stay Two Stray Pada Siswa SMP Kelas VIII perlu untuk dilakukan. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada kelas VIII SMP Muhammadiyah 06 Dau, diperoleh beberapa identifikasi masalah sebagai berikut. 1. Belum digunakan secara efektif tes uraian untuk mengidentifikasi seberapa jauh kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. 2. Beberapa siswa yang aktif dalam pembelajaran di dalam kelas. 3. Kurang tertariknya siswa pada pembelajaran karena sulit untuk dipahami. 4. Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru matematika belum optimal untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika dan kemampuan pemecahan masalah matematika. 5. Aspek memahami dan mengerti dalam materi yang diserap siswa belum teraplikasikan pada kehidupan sehari-hari. 1.3 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray pada siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang? 2. Bagaimana tingkat kemampuan komunikasi matematika pada pembelajaran menggunakan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray pada siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang? 9
3. Bagaimana tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika pada pembelajaran menggunakan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray pada siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang? 1.4 Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah di atas maka dalam penelitian ini perlu adanya pembatasan masalah agar pembahasan masalah dalam penelitian ini lebih terfokus dan terarah. Maka pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah. 1. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang. 2. Pokok bahasan yang digunakan adalah fungsi. 3. Pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran dengan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray untuk meningkatkan pemecahan masalah dan komunikasi matematika siswa. 1.5 Tujuan Penelitian Apabila melihat permasalahan yang telah dirumuskan di atas maka diperlukan usaha-usaha untuk mengatasinya. Oleh karena itu, sebelum seorang melakukan penelitian maka harus menetapkan apa yang menjadi tujuan dalam penelitiannya, maka tujuan penelitiannya adalah untuk mendiskripsikan : 1. Pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray pada siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang. 2. Tingkat kemampuan komunikasi matematika pada pembelajaran menggunakan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray pada siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang. 3. Tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika pada pembelajaran menggunakan Strategi REACT dengan Seting Two Stay Two Stray pada siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 06 Dau Malang. 10
1.6 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa Penggunaan strategi REACT dengan seting Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi pada pembelajaran matematika. Juga pembelajaran lebih bermakna atau siswa tidak mudah lupa karena dengan strategi REACT siswa menemukan sendiri konsep yang dipelajarinya, bekerja sama, menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan mentransfer dalam kondisi baru. 2. Bagi guru mata pelajaran Guru mata pelajaran matematika dapat menggunakan strategi REACT dengan seting Two Stay Two Stray untuk membuat pembelajaran di kelas semakin bermakna dan kreatif. Selain itu dapat membuat guru juga lebih kreatif dalam mengajar di dalam kelas sehingga meminimalisir pembelajaran konvensional atau pembelajaran yang berfokus pada guru (teacher oriented). Serta dapat membantu guru dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa. 3. Bagi Sekolah Strategi REACT dengan seting Two Stay Two Stray dapat digunakan oleh sekolah yang dapat dijadikan sebagai solusi untuk memperbaiki pembelajaran di sekolah, agar kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa dapat lebih meningkat, dan perlu dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain agar nilai rata-rata ujian sekolah menjadi lebih meningkat. 4. Bagi Peneliti Lanjutan Strategi REACT dengan seting Two Stay Two Stray dapat menambah pengetahuan peneliti lain yang akan melakukan penelitian selanjutnya dan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian berikutnya. 11
1.7 Penegasan Istilah Untuk menghindari penafsiran yang keliru terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diberikan definisi operasional sebagai berikut: 1. Strategi REACT adalah suatu pembelajaran kontekstual gabungan dari lima aspek yang merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata (Relating), melakukan pencarian dan penyelidikan yang dilakukan oleh siswa secara aktif untuk menemukan makna konsep yang dipelajari (Expeririencing), penerapan pengertian matematika dalam pemecahan masalah (Applying), memberikan kesempatan kepada siswa belajar melalui bekerjasama dan berbagi (Cooperating), dan memberikan kesempatan kepada siswa melakukan transfer pengetahuan matematika dalam memecahkan masalah matematika pada bidang aplikasi matematika lainnya (Transffering). 2. Seting Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua tamu) merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar memecahkan masalah bersama anggota kelompoknya, kemudian dua siswa dari kelompok tersebut bertukar informasi ke dua anggota kelompok lain yang tinggal. 3. Tingkat kemampuan pemecahan masalah adalah satu usaha mencari jalan keluar dari satu kesulitan guna mencapai satu tujuan yang tidak begitu mudah segera untuk dicapai. Terdapat empat tahap pemecahan masalah dari Polya, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali. 4. Tingkat kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan siswa untuk memberi dan menyampaikan ide/gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah dalam usaha untuk menciptakan pemahaman bersama, baik secara lisan maupun tertulis. 12