BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan hasil karya manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, dan tanggapan perasaan penciptanya tentang hakikat kehidupan dengan menggunakan bahasa yang imajinatif dan emosional. Sangidu (2004: 43) berpendapat bahwa karya sastra adalah tanggapan pencipta (pengarang) terhadap dunia sekelilingnya (realitas sosial) yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra sebagai cerminan karya sastra. Dengan demikian menunjukkan bahwa karya sastra itu bukan hanya sebuah karya imajinasi yang dapat dinikmati, tetapi juga bisa dipelajari aspek sosiologinya, psikologinya, adat istiadat, moral, budi pekerti, agama, kritik sosial dalam masyarakat, dan tingkah laku manusia di suatu masa. Menurut Ratna (2011: 307) bahwa imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang didasarkan atas kenyataan. Dengan begitu banyak sekali pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari sebuah karya sastra. Menurut Teeuw (dalam Endraswara, 2003: 8) mempelajari sastra itu ibarat memasuki hutan; makin ke dalam makin lebat, makin belantara. Dari pendapat ini terungkap bahwa karya sastra adalah fenomena kemanusiaan yang kompleks dan dalam. Karya sastra adalah strukturasi pengalaman manusia. Karya sastra selalu berhubungan dengan konflik dalam realitas sosial/ dimensi ini mengacu pada pemikiran bahwa pengarang lahir, hidup dan tumbuh dalam masyarakat. Pengarang menulis berdasarkan kekayaan pengalaman hidupnya, intelektualnya yang diperoleh dari masyarakat. Karya sastra juga merupakan perpaduan unsur-unsur intrinsik yang membentuknya. Sesuai dengan fungsi karya sastra, yakni dulce et utile (indah dan berguna) maka sebuah karya sastra harus memberikan kontribusi terkait karya sastra yang dijadikan pembelajaran masyarakat. Beberapa karya sastra yang dapat dijadikan pembelajaran masyarakat adalah karya sastra berdasarkan pada fakta. Adapun karya sastra yang didasarkan fakta terdiri dari fiksi historis (historical fiction) jika dasar 1
2 penulisannya fakta sejarah. Fiksi biografi (biographical fiction) jika yang menjadi dasar penulisannya fakta biografis, dan fiksi sains (science fiction) jika yang menjadi dasar penulisan ilmu pengetahuan (Nurgiyantoro, 2012: 4). Karya sastra yang banyak ditemukan kemiripan dengan fakta yang ada di dunia nyata adalah novel. Novel merupakan karya rekaan yang menggambarkan kehidupan, adat istiadat, aturan serta budaya dalam satu masyarakat tertentu, dan juga memberikan gambaran aspek-aspek kehidupan yang dikemas dalam gaya bahasa yang memikat. Novel tidak hanya bersifat seni. Dalam novel dapat ditemukan nilainilai kemanusiaan yang dapat dijadikan sebagai alat pembelajaran bagi masyarakat. Novel yang baik adalah novel yang pengarangnya mampu mengangkat kritik sosial masyarakat ke dalam cerita yang menarik sehingga pembaca dapat mengetahui kritik sosial apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Salah satu novel yang mampu mengangkat tentang konflik sosial di kalangan masyarakat adalah novel Negeri Para Bedebah karya Liye (2012). Novel Negeri Para Bedebah mempunyai daya tarik sendiri yang berbeda dari novel lain. Novel ini mengangkat kisah yang memiliki kemiripan dengan realita sosial yang terjadi di zaman sekarang dan jarang sekali disinggung dalam sastra Indonesia. Novel ini menceritakan tentang perjuangan tokoh utamanya yang bernama Thomas. Dia berprofesi sebagai konsultan keuangan profesional yang memiliki masa lalu kelam. Saat masih berusia 10 tahun ayah dan ibunya tewas secara tragis akibat dibantai dengan sadis oleh antek-antek yang berkepentingan untuk menguasai bisnis keluarganya. Konflik muncul ketika Om Liem, adik dari ayahnya yang menjadi salah satu penyebab kehancuran perusahaan keluarganya sedang mengalami pailit. Bank Semesta yang dikelolanya dalam kondisi kritis dan terancam ditutup. Hal itu karena ulah dari Om Liem sendiri. Dia telah banyak melakukan kejahatan keuangan hanya untuk menimbun kekayaan. Sebelumnya, Thomas tidak peduli terhadap kebangkrutan yang dialami omnya tersebut karena dia yang telah menyebabkan Thomas kehilangan kedua orang tuanya. Namun, setelah diselidiki, Thomas menemukan kejanggalan dalam kasus penutupan Bank Semesta. Terdapat dua oknum pejabat yang dikenalnya
3 yang juga terlibat saat pembantaian kedua orang tua Thomas. Mengetahui hal itu, Thomas berniat untuk melibatkan diri dalam upaya penyelamatan Bank Semesta dari kehancuran, sehingga ketika banknya akan kolap mengundang beberapa orang diantaranya pejabat Negara yang haus akan kekayaan dan kekuasaan untuk memanfaatkan kehancuran bank tersebut. Thomas ingin membalas dendam masa lalunya yang kelam itu dengan membuktikan bahwa dua orang oknum pejabat itu yang menjadi para bedebah yang sebenarnya. Novel Negeri Para Bedebah mengangkat realitas sosial yang mengandung banyak kontroversi yang berhubungan dengan kritik sosial, baik itu dalam aspek ekonomi maupun politik, yaitu mengangkat kebobrokan perbankan, ekonomi, dan bahkan intrik politik yang kejam. Novel ini juga menceritakan sedikit tentang perputaran uang dunia yang begitu rumit, juga tentang betapa mengerikan dampak yang bisa ditimbulkan dari penggunaan kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang beruang serta elit politik yang nakal. Dengan adanya beberapa istilah ekonomi yang terdapat dalam novel ini, dapat menambah informasi mengenai dunia perekonomian yang sangat bermanfaat dalam menunjang isi cerita dalam novel. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti kritik sosial yang terdapat pada fenomena tersebut menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan kajian yang membahas tentang suatu sastra sebagai cerminan dari kehidupan masyarakat, sehingga kehidupan sosial akan memicu lahirnya sebuah karya sastra. Dengan adanya berbagai macam masalah sosial di kehidupan masyarakat, kritik sosial pun muncul dari kalangan pengarang dan dituangkan dalam karyanya, sehingga kritik sosial sangat tepat sekali apabila menganalisisnya menggunakan pendekatan sosiologi sastra karena sama-sama menyinggung pada hubungan terhadap kehidupan sosial. Pengupasan kritik sosial yang terjadi dalam novel Negeri Para Bedebah karya Liye (2012) akan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Ini dikarenakan kisah kehidupan tokoh dalam novel ini sarat dengan berbagai pertentangan prinsip sosial yang mencerminkan suatu kondisi masyarakat khususnya masyarakat kelas menengah
4 ke atas. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa sosiologi dapat dipakai sebagai ilmu bantu dalam pendekatan karya sastra, karena baik sosiologi maupun sastra mempunyai bidang yang sama, yaitu kehidupan manusia dalam masyarakat. Kritik sosial merupakan istilah yang dibentuk dari kata kritik dan sosial. Kritik berarti menyodorkan kenyataan secara penuh tanggung jawab dengan tujuan agar orang yang bersangkutan mengadakan perbaikan diri (Sarwadi, 1974:2). Dalam kritik, terjadi hubungan timbal balik antara kritikus dan objek yang dikritik. Sosial bisa bermakna masyarakat. Jadi, kritik sosial berarti menyodorkan kenyataan kemasyarakatan dengan penuh tanggung jawab dengan tujuan agar orang yang dikritik mengadakan perubahan. Sastra pada umumnya menampilkan gambaran kehidupan sosial tertentu. Kenyataan sosial yang ditampilkan oleh pengarang dalam karyanya dapat mengubah nili-nilai kehidupan pembaca. Dalam fungsi ini Sarwadi (1974:2) menyatakan bahwa sasta dapat dijadikan sarana kritik sosial. Baik disadari atau tidak, karya sastra terkadang juga menggambarkan kritik sosial. Hal ini terjadi karena pengarang tergolong orang yang peka terhadap situasi dan kondisi lingkungannya. Kebanyakan pengarang berasal dari golongan menengah ke bawah yang akrab dengan ketimpangan-ketimpangan sosial di lingkungannya. Pada karya sastra, selain sebagai media untuk melakukan kritik juga harus mampu memberikan pelajaran bagi pembacanya. Pelajaran mengenai pendidikan karakter dirasa sangat penting, karena pendidikan karakter bukan hanya mengenai baik-buruk tindakan seseorang, namun menanamkan kebiasaan baik dalam diri agar memiliki karakter yang baik. Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Penelitian ini berjudul Kritik Sosial dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye dengan Menggunakan Pendekatan Sosiologi Sastra. Dalam penelitian ini nantinya akan memaparkan realitas dan kritik
5 sosial yang terjadi dalam novel yang menjadi pembelajaran nilai pendidikan karakter kepada pembaca. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah: a. Bagaimana kritik sosial yang terdapat dalam novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye? b. Bagaimana resepsi masyarakat terhadap novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye? c. Apa saja nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: a. Mendeskripsikan kritik sosial yang terdapat dalam novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye. b. Mendeskripsikan resepsi pembaca terhadap novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye. c. Mendeskripsikan nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis dan praktis pada pembaca karya sastra. Adapun manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Manfaat teoretis a. Memberikan implikasi dalam pengajaran sastra di sekolah. b. Dapat menambah khasanah pengetahuan pembaca mengenai analisis sosiologi sastra 2. Manfaat praktis
6 a. Bagi siswa Mengajarkan pada siswa mengenai masalah-masalah sosial apa saja yang terjadi dalam kehidupan masyarakat serta membantu mengasah kepekaan siswa melakukan kritik pada masalah sosial. b. Bagi guru Hasil penelitian ini mendeskripsikan tentang kritik sosial dalam novel Negeri Para Bedebah karya Liye. Guru dapat mengajarkan tentang bagaimana cara mengidentifikasi kritik sosial terhadap fenomena yang terdapat dalam novel tersebut. c. Bagi pembaca Membantu pembaca dan penikmat sastra dalam menginterpretasikan novel Negeri Para Bedebah karya Liye, sehingga pemaknaan terhadap novel ini dapat terarah dan pembaca mendapat pengetahuan tambahan mengenai problem sosial yang terjadi dalam masyarakat di zaman sekarang.