CROWDING OUT DI INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
ekonomi K-13 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL K e l a s A. PENGERTIAN KEBIJAKAN MONETER Tujuan Pembelajaran

Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si.

Perekonomian Indonesia

Andri Helmi M, SE., MM. Sistem Ekonomi Indonesia

Kebijakan Moneter & Bank Sentral

Kebijakan Pemerintah KEBIJAKAN PEMERINTAH. Kebijakan Pemerintah. Kebijakan Pemerintah 4/29/2017. Tujuan


VII. SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai

A. Indeks Harga dan Inflasi

BAB II TINJAUAN TEORI. landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel

BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan

1. Tinjauan Umum

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan

I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan negara adalah pemerataan pembangunan ekonomi. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

BAB 7 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri

PEREKONOMIAN INDONESIA

PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun memberikan dampak pada

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

KEBIJAKAN FISKAL. Sayifullah, SE., M.Akt

Perekonomian Indonesia

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

= Inflasi Pt = Indeks Harga Konsumen tahun-t Pt-1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya (t-1)

faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, kualitas birokrasi. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Kebijakan moneter memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap suatu perekonomian,

STAN KEBIJAKAN FISKAL PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA. oleh: Rachmat Efendi

KEBIJAKAN EKONOMI INDONESIA

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010

TUJUAN KEBIJAKAN MONETER

BAB I PENDAHULUAN. yang dikonsumsinya atau mengkonsumsi semua apa yang diproduksinya.

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

Mekanisme transmisi. Angelina Ika Rahutami 2011

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mengakibatkan

I. PENDAHULUAN. Hal ini dilakukan karena penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak tidak

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA

KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER. Oleh : Muhlisin

KEBIJAKAN FISKAL 30/04/2016. Kebijakan fiskal

ekonomi Kelas X KEBIJAKAN MONETER KTSP A. Kebijakan Moneter Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2. Otoritas Moneter dan Kebijakan Moneter

SISTEM MONETER DI INDONESIA

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

BAB I PENDAHULUAN. inflasi yang rendah dan stabil. Sesuai dengan UU No. 3 Tahun 2004 Pasal 7,

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran

A. PENGERTIAN SISTEM MONETER DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat. Hal ini sangat mempengaruhi negara-negara lain karena

Ilmu Ekonomi Bank Sentral dan Kebijakan moneter

I. PENDAHULUAN. jasa. Oleh karena itu, sektor riil ini disebut juga dengan istilah pasar barang. Sisi

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang

SISTEM EKONOMI DAN KEBIJAKAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung

08. Tabel biaya dan produksi suatu barang sebagai berikut : Jumlah produksi Biaya tetap Biaya variabel Biaya total 4000 unit 5000 unit 6000 unit

International Monetary Fund UNTUK SEGERA th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C USA

MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

IV. KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kinerja Moneter dan Perekonomian Indonesia

Uang EKO 2 A. PENDAHULUAN C. NILAI DAN JENIS-JENIS UANG B. FUNGSI UANG. value).

I. PENDAHULUAN. Uang merupakan alat pembayaran yang secara umum dapat diterima oleh

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian uang merupakan bagian yang integral dari kehidupan kita. sehari-hari. Ada yang berpendapat bahwa uang merupakan darahnya

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih mengalami gejolak-gejolak

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. Produk Domestik Bruto adalah perhitungan yang digunakan oleh suatu

BAB I PENDAHULUAN. mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ekonomi tersebut membuat pemerintah

KEBIJAKAN MONETER, KEUANGAN NEGARA DAN PAJAK

I. PENDAHULUAN. yang lebih baik dengan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah

BAB II PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO TAHUN

Xpedia Ekonomi. Makroekonomi

MEMINIMALISIR DEPRESIASI NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA

I. PENDAHULUAN. dengan pendapatan dan pengeluaran negara yang di Indonesia lebih dikenal

BAB VI INFLATION, MONEY GROWTH & BUDGET DEFICIT

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan perkembangan ekonomi, baik perkembangan ekonomi domestik

I. PENDAHULUAN. Investasi merupakan suatu daya tarik bagi para investor karena dengan

Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI

KEBIJAKAN MONETER DALAM PEMBANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan barang dan jasa, investasi yang dapat meningkatkan barang modal,

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perekonomian Indonesia

PEMBAHASAN SOAL UJI COBA PRA UN KABUPATEN

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta KUPA

BAB I PENDAHULUAN. fiskal maupun moneter. Pada skala mikro, rumah tangga/masyarakat misalnya,

ANALISIS KEBIJAKAN FISKAL/KEUANGAN DAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2010

PEREKONOMIAN INDONESIA. Kebijakan Fiskal Dan APBN. Rakhman, SP., MM. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi S1-Manajemen.

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. kalangan ekonom dan pengambil kebijakan. Pada satu sisi, kebijakan fiskal

Transkripsi:

I. CROWDING OUT 1. Dalam ilmu ekonomi, crowding out adalah fenomena yang terjadi ketika Kebijakan Fiskal menyebabkan suku bunga meningkat, sehingga mengurangi investasi. Perubahan kebijakan fiskal menggeser kurva yang menggambarkan keseimbangan di pasar barang. Fiskal menggeser kurva IS ke kanan dari IS 1 ke IS 2. Fiskal meningkatkan pendapatan dari Y 1 ke Y 2 dan suku bunga naik dari r 1 ke r 2. Jika tingkat bunga tetap konstan pada i 1, pasar barang berada dalam keseimbangan dalaam pengeluaran yang direncanakan (output), tetapi pasar uang tidak lagi dalam keseimbangan.menerapkan kebijakan fiskal dapat mengurangi investasi, karena tingkat bunganya tinggi yang didorong oleh kenaikan pendapatan. Crowding out terjadi kareena penambahan pengeluaran pemerintah yang didapatkan dengan cara pemberlakuan kebijakan fiskal sehingga efeknya menjadi nol, karena penambahan pengeluaran pemerintah dibarengi dengan penurunan investasi swasta.

2. Menurut kaum monetaris, kebijakan fiskal menyebabkan crowding out. Menurut orang moneteris kebijakan fiskal hanya akan mengakibatkan Crowding Out karena menurut mereka kebijakan makroekonomi aktif seperti kebijakan fiskal dan moneter hanya akan membuat keadaan perekonomian menjadi lebih buruk. Bahkan secara ekstrim mereka mengatakan bahwa kebijakan makroekonomi yang aktif itu lebih merupakan bagian dari masalah, dan bukan bagian dari solusi. Dengan perkataan lain, kaum moneteris menghendaki suatu peran atau campur tangan pemerintah yang seminimum mungkin di dalam perekonomian. Kebijakan fiskal itu sendiri memiliki pengaruh sistematis yang sangat kecil, baik terhadap pendapatan nasional riil maupun pendapatan nasional nominal; dan bahwa kebijakan fiskal (fiscal policy) bukanlah suatu sarana atau alat stabilisasi yang efektif. Misa1nya dalam usaha meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan dalam mengatasi pengangguran, kub Keynesian lebih menyukai kebijaksanaan fiskal yang bersifat ekspansif. Sebaliknya kubu monetaris lebih menyukai kebijaksanaan moneter yang kontraktif. Intenvensi pemerintah untuk meningkatkan output dengan menggunakan kebijaksanaan fiskal tidak disenangi Friedman Misalnya ada usaha untuk meningkatkan output dengan menurunkan pajak. Menurut Keynesian langkah ini akan meningkatkan output. Dalam Bahasa kurva IS-LM yang dikembangkan Keynesian, hal ini terjadi karena penurunan dalam pajak akan mendorong kurva IS bergerak ke kanan. Tetapi menurut kaum moneteris hal seperti ini tidak akan terjadi, sebab dalam perekonomian yang sudah memanfaatkan sumber daya secara penuh maka kurva LM berbentuk tegak lurus,dampak dan pergeseran kurva IS tidak akan memberi pengaruh pada output sehingga akan terjadi keadaan crowdingout effect. Itulah pandangan kaum moneteris yang menyatakan bahwa kebijakan fiskal akan menimbulkan crowding out. II. CROWDING OUT DI INDONESIA Bareksa.com - Persaingan pencarian dana antara pihak swasta dengan pemerintah diprediksi Bahana TCW Investment Management masih akan terjadi pada tahun ini dengan alasan pemerintah yang akan agresif dalam pembangunan infrastruktur serta penguatan dolar Amerika. Tingginya pengeluaran pemerintah akan menambah supply surat utang negara (SUN). Akibatnya yield obligasi benchmark akan mengalami kenaikan. Bagi swasta yang ingin

menerbitkan obligasi, beban bunga yang harus dibayar akan naik akibat yield benchmark mengalami peningkatan. Dampak ini biasa disebutcrowding out effect. Tahun 2014 saja menurut catatan Bahana, realisasi penerbitan SUN secara neto sudah mencapai Rp277 triliun lebih tinggi dari Rp265 triliun pada APBN-P 2014 dan Rp205 triliun atau pada APBN 2014. Tetapi hal ini lebih didorong tingginya subsidi energi, walaupun pemerintahan yang baru dipegang oleh Presiden Joko Widodo sempat menaikkan harga bahan bakar minyak di akhir tahun. Selain itu tahun lalu juga perbankan mengalami masalah likuiditas sehingga membuat suku bunga deposito dan bunga kredit naik. Keadaan tersebut tentunya memberi berkah bagi nasabah deposito atau pemilik dana, namun sangat memberatkan bagi industri. Meningkatnya suku bunga deposito tentunya diiringi dengan peningkatan suku bunga pinjaman. Artinya perusahaan yang memperoleh pinjaman harus membayar bunga lebih tinggi. Bagusnya pada tahun ini utang yang dikeluarkan pemerintah disalurkan pada sektor yang lebih produktif. Diharapkan akan mendorong peningkatan rating utang Indonesia dan membuat permintaan atas surat utang bertambah. Dalam presentase Economic Outlook and Investment Strategy 2015, Rabu 14 Januari 2015, Bahana memproyeksi kepemilikan investor asing pada Surat Utang Negara secara keseluruhan akan bertambah menjadi 27 persen dari sebelumnya pada kisaran 20 persen. Masuknya dana asing terjadi untuk menambah likuiditas dan meredam efek crowding out. Terkait dengan kekhawatiran peningkatan suku bunga Amerika yang akan memicu dana investor asing kembali ke negara asalnya, Direktur dan Kepala Ekonom Bahana TCW Budi Hikmat menegaskan hal itu tidak akan banyak berdampak pada keluarnya dana asing dari Indonesia. Menurut Budi, dana asing akan bertahan karena fundamental ekonomi akan bergerak ke arah yang lebih baik. Budi memproyeksikan neraca berjalan indonesia akan membaik ke kisaran 2,5 persen yang di dukung dengan pemangkasan subsidi BBM dan turunnya harga minyak. Selain itu, berjalannya pembangunan infrastruktur dan naiknya dana bantuan sosial juga akan membawa fundamental ekonomi menjadi semakin baik di tahun 2015.

III. YANG MEMPENGARUHI PENGELUARAN PEMERINTAH KEBIJAKAN FISKAL Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih mekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendapatkan danadana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan pembangunan. Atau dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah kebjakan pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran Negara. Dari semua unsure APBN hanya pembelanjaan Negara atau pengeluaran dan Negara dan pajak yang dapat diatur oleh pemerintah dengan kebijakan fiscal. Contoh kebijakan fiscal adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi,pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan dan atau menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi. Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran. Tujuan kebijakan fiscal adalah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Hal ini dilakukan dengan jalan memperbesar dan memperkecil pengeluaran komsumsi pemerintah (G), jumlah transfer pemerntah (Tr), dan jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatn nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N).

Tujuan utama kebijakan fiskal ialah untuk mencegah pengangguran dan menstabilkan harga. Implementasinya untuk menggerakkan Pos penerimaan dan pengeluaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan semakin kompleksnya struktur ekonomi perdagangan dan keuangan, maka semakin rumit pula cara penanggulangan inflasi. Kombinasi beragam harus digunakan secara tepat, seperti kebijakan fiskal, kebijakan moneter, perdagangan dan penentuan harga.dalam kebijakan fiskal, inflasi dikendalikan dengan surplus anggaran, sedangkan dalam kerangka kebijakan moneter, inflasi dikendalikan dengan tingkat bunga dan cadangan wajib. Piranti kebijakan yang perlu dipersiapkan 1. Pajak untuk sektor swasta 2. Pinjaman pada masyarkat 3. Pengeluaran Pemerintah untuk pengendalian pengangguran Permasalahan yang mungkin muncul dalam kebijakan fiskal 1. Bagaimana meningkatkan kemampuan perpajakan (Taxable Capacity) 2. Bagaimana membuat seimbang komposisi pajak 3. Bagaimana merancang pajak-pajak khusus Macam-macam Kebijakan Fiskal 1. Functional finance : Pembiayaan pemerintah yang bersifat fungsional 2. The managed budget approach : Pendekatan pengelolaan Anggaran 3. The stabilizing budget : Stabilisasi anggaran yang otomatis, apabila model ini gagal, maka pemerintah dapat meningkatkan pengeluarannya seperti dengan menaikkan gaji PNS atau subsidi 4. Balance budget approach : Pendekatan Anggaran Belanja berimbang, namun bila terlambat penyesuaian (Perubahan Anggaran Keuangan), maka kepercayaan masyarakat akan hilang. Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum. Perubahan dalam tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat berdampak pada variabel-variabel berikut dalam perekonomian:

Aggregate demand and the level of economic activity ( Permintaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi ) The pattern of resource allocation (Pola alokasi sumber daya) The distribution of income (Distribusi pendapatan) Kebijakan fiskal mengacu pada efek keseluruhan hasil anggaran pada kegiatan ekonomi. Sikap yang tiga kemungkinan kebijakan fiskal yang netral, ekspansif, dan kontraktif: Sebuah sikap netral menyiratkan kebijakan fiskal anggaran berimbang di mana G = T (Pemerintah pengeluaran = Pajak pendapatan). Pengeluaran pemerintah sepenuhnya didanai oleh penerimaan pajak dan hasil keseluruhan anggaran memiliki efek netral pada tingkat kegiatan ekonomi. Sikap ekspansif kebijakan fiskal bersih melibatkan peningkatan pengeluaran pemerintah (G> t) melalui pengeluaran pemerintah meningkat, penurunan pendapatan pajak, atau kombinasi dari keduanya. Hal ini akan mengakibatkan defisit anggaran yang lebih besar atau lebih kecil daripada surplus anggaran pemerintah sebelumnya, atau defisit jika sebelumnya pemerintah memiliki anggaran berimbang.. Ekspansioner kebijakan fiskal biasanya berhubungan dengan defisit anggaran. Sebuah kontraktif kebijakan fiskal (G <T) terjadi ketika bersih dikurangi pengeluaran pemerintah baik melalui pendapatan pajak yang lebih tinggi, mengurangi pengeluaran pemerintah, atau kombinasi dari keduanya. Hal ini akan mengakibatkan defisit anggaran yang lebih rendah atau surplus yang lebih besar daripada pemerintah sebelumnya, atau surplus jika sebelumnya pemerintah memiliki anggaran berimbang.. Kontraktif kebijakan fiskal biasanya berhubungan dengan surplus. KEBIJAKAN FINANSIAL ATAU MONETER Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Kebijakan moneter adalah proses di mana pemerintah, bank sentral, atau otoritas moneter suatu negara kontrol suplai (i) uang, (ii) ketersediaan uang, dan (iii) biaya uang atau suku bunga untuk mencapai menetapkan tujuan berorientasi pada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.

Kebijakan Moneter bertumpu pada hubungan antara tingkat bunga dalam suatu perekonomian, yaitu harga di mana uang yang bisa dipinjam, dan pasokan total uang. Kebijakan moneter menggunakan berbagai alat untuk mengontrol salah satu atau kedua, untuk mempengaruhi hasil seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar dengan mata uang lainnya dan pengangguran. Dimana mata uang adalah di bawah monopoli penerbitan, atau dimana ada sistem diatur menerbitkan mata uang melalui bank-bank yang terkait dengan bank sentral, otoritas moneter memiliki kemampuan untuk mengubah jumlah uang beredar dan dengan demikian mempengaruhi tingkat suku bunga (untuk mencapai kebijakan gol). Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: 1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar 2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy) Tujuan Kebijakan Moneter a. Menjaga Stabilitas Ekonomi Stabilitas ekonomi akan tercapai apabila tercipta keadaan ekonomi yang stabil, untuk mewujudkan hal ini maka harus terwujud arus perputaran barang dan arus perputaran uang yang berjalan secara seimbang dan terkendali. Dengan demikian perlu adanya pengatyuran jumlah uang yang beredar sesuai dengan kebutuhan oleh bank sentral. b. Menjaga Kestabilan Harga Jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat mempengaruhi tingkat harga-harga yang berlaku. Dengan adanya pengaturan jumlah uang yang beredar oleh bank sentral, maka tingkat harga dari waktu ke waktu relatif akan terkendali. Jika keadaan harga stabil, masyarakat akan percaya bahwa membeli barang sekarang akan sama dengan membeli barang pada masa yang akan datang. c. Meningkatkan Kesempatan Kerja

Stabilitas ekonomi yang baik akan mendorong peningkatan jumlah investor untuk mengembangkan investasi-investasi baru, yang akan membuka lapangan kerja baru sehingga terjadi peningkatan kesempatan kerja. Stabilitas ekonomi tercapai apabila pengaturan jumlah uang yang beredar dapat dikendalikan dengan baik oleh bank sentral. d. Memperbaiki Nereca Perdagangan dan Neraca Pembayaran Melalui kebijakan moneter, pemerintah dapat memperbaiki neraca perdagangan luar negeri menjadi surplus (ekspor lebih besar daripada impor) atau minimal berimbang. Bentuk kebijakan moneter pada permasalahan ini seperti pemerintah melakukan devaluasi (menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing). Dengan adanya devaluasi, diharapkan nilai ekspor kita meningkat dan berpengaruh pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran ke arah yang lebih baik. Macam-macam Kebijakan Moneter a. Politik Diskonto adalah satu kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral dengan menambah atau mengurangi jumlah uang dengan cara menaikan atau menurunkan tingkat suku bunga. Jika bank sentral menaikan suku bunga diharapkan masyarakat tertarik untuk menyimpan uang di bank dengan demikian jumlahuang yang beredar berkurang. Selain itu kenaikan suku bunga tabungan akan meningkat suku bunga kredit, dengan naiknya suku bunga kredit orang akan enggan untuk mengajukan kredit. Jika suku bunga turun, tentu keadaannya mencerminkan keadaan bahwa di masyarakat jumlah uang harus ditambah. Dengan bunga yang rendah masyarakat tidak tertarik untuk menabung dan suku bunga kredit akan turun dan mengakibatkan masyarakat banyak tertarik untuk mengajukan pinjaman ke bank. Dengan demikian jumlah uang yang beredar di masyarakat bertambah. Penurunan suku bunga biasanya dilakukan pada saat perekonomian mengalami kelesuan (resesi). b. Politik Pasar Terbuka (Open Market Policy) adalah salah satu kebijakan politik yang dilakukan oleh bank sentral dengan menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga. Jika bank sentral menjual surat berharga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Dengan menjual SBI uang dari masyarakat akan tertarik masuk ke bank sehingga diharapkan jumlah uang beredar berkurang. SBI hanya dijual oleh bank sentral. Jika bank sentral melakukan pembelian surat-surat

berharga (Saham, Obligasi dan surat berharga lainnya) berarti bank sentral sedang melakukan penambahan jumlah uang yang beredar di masyarakat. c. Kebijakan Cadangan Kas (Cash Ratio) Kebijakan cadangan kas adalah kebijakan bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikan atau menurunkan cadangan minimum yang harus dipenuhi oleh bank umum, dalam mengedarkan atau memberikan kredit kepada masyarakat.jika bank sentral menaikkan cadangan kas berarti bank sentral ingin mengurangi jumlah uang beredar. Hal ini terjadi karena dengan naiknya cadangan kas berarti bank umum harus lebih banyak menahan uang tunai untuk tidak diedarkan. Jika bank sentral menurunkan cadangan kas, berarti bank sentral ingin menambah jumlah uang yang beredar. Dalam hal ini bank-bank umum diberi kesempatan untuk dapat mengedarkan uang lebih banyak. d. Kebijakan Kredit Selektif Kebijakan kredit selektif adalah kebijakan pengetahuan jumlah uang yang beredar. Kredit selektif ini dilakukan dengan cara menentukan syarat-syarat kredit yang dikenal dengan 5C. Anda masih ingat dengan syarat kredit tersebut? Apakah hubungan antara kebijakan finansial dan fiskal dengan APBN? Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang. Macam-macam Kebijakan Fiskal/Anggaran Jika ditinjau dari sisi teori, ada tiga macam kebijakan anggaran yaitu: 1. Kebijakan anggaran pembiayaan fungsional (functional finance), adalah kebijakan yang mengatur pengeluaran pemerintah dengan melihat berbagai akibat tidak langsung terhadap pendapatan nasional dan bertujuan untuk meningkatkan kesempatan kerja. 2. Kebijakan pengelolaan anggaran (the finance budget approach), adalah kebijakan untuk mengatur pengeluaran pemerintah, perpajakan, dan pinjaman untuk mencapai stabilitas ekonomi yang mantap. 3. Kebijakan stabilisasi anggaran otomatis (the stabilizing budget), adalah kebijakan yang mengatur pengeluaran pemerintah dengan melihat besarnya biaya dan manfaat

dari berbagai program. Tujuan kebijakan ini adalah agar terjadi penghematan dalam pengeluaran pemerintah. Selanjutnya, jika dilihat dari perbandingan jumlah penerimaan dengan jumlah pengeluaran, kebijakan fiskal/anggaran dapat dibedakan menjadi empat jenis. sebagai berikut : a. Kebijakan Anggaran Seimbang Kebijakan anggaran seimbang, adalah kebijakan anggaran yang menyusun pengeluaran sama besar dengan penerimaan. Ini berarti jumlah pengeluaran yang disusun pemerintah tidak boleh melebihi jumlah penerimaan yang didapat. Sehingga negara tidak perlu berhutang, baik berhutang dari dalam negeri maupun ke luar negeri. Dalam masa depresi (kelesuan ekonomi), sebaiknya negara tidak menggunakan kebijakan anggaran seimbang karena bisa memperburuk keadaan ekonomi. Pada masa depresi penerimaan negara sangat rendah sehingga negara perlu mendapat pinjaman untuk memperbaiki perekonomian. Dengan demikian, negara tidak bisa melakukan kebijakan anggaran seimbang. Adapun kebijakan anggaran yang tepat digunakan pada masa depresi adalah kebijakan anggaran defisit. b. Kebijakan Anggaran Defisit Kebijakan anggaran defisit yaitu kebijakan anggaran dengan cara menyusun pengeluaran lebih besar daripada penerimaan. Karena pengeluaran lebih besar daripada penerimaan maka negara mengalami defisit (kekurangan) anggaran. Pada umumnya, kebijakan anggaran defisit ditempuh pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ibaratnya, seorang pengusaha yang kekurangan modal untuk memajukan usaha dan ekonominya, berutang pada pihak lain untuk memperoleh tambahan modal sehingga dapat memajukan usaha dan ekonominya. Asalkan bekerja dan berusaha dengan jujur, tidak boros, tidak dikorupsi oleh para pegawai, tentu usahanya itu bisa maju. Demikian halnya dengan Indonesia, walaupun negara melakukan kebijakan anggaran defisit, asalkan tidak dikorupsi, Indonesia pasti mampu memajukan perekonomiannya. c. Kebijakan Anggaran Surplus Kebijakan anggaran surplus, yaitu kebijakan anggaran dengan cara menyusun pengeluaran lebih kecil dari penerimaan. Kebijakan ini umumnya dilakukan pemerintah untuk mencegah inflasi (kenaikan harga akibat terlalu banyak jumlah uang yang beredar). Dengan memperkecil jumlah pengeluaran (belanja), diharapkan jumlah permintaan terhadap barang

dan jasa tidak meningkat. Jika permintaan terhadap barang dan jasa tidak meningkat, maka harga barang dan jasa juga tidak akan naik, ini berarti inflasi bisa dicegah. d. Kebijakan Anggaran Dinamis Kebijakan anggaran dinamis, yaitu kebijakan anggaran dengan cara terus menambah jumlah penerimaan dan pengeluaran sehingga semakin lama semakin besar (tidak statis). Anggaran yang dinamis diperlukan karena semakin hari semakin banyak kegiatan rutin dan kegiatan pembangunan yang harus dibiayai negara, yang membutuhkan dana lebih besar. Penyusunan APBN digunakan sebagai penentu kebijakan fiskal suatu negara, sebagai alat untuk mempengaruhi peningkatan pendapatan nasional. Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Pokok-pokok kebijakan fiskal dalam APBN dapat diperinci berdasarkan arah kebijakan dan strategi kebijakan. Arah Kebijakan Fiskal dalam APBN 1. Kebijakan fiskal dalam APBN diarahkan untuk dapat membiayai pengeluaran dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara yang efektif namun tetap efisien dan bebas dari pemborosan maupun korupsi. 2. Kebijakan fiskal diarahkan untuk dapat turut serta dalam memelihara dan memantapkan stabilitas perekonomian, dan berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. 3. Kebijakan fiskal diarahkan untuk dapat mengatasi masalah-masalah mendasar yang menjadi prioritas pembangunan, yaitu: penanggulangan kemiskinan, peningkatan kesempatan kerja, investasi, dan ekspor,revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan, peningkatan kualitas dan aksesibilitas terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan;. 4. Kebijakan fiskal diarahkan untuk mendukung keberlanjutan proses konsolidasi desentralisasi fiskal dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dengan tujuan antara lain untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah, serta antardaerah, dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah.

Strategi Kebijakan Fiskal dalam APBN 1. Meningkatkan konsolidasi fiskal untuk mempertahankan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). 2. Mengupayakan penurunan beban utang, pembiayaan yang efisien, dan menjaga kredibilitas pasar modal. 3. Menurunkan defisit anggaran terhadap PDB. 4. Meningkatkan penerimaan negara yang bersumber dari pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). 5. Mengendalikan dan meningkatkan efisiensi belanja negara. 6. Memberikan stimulus guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. 7. Melanjutkan reformasi administrasi perpajakan, kepabeanan, dan cukai. 8. Mempertajam prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat. 9. Mengalokasikan alokasi anggaran belanja ke daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. 10. Mengoptimalkan kebijakan pembiayaan defisit anggaran dengan biaya dan tingkat risiko yang rendah. A. Tujuan Kebijakan Fiskal/Anggaran Secara rinci, kebijakan anggaran dilakukan pemerintah dengan tujuan sebagai berikut: 1. untuk menciptakan stabilitas ekonomi; 2. untuk menciptakan lapangan kerja 3. untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi 4. untuk menciptakan keadilan dalam mendistribusikan pendapatan 5. mengatasi inflasi 6. mengatasi pengangguran 7. menciptakan pertumbuhan ekonomi. 8. Untuk meningkatkan produksi nasional (PDB) dan pertumbuhan ekonomi. 9. Untuk memperluas lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. 10. Untuk menstabilkan harga-harga barang, khususnya mengatasi inflasi

B. Kebijakan finansial atau moneter Tujuan pemerintah melakukan kebijakan moneter antara lain sebagai berikut. 1. Menyelenggarakan dan mengatur peredaran uang. 2. Menjaga dan memelihara kestabilan nilai uang rupiah, baik untuk dalam negeri maupun untuk lalu lintas pembayaran luar negeri. 3. Memperluas, memperlancar dan mengatur lalu lintas pembayaran uang giral. 4. Mencegah terjadinya inflasi (kenaikan harga barang secara umum). 5. Menjaga Stabilitas Ekonomi 6. Menjaga Kestabilitasan Harga 7. Meningkatan Kesempatan Kerja 8. Memperbaiki Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran IV. PENGARUH KEBIJAKAN FISKAL TERHADAP KURVA IS-LM Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah mempengaruhi keadaan ekonomi makro melalui serangkaian tindakan yang mempengaruhi pasar barang. Kebijakan fiskal umumnya dijalankan melalui kebijakan anggaran pemerintah atau APBN, selanjutnya APBN ini akan mempengaruhi perekonomian makro. Bila APBN meningkat maka penerimaan dan pengeluaran pemerintah juga meningkat. Peningkatan pengeluaran ini akan mempengaruhi kurva IS. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa kurva IS bergeser bila terjadi perubahan pengeluaran agregat yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu pengeluaran investasi swasta, pengeluaran pemerintah dan pajak. Perhatikan Gambar Pada awalnya keseimbangan berada pada titik E 0, kemudian pengeluaran pemerintah mengalamai kenaikan sebesar G sehingga AD juga naik. Kenaikan AD menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan, mengakibatkan income atau output naik dari Y 0 ke AY 1. Kenaikan income menyebabkan permintaan terhadap uang naik sehingga untuk kembali ke titik keseimbangan maka bunga juga ikut naik ke i 1 sehingga tercapai keseimbangan pada titik E 1. Apabila tingkat bunga tetap pada i 0 maka income harusnya naik mencapai Y 2 dengan

keseimbagan E 2 sesuai dengan besarnya multiplier kali G (α G G). Pada titik E2 ini telah tercapai keseimbagan pada pasar barang karena pengeluaran telah sama dengan output (income). Tetapi karena adanya keterkaitan antara pasar barang dengan pasar uang maka perobahan pada pasar barang (kenaikan income) menyebabkan pasar uang tidak seimbang karena kenaikan income telah menyebabkan naiknya permintaan uang yang selanjutnya mendorong kenaikan tingkat bunga. Peningkatan pengeluaran pemerintah G menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan. Pada tingkat bunga yang sama dan melalui proses multiplier income naik ke Y2 dengan titik keseimbangan pada titik E2. Peningkatan income menyebabkan keseimbangan pasar uang berobah karena permintaan uang naik sehingga tingkat bunga naik. Kenaikan bunga menyebabkan investasi menurun sehingga kenaikan income berkurang menjadi Y1. Pengurangan dampak investasi akibat kenaikan bunga ini disebut dengan crowding out. Kenaikan tingkat bunga menyebabkan investasi swasta berkurang sehingga mengurangi kenaikan AD. Disinilah keterkaitan antara pasar barang dan pasar uang terjadi. Hanya pada titik E 1 income sama dengan pengeluaran agregat dan permintaanuang sama dengan ketersediaan supply uang. Titik E 1 adalah titik dimana pasar barang dan pasar uang dalam keadaan seimbang. Pada pengaruh kebijakan fiskal ini terdapat beberapa istilah, antara lain yaitu Crowding out.pengertian dari Crowding out adalah menurunnya dampak dari

pengeluaran autonomous (kebijakan fiskal) karena mengakibatkan tingkat bunga naik sehingga pengeluaran invesasi swasta menurun. Perhatikan gambar, dengan kenaikan pengeluaran pemerintah seharusnya output naik sebesar α G G sampai mencapai titik E 2, tetapi kenyataan hanya sampai pada titik E 1. Hal ini disebabkan karena kenaikan tingkat bunga telah menyebabkan invesatasi swasta turun sehingga kenaikan output tidak sebesar yang seharusnya (bila bunga tidak naik). Dari Gambar diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat crowding out tergantung dengan kemiringan kurva LM, semakin tegak kurva LM maka semakin tinggi tingkat crowding out, dan sebaliknya bila semakin miring maka crowding out semakin kecil. Full crowding out akan terjadi bila kurva LM vertikal, artinya peningkatan investasi tidak memberikan dampak sedikitpun terhadap output kecuali hanya menaikan tingkat bunga. Pada kemiringan kurva LM tergantung dengan koefisien tingkat bunga (b), sehingga semakin kecil b maka semakin tidak respon permintaan uang terhadap perubahan bunga, artinya kurva LM semakin tegak (vertikal). Bila b (bunga) sama dengan nol maka kurva LM vertikal. Dalam keadaan ini maka kebijakan fiskal menjadi tidak efektif sama sekali, karena hanya akan menaikan tingkat bunga tetapi tidak berpengaruh terhadap income dan output. Terkait dengan tidak responsifnya bunga terhadap permintaan uang ini ada tiga analisis yang dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Bila ekonomi dalam keadaan full employment maka kenaikan pengeluaran (agregat spending) tidak akan menaikan output karena semua faktor produksi sudah berkerja penuh. Menaikan pengeluaran pemerintah, misalnya, hanya akan mendorong kenaikan harga. Dalam jangka pendek mungkin dapat menaikan income, tetapi kenaikan income akan menaikan permintaan uang; sementara supply uang ketat, yang terjadi adalah kenaikan tingkat bunga, dan selanjutnya akan menurunkan pengeluaran agregat sehingga income dan output turun kembali. Ini berarti pengeluaran pemerintah telah menggantikan pengeluaran investasi (crowding out). b. Dalam keadaan ekonomi full employment, ekspansi fiskal (menaikan pengeluaran pemerintah) tidak menaikan income tetapi justru mendorong naiknya defisit anggaran pemerintah (budget deficit) karena pemerintah harus meminjam kepada masyarakat untuk membiayai deficit tersebut. Karena income tidak naik saving juga tidak naik, akibatnya dana masyarakat yang tersedia untuk investasi swasta menjadi berkurang sehingga investasi menurun, artinya terjadicrowding out. Tetapi bila kenaikan pengeluaran pemerintah tersebut mengakibatkan income naik sehingga saving masyarakat juga naik maka dana yang tersedia untuk investasi swasta meningkat sehingga crowding out tidak akan terjadi secara penuh.

c. Ekspansi fiskal dalam keadaan ekonomi full employment yang mengakibatkan tingkat bunga naik sementara income dan output tidak naik dapat dicegah bila ekspansi fiskal tersebut diiringi oleh ekspansi moneter. Kenaikan supply uang akan menurunkan tingkat bunga sehingga crowding out tidak terjadi. Hasilnya adalah output dan income naik tetapi tingkat bunga relatif tetap. Kebijakan ini disebut dengan kebijakan akomodatif (accommodating policy).